Anda di halaman 1dari 4

2

TINJAUAN PUSTAKA Kelompok protein ini disebut ribosom


inactivating protein atau RIP (Minami et al.
Pare (Momordica charantia) 1992). Kondoe di dalam Budianto (2003)
Pare atau bitter gourd adalah tanaman juga mengatakan bahwa RIP juga terdapat
yang tumbuh di daerah tropis, yaitu daerah pada anggota famili Cucurbitaceae lainnya
Amazon (Amerika Selatan), Afrika Timur, yaitu Luffa cylindrica dan Trichosantes
Asia, dan Karibia (Taylor 2002). Di kirilowii. Kelompok RIP ini merupakan
Indonesia tanaman pare hampir terdapat di protein yang dapat dimanfaatkan baik dalam
seluruh daerah, sehingga dikenal dengan bidang pertanian maupun kesehatan. Lin
banyak nama lokal. Tanaman pare memiliki Huang et al. (1999) melaporkan bahwa MAP
dua varietas yang terkenal, yaitu charantia 30 yang diisolasi dari biji pare adalah suatu
dan muricata. Varietas charantia disebut protein bioaktif yang dapat melawan sel
juga pare putih yang mempunyai ciri-ciri tumor. Jackson dan Jones di dalam Budianto
buah lonjong besar, berwarna hijau muda dan et al. (2003) menyebutkan bahwa bahan aktif
tidak begitu pahit. Varietas muricata lebih yang terkandung dalam buah pare, yaitu
kecil atau pendek dan pahit. momordikosida K dan L dapat berperan
Menurut Rukmana (1997) tanaman ini dalam menghambat spermatogenesis dan
diklasifikasikan sebagai berikut: kerajaan bersifat reversibel, sehingga dapat digunakan
Plantae, divisi Spermatophyta, subdivisi sebagai kontrasepsi pada pria. Hal serupa
Angiospermae, kelas Dicotyledonae, ordo juga dilaporkan oleh Girini et al. (2005),
Curcubitales, famili Curcubitaceae, genus yakni kandungan glikosida triterpen dalam
Momordica, dan spesies Momordica buah pare dapat menghambat motilitas dan
charantia L. viabilitas spermatozoa.
Rasa pahit pada daun dan buah Tanaman pare diduga mengandung
disebabkan oleh sejenis glikosida yang senyawa bioaktif yang bersifat hipoglikemik
disebut momordicin atau charantin. Buah yaitu charantin (Taylor 2002). Senyawa ini
pare mempunyai kegunaan yang luas, di tergolong fitosterol atau glikosida kompleks.
antaranya untuk mengobati berbagai penyakit Diduga ekstrak buah pare dapat
seperti diabetes, wasir, kerusakan hati, diare, meningkatkan laju metabolisme sel melalui
sakit kuning, menambah produksi air susu peningkatan dan penggunaan glukosa oleh sel
ibu, sariawan, batuk, dan obat luka sehingga target yang efeknya bersifat antidiabetik.
membuat pare digolongkan ke dalam obat- Selain charantin, buah pare juga
obatan tradisional. mengandung hydroxytryptamine, vitamin A,
Selain sebagai sayuran, sebagian B, dan C. Sedangkan bijinya mengandung
masyarakat memanfaatkan pare untuk momordisin. Buah pare juga dikatakan
pengobatan berbagai jenis penyakit. Di mengandung saponin, flavonoid, polifenol
Amerika, jus dari buah pare segar banyak serta glikosida cucurbitacin.
dimanfaatkan untuk terapi penderita human Buah pare yang dianggap baik sebagai
immunodeficiency virus (HIV). Dari sayuran maupun buah secara tradisional telah
beberapa penelitian telah berhasil diisolasi digunakan sebagai herbal anti-diabetes dan
suatu protein aktif dari biji pare yang jus buahnya atau buah mentahnya secara
berfungsi sebagai inhibitor sintesis protein ilmiah telah terbukti dapat menurunkan kadar
yang dinamakan MAP 30. glukosa darah pada uji dengan hewan
percobaan maupun uji klinis pada manusia.
Misalnya, uji ekstrak air,methanol, dan
kloroform buah mentah pare pada tikus
percobaan dengan dosis 20 mg/kg berat
badan dapat menurunkan kadar glukosa darah
puasa sebesar 48%, sebanding dengan
penggunaan obat antidiabetika oral sintetik
glibenklamida. Uji toksisitas yang dilakukan
juga membuktikan bahwa ekstrak buah pare
tersebut aman untuk dikonsumsi (Subroto
2006).
Buah pare yang mengandung senyawa
aktif charantin, vicine, dan polipeptida-p
Gambar 1 Buah pare (protein mirip insulin) memiliki mekanisme
3

meningkatkan sekresi insulin, asupan glukosa proses adsorpsi radiasi (UV, sinar tampak,
jaringan, sintesis glikogen otot hati, oksidasi panas) dan melalui reaksi redoks (Gitawati
glukosa, dan menurunkan glukoneogenesis 1995). Salah satu peluang terbentuknya
hati. Dalam percobaan dengan hewan pare radikal bebas secara endogen yaitu pada
terbukti memiliki mekanisme mirip dengan peristiwa reduksi oksigen di dalam rantai
insulin dalam menurunkan kadar gula darah. transpor elektron. Proses reduksi oksigen ini
Penelitian menunjukkan bahwa buah muda menghasilkan radikal superoksida (O2-),
pare mengandung peptida aktif yang hidrogen peroksida (H2O2), dan radikal
dinamakan MC6 yang berukuran 10 kD. hidroksil (OH) sebagai zat perantara.
Peptida tersebut terdiri dari 3 peptida aktif Radikal bebas dalam upaya menstabilkan
(MC6.1, MC6.2, dan MC6.3) yang terbukti dirinya akan mencari pasangan elektron dari
memiliki aktivitas hipoglikemik (Subroto molekul lain. Di dalam tubuh, radikal bebas
2006). ini akan menarik elektron dari makromolekul
Dosis yang direkomendasikan untuk di sekitarnya seperti protein, karbohidrat,
buah pare tergantung pada sediaannya. Dosis lipid, maupun DNA yang merupakan bagian
untuk tingtur berkisar antara 5 mL hingga 50 dari sel. Jika terjadi kerusakan pada unsur-
mL tiga kali sehari. Namun demikian, karena unsur tersebut, pada akhirnya akan mengarah
rasanya pahit maka sediaan pare dapat juga pada kerusakan sel (Halliwel&Gutteridge
berbentuk tablet atau kapsul. Dosis untuk 1985).
kapsul yang berisi bubuk kering berkisar Lipid peroksida adalah suatu molekul
antara 3-15 g/hari atau bila dalam bentuk yang terbentuk dari peroksidasi lipid.
ekstrak kering setara dengan 100-200 mg, 3 Peroksidasi lipid adalah reaksi yang terjadi
kali sehari. antara radikal bebas dengan PUFA yang
Paten terbaru tentang pare di Kantor mengandung sedikitnya tiga ikatan rangkap
Paten Amerika Serikat yang diberikan kepada (Halliwell & Gutteridge 1985). Reaksi
Pushpa Khanna dari India dengan no. peroksidasi lipid diawali oleh pengambilan
US6,831,162 B2 lebih mengungkap khasiat sebuah atom hidrogen dari gugus metilena (-
biji buah pare sebagai antidiabetes. Paten CH2) pada PUFA oleh radikal bebas. Pada
tersebut mengungkap tentang isolasi senyawa tahap ini terjadi pembentukan radikal bebas
yang dinamakan polipeptida-K dari biji buah karbon (-CH-) yang disebabkan adanya
pare. Senyawa dalam bentuk bubuk amorf ikatan rangkap pada asam lemak yang dapat
tersebut diformulasikan dalam berbagai melemahkan ikatan antara atom C dan H
bentuk seperti tablet dan produk-produk yang berdekatan dengan ikatan rangkap,
edible seperti biskuit dan permen karet yang sehingga atom H mudah diambil oleh radikal
tidak ditelan dengan segera. bebas. Tahap selanjutnya yaitu penstabilan
Uji klinis yang dilakukan terhadap lebih radikal bebas karbon melalui penataan ulang
dari 500 pasien diabetes menunjukkan bahwa ikatan rangkap, sehingga terbentuk diena
sediaan yang mengandung 12 mg hingga 70 terkonjugasi. Apabila diena terkonjugasi
mg polipeptida-K tersebut cukup efektif bereaksi dengan O2, maka akan terbentuk
dalam mengaktifkan insulin yang sudah non- radikal lipid peroksida (ROO). Hadirnya
aktif dan dapat meremajakan pankreas radikal peroksida ini dapat memudahkan
tergantung dari kekronisan kondisi patologi pengambilan atom hidrogen dari molekul
dari masing-masing individu pasien. Selain lipid lain, sehingga tahap ini disebut sebagai
dapat menurunkan kadar gula darah, tahap propagasi. Radikal peroksida
polipeptida-K juga mengendalikan hipertensi selanjutnya dapat bergabung dengan atom H
dengan cara mengendalikan total kolesterol, yang lain membentuk lipid hidroperoksida
HDL, LDL, VLDL, dan trigliserida. dan radikal bebas yang baru. Jalur lain yang
ditempuh oleh radikal peroksida yaitu dengan
Radikal bebas, Antioksidan, dan Lipid membentuk peroksida siklik yang disebut
Peroksida dengan enderoperoksida. Tahap terminasi
Radikal bebas adalah suatu atom atau terjadi bila radikal lipid peroksida bereaksi
molekul yang memiliki satu atau lebih dengan antioksidan atau senyawa biologi
elektron tidak berpasangan dan sangat reaktif seperti protein (Tabel 1).
(Muhilal 1991). Radikal bebas, disimbolkan Lipid peroksida atau lipid hidroperoksida
dengan tanda (), dapat terbentuk secara merupakan suatu molekul yang stabil pada
endogen sebagai hasil proses metabolisme suhu fisiologis atau suhu tubuh. Namun ion-
tubuh, atau secara eksogen misalnya melalui ion logam transisi yang terdapat di dalam
4

Tabel 1 Tahapan reaksi pembentukan radikal Untuk mengontrol radikal bebas, dapat
bebas digunakan senyawa-senyawa yang berperan
sebagai penangkap radikal bebas atau dikenal
Tahapan Reaksi
sebagai antioksidan. Antioksidan
1. Inisiasi RH + OH didefinisikan sebagai senyawa yang dapat
2. R + O2 memberikan elektron kepada radikal bebas.
Propagasi ROO + RH ROOH + R Proses antioksidasi dapat terjadi pada enzim
3. ROO + ROO ROOR + O2 yang berperan mengubah senyawa radikal
Terminasi ROO + R ROOR bebas menjadi senyawa yang lebih stabil.
R + R Misalnya enzim superoksida dismutase
(SOD) yang mengubah radikal O2- menjadi
tubuh seperti besi (Fe) dan tembaga (Cu) H2O2 dan O2.
dapat mengkatalisis penguraian lipid
hidroperoksida hingga membentuk produk O2- + O2- + H+ + H+ SOD
H2O2 + O2
yang berbahaya seperti epoksida, keton,
asam, dan aldehida. Beberapa contoh Mekanisme kerja antioksidan pada
aldehida yang dihasilkan dari peruraian senyawa radikal bebas ada tiga macam, yaitu
peroksida adalah malondialdehida (MDA) (1) antioksidan primer yang berperan untuk
dan 4-hidroksinonenal. Kedua produk mengurangi pembentukan radikal bebas baru
aldehida tersebut dapat menyerang protein dengan cara memutus reaksi berantai dan
terutama pada gugus thiol (-SH) dan gugus mengubahnya menjadi produk yang lebih
amino (-NH2), sehingga enzim-enzim yang stabil. Antioksidan primer ini terdiri atas
membutuhkan senyawa-senyawa tersebut superoksida dismutase (SOD), katalase, dan
untuk aktivitasnya akan terhambat bila glutation peroksidase. Ketiga contoh
peroksidasi lipid sedang berlangsung antioksidan tersebut dapat mengubah radikal
(Sulistyo 1998). superoksida menjadi air. (2) antioksidan
Konsentrasi lipid peroksida yang sekunder yang berperan untuk mengikat
berlebih pada darah maupun organ dapat radikal bebas dan mencegah amplifikasi
mengakibatkan berbagai penyakit senyawa radikal. Antioksidan sekunder
degeneratif. Menurut Yagi (1994) bila kadar terdapat pada vitamin C, vitamin B, vitamin
lipid peroksida di hati meningkat, maka lipid E, betakaroten, dan senyawa-senyawa
peroksida ini dapat keluar dan akan merusak fitokimia. (3) antioksidan tersier yang
organ atau jaringan lain. Pada manusia, lipid berperan dalam mekanisme biomolekuler.
peroksida dalam darah akan meningkat Antioksidan tersier terdiri atas enzim
seiring dengan bertambahnya usia, tetapi perbaikan DNA dan metionin sulfoksida
jumlahnya tidak boleh melebihi konsentrasi reduktase (Kartikawati 1999)
normalnya, yaitu 4 nmol/mL. Ada dua jenis antioksidan berdasarkan
Konsentrasi lipid peroksida dapat diukur asalnya, yakni antioksidan yang berasal dari
dengan metode asam tiobarbiturat (TBA) dalam tubuh (endogen) dan antioksidan yang
yang akan mengukur adanya MDA dikonsumsi dari luar tubuh (eksogen)
(malondialdehida) sebagai produk reaksi (Gitawati 1995). Antioksidan endogen
peroksidasi lipid. Asam tiobarbiturat akan merupakan jenis antioksidan yang diproduksi
bereaksi dengan gugus karbonil dari MDA, oleh tubuh atau secara alami terdapat dalam
yaitu satu molekul MDA akan berikatan tubuh. Beberapa contoh antioksidan endogen
dengan dua molekul TBA. Reaksi ini akan adalah enzim-enzim seperti superoksida
menghasilkan senyawa kompleks berwarna dismutase, glutation peroksidase, glutation
merah yang serapannya dapat diukur secara reduktase, katalase, tioredoksin reduktase,
spektrofotometri (Gambar 2). heme oksigenase, dan biliverdin reduktase.
Selain itu ada juga glutation dan koenzim-Q
yang merupakan antioksidan endogen bukan
dari golongan enzim. Antioksidan eksogen
merupakan jenis antioksidan yang diperoleh
dari diet atau asupan makanan. Antioksidan
ini diperoleh dengan cara mengkonsumsi
jenis-jenis makanan tertentu yang
Gambar 2 Reaksi antara TBA dengan MDA mengandung komponen antioksidan seperti
Sumber: Halliwel&Gutteridge (1985) vitamin C, vitamin E atau berbagai jenis
5

fitokimia. Fitokimia merupakan antioksidan ditemukan oleh Schenedl dan Thulesen.


alami yang terdapat pada tanaman. Beberapa Metabolisme STZ dalam sel akan membentuk
contoh fitokimia, yaitu golongan karotenoid, komponen karbamoilasi seluler, karbamoilasi
flavonoid, fitostrerol, dan polifenol. intermolekular dan komponen seluler alkilasi.
Senyawa turunan fenol tersebar luas dalam Pada tahap awal, STZ akan diubah menjadi
tumbuhan dan beberapa diantaranya lebih senyawa isosianat dan melepaskan
efektif dibandingkan dengan senyawa metilnitrourea. Isosianat dapat membentuk
antioksidan sintetik (Muhilal 1991). berbagai macam senyawa karbamoilasi
Fitokimia yang umum terdapat pada intramolekuler. Metilnitrourea yang
tumbuhan tingkat tinggi antara lain asam dilepaskan membentuk metildiazohidroksida
askorbat (vitamin C), karoten, flavonoid, yang dapat menyisipkan gugus alkil pada
saponin, tanin, dan tokoferol. Zat antioksidan berbagai macam komponen seluler seperti
alami lain adalah isoflavon. Isoflavon DNA, protein, atau bereaksi dengan H2O
termasuk golongan isoflavonoid yang membentuk metanol.
merupakan isomer flavon. Senyawa ini Sifat diabetogenik STZ diduga terjadi
banyak terkandung pada tanaman kacang- karena kerusakan DNA dalam sel-sel B
kacangan, terutama kacang kedelai. pancreas. Elsner et al. (2000) melaporkan
bahwa penyebab kematian sel-sel B pankreas
Streptozotosin hasil induksi STZ adalah alkilasi DNA. Di
Streptozotosin (2-deoksi-2-(3-metil-3- samping itu kerusakan DNA pada sel B
(nitrosoureido)-D-glukopiranosa) merupakan diduga juga akibat aktivitas senyawa oksigen
senyawa hasil sintesis Streptomycetes reaktif dari nitrit oksida (NO). Senyawa
achromogenes dan digunakan untuk STZ adalah donor NO yang telah
menginduksi diabetes pada hewan coba,baik ditemukan sebagai penyebab kerusakan sel
diabetes melitus tergantung insulin (IDDM) pulau pankreas, dengan cara meningkatkan
atau tidak tergantung insulin (NIDDM). aktivitas guanilil siklase. Dalam
Struktur STZ dicirikan dengan adanya mitokondria, NO juga akan meningkatkan
metilnitrourea yang berikatan pada atom C aktivitas xanthin oksidase dan menurunkan
ke-2 glukosa (Gambar 3). oksigen yang berdampak pada penghambatan
Menurut Ganda dalam tulisan Szkudelski siklus Krebs, sehingga terjadi pembatasan
(2001) penggunaan dosis yang digunakan produksi ATP dalam mitokondria yang
pada tikus untuk menginduksi IDDM secara kemudian menyebabkan deplesi nukleotida
intravena di antara 40 dan 60 mg/kg BB, dalam sel dan pada akhirnya
berhasil juga secara intraperitoneal dengan mengakibatkan kerusakan DNA (Szkudelski
dosis yang sama atau lebih tinggi, dan kurang 2001). Dalam jumlah terbatas NO
efektif di bawah 40 mg/kg BB, meskipun memainkan peranan penting dalam tubuh
juga tergantung spesiesnya. Dengan suntikan manusia, misalnya sebagai molekul sinyal,
STZ sebanyak 50 mg/kg BB secara intravena membantu regulasi aliran darah, melawan
pada tikus, kadar glukosa darah dapat infeksi, dan mematikan sel tumor.
meningkat sampai sekitar 15mM (270 Sebaliknya, dalam jumlah berlebih NO
mg/dL) setelah 2 minggu). dapatmenjadi berbahaya misalnya memicu
Senyawa STZ masuk ke dalam sel- inflamasi kronik, menggangu fungsi otak, dan
pankreas melalui glucose transporter 2 merestriksi aliran darah. Selain itu, apabila
(GLUT 2). Ekspresi GLUT 2 yang tereduksi NO bertemu dengan radikal superoksida, NO
akibat kerja STZ sebagai zat diabetogenik akan menjadi radikal bebas yang lebih aktif
dan dapat merusak sistem antioksidan serta
protein dalam tubuh (Packer dan Colman
1999).

BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat


Bahan-bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah: sampel hati tikus
Sprague Dawley yang diperoleh dari Pusat
Studi Satwa Primata (PSSP). Bahan-bahan
untuk uji TBA antara lain: asam tiobarbiturat
Gambar 3 Struktur STZ