Anda di halaman 1dari 4

Human relations theory

Hugo Munsterberg

Hugo Munsterberg (1 Juni 1863 19 Desember 1916) adalah seorang psikolog


Jerman Amerika. Dia adalah salah satu penemu psikologi terapan, melanjutkan teori dan
penelitiannya di industry / organisasi, hukum, medis, klinis, edukasi, dan aturan bisnis.
Tulisan Munsterberg dikenal sebagai awal mula lahirnya psikologi industry.

Psikologi industry, menurut Munsterberg, berfokus pada topik seperti mempekerjakan


karyawan dengan kepribadian dan kemampuan mental yang paling cocok berdasarkan tipe
pekerjaan, begitu juga pada cara untuk menambah motivasi, kinerja, dan daya tahan kerja.
Munsterberg menyarankan bahwa psikologi dapat digunakan dalam berbagai aplikasi
industry, termasuk manajemen, keputusan vokasi, periklanan, performansi kerja, dan
motivasi pekerja. Banyak dari ide Munsterberg, terutama ide tentang memasangkan
kepribadian individu dengan kemampuan kerja yang cocok, telah digunakan pada psikologi
industry / organisasi saat ini.

Elton mayo

George Elton Mayo (26 Desember 1880 7 September 1949) adalah seorang
psikolog, sosiolog, dan teoretikus organisasi berkebangsaan Australia. Mayo dikenal sebagai
penemu human relations movement. Penelitiannya termasuk penelitian Hawthorne dan
bukunya yang berjudul The Human Problems of an Industrial Civilization pada 1933.

Penelitian yang dilakukan oleh Mayo pada penelitian Hawthorne pada 1930
memperlihatkan pentingnya peran sebuah kelompok dalam mempengaruhi perilaku individu
dalam bekerja. Rekan Mayo, Roethlisberger dan Dickson melakukan praktik percobaan. Hal
ini membuat Mayo untuk membuat beberapa deduksi tentang bagaimana manajer harus
bersikap. Dia menyimpulkan bahwa performansi para pekerja tergantung pada isu isu social
dan tugas kerja. Penelitian Mayo berkontribusi pada perubahan perilaku didalam manajemen,
sehingga manajer menjadi lebih perhatian pada soft skill yang merupakan salah satu factor
penting dalam kesuksesan manajemen.

Temuan Mayo dan Roethlisberger yang paling terkenal adalah studi tentang
dinamisasi kelompok informal dalam organisasi, yang menyatakan bahwa hubungan dalam
informal groups memiliki efek yang besar pada produktifitas dan pencapaian tujuan
organisasi secara keseluruhan.
Eksperimen di pabrik Hawthorne Electric ini juga memunculkan sebuah teori yang
dikenal sebagai The Hawthorne effect yang menyatakan bahwa seorang individu jika
secara intens dijadikan fokus eksperimen, maka secara psikologis individu tersebut akan
merasa berbeda dengan individu lain, sehingga dapat mempengaruhi hasil dari eksperimen
yang dilakukan.

Mary P. Follet

Mary Parker Follet (3 September 1868 18 Desember 1933) adalah seorang pekerja
social, konsultan manajemen, dan pendiri pada bidang teori organisasi dan perilaku
organisasi berkebangsaan Amerika. Dia telah banyak mengkaji topik administrative conflict,
motivation, co-operation, dan authority. Kajian dari Follet banyak menjadi pondasi
pengembangan konsep organisasi modern. Ia mulanya telah berkiprah didunia politik, namun
ia berubah haluan ke dunia kajian administrasi bisnis. Follet memilih untuk berganti bidang
dengan alasan bahwa dunia politik kurang memperhatikan masalah masalah sosial, berbeda
dengan dunia bisnis yang dapat berfungsi sebagai alat untuk menyejahterahkan masyarakat.

Follet merupakan seorang pakar yang pertama kali mengkaji aspek organisasi dari
perspektif individu dan kelompok. Dia mengkritisi overmanajemen pada pekerja, yaitu
sebuah proses yang saat ini dikenal sebagai micromanaging. Follet dikenal untuk konsep
hubungan timbal balik dan pemikiran bahwa kekuasaan itu lebih lemah dibanding kolaborasi
integrative.

Follet juga dikenal pada bidang manajemen dengan diminta oleh Presiden Theodore
Roosevelt sebagai konsultan pribadinya dalam mengatur not-for-profit, non-governmental,
dan organisasi volunteer. Dalam kapasitasnya sebagai seorang teoretikus manajemen, Mary
Parker Follet memelopori pemahaman tentang proses lateral didalam hierarki organisasi.
Kontribusinya membantu dimulainya awal dari perubahan perilaku manajemen dengan
menghadirkan pekerja sebagai lebih dari sekadar mesin.

Chester Barnard

Chester Irving Barnard (7 November 1886 7 Juni 1961) memperkenalkan kajian


yang mengkaitkan scientific management dengan human relations. Menurut Barnard,
hubungan yang terdapat dalam sebuah organisasi tidak hanya terbatas pada hubungan formal
semata, namu juga terdapat hubungan informal. Hubungan informal ini dalam sebuah
organisasi akan berkembang dan berinteraksi tanpa suatu tujuan yang khusus. Pandangan
yang diutarakan oleh Barnard ini pada umumnya berbeda dengan teori manajemen modern
yang menyatakan bahwa hubungan informal dalam sebuah organisasi mempunyai sebuah
tujuan.

Chester Barnard dikenal secara luas sebagai penulis dari The Function of the
Executive, yang merupakan salah satu buku paling berpengaruh tentang manajemen dan
leadership pada abad ke-20. Barnard menawarkan sebuah pendekatan sistem dalam
pengkajian organisasi, yang mana berisi sebuah teori psikologis tentang motivasi dan
perilaku, sebuah teori sosiologis tentang kerjasama dan saling ketergantungan, dan sebuah
ideologi berdasarkan pada meritokrat.

Barnard merasakan bahwa tantangan terbesar dari manajemen adalah


menyeimbangkan sisi teknologi dan manusia didalam organisasi. Tantangan untuk para
eksekutif adalah mengkomunikasikan tujuan organisasi dan menyeimbangkan kerjasama
antara organisasi formal dan informal. Namun, Barnard juga menentang ketergantungan pada
skema insentif untuk menyeimbangkan kerjasama tersebut. Tanggung jawab, yang dalam hal
ini adalah penghargaan dan kepercayaan yang dimiliki manajer untuk menjalankan tanggung
jawabnya, adalah fungsi terpenting dari eksekutif.

Oliver Sheldon

Oliver Sheldon (13 Juli 1894 7 Agustus 1951) adalah seorang direktur di Rowntree
Company di York, United Kingdom. Dia telah menulis prinsip prinsip publik dan
administrasi bisnis pada tahun 1920. Sheldon sering terlibat dalam menstrukturkan
manajemen dan organisasi dari perusahaan konveksi yang sedang tumbuh yang ingin
memindahkan manajemennya, dari manajemen yang berpusat pada keluarga dari pendiri
perusahaan, Joseph Rowntree, menjadi sebuah perusahaan dengan budaya profesional. Pada
saat itu, Sheldon percaya bahwa industri hadir untuk lebih dari sekadar profit. Ia berpendapat
bahwa manajemen yang baik lebih baik dibanding teknik, dimana harus dilengkapi dengan
pemahaman manusia. Menurut Sheldon, kepemimpinan membutuhkan kesabaran,
keberanian, dan diatas segalanya adalah rasa simpati. Melayani komunitas / kelompok
merupakan motif utama dan dasar utama dari industri.
Sheldon menyarankan sebuah manajemen yang berorientasi pada hubungan manusia
yang menempatkan individu sebagai manusia yang melibatkan kebutuhan emosional dan
psikologis. Dia tidak sependapat dengan F.W. Taylor yang melihat faktor ekonomi sebagai
motivasi utama seseorang untuk bekerja. Menurut Sheldon, saat kebutuhan dasar ekonomi
harus dipenuhi, kebutuhan personal dan bersosialisasi secara lebih luas juga sama pentingnya.