Anda di halaman 1dari 37

APLIKASI TERMOKIMIA

DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Manfaat dari termokimia, yaitu: Dapat mempelajari suatu bentuk energi yang dibutuhkan oleh
manusia untuk bergerak dalam bentuk energi kinetik dan tambahan-tambahan dalam melakukan
proses fotosintesis yang membutuhkan eergi dari sinar matahari. Dapat mempelajari suatu sistem
atau bagian alam semasta yang menjadi objek penelitian serta lingkungan atau bagian alam
semesta yang berinteraksi dengan satu sistem.
Benda-benda yang Berhubungan dengan Termokimia
1. Termokimia didalam Buli-buli (Kantong Air)
Prinsip kerja pada buli-buli (kantong air) ini sama halnya seperti prinsip kerja termokimia pada
termos tempat penyimpanan air panas. Buli-buli biasanya digunakan untuk mengompres. Cairan
yang dimasukan kedalam buli-buli ini biasanya H2O bersuhu tinggi (panas) atau H2O bersuhu
rendah (dingin).
Air yang dimasukan kedalam buli-buli biasanya bersuhu 366 C sampai 386 C jika panas. Buli-buli
ini biasanya dipergunakan untuk meredakan sakit kepala, sakit perut, gigi, keram dan pegal
dibagian otot kaki. Secara konduksi dimana terjadi pemindahan panas dari buli-buli kedalam
tubuh sehingga akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah, sehingga akan terjadi penurunan
ketegangan otot. Kompres ini dilakukan dengan menggunakan buli-buli panas yang dibungkus
dengan kain, dengan suhu berkisar antara 366 C sampai 386 C yang ditempelkan pada sisi kanan
atau sisi kiri pada bagian tubuh yang dirasa sakit atau pegal akibat ketegangan otot.
Air panas yang ada didalam buli-buli ini harus diganti secara berkala sekitar tiap 5 menit sekali.
Supaya suhu buli-buli dapat bertahan (tetap). Hal seperti ini dapat kita sebut dengan reaksi
eksoterm, karena suhu di luar buli-buli serta merta mempengaruhi keadaan suhu didalam buli-
buli. Yang pada akhirnya mengakibatkan suhu buli-buli menurun, karena suhu diluar buli-buli
lebih rendah daripada suhu yang ada didalam buli-buli.
2. Termokimia dalam Kabin Mobil
Jika anda seorang yang mengendarai mobil silakan buka jendela setelah anda masuk mobil dan
jangan terburu-buru menyalakan AC. Hal ini dilakukan agar udara yang ada di dalam mobil bisa
segera keluar dan tergantikan dengan udara yang lebih segar. Ternyata udara yang ada di dalam
mobil (saat diparkir) mengandung Benzene/Bensol. Dari manakah Benzene ini berasal? Menurut
penelitian yang dilakukan oleh UC; dashboard mobil, sofa, air
freshener akan memancarkan Benzene, hal ini bisa disebabkan oleh suhu
ruangan yang meninggi.
Penerapan termokimia dalam kabin Tingkat Benzene yang dapat diterima dalam ruangan adalah
50mg per sqft. Sebuah mobil yg parkir di ruangan dengan jendela tertutup akan berisi 400-
800mg dari Benzene. Jika parkir di luar rumah di bawah sinar matahari pada suhu di atas 606 F,
tingkat Benzene berjalan sampai 2000-4000mg, 40kali dengan tingkat yang dapat diterima.
Orang-orang di dalam mobil pasti akan menyedot kelebihan jumlah toksin (racun).
Bahaya Benzene Jika korban menghirup toksin ini pada high level benzene dapat mengakibatkan
kematian, sedangkan menghirup low level benzene dapat menyebabkan kantuk, pusing,
mempercepat denyut jantung, sakit kepala, kebingungan, dan ketidaksadaran.
Long term efeknya bisa menyebabkan kerusakan pada sumsum tulang dan dapat menyebabkan
penurunan sel darah merah, yang mengarah ke anemia. Hal ini juga dapat menyebabkan
perdarahan yang berlebihan dan menurunkan sistem kekebalan, meningkatkan kesempatan
infeksi, menyebabkan leukemia dan lainnya yang terkait dengan kanker darah dan pra-kanker
dari darah.
Benzene adalah toksin yang menyerang hati, ginjal, paru-paru, jantung dan otak dan dapat
menyebabkan kerusakan kromosonal. Saat ini sedang diadakan penelitian tentang pengaruh
benzene terhadap tingkat kesuburan pria dan wanita.
Benzene adalah racun yang berbahaya karena tubuh kita kesulitan untuk
mengeluarkan jenis racun ini. Karena itu sangat disarankan agar anda membuka jendela dan
pintu untuk memberikan waktu pada udara yang ada di dalam agar keluar sebelum Anda masuk.
3. KANTONG PENYEKA
Pada pertandingan sepak bola kadang-kadang terjadi Trackling keras oleh pemain lawan,
sehingga pemain yang terkena trackling kesakitan. Pada saat itu petugas kesehatan Tim akan
segera masuk ke lapangan dan menyeka bagian yang sakit dengan kantung Penyeka (Aalat
penyeka Kortabel). Kantung penyeka kortabel merupakan salah satu alat P3K yang dibawa oleh
pelatih sepak bola dalam mengantisipasi terjadinya Kram atau terkilir. Kantung Penyeka
Kortabel bekerja dengan memanfaatkan reaksi Endoterm dan Eksoterm secara langsung.
Kantung penyeka dingin berupa kantung plastik dua lapis. Bagian luar yang kuat berisi serbuk
amonium nitrat (NH4NO3) dan plastik bagian dalam (yang mudah pecah) berisi air. Apabila
akan dipakai maka kantung plastik tersebut ditekan dan air nya akan keluar melarutkan
Amonium Nitrat. Proses pelarutan Amonium Nitrat merupakan proses endoterm sehingga terjadi
penurunan Suhu.
Penurunan suhu pada kantung yang mengandung 120 gram Kristal ammonium nitrat (Mr = 80)
Dan 500 mL air dapat dihitung sebagai berikut.
NH4NO3 = 120 gr = 120/80mol
Total kalor diserap = 1,5 Mol X 26 Kj/Mol = 39 Kj = 39000 J
Jika Q = m c T 39000 = 500 42 T T = 18,6 0 C
Jadi, suhu larutan akan turun sebesar 18,60C.
Kantung dingin yang berisi amonium nitrat tidak dapat didaur ulang (sekali pakai), sebab larutan
amonium nitrat suka dikristalkan kembali, selain itu harga amonium nitrat relative murah.
Kantung penyeka panas berisi natrium tiosulfat cair (Na2S2O3). Natrium tiosulfat bertahan
dalam kondisi cair di bawah titik bekunya (480C), fenomena ini disebut keadaan super dingin
kondisi itu (super-cold). Pada kondisi itu pada ad sedikit saja Kristal, Na2S2O3 akan diikuti oleh
pengkristalan seluruh Na2S2O3 cair. Kristalisasi ini dapat dilakukan dengan menekan Kristal
induk Na2S2O3 yang ada pada pojok kantong ke dalam cairan Na2S2O3. Proses kristalisasi ini
merupakan reaksi eksoterm yang dapat menaikkan suhu kantong sampai 48oC. kantung ini dapat
dipakai ulang dengan memanaskan packing pada air hangat hingga natrium tiosulfat akan
mencair kembali. Kantung penyeka panas portabel yang lain berisi serbuk besi dan garam dapur
serta gas oksigen. Kantong jenis ini berupa kantong plastic yang sangat kuat agar tidak ada gas
oksigen yang bocor serta dapat menahan tekanan gas oksigen. Reaksi yang terjadi adalah :
4Fe(s) + 3O2(g) 2Fe2O3(s)
H = -1.648 kJ mol -1
Pada saat campuran tersebut dikocok oksigen akan keluar dari larutan NaCl, dan terjadi reaksi
antara besi dengan gas oksigen yang dikatalisis oleh NaCl dan air. Pengocokan tidak boleh
terlalu kuat sebab reaksi yang terjadi menghasilkan panas yang terlalu tinggi karena reaksinya
sangat cepat. Model kantung ini hanya dapat digunakan sekali pakai.
TERMOMETER
Termometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur suhu. Cara kerja thermometer:
Ketika temperature naik, cairan dibola tabung mengembang lebih banyak daripada gelas yang
menutupinya. Hasilnya, benang cairan yang tipis dipaksa ke atas secara kapiler. Sebaliknya,
ketika temperature turun, cairan mengerut dan cairan yang tipis ditabung bergerak kembali turun.
Gerakan ujung cairan tipis yang dinamakan meniscus dibaca terhadap skala yang menunjukkan
temperature. Zat untuk thermometer haruslah zat cair dengan sifat termometrik artinya,
mengalami perubahan fisis pada saat dipanaskan atau didinginkan, misalnya raksa dan alkohol.
Zat cai tersebut memiliki dua titik tetap (fixed points), yaitu titik tertinggi dan titik terendah.
Misalnya, titik didih air dan titik lebur es untuk suhu yang tidak terlalu tinggi. Setelah itu,
pembagian dilakukan diantara kedua titik tetap menjadi bagian-bagian yang sama besar,
misalnya thermometer skala celcius dengan 100 bagian yang setiap bagiannya sebesar 1C.
TERMOS
Termos merupakan alat yang dapat mencegah perpindahan kalor secara konduksi, konveksi, dan
radiasi. prinsip kerja termos adalah, mencegah terjadinya perpindahan kalor dengan cara
mengisolasi ruang didalam termos tersebut. Dinding permukaan bagian dalam termos, dibuat
mengkilap dengan lapisan perak agar daya resap dan daya pancar terhadap kalor sangat rendah
sehingga kalor dan air panas tidak diserap dinding tersebut, sehingga tetap panas. Dinding dibuat
berlapis dua diantaranya berupa ruang hampa, untuk mencegah perpindahan kalor secara
konduksi, konveksi, maupun radiasi. sehingga kalor tetap terperangkap.

Bahan bakar merupakan suatu senyawa yang bila dilakukan pembakaran terhadapnya dihasilkan
kalor yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Bahan bakar yang banyak dikenal adalah
jenis bahan bakar fosil, misalnya minyak bumi atau batu bara. Selain bahan bakar fosil
dikembangkan pula bahan bakar jenis lain misalnya alkohol, hidrogen. Nilai kalor bakar dari bahan
bakar umumnya dinyatakan dalam satuan kJ/gram, yang menyatakan berapa kJ kalor yang dapat
dihasilkan dari pembakaran 1 gram bahan bakar tersebut, misalnya nilai kalor bakar bensin 48 kJ g-
1, artinya setiap pembakaran sempurna 1 gram bensin akan dihasilkan kalor sebesar 48 kJ. Berikut
ini nilai kalor bakar beberapa bahan bakar yang umum dikenal.

Tabel 1.2. Nilai Kalor Bakar Beberapa Bahan Bakar


Bahan Bakar Nilai Kalor Bakar (kJ g-1)

Gas alam (LNG) 49

Batu bara 32

Bensin 48

Arang 34

Kayu 18

Nilai kalor bakar dapat digunakan untuk memperkirakan harga energi suatu bahan bakar

Contoh:
Harga arang Rp 10200,-/kg, dan harga LPG Rp 2600,-/kg. Nilai kalor Bakar arang 34 kJ/gram dan
nilai kalor bakar LPG 40 kJ/gram. Dari informasi tersebut dapat diketahui harga kalor yang lebih
murah, yang berasal dari arang atau dari LPG.

Nilai kalor bakar arang : 34 kJ/gram, jadi uang Rp. 1200,- dapat untuk memperoleh 1000 gram
arang dan didapat kalor sebanyak

= 34 x 1000 kJ = 34.000 kJ

Jadi tiap rupiahnya mendapat kalor sebanyak

= 34000 /1200

= 28,3 kJ/rupiah.

Untuk LPG, nilai kalor bakarnya : 40 kJ/gram, jadi uang Rp. 2600 dapat untuk memperoleh 1000
gram LPG dan kalor sebanyak

= 40 x 1000 kJ

= 40.000 kJ

Jadi tiap rupiahnya mendapat kalor sebanyak : 40.000/2600

= 15,4 kJ/rupiah

Kesimpulannya : dipandang dari sudut energi yang diperoleh tiap rupiahnya lebih murah
menggunakan LPG sebagai bahan bakar. Dalam pemilihan jenis bahan bakar juga harus
mempertimbangkan segi -segi lain, misalnya kepraktisan, ketersediaanya dan faktor-faktor lain
misalnya kepraktisan, kebersihannya dan tingkat pencemarannya. Dari kedua faktor tersebut
penggunaan LPG sebenarnya lebih menguntungkan daripada arang.

Salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam penggunaan bahan bakar adalah tingkat
kesempurnaan pembakarannya. Pembakaran tidak sempurna dipandang dari sudut energi yang
dihasilkan, akan merugikan sebab akan dihasilkan energi yang lebih sedikit.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Termokimia
Termokimia dapat didefinisikan sebagai bagian ilmu kimia yang mempelajari dinamika atau
perubahan reaksi kimia dengan mengamati panas/termal nya saja. Salah satu terapan ilmu ini dalam
kehidupan sehari-hari ialah reaksi kimia dalam tubuh kita dimana produksi dari energi-energi yang
dibutuhkan atau dikeluarkan untuk semua tugas yang kita lakukan. Pembakaran dari bahan bakar seperti
minyak dan batu bara dipakai untuk pembangkit listrik. Bensin yang dibakar dalam mesin mobil akan
menghasilkan kekuatan yang menyebabkan mobil berjalan. Bila kita mempunyai kompor gas berarti kita
membakar gas metan (komponen utama dari gas alam) yang menghasilkan panas untuk memasak. Dan
melalui urutan reaksi yang disebut metabolisme, makanan yang dimakan akan menghasilkan energi yang
kita perlukan untuk tubuh agar berfungsi.
Hampir semua reaksi kimia selalu ada energi yang diambil atau dikeluarkan. Mari kita periksa
terjadinya hal ini dan bagaimana kita mengetahui adanya perubahan energi.

a.Peristiwa termokimia

Misalkan kita akan melakukan reaksi kimia dalam suatu tempat tertutup sehingga tak ada panas
yang dapat keluar atau masuk kedalam campuran reaksi tersebut. Atau reaksi dilakukan sedemikian rupa
sehingga energi total tetap sama. Juga misalkan energi potensial dari hasil reaksi lebih rendah dari energi
potensial pereaksi sehingga waktu reaksi terjadi ada penurunan energi potensial. Tetapi energi ini tak
dapat hilang begitu saja karena energi total (kinetik dan potensial) harus tetap konstan. Sebab itu, bila
energi potensialnya turun, maka energi kinetiknya harus naik berarti energi potensial berubah menjadi
energi kinetik. Penambahan jumlah energi kinetik akan menyebabkan harga rata-rata energi kinetik dari
molekulmolekul naik, yang kita lihat sebagai kenaikan temperatur dari campuran reaksi. Campuran reaksi
menjadi panas.
Kebanyakan reaksi kimia tidaklah tertutup dari dunia luar. Bila campuran reaksi menjadi panas
seperti digambarkan dibawah, panas dapat mengalir ke sekelilingnya. Setiap perubahan yang dapat
melepaskan energi ke sekelilingnya seperti ini disebut perubahan eksoterm. Perhatikan bahwa bila terjadi
reaksi eksoterm, temperatur dari campuran reaksi akan naik dan energi potensial dari zat-zat kimia yang
bersangkutan akan turun.
Kadang-kadang perubahan kimia terjadi dimana ada kenaikan energi potensial dari zat-zat
bersangkutan. Bila hal ini terjadi, maka energi kinetiknya akan turun sehingga temperaturnya juga turun.
Bila sistem tidak tertutup di sekelilingnya, panas dapat mengalir ke campuran reaksi dan perubahannya
disebut perubahan endoterm. Perhatikan bahwa bila terjadi suatu reaksi endoterm, temperatur dari
campuran reaksi akan turun dan energi potensial dari zat-zat yang ikut dalam reaksi akan naik.

b. Pengukuran Energi Dalam Reaksi Kimia


Satuan internasional standar untuk energi yaitu Joule (J) diturunkan dari energi kinetik. Satu joule
= 1 kgm2/s2. Setara dengan jumlah energi yang dipunyai suatu benda dengan massa 2 kg dan kecepatan
1 m/detik (bila dalam satuan Inggris, benda dengan massa 4,4 lb dan kecepatan 197 ft/menit atau 2,2
mile/jam).
1 J = 1 kg m2/s2
Satuan energi yang lebih kecil yang dipakai dalam fisika disebut erg yang harganya = 110 -7 J.
Dalam mengacu pada energi yang terlibat dalam reaksi antara pereaksi dengan ukuran molekul biasanya
digantikan satuan yang lebih besar yaitu kilojoule (kJ). Satu kilojoule = 1000 joule (1 kJ = 1000J).
Semua bentuk energi dapat diubah keseluruhannya ke panas dan bila seorang ahli kimia
mengukur energi, biasanya dalam bentuk kalor. Cara yang biasa digunakan untuk menyatakan panas
disebut kalori (singkatan kal). Definisinya berasal dari pengaruh panas pada suhu benda. Mula-mula
kalori didefinisikan sebagai jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur 1 gram air
dengan suhu asal 150C sebesar 10C. Kilokalori (kkal) seperti juga kilojoule merupakan satuan yang lebih
sesuai untuk menyatakan perubahan energi dalam reaksi kimia. Satuan kilokalori juga digunakan untuk
menyatakan energi yang terdapat dalam makanan.
Dengan diterimanya SI, sekarang juga joule (atau kilojoule) lebih disukai dan kalori didefinisi
ulang dalam satuan SI. Sekarang kalori dan kilokalori didefinisikan secara eksak sebagai berikut :
1 kal = 4,184 J
1 kkal = 4,184 kJ

Untuk membahas energi dalam reaksi kimia, pertama-tama perlu kita fahami tentang kandungan
energi dalam sebuah benda. Kita sendiri tidak tahu berapa besar energi yang kita miliki, namun kita tahu
berapa besar energi (kalori) yang masuk kedalam tubuh melalui makanan atau pertambahan energi,
begitupula kita dapat mengukur berapa besarnya energi yang kita keluarkan untuk mengangkat 50 kg
beras atau terjadinya penurunan energi. Oleh sebab itu pengukuran energi selalu menggunakan
perubahan energi.
Entalphi (H) didefinisikan sebagai kandungan energi dari suatu zat pada tekanan tetap. Karena tidak
mungkin mengukur entalphi, maka yang kita ukur selalu perubahan entalphi (H).
Untuk lebih mudahnya kita cermati kejadian ini, beberapa gram kapur tohor (CaO) dimasukan
kedalam gelas yang berisi air, dan diaduk, dan proses pelarutan terjadi dalam hal ini terjadi reaksi antara
air dan kapur tohor. Apa yang terjadi? Reaksi ini meghasilkan panas. Dalam hal ini, panas berpindah dari
system ke lingkungan. Proses reaksi ini dapat disederhanakan dalam persamaan reaksi dibawah ini :
CaO + H2O Ca(OH)2 dan panas
Jika reaksi berlangsung dari zat A berubah menjadi zat B, maka H, selalu diukur dari H hasil
H reaktan, sehingga secara umum : H = H B H A, perhatikan Gambar 10.15

Gambar. Konsep Entalphi pada perubahan zat.


Besarnya perubahan entalphi pembentukan suatu zat telah diukur secara eksperimen,
pengukuran H pada 25C 1atm dinyatakan sebagai Ho (perubahan entalphi standar)
Persamaan reaksi dapat dilengkapi dengan informasi energi yang menyertainya, umumnya
dituliskan dengan menambahkan informasi perubahan energi (H) disebelah kanannya. Berdasarkan H
kita dapat bagi menjadi dua jenis reaksi yaitu reaksi eksoterm dan endoterm, lihat Bagan 10.16.

Bagan. Jenis reaksi dan entalphinya


Reaksi Eksoterm adalah reaksi yang menghasilkan panas/kalor. Pada reaksi inin H bernilai
negatif, sehingga H produk lebih kecil dibandingkan dengan H reaktan.
C + O2 CO2 H = -94 Kkal/mol
Reaksi endoterm merupakan reaksi yang menyerap panas, H reaksi ini bernilai positif, sehingga
H produk lebih besar dibandingkan dengan H reaktannya.
CO2 + 2 SO2 CS2 + 3 O2 H= +1062.5 kJ/mol

2.2 Kalor Reaksi yang Merupakan Manifestasi dari Perubahan Energi


dalam Termokimia.
a. Kalor Pembentukan (Hf)
Kalor pembentukan adalah kalor yang dikeluarkan atau diperlukan untuk membentuk 1 mol
senyaawa dari unsur-unsurnya dalam keadaan standar. Pada umumnya entalpi pembentukan senyawa
bertanda negative. Hal ini menunjukkan bahwa yang bersangkutan lebih stabil dari unsur-unsurnya.
Entalpi pembentukan dalam keadaan standar ditetapkan sama dengan nol ( 0 ). Jika pengukuran
dilakukan pada keadaan standar (298 k, 1 atm) dan semua unsur-unsurnya dalam bentuk standar, maka

perubahan entalpinya disebut entalpi pembentukan standar (Hf 0). Entalpi pembentukan dinyatakan
dalam kJ per mol (kJ mol -1).
Supaya terdapat keseragaman, maka harus ditetapkan keadaan standar, yaitu suhu 25 0 C dan
tekanan 1 atm. Dengan demikian perhitungan termokimia didasarkan pada keadaan standar.
Pada umumnya dalam persamaan termokimia dinyatakan:
AB + CD > AC + BD H0 = x kJ/mol
H0 adalah lambang dari perubahan entalpi pada keadaan itu. Yang dimaksud dengan bentuk
standar dari suatu unsur adalah bentuk yang paling stabil dari unsur itu pada kondisi standar (298 K, 1
atm).
Untuk unsur yang mempunyai bentuk alotropi, bentuk standarnya ditetapkan berdasarkan
pengertian tersebut. Misalnya, karbon yang dapat berbentuk intan dan grafit, bentuk standarnya adalah
grafit, karena grafit adalah bentuk karbon yang paling stabil pada 298 K, 1 atm. Dua hal yang perlu
diperhatikan berkaitan dengan entalpi pembentukan yaitu bahwa zat yang dibentuk adalah 1 mol dan
dibentuk dari unsurnya dalam bentuk standar.
Contoh: Entalpi pembentukan etanol (C 2H5OH) (l) adalah -277,7 kJ per mol. Hal ini berarti: Pada
pembentukan 1 mol (46 gram) etanol dari unsur-unsurnya dalam bentuk standar, yaitu karbon (grafit), gas
hidrogen dan gas oksigen, yang diukur pada 298 K, 1 atm dibebaskan 277,7 kJ dengan persamaan
termokimianya adalah:
2 C (s, grafit) + 3H2 (g) + O2 (g) > C2 H5 OH (l) H = -277,7kJ

b. Kalor Penguraian (Hd)

Kalor penguraian adalah kalor yang dihasilkan atau diperlukan untuk menguraikan 1 mol
senyawa menjadi unsur-unsurnya.

c. Kalor Pembakaran (Hc)


Kalor pembakaran adalah jumlah kalor yang dibebaskan per mol zat yang dapat dibakar, dan zat
tersebut bereaksi dengan oksigen. Zat yang mudah terbakar antara lain adalah unsur karbon, hydrogen,
belerang, dan berbagai senyawa dari unsur tersebut. Pembakaran dikatakan smpurna jika :
Karbon ( C ) terbakar menjadi CO2.
Hidrogen ( H ) terbakar menjadi H2O.
Belerang ( S ) terbakar menjadi SO2.
Bahan bakar utama dewasa ini adalah bahan bakar fosil, yaitu gas alam, minyak bumi, dan batu
bara. Bahan bakar fosil itu berasal dari pelapukan sisa organisme, baik tumbuhan atau hewan.
Pembentukan bahan bakar fosil ini memerlukan waktu ribuan sampai jutaan tahun.
Bahan bakar fosil terutama terdiri atas senyawa hidrokarbon, yaitu senyawa yang hanya terdiri
atas karbon dan hidrogen. Gas alam terdiri atas alkana suku rendah terutama metana dan sedikit etana,
propana, dan butana. Seluruh senyawa itu merupakan gas yang tidak berbau. Oleh karena itu, kedalam
gas alam ditambahkan suatu zat yang berbau tidak sedap, yaitu merkaptan, sehingga dapat diketahui jika
ada kebocoran. Gas alam dari beberapa sumber mengandung H2S, suatu kontaminan yang harus
disingkirkan sebelum gas digunakan sebagai bahan bakar karena dapat mencemari udara. Beberapa
sumur gas juga mengandung helium.
Minyak bumi adalah cairan yang mengandung ratusan macam senyawa, terutama alkana, dari
metana hingga yang memiliki atom karbon mencapai lima puluhan. Dari minyak bumi diperoleh bahan
bakar LPG (Liquified Petroleum gas), bensin, minyak tanah, kerosin, solar dan lain-lain. Pemisahan
komponen minyak bumi itu dillakukan dengan destilasi bertingkat. Adapun batu bara adalah bahan bakar
padat, yang terutama, terdiri atas hidrokarbon suku tinggi. Batu bara dan minyak bumi juga mengandung
senyawa dari oksigen, nitrogen, dan belerang.
Bahan bakar fosil, terutama minyak bumi, telah digunakan dengan laju yang jauh lebih cepat dari
pada proses pembentukannya. Oleh karena itu, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi akan segera
habis. Untuk menghemat penggunaan minyak bumi dan untuk mempersiapkan bahan bakar pengganti,
telah dikembangkan berbagai bahan bakar lain, misalnya gas sintesis (sin-gas) dan hidrogen. Gas
sintetis diperoleh dari gasifikasi batubara. Batu bara merupakan bahan bakar fosil yang paling melimpah,
yaitu sekitar 90 % dari cadangan bahan bakar fosil. Akan tetapi penggunaan bahan bakar batubara
menimbulkan berbagai masalah, misalnya dapat menimbulkan polusi udara yang lebih hebat daripada
bahan bakar apapun. Karena bentuknya yang padat terdapat keterbatasan penggunaannya. Oleh karena
itu, para ahli berupaya mengubahnya menjadi gas sehingga pernggunaannya lebih luwes dan lebih
bersih.
Gasifikasi batubara dilakukan dengan mereaksikan batubara panas dengan uap air panas. Hasil
proses itu berupa campuran gas CO,H2 dan CH4.

Sedangkan bahan sintetis lain yang juga banyak dipertimbangkan adalah hidrogen. Hidrogen cair
bersama-sama dengan oksigen cair telah digunakan pada pesawat ulang-alik sebagai bahan bakar roket
pendorongnya. Pembakaran hidrogen sama sekali tidak memberi dampak negatif pada lingkungan
karena hasil pembakarannya adalah air. Hidrogen dibuat dari air melalui reaksi endoterm berikut:
H2O (l) > 2 H2 (g) + O2 (g) H = 572 kJ
Apabila energi yang digunakan untuk menguraikan air tersebut berasal dari bahan bakar fosil,
maka hidrogen bukanlah bahan bakar yang konversial. Tetapi saat ini sedang dikembangkan
penggunaan energi nuklir atau energi surya. Jika proyek itu berhasil, maka dunia tidak perlu khawatir
akan kekurangan energi. Matahari sesungguhnya adalah sumber energi terbesar di bumi, tetapi
tekonologi penggunaan energi surya belumlah komersial. Salah satu kemungkinan penggunaan energi
surya adalah menggunakan tanaman yang dapat tumbuh cepat. Energinya kemudian diperoleh dengan
membakar tumbuhan itu. Dewasa ini, penggunaan energi surya yang cukup komersial adalah untuk
pemanas air rumah tangga (solar water heater).

d. Kalor Pelarutan (Hs)


Kalor pelarutan adalah Kalor yang dihasilkan dari reaksi pelarutan dari satu mol senyawa ke
dalam pelarut dan menjadi larutan encer. Entalphi pelarutan standar hasil pengukuran pada 25 oC dengan
tekanan 1 atm dilambangkan dengan Ho.
Jika kita mengencerkan asam sulfat ke dalam air, maka secara perlahan-lahan kita memipet
asam sulfat dan meneteskannya secara tidak langsung ke air melalui dinding tabung reaksi. Jika kita
pegang dinding tabung reaksi akan terasa hangat. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pengenceran
asam sulfat melepaskan panas dengan persamaan reaksi;
H2SO4(aq) + 2H2O 2 H3O+ + SO42-(aq)
Hos= 909.27 kJ/mol
Perhitungan energi dalam bentuk kalor reaksi maupun entalphi dapat dilakukan dengan cara lain.
Hal ini didasari pada prinsip reaksi yaitu penataan ulang ikatan kimia dari zat-zat yang bereaksi. Pertama-
tama terjadi pemutusan ikatan kemudian dilanjutkan dengan pembentukan ikatan. Sehingga proses
penghitungan energi dapat menggunakan energi ikat dari senyawa yang terlibat dalam reaksi tersebut.

Dalam laboratorium, eksperimen dapat dilakukan untuk mengukur H dengan menggunakan


kalorimeter (Gambar 10.19). Alat ini bekerja berdasarkan azas Black dimana kalor yang dilepaskan sama
dengan kalor yang diterima. Jika zat A suhu x oC dengan zat B dengan suhu yang sama x oC, setelah
bercampur dihasilkan zat C yang suhu meningkat menjadi z oC.
Terjadi perubahan suhu sebesar t = (z-x) oC. Perubahan mengindikasikan bahwa reaksi
menghasilkan panas. Perhitungan entalphi dapat diketahui dengan persamaan:
q = m . c . t
q: Kalor reaksi
m : massa zat (gram)
t : perubahan suhu (oC)
c : Kalor jenis zat cair (J/g oC).
d. Kalor Penguapan (HO)
Kalor penguapan adalah energi yang dibutuhkan untuk mengubah suatu kuantitas zat menjadi
gas. Energi ini diukur pada titik didih zat dan walaupun nilainya biasanya dikoreksi ke 298 K, koreksi ini
kecil dan sering lebih kecil dari pada deviasi standar nilai terukur. Nilainya biasanya dinyatakan dalam
kJ/mol, walaupun bisa juga dalam kJ/kg, kkal/mol, kal/g dan Btu/lb.
Panas penguapan dapat dipandang sebagai energi yang dibutuhkan untuk mengatasi interaksi
antarmolekul di dalam cairan (atau padatan pada sublimasi). Karenanya, helium memiliki nilai yang
sangat rendah, 0,0845 kJ/mol, karena lemahnya gaya van der Waals antar atomnya. Di sisi lain, molekul
air cair diikat oleh ikatan hidrogen yang relatif kuat, sehingga panas penguapannya, 40,8 kJ/mol, lebih
dari lima kali energi yang dibutuhkan untuk memanaskan air dari 0 C hingga 100 C (cp = 75,3 J/K/mol).
Harus diperhatikan, jika menggunakan panas penguapan untuk mengukur kekuatan gaya
antarmolekul, bahwa gaya-gaya tersebut mungkin tetap ada dalam fase gas (seperti pada kasus air),
sehingga nilai perhitungan kekuatan ikatan akan menjadi terlalu rendah. Hal ini terutama ditemukan pada
logam, yang sering membentuk molekul ikatan kovalen dalam fase gas. Dalam kasus ini, perubahan
entalpi standar atomisasi harus digunakan untuk menemukan nilai energi ikatan yang sebenarnya.

e. Kalor Sublimasi
Kalor yang diperlukan untuk sublimasi per satuan massa disebut kalor sublimasi.

d. Kalor Netralisasi (Hn)

Kalor Netralisasi adalah kalor yang dihasilkan atau diperlukan untuk membentuk 1 mol H 2O dari
reaksi antara asam dan basa. Kalor netralisasi termasuk reaksi eksoterm karena pada reaksi ini terjadi
kenaikan suhu.

2.3 Proses dalam Menentukan Kalor Reaksi untuk Berbagai Reaksi


Kimia.
Dalam menentukan kalor reaksi dapat ditentukan dengan melakukan percobaan sebagai berikut:
a.Judul Percobaan : Percobaan Termokimia
b.Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam percobaan termokimia ini antara lain :
1 set kalorimeter beserta pengaduk dan termometernya.
Pemanas ( pembakar spirtus, kaki tiga, dan kasa pembakar)
1 buah Erlenmeyer
1 buah thermometer
Statif
Stopwatch
Bahan yang digunakan dalam percobaan termokimia ini antara lain:
Aquades
HCL 2 M
NH4OH 2.05 M
CH3COOH 2 M
NaOH 2.05 M
Etanol
C. Cara Kerja
1) Tetapan Kalorimeter
Membandingkan kedua thermometer dengan mencelupkannya bersama-sama dalam aquades
pada temperatur kamar selama 1 menit dan membaca temperature masing-masing dengan ketelitian
0.1oC. Harus selalu menggunakan 1 termometer dalam kalorimeter.
Memasukkan 50 ml air ke dalam sebuah erlenmeyr, kemudian memanaskannya hingga bersuhu
15 C-20oC diatas temperature kamar.
o

Sambil mengerjakan tahap 2, menimbang sebuah calorimeter yang kering dan bersih dengan
teliti.
Memasukkan 50 ml air dingin (aquades) ke dalam calorimeter tersebut dan menimbangnya.
Menutup kalorimeter tersebut dan memasang pengaduk serta termometernya.
Mengukur suhu aquades dalam kalorimeter dan air panas secara bersamaan dengan teliti (
0.1oC) tiap menit selama 3 menit.
Pada menit ke 4, menuangkan air panas ke dalam air dingin (aqauades) di dalam kalorimeter
dengan cepat, kemudian menutup dan mengaduknya segera
Mengukur suhu pada menit ke 5,6,7. Hingga menit terakhir pengadukan harus tetap berlangsung
Menimbang kembali kalorimeter beserta isinya,kemudian menghitung berat air panas yang
ditambahkan.
Menghitung perubahan temperature untuk air dingin(aquades) dan air panas.
Menghitung kalor yang dilepas oleh air panas massaair panas c T2
Menghitung kalor yang diterima oleh air dingin massaair dingin c T1
Menghitung kalor yang diterima kalorimeter yaitu selisih antara kalor yang dilepaskan oleh air
panas dengan kalor yang diterima aquades.
Dari percobaan pertama di dapat hasil :
Berat Temperatur pada menit ke (oC)
(gram) 1 2 3 4 5 6 7
Air dingin 47.88 27 27 27 - - -
Air panas 46.52 46 45 44 - - -
Campuran 94.4 - - - 32.5 32 32
Massa kalorimeter : 437.87 gram
Perhitungan :
Perubahan temperatur air dingin (T1) : 32.5oC-27oC = 5.5oC
Perubahan temperatur air panas (T2) : 45oC-32.5oC = 12.5oC
Kalor yang dilepas oleh air panas : massaair panas c T2
o
: 46.52 gram. 4.2 kal/gr C . 12.5 C
: 2442.3 J
Kalor yang diterima oleh air dingin : massaair dingin c T1
o
: 47.88 gram . 4.2 kal/gr C. 5.5 C
: 1106.1 J
Kalor yang diterima kalorimeter : Q lepas Q terima
: 2442.3 J 1106.1 J
: 1336.2 J
Tetapan Kalorimeter : Kalor yang diterima kalorimer
T1
: 1336.2 J
12.5oC

: 106.9 J/K

2) Perhitungan Kalor Pelarutan Etanol-Air


Kalor pelarutan etanol adalah perubahan kalor yang terjadi jika etanol dilarutkan dalam volume air
yang tak berhingga.
Menimbang kalorimeter yang sudah ditentukan tetapan kalorimetrnya dengan tepat
Memasukkan 18 ml air ke dalam kalorometer dengan menggunakan gelas ukur. Air dapat diganti
dengan aquades.
Menimbang kembali kalorimeter beserta isinya dengan tepat.
Menghitung berat air.
Menutup, memasang pengaduk dan termometernya.
Memasukkan 20 ml etanol kedalam Erlenmeyer.
Menutup Erlenmeyer yang ditengahnya disisipkan sebuah termometer.
Mengukur temperatur air dan etanol secara bersamaan tiap meit selama 4 menit.
Pada menit ke 5, memasukkan etanol kedalam kalorimeter.
Mengaduk dengan baik dan mengukur suhunya tiap menit selama 8 menit.
Menimbang kalorimeter beserta isinya.
Menghitung berat etanol yang ditambahkan dalam calorimeter.
Menghitung jumlah mol air dan jumlah mol etanol yang digunakan.
Menghitung mol air/mol etanol.
Menghitung kenaikan suhu keduanya pada menit ke 5.
Menghitung kalor yang diserap air,etanol, dan calorimeter.
Menghitung kalor yang dihasilkan pada pelarutan etanol.
Menghitung entalpi permol etanol yang digunakan.

Berikut ini 1 contoh hasil percobaan :


Cairan Volume Berat Temperatur pada menit ke (oC)
(ml) (gram) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Air 18 15.96 29 29 29 29 34 34 33 32.5 32.5 32 32 32
Etanol 20 14.66 32 32 31 31

Perhitungan :
Jumlah mol air : Massa/Mr
: 15.96 gram / 18
: 0.9 mol
Jumlah mol etanol : Massa/Mr
: 14.66 gram/ 46
: 0.3 mol
Kenaikan suhu air : 34oC-29oC = 5oC
Kenaikan suhu etanol : 34oC-31oC = 2oC
Kalor yang diserap air : massa air . c air. T air
: 15.96 gram . 4,2 J / g.oC.
: 335.2 J
Kalor yang diserap etanol : massa etanol. c etanol. T etanol
: 14.66 gram . 1,92 J / g.oC. 2oC
: 56.3 J
Kalor yang di serap kalorimeter : C . T
: 106.9 J/K . 5oC
: 543.5 J

Kalor total : Qair+Qetanol+Qkalorimeter


: 335.2 J+56.3 J+543.5 J
: 935 J

3) Penentuan Kalor Netralisasi HCl(aq) NaOH(aq)


Memasukkan20 ml HCl 2 M kedalam calorimeter dan 20 ml NaOH 2.05 M ke dalam Erlenmeyer.
Mengukur temperature kedua larutan tersebut tiap menit selama 3 menit.
Memasukkan larutan NaOH ke larutan HCl pada menit ke 4 dengan cepat kemudian mengukur
suhunya tiap menit selama 3 menit.
Data yang diperoleh :
Volume Temperatur pada menit ke (oC)
(ml) 1 2 3 4 5 6 7
HCl 2 M 20 28 28 28 - - -
NaOH 20 30 30 30 - - -
2.05 M
Campuran 40 - - - 34 33.5 33

Perhitungan :
Massa jenis = 1.039 gram/ml
C = 3.96 J/gK
Kenaikan suhu HCl : 34oC-28oC = 6oC
Kenaikan suhu NaOH : 34 C-30oC= 4oC
o

Kalor yang diserap HCl : massa HCl . c HCl. T HCl


: (1.039gram/ml . 20 ml) . 3.96 J/gK. 6oC
: 489.5 J
Kalor yang diserap NaOH : massa NaOH . c NaOH. T NaOH
: (1.039gram/ml . 20 ml) 1. 3.96 J/gK.. 4oC
: 326.3 J

Kalor yang di serap kalorimeter : C . T


: 106.9 J/K . 6oC
: 641.4 J
Kalor total : Q HCl r+Q NaOH +Qkalorimeter
: 489.5 J+326.3 +641.4 J
: 1457.2 J
n H2O = M x V = 0,04 mol

HCl (aq)+NaOH (aq) NaCl (aq)+ H2O (aq)

4) Penentuan Kalor Netralisasi NH4OH(aq) HCl (aq)


Memasukkan20 ml HCl 2 M kedalam calorimeter dan 20 ml NH4OH 2.05 M ke dalam Erlenmeyer.
Mengukur temperature kedua larutan tersebut tiap menit selama 3 menit.
Memasukkan larutan NH4OH ke larutan HCl pada menit ke 4 dengan cepat kemudian mengukur
suhunya tiap menit selama 3 menit.
Data yang diperoleh :
Volume Temperatur pada menit ke (oC)
(ml) 1 2 3 4 5 6 7
HCl 2 M 20 28 28 28 - - -
NH4OH 20 27 27 27 - - -
2.05 M
Campuran 40 - - - 28.5 28.5 28

Perhitungan :
Massa jenis = 1.015 gram/ml
C = 3.96 J/gK

Kenaikan suhu NH4OH : 28.5oC-27oC = 0.5oC


Kenaikan suhu NaOH : 28.5 C-28oC= 0.5oC
o

Kalor yang diserap HCl : massa HCl . c HCl. T HCl


: (1.015gram/ml . 20 ml) . 3.96 J/gK. 0.5oC
: 40.2 J
Kalor yang diserap NH4OH : massa NH4OH. c NH4OH. T NH4OH
: (1.015gram/ml . 20 ml) 1. 3.96 J/gK.. 0.5oC
: 40.2 J
Kalor yang di serap kalorimeter : C . T
: 106.9 J/K . 0.5oC
: 53.45 J
Kalor total : Q HCl +Q NH4OH +Qkalorimeter
: 40.2 J+40.2 J +53.45 J
: 133.8 J
n H2O = M x V = 0,04 mol

HCl (aq)+ NH4OH (aq) NH4Cl (aq)+ H2O (aq)

5) Penentuan Kalor Netralisasi NaOH(aq) CH3COOH (aq)


Memasukkan20 ml CH3COOH 2 M kedalam calorimeter dan 20 ml NaOH 2.05 M ke dalam
Erlenmeyer.
Mengukur temperature kedua larutan tersebut tiap menit selama 3 menit.
Memasukkan larutan NaOH ke larutan CH 3COOH pada menit ke 4 dengan cepat kemudian
mengukur suhunya tiap menit selama 3 menit.
Data yang diperoleh :
Volume Temperatur pada menit ke (oC)
(ml) 1 2 3 4 5 6 7
CH3COOH 20 29.5 29.5 30 - - -
2M
NaOH 20 27 27 27 - - -
2.05 M
Campuran 40 - - - 31.5 31 31

Perhitungan :
Massa jenis = 1.098 gram/ml
C = 4.02 J/gK
Kenaikan suhu CH3COOH : 31.5-30oC = 1.5oC
Kenaikan suhu NaOH : 31.5-27oC= 3.5oC
Kalor yang diserap CH3COOH : massa CH3COOH. c CH3COOH. T CH3COOH
: (1.098gram/ml . 20 ml) 4.02 J/gK. 0.5oC
: 176.6 J
Kalor yang diserap NaOH : massa NaOH . c NaOH . T NaOH
: (1.098gram/ml . 20 ml) 4.02 J/gK.. 0.5 C
o

: 308.9 J
Kalor yang di serap kalorimeter : C . T
: 106.9 J/K . 1.5oC
: 160.4 J
Kalor total : Q CH3COOH +Q NaOH +Qkalorimeter
: 176.6 J+308.9 J +160.4 J
: 645.9 J
n H2O = M x V = 0,04 mol

CH3COOH (aq)+ NaOH (aq) CH3COONa (aq)+ H2O (aq)

Catatan :
Pada perhitungan kalor yang diterima calorimeter , T trersebut menggunakan xat yang suhunya
mendekati keadaan normal 25oC.

Jadi dimisalkan ada dua larutan yang bereaksi misalkan larutan a dan larutan b maka :
Qa : massa a . c a. T a

Qb : massa b. c b T b

Qkalorimeter : C . T(menggunakan perubahan suhu zat yang mendekati keadaan standart)


Q total : Q a +Q b +Qkalorimeter
Pada saat melakukan percobaan ,sistem harus terisolasi agar terjadi kesetimbangan termal dan didapat
hasil yang valid.
Termokimia pada kehidupan sehari-hari dapat diterapkan pada pencampuran air panas dan air dingin
saat akan menggunakannya sebagai air hangat, hanya saja pada ilustrasi tersebut system tidak
terisolasi.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini, antara lain :
Termokimia adalah bagian dari termodinamika yang membahas masalah perubahan energy yang
menyertai reaksi kimia.
Kalor reaksi sebagai manifestasi perubahan energy pada termokimia dikategorikan menjadi : a.
Kalor Pembentukan
b. Kalor Penguraian
c. Kolor Pembakaran
d. Kalor Pelarutan, Penguapan dan Sublimasi.
e. Kalor Netralisasi.
. Perhitungan entalphi dapat diketahui dengan persamaan:
q = m . c . t
q: Kalor reaksi
m : massa zat (gram)
t : perubahan suhu (oC)
c : Kalor jenis zat cair (J/g oC).
Jika dimisalkan ada dua larutan yang bereaksi misalkan larutan a dan larutan b maka :
Qa : massa a . c a. T a
Qb : massa b. c b T b
Qkalorimeter : C . T(menggunakan perubahan suhu zat yang mendekati keadaan standart)
Q total : Q a +Q b +Qkalorimeter

3.2 Saran
Untuk penulisan makalah yang akan datang, diharapkan penulis menggunakan referensi yang
lebih banyak lagi agar tercipta makalah yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P. W., 1994, Kimia Fisika, Erlangga, Jakarta.
www..Chem-Is-Try.org .Situs Kimia Indonesia
http://bakhrul-25-rizky.blogspot.com/2014/01/praktikum-kimia-dasar-termokimia.html

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Termokimia adalah bagian dari termodinamika yang membahas masalah perubahan panas
reaksi kimia. Jika panas dikeluarkan untuk berlangsungnya suatu reaksi, maka reaksi
dinamakan reaksi eksotermis (q negatif), jika sejumlah panas diserap oleh suatu reaksi maka q
positif dan reaksi demikian disebut reaksi endotermis. Termokimia sangat berhubungan dengan
pengaruh kalor yang menyertai reaksi-reaksi kimia. Kalor reaksi pada suhu tertentu, T, ialah
kalor yang dilepaskan atau diserap, jika sejumlah zat-zat pereaksi pada suhu T, berubah
menjadi hasil reaksi pada suhu yang sama. Secara eksperimen kalor reaksi dapat ditentukan
dengan kalorimeter. Tapi tidak semua reaksi dapat ditentukan kalor reaksinya secara
kalorimetrik. Penentuan ini terbatas pada reaksi-reaksi berkesudahan yang berlangsung
dengan cepat seperti pada reaksi pembakaran, reaksi penetralan, dan reaksi pelarutan.
Untuk mengetahui kebenaran dari teori tersebut, yaitu mengenai bagaimana membuat
kalorimeter sederhana dan cara penetapannya serta penentuan kalo reaksi, maka dilakukan
percobaan ini. Pada percobaan ini akan ditentukan kalor reaksi secara kalorimetrik dengan
menentukan terlebih dahulu tetapan kalorimeter (W) dengan memperhitungkan banyaknya kalor
yang dibebaskan dan diserap dari bahan yang terlibat maka banyaknya perubahan kalor
selama reaksi dapat dihitung.

Prinsip dan Aplikasi Percobaan


Prinsip dari percobaan termokimia adalah penentuan tetapan dengan mengamati perubahan
temperatur pada selang waktu tertentu dengan menggunakan alat yang disebut dengan
kalorimeter.
Aplikasi dari percobaan termokimia adalah pada penggunaaan termos air panas dan termos es,
fenomena angin darat dan angin laut, juga senyawa-senyawa yang bereaksi eksotermis banyak
digunakan sebagai bahan bakar seperti halnya LPG, bensin dan lain-lain.

Tujuan Percobaan
A. Mengetahui prinsip kerja dari kalorimeter.
B. Mempelajari perubahan energi yang menyertai reaksi kimia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Termokimia
Termokimia mempelajari perubahan panas yang mengikuti reaksi kimia dan perubahan-
perubahan fisiknya seperti pelarutan, peleburan dan sebagainya. Satuan tenaga panas
biasanya dinyatakan dengan kalori, joule, atau kilokalori (Sukardjo, 2002).
1 joule = 10 4 erg = 0,24 kal
Atau
A kal = 4,104 joule
Kajian tentang kalor dihasilkan atau dibutuhkan oleh reaksi kimia disebut termokimia .
Termodinamika merupakan cabang dari termokimia karena tabung reaksi dan isinya
membentuk sistem. Jadi, kita dapat mengukur ( secara tak langsung, dengan cara mengukur
kerja atau kenaikan temperatur) energi yang dihasilkan oleh reaksi dengan kalor dan dikenal
sebagai q, bergantung pada kondisinya, apakah dengan perubahan energi dalam atau
perubahan entalpi. Sebaliknya jika kita tahu U atau H suatu reaksi, kita dapat meramalkan
jumlah energi yang dihasilkannya sebagai kalor (Atkins, 1999).
Hampir semua reaksi kimia menyerap atau menghasilkan ( melepaskan) energi, umumnya
dalam bentuk kalor. Penting bagi kita untuk memahami perbedaan antara energi termal dan
kalor. Kalor (heat) adalah perpindahan energi termal antara dua benda yang suhunya berbeda
walaupun kalor diserap atau kalor dibebaskan. Ketika menggambarkan perubahan energi yang
terjadi selama proses tersebut. Ilmu kimia yang mempelajari perubahan kalor yang menyertai
reaksi kimia disebut termokimia ( thermochemistry) (Chang, 2004).
2.2 Entalpi
Perubahan entalpi untuk reaksi kimia bergantung pada keadaan zat-zat yang terlibat dalam
pembentukan karbondioksida dengan pembakaran karbon. Harga H yang diberikan untuk
karbon padat itu adalah dalam bentuk grafik. Harga lain dari H akan diperoleh jika karbon
padat itu dalam bentuk intan. Untuk suatu cairan atau padatan keadaan standar ialah zat murni
1 atm, sedangkan untuk suatu gas ialah gas ideal ( Keenan, dkk., 1984).
Karena sebagian besar reaksi adalah proses tekanan konstan kita dapat menyamakan
pertukaran kalor dalam kasus ini dengan perubahan entalpi. Untuk setiap reaksi :
Reaktan Produk
Kita mendefinisikan perubahan entalpi yang disebut entalpi reaksi (enthalpy of reaction), H
sebagai selisih antara entalpi produk dan entalpi reaktan.
H= H produk H reaktam
Entalpi reaksi dapat bernilai positif atau negatif, bergantung pada prosesnya. Untuk proses
endotermik ( kalor diserap oleh sistem dari lingkungan), H bernilai positif yaitu H>0. Untuk
proses eksotermik ( kalor dilepaskan oleh sistem kelingkungan ), H bernilai negatif yaitu H<0
( Chang, 2004).
Jika sebuah sistem bebas untuk mengubah volumenya terhadap tekanan luar yang tetap,
perubahan energi dalamnya tidak lagi sama dengan energi yang diberikan kalor. Energi yang
diberikan sebagai kalor diubah menjadi kerja untuk memberikan tekanan baik terhadap
lingkungan sehingga dU < dq. Seperti halnya energi dalam entalpi hanya bergantung pada
keadaan sistem sekarang sehingga entalpi merupakan fungsi keadaan. Seperti juga untuk
fungsi keadaan yang manapun, perubahan entalpi antara setiap pasangan keadaan awal dan
keadaan akhir tidak bergantung pada jalannya ( Atkins, 1999).
Reaksi kimia yang menyangkut pemecahan atau pembentukan ikatan kimia selalu berhubungan
dengan penyerapan atau pelepasan panas. Reaksi eksotermik adalah suatu reaksi yang
melepaskan energi. Jika reaksi berlangsung pada suhu tetap berdasarkan perjanjian H akan
bernilai negatif karena kandungan panas dari sistem menurun. Sebaliknya pada reaksi
endotermik yaitu reaksi yang membutuhkan panas berdasarkan perjanjian H akan bernilai
positif. Namun kadang-kadang beberapa buku menggunakan tanda sebaliknya dari yang telah
di uraikan di atas. Karena itu dalam penulisan di bidang termodinamika dianjurkan untuk selalu
mencantumkan penggunaan tanda yang akan di gunakan (Bird, 1993).

2.3 Kalorimetri
Panas pelarutan ada dua macam, yaitu panas pelarutan integral dan panas pelarutan
diferensial. Besarnya panas pelarutan bergantung pada jumlah mol pelarut dan zat terlarut
( Sukardjo, 2002).
Panas reaksi dapat dinyatakan sebagai perubahan eneergi produk dan reaktan pada volume
konstan E atau pada tekanan konstan H. Panas reaksi diukur dengan bantuan kalorimeter.
Harga E diperoleh apabila reaksi dilakukan dengan kalorimeter bom, yaitu pada volume
konstan dan H adalah panas reaksi yang di ukur pada tekanan konstan, dalam gelas piala
yang diisolasi. Karena proses diperinci dengan baik, maka panas yang dilepaskanatau
diadsorpsi hanyalah fungsi-fungsi keadaan yaitu ( Dogra dan Dogra, 1990).
Qp = H atau Qr = E
Besaran-besaran ini dapat diukur oleh persamaan Q = E atau H= T1.T2. Ci (produk
kalorimeter) dT, dimana Ci dapat berupa Cv untuk pengukuran E dan Cp untuk H. Untuk H
dalam banyak percobaan, Ci untuk kalorimeter dijaga tetap konstan ( Dogra dan Dogra, 1990).
Dalam laboratorium pertukaran kalor dalam proses fisika dan kimia diukur dengan kalorimeter
yaitu suatu wadah tertutup yang dirancang secara khusus untuk tujuan ini. Pembahasan
tentang kalorimetri pengukuran perubahan kalor akan bergantung pada pemahaman tentang
kalor jenis dan kapasitas kalor. Kalor jenis suatu zat adalah jumlah kalor yang dibutuhkan untuk
menaiikan suhu satu gram zat sebesar satu derajat celcius. Kapasitas kalor suatu zat adalah
jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu sejumlah zat sebesar satu derajat celcius (
Chang, 2004).
Alat paling penting untuk mengukur U adalah kalorimetri bom adiabatik. Perubahan keadaan
yang dapat berupa reaksi kimia berasal didalam wadah bervolume tetap yang disebut bom.
Bom tersebut direndam dibak air pengaduk dan keseluruhan alat itulah disebut kalorimeter.
Kalorimeter itu juga direndam dalam bak air luar. Temperatur air di dalam kalorimeter dan di
dalam bak luar dipantau dan diatur sampai nilainya sama. Hal ini dilakukan untuk memastikan
tidak adanya kalor yang hilang sedikit pun dari kalorimeter ke lingkungannya, yaitu bak air
sehingga kalorimeter itu adiabatik ( Atkins, 1999).
Panas dilepaskan kelingkungannya atau diterima dari lingkungan sekitarnya oleh sistem dalam
isohorik atau isobarik dan T1 = T2 kondisi ini disebut isotermal kalor reaksi. Syarat berikut yang
harus dilakukan pada saat proses berlangsung a) suhu dari produk dan reaktan harus sama , b)
semua jenis kerja harus dimasukkan pada proses reaksi, kecuali kerja ekspansi ( Aleksishvli
dan Sidamonidze, 2002).
Panas reaksi diukur dengan menggunakan kalorimeter. Dalam rangka untuk melindungi
perubahan suhu dari proses, transfer panas ke kalorimeter atau penyerapan panas dari
kalorimeter harus terjadi secepat mungkin. Perubahan panas ditunjukkan oleh perubahan suhu
kalorimeter.
Qv = - Cv kal x T kal
Dimana (kal adalah kapasitas panas kalorimeter) (Aleksishvli dan Sidoamonidze, 2002).

2.4 Panas Pelarutan dan Panas Penetralan


Panas pelarutan adalah panas yang diserap jika 1 mol padatan dilarutkan dalam larutan yang
sudah dalam keadaan jenuh. Hal ini berbeda dengan panas pelarutan untuk larutan encer yang
biasa terdapat dalam tabel panas pelarutan. Panas pelarutan biasanya terdapat tabel
merupakan panas pengenceran dari keadaan jenuh menjadi encer ( Sukardjo, 2002).
Panas netralisasi terjadi dalam larutan asam kuat dan basa kuat dengan sedikit air ternyata
beharga konstan. Hal ini disebabkan karena asam kuat dan basa kuat akan mudah terdisosiasi
sempurna dalam bentuk ion di dalam larutan. Panas penetralan merupakan jumlah panas yang
dilepaskan ketika 1 mol air terbentuk akibat reaksi dengan asam dan basa atau sebaliknya
( Subowo dan Sanjaya, 1983).
Aplikasi termokimia dapat dijumpai pada kehidupan sehari hari seperti termos yang dapat
menjaga suhu di dalam termos agar tetap konstan. Proses termokimia juga dapat digunakan
pada pengolahan limbah biomasa yang memiliki kadar air relatif tinggi, karena metode
pencairan secara termokimia dapt membuat kondisi operasi yang optimal, yaitu pada suhu dan
tekanan operasi yang menghasilkan jumlah minyak maksimum pada limbah biomasa
( Sembodo dan Jumari, 2009).
Data-data titrasi kalorimetri isotermal pada banyak literatur saat ini cenderung memiliki
kesalahan-kesalahan yang tinggi pada perhitungan entalpi reaksi ikatan protein ligan. Untuk itu
perlu adanya standarisasi untuk kalorimetri titrasi. Beberapa garam anorganik dan reaksii buffer
telah dianjurkan untuk memakai entalpi standar. Beberapa kalorimetri komersil, seperti UP-ITC,
ITC 200 dan nanno ITC-III telah menggunakan reaksi standar ini ( Baranousklene, 2009).

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


Alat- alat yang digunakan adalah batang pengaduk, buret, corong kaca, erlenmeyer, gelas
beaker, kalorimeter, neraca analitik, penangas air, pipet volume, stopwatch, dan termometer.
Bahan- bahan yang digunakan adalah akuades, amonia, asam asetat, asam klorida, etanol,
natrium hidroksida, seng, dan tembaga sulfat.
3.2 Analisis Bahan
3.2.1 Akuades (H2O)
Cairan tidak berwarna dengan rumus senyawa H2O dan memiliki nilai derajat relatif 1. Titik leleh
0 C dan titik didih 100 C. Dalam fase gas, air terdiri dari 1 molekul H2O dengan sudut ikatan
H-O-H. Air merupakan pelarut yang sangat baik, yang dapat melarutkan banyak elektrolit dan
bersifat netral ( Daintith, 1994; Kusuma, 1983).
3.2.2 Amonia (NH4OH)
Amonia merupakan gas berwarna dan baunya menyengat dengan titik leleh -74 C dan titik
didih -30,9 C. Bersifat sangat larut dalam air dan alkohol ( Daintith, 1994).
3.2.3 Asam asetat ( CH3COOH)
Disebut juga asam cuka. Asam asetat merupakan zat cair tanpawarna dan berbau sengit
dihasilkan melalui fermentasi alkohol oleh bakteri Acetobacter acety. Asam asetat murni
membeku pada 290 K. Memiliki titik beku 16,6 C , titik leleh -118,1 C. Asam asetat bersifat
korosif dapat menyebabkan luka bakar, kerusakan mata permanen serta iritasi pada membran
mukosa. Cara penanganannya perlu ada refonil asam asetat agar dapat digunakan kembali
dengan pengelolaan fisik yaitu destilasi ( Gem, 1994).
3.2.4 Asam Klorida ( HCl)
Asam klorida memiliki titik leleh -114,8 C, titik didih -85 C, berat jenis 7,05 g/cm3, berat gas
uap 1,268. Merupakan gas tanpawarna, berbau merangsang berbahaya bila kontak dengan
mata dan kulit atau pun terhirup. Banyak digunakan dalam laboratorium, industri logam sebagai
pelarut dan penetralisasi (Rivai,1994).
3.2.5 Etanol (C2H5OH)
Senyawa berbentuk cair tanpa warna larut di dalam air, eter, aseton dan kloroform. Digunakan
sebagai bahan bakar dan pelarut organik ( Basri, 2003).
3.2.6 Natrium hidrosksida (NaOH)
Berbentuk kristal, berwarna putih, mudah menyerap air dan karbondioksida. Bersifat
higroskopis dan larut dalam alkohol, gliserol dan air. Nilai derajat relatifnya 2,13. T.l 318 C dan
t.d 1390 C. Korosif terhadap jaringan tubuh dan membahayakan jika terkena mata. Cara
penanggulangannya dari natrium hidroksida itu sendiri tidak dapat disimpan untuk pemulihan
atau daur ulang. Senyawa ini mudah terionisasi membentuk ion natrium dan hidroksida
(Daintith, 1994).
3.2.7 Seng ( Zn)
Berupa padatan netral dengan titik didih 907 C dan titik leleh 419 C, tidak larut dalam air,
metanol, aseton, dan dietil eter. Mungkin terjadi iritasi jika terkena mata dan kulit atau terhirup
( Daintith, 1994).
3.2.8 Tembaga Sulfat (CuSO4)
Memiliki titik leleh 1170 C, densitas 3,6 g/l (20 C), bersifat toksik dan higroskopis, berbahaya
jika tertelan, menyebabkan gangguan pada kulit dan mata ( Daintith, 1994).

Prosedur Percobaan
Penentuan Tetapan Kalorimeter
Hal yang dilakukan pertama dimasukkan 20cm3 air dingin kedalam calorimeter dengan buret
dan dicatat suhunya. Kemudian dipanaskan air 20cm3 dalam gelas kimia sampai 10 derajat
diatas temperatur kamar, dicatat suhunya.
Kemudian dicampurkan air panas dan air dingin kedalam calorimeter diaduk atau dikocok.
Tempertaturnya diamati selama 10 menit dengan selang waktu 1 menit setelah pencampuran.
Kurva pengamatan dibuat antara temperatur vs selang waktu untuk menentukan harga
penurunan air panas dan kenaikan temperature air dingin.
Penentuan Kalor Reaksi Zn (s) + CuSO4
Larutan 1M CuSO4 sebanyak 40cm3 dimasukkan kedalam kalorimeter. Temperatur selama 2
menit dicatat dengan selang waktu menit. Bubuk Zn ditimbang dengan teliti 3,00 gr - 3,10 gr
dengan berat atom Zn = 65,4).
Kenudian bubuk Zn dimasukkan kedalam larutan CuSO4 atau kalorimeter. Temperatur selang
waktu 1 menit dicatat setelah pencampuran 10 menit. Kenaikan temperatur diukur dengan
menggunakan grafik.
Penentuan Kalor Pelarutan Etanol
Air sebanyak 18cm3 dimasukkan ke dalam kalorimeter dengan menggunakan buret.
Temperatur air dalam kalorimeter diukur selama 2 menit dengan selang waktu menit.
Temperatur dalam dalam buret kedua diukur dan dimasukkan tepat 29 cm3 etanol kedalam
kalorimeter.
Kemudian campuran dalam kalorimeter dikocok dan dicatat suhunya selama 4 menit dengan
selang waktu menit. Percobaan itu diulangi untuk campuran dengan volume yang bebeda.
Kemudian dihitung H pelarutan untuk campuran lain seperti pelarutan per mol etanol pada
berbagai perbandingan mol air/mol etanol dan dibuat grafiknya
Penentuan Kalor Penetralan HCl dan NaOH
Larutan HCl 2M sebanyak 20 cm3 dimasukkan kedalam kalorimeter. Kedudukan suhu
termometer dicatat. Kemudian larutan NaOH 2,05M diukur sebanyak 20 cm3. temperatur
dicatat (diatur sedemikian temperaturnya sama dengan temperature HCl).
Basa tersebut dicampurkan kedalam kalorimeter dan temperatur campuran dicatat selama 5
menit dengan selang menit. Kemudian grafik dibuat utnuk memperoleh perubahan
temperatur akibat reaksi ini. Setelah itu H penetralan dihitung jika kerapatan larutan 1,03 gr
cm3 dan kalor jenisnya 3,96 J/g-1 K-1 .
Penentuan Kalor Penetralan NH4 dan HCl
Cara pengerjaan dan perhitungannya sama seperti no 3.4.4 diatas, tetapi mengganti larutan
NaOH dengan NH4OH 2,05 M. untuk perhitungan menggunakan kerapatan larutan 1,015 g cm3
dan kalor jenis adalah 3,96 J/g-1 K-1 .
Penentuan Kalor Penetralan NaOH-CH3COOH
Perlakuan yang dilakukan sama dengan 3.4.4 untuk perhitungan digunakan kerapatan larutan
1,096 g cm3 dan kalor jenis adalah 4,02 J/g-1 K-1 .

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
4.1.1 Kalor Pelarut dalam Air
Volume (cm3) Suku pada menit ke. Tcampuran pada menit ke.
Air Etanol
Air Etanol t (menit) T (oC) t (menit) T (oC) t (menit) T (oC) t (menit) T (oC)
18 29 29 28 34 2 33
18 29 1 29 1 28 1 34 3 33
18 29 1 29 1 28 1 33 3 33
18 29 2 29 2 28 2 33 4 33
27 19,3 28 28 34 2 33
27 19,3 1 28 1 28 1 34 3 33
27 19,3 1 28 1 28 1 33 3 33
27 19,3 2 28 2 28 2 33 4 33
36 14,5 28 28 34 2 33
36 14,5 1 28 1 28 1 33 3 32
36 14,5 1 28 1 28 1 33 3 32
36 14,5 2 28 2 28 2 33 4 32
36 11,6 28 28 32 2 32
36 11,6 1 28 1 28 1 32 3 32
36 11,6 1 28 1 28 1 32 3 32
36 11,6 2 28 2 30 2 32 4 32
36 5,8 30 30 32 2 32
36 5,8 1 30 1 30 1 32 3 32
36 5,8 1 30 1 30 1 32 3 32
36 5,8 2 30 2 27 2 32 4 32
45 4,8 30 39 32 2 32
45 4,8 1 30 1 39 1 32 3 32
45 4,8 1 30 1 39 1 32 3 32
45 4,8 2 30 2 39 2 32 4 32

4.1.2 Penentuan Tetapan Kalor


T C (air dingin) T C (air panas) Temperatur menit
t menit T C
28 38 1 32
28 38 2 32
28 38 3 32
28 38 4 32
28 38 5 32
28 38 6 32
28 38 7 32
28 38 8 32
28 38 9 32
28 38 10 32
30 40 1 38
30 40 2 38
30 40 3 38
30 40 4 38
30 40 5 37
30 40 6 37
30 40 7 37
30 40 8 37
30 40 9 37
30 40 10 37
30 40 1 34
30 40 2 34
30 40 3 34
30 40 4 34
30 40 5 34
30 40 6 34
30 40 7 34
30 40 8 34
30 40 9 34
30 40 10 34

4.1.3 Penentuan Kalor Penetralan HCl dan NaOH


T (HCl) T (NaOH) Temperatur menit
t menit T ( C)
30 30 39
30 30 1 39
30 30 1,5 38
30 30 2 38
30 30 2,5 38
30 30 3 38
30 30 3,5 38
30 30 4 38
30 30 4,5 38
30 30 5 38

4.1.4 Penentuan Kalor Penetralan Zn dan CuSO4


T CuSO4 Temperatur menit
t menit T C
32 1 47
32 2 46
32 3 45
32 4 45
32 5 44
32 6 44
32 7 43
32 8 43
32 9 43
32 10 42

Pembahasan
Termokimia dapat didefinisikan sebagai bagian ilmu kimia yang mempelajari dinamika atau
perubahan reaksi kimia dengan mengamati panas/termal nya saja. Salah satu terapan ilmu ini
dalam kehidupan sehari-hari ialah reaksi kimia dalam tubuh kita dimana produksi dari energi-
energi yang dibutuhkan atau dikeluarkan untuk semua tugas yang kita lakukan. Pembakaran
dari bahan bakar seperti minyak dan batu bara dipakai untuk pembangkit listrik. Bensin yang
dibakar dalam mesin mobil akan menghasilkan kekuatan yang menyebabkan mobil berjalan.
Bila kita mempunyai kompor gas berarti kita membakar gas metan (komponen utama dari gas
alam) yang menghasilkan panas. Dan melalui urutan reaksi yang disebut metabolisme,
makanan yang dimakan akan menghasilkan energi yang kita perlukan untuk tubuh agar
berfungsi.
Hampir semua reaksi kimia selalu ada energi yang diambil atau dikeluarkan. Peristiwa
termokimia dimisalkan kita akan melakukan reaksi kimia dalam suatu tempat tertutup sehingga
tak ada panas yang dapat keluar atau masuk kedalam campuran reaksi tersebut. Atau reaksi
dilakukan sedemikian rupa sehingga energi total tetap sama. Juga misalkan energi potensial
dari hasil reaksi lebih rendah dari energi potensial pereaksi sehingga waktu reaksi terjadi ada
penurunan energi potensial. Tetapi energi ini tak dapat hilang begitu saja karena energi total
(kinetik dan potensial) harus tetap konstan. Sebab itu, bila energi potensialnya turun, maka
energi kinetiknya harus naik berarti energi potensial berubah menjadi energi kinetik.
Penambahan jumlah energi kinetik akan menyebabkan harga rata-rata energi kinetik dari
molekul- molekul naik, yang kita lihat sebagai kenaikan temperatur dari campuran reaksi.
Campuran reaksi menjadi panas.
Kebanyakan reaksi kimia tidaklah tertutup dari dunia luar. Bila campuran reaksi menjadi panas
seperti digambarkan dibawah, panas dapat mengalir ke sekelilingnya. Setiap perubahan yang
dapat melepaskan energi ke sekelilingnya seperti ini disebut perubahan eksoterm. Perhatikan
bahwa bila terjadi reaksi eksoterm, temperatur dari campuran reaksi akan naik dan energi
potensial dari zat-zat kimia yang bersangkutan akan turun. Kadang-kadang perubahan kimia
terjadi dimana ada kenaikan energi potensial dari zat-zat bersangkutan. Bila hal ini terjadi, maka
energi kinetiknya akan turun sehingga temperaturnya juga turun. Bila sistem tidak tertutup di
sekelilingnya, panas dapat mengalir ke campuran reaksi dan perubahannya disebut perubahan
endoterm. Perhatikan bahwa bila terjadi suatu reaksi endoterm, temperatur dari campuran
reaksi akan turun dan energi potensial dari zat-zat yang ikut dalam reaksi akan naik.
Untuk menetukan perubahan entalpi digunakan suatu alat yang disebut kalorimeter. Cara
penetuannya disebut kalorimetris. Penentuan kalor reaksi secara kalorimetris merupakan
penentuan yang di dasarkan atau diukur dari perubahan suhu larutan dan kalorimeter dengan
prinsip perpindahan kalor, yaitu jumlah kalor yang diberikan sama dengan jumlah kalor yang
diserap. Kalorimeter adalah suatu sistem terisolasi ( tidak ada pertukaran materi maupun energi
dengan lingkungan diluar kalorimeter). Pada kalorimetr, kalor reaksi sama dengan jumlah kalor
yang diserap atau dilepaskan larutan sedangkan kalor yang diserap oleh gelas dan lingkungan
di abaikan.
Pada kalorimeter, reaksi berlangsung pada tekanan tetap sehingga perubahan kalor yang
terjadi dalam sistem sama dengan perubahan entalpinya. Yang perlu diperhatikan pada
penggunaan kalorimeter adalah apabila suhu campuran bertambah berarti reaksi menghasilkan
kalor yang diserap oleh campuran larutan sehingga harga, dan kebalikannya jika suhu
campuran larutan turun berarti larutan membutuhkan kalor dengan cara menyerapnya dari
campuran larutan sehingga harga.
Dinding atau pembatas yang memungkinkan sistem berkontak termal dengan lingkungan
disebut dinding diatermik. Dinding yang tidak memungkinkan sistem berkontak termal dengan
lingkungan disebut dinding adiabatik.

Analisis Prosedur dan Hasil


Tetapan kalorimeter adalah banyak kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu kalorimeter
beserta isinya 10C. Kalori d adalah kuantitas panas yang diperlukan untuk menaikkan suhu
satu gram air satu skala derajat celcius. Alat yang digunakan disebut kalorimeter terdiri atas
bejana yang dilengkapi batang pengaduk dan termometer. Pada bejana diselimuti penyekat
panas untuk mengurangi radiasi panas. Penggunaan kalorimeter ini untuk mengetahui
kapasitas panas suatu zat, kalor yang dilepas maupun diterima.
Kalor pelarutan adalah panas yang dilepaskan atau diserap ketika satu mol senyawa dilarutkan
dalam pelaryut berlebih yaitu sampai suatu keadan dimana pada penambahan pelarut
selanjutnya tidak ada panas yang diserap atau dilepaskan lagi, karena air biasanya digunakan
sebagai pelarut. KaIor reaksi adalah besarnya kalor yang menyertai reaksi yaitu bentuk energi
yang mengalir dari sistem ke lingkungan. Kalor Penetralan adalah kalor untuk menetralkan 1
mol asam dengan basa atau 1 mol basa dengan asam. Panas reaksi dapat dinyatakan sebagai
perubahan energy produk dan reaktan pada volume konstan (E) atau pada tekanan konstan
(H).
Pada tekanan konstan dan temperatur konstan :
H = Hproduk - Hreaktan

Penentuan Tetapan Kalorimetr


Pertama untuk penetapan kalorimeter digunakan air. Alasan digunakan air karena komposisi
kalor air lebih tinggi dibandingkan dengan cairan lain dan karena air adalah pelarut yang sangat
baik. Air lalu dipanaskan sampai suhunya lebih tinggi 10 dari sebelumnya agar tampak
perbedaan suhunya dari sebelum yang dipanaskan sehingga menghasilkan air campuran yang
mana air campuran dari air panas dan dingin ini akan diukur lagi suhunya. Campuran air dingin
dan air panas memiliki perbandingan volume yang sama yaitu 20 cm3 dan 20 cm3 ini agar
dalam perhitungan volume dapat di abaikan. Pada tetapan kalorimeter ini didapatkan nilai q1
nya sebesar 334,01 Joule, q2 sebesar 501,02 Joule dan q3 sebesar 167,01 Joule. q3
didapatkan dari selisih q1 dan q2. Dari selisih q1 dan q2 ini didapatkan nilai tetapan kalorimeter
sebesar 16,701 J/K.
Pada percobaan ini terjadi reaksi eksoterm dan endoterm. Reaksi eksotermik adalah suatu
reaksi yang melepaskan energi. Jika reaksi berlangsung pada suhu tetap berdasarkan
perjanjian H akan bernilai negatif karena kandungan panas dari sistem menurun. Sebaliknya
pada reaksi endotermik yaitu reaksi yang membutuhkan panas berdasarkan perjanjian H akan
bernilai positif. Stelah dilakukan pencampuran, selanjutnya adalah dikocok tujuan pengocokan
adalah agar tercapainya kesetimbangan larutan air panas dan air dingin.
Penentuan kalor pelarut etanol dalam air
Kalor pelarutan adalah besarnya kalor yang dilepaskan atau diserap pada pelarutan satu mol
suatu zat menjadi larutan encer (s = solubility). Dari data-data yang telah diperoleh, dapat
ditentukan kalor yang diserap air, kalor yang diserap etanol, dan kalor yang diserap calorimeter,
lalu diperoleh kalor pelarutan dari penjumlahan kalor dibagi dengan mol etanol, karena etanol
dalam system sebagai zat terlarut. Pada penentuan kalor pelarut etanol dan air dilakukan 5 kali
pengukuran dengan volume air dan etanol yang bebeda:
Volume air 18 cm3 ; Volume etanol 29 cm3
Volume air 27 cm3 ; Volume etanol 19,3 cm3
Volume air 36 cm3 ; Volume etanol 14,5 cm3
Volume air 36 cm3 ; Volume etanol 11,6 cm3
Volume air 36 cm3 ; Volume etanol 5,8 cm3
Volume air 45 cm3 ; Volume etanol 4,8 cm3
Dilakukan pengukuran suhu selama 2 menit dalam selang waktu menit sambil dilakukan
pengocokan, Tujuan dari pengukuran suhu tiap selang waktu menit adalah agar dapat
mengetahui perubahan suhu yang terjadi selama dikocok apakah dilepas atau diserap.
Sedangkan pada campuran di catat temperatur selama 4 menit dengan selang waktu menit.
Hal ini dilakukan sebanyak 5 kali dengan perbandingan volume air dan etanol yang bebeda. Ini
bertujuan agar di dapatkan perbedaan apa saja yang mempengaruhi dari pelarutan etanol
dalam air. Dimana di dapatkan bahwa semakin besar volume air dan semakin rendah volume
etanol suhu semakin kecil.
C. Penentuan kalor Penetralan NaOH dan HCl
Pada penentuan kalor penetralan NaOH dan HCl ini digunakan HCl karena HCl merupakan
asam kuat dan NaOH adalah basa lemah. Sehingga apabila dicampurkan akan menghasilkan
garam. Reaksinya :
NaOH + HCl NaCl + H2O
Dimana didapatkan nilai kalor yang diserap campuran sebesar 1,543 J. Kalor yang diserap
kalorimeter 109,56 J. Dan entalpinya sebesar 41,33 J. Kalor penetralan merupakan jumlah
panas yang dilepaskan ketika 1 mol air terbentuk akibat reaksi dengan asam atau basa dan
sebaliknya. Dari data-data hasil percobaan, dapat dihitung kalor yang diserap larutan dan kalor
yang diserapa oleh calorimeter.
D. Penentuan Kalor Reaksi Zn(s) + CuSO4
Panas reaksi pada percobaan merupakan perubahan energi produk dan reaktan pada tekanan
konstan (H). Reaksinya sebagai berikut:
Zn + CuSO4 ZnSO4 + Cu
Pada saat proses pencampuran larutan CuSO4 dan logam Zn di dalam kalorimeter, tabung
calorimeter terasa panas. Hal ini juga ditunjukkan pada hasil pengamatan, yakni suhu akhir
lebih tinggi dari suhu awal. Peristiwa ini disebut reaksi eksotermis, yaitu reaksi yang disertai
dengan perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan. Dalam hal ini sistem melepaskan kalor ke
lingkungan. Pada reaksi eksoterm umumnya suhu sistem naik. Adanya kenaikan suhu inilah
yang mengakibatkan sistem melepaskan kalor ke lingkungan menandakan terjadinya
perpindahan kalor. Perpindahan kalor terjadi karena adanya perpindahan suhu.
Dari data yang diperoleh dapat dihitung kalor yang diserap oleh calorimeter sebesar 18,454
Joule dan kalor larutan ZnSO4 sebesar 201,55 Joule karena Zn berupa padatan logam
sehingga yang diukur kalornya adalah larutan ZnSO4. Kalor reaksi didapat dari penjumlahan
kalor dibagi mol ZnSO4. Diperoleh kalor reaksi sebesar 780,15 kJ/mol, artinya kalor yang
dibutuhkan untuk membentuk 1 mol ZnSO4 sebesar 0,780 kJ/mol.

BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh hasil sebagai berikut :
Tetapan calorimeter sebesar 16, 701 J/K.
Kalor reaksi ZnSO4 sebesar 0,78 kJ/mol.
Kalor Pelarutan Etanol dalam Air dari H1 sampai H6 berturut-turut ialah 1,272 kJ/mol ;
2,514 kJ/mol ; 4,024 kJ/mol; 3,531 kJ/mol ; 3,464 kJ/mol ; dan 4,121 kJ/mol.
Kalor penetralan HCl dan NaOH H = 41,33 kJ/mol.

5.2 Saran
Pada praktikum selanjutnya diharapkan dapat melakukan percobaan penentuan kalor
penetralan NH4 dan HCl serta penentuan kalor penetralan NaOH CH3COOH.

BAB I

PENDAHULUAN
Energi kita perlukan untuk melakukan kerja. Dengan kata lain tanpa energi kita
tidak dapat melakukan kerja. Berjalan kaki dan menimba air adalah contoh
kerja. Membangun dan memelihara rumah adalah juga kerja. Waktu anak
bertumbuh tersusunlah materi menjadi tubuh anak, sehingga tubuh itu menjadi
besar. Selama hidup kita, ada bagian tubuh yang luka dan sel yang mati. Tubuh
yang luka harus disembuhkan dan sel yang mati diganti dengan sel yang baru.
Penyembuhan luka dan penggantian sel merupakan pemeliharaan tubuh yang
harus dilakukan secara terus menerus. Pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh
juga harus dilakukan secara terus menerus. Pertumbuhan dan pemeliharaan
tubuh itu juga merupakan kerja. Karena itu untuk dapat hidup kita harus
mendapatkan energi secara terus menerus.

Energi tidak dapat kita lihat, yang terlihat adalah eek energi tersebut. Misalnya,
kita menggunakan energi untuk mendorong sebuah benda. Energi yang terpakai
tidak nampak. Yang nampak ialah benda itu telah berpindah tempat. Demikian
pula bensin mengandung energi . Tetapi energinya itu sendiri tidak nampak.
Adanya energi dalam bensin itu dapat terlihat waktu bensin itu dibakar dalam
mesin dan mesin itu menggerakkan kendaraan.

Dalam kehidupan kita, kita menggunakan tiga jenis energi, yaitu energi yang
berasal dari matahari, panas bumi dan energi nuklir yang berasal dari reaksi
nuklir dalam reaktor atom. Sebenarnya energi matahari juga berasal dari reaksi
nuklir yang terjadi dalam matahari. Energi itu dipancarkan oleh matahari dalam
bentuk radiasi gelombang elektromagnetik.

Hingga sekarang energi yang terbanyak kita pakai ialah energi matahari,
terutama yang ditangkap oleh tumbuhan hijau. Penangkapan energi matahari
itu terjadi dalam proses fotosintesis.

Dalam proses ini energi matahari diubah menjadi energi kimia yang tersimpan
dalam molekul gula glukose. Molekul gula itu terbentuk dalam proses
fotosintesis dari air dan gas CO 2 yang terdapat dalam udara. Gula selanjutnya
diubah menjadi karbohidrat yang tersimpan dalam tubuh dan digunakan
sebagai bahan untuk membentuk tubuh tumbuhan, misalnya akar, batang dan
daun.

Energi yang terkandung dalam tubuh tumbuhan itu menjadi sumber energi
makhluk hidup lain. Kalau kita makan nasi, misalnya, sebenarnya kita
mendapatkan energi dari matahari. Juga kalau kita membakar kayu untuk
memasak, sebenarnya kita menggunakan energi matahari.

Makanan yang kita makan mengalami pembakaran dalam tubuh kita.


Pembakaran ini tidak menggunakan api, melainkan melalui reaksi imia tertentu
dalam tubuh yang merupakan bagian metabolisme. Dalam metabolisme itu
energi dalam makanan diubah menjadi bentuk yang dapat digunakan untuk
melakukan kerja, seperti gerak otot. Karena metabolisme itu terjadi di dalam
tubuh kita, metabolisme ini disebut metabolisme intern.

Dibawah kondisi tertentu tumbuhan yang mati tidak membusuk, melainkan jadi
fosil, misalnya dalam bentuk batubara. Dalam batubara masih tersimpan energi
yang semula ada dalam tubuh tumbuhan. Dari makhluk hidup lain dalam kondisi
tertentu dapat terbentuk minyak bumi. Dalam minyak bumi juga masih
tersimpan energi yang semula terdapat dalam tubuh makhluk hidup. Batubara
dan minyak bumi disebut bahan bakar fosil.

Angin, yang sebenarnya adalah udara yang bergerak, juga mengandung energi.
Energi angin itu dapat digunakan untuk menggerakkan perahu layar dan kincir
angin. Kincir angin dapat dipakai untuk memutar mesin atau membangkitkan
listrik. Terjadinya angin ialah oleh perbedaan suhu di dua tempat atau
perbadaan penyerapan sinar matahari, sehingga terjadi perbadaan tekanan di
dua tempat itu. Contoh pada siang hari suhu permukaan daratan lebih tinggi
dari suhu permukaan laut, karena daratan lebih mudah dipanaskan oleh
matahari daripada air. Pada siang hari angin bergerak dari laut ke daratan. Jadi
angin itu sebanarnya juga berasal dari energi matahari. Kecuali angin yang
berasal dari energi matahari ada juga angin yang berasal dari perputaran bumi.

Air yang mengalir di sungai juga mengandung energi. Jika sungai dibendung,
energi aliran air itu dapat digunakan untuk memutar generator untuk
membangkitkan listrik. Air yang mengalir di sungai semula berasal dari laut. Air
laut menguap karena penyinaran oleh matahari. Uap terhembus oleh angin ke
daratan dan terbentuk awan waktu angin naik karena adanya gunung. Awan
berubah menjadi hujan dan sebagian aiur hujan mengalir di sungai. Jadi energi
dalam air sungai berasal juga dari matahari.

Dengan makin mahalnya bahan bakar minyak, kini banyak usaha dilakukan
untuk secara langsung dapat menggunakan energi matahari, antara lain, untuk
membangkitkan listrik dan untuk memanaskan air. Dengan memanfaatkan
peralatan yang dilengkapi dengan solar sel atau sel surya.

Energi panas bumi berasal dari magma yang panas. Magma terdapat di dalam
perut bumi. Di daerah vulkanis magma itu terletak dekat dengan permukaan
bumi. Air tanah yang bersentuhan dengan batuan yang panas berubah menjadi
uap. Dengan pemboran, uap dalam tekanan tinggi dapat disalurkan melalui pipa
untuk memutar generator listrik. Pembangkit listrik demikian disebut Pusat
Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP). Terkadang pemboran hanya mendapatkan gas
alam, yang dapat dibuat gas alam cair (LNG).

Energi nuklir masih merupakan bagian kecil energi yang kita pakai, tetapi ada
kecenderungan pemakaiannya akan terus meningkat, karena kelangkaan, dan
makin mahalnya bahan bakar minyak. Energi nuklir, antara lain digunakan untuk
menggerakkan generator listrik dan untuk menggerakkan kapal. Kendala reaktor
nuklir ialah bahwa jika terjadi kecelakaan dan zat radioaktif keluar ke atmosfer,
dampaknya terhadap kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya dapat
sangat berbahaya. Disamping itu pengelolaan limbah radioaktif tidaklah mudah
karena dalam jangka waktu yang sangat panjang radioaktifnya belum habis.
Karena kendala-kendala itu pembangunan Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
selalu menimbulkan kontroversi dan tentangan terhadap pembangunan PLTN
masih sangat kuat.

Penggunaan energi untuk kerja dengan menggunakan hewan dan mesin disebut
dengan metabolisme ekstern. Artinya , kita mendapatkan energi untuk
melakukan kerja tidak melalui matabolisme di dalam tubuh kita. Di dalam mobil
misalnya, pembakaran terjadidi dalam mesin mobil. Terutama metabolisme
ekstern dengan menggunakan bahan bakar fosil dan nuklir, serta listrik dari
tenaga air, telah memungkinkan manusia untuk menggunakan energi dalam
jumlah besar. Kemampuan metabolisme ekstern yang tinggi menjadi ciri negara
yang telah maju teknologinya, sedangkan negara yang masih terbelakang
dalam teknologi mempunyai metabolisme ekstern yang rendah.

BAB II

ISI

Energi yang sangat umum kita jumpai ialah dalam bentuk panas, yaitu yang
disebut energi panas atau energi termal. Dengan energi panas kita dapat
memanaskan air menjadi uap. Uap dapat digunakan untuk memutar mesin,
misalnya dalam kereta api uap.

Energi dapat diubah atau ditransformasi dari bentuk yang satu ke bentuk yang
lain. Tetapi jumlah enewrgi tidak dapat berubah. Artinya, jumlah energi sebelum
dan sesudah proses transformasi selalu sama. Jadi, kita tidak dapat membentuk
atau memusnahkan energi. Inilah yang disebut Hukum Termodinamika I.
Walaupun jumlah energi tetap, tetapi dalam proses transformasi itu sebagian
energi berubah dalam bentuk yang tidak dapat digunakan untuk melakukan
kerja. Karena itu walaupun jumlah totalnya tetap sama , dayaguna (efisiensi)
energi itu telah berkurang. Kita katakan setelah proses transformasi itu tingkat
entropi sistem telah bertambah. Inilah yang disebut Hukum Termodinamika II,
yaitu suatu proses spontan selalu diikuti dengan berkurangnya dayaguna energi.
Dengan kata lain, tingkat entropi sebelum proses lebih rendah- dayaguna energi
dalam sistem lebih tinggi- dari setelah proses. Kenaikan entropi dibarengi pula
dengan ketakteraturan. Karena penggunaan energi untuk kerja berjalan terus
menerus, entropi di bumi haruslah bertambah terus dan ketakteraturannya juga
harus bertambah. Kecenderungan ini dapat ditahan dengan adanya fotosintesis.
Dalam proses ini energi matahari yang tersebar dikumpulkan menjadi energi
kimia yang terkonsentrasi dalam molekul gula. Dengan proses ini entropi bumi
diturunkan dan keteraturan bertambah. Karena itu fotosintesis disebut
juga negentropi (=entropi negatif). Tetapi penurunasn entropi di bumi disertai
oleh naiknya entropi di matahari. Inilah hukum alam; penurunan entropi di suatu
tempat hanya mungkin dengan naiknya entropi di tempat lain. Misalnya, alat AC
menurunkan entropi di dalam ruangan, tetapi ia menaikkan entropi di luar
ruangan.

Entropi dapat disebut juga energi yang telah mengalami degradasi. Karena itu di
dalam transformasi energi terjadi degradasi energi. Dengan demikian proses
penggunaan energi untuk kerja bersifat tidak terbalikkan, seperti kita lihat
dalam kehidupan sehari-hari. Dari segi praktis dapat dikatakan energi habis
terpakai. Sebab yang penting bagi kita bukanlah jumlah total energi, melainkan
jumlah energi yang dapat dipakai untuk melakukan kerja. Minyak tanah habis
untuk memasak, bensin habis untuk menggerakkan mobil dan tenaga kita habis
untuk mengayuh sepeda.

Kita harus terus menerus melakukan kerja. Tubuh harus kita pelihara. Kita harus
berjalan, mencangkul, mengangkat barang, berpikir, memasak dan
menggerakkan mesin, dll. Karena itu kita harus mendapatkan energi dengan
terus menerus dalam jumlah yang mencukupi. Manakala catu energi terganggu
dan tidak mencukupi, akan menderitalah kita. Dalam jangka panjangnya
kekurangan energi itu akan mengancam kelangsungan hidup kita. Karena
kelangsungan hidup kita tertopang pada energi, kita selalu berusaha untuk
mendapatkan energi denga cukup.

Energi yang kita perlukan dapat dibagi dalam dua golongan besar. Pertama,
energi yang dipakai untuk dan di dalam tubuh kita sendiri. Energi ini terdapat di
dalam makanan yang kita makan sehari-hari. Makanan tersebut kita bakar di
dalam tubuh dalam proses yang disebut metabolisme. Pembakaran itu tidak
terjadi dengan api, melainkan melalui proses kimia yang kompleks. Dalam
pembakaran itu terbentuk molekul ATP. Energi kimia dalam mulekul ATP inilah
yang dapat dipakai untuk melakukan kerja, misalnya mengunyah makanan dan
mengangkat barang. Karena pembakaran itu terjadi di dalam tubuh,
pembakaran itu disebut metabolisme intern.

Kedua, ialah energi yang kita gunakan di luar tubuh kita, misalnya hewan dan
mesin. Kerja Yang kita lakukan dengan menggunakan energi hewan , terjadi
melalui proses pembakaran makanan hewan di dalam tubuh hewan. Proses
pembakaran ini serupa dengan proses yang terjadi di dalam tubuh manusia.
Kerja dengan menggunakan energi mesin, kita lakukan dengan membakar
bahan bakar di dalam mesin, atau dengan energi listrik yang memutar mesin.
Pembakaran bahan bakar di dalam mesin, misalnya kayu dan BBM, benar-benar
terjadi dengan api. Karena penggunaan energi hewan dan mesin terjadi dengan
pembakaran di luar tubuh kita, pembakaran itu disebut metabolisme ekstern.

Energi metabolisme intern memberikan kepada kita tenaga oto. Daya guna otot
untuk melakukan kerja terbatas. Waktu yang diperlukan untuk melakukan kerja
pun lama. Kerja yang berat dan waktu kerja yang lama dengan otot membuat
kerja itu menjadi tadak manusiawi. Peranan metabolisme ekstern adalah untuk
memperingan, bahkan sedapat mungkin untuk menghapus, kerja yang tidak
manusiawi itu. Tetapi ini tidak berarti, metabolisme ekstern ditujukan untuk
menghapus semua kerja otot. Sebab kerja otot yang manusiawi adalah sehat,
kreatif dan rekreatif.

Untuk memanfaatkan metabolisme ekstern, orang harus mampu


mengembangkan pemikiran. Berpikir adalah kerja menggunakan energi dari
metabolisme intern. Inilah fungsi metabolisme intern yang sangat utama yang
harus kita kembangkan. Pikiran dapatlah disebut energi yang kerkualitas tinggi.
Dengan makin tinggi perkembangan kemampuan kita untuk berpikir, makin
tinggi pula kemampuan kita untuk memanfaatkan metabolisme ekstern.

Perbedaan tingkat metabolisme intern antara kelompok manusia satu dengan


yang lain tidak banya berbeda. Konsumsi energi tertinggi kira-kira 1,5 sampai 2
kali dengan yang terendah. Tetapi tingkat metabolisme ekstern kelompok
manusia di negara yang telah maju 50 kali atau lebih di negara yang sedang
berkembang, termasuk Indonesia. Untuk itu kita harus segera mengejar
ketertinggalan dengan lebih mengintensifkan pemanfaatan keanekaragaman
sumber energi.
Dengan demikian kita akan menggunakan lebih banyak jenis sumber energi,
dengan efisiensi pemakaian yang setinggi-tingginya. Karena banyak sumber
energi masih terabaikan, misalnya; sumber energi hayati, sumber energi surya,
sumber energi air, sumber energi laut, sumber energi angin, sumber energi
nuklir, sumber energi bahan fosil, sumber energi panas bumi, bahkan sumber
energi sampah, sumber energi biogas dan sebagainya.

BAB III

KESIMPULAN

1. Energi kita perlukan untuk melakukan kerja. Dengan kata lain tanpa energi
kita tidak dapat melakukan kerja

2 Energi dapat diubah atau ditransformasi dari bentuk yang satu ke bentuk yang
lain. Tetapi jumlah enewrgi tidak dapat berubah. Artinya, jumlah energi sebelum
dan sesudah proses transformasi selalu sama. Jadi, kita tidak dapat membentuk
atau memusnahkan energi. Inilah yang disebut Hukum Termodinamika I.

3 Energi yang dipakai untuk dan di dalam tubuh kita sendiri. Energi ini terdapat
di dalam makanan yang kita makan sehari-hari. Makanan tersebut kita bakar di
dalam tubuh dalam proses yang disebut metabolisme. Pembakaran itu tidak
terjadi dengan api, melainkan melalui proses kimia yang kompleks. Dalam
pembakaran itu terbentuk molekul ATP. Energi kimia dalam mulekul ATP inilah
yang dapat dipakai untuk melakukan kerja, misalnya mengunyah makanan dan
mengangkat barang. Karena pembakaran itu terjadi di dalam tubuh,
pembakaran itu disebut metabolisme intern.

4. Energi yang kita gunakan di luar tubuh kita, misalnya hewan dan mesin.
Kerja Yang kita lakukan dengan menggunakan energi hewan , terjadi melalui
proses pembakaran makanan hewan di dalam tubuh hewan. Proses pembakaran
ini serupa dengan proses yang terjadi di dalam tubuh manusia. Kerja dengan
menggunakan energi mesin, kita lakukan dengan membakar bahan bakar di
dalam mesin, atau dengan energi listrik yang memutar mesin. Pembakaran
bahan bakar di dalam mesin, misalnya kayu dan BBM, benar-benar terjadi
dengan api. Karena penggunaan energi hewan dan mesin terjadi dengan
pembakaran di luar tubuh kita, pembakaran itu disebut metabolisme ekstern.

BAB I

PENDAHULUAN
Energi kita perlukan untuk melakukan kerja. Dengan kata lain tanpa energi kita
tidak dapat melakukan kerja. Berjalan kaki dan menimba air adalah contoh
kerja. Membangun dan memelihara rumah adalah juga kerja. Waktu anak
bertumbuh tersusunlah materi menjadi tubuh anak, sehingga tubuh itu menjadi
besar. Selama hidup kita, ada bagian tubuh yang luka dan sel yang mati. Tubuh
yang luka harus disembuhkan dan sel yang mati diganti dengan sel yang baru.
Penyembuhan luka dan penggantian sel merupakan pemeliharaan tubuh yang
harus dilakukan secara terus menerus. Pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh
juga harus dilakukan secara terus menerus. Pertumbuhan dan pemeliharaan
tubuh itu juga merupakan kerja. Karena itu untuk dapat hidup kita harus
mendapatkan energi secara terus menerus.

Energi tidak dapat kita lihat, yang terlihat adalah eek energi tersebut. Misalnya,
kita menggunakan energi untuk mendorong sebuah benda. Energi yang terpakai
tidak nampak. Yang nampak ialah benda itu telah berpindah tempat. Demikian
pula bensin mengandung energi . Tetapi energinya itu sendiri tidak nampak.
Adanya energi dalam bensin itu dapat terlihat waktu bensin itu dibakar dalam
mesin dan mesin itu menggerakkan kendaraan.

Dalam kehidupan kita, kita menggunakan tiga jenis energi, yaitu energi yang
berasal dari matahari, panas bumi dan energi nuklir yang berasal dari reaksi
nuklir dalam reaktor atom. Sebenarnya energi matahari juga berasal dari reaksi
nuklir yang terjadi dalam matahari. Energi itu dipancarkan oleh matahari dalam
bentuk radiasi gelombang elektromagnetik.

Hingga sekarang energi yang terbanyak kita pakai ialah energi matahari,
terutama yang ditangkap oleh tumbuhan hijau. Penangkapan energi matahari
itu terjadi dalam proses fotosintesis.

Dalam proses ini energi matahari diubah menjadi energi kimia yang tersimpan
dalam molekul gula glukose. Molekul gula itu terbentuk dalam proses
fotosintesis dari air dan gas CO 2 yang terdapat dalam udara. Gula selanjutnya
diubah menjadi karbohidrat yang tersimpan dalam tubuh dan digunakan
sebagai bahan untuk membentuk tubuh tumbuhan, misalnya akar, batang dan
daun.

Energi yang terkandung dalam tubuh tumbuhan itu menjadi sumber energi
makhluk hidup lain. Kalau kita makan nasi, misalnya, sebenarnya kita
mendapatkan energi dari matahari. Juga kalau kita membakar kayu untuk
memasak, sebenarnya kita menggunakan energi matahari.

Makanan yang kita makan mengalami pembakaran dalam tubuh kita.


Pembakaran ini tidak menggunakan api, melainkan melalui reaksi imia tertentu
dalam tubuh yang merupakan bagian metabolisme. Dalam metabolisme itu
energi dalam makanan diubah menjadi bentuk yang dapat digunakan untuk
melakukan kerja, seperti gerak otot. Karena metabolisme itu terjadi di dalam
tubuh kita, metabolisme ini disebut metabolisme intern.

Dibawah kondisi tertentu tumbuhan yang mati tidak membusuk, melainkan jadi
fosil, misalnya dalam bentuk batubara. Dalam batubara masih tersimpan energi
yang semula ada dalam tubuh tumbuhan. Dari makhluk hidup lain dalam kondisi
tertentu dapat terbentuk minyak bumi. Dalam minyak bumi juga masih
tersimpan energi yang semula terdapat dalam tubuh makhluk hidup. Batubara
dan minyak bumi disebut bahan bakar fosil.

Angin, yang sebenarnya adalah udara yang bergerak, juga mengandung energi.
Energi angin itu dapat digunakan untuk menggerakkan perahu layar dan kincir
angin. Kincir angin dapat dipakai untuk memutar mesin atau membangkitkan
listrik. Terjadinya angin ialah oleh perbedaan suhu di dua tempat atau
perbadaan penyerapan sinar matahari, sehingga terjadi perbadaan tekanan di
dua tempat itu. Contoh pada siang hari suhu permukaan daratan lebih tinggi
dari suhu permukaan laut, karena daratan lebih mudah dipanaskan oleh
matahari daripada air. Pada siang hari angin bergerak dari laut ke daratan. Jadi
angin itu sebanarnya juga berasal dari energi matahari. Kecuali angin yang
berasal dari energi matahari ada juga angin yang berasal dari perputaran bumi.

Air yang mengalir di sungai juga mengandung energi. Jika sungai dibendung,
energi aliran air itu dapat digunakan untuk memutar generator untuk
membangkitkan listrik. Air yang mengalir di sungai semula berasal dari laut. Air
laut menguap karena penyinaran oleh matahari. Uap terhembus oleh angin ke
daratan dan terbentuk awan waktu angin naik karena adanya gunung. Awan
berubah menjadi hujan dan sebagian aiur hujan mengalir di sungai. Jadi energi
dalam air sungai berasal juga dari matahari.

Dengan makin mahalnya bahan bakar minyak, kini banyak usaha dilakukan
untuk secara langsung dapat menggunakan energi matahari, antara lain, untuk
membangkitkan listrik dan untuk memanaskan air. Dengan memanfaatkan
peralatan yang dilengkapi dengan solar sel atau sel surya.

Energi panas bumi berasal dari magma yang panas. Magma terdapat di dalam
perut bumi. Di daerah vulkanis magma itu terletak dekat dengan permukaan
bumi. Air tanah yang bersentuhan dengan batuan yang panas berubah menjadi
uap. Dengan pemboran, uap dalam tekanan tinggi dapat disalurkan melalui pipa
untuk memutar generator listrik. Pembangkit listrik demikian disebut Pusat
Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP). Terkadang pemboran hanya mendapatkan gas
alam, yang dapat dibuat gas alam cair (LNG).

Energi nuklir masih merupakan bagian kecil energi yang kita pakai, tetapi ada
kecenderungan pemakaiannya akan terus meningkat, karena kelangkaan, dan
makin mahalnya bahan bakar minyak. Energi nuklir, antara lain digunakan untuk
menggerakkan generator listrik dan untuk menggerakkan kapal. Kendala reaktor
nuklir ialah bahwa jika terjadi kecelakaan dan zat radioaktif keluar ke atmosfer,
dampaknya terhadap kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya dapat
sangat berbahaya. Disamping itu pengelolaan limbah radioaktif tidaklah mudah
karena dalam jangka waktu yang sangat panjang radioaktifnya belum habis.
Karena kendala-kendala itu pembangunan Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
selalu menimbulkan kontroversi dan tentangan terhadap pembangunan PLTN
masih sangat kuat.

Penggunaan energi untuk kerja dengan menggunakan hewan dan mesin disebut
dengan metabolisme ekstern. Artinya , kita mendapatkan energi untuk
melakukan kerja tidak melalui matabolisme di dalam tubuh kita. Di dalam mobil
misalnya, pembakaran terjadidi dalam mesin mobil. Terutama metabolisme
ekstern dengan menggunakan bahan bakar fosil dan nuklir, serta listrik dari
tenaga air, telah memungkinkan manusia untuk menggunakan energi dalam
jumlah besar. Kemampuan metabolisme ekstern yang tinggi menjadi ciri negara
yang telah maju teknologinya, sedangkan negara yang masih terbelakang
dalam teknologi mempunyai metabolisme ekstern yang rendah.

BAB II

ISI

Energi yang sangat umum kita jumpai ialah dalam bentuk panas, yaitu yang
disebut energi panas atau energi termal. Dengan energi panas kita dapat
memanaskan air menjadi uap. Uap dapat digunakan untuk memutar mesin,
misalnya dalam kereta api uap.

Energi dapat diubah atau ditransformasi dari bentuk yang satu ke bentuk yang
lain. Tetapi jumlah enewrgi tidak dapat berubah. Artinya, jumlah energi sebelum
dan sesudah proses transformasi selalu sama. Jadi, kita tidak dapat membentuk
atau memusnahkan energi. Inilah yang disebut Hukum Termodinamika I.
Walaupun jumlah energi tetap, tetapi dalam proses transformasi itu sebagian
energi berubah dalam bentuk yang tidak dapat digunakan untuk melakukan
kerja. Karena itu walaupun jumlah totalnya tetap sama , dayaguna (efisiensi)
energi itu telah berkurang. Kita katakan setelah proses transformasi itu tingkat
entropi sistem telah bertambah. Inilah yang disebut Hukum Termodinamika II,
yaitu suatu proses spontan selalu diikuti dengan berkurangnya dayaguna energi.
Dengan kata lain, tingkat entropi sebelum proses lebih rendah- dayaguna energi
dalam sistem lebih tinggi- dari setelah proses. Kenaikan entropi dibarengi pula
dengan ketakteraturan. Karena penggunaan energi untuk kerja berjalan terus
menerus, entropi di bumi haruslah bertambah terus dan ketakteraturannya juga
harus bertambah. Kecenderungan ini dapat ditahan dengan adanya fotosintesis.
Dalam proses ini energi matahari yang tersebar dikumpulkan menjadi energi
kimia yang terkonsentrasi dalam molekul gula. Dengan proses ini entropi bumi
diturunkan dan keteraturan bertambah. Karena itu fotosintesis disebut
juga negentropi (=entropi negatif). Tetapi penurunasn entropi di bumi disertai
oleh naiknya entropi di matahari. Inilah hukum alam; penurunan entropi di suatu
tempat hanya mungkin dengan naiknya entropi di tempat lain. Misalnya, alat AC
menurunkan entropi di dalam ruangan, tetapi ia menaikkan entropi di luar
ruangan.

Entropi dapat disebut juga energi yang telah mengalami degradasi. Karena itu di
dalam transformasi energi terjadi degradasi energi. Dengan demikian proses
penggunaan energi untuk kerja bersifat tidak terbalikkan, seperti kita lihat
dalam kehidupan sehari-hari. Dari segi praktis dapat dikatakan energi habis
terpakai. Sebab yang penting bagi kita bukanlah jumlah total energi, melainkan
jumlah energi yang dapat dipakai untuk melakukan kerja. Minyak tanah habis
untuk memasak, bensin habis untuk menggerakkan mobil dan tenaga kita habis
untuk mengayuh sepeda.

Kita harus terus menerus melakukan kerja. Tubuh harus kita pelihara. Kita harus
berjalan, mencangkul, mengangkat barang, berpikir, memasak dan
menggerakkan mesin, dll. Karena itu kita harus mendapatkan energi dengan
terus menerus dalam jumlah yang mencukupi. Manakala catu energi terganggu
dan tidak mencukupi, akan menderitalah kita. Dalam jangka panjangnya
kekurangan energi itu akan mengancam kelangsungan hidup kita. Karena
kelangsungan hidup kita tertopang pada energi, kita selalu berusaha untuk
mendapatkan energi denga cukup.

Energi yang kita perlukan dapat dibagi dalam dua golongan besar. Pertama,
energi yang dipakai untuk dan di dalam tubuh kita sendiri. Energi ini terdapat di
dalam makanan yang kita makan sehari-hari. Makanan tersebut kita bakar di
dalam tubuh dalam proses yang disebut metabolisme. Pembakaran itu tidak
terjadi dengan api, melainkan melalui proses kimia yang kompleks. Dalam
pembakaran itu terbentuk molekul ATP. Energi kimia dalam mulekul ATP inilah
yang dapat dipakai untuk melakukan kerja, misalnya mengunyah makanan dan
mengangkat barang. Karena pembakaran itu terjadi di dalam tubuh,
pembakaran itu disebut metabolisme intern.

Kedua, ialah energi yang kita gunakan di luar tubuh kita, misalnya hewan dan
mesin. Kerja Yang kita lakukan dengan menggunakan energi hewan , terjadi
melalui proses pembakaran makanan hewan di dalam tubuh hewan. Proses
pembakaran ini serupa dengan proses yang terjadi di dalam tubuh manusia.
Kerja dengan menggunakan energi mesin, kita lakukan dengan membakar
bahan bakar di dalam mesin, atau dengan energi listrik yang memutar mesin.
Pembakaran bahan bakar di dalam mesin, misalnya kayu dan BBM, benar-benar
terjadi dengan api. Karena penggunaan energi hewan dan mesin terjadi dengan
pembakaran di luar tubuh kita, pembakaran itu disebut metabolisme ekstern.

Energi metabolisme intern memberikan kepada kita tenaga oto. Daya guna otot
untuk melakukan kerja terbatas. Waktu yang diperlukan untuk melakukan kerja
pun lama. Kerja yang berat dan waktu kerja yang lama dengan otot membuat
kerja itu menjadi tadak manusiawi. Peranan metabolisme ekstern adalah untuk
memperingan, bahkan sedapat mungkin untuk menghapus, kerja yang tidak
manusiawi itu. Tetapi ini tidak berarti, metabolisme ekstern ditujukan untuk
menghapus semua kerja otot. Sebab kerja otot yang manusiawi adalah sehat,
kreatif dan rekreatif.

Untuk memanfaatkan metabolisme ekstern, orang harus mampu


mengembangkan pemikiran. Berpikir adalah kerja menggunakan energi dari
metabolisme intern. Inilah fungsi metabolisme intern yang sangat utama yang
harus kita kembangkan. Pikiran dapatlah disebut energi yang kerkualitas tinggi.
Dengan makin tinggi perkembangan kemampuan kita untuk berpikir, makin
tinggi pula kemampuan kita untuk memanfaatkan metabolisme ekstern.

Perbedaan tingkat metabolisme intern antara kelompok manusia satu dengan


yang lain tidak banya berbeda. Konsumsi energi tertinggi kira-kira 1,5 sampai 2
kali dengan yang terendah. Tetapi tingkat metabolisme ekstern kelompok
manusia di negara yang telah maju 50 kali atau lebih di negara yang sedang
berkembang, termasuk Indonesia. Untuk itu kita harus segera mengejar
ketertinggalan dengan lebih mengintensifkan pemanfaatan keanekaragaman
sumber energi.
Dengan demikian kita akan menggunakan lebih banyak jenis sumber energi,
dengan efisiensi pemakaian yang setinggi-tingginya. Karena banyak sumber
energi masih terabaikan, misalnya; sumber energi hayati, sumber energi surya,
sumber energi air, sumber energi laut, sumber energi angin, sumber energi
nuklir, sumber energi bahan fosil, sumber energi panas bumi, bahkan sumber
energi sampah, sumber energi biogas dan sebagainya.

BAB III

KESIMPULAN

1. Energi kita perlukan untuk melakukan kerja. Dengan kata lain tanpa energi
kita tidak dapat melakukan kerja

2 Energi dapat diubah atau ditransformasi dari bentuk yang satu ke bentuk yang
lain. Tetapi jumlah enewrgi tidak dapat berubah. Artinya, jumlah energi sebelum
dan sesudah proses transformasi selalu sama. Jadi, kita tidak dapat membentuk
atau memusnahkan energi. Inilah yang disebut Hukum Termodinamika I.

3 Energi yang dipakai untuk dan di dalam tubuh kita sendiri. Energi ini terdapat
di dalam makanan yang kita makan sehari-hari. Makanan tersebut kita bakar di
dalam tubuh dalam proses yang disebut metabolisme. Pembakaran itu tidak
terjadi dengan api, melainkan melalui proses kimia yang kompleks. Dalam
pembakaran itu terbentuk molekul ATP. Energi kimia dalam mulekul ATP inilah
yang dapat dipakai untuk melakukan kerja, misalnya mengunyah makanan dan
mengangkat barang. Karena pembakaran itu terjadi di dalam tubuh,
pembakaran itu disebut metabolisme intern.

4. Energi yang kita gunakan di luar tubuh kita, misalnya hewan dan mesin.
Kerja Yang kita lakukan dengan menggunakan energi hewan , terjadi melalui
proses pembakaran makanan hewan di dalam tubuh hewan. Proses pembakaran
ini serupa dengan proses yang terjadi di dalam tubuh manusia. Kerja dengan
menggunakan energi mesin, kita lakukan dengan membakar bahan bakar di
dalam mesin, atau dengan energi listrik yang memutar mesin. Pembakaran
bahan bakar di dalam mesin, misalnya kayu dan BBM, benar-benar terjadi
dengan api. Karena penggunaan energi hewan dan mesin terjadi dengan
pembakaran di luar tubuh kita, pembakaran itu disebut metabolisme ekstern.