Anda di halaman 1dari 13

PENERIMAAN PENUGASAN AUDIT

Oleh Kelompok 11 :

1.15.2.10220 A. A. Ayu Indah Parasari


1.15.2.10225 Benediktus Made Wahyu Mahaputra
1.15.2.10219 I Made Angga Anugrah
1.15.2.10232 Nabilla Rachmawati
1.15.2.10290 Ogi Girga Lingga
1.15.2.10291 Ketut Andika Putra
1.15.2.9928 Ida Bagus Gede Astika Putra

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


JURUSAN AKUNTANSI
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat beliaulah kami
dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.
Dengan selesainya makalah yang kami susun sebagai salah satu syarat dalam
mata kuliah AUDITING, maka dari itu semoga makalah yang kami susun ini dapat
berguna dan menjadi referensi bagi pembaca yang budiman.
Tidak lupa pula kami berterima kasih kepada teman-teman dan dosen
pengampuh mata kuliah sebab tanpa dukungan mereka, makalah ini mungkin tidak
dapat hadir di hadapan pembaca yang budiman. Dan kami sebagai penyusun mohon
kritik dan saran dari pembaca untuk kami jadikan evaluasi untuk makalah-makalah
berikutnya. Dan semoga apa yang kita perbuat selama di dunia semoga bernilai
ibadah disisi Allah SWT Amin.

Denpasar, 12 Maret 2017

Kelompok 11

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................................2


Daftar Isi .....................................................................................................................3
BAB I Pendahuluan ....................................................................................................4
Latar Belakang ................................................................................................4
Rumusan Masalah ...........................................................................................4
BAB II Pembahasan ....................................................................................................5
Penerimaan Penugasan....................................................................................5
Perencanaan audit ...........................................................................................8
BAB III Penutup .......................................................................................................12
Kesimpulan ...................................................................................................12
Daftar Pustaka ...........................................................................................................13

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kegiatan yang dilakukan dalam suatu audit sangat tergantung kepada
perusahaaan yang telah diaudit. Apabila klien merupakan perusahaan kecil maka audit
cukup dilakukan oleh satu atau dua orang auditor dengan waktu pengerjaan audit
yang relatif tidak begitu lama, dan dengan honorarium audit yang tidak begitu besar.
Namun berbeda pada perusahaan raksasa dengan ratusan anak perusahaan, maka
dibutuhkan auditor dengan jumlah yang banyak dan waktu pengerjaanpun
membutuhkan waktu yang tidak sebentar bahkan bahkan berbulan-bulan dan
honorarium audit yang sangat tinggi.
Sebelum menerima suatu penugasan auditor harus memastikan bahwa
penugasan tersebut akan dapat diselesaikan sesuai dengan semua standar profesional,
termasuk standar auditing. Sedangkan untuk penetapan perencanaan yang tepat
merupakan pekerjaan yang cukup sulit dalam melaksanakan audit yang efisien dan
efektif.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara penerimaan penugasan dalam melaksanakan proses audit?
2. Apa saja tahapan yang harus dilakukan dalam perencanaan audit?

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENERIMAAN PENUGASAN
Penerimaan penugasan merupakan tahap awal dalam suatu audit laporan,
laporan keuangan adalah mengambil keputusan untuk menerima (menolak) suatu
kesempatan untuk menjadi auditor untuk klien yang baru, atau untuk melanjutkan
sebagai auditor bagi klien yang sudah ada. Pada umumnya keputusan untuk menerima
(menolak) ini sudah dilakukan sejak enam hingga sembilan bulan sebelum akhir tahun
buku yang akan diperiksa.
Dalam profesi akuntan publik, terjadi persaingan yang cukup ketat antar
kantor akuntan publik untuk mendapatkan klien. Bagi suatu kantor akuntan publik,
klien bisa merupakan klien baru atau klien lama (yang sudah ada) yang diharapkan
akan melanjutkan memberikan penugasan audit pada tahun atau tahun-tahun
berikutnya. Pergantian auditor bisa terjadi karena bebagai alasan, yaitu:
1. Klien merupakan hasil merger (penggabungan) antara beberapa perusahaan
yang semula memiliki auditor masing-masing yang berbeda.
2. Ada kebutuhan untuk mendapat perluasan jasa professional.
3. Tidak puas terhadap kantor akuntanpublik yang lama.
4. Ingin mencari auditor dengan honorarium audit yang lebih murah.
5. Penggabungan antara beberapa kantor akuntan publik.
Auditor tidak wajib menerima setiap permintaan untuk melakukan audit
laporan keuangan yang diajukan oleh calon kliennya. Apabila auditor memutuskan
untuk menerima suatu penugasan audit, maka auditor harus memikul tanggungjawab
profesional terhadap masyarakat, klien, dan terhadap anggota profesi akuntan publik
yang lain. Auditor harus menjaga kelangsungan kepercayaan masyarakat terhadap
profesi dengan menjaga independensi, integritas, dan obyektivitas. Terhadap anggota
lain seprofesi, auditor bertanggungjawab untuk turut meningkatkan dan menjaga
nama baik profesi, serta meningkatkan kemampuannya dalam memberi pelayanan
kepada masyarakat. Pertimbangan dalam memutuskan untuk menerima penugasan
juga berhubungan langsung dengan kemampuan auditor untuk memenuhi persyaratan
seperti diminta oleh standar auditing serta kode etik akuntan.
Perikatan adalah kesepakatan kedua belah pihak untuk mengadakan suatu
ikatan perjanjian. Dalam perikatan audit, klien mengadakan suatu ikatan perjanjian
5
dengan auditor. Klien menyerahkan pekerjaan audit atas laporan keuangan kepada
auditor dan auditor sanggup melaksanakan pekerjaan audit tersebut berdasarkan
kompetensi profesionalnya. Langkah awal pekerjaan audit adalah pengambilan
keputusan untuk menerima atau menolak perikatan audit dari calon klien atau untuk
menghentikan atau melanjutkan perikatan audit dari klien berulang.

Di bawah ini adalah langkah-langkah penerimaan penugasan audit, antara lain:


1. Mengevaluasi Integritas Manajemen
Berbagai cara yang dapat ditempuh oleh auditor dalam mengevaluasi integritas
manajemen adalah:
a. Melakukan komunikasi dengan auditor pendahulu
Bagi klien yang pernah diaudit oleh auditor lain, pengetahuan tentang
manajemen klien yang dimiliki oleh auditor pendahulu merupakan
informasi penting bagi auditor pengganti. Sebelum menerima penugasan,
PSA No.16, Komunikasi Antara Auditor Pendahulu dengan Auditor
Pengganti (SA 315.02), mengharuskan auditor pengganti untuk
berkomunikasi dengan auditor pendahulu, baik secara lisan maupun
tertulis. Dalam berkomunikasi, auditor pengganti harus mengajukan
pertanyaan yang spesifik dan wajar mengenai berbagai hal yang
berpengaruh atas pengambilan keputusan menerima atau penolak
penugasan, seperti :
1) Meminta keterangan kepada auditor pendahulu mengenai
masalah-masalah yang spesifik.
2) Menjelaskan kepada calon klien tentang perlunya auditor
pengganti melaksanakan komunikasi dengan auditor pendahulu
dan meminta persetujuan dari klien untuk melakukan hal itu.
3) Mempertimbangkan keterbatasan jawaban yang di berikan auditor
pendahulu. Maka auditor pengganti harus mempertimbangkan
pengaruhnya dalam memutuskan penerimaan atau penolakan
perikatan audit dari calon klien.
b. Meminta keterangan kepada pihak ketiga
Informasi tentang intregrasi manajemen dapat diperoleh dengan meminta
keterangan kepada penasehat hukum, pejabat bank, pengganti manajemen
yang diberitahukan di surat kabar bisnis, review terhadap laporan audit
6
tahun sebelumnya yang di simpan di Bapepam, dan pihak lain dalam
masyarakan keuangan dan bisnis yang mempunyai hubungan bisnis
dengan calon klien. Kamar Dagang Indonesian (KADIN) dapat juga di
pakai sebagai sumber informasi untuk mengevaluasi intregitas
manajemen.
c. Mereview pengalaman auditor di masa lalu dengan klien
Sebelum mengambil keputusan untuk melanjutkan penugasan dengan
klien audit, auditor harus mempertimbangkan secara cermat pengalaman
hubungan kerja dengan manajemen klien di masa lalu. Misalnya, auditor
perlu mempertimbangkan adanya kekeliruan atau kecurangan dan
pelanggaran hukum yang dilakukan oleh klien yang ditemukan dalam
audit atas laporan keuangan tahun yang lalu. Dalam audit tahun lalu,
auditor mengajukan berbagai pertanyaan kepada manajemen tentang
adanya hal-hal bersyarat, kelengkapan notulen rapat dewan komisaris,
kepatuhan klien terhadap peraturan pemerintah.

2. Mengidentifikasi Keadaan Khusus dan Risiko Biasa


Hal-hal yang berhubungan dengan pengambilan keputusan untuk menerima
penugasan dalam tahap ini antara lain:
a. Mengidentifikasi pemakaian laporan audit
b. Mendapatkan informasi tentang stabilitas keuangan dan legal calon klien
di masa depan
c. Mengevaluasi auditabilitas perusahaan klien

3. Menilai Kemampuan Untuk Memenuhi Standar Umum Auditing


Penilaian kemampuan memenuhi standar umum terdiri dari 3 tahap:
a. Penentuan kompetensi untuk melaksanakan audit
Standar umum pertama menuntut kompetensi teknis auditor dalam
melaksanakan penugasan audit. Standar tersebut menegaskan bahwa
betapapun kemampuan seseorang dalam bidang-bidang lain termasuk
dalam bidang bisnis dan keuangan, ia tidak dapat memenuhi persyaratan
yang dimaksud dalam standar tersebut. Ada dua langkah yang dilakukan
untuk menentukan kompetensi dalam melaksanakan audit:
mengindentifikasi tim audit yang diperlukan
7
mempertimbangkan perlunya konsultasi dan tenaga spesialis
b. Pengevaluasian Independensi
Standar umum kedua menuntut sikap mental independent auditor dalam
melaksanakan audit. Standar tersebut mengharuskan auditor besikap
independent, artinya tidak mudah dipengaruhi karena ia melaksanakan
pekerjaannya untuk kepentingan umum.
c. Penentuan kemampuan melaksanakan audit secara cermat dan seksama
Standar umum ketiga menyatakan bahwa dalam pelaksanaan audit dan
penyusunan laporannya auditor wajib menggunakan kemahiran
profesionalnya dengan cermat dan seksama.

4. Menyiapkan Surat Penugasan Audit


Surat penugasan audit dibuat oleh auditor untuk kliennya. Surat ini berfungsi
untuk mendokumentasikan dan menegaskan :
a. Tujuan audit atas laporan keuangan
b. Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan
c. Lingkup audit, termasuk penyebutan undang undang, peraturan,
penyertaan dari badan professional yang harus dianut oleh auditor
untuk menyampaikan hasil perikatan.
d. Bentuk laporan atau bentuk komunikasi lain yang akan digunakan
oleh auditor untuk menyampaikan hasil perikatan
e. Pengaturan reproduksi laporan keuangan auditan
f. Kesanggupan auditor untuk menyampaikan informasi tentang
kelemahan signifikan dalam struktur pengendalian intern yang
ditemukan oleh auditordalam auditnya
g. Akses ke berbagai catatan dokumentasi dan informasi lain yang
diharuskan dalam kaitannya dengan audit.
h. kesepakatan mengenai dasar penentuan fee audit.

B. PERENCANAAN AUDIT
Tahap perencanaan audit merupakan suatu tahap yang vital dalam audit.
Kesuksesan audit sangat ditentukan oleh perencanaan audit secara matang.
Perencanaan audit meliputi pengembangan strategi menyeluruh untuk merencanakan
pelaksanaan audit. Perencanaan audit sangat dipengaruhi oleh informasi yang
8
diperoleh dalam tahap pertimbangan penerimaan penugasan audit. Auditor perlu
mempertimbangkan informasi mengenai intergritas manajemen, kekeliruan dan
ketidak beresan dan pelanggaran hukum klien dalam merencanakan audit.

Luas dan kelengkapan perencanaan sangat tergantung pada :


1. Ukuran dan kompleksitas perusahaan klien,
2. Pengalaman auditor dengan klien,
3. Pengetahuan dan kemampuan auditor beserta seluruh stafnya.

Perencanaan audit biasanya dilakukan antara tiga hingga enam bulan sebelum
akhir tahun buku klien. Dalam perencanaan audit terdapat beberapa langkah yang
harus dilakukan:
1. Menghimpun Pemahaman Bisnis Klien Dan Industri Klien
Penghimpunan pemahaman bisnis dan industri klien dilakukan dengan
tujuan untuk mendukung perencanaan audit yang dilakukan auditor.
Pemahaman tersebut akan digunakan untuk merencanakan lingkup audit,
memperkirakan masalah-masalah yang mungkin timbul dan menentukan
atau memodifikasi prosedur audit yang direncanakan. Hal yang
berkaitan dengan bisnis dan industri klien yang perlu dipahami auditor
adalah sebagai berikut:
a. jenis bisnis dan produk klien,
b. lokasi dan karakteristik operasi klien seperti metoda produksi dan
pemasaran,
c. jenis dan karakteristik industri,
d. eksistensi ada tidaknya pihak terkait yang mempunyai hubungn erat
dengan klien misalnya sama-sama anak perusahaan dari suatu
holding company,
e. peraturan pemerintah yang mempengaruhi bisnis dan industri klien,
f. karakteristik laporan yang harus diberikan kepada instansi tertentu.
Pemahaman auditor tentang bisnis klien dan industri klien dapat
diperoleh melalui:
a. Mereview kertas kerja tahun lalu
b. Mereview data industri dan data bisnis klien
c. Melakukan peninjauan ke tempat operasi klien
9
d. Mengajukan pertanyaan pada dewan komisaris maupun komite audit
e. Mengajukan pertanyaan pada manajemen
f. Mempertimbangkan dampak dari pernyataan akuntansi dan auditing
tertentu yang relevan.
Ada tiga alasan utama mengapa auditor merencanakan penugasan
dengan tepat antara lain:
a. Untuk memungkinkan auditor mendapatkan bukti yang tepat yang
mencukupi pada situasi yang dihadapi.
b. Untuk membantu menjaga biaya audit tetap wajar.
c. Untuk menghindari kesalah pahaman dengan klien.
Perancangan audit awal melibatkan empat hal, yang semuanya harus
dilakukan terlebih dahulu dalam audit. Keempatnya adalah sebagai
berikut:
a. Auditor harus memutuskan apakah akan menerima seorang klien
baru atau melanjutkan pelayanan untuk klien yang telah ada
sekarang.
b. Auditor harus mengidentifikasi mengapa klien menginginkan atau
membutuhkan audit.
c. Auditor memperoleh pemahaman klien tentang cara-cara penugasan
untuk menghindari kesalahpahaman.
d. Dipilihnya staf untuk penugasan, termasuk bila dibutuhkannya
spesialis audit.
2. Melakukan Prosedur Analitis
Prosedur Analitis adalah evaluasi informasi keuangan yang dilakukan
dengan mempelajari hubungan logis antara data keuangan dan non
keuangan. Prosedur analitis meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang
tercatat dengan ekspektasi auditor.
Penggunaan prosedur analitis dalam tahapan perencanaan audit yang
efektif, meliputi tahapan-tahapan sistematis sebagai berikut :
a. Mengidentifikasi perhitungan/Perbandingan yang akan dibuat
b. Mengembangkan ekspektasi atau harapan
c. Melakukan perhitungan/perbandingan
d. Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan
e. Menyelidiki selisih tak diharapkan yang signifikan
10
f. Menentukan pengaruh atas perencanaan audit

11
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan:
1. Sebelum menerima suatu penugasan, auditor harus memastikan bahwa
penugasan tersebut dapat diselesaikan sesuai dengan semua standar
profesional, termasuk standar auditing, kode etik akuntan, dan standar
pengendalian mutu.
2. Tahap-tahap penting dalam penerimaan suatu penugasan meliputi: evaluasi
integritas manajemen, mengidentifikasi keadaan-keadaan khusus dan resiko
tak biasa, menentukan kompetensi, menilai independensi, menentukan bahwa
pekerjaan dapat dilaksanakan dengan cermat dan teliti, serta menerbitkan surat
penugasan.
3. Penetapan perencanaan yang tepat merupakan pekerjaan yang cukup sulit
dalam melaksanakan audit yang efisien dan efektif. Tahapan-tahapan
perencanaan meliputi pekerjaan mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan
industri klien dan melaksanakan prosedur analitis.

12
DAFTAR PUSTAKA

Haryono Jusup, Auditing, (Yogyakarta : Penerbit Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi


YKPN, 2001)
Mulyadi, Auditing, (Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2002)

13