Anda di halaman 1dari 12

GIGI DAN JARINGAN PERIODONTAL

Anatomi, Histologi, dan Fisiologi Gingiva

Di susun oleh :

Dwita Maulidiyah 04101004034


Ana Rahmatika Haqqu J.L 04101004036
Agnes Triani 04101004037

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2011-2012
Anatomi, Histologi dan Fisiologi
Gingiva

I.Anatomi Gingiva

Gingiva atau gusi adalah mukosa pada mulut yang menutupi tulang
alveolar (penyanggah akar gigi) dan leher gigi ( pada area cervical ). Gingiva
dibagi menjadi beberapa komponen penting, antara lain :
1. Free Marginal Gingiva (tepi gusi bebas)
2. Free Gingval Groove (lekukan gusi bebas)
3. Attached Gingiva (gusi melekeat)
4. Interdental Papilla
5. Mucogingival junction (batas gusi lendir)

Gambar 1. Pembagian gingiva secara anatomis


(dikutip dari Oral anatomy, histology and embryology Oleh B. K. B.
Berkovitz,Graham Rex Holland,B. J. Moxham )

1. Free Marginal Gingiva


Free marginal gingiva adalah bagian yang mengelilingi gigi dan melekat
pada permukaan gigi, merupakan dinding luar dari sulkus.

2. Free Marginal Groove


Lekukan pada bagian bukal atau labial yang dibatasi oleh dinding dalam
dari free marginal gingiva, dasar sulcus atau mungkin terlihat di antara tepi gusi
bebas dan gusi yang melekat. Free marginal groove ini bisa berbeda-beda pada
setiap orang. Gingival sulcus yang sehat dibatasi oleh epithelial attachment
sebagai dasar free marginal gingiva dan gigi sendiri disisi lain. Dasarnya pada
email. Cementoenamel junction atau cementum. Proses terbentuknya gingival
sulcus adalah saat enamel organ telah penuh pada permukaan email, beberapa
lapisan berfungsi membentuk epithelium email yang tereduksi. Bila gigi telah
mencapai permukaan, lalu terus bererupsi kepermukaan epithelium yang
menyelimuti puncak gigi mengalami degenerasi dan puncak gigi tersebut muncul
pada permukaan. Pada tingkatan itu lah terbentuk gingival sulcus.

3. Attached Gingiva
Bagian ini meluas mulai dari dasar free marginal groove sampai pada
mucogingival junction (btas muco gingiva). Dalam keadaan sehat attached
gingiva tak dapat digerakkan. Bagian ini berwarna kemerah-merahan dengan
bintik-bintik. Bintik-bintik tersebut akan berbeda pada setiap individual,
tergantung pada umur, jenis kelamin, dan kesehatan dari gusi itu sendiri. Tidak
seperti attached gingiva, free marginal gingiva tidk memiliki titik-titik. Pada sisi
lingual di bagian rahang bawah, attached gingiva sangat berbeda dari alveolar
mucosa yang menuju dasar mulut dengan garis mukogingival. Batas tepi jari
attached gingiva adalah epithelial attachment, ia melekat pada gigi,meluas mulai
dari batas apikal gingival sulcus sampai batas sebelah corona. Epithelial
attachment mungkin melekat seluruhnya pada email, atau sebagian pada email dan
sebagian pada cementum, artinya pda cemento enamel junction, mungkin juga
seluruhnya pada cementum.
Gambar 2. Batas area attached gingiva
(dikutip dari Oral anatomy, histology and embryology Oleh B. K. B.
Berkovitz,Graham Rex Holland,B. J. Moxham)

4. Interdental atau Gingival Papilla


Bagian dari gingiva yang mengisi ruang interproximal, terdiri dari
sebagian attached gingiva dan sebagian gingiva bebas. Atau bagian dari gingiva
yang mengisi ruangan antara gigi yang berdekatan.

Gambar 3.Interdental Papilla


(dikutip dari Oral anatomy, histology and embryology Oleh B. K. B.
Berkovitz,Graham Rex Holland,B. J. Moxham)

5.Mucogingival Junction
Adalah batas antara attached gingiva dan alveolar mucosa. Mucogingival
junction akan lebih jelas terlihat pada gingiva yang sehat. Dari segi histologi, agak
sulit melihat perbedaan yang jelas antara bagian-bagian tersebut, meskipun
sebenarnya histologis kedua bagian tersebut berbeda. Namun dpt dilihat
perbedaannya secara visual melalui warna keduanya. Bila attached gingiva
berwarna ple-pink, mucogingival junction berwarna merah
II. Histologi Gingiva
Gingiva tersusun dari epitel berkeratin dan jaringan ikat,yaitu:
1. Epitel berlapis gepeng berkeratin atau berparakreatin, dan sel-selnya
berganti secara kontinu dan cepat, ketebalan epitel tetap seimbang dengan
adanya pelepasan sel mati permukaanya dan pembentukan sel baru, kecuali
bagian yang melapisi sulkus gingiva.
2. Lamina Propria, terdiri dari jaringan ikat padat yang sebagian besar
merupakan berkas serat kolagen(terdiri atas bundel utama yang sering
disebut serabut gingiva),ada sel-sel (sel mast, fibroblas , sel mesenkim, dan
makrofag),substansi dasar( kompleks protein polisakarida), dan anyaman
serabut neurovaskular. Gingiva tidak memiliki lapisan submukosa.

A.Jaringan epitel yang melapisi gingiva antara lain :


a. Epitel Mukosa Mulut ( oral epithelium )
Epitel ini merupakan epitel berlapis gepeng dengan lapisan
keratin/parakeratin.

b. Epitelium Jungsional (junctional epithelium)


Epitelium jungsional adalah sel-sel basal dan stratum spinosum tidak
berkeratin yang menyerupai seberkas kerah dengan ketebalan bervariasi antara 15-
20 sel di koronal hingga 1-2 sel di apikal. Sel-sel epithelium jungsional memiliki
ruang interselular yang relatif lebih luas.
Lokasinya tergantung pada tingkat erupsi gigi.Epitel jungsional melekat pada
permukaan gigi melalui lamina basalis interna ( lucida dan densa:dekat
permukaan gigi ), dan melekat dengan jaringan ikat gingiva melalui lamina basalis
eksterna.Cairan lengket (prolin dan/ hidroksiprolin dan mukopolisakarida) yang
disekresi oleh sel epitel juga melekatkan epithelium jungsional ke email atau
sementum. Epitelium jungsional dan serabut gingiva bertindak sebagai satu unit
fungsional yaitu unit detogingival.
c. Epithelium sulkuler ( sulcular epithelium )
Sulkus gingiva dilapisi oleh epitel sulkuler,yaitu epitel berlapis gepeng tidak
berkreatin dari batas koroner epitel jungsional ke puncak marginal gingiva.
Perlekatan epithelium sulkular pada permukaan gigi dapat dibandingkan dengan
perlekatan jaringan ikat-epitel yang terdapat pada permukaan tubuh lain.

d. Epitel Mukosa Alveolar


Epitel mukosa alveolar tipis dan tidak berkeratin.Jaringan ikatnya terdiri atas
lamina propria yang tipis dan selapis submukosa vaskular.serabut jaringan ikat
yang dominan bersifat elastis,sehingga tidak seperti gingiva cekat.

B.Serabut Gingiva
Fungsi utama gingiva adalah untuk memelihara gingiva bebas dan
epitelium jungsional dalam kedekatan yang erat dengan gigi.
Terdiri dari kelompok-kelompok,yaitu:
1. Kelompok Gingival
- Serat dento-gingival, ( berjalan dari servikal sementum ke lamina propria
dibawah epitel jungsional dan marginal gingiva ).
- Serat dento-periosteum,(dari sementum ke periosteum lewat krista tulang
alveolar)
- Serat alveolo gingival, meluas ke lamina propria dari krista tulang alveolar

2. Kelompok sirkular,mengelilingi gigi dari tepi gingiva ke arah puncak


tulang alveolar.

3. Kelompok Transeptal, dari servikal sementum lewat puncak atas


interdental tulang alveolar juga menghubungkan dua gigi yang dekat.

C.Sulkus gingiva
Sulkus gingiva,yaitu celah/ruang yang dibatasi oleh gigi dan gingiva bebas
serta didasari oleh epitelium jungsional(penghubung)
Sulkus gingiva dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tidak berkeratin.Dasar sulkus
terbentuk dari perlekatan koronal epitelium jungsional.

III. Fisiologi Gingiva


Gingiva yang juga dikenal sebagai gusi memegang peranan yang sangat
penting dalam rongga mulut yaitu melindungi akar gigi, selaput perodontium dan
tulang alveoler terhadap rangsangan dari bakteri - bakteri dalam mulut . Hal ini
dikarenakan gingiva dikelilingi oleh mahkota gigi dan menutupi tulang alveolar.
Maka secara umum fungsi dari gingiva ini sendiri adalah sebagai penahan tekanan
fisik yang sangat besar terutama pada sekitar area gigi . Oleh karena fisiologinya
tersebut maka gingiva disebut juga sebagai jaringan pelindung yang tidak lain
melindungi benang-benang halus yang mengikat akar gigi terhadap tulang rahang.
Jaringan gingiva merupakan suatu kumpulan serat kolagen yang dapat
membentuk kekenyalan dari gingiva margin yang berguna untuk menahan tekanan
kunyah. Gingiva margin adalah terminal dari gingiva yang mengelilingi gigi
seperti kerah baju , berwarna pink. Adapun 3 macam serat gingiva yaitu :
Gingival dental group , circular group dan transseptal group. Serat gingiva ini
memeliki beberapa fungsi yaitu :
a. Membantu mempererat ikatan ikatan marginal gingival dengan gigi
b. Untuk memberikan kekakuan yang diperlukan untuk menahan
kekuatan pengunyahan
c. Memperkuat perlekatan attached gingival dengan akar gigi dan tulang
alveolar.

Sumber : Buku Anatomi Gigi , EGC , drg. Itjingningsih Wangidjaja Harshanur, 1991
Gingiva sendiri merupakan bagian dari mukosa mulut. Mukosa mulut
menurut Glickman meliputi :
Mukosa mastikator atau pengunyahan :
a. Gingiva yaitu bagian dari mukosa mulut yang meliputi prosesus
alveolaris dan mengelilingi leher gigi
b. Mukosa yang meliputi palatum
Mukosa yang meliputi dorsum dari lidah
Mukosa selain yang disebut ad 1 dan ad 2

Mukosa mulut ini terdiri dari jaringan epitel dan jaringan ikat yang
memiliki fungsinya masing-masing yaitu jaringan epitel gingiva berfungsi baik
dalam membasahi ataupun menjaga kelembaban rongga mulut dengan fungsi
utamaya melindungi struktur bagian dalam gingiva dan selektif terhadap
perubahan lingkungan rongga mulut. Sedangkan jaringan ikat berfungsi untuk
mempererat ikatan-ikatan marginal gingival dengan gigi yang terbagi pula atas 3
jenis serat jaringan ikat antara lain ,reticular , kolagen , dan elastis . Jaringan ikat
yang merkatkan ke tulang alveolar itu sendiri dinamakan ligamen periodontal .

Adapun beberapa pembagian fungsi ligamen periodontal yaitu ;


1. Fungsi fisikal atau suportif
Melanjutkan kekuatan pengunyahan pada tulang
Attachment gigi-gigi pada tulang
Memelihara hubungan baik jaringan ginggiva dengan gigi
Sebagai selimut jaringan lunak yang menyelimuti pembuluh-
pembuluh dan nervus untuk mencegah gangguan-gangguan
penyakit, karena kekuatan mekanik
Shock absorpsi ataupun mengecilkan / mengurangi pengaruh-
pengaruh kekuatan luar.

Teori yang menjelaskan mekanisme shock absorption :


Teori tensional :
Yang paling berperan dalam menahan dampak tekanan oklusal adalah
serabut utama ligamen periodontal. Apabila gigi terkena tekanan oklusal,
serabut utama akan meng- hantarkan tekanan ketulang alveolar sehingga
tulang mengalami deformasi elastis yang memungkinkan gigi menghindar
menjauhi tekanan.
Apabila deformasi tulang alveolar mencapai maksimal, tekanan
disalurkan ke tulang basal.
Teori sistem visko elastik :
Yang berperan bukan serabut ligamen peridontal melainkan gerakan
cairan.
Apabila tekanan ringan mengenai gigi, tekanan akan diredam oleh
cairan intravaskular yang keluar dari pembuluh darah.
Apabila tekanan sedang, tekanan akan diredam oleh cairan
ekstravaskular yang akan didorong keluar dari ruang ligamen periodontal
masuk ke ruang sumsum tulang melalui foramina pada lapisan kortikal tulang.
Teori tiksotropik:
Ligamen periodontal mempunyai sifat reologis dari jel tiksotropik,
yaitu dapat mencair bila terkena tekanan dan berubah kembali menjadi
semisolid apabila tekanan hilang.
Respon fisiologis ligamen periodontal terhadap tekanan oklusal
adalah berupa viskositas dari sistem biologis.

2. Fungsi formatif atau remodelling


Dapat berperan formatif/remodeling karena ligamen periodontal
mengandung sel-sel yang dapat membentuk maupun meresorbsi struktur
periodontal pendukung (tulang alveolar, sementum dan ligamn periodontal).
Fungsi ini dilaksanakan oleh :
Cementoblast yang membentuk cementum
Osteoblast yang membentuk tulang
Fibroblast yang membentuk serabut-serabut collagen dan elemen-
elemen cellular.
Osteoclast yang berfungsi meresorbsi tulang
Fungsi ini berlangsung secara terus menerus dan contoh fungsi
formatif/remodeling ligamen periodontal adalah pembentukan dan resorbsi
tulang alveolar dan sementum pada proses migrasi/pergerakan gigi secara
fisiologis ke arah mesial.

3. Fungsi nutritif atau nutrisional


Fungsi ini dimungkinkan oleh adanya sistem vaskularisasi yang baik pada
ligamen periodontal, yang menjamin pasok nutrien ke sementum, tulang alveolar
dan gingiva dan tersedianya drainase limfatik.
Supply zat makanan pada periodontal membrane dan pembersihan produk
kotoran atau zat-zat yang tak terpakai dari jaringan periodonsium dilakukan
melalui pembuluh-pembuluh darah dan limfe. Pembuluh-pembuluh darah ini
berasal dari tulang dan anastomose dengan pembuluh yang terdapat dalam tulang.

4. Fungsi Sensori
Tekanan atau stimuli pada gigi dilanjutkan ke syaraf proprioceppta dari
selaput periodonsium, ujung syaraf proprioceptta dapat menentukan besarnya
bolus gigi antagonis , makanan atau sisa makanan yang etrselip pada daerah
interproximal atau benda asing yang terdapat pada gigi dan ujung proprioceptor
melokalisir external stimuli pada gigi individuil .
Fungsi sensori dimungkinkan oleh adanya reseptor bagi rasa sakit dan
tekanan pada ligamen periodontal. Ini berasal dari saraf-saraf dental yang
menembus fundus alveolus masuk ke ruang ligamen periodontal, dimana saraf-
saraf tersebut akan kehilangan selubung mielinnya (myelinated sheath) dan
menjadi nerve ending.
Reseptor taktil akan memberikan sensitivitas taktil yang penting artinya
karena:
Memungkinkan terdeteksi dan terlokalisernya tekanan eksternal yang
mengenai gigi.
Berperan dalam mekanisme neuromuskular yang mengatur otot-otot
pengunyahan.

DAFTAR PUSTAKA
Berkorvitz,B.K.B, dkk. 2004. Oral Anatomy, Histologi, and
Embriologi. Jakarta : Mosby
Harshanur, Itjiningsih Wangidjaja. 1991. Anatomi Gigi. Jakarta :
EGC
Ircham. 1978. Penyakit- Penyakit Periodonsium pada Anak-Anak.
Jogjakarta : Binacipta
Peter, F.Fedi, dkk. 2004. Silabus Periodonti Edisi 4. Jakarta: EGC
Putri, Margananda, dkk. 2008. Ilmu Pencegahan Penyakit
Jaringan Keras dan Jaringan Pendukung Gigi. Jakarta : EGC