Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di era modern ini banyak kasus kejahatan yang terjadi di Indonesia, terlebih lagi
dalam kaitan dengan kasus-kasus hukum pidana. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa
kasus dalam hukum pidana sendiri sudah berkembang hingga munculnya perkara baru
yang belum diatur dalam undang-undang. Salah satu contoh tindakan yang melanggar
KUHP adalah permufakatan jahat.
Permufakatan jahat ini sendiri diatur dalam KUHP pasal 110 ayat 1 sampai 4.
Sementara itu kejahatan-kejahatan yang dikategorikan sebagai permufakatan jahat
diatur dalam pasal 104, 106, 107, dan 108 KUHP. Di dalam kajiannya sendiri
permufakatan jahat memiliki tafsiran yang autentik yang dijelaskan dalam KUHP, dan
dalam bentuk kejahatannya pula pemufakatan jahat terdapat beberapa macam.
Terkait dengan persoalan di atas maka kami akan berusaha sedikit membahas
tentang bentuk-bentuk kejahatan yang dikategorikan kedalam pemufakatan jahat, serta
penjelasan dari pasal-pasal tersebut diatas.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari permufakatan jahat ?
2. Mengapa permufakatan jahat dapat terjadi ?
3. Bagaimana penjabaran pasal-pasal yang mengatur tentang pemufakatan jahat ?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Permufakatan Jahat dalam Kitab Undang-Undang Hukum


Pidana (KUHP)
Tindak Pidana Permufakatan Jahat dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP) diatur dalam Pasal 110 ayat (1) sampai dengan ayat (4).
Permufakatan jahat (samenspanning) diatur secara khusus yaitu hanya terhadap
kejahatan-kejahatan sebagaimana diatur dalam Pasal 104, 106, 107 dan 108 KUHP.
Artinya tindak pidana permufakatan jahat tidak dapat diperlakukan untuk semua
tindak pidana yang ada dalam KUHP, jadi bersifat eksepsional (pengecualian)
sebagaiman yang disebut dalam Pasal 110 KUHP.
Pengertian permufakatan jahat dalam KUHP dapat dilihat dalam Pasal 88
KUHP yang merupakan penafsiran autentik mengenai permufakatan jahat tersebut.
Pasal 88 tersebut menyebutkan pengertian pemufakatan jahat sebagai berikut:
Dikatakan ada permufakatan jahat, apabila dua atau lebih telah sepakan akan
melakukan kejahatan.
Merunjuk kepada pengertian pemufakatan jahat sebagaimana disebutkan
pada Pasal 88 KUHP tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa permufakatan jahat
dianggap telah terjadi yakni segera setelah dua orang atau lebih mencapai suatu
kesepakatan melakukan kejahatan tersebut. Disini permufakatan jahat merupakan
tindak pidana sendiri, artinya orang telah dapat dinyatakan melakukan tindak
pidana permufakatan jahat dengan adanya kesepakatan untuk melakukan tindak
pidana sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 104, 106, 107 dan 108 KUHP.
Wirjono Prodjodikoro menyatakan bahwa permufakatan jahat tersebut
memiliki kemiripan dengan keturut sertaan sebagaimana diatur dalam Pasal 55
KUHP, akan tetapi lebih bersifat khusus. Perbedaannya bahwa keturut sertaan
dalam Pasal 55 KUHP para pelaku telah melakukan tindak pidana tersebut,
sedangkan dalam permufakatan jahat tindak pidana belum dilakukan oleh pelaku.
Jadi yang dihukum atau yang merupakan tindak pidana disini adalah niat yang
ditandai adanya kata sepakat dari dua orang atau lebih untuk melakukan tindak
pidana dalam ketentuan Pasal 104, 106, 107 dan 108 KUHP.

Permufakatan Jahat 1
Meskipun tindak pidana belum terlaksana tidak berarti permufakatan jahat
sama dengan tindak pidana percobaan atau poging sebagimana yang diatur dalam
Pasal 53 KUHP. Dalam tindak pidana percobaan harus memenuhi 3 unsur yaitu
niat, permulaam pelaksanaan, dan perbuatan tersebut tidak jadi selesai diluar
kehendak pelaku. Apabila melihat rumusan tindak pidana permufakatan jahat, maka
niat dalam permufakatan jahat telah dapat dihukum. Karena perbuatan persiapan
dalam permufakatan jahat sendiri belum ada.
Sesungguhnya dalam hukum pidana niat saja tidaklah dapat dihukum, tetapi
karena kejahatan seperti yang disebutkan dalam Pasal 104, 106, 107 dan 108 KUHP
dianggap sebagai kejahatan yang serius, maka dibuatlah tindak pidana
permufakatan jahat terhadap Pasal-pasal tersebut sebagai tindak pidana. Ketentuan
ini yaitu permufakatan jahat dapatlah dikategorikan kepada dasar memperluas
rumusan delik atau memperbanyak jumlah delik. Karena delik pokoknya adalah
ketentuan dalam Pasal 104, 106, 107 dan 108 KUHP sedangkan permufakatan
adalah delik tambahan atau perluasan dari delik pokok tersebut. Misalnya
percobaan dalam tindak pidana pencurian, disini pidana pokoknya pencurian Pasal
362 KUHP sedangkan percobaan terhadap pencurian tersebut telah pula dianggap
sebagai delik, inilah yang dimaksud dengan perluas delik tersebut.
Terdapat permufakatan jahat jika hal melakukan kejahatan telah
diperjanjikan (overeengekomen) oleh dua orang atau lebih. Untuk adanya
perjanjian melakukan kejahatan haruslah diantara mereka telah terdapat kata
sepakat. Dengan demikian sudah ada permufakatan jahat yang dapat dipidana,
sekalipun belum ada perbuatan percobaan bahkan belum ada perbuatan persiapan.
Jadi, sudah cukup jika dua orang bersepakat untuk melakukan kejahatan
tertentu. Tidak diperlukan tindakan lain lagi, sebagai persiapan untuk melakukan
kejahatan.1

B. Syarat-syarat permufakatan jahat:


1) Ada niat
Niat saja dalam hukum ketatanegaraan dianggap amat membahayakan
kepentingan hukum suatu negara
1
Frankiano B. Randang, Delik Permufakatan Jahat Dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana, karya ilmiah, Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi, Manado, 2010, Hlm. 13

Permufakatan Jahat 1
2) Ada kesepakatan dua orang atau lebih untuk melakukan kejahatan2

C. Penjabaran Pasal 110, Pasal 104, Pasal 106, Pasal 107, Pasal 108.
1. Pasal 110 ayat (1) KUHP
Dalam Pasal 110 ayat (1) ditentukan bahwa permufakatan jahat untuk
melakukan kejahatan menurut Pasal 104, 106, 107 dan 108 diancam berdasarkan
ancaman pidana dalam Pasal-pasal tertentu. Jadi, untuk mempelajari permufakatan
jahat ini haruslah diketahui Pasal-Pasal 104, 106, 107 dan 108 KUHP.
(2) pidana yang sama diterapkan terhadap orang-orang yang dengan maksud
berdasarkan passal 104, 106, 107, 108, mempersiapkan atau memperlancar
kejahatan:
1. Mencoba menggerakkan orang lain untuk melakukan, menyuruh melakukan
atau turut serta melakukan agar memberi bantuan pada waktu melakukan atau
memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan;
2. Mencoba memperoleh kesempatan, saranan atau keterangan untuk melakukan
kejahatan bagi diri sendiri atau orang lain;
3. Memiliki persediaan barang-barang yang diketahuinya berguna untuk
melakukan kejahtan;
4. Mempersiapkan atau memiliki rencanan untuk melaksanakan kejahtan yang
bertujuan untuk memberitahukan kepada orang lain;
5. Mencoba mencegah, merintangi atau menggagalkan tindakan yang diadakan
oleh pemerintah untuk mencegah atau menindas pelaksanaan kejahatan.
(3) barang-barang sebagaimana yang dimaksud dalam butir 3 ayat sebelumnya,
dapat dirampas.
(4) tidak dipidananakan barang siapa yang ternyata bermaksud mempersiapakan
atau memperancar perubahan ketatanegaraan dalam artian umum.
(5) jika dalam salah satu hal seperti yang dimaksud dalam ayat 1 dan pasal 2 pasal
ini, kejahatan sungguh terjadi, pidananya dapat dilipatka dua kali.

2
Budiyanto, Percobaan (Poging) dikutip dari
http://budi399.wordpress.com/2009/10/19/percobaan-poging diakses 15 Apri; 2017.

Permufakatan Jahat 1
2. Permufakatn jahat untuk melakukan kejahatan menurut Pasal 104 KUHP
Pasal 104 KUHP menentukan bahwa makar dengan maksud untuk
membunuh atau merampas kemerdekaan atau meniadakan kemampuan Presiden
atau wakil Presiden, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup
atau pidana penjara sementara paling lama 20 tahun.
Untuk dapat dipidana berdasarkan Pasal 104 KUHP ini, harus ada permulaan
pelaksanaa, sebagaimana ditentukan oleh Pasal 87 KUHP dimana dikatakan bahwa
makar untuk melakukan suatu perbuatan apabila niat itu telah ternyata dari adanya
permulaan pelaksanaan seperti dimakasud dalam pasal 53.
Tetapi, jika Pasal 104 dihubungkan dengan Pasal 110 ayat (1) KUHP maka
syarat harus adanya permulaan pelaksanaan ini menjadi tidak berlaku. Sudah
merupakan suatu delik selesai jika dua orang atau lebih telah berjanji adanya
kesepakatan untuk membunuh, merampas kemerdekaan atau meniadakan
kemampuan Presiden atau Wakil Presiden.
Permufakatan jahat ini bukan saja dijadikan delik selesai, melainkan ancaman
pidana juga disamakan dengan yang telah dilaksanakan sepenuhnya. Ini berarti
bahwa karena delik Pasal 104 diancam dengan pidana mati, penjara seumur hidup
atau penjara sementara paling lama 20 tahun maka permufakatan untuk melakukan
perbuatan-perbuatan ini juga diancam dengan pidana yang sama.
3. Permufakatan jahat untuk melakukan kejahan menurut Pasal 106 KUHP
Dalam Pasal 106 KUHP ditentukan bahwa makar dengan maksud supaya
seluruh atau sebagian wilayah negara jatuh ke tangan musuh atau memisahkan
sebagian wilayah negara, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana
penjara sementara paling lama 20 tahun.
Maka yang dilarang dalam Pasal ini makar yang dilandasi maksud:
a. Supaya seluruh atau sebagian wilayah negara jatuh ke tangan msusuh. Maksud
menyerahkan seluruh wilayah negara ketangan musuh, berarti riwayat sebagai
negara berdaulat dan selanjutnya berada di bawah penjajahansuatu negara asing.
Dengan perkataan sebagian, berarti bagian dari wilayah indonesia, misalnya
pulau Sulawesi atau bagian dari pulau Sulawesi.
b. Supaya memisahkan sebagian dari wilayah negara

Permufakatan Jahat 1
Memisahkan sebagian dari wilayah negara berarti bagian daerah itu menjadi
suatu negara yang berdaulat sendiri, misalnya memisahkan daerah Minahasa dan
Wilayah Republik Indonesia untuk menjadi negara yang berdiri
sendiri.perbedaannya dengan sub (a) di atas adalah bahwa di sini bagian wilayah
Indonesia tidak dimaksudkan untuk ditaklukan di bawah penjajahan suatu
negara asing.
Menurut Pasal 110 ayat (1) KUHP, permufakatan jahat untuk melakukan
kejahatan-kejahatan ini juga diancam dengan pidana yang sama. Hal-hal yang telah
dikemukakan di atas mengenai permufakatan jahat juga berlaku berkenaan dengan
hal ini.
4. Permufakatan jahat untuk melakukan kejahatan menurut Pasal 107 KUHP
Pasal 107 KUHP menentukan bahwa makar dengan maksud untuk
menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 tahun
(ayat 1), dan bahwa para pemimpin dari para pengatur makar tersebut dalam ayat 1,
diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling
lama 20 tahun (ayat 2).
Yang berkaitan dengan kemungkinan permufakatan jahat sebagai suatu delik
adalah ayat (1) dari Pasal ini, yaitu makar yang mempunyai maksud menggulingkan
pemerintah.
Dalam Pasal 88 bis KUHP diberikan keterangan bahwa dengan penggulingan
pemerintah dimaksud atau mengubah secara tidak sah bentuk pemerintah menurut
Undang-undang Dasar.
Menurut Pasal 110 ayat (1) KUHP permufakatan jahat untuk melakukan
kejahatan-kejahatan ini juga dincam dengan pidana yang sama.
5. Permufakatan jahat untuk melakukan kejahatan menurut Pasal 108 KUHP
Dalam Pasal 108 ayat (1) KUHP ditentukan bahwa barang siapa bersalah
karena pemberontakan, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 tahun:
a. Orang yang melawan pemerintah indonesia dengan senjata
b. Orang yang dengan maksud melawan pemerintah Indonesia menyerbu bersama-
sama atau menggabungkan diri pada gerombolan yang melawan Pemerintah
dengan senjata.

Permufakatan Jahat 1
Selanjutnya ayat (2) ditentukan para pemimpin dan para pengatur
pemberontakan diancam dengan penjara seumur hidup atau pidana paling lama 20
tahun.
Yang berkenaan dengan delik permufakatan jahat adalah ayat (1) dari Pasal
ini, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 tahun:
1) Orang-orang mengadakan permufakatan jahat untuk melawan pemerintah
Indonesia dengan sengaja;
2) Orang-orang yang mengadakan permufakatan jahat untuk menyerbu bersama-
sama atau menggabungkan diri pada gerombolan yang melawan Pemerintah
Indonesia dengan sengaja.3

D. Pemufakatan Jahat Dalam Tindak Pidana Korupsi


Pemufakatan jahat dalam tindak pidana korupsi diatur dalam Pasal 15 UU
Korupsi. Pasal tersebut mengatur adanya ancaman pidana bagi setiap orang yang
melakukan percobaan, pembantuan, atau pemufakatan jahat untuk melakukan
tindak pidana korupsi. Sanksinya pun cukup berat terutama apabila dilakukan oleh
pejabat negara. UU korupsi bahkan memberikan sanksi penjara dan denda minimal
bagi pejabat negara yang melakukan tindak pidanan ini baik itu pidanan penjara
maupun pidana denda.
Kasus Anggoro Wijoyo merupakan contoh digunakannya delik pemufakatn
jahat oleh halim untuk memutuskan perkara. Sementara itu, dalam perkara lain
banyak delik pemufakatan jahat tidak dijadikan dasar oleh hakim dalam
memutuskan perkara. Sebagai contoh adalah kasus Sjahil Djohan. Oleh Jaksa,
Sjahil Djohan dinilai telah melakukan pemufaktan jahat karena menjadi perantara
pemberi uang dari Haposan Hutagalung kepada Komisaris Jenderal Susno Duadji.
Dalam persidangan, Sjaril Djohan berhasil menyakinkan hakim bahwa tidak terjadi
pemufakatan jahat terkait kasus tersebut. Sjahil beralasan bahwa dalam pertemuan
ia hanya mendengar, tanpa merespons atau menindaklanjutinya.
Pemufaktan jahat memang memiliki sejumlah kelemahan berkaitan dengan
sulitnya proses pembuktian terutama berkaitan dengan unsur kesepakatan. Pendapat
pertama menyatakan harus ada kesepakatan yang jelas antara penyuap dan pemberi
3
Frankiano B. Randang, Delik Permufakatan Jahat Dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana, karya ilmiah, Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi, Manado, 2010, Hlm. 14-20.

Permufakatan Jahat 1
suap atau pemeras dengan yang diperas. Sedangkan pendapat lainnya menyatakan
bahwa kesepakatan tersebut tidaklah diperlukan.
Menurut Eddy OS Hiariej, konsepsi kesepakatan tersebut perlu dibuktikan
dengan adanya meeting of mind yang tidak mengharuskan adanya kesepakatan
antara yang disuap dengan penyuap atau pemeras dengan yang diperas. Namun
demikian, dengan adanya kesepakatan 2 orang atau lebih untuk meminta sesuatu
harus ada persetujuan dari yang akan menyuap atau yang akan diperas kiranya
sudah cukup kuat. Ditegaskan pula bahwa meeting of mind tidak perlu dengan kata-
kata yang menandakan persetujuan secara ekplisit akan tetapi cukup dengan bahasa
tubuh dan kalimat-kalimat yang secara tidak langsung menandakan kesepakatan.
Adapun dasar hukum yang digunakan adalah pasal 55 KUHP. Selain itu, dalam
teori hukum pidanan dikenal dengan istilah sukzessive mittaterscraft yang berarti
adanya keikutsertaan dalam suatu kejahatan termasuk pemufakatan jahat dapat
dilakukan secara diam-diam.
Pemufakatan jahat juga memiliki permasalahan berkaitan dengan
pembuktian. Menurut pasal 184 KUHAP, alat bukti pada kasus pidana meliputi
keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.
Keberadaan alat bukti diperluas dengan adanya UU No. 20 tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU No. 20 Tahun 2001), Pasal 26A UU
No. 20 Tahun 2001 menyebutkan bahwa alat bukti yang disimpan secara
elektrtonik juga dapat dijadikan alat yang sah dalam kasus tinda pidana korupsi.
Sedangkan unsur pembuktian kesepakatan bagi pemufakatan jahat akan
sangat sulit dilakukan di persidangan jika hanya dilandasakan pada alat bukti
tersebut. Pembuktian kesepakatan jahat akan lebih mudah jika terdapat ketentuan
hukum yang menyatakan pemufakatan jahat telah dapat dinyatakan telah terjadi jika
meeting of mind telah dilaksanakan.4

4
Luthvi Febryka Nola, Pemufakatan Jahat Dalam Tindak Pidana Korupsi, Info Hukum
Singkat, Vol VII No. 24 (Desember 2015), hlm. 3.

Permufakatan Jahat 1
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

1. Permufakatan jahat mempunyai pengertian seperti yang dijelaskan dalam pasal 88


KUHP yaitu dikatakan ada permufakatan jahat, apabila dua atau lebih telah sepakat
akan melakukan kejahatan. Dengn artian suatu perbuatan dapat dikatakan
permufakatan jahat bila sudah terjadi kesepakatan untuk melakukan suatu tindakan
jahat (pasal 104, 106, 107, 108).
2. Syarat terjadinya pemufakatan jahat :
1) Adanya niat
2) Ada kesepakatan dua orang atau lebih untuk melakukan kejahatan
3. Pemufakatan jahat diatur dalam pasal 110 KUHP dan bentuk-bentuk pemufakatan
jahat diatur dalam :
1) Pasal 104, 106, 107, KUHP tentang makar terhadap pemerintahan dengan
ancaman hukuman mati, seumur hidup atau penjara sementara paling lama 20
tahun.
2) Pasal 108 KUHP tentang pemberontakan dengan ancaman hukuman 15 tahun,
serta bagi pemimpin atau pengatur pemberontakan diancam hukuman mati,
seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 tahun.
3) Pasal 15 UU Korupsi

Permufakatan Jahat 1
DAFTAR PUSTAKA

B. Randang, Frankiano Delik Permufakatan Jahat Dalam Kitab Undang-Undang


Hukum Pidana, karya ilmiah, Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi,
Manado, 2010.
Budiyanto, Percobaan (Poging) dikutip dari
http://budi399.wordpress.com/2009/10/19/percobaan-poging diakses 15 Apri;
2017.
Febryka Nola, Luthvi Pemufakatan Jahat Dalam Tindak Pidana Korupsi, Info Hukum
Singkat, Vol VII No. 24 (Desember 2015).

Permufakatan Jahat 1