Anda di halaman 1dari 12

Nama : Theodora Abdiel Purwa Dolorosa

NIM : 102011066
Kelompok : E5
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510

Email : theodora.dolorosa@yahoo.com

Abstrak

Tremor adalah sebuah gerakan spontan agak berirama, kontraksi otot dan relaksasi yang
melibatkan gerakan kesana kemari (osilasi atau berkedut) dari satu atau lebih bagian tubuh.
Hal ini adalah yang paling umum dari semua gerakan tak terkendali dan dapat mempengaruhi
tangan, lengan, mata, wajah, kepala, lipatan vokal, batang, dan kaki. Tremor paling banyak
terjadi di tangan. Pada beberapa orang, tremor adalah gejala lain gangguan neurologis.
Sebuah jenis yang sangat umum tremor adalah berceloteh gigi, biasanya disebabkan oleh
suhu dingin atau takut. Dalam makalah ini dijelaskan tentang bagian-bagian ekstremitas atas,
mekanisme kontraksi otot, Neuro Muscular Junction, sistem motoris pusat, serta
pengendalian motoris.

Kata kunci: Tremor, kontraksi otot, ekstremitas atas, mekanisme kontraksi otot, Neuro
Muscular Junction, sistem motoris pusat, pengendalian motoris.

Abstract

A tremor is an involuntary, somewhat rhythmic, muscle contraction and relaxation involving


to and fro movements (oscillations or twitching) of one or more body parts. It is the most
common of all involuntary movements and can affect the hands, arms, eyes, face, head, vocal
folds, trunk, and legs. Most tremors occur in the hands. In some people, tremor is a symptom
of another neurological disorder. A very common kind of tremor is the chattering of teeth,
usually induced by cold temperatures or by fear. In this paper explained about upper
extremity, the mechanism of muscle contraction, Neuro Muscular Junction, central motor
systems and motor control.

Key words : Tremors, muscle contraction, upper extremity, the mechanism of muscle
contraction, Neuro Muscular Junction, central motor systems, motor control.
Pendahuluan

Anatomi atau ilmu urai mempelajari susunan tubuh dan hubungan bagian-bagiannya
satu sama lain. Anatomi mempelajari letak dan hubungan satu bagian tubuh tidak dapat
dipisahkan dari pengamatan terhadap fungsi setiap struktur dan sistem jaringannya. Hal ini
membawa kita tentang kepenggunaan istilah anatomi fungsional yang berkaitan dengan
fisiologi, histologi, dan biokimia. Dalam kontraksi otot fisiologi akan membahas mekanisme
kontraksi otot, sistem motoris pusat sedangkan biokimia akan menjelaskan tentang Neuro
Muscular Junction, aktin dan miosin. Histologi akan membahas jaringan-jaringan otot skelet.

Tremor adalah suatu gerakan gemetar yang berirama dan tidak terkendali, yang terjadi
karena otot berkontraksi dan berelaksasi secara berulang-ulang. Tremor menyebabkan
keadaan dimana pasien mengalami gemetar yang disertai dengan rasa kaku. Kemungkinan
tangan gemetar dan rasa kaku tersebut adalah penyakit Parkinson. Parkinson adalah
kelompok gangguan neurologis yang ditandai dengan hipokinesia (mobilitas turun secara
abnormal, aktivitas atau fungsi motorik turun secara abnormal), tremor dan rigiditas otot
(kekakuan atau ketidakfleksibelaan pada otot), ada juga yang menyebutkan bahwa Parkinson
adalah penyakit degeneratif syaraf yang pertama ditemukan pada tahun 1817 oleh Dr. James
Parkinson.1

Pembahasan

Skenario 2:
Seorang laki-laki usia 62 tahun datang ke klinik Ukrida, diantar keluarga, mengeluh tangan
gemetar disertairasa kaku sejak 1 bulan lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tremor pada
ekstremitas atas dan tidak didapatkan kelainan pada jantung dan paru. Dokter
memberitahukan bahwa ia terkena Parkinson.
GAMBARAN MIND MAPPING

Kedua tangan bergetar, kaku sejak 1 bulan yang lalu

Makroskopis Mikroskopis Mekanisme Sistem motoris


kontraksi otot pusat

Ekstremitas atas Otot lurik


Pengendalian
motoris
Neuro Muscular Aktin &
Junction miosin

A. Makroskopis Ekstremitas Atas

1. Tulang

Dalam makalah ini, tulang tidak dibahas dengan mendetail, karena sesuai dengan
skenario mengenai tremor yang lebih menekankan pada otot. Berikut adalah tulang-tulang
yang termasuk dalam ekstremitas atas: Scapula dan Clavicula membentuk gelang bahu.
Radius dan Ulna membentuk lengan bawah. Selain itu ada juga humerus, 8 tulang karpal, 5
tulang metacarpal, dan 14 falanges.2
Gambar 1. Tulang ekstremitas atas tampak anterior
Sumber: https://www.google.co.id/search?hl=id&gs_rn=6&gs_ri=psy-
ab&tok=VFnSE57oL7jjqvgoTIGZOA&pq=wikipedia+:+ekstremitas+atas
2. Otot

Berikut adalah otot-otot yang termasuk dalam ekstremitas atas : M. latisimus dorsi, M.
serratus anterior, M. levator scapulae, M. romboideus, M. trapezius, M. pektoralis mayor, M.
pektoralis minor, M. deltoidus, M. teres mayor, M. subskapularis, M. supraspinatus, M.
infraspinatus, M. teres minor, M. korakobrakialis, M. biseps brakii, M. brakialis, M. triseps,
M. pronator teres, M. fleksor karpi radialis, M. palmaris longus, M. fleksor karpi ulnaris, M.
fleksor digitorum superfisialis, M. fleksor polisis longus, M. fleksor digitorum profunda, M.
pronator kuadratus, M. brakioradialis, M. ekstensor karpi radialis longus dan brevis, M.
ekstensor digitorum, M. ekstensor digiti minimi, M. ekstensor karpi ulnaris, M. supinator, M.
abductor polisis longus, M. ekstensor polisis brevis, M. ekstensor polisis longus, M.
ekstensor insidis, M. abductor polisis brevis, M. fleksor polisis brevis, M. oponens polisis, M.
adductor polisis, M. abductor digiti minimi, M. fleksor digiti minimi, M. oponens digiti
minimi, M. lumbrikalis, M. interosei.3
Gambar 2. Otot ekstremitas atas
Sumber : https://www.google.co.id/search?hl=id&gs_rn=6&gs_ri=psy-
ab&tok=VFnSE57oL7jjqvgoTIGZOA&pq=wikipedia+:+ekstremitas+atas

B. Mikroskopis Ekstremitas Atas

Secara umum, otot terbagi menjadi 3 macam, yaitu otot polos, otot jantung, dan otot
lurik. Dalam skenario hanya dibahas pada ekstremitas atas yaitu otot lurik. 4

Otot Rangka

Merupakan otot lurik, volunter, dan melekat pada rangka.

- Serabut otot sangat panjang, sampai 30 cm, berbentuk silindris dengan lebar berkisar
antara 10 mikron sampai 100 mikron.
- Setiap serabut memiliki banyak inti yang tersusun di bagian perifer.
- Kontraksinya sangat cepat dan kuat.

Struktur Mikroskopis Otot Skelet/Rangka

Otot skelet disusun oleh bundel-bundel paralel yang terdiri dari serabut-serabut
berbentuk silinder yang panjang, disebut myofiber /serabut otot.
Setiap serabut otot sesungguhnya adalah sebuah sel yang mempunyai banyak
nukleus ditepinya.
Cytoplasma dari sel otot disebut sarcoplasma yang penuh dengan bermacam-macam
organella, kebanyakan berbentuk silinder yang panjang disebut dengan myofibril.
Myofibril disusun oleh myofilament-myofilament yang berbeda-beda ukurannya :
yang kasar terdiri dari protein myosin
yang halus terdiri dari protein aktin/actin.

Gambar 3. Otot Rangka


Sumber : https://www.google.co.id/search?hl=id&gs_rn=6&gs_ri=psy-ab&tok

B. Mekanisme Kontraksi Otot

1. Mekanisme Umum Kontraksi Otot

Mekanisme kontraksi otot secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut: peristiwa
kontraksi otot diawali dengan potensial aksi saraf motorik menuju motor endplate di
membran otot. Dengan adanya potensial aksi, pelepasan asetil kolin makin banyak.
Akibatnya, pintu kalsium di retikulum sarkoplasma membuka dan melepaskan ion kalsium ke
sitoplasma sel otot. Ion kalsium kemudian menyebar ke seluruh sitoplasma dan berikatan
dengan troponin C. Ikatan troponin C dengan ion kalsium mengakibatkan perubahan
konformasi molekul troponin, membuka binding sites. Pembukaan binding sites tersebut
memungkinkan terjadinya jembatan silang (cross bridge) antara filamen aktin dan myosin.
Selanjutnya dengan katalis enzim myosin-ATPase terjadi hidrolisis ATP menjadi ADP + P +
energi, sehingga terjadilah kontraksi otot. Kontraksi otot terus berlangsung selama ion-ion
kalsium tetap berada pada konsentrasi tinggi dalam cairan sarkoplasma.5
2. Mekanisme Molekular pada Kontraksi Otot
Pada keadaan relaksasi, ujung-ujung filamen aktin yang memanjang dari dua lempeng Z
yang berurutan sedikit saling tumpang tindih satu sama lain. Sebaliknya, pada keadaan
kontraksi, filamen aktin ini telah tertarik ke dalam di antara filamen miosin, sehingga ujung-
ujungnya sekarang saling tumpang tindih satu sama lain dengan pemanjangan yang
maksimal. Lempeng Z juga telah ditarik oleh filamen aktin sampai ke ujung filamen miosin.
Jadi, kontraksi otot terjadi tersebut mekanisme pergeseran filamen.6,7
Filamen aktin tergeser ke dalam di antara filamen miosin karena interaksi jembatan
silang dari filamen miosin dengan filamen aktin. Pada keadaan istirahat, kekuatan ini tidak
aktif, tetapi bila sebuah potensial aksi berjalan di sepanjang membran serabut otot, hal ini
akan menyebabkan retikulum sarkolasma melepaskan ion kalsium dalam jumlah besar, yang
dengan cepat mengelilingi miofibril. Ion-ion kalsium ini kemudian mengaktifkan kekuatan
diantara filamen aktin dan miosin, dan mulai terjadi kontraksi. Tetapi energi juga diperlukan
untuk berlangsungnya proses kontraksi. Energi ini berasal dari ikatan berenergi tinggi pada
molekul ATP, yang diuraikan menjadi adenesin difosfat (ADP) untuk membebaskan
energi.6,7
Untuk konversi energi kimia menjadi energi mekanik, filamen aktin berperan sebagai
kofaktor yang diperlukan dalam pelepasan energi oleh ATPase dalam kepala molekul
myosin. Jika aktin murni ditambahkan pada filamen myosin in vitro, maka segera terjadi
hidrolisis dari ATP. Tetapi, pada otot relaksasi, tempat ikatan bagi myosin pada filament tipis
diblokir oleh kompleks troponin-tropomiosin, mencegah interaksi aktin-miosin. Pelepasan
kalsium ke dalam sarkoplasma sebagai respon atas rangsangan saraf, diikuti pengikatan
kalsium pada troponin C pada masing-masing subunit sepanjang filament aktin. Pengikatan
kemudian mengaktifkan ATPase myosin dan pelepasan energi yang terjadi menginduksi
fleksi dari kepala myosin yang menggeser filamen tipis sedikit ke arah pusat pita-A dari
sarkomer. Kepala itu kemudian terlepas dan melekat kembali pada subunit aktin lain memulai
siklus merakit jembatan dan membongkar jembatan baru.8

Translokasi progresif dari filamen aktin ke arah pusat pita-A memendekan


sarkomer-sarkomer sepanjang seluruh myofibril, berakibat kontraksi yang berlanjut sampai
ion kalsium habis dan terpisah dalam sisterna terminal. Kompleks troponin-tropomiosin
kemudian menutupi tempat pengikatan pada filamen aktin, memulihkan keadaan relaksasi.8
3. Neuromuskular Junction

Gambar 4. Neuromuscular Junction


Sumber: http://www.biologycorner.com/anatomy/muscles/muscle_images/neuromuscular_j

Neuromuscular junction adalah tempat dalam tubuh tempat akson dari saraf
motorik bertemu dengan otot dalam upaya transmisi sinyal dari otak yang
memerintahkan otot untuk berkontraksi atau berrelaksasi.

Potensial aksi masuk ke serabut otot melalui sinapsis antara serabut saraf dan
otot (neuromuscular junction). Di dalam synaptic knob terdapat synaptic vesicles
yang mengandung asetilcolin sebagai neurotransmitter. Pada saat ada sinyal dari otak
untuk berkontraksi, vesicles berisi neurotransmitter melebur ke membran synaptic
melepas asetilcolin. Asetilcolin berdifusi melewati synaptic cleft dan diterima oleh
molekul reseptornya yang berupa channel ion Na+ dalam membran sel serabut otot.
Kombinasi keduanya membuka channel Na+ dan menyebabkan peningkatan
permeabilitas membran sel terhadap ion Na+ dan menghasilkan influx Na+ dalam
inisiasi serabut saraf pada potensial aksi serabut otot. Asetilcolin yang telah
mempolarisasi serabut otot dan menghasilkan potensial aksi kemudian merambatkan
potensial aksi tersebut hingga ke dalam tubula transversal. Di dalam sel otot, potensial
aksi menginisiasi terlepasnya Ca2+ dari retikulum sarkoplasmik ke dalam sitoplasma.
Ca2+ memulai peluncuran filamen dengan memicu pengikatan miosisn ke aktin.
Ototpun berkontraksi. Asetilcolin kemudian dilepas ke synaptic cleft dan serabut otot
dan dihancurkan dengan bantuan enzim asetilcolineterase. Enzim ini menghancurkan
struktur satu aksi potensi dalam sel saraf.9
C. Sistem Saraf Pusat

Daerah SSP yang mengatur kegiatan motorik :

1. Korteks motorik
2. Korteks premotorik
3. Basal ganglia
4. Serebelum
5. Formasio retikularis
6. Medulla spinalis

Korteks motorik
Korteks motorik primer (area Brodmann 4) terletak pada gyrus presentalis
lobus frontalis, terbentang dari fisura lateralis hingga batas dorsal hemisfer dan
sebagian permukaan media lobus frontalis rostal dari lobulus parasentralis. Korteks
motorik primer berhubungan dengan penampilan gerakan. Disebelah rostal area
motorik primer tedapat kortesk premotor (area Brodmann 6). Pada permukaan lateral
hemisper yang berhubungan dengan pemuliaan (inisiasi) gerakan. Area motorik
tambahan terdapat pada aspek medial dari area 6 pada penampang sagital, rostal dari
lobulus parasentral. Area ini aktif selama persiapan gerakan setelah inisasi gerakan.
Fungsi area ini terutama berhubungan dengan gerakan kompleks pada anggota gerak
termsuk gerakan anggota gerak bersama pada kedua sisi tubuh. Jaras jaras desenden
dari korteks serebri yang mempengaruhi aktivitas motorik.10

Korteks Premotorik
Korteks premotorik : area 6 bertanggung jawab atas garakan terlatih (menulis,
mengemudi, mengetik). Area 8 area 8 Broddman dinamakan lapang pandang
frontal dan bersama area 6, bertanggung jawab atas gerakan-gerakan menyidik
voluntar dan deviasi konjugat dari mata dan kepala.10
Serebelum
Serebelum terletak di fossa posterior, dibelakang pons dan medula oblongata.
Dipisahkan dari serebrum dibagian atasnya oleh tentorium serebeli. Serebelum terdiri
atas 3 komponen anatomis utama yaitu, lobus flokulonodular (archi serebelum) lobus
anterior (paleo serebelum) dan lobus posterior (neo serebelum). Lobus flokulonoduler
menerima proyeksi terutama dari inti-inti vestibuler. Lobus anterior terutama pada
bagian vermis menerima input dari jaras spinocerebelaris. Lobus posterior menerima
proyeksi dari hemisfer serebri. Korteks serebelum terdiri atas 3 lapisan yaitu, lapisan
molekuler, lapisan sel-sel purkinje dan lapisan granuler. Pada hemisfer serebri
terdapat 4 pasang inti yaitu fastigial, globosus, emboliformis dan dentatus. Terdapat 3
pasang berkas proyeksi utama yaitu pedunkulus serebeli superior (brachium
conjuncyivum), pedunkulus serebeli media (brachium pontis) dan pedunkulus serebeli
inferior (corpus restiforme). Fungsi serebelum adalah sebagai pusat koordinasi untuk
mempertahankan keseimbangan dan Tonus otot. Serebelum diperlukan untuk
mempertahankan postur dan keseimbangan untuk berjalan dan berlari.10

Formasio Retikularis

Formasio retikularis menghubungkan semua jenis informasi neuronal melalui


kolateralnya. Disini berbagai masukan diterima dan kemudian disebarluarkan serta
dilakukan organisasi respon nya. Penerimaan informasi yang luas, baik sumbernya
yang berasal dari bagian sensoris yang melalui saraf tulang belakang dan dari seluruh
bagian sensoris di batang otak, di kirim melalui bagian tepi dari formasio retikularis.

Input yang berasal dari hidung (olfactory) melalui sistem saraf hidung masuk
kebagian otak depan. Struktur yang berasal dari hipotalamus dan sistem limbic juga
memberikan input ke formasio retikularis, beberapa bagian dari fungsi viseral dan
fungsi saraf otonom, dan serebelum juga turut memberikan input ke bagian medial
formasio retikularis untuk diaturnya.10

Medulla Spinalis
Medula spinalis (spinal cord) adalah jaringan saraf berbentuk seperti kabel putih
yang memanjang dari medula oblongata turun melalui tulang belakang dan bercabang
ke berbagai bagian tubuh. Medula spinalis merupakan bagian utama darisistem saraf
pusat yang melakukan impuls saraf sensorik dan motorik dari dan keotak. Disebut
juga saraf tulang belakang atau sumsum tulang belakang.10
Ganglia Basalis

Gambar 5. Ganglia Basalis


Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/jv/3/32/Sitem_saraf_pusat.jpg

Merupakan kumpulan dari badan-badan sel saraf (nukleus). Berperan dalam


mengontrol gerakan dgn cara:
(1) menghambat tonus otot,
(2) memilih & mempertahankan aktivitas motorik bertujuan,
(3) memantau & mengkoordinasikan kontraksi menetap yang lambat

Penyakit Parkinson: gangguan pada ganglia basalis, terutama karena defisiensi


neurotransmiter dopamin peningkatan tonus (kekakuan), tremor istirahat, &
perlambatan inisiasi & pelaksanaan gerakan yang berbeda.10

Kerusakan Basalis Ganglia

Seperti yang sudah disebutkan di atas, tangan gemetar dan rasa kaku tersebut
kemungkinan merupakan penyakit Parkinson yang disebabkan karena adanya
kerusakan pada basalis ganglia.

Secara anatomis, ganglia basalis terdiri dari nukleus kaudatus, putamen,


globus palidus, nukleus amigdala dan klaustrum. Nukleus amigdala dan klaustrum
tidak berhubungan langsung dengan fungsi motorik susunan saraf pusat. Sebaliknya,
talamus, subtalamus, substansi nigra, dan nukleus ruber bekerja dalam hubungan erat
dengan nukleus kaudatus, putamen dan globus palidus serta dianggap menjadi bagian
sistem gangliabasalis untuk pengaturan motorik.
Pada manusia, dekortikasi individu yang sangat muda merusak gerakan-
gerakan tubuh yang mempunyai ciri-ciri tersendiri, terutama gerakan tangan dan
bagian distal tungkai bawah, tetapi tidak merusak kemampuan seseorang untuk
berjalan dengan kasar, untuk mengatur keseimbangannya, atau untuk melakukan
banyak jenis gerakan bawah sadar lainnya. Tetapi, perusakan serentak dari sebagian
besar nukleuskaudatus hampir sama sekali melumpuhkan sisi tubuh yang berlawanan
kecuali untuk beberapa refleks stereotip yang diintegrasikan didalam batang otak atau
medula spinalis.10

Kesimpulan
Terjadinya tremor yang menimbulkan Parkinson karena adanya kerusakan ganglia basalis
pada sistem saraf pusat sehingga terjadi gangguan pengendalian motoris. (HIPOTESIS
DITERIMA)

Daftar Pustaka
1. Duvoisin R, Sage J. Parkinson's disease: a guide for patient and family. New York:
Lippincott Williams & Wilkins; 2003.
2. Bernard SM. Anatomi Umum. Jakarta: Bagian Anatomi FK-UKI; 2011.
3. Faiz O, Moffat D. At a glance anatomi. Jakarta: Erlangga; 2004.h.158-161.
4. Bloom & Fawcett. Buku ajar histology. Jakarta: EGC; 2002.h.255-6.
5. Asmadi. Teknik prosedural konsep & aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta: Penerbit
Salemba Medika; 2008.h.114-5
6. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Ed 11. Jakarta: EGC; 2008.h.74-
81
7. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia harper. Ed 27. Jakarta: EGC;
2009.h.582
8. Sherwood L. Fisioligi manusia dari sel ke sistem. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2011.
9. Harper CM, Howard J. Neuromuscular junction disorders: diagnosis and treatment.
New York: CRC Press; 2005.
10. Slonane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2004.h.166-173.