Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bangunan-bangunan yang digunakan oleh manusia tidak dapat terlepas


dari masalah masalah lingkungan seperti hujan, angin, panas, dingin, lembab,
polusi dan sebagainya. Hal ini menyebabkan sebuah bangunan memerlukan suatu
sistem utilitas yang dapat berfungsi dalam pelayanan suatu bangunan.

Dalam memilih suatu sistem utilitas yang akan digunakan, banyak faktor
yang harus diperhatikan antara lain faktor lingkungan, fungsi bangunan, kapasitas
bangunan dan factor lainnya sehingga dapat menentukan sistem utilitas yang tepat
untuk menciptakan keamanan dan kenyaman bagi pengguna bangunan tersebut.

Dalam era modern ini, terutama di perkotaan dan daerah yang memiliki
curah hujan yang rendah, sistem utilitas pengkondisian udara (Air Conditioner)
seperti sudah menjadi fasilitas wajib yang harus ada di dalam setiap ruangan, dari
ruangan yang memiliki ukuran kecil hingga ruangan yang memiliki bentang yang
lebar. Udara panas dan cuaca yang membuat gerah menjadi penyebab utama
penggunaan pengkondisian udara (Air Conditioner) tersebut. Udara panas
menyebabkan rasa tidak nyaman untuk beraktifitas. Kondisi ini akan semakin
parah apabila orang bekerja atau beraktifitas di dalam ruang yang tertutup dengan
sirkulasi udara yang terbatas. Udara dengan kelembaban tinggi dapat
menimbulkan rasa tidak nyaman.

Maka pada makalah kali ini, penulis akan membahas sistem utilitas
pengkondisian udara (AC Central). Penulis akan membahas referensi terlebih
dahulu, berupa teori dari berbagai sumber, kemudian membahas satu objek studi,
yaitu Hotel Sheraton yang terletak di Kuta, Bali.

1
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan


sebagai berikut.

1. Bagaimanakah sistem AC pada Hotel Sheraton?


2. Apa saja komponen-komponen AC Central pada Hotel Sheraton?
3. Bagaimanakah difuser pada ruangan-ruangan di Hotel Sheraton?
1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah maka didapat beberapa tujuan
penulisan sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui sistem AC pada Hotel Sheraton.


2. Untuk mengetahui komponen-komponen AC Central pada Hotel Sheraton.
3. Untuk mengetahui difuser pada ruangan-ruangan di Hotel Sheraton.
1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Untuk Mahasiswa


a. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai Sistem AC
Central dalam suatu bangunan.
b. Meningkatkan kemampuan dalam membuat makalah dan
kerjasama kelompok.

1.4.2 Untuk Dosen


a. Memberikan tambahan wawasan kepada Bapak/Ibu mengenai
Sistem AC Central dalam suatu bangunan.
b. Membantu Bapak/Ibu dosen untuk mengetahui tingkat
kemampuan mahasiswa dalam membuat makalah.

2
BAB II
METODE DAN OBJEK

2.1 Metode

Metode yang digunakan dalam proses penyusunan laporan ini adalah


sebagai berikut.
2.1.1 Metode Pengumpulan Data
1. Metode Observasi
Metode observasi ini dilakukan dengan mengunjungi objek secara
langsung ke lokasi
dengan tujuan untuk mendapatkan data nyata dari bangunan yang diamati
ataupun dari gambar bestek berupa komponen, kapasitas dan sistem
utilitas pada bangunan tersebut.
2. Metode Wawancara
Metode wawancara ini dilakukan dengan melakukan tanya-jawab kepada
penghuni/pemilik rumah serta arsitek yang merancang bangunan tersebut.
3. Metode Kepustakaan
Metode kepustakaan ini dilakukan dengan cara membaca buku dan
mencari artikel di
internet terkait dengan sains bangunan dan utilitas, khususnya penghawaan
alami pada rumah tinggal.
2.1.2 Metode Analisis Laporan
Dalam analisis data ini menggunakan metode deskriptif-kuantitatif-kualitatif.
Metode ini merupakan gabungan dari metode deskriptif, metode kuantitatif dan
metode kualitatif.
1. Metode Deskriptif
Metode deskriptif adalah suatu bentuk metode yang ditujukan untuk
mendeskripsikan objek-objek yang ada, baik objek alamiah maupun objek
buatan manusia. Itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan,
hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara satu dengan lainnya
(Sukmadinata, 2006:72). Metode deskriptif merupakan metode yang

3
berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya
kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang
sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang
kecenderungan yang tengah berlangsung. Furchan (2004:447) menjelaskan
bahwa metode deskriptif adalah metode yang dirancang untuk
memperoleh informasi tentang status suatu gejala saat penelitian
dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan, dalam metode deskriptif tidak ada
perlakuan yang diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis
sebagaimana yang terdapat pada penelitian eksperimen.
2. Metode Kualitatif
Para ahli metodologi seperti Kirk dan Miller (1986), mendefinisikan
metode kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial
yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam
kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam
bahasanya dan dalam peristilahannya. Sedangkan menurut Bogdan dan
Taylor (1975) dalam buku Moleong (2004:3) mengemukakan metode
kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat
diamati.
3. Metode Kuantitatif
Metode kuantitatif adalah metode ilmiah yang sistematis terhadap bagian-
bagian dan objek serta hubungan-hubungannya. Tujuan metode kuantitatif
adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-
teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan objek. Karakteristik
Penelitian Deskriptif Metode deskriptif mempunyai karakteristik-
karakteristik seperti yang dikemukakan Furchan (2004) bahwa (1)
penelitian deskriptif cenderung menggambarkan sesuatu yang apa adanya
dengan cara menelaah secara teratur, mengutamakan obyektivitas dan
dilakukan secara cermat, (2) tidak adanya perlakuan yang diberikan atau
dikendalikan, dan (3) tidak adanya uji hipotesis.

4
2.2 Identitas Objek

2.2.1 Identitas Bangunan Sheraton Hotel

Sheraton Hotel adalah sebuah bangunan berlima lantai yang difungsikan


sebagai hotel atau tempat penginapan, tempat pertemuan, dan lainnya yang
berlokasi di Jalan Pantai Kuta, Badung yang letaknya tepat di depan pantai kuta.
Pemilik bangunan ini adalah (Alm.) Bapak Pujiadi yang dibangun pada tahun
1983. Sheraton Hotel dipilih karena memenuhi syarat- syarat dalam sistem utilitas
pada objek observasi tugas mata uliah Sains Bangunan & Utilitas 2 yang pada
makalah ini akan dibahas sistem transportasi vertikal yakni lift dan eskalator.

2.2.2 Lokasi Objek

Sheraton Hotel ini berlokasi di Jalan Pantai Kuta

Gambar 3.1 Lokasi Sheraton Hotel via Google Map


Sumber: google map

5
Gambar 3.2 Foto dari bangunan Hotel Sheraton Kuta

Sumber: http://bali.jayakartahotelsresorts.com/

6
BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Pengertian AC Central

Kalau kita jalan-jalan ke mall atau ke rumah sakit atau gedung-gedung


perkantoran, kita dapat merasakan hawa dingin dari ruangan tersebut akan tetapi
kita tidak melihat AC yang terpasang di sekitarnya. Dan setelah kita perhatikan
bahwa di langit-langit ruangan tersebut terdapat lubang udara / diffuser yang
menyemburkan udara dingin. Sistem udara yang kita lihat itulah yang dimaksud
dengan sistem AC Central.
AC Central yaitu suatu sistem AC yang mana proses pendinginan udara
terpusat pada satu lokasi yang kemudian didistribusikan/dialirkan ke semua arah
atau lokasi (satu Outdoor dengan beberapa indoor).

3.2 Macam Sistem AC Central


3.2.1 Sistem Air
Pada sistem air, media pembawa dingin yang berjalan dalam pipa
distribusi adalah air/water. Sedangkan pada sistem freon, media yang dipakai
untuk membawa dingin adalah freon. Sistem air memiliki kelebihan dapat
digunakan dalam skala yang besar/gedung bertingkat atau mall yang berukuran
besar.
Sistem AC Central dengan menggunakan air adalah sebuah sistem ac
central yang menggunakan media air sebagai pembawa dinginnya. Biasanya pada
skala kecil, unit indoor yang digunakannya adalah fan coil unit. Sedangkan pada
skala yang besar biasanya menggunakan AHU/Air Handling Unit. Untuk
mendinginkan air yang akan di distribusikan, maka digunakan Chiller. Chiller
bertugas memindahkan panas yang di dapat dari sirkulasi di dalam ruangan ke
sistem sirkulasi luar gedung. Lalu air yang panas itu kemudian di dinginkan
dengan menggunakan cooling tower.

7
Sistem AC Central yang menggunakan air ini biasanya lebih cocok
digunakan pada gedung bertingkat, mall yang besar, stadium, pabrik, bandara,
terminal kereta dan lain-lain. Kelebihan dari sistem AC Central yang
menggunakan media air ini adalah kemampuannya membawa kalor dari satu titik
ke titik yang lain lebih tahan lama dari menggunakan system freon.

3.2.2 Sistem Freon


Sistem freon hanya dapat dipakai dalam sistem yang tidak terlalu
besar/jauh jaraknya antara unit indoor dan outdoor. Pada sistem freon, unit AC
Central yang dikenal biasa disebut dengan Split Duct. Prinsip kerjanya hampir
sama dengan sistem ac split biasa, akan tetapi lubang udaranya menggunakan
sistem ducting/pipa dan pada tiap-tiap keluaran udaranya menggunakan diffuser.
Untuk mengatur besar kecilnya udara yang keluar digunakan damper.

Gambar 1 Split Duct

Sistem ini cocok digunakan untuk keperluan mini market, klinik,


sekolah/universitas, ruangan kantor dan lain-lain. Kelebihan daripada sistem ac
central split duct ini adalah pendistribusian dinginnya merata pada setiap ruangan
dan komponen yang dipakai tidak terlalu banyak karena hanya menggunakan unit
indoor, condensing unit/outdoor ac, dan ducting ac/saluran ac.

3.3 Komponen AC Central


3.3.1 Chiller (Unit Pendingin)
Chiller adalah mesin refrigerasi yang berfungsi untuk mendinginkan air
pada sisi evaporatornya. Air dingin yang dihasilkan selanjutnya didistribusikan ke
mesin penukar kalor (FCU/Fan Coil Unit).
Pada unit pendingin atau chiller yang menganut sistem kompresi uap,
komponennya terdiri dari kompresor, kondensor, alat ekspansi dan evaporator.

8
Pada chiller biasanya tipe kondensornya adalah water-cooled condenser. Air
untuk mendinginkan kondensor dialirkan melalui pipa yang kemudian outputnya
didinginkan kembali secara evaporative cooling pada cooling tower.
Pada komponen evaporator, jika sistemnya indirect cooling maka fluida
yang didinginkan tidak langsung udara melainkan air yang dialirkan melalui
sistem pemipaan. Air yang mengalami pendinginan pada evaporator dialirkan
menuju sistem penanganan udara (AHU) menuju koil pendingin. Jenis chiller
didasarkan pada jenis kompressornya antara lain Reciprocating, Screw,
Centrifugal. Sedangkan jenis chiller didasarkan pada jenis cara pendinginan
kondensornya antara lain Air Cooler dan Water Cooler.

Gambar 2 Chiller AC Central

3.3.2 AHU (Air Handling Unit)/Unit Penanganan Udara

AHU adalah suatu mesin penukar kalor, dimana udara panas dari ruangan
dihembuskan melewati coil pendingin didalam AHU sehingga menjadi udara
dingin yang selanjutnya didistribusikan ke ruangan.
Prinsip kerja secara sederhana pada unit penanganan udara ini adalah
menyedot udara dari ruangan (return air) yang kemudian dicampur dengan udara
segar dari lingkungan (fresh air) dengan komposisi yang bisa diubah-ubah sesuai
keinginan. Campuran udara tersebut masuk menuju AHU melewati filter, fan
sentrifugal dan koil pendingin. Setelah itu udara yang telah mengalami penurunan
temperature didistribusikan secara merata ke setiap ruangan melewati saluran
udara (ducting) yang telah dirancang terlebih dahulu sehingga lokasi yang jauh

9
sekalipun bisa terjangkau. Komponen-komponen apa saja yang ada di dalam
setiap AHU akan memiliki :
1. Filter merupakan penyaring udara dari kotoran, debu, atau partikel-partikel
lainnya sehingga diharapkan udara yang dihasilkan lebih bersih. Filter ini
dibedakan berdasarkan kelas-kelasnya.
2. Centrifugal fan merupakan kipas/blower sentrifugal yang berfungsi untuk
mendistribusikan udara melewati ducting menuju ruangan-ruangan.
3. Koil pendingin, merupakan komponen yang berfungsi menurunkan
temperatur udara.

Beberapa kelemahan dari sistem ini adalah jika satu komponen mengalami
kerusakan dan sistem AC Central tidak hidup maka semua ruangan tidak akan
merasakan udara sejuk. Selain itu jika temperatur udara terlalu rendah atau dingin
maka pengaturannya harus padAtermostat di koil pendingin pada komponen
AHU.

Gambar 3 AHU (Air Handling Unit)

3.3.3 Cooling Tower (Khusus untuk Chiller jenis Water Cooler)


Salah satu komponen utama pada AC Central selain chiller, AHU, dan
ducting adalah cooling tower atau menara pendingin. Fungsi utamanya sebagai
alat untuk mendinginkan air panas dari kondensor dengan cara dikontakkan
langsung dengan udara secara konveksi paksa menggunakan fan/kipas. Konstruksi
cooling tower terdiri dari sistem pemipaan dengan banyak nozzle, fan/blower, bak
penampung, casing dan sebagainya.

10
Proses yang terjadi pada chiller atau unit pendingin untuk sistem AC
Central dengan sistem kompresi uap terdiri dari proses kompresi, kondensasi,
ekspansi dan evaporasi. Proses ini terjadi dalam satu siklus tertutup yang
menggunakan fluida kerja berupa refrigerant yang mengalir dalam sistem
pemipaan yang terhubung dari satu komponen ke komponen lainnya. Kondensor
pada chiller biasanya berbentuk water-cooled condenser yang menggunakan air
untuk proses pendinginan refrigeran. Secara umum bentuk konstruksinya berupa
shell & tube dimana air mengalir memasuki shell/ tabung dan uap refrigeran
superheat mengalir dalam pipa yang berada di dalam tabung sehingga terjadi
proses pertukaran kalor. Uap refrigerant superheat berubah fasa menjadi cair yang
memiliki tekanan tinggi mengalir menuju alat ekspansi, sementara air yang keluar
memiliki temperatur yang lebih tinggi.
Karena air ini akan digunakan lagi untuk proses pendinginan kondensor
maka tentu saja temperaturnya harus diturunkan kembali atau didinginkan pada
cooling tower. Langkah pertama adalah memompa air panas tersebut menuju
cooling tower melewati system pemipaan yang pada ujungnya memiliki banyak
nozzle untuk tahap spraying atau semburan. Air panas yang keluar dari nozzle
secara langsung sementara itu udara atmosfer dialirkan melalui atau berlawanan
dengan arah jatuhnya air panas karena pengaruh fan/blower yang terpasang pada
cooling tower. Untuk mengungkapkan 1 kg air diperlukan kira-kira 600 kcl
dengan mengeluarkan kalor laten, dengan mengungkapkan sebagian dari air maka
bagian besar dari air pendingin dapat didinginkan, jdi misalnya 1% dari air dapat
di uapkan, air dapat diturunkan temperaturnya sebanyak 6oC dengan menara
pendingin. Sistem ini sangat efektif dalam proses pendinginan air karena suhu
kondensasinya sangat rendah mendekati suhu wetbulb udara. Air yang sudah
mengalami penurunan temperature ditampung dalam bak/basin untuk kemudian
dipompa kembali menuju kondensor yang berada di dalam chiller. Pada cooling
tower juga dipasang katup make up water yang dihubungkan ke sumber air
terdekat untuk menambah kapasitas air pendingin jika terjadi kehilangan air ketika
proses evaporative cooling tersebut.
Prestasi menara pendingin biasanya dinyatakan dalam range dan
approach, dimana range adalah penurunan suhu air yang melewati cooling

11
tower dan approach adalah selisih antara udara suhu udara wet-bulb dan suhu air
yang keluar. Perpindahan kalor yang terjadi pada cooling tower berlangsung dari
air ke udara tak jenuh. Ada dua penyebab terjadinya perpindahan kalor yaitu
perbedaan suhu dan perbedaan tekanan parsial antara air dan udara. Suhu
pengembunan yang rendah pada cooling tower membuat sistem ini lebih hemat
energi jika digunakan untuk sistem refrigerasi pada skala besar seperti chiller.
Salah satu kekurangannya adalah bahwa sistem ini tidak praktis karena jarak yang
jauh antara chiller dan cooling tower sehingga memerlukan sistem pemipaan yang
relative panjang. Selain itu juga biaya perawatan cooling tower cukup tinggi
dibandingkan sistem lainnya. Kapasitas menara pendingin 1 ton refrigrasi di
standarisasikan menurut The Japanese Cooling tower Industry Association adalah
sebagai berikut.

1. 1 ton refrigrasi 390 kcal/jam pada kondisi :


a. temperature bola basah 27o C
b. temperature air masuk 37o C
c. temperature air keluar 32o C
2. Volume aliran air 13 liter/menit

Gambar 4 Cooling Tower

3.3.4 Pompa Sirkulasi

12
Terdapat dua jenis pompa sirkulasi, yaitu (1) Pompa sirkulasi air dingin
(Chilled Water Pump) berfungsi mensirkulasikan air dingin dari Chiller ke Koil
pendingin AHU/FCU dan (2) Pompa Sirkulasi air pendingin (Condenser Water
Pump). Pompa ini hanya untuk Chiller jenis Water Cooled dan berfungsi untuk
mensirkulasikan air pendingin dari kondensor Chiller ke Cooling Tower dan
seterusnya.

3.4 Kelebihan dan Kekurangan AC Central


Kelebihan AC Central antara lain : (1) Kebisingan dan getaran mesin
pendingin hamper tidak mempengaruhi ruangan, (2) Perbaikan dan pemeliharaan
lebih mudah, (3) Seluruh beban pendingin semua ruangan dalam bangunan dapat
dilayani oleh satu system (unit) saja, (4) Kelembapan udara dapat diatur. Adapun
kekurangan AC Central antara lain : (1) Harga mula cukup tinggi, (2) Biaya
operasional yang cukup mahal, (3) Unit sentral tidak dapat dipakai untuk rumah
sakit, karena kuman- kuman dari ruangan untuk penderita penyakit menular
(melalui saluran udara balik) dapat disebarkan ke ruangan-ruangan lain, (4) Jika
satu komponen mengalami kerusakan dan sistem AC Central tidak hidup, (5) Jika
temperatur udara terlalu rendah atau dingin maka pengaturannya harus pada
termostat di koil pendingin pada komponen AHU.

13
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Sistem AC pada Hotel Sheraton


Hotel Sheraton menggunakan sistem AC Central, dimana proses
pendinginan udara terpusat pada satu lokasi (di ruang chiller yang berada di
bawah tanah/lower ground) dan kemudian didistribusikan/dialirkan ke lokasi yang
diinginkan, seperti menuju kantor (office), restaurant, kamar hotel, ruang meeting,
maupun dapur. AC Central pada Hotel Sheraton ini menggunakan sistem air dan
sistem freon. Pada sistem air, media pembawa dingin yang berjalan dalam pipa
distribusi adalah air/water. Biasanya pada skala kecil, unit indoor yang
digunakannya adalah FCU (Fan Coil Unit). Sedangkan pada skala yang besar
biasanya menggunakan AHU (Air Handling Unit). Untuk mendinginkan air yang
akan di distribusikan, maka digunakan Chiller. Chiller bertugas memindahkan
panas yang didapat dari sirkulasi di dalam ruangan ke sistem sirkulasi luar
gedung. Lalu air yang panas itu kemudian didinginkan dengan menggunakan
cooling tower.
Sedangkan pada sistem freon, media yang dipakai untuk membawa dingin
adalah freon. Pada sistem freon, unit AC Central yang dikenal biasa disebut
dengan Split Duct. Prinsip kerjanya hampir sama dengan sistem ac split biasa,
akan tetapi lubang udaranya menggunakan sistem ducting/pipa dan pada tiap-tiap
keluaran udaranya menggunakan diffuser. Untuk mengatur besar kecilnya udara
yang keluar digunakan damper.

14
Gambar 5 Sistem AC Central

15
4.2 Komponen-Komponen AC Central pada Hotel Sheraton
4.2.1 Chiller (Unit Pendingin)
Pada Hotel Sheraton terdapat 3 Chiller yang berada di ruang Chiller pada
bagian bawah tanah. Chiller adalah mesin refrigerasi yang berfungsi untuk
mendinginkan air (dari 12oC menjadi 6oC) pada sisi evaporatornya. Air dingin
yang dihasilkan selanjutnya didistribusikan ke mesin penukar kalor FCU/Fan Coil
Unit untuk ke kamar-kamar hotel maupun ruangan dalam lingkup yang kecil
(mikro) dan AHU/Air Handling Unit untuk ruang lingkup yang lebih luas
(makro).
Pada unit pendingin atau chiller yang menganut sistem kompresi uap,
komponennya terdiri dari kompresor, kondensor, alat ekspansi dan evaporator.
Pada chiller biasanya tipe kondensornya adalah water-cooled condenser. Air yang
ada di evaporator mendinginkan air yang ada di dalam pipa (pipa chiller water
supply). Kemudian, air keluar dan dipompa dengan pompa chiller menuju AHU
maupun FCU. Pada AHU maupun FCU terdapat coil yang berfungsi mengambil
dingin dari evaporator, kemudian dikeluarkan ke masing-masing ruangan dengan
menggunakan blower. Di coil, terjadi penyerapan panas dan kemudian dibawa lagi
ke evaporator melalui pipa chiller water return (6oC menjadi 12oC). Adapun
untuk mendinginkan air kembali dari condensor, air (dengan suhu 28 oC 30oC)
dipompa naik ke cooling tower dan ditampung di sump. Pada cooling tower panas
dibuang, dan air dengan suhu 25oC dibawa kembali menuju condensor,
didinginkan di refrigator system menjadi 6oC dan kembali dibawa ke evaporator.

16
Gambar 6 Chiller Hotel Sheraton

4.2.2 AHU dan FCU


AHU (Air Handling Unit) adalah suatu mesin penukar kalor, dimana udara
panas dari ruangan dihembuskan melewati coil pendingin didalam AHU sehingga
menjadi udara dingin yang selanjutnya didistribusikan ke ruangan. Biasanya
ruangan yang digunakan adalah ruangan dalam skala besar.
Prinsip kerja secara sederhana pada unit penanganan udara ini adalah
menyedot udara dari ruangan (return air) yang kemudian dicampur dengan udara
segar dari lingkungan (fresh air) dengan komposisi yang bisa diubah-ubah sesuai
keinginan. Campuran udara tersebut masuk menuju AHU melewati filter, fan
sentrifugal dan koil pendingin. Setelah itu udara yang telah mengalami penurunan
temperature didistribusikan secara merata ke setiap ruangan melewati saluran
udara (ducting) yang telah dirancang terlebih dahulu sehingga lokasi yang jauh
sekalipun bisa terjangkau.

17
Gambar 7 Ducting

Komponen-komponen apa saja yang ada di dalam setiap AHU akan memiliki :
1. Filter merupakan penyaring udara dari kotoran, debu, atau partikel-partikel
lainnya sehingga diharapkan udara yang dihasilkan lebih bersih. Filter ini
dibedakan berdasarkan kelas-kelasnya.
2. Centrifugal fan merupakan kipas/blower sentrifugal yang berfungsi untuk
mendistribusikan udara melewati ducting menuju ruangan-ruangan.
3. Koil pendingin, merupakan komponen yang berfungsi menurunkan temperatur
udara. Beberapa kelemahan dari sistem ini adalah jika satu komponen
mengalami kerusakan dan sistem AC Central tidak hidup maka semua ruangan
tidak akan merasakan udara sejuk. Selain itu jika temperatur udara terlalu
rendah atau dingin maka pengaturannya harus pada termostat di koil pendingin
pada komponen AHU.

18
Gambar 8 AHU

Sedangkan FCU memiliki prinsip kerja yang sama dengan AHU, hanya
saja digunakan pada ruangan dengan skala kecil, seperti kamar-kamar hotel
maupun ruang kantor pribadi.

Gambar 9 FCU

4.2.3 Cooling Tower


Cooling Tower memiliki fungsi utama sebagai alat untuk mendinginkan air
panas dari kondensor dengan cara dikontakkan langsung dengan udara secara
konveksi paksa menggunakan fan/kipas. Konstruksi cooling tower terdiri dari
sistem pemipaan dengan banyak nozzle, fan/blower, bak penampung, casing dan
sebagainya.
Langkah pertama pembawaan air dari kondensor menuju cooling tower
adalah memompa air panas tersebutmenuju cooling tower melewati sistem
pemipaan yang pada ujungnya memiliki banyak nozzle untuk tahap spraying atau
semburan. Air panas yang keluar dari nozzle secara langsung sementara itu udara
atmosfer dialirkan melalui atau berlawanan dengan arah jatuhnya air panas karena
pengaruh fan/blower yang terpasang pada cooling tower. Untuk mengungkapkan 1

19
kg air diperlukan kira-kira 600 kcl dengan mengeluarkan kalor laten, dengan
mengungkapkan sebagian dari air maka bagian besar dari air pendingin dapat
didinginkan, jdi misalnya 1% dari air dapat di uapkan, air dapat diturunkan
temperaturnya sebanyak 6o C dengan menara pendingin. Sistem ini sangat efektif
dalam proses pendinginan air karena suhu kondensasinya sangat rendah
mendekati suhu wet-bulb udara. Air yang sudah mengalami penurunan
temperature ditampung dalam bak/basin untuk kemudian dipompa kembali
menuju kondensor yang berada di dalam chiller. Pada cooling tower juga dipasang
katup make up water yang dihubungkan ke sumber air terdekat untuk menambah
kapasitas air pendingin jika terjadi kehilangan air ketika proses evaporative
cooling tersebut.
Prestasi menara pendingin biasanya dinyatakan dalam range dan
approach, dimana range adalah penurunan suhu air yang melewati cooling
tower dan approach adalah selisih antara udara suhu udara wet-bulb dan suhu air
yang keluar. Perpindahan kalor yang terjadi pada cooling tower berlangsung dari
air ke udara tak jenuh. Ada dua penyebab terjadinya perpindahan kalor yaitu
perbedaan suhu dan perbedaan tekanan parsial antara air dan udara. Suhu
pengembunan yang rendah pada cooling tower membuat sistem ini lebih hemat
energi jika digunakan untuk sistem refrigerasi pada skala besar seperti chiller.
Salah satu kekurangannya adalah bahwa sistem ini tidak praktis karena jarak yang
jauh antara chiller dan cooling tower sehingga memerlukan sistem pemipaan yang
relative panjang. Selain itu juga biaya perawatan cooling tower cukup tinggi
dibandingkan sistem lainnya.

4.2.4 Pompa Sirkulasi


Terdapat dua jenis pompa sirkulasi, yaitu (1) Pompa sirkulasi air dingin
(Chilled Water Pump) berfungsi mensirkulasikan air dingin dari Chiller ke Koil
pendingin AHU/FCU dan (2) Pompa Sirkulasi air pendingin (Condenser Water
Pump). Pompa ini hanya untuk Chiller jenis Water Cooled dan berfungsi untuk
mensirkulasikan air pendingin dari kondensor Chiller ke Cooling Tower dan
seterusnya

4.3 Difuser pada ruangan di Hotel Sheraton

20
4.3.1 Ruang Meeting

Gambar 10 Ruang Meeting

Gambar 11 Difuser Ruang Meeting

4.3.2 Kantor Pribadi

Gambar 12 Kantor Pribadi

21
Gambar 13 Difuser pada Kantor Pribadi

4.3.3 Restaurant

Gambar 14 Restaurant

Gambar 15 Difuser pada Restaurant

22
4.3.4 Kamar Hotel

23
Gambar 17 Kamar Hotel

Gambar 18 Difuser pada Kamar Hotel

Gambar 19 Termostat

BAB V
PENUTUP

24
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditari kesimpulan sebagai berikut.
1. Hotel Sheraton menggunakan sistem AC Central, dimana proses pendinginan
udara terpusat pada satu lokasi (di ruang chiller yang berada di bawah
tanah/lower ground) dan kemudian didistribusikan/dialirkan ke lokasi yang
diinginkan, seperti menuju kantor (office), restaurant, kamar hotel, ruang
meeting, maupun dapur. Dimana sistem AC Central ini menggunakan sistem
air dan sistem freon.
2. Hotel Sheraton memiliki komponen AC Central yang lengkap (memiliki 3
chiller, AHU, ACU, Cooling Tower, Pompa Sirkulasi dan Ducting) dan dalam
kondisi yang baik.
3. Terdapat 2 jenis difuser pada Hotel Sheraton, yaitu yang bentuknya persegi dan
yang memanjang.

5.2 Saran
Berdasarkan uraian-uraian dari sistem utilitas bangunan (AC Central),
penulis dapat memberikan saran-saran sebagai berikut.
1. Kepada mahasiswa, hendaknya mempertimbangkan keseluruhan aspek dalam
merencanakan sistem utilitas dalam sebuah bangunan agar sistem yang dipilih
mampu menyokong kebutuhan bangunan dengan maksimal tanpa ada
permasalahan yang dapat merugikan civitas maupun lingkungan.
2. Kepada masyarakat umum, hendaknya juga ikut berpartisipasi dalam
merencanakan ataupun memantau pelaksanaan di lapangan dalam sebuah
bangunan agar sistem yang terpakai aman bagi kehidupan bersama.
3. Kepada Pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang diharapkan untuk
memantau secara ketat dan tegas dalam pantauan mengenai sistem utilitas
dalam bangunan maupun yang baru bersifat perencanaan. Karena tidak semua
orang dapat melaksanakan sistem utilitas yang baik sehingga pemerintah dapat
membantu untuk mencari solusi yang tepat demi terbentuknya lingkungan
yang berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA

25
Pratiwi, Indah. 28 Juli 2010. Sistem AC Central Ruangan. 18 Mei 2016.
https://cvastro.com/sistem-ac-sentral-ruangan.htm

Dewi, Ega. 9 April 2013. Utilitas AC Central Hermes Mall Banda Aceh. 18 Mei
2016.
http://www.academia.edu/9132764/Utilitas_ac_central_hermes_mall_banda_aceh

Hendri, Muhammad. 2014. AC Central. 18 Mei 2016. http://hendriword.


blogspot.co.id/2014/02/ac-central.html

Faiz, Muhammad Amar. 18 November 2011. Prinsip Kerja Colling Tower Pada
AC Central. 18 Mei 2016. http://faiz-15.blogspot.co.id/2011/11/prinsip-kerja-
cooling-towerpada-
sistem.html

26