Anda di halaman 1dari 18

Infeksi Malaria

Pendahuluan
Timbulnya penyakit pada manusia ada beberapa konsep antara lain adalah konsep segi
tiga Epidemiologi. Menurut konsep ini timbulnya penyakit pada manusia disebabkan ke tidak
seimbang interaksi antara tiga faktor yaitu lingkungan sosial dan biologis. Lingkungan adalah
segala sesuatu yang berada di luar di luar manusia, yaitu lingkungan fisik, soaial, dan
biologis. Lingkungan fisik berupa iklim cuaca, tanah, perumahan, dan lain-lain. Lingkungan
sosial berupa kebudayaan ekonomi, pendidikan, dll. Sedangkan lingkungan biologis adalah
kuman-kuman, virus, cacing, nyamuk yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia.
Malaria adalah suatu penyakit imfeksi yang sudah umum dan menjadi perhatian.
Kurang lebih 300-500 kasus malaria muncul dalam beberapa tahun terkahir ini, dengan lebih
1 juta angka kematian, terutama di Afrika, Asia, Amerika Selatan, dan Amerika Tengah. 1
Malaria disebabkan oleh infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang menyerang
eritrosit dan ditandai dengan adanya bentuk aseksual dalam darah. Infeksi malaria akan
memberikan gejala demam, menggigil, anemia, dan splenomegali. Dapat berlangsung akut
ataupun kronik. Infeksi juga dapat berlangsung dengna komplikasi sistemik yang dikenal
dengan malaria berat.2

Skenario 4 :
Seorang laki-laki berusia 30 tahun , mengeluh demam sejak 2 hari lalu. Demam sempat
menghilang dan naik lagi disertai mengigil, berkeringat, sakit kepada dan mual-mual.
Setelah berkonsultasi ke dokter puskesmas ia diberi obat panas namun gejala-gejalanya
tidak berkurang. Pasien selama ini tinggal di jakarta dan baru 1 bulan pindah ke papua.
PF : S = 39C, RR= 18x/menit, HR= 98x/menit, TD = 120/80mmHg

Pembahasan :
Dari kasus ini kita dapat mendiagnosis penyakit apa yang diderita oleh pasien ini. Diagnosis
yang ditegakkan dalam kasus kali ini adalah anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang dan diagnosis pembanding.
Anamnesis
1|Infeksi Malaria

Anamnesis dilakukan untuk mengumpulkan semua informasi dasar yang berkaitan dengan
penyakit pada pasien dan adaptasi pasien terhadap penyakitnya. Kegiatan ini dilakukan
dengan wawancara untuk mendapatkan keluhan utamanya.
Dari hasil anamnesa yang dilakukan, kita bisa mendapatkan beberapa informasi penting,
yaitu :
1. Umur pasien : 30 tahun
2. Keluhan utama : demam sejak dua hari lalu
3. Riwayat penyakit sekarang (RPS) :
a. Sifat panas : hilang timbul
b. Perkemabangan penyakit : pasien sudah berobat ke puskesmas, diberikan
obat penurun panas, namun belum ada perubahan.
c. Keluhan penyerta : menggigil, berkeringat, sakit kepala, dan mual.
4. Riwayat Perjalanan : pasien baru saja pindah ke Papua satu bulan ini.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan ini dilakukan setelah anamnesis selesai dilakukan, tujuan dari pemeriksaan fisik
adalah untuk mengetahui dan menentukan informasi megenai kesehatan pasien. Pemeriksaan
fisik yang dilakukan bisa berupa inspeksi ( pemeriksaan berupa melihat tubuh dengan suatu
pendekatan sistematik ), palpasi ( penggunaan sensai taktil untuk menentukan ciri ciri suatu sistem
organ ), perkusi ( sensasi taktil dan bunyi yang dihasilkan apabila suatu pukulan keras dilakukan pada
suatu daerah yang diperiksa ), dan auskultasi ( mendengar bunyi yang dihasilkan oleh organ dalam ). 3

Pasien dengan keluhan malaria akan dilakukan pemeriksaan fisik sebagai berikut :
1. Pemeriksaan Kesadaran :
Didapati bahwa kesadaran pasien adalah : compos mentis (conscious), yaitu kesadaran
normal, sadar sepenuhnya, dan dapat

menjawab semua pertanyaan tentang keadaan

sekelilingnya.
Tingkat kesadaran lainnya adalah
(1) apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya,
sikapnya acuh tak acuh.
(2) Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriakteriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
2|Infeksi Malaria

(3) Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang
lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan)
tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
(4) Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap
nyeri.
(5) Koma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan
apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil
terhadap cahaya).2
2. Tanda-tanda vital :
a.

Suhu = 39oC

b.

Respiration Rate = 18x/menit

c.

Heart Rate = 98 x/menit

d.

Tekanan darah = 120/80 mmHg

3.Pemeriksaan fisik abdomen


Pemeriksaan fisik abdomen dilakukan untuk memeriksa apakah adanya cairan atau massa
dalam abdomen. Selain itu pemeriksaan abdomen juga dilakukan untuk mencari apakah ada
pembengkakan pada hati dan limpa karena penyakit kronis.3
a. Inspeksi :
- Frekuensi pernafasan pasien jika lebih dari 35x/menit pada dewasa, lebih dari
40x/menit pada balita, dan lebih dari 50x/menit pada bayi berumur dibawah 1
-

tahun menunjukkan pasien mengalami malaria berat.


Inspeksi pendarahan untuk melihat adanya ptekiae, purpura, dan hematoma.
Ptekiae adalah bercak merah dalam yang merupakan perdarahan kecil dibawah
kulit. Ptekiae mungkin mencerminkan gangguan perdarahan atau fragilitas
kapiler dan dapat menyertai infksi serius. Purpura adalah warna keunguan
yang timbul dipermukaan kulit yang disebabkan oleh karena kerusakan pada
darah. Hematoma adalah kumpulan darah yang terletak di luar pembuluh

darah, biasanya pada tempat dimana tempat terjadinya trauma.


Tanda-tanda dehidrasi yaitu mata cekung, bibir kering, oliguria, turgor,
elastisitas kulit berkurang.
3|Infeksi Malaria

Melihat tanda anemia berat dengan adanya konjungtiva pada mata, lidah

pucat, dan telapak tangan pucat.


- Mata kuning (ikterus)
b. Palpasi :
- Melakukan palpasi pada bagian hipokondrium kiri untuk mengecek apakah
adanya pembesaran limpa (splenomegali).3
4. Uji Tourniquet
uji penekanan pembuluh darah menggunakan alat Tourniquet dengan memasangnya
melingkari ekstremitas untuk mengontrol sirkulasi dan mencegah aliran darah ke atau
dari daerah distal. Kesadaran pasien juga penting untuk diketahui untuk melihat
adanya gangguan mental atau tidak.3

Pemeriksaan penunjang laboratorium


Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendukung pemeriksaan fisik. 3Ada berbagai macam
pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan darah, pemeriksaan dengan
tes diagnostik cepat, dan uji serologi.3,4
1. Pemeriksaan darah yang menurut teknis pembuatannya dibagi menjadi preparat darah tebal
dan preparat darah tipis untuk menentukan ada tidaknya parasit

malaria dalam darah.

Kepadatan parasit dapat dilihat melalui 2 cara yaitu semi-kuantitatif dan kuantitatif. Metode
semi-kuantitatif adalah menghitung parasit dalam LPB(lapang pandang besar)

dengan

rincian sebagia berikut :3,4


(-)

: SDR negative(tidak ditemukan parasit dalam 100LPB)

(+)

:SDR positif 1 (ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB)

(++)

:SDR positif 2 (ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB)

(+++)

:SDR positif 3 ( ditemukan 1-10 parasit dalam 1 LPB)

(++++)

:SDR positif 4 (ditemukan 11-100 parasit dalam 1LPB)

2. Pemeriksaan dengan tes diagnostik cepat


yaitu berdasarkan deteksi antigen parasit, dengan menggunakan metode imunokromatografi,
dalam bentuk dipstick. misalnya pemeriksaan Antigen HRP-2 yang diproduksi dari trofozoit
4|Infeksi Malaria

dan gametosit muda dari plasmodium falciparum, Antigen enzim paracite Lactate
Dehidrogenase (p-LDH) yang diproduksi oleh parasit bentuk aseksual atau seksual
(gametosit) dari 4 spesies, dan mendeteksi antigen HRP-2 dari plasmodium falciparum dan
antigen pan-malarial dari 4 spesies plasmodium.2,3
3. Uji serologi
uji ini diperkenalkan pada tahun 1962 dengan memakai teknik indirect flourecent antibody
test. Tes ini berguna mendeteksi adanya spesifik terhadap malaria atau pada keadaan dimana
parasit sangat minimal. Manfaat tes ini terutama untuk penelitian epidemologi atau alat uji
saring donor darah. Uji serologi ini misalnya ELISA.2,3
4.Uji widal :
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin).
Aglutinin yang spesifik terhadap Salmonella terdapat dalam serum penderita demam tyfoid,
juga pada orang yang pernah tertular Salmonella dan orang yang pernah divaksinasi terhadap
demam typhoid. Akibat infeksi Salmonella typhi, penderita membuat antibodi (aglutinin),
yaitu : aglutinin O, aglutinin H, aglutinin Vi. Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O
dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosi. Makin tinggi titernya makin besar
kemungkinan pasien menderita demam tyfoid. Pada infeksi yang aktif, titer uji widal akan
meningkat pada pemeriksaan ulang yang dilakukan selang paling sedikit 5 hari. Peningkatan
titer widal 4 kali dalam 1 minggu dianggap dengan demam tyfoid positif. Titer O > 160, titer
H > 640.3

Diagnosis pembanding
Pembanding dalam kasus kali ini adalah demam tifoid, demam dengue, leptospirosis, dan
malaria.

5|Infeksi Malaria

1. Malaria :
Malaria adalah penyakit menular yang dapat bersifat akut maupun kronik,
disebabkanoleh protozoa intraselular obligat Plasmodium falciporum, P. vivax, P.
ovale, dan P. malariaeyang ditularkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina.
Penularan juga dapat terjadi melaluitranfusi darah, transplantasi organ, dan
transplasenta. Malaria mempunyai gambaran karateristik demam periodic, anemia dan
splenomegali . Masa inkubasi 1-2 minggu, tetapikadan-kadang lebih dari setahun
tergantung masing-masing plasmodium. Gejala malaria yaitu demam, menggigil,
malaise, anoreksia,mual, muntah, diare ringan, sakit kepala, pusing, mialgia, nyeri
sendi dan tulang, kadang-kadang dingin . Peningkatan suhu dapat mencapai 40 C,
bersifat intermitten yaitu demam dengan suhu badan yang mengalami penurunan ke
tingkat normal selama beberapa jam dalam satu hari diantara periode kenaikan
demam. Periode timbulnya demam tergantung pada jenis plasmodium yang
menginfeksi. Gejala yang klasik yaitu terjadinya Trias Malaria secara berurutan:
periode dingin(15-60 menit): mulai menggigil, diikuti dengan periode panas:
penderita muka merah,nadi cepat, dan panas badan tetap tinggi beberapa jam, diikuti
dengan keadaan berkeringat; kemudian periode berkeringat: penderita berkeringat
banyak dan temperature turun, dan penderita merasa sehat. Anemia dan splenomegali
jugamerupakan gejala yang sering dijumpai pada malaria.4,5
2. Demam berdarah dengue :
Penyakit ini ditunjukkan melalui munculnya demam secara tiba-tiba, disertai sakit
kepala berat, sakit pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia) dan ruam- ruam
demam berdarah mempunyai ciri-ciri merah terang, patekial dan biasanya muncul
dulu pada bagian bawah badan-pada beberapa pasien, ia menyebar hingga
menyelimuti hampir seluruh tubuh. Selain itu, radang perut bisa juga muncul dengan
kombinasisakit di perut, rasa mual, muntah-muntah atau diare, pilek ringan disertai
batuk-batuk.Demam berdarah umumnya lamanya sekitar enam atau tujuh hari dengan
puncak demam yang lebih kecil terjadi pada akhir masa demam.4
3. Demam tifoid :
Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Salmonella
typhi. Penularan tifoid biasanya melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi
feses.Masa inkubasi tifoid sangat berbeda, berkisar dari 3-60 hari. Pada minggu
pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan keluhan dan gejala serupa dengan
penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demam (peningkatan suhu hingga 40C)
terutama sore atau malam hari, kedinginan, malaise,sakit kepala, sakit tenggorokan,
6|Infeksi Malaria

batuk, nyeri otot, mual, muntah dan kadang-kadang sakit perut dan konstipasi
ataudiare. Sebagai perkembangan penyakit, umumnya didapatkan kelemahan, distensi
abdomen,hepatosplenomegali, anoreksia, dan kehilangan berat badan. Tanda penting
yang ditemui pada minggu kedua antara lain agak tuli, lidah tifoid (tremor, tengah
kotor, tepi hiperemis, nyeri tekan/spontan pada perut di daerah Mc Burney (kanan
bawah), hepatomegali, splenomegali, meteroismus, gangguan mental berupa
somnolen, stupor, koma, delirium, atau psikosis. Roseole jarang terjadi pada orang
Indonesia. Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan leukopenia, limfositosis
relatif. Mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan. Sifat demam adalah
meningkat perlahan-lahan dan terutama pada sore hingga malam hari.4
4. Leptospirosis
Pasien biasa datang dengan meningitis, hepatitis, nefritis,

pneumonia,

influenza,sindroma syok toksik, demam yang tidak diketahui asalnya dan diatetesis
hemoragik, bahkan beberapa kasus datang sebagai pancreatitis. Pada anamnesis,
penting diketahui tentang riwayat pekerjaan pasien, apakah termasuk riwayat resiko
tinggi.Gejala/keluhan didapati demam yang muncul mendadak, sakit kepala terutama
di bagian frontal, nyeri otot, mata merah/fotofobia, mual atau muntah. Pada
pemeriksaan fisik dijumpai demam, bradikardia, nyeri tekan otot, hepatomegali, dan
lain-lain. Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin bisa dijumpai lekositosis, normal
atau sedikitmenurun disertai gambaran neutrofilia dan laju endap darah yang
meninggi. Padaurine dijumpai protein uria, lekosituria dan torak (cast). Bila organ
hatiterlibat,bilirubin direk meningkat tanpa peningkatan transaminase. BUN, ureum
dan kreatinin bisa meninggi bila terjadi komplikasi pada ginjal. Trombositopenia
terdapat pada 50% kasus. Diagnosa pasti dengan isolasi leptospira dari cairan tubuh
danserologi.4

Dari pembanding ini dapat diketahu gejala mana yang tepat pada kasus diatas, dan gejalanya
adalah malaria, maka dalam pembahasan selanjutnya akan dibahas tentang malaria.
Etiologi
Malaria disebabkan oleh protozoa darah yang termasuk ke dalam genus Plasmodium.
Plasmodium ini merupakan protozoa obligat intraseluler. Plasmodium ini menginfeksi
eritrosit ( sel darah merah ) dan mengalami pembiakan aseksual di jaringan hati dan di
7|Infeksi Malaria

eritrosit. Pembiakan seksual terjadi pada tubuh nyamuk yaitu anopheles betina. Pada manusia
terdapat 4 spesies yaitu Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae,
dan Plasmodium ovale. Penularan pada manusia dilakukan oleh nyamuk betina Anopheles
ataupun ditularkan langsung melalui transfusi darah atau jarum suntik yang tercemar serta
dari ibu hamil kepada janinnya. Malaria vivax disebabkan oleh P. vivax yang juga disebut
juga sebagai malaria tertiana. Plasmodium malariae merupakan penyebab malaria malariae
atau malaria kuartana. Plasmodium ovale merupakan penyebab malaria ovale, sedangkan,
Plasmodium falciparum menyebabkan malaria falsiparum atau malaria tropika. Spesies
terakhir ini paling berbahaya, karena malaria yang ditimbulkannya dapat menjadi berat
dikarenakan dalam waktu singkat dapat menyerang eritrosit dalam jumlah besar, sehingga
menimbulkan berbagai komplikasi di dalam organ-organ tubuh.4

Epidemiologi
Malaria dapat ditemukan di berbagai macam tempat di dunia, keadaan malaria di dunia saat
ini, diperkirakan terdapat 300 500 juta kasus malaria klinis/ tahun dengan 1,5 juta 2,7 juta
kematian. Sebanyak 90% kematian terjadi pada anak anak dengan rasio 1 dari 4 anak balita
di Afrika meninggal karena malaria.
-

Beberapa negara yang bebas malaria yaitu Amerika Serikat, Canada, negara di eropa
(kecuali Russia), Israel,Singapura, Hongkong, Jepang, Taiwan, Korea, Brunei, dan
Australia. Negara tersebut terhindar darimalaria karena vektor kontrolnya yang baik,
walaupun demikian banyak dijumpai kasus malaria yang di import karena pendatang

dari negara malaria ataupun penduduknya mengunjungi daerah-daerah malaria.


Plasmodium falciparum dan Plasmodium Malariae umumnya di jumpai pada semua

negara; Afrika, Haiti dan Papua Nugini dengan umunya Plasmodium falciparum.
Plasmodium vivax banyak di Amerika Latin. Di Amerika Selatan, Asia Tenggara,

negara Oceania dan India umumnya Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax.
Plasmodium ovale biasanya hanya di Afrika.

Di Indonesia kawasan Timur mulai dati Kalimantan, Sulawesi Tengah sampai


Utara,Maluku, Irian Jaya dan dari Lombok sampai Nusa tenggara Timur serta Timor
Timur merupakan daerah endemis malaria dengan Plasodium falciparum dan Plasmodium
vivax. Beberapa daerah diSumatra mulai dari Lampung, Riau, Jambi dan Batam kasus
malaria cenderung meningkat.4,5
8|Infeksi Malaria

Patofisiologi
Demam mulai timbul bersamaan dengan pecahnya skizon darah yang mengeluarkan
bermacam macam antigen. Antigen ini akan merangsang sel sel makrofag, monosit atau
limfosit yang mengeluarkan berbagai macam sitokin, antara lain TNF ( tumor nekrosis factor
). TNF akan dibawah aliran darah ke hipotalamus yang merupakan pusat pengatur suhu tubuh
dan terjadi demam. Proses skizogoni pada ke empat Plasmodium memerlukan waktu yang
berbeda beda, P. falcifarum memerlukan waktu 36 48 jam, P. ovale/vivax 48 jam, dan P.
malariae 72 jam. Demam pada P. falcifarum dapat terjadi setiap hari, P. vivax/ovale selang
waktu sehari, dan P. malariae demam timbul selang waktu 2 hari.3
Anemia terjadi karena pecahnya sel darah merah yang terinfeksi maupun yang tidak
terinfeksi. Plasmodium falcifarum menginfeksi semua jenis sel darah merah, sehingga anemia
dapat terjadi pada infeksi akut dan kronis. Plasmodium vivax dan P. ovale hanya menginfeksi
sel darah merah muda yang jumlahnya hanya 2% dari seluruh jumlah sel darah merah,
sedangkan Plasmodium malariae menginfeksi sel darah merah yang jumlahnya hanya 1%
dari jumlah sel darah merah. Sehingga anemia yang disebabkan oleh P. vivax, P. ovale dan P.
malariae umumnya terjadi kronis.5
Splenomegali atau pembesaran limpa. Limpa merupakan organ retikuloendothelial,
dimana Plasmodium dihancurkan oleh sel sel makrofag dan limfosit. Penambahan sel sel
radang ini akan menyebabkan limpa membesar.
Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat cepat maupun lama prosesnya, malaria
disebabkan oleh parasit malaria / Protozoa genus Plasmodium bentuk aseksual yang masuk
kedalam tubuh manusia ditularkan oleh nyamuk malaria ( anopeles ) betina ( WHO 1981 )
ditandai dengan deman, muka nampak pucat dan pembesaran organ tubuh manusia. Parasit
malaria pada manusia yang menyebabkan Malaria adalah Plasmodium falciparum,
Plasmodium vivax, Plasmodium ovale dan Plasmodium malariae.2,4,5
Siklus parasit malaria adalah setelah nyamuk Anopheles yang mengandung parasit
malaria menggigit manusia, maka keluar sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk masuk
kedalam darah dan jaringan hati. Parasit malaria pada siklus hidupnya, membentuk stadium
skizon jaringan dalam sel hati ( ekso-eritrositer ). Setelah sel hati pecah akan keluar
merozoit / kriptozoit yang masuk ke eritrosit membentuk stadium skizon dalam eritrosit
9|Infeksi Malaria

( stadium eritrositer ), mulai bentuk tropozoit muda sampai sison tua / matang sehingga
eritrosit pecah dan keluar merosoit. Merosoit sebagian besar masuk kembali ke eritrosit dan
sebagian kecil membentuk gametosit jantan dan betina yang siap untuk diisap oleh nyamuk
malaria betina dan melanjutkan siklus hidup di tubuh nyamuk (stadium sporogoni). Pada
lambung nyamuk terjadi perkawinan antara sel gamet jantan (mikro gamet) dan sel gamet
betina (makro gamet) yang disebut zigot. Zigot akan berubah menjadi ookinet, kemudian
masuk ke dinding lambung nyamuk berubah menjadi ookista. Setelah ookista matang
kemudian pecah, maka keluar sporozoit dan masuk ke kelenjar liur nyamuk yang siap untuk
ditularkan ke dalam tubuh manusia. Khusus P. Vivax dan P. Ovale pada siklus parasitnya di
jaringan hati (skizon jaringan), sebagian parasit yang berada dalam sel hati tidak melanjutkan
siklusnya ke sel eritrosit tetapi tertanam di jaringan hati disebut Hipnosoit (lihat bagan
siklus), bentuk hipnosoit inilah yang menyebabkan malaria relapse. Pada penderita yang
mengandung hipnosoit, apabila suatu saat dalam keadaan daya tahan tubuh menurun
misalnya akibat terlalu lelah/sibuk/stres atau perobahan iklim (musim hujan), maka hipnosoit
akan terangsang untuk melanjutkan siklus parasit dari dalam sel hati ke eritrosit. Setelah
eritrosit yang berparasit pecah akan timbul gejala penyakitnya kembali. Misalnya 1 - 2 tahun
yang sebelumnya pernah menderita P. Vivax/Ovale dan sembuh setelah diobati, suatu saat dia
pindah ke daerah bebas malaria dan tidak ada nyamuk malaria, dia mengalami
kelelahan/stres, maka gejala malaria muncul kembali dan bila diperiksa SD-nya akan positif
P. Vivax/Ovale. Pada P. Falciparum dapat menyerang ke organ tubuh dan menimbulkan
kerusakan seperti pada otak, ginjal, paru, hati dan jantung, yang mengakibatkan terjadinya
malaria berat/komplikasi, sedangkan P. Vivax, P. Ovale dan P. Malariae tidak merusak organ
tersebut.2,4,5

10 | I n f e k s i M a l a r i a

Gambar 1. Siklus hidup plasmodium4

Penatalaksanaan
Dalam penatalaksanaan ada 2 macam yaitu secara farmakologi dan non farmakologi.
Secara farmakologi dengan menggunakan obat obat, yang berfungsi untuk
membunuh semua stadium parasit yang ada didalam tubuh manusia, dan juga untuk
mendapatkan kesembuhan klinis dan parasitologik serta memutuskan rantai penularan. Obat
obatnya antara lain :6,7
-

Amodiakuin, formulanya tablet 200 mg amodiakuin basa setara hidroklorid atau 153,
1 mg dari basa setara klorohidrat. Penggunaan obat ini untuk pencegahan dan
pengobatan ulang tidak dianjurkan. Dosis yang dianjurkan regimen 10 mg amodiakui
basa per hari selama 3 hari ( total dosis 30 mg/kg ) dianjurkan untuk memudahkan

pemakaian. Efek sampingnya mual, muntah, sakit perut, diare dan gatal gatal.
Primakuin, kerja obat ini adalah skizon jaringan: sangat efektif terhadap p.falciparum
dan p.vivax, terhadap p. malariae tidak diketahui ,skizon darah aktif terhadap
p.falciparum dan p.vivax tetapi memerlukan dosis tinggi sehingga perlu hati-hati,
gametosit sangat efektif terhadap semua spesies parasit, hipnosoit dapat memberikan
kesembuhan radikal pada p.vivax dan p.ovale. Farmakodinamikanya adalah
menghambat proses respirasi mitochondrial parasit (sifat oksidan) sehingga lebih
berefek pada parasit stadium jaringan dan hipnosoit. Toksisitasnya Dosis toksis 60240 mg basa (dewasa) atau 1-4 mg/kgBB/hari, Dosis lethal lebih besar 240 mg basa
(dewasa) atau 4 mg/kg/BB/hari. Efek sampingnya gangguan gastro-intestinal seperti
mual, muntah, anoreksia, sakit perut terutama bila dalam keadaan kosong. kejangkejang/gangguan kesadaran, gangguan sistem haemopoitik, pada penderita defisiensi

11 | I n f e k s i M a l a r i a

G6 PD terjadi Hemolisis, dan Formulasi obat adalah tablet tidak berlapis gula, 15 mg
-

basa per tablet.


Kina sulfat kerja obat ini adalah skizon darah sangat efektif terhadap penyembuhan
secara klinis dan radikal, gametosit tidak berefek terhadap semua gamet dewasa P.
falciparum dan terhadap spesies lain cukup efektif. Farmakodinamikanya adalah
terikat dengan DNA sehingga pembelahan RNA terganggu yang kemudian
menghambat sintesa protein parasit. Toksisitasnya dosis toksis: 2-8 gr/hari (dewasa),
dosis lethal: lebih besar dari 8 gr/hari (dewasa). Efek sampingnya adalah
Chinchonisme Syndrom dengan keluhan: pusing, sakit kepala, gangguan pendengaran
telinga berdenging (tinuitis dll), mual dan muntah, tremor dan penglihatan kabur.
Formulasi obat tablet (berlapis gula), 200 mg basa per tablet setara 220 mg bentuk
garam. Injeksi: 1 ampul 2 cc kina HCl 25% berisi 500 mg basa (per 1 cc berisi 250

mg basa).
Sulfadoksin Pirimetamin (SP) kerja obat ini adalah skizon darah: sangat efektif
terhadap semua p. falciparum dan kuang efektif terhadap parasit lain dan
menyembuhkan secara radikal. Efeknya bisa lambat bila dipakai dosis tunggal
sehingga harus dikombinasikan dengan obat lain (Pirimakuin). Gametosit: tidak
efektif terhadap gametosit tetapi pirimetamin dapat mensterilkan gametosit.
Farmakodinamikanya primetamin, terikat dengan enzym Dihidrofolat reduktase
sehingga sintesa asam folat terhambat sehingga pembelahan inti parasit terganggu, SP
menghambat PABA ekstraseluler membentuk asam folat merupakan bahan inti sel dan
sitoplasma parasit. Toksisitasnya sulfadoksin, dosis toksis 4-7gr/hari (dewasa); dosis
lethal lebih besar 7 gr/hari (dewasa), pirimetamin, dosis toksis 100-250 mg/hari
(dewasa); dosis lethal lebih besar 250 mg/hari (dewasa). Efek sampingnya: gangguan
gastro-intestinal seperti mual, muntah, pandangan kabur, sakit kepala, pusing
(vertigo), haemolisis, anemia aplastik, trombositopenia pada penderita defisiensi

G6PD.
Tetrasiklin

adalah antibiotic broad spectrum yang paten tetapi lambat dalam

melawan bentuk aseksual dalam darah seluruh spesies Plasmodium. Obat ini juga
aktif melawan stadium intra hepatic primer pada P.falciparum. penggunaan obat ini
digunakan sebagai kobinasi + kina untuk malaria falciparum untuk menurunkan
resiko rekrudensi. Obat ini tidak digunakan tunggal karena bekerja lambat, dan tidak
untuk profilaksi. Efek sampingnya gangguan sistem pencernaan, perubahan kulit, dan
pada pemakaian lama akan menimbulkan peubahan flora usus, pertumbuhan jamur
candida yang berlebihan dan bakteri lain pada vagina.
12 | I n f e k s i M a l a r i a

Klorokuin difosfat/sulfat, 250 mg garam (150 mg basa), dosis 25 mg basa/kg BB


untuk 3 hari, terbagi 10 mg/kg BB hari I dan hari II, 5 mg/kg BB pada hari III. Pada
orang dewasa biasa dipakai dosis 4 tablet hati I & II dan 2 tablet hari III. Dipakai
untuk P.Falciparum maupun P.Vivax.6,7

Secara non farmakologi dengan menggunakan :


-

terapi suportif yaitu menjaga keseimbangan cairan untuk mencegah gangguan ginjal
atau edema paru. Hipoglikemia sering terjadi dan perlu diantisipasi. Peran transfusi
tukar pada malaria belum terbukti dan masih diperdebatkan kegunaannya. Banyak
yang menggunakannya pada pasien dengan menifestasi malaria berat dan jumlah

parasit yang tinggi ( >10% sel darah merah terinfeksi ).


Selain itu juga harus memertahankan fungsi vital,
mencegah adanya trauma yang berlebihan, memperhatikan diuresis dan defekasinya
dan memonitoring temperature, nadi, tensi, dan respirasinya.7

Manifestasi klinis
Penderita dengan komplikasi umumnya digolongkan sebagai malaria berat yang menurut
WHO didefinisikan sebagai infeksi plasmodium falcifarum dengan satu atau lebih komplikasi
sebagai berikut:8

Malaria Serebral
Merupakan komplikasi paling berbahaya dan memberikan mortalitas. Gejala malaria sereblal
dapat ditandai dengan koma yang tidak bisa dibangunkan, bila dinilai dengan GCS(Glasgow
Coma Scale). Sebagian penderita terjadi gangguan kesadaran yang lebih ringan seperti apatis,
somnolen, delirium dan perubahan tingkah laku(penderita tak mau bicara). Diduga terjadi
sumbatan kapiler pembuluh darah otak sehingga terjadi anoksia otak. Sumbatan karena
eritrosit berparasit sulit melalui kapiler karena proses sitoadherensi dan sekuestrasi parasit.
Kadar laktat pada cairan serebrospinal (CSS) meningkat pada malaria serebral yaitu >2.2
mmol/L (1.96 mg/dL) dan dapat dijadikan indikator prognostik: bila kadar laktat >6 mmol/L
memiliki prognosa yang fatal. Biasanya disertai ikterik, gagal ginjal, hipoglikemia, dan
edema paru. Bila terdapat >3 komplikasi organ, maka prognosa kematian >75 %.
13 | I n f e k s i M a l a r i a

Gagal Ginjal Akut (GGA)


Kelainan fungsi ginjal dapat terjadi pre-renal karena dehidrasi (>50%), dan hanya 5-10 %
disebabkan oleh nekrosis tubulus akut. Gangguan fungsi ginjal ini oleh adanya anoksia
karena penurunan aliran darah ke ginjal akibat dari sumbatan kapiler. Apabila berat jenis (BJ)
urin <1.01 menunjukkan dugaan nekrosis tubulus akut; sedang urin yang pekat dengan BJ
>1.05, rasio urin:darah > 4:1, natrium urin < 20 mmol/L menunjukkan dehidrasi.Secara klinis
terjadi oligouria atau poliuria. Beberapa faktor risiko terjadinya GGA ialah hiperparasitemia,
hipotensi, ikterus, hemoglobinuria.
Kelainan Hati (Malaria Biliosa)
Jaundice atau ikterus sering dijumpai pada infeksi malaria falcifarum.
Hipoglikemia
Hal ini karena kebutuhan metabolic dari parasit telah menghabiskan cadangan glikogen
dalam hati.Hipoglikemia dapat tanpa gejala pada penderita dengan kesadaran umum yang
berat ataupun penurunan kesadaran.
Malaria Haemoglobinuria (Black Water Fever)
Adalah suatu sindrom dengan dejala karakteristik serangan akut, menggigil, demam,
hemolisis intravascular, hemoglobinemia, hemeglobinuria dan gagal ginjal. Biasanya terjadi
sebagai komplikasi dari komplikasi plasmodium falcifarum yang berulang-ulang pada organ
non-imun atau dengan pengobatan kina yang tidak adequat.
Malaria Algid
Terjadi gagal sirkulasi atau syok, tekanan sistolik <70 mmHg, disertai gambaran klinik
berupa perasaan dingin dan basah pada kulit, temperatul rectal tinggi, kulit tidak elastic,
pucat, pernafasan dangkal,nadi cepat, tekanan darah turun dan sering tekanan sistolik tak
terukut ddan nadi yang normal.
Kecenderungan Perdarahan
Perdarahan spontan berupa perdarahan gusi, episteksis, perdarahan dibawah kulit berupa
petekie, purpura, hepatoma dapat terjadi sebagai komplikasi malaria tropikana.
Edema Paru
14 | I n f e k s i M a l a r i a

Edema paru merupakan komplikasi paling berat dari malaria tropika dan sering menyebabkan
kematian. Edema paru dapat terjadi karena kelebihan cairan atau adult respiratory distress
syndrome. Beberapa factor yang mempermudah timbulnya edema paru ialah kelebihan
cairan, kehamilan, malaria sereblal, hiperparasitemi, hipotensi, asidosis dan uremi.
Manifestasi gangguan Gastro-Intestinal
Gejala gastrointestinal dijumpai pada malaria berupa keluhan tak enak diperut, mual, muntah,
kolik, diare atau konstipasi. Kadang lebih berat berupa billious remittent fever (gejala gastrointestinal dengan hepatomegali), ikterik, dan gagal ginjal, malaria disenteri menyerupai
disenteri basiler, dan malaria kolera yang jarang pada plasmodium falcifarum berupa diare
cair yang banyak, muntah, kram otot dan dehidrasi.
Hiponatremia
Terjadinya hiponatremia disebabkan karena kehilangan cairan dan garam melalui muntah dan
mencret ataupun terjadinya sindroma abnormalitas hormon anti-diuretik (SAHAD).
Gangguan Metabolik Lainnya
Asidosis metabolic ditandai dengan hipervelensi(pernafasan kussmaul), penignkatan asam
laktat, pH turun dan penigkatan bikarbonat. Asidosi biasanya disertai edema paru,
hiperparasitemia, syok, gagal ginjal dan hipoglekimia.8
Tidakan Preventif
Pencegahan tanpa obat, yaitu dengan menghindari gigitan nyamuk dengan cara :9
1. Menggunakan kelambu pada waktu tidur, lebih baik lagi dengan kelambu
berinsektisida.
2. Mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk.
3. Menggunakan pembasmi nyamuk, baik bakar, semprot maupun lainnya.
4. Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi.
5. Letak tempat tinggal diusahakan jauh dari kandang ternak.

15 | I n f e k s i M a l a r i a

6. Mencegah penderita malaria dan gigitan nyamuk agar infeksi tidak menyebar.
7. Membersihkan tempat hinggap/istirahat nyamuk dan memberantas sarang nyamuk.
8. Hindari keadaan rumah yang lembab, gelap, kotor dan pakaian yang bergantungan
serta genangan air.
9. Membunuh jentik nyamuk dengan menyemprotkan obat anti larva (bubuk abate) pada
genangan air atau menebarkan ikan atau hewan (cyclops) pemakan jentik.
10. Melestarikan hutan bakau agar nyamuk tidak berkembang biak di rawa payau
sepanjang pantai.
Pencegahan dengan obat:
Obat yang biasa digunakan adalah klorokuin difosfat, karena obat ini efektif terhadap semua
jenis parasit malaria. Aturan pemakaiannya adalah :9

Pendatang sementara ke daerah endemis, dosis klorokuin adalah 300 mg/minggu, 1


minggu sebelum berangkat selama berada di lokasi sampai 4 minggu setelah kembali.

Penduduk daerah endemis dan penduduk baru yang akan menetap tinggal, dosis
klorokuin 300 mg/minggu. Obat hanya diminum selama 12 minggu (3 bulan).

Semua penderita demam di daerah endemis diberikan klorokuin dosis tunggal 600 mg
jika daerah itu plasmodium falciparum sudah resisten terhadap klorokuin
ditambahkan primakuin sebanyak tiga tablet.9

Prognosis
Prognosis pada malaria berat tergantung pada :

16 | I n f e k s i M a l a r i a

(1) Kecepatan dan ketepatan diagnosis serta pengobatan. Makin cepat dan tepat dalam
menegakkan diagnosis dan pengobatannya akan memperbaiki prognosisnya serta
memperkecil angka kematiannya.
(2) Kepadatan parasit pada pemeriksaan hitung parasit semakin padat jumlahnya yang
didapat, semakin buruk prognosis, terlebih lagi bila didapatkan betuk skizon dalam
pemeriksaan darah di tepinya.
(3) Kegagalan fungsi organ dapat terjadi pada malaria berat terutama organ-organ vital.
Semakin sedikit organ vitasl yang terganngu dan mengalami kegagalan dalam
fungsinya, semakin baik prognosisnya.9,10
Mortalitas dengan gangguan 3 fungsi organ adalah 50%.

Mortalitas dengan gangguan 4 atau lebih fungsi organ adalah 75%.

Adanya korelasi antara kepadatan parasit dengan mortalitas yaitu:

Kepadatan parasit <100.000/L, maka mortalitas <1%.

Kepadatan parasit >100.000/L, maka mortalitas >1%.

Kepadatan parasit >500.000/L, maka mortalitas >5%.4,9

Kesimpulan
Pasien laki-laki 30 tahun yang mengalami demam sejak dua hari lalu. Demam sempat hilang,
lalu muncul lagi, disertai dengan menggigil, berkeringat, sakit kepala, dan mual. Setelah
berobat dan diberikan obat panas, demam tidak turun. Pasien baru pindah satu bulan ini ke
Papua. Dari pemeriksaan fisik didapatkan suhu tubuh 390C, pernafasan 18x/menit, detak
jantung 98x/menit, dan tekanan darah 120/80 mmHg. Pasien ini didiagnosis menderita
malaria.

Daftar Pustaka

17 | I n f e k s i M a l a r i a

1. Miller WC, Juliano JJ. Malaria. In : Runge MS, Greganti MA, Netter FH, editors.
Netters internal medicine. 2nd ed. Philadelphia : Saunders Elsevier ; 2009.p.755-61.
2. Harijanto PN. Malaria. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M,
Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit jilid III. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing;
2009.h.1754-69.
3. Bickley LS.Buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan. Edisi ke8.Jakarta:EGC;2009.h.1-19
4. Harijanto PN.Malaria.Dalam :Ilmu penyakit dalam jilid 1. Edisi ke-5.Jakarta:interna
Publishing;2009.h.2813-25
5. Sudoyono A W, Setiyohadi B, Alwi I dkk. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid III.
Edisi V. Jakarta: Interna publishing; 2009.h. 2813-33.
6. Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi, Elysabeth.Farmakologi dan terapi. Edisi ke5.Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;2008.h.562-67,694-96
7. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di Indonesia.
Jakarta, 2006; Hal:1-12, 15-23, 67-68.
8. Sudoyo, Aru W, dkk. 2006. Malaria, buku ajar ilmu penyakit dalam, jilid III. Jakarta :
FKUI.hal: 1732
9. Widoyono. Penyakit tropis epidemiologi, penularan, pencegahan dan pemberantasan.
Jakarta: Erlangga; 2008. h. 34-6, 59-63, 111-6, 124-5.
10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.Pencegahan dan pemberantasan malaria di
Indonesia.Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia;2006

18 | I n f e k s i M a l a r i a