Anda di halaman 1dari 118

TESIS

PEMBERIAN KRIM EKSTRAK JAGUNG UNGU


(Zea Mays) MENGHAMBAT PENINGKATAN KADAR
MMP-1 DAN PENURUNAN JUMLAH KOLAGEN
PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus)
YANG DIPAPAR SINAR UV-B

RINI DIANASARI

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014
TESIS

PEMBERIAN KRIM EKSTRAK JAGUNG UNGU


(Zea Mays) MENGHAMBAT PENINGKATAN KADAR
MMP-1 DAN PENURUNAN JUMLAH KOLAGEN
PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus)
YANG DIPAPAR SINAR UV-B

RINI DIANASARI
NIM : 1290761017

PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014

i
PEMBERIAN KRIM EKSTRAK JAGUNG UNGU
(Zea Mays) MENGHAMBAT PENINGKATAN KADAR
MMP-1 DAN PENURUNAN JUMLAH KOLAGEN
PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus)
YANG DIPAPAR SINAR UV-B

Tesis Untuk Memperoleh Gelar Magister


Pada Program Magister, Program Studi Ilmu Biomedik,
Program Pascasarjana Universitas Udayana

RINI DIANASARI
NIM : 1290761017

PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014

ii
Lembar Persetujuan Pembimbing/promotor

TESIS INI TELAH DISETUJUI


PADA TANGGAL 27 NOVEMBER 2014

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS Dr.dr.A.A.G.P.Wiraguna,SpKK(K),FINSDV,FAADV


NIP 194612131971001 NIP .1956091219841211001

Mengetahui,

Ketua Program Studi Magister Direktur Program Pascasarjana


Program Pascasarjana Universitas Udayana
Universitas Udayana

Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K)
NIP 194612131971001 NIP 19590215985102001

iii
Lembar Penetapan Panitia Penguji Tesis

Tesis ini Telah Diuji dan Dinilai


oleh Panitia Penguji pada
Program Pascasarjana Universitas Udayana
pada Tanggal : 27 November 2014

Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana,


No :.................
Tanggal : .................
Panitia penguji Tesis adalah:
Ketua : Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS

Anggota :
1. Dr.dr.A.A.G.P .Wiraguna,SpKK (K), FINSDV,FAADV
2. Prof.dr.I Gusti Made Aman, Sp. FK
3. Dr.dr.Ida Sri Iswari,Sp.MK.M.Kes
4. Prof. dr. N. Tigeh Suryadhi, MPH, Ph.D

iv
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Rini Dianasari

NIM : 1290761017

Program Studi : Magister Ilmu Biomedik Kekhususan Anti Aging Medicine

Judul Tesis :
PEMBERIAN KRIM EKSTRAK JAGUNG UNGU(Zea Mays L)
MENGHAMBAT PENINGKATAN KADAR MMP 1 DAN PENURUNAN
JUMLAH KOLAGEN PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus)
YANG DIPAPAR SINAR UV-B

Dengan ini menyatakan bahwa karya ilmiah Tesis/Disertasi* ini bebas plagiat.

Apabila di kemudian hari terbukti plagiat dalam karya ilmiah ini, maka saya
bersedia menerima sanksi sesuai peraturan Mendiknas RI No. 17 Tahun 2010 dan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Denpasar, 27 November 2014


Yang membuat Pernyataan

( Rini Dianasari )

*Coret yang tidak perlu

v
UCAPAN TERIMAKASIH

Pertama-tama perkenankanlah penulis memanjatkan puji syukur kehadiran


Allah SWT, karena rahmat dan karunia-Nya penelitian dan penyusunan tesis yang
berjudul Pemberian Krim Ekstrak Jagung Ungu (zea mays) Menghambat
Peningkatan Kadar MMP-1 dan Penurunan Jumlah Kolagen pada Tikus
Wistar (rattus norvegicus)Yang Dipapar Sinar UV-B dapat berjalan lancar
sesuai waktu yang direncanakan.
Tesis ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan tugas akhir belajar
untuk meraih gelar Magister pada Program Magister Program Studi Ilmu
Kedokteran Biomedik, kekhususan Anti-Aging Medicine Program Pascasarjana
Universitas Udayana. Dengan selesainya laporan ini, penulis ingin menyampaikan
rasa hormat serta penghargaan dan ucapan terimakasih yang sebesar besarnya
kepada Prof. Dr. dr. I Ketut Suastika, SpPD-KEMD selaku Rektor Universitas
Udayana yang telah memberikan fasilitas pendidikan dan kesempatan kepada
Program Pascasarjana Universitas Udayana.
Ucapan yang sama ditujukan kepada Prof. Dr. dr. A. A Raka Sudewi,
SpS(K) sebagai Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana, Prof. Dr.
Made Budhiarsa, MA selaku Asdir I dan Prof. Dr. Made Sudiana Mahendra, PhD
selaku Asdir II atas kesempatan yang diberikan untuk menjadi mahasiswa di
Program Pasca Sarjana Universitas Udayana.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-
besarnya kepada Prof. Dr. dr. Wimpie I. Pangkahila SpAnd. FAACS, sebagai
pembimbing I yang dengan penuh kesabaran dan perhatian telah memberikan
dorongan, semangat, bimbingan dan saran selama penulis mengikuti program
magister , khususnya dalam penyelesaian tesis ini.
Terima kasih yang sebesar-besarnya pula penulis sampaikan kepada
Dr.dr.A.A.G.P.Wiraguna,SpKK(K),FINSDV,FAADV sebagai pembimbing II
yang telah memberikan bimbingan dan saran dengan penuh perhatian dan
kesabaran kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Prof. Dr. dr. I Gusti
Made Aman, Sp.FK, Prof. dr. N Tigeh Suryadhi,MPH,PhD , Dr. dr. Ida Sri
Iswari, SpMK, M.Kes. selaku penguji yang secara teliti mengkoreksi tesis ini dan
memberikan masukan yang positif baik saat akan mulai penelitian sampai
penulisan, untuk lebih menyempurnakan laporan ini.
Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan ucapan terimakasih
kepada dr. I.Gusti Kamasan Nyoman Arijana, M.si.Med dan seluruh staf
laboratorium di histologi yang membimbing, memberi saran, masukan
sehubungan pelaksanaan pemeriksaan histologi laboratrium serta analisanya
sehingga penelitian ini dapat berjalan lancar.
Tak lupa penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada Drs. I Ketut
Tunas, Msi yang sangat banyak membantu terutama memberikan masukan, saran,
terutama dalam analisa statistik sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada dr. Bayu Dwi
Siswanto M.Si ,Dipl. Cid selaku pemilik PT Syifa Bio Derma yang membantu dan
membimbing pada saat pembuatan krim ekstrak jagung ungu.

vi
Tak lupa penulis juga menyampaikan rasa terimakasih kepada Bapak Yoga
yang sudah banyak membantu dalam pembuatan ekstrak murni jagung ungu
Ucapan terimakasih yang sedalam-dalamnya juga saya sampaikan kepada
Para dosen dan pengajar Ilmu Biomedik FK UNUD, dan seluruh karyawan
bagian Ilmu Biomedik serta semua pihak yang telah membantu selama
pendidikan, penelitian dan penulisan tesis ini, dengan rendah hati saya ucapkan
beribu terimakasih.
Tidak lupa penulis ucapkan kepada Bapak I Gede Wiranata yang selalu
menyumbang pikiran positif serta memberi bantuan tanpa kenal lelah dari saat
pemeliharaan tikus, melakukan biopsi sampai pengiriman hasil biopsi sehingga
penelitian berjalan lancar.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang
tulus disertai penghargaan kepada seluruh guru-guru yang telah membimbing
penulis, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Penulis juga ucapkan
terimakasih kepada Ayahanda Drs. Soepono (Alm) dan Ibunda Hj. Mun Komariah
yang telah mengasuh dan membesarkan penulis, menanamkan nilai-nilai luhur,
sehingga tercipta suasana yang baik untuk berkembangnya intelektualitas,
kreativitas dan kejujuran. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada Bapak mertua
Drs. H. Muchsin Alwi MPH dan Ibu mertua Hj. S. Anisah atas dorongan dan
dukungannya kepada penulis dalam menempuh pendidikan ini. Serta tak lupa
kepada kakak-kakak dan adik-adik atas doa dan dukungannya selama ini.
Akhirnya penulis sampaikan kepada suami tercinta Aria Suyudi ,
SH,LLM yang dengan penuh pengertian dan kesabaran selalu mendampingi
penulis selama ini, serta anak-anak tersayang Shalina Diandraissa Suyudi, Sultan
Devino Suyudi dan Sybrant Drienardsyah Suyudi yang dengan penuh kerelaan
dan pengorbanan membantu penulis untuk lebih berkonsentrasi menyelesaikan
naskah tesis ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada teman-teman di Program Magister Program Studi Ilmu Kedokteran
Biomedik, kekhususan Anti-Aging Medicine Program Pascasarjana Universitas
Udayana, khususnya teman-teman angkatan 2012, atas motivasi, semangat dan
kebersamaannya.
Kekurangan adalah milik manusia, kesempurnaan hanyalah milik Allah
SWT. Saran dari berbagai pihak akan penulis terima dengan hati terbuka untuk
kelengkapan dan lebih baiknya laporan tesis ini. Semoga semua yang baik dari
segala penjuru bersatu di dalam hati kita semua.
Akhir kata, semoga Allah Yang Maha Kuasa, senantiasa melimpahkan berkat dan
rahmat-Nya kepada kita semua, Amin.

Denpasar, 19 November 2014

Rini Dianasari

vii
ABSTRAK

PEMBERIAN KRIM EKSTRAK JAGUNG UNGU (Zea Mays)


MENGHAMBAT PENINGKATAN KADAR MMP-1 DAN
PENURUNAN JUMLAH KOLAGEN PADA TIKUS WISTAR
(Rattus norvegicus) YANG DIPAPAR SINAR UV-B

Pembentukan radikal bebas adalah mekanisme penting yang menyebabkan


penuaan kulit. Radikal bebas adalah molekul yang sangat reaktif dengan elektron
tidak berpasangan yang dapat langsung merusak berbagai membran sel struktural,
lipid, protein dan DNA. Antioksidan adalah zat yang dapat memberikan
perlindungan dari tekanan oksidatif endogen dan eksogen oleh radikal bebas.
Jagung Ungu mengandung asam fenolik, vitamin C dan antosianin. Antosianin
merupakan kandungan utama pada jagung ungu dan merupakan antioksidan yang
dapat menghambat proses penuaan kulit pada tikus yang dipapar sinar UV- B.
Tujuan penelitian ini untuk membuktikan efektivitas pemberian krim ekstrak
jagung ungu dalam menghambat peningkatan kadar MMP-1 dan penurunan
jumlah kolagen pada tikus wistar (Rattus norvegicus) yang dipapar sinar UV-B.
Penelitian ini adalah merupakan animal experimental dengan post test only
control group design. Sebanyak 36 ekor tikus dibagi menjadi 2 kelompok yang
masing-masing terdiri dari 18 ekor tikus, yaitu kelompok kontrol diolesi krim
plasebo dan kelompok perlakuan diolesi krim ekstrak jagung ungu 50%. Semua
kelompok dipapar sinar UV- B dengan dosis total 840 mJ/cm selama 4 minggu,
kemudian dilakukan biopsi untuk pemeriksaan kadar MMP-1 dan jumlah kolagen
dermis.
Hasil Uji Shapiro-Wilk dan Levenetest menunjukkan bahwa distribusi
data kedua kelompok berdistribusi normal dan varian-nya homogen dengan p
0,05. Hasil analisis komparatif kedua kelompok dengan menggunakan t-
independent test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan secara bermakna antara
kedua kelompok baik itu rerata kadar MMP-1 maupun jumlah kolagen kedua
kelompok dengan p < 0,05. Rerata jumlah kolagen dan rerata kadar MMP-1
perlakuan-2 masing-masing sebesar 71,7% dan 1,9 g/ml . Kelompok perlakuan-1
yang menunjukkan rerata jumlah kolagen dan rerata kadar MMP-1 masing-
masing sebesar 65,54 % dan 3,22 g/ml.
Simpulan penelitian adalah pemberian krim ekstrak jagung ungu 50 %
menghambat peningkatan kadar MMP-1 dan penurunan jumlah kolagen dermis
pada kulit tikus yang dipapar sinar UV-B.

Kata kunci: Antosianin, krim ekstrak jagung ungu 50 %, kadar MMP-1, jumlah
kolagen dermis, sinar UV-B.

viii
ABSTRACT

TOPICAL APPLICATION OF PURPLE CORN (Zea Mays L ) EXTRACT


CREAM INHIBITS THE ELEVATION OF MMP-1 LEVEL
AND THE DECLINE OF COLLAGEN AMOUNT
ON WISTAR MICE (Rattus norvegicus) EXPOSED TO UV-B RAY

Formation of free radicals is an important mechanism causing skin aging.


Free radicals are highly reactive molecules with unpaired electrons which can
directly disrupt various structures of cell membrane, lipids, proteins, and DNA.
Antioxidant is a substance which is able to give protection from endogenous and
exogenous oxidative pressure caused by free radicals. Purple corn contains
phenolic acid, vitamin C, and anthocyanin. Anthocyanin is the main contained
substance in purple corn and acts as antioxidant and able to inhibits aging process
on skin surface of mice exposed with UV-B ray. The aim of this research is to
prove the effectivity of administration of purple corn extract cream on inhibiting
the elevation of MMP-1 level and the decrease of of collagen amount on wistar
mice (Rattus norvegicus) exposed with UV-B.
This research is animal experiment with post test only control group
design. As many as 36 mice were divided into 2 groups containing 18 mice each,
control group with appliance of placebo cream and intervention group applied
with 50% purple corn extract cream. All groups were exposed with UV-B with
dose of 840 mJ/cm for 4 weeks, and biopsy were taken to examine the level of
MMP-1 and collagen amount on dermis.
The results of Shapiro-Wilk and Levenes test showed that the data
distribution between the two groups were normally distributed with homogenous
variance and p 0,05. Comparative analysis with t-independent test showed that
there is a significant difference between both groups, either on the mean level of
MMP-1 or the collagen amount on both groups with p < 0,05. The mean collagen
amount and mean MMP-1 level of intervention 2 are 71,7% and 1,9 g/ml,
respectively . Intervention-1 group shows the mean amount of collagen and
MMP-1 level are 65,54 % and 3,22 g/ml, respectively.
The conclusion of this research is the administration of 50% purple corn
extract cream inhibits the increase of MMP-1 level and the decrease of the amount
of dermal collagen on mices skin exposed with UV-B.

Keywords: Anthocyanin, 50% purple corn extract cream, MMP-1 level, dermal
collagen amount, UV-B ray.

ix
DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ............................. ................................................................... i


PRASYARAT GELAR........................................................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN...................................................................................iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI...................................................................... iv
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT........................................................v
UCAPAN TERIMAKASIH ...................................................................................vi
ABSTRAK (BAHASA INDONESIA)..................................................................vii
ABSTRACT (BAHASA INGGRIS)....................................................................viii
DAFTAR ISI ..........................................................................................................ix
DAFTAR GAMBAR............................................................................................xiii
DAFTAR TABEL.................................................................................................xiv
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG ...................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1


1.1. Latar Belakang .............................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................8
1.3. Tujuan Penelitian ..........................................................................................8
1.3.1. Tujuan Umum.................................................................................... 8
1.3.2. Tujuan Khusus ................................................................................... 9
1.4. Manfaat Penelitian ........................................................................................9
1.4.1. Manfaat Keilmuan ............................................................................. 9
1.4.2. Manfaat Praktis.................................................................................. 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA .................................................................................10


2.1. Proses Penuaan (Aging) .............................................................................10
2.1.1 Teori Penuaan dan Faktor yang Mempengaruhi Penuaan .................. 10
2.1.2 Mekanisme Aging ............................................................................... 14
1. Tahapan subklinik (usia 25-35 tahun) ................................................. 14
2. Tahap transisi (usia 35 -45 tahun) ....................................................... 14
3. Tahap klinik (Usia 45 th ke atas) ........................................................ 15

x
2.2 Proses Penuaan Pada Kulit .........................................................................15
2.2.1. Definisi penuaan pada kulit ............................................................. 15
2.2.2. Mekanisme Penuaan Kulit............................................................... 18
2.2.3. Fenomena Penuaan pada Kulit ........................................................ 19
2.3. Sinar Ultra Violet .......................................................................................20
2.3.1 Efek Radiasi Sinar UV .................................................................... 22
2.4. Anatomi dan Fungsi Kulit Manusia ...........................................................23
2.5. Fibroblas .....................................................................................................28
2.6. Matriks Metalloproteinase .........................................................................29
2.7. Photoaging dan Mekanisme Kerusakan pada Kolagen ..............................32
2.8. Manifestasi Klinis dan Histologis pada Kulit Mengalami Photoaging ...... 36
2.9. Radikal Bebas dan Antioksidan .................................................................37
2.9.1. Radikal Bebas .................................................................................. 37
2.9.2. Antioksidan ..................................................................................... 38
2.9.2.1. Peranan Antioksidan pada Kulit yang Mengalami Kerusakan
karena Pajanan Sinar UV ........................................................................... 39
3.1. Jagung Ungu (Zea Mays L) ........................................................................40
3.2. Antosianin ..................................................................................................42
3.2.1. Struktur Kimia ................................................................................. 43
3.2.2. Efek Fisiologis ................................................................................. 44
3.3. Vitamin C ...................................................................................................45

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN47


3.1. Kerangka Berpikir ...................................................................................47
3.2. Konsep Penelitian ....................................................................................49
3.3. Hipotesis Penelitian .................................................................................50

BAB IV METODE PENELITIAN ........................................................................51


4.1 Rancangan Penelitian ...............................................................................51
4.2. Parameter yang diamati ...........................................................................52
4.3. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................52
4.4. Populasi dan Sampel ...............................................................................53
4.4.1. Populasi ........................................................................................ 53
4.4.2. Sampel .......................................................................................... 53
4.4.3. Besar sampel dan teknik penentuan sampel ................................. 54
4.5. Variabel Penelitian .................................................................................54
4.5.1. Klasifikasi variabel ....................................................................... 54
4.5.2. Hubungan antar variabel .............................................................. 55
4.6. Definisi operasional variabel ..................................................................56
4.7. Bahan dan Instrumen Penelitian ..............................................................58

xi
4.7.1. Bahan penelitian ............................................................................. 58
4.7.2. Instrumen penelitian ....................................................................... 58
4.7.3. Hewan percobaan ........................................................................... 58
4.8. Prosedur Penelitian ..................................................................................59
4.9. Analisis Statistik ......................................................................................64

BAB V HASIL PENELITIAN ..............................................................................66


5.1. Uji Normalitas Data..................................................................................66
5.2. Uji Homogenitas Data ..............................................................................67
5.3. Kadar MMP-1 ...........................................................................................67
5.4. Jumlah Kolagen ........................................................................................68

BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN .................................................72


6.1. Subyek Penelitian ....................................................................................72
6.2. Distribusi dan Homogenitas Data Hasil Penelitian .................................72
6.3. Pengaruh Pemberian Ekstrak Jagung Ungu ............................................73
6.3.1. Kadar MMP-1............................................................................... 73
6.3.2. Jumlah Kolagen ............................................................................ 77

BAB VII SIMPULAN DAN SARANAN .............................................................81


7.1. Simpulan .................................................................................................81
7.2. Saran .......................................................................................................81

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................82


Lampiran 1: Prosedur Penanganan Hewan Coba ...................................................90
Lampiran 2 : Ethical Clearance ..............................................................................95
Lampiran 3 : Hasil Analisis Ektrak Jagung Ungu ..................................................96
Lampiran 4 : Analisa Statistika ..............................................................................97
Lampiran 5 : Foto Aktifitas Penelitian ...................................................................98

xii
Daftar Gambar
Gambar 2. 1 Model Mekanisme Photoaging (Helfrich et al., 2008) .................... 31

Gambar 2. 2 Model Hipotesis Patofisiologi Solar Scar (Fischer, 2001) ............... 35

Gambar 2. 3 Jagung Ungu (Varien Moos, 2013) .................................................. 41

Gambar 2. 4 Struktur 6 Jenis Antosianidin, dalam Bentuk Glukosida dengan


Glukosa ................................................................................................................. 43

Gambar 4. 1 Rancangan The Randomized Post-test Only Control Group...........51


Gambar 4. 2 Skema Hubungan Antar Variabel Penelitian ................................... 55

Gambar 5. 3. Jumlah kolagen pada Jaringan Dermis Tikus dengan Pengecatan


Picro Sirius Red......................................................................................................71

xiii
Daftar Tabel
Tabel 2. 1 Kandungan antosianin pada beberapa buah dan sayuran .................... 42
Tabel 5. 1 Hasil Uji Normalitas Data Kolagen dan MMP-1..................................66
Tabel 5. 2. Homogenitas Kolagen dan MM-1 antar Kelompok Perlakuan ........... 67
Tabel 5. 3. Perbedaan Rerata Jumlah Kolagen Antara Kelompok Sesudah
Diberikan Krim Ekstrak Jagung Ungu 50%.......................................................... 69
Tabel 5. 4. Perbedaan Rerata Kadar MMP-1 Antar Kelompok ............................ 67

xiv
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

A4M : American Academy of Anti Aging Medicine


AAM : Anti Aging Medicine
AP-1 : Activator Protein
BPS : Badan Pusat Statistik
CIE : Commision Internationale d lEclairage
Ca : Kalsium
cDNA : Complementary Deoxyribonucleic Acid
Cu : kuprum
CoQ10 : koenzim Q10
DHEA : Dehydroepiandrosterone
DNA : Deoxyribonucleic acid
deg. : Degeneratif
et al : dan kawan-kawan
ELISA : Enzym-linked Immunosorbent Assay
ECM : Extra Cellular Matrix
EPA : Eikosapentanoeat Acid
fe : ferrum
g : gram
GH : Growth Hormon
HCl : Asam Klorida
HRD-Avidin : Horseradish peroxidase-conjugated avidin
IL-1 : Interleukin-1
Kj : Kilo Joule
MED : Minimal Erythema Dose
mJ/cm : mili Joule per sentimeter persegi

xv
MMP : Matrix Metalloproteinase
MMPs : Matrix Metalloproteinases
MMP-1 : Interstitial Collagenase
MMP-14 : Matrix Metalloproteinase-14
MMP-15 : Matrix Metalloproteinase-15
MMP-16 : Matrix Metalloproteinase-16
mRNA : Messenger Ribonucleic Acid
NF- : Nuclear factor kappa-light-chain-enhancer of activated B cells
O2 : Oksigen
P : Fosfor
PDA M : Perusahaan Daerah Air Minum
pH : Pangkat Hidrogen
ROS : Reactive Oxygen Species
SOD : Superoxide Dismutase
SPSS : Statistical Package for the Social Science
TRII : TGF- type II receptor
TGF- : Transforming Growth Factor-beta
TL : Tubular Lamp

TMB : Tetramethylbenzidine
TNF- : Tumor Necrosing Factor-alfa
UV : Ultraviolet
UV-A : Ultraviolet A
UV-B : Ultraviolet B
UV-C : Ultraviolet C
Q10 : Koenzim 10
: alfa
: beta

xvi
1

BAB I

PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penuaan atau aging process merupakan proses alami yang akan dialami

oleh setiap makhluk hidup di dunia ini, tetapi proses penuaan setiap orang

tidaklah sama, ada beberapa orang yang mengalami proses penuaan lebih cepat

dibandingkan dengan orang lain. Kecepatan proses penuaan tersebut dipengaruhi

oleh beberapa faktor, baik faktor ekstrinsik maupun intrinsik .

Proses penuaan intrinsik merupakan proses penuaan yang berlangsung

secara alamiah yang disebabkan berbagai faktor dari dalam tubuh sendiri, seperti

genetik, hormonal, dan ras. Proses penuaan ekstrinsik terjadi akibat berbagai

faktor dari luar tubuh seperti sinar matahari/ultraviolet (Wlascheck, et al .,

2001;Yaar dan Gilchrest, 2007; Baumann dan Saghari, 2009), kelembaban udara

(Cunnningham, 2003; Yaar dan Gilchrest, 2007), suhu (Baumann dan Saghari,

2009), asap rokok, polusi (Baumann dan Saghari,2009), dan berbagai faktor

eksternal lainnya yang dapat mempercepat proses penuaan kulit sehingga terjadi

penuaan dini. Proses ini dapat dicegah dengan menghindari faktor-faktor yang

mempercepat proses tersebut (Cunnningham, 2003; Yaar dan Gilchrest, 2007;

Baumann dan Saghari, 2009).

Proses penuaan atau aging sangat erat kaitannya dengan radikal bebas

(Goldman dan Klatz, 2007; Pangkahila, 2007). Radikal bebas terbentuk baik dari

proses metabolisme normal di dalam tubuh, ataupun dari kondisi patologis serta

1
2

dari sumber-sumber eksternal seperti asap rokok, polusi udara, radiasi sinar X,

sinar ultraviolet, pestisida, dan lain lain (Devasagayam et al., 2004). Pembentukan

radikal bebas di dalam sel terjadi secara terus menerus sebagai konsekuensi dari

reaksi enzimatik maupun non-enzimatik. Reactive Oxygen Species (ROS)

merupakan kumpulan radikal bebas yang berasal dari oksigen seperti radikal

superoxide, hydroxyl, hydroperoxyl, lipid peroxyl, dan lain lain (Devasagayam et

al, 2004). Radikal bebas dapat merusak integritas sel baik secara struktural

maupun fungsional yang dengan demikian dapat meningkatkan tingkat stres dan

kerusakan oksidatif sehingga mempercepat proses penuaan (Devasagayam et al,

2004; Goldman dan Klatz, 2007; Pangkahila, 2007).

Pada saat usia bertambah tua, akan terjadi penurunan fungsi dan

kemampuan untuk adaptasi terhadap terjadinya kerusakan dalam tubuh. Disertai

pula dengan terjadinya penurunan berbagai fungsi organ tubuh dan terjadinya

perubahan fisik pada tingkat seluler maupun pada sistem oleh karena proses

penuaan (Baskoro dan Konthen, 2008). Banyak faktor yang berperanan pada

terjadinya proses tersebut, dimana dapat dikelompokkan menjadi faktor internal

dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi adanya radikal bebas, hormon yang

berkurang, proses glikosilasi, apoptosis, sistem kekebalan yang menurun dan gen.

Faktor eksternal meliputi diet yang tidak sehat, gaya hidup yang tidak sehat,

kebiasaan yang salah, polusi lingkungan, radiasi, sinar UV, asap rokok, dan

stress (Rabe et al., 2006; Pangkahila, 2007).

Sedangkan teori yang mendasari terjadinya proses penuaan tersebut pun

beragam antara lain adalah wear and tear theory, dan teori program. Wear and
3

tear theory menyatakan bahwa pada prinsipnya tubuh dan sel menjadi rusak

karena terlalu sering digunakan, dimana kerusakan terjadi secara terus menerus

tidak hanya pada organ namun juga pada tingkat sel. Sedangkan teori program

menyatakan bahwa dalam tubuh manusia terdapat jam biologis, mulai dari proses

konsepsi sampai pada kematian dalam suatu model yang telah terprogram. Dari

teori-teori tersebut yang paling banyak dianut adalah teori radikal bebas. Teori

radikal bebas menyatakan bahwa proses menua diawali dengan inisiasi reaksi

radikal bebas yang terus menerus secara progresif dan menyebabkan kerusakan

sistem biologi (Pangkahila, 2007).

Proses penuaan tersebut merupakan hasil interaksi dari program genetik

dan kumulasi proses wear and tear selama hidup (Gilchrest dan Yaar, 2000;

Rabe et al., 2006). Sama halnya dengan organ lain dalam tubuh manusia, kulit

juga mengalami penuaan, baik internal maupun eksternal seperti yang disebutkan

diatas. Selain itu, kulit adalah organ yang mengalami kontak langsung dengan

lingkungan sehingga sangat terpengaruh oleh faktor lingkungan seperti radiasi

ultraviolet (UV) sinar matahari.

Penuaan yang disebabkan oleh radiasi kronis UV sinar matahari disebut

sebagai Photoaging (Gilchrest dan Krutmann, 2006), yang merupakan penuaan

yang terjadi akibat efek buruk kronis dari sinar matahari yang bertumpuk dengan

gejala penuaan kronologis. Proses ini bersifat kumulatif. Reaksi kronis dari

pajanan sinar ultraviolet matahari selama bertahun-tahun dapat menimbulkan

gangguan arsitektur kulit, dan terutama menyebabkan penuaan dini kulit

(photoaging), serta kanker kulit (Walker et al ., 2003; Quan et al ., 2009).


4

Kerusakan yang ditimbulkan dapat dilihat baik secara klinis, histologis atau

patologi anatomi maupun secara fungsional (Berneburg et al ., 2000). Paparan

radiasi UV sinar matahari menyebabkan kerusakan kulit melalui beberapa

mekanisme, termasuk pembentukan sunburn cell, tercetusnya respon peradangan,

terbentuknya thymine dimer dan produksi kolagenase (MMP / Matriks

Metaloproteinase) (Baumann, 2005). MMP adalah enzym proteinase mengandung

zinc, yang bertanggung jawab mendegradasi protein matriks ekstraseluler. MMP

diklasifikasikan sebagai kolagenase, gelatinase, stromyelisin dan tipe membran

(Quan et al ., 2009).

Radiasi UV dengan panjang gelombang 100-400 nm merupakan 5% dari

seluruh radiasi sinar yang ada. Radiasi UV terbagi atas tiga golongan yaitu UV-A

(320-400nm), UV-B (280-320nm) dan UV-C (100-280nm). UV-C biasanya tidak

sampai ke permukaan bumi kecuali pada dataran tinggi sekali dimana UV-C ini

diserap oleh lapisan ozon pada atmosfir. Yang paling banyak berpengaruh kepada

kesehatan kulit adalah UV-B, karena panjang gelombangnya yang lebih pendek

dan paling banyak menembus bumi, sinar UV juga terbukti meningkatkan

degradasi kolagen melalui aktivasi MMP. Sinar UV juga dapat memacu sintesis

MMP-1 dan MMP-3 melalui pelepasan Tumor Necrosing Factor-alfa (TNF-)

oleh keratinosit dan fibroblas serta menyebabkan penurunan Transforming

Growth Factor-beta (TGF-) (Gilchrest dan Krutmann, 2006).

Radiasi UV diketahui secara langsung dan tidak langsung mengganggu

integritas ekstraselular matriks dengan cara meningkatkan aktivitas MMP. Pada

kulit manusia, MMP-1 adalah tipe yang paling terpengaruh oleh induksi sinar UV
5

matahari dan bertanggungjawab terhadap pemecahan kolagen pada kulit yang

mengalami photoaging (Fisher et al ., 2001). Ditemukan bahwa hanya dengan

satu kali ekspos terhadap paparan radiasi UV sinar matahari dapat mengganggu

jaringan konektif dengan menyebabkan gangguan sintesis kolagen yang hampir

komplit, selama 24 jam yang kemudian diikuti dengan recovery 48-72 jam

setelahnya ( Fisher et al ., 2001). Selain itu juga terjadi degradasi kolagen karena

terjadi peningkatan kadar MMP-1 yang cukup signifikan yaitu sekitar 4,4 0,2

kali lipat jika dibandingkan dengan kulit yang tidak dipajan radiasi UV (Fisher et

al ., 2001). MMP-1 adalah mediator utama terhadap timbulnya degradasi kolagen

pada kulit yang mengalami photoaging. Enzim MMP-1 kolagenolitik

mendegradasi fibril kolagen dan elastin, yang penting untuk kekuatan dan

elastisitas kulit. Aktivitas MMP-1 di kulit akan meningkat walaupun hanya

dengan radiasi UV yang singkat, yang akan menyebabkan timbulnya kerutan pada

kulit, yang menjadi tanda photoaging (Yaar dan Gilchrest, 2008). Dengan

demikian, hambatan terhadap MMP-1 adalah salah satu cara untuk mencegah

kerusakan kulit akibat paparan sinar UV.

Selain itu radiasi ultraviolet menghasilkan reactive oxygen species / ROS

(Lee et al ., 2004; Yaar dan Gilchrest, 2007), bersama dengan aktivasi berbagai

ROS- sensitive signaling Pathways, yang selanjutnya akan mempengaruhi

berbagai macam fungsi selular termasuk menyebabkan fragmentasi kolagen dan

sekresi MMP-1 (Yaar dan Gilchrest, 2008; Helfrich et al ., 2008). Stres oksidatif

berpengaruh besar dalam proses photoaging dan fotokarsinogenesis dan juga

dalam patogenesis fotodermatosis (Stahl et al ., 2006).


6

Antioksidan diketahui dapat mencegah dan menangkal terbentuknya

radikal bebas (Stahl et al ., 2006; Yaar dan Gilchrest, 2007). Walaupun kulit

mengandung banyak enzim antioksidan [Superoksid dismutase (SOD), katalase

dan glutation peroksidase) dan molekul antioksidan non enzim (tokoferol

(vitaminE), koenzim Q10 (CoQ10), asam askorbat (vitamin C) dan karotenoid],

tetapi masih jauh dari efektif dalam mengatasi stres oksidatif yang terjadi, dan

cenderung terus berkurang bersama dengan bertambahnya usia (Yaar dan

Gilchrest, 2007; Nichols dan Katiyar, 2010) Penggunaan bahan kimia yang

berfungsi untuk melindungi kulit dari bahaya radiasi sinar matahari sudah banyak

dipakai. Salah satunya adalah senyawa polifenol dari tanaman. Penggunaan bahan

ini dimaksudkan untuk mencegah, mengembalikan dan memperlambat efek

buruk radiasi sinar UV terhadap kulit. Efek fotoprotektif kulit dari bahan polifenol

tampaknya diperoleh dari kemampuannya sebagai anti-peradangan, antioksidan,

dan mekanisme DNA Repair (Nichols dan Katiyar, 2010).

Polifenol adalah suatu kelompok bahan kimiawi (phytochemicals) yang

ditemukan dalam tumbuhan, ditandai dengan adanya lebih dari satu unit fenol per

molekul. Phenolic dalam makanan manusia terdiri dari Phenolic acid, tannin, dan

flavonoid. Polifenol yang paling banyak diteliti adalah golongan flavonoid, yang

dibagi menjadi dua grup besar yaitu antosianin dan antosantin. Antosianin

merupakan pigmen larut air yang sangat penting, yang bertanggung jawab dalam

memberi warna merah, biru, dan ungu pada tanaman (Fuhrman dan Aviram,

2002). Pigmen ini banyak terdapat pada makanan kita, antara lain buah-buahan
7

seperti blueberry, cranberry, billberry, juga terdapat pada kulit terong ungu, beras

merah, kulit anggur, ubi ungu, dan jagung ungu.

Antosianin sudah banyak dipakai di seluruh dunia sebagai pewarna

makanan, dan sejak jaman dahulu telah banyak dipakai sebagai obat herbal yang

dapat menyembuhkan hipertensi, demam, gangguan liver, diare dan disentri,

gangguan berkemih dan influenza (Konczak dan Zhang, 2004). Beberapa

penelitian terdahulu menunjukkan bahwa antosianin mempunyai bioaktivitas yang

berpotensi tinggi dalam pencegahan berbagai penyakit kronik seperti diabetes dan

katarak yang dipicu oleh diabetes (Ghosh dan Konishi, 2007). Antosianin juga

dapat memperbaiki profil lipid darah dan memiliki efek vasoprotektif (Kahkonen

dan Heinonen, 2003; Jawi dan Budiasa, 2009; Astadi et al ., 2009; Shipp dan

Abdel-Aal, 2010), dan juga mempunyai efek dalam menghambat pertumbuhan

dan merangsang apoptosis sel-sel kanker (Hui et al ., 2010).

Jagung ungu ( Zea Mays L. ) telah banyak dibudidayakan di Amerika

Selatan , terutama di Peru dan Bolivia , dan digunakan untuk menyiapkan

minuman dan makanan penutup selama berabad-abad karena kandungan pigmen

yang tinggi . Jagung ungu mengandung konsentrasi antosianin yang tinggi ( ~

1640 mg/100g FW ) jauh lebih tinggi daripada sumber yang kaya antosianin

lainnya, seperti berries ( 20 ~ 1500 mg/100g FW ) , lobak ( Raphanus sativus L. )

( 11 ~ 60 mg/100g FW ) , dan kubis ( Brassica oleracea L. )

( 322 mg/100g FW ) . Ketertarikan akan jagung ungu sebagai sumber antosianin

sebagai warna dan fitonutrien telah meningkat selama tahun terakhir . Banyak

manfaat kesehatan telah dikaitkan dengan ungu jagung , termasuk pengurangan


8

stres oksidasi , pencegahan obesitas dan diabetes , dan kanker usus besar ( Pu

Jing, 2006).

Dalam penelitian pada tikus Wistar yang dipapar sinar UV-B kemudian

diolesi krim ekstrak jagung ungu dengan dosis 25 %, 50 %, 100 % terbukti bahwa

ekstrak jagung ungu dengan dosis 50 % mempunyai efek perlindungan pada kulit

tikus Wistar yaitu dengan meningkatkan jumlah kolagen dermis dan menurunkan

kadar MMP-1. (Dianasari, 2013).

Dengan mempertimbangkan hal ini, timbul dugaan bahwa antosianin yang

banyak terdapat dalam ekstrak jagung ungu dapat menghambat penuaan dini kulit,

dengan menghambat peningkatan kadar MMP-1 pada tikus yang dipajan dengan

sinar UV-B, karena efek antioksidannya. Sehingga perlu dilakukan penelitian

untuk membuktikan dugaan tersebut diatas.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apakah pemberian krim ekstrak jagung ungu menurunkan kadar MMP-1

pada kulit tikus Wistar yang dipapar sinar UV-B?

2. Apakah pemberian krim ekstrak jagung ungu meningkatan jumlah

kolagen dermis pada kulit tikus Wistar yang dipapar sinar UV-B?

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum


Untuk mengetahui efektivitas pemberian krim ekstrak jagung ungu dalam

menghambat peningkatan kadar MMP-1 dan penurunan jumlah kolagen

pada tikus wistar (Rattus norvegicus) yang dipapar sinar UV-B


9

1.3.2. Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui krim ekstrak jagung ungu menurunankan kadar

MMP-1 pada tikus Wistar yang dipapar sinar UV-B.

2. Untuk mengetahui krim ekstrak jagung ungu meningkatkan jumlah

kolagen dermis pada tikus Wistar yang dipapar sinar UV-B

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Keilmuan


Memberi informasi ilmiah tentang fungsi proteksi krim ekstrak jagung ungu

dalam melindungi kulit dari kerusakan akibat paparan sinar UV-B.

1.4.2. Manfaat Praktis


Memberi informasi pada masyarakat tentang efek penggunaan krim ekstrak

jagung ungu yang dapat memberikan perlindungan pada kulit dari pengaruh

kerusakan oleh sinar UV-B dan mencegah penuaan dini sehingga dapat

digunakan dalam kehidupan sehari-hari.


10

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1. Proses Penuaan (Aging)

Secara umum proses penuaan akan dialami oleh semua mahluk yang

hidup di muka bumi ini. Proses tersebut adalah hal alamiah yang harus dijalani

dan tidak dapat dihindarkan, terjadi pada setiap orang dalam kecepatan yang

berbeda tergantung pada keadaan genetik seseorang, lingkungan dan gaya hidup

yang dilakukan, sehingga proses penuaan tersebut dapat terjadi lebih dini atau

lambat tergantung dari kesehatan individu (Fowler, 2003).

Definisi aging menurut A4M (American Academy of Anti Aging

Medicine) adalah kelemahan dan kegagalan fisik dan mental yang berhubungan

dengan aging yang normal disebabkan karena disfungsi fisiologik, yang mana

dalam banyak kasus dapat diubah dengan intervensi kedokteran yang tepat

(Klatz, 2003).

2.1.1 Teori Penuaan dan Faktor yang Mempengaruhi Penuaan

Bermacam-macam teori proses menua telah dikemukakan para ahli namun sampai

saat ini mekanisme yang pasti belum diketahui. Batas waktu yang tepat antara

terhentinya pertumbuhan fisik dan dimulainya proses menua tidak jelas, karena

kedua proses tersebut saling berkaitan (Wasitaatmadja, 2003).

10
11

Teori Penuaan

1. Teori Radikal Bebas

Banyak teori yang menjelaskan mengenai penuaan, yang paling banyak

dianut adalah teori radikal bebas. Radikal bebas adalah elektron dalam tubuh yang

tidak memiliki pasangan sehingga akan berusaha mencari pasangan agar dapat

berikatan dan stabil. Sebelum mendapat pasangan radikal bebas akan terus

menerus merusak sel tubuh termasuk sel tubuh normal. Hal tersebut

mengakibatkan sel akan cepat rusak dan menua, bahkan mungkin dapat

menimbulkan terjadi kanker atau keganasan. Radikal superoksid dan hidroksil

akan terbentuk saat respirasi mitokondria yang timbul akibat auto oksidasi

berbagai molekul intraseluler serta akibat pengaruh lingkungan seperti sinar

ultraviolet. Enzim superoksid dismutase akan berkurang seiring bertambahnya

umur sehingga akan mengakibatkan antioksidan alami tubuh tidak mampu lagi

menetralisir oksidan yang terbentuk.

2. Teori Replikasi DNA (Deoxyribonucleic Acid Replication Theory)

Teori ini mengemukakan bahwa proses menua merupakan akumulasi

bertahap kesalahan dalam masa replikasi DNA. Kerusakan DNA akan

menyebabkan pengurangan kemampuan replikasi DNA yang mempengaruhi masa

hidup sel. Diperkirakan sekitar 50% DNA akan menghilang dari jaringan pada

usia kira kira 70 tahun.


12

3. Teori Kelainan Alat (Orgell Error Theory)

Kesalahan transkripsi DNA akan dapat menghasilkan RNA yang tidak

sempurna, hal tersebut mengakibatkan kelainan pada berbagai enzim dan protein

intraseluler sehingga terjadi gangguan fungsi sel dan menyebabkan kerusakan

atau kematian sel bersangkutan. Jumlah enzim yang tidak aktif akan semakin

bertambah dengan meningkatnya umur.

4. Teori Ikatan Silang (Cross Linkage Theory)

Proses menua terjadi akibat terbentuk ikatan silang yang progresif antara

protein intraseluler dan interseluler seperti contoh pada serabut kolagen. Ikatan

silang ini akan meningkat dengan bertambahnya umur. Ikatan silang ini akan

menyebabkan penurunan elastisitas dan kelenturan kolagen pada membran basalis

atau pada substansi dasar jaringan penyambung dan hal tersebut akan

menyebabkan kerusakan fungsi organ.

5. Teori Program Genetik

Teori ini mengatakan bahwa, organ tubuh kita sudah memiliki program

genetik dalam DNA masing masing yang akan mengatur fungsi fisik dan mental

masing masing individu. Program ini yang akan menentukan berapa usia kita

mulai menua, usia berapa kita akan meninggal. Setiap manusia seakan memiliki

bom waktu yang berdetik terus sampai masanya habis dan setelah itu meninggal.
13

6. Teori Endokrin

Proses menua dikendalikan oleh alat pacu antara lain timus, hipotalamus,

hipofise, kelenjar tiroid yang yang bekerjasama mengatur keseimbangan

hormonal dan regenerasi sel tubuh manusia. Jumlah produksi hormon adalah

saling berinteraktif. Bilamana salah satu hormon produksinya berkurang kan

menyebabkan produksi hormon yang lain dapat berubah, bisa berkurang dan

bahkan malah bertambah.

7. Teori Telomerase

Telomer adalah rangkaian asam nukleat yang terdapat di ujung kromosom

yang berfungsi sebagai penjaga keutuhan kromosom. Setiap kali sel tubuh

membelah maka telomer akan menjadi lebih pendek. Bila ujung telomer sudah

terlalu pendek maka kemampuan sel untuk membelah atau mereparasi akan

berkurang, melambat dan sel akhirnya tidak dapat membelah lagi atau mati. (

Klatz dan Goldman, 2003; Yaar dan Gilchrest, 2008)

Banyak faktor yang berperanan pada terjadinya proses penuaan, dimana

dapat dikelompokkan menjadi faktor internal maupun eksternal. Faktor internal

meliputi adanya radikal bebas, hormon yang berkurang, proses glikosilasi,

metilasi, apoptosis, sistem kekebalan yang menurun dan faktor genetik.

Sedangkan faktor eksternal yang utama adalah gaya hidup yang tidak sehat, diet

tidak sehat, kebiasaan yang salah, polusi lingkungan, radiasi sinar ultraviolet, stres

dan kemiskinan (Pangkahila, 2007).


14

2.1.2 Mekanisme Aging


Proses penuaan yang terjadi pada individu tidak terjadi begitu saja dengan

langsung menunjukkan tanda dan gejala penuaan seperti terjadinya perubahan

fisik seperti massa otot berkurang, kulit berkerut, daya ingat berkurang, sulit tidur,

mudah tersinggung dan tanda tanda lainnya. Namun proses tersebut terjadi secara

bertahap meliputi tahapan sebagai berikut (Fowler, 2003; Pangkahila, 2007).

1. Tahapan subklinik (usia 25-35 tahun)


Di rentangan usia ini sebagian besar hormon dalam tubuh mulai menurun, yaitu

hormon testosteron, growth hormon, dan estrogen. Pembentukan radikal bebas

mulai terjadi, namun kerusakan yang terjadi belum tampak dari luar sehingga

pada tahapan ini individu masih merasa dan tampak normal, tanpa tanda dan

gejala penuaan.

2. Tahap transisi (usia 35 -45 tahun)


Pada tahap ini kadar hormon menurun sebanyak 25%. Massa otot berkurang 1 kg

setiap beberapa tahun, akibatnya tenaga dan kekuatan terasa hilang, sedang

komposisi lemak tubuh bertambah. Mulai muncul gejala penuaan seperti rambut

mulai putih, elastisitas kulit menurun, pigmentasi kulit menurun, demikian juga

halnya dengan pendengaran, penglihatan, dan dorongan seksual. Kerusakan oleh

radikal bebas mulai merusak ekspresi genetik, resiko terjadinya penyakit

meningkat. Saat ini orang akan mulai merasa tidak muda lagi dan tampak lebih

tua.
15

3. Tahap klinik (Usia 45 th ke atas)


Penurunan kadar hormon terus berlanjut yaitu DHEA, melatonin, GH,

testosteron, estrogen, dan tiroid. Terjadi penurunan sampai hilangnya

kemampuan penyerapan bahan makanan, vitamin, dan mineral. Densitas tulang

menurun, massa otot berkurang sekitar 1 kg setiap tiga tahunnya, akibatnya terjadi

ketidakmampuan membakar kalori, meningkatnya lemak tubuh dan berat badan.

Sistem organ mulai mengalami kegagalan, penyakit kronis menjadi lebih nyata.

Ketidakmampuan menjadi faktor utama.

Proses penuaan tidak selalu harus dinyatakan dengan gejala ataupun

keluhan. Apabila tidak terjadi gejala atau keluhan bukan berarti tidak mengalami

proses penuaan. Namun saat ini dengan pesatnya perkembangan ilmu

pengetahuan proses penuaan dapat dianggap dan diperlakukan sama dengan

penyakit, yang dapat dicegah, dihindari, dan diobati sehingga dapat kembali ke

keadaan semula (Pangkahila, 2007).

2.2 Proses Penuaan Pada Kulit

Sama halnya dengan organ lain dalam tubuh manusia, kulit juga

mengalami proses penuaan.

2.2.1. Definisi penuaan pada kulit


Menurut Medical online Dictionary, penuaan pada kulit adalah suatu

mekanisme biologis yang ditandai dengan adanya perubahan struktur maupun

elastisitas kulit, yang terjadi bersama dengan waktu sebagai bagian dari proses

penuaan fisiologis (intrinsik) maupun yang dipicu oleh efek dari luar (ekstrinsik).
16

1. Faktor penuaan intrinsik (intrinsic Aging, Chronologic Aging)

Merupakan proses menua fisiologik yang berlangsung secara alamiah, disebabkan

berbagai faktor dari dalam tubuh sendiri seperti genetik, hormonal maupun rasial.

2. Faktor Menua Ekstrinsik

Terjadi akibat berbagai faktor dari luar tubuh. Faktor lingkungan seperti radiasi

ultraviolet (UV) sinar matahari, kelembaban udara, suhu dan berbagai faktor luar

lainnya dapat mempercepat proses penuaan kulit sehingga terjadi penuaan dini

kulit. Selain itu, kulit adalah organ yang mengalami kontak langsung dengan

lingkungan sehingga sangat terpengaruh oleh faktor lingkungan.

Proses penuaan ekstrinsik berbeda dengan proses penuaan intrinsik baik

secara klinis maupun secara histologis. Secara klinis pada penuaan ekstrinsik

(terutama akibat radiasi sinar uv), kulit menjadi kering, kasar, tidak merata,

warnanya tidak merata (hipo/hiperpigmentasi), terjadi kerutan yang dalam atau

atrofi yang parah, timbul teleangiektasis, pembentukan lentigo solaris, timbulnya

lesi kulit premalignant, tidak elastis dan kaku, serta leathery appearance (Helfrich

et al., 2009). Ditambah tanda-tanda lain seperti elastosis (kulit menjadi kasar,

kuning dan timbul cobblestone effect) serta actinic purpura (kulit menjadi mudah

memar yang disebabkan oleh rapuhnya dinding pembuluh darah) (Gilchrest dan

Yaar, 2000). Sebaliknya penuaan kulit intrinsik (chronologic skin aging), ditandai

oleh timbul kerutan halus, xerosis, kusam, dan timbulnya berbagai tumor kulit

jinak kulit seperti seborrheic keratosis dan cherry angioma (Yaar dan Gilchrest,

2008). Penuaan ekstrinsik, secara histologis memiliki karakteristik berupa massa

elastin yang kusut dan kemudian mengalami degradasi membentuk massa yang
17

amorfik, jaringan penyangga kulit yang sebagian besar terdiri dari

glikosaminoglikan dan proteoglikan meningkat. Sementara itu, jumlah serat

kolagen berkurang karena degradasinya meningkat akibat peningkatan enzym

matriks metallo proteinase dan pelepasan sitokin, ditambah lagi dengan kontraksi

pada septa di lemak subkutan sehingga timbul kerutan. Kompaksi stratum

corneum meningkat, lapisan sel granular di epidermis menebal, epidermis menipis

akibatnya kulit jadi kering dan kasar. Melanosit yang mengalami hipertrofi

meningkat jumlahnya, begitu pula kadar melanin per unit nya, akibatnya muncul

frecless dan hiperpigmentasi (Yaar dan Gilchrest, 2008).

Penuaan berkaitan dengan perubahan yang bersifat progresif yang terjadi

di semua jaringan termasuk pada kulit. Suatu proses yang merupakan akibat dari

penggunaan sel secara terus menerus dan senescense, yang akhirnya akan diakhiri

dengan berkurangnya viabilitas dan kematian. Hal tersebut dipengaruhi oleh

faktor genetik, akumulasi dari pengaruh faktor lingkungan dan faktor endogen

lainnya yang berperanan pada life-span mahluk hidup (Tschachler dan Morizot,

2006; Yaar, 2006).

Ada 2 teori dasar penuaan pada kulit yaitu teori programmatik dan teori

stokastik (Gilchrest dan Yaar, 2000). Teori programmatik meliputi; 1) terjadinya

pemendekan telomere yaitu ujung kromosom eukariotik karena DNA polymerase

tak mampu mengadakan replikasi pada ujung akhir; 2) penuaan seluler dimana

adanya keterbatasan sel untuk membelah.

Teori stokastik meliputi adanya; 1) stress oksidatif yaitu tingkat penggunaan

oksigen berkaitan dengan proses penuaan, karena kurangnya efisiensi sistem


18

pertahanan oksidatif maka selama masa kehidupan terjadilah akumulasi kerusakan

oksidatif molekuler yang terkadang mengakibatkan terjadinya kematian sel secara

apoptosis; 2) Adanya kerusakan DNA ; 3) amino acid racemization: yaitu proses

penggantian asam amino-D dengan asam amino-L di dalam protein, terjadi selama

proses penuaan serta dapat mempengaruhi fungsi protein dan menyebabkan

akumulasi protein yang sudah tidak fungsional lagi pada jaringan; 4)

nonenzymatic glycosylation.

Proses penuaan berjalan sesuai waktu atau usia seseorang (chronological

/ intrinsic aging ) dan juga dapat diperberat oleh adanya faktor eksternal termasuk

yang paling banyak berperan adalah pajanan sinar ultra violet (exstrinsic aging).

2.2.2. Mekanisme Penuaan Kulit


Adanya akumulasi Reactive Oxygen Species (ROS) dinyatakan berperanan

penting pada proses penuaan kulit, dan hal ini terbukti dari penelitian yang telah

dilakukan. Kulit merupakan organ yang paling banyak mengalami kontak

langsung dengan lingkungan, sehingga banyak terpapar dengan ROS yang

berasal dari lingkungan termasuk dari udara, radiasi matahari, ozon, dan polusi.

Selain itu hasil metabolisme normal pun menghasilkan ROS, dari proses rantai

respirasi mitokondria yang mana elektron berlebih akan diberikan pada molekul

oksigen untuk kemudian terbentuk anion superoksid. Dengan bertambahnya usia

membuat berkurangnya kemampuan aktivitas sistem pertahanan dari enzymatic

antioxidant (Chung et al., 2004).


19

ROS yang terbentuk dari pajanan sinar ultra violet tersebut dapat

menekan serta merusak enzymatic antioxidant dan non enzymatic antioxidant

yang merupakan mekanisme pertahanan kulit terhadap radikal bebas. Hal ini akan

memicu terjadinya kerusakan oksidatif pada komponen seluler dan non seluler

yang akan berakibat pada terjadinya supresi sistem imun, penuaan dini kulit,

bahkan sampai mengakibatkan kanker kulit. ROS akan mengaktifkan jalur signal

tranduksi sitoplasmik pada fibroblast, hal ini berkaitan pada pertumbuhan,

diferensiasi, senescence, dan degradasi jaringan ikat, juga menyebabkan

perubahan genetik yang permanen (Kim et al., 2004).

Diperkirakan jumlah kolagen di dermis akan berkurang sebanyak 1 % tiap

tahunnya pada usia dewasa. Mekanisme berkurangnya kolagen selama proses

penuaan alamiah adalah akibat dari peningkatan ekspresi Matriks

Metalloproteinase (MMP). Peningkatan MMP mempengaruhi sintesis kolagen,

dimana dengan bertambahnya umur maka level MMP-1, 2, 9, dan 12 akan makin

bertambah sementara ekspresi procollagen mRNA lebih rendah dibanding saat

masih berusia muda (Chung et al., 2004). Pada proses penuaan alami terjadi

penurunan sintesa kolagen serta peningkatan ekspresi Matriks Metalloproteinase

sementara pada photoaging tampak peningkatan Matriks Metalloproteinase yang

lebih besar (Chung et al., 2001).

2.2.3. Fenomena Penuaan pada Kulit


Proses penuaan pada kulit terdiri dari 2 fenomena yang berbeda secara

signifikan namun dapat terjadi secara simultan, yaitu proses penuaan intrinsik
20

(intrinsic aging/chronological aging) dan penuaan ekstrinsik (extrinsic aging

/photoaging).

Penuaan intrinsik merupakan proses menyeluruh, dan berlangsung secara

alamiah sejalan dengan bertambahnya usia. Proses ini disebabkan oleh berbagai

faktor dari dalam tubuh sendiri yaitu faktor genetik, hormonal, dan ras. Pada

proses penuaan intrinsik yang terjadi lebih banyak ditandai dengan adanya

penurunan fungsi organ oleh karena bertambahnya usia tersebut dibandingkan

dengan perubahan morfologi yang tampak.

Proses penuaan ekstrinsik (extrinsic aging/photoaging), suatu proses

penuaan yang diakibatkan oleh berbagai faktor dari lingkungan di luar tubuh

yang terjadi secara terus menerus. Banyak faktor dari lingkungan yang ada di luar

tubuh yang dapat mempengaruhi proses penuaan antara lain sinar ultra violet,

kelembaban udara, suhu, polusi asap, dan paparan bahan kimiawi. Dari faktor

lingkungan tersebut yang paling banyak berperanan dalam penuaan kulit adalah

pengaruh dari pajanan sinar ultra violet, oleh karena itu proses penuaan ini

disebut juga sebagai photoaging. Faktor yang berpengaruh dari luar tersebut

dapat dihindari untuk mencegah terjadinya proses penuaan dini (Gilchrest dan

Yaar, 2000 ; Chung et al., 2004).

2.3. Sinar Ultra Violet

Radiasi sinar ultraviolet adalah bagian dari spektrum cahaya

elektromagnetik yang panjang gelombangnya lebih panjang daripada sinar-X

tetapi lebih pendek daripada sinar tampak yaitu antara 10 400 nm dan energi
21

antara 3 124 eV. Spektrum ultraviolet sinar matahari dapat dibagi menjadi 3

segmen berdasarkan panjang gelombang radiasinya. Yaitu gelombang pendek

(UV-C), gelombang medium (UV-B), dan gelombang panjang (UV-A).

1. UV-C dengan spektrum 200-290 nm, adalah radiasi yang paling banyak

diserap di lapisan ozon atmosfer bumi dan normalnya tidak mencapai

permukaan bumi. Panjang gelombang ini memiliki energi yang sangat

hebat dan bersifat sangat mutagenik. Radiasi UV-C dapat menembus kulit

sampai 60-80 m dan dapat merusak molekul DNA.

2. UV-B dengan spektrum 290-320 nm, paling banyak menembus atmosfer

bumi. Walaupun hanya 5% dari total radiasi sinar matahari, tetapi

bertanggungjawab atas sebagian besar photodamage pada kulit. Radiasi

UV-B dapat menenbus kulit sampai kedalaman kira-kira 160-180 m.

Sehingga dapat menembus seluruh lapisan epidermis (70% diserap di

stratum korneum, 20% dikeseluruhan epidermis) dan sebagian dermis

(sekitar 10%). Radiasi UV-B dapat memicu baik langsung maupun tidak

langsung, kerusakan DNA, stres oksidatif, penuaan dini kulit dan berbagai

efek terhadap sistem imun, serta memiliki efek penting terhadap timbulnya

tumor kulit.

3. UV-A dengan spektrum 320-400 nm, adalah jenis radiasi yang lemah.

1000 kali lebih lemah daripada UV-B namun 100 kali lebih banyak

mencapai permukaan bumi, sekitar 90-95% dari total radiasi sinar

matahari yang berhasil sampai ke permukaan bumi. UV-A dapat

menembus sampai kedalaman 1000 m. Radiasi UV-A diserap sebagian


22

besar pada lapisan epidermis, tetapi 20-30% mencapai bagian yang lebih

dalam dermis kulit manusia. Dan bertanggung jawab atas timbulnya tumor

kulit baik yang jinak maupun kanker (Kochevar dan Taylor, 2003;

Nichols dan Katiyar, 2010).

2.3.1 Efek Radiasi Sinar UV


Paparan sinar UV dari matahari dapat memicu pembentukan radikal bebas

pada kulit. Radikal bebas yang terbentuk akan menyebabkan menurunnya kinerja

enzim untuk mempertahankan fungsi sel, merusak protein dan asam amino yang

merupakan struktur utama kolagen dan elastin. Radiasi sinar ultra violet memiliki

rentangan yang luas dalam efek akut yang ditimbulkannya. Efek yang ditimbulkan

selain sunburn inflammation (erythema) dan tanning (melanogenesis) juga dapat

mengakibatkan DNA photodamage, immunosupresi, dan sintesis vitamin D.

Sedangkan paparan kronik dari sinar matahari dapat memicu terjadinya

photoaging dan lebih jauh lagi dapat memicu terjadinya kanker kulit seperti

squamous cell ca, basal cell ca, dan melanoma maligna (Young, 2000).

Sunburn (eritema) adalah reaksi inflamasi akut pada kulit ditandai dengan

kemerahan yang muncul akibat ekspos langsung berlebihan dengan radiasi sinar

UV. Radiasi UVA maupun UV- B dapat menimbulkan kemerahan pada kulit,

namun intensitas dan kecepatan menimbulkan kemerahannya berbeda. Reaksi

kemerahan kulit terhadap UVA lebih cepat tapi kurang intensif dibandingkan

dengan UV- B. Pada UV- B, respon kemerahan (eritema) muncul dalam waktu 6-

24 jam setelah ekspos langsung, tergantung dari dosis penyinaran. Dosis terkecil
23

yang dapat mengakibatkan reaksi kemerahan minimal yang terlihat dengan jelas

24 jam setelah ekspos disebut MED (Minimal Erythema Dose).

Paparan radiasi UV sinar matahari menimbulkan respon pigmentasi berupa

timbulnya warna kecoklatan (tanning) dan diikuti dengan pembentukan melanin

baru. Hal ini dipengaruhi oleh panjang gelombang radiasi. Pada paparan UVA,

respon pigmentasinya bertahan lebih lama dibandingkan dengan UV- B. Hal ini

mungkin disebabkan oleh UVA menginduksi pigmentasi pada lapisan yang lebih

dalam. Pada melanogenesis yang disebabkan oleh UV- B, akan menghilang

bersama dengan pelepasan sel epidermis tiap bulan (Fisher et al., 2001)

Hanya dengan satu kali ekspos terhadap paparan radiasi UV sinar matahari

dapat mengganggu jaringan konektif dengan menyebabkan gangguan sintesis

kolagen yang hampir komplet, selama 24 jam yang kemudian diikuti dengan

recovery 48-72 jam setelahnya( Fisher et al., 2002). Selain itu juga terjadi

degradasi kolagen karena terjadi peningkatan kadar MMP-1 yang cukup

signifikan yaitu sekitar 4,4 0,2 kali lipat jika dibandingkan dengan kulit yang

tida di pajan radiasi UV (Fisher et al., 2001).

2.4. Anatomi dan Fungsi Kulit Manusia

Kulit adalah organ tubuh yang penting untuk menjamin kelangsungan

hidup dan menyokong penampilan serta kepribadian seseorang, terletak pada

lapisan terluar dengan luas 1,5 m pada orang dewasa dengan berat kira-kira 15%

dari berat badan (Wasitaatmadja, 2007).


24

Secara garis besar kulit tersusun atas tiga lapisan yaitu lapisan epidermis,

lapisan dermis, dan lapisan subkutis. Batas antara dermis dan epidermis tidak

teratur, dimana tonjolan dermis yang disebut papilla dermis saling mengunci

dengan tonjolan epidermis yang disebut epidermal ridges. Sedangkan batas antara

dermis dan subkutis tidak ada garis tegas yang memisahkannya (Wasitaatmadja,

2007; Junqueira et al., 1997).

Secara histopatologis lapisan kulit dapat dijabarkan sebagai berikut:

2.4.1 Lapisan Epidermis terdiri atas:

2.4.1.1 Stratum korneum(lapisan tanduk)

Adalah lapisan kulit yang paling luar, terdiri atas beberapa lapis sel-

sel gepeng yang mati, tidak berinti dan protoplasmanya telah berubah

menjadi keratin (zat tanduk).

2.4.1.2 Stratum lusidum

Berada langsung di bawah lapisan korneum, merupakan lapisan sel-sel

gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi protein

yang disebut eleidin.

2.4.1.3 Stratum granulosum (lapisan keratohialin)

Merupakan 2-3 lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar

dan terdapat inti di antaranya, butiran kasar tersebut terdiri atas

keratohialin
25

2.4.1.4 Stratum spinosum (stratum malphigi)

Lapisan ini disebut juga prickle cell layer, terdiri atas beberapa lapis

sel yang berbentuk poligonal, protoplasmanya jernih karena banyak

mengandung glikogen, dan inti terletak di tengah-tengah. Sel-sel ini

makin dekat ke permukaan makin gepeng bentuknya, di antara sel-sel

terdapat jembatan antar sel yang terdiri atas protoplasma dan

tonofibril. Di antara sel-sel spinosum terdapat pula sel langerhans.

2.4.1.5 Stratum basale

Terdiri atas sel-sel berbentuk kubis (kolumnar) yang tersusun vertical

pada perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar. Lapisan ini

adalah lapisan epidermis paling bawah. Lapisan ini terdiri dari 2 jenis

sel yaitu sel kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan

besar, dan sel melanosit yang merupakan sel pembentuk melanin

dengan sitoplasma basofilik dengan inti gelap mengandung butir

pigmen (melanosom).

2.4.2 Lapisan Dermis

Lapisan ini lebih tebal daripada epidermis, terdiri dari lapisan elastik

dan fibrosa padat dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut .

dermis dibagi menjadi dua bagian yaitu


26

2.4.2.1 Pars papilare

Bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan

pembuluh darah.

2.4.2.2 Pars retikulare

Terdiri dari serabut-serabut penunjang seperti serabut kolagen, elastin

dan retikulin. Dasar (matriks) lapisan ini terdiri atas asam hialuronat

dan kondroitin sulfat, terdapat juga fibroblast. Serabut kolagen

dibentuk oleh fibroblast, membentuk ikatan yang mengandung

hidroksiprolin dan hidroksilisin. Serabut elastin biasanya

bergelombang berbentuk amorf dan mudah mengembang serta lebih

elastis. Retikulin mirip dengan kolagen muda.

2.4.3 Lapisan Subkutis

Kelanjutan dari dermis yang terdiri dari jaringan ikat longgar berisi

sel-sel lemak didalamnya. Sel lemak merupakan sel bulat besar dengan

inti terdesak ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah. Sel ini

berkelompok dipisahkan satu sama lainnya dengan trabekula yang

fibrosa. Pada lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh

darah dan getah bening.

Vaskularisasi di kulit diatur oleh 2 pleksus yaitu yang terletak di

bagian atas dermis (pleksus superfisialis) dan yang terletak di subkutis

( pleksus profunda) .
27

Kulit juga memiliki berbagai fungsi bagi tubuh antara lain adalah :

1. Fungsi proteksi

Kulit menjaga bagian dalam tubuh dari gangguan yang bersifat fisik atau

mekanis, gangguan kimiawi, radiasi sinar ultra violet, gangguan kuman

maupun jamur. Fungsi ini terjadi karena adanya bantalan lemak, tebalnya

lapisan kulit dan jaringan penunjangnya yang berperanan terhadap

gangguan yang bersifat fisik. Adanya melanosit turut berperan dalam

melindungi kulit dari pajanan sinar ultra violet. Keasaman kulit dengan

pH 5-6,5 merupakan perlindungan kimiawi terhadap infeksi bakteri dan

jamur.

2. Fungsi ekskresi

Kelenjar-kelenjar kulit akan mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna dan

sisa metabolism dalam tubuh. Produk kelenjar lemak dan keringat di kulit

menyebabkan keasaman kulit pada pH 5 6,5.

3. Fungsi persepsi

Fungsi persepsi ini disebabkan karena adanya ujung-ujung saraf sensorik

di dermis dan subkutis.

4. Fungsi pengaturan suhu tubuh

Peranan kulit dalam pengaturan suhu tubuh terjadi dengan cara

mengeluarkan keringat.
28

5. Fungsi imunitas

6. Fungsi sintesis vitamin D dan melanin

2.5. Fibroblas

Fibroblas adalah sel yang utama di lapisan dermis, berbentuk spindel

dengan sitoplasma bercabang cabang tidak teratur, nukleus berbentuk lonjong,

besar dan pucat dengan nukleolus yang jelas. Sel fibroblas bertanggung jawab

terhadap produksi kolagen, serat retikulin, serat elastik dan jaringan penyangga

dari dermis. Selain itu fibroblas juga dapat menghilangkan serat-serat tersebut

dengan mensekresikan enzim seperti collagenase (MMP-1) dan elastase (Obagi,

2000 ; Junqueira et al., 1997).

Fibroblas berperanan penting pada proses penyembuhan luka (wound

healing process). Adanya suatu kerusakan pada jaringan dapat merangsang sel

fibrosit dan mitosis fibroblas. Jadi dapat dikatakan bahwa fungsi utama fibroblas

adalah menjaga integritas struktur jaringan ikat dan mengatur turnover jaringan

ikat dengan memproduksi enzim yang dapat mendegradasi kolagen (collagenase),

elastin (elastase), proteoglikan dan glikosaminoglikan (stromelysin dan lysosomal

hydrolase).

Dengan bertambahnya usia, secara umum ukuran fibroblas akan menjadi

semakin mengecil dan menjadi berkurang aktivitasnya, sementara pada kulit yang

mengalami kerusakan oleh karena pajanan sinar ultra violet fibroblasnya sering

menjadi hipertopi.
29

Dari suatu penelitian dinyatakan bahwa sel fibrolas memiliki ketahanan

yang lebih kuat terhadap pajanan UV-B dibandingkan dengan sel lain seperti

keratinosit dan melanosit dengan dosis yang bersifat sitotoksik dari pajanan

narrowband UV-B (100,200, dan 400 mJ/cm) ataupun broadband UV-B (5,10,

dan 25 mJ/cm ) (Cho et al., 2008).

2.6.Matriks Metalloproteinase

Matriks Metalloproteinase (MMP ) adalah sekelompok proteinase

mengandung Zinc, yang bertanggung jawab mendegradasi protein matriks ekstra

seluler. MMP terdiri dari sekitar 25 anggota, dimana 24 nya terekspresi pada

mamalia. MMP diklasifikasikan sebagai kolagenase, gelatinase, stromelisin dan

tipe membran (Seltzer dan Eisen, 2003; Quan et al., 2009). Pada berbagai studi

ditemukan bahwa jenis yang paling banyak terpengaruh pada paparan radiasi UV

adalah interstisial kolagenase (MMP-1), stromyelisin-1 (MMP-3), 92kd-gelatinase

(MMP-9) (Fisher et al., 2002). UV menginduksi MMP-1 untuk menginisiasi

pemecahan fibril kolagen (tipe I dan III di kulit) pada satu tempat di tengah-

tengah tripel heliks fibril kolagen (Fisher et al., 2002).

Kolagen adalah penyusun utama kulit manusia, yang memberikan

kekuatan dan kekenyalan pada kulit. Kolagen tipe I adalah struktur protein utama

penyusun matriks ekstra seluler. Fibroblas dermis membuat molekul prekursor

yang disebut prokolagen. Prokolagen kemudian di sekresi ke dalam ruang ekstra

seluler yang kemudian di proses secara enzymatik menjadi kolagen matur.

Kolagen matur spontan membentuk fibril, yang segera di stabilkan dengan

crosslink.. fibril kolagen memiliki estimasi half life sekitar 17 tahun. Itu sebabnya
30

fibril kolagen yang terpecah dapat terakumulasi sepanjang waktu dan memiliki

konsekuensi yang panjang, terhadap struktur maupun fungsi kulit (Quan et al.,

2009) Terdapat dua regulator utama dalam proses produksi kolagen yaitu :

transforming growth factor (TGF-) dan activator protein-1 (AP)-1. TGF-

adalah sitokin yang meningkatkan produksi kolagen. Sedangkan AP-1 adalah

faktor transkripsi yang menghambat produksi kolagen serta meningkatkan

pemecahan kolagen melalui regulasi aktivitas enzym yang disebut matriks

metalloproteinase (MMP) (Helfrich et al., 2008). Radiasi UV diketahui secara

langsung dan tidak langsung mengganggu integritas ekstraselular matriks dengan

cara meningkatkan aktivitas MMP.

Pada kulit manusia, MMP-1 adalah tipe yang paling terpengaruh oleh

induksi sinar UV matahari dan bertanggungjawab terhadap pemecahan kolagen

pada kulit yang mengalami photoaging (Fisher et al., 2001). Ditemukan bahwa

hanya dengan satu kali ekspos terhadap paparan radiasi UV sinar matahari dapat

mengganggu jaringan konektif dengan menyebabkan gangguan sintesis kolagen

yang hampir komplit, selama 24 jam yang kemudian diikuti dengan recovery 48-

72 jam setelahnya ( Fisher et al., 2002). Selain itu juga terjadi degradasi kolagen

karena terjadi peningkatan kadar MMP-1 yang cukup signifikan yaitu sekitar 4,4

0,2 kali lipat jika dibandingkan dengan kulit yang tidak dipajan radiasi UV

(Fisher et al., 2001). MMP-1 adalah mediator utama terhadap timbulnya degradasi

kolagen pada kulit yang mengalami photoaging. Enzim MMP-1 kolagenolitik

mendegradasi fibril kolagen dan elastin, yang penting untuk kekuatan dan

elastisitas kulit. Aktivitas MMP-1 di kulit akan meningkat walaupun hanya


31

dengan radiasi UV yang singkat, yang akan menyebabkan timbulnya kerutan pada

kulit, yang menjadi tanda photoaging (Yaar dan Gilchrest, 2008).

Secara garis besar pengaruh sinar UV matahari terhadap timbulnya

Photoaging dapat dijelaskan dengan gambar 2.1.

Gambar 2. 1 Model Mekanisme Photoaging (Helfrich et al., 2008)

Radiasi UV akut menyebabkan timbulnya ROS (Radical Oxygen Species),

yang meningkatkan AP-1 dan menurunkan TGF-. Peningkatan AP-1 dapat

meningkatkan MMP yang bertindak sebagai pemecah kolagen, sementara itu

penurunan TGF- juga menurunkan sintesis kolagen. Pemecahan kolagen selalu

diikuti dengan sintesis dan perbaikan, yang seperti pada hampir semua proses

penyembuhan luka, tidak pernah sempurna dan menyisakan bekas, walaupun

awalnya ecara klinis tidak terlihat. Tetapi bersama dengan bertambahnya usia dan
32

ekspos sinar UV yang terus terjadi, terjadi penumpukan solar scar, yang lama

kelamaan mulai terlihat secara klinis berupa kerutan (photoaging) (Helfrich et al.,

2008).

Dengan demikian, hambatan terhadap MMP-1 adalah salah satu cara untuk

mencegah kerusakan kulit akibat paparan sinar UV. Matriks metaloproteinase-1

adalah mediator kunci yang mendegradasi kolagen pada kulit yang mengalami

photoaging (Fisher et al., 2002).

2.7.Photoaging dan Mekanisme Kerusakan pada Kolagen

Photoaging adalah proses penuaan dini yang terjadi akibat efek kumulatif

pajanan kronis UV matahari dengan gejala penuaan kronologis. Kerusakan yang

ditimbulkan dapat dilihat baik secara klinis, histologis atau patologi anatomi

maupun secara fungsional (Berneburg et al., 2000).

Reaksi kronis dari pajanan sinar ultraviolet matahari selama bertahun-

tahun dapat menimbulkan gangguan arsitektur kulit, dan terutama menyebabkan

penuaan dini kulit atau photoaging (Quan et al., 2009)

Pajanan UV akan berakibat pada timbulnya reactive oxygen species (ROS)

yang merusak membran lipid, protein seluler, dan DNA . Kerusakan pada protein

akan menginaktifkan enzim yang mempengaruhi kemampuan sel tersebut untuk

memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh sinar UV dan ini akan berakibat

pada kematian sel atau terjadinya mutasi permanen DNA seluler (Yaar dan

Gilchrest, 1995).
33

Dilaporkan bahwa penyinaran ultraviolet merusak matriks kolagen kulit

melalui dua jalur yang berbeda yaitu terjadinya stimulasi degradasi kolagen dan

hambatan produksi kolagen (Fisher et al., 2004).

Saat kulit terekspos dengan sinar matahari, radiasi UV terserap oleh

molekul kulit yang dapat menimbulkan senyawa berbahaya yang disebut raective

oxygen species (ROS) (Fisher et al., 2002). Yang mana dapat menyebabkan

kerusakan oksidatif pada komponen sel seperti dinding sel, membran lipid,

mitokondria, dan DNA. ROS ini juga berpengaruh besar pada jalur molekul.

Penyinaran kulit bokong manusia dengan 2 MED (minimal erythema dose, yaitu

dosis minimal radiasi UVA / UV- B yang dapat menimbulkan efek erythema pada

kulit) dapat meningkatkan hidrogen peroksida, suatu ROS, dalam 15 menit

(Helfrich et al., 2008).

Sedangkan penelitian lain menemukan bahwa hanya dengan satu kali

ekspos penyinaran radiasi UV sebesar 4 MED, dapat menginduksi marker stres

oksidatif pada kulit (epidermis maupun dermis), yaitu H2O2 (menggunakan

dihydrorhodamine-123, DHR) , Nitric Oxide (menggunakan spektrofotometri),

Peroksidasi Lipid (menggunakan Malondialdehida, MDA), dan infiltrasi lekosit

inflamasi (menggunakan antibodi sel CD11b+ ) yang meningkat paling signifikan

pada 48jam setelah ekspos UV. Seperti diketahui bahwa adanya nitric oxide (NO)

dan hidrogen peroksida (H2O2) sangat merusak dan sitotoksik terhadap sel target.

NO mengandung elektron tak berpasangan dan bersifat paramagnetik, dan oleh

karena itu bereaksi cepat terhadap anion superoksid untuk menbentuk anion
34

peroksi nitrat. Dekomposisi peroksi nitrat adalah oksidan yang kuat, sama seperti

radikal hidroksil (Katiyar et al., 2001).

Selain itu penyinaran radiasi UV dapat menimbulkan perubahan pada

kolagen dermal melalui dua cara: (1) stimulasi pemecahan kolagen, menghasilkan

kolagen yang terpecah dalam fragmen dan tidak beraturan. (2) menghambat

biosintesis prokolagen, sehingga kandungan kolagen berkurang (Yaar dan

Gilchrest, 2008; Helfrich et al., 2008). Hanya dengan satu kali penyinaran UV

dengan dosis 2 MED, dapat menghambat sintesis prokolagen hampir total, yang

bertahan untuk 24 jam, diikuti dengan perbaikan dalam 48-72 jam setelahnya

(Fisher et al., 2001). Penelitian-penelitian sebelumnya juga telah menemukan

bahwa AP-1 (Activator protein-1) dan MMP meningkat dan tetap bertahan sampai

sekitar 24 jam setelah paparan radiasi UV serta terdapat peningkatan pemecahan

kolagen yang signifikan.

Setiap paparan radiasi UV sepanjang usia hidup, sesungguhnya terus

terakumulasi sebagai solar scar, yang kemudian bermanifestasi sebagai kerutan

(wrinkle).
35

Gambar 2. 2 Model Hipotesis Patofisiologi Solar Scar (Fischer, 2001)

Gambar 2.2 memperagakan model hipotesis terbentuknya solar

scar. Kulit yang terekspos sinar UV pada tahap sebelum terjadi sunburn, memicu

ekspresi MMP (Matrix Metalloproteinase) dalam keratinosit (KC) di lapisan luar

kulit dan fibroblas (FB) di jaringan konektif. MMP kemudian mendegradasi

kolagen pada matriks ektraseluler lapisan dermis. Tingkat destruksi matriks

dibatasi secara simultan oleh TIMP-1 (Tissue Inhibitor of Matrix

Metalloproteinase), yang secara parsial bekerja menghambat aktivitas MMP.

Pemecahan kolagen selalu diikuti dengan sintesis dan perbaikan, yang seperti
36

pada hampir semua proses penyembuhan luka, tidak pernah sempurna dan

menyisakan bekas, walaupun awalnya ecara klinis tidak terlihat. Tetapi bersama

dengan bertambahnya usia dan ekspos sinar UV yang terus terjadi, terjadi

penumpukan solar scar, yang lama kelamaan mulai terlihat secara klinis berupa

kerutan (photoaging).

2.8. Manifestasi Klinis dan Histologis Kulit yang Mengalami Photoaging


Pada kulit yang mengalami kerusakan akibat pajanan sinar ultraviolet

secara klinis akan tampak permukaan kulit kasar menebal (leathery skin), kering,

pigmentasi tidak merata (lentigines, hipomelanosis gutata, atau hiperpigmentasi

yang persisten), bernodus, timbulnya kerutan dari yang halus sampai dalam,

elastisitas berkurang, dan teleangiektasia. Karakteristik yang khas pada kulit yang

mengalami kerusakan karena pajanan sinar ultra violet adalah elastotic wrinkle

yang sering dijumpai pada kulit tipe III-V (Yaar, 2006).

Sedangkan secara histologis tampak adanya penebalan lapisan epidermal

yang ireguler. Tepat di bawah epidermis adanya suatu gerombolan materi yang

bersifat eosinofilik (Grenz zone), kemungkinan ini merupakan analog dari suatu

mikroskar akibat proses perbaikan dari pajanan sinar ultra violet. Pada papilari

dermis menunjukkan adanya aggregasi nodular fibrous dengan materi elastotik.

Pada dermis jumlah glikosaminoglikan dan proteoglikan meningkat, sementara

serat kolagen berkurang menggumpal dan sebagian terdegradasi sebagai akibat

dari terpicunya sekresi Matriks Metalloproteinase oleh sinar ultra violet (Yaar,

2006)
37

Salah satu ciri karakteristik secara histologis pada kulit yang mengalami

kerusakan akibat pajanan sinar ultra violet adalah solar elastosis yaitu suatu

materi yang terbentuk dari sejumlah besar jaringan elastin yang terdegradasi dan

membentuk suatu masa yang kusut. Tampak juga adanya infiltrat radang yang

terdiri dari sel mast, histiosit, dan sel mononuklear lainnya (Yaar, 2006 ).

2.9. Radikal Bebas dan Antioksidan

2.9.1. Radikal Bebas


Radikal bebas adalah suatu senyawa atau molekul yang mempunyai

jumlah elektron ganjil atau elektron tidak berpasangan tunggal pada lingkar

luarnya. Elektron tidak berpasangan tersebut menyebabkan instabilitas dan

bersifat reaktif, dengan cara menyerang dan mengikat elektron molekul yang

berada disekitarnya. Hilang atau bertambahnya satu elektron pada molekul lain

menciptakan radikal bebas baru dan akan mengakibatkan suatu perubahan secara

fisik dan kimiawi (Cooper, 1997 ; Pham-Huy et al., 2008).

Radikal bebas tersebut diproduksi secara endogen dan juga diperoleh

secara eksogen. Secara endogen radikal bebas diproduksi oleh mitokondria,

membran plasma, lisosom, retikulum endoplasma, dan inti sel. Secara eksogen

berasal dari asap rokok, polutan, radiasi, obat obatan, dan pestisida.

Dalam keadaan fisiologis, radikal bebas yang terbentuk secara normal

akan dinetralisasi sebelum terjadinya perusakan yang berat pada sel.


38

Tidak selamanya senyawa oksigen reaktif yang terdapat di dalam tubuh itu

merugikan, pada kondisi-kondisi tertentu keberadaannya sangat dibutuhkan. Oleh

sebab itu keberadaannya harus dikendalikan oleh sistem antioksidan dalam tubuh.

2.9.2. Antioksidan
Antioksidan adalah senyawa pemberi elektron (electron donor) yang

mampu menangkal atau meredam dampak negatif oksidan dalam tubuh.

Antioksidan bekerja dengan cara mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa

yang bersifat oksidan sehingga aktivitas senyawa oksidan tersebut dapat

dihambat. Antioksidan berfungsi melindungi zat lainnya dari kerusakan karena

reaksi oksidasi yang dipicu oleh ROS dan radikal bebas. ROS dan radikal bebas

ini memicu terjadinya proses degenerasi (Pham-huy et al., 2008).

Secara umum antioksidan dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu

antioksidan enzimatis dan antioksidan non enzimatis. Antioksidan enzimatis

antara lain adalah enzim superoksida dismutase (SOD), katalase, dan glutation

peroksidase. Sedangkan antioksidan non enzimatis dibedakan menjadi dua

kelompok yaitu antioksidan non enzimatis yang larut lemak (seperti tokoferol,

karotenoid, flavonoid, dan quinon) dan antioksidan non enzimatis yang larut

dalam air (asam askorbat, asam urat, protein pengikat logam, dan protein

pengikat heme). Kedua golongan antioksidan tersebut bekerja sama untuk

memerangi aktivitas senyawa oksidan dalam tubuh, sehingga terjadinya stress

oksidatif dapat dihambat oleh kerja antioksidan tersebut.


39

2.9.2.1. Peranan Antioksidan pada Kulit yang Mengalami Kerusakan karena


Pajanan Sinar UV
Secara alami kulit bergantung pada antioksidan untuk melindungi dari

ROS yang dihasilkan oleh sinar matahari maupun proses metabolisme normal.

Antioksidan enzimatis dan non enzimatis akan berinteraksi untuk memberikan

perlindungan, termasuk di sini adalah vit E, coenzyme Q10, askorbat, karotenoid,

superoksid dismutase, katalase, dan glutation peroksidase. Namun oleh karena

paparan ultra violet yang berlebihan, mengakibatkan terjadi deplesi pada suplai

antioksidan tersebut, terbentuklah suatu keadaan stress oksidatif. Untuk itu

diperlukan juga antioksidan yang diaplikasikan secara topikal untuk menambah

cadangan antioksidan kulit. Pada keganasan kulit seperti basal sel ca, ditemukan

kadar karotenoid yang rendah, sehingga diperkirakan antioksidan ini sangat

penting pada pertahanan kulit terhadap radiasi UV dan photokarsinogenesis

(Pinnel, 2003 ; Rabe et al., 2006).

Interaksi antara radiasi matahari pada kulit mengakibatkan terbentuknya

radikal bebas. ROS akan mengakibatkan terjadinya hidroksilasi, pemutusan rantai,

penambahan radikal pada cincin aromatik, pembentukan aldehid, dan deplesi

thiol. Terjadi pula autooksidasi asam lemak tak jenuh ganda pada membran lipid,

yang kemungkinan berkaitan dengan singlet oksigen dan radikal hidroksil. Disini

antioksidan akan berperanan untuk mengurangi efek dari ROS tersebut melalui

1. Scavenging (mengikat) : R+PH* RH+ P*

2. Inhibisi (penghambatan) : RO2 + PH* ROOH+P

3. Proteksi : (ROOH + PH* ROH + POH


40

Dimana R adalah komponen bervariasi, dan PH adalah antioksidan protektif yang

mampu memberikan ion hidrogen.

3.1. Jagung Ungu (Zea Mays L)

Tanaman jagung dalam tata nama atau sistematika (taksonomi) tumbuh-

tumbuhan jagung diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Sub divisio : Angiospermae

Class : Monocotyledoneae

Ordo : Graminae (Poales)

Famili : Graminaceae (Poaceae)

Genus : Zea

Spesies : Zea mays L

(Tjitrosoepomo, 1991)

Jagung adalah kelompok sereal yang mempunyai kontribusi kandungan

pati ( karbohidrat komplek) sekitar 80% , 10% gula yang memberikan

rasa manis, 11% protein, 2% mineral , vitamin B dan asam askorbat. Selain nilai

gizi, jagung ungu memiliki komposisi yang kaya phytochemical, terutama

antosianin dan senyawa fenolik (Moos 2013).

Jagung ungu kaya akan antosianin, merupakan tanaman Andean,

dibudidayakan di lembah rendah di Amerika Selatan terutama di Peru dan Bolivia.

Dikenal juga diSpanyol dengan sebutan "maiz morado" dan telah lama digunakan

untuk makanan penutup,pewarna makanan dan minuman. Pewarna makanan dan


41

minuman dari jagung ungu banyak digunakan di Asia, Amerika Selatan dan

Eropa saat ini (Pu Jing.,2006).

Berbeda dengan jagung yang kebanyakan dikonsumsi masyarakat yaitu

jagung kuning atau jagung putih, jagung ungu masih jarang dikenal sebab jagung

tersebut sangat jarang dibudidayakan di Indonesia.

Gambar 2. 3 Jagung Ungu (Varien Moos, 2013)

Kandungan antosianin rata-rata jagung ungu adalah 1.640 mg/100g berat

segar (Jones, 2005), lebih tinggi dari blueberry segar (73-430 mg/100g) (Moyer et

al ., 2002). Cyanidin-3-glucoside adalah antosianin utama yang terdapat dalam

jagung ungu ( Nakatani et al . , 1979) , pelargonidin , dan peonidin glukosida

juga telah ditemukan ( Styles dan Ceska , 1972) serta turunannya malonyl

masing-masing ( Pascual et al. , 2002).


42

Tabel 2. 1 Kandungan antosianin pada beberapa buah dan sayuran (dikutip


dari Pu Jing 2006)

Sumber Nama Ilmiah Antosianin Referensi


(mg/100 mg)
Buah
Apel Malus pumila P. Mill. 1 ~ 17 (Wu et al ., 2006 )
Bilberry Vaccinium myrtillus 300 ~ 808 (Prior et al ., 1998; Maatta-Riihinen et al ., 2004)
L.
Blackberry Rubus spp. 72 ~ 1221 (Clark et al ., 2002 )
Black Aronia melanocarpa 307 ~ 1480 (Strigl et al ., 1995; Wu et al ., 2004)
chokeberry (Michx.) Elliot
Blackcurrant Ribes nigrum L. 96 ~ 452 (Kampuse et al ., 2002; Wu et al ., 2004)
Blackberry Rubus spp. 72 ~ 1221 (Clark et al ., 2002)
Black Rubus occidentalis L. 145 ~ 607 (McGhie et al ., 2002; Moyer et al ., 2002)
raspberry
Blueberry Vaccinium 63 ~ 430 (Prior et al ., 1998; Moyer et al ., 2002)
corymbosum L.
Cranberry Vaccinium 20 ~ 360 (Prior et al ., 2001; Wang and Stretch, 2001)
macrocarpon Aiton.
Elderberry Sambucus nigra L. 332 ~ 1374 (Maatta-Riihinen et al ., 2004; Wu et al ., 2004)
Anggur Vitis vinifera 27 ~ 120 (Wu et al ., 2006 )
Lingonberry Vaccinium vitis-idaea 31 ~ 92 (Wang et al ., 2005)
L.
Marion berry Rubus ursinus 62 ~ 155 (Deighton et al ., 2000; Wada and Ou, 2002)
Strawberry Fragaria ananassa 13 ~ 55 (Cordenunsi et al ., 2002)
D.
Sayuran
Kacang hitam Phaseolus vulgaris L. 45 (Wu et al ., 2006 )
Eggplant Solanum melongena 86 (Wu et al ., 2006 )
L.
Wortel ungu Daucus carota 38 ~ 98 (Lazcano et al ., 2001)
Jagung Ungu Zea mays L. 1640 (Cevallos-Casals and Cisneros-Zevallos, 2003)
Radish Raphanus sativus L. 11 ~ 60 (Giusti et al ., 1998)
Kubis merah Brassica oleracea L. 322 (Wu et al ., 2006 )
Kentang merah 14 ~ 45 (Rodrguez-Saona et al ., 1998)
Bawang merah Allium cepa L. 49 (Wu et al ., 2006 )

3.2. Antosianin
Antosianin adalah suatu jenis polifenol grup flavonoid yang paling banyak

ditemukan pada buah-buahan dan sayuran. Antosianin adalah pigmen yang dapat

larut dalam air, memberi warna merah, ungu dan biru pada banyak buah-buahan,

sayuran, bunga dan biji-bijian (Wang dan Stoner, 2008).


43

Berbagai macam flavonoids termasuk antosianin, flavonol, flavone dan

flavanol telah banyak dilaporkan mempunyai efek anti karsiogenik, anti

mutagenik antibakteri (Puupponen-Pimia et al ., 2005) dan efek vasodilatasi pada

hewan (Steinmetz et al., 2005).

3.2.1. Struktur Kimia


Antosianin adalah derivatif polihidroksi atau polimetoksi dari 2-

fenilbenzopirilium yang terglikosilasi, mengandung 2 cincin benzoyl (A dan B)

yang dipisahkan oleh cincin heterosilik (C) (Gambar 2.6). Dengan kata lain,

antosianin adalah senyawa antosianidin dan glukosa dalam asam organik. Ada 6

jenis antosinidin yang ditemukan dalam tanaman, yaitu cyanidin, delphinidin,

malvidin, pelargonidin, peonidin dan petunidin (Abdel-Aal et al., 2010).

Gambar 2. 4 Struktur 6 Jenis Antosianidin, dalam Bentuk Glukosida dengan Glukosa

Bentuk glikosida dari 3 non-metilasi antosianidin (cyanidin, delphinidin,

pelargonidin) adalah yang paling banyak ditemukan, kira-kira 80% pada daun-

daunan berwarna, 69% pada buah-buahan dan 50% pada bunga. Mereka biasanya
44

berikatan dengan senyawa sakarida seperti glukosa, galaktosa, rhamnosa atau

arabinosa, dalam bentuk 3-glikosida atau 3,5-diglikosida. Perbedaan warna antara

antosianin biasanya karena perbedaan pola cincin B antosianidin, pola glukosilasi

dan derajat esterifikasi glukosa dengan asam alifatik atau aromatik, dan pH, suhu,

jenis pelarut dan adanya pigmen penyerta (Shipp dan Abdel-Aal, 2010).

3.2.2. Efek Fisiologis


Antosianin paling dikenal sebagai antioksidan. Beberapa penelitian

menunjukkan bahwa selain sebagai antioksidan, antosianin juga mempunyai efek

anti-inflamasi, efek anti-diabetik, anti-kanker, dan dapat memperbaiki profil lipid

darah dan memiliki efek vasoprotektif (Wrolstad, 2001; Shipp dan Abdel-Aal,

2010).

Struktur fenolik antosianin bertanggung jawab dalam efek antioksidan-nya,

yaitu gugus hidroksil pada posisi 3 dari cincin C dan posisi 3, 4, 5 dari cincin B.

Sebagai antioksidan, antosianin bekerja sebagai scavenger ROS seperti

superoksid (O2- ), singlet oksigen (O2), peroksida (ROO-), hidrogen peroksida

(H2O2) dan radikal hidroksil (OH.) (Wang dan Stoner, 2008).

Mekanisme efek antosianin sebagai anti-inflamasi memang belum

diketahui, tapi suatu penelitian in vitro menunjukkan bahwa administrasi

antosianin dapat menurunkan aktivasi faktor transkripsi NFKB dan menurunkan

ekspresi beberapa sitokin dan mediator proinflamasi (Karlsen et al ., 2007). Suatu

penelitian epidemiologi menunjukkan penurunan insidens penyakit-penyakit

inflamasi pada populasi yang mengkonsumsi makanan kaya polifenol (Spormann


45

et al ., 2008), dan konsumsi antosianin menunjukkan berkurangnya risiko

penyakit kardiovaskular, diabetes, arthritis dan keganasan (Wang dan Stoner,

2008).

Dari berbagai literatur dan penelitian belum ada yang meneliti efek proteksi

antosianin dari jagung ungu terhadap radiasi sinar UV-B terhadap kulit secara

invivo. Padahal penelitian dengan antosianin dari tumbuhan lain sudah banyak

yang memberikan hasil yang menjanjikan.

Dengan mempertimbangkan hal ini, timbul dugaan bahwa antosianin yang

banyak terdapat dalam ekstrak jagung ungu dapat menghambat penuaan dini kulit,

dengan menghambat peningkatan kadar MMP-1dan peningkatan jumlah kolagen

pada tikus yang dipajan dengan sinar UV-B, karena efek antioksidannya.

Sehingga perlu dilakukan penelitian untuk membuktikan dugaan tersebut diatas.

3.3. Vitamin C
Vitamin C atau asam askorbat merupakan salah satu antioksidan yang poten dan

telah terbukti dapat meminimalkan eritema dan terbentuknya sel sunburn setelah paparan

sinar UV. Potensi antioksidan pada bahan topikal inilah yang terbukti dapat melindungi

kulit dari kerusakan akibat paparan sinar UV. Vitamin C terdiri dari 6 rantai karbon

lakton yang disintesis dari glukosa di dalam hepar mamalia kecuali manusia, oleh karena

manusia tidak mempunyai enzim glunolakton oksidase yang dapat mensintesis asam

askorbat dari glukosa (Padayatty et al., 2003; Baumann dan Alleman, 2009).

Fungsi vitamin C topikal pada kulit dapat 1) meningkatkan satbilitas dan

menurunkan sensitivitas kolagen terhadap panas, 2) merangsang pertumbuhan kolagen

baik secara in vitro maupun in vivo (Humbert et al., 2003), 3) melindungi kulit dari
46

kerusakan akibat paparan sinar UV melalui aktivitas antioksidannya, 4) meningkatkan

kepadatan papila dermis melalui mekanisme angiogenesis (Sauemann et al., 2004).

Vitamin C merupakan kofaktor hidroksilase prolil dan lisil yang akan

mengkatalisasi pembentukan hidroksiprolin dan hidroksilisin. Prolin dan lisin banyak

dijumpai pada molekul kolagen, hidroksilasi keduanya akan merangsang ekskresi

prokolagen keluar dari fibroblas sehingga dapat meningkatkan stabilitas kolagen dan

mengurangi sensitivitas terhadap panas (Zussman et al., 2010).

Vitamin C juga merangsang morfogenesis barier epidermal dan proliferasi

fibroblas, membantu sintesis DNA dan metabolisme mitokondria, merangsang

pembentukan membran plasma, mempercepat penutupan luka dan mengurangi kontraksi

luka (Boyce et al., 2002). Vitamin C juga berperan penting untuk reaktivasi vitamin E

yang telah mengalami perubahan menjadi radikal tokoferil dengan menarik radikal

bebasnya (Fernandes, 2008). Vitamin C mendonorkan dua elektron yang berasal dari

ikatan rangkap antara karbon kedua dan ketiga. Senyawa reaktif yang diberi elektron oleh

vitamin C kemudian berubah menjadi senyawa yang stabil, sedangkan vitamin C

kemudian berubah menjadi bentuk radikal semidehidroaskorbat atau radikal askorbil yang

tidak reaktif (Zussman et al., 2010).


47

BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS
PENELITIAN

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1. Kerangka Berpikir

Pada proses penuaan terjadi penurunan fungsi berbagai organ, demikian

pula halnya dengan organ kulit yang mengalami perubahan fisik, baik ditingkat

seluler maupun molekuler. Perubahan tersebut disebabkan oleh faktor internal

seperti genetik, hormonal, radikal bebas, sistem imun tubuh, proses metilasi,

glikosilasi, dan apoptosis; serta faktor eksternal yang meliputi sinar ultraviolet,

polusi asap rokok, polusi lingkungan, bahan kimia, obat-obatan, gaya hidup , dan

asupan makanan yang tidak sehat.

Faktor eksternal yang utama dalam menimbulkan penuaan kulit dini

adalah sinar UV. Apabila sinar UV mengenai sel-sel pada jaringan kulit dapat

menyebabkan berbagai reaksi fotokimia, seperti fotoadisi, fotoisomerasi, dan

fotooksidasi. Reaksi fotooksidasi terjadi akibat pelepasan ROS berupa anion

superoksida (O2-), hidrogen peroksida (H2O2), dan radikal hidroksi (OH) oleh

kromofor yang menyerap sinar ultraviolet.

Efek ROS terhadap kulit salah satunya adalah meningkatkan enzim matriks

metaloproteinase1 (MMP-1) pada lapisan dermis yang akan mendegradasi jaringan

kolagen dan akan mempercepat proses penuaan kulit dini.Demikian pula halnya pada

kulit, akan mengalami proses penuaan. Diketahui bahwa pajanan sinar ultra violet

khususnya sinar ultra violet B karena sifatnya yang poten, walaupun dalam dosis

47
48

yang kecil yang terjadi secara terus menerus dapat menimbulkan kerusakan pada

kulit. Pada tahap awal kerusakan yang ditimbulkan masih bersifat akut, terjadi

segera setelah terpapar oleh sinar ultra violet, dimana akan tampak warna

kemerahan (erythema) pada kulit. Kerusakan lebih lanjut terjadi jika paparan

sinar ultra violet berulang terus menerus, dan dapat menimbulkan suatu kerusakan

pada lapisan epidermis dan dermis. Hal tersebut diawali dengan terbentuknya

radikal bebas pada kulit akibat paparan sinar ultra violet dan selanjutnya akan

memicu terjadinya peningkatan enzim Matriks Metalloproteinases. Salah satu di

antaranya adalah enzim MMP-1 yang akan mendegradasi kolagen yang akan

mengakibatkan terjadinya proses penuaan pada kulit. Antosianin sebagai

antioksidan berperanan menghambat dan mencegah terjadinya kerusakan kulit

oleh radikal bebas yang ditimbulkan oleh pajanan sinar ultra violet pada kulit,

dengan mengikat singlet oksigen dan menghambat peroksidasi lipid. Dengan

terjadinya hambatan tersebut, sintesis MMP-1 akan berkurang dan proses

degradasi kolagen terhambat sehingga kulit terlindungi dari proses penuaan dini

akibat pajanan sinar ultra violet B tersebut.


49

3.2. Konsep Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah dan kajian pustaka maka disusun suatu

kerangka konsep yang digambarkan sebagai berikut :

KRIM EKSTRAK JAGUNG UNGU 50


%

FAKTOR INTERNAL FAKTOR EKSTERNAL

-Genetik -Paparan asap rokok


-Hormon -Polusi lingkungan
-Radikal bebas -Bahan kimia
-Glikosilasi -Obat-obatan
-Metilasi -Stres
-Apoptosis -Gaya hidup tidak
-Sistem imun tubuh sehat
Radiasi sinar UV-B
-Diet

TIKUS DIPAPAR SINAR UV-B


JUMLAH KOLAGEN
KADAR MMP-1

Keterangan gambar :

: Tidak diteliti UV : Ultraviolet

: Diteliti MMP : Matriks metaloproteinase

Gambar 3.1 Konsep Penelitian


50

3.3. Hipotesis Penelitian

Dari kajian pustaka dan kerangka konsep tersebut, maka dapat dibuat hipotesis
sebagai berikut:

1. Krim ekstrak jagung ungu (Zea mays) menghambat peningkatan kadar

MMP-1 pada tikus Wistar yang dipapar sinar UV-B.

2. Krim ekstrak jagung ungu (Zea mays) menghambat penurunan jumlah

kolagen dermis pada tikus Wistar yang dipapar sinar UV-B


51

BAB IV

METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan the

randomized post-test only control group (Paik, 2007). Bagan rancangan penelitian

ini ditunjukkan pada Gambar 4.1.

P1
O1
Random Random
Populasi Sample

P2
O2

Gambar 4. 1 Rancangan The Gambar


Randomized
4.1 Post-test Only Control Group

Keterangan :
P1 = Perlakuan 1 (subyek diolesi bahan dasar krim plasebo/krim dasar dan dipapar sinar UV-B, selanjutnya
disebut Kelompok 1)
P2 = Perlakuan 2 (subyek diolesi krim ekstrak jagung ungu (Zea mays l.) +krim pembawa dan dipapar
sinar UV-B, selanjutnya disebut Kelompok 2)
O1 = Hasil observasi kelompok perlakuan 1
O2 = Hasil observasi kelompok perlakuan 2
Observasi adalah hasil kadar MMP-1 dan jumlah kolagen kelompok kontrol post-test

Penelitian ini dilakukan secara in vivo, menggunakan hewan coba tikus

Wistar sebanyak 36 ekor berumur 10-12 minggu, jenis kelamin jantan dan berat

badan antara 150 - 160 g, dikelompokan secara random menjadi 2 kelompok dan

51
52

masing-massing kelompok terdiri dari 18 ekor tikus. Kelompok 1 adalah

kelompok yang diberikan bahan dasar krim plasebo (krim dasar saja); Kelompok

2 adalah kelompok yang diberikan krim ekstrak jagung ungu (Zea mays l.);

Kelompok 1 dan kelompok 2 disamping diberikan krim juga dipapar dengan sinar

UV-B.

4.2. Parameter yang diamati

Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah:

1. Jumlah kolagen dermis kulit tikus Wistar, apabila terjadi peningkatan

merupakan tanda adanya efek perlindungan dari krim ekstrak jagung

ungu (Zea mays) terhadap kerusakan kolagen akibat paparan sinar

UV-B dan biomarker peningkatan produksi fibroblas.

2. Kadar MMP-1 kulit tikus Wistar, apabila terjadi peningkatan

merupakan petanda adanya stres oksidatif, dan apabila menurun

merupakan petanda adanya efek perlindungan dari krim ekstrak

jagung ungu (Zea mays) terhadap kerusakan kolagen akibat paparan

sinar UV-B.

4.3. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratory Animal Unit Bagian Farmakologi

FK UNUD dan Laboratorium Histologi FK UNUD. Sedangkan pembuatan

ekstrak jagung ungu dilakukan di Laboratorium Teknologi Pertanian Fakultas

Teknologi Pertanian UNUD, pembuatan krim ekstrak jagung ungu dikerjakan di

Bogor. Pemeriksaan histologi dan pengecatan Sirius red dilakukan di


53

Laboratorium Histologi FK UNUD. Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan yang

berlangsung mulai bulan Februari 2014 sampai dengan Juli 2014

4.4. Populasi dan Sampel

4.4.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah:

a. Populasi target pada penelitian ini adalah seluruh tikus Wistar (Rattus

norvegicus)galur Wistar race yang menerima perlakuan dan dipelihara

di kandang hewan Laboratory Animal Unit Bagian Farmakologi Fakultas

Kedokteran Universitas Udayana serta sesuai dengan kriteria sampel yang

telah ditentukan dalam penelitian.

b. Populasi terjangkau meliputi tikus yang berumur 10 12 minggu dengan

berat badan 150 - 160 g.

4.4.2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah tikus Wistar dewasa, yang memenuhi

kriteria inklusi dan kriteria eksklusi sebagai berikut :

Kriteria inklusi :

a. Tikus Wistar, jantan dan sehat.

b. Umur 10-12 minggu karena usia tikus 10 - 12 minggu memiliki persamaan

dengan manusia usia dewasa muda dan belum mengalami proses penuaan

intrinsik (Bhattacharya dan Thomas, 2004; Bartke, 2005).

c. Berat badan 150 - 160 g.

Kriteria drop Out : apabila tikus Wistar mati pada saat penelitian.
54

4.4.3. Besar sampel dan teknik penentuan sampel


Penentuan jumlah ulangan mengikuti rumus penentuan replikasi yang

dilakukan oleh Federer (Montgomery, 2001; Islam, 2007) yaitu dihitung

berdasarkan rumus:

( t-1) (r-1) 15

Keterangan:

t = banyaknya taraf perlakuan

r = banyaknya replikasi

Dalam penelitian ini t = 2, sehingga (2 -1) (r-1) 15, dengan memakai rumus

tersebut akhirnya diperoleh jumlah r = 16

Tiap kelompok ditambah 10% sebagai cadangan ( 10% x 16 = 2 ) untuk

mengantisipasi adanya kematian pada kelompok tikus

Jadi total sampel (16 x 2) + (2 x 2) = 36 ekor tikus yang dibutuhkan untuk

penelitian secara keseluruhan.

4.5. Variabel Penelitian

4.5.1. Klasifikasi variabel


a. Variabel prakondisi: dalam penelitian ini yang menjadi variabel prakondisi

adalah sinar UV-B

b. Variabel bebas (variabel yang mempengaruhi secara langsung), yaitu : 1.

Dosis paparan sinar UV-B, 2. Krim dasar, 3. Krim ekstrak jagung ungu yang

diberikan secara topikal.


55

c. Variabel tergantung: variabel tergantung dari penelitian ini adalah efek yang

ditimbulkan akibat pemberian krim ekstrak jagung ungu, kadar MMP-1dan

jumlah kolagen.

d. Variabel kendali: Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap variabel

tergantung di luar variabel bebas akan dikendalikan. Faktor yang dikendalikan

tersebut adalah strain tikus, umur, berat badan, jenis kelamin dan pakan tikus

Wistar.

4.5.2. Hubungan antar variabel


Untuk lebih memudahkan dalam memahami hubungan antar variabel

penelitian, dibuat skema hubungan antar variabel seperti disajikan pada Gambar

4.2.

Variabel Variabel
Variabel Bebas
Prakondisi Tergantung

Sinar UV-B Krim Ekstrak Jagung Ungu - Jumlah kolagen


- Kadar MMP-1

Variabel Kendali

Strain, Umur, Jenis


Kelamin, Berat Badan
Tikus,Pakan

Gambar 4. 2 Skema Hubungan Antar Variabel Penelitian


56

4.6. Definisi operasional variabel

1. Jagung ungu (Zea Mays) adalah Jagung ungu yang diperoleh dari

supermarket Food Hall Sogo, berupa import dari Negara China

2. Ekstrak jagung ungu adalah ekstrak dari jagung ungu yang dibuat dengan

menggunakan pelarut etanol, kemudian dipekatkan dengan rotary vacuum

evaporator Danke dan Kunkel, IKA Labortechnik RV 06-ML, sehingga

diperoleh ekstrak kasar (crude extract), dikerjakan di Laboratorium Teknologi

Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana.

Jagung ungu yang dipilih yang segar dengan kriteria sebagai berikut:

panjang kira kira 20 cm, diameter tengah tongkol 5 cm,dan jumlah baris

tongkol 16 - 18 baris, berat 400 gram,warna ungu kehitaman, tidak cacat,

tidak busuk, tidak ada serangga dan kotoran.Jagung ungu yang digunakan

merupakan jagung yang sudah layak untuk dikonsumsi.

3. Bahan dasar krim adalah bahan untuk pembuatan krim yang tidak mengandung

bahan aktif seperti ekstrak jagung ungu, dibuat di PT Syifa Bio Derma, Depok

4. Krim dasar (placebo) diberikan secara topikal selama empat minggu

masing-masing sebagai kontrol.

5. Sinar UV-B adalah sinar UV-B yang diberikan pada tikus Wistar dari

sumber UV-B buatan China, tipe KN-4003 B, alat ini dapat memancarkan

sinar UV-B dengan besar dosis radiasi yang dapat diukur dengan UV

meter. Paparan sinar UV-B diberikan 3 kali perminggu selama 4 minggu

dengan total dosis 840 mJ/cm2 yaitu minggu pertama 50 mJ/cm2, minggu

kedua 70 mJ/cm2, minggu ketiga dan keempat 80 mJ/cm2.


57

6. Jaringan kulit adalah jaringan yang diambil dengan cara eksisi dari kulit

pada bagian punggung tikus Wistar yang telah dipapar dengan sinar UV-

B, 3 kali perminggu selama 4 minggu dengan total dosis 840 mJ/cm2.

Jaringan kulit tikus Wistar disimpan dalam botol simpan dan direndam

dengan menggunakan buffer formalin 40%. Jaringan kulit dipotong

melintang untuk pemeriksaan kadar kadar MMP-1 dan jumlah kolagen

7. Jumlah kolagen dermis adalah persentase pixel jaringan kolagen berupa

jaringan berwarna merah terang dengan pewarnaan Sirius red

dibandingkan dengan pixel seluruh jaringan yang tampak pada foto

sediaan histologis dan dinyatakan dalam persen (%). Penilaian dilakukan

pada foto preparat dalam format JPEG yang diambil dengan kamera LC

Evolution dan mikroskop Olympus Bx51 dengan pembesaran objektif 40

kali, masing-masing preparat difoto sebanyak 3 kali.

8. Kadar MMP-1 adalah konsentrasi MMP-1 pada jaringan kulit yang sudah

diekstrak, kemudian dianalisis dengan menggunakan kit Rat Matrix

Metalloproteinase 1 (MMP-1/collagenase1) buatan MyBiosource, USA

dengan teknik ELISA dan dinyatakan dalam satuan picogram/mg jaringan

(pg/mg).

9. Tikus Wistar adalah famili tikus coba yang digunakan, diperoleh dari

Laboratorium Animal, Bagian Farmakologi FK UNUD.

10. Umur tikus adalah waktu dihitung dari tikus percobaan lahir dan

dinyatakan dalam satuan minggu.


58

11. Berat badan tikus dalam satuan gram (g) yang ditimbang menggunakan

alat timbang analitik digital scale, merk Tann dengan kapasitas maksimal

2 kg dan ketelitian 2 angka dibelakang koma.

12. Pakan tikus adalah sesuai formula standar berupa konsentrat yang
diperkaya dengan vitamin B12.

4.7. Bahan dan Instrumen Penelitian

4.7.1. Bahan penelitian


Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus Wistar

berusia 10-12 minggu dengan berat badan 150 - 160 gram dengan pakan ternak,

krim plasebo (krim dasar) dan krim ekstrak jagung ungu dan krim pembawa.

Bahan-bahan kimia yang digunakan ini adalah pro analisis (p.a.) yang terdiri dari:

kit MMP-1, antibodi MMP-1, , formaldehid, NaH2PO4, Na2HPO4, parafin, xylol,

pewarna Sirius red, etanol, Avidin-HRV dan DAB.

4.7.2. Instrumen penelitian


Instrumen yang dipergunakan adalah kandang tikus individual, alat fiksasi

tikus, alat pencukur, timbangan, buku dan alat pencatatan data, alat sumber sinar

UV-B buatan China merk KN-4003B, alat-alat untuk pembuatan preparat,

kamera LC Evolution dan mikroskop Olympus Bx51, komputer dengan piranti

lunak Adobe PhotoShop Cs2 versi 9.0, SPSS buatan IBM versi 20, sentrifugasi,

neraca analitik, seperangkat alat ELISA.

4.7.3. Hewan percobaan


Hewan percobaan yang digunakan dalam percobaan ini adalah tikus galur

wistar (Rattus norvegicus) berusia 2 bulan dengan berat badan 150-200 gram
59

dengan makanan yang mengandung protein 20-25% (tetapi hanya 12% kallau

menggunakan asam amino komplit), kadar lemak 5%, pati 45-50%, serat kasar

kira-kira 5%, dan abu 4-5% ,pakan juga perlu ditambah vitamin dan mineral

misalnya ternak diet standar dengan menggunakan HPS 511 dari PT.Charoen

Pokphand jumlah perhari 12 g-20g dan air biasa untuk minum ad libitum.

Hewan yang digunakan sesuai dengan persyaratan penelitian eksperimental.

Persyaratannya adalah tikus ditempatkan dalam kandang yang terbuat dari wadah

plastik berukuran 23 cm x 17 cm x 9,5 cm untuk 15 ekor tikus (1080 cm2 untuk

4-5 ekor tikus) dengan alas sekam padi dan tutup dari anyaman kawat. Kandang

harus cukup kuat, tidak mudah rusak, tahan gigitan, hewan tidak mudah lepas, tapi

hewan harus tampak jelas dari luar. Kandang ditempatkan dalam ruangan

berventilasi dan udara alami.

4.8. Prosedur Penelitian

Jagung ungu yang dibeli dibuat ekstraknya. Ekstrak Jagung ungu diolah

kemudian diolah dalam bentuk krim dalam konsentrasi 50 % dan dimasukkan

dalam tube. Krim ekstrak jagung ungu dioleskan pada kulit punggung tikus sesuai

dengan kelompoknya. Untuk mempermudah pelaksanaan penelitian, maka dibuat

alur penelitian seperti ditunjukkan pada Gambar 4.3.

a. Sebanyak 36 ekor tikus diadaptasi selama 1 minggu di dalam kandang,

dengan diberi makan dan minum ad libitum. Kondisi kandang adalah

ruangan dengan ukuran panjang 23 cm lebar 17 cm dan tinggi 9,5 cm yang

ada lampunya dengan suhu 252C, kelembaban 5010%. Satu kandang


60

maksimal dihuni 2 ekor tikus, idealnya satu kandang untuk 1 ekor tikus.

Kandang harus cukup kuat, tidak mudah rusak, tahan gigitan, hewan tidak

mudah lepas, tapi hewan harus tampak jelas dari luar

b. Kemudian secara random tikus dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:

kelompok 1, kelompok 2, masing-masing kelompok terdiri dari 18 tikus

Wistar.

c. Tikus dari semua kelompok dicukur bulu punggungnya, kemudian

dioleskan bahan dasar krim pada kelompok 1 dan 2, masing-masing krim

dioleskan sebanyak 0,05mg/cm2 luas permukaan kulit tikus.

d. Paparan kronis UV-B diberikan terhadap kelompok 1dan 2 Paparan

dilakukan sebanyak 3 kali seminggu yang dimulai dengan 50 mJ/cm2 pada

minggu pertama, diikuti dengan 70 mJ/cm2 pada minggu kedua, dan 2

minggu berikutnya dengan 80 mJ/cm2 sehingga total sinar UV-B yang

diterima oleh masing-masing kelompok tikus tersebut adalah 840 mJ/cm2

selama 4 minggu.

e. Bahan dasar krim, krim jagung ungu 50 % diaplikasikan 2 kali sehari,

yaitu 20 menit sebelum disinari (untuk memberikan waktu absorpsi bahan

topikal ke dalam kulit) dan 4 jam setelah penyinaran (terbentuknya ROS

dimulai 4 jam setelah paparan). Aplikasi bahan topikal tetap dilakukan

pada hari tanpa penyinaran.

f. 48 jam setelah penyinaran terakhir, untuk menyingkirkan pengaruh

penyinaran akut, semua tikus dari kelima kelompok didekapitasi kemudian

diambil jaringan kulit punggungnya dengan ukuran 2 x 2 cm setelah


61

diekstrak kemudian diukur kadar MMP-1. Jaringan kulit tikus lainnya

dibuat sediaan histologis untuk pemeriksaan jumlah kolagen,

g. Pembuatan sediaan histologis:

1) Tahap fiksasi

Jaringan kulit tikus direndam dalam larutan formalin buffer fosfat

10% selama 1 hari ( 24 jam). Kemudian dilakukan trimming bagian

jaringan yang akan diambil.

2) Tahap dehidrasi

Jaringan kulit tikus direndam dengan alkohol bertingkat berturut-turut

50%, 70%, 90%, 96% dan 100% masing-masing selama 2 jam.

3) Tahap clearing

Jaringan dimasukkan ke clearing agent (xylene) selama 24 jam sampai


transparan.

4) Tahap embedding

Diawali dengan proses infiltrasi sebanyak 2 kali selama masing-

masing 1 jam dengan parafin murni (Histoplast) cair (suhu 60o C)

kemudian jaringan ditanam ke dalam parafin cair dan dibiarkan

membentuk blok yang memakan waktu selama satu hari, agar mudah

diiris dengan mikrotom.

5) Tahap pemotongan

Pemotongan menggunakan mikrotom rotari (Jung Histocut Leica 820),

tebal 5 mikro meter secara seri dan diambil irisan ke 5, 10, 15 untuk

selanjutnya dilakukan penempelan pada gelas obyek, lalu diinkubasi

pada suhu 60o C selama 2 jam.


62

h. Pewarnaan dengan Sirius red.

1). Sebelum dilakukan pengecatan, slide melalui proses deparafinisasi

dan rehidrasi meliputi perendaman dalam larutan xylene 2 x 5 menit,

etanol 100% selama 2 menit, etanol 96% 2 x 2 menit, etanol 70%

selama 2 menit dan aquadest selama 2 menit.

2). Pewarnaan inti sel dengan Haematoxylin Weigerts selama 8 menit,

dan cuci sediaan selama 10 menit dengan air mengalir.

3). Kemudian pewarnaan dengan picro-sirius red selama 1 jam untuk

memberikan pewarnaan mendekati seimbang di mana penambahan

waktu tidak meningkatkan hasil dan waktu yang lebih pendek tidak

disarankan meskipun warna terlihat baik.

4). Cuci dengan air asam sebanyak 2 kali.

5). Hilangkan air yang berlebihan secara fisik dengan menggoyang

secara perlahan.

6). Dehidrasi dalan ethanol 100% sebanyak 3 kali.

7). Bersihkan dalan cairan xylene dan mounting pada medium yang

bersifat asam.

i. Pengamatan hasil.

Jumlah kolagen dihitung dengan metode analisis digital, setiap sediaan

preparat difoto dengan menggunakan kamera LC Evolution dan


63

mikroskop Olympus Bx51 dengan pembesaran objektif 40 kali, masing-

masing preparat difoto sebanyak 3 kali disimpan dalam format JPEG.

j. Prosedur penghitungan jumlah kolagen dermis.

Dengan menggunakan piranti lunak Adobe PhotoShop Cs2 versi 9.0,

foto preparat tersebut dianalisis jumlah kolagennya yang merupakan

persentase kolagen dari seluruh area jaringan. Jaringan kolagen yang

tampak berwarna merah terang dipilih dan hasil histogram dari

segmentasi gambar kolagen tersebut berupa pixel area kolagen,

kemudian hasilnya dicatat. Sedangkan jaringan lain dengan warna yang

berbeda kemudian dipilih dan dicatat pixel dari histogramnya. Jumlah

kolagen dihitung sebagai persentase pixel area kolagen dibandingkan

dengan pixel area seluruh jaringan (pixel area kolagen dijumlahkan

dengan pixel area jaringan lain) ( Widodo dan Dahlan, 2007).

pixel area kolagen


X 100%
Jumlah kolagen =
pixel area seluruh jaringan

k. Pada akhir penelitian tikus Wistar dieuthanasia melalui cara di suntik

dengan Ketamin 75mg Xylazin 75g i.m. Bila sudah mati, tikus Wistar

ditempatkan dalam ruang kaca yang tertutup dan transparan. Setelah

dieuthanasia sisa organ dan jaringan yang tidak digunakan dikubur .


64

Alur penelitian

36 Ekor Tikus Usia 10-12 Minggu , Berat Badan 200 250 gram

Diadaptasi selama 1 minggu

Kelompok Perlakuan 1 (18 Ekor) Kelompok Perlakuan 2 (18 Ekor)

Paparan UV-B 3 x seminggu dengan dosis Paparan UV-B 3 x seminggu dengan


total 840mJ/cm2 dosis total 840 mJ/cm2
+ +
Diolesi krim plasebo 2x/hari Diolesi krim ekstrak jagung ungu 2x/hari

4 minggu 4 minggu

Istirahat 48 jam untuk menghindari efek akut paparan UV-B 840 mJ

Biopsi dan Pengambilan darah

Jumlah kolagen dermis dan kadar MMP-1

Gambar 4.3 Bagan Alur Penelitian

4.9. Analisis Statistik

Semua data yang diperoleh kemudian dideskripsikan. Selanjutnya untuk

melakukan analisis perbedaan jumlah kolagen, kadar dan kadar MMP-1 pada

tikus coba antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dilakukan

langkah-langkah analisis statistik sebagai berikut:

1. Seleksi data termasuk editing, koding dan tabulasi mengunakan file

navigator program SPSS for windows buatan IBM versi 20.


65

2. Penentuan normalitas data kadar dan kadar MMP-1, jumlah kolagen pada

masing-masing kelompok dianalisis dengan uji Shapiro-Wilk, karena

sampel < 50 dan berdistribusi normal (p>0,05)

3. Homogenitas varian dianalisis menggunakan Levenes test didapatkan data

homogen (p>0.05)

4. Analisis komparasi dilakukan dengan t-test independent, karena data

berdistribusi normal dan variannya homogen . Analisis komparasi

bertujuan untuk mengetahui pengaruh krim ekstrak jagung ungu terhadap

kadar MMP-1, dan jumlah kolagen .


66

BAB V

HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN

Penelitian eksperimental dengan Randomized Post Test Only Control

Group Design, menggunakan 36 ekor tikus Wistar jantan sehat dengan berat 150 -

160 gram dan berumur 10 12 minggu , yang dibagi menjadi 2 (dua) kelompok,

yaitu kelompok kontrol (dipapar sinar UV- B+placebo) dan kelompok perlakuan

(dipapar sinar UV- B + krim ekstrak jagung ungu 50 %).

5.1. Uji Normalitas Data

Data jumlah kadar MMP-1 dan kolagen dermis diuji normalitasnya

dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Hasilnya menunjukkan data berdistribusi

normal (p>0,05), disajikan pada Tabel 5.1.

Tabel 5. 1
Hasil Uji Normalitas Data Kolagen dan MMP-1

Kelompok Subjek n p Ket.


MMP-1 Perlakuan 1 18 0,624 Normal
MMP-1 Perlakuan 2 18 0,051 Normal
Kolagen Perlakuan 1 18 0,947 Normal
Kolagen Perlakuan 2 18 0,826 Normal
Keterangan : n = jumlah sampel

P = nilai kemaknaan / significancy

66
67

5.2. Uji Homogenitas Data

Data jumlah kolagen dan kadar MMP-1 diuji homogenitasnya dengan

menggunakan Levenes test. Hasilnya menunjukkan data homogen (p>0,05),

disajikan pada Tabel 5.2

Tabel 5. 2.
Homogenitas Kolagen dan MM-1 antar Kelompok Perlakuan
Variabel F p Keterangan

MMP-1 3,75 0,061 Homogen

Kolagen 0,01 0,981 Homogen

Keterangan : F = Nilai levenes test

P = Nilai Kemaknaan / significancy

5.3. Kadar MMP-1

Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata kadar MMP-1 antar

kelompok kontrol dan kelompok yang diberikan krim ekstrak jagung ungu 50 %.

Hasil analisis kemaknaan dengan uji t-independent disajikan pada Tabel 5.3 .

Tabel 5. 3.
Perbedaan Rerata Kadar MMP-1 Antar Kelompok

Kelompok Subjek n Rerata MMP-1 SB t p


(g/ml)
Perlakuan 1 18 3,22 0,47
5,71 0,001
Perlakuan 2 18 1,9 0,86

Keterangan : n = Jumlah Sampel t = Uji t-independent

SB = Simpangan Baku p = Nilai kemaknaan / significancy


68

Pada Tabel 5.3, menunjukkan bahwa rerata MMP-1 kelompok kontrol

adalah 3,220,47 dan rerata kelompok krim ekstrak jagung ungu adalah

1,900,86. Analisis kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan bahwa

nilai t = 5,71 dan nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa rerata MMP-1 pada kedua

kelompok sesudah diberikan perlakuan berbeda secara bermakna (p<0,05).

Gambar 5.1
Perbandingan MMP-1 antara Kelompok Perlakuan 1
dengan Kelompok Perlakuan 2

Keterangan :
Perlakuan 1 adalah kelompok yang diolesi krim dasar dan dipapar sinar UV-B.
Perlakuan 2 adalah kelompok yang diolesi bahan dasar krim ekstrak jagung ungu 50 % dan
dipapar sinar UV-B

5.4. Jumlah Kolagen


Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan jumlah kolagen antar kelompok

sesudah diberikan perlakuan berupa krim ekstrak jagung ungu 50 %. Hasil

analisis kemaknaan dengan uji t-independent disajikan pada Tabel 5.4 .


69

Tabel 5. 4.
Perbedaan Rerata Jumlah Kolagen Antara Kelompok Sesudah Diberikan
Krim Ekstrak Jagung Ungu 50%

Rerata Kolagen
Kelompok Subjek n (%) SB t p
Perlakuan 1 18 65,54 5,61 0,00
3,44
2
Perlakuan 2 18 71,7 5,11

Keterangan : n = Jumlah Sampel t = uji t-independent


SB = Simpang Baku p = nilai kemaknaan / significancy

Tabel 5.4 menunjukkan bahwa rerata kolagen kelompok kontrol adalah

65,545,61 dan rerata kelompok krim ekstrak jagung ungu adalah 71,705,11.

Analisis kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan bahwa nilai t = 3,44

dan nilai p = 0,002. Hal ini berarti bahwa rerata jumlah kolagen pada kedua

kelompok sesudah diberikan perlakuan berbeda secara bermakna (p<0,05).


70

Gambar 5. 2
Perbandingan Rerata Jumlah Kolagen antara Kelompok Perlakuan 1
dengan Kelompok Perlakuan 2

Keterangan :
Perlakuan 1 adalah kelompok yang diolesi krim dasar dan dipapar sinar UV-B.
Perlakuan 2 adalah kelompok yang diolesi bahan dasar krim ekstrak jagung ungu 50 % dan
dipapar sinar UV-B
Hasil uji rerata antara kelompok adalah: p<0,05 vs semua kelompok
71

A B

Gambar 5. 1.
Jumlah kolagen pada Jaringan Dermis Tikus dengan Pengecatan Picro Sirius Red

Keterangan:
A. Diberikan sinar UV-B dan bahan dasar krim: terjadi kerusakan pada susunan dan struktur
jaringan kolagen berwarna merah yang tampak tipis. Tanda panah hitam menunjukkan serat
kolagen yang utuh. Tanda panah kuning menunjukkan serat kolagen yang tidak utuh
B. Diberikan sinar UV-B dan krim ektrak jagung ungu 50 %: Jumlah kolagen dengan serat
kolagen berwarna merah tampak lebih lebar dan tebal dimana serat kolagen yang utuh mulai
nampak. Tanda panah hitam menunjukkan serat kolagen yang utuh. Tanda panah kuning
menunjukkan serat kolagen yang tidak utuh.
72

BAB VI

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

6.1. Subyek Penelitian

Untuk menguji pemberian ekstrak jagung ungu terhadap peningkatan

kolagen dan penurunan MMP-1, maka dilakukan penelitian eksperimental dengan

rancangan Randomized Post Test Only Control Group Design, menggunakan 36

ekor tikus Wistar jantan sehat dengan berat 150 - 160 gram dan berumur 10 12

minggu sebagai sampel, yang terbagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu kelompok

kontrol (dipapar sinar UV- B+plasebo) dan kelompok perlakuan (dipapar sinar

UV- B + krim ekstrak jagung ungu).

Pada penelitian ini menggunakan tikus wistar ( Rattus norvegicus) karena

memiliki banyak keuntungan, yaitu tidak mahal, mudah didapat, hanya

membutuhkan sedikit ruang , makan dan minum, mudah dalam pemeliharaan dan

dapat diubah secara genetik . Usia yang dipilih berkisar 10-12 minggu, karena

pada usia ini tikus memiliki persamaan dengan usia manusia dewasa dan belum

mengalami penuaan intrinsik (Bhattacharya dan Thomas, 2004; Bartke, 2005).

Jenis kelamin yang dipilih adalah tikus jantan agar tidak terpengaruhi siklus estrus

dan kehamilan (hormonal).

6.2. Distribusi dan Homogenitas Data Hasil Penelitian

Data hasil penelitian berupa kolagen dan MMP-1 sebelum dianalisis lebih

lanjut, terlebih dahulu diuji distribusi dan variannya. Untuk uji distribusi

72
73

digunakan uji Shapiro Wilk, yaitu untuk mengetahui normalitas data dan uji

homogenitas dengan uji Levene test. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa

masing-masing kelompok berdistribusi normal dan homogen (p > 0,05).

6.3. Pengaruh Pemberian Ekstrak Jagung Ungu

6.3.1. Kadar MMP-1


Pada penelitian ini pemberian paparan sinar UV-B pada kelompok perlakuan

1 selama empat minggu dengan dosis total 840 mJ/cm2 menyebabkan terjadinya

peningkatan kadar MMP-1 yang bermakna dibandingkan dengan kelompok

perlakuan 2. Rerata MMP-1 kelompok perlakuan 1 adalah 3,220,47 dan rerata

kelompok perlakuan 2 yang diberikan krim ekstrak jagung ungu adalah 1,900,86.

Analisis kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan bahwa nilai t = 5,71

dan nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa rerata MMP-1 pada kedua kelompok

sesudah diberikan perlakuan berbeda secara bermakna (p<0,05).

Matriks metaloproteinase adalah suatu zinc-dependent endopeptidase,

suatu enzim yang bertanggung jawab dalam degradasi jaringan ikat dermis.

Matriks metaloproteinase terlibat dalam berbagai aktivitas proteolitik baik dalam

keadaan fisiologis maupun patologis seperti embriogenesis, penyembuhan luka,

inflamasi, angiogenesis, dan kanker (Quan et al., 2009). Matriks metaloproteinase

pada kulit yang paling banyak dipicu pembentukannya oleh paparan sinar UV

adalah MMP-1 dan paling bertanggung jawab terhadap pemecahan kolagen.

Disamping oleh paparan sinar UV, kadar MMP-1 juga meningkat dengan
74

bertambahnya usia, hal ini akan mengakibatkan fragmentasi dan disorganisasi

susunan serat kolagen pada dermis (Seltzer dan Eisen, 2003 ; Fisher et al., 2009).

Paparan sinar UV pada kulit, akan menimbulkan stres oksidatif dan ini

akan mengaktivasi reseptor sitokin dan growth factor pada permukaan keratinosit

epidermis dan sel fibroblas di dermis. Aktivasi reseptor ini akan menginduksi

sinyal intraseluler MAP Kinase yang selanjutnya mengaktivasi faktor transkripsi

AP-1. Activator protein -1 (AP-1) yang merupakan nuclear transcription factor,

terdiri dari dua sub unit yaitu c-jun dan c-fos, berfungsi untuk mengontrol

transkripsi MMP (Helfrich et al., 2009; Ichihashi et al., 2009).

Nuclear factor kappa B (NF-kB) dan activator protein-1 (AP-1)

merupakan faktor transkripsi yang diatur oleh keadaan redoks seluler, dan terlibat

dalam regulasi ekspresi gen. Kedua faktor transkripsi tersebut bertanggung jawab

dalam pengaturan berbagai molekul sinyal ekstraseluler yang terlibat dalam

proses inflamasi, proliferasi sel, apoptosis, tumorigenesis, dan perbaikan jaringan.

Kedua faktor transkripsi ini sangat penting dalam proses degeneratif yang

diakibatkan oleh paparan sinar UV yang berhubungan dengan photoaging seperti

induksi matriks metaloproteinase, dan keduanya merupakan target terapi

pencegahan anti-penuaan (Ichihashi et al., 2009). Matriks metaloproteinase-1,

MMP-3 dan MMP-9 adalah yang paling meningkat kadarnya setelah paparan

sinar UV-B. Peningkatan mRNA MMP-1 dan MMP-3 hampir 1000 kali lipat

setelah 24 jam paparan sinar UV (Quan et al., 2009). Setelah kolagen dipecah

oleh MMP-1, maka kolagen semakin mengalami degradasi dengan meningkatnya

MMP-3 dan MMP-9 (Fisher et al., 2001; Quan et al., 2009).


75

Fibroblas dermis merupakan sumber utama MMP-1 dan meningkat setelah

paparan sinar UV-B pada sel kultur maupun sel kulit secara in vivo (Fagot et al.,

2002, 2004). Matriks metaloproteinase-1, MMP-3 dan MMP-9 pada

permulaannya dihasilkan di epidermis, tapi enzim tersebut dapat berdifusi ke

dalam dermis dan kemudian mendegradasi kolagen (Quan et al., 2009). Difusi ini

juga dibantu oleh ikatan langsung MMP ke kolagen matriks ekstraseluler.

Walaupun ada penelitian yang mengemukakan bahwa keratinosit adalah sumber

utama MMP, yang diproduksi sebagai respon kulit terhadap paparan sinar UV-B

(Fisher et al.,1997; Fisher dan Voorhees,1998) tapi ada kemungkinan bahwa

fibroblas dermis juga memainkan peran dalam produksi MMP oleh keratinosit

melalui mekanisme parakrin tidak langsung yaitu dengan pelepasan growth factor

dan sitokin yang memicu produksi MMP oleh keratinosit (Quan et al., 2009).

Paparan sinar UV-B dengan total dosis 840 mJ/cm2 selama empat minggu

mampu meningkatkan kadar MMP-1 pada jaringan kulit tikus (Sun-Young et al.,

2004). Setelah diberikan krim ekstrak jagung ungu secara topikal maka kadar

MMP-1 mengalami penurunan. Hal ini membuktikan bahwa senyawa tersebut

mempunyai aktivitas peredaman terhadap radikal bebas.

Kemampuan ekstrak jagung ungu menurunkan kadar MMP-1 jaringan dermis

tikus Wistar diperankan oleh berbagai zat aktif yang terkandung di dalamnya

antara lain vitamin C , antosianin dan polifenol..

Polifenol merupakan antioksidan kuat, dalam beberapa penelitian in vitro

terbukti aktivitas antioksidannya lebih kuat dari vitamin C, E dan karotenoid. Efek
76

perlindungan dari buah dan sayuran dalam menurunkan risiko penyakit yang

dikaitkan dengan stres oksidatif seperti penyakit jantung, kanker atau osteoporosis

sebagian diduga berasal dari polifenol. Efek antioksidan senyawa fenolik dalam

tubuh dapat melalui tiga mekanisme yaitu: 1) peredaman radikal bebas, 2)

menekan pembentukan radikal bebas dengan menghambat beberapa enzim atau

chelating trace metals yang terlibat dalam produksi radikal bebas, dan 3)

meningkatkan persediaan antioksidan atau melindungi pertahanan antioksidan.

Ekstrak fenolik, seperti ekstrak delima, teh dan ekstrak anggur telah terbukti

dapat mengurangi kerusakan oksidatif akibat paparan sinar UV pada kulit.

Senyawa fenolik yang dimurnikan seperti antosianin, proantosianidin dan EGCG

dapat menghambat stres oksidatif akibat paparan sinar UV dan kerusakan sel

keratinosit secara in vivo (Dai dan Mumper, 2010).

Kemampuan krim ekstrak jagung ungu 50 % dalam menurunkan kadar

MMP-1 kemungkinan karena zat aktif yang terdapat dalam ekstrak jagung ungu

bekerja secara sinergistik sehingga dapat meningkatkan kapasitas antioksidannya.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, didapatkan bahwa pada kelompok

perlakuan 2 terjadi peningkatan kolagen dan penurunan MMP-1 dibandingkan

dengan kelompok perlakuan 1. Hal ini disebabkan karena jagung ungu

mengandung konsentrasi antosianin yang tinggi (~1640 mg/100g FW) jauh lebih

tinggi daripada sumber yang kaya antosianin lainnya, seperti berries ( 20 ~ 1500

mg/100g FW) , lobak (Raphanus sativus L.) (11 ~ 60 mg/100g FW) , dan kubis (

Brassica oleracea L.) (322 mg/100g FW). Ketertarikan akan jagung ungu sebagai
77

sumber antosianin sebagai warna dan fitonutrien telah meningkat selama tahun

terakhir. Banyak manfaat kesehatan telah dikaitkan dengan ungu jagung ,

termasuk pengurangan stres oksidasi , pencegahan obesitas dan diabetes , dan

kanker usus besar ( Pu Jing, 2006).

Antosianin paling dikenal sebagai antioksidan. Beberapa penelitian

menunjukkan bahwa selain sebagai antioksidan, antosianin juga mempunyai efek

anti-inflamasi, efek anti-diabetik, anti-kanker, dan dapat memperbaiki profil lipid

darah dan memiliki efek vasoprotektif (Wrolstad, 2001; Abdel et al., 2010).

Struktur fenolik antosianin bertanggung jawab dalam efek antioksidan-nya,

yaitu gugus hidroksil pada posisi 3 dari cincin C dan posisi 3, 4, 5 dari cincin B.

Sebagai antioksidan, antosianin bekerja sebagai scavenger ROS seperti

superoksid (O2- ), singlet oksigen (O2), peroksida (ROO-), hidrogen peroksida

(H2O2) dan radikal hidroksil (OH.) (Wang dan Stoner, 2008).

6.3.2. Jumlah Kolagen


Uji perbandingan antara kedua kelompok sesudah perlakuan berupa

pemberian ekstrak jagung ungu menggunakan uji t-independdent. Rerata kolagen

kelompok kontrol adalah 65,545,61 dan rerata kelompok krim ekstrak jagung

ungu adalah 71,705,11. Analisis kemaknaan dengan uji t-independent

menunjukkan bahwa nilai t = 3,44 dan nilai p = 0,002. Hal ini berarti bahwa

rerata kolagen pada kedua kelompok sesudah diberikan perlakuan berbeda secara

bermakna (p<0,05).
78

Penurunan ekspresi kolagen jaringan dermis pada kelompok perlakuan 1 merupakan

suatu petanda adanya stres oksidatif akibat terjadinya pembentukan radikal bebas yang

berlebihan (Narayanan et al., 2010). Molekul oksigen (O2) yang ada di bagian bawah

epidermis merupakan target utama sinar UV-B yang masuk ke dalam kulit. Sinar UV

yang menembus kulit dapat sebagai donatur sebuah elektron pada molekul oksigen yang

menyebabkan oksigen menjadi tidak stabil, menjadi radikal bebas yang agresif (anion

superoksid).

Anion superoksid (O2-) tersebut akan mengambil secara acak sebuah

elektron dari molekul yang terdekat dan tidak hanya akan merusak molekul, tapi

juga mengubahnya menjadi radikal bebas, dan ini menimbulkan reaksi berantai.

Tipe pembentukan atau penyebaran radikal bebas semacam ini dapat merusak

berbagai komponen di dalam kulit, seperti enzim dan membran sel. Elektron

kedua yang berasal dari sinar UV-B dapat diberikan pada anion superoksid,

dengan membentuk hidrogen peroksida (H2O2). Hidrogen peroksida juga dapat

dikonversi menjadi radikal hidroksil (OH) dengan adanya zat besi (Fe2+) melalui

reaksi Fenton. Radikal hidroksil menjadi ancaman yang sangat berbahaya

terhadap sel, sebab radikal bebas ini dapat masuk melalui membran inti dan

merusak DNA. Kadar H2O2 dan OH dapat dideteksi dalam 15 menit setelah

paparan sinar UV dan berlanjut hingga 60 menit (Droge, 2002; Fisher et al.,

2002).

Dilaporkan bahwa penyinaran ultraviolet merusak matriks kolagen kulit

melalui dua jalur yang berbeda yaitu terjadinya stimulasi degradasi kolagen dan

hambatan produksi kolagen (Fisher et al., 2004).


79

Saat kulit terekspos dengan sinar matahari, radiasi UV terserap oleh

molekul kulit yang dapat menimbulkan senyawa berbahaya yang disebut raective

oxygen species (ROS) (Fisher et al., 2002). Yang mana dapat menyebabkan

kerusakan oksidatif pada komponen sel seperti dinding sel, membran lipid,

mitokondria, dan DNA. ROS ini juga berpengaruh besar pada jalur molekul.

Penyinaran kulit bokong manusia dengan 2 MED (minimal erythema dose, yaitu

dosis minimal radiasi UVA / UV- B yang dapat menimbulkan efek erythema pada

kulit) dapat meningkatkan hidrogen peroksida, suatu ROS, dalam 15 menit

(Helfrich et al., 2008).

Sedangkan penelitian lain menemukan bahwa hanya dengan satu kali

ekspos penyinaran radiasi UV sebesar 4 MED, dapat menginduksi marker stres

oksidatif pada kulit (epidermis maupun dermis), yaitu H2O2 (menggunakan

dihydrorhodamine-123, DHR) , Nitric Oxide (menggunakan spektrofotometri),

Peroksidasi Lipid (menggunakan Malondialdehida, MDA), dan infiltrasi lekosit

inflamasi (menggunakan antibodi sel CD11b+ ) yang meningkat paling signifikan

pada 48jam setelah ekspos UV. Seperti diketahui bahwa adanya nitric oxide (NO)

dan hidrogen peroksida (H2O2) sangat merusak dan sitotoksik terhadap sel target.

NO mengandung elektron tak berpasangan dan bersifat paramagnetik, dan oleh

karena itu bereaksi cepat terhadap anion superoksid untuk menbentuk anion

peroksi nitrat. Dekomposisi peroksi nitrat adalah oksidan yang kuat, sama seperti

radikal hidroksil (Katiyar et al., 2001).

Selain itu penyinaran radiasi UV dapat menimbulkan perubahan pada

kolagen dermal melalui dua cara: (1) stimulasi pemecahan kolagen, menghasilkan
80

kolagen yang terpecah dalam fragmen dan tidak beraturan. (2) menghambat

biosintesis prokolagen, sehingga kandungan kolagen berkurang (Yaar dan

Gilchrest, 2008; Helfrich et al., 2008). Hanya dengan satu kali penyinaran UV

dengan dosis 2 MED, dapat menghambat sintesis prokolagen hampir total, yang

bertahan untuk 24 jam, diikuti dengan perbaikan dalam 48-72 jam setelahnya

(Fisher et al., 2001). Penelitian-penelitian sebelumnya juga telah menemukan

bahwa AP-1 (Activator protein-1) dan MMP meningkat dan tetap bertahan sampai

sekitar 24 jam setelah paparan radiasi UV serta terdapat peningkatan pemecahan

kolagen yang signifikan.


81

SaranBAB VII

SIMPULAN DAN SARAN


BAB VII SIMPULAN DAN SARANAN

7.1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :

1. Pemberian krim ekstrak Jagung Ungu 50 % secara topikal

menghambat peningkatan kadar MMP-1 jaringan dermis kulit tikus

Wistar yang dipapar dengan sinar UV-B.

2. Pemberian krim ekstrak Jagung Ungu 50 % secara topikal

menghambat penurunan jumlah kolagen jaringan dermis kulit tikus

Wistar yang dipapar dengan sinar UV-B.

7.2. Saran

Sebagai saran dalam penelitian ini adalah:

Perlu dilakukan uji klinik terhadap khasiat ekstrak jagung ungu pada manusia

dalam mencegah dan memperbaiki tanda-tanda penuaan kulit dini akibat

paparan sinar ultra violet.

81
82

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Abdel-Aal ,Jaclyn Shipp and El-Sayed M 2010 Food Applications and


Physiological Effects of Anthocyanins as Functional Food Ingredients , The
Open Food Science Journal, 2010, 4, 7-22

Astadi, I.R., M. Astuti, U. Santoso and P.S. Nugraheni. 2009. In vitro antioxidant
activity of
anthocyanins of black soybean seed coat in human low density lipoprotein
(LDL). Food
Chem., 122: 659-663.

Bartke, A. 2005. Role of the growth hormone/insulin-like growth factor system in


mammalian aging. Endocrinology .10: 2-12.

Baskoro, A., Konthen, P.G. 2008. Basic Immunology of Aging Process. Naskah
Lengkap pada 5th Bali Endocrine Update 2nd Bali Aging and Geriatric
Update Symposium. Bali 11-13 April 2008.

Baumann, L. 2005. Cosmetic and Skin Care in Dermatology, in : Fitzpatrick T.B.


et al , editors. Dermatology in General Medicine, Mc graw-Hill Book co. p.
2363-2367.

Baumann, L. 2008. Cosmetics and Skin Care in Dermatology. In: Wolff, K.,
Goldsmith, L.A, Katz, S.L., Gilchrest, B.A., Paller, A.S., Leffell, D.J.,
editors. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. 7th. Ed. New
York: McGrawHill. p.2357-63

Baumann, L & Saghari, S 2009, Photoaging. in: Baumann L, Saghari, S,


Weisberg (eds). Cosmetic dermatology principles and practice. New York:
McGraw-Hill, pp. 2-19.

Berneburg, M., Plettenberg, H., Krutmann, J. 2000. Photoaging of Human Skin.


Photodermatology, Photoimunology, dan Photomedicine. 16: 239-244.

Bhattacharyya, T. K., and Thomas, J. R. 2004. Histomorphologic Changes in


Aging Skin. Observation in the CBA Mouse Model. Archives of Facial
Plastic Surgery. 6 (1): 21-5.

Boyce, S.T., Supp, A.P., Swope, V.B., and Warden, G.D. 2002. Vitamin C
Regulates Keratinocyte Viability, Epidermal Barrier, and Basement
Membrane In Vitro, and Reduces Wound Contraction after Grafting of
Cultured Skin Substitutes. J Invest Dermatol. 118: 565-72.

82
83

Campbell, D. 1963. Experimental and Quasi-Experimental Design for Research.


Boston: Houghton Miffin Company. p. 13-22.

Cho,T.H., Lee, J.W., Lee, M.H. 2008. Evaluating the Cytotoxic Doses of
Narrowband and Broadband UV-B in Human Keratinocytes, Melanocytes,
and Fibroblast. Photodermatology, Photoimmunology dan Photomedicine.
Vol 24. P.110-114.

Choi, C.P., Kim, Y.I., Lee, J.W., Lee, M.H. 2007. The Effect of Narrowband
Ultraviolet B on the Expressions of Matrix Metalloproteinase-
1,Transforming Growth Factor- 1 and Type 1 Collagen in Human Skin
Fibroblast. Experimental Dermatology, Original Article. Department of
Dermatology, Kyunghee University, Seoul, Korea.

Chung, J.H., Cho, S., and Kang, S. 2004. Why Does the Skin Age? Intrinsic
Aging , Photoaging and Their Pathophysiology. in: Rigel, D.S., Weiss, R.A.,
Lim, H.W., Dover, J.S. editors. Photoaging. New York: Marcel Dekker Inc.
p. 1-23.
Chung, J.H., Seo, J.Y., Choi, H.R., Lee, M.K., Youn, C.S., Rhie, G., Cho, K.H.,
Kim, K.H., Park, K.C., and Eun, H.C. 2001. Modulation of Skin Collagen
Metabolism in aged and Photoaged Human Skin In Vivo. The Journal of
Investigative Dermatology. vol 117 no 5: p. 1218-1224.

Cooper, R. 1997. Oxidant, antioxidant and Free Radicals, in Antioxidant,


Woodland Health Series. p.1- 8
Cunningham W, Aging and Photoaging., Baran R ,Maibach HI Editor. Texbook
of Cosmetic and Dermatology Edisi ke-3. Abingdon: Taylor & Francis
Group, 2005: 445-54.

Dai, J., and Mumper, R.J. 2010. Plant Phenolics: Extraction, Analysis and Their
Antioxidant and Anticancer Properties. Molecules. 15:7313-52.

Dianasari, R. 2013. Photochemoprotection Effect of Active Component of Purple


Corn (Zea Mays L) on Rats Skin. Denpasar. (penelitian pendahuluan)

Devasagayam ,TP., Tilak, JC., Boloor, KK., Sane, KS., Ghaskadbi, SS., Lele
,RD., Free radicals and antioxidants in human health: current status and
future prospects. PubMed 2004

Droge, W. 2002. Free Radicals in the Physiological Controlof Cell Function.


Physiol Rev.82: 4795.

Eichler, O., Sies, H., Stahl, W. 2002. Divergent Optimum Level of Lycopene, -
Carotene and Lutein Protecting Against UV-B Irradiation in Human
Fibroblast. Journal of Photochemistry and Photobiology. 75(5). 503-506
84

Fagot, D., Asselineau, D., and Bernerd, F. 2004. Matrix metalloproteinase-1


production observed after solarsimulated radiation exposure is assumed by
dermal fibroblasts but involves a paracrine activation through epidermal
keratinocytes. Photochem Photobiol. 79:499505.

Fernandes, D. 2008. Evolution of Coemeceuticals and Their Application to Skin


Disorders, including Aging and Blemishes. In: Walters, K.A., Roberts,
M.S. Editor. Dermatologic, Cosmeceutic, and Cosmetic Development. New
York: Informa. p. 51-5.

Fisher, G.J., Kang, S., Varani, J., Csorgo, Z.B., Wan, Y., Datta, S., Voorhees, J.J.
2001. Mechanism of Photoaging and Chronological Skin Aging. Arch
Dermatol. Department of Dermatology, University of Michigan, Ann
Arbor. Vol 138: p. 1462-1470.

Fisher, G.J., Quan, T., Purohit, T., Shao, Y., Cho, M.K., Varani, J., Kang, S.,
Voorhess, J.J. 2009. Collagen Fragmentation Promotes Oxidative Stress and
Elevates Matrix Metalloproteinase-1 in Fibroblast in Aged Human Skin. The
American Journal of Pathology, vol 174: p. 101-115.
Fisher, G.J., Voorhees, J.J., Kang, S., Quan, T., He, T. 2004. Solar UV Irradiation
Reduces Collagen in Photoaged Human Skin by Blocking Transforming
Growth Factor- TypeII Receptor/Smad Signaling. American Journal of
Pathology. vol 165: no 3. p. 741 -758.
Fourtanier, A., Moyal, D. 2004. Acute and Chronic effect of UV on skin, What
Are They and How To Study Then. In: Rigel, D.S., Weiss, R.A., Lim, H.W.,
Dover, J.S. editors. Photoaging. New York: Marcel Dekker Inc. p. 15-31.

Fowler, B. 2003. Functional and Biological Markers of Aging in Klatz, R. Anti


Aging Medical Therapeutic Vol 5. The A4M Publication.Chicago. p. 43.
Furr, H.C., Clark, R.M. 1997. Intestinal Absorption and Tissue Distribution of
Carotenoid. Journal of Nutritional and Biocemistry, vol 8: p. 364-377.

Fuhrman, B., Aviram, M. 2002. Polyphenols and Flavonoids Protect LDL against
Atherogenic Modifications. In: Canedas, E., Packer, L. Handbook of
Antioksidants, 2nd edition New York : Marcel Dekker, Inc. p. 306-311

Ghosh, D., Konishi, T. 2007. Anthocyanin and Anthocyanin-rich extracts: role in


diabetes and eye function. Asia Pac J Clin Nutr 16(2): 200-208

Gilchrest, B.A., Yaar, M. 2000. Aging of Skin. In: Fitzpatrick T.B. et al , editors.
Dermatology in General Medicine, Mc Graw-Hill Book Co 2, p. 1386-1387.
Goldman, R., Klatz. 2003. The New Anti-Aging Revolution.Australasian
Edition.Theories of Aging. p. 22-24, 191-194.
85

Helfrich, Y.R., Sachs, D. L., and Voorhees, J. J. 2008. The Biology of Skin
Ageing. European Dermatology. 39-42.
Hui C, Bin Y, Xiaoping Y, Long Y, Chunye C, Mantian M, Wenhua L.2010
Anticancer activities of an anthocyanin-rich extract from black rice against
breast cancer cells in vitro and in vivo. PubMed

Humbert, P.G., Haftek, M., Creidi, P., Lapiere, C., Nusgens, B., and Richard, A.
2003. Topical Ascorbic Acid on Photoaged Skin: Clinical, Topographycal
and Ultrastructural Evaluation; Double Blind Study vs Placebo. Exp
Dermatol. 12:237-44.

Ichihashi, M., Ando, H., Yoshida M., Niki Y., and Matsui, M. 2009. Photoaging
of The Skin. J Anti-Aging Med. 6(6): 46-59.
Jawi, I Made and Budiasa Ketut 2009 .Water Extract of Purple Sweet Potato Tub
Decrease
Total Cholesterol and Increase Total Antioxidant In Rabbit Blood. Denpasar

Jones, Kenneth 2005. The Potential Health Benefits of Purple Corn. Herbal Gram,
65:46-49. American Botanical Council.

Junqueira, L.C., Carneiro, J., Kelley, R.O.1997. Histologi Dasar Kulit. Edisi 8.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. hal 357-369.
Khknen MP and Heinonen M. 2003 ,Antioxidant activity of anthocyanins and
their aglycons, PubMed.

Kaminer, M.S. 1995. Photodamage: Magnitude of the Problem. in: Gilchrest,


B.A., editor. Photodamage. Blackwell Science. p.3-9.
Karlsen Anette, Lars Retterstl, Petter Laake, Ingvild Paur, Siv Kjlsrud-Bhn,
Leiv Sandvik,and Rune Blomhoff (2007) Anthocyanins Inhibit Nuclear
Factor-kB ,Activation in Monocytes and Reduce Plasma Concentrations of
Pro-Inflammatory Mediators in Healthy Adults , The Journal of Nutrition.
Norway, vol. 137 no. 8 1951-1954

Katiyar, S.K. and Afaq, F., 2010. Polyphenols: Skin Photoprotection and
Inhibition of Photocarcinogenesis. Mini Rev Med Chem. 11(14): 120015.

Kim, Hyeon Ho., Shin, C.M., Park, Chi-Hyun., Kim, K.H., Cho, K.H., Eun, H.C.
Chung, Jin Ho. 2005. Eicosapentaenoic Acid Inhibits UV-Induced MMP-1
Expression in Human Dermal Fibroblast. Journal of Lipid Research, Vol 46:
p. 1712-1719.
86

Kim, S.Y., Kim , S.J., Lee, J.Y., Kim W.G., Park,W.S., Sim Y.C., Lee, S.J. 2004.
Protective Effects of Dietary Soy Isoflavones against UV-Induced Skin
Aging in Hairless Mouse Model. Original Research Journal of the American
College of Nutrition , vol 23: p.157-162.
Klatz, R. 2003. Acknowledgement in: Klatz, R. 2003 Anti Aging medical
Therapeutics Vol 5..The A4M publication. Chicago. p. 3.
Konczak and Zhang 2004, anthocyanin rich extract-induced from
WorldWideScience.org

Krutmann, J. and Glichrest, B.A. (2006) Photoaging of Skin. In: Glichrest, B.A.
and Krutmann, J., Ed., Skin Aging, Springer, Heiderberg, 33-43.

Lee, Young-Rae, Noh, Eun-Mi, Jeong, E.Y., Yun, Eok-Kweon, Kim, J.H., Kwon,
K.B., Kim, B.S., Lee, S.H., Park, C., Kim, Jong-Suk. 2009. Cordycepin
Inhibits UV-B-Induced Matrix Metalloproteinase Expression by
Suppressing the NFB Pathway in Human Dermal Fibroblast. Experimental
and Molecular Biomedicine, Vol 41, p.548-554.
Leiden JJ. Clinical features of aging skin. Br J Dermatol 2003; 43: 1-3.

Moon, Hee Jung, Lee Soon Ryen, Shim, S,N., Jeong, S.H., Stonik, V.A.,
Rasskavov, Valery A., Zvyagintseva, T., Lee, Y.H. 2008. Fucoidan inhibits
UV-B-Induced MMP-1 Expression in Human Skin Fibroblast.
Biol.Pharm.Bull.31(2). 284-289.

Moos, Varien., 2013. Anthocyanins from Purple corn .


http://cancer.vg/en/purple-corn-maize

Moyer, R. A., Hummer, K. E., Finn, C. E., Frei, B., and Wrolstad, R. E. (2002).
Anthocyanins, phenolics, and antioxidant capacity in diverse small fruits:
Vaccinium, Rubus, and Ribes. Journal of Agricultural and Food Chemistry
50, 519-525.

Nichols, J.A., and Katiyar, S.K. 2010. Skin Photoprotection by Natural


Polyphenols: Anti-inflammatory, Antioxidant and DNA Repair
Mechanisms. Arch Dermatol Res. 302(2):1-19.

Nakatani, N., Fukuda, H., Fuwa, H.. Major anthocyanin of Bolivian purple corn
Zea mays. Agric Biol Chem. 1979;43(2):389-392.
87

Narayanan, D.L., Saladi, R.N., and Fox, J.L. 2010. Ultraviolet Radiation and Skin
Cancer. International Journal of Dermatology. 49:97886.
Obagi, Z.E. 2000. Skin Health Concepts, in Obagi Skin Health Restoration dan
Rejuvenation. Springer. p.27-45

Padayatty, S.J., Katz, A., Yao, H.W., Eck, P., Kwon, O., Lee, J.H., Chen, S.,
Corpe, C., Dutta, A., Dutta, S.K., and Levine, M. 2003. Vitamin C as An
Antioxidant: Evaluation of Its Role in Disease Prevention. J Am Coll Nutr.
22(1):18-35.

Paik, S.J. Experimental and Quasi-Experimental Research Designs. 2004. The


LSS Review. 3(2): 3-4.
Pangkahila,W. 2007. Anti Aging Medicine Memperlambat Penuaan Meningkatkan
kualitas Hidup. Penerbit Buku Kompas. Jakarta, hal 10-1
Pascual S de Teresa, c. Santos-Buelga, and JC Rivas-Gonzalo. LC-MS Analysis
of Anthocyanins From Purple Corn Cob.Journal Science Food Agriculture
82:1003-1006 (2002)
Pham-Huy, L.A., He, H., Pham-Huy, C. 2008. Free Radicals, Antioxidant in
Disease and Health. International Journal of Biomedical Science, Vol 4: p.
89-96.
Pinnel, R.S. 2003. Cutaneous Photodamage, Oxidative Stress, and Topical
Antioxidant Protection, A Continuing Medical Education, American
Academy of Dermatology. p. 1-19.

Pu Jing, M.S. 2006.,Presented in Partial Fulfillment of the Requirements for the


Degree Doctor of Philosophy the Graduate School of The Ohio State
University (Dissertation)

Quan, T., Qin, Z., Xia, W., Shao, Y., Voorhees, J. J., and Fisher, G. J. 2009.
Matrix-degrading Metalloproteinases in Photoaging. J Investig Dermatol
Symp Proc. 14(1):204.

Rabe, J.H., Mamelak, A.J., Mc Elgunn, P., Morison, W.L., Sauder, D.N. 2006.
Photoaging : Mechanism and Repair, Continuing Medical Education,
American Academy of Dermatology, Inc. p.1-19.

Sauermann, K., Jaspers, S., Koop, U., and Wenek, H. 2004. Topically Applied
Vitamin C Increases The Density of Dermal Papillae in Aged Human Skin.
BMC Dermatology. 4:13.

Seltzer, J.L., Eisen, A.Z. 2006. The Role of Extracellular Matrix


Metalloproteinases in Conective Tissue Remodelling. In: Fitzpatrick T.B. et
al , editors. Dermatology. Mc Graw-Hill Book co, p 200-209.
88

Smith, E.S. 2001. Demographics of Aging and Skin Disease, in Geriatric


Dermatology part I. p. 63.

Spormann, TM., Albert, FW., Rath, T., Dietrich ,H., Will, F., Stockis,
JP., Eisenbrand, G., Janzowski, C., (2008) . Anthocyanin/polyphenolic-rich
fruit juice reduces oxidative cell damage in an intervention study with
patients on hemodialysis .Department of Chemistry, Division of Food
Chemistry and Toxicology, University of Kaiserslautern, Erwin-
Schroedinger-Strasse 52, 67663 Kaiserslautern, Germany.

Stahl, W., Heinrich, U., Wiseman, S., Eichler, O., Sies, H., and Tronnier, H. 2001.
Dietary Tomato Paste Protects against Ultraviolet Light-Induced
Erythema in Humans. J Nutr. 131:1449 51.

Sun-Young, K., Su-Jun, K., Jin-Young, L., Wan-Gi, K., Won-Seok, P., Young-Chul, S.,
and Sang-Jun, L. 2004. Protective Effects of Dietary Soy Isoflavones Against UV-
Induced Skin-Aging in Hairless Mouse Model. Journal of American College of
Nutrition. 23(2):157-62.

Styles E.D and O.Ceska. Flavonoid pigments in genetic strains of maize.


Phytochemistry 11: 301921 (1972).

Tinkler, J.H., Bohm, F., Scalch,W., Truscott, T.G. 1994. Dietary Carotenoid
Protect Human Cells from Damage. Journal Photochemical Photobiology,
Vol 26: p. 283-285.
Tjitrosoepomo, C., 1991. Taksonomi Tumbuhan. Gajah Mada Universy Press,
Yogyakarta.
Tschachler, E., Morizot, F. 2006. Ethnic Differences in Skin Aging. In: Gilchrest,
B.A., Krutmann, J. editors. Skin Aging. Springer. p. 23-31.

Wang ,LS., Stoner ,GD., (2008) .Anthocyanins And Their Role in Cancer
Prevention. Department of Internal Medicine and Comprehensive Cancer
Center, Ohio State University College of Medicine, Columbus, OH 43210,
USA.

Wasitaatmadja, S.M. 2007. Anatomi dan Faal kulit. dalam: Djuanda, A., Hamzah,
M., Aisah, S. editor. Ilmu Penyakit kulit dan Kelamin. Edisi 5. Balai
Penerbit FKUI 2007. 7-8.
WHO Report . 2010. WHOSIS (WHO Statistical Information System). Available
at: http://apps.who.int/whosis/database/core/core_select_proccess.cfm/
Accesed Januari 9, 2011
Winarsi, H. 2007. Antioksidan alami dan Radikal Bebas, Potensi dan
aplikasinya dalam kesehatan. Kanisius.
89

Wlascheck, I. Tantcheva-Poor, L. Naderi, W. Ma, S. Alexander, Z. Razi-Wolf, J.


Shuller, K. Scharffetter-Kochanek .Solar UV irradiation and dermal
photoaging. Journal of Photochemistry and Photobiology B, 63 (2001), pp.
4151
Wrolstad RE (2006) Anthocyanin PigmentsBioactivity and Coloring Properties.
Journal Food of Science. Volume 69, Issue 5, pg C419-425
Yaar, M. 2006. Clinical and Histological Features of Intrinsic versus Extrinsic
Skin Agin., in : Gilchrest, B.A., Krutmann, J. editors. Skin Aging. Springer.
p.10-21.

Yaar, M., Gilchrest B.A.2008. Biochemical and Moleculer Changes in Photoaged


Skin. in: Gilchrest, B.A., editor. Photodamage. Blackwell Science.p. 168-
179.
Yolanda ,Rosi Helfrich, MD., Dana, L., Sachs, MD., John J,Voorhees., MD.
Overview of Skin Aging and Photoaging. Dermatology
Nursing. 2008;20(3):177-183.

Young, A.R. 2000. Acute and Chronic Effect of Ultraviolet Radiation on the Skin,
in: Fitzpatrick, T.B., et al ,editors. Dermatology. Mc Graw-Hill Book Co,
1275-1281.
Yulianto, I. 2008. The Changes of Fibroblast Cells due to UV-B Irradiation in
Various Doses an In Vitro Experimental (disertasi). Program Pasca
Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Zussman, J., Ahdout, J., and Kim, J. 2010. Vitamin and Photoaging: Do Scientific
Data Support Their Use? J Am Acad Dermatol. 63: 507-25.
90

Lampiran 1: Prosedur Penanganan Hewan Coba

Percobaan di laboratorium yang menggunakan hewan coba sebagai subjek

penelitian dalam penelitian ini adalah tikus Wistar, dimana harus diperhatikan

beberapa prinsip dalam pemeliharaannya. Pemeliharaan yang baik diharapkan

hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian dan juga dipandang dari segi etika

penelitian yang berkaitan dengan penggunaan hewan coba (ethical clearance).

Beberapa prinsip yang harus dipenuhi yaitu:

1. Pengawasan lingkungan

Prinsip yang paling penting terkait dengan lingkungan tempat

pemeliharaan hewan coba adalah suatu lingkungan yang stabil dan

sesuai dengan keperluan fisiologis jenis hewan coba. Suhu,

kelembapan dan kecepatan pertukaran udara yang ekstrem harus

dihindari. Pembuatan ventilasi yang baik mendukung kelancaran

pertukaran udara, serta memungkinkan mengurangi penyebaran

penyakit. Suhu ruangan yang optimum untuk pemeliharaan tikus

Wistar berkisar antara 250 300 C.

2. Pengawasan kenyamanan

Kenyamanan hewan coba terkait dengan kondisi kandang tempat

pemeliharaan. Bahan kandang terbuat dari plastik yang ditutup kawat.

Prinsip yang paling penting dalam memilih bahan untuk kandang tikus

Wistar adalah mudah dibersihkan, tahan lama, tahan digigit tikus

Wistar. Kisaran ukuran kandang tikus Wistar yang umum dipakai


91

berukuran 35 cm X 20 cm X 10 cm. Ukuran kandang tersebut cukup

untuk memelihara 10 15 ekor tikus Wistar dalam satu kandang.

Dengan asumsi memberi ruang cukup untuk bergerak dengan bebas

dalam berbagai posisi. Sistem kandang juga dilengkapi tempat

makanan dan minuman yang mudah dijangkau oleh seluruh tikus

Wistar.

3. Pengawasan nutrisi (makan dan minum)

Selama percobaan hewan coba diberikan makan dan minum dengan

kualitas yang optimum pula. Apabila hal ini tidak terpenuhi tentunya

juga akan berpengaruh terhadap kehidupan, kesehatan tikus Wistar dan

bias terhadap hasil penelitian. Misalnya tikus Wistar memerlukan

makanan dengan kandungan protein sekitar 20 %. Sehingga untuk

mendapatkan makanan dengan komposisi tersebut biasanya dipakai

makanan dalam bentuk pelet yang komposisinya sudah tertera dalam

kemasannya. Air minum bersih dan bebas dari kontaminasi harus

selalu tersedia untuk hewan coba. Alat-alat minum harus sering dicuci

dan disterilkan misalnya dua minggu sekali.

4. Pengawasan kesehatan

Kandang hewan percobaan harus selalu dijaga kebersihannya, agar

hewan berbiak dengan baik dan percobaan berhasil sesuai yang

diharapkan. Kandang tikus Wistar harus dibersihkan sekurang-

kurangnya seminggu sekali. Hal ini dilakukan untuk menghindari

tumbuhnya jamur dan bakteri yang dapat mempengaruhi kesehatan


92

tikus Wistar. Biasanya kandang tikus Wistar yang terbuat dari bahan

plastik dapat dibersihkan dengan mencuci kotak tersebut dan

mengganti sekam yang dipakai sebagai alas kandang.

Secara lengkap penanganan tikus Wistar yang dipakai dalam penelitian ini

dapat dijabarkan seperti di bawah ini:

1. Penanganan sebelum penelitian

Beberapa hal yang dilakukan sebelum pelaksanaan penelitian terhadap

tikus Wistar antara lain:

a. Menyiapkan kandang pemeliharaan yang optimal dan nyaman bagi

tikus Wistar; terkait dengan ukuran, keadaan kandang (ventilasi

cukup, sekam padi untuk alas kandang) dan tempat makan/minum

yang mudah dijangkau oleh seluruh tikus Wistar.

b. Melakukan aklimatisasi; menyesuaikan tikus Wistar terhadap

kondisi lingkungan tempat percobaan. Aklimatisasi dilakukan pada

kandang pemeliharaan selama 14 hari sebelum pelaksanaan

penelitian.

c. Pemberian makan dan minum secara teratur.

d. Pemeriksaan kesehatan tikus Wistar; apabila ada tikus Wistar yang

sakit langsung dikeluarkan dari kelompok.


93

2. Penanganan selama penelitian

Selama penelitian tikus Wistar harus selalu dalam keadaan terkontrol.

Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:

a. Kenyamanan dan kesehatan tikus Wistar; kandang tikus Wistar

selama penelitian dijaga kebersihannya dan sekam padi diganti

seminggu sekali.

b. Pemberian makan dan minum yang teratur; diberi makanan dalam

bentuk pelet secara ad libitum, tikus Wistar juga tidak boleh dalam

keadaan tanpa air minum. Air minum harus tersedia dan air tidak

terkontaminasi. Air minum diberikan dengan botol-botol plastik

dan tikus Wistar dapat minum air dari botol tersebut melalui pipa

plastik.

c. Penanganan pemberian krim ekstrak jagung ungu

Tikus Wistar dibagi menjadi 2 kelompok yaitu: kelompok 1 dan

kelompok 2, masing-masing kelompok terdiri dari 18 tikus Wistar.

Tikus dari semua kelompok dicukur bulu punggungnya, kemudian

dioleskan bahan dasar krim (plasebo) pada kelompok 1 dan krim

extrak jagung ungu ada kelompok 2, masing-masing krim

dioleskan sebanyak 0,05mg/cm2 luas permukaan kulit tikus.

Paparan kronis UV-B diberikan terhadap kelompok 1dan 2.

Paparan dilakukan sebanyak 3 kali seminggu yang dimulai dengan

50 mJ/cm2 pada minggu pertama, diikuti dengan 70 mJ/cm2 pada

minggu kedua, dan 2 minggu berikutnya dengan 80 mJ/cm2


94

sehingga total sinar UV-B yang diterima oleh masing-masing

kelompok tikus tersebut adalah 840 mJ/cm2 selama 4 minggu.

Bahan dasar krim (plasebo) dan krim ekstrak jagung ungu 50 %

diaplikasikan 2 kali sehari, yaitu 20 menit sebelum disinari (untuk

memberikan waktu absorpsi bahan topikal ke dalam kulit) dan 4

jam setelah penyinaran (terbentuknya ROS dimulai 4 jam setelah

paparan). Aplikasi bahan topikal tetap dilakukan pada hari tanpa

penyinaran.

3. Penanganan setelah penelitian

Pada akhir penelitian tikus Wistar dieuthanasia melalui cara di

suntik dengan Ketamin 20mg/25g Xylazin 20mg/25g i.m., bila belum

mati di tambahkan letal barbiturat (pentotal) i.m. Bila sudah mati,

tikus Wistar ditempatkan dalam ruang kaca yang tertutup dan

transparan. Setelah itu kadaver tikus Wistar dikubur untuk

menghindari bau yang tidak sedap atau efek negatif lainnya.


95

Lampiran 2 : Ethical Clearance


96

Lampiran 3 : Hasil Analisis Ektrak Jagung Ungu


97

Lampiran 4 : Analisa Statistika

Uji Normalitas Data

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Kelompok Statistic df Sig. Statistic df Sig.
*
Kolagen Kontrol .099 18 .200 .980 18 .947
*
Perlakuan .148 18 .200 .972 18 .826
MMP_1 Kontrol .111 18 .200* .961 18 .624
Perlakuan .190 18 .084 .897 18 .051
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.

Uji t-inpendent Kolagen dan MMP-1 antar Kelompok

Group Statistics
Kelompok N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
Kolagen Kontrol 18 65.5421 5.60838 1.32191
Perlakuan 18 71.6972 5.11418 1.20542
MMP_1 Kontrol 18 3.2233 .47317 .11153
Perlakuan 18 1.8989 .86234 .20326

Independent Samples Test


Levene's Test
for Equality
of Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence
Std. Interval of the
Mean Error Difference
Sig. (2- Differenc Differenc
F Sig. t df tailed) e e Lower Upper
Kolagen Equal variances .001 .981 -3.441 34 .002 -6.15511 1.78899 -9.79078 -2.51945
assumed
Equal variances not
assumed
-3.441 33.715 .002 -6.15511 1.78899 -9.79191 -2.51831

MMP_1 Equal variances 3.748 .061 5.713 34 .000 1.32444 .23184 .85328 1.79561
assumed
Equal variances not
assumed
5.713 26.386 .000 1.32444 .23184 .84822 1.80067
98

Lampiran 5 : Foto Aktifitas Penelitian

Jagung Ungu (sebelah kiri) dan varitas Jagung Ungu


jagung lainnya di supermarket

Ektrak Jagung Ungu Krim Ekstrak Jagung Ungu


99

Tikus Yang Sudah Dikelompokkan Tikus Yang Sudah Dikelompokkan


dan Telah Dicukur dan Telah Dicukur

Pengolesan Krim Ekstrak Jagung Pengolesan Krim Ekstrak Jagung Ungu


Ungu
100

Alat Simulator UV-B Penyinaran Tikus Dengan Sinar UV-B

Dekapitasi Tikus Biospi Kulit Tikus


101

KIT MMP-1

Anda mungkin juga menyukai