Anda di halaman 1dari 13

Gangguan Somatisasi

Pada Wanita 51tahun


Asher Juniar*
10-2011-201
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA

*Alamat Korespondensi:

Asher Juniar

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510

No. Telp (021) 5694-2061, e-mail: azher_juny@hotmail.com

Pendahuluan
Gangguan somatoform berasal dari kata soma yang berarti tubuh. Merupakan kelompok
gangguan yang meliputi gejala fisik yang tidak ditemukan penjelasan secara medis. Gejala
gangguan ini adalah gangguan fisik yang tampak seperti disebabkan adanya kelainan fisik tetapi
sebenarnya kelainan itu tidak ada. Orang yang mengalami gangguan ini mengeluhkan gejala-
gejala fisik yang mengindikasikan kerusakan fisik(disfungsi) sehingga menyebabkan penderita
stres emosional baik dalam kehidupan sosial maupun pekerjaan. Gejala-gejala fisisk gangguan
somatoform ini diduga terkait dengan faktor-faktor psikologis, kecemasan, sehingga diasumsikan
memiliki gejala psikologis.
Macam-macam gangguan somatoform yaitu:
a. Gangguan nyeri.
b. Gangguan dismorfik tubuh.
c. Hipokondriasis.
d. Gangguan konversi.
e. Gangguan somatisasi.

1|Gangguan Somatisasi
Ada 5 macam gangguan somatoform yakni Somatisasi, hipokondriasis, konversi, perasaan sakit
idiopatik dan gangguan dismorfik.

Anamnesis
Anamnesis adalah pemeriksaan yang dilakukan melalui suatu percakapan antara seorang
dokter dan pasien secara langsung atau melalui perantara orang lain yang menfetahui kondisi
pasien dengan tujuan untuk mendapatkan data pasien berserta permasalahan medisnya.
Anamnesis dibagi menjadi dua yaitu autoanamnesis, bila dokter bisa menanyakan keluhan-
keluhan yang dihadapi langsung dengan si penderita, dan alloanamnesis, bila kondisi si penderita
tidak memungkinkan untuk ditanyai sehingga dokter menanyakan keluhan kepada orang yang
mengetahui kondisi pasien. Apabila anamnesis dilakukan dengan cermat maka informasi yang
didapatkan sangat berharga untuk menegakan suatu diagnosis.1
Pada kasus ini anamnesis berpeeran cukup penting guna mendapatkan penjelasan etiologi
dari gangguan yang dialaminya, apakah disebabkan oleh faktor organik atau penyebab lainnya.
Untuk dapat memperoleh hasil yang baik dari anamnesis ini maka diperlukan ikatan antara
dokter-pasien yang harmonis.
Identitas pasien seperti nama, alamat, umur, status, dan pekerjaan penting untuk
mengetahui gambaran stresor yang dihadapi dalam kesehariannya. Keluhan utama pasien, hal
utama yang membuat pasien datang menemui dokter, lokasi keluhan, onset terjadinya, serta
sesnsasi terhadap keluhan. Setelah itu tanyakan bagaimana penyakit itu bermula, bagaimana
awal mula gangguan itu terjadi, sejak kapan, dan bagaimana keberlangsungannya. Riwayat
penyakit terdahulu, apakah pasien pernah mengalami penyakit yang serupa atau penyakit lainnya
yang dapat memicu terjadinya gangguan saat ini seperti demam tinggi, riwayat trauma kepala,
mengkonsumsi obat-obatan Parkinson, obat anti-hipertensi dan kotikosteroid dalam jangka
waktu lama. Jika pasien telah menikah, tanyakan mengenai pernikahannya. Intinya pada segmen
ini kita harus menggali mengenai pribadi pasien. Riwayat keluarga, tanyakan apakah di dalam
keluarganya ada suatu konflik atau masalah yang memberatkan pikirannya atau tidak.
Selain itu, pada kasus ini penting juga kita menilai keadaan status mental pasien. Kita
dapat melihat penampilan saat pasien datang, dari penampilan dapat memberikan ciri khas pada
beberapa penyakit psikiatrik, contohnya mereka berpakaian dan berdandan berlebihan tidak
sesuai dengan tempatnya. Cara bicara, perhatikan pasien saat bicara. Biasanya pada pasien

2|Gangguan Somatisasi
depresi mereka cenderung tertutup dan kurang memberi informasi, sedangkan pada pasien
mania, mereka berbicara terus-menerus tiada henti. Mood atau suasana hati, serta pikiran seperti
bagaimana perhatian pasien, daya memorinya, apakah dia dapat menentukan sikap, serta cara
berbahasa. Persepsi, tanyakan apakah pasien merasa ada yang berbisik, atau melihat sesuatu
yang tidak dilihat oleh dokter untuk mengetahui apakah pasien mengalami halusinasi. Sensorium
dimana pasien sering merasa kesemutan.3
Psikodinamik formulasi adalah mekanisme pertahanan yang dilakukan oleh pasien.
Seperti penolakan (deny), pada saat disalahkan dia akan menyalahkan orang lain, menggunakan
orang lain untuk mencapai tujuannya.
Clinical Interview adalah cara yang dilakukan pemeriksa dalam menggali informasi
kepada pasien agar pasien mau bercerita kepada dokter dengan leluasa. Hal ini dapat dicapai
dengan menimbulkan kedekatan (rapport), kepercayaan (trust), penjaminan (reassurance), dan
memberikan respon emosional yang positif.3
Dari scenario ini bisa didapatkan beberapa hal, seperti:
a. Rasa tidak enak di perut, kembung, terasa naik ke atas sehingga pasien merasa
sesak.
b. Rasa sakit di dada kiri yang kadang menyebar ke bagian kanan.
c. Rasa pegal di leher dan kesemutan di tungkai atas sampai ke dua belah kaki.
d. Kurang lebih 1 tahun.
e. Siklus menstruasi normal.

Pemeriksaan fisik dan penunjang


Pada kasus dilakukan pemeriksaan fisik sesuai dengan gejala yang dinyatakan oleh
pasien dimana terdapat gejala rasa tidak enak di perut, kembung, terasa naik ke atas, rasa sakit di
dada kiri yang kadang menyebar ke bagian kanan, rasa pegal di leher dan kesemutan di tungkai
atas sampai ke dua belah kaki. Sesuai dengan gejala dilakukan pemeriksaan fisik pada daerah
abdomen serta bila perlu dilakukan pemeriksaan penunjang endoskopi. Rasa sakit di dada kiri
maka dapat dilakukan pemeriksaan fisik jantung dan pemeriksaan penunjang seperti
Elektrocardiografi, foto toraks, dan lainnya. Tungkai yang kesemutan dapat merupakan gejala
dari neuropati sehingga dapat dilakukan pemeriksaan fisik neurologi.

3|Gangguan Somatisasi
Working Diagnosis
Gangguan somatisasi adalah salah satu gangguan somatoform spesifik yang ditandai oleh
banyaknya keluhan fisik/gejala somatik yang mengenai banyak sistem organ yang tidak dapat
dijelaskan secara adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium. Gangguan somatisasi
dibedakan dari gangguan somatoform lainnya karena banyaknya keluhan dan melibatkaan sistem
organ yang multiple(sebagai contoh, gastrointestinal dan neurologis). Gangguan ini bersifat
kronis dengan gejala ditemukan selama beberapa tahun dan dimulai sebelum usia 30 tahun dan
disertai dengan penderitaan psikologis yang bermakna, gangguan fungsi sosial dan pekerjaan,
dan perilaku mencari bantuan medis yang berlebihan.
Pada tahun 1859, Piere Briquet, seorang dokter Prancis menggambarkan suatu sindrom yang
pada waktu itu diberi nama sesuai dengan namanya sendiri, karena itu disebut Briquet syndrome
dan sekarang dalam DSM-III-R disebut gangguan somatisasi. Diagnosis gangguan somatisasi
digunakan untuk individu-individu yang banyak mengalami keluhan-keluhan somatik, berulang-
ulang dan berlangsung lama, yang jelas bukan karena suatu penyebab fisik aktual.3-6
Individu-individu dengan gangguan ini menolak pandangan bahwa penyebab dari keluhan-
keluhan mereka adalah faktor psikologis dan mereka tetap mencari pengobatan medis. Keluhan-
keluhan pada umumnya berkisar sekitar sakit kepala, keletihan, alergi, sakit perut, sakit
punggung, sakit dada, simtom-simtom genitouriner, dan jantung berdebar-debar. Simtom-simtom
konversi mungkin juga ada. Orang yang menderita gangguan ini akan pergi ke dokter dan
kadang-kadang ke sejumlah dokter sekaligus untuk meminta konsultasi dan pengobatan. Orang-
orang yang menderita gangguan tesebut mengeluh secara dramatis dan berlebih-lebihan bahkan
mengeluh bahwa mereka menderita sakit sepanjang hidupnya.
Gangguan somatisasi ini mulai sebelum usia 30 tahun dan sering terjadi pada usia belasan
tahun pada anak-anak perempuan dimana keluhan-keluhan dan keprihatinannya berhubungan
erat dengan siklus menstruasi dan keluhan-keluhan serta keprihatian tersebut sering merupakan
simtom-simtom somatisasi yang paling awal. Gangguan ini lebih banyak terdapat pada wanita
daripada laki-laki.3-6
Selain keluhan-keluhan mengenai kesehatan, pasien yang mengalami gangguan
somatisasi juga melaporkan adanya kesulitan pribadi berupa kecemasan dan depresi. Kelihan-
keluhan tersebut bukan merupakan bagian dari gangguan itu sendiri, tetapi sebagai akibat dari
kepercayaan individu bahwa masalah penyakit atau keehatannya benar-benar berat. Kesulitan-

4|Gangguan Somatisasi
kesulitan di bidang pekerjaan dan perkawinan juga umum terdapat pada kalangan para penderita
ini:
a. Pasien mempunyai sejumlah gejala fisik yang samar dan dramatis(biasanya tampil dengan
dramatik) yang secara khas melibatkan beberapa sistem organ.
b. Semua tipe gejala konversi, termasuk neurologik.
c. Nyeri yang samar dan tidak dapat didefinisikan.
d. Problem menstruasi/seksual, orgasme terhambat.
e. Kesulitan gastrointestinal, genitourinaria, dan kardiopulmonar.
f. Pergantian status kesadaran yang sulit ditandai.
Gejala-gejala menjadi berat dan menjadi ringan, tetapi biasanya ditampilkan gejala berat
oleh pasien yang bersikeras untuk mendapatkan pemeriksaan dan penatalaksaan. Pasien ini
sering mendapat berbagai operasi dan berisiko untuk mengalami ketergantungan obat secara
iatrogenik.
Peneliti-peneliti yang berdasar pada analitik berdebat bahwa gejala dihasilkan ketika
impuls terlarang direpresi dan energi emosi yang dihubungkan dengan dorongan-dorongan
tersebut dikonversi/diubah menjadi gejala fisik. Meskipun informasi yang tepat masih belum
lengkap, saat ini gambaran yang berhubungan dengan sindrom Briquet's termasuk:
a. Kondisi kronis yang dimulai pada masa remaja atau usia 20-an.
b. Terjadi terutama pada wanita.
c. Umumnya terdapat ansietas, iritabilitas, dan depresi sering kali percobaan bunuh diri.
d. Kelompok sosial ekonimi dan intelejensi lebih rendah.
e. Sering ada masalah interpersonal dan perkawinan.
f. Sering dengan riwayat perilaku antisosial terdahulu atau terjadi bersamaan dan riwayat
sekolah buruk.
g. Pasien memiliki gangguan kepribadian histrionik, dependen atau antisosial.
Keturunan tingkat pertama wanita memiliki 20 % insiden gangguan somatisasi.
Keturunan tingkat pertama pria mempunyai peningkatan prevalensi alkoholisme dan gangguan
kepribadian antisosial. Gangguan somatisasi sulit dibedakan dengan malingering dan kadang-
kadang terdapat unsuk keduanya.3-6

5|Gangguan Somatisasi
Differential diagnosis
1. Hipokondriasis
Merupakan salah satu bagian dari gangguan somatoform dimana gangguan in
ditandai dengan focus gejala yang lebih ringan daripada kepercayaan pasien bahwa ia
menderita suatu penyakit tertentu.2
Menurut PPDGJ-III kriteria gangguan hipokondrik ialah adanya keyakinan yang
menetap sekurang-kurangnya satu penyakit fisik yang serius yang melandasi keluhan-
keluhannya, meskipun pemeriksaan berulang-ulang tidak menunjang adanya alas an fisik
yang memadai ataupun adanya preokupasi yang menetap, kemungkinan adanya
deformitas atau perubahan bentuk penampakan fisik (tidak sampai waham. Yang kedua,
pasien gangguan hipokondrik tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari
beberapa dokter bahwa tidak ditemukan abnormalitas fisik atau penyakit yang melandasi
keluhan-keluhan pasien.3
2. Gangguan Cemas Menyeluruh
Gangguan ini merupakan suatu kekhawatiran yang berlebihan dan dihayati
disertai berbagai gejala somatik, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau penderitaan yang jelas bagi pasien. Sebagai pedoman diagnostik,
penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung hampr
setiap hari untuk beberapa minggu sampa beberapa bulan, yang tidak terbatas atau hanya
enonjol pada keadaan situasi khusus tertentu saja (sifatnya free floating atau
mengambang).2,3
Gejala utama adalah kecemasaan, ketegangan motorik,, hiperaktivitas otonom dan
kewaspadaan kognitif. Gejala kecemasan ditandai dengan khawatir akan nasib buruk,
merasa seperti diujung tanduk, sulit konsentrasi. Ketegangan motorik sering
dimanifestasikan dengan gemetar, gelisah, dan nyeri kepala. Hiperaktivitas otonom
dimanaifetasikan dengan sesak nafas, keringat berlebihan, palpitasi, mulut kering, kepala
terasa ringan, dan gejala gastrointestinal (keluhan lambung). Gejala lain adalah mudah
tersinggung dan dikejutkan. Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan
untuk ditenangkan (reassurance) serta keluhan somatik yang berulang dan menonjol.2,3

6|Gangguan Somatisasi
3. Gangguan Depresi
Depresi menyatakan pola piker dan perilaku yang maladaptive dan berulang yang
menyebabkan depresi. Pasien seringkali penuh kecemasan, obsesi, dan rentan terhadap
somatisasi. Dalam PPDGJ-III gangguan ini masuk dalam gangguan
perasaan(mood/afektif) menetap. Penyebabnya dapat berupa kelainan tidur, dan kelainan
neuroendokrin, dilaporkan juga adanya kesalah pengembangan kepribadian dan ego yang
memuncak dalam kesulitan beradaptasi pada mmasa remaja dan dewasa muda. 2
Manifestasi klinis episode depresi gangguan ini ditandai dengan perasaan muram,
murung, sedih, atau berkurangnya atau tidak adanya minat pada aktivitas. Pasien kadang-
kadang dapat sarkastik, nihilistic, memikirkan hal yang sedih, membutuhkan, dan
mengeluh. Mereka juga dapat tegang, kaku, dan menolak intervensi terapeutik. Gejala
penyerta lainnya berupa konsentrasi dan perhatian berkurang, adanya gagasan rasa
bersalah dan tidak bergua, pandangan masa depan suram atau pesimistik, perubahan
nafsu makan dan pola tidur, harga diri yang rendah, hilangnya energy, retardasi
psikomotor, penurunan dorongan sexual, dan preokupasi obsesi dengan masalah
kesehatan. Untuk episode depresif diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk
penegakkan diagnosis akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar
biasa berat dan berlangsung cepat.2,3

Epidemiologi
Prevalensi seumur hidup gangguan somatisasi dalam populasi umum diperkirakan 0,1
sampai 0,2 persen walaupun beberapa kelompok riset yakin bahwa angka sebenarnya dapat lebih
mendekati 0,5 persen. Perempuan dengan ganggauan somatisasi jumlahnya melebihi laki-laki 5
hingga 20 kali lebih banyak, tetapi perkiraan tertinggi dapat disebabkan adanya tendensi dini
tidak mendiagnosis gangguan somatisasi pada pasien laki-laki. Meskipun demikian , gangguan
ini adalah gangguan yang lazim ditemukan. Dengan rasio perempuan banding laki-laki 5 banding
1, prevalensi seumur hidup gangguan somatisasi pada perempuan di populasi umum mungkin 1 /
2 persen. Diantara pasien yang ditemui di tempat praktir dokter umum dan dokter keluarga,
sebayak 5 sampai 10 persen dapat memenuhi kriteria diagnostic gangguan somatisasi. Gangguan
ini berbanding terbalik dengan posisi social dan terjadi paling sering pada pasien yang memiliki

7|Gangguan Somatisasi
sedikit edukasi dan tingkat pendapatan yang rendah. Gangguan somatisasi didefinisikan dimulai
sebelum usia 30 tahun dan paling sering dimulai selama masa remaja seseorang.5

Etiologi
Factor psikososial : formulasi psikososial melibatkan interpretasi gejala
sebagaikomunikasi social, akibatnya adalah hindari kewajiban ( contohnya harus pergi ke tempat
kerja yang tidak disukai ) , mengekspresikan emosi ( contohnya marah kepada pasangan) atau
menyimbolkan suatu perasaan atau keyakinan ( contohnya nyeri diusus ). Interprestasi gejala
psikoanalitik yang kaku bertumpu pada hipotesis bahwa gejalagejala tersebut menggantikan
impuls berdasarkan insting yang ditekan.
Perpektif perilaku pada gangguan somatisasi menekankan bahwa pengajaran orang tua,
contoh dari orang tua , dan adat istiadat dapat mengaari beberapa anak untuk lebih melakukan
somatisasi daripada orang lain. Disamping itu, sejumlah pasien dengan gangguan somatisasi
menekankan bahwa pengajaran orang tua, contoh dari orang tua dan adat-istiadat dapat
mengajari beberapa anak untuk lebih melakukan somatisasi daripada orang lain. Disamping itu,
sejumlah pasien dengan gangguan somatisasi datang dari keluarga yag tidak stabil dan
mengalami penyiksaan fisik.
Faktor Biologis dan Genetik : sejumlah studi mengemukakan bahwa pasien memiliki
perhatian yang khas dan hendaya kognitif yang menghailkan persepsi dan penilaian input
somatosensorik yang salah. Hendaya ini mencangkup perhatian mudah teralih, ketidakmampuan
menghabituasi stimulus berulang, pengelompokan konstruksi kognitif dengan dasar
impresionistik, hubungan parsial dan sirkumstansial, serta kurangnya selektivitas seperti yang
ditunjukan sejumlah studi potensial bangkitan. Sejumlah terbatas studi pencitraan otak
melaporkan adanya penurunan metabolism lobus frontalis dan hemisfer nondominan.
Data genetic menunjukan bahwa gangguan somatisasi dapat memiliki komponen genetic.
Gangguan somatisasi cenderung menurun di dalam keluarga dan terjadi pada 10 hinga 20 persen
kerabat perempuan derajat pertama pasien dengan gangguan somatisasi. Didalam keluara ini,
kerabat laki-laki derajat pertama rentan terhadap penyalagunaan obat dan angguan kepribadian
antisosial. Satu studi melaporkan bahwa angka kejadian kembar dizigot menunjukan adanya efek
genetic.

8|Gangguan Somatisasi
Penelitian sitokin, suatu are baru studi ilmu neurologi dasar, dapat relevan dengan
gangguan somatisasi dan angguan somatoform lainnya. Sitokin adalah melekul pembawa pesan
yang digunakan system saraf, termasuk otak. Contoh sitokin adalah interleukin , factor nekrosis
tumor dan interferon. Bebrapa percobaan pendahuluan menunjukan bahwa sitokin dapat
berperan menyebabkan sejulah gejala nonspesifik penyakit, terutama infeksi, seperti
ihipersomnia, anoreksia, lelah dan depresi. Walaupun ada data yang menyokong hipotesis
pengaturan abnormal system sitokin dapat mengakibatkan sejumlah gejala yang ditemukan pada
gangguan somatoform.5

Pedoman diagnostic somatisasi : 3


1. Adanya banyak keluha-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak dapat dijelaskan
atas dasar adanya kelainan fisik, yang sudah berlangsung sedikitnya 2 tahun
2. Tidak mau menerima nasihat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada
kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhan-keluhannya
3. Terdapat disabilitas dalam fungsi di masyarakat dan keluarga, yang berkaitan dengan
sifat keluhan keluhannya dan dampak dari perilakunya

Manifestasi klinik
Pasien dengan gangguan somatisasi memiliki banyak keluhan somatik dan riwayat medik
yang panjang dan rumit. Gejala-gejala umum yang sering dikeluhkan adalah mual,
muntah(bukan karena kehamilan), sulit menelan, sakit pada lengan dan tungkai, nafas
pendek(bukan karena olah raga), amnesia, komplikasi kehamilan, dan menstruasi. Sering kali
pasien beranggapan dirinya menderita sakit sepanjang hidupnya. Gejala pseudoneurologik sering
dianggap gangguan neurologik namun tidak patognomonik. Misalnya gangguan koordinasi atau
keseimbangan, paralisis atau kelemahan total, sulit menelan atau merasa ada gumpalan
ditenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi raba atau sakit, penglihatan
kabur, buta, tuli, bangkitan atau hilang kesadaran bukan karena pingsan. Penderitaan psikologik
dan masalah interpersonal menonjol dengan cemas dan depresi.
Hal tersebut merupakan gejala psikiatri yang paling sering muncul. Ancaman akan bunuh
diri sering dilakukan, namun bunuh diri aktual sangat jarang. Jika terjadi bunuh diri biasanya

9|Gangguan Somatisasi
sering terkait penyalahgunaan zat. Riwayat medis pasien sering berbelit-belit, samar, tidak pasti,
tidak konsisten, dan kacau. Pasien secara klasik menggambarkan keluhannya dengan cara yang
dramatik, emosional dan berlebihan dengan bahasa yang jelas dan berwarna. Mereka dapat
bingung dengan urutan waktu dan tidak dapat membedakan dengan jelas gejala saat ini dengan
yang lalu. Pasien perempuan dengan gangguan somatisasi dapat berpakaian dengan cara yang
ekshibisionistik. Pasien-pasien gangguan somatisasi biasanya tampak tidak mandiri, terpusat
pada dirinya, haus penghargaan dan pujian, dan manipulatif.3,4

Patofisiologi
Gangguan somatisasi berlangsung kronik, umumnya dimulai sebelum berusia 30 tahun.
Prgnosis umumnya sedang sampai buruk.
Prognosis gangguan konversi baik apabila timbul tiba-tiba, stresor mudah dikenali,
penyesuaian pramorbid yang baik, tidak ada gangguan psikiatrik atau medis komorbid dan tidak
ada tuntutan yang terus-menerus.
Hipokondriasis berlangsung episodik. Setiap episode berlangsung beberapa bulan sampai
beberapa tahun dan dipisahkan oleh episode yang tenang sama panjangnya. Prognosis baik
berhubungan dengan status sosioekonomi yang tinggi, awal yang tiba-tiba, tidak adanya
gangguan kepribadian, dan tidak adanya kondisi medis nonpsikiatri yang menyertai.
Gangguan dismorfik tubuh biasanya muncul bertahap. Namun dapat berlangsung kronik
jika tidak diobati. Prgonosis belum diketahui secara pasti.
Nyeri pada gangguan nyeri biasanya berlangsuung secara tiba-tiba selama beberapa
minggu atau beebrapa bulan selanjutnya. Biasanya berlangsung kronik dengan prognosis yang
bervariasi. Prognosis buruk bila terdapat gangguan depresi, gangguan kepribadian tergantung
atau histrionik dan penyalahgunaan alkohol dan zat lain.
Gangguan somatisasi merupakan gangguan yang berlangsung kronik, berfluktuasi,
menyebabkan ketidakmampuan dan sering kali disertai dengan ketidakserasian dari perilaku
sosial, interpersonal dan keluarga yang berkepanjangan.
Episode peningkatan keparahan gejala dan perkembangan gejala yang baru diperkirakan
berlangsung 6-9 bulan dan dapat dipisahkan dari periode yang kurang simtomatik yang
berlangsung 9-12 bulan. Tetapi jarang seorang pasien dengan gangguan somatisasi berjalan lebih
dari satu tahun tanpa mencari suatu perhatian medis.5

10 | G a n g g u a n S o m a t i s a s i
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pasien dengan gangguan somatisasi merupakan sebuah tantangan
tersendiri dimana pasien biasanya menolak untuk berobat kepada psikiater.
Interaksi dokter dengan pasien.
Pasien gangguan somatisasi paling baik diobati jika mereka memiliki seseorang dokter
tunggal sebagai perawat kesehatan utamanya. Hubungan ini harus memiliki
dipertahankan terus dan dokter harus mempunyai empati terhadap pasien. Kunjungan
harus relatif singkat dan dilakukan pemeriksaan fisik lengkap dengan meminimalisasi
pemeriksaan laboratorium dan penunjang diagnostik.1,6
Psikoterapi individu dan kelompok.
Dapat membantu pasien mengatasi gejalanya untuk mengekspresikan emosi yang
mendasari dan mengembangkan strategi alternatif untuk mengekspresikan perasaan
mereka. Pada umumnya, pasien merasa ditolak, tidak dimengerti dan diasingkan dari
pergaulan. Oleh karena itu, terapi kelompok diharapkan dapat mengatasi hal tersebut.1,6
Farmokoterapi.
Memberikan medikasi psikotropik bilamana gangguan somatisasi ada bersama-sama
dengan gangguan mood atau kecemasan adalah selalu memiliki resiko, tetapi pengobatan
psikofarmakologis, dan juga pengobatan psikoterapetik, pada gangguan penyerta adalah
diindikasikan. Medikasi harus dimonitor, karena pasien dengan gangguan somatisasi
cenderung menggunakan obat secara berlebihan dan tidak dapat dipercaya.
Dalam mengatasi dan menangani pasien yang mengalami gangguan kejiwaan perlu cara
khusus. kita harus melakukan beberapa tahapan yaitu:
Refleksi, yakni saat pasien menceritakan hal-hal yang membuatnya depresi, kita dapat
memberikannya support bahwa sesungguhnya bukan hanya dirinya yang mengalami hal
itu, masih banyak orang lain yang mengalami hal yang sama bahkan lebih berat. Dengan
cara begini pasien akan merasa tidak sendiri.
Silence, yakni pada saat pasien bercerita, cobalah untuk diam dan mendengarkan bahkan
saat dia menangis cobalah untuk diam hingga pasien selesai bercerita.

11 | G a n g g u a n S o m a t i s a s i
Confrontasi, memberikan pernyataan yang lebih mendorong pasien. Contohnya saat
pasien bercerita bahwa dirinya sering berhenti kerja karena merasa bosan, dokter berkata:
mungkin jika ibu lebih bersabar, hasilnya bisa lebih baik.
Klasifikasi, dimana setelah pasien bercerita, menuturkan masalahnya, dokter mencoba
untuk mengelompokkan pokok permasalahannya
Setelah mengelompokkan permasalahn yang dihadapi oleh pasien, pemeriksa berusaha
untuk menginterpretasikan atau menilai permasalahan tersebut.
Summation adalah membuat kesimpulan atas permasalahn yang dihadapi oleh pasien.
Explanation, pemeriksa menjelaskan mulai dari pokok permasalahan hingga cara
mengatasi masalah pasien. Mulai dari rencana pengobatan hingga pemecahan masalah.

Prognosis
Perjalanan penyakit gangguan somatisasi bersifat kronik. Diagnosis biasanya ditegakkan
sebelum usia 25 tahun, namun gejala awal dimulai saat remaja. Masalah menstruasi biasanya
merupakan keluhan paling dini yang muncul pada wanita. Keluhan seksual sering kali berkaitan
dengan perselisihan dalam perkawinan. Periode keluhan yang ringan berlangsung 9-12 bulan,
sedangkan gejala yang berat dan pengembangan keluhan-keluhan baru berlangsung selama 6-9
bulan. Sebelum setahun biasanya pasien sudah mencari pertolongan medis. Adanya peningkatan
tekanan kehidupan mengakibatkan eksaserbasi gejala-gejala somatik.1,5

Kesimpulan
Berdasarkan hasil anamnesis didapatkan perempuan berusia 51 tahun dengan keluhan
rasa tidak enak di perut, kembung, terasa naik keatas, sesak, rasa sakit di dada kiri, rasa pegal
dileher dan kesemutan di kedua tungkai dengan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang
dinyatakan normal mengalami gangguan somatisasi, yang diterapi dengan melakukan
psikoterapi.

Daftar pustaka
1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & sadock buku ajar psikiatri klinis. Ed ke-2. Jakarta:
EGC;2010.h.1-16,268-70.
2. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita selekta

12 | G a n g g u a n S o m a t i s a s i
kedokteran. Edisi ke-3. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia;2008.h.207-17.
3. Maslim Rusdi. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III. Jakarta : Bagian
Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya ; 2001.h.74-85.
4. Papadakis MA, McPhee SJ, Rabow MW. Current medical diagnosis and treatment. 52th
Edition. USA : The McGraw-Hill Companies; 2013.p.1045-6.
5. Daftar Pustaka 1. Elvira SD, Hadisukanto G, editor. Buku Ajar Psikiatri. Edisi ke-2.
Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2013.h. 287-90.
6. Kay J, Tasman. Essentials of psychiatry. USA : John Wiley & Sons, Ltd; 2006.p.659-65.

13 | G a n g g u a n S o m a t i s a s i