Anda di halaman 1dari 61

PERTAMINA

Semangat Terbarukan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang PT PERTAMINA (Persero)


PT. PERTAMINA (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
yang bergerak dibidang penambangan minyak dan gas bumi (MIGAS) di
Indonesia. Pertamina berkomitmen mendorong proses transformasi
internal dan pengembangan yang berkelanjutan guna mencapai standar
internasional dalam pelaksanaan operasional dan manajemen lingkungan
yang lebih baik, serta peningkatan kinerja sebagai sasaran bersama.
Upaya pencarian (eksplorasi) sumber minyak bumi di Indonesia
pertama kali dilakukan oleh Jhon Reenik (Belanda) pada tahun 1871 di kaki
Gunung Ceremai, sedangkan eksplotasi minyak bumi pertama kali dilakukan
di Telaga Tunggal pada tahun 1885, sumur ini merupakan pertama di
kawasan Hindia Belanda yang berproduksi secara komersial.
Seiring dengan semakin banyaknya sumber minyak mentah yang
sudah ditemukan, pada akhir abad ke-18 mulai didirikan beberapa
perusahaan-perusahaan minyak asing, seperti Shell, Stanvac, Royal Dutch
Company, dan lain lain yang melakukan pengeboran di Indonesia. Pada
tahun 1945 setelah indonesia merdeka, usaha untuk mengambil alih
kekuasaan sektor industri minyak dan gas bumi mulai dilakukan.
Berdasarkan Undang-undang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi UU No.
44/1961 , dibentuklah tiga perusahaan Negara (PN) disektor minyak dan
gas bumi, yaitu :
1. PN PERTAMIN berdasarkan PP No.3/1961
2. PN PERMINA berdasarkan PP No.198/1961
3. PN PERMIGAN berdasarkan PP No.199/1961

1.1.2 Latar Belakang PT. PERTAMINA (Persero) Refinery Unit III Plaju-
Sungai Gerong
PT. PERTAMINA (Persero) Refinery Unit III Plaju Sungai Gerong
merupakan unit pengolahan yang memiliki dua buah kilang di plaju dan
Sungai Gerong. Kilang yang pertama kali di bangun adalah kilang Plaju yang

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

didirikan oleh perusahaan Shell dari belanda pada tahun 1904 dan memiliki
kapasitas sekitar 110 MBSD. Pendiri kilang Sungai Gerong dilakukan oleh
Stanvac (Amerika) pada tahun 1926 dengan kapasitas sebesar 70 MBSD.
Pada tahun 1965 kilang plaju secara resmi di beli oleh pihak Shell dan
berlanjut pada tahun 1970 kilang Sungai Gerong dibeli Secara Resmi Oleh
pemerintah.
Pada tahun 1971 RU III Plaju-Sungai Gerong membangun kilang
polipropilen yang memiliki kapasitas sekitar 20.000 ton per tahunnya.
Setelah itu pada tahun 1972 terjadi integrasi antara kilang Plaju dan Kilang
Sungai Gerong menjadi kilang Musi, setelah itu tahun 1982 RU III Plaju
Sungai Gerong melakukan proyek kilang Musi I (PKM I) yang memiliki
kapasitas 98 MBSD dengan melakukan perubahan di beberapa unit crude
destiler yang dimiliki seperti CD II, CD III, CD IV, CD V dan CD VI. Selain itu
dilakukan pembangunan untuk unit HVU II dan pembaharuan proses kilang
FCCU.
Proyek yang selanjutnya adalah pembangunan kilang (Purified
Terepthalic Acid) yang memiliki kapasitas 150.000 toj per tahun pada tahun
1983 dan mulai beroperasi pada tahun 1986. Kilang TPA yang dibangun ini
ternyata memiliki kendala dalam sisi ekonomi yang membuat RU III ini
mengalami kerugian, oleh karena itu proyek ini secara resmi dihentikan
pada tahun 2003. Proyek selanjutnya dilakukan oleh RU III ini adalah
proyek Energy Conservation Improvement (ECI) dan pad tahun 1988 proyek
Usaha Peningkatan Efisiensi dan Produksi Kilang (UEPK).
Pada tahun 1990 dilakukan debottlenecking kilang PTA menjadi
kapasitas 225.000 ton per tahun, pada tahun 1992 dilakukan proyek kilang
Musi II (PKM II) yang terdiri dari revamping kilang RFCUU, pembuatan
polipropilen baru, pembaharuan kapasitas jarinagn listrik pada Sungai
Gerong dari 60 Hz menjadi 50 Hz, modifikasi unit redistiling I/II Plaju, dan
melukan desain ulang siklo unit FCCU Sungai Gerong. Pada tahun 2002
proyek yang dilakukan adalah proyek pembuatan jembatan integrasi Sungai
Musi yang menggaubungkan Kilang Plaju dan Kilang Sungai Gerong.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Bahan baku berupa minyak mentah untuk RU III Plaju diperoleh dari
berbagai daerah khususnya di wilayah Sumatra Selatan dengan
menggunakan perpipaan dan tanker dengan muatan kapal yang tidak
terlalu besar. Distribusi minyak mentah dilakukan melalui perpipaan
dikarenakan kedalam Sungai Musi dan sekitarnya yang tidak memadai
untuk kapal tangker yang cukup besar, oleh karena itu beberapa sumber
minyak bumi dari berbagai daerah di Sumatra Selatan di distribusikan
melalui pipa yang berakhir pada tangki penampungan di Kilang Plaju.
Produk yang dihasilkan oleh PT. Pertamina RU III Plaju berupa
produk BBM (Bahan Bakar Minyak) dan non BBM.
Tabel. 1.1 Jenis Produk dan Jumlah Produksi
Produk Jumlah Produksi
Premium 1.044.270,7
BBM Kerosin 164.675,6
Solar 1.861.270,4
Avtur 62.659,2
LPG 124.116,1
Non-BBM Solvent 49.990,3
Musicool 167,3
Polytam 46.909,9
Produk lain yang tergolong dalam BBM untuk kendaraan balap dan
masih dikembangkan sampai saat ini adalah racing fuel yang sudah
dilakukan launching pada tahun 2010. Distribusi produk dilakukan dengan
sistem pipa, mobil pengangkut, dan kapal tangker. Distribusi produk
khususnya untuk daerah sekitar Sumatra Selatan seperti PT. PUSRI
menggunakan pipa, jambi-Bengkulu-Lampung menggunakan mobil
pengangkut, dan daerah Bangka-Belitung menggunakan jalur laut dengan
Kapal tangker.

1.2 Sejarah
PT. PERTAMINA (Persero)merupakan badan usaha yang bergerak di
bidang eksplorasi, pengolahan, dan pemasaran hasil tambang minyak dan
gas bumi di Indonesia. Pertamina berdiri sejak tanggal 10 Desember
1957 dengan nama PT. PERMINA. Pada tahun 1961, PT. PERMINA berubah

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

nama menjadi PN. PERMINA bergabung dengan PT. PERTAMIN sehingga


namanya berubah menjadi PN. PERTAMINA. Berdasarkan undang-undang
No. 8 tahun 1971 nama perusahaan ditetapkan menjadi Pertamina.
Berdasarkan undang-undang No. 22 tahun 2001 tanggal 23 November 2001
tentang minyak dan gas bumi, Pertamina berubah status hukumnya
menjadi PT. PERTAMINA (Persero) pada tanggal 17 September 2003.
Sejak tanggal 09 Oktober 2008 PT. PERTAMINA (Persero)Unit Pengolahan
berganti menjadi PT. PERTAMINA (Persero)Refinery Unit.
PT. PERTAMINA (Persero)memiliki unit-unit operasi yang tersebar di
seluruh Indonesia yang meliputi beberapa operasi eksplorasi dan produksi,
7 Refinery Unit, 8 Unit Pemasaran. Saat ini PT. PERTAMINA
(Persero)memiliki tujuh Refinery Unit yang tersebar di wilayah Indonesia
seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 1.2 berikut:
Tabel 1.2 Refinery Unit PERTAMINA di Indonesia

Kapasitas
Refinery Unit Lokasi
(barel/hari)
I Pangkalan Brandan (Sumatera Utara) Non Aktif
II Dumai dan Sungau Pakning (Riau) 170.000
III Plaju dan Sungai Gerong (Palembang) 135.000
IV Cilacap (Jawa Tengah) 348.000
V Balikpapan (Kalimantan Timur) 270.000
VI Balongan (Jawa Barat) 125.000
VII Kasim (Papua Barat) 10.000
(Sumber: PT. PERTAMINA, 2012)

Masing-masing kilang Refinery Unit dari PT. PERTAMINA


(Persero)memiliki unit yang berbeda-beda dan juga memiliki kekhususan
produk masing-masing. Ketujuh buah kilang Refinery Unit tersebut tersebar
di berbagai wilayah di Indonesia. Lokasi kilang yang dimiliki PT.
PERTAMINA (Persero)pada peta wilayah Indonesia dapat dilihat pada
gambar 1.1 berikut.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Gambar 1.1 Lokasi Kilang PT. Pertamina


(Sumber: Pertamina, 2010)

1.2.2 Logo Pertamina


Sejak pertama berdirinya sampai sekarang, PT. PERTAMINA
(Persero)mengalami beberapa perubahan logo. Adapun perubahan-
perubahan itu dapat dilihat pada gambar 1.2 berikut :

Gambar 1.2 Perubahan Logo PT. PERTAMINA (Persero)


Pada 10 Desember 2005, menanggapi kompetisi bisnis di bidang
Industri, PT. Pertamin (Persero) mengganti logonya dari yang awalnya kuda
laut menjadi bentuk panah dengan 3 warna dasar yang berbeda. Berikut
adalah gambar logo PT. PERTAMINA (Persero)yang baru serta deskripsi
makna dari logonya.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Gambar 1.3 Logo PT. PERTAMINA (Persero)sekarang


a) Elemen logo yang berbentuk huruf P yang secara keseluruhan
merupakan presentasi bentuk panah, dimaksudkan sebagai
Pertamina yang bergerak maju dan progresif.
b) Warna yang pada logo menunjukkan langkah besar Pertamina dan
aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih positif dan
dinamis.
Merah
Warna merah melambangkan keuletan dan ketegasan
serta keberanian dalam menghadapi berbagai macam kesulitan.
Hijau
Warna hijau melambangkan sumber daya energi yang
berwawasan lingkungan.
Biru
Warna biru melambangkan handal, dapat dipercaya,
dan bertanggung jawab.
c) Tulisan Pertamina dengan pilihan huruf yang mencerminkan
kejelasan dan transparansi serta keberanian dan kesungguhan dalam
bertindak sebagai wujud positioning Pertamina baru.

1.2.2 Sejarah Pertamina Ru (Refinery Unit) Iii


PT. PERTAMINA (Persero) RU III mempunyai dua kilang yang terdapat
di Plaju dan Sungai Gerong yang dikenal sebagai Kilang Musi. Secara
geografis, kilang Musi terletak di daerah tepi sungai Musi. Kilang Plaju dan
Sungai Gerong dipisahkan sungai Komering, Kilang Plaju dan Sungai Gerong
dibangun oleh pemeringtah Hindia Belanda pada tahun 1920 dengan tujuan
untuk mengolah minyak bumi yang berasal dari daerah Prabu Mulih dan
Jambi. Kilang plaju kemudian diusahakan oleh Shell Group pada tahun 1957.
Setelah kemerdekaan Indonesia, tahun 1965, Kilang Plaju diambil
alih oleh pemerintah Republik Indonesia. Kapasitas produksi kilang ini
mencapai 110 MBCD (Million Barrel Calendar Day). Berbeda dengan
tetangganya, kilang Sungai Gerong dibangun oleh Stanvac Indonesia.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Kapasitas produsiknya pada tahun 1970 mencapai 70 MBCD, namun pada


saat ini kapasitasnya hanya 25 MBCD.
Pada tahun 1972 di Plaju didirikan Asphalt Blowing Plant (demolish)
dengan kapasitas mencapai 45.000 ton per tahun. Selang satu tahun
berikutnya, didirikan Pabrik Polypropilen dan masih beroperasi sampai
sekarang. Pada tahun yang sama dilakukan pula pengintegrasian antara
Kilang Plaju dan Sungai Gerong untuk meningkatkan efisiensi kerja dua
kilang. Pengintergrasian ini dilakukan dengan pembangunan jembatan dan
sistem perpipaan untuk transfer bahan baku dan produk. Tahun 1982, PT.
PERTAMINA (PERSERO)RU III mulai mencoba memasuki pasar industri
aromatik dengan membangun Pabrik Terepthalate Acid/Purified
Terepthalate Acid (TA/PTA) melalui proyek Plaju Aromatic Centre (PAC).
Namun pabrik ini tidak beroperasi lagi terhitung bulan Juni 2005.
Kilang minyak yang semakin tua mengakibatkan efisiensi kilang
menurun. Atas perimbangan tersebut dilakukanlah pembuatan kilang baru
melalui Proyek Kilang Musi (PKM) yang dilakukan secara bertahap. PKM I
dilakukan pada tahun 1982 dengan menitikberatkan kepada konservasi
energi agar mampu meningkatkan efesien unit-unit operasi. Berikut upaya-
upaya yang dilakukan:
1. Revamping dapur dan beberapa peralatan Crude Distillation Unit
Plaju untuk menurunkan penggunaan bahan bakar.
2. Revamping Fixed Catalytic Cracking Unit (FCCU) dan Light End Unit
Sungai Gerong.
3. Pembangunan unit distilasi bertekanan hampa, New Vacuum
Distillation Unit (NVDU) di Sungai Gerong dengan kapasitas produksi
48 MBCD Long Residue.
4. Mengganti koil pemanas tangki.
5. Melengkapi fasilitas transfer produk antara Kilang Plaju dan Sungai
Gerong.
6. Memanfaatkan semaksimal mungkin listrik yang dihasilkan gas
turbin Power Station II (PS II).
Proyek PKM I selesai pada bulan September 1986. Tahap II dari PKM
(PKM II) dilakukan pada tahun 1991 dengan upaya-upaya sebagai berikut:

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

1. Peningkatan kapasitas produksi kilang Polypropilen menjadi 45.000


ton/tahun.
2. Revamping RFCCU dan unit alkilasi.
3. Redesign siklon FCCU Sungai Gerong.
4. Modifikasi unit Redistiller I/II Plaju.
5. Pemasangan Gas Turbine Generator Complex (GTGC) dan perubahan
frekuensi listrik dari 60 Hz ke 50 Hz.
6. Pembanungan Water Treatment Unit (WTU) dan Sulphur Acid
Recovery Unit (SARU).
Sejarah perkembangan PT. PERTAMINA (Persero) RU III secara
singkat dapat dilihat pada tabel 1.3 berikut:
Tabel 1.3 Sejarah perkembangan PT. PERTAMINA (Persero)RU III

Tahun Sejarah
1907 Pembangunan Kilang Minyak di Plaju oleh Shell (Belanda)
1933 Kilang Sungai Gerong dibangun oleh STANVAC (AS)
1957 Kilang Plaju diambil alih oleh PT Shell Indonesia
Kilang Plaju/Shell dengan kapasitas 100 MBCD dibeli oleh
1965
negara/PERTAMINA
1970 Kilang Sungai Gerong/STANVAC dibeli oleh negara/PERTAMINA
Pendirian kilang polypropylene untuk memproduksi pellet
1971
polytam dengan kapasitas 20.000 ton/th
1973 Integrasi operasi kilang Plaju Sungai Gerong
Pendirian Plaju Aromatic Center (PAC) dan Proyek Kilang Musi
1982
(PKM I) yang berkapasitas 98 MBSD
Pembangunan High Vacuum Unit (HVU) Sungai Gerong dan
1982
revamping CDU (konservasi energi)
Proyek pembangunan kilang TA/PTA dengan kapasitas
1984
produksi 150.000 ton/th
Kilang PTA (Purified Terephtalic Acid) mulai berproduksi
1986
dengan kapasitas 150.000 ton/th
Proyek pengembangan konservasi energi/Energy Conservation
1987
Improvemant (ECI)
Proyek Usaha Peningkatan Efisiensi dan Produksi Kilang
1988
(UPEK)
1990 Debottlenecking kapasitas kilang PTA menjadi 225.000 ton/th
1994 PKM II: Pembangunan unit polypropylene baru dengan
kapasitas 45.200 ton/th, revamping RFCCU Sungai Gerong

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

dan unit alkilasi, redesign siklon RFCCU Sungai Gerong,


modifikasi unit Redistilling I/II Plaju, pemasangan Gas Turbine
Generator Complex (GTGC) dan perubahan frekuensi listrik dari
60 Hz ke 50 Hz, dan pembangunan Water Treatment Unit
(WTU) dan Sulphuric Acid Recovery Unit (SARU)
2002 Pembangunan jembatan integrasi Kilang Musi
2003 Jembatan integrasi Kilang Musi yang menghubungkan Kilang
Plaju dengan Sungai Gerong diresmikan
2007 Kilang TA/PTA berhenti beroperasi
2012 Project UU 32

1.3 Lokasi Pabrik


PT. PERTAMINA (Persero) RU III terletak di Propinsi Sumatera Selatan,
tepatnya di Plaju dan Sungai Gerong, Kotamadya Palembang. RU III terbagi
menjadi dua kilang, yaitu kilang Plaju dan Kilang Sungai Gerong. Kedua kilang
ini dipisahkan oleh Sungai Komering yang merupakan anak Sungai Musi.
Walaupun letaknya terpisah, namun kedua kilang ini sudah terintegrasi dengan
baik. Dengan dibangunnya jembatan integrasi yang menghubungkan kedua
kilang tersebut, maka transportasi antar kilang semakin baik. PT. PERTAMINA
(Persero) RU III Plaju menempati lokasi seluas 921 Ha (di luar terminal P.
Sambu dan T. Uban).
Kilang Plaju terletak di Plaju, Kotamadya Palembang. Kilang Plaju
terletak di sebelah barat Sungai Komering dan di sebelah utara berbatasan
dengan Sungai Musi. Sedangkan Kilang Sungai Gerong terletak di kabupaten
Musi Banyu Asin. Kilang ini terletak di sebelah timur Sungai Komering dan di
sebelah utara juga berbatasan dengan Sungai Musi. PT. PERTAMINA (Persero)
RU III memiliki dua area dermaga untuk mempermudah pengangkutan baik
produk ataupun bahan mentah. Kilang Plaju memiliki dermaga Plaju dan Kilang
Sungai Gerong memiliki dermaga Sungai Gerong. Pada tahun 2003, PT.
PERTAMINA (Persero) RU III membangun jembatan yang menghubungkan
Kilang Plaju dan Kilang Sungai Gerong.
Sebagai dasar pemilihan lokasi kilang minyak adalah:
1. Dekat dengan sumber minyak mentah sebagai bahan baku utamanya.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

2. Dekat dengan pasar yang dituju.


3. Tersedianya cadangan air yang cukup sebab kilang minyak
memerlukan air dalam jumlah yang cukup besar.
4. Dekat dengan prasarana umum yang ada, seperti jaringan
transportasi, jaringan listrik dan jaringan telekomunikasi.
5. Tersedianya areal tanah yang luas dan cukup tersedia untuk
kemungkinan perluasan.
Luas wilayah efektif yang digunakan oleh RU III dapat dilihat di Tabel
1.4 berikut:

Tabel 1.4 Pembagian Luas Wilayah PT. PERTAMINA (Persero)RU III


No. Tempat Luas Wilayah (ha)
1 Area Perkantoran Dan Kilang Plaju 229,60
2 Area Kilang Sungai Gerong 153,90
3 Pusdiklat fire & safety 34,95
4 RDP dan Lapangan Golf Bagus Kuning 51,40
5 RDP Kenten 21,20
6 Lapangan Golf Kenten 80,60
7 RDP Plaju, Sungai Gerong, dan 3 Ilir 349,37
Total 921,02

1.4 Tata Letak Industri


Unit-unit pemroses di PT. PERTAMINA (Persero) RU III tersebar pada
wilayah Kilang Plaju dan Kilang Sungai Gerong. Pembagian unit tersebut
ditunjukkan pada Tabel 1.5 berikut:
Tabel 1.5 Persebaran Unit di PT. PERTAMINA (Persero) RU III
Kilang Wilayah Unit
Kilang utara CDU II, CDU III, CDU IV
Kilang tengah CDU V, Stabilizer C/A/B, SRMGC
Plaju Kilang selatan BBMGC, BB Distiller, BB Treater, Unit
Polimerisasi, Unit Alkilasi, Gas Plant
Sungai Gerong - CDU VI, HVU II, RFCCU, Merichem
Treater
Unit pemroses yang ada di Sungai Gerong adalah Crude Distiller
&Light End. Unit ini terdiri dari CD VI, Redistiller III/IV, Vacuum Distillation
Unit II, RFCCU. Unit unit Redistiller ini sudah berada pada kondisi idle atau

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

tidak digunakan lagi karena alasan efisiensinya yang kurang baik dan
memiliki fungsi yang sama dengan unit Crude Distiller.
Lokasi Pertamina RU III memberikan beberapa keuntungan, antara
lain :
a. Proses transportasi bahan baku dan produk dapat melalui Sungai
Musi dan Sungai Komering.
b. Sumber bahan baku relatif dekat, yaitu berasal dari daerah Sumatera,
terutama Sumatera bagian selatan (Sumbagsel).
c. Sumber air pendingin dapat diambil dari Sungai komering.
d. Air hasil proses di Kilang dapat dibuang di Sungai Komering dan
Sungai Musi.
Tata letak dan denah pabrik PT. PERTAMINA (Persero) RU III
ditunjukkan pada gambar 1.4, 1.5 dan 1.6 berikut:

Gambar 1.4 Denah Lokasi Kilang PT. PERTAMINA (Persero) RU III

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Gambar 1.5 Denah Kilang Plaju

Gambar 1.6 Denah Kilang Sungai Gerong

1.5 Distribusi Dan Pemasaran Produk


PT. PERTAMINA (Persero) RU III bergerak di sektor hilir yang
mengoperasikan kilang BBM dan petrokimia. Bahan baku crude oil dari
Prabumulih, Pendopo dan Jambi disalurkan melalui :
1. Pipa-pipa.
2. Kapal kapal tanker.
3. Mobil mobil pendistribusian.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Sedangkan hasil produksi berupa BBM, non BBM, Bahan bakar


khusus, dan petrokimia didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan minyak
dan gas di wilayah Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung,
PangkalPinang, Medan, Pontianak, Jakarta dan ekspor.
Pendistribusian minyak di PT. PERTAMINA (Persero) RU III dilakukan
melalui pipa-pipa, kapal-kapal tanker dan mobil-mobil pendistribusian.
Pemasaran produk PT. PERTAMINA (Persero) RU III dilakukan oleh Unit
Pemasaran dan Pembekalan Dalam Negeri (UPPDN).
PT. PERTAMINA (Persero) mempunyai bidang usaha migas dan panas
bumi di sektor hulu dan sektor hilir. Adapun kegiatan yang dilakukan di
kedua sektor tersebut adalah:
a. Kegiatan Hulu
Kegiatan sektor hulu PT. PERTAMINA (Persero) adalah
mempertahankan dan meningkatkan produksi minyak, gas dan panas bumi.
Sasaran kegiatan hulu adalah menemukan cadangan baru dan
meningkatkan resource base serta mengembangkan panas bumi sebagai
sumber energi alternatif.
Selain berkonsentrasi di dalam negeri, kegiatan sektor hulu PT.
PERTAMINA (Persero) secara bertahap mulai mengembangkan kegiatannya
di luar negeri melalui kerjasama dengan Irak dan Vietnam. Sedangkan
kerjasama dengan negara asia lain dalam pengkajian.
Produksi minyak bumi PT. PERTAMINA (Persero) dan mitra tahun
2013 adalah sebesar 202.000 barel per tahun. Produksi PT. PERTAMINA
(Persero) operasi ini dihasilkan dari Daerah Operasi Hulu (DOH) NAD,
Sumatera bagian utara, tengah dan selatan, Jawa bagian barat, timur,
Kalimantan serta Papua. Untuk gas bumi, PT. PERTAMINA (Persero)
memiliki kapasitas produksi sebesar 260.000 barel per tahunnya.
b. Kegiatan Hilir
1) Bidang Pengolahan
Kegiatan pengolahan merupakan upaya memproses minyak mentah
dan gas bumi, mengusahakan tersedianya produk-produk minyak dan
bahan bakar minyak (BBM), non BBM maupun bahan baku untuk

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

kebutuhan industri dalam negeri serta melayani pemasaran luar negeri.


Perangkat kilang yang digunakan adalah kilang minyak, kilang gas, dan
kilang petrokimia yang keseluruhannya dioperasikan secara optimal,
ekonomis dan efisien.
Tujuan didirikannya bidang pengolahan ini adalah memenuhi
kebutuhan stakeholder, menghasilkan keuntungan optimal, dan menjadi
unit usaha yang unggul, bersaing dan berkembang.
2) Bidang Pemasaran dan Niaga
Kegiatan pemasaran dan niaga mencakup upaya pembekalan dan
pemasaran distribusi produk-produk BBM serta perluasan pemasaran non
BBM untuk kebutuhan dalam negeri dalam jumlah yang cukup, mutu yang
baik serta tepat waktu, dan sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah dan
pembangunan nasional.
Kebutuhan BBM dalam negeri saat ini mencapai lebih dari 47 juta
kilo liter yang disalurkan melalui: transit terminal, instalasi, seafed depot,
inland depot, pilot filling station dan SPBU (ESDM, 2014). Penyaluran
BBM di pulau Jawa selain melalui angkutan udara dan laut, selain itu
digunakan saluran pipa karena biaya lebih murah juga dari segi
keselamatan lebih handal.
3) Bidang Perkapalan
Keberadaan bidang perkapalan ini bertujuan untuk memelihara
kehandalan distribusi BBM dalam negeri serta sebagai penunjang industri
dimana keberadaan armada transportasi laut yang handal dan ekonomis
sangatlah diperlukan. Dengan meningkatnya kebutuhan BBM, maka muatan
yang diangkut melalui laut ikut meningkat.
PT. PERTAMINA (Persero) menggunakan armada tanker baik
kapal milik sendiri maupun kapal carter untuk mengangkut minyak
mentah dan BBM sejumlah 72.471.000 LT (long ton/tahun). Dalam
meningkatkan mutu dan pelayanan di bidang transportasi laut, bidang
perkapalan telah memiliki standar keselamatan yang ditentukan oleh
International Safety Management Code (ISM-Code) yaitu berupa Document
of Complience ((DOC) serta Safety Management Certificate (SMC), Standard

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STWC) serta


mengikuti ketentuan Marine Pollution (MARPOL) dan Safety of Life at Sea
(SOLAS).
1.6 Pengembangan Usaha
Dalam hal pengembangan usaha, Pertamina telah mulai
mengembangkan usahanya baik di dalam dan luar negeri melalui aliansi
strategis dengan mitra. Pertamina juga memiliki usaha yang prospektif di
bidang jasa pemboran minyak dan gas melalui Pertamina Drilling Service
(PDS) yang memiliki 26 unit rig pemboran serta anak perusahaan PT
Usayana yang memiliki 7 rig pemboran. Dalam kegiatan transmisi gas,
Pertamina memiliki jaringan pipa gas dengan panjang total 3800 km dan 64
stasiun kompresor. Disamping itu, tidak hanya di dalam migas saja
pertamina mengembangkan usahanya namun diluar dari kegiatan migas
pertamina memiliki pengembangan usaha lainnya.

1.6.2 Pengembangan Usaha Tahun 2012


Pada awalnya tahun 2012, PT. PERTAMINA menyatakan tertarik
untuk mengimplementasikan alokasi dana CSR-nya. Sesuai proposal yang
diajukan oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Malang, dengan catatan supaya
Dinas Kehutanan Kabupaten Malang mempresentasikan potensi kegiatan
yang bisa didukung dana CSR. Dihadapan segenap jajaran pimpinan PT.
PERTAMINA Terminal BBM Malang, dan akhirnya perlu disyukuri bahwa
sejak tahun 2012 sampai sekarang PT. PERTAMINA Terminal BBM Malang
berkenan memberikan kepercayaan untuk dana CSR-nya digunakan
membantu pengembangan usaha kehutanan masyarakat dan perbaikan
mutu hutan di Kabupaten Malang. Pengembangan usaha perbambuan 3
tahun anggaran di Desa Dalisodo Kec. Wagir, pelestarian sumber mata air
dan wanafarma 2 tahun anggaran di Desa Tulus Besar Kec. Tumpang,
keanekaragaman hayati tanaman langka kehutanan 2 tahun anggaran di
SMKN 1 Kepanjen dan Taman Kehati Kepanjen, usaha tanaman pakan
ternak dan kehati dari hutan 1 tahun anggaran di Desa Babadan Kec.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Ngajum, dan 2 paket bantuan pengembangan wisata alam pantai Ngudel


Desa Sindurejo Kec. Gedangan. Bantuan meliputi pengembangan tanaman
hutan, mesin mesin pengolahan hasil hutan (bambu, rumput odot, dll),
satwa langka, sarana prasarana wisata, dan lain-lain.
1.6.3 Pengembangan Usaha Tahun 2016
a. Pengembangan Usaha Penangkapan Gurita
PT. PERTAMINA (Persero) Marketing Operation Region I Sumbagut
menyalurkan bantuan pengembangan usaha penangkapan gurita kepada
kelompok nelayan sejahtera di Gampong/Desa Beurawang Kecamatan Suka
Jaya, Kota Sabang. Bantuan ini merupakan program tanggung jawab sosial
dan lingkungan perusahaan untuk membantu meningkatkan kesejahteraaan
masyarakat di Aceh khususnya dan Indonesia umumnya
b. Pengembangan Usaha Kecil Menengah
PT. PERTAMINA (Persero) menyatakan komitmennya mengalokasikan
dana corporate social responsibility (CSR) bagi pengembangan usaha kecil
menengah (UKM) di Indonesia. Pengembangan usaha di sektor pertanian
dan pangan tersebut dapat mengurangi ketergantungan impor di bidang
pangan. Adapun pengembangan UKM telah dilaksanakan oleh Pertamina,
salah satunya melalui Small Medium Enterprise & Social Responsibility
Partnership Program atau lebih dikenal dengan sebutan Program Kemitraan
dan Bina Lingkungan.
1.6.4 Pengembangan Usaha Tahun 2017
a. Pengembangan Usaha Kecil
PT. PERTAMINA kembali memberikan dana pinjaman lunak melalui
program kemitraan dan bina lingkungan untuk pengembangan usaha kecil
menengah (UKM) bagi mitra binaan di wilayah Jambi dan Lampung.
Pertamina menunjukan komitmen kepeduliannya terhadap perkembangan
perekonomian masyarakat melalui penyaluran pinjaman lunak. Adapun
mitra binaan yang diberi bantuan lunak ini bergerak di bidang usaha yang
beragam, seperti peternakan, perikanan, perdagangan dan industri kecil.
b. Pengembangan Usaha Hulu

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Iran masih menjadi salah satu fokus utama PT. PERTAMINA (Persero)
untuk mengembangkan usaha hulunya di luar negeri. Dengan cadangan
migasnya yang besar menjadikan Iran sebagai salah satu tujuan investasi
perusahaan-perusahaan migas global. saat ini Pertamina masih menanti
keputusan dari National Iranian Oil Company (NIOC) untuk menindaklanjuti
proposal pengembangan dua lapangan onshore Ab-Teymour dan Mansouri.
Kedua ladang minyak raksasa di Iran itu adalah hasil nota kesepahaman
NIOC dan Pertamina pada Agustus 2016, yang juga merupakan bagian dari
kerja sama bilateral konkret antara Indonesia dan Iran.

1.7 Penelitian Dan Pengembangan


UTC juga aktif bekerja sama dengan lembaga penelitian dan
Perguruan Tinggi dalam negeri untuk mengembangkan teknologi eksplorasi
dan produksi migas dan panasbumi baru yang murah serta lebih sesuai
dengan kondisi geologi, topografi dan sosial Indonesia. Beberapa studi dan
penelitian yang dilakukan meliputi:
Pembuatan piranti lunak pemodelan cekungan.
Studi pengembangan perangkat lunak untuk pengolahan data seismic
menggunakan metode Common Reflection Surface (CRS).
Penelitian atau pengembangan perangkat lunak 4D Microgravity.
Pengolahan data seismik, georesistivity dan geohistory untuk mengkaji
kematangan batuan induk di Cekungan Indonesia Bagian Timur.
Studi Microseismic, Analisa AVO dan inversi simultan data seismik 3D
Rengancondong.
Riset terapan studi kelayakan pemanfaatan bahan kimia untuk EOR dari
limbah kelapa sawit.
Research Consortium Optimization on Oil and Gas Pipeline Network
OPPINET.
Aplikasi teknologi Radial Drilling untuk menaikkan produksi di Pondok
Tengah (PDT-08) dan JOB Talisman (ASDJ-70, ASDJ-07 dan SGR-01).

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Pengembangan Sistem Pakar (Expert System) Software PF Design 2.0


untuk pengembangan dan pengoperasian ladang gas yang
memerlukan Unit Penyingkiran Gas Asam/Acid Gas Removal/AGRU
(CO2 dan H2S).
Studi pengembangan geodatabase dan sistem informasi geografi
berbasis web dengan menggunakan teknologi perangkat lunak
berlisensi dan open source.
Pengembangan perangkat untuk menyelesaikan masalah surface and
subsurface menggunakan Ultrasonic Wave Technology.
Study Regional G&G Cekungan Sumatra Utara.
Studi Potensi Batuan Karbonat sebagai source rock dan fault rock.
Pengembangan Perangkat Lunak Metode Passive Seismic untuk Deteksi
Penyebaran Hidrokarbon Tahap I-II.
Joint inversion Seismik Gravity and MT di area Volkanik (Jawa Barat
Selatan).
Study Excess Water Production & Relative Permeability Modifier
Aplication.
Studi Downtime Analysis (Low & Off).
Studi Pemetaan menggunakan Mini Lidar Velodyne VLP-16.
Pengembangan Aplikasi Managemen Data Terintegrasi 2016.
Rancang Bangun Silica Scale Breaker menggunakan Gelombang
Ultrasonik Frekuensi Rendah & Aplikasinya Pada Sumur Produksi
Panas bumi.
Pemodelan Reservoar CBM menggunakan Data Seismik Hasil Inversi
Sparse Layer : Studi Kasus Lapangan CBM Tanjung II.
Optimasi formulasi surfaktan berbasis SLS untuk lapangan Rantau.
Studi Formulasi Surfaktan MES untuk Lapangan Jirak.
1.8 Sarana dan Fasilitas
1.8.2 Sarana Dan Fasilitas Ingoing And Outgoing
RU III Plaju dilengkapi dengan sarana ingoing dan outgoing untuk
penerimaan umpan dan penyaluran produk terdiri dari 12 Jetty dimana saat

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

ini hanya 7 jetty yang digunakan untuk operasional RU III Plaju dengan
rincian sebagai berikut :
Jetty 1 : Idle (ops. Pertasamtan Gas)
Jetty 2 : Crude & Product
Jetty 3 : Crude & Product, Ukuran jetty : 20,21 m x 10,4 m, Kapasitas
(DWT) kg : 22.517.000
Jetty 4 : Crude & Product, Ukuran jetty : 18,97 m x 14,12 m,
Kapasitas (DWT) kg : 14.117.000
Jetty 5 : Crude & Product, Ukuran jetty : 114,8 m x 10 m,
Kapasitas (DWT) kg : 46.017.000
Jetty 6 : Product, Ukuran jetty : 31,54 m x 5,47 m, Kapasitas
(DWT) kg : 17.000
Jetty 7 : Product, Ukuran jetty : 60,1 m x 9,05 m, Kapasitas
(DWT) kg : 62.017.000
Jetty 8 : Product, Ukuran jetty : 35 m x 5,36 m, Kapasitas
(DWT) kg : 332.517.000
Jetty 9 : Perbaikan Idle
Jetty 10 : Crude & Product, Ukuran jetty : 35 m x 7,6 m,
Kapasitas (DWT) kg : 262.517.000

1.8.3 Sarana dan Fasilitas Utilities


Fasilitas utilities digunakan sebagai fasilitas pendukung Kegiatan
operasional unit proses. Unit utilitas yang terdapat di PT. PERTAMINA RU III
di bagi menjadi tiga power stasion (PS), yaitu: PS-1 dan PS -2 terletak di
Plaju, sedangkan PS-3 terletak di Sungai Gerong. Pada saat ini PS yang masih
beroperasi secara penuh dan aktif adalah PS-2 dan PS-3 sedangkan PS-1
hanya beberapa unit yang masih aktif. Beberapa fasilitas utilities yang
terdapat di RU III Plaju sebagai berikut :
Tabel. 1.6 Fsilitas Utilities yang Terdapat di RU III Plaju

No Equipment Kapasitas Keterangan


1 Raw water RPA 1 P#1, 2, & 3 : 108 RPA 1 s.d. 4 berlokasi
intake, Rumah m3/hr x 3 di Plaju dan RPA 5
RPA 2 P#5, 6, & 7 : 3.000
Pompa Air (RPA) berlokasi di Sungai
m /hr x 3
3
Gerong
RPA 3 P#4 : 6.000 m3/hr

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

RPA 4 P#2205 JA/JB :


1.100 m3/hr x 2
RPA 5 P#4, 5,6, & 7 :
1.817 m3/hr x
2 Steam Boiler 2010 UA/B/C : 68 T/hr x 3 Unit WHRU dan 2
3 Unit Package Boiler
2011 UA/B : 50 T/hr x 2

3 Gas Turbine 31 MWx3 3 Unit Gas Turbine

4 Cooling Tower 12.000 m3/hr (Plaju) 1 Unit CT Plaju dan 1


Unit CT Sungai
4.839 m3/hr (Sungai
Gerong
Gerong)

5 Service Air & 4.454 Nm3/hr x 2 (2025 6 Unit Compressor


Instrument Air JA/JC
4.371 Nm3/hr (2025 JB)
4.545 Nm3/hr (2027 JA)
4.359 Nm3/hr x 2 (2027
JB/C)
6 N2 Plant 1.986Nm3/hr

1.8.4 Sarana dan Fasilitas Pekerja


Sarana dan fasilitas yang diberikan kepada pekerja antara lain
tunjangan daerah, tunjangan jabatan dan tunjangan risiko yang bekerja di
kilang, pemeriksaan kesehatan berkala, program pemilikan rumah pekerja
(PPRP), fasilitas bantuan bagi anak pekerja, bantuan pemakaman, bantuan
naik haji dan fasiltas untuk masa persiapan purna karya dan jaminan hari
tua untuk seluruh pekerja. Bagi pekerja yang berasal dari luar daerah dan
apabila keadaan perusahaan memungkinkan, kepada pekerja diberikan
fasilitas rumah dinas.Komponen tunjangan keuangan didefinisikan antara
lain basic salary, tunjangan daerah, tunjangan jabatan, tunjangan shift,
tunjangan risiko kerja, tunjangan bekerja melebihi jam kerja normal, THR,
tunjangan cuti, tunjangan pajak penghasilan dan tunjangan pejabat

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

sementara. Dalam rangka persiapan purna bakti dan pensiun, RU III Plaju
menyelenggarakan program pelatihan mandatory PMPK (Pembekalan Masa
Purna Karya) dengan target peserta yaitu pekerja yang telah berusia 50
tahun beserta istri/suami. Tujuan pelatihan tersebut antara lain
memberikan pemahaman mengenai:
1. Bagaimana mengelola keuangan hari tua di masa purna karya agar
dapat menjalani kehidupan yang baik.
2. Peluang bisnis yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan.
3. Persiapan mental dan perilaku serta perubahan mind set dalam
memasuki masa pensiun.
4. Menggugah tekad untuk tetap semangat sebelum pensiun (leaving
legacy).

1.9 Kepedulian Lingkungan


1.9.2 Green Planet
Program penanaman pohon dan konservasi mangrove yang
dilaksanakan melalui aksi langsung penanaman, pembagian bibit pohon
kepada warga dalam sejumlah kegiatan masyarakat dan kampanye
lingkungan. Pada tahun 2009 telah didistribusikan sekitar 100.000 pohon,
di Jakarta dan di wilayah-wilayah operasi Pertamina di Indonesia.Pertamina
menanam pohon-pohon tersebut di berbagai area, termasuk lahan kritis
dan perkotaan. Jenis tanaman bervariasi, dari pohon produktif seperti
mangga, rambutan, belimbing, juga mangroove dan pohon pelindung seperti
akasia dan jati.

1.9.3 Costal Clean Up


Kegiatan CSR Lingkungan bersih-bersih pantai. Kegiatan ini
dilaksanakan dengan sejumlah aksi, antara lain bersih-bersih pantai,
distribusi tempat sampah, edukasi pelestarian lingkungan dan penanaman
pohon. Tahun 2009, Program Costal Clean Up dilaksanakan di Balikpapan,
Balongan dan Cilacap.

1.9.4 Green and Clean

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Dalam mendukung kebersihan dan paru-paru kota, tahun 2009 ini


Pertamina juga melaksanakan rehabilitasi taman kota di Bandung dan
pembagian 21 unit sepeda motor sampah di Kota Medan.

1.9.5 Green Festival


Langkah Pertamina untuk Selamatkan Bumi juga dilaksanakan
melalui Green Festival 2009, suatu kegiatan tahunan yang mengangkat isu
pemanasan global (global warming). Program ini bertujuan mengedukasi
dan mengajak masyarakat untuk melakukan aksi menyelamatkan bumi dari
dampak pemanasan global. Dalam Green Festival 2009, terdapat lima green
area, yaitu area listrik, sampah, kendaraan, air dan pohon. Di green area,
pengunjung diperlihatkan apa saja yang bisa dilakukan untuk
menyelamatkan bumi dari dampak pemanasan global. Mulai dengan
menghemat dan mengelola air sebagai sumber kehidupan, mengelola
sampah dengan 5R (reused, reduce, recycle, rethink, replace), mengerti
makna pohon dan fungsinya bagi kehidupan manusia, sampai bagaimana
cara meminimalisasi polusi dengan menggunakan kendaraan yang ramah
lingkungan. Pada Green Festival 2009 juga diadakan green competition,
yaitu, lomba yang mengasah pengetahuan seputar pemanasan global dan
lingkungan secara umum yang diikuti oleh ratusan sekolah di Jakarta.

1.9.6 Biopori
Pada tahun 2009 PT. PERTAMINA juga memberikan 12.300 unit Bor
Biopori, di Jakarta, Jawa Tengah, DIY, dan Tangerang. Bor Biopori
merupakan suatu alat untuk membuat lubang biopori, yang berguna untuk
membantu percepatan resapan air dan penginvestasian air di dalam tanah.
Dengan membuat lubang biopori di masing-masing rumah, cadangan air
tanah akan bertambah karena luas resapan air diperbanyak. Lubang biopori
juga berguna untuk penimbunan sampah organik sehingga membantu
proses penyuburan tanah.

1.9.7 Uji Emisi Gas Buang

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Perhatian terhadap kualitas udara yang lebih baik merupakan salah


satu fokus Pertamina terhadap lingkungan. Untuk terus
menginternalisasikan wawasan dan sikap pro lingkungan bagi stakeholders
internal Pertamina, khususnya di lingkungan Kantor Pusat Pertamina, dan
secara kongkrit menunjukkan sikap peduli lingkungan sekaligus patuh pada
peraturan-peraturan lingkungan, Pertamina melaksanakan uji emisi gas
buang kepada kendaraan yang berada di lingkungan kantor pusat
Pertamina.Uji emisi gas buang ini mengacu Peraturan Daerah Provinsi DKI
Jakarta Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, dan
Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 92 Tahun 2007 tentang Uji Emisi
Kendaraan Bermotor, dan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 31 Tahun
2008 tentang Baku Mutu Emisi Kendaraan Bermotor. Uji Emisi selama 3 hari
menjangkau sedikitnya 700 kendaraan Perusahaan dan Pekerja Pertamina
berbahan bakar bensin dan solar yang sehari-hari beroperasi di lingkungan
Kantor Pusat Pertamina.

1.9.8 Pertamina Green Act


Pertamina Green Act merupakan sebuah kompetisi seni dan
kreativitas bagi siswa SMA dan guru dengan gaya hidup hijau sebagai tema
utama. Program ini bertujuan untuk menjadikan sekolah-sekolah terbaik
untuk menjadi pelopor gerakan peduli lingkungan. Tujuan umum dari
program ini adalah untuk meningkatkan dan mengembangkan kegiatan
ramah lingkungan dan kreativitas dalam rangka memecahkan masalah
lingkungan yang ada dalam masyarakat. Rangkaian kegiatan yang dilakukan
dalam program Green Act diantaranya adalah sosialisasi program, pelatihan,
dan kompetisi 3R (reduce, reuse, recycle).

1.9.9 Kerajinan Eceng Gondok


Kerajinan Eceng Gondok ini merupakan salah satu bentuk
kepedulian CSR Pertamina bidang Lingkungan yang bertujuan untuk
mengurangi polutan air melalui budi daya tanaman eceng gondok. Program

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

ini dilakukan di dekat daerah operasional Pertamina di Plaju, Palembang


Sumatra. Fokus utamanya berupa pemberdayaan masyarakat dan
pengembangan potensi lokal berupa sumber daya tanaman eceng gondok.
Diharapkan agar tanaman eceng gondok yang sering dianggap sebagai
gulma dapat diolah menjadi barang kerajinan yang bermanfaat.

1.9.10 Rehabilitasi Hutan Mangrove


Pertamina berkomitmen untuk terus berpartisipasi dalam
menyelamatkan lingkungan terutama kawasan hutan mangrove di sekitar
wilayah operasinya. Kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya berupa
penanaman tanaman mangrove tetapi juga pemberdayaan masyarakat lokal
mengenai manfaat tanaman mangrove dalam kehidupan. Sebagai contoh
adalah dengan pemberdayaan masyarakat lokal mengenai budidaya
kepiting di kawasan hutan mangrove yang kemudian dapat meningkatkan
kemandirian dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

BAB II
STRUKTUR ORGANISASI

2.1 Struktur Organisasi PT. PERTAMINA (PERSERO)RU-III


General Manager PT. PERTAMINA (Persero) RU-III langsung
membawahi beberapa Manager yang memiliki tugas dan fungsi masing-
masing, dimana masih terdapat keterikatan di antara tugas-tugas Manager
tersebut. Adapun bidang-bidang yang dipegang Manager yang ada di bawah
GM RU-III antara lain:
1. Engineering and Development
Bertugas untuk melakukan pengembangan kilang demi
menghasilkan produk yang bernilai jual dengan modifikasi pada
proses sehingga dihasilkan kondisi operasi yang lebih efisien dan
ekonomis.
2. Reliability
Bertugas untuk melihat kehandalan instrumen kilang, sebelum
direncanakan untuk di-maintenance dan setelah di-maintenance.
3. Refinery Planning and Optimization
Bertugas untuk merencanakan pengolahan untuk mencari groos-
margin sebesar-besarnya, menyiapkan dan menyajikan perspektif ke
ekonomian kilang, serta mengembangkan perencanaan yang dapat
memaksimumkan pendapatan berdasarkan pasar dan kondisi kilang
yang ada.
4. Production
Bertugas untuk menyelenggarakan (Operator) pengolahan minyak
mentah (crude) menjadi produk BBM dengan biaya semurah-
murahnya.
5. Maintenance Planning and Support

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Menjaga peralatan kilang yang tersedia dalam jangka waktu tertentu


agar proses pengolahan berjalan lancar dan target pengolahan dapat
tercapai dengan cara memperbaiki secepat mungkin peralatan
operasi serta melakukan pekerjaan terencana untuk TA (Turn
Arround) dan Non-TA.
6. General Affairs and Legal
General affairs membidangi Public Relations yang mencakup External
Relations, CSR, Internal Relations and Protokoler, serta Media
Relations. Sedangkan fungsi Legal memiliki peran untuk pengamanan
aset-aset yang dimiliki kilang, perijinan, pengkajian Undang-Undang,
serta menganalisa peraturan.
7. HSE (Healt, Safety, and Environment)
Pertamina RU-III melindungi keselamatan, kesehatan, dan
lingkungan kerja karyawankaryawannya melalui unit HSE. Selain itu
HSE juga berfungsi sebagai pengelola lingkungan hidup.
8. Procurement
Kegiatan utama dari bidang Procurement adalah inventory
controlling (pengendalian persediaan), purchasing (pengadaan
material), contract officer (kontrak jasa), dan terakhir service and
warehousing.
9. Turn Arround
Turn Arround (TA) adalah kegiatan pemeliharaan yang berskala
besar (extraordinary maintenance activites) yang dilakukan secara
berkala (34 tahun) yang hanya dapat dilaksanakan pada saat unit
dalam keadaan berhenti operasi.
10. OPI (Operational Performance Improvement)
OPI diadakan untuk memberi pelatihan untuk meningkatkan
performance pekerja serta untuk merubah budaya kerja yang tidak
baik, dan menjaga sustainability dari improvement yang sudah
terlaksana.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

11. Maintenance Execution


Maintenance execution berperan melaksanakan program
pemeliharaan yang telah direncanakan oleh MPS, Reliability, dan
Turn Around serta mengeksekusi maintenance harian.

(Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit Pertamina, Palembang,


2012)
Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT. PERTAMINA (PERSERO)RU-III

2.2 Manajemen PT.PERTAMINA (Persero) RU-III

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Manajemen adalah proses memimpin, pengadministrasian dan


mengarahkan perusahaan. Dalam hal ini manajemen menggunakan
berbagai sumber daya yang dimiliki perusahaan dan menggunakan sistem
divisi atau departemen yang kepemimpinannya bertingkat. Berikut adalah
jajaran manajemen yang berada pada PT. PERTAMINA (PERSERO)yang
terdiri dari Dewan Direksi dan Dewan Komisaris :
Tabel 2.1 Manajemen PT. PERTAMINA (Persero) RU-III
No Direksi Komisaris
1 Direktur Utama Komisaris Utama
2 Direktur Hulu Wakil Komisaris Utama
3 Direktur Gas Komisaris
4 Direktur Pemasaran Komisaris
5 Direktur Keuangan dan Strategi Komisaris
Perusahaan
6 Direktur Sumber Daya Manusia
(SDM), Teknologi Informasi dan
Umum

7 DirekturPengolahan

8 Direktur Megaproyek Pengolahan


dan Petrokimia

2.3 Visi dan Misi PT.PERTAMINA (Persero) RU-III

2.3.1 Visi

Menjadi Kilang Minyak dan Petrokimia Nasional yang Kompetitif di


Asia Pasifik Tahun 2025

2.3.2 Misi

1. Mengoperasikan kilang secara aman, handal, efisien, berkualitas dan


ramah lingkungan dengan menggunakan teknologi terkini.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

2. Meningkatkan profitabilitas melalui fleksibilitas dan optimasi


operasi pengolahan serta memaksimalkan valuable product.
3. Mengelola kilang secara professional, berstandar internasional,
memenuhi aspek GCG dan memberikan nilai tambah bagi
stakeholder.

2.4 Sumber Daya Manusia


RU III Plaju meyakini bahwa Sumber Daya Manusia (SDM)
merupakan aset strategis perusahaan dan memiliki peran yang penting
terhadap pertumbuhan dan keberlanjutan usaha. Strategi pengelolaan SDM
dijalankan secara tepat dalam rangka mendukung kegiatan bisnis yang
berkelanjutan. Oleh karenanya RU III Plaju senantiasa berupaya untuk
menciptakan suasana dan lingkungan kerja yang aman dan nyaman serta
pemenuhan hak pekerja secara memadai. Aspek pembangunan dan
pengembangan SDM selalu menjadi perhatian RU III Plaju. Kebijakandan
program pengembangan disiapkan dalam rangka meningkatkan
kemampuan pekerja sehingga potensi setiap pekerja dapat ditumbuhkan
secara optimal. RU III Plaju mendukung setiap pekerja untuk dapat
berkembang mencapai potensi terbaiknya.

2.4.1 Rekrutment
PT. PERTAMINA merekrut pekerja-pekerja handal dari:
1. Tenaga Fresh Graduate: Ditujukan untuk lulusan-lulusan baru dari
Perguruan Tinggi (Sarjana/Diploma) dan Sekolah Menengah Atas
(SMA/setara). Kami menyiapkan lingkungan yang kondusif untuk
mengenal perusahaan, semua bisnis dan nilai-nilai kami.
2. Tenaga Berpengalaman : Untuk memenuhi kebutuhan kami akan
keahlian dan pengalaman tertentu.

2.4.2 Pengembangan Pekerja


Program pengembangan pekerja di Pertamina dimulai saat
seseorang pekerja bergabung bersama Pertamina dan berlangsung terus

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

menerus sepanjang karirnya diperusahaan. Program pengembangan ini


antara lain:
1. Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih
tinggi secara selektif di dalam/luar negeri, untuk meningkatkan
kapabilitas dan kompetensi untuk membangun profesionalisme
pekerja.
2. Pelatihan, seminar, workshop di Pertamina Corporate University
maupun institusi-institusi ternama di dalam/luarnegeri di bidang
Manajerial, Spesialis, Teknis, Leadership dan Budaya.
3. Sertifikasiprofesional.
4. Coaching & Mentoring.
5. People Review yang merupakan Sistem Manajemen Kinerja di
Pertamina, untuk menilai kinerja dan sebagai dasar untuk program
pengembangan pekerja.
6. Jalur karir Manajerial dan Spesialis.
7. Internal Job Posting, memberikan kesempatan untuk merubah karir
di lingkunganPertamina.
8. Penugasan di anak perusahaan merupakan bagian dari pembinaan
dan pengembangan pekerja yang dilakukan secara terencana.

BAB III

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

ORIENTASI LAPANGAN

3.1 Deskripsi Proses PT. PERTAMINA (PERSERO)RU III

3.1.1 Primary Processing


Tujuan utamanya adalah memisahkan minyak mentah menjadi fraksi
produk bahan bakar minyak. PT. PERTAMINA RU III memiliki 6 Crude
Distiller yaitu Crude Distiller (CD) II, III, IV, V, dan ReDistiller I/II. Proses
primer bertujuan untuk memisahkan komponen-komponen minyak mentah
secara fisik dengan cara destilasi. Pada awalnya ReDistiller I/II berfungsi
untuk mendestilasi kembali slop oil (minyak tumpahan dan produk yang off
spec) serta minyak mentah dengan spesifikasi khusus seperti kandungan
pengotor yang tinggi pada crude oil yang kemudian diubah fungsinya
sehingga menjadi sama seperti Crude Distiller (CD). Proses yang dilakukan
pada CD II, III, IV, V dan ReDistiller I/II disebut proses utama yang bertujuan
untuk memisahkan komponen-komponen minyak mentah secara fisik
dengan cara distilasi. Pada awalnya ReDistiller I/II berfungsi untuk
mendistilasi kembali slop oil (minyak tumpahan dan produk yang off spec)
serta minyak mentah dengan spesifikasi khusus, tetapi kemudian diubah
fungsinya sehingga menjadi sama seperti Crude Distiller (CD).

3.1.2 Secondary Processing


Secondary process adalah proses pengolahan lanjut dari minyak bumi
yang telah diolah dalam Primary Process. Tujuan utamanya adalah
melanjutkan proses pemisahan minyak mentah yang merupakan produk
bawah dan produk gas.ringan dari proses utama untuk mendapatkan
produk bahan bakar minyak yang lebih banyak dengan tidak melupakan
spesifikasi dari produk serta untuk memproduksi LPG yang dibutuhkan
konsumen. PT. Pertamina Persero RU III memiliki 8 unit Secondary Procces
(Proses sekunder) yaitu Butane-Butylene Motor Gas Compresor (SRMGC),

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Polimerisasi, Alkilasi, Stabilizer C/A/B, High Vacuum Unit, Riser Fluid


Catalytic Cracking Unit (RFCCU).
3.2 Crude Distiller and Gas Plant (CD & GP)
Kilang CD&GP merupakan kilang yang termasuk ke dalam unit
produksi I yang menangani produk BBM. pengolahan minyak mentah ini
terletak di Kilang Plaju. Pada kilang ini dilangsungkan pengolahan awal dari
minyak mentah. Proses pengolahan ini berlangsung dalam beberapa tahap
yaitu proses primer, proses sekunder, dan treating. Proses primer memiliki
unit operasi yaitu Crude Distiller II, III, IV, dan V ; Stabilizer C/A/B ; Primer
Straight Run Motor Gas Compressor ; Butane Butylene Motor Gas Compressor.
Unit operasi pada proses sekunder yaitu: polimerisasi dan alkilasi. Unit
operasi pada proses treating yaitu: BB Treater, Caustic Treater, Sulfuric Acid
Unit Treating adalah proses yang dilakukan untuk menghilangkan senyawa
pengotor yang masih terdapat dalam produk akhir sehingga produk
tersebut memenuhi spesifikasi yang diinginkan.

Gambar 3.1. Blok Diagram Proses Unit CD & GP


(Sumber: Pertamina, 2010)

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

3.2.1 Crude Distiller II


Umpan untuk unit CD II adalah minyak mentah yang berasal dari
Jene crude dan SLC (Sumatera Light Crude). Unit CD II berfungsi untuk
memisahkan fraksi-fraksi minyak mentah dengan memanfaatkan perbedaan
titik didih pada tekanan atmosfer. Untuk memenuhi tugasnya tersebut, unit
ini dilengkapi dengan lima buah kolom fraksionasi, satu evaporator, dua
buah furnace, dan alat-alat pendukung lainnya. Crude oil dipompakan
kedalam preheater untuk pemanasan awal, crude oil dipompakan dengan
pompa P-31/32/33 menuju preheater 6-5/6 dan 6-1/2/3/4 sebagai
pemanasan awal. Temperatur crude oil setelah keluar preheater yaitu 138C
kemudian dialirkan ke dalam Furnace 1 untuk menaikan temperatur
menjadi 256C. Crude oil dialirkan ke dalam evaporator 3-1 untuk
memisahkan fase gas dan fase cair dengan tekanan 1,8 kg/cm 2 dan
temperatur 255C. Fase gas dari evaporator 3-1 masuk ke kolom destilasi-I
sedagkan fase cair dipompakan dengan P-1/2 menuju furnace 2 yang
bertujuan untuk meningkatkan temperatur menjadi 344C dan selajutnya
masuk ke dalam kolom destilasi-IV.
Pada kolom destilasi-I terjadi proses detilasi bertingkat. Overhead
kolom destilasi-I masuk ke kolom destilasi-V. Side stream kolom destilasi-I
masuk ke kolom destilasi-II. Produk bawah kolom destilasi-II berupa LKD
(Light Kerosene Destillate). Produk atas masuk ke reboiler yang bertujuan
untuk menaikkan temparatur menjadi 118C sebelum masuk ke tangki
accumulator dan diumpankan kembali sebagai reflux. Produk bawah kolom
destilasi-I ditampung ke side striper (LCT stripper) 2-1 dan diumpankan ke
top kolom destilasi-IV.
Pada kolom destilasi V terjadi proses pemisahan berdasarkan fraksi
gas dan nafta. Temeperatur top kolom yaitu 114C dan temperatur bottom
kolom yaitu 128C. Produk atas kolom destilasi-V berupa fraksi gas
kemudian dikondensasikan dan ditampung pada tangki akumulator 8-8.
Pada tangki 8-8 terbagi menjadi 2 aliran, aliran ke atas berupa produk gas

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

feed SRMGC, aliran kebawah dikembalikan ke kolom destilasi V sebagai


reflux dan sebagian keluar sebagai produk Straight Run (SR) Top. Aliran gas
yang tidak terkondensasi dari produk atas kolom destilasi V berupa gas
yang digunakan sebagai feed pada SRMGC dan sebagian lagi
dikondensasikan kembali sehingga menjadi Crude Residual (CR) Butane.
Side stream kolom destilasi-V dipompakan ke kolom destilasi III untuk
misahkan naptha. Produk bawah kolom destilasi V dikembalikan ke kolom
destilasi-I sebagai reflux.
Pada kolom destilasi IV, Temeperatur bagian atas kolom yaitu 181C
dan temperatur bagian bawah kolom yaitu 250C. Produk atas kolom IV
dikondensasi dan dimasukkan ke tangki akumulator 8-6 dan digunakan
sebagai reflux. Side stream kolom IV dimasukkan ke LCT Stripper bersama-
sama dengan produk bawah kolom I. sebagian dimasukkan kembali ke
kolom IV sebagai reflux dan sebagian sebagai produk Light Cold Test Gas Oil
(LCT), yang merupakan komponen produk solar. Produk bawah kolom
destilasi IV didinginkan dan menghasilkan produk Long Residue sebagai
feed HVU.

3.2.2 Crude Distiller III


Umpan masuk CD III berupa campuran Jene Crude Oil, Ramba Crude
Oil dan SLC Crude Oil. CD-III memiliki kapasitas 4000 ton/hari. Unit ini
terdiri dari tiga kolom distilasi dan satu stabilizer. Crude oil dipopakan ke
dalam preheater 6-2, 6-1, 6-58, E-1008/A/B dan 6-3/4 untuk pemanasan
awal, crude oil dengan temperatur 147C kemudian di alirkan ke dalam
stabilizer 1-4 untuk memisahkan gas dan cairan.
Produk atas stabilizer 1-4 berupa fase gas dan produk bawah berupa
cairan. Produk atas stabilizer masuk ke reboiler, sebagian produk atas
stabilizer dikembalikan sebagai reflux dan sebagian lagi berupa Crude
Butane dan gas umpan unit SRMGC. Produk bawah stabilizer 1-4 masuk
sebagai umpan kolom destilasi 1-1 dan sebagian lagi sebagai reflux.
Reboiling pada stabilizer 1-4 dilakukan memanfaatkan panas dari Furnace I.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Pada kolom destilasi 1-1, temperatur bagian atas kolom 143 C dan te
mperatur bagian bawah kolom 273C. Produk atas kolom destilasi 1-1
terjadi proses destilasi bertingkat.
Produk atas kolom destilasi 1-1 kemudian masuk ke kolom 1-3
sebagai umpan. Side stream dari kolom destilasi 1-1 diumpankan ke Side
Stripper 2-4 dan Side Stripper 2-5 yang bertujuan untuk dilakukan proses
penguapan kembali. Dari Side Stripper sebagian akan keluar sebagai produk
berupa Naphta III, IV dan sebagian lagi akan masuk kembali ke kolom 1-1
sebagai reflux. Produk bawah kolom 1-1 sebagian masuk ke Furnace I untuk
meningkatkan temperatur menjadi 365C dan diumpankan kembali ke
kolom destilasi 1-1, sebagian lagi produk masuk kedalam furnace-II untuk
proses pemanasan temperatur 311C dan dijadikan umpan kolom destilasi
2-1.
Pada kolom destilasi 3-1, temperatur bagian atas kolom 93C .
Produk atas kolom destilasi I-3 dikondensasi pada kondenser 3-2 lalu
kemudian 5-1/2/3/5, dimasukkan ke dalam tangki akumulator 8-3. Dari
tangki akumulator ini sebagian dikeluarkan sebagai produk SR Tops
kemudian sebagian sebagai gas umpan ke SRMGC dan sebagian lagi
dikembalikan ke kolom 1-3. Pada kolom destilasi 1-2 umpan dari produk
bawah kolom destilasi 1-1 yang telah di panaskan dengan memanfaatkan
panas dari furnace II.
Produk atas kolom destilasi 1-2 didinginkan dan kemudian
ditampung pada tangki akumulator 8-2. Dari tangki akumulator 8-2 aliran
dibagi menjadi dua. Aliran pertama dikembalikan sebagai reflux dan aliran
lainnya sebagai produk LKD. Produk side stream terdiri dari 3 aliran side
stream yang masuk ke dalam stripper 2-1, 2-2, 2-3. Pada masing- masing
stripper terjadi proses penguapan kembali dan 2 proses kondensasi.
keluaran dari stripper sebagian berupa reflux dan sebagian lagi berupa
Heavy Kerosene Distillate (HKD), Light Cold Test Gas Oil (LCT) dan Heavy
Cold Test Gas Oil (HCT). Produk bawah kolom I-2 ini menghasilkan long

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

residue yang dikirim ke High Vacuum Unit (HVU). Reboiling kolom I-2
dilakukan menggunakan Furnace II yang juga digunakan untuk
memanaskan umpan kolom I-2.

3.2.3 Crude Distiller IV


Unit CD IV memiliki sistem pemrosesan produk serta perolehan
produk yang sama dengan CD III. Namun penggunaan umpan di kedua
crude distiller ini berbeda. CD IV hanya menggunakan umpan Ramba Crude
Oil dan SLC Crude Oil saja. CD IV dirancang untuk mengolah crude dengan
kapasitas 4.000 T/D. Pada CD III terdapat beberapa modifikasi aliran untuk
mendapatkan jumlah fraksi Naphta III (avtur) dalam jumlah yang lebih. CD
IV memiliki 1 kolom stabilizer dan 3 kolom fraksionator.

3.2.4 Crude Distiller V


Crude Distiller V merupakan unit proses primer yang berfungsi
memisahkan minyak mentah (crude oil) menjadi fraksi-fraksinya dengan
jalan distilasi biasa (atmospheric distilation). Feed Crude Distiller V berasal
dari SPD (South Palembang District), TAP (Talang Akar Pendopo). Unit ini
terdiri atas empat buah kolom fraksionasi, sebuah kolom flash, kolom
stripper, dan furnace. Feed dipanasi di dapur CD-V. Crude Oil dari tangki R
dipompakan dengan pompa Feed P-12 A/12 B/13 dan dipompakan
sebagian (2050 T/D) ke HE 6-1/6-2, HE 6-3/6-7, HE 6-4 (LCT), HE 6-8
(HCT), HE 6-5/6-6 ( Residue), HE 6-1/6-2/6-3 (HE baru Residue) dan
sebagian lainnya (1950 T/D) ke HE 6-5/6-6/6-7, HE 6-1/6-2/6-3/6-4
(vapour HE), selanjutnya crude oil tersebut digabungkan sebagai feed Flash
Vessel. Di Flash Vessel (FV) yang beroperasi pada tekanan 2 kg/cm 2, gas
keluar dari bagian atas dan langsung masuk ke Kolom-I pada tray no.10
sebagai feed, sedangkan bottom dari FV dipanaskan di dapur F1C1 CD-V
yang selanjutnya masuk ke Kolom-I pada tray no.6 sebagai feed. Kolom-I (I-
1):

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Top produk pada kolom-I digunakan sebagai feed kolom-III (I-3).


Pada kolom destilasi 1-3 temperatur top kolom 105C dan bottom kolom
160C. Produk bawah kolom destilasi berupa naphta IV, sebagian produk
bawah digunakan sebagai reflux. Produk atas berupa fraksi gas yang
dikondensasi dengan kondenser 5-5/6/7/8 dan ditampung pada
akumulator 8-1. Fase yang tidak terkondensasi dalam accumulator keluar
sebagai produk gas sedangkan fase cair dalikan ke kolom 1-4 sebagai
umpan dan sebagian dialirkan kembali ke kolom destilasi 1-3. Side stream
kolom destilasi 1-3 masuk ke stripper untuk proses penguapan kembali.
Produk atas berupa fase gas striper digunakan sebagai reflux dan produk
bawah fase cair di kondensasi berupa naphta II.
Pada kolom destilasi 1-2 temperatur top kolom 200C dan bottom
kolom 340C. Umpan yang berasal dari produk bawah kolom 1-1 dengan
temperatur 325C masuk ke dalam kolom destilasi 1-2. produk kolom 1-2
ditampung pada tangki akumulator kolom 8-3 yang berupa produk Heavy
Kerosene Destillate (HKD). Side stream yang keluar terdiri dari 3 aliran. Side
stream 1 didinginkan dan sebagian dikembalikan sebagai Reflux dan
sebagian menjadi produk BGO (Bandung Gas Oil) atau SGO (Special Gas Oil).
Fasa gas direfluks kembali dan fasa cair didinginkan sebagai produk LCT.
Side stream 3 masuk ke side stripper 2-3 untuk proses penguapan kembali.
Fasa gas direfluks kembali dan fasa cair didinginkan sebagai produk HCT.
Produk bawah didinginkan dengan 4 HE berupa produk Long
Residue, sebagian masuk ke HVU, sebagian sebagai (Low Sulphuric Waxy
Residue) LSWR. Pada kolom destilasi 1-4 temperatur top kolom 70C dan
temperatur bottom kolom 100C. Umpan kolom destilasi 1-4 berasal dari
side stream kolom destilasi 1-3. Produk atas kolom 1-4 dikondensasi.
Produk yang tidak terkondensasi dijadikan produk gas untuk kemudian
masuk SRMGC, sedangkan kondensat sebagian dikembalikan ke kolom 1-4
dan sebagi dijadikan produk SR TOP. Produk bawah dijadikan produk
naptha I.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

3.2.5 Butane-Butylene Distiller (BB Distiller)


Umpan berupa gas dan cairan yang terdiri dari campuran methane,
ethane, propane, propylene, buthane butylene, dan Tops (light naphta) akan
masuk ke kolom absorber 1-1. Umpan gas akan masuk pada tray 16
sedangkan umpan liquid masuk ke tray 14. Pada puncak kolom absorber,
dipompakan lean oil (kerosene) untuk menyerap komponen-komponen C 3
yang lebih berat.

3.2.6 Stabilizer (Stab) C/A/B


Unit ini memiliki tiga buah kolom distilasi (C, A, dan B) dan berfungsi
untuk memperoleh isopentana dan isoheksana dengan cara mengolah
minyak mentah ringan (SR tops) dengan menggunakan distilasi bertekanan.
Kapasitas pengolahan unit ini adalah sebesar 2.5 MBCD. Umpan yang masuk
ke unit ini adalah SR tops yang berasal dari unit-unit CD. Umpan yang masuk
ke unit ini terpisah menjadi dua aliran. Masing-masing aliran mengalami
pemanasan dalam alat penukar panas yang memanfaatkan produk keluaran
kolom stabilizer. Setelah dipanaskan, umpan tersebut masuk secara paralel
masing-masing ke kolom C dan kolom A dan kemudian didistilasi pada
tekanan tertentu.
Produk atas yang dihasilkan kolom C dan A masingmasing
didinginkan dan ditampung pada tangki 8-1 dan 8-6. Gas yang tidak
terkondensasi pada tangki-tangki ini dikeluarkan sebagai refinery gas
sedangkan kondensatnya sebagian direfluks dan sisanya diumpankan ke
kolom B. Produk bawah yang dihasilkan kolom C dan A didinginkan dan
dikeluarkan sebagai produk DIH top light octane mogas component. Pada
kolom B dihasilkan produk atas yang setelah didinginkan ditampung dalam
tangki 8-6. Gas dari tangki ini digabungkan dengan gas keluaran tangki 8-1
sebagai refinery gas untuk umpan unit SRMGC. Kondensat yang dihasilkan
sebagian direfluks, sisanya dikeluarkan sebagai produk crude butane.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Produk bawah dari kolom B didinginkan dan sebagian dikembalikan ke


kolom A, sisanya dikeluarkan sebagai produk SBPX-40.
3.2.7 Straight Run Motor Gas Compressor (SRMGC)
Unit SRMGC merupakan unit untuk menaikkan tekanan gas yang
dihasilkan oleh unit CD, dan stab C/A/B. Peralatan utama dalam unit ini
adalah tiga buah kompresor yang dipasang secara paralel. Kompresor-
kompresor ini digerakkan oleh motor bakar yang berbahan bakar gas.
Kapasitas desain unit ini adalah sebesar 100 ton/hari pada kecepatan putar
800 rpm untuk tiap kompresor.
Proses yang terjadi dalam unit ini dapat digambarkan oleh Lampiran
C dan dapat dijelaskan sebagai berikut. Umpan fraksi gas yang berasal dari
pengolahan di CD II/III/IV/V, dan Stab C/A/B dimasukkan ke dalam sebuah
buffer tank (9-1) agar kondensat yang terbawa dalam fraksi gas tersebut
dapat dipisahkan. Gas yang sudah terbebas dari kondensatnya dikeluarkan
dari tangki 9-1 dengan tekanan 0.8 K. Gas tersebut kemudian dinaikkan
tekanannya dalam tiga buah kompresor (C-1/2/3) yang dipasang paralel
sampai mencapai tekanan 5.5 K. Gas hasil kompresi kemudian didinginkan
oleh cooler (4- 1/2/3) dan dimasukkan ke tangki akumulator (9-2). Gas
yang tidak terkondensasi pada tangki 9-2 diumpankan ke unit BBMGC
untuk dinaikkan kembali tekanannya. Kondensat yang terbentuk pada
tangki 9-2 dikeluarkan dan digabung dengan aliran kondensat dari tangki 9-
1 untuk kemudian diumpankan ke unit BB distiller bersama-sama dengan
kondensat dari unit BBMGC. Kondensat ini disebut sebagai comprimate.

3.2.8 Butane-Butylene Motor Gas Compressor (BBMGC)


Unit ini berfungsi untuk meningkatkan tekanan umpan BB-Distiller
menjadi 20 kg/cm2. Umpan berupa gas yang berasal dari SRMGC masuk ke
tangki 1201. Fasa cair (condensate) akan ditingkatkan tekanannya dengan
dan dijadikan umpan absorber 1-1 pada unit BB Distiller, sedangkan fasa
gas dari tangki 1201 akan ditingkatkan tekanan dari 4 kg/cm 2 menjadi 22
kg/cm2 menggunakan compressor. Kemudian aliran didinginkan pada cooler

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

setelah mengalami peningkatan temperatur pada compressor, selanjutnya


aliran masuk ke tangki akumulator 8-1/2/3/4. Gas dari tangki akumulator
8-1/2/3/4 akan disatukan sebagai residual gas, umpan dari unit BB-
Distiller. Produk cair yang terbentuk akibat penurunan temperatur masuk
ke tangki akumulator 8-5, dimana produk gas dari tangki ini akan
digabungkan comprimate unit SRMGC.

3.2.9 Unit Polimerisasi


Unit polimerisasi merupakan unit yang berfungsi untuk melakukan
polimerisasi dengan umpan alkilat dari Stabilizer 3 pada unit FCCU dengan
kandungan C4= yang tinggi sehingga dapat dijadikan bahan baku komponen
mogas (high octane mogas component, HOMC) dan juga sebagai umpan unit
alkilasi. Polimerisasi tersebut dilakukan dengan mengkombinasikan olefin
ringan (terutama propilen dan butilen) sehingga dihasilkan polimer iso-
octylene yang memiliki angka oktan 88.
Umpan terdiri dari C3=, C3, i-C4, n-C4, dan C4=. Pada unit ini terjadi
reaksi polimerisasi dengan katalis P2O5. Reaksi berlangsung pada
temperatur lebih tinggi dari 150C dan tekanan lebih besar dari 25 kg/cm 2.
Pada unit ini akan dihasilkan polimer yang merupakan HOMC dan produk
gas yang dihasilkan akan menjadi umpan unit alkilasi. Unit ini terdiri dari 3
set konverter (reaktor), yang masing-masing set memiliki 3 buah konverter.
Pada kondisi normal yang berjalan adalah 2 set sedangkan 1 set lain dalam
kondisi penggantian katalis sampai siap digunakan. Katalis yang digunakan
adalah P2O5. Umur katalis sekitar 3 bulan dengan penggantian katalis
membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu.
Umpan butan-butilen dipanaskan melalui pemanas dan kemudian
masuk ke dalam konverter. Reaktor yang digunakan berjenis shell and tube,
dimana pada bagian tube terdapat katalis dan tempat dimana reaksi terjadi.
Pada bagian shell dialirkan oil (minyak) sebagai pengatur kestabilan
temperatur reaksi. Produk polimerisasi yang keluar konverter dimasukkan
ke dalam kolom stabilizer (1-1). Produk atas kolom dikondensasi dan

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

ditampung sebagai produk butan-butilen, sebagian produk dikembalikan ke


kolom 1-1 dan sebagian dikirim ke tangki LPG. Produk bawah kolom dikirim
ke rerun column. Produk atas rerun column dikondensasi dan ditampung
untuk kemudian dikirim ke tangki high octane gasoline, sedangkan produk
bawahnya sebagai produk mogas.
3.2.10 Unit Alkilasi
Unit alkilasi dibangun pada tahun 1940 dengan kapasitas
pengolahan sebesar 155 ton/hari. Unit ini berfungsi untuk menghasilkan
produk light alkylate berangka oktan tinggi berupa senyawa hidrokarbon
bercabang dengan cara mereaksikan isobutana dengan olefin ringan.
Produk reaksi senyawa alkilasi sangat tergantung pada komposisi umpan.
Konsentrasi isobutana yang tinggi sangat diharapkan agar dapat dihasilkan
produk bernilai oktan tinggi. Katalis yang digunakan untuk reaksi alkilasi
tersebut adalah asam sulfat (H 2SO4) dengan konsentrasi 98%-wt. Untuk
reaksi alkilasi dengan katalis asam sulfat, reaksi tersebut terjadi pada suhu
rendah, sekitar 0-8oC, sehingga diperlukan suatu sistem pendinginan.
Umpan yang masuk ke unit ini adalah RBB yang berasal dari unit
polimerisasi. Umpan ini umumnya merupakan campuran dari iC4, i-butilen,
2-butilen, isobutene, normal butene, propana, dan propilen. Semua isomer
butilen tersebut akan bereaksi dengan isobutana sehingga alkilat ringan
yang dihasilkan sebagian besar berupa campuran 2,3,3-/2,2,3-/2,2,4-
trimetil pentana sebanyak 90% sedangkan sisanya adalah campuran
isopentana, isomer heksana, heptana, dan molekul yang lebih berat dari
oktana.
Untuk mendapatkan rasio yang sesuai spesifikasi, maka umpan
alkilasi diolah terlebih dahulu di Unit Polimerisasi. Raw Buthane-Buthylene
hasil dari unit polimerisasi ditampung di tangki TK-1207/08 dan kemudian
dipompakan melewati HE bersama-sama recycle-buthane dari bagian
bawah depropanizercolumn menuju reactor feed blending tank (8-8).
Kemudian masuk ke reactor time tank (2-1/2/3) bersama-sama aliran

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

bawah tangki dan diinjeksi dengan asam sulfat 98% menuju puncak tangki.
Setelah terjadi sirkulasi, aliran keluar dari bawah dan didinginkan di chiller
(3-1/2/3) dengan suhu antara 0-10oC dan akhirnya kembali dimasukkan ke
tangki (aliran atasnya) dan aliran bawahnya sebagai produk. Aliran masuk
ke reaktor dari atas dan keluar dari reaktor masuk ke acid separator untuk
memisahkan spent acid dan produk alkilat. Dari acid separator produk
dialirkan ke final separator, selanjutnya masuk ke caustic settler (8-9) untuk
menetralisasi spent acid yang terikut. NaOH akan bereaksi dengan asam
sulfat membentuk garam dan air. Campuran ini akan keluar lewat aliran
bawah settler, sedangkan produk alkilat keluar melalui bagian atas settler.
Setelah melalui proses-proses di atas, produk masih terdiri dari campuran i-
butan yang tidak bereaksi, propan, n-butan dan produk alkilat.

3.3 Kilang Crude Distiller and Light Ends (CD & L)


Kilang CD&L merupakan kilang yang termasuk ke dalam unit
produksi I. Sama seperti kilang CD&GP, kilang ini bertugas untuk mengolah
minyak mentah menjadi fraksi-fraksinya dan terbagi atas proses primer
yaitu CD VI, proses sekunder HVU II (High Vaccum Unit) dan FCCU (Fluid
Catalytic Cracking Unit), dan proses treating yaitu caustic treater

Gambar 3.2 Blok Diagram Proses Unit CD & L

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

(Sumber: Pertamina, 2010)

3.3.1 Crude Distiller VI (CD-VI)


CD-VI ini digunakan untuk memisahkan fraksi-fraksi minyak bumi
yang berasal dari Ramba, berdasarkan destilasi atmosferik. Kapasitas
pengolahan CD-VI ini adalah 15.000 barrel per calendar day (15MBCD).
Crude oil dipompakan dengan pompa P-1A/B/C. Terdapat 3 aliran crude oil.
Aliran pertama, crude oil dialirkan ke Heat Exchanger E-7, E-6. Crude oil
digunakan sebagai media pendingin side stream kolom destilasi T-1 dan
produk bawah kolom destilasi T-2, kemudian crude oil ditampung pada
tangki D-2. Aliran kedua, crude oil dialirkan Heat Exchanger E-3 sebagai
media pendingin produk atas kolom destilasi Ti-2, kemudian ditampung
pada tangki D-2. Aliran ketiga, crude oil dialirkan ke furnace dan bercampur
dengan crude oil dari aliran 1 dan 2 pada tangki D-2. Crude oil dari tangki D-
2 dialirkan melewati Furnace sebagai pemanasan awal sebelum memasuki
kolom destilasi T-1 sebagai umpan.
Pada kolom destilasi T-1, produk bawah yaitu fraksi berat yang
berupa long residue. Side stream masuk ke stripper untuk proses penguapan
kembali. Produk atas stripper digunakan sebagai reflux sedangkan produk
bawah berupa diesel oil yang dikondensasi pada E-6. Produk atas kolom T-1
masuk ke kolom destilasi T-2 sebagai umpan. Pada kolom destilasi T-2,
sebagian produk bawahyang berupa kerosene dialirkan kembali ke top
kolom destilasi T-1dan sebagian lagi dialirkan ke heat exchanger E-7 untuk
dikondensasi. Produk atas kolom T-2 berupa naphta, kemudian
dikondensasi dan ditampung pada tangki D-4. Sebagian naphta dari tangki
D-4 di alirkan kembali ke kolom T-2 sebagai reflux dan sebagian lagi sebagai
produk naphta.

3.3.2 High Vacuum Unit (HVU)

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

HVU mengelolah long residue untuk mendapatkan kembali fraksi-


fraksi ringan yang terkandung dalam residue. Fraksinasi dilakukan pada
tekanan 70 mmHg absolut. Pemvakuman dilakukan dengan menggunakan
tiga buah steamjet ejector yang disusun secara seri. Distilasi dilakukan pada
tekanan dibawah tekanan kamar. Hal ini akan membuat titik didih dari
umpan akan turun, sehingga pemanasan umpan tidak harus pada suhu yang
tinggi. Pemanasan minyak pada suhu tinggi akan menyebabkan terjadi
thermal cracking yang tidak diinginkan.
Long residue yang digunakan berasal dari dua sumber, yaitu hot feed
dari long residue CD II-V dan cold feed dari tangki penyimpanan. Long
residue dicampur dalam suatu drum, kemudian umpan dilewatkan pada
preheater dengan media pemanas HVGO dilanjutkan dengan pemanasan
seri oleh MVGO dan Vacuum Residue. Umpan yang keluar dari preheater
dimasukkan ke furnace. Keluaran dari furnace dialirkan ke flash zone pada
400oC pada tekanan 90 100 mmHg abs. Produk atas adalah LVGO yang
merupakan komponen mogas sedangkan side stream merupakan MVGO dan
HVGO yang merupakan hot feed FCCU. Produk bawah berupa vacuum
residue yang merupakan komponen low sulfur waxes residue (LWSR).
3.3.3 Riser Fluid Catalytic Cracking (RFCCU)
Unit FCCU merupakan unit yang berfungsi untuk merengkah long
residue pengolahan minyak mentah menjadi fraksi-fraksi ringan yang
diinginkan dengan bantuan katalis panas. Perengkahan yang terjadi dalam
unit ini dilakukan secara katalitik dengan menggunakan katalis silika
alumina (zeolit). Katalis tersebut berupa butiran halus (20-140 mikron)
yang bergerak seperti fluida cair dan bersirkulasi timbal balik antara
reaktor dan regenerator secara kontinu. Peralatan utama yang ada di unit
ini adalah sepasang reaktor-regenerator yang digunakan untuk reaksi
perengkahan yang juga didukung dengan seperangkat peralatan tambahan
dan kolom fraksionasi. Tujuan utama proses cracking adalah mengkonversi
Medium Vacuum Gas Oil dan Heavy Vacuum Gas Oil (M/HVGO) dari HVU dan

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

minyak berat (long residue) menjadi produk minyak ringan yang memiliki
nilai lebih tinggi.

Tabel 3.1. Produk Unit RFCC


Produk Utama Produk Samping
Raw Propane propilen Dry gas sebagai refinery fuel gas
untuk polypropylene

Propan dan butan, Light Cycle Oil, sebagai thinner dan


sebagai komponen komponen blending LSWR
LPG
Naphtha (HOMC) Slurry sebagai komponen utama LSWR

Coke, yang terdeposit pada katalis

(Sumber: Pertamina, 2010)

3.3.3.1 Feed System


Umpan RFCCU terdiri dari campuran antara VGO dan Long Residue
dengan perbandingan 165.000 BPSD VGO dan 4.000 BPSD Long Residue.
VGO yang berasal dari HVU dengan temperatur 220 oC dipompakan ke vessel
bersama-sama dengan Long Residue dari CD II/III/IV/V Plaju dengan
temperatur 150oC. Untuk mencapai temperatur yang sesuai untuk feed
reactor maka umpan tersebut dipanaskan di Furnace FC F-2 sehingga
mencapai temperatur 331oC. sebelum masuk reaktor, umpan diinjeksi
dengan Antimoni dengan kecepatan 0,75-2,1 kg/jam untuk mencegah
adanya pengaruh metal content dalam umpan terhadap katalis. Metal
Content tersebut dapat menyebabkan deaktivasi katalis.

3.3.3.2 Reaktor dan Regenerator

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Umpan dengan kapasitas 120.600 kg/jam dan temperatur 3310C


diinjeksikan kedalam riser menggunakan 6 buah injector untuk direaksikan
dengan katalis dari regenerator pada temperatur 650 750 0C. Reaksi terjadi
pada seluruh bagian riser dengan temperatur 520 0C. untuk memperoleh
sistem fluidisasi dan densitas yang baik, maka riser diinjeksikan dengan MP
Steam. Di atas feed injector dipasang tiga buah MTC Injector Oil (HCO) atau
heavy naptha. HCO digunakan untuk menambah terbentuknya coke pada
katalis, sehingga dapat menaikkan temperatur regenerator, sedangkan
heavy naphta diperlukan untuk menaikkan cracking selectivity.
Tiga buah cyclone mempunyai satu stage dipasang pada reaktor
dengan existing plenum chamber untuk meminimalkan terbawanya katalis
ke kolom fraksionasi. Stripping steam diinjeksikan ke daerah stripper untuk
mengurangi kadar minyak dalam katalis sebelum disirkulasikan ke
regenerator. Hasil cracking yang berupa uap hidrokarbon dialirkan dari
reaktor ke main fractionator untuk dipisahkan fraksi-fraksinya. Spent
catalyst dari reaktor disirkulasikan ke regenerator yang dikontrol oleh
Spent Slide Valve (SSV) untuk diregenerasi. Untuk memperlancar aliran
spent catalyst di stand pipe maka dialirkan Control Air Blower (CAB) dengan
laju alir 7.000 kg/jam dengan tekanan 2,49 kg/cm 2g. Regenerasi katalis
dilakukan dengan mengoksidasi coke pada katalis dengan udara yang di-
supply oleh Main Air Blower (MAB).
Flue Gas hasil pembakaran kemudian masuk ke lima buah cyclone
yang memiliki dua stage untuk memisahkan partikel-partikel katalis yang
terbawa. Flue Gas dengan temperatur 6760C yang keluar dari stack tersebut
dimanfaatkan panasnya di Flue Gas Cooler untuk membangkitkan steam
HHP. Temperatur dilute phase sedikit lebih tinggi daripada temperatur
dense, yang disebabkan oleh adanya reaksi oksidasi CO. dengan adanya
kondisi tersebut, maka perlu diperhatikan konsentrasi oksigen sebagai
udara pembakar. Semakin banyak kandungan oksigen atau berkurangnya
coke yang terbentuk, maka akan tercapai kondisi temperatur dilute phase

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

yang tinggi (>7000C) sehingga terjadi kondisi after burning yang


menyebabkan meningkatnya temperatur secara mendadak sehingga dapat
merusak peralatan dan catalyst lost melalui stack.

3.3.3.3 Main Fractionator


Gas hasil cracking dengan temperatur 520oC dialirkan ke bottom
kolom primary fractionator (FC -T1). Produk bawah dari primary
fractionator yang berupa slurry oil ditarik dengan pompa FC P-4 menuju ke
HE FC E-2 untuk memanaskan umpan. Produk atas (overhead vapour) dari
primary fractionator ditransfer ke bottom kolom secondary fractionator FC
T-20.
Produk bawah secondary fractionator yang berupa (Light Crude Oil)
LCO dibagi menjadi dua alian yaitu internal reflux dan sebagai umpan pada
kolom stripper FC T-2. Internal reflux dikembalikan ke kolom primary
absorber yang dikontrol oleh LIC 2005. Tujuh side stream dari kolom
secondary fractionator digunakan sebagai reflux dan Total Pump Around
(TPA). Reflux dikemballikan ke secondary fractionator yang dikontrol oleh
level control LIC 2006. Sedangkan TPA dipompakan ke Sponge Absorber
FLRS T-402 sebagai Lean Oil yang sebelumnya didinginkan oleh HE FLRS E-
405.
Aliran TPA dikontrol oleh FIC 2003, sedangkan temperatur dikontrol
oleh TIC 2004 dengan mengoperasikan Air Fan Cooler FC E-21 (Top Pump
Around Cooler). TPA kemudian dikembalikan ke puncak kolom secondary
fractionator setelah dicampur dengan rich oil dari Sponge Absorber.
Overhead vapour dari kolom secondary fractionator yang berupa gas dan
gasoline dikondensasikan dengan partial condenser setelah dicampur
dengan wash water. Condensed liquid dan vapour kemudian ditampung
dalam drum FC D-20. Setelah dipisahkan dari kandungan air, condensed
liquid dan vapour tersebut ditampung dalam distillate drum FC D-7. Setelah

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

dipisakan airnya, maka condensed liquid (unstabilized gasoline) ditarik


dengan pompa dan dipisahkan menjadi dua aliran, yaitu sebagai overhead
reflux dan gasoline produk yang kemudian dikirim ke Primary Absorber
FLRS T-401. Overhead reflux dikontrol oleh temperatur kontrol TIC-3 pada
puncak Secondary Fractionator. Low pressure vapour (wet gas) dari distillate
drum FC D-7 ditransfer ke Wet Gas Compressor FLRS C-101 dan akan
dipisahkan kondensatnya di vessel compression suction drum FLRS D-401.
Tekanan Main Fractionator dikontrol oleh PIC-1 dipasang pada Wet Gas Line.

3.3.3.4 Light End Unit


Flue gas yang berasal dari FLRS D-401 dihisap dengan Wet Gas
Compressor C101 dan dimasukkan ke vessel interstage receiver (FLRS D-
402). Sebagian gas keluaran kompresor stage I disalurkan ke inlet partial
condenser FC E-4 untuk mengatur press balance reactor. Outlet gas dari
FLRS D-402 dengan temperatur 380oC dan tekanan 3,72 kg/cm2g dihisap
oleh compressor stage II dengan temperatur 1100C dan tekanan 15 kg/cm2g
kemudian bergabungan dengan aliran-aliran overhead kolom stripper FLRS
T-403, bottom product kolom, primary Absorber FLRS T-401, dan wash water
dari bottom vessel FLRS D-402.
Gabungan keempat aliran tersebut dengan temperatur 720 oC
sebelum masuk ke high vessel pressure receiver FLRS D-404 didinginkan
terlebih dahulu dengan Air Fan Cooler FLRS E-401 (temperatur outlet
560oC) dan cooler FLRS E-402 hingga diperoleh temperatur akhir 380 oC. Gas
dari vessel FLRS D-404 dengan temperatur 380 oC dan tekanan 14,7
kg/cm2g, diumpankan ke kolom Primary Absorber FLRS T-401 dengan
menggunakan Naphta dari distillate drum FC D-7 sebagai absorber.
Gas dari overhead kolom Primary Absorber FLRS T-401 selanjutnya
dimasukkan ke Sponge Absorber FLRS T-402. Sebagai absorber digunakan
Lean Oil (dari Secondary Fractionator). Liquid dari vessel FLRS D-404
dialirkan dengan pompa menuju ke kolom stripper FLRS T-403. Sebelum
masuk kolom fluida tersebut dipanaskan terlebih dahulu di HE FLRS E-406

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

hingga temperaturnya menjadi 610oC. Bottom dari kolom stripper FLRS T-


403 dengan temperatur 1220C dan tekanan 12 kg/cm2g, diumpankan ke
kolom Debutanizer FLRS T-102 untuk dipisahkan antara LPG dan Naphta.
Umpan tersebut masuk ke kolom Debutanizer dipanaskan dulu oleh HE
FLRS E-106 hingga temperatur 1260C. untuk kesempurnaan pemisahan
maka pada bottom kolom debutanizer dipasang reboiler FLRS E-107
sehingga temperatur bottom adalah 173oC. Overhead dari kolom
Debutanizer FLRS T-102 dengan tekanan 11 kg/cm 2g dan temperatur 650oC
didinginkan dengan kondenser parsial FLRS E-108 dan ditampung di
akumulator FLRS D-103. Fluida dari akumulator tersebut sebagian
digunakan sebagai reflux, sebagian lainnya didinginkan lagi dan dialirkan ke
stabilizer feed drum LS D-1.
Bottom dari stabilizer feed drum LS D-1 diumpankan ke kolom
Stabilizer LS T-1 dengan temperatur 780 oC. Overhead product dari kolom
Stabilizer LS T-1 didinginkan dalam kondenser parsial LS E-4 dan
ditampung di akumulator LS D-2 dengan kondisi tekanan 19,6 kg/cm 2g dan
temperatur 520oC. Gas yang tidak terkondensasi kemudian digunakan
sebagai fuel gas, sedangkan liquid yang terbentuk (propane-propylene)
digunakan sebagai reflux dan sebagai umpan untuk unit polypropylene
Plaju. Bottom product dari kolom Stabilizer LS T-1 yaitu C4 akan di-treating
lebih lanjut.
Untuk mempertajam pemisahan, bottom dari LS-T-1 ditarik dengan
pompa LS-P-2 AB dimasukkan ke reboiler LS-E-6 untuk memperoleh
pemanasan, agar fraksi propane propylene dapat naik puncak menara.
Sebagian aliran dari bottom menara adalah fraksi LPG (C4 dan derivatnya)
setelah didinginkan di cooler LS-E-5 AB dialirkan ke mericham LPG treater
untuk dicuci dengan caustic soda agar senyawa belerang dalam LPG dapat
dihilangkan/diturunkan.

3.4 Unit Polypropylene

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Bahan baku PolyPropylene (PP) adalah raw propane-propylene


(RPP) yang dihasilkan dari pengolahan minyak mentah di crude distiller and
gas plant (CD&GP) dan crude distiller and light end (CD&L). Minyak mentah
didestilasi dalam Crude Distiller Unit (CDU) di CD&GP. Fraksi berat CDU
adalah residu yang kemudian diumpankan ke dalam HVU di CD&L. Produk
bawah HVU direngkah secara katalitik dalam FCCU di CD&L sehingga
menghasilkan beberapa produk, salah satunya adalah RPP. RPP yang
dihasilkan dari FCCU mengandung komposisi 74% propylene, 17% propane,
dan sisanya adalah pengotor yang berupa CO, CO 2, H2S, merkaptan, dan air.
RPP diumpankan ke dalam unit purifikasi dengan laju alir 9 ton/jam.

3.4.1 Persiapan Katalis


Bagian ini berfungsi untuk menyiapkan katalis agar dapat langsung
dipakai dalam reaksi polimerisasi. Katalis yang digunakan memiliki bentuk
fisik bubuk sehingga harus dilarutkan terlebih dahulu. Pelarutan dilakukan
secara batch dengan menggunakan pelarut heksana. Katalis MC merupakan
katalis utama dalam reaksi polimerisasi. Katalis OF merupakan katalis yang
digunakan untuk menyelaraskan bentuk polimer yang dihasilkan. Katalis AT
digunakan sebagai katalis pembantu yang berfungsi untuk membuka jalan
apabila reaksi polimerisasi berlangsung lambat. Setelah pengoperasian
selama tiga hari, katalis yang digunakan diganti dengan katalis yang baru
(fresh catalyst).

3.4.2 Unit Purifikasi


Bagian ini berfungsi untuk memurnikan Raw PP cair yang berasal
dari FCCU. Umpan tersebut selain mengandung propilen juga mengandung
senyawa pengotor yang tidak diinginkan. Diantaranya yaitu air, COS, CO 2,
sulfur, dan fraksi ringan. Proses yang terjadi adalah sebagai berikut. Raw PP
yang datang dialirkan ke DEA ekstraktor. Pada kolom ekstraksi ini, senyawa
COS dihilangkan sampai kadarnya mencapai maksimum 5 ppm. Bersama-
sama dengan senyawa ini, sebagian CO 2, merkaptan dan H2S juga turut

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

dihilangkan. Pelarut yang digunakan pada kolom ini adalah diethanol amine
(DEA) dengan konsentrasi 20%-wt. dimasukkan ke NaOH ekstraktor
dimana pada kolom ini, senyawa H2S, CO2, dan merkaptan yang tersisa
dihilangkan. Raw PP keluaran kolom ini memiliki kadar H 2S 1 ppm wt dan
kadar CO2 maksimum 5 ppm wt. Pelarut yang digunakan pada kolom ini
adalah NaOH dengan konsentrasi 10%-wt. Ekstraksi pada DEA dan NaOH
ekstraktor dilakukan secara counter current dan setelah selesai digunakan,
kedua pelarut tersebut diregenerasi dalam suatu kolom regenerator
sehingga dapat digunakan kembali untuk ekstraksi berikutnya.
Dari NaOH ekstraktor, Raw PP diumpankan ke pengering sehingga
kadar airnya dapat dikurangi sampai maksimum 10 ppm wt. Adsorben yang
digunakan pada alat ini adalah tipe molecular sieve 3A dan silica gel.
Regenerasi adsorben dilakukan dengan menggunakan propana. Setelah
kadar air didalamnya berkurang, Raw PP dimasukkan ke dalam kolom
distilasi. Pada kolom ini, propilen akan dipisahkan dari campuran Raw PP.
Sebagai produk atas kolom ini, dihasilkan propilen dengan kemurnian
99.6%-mol sedangkan produk bawahnya adalah propana. Propilen yang
dihasilkan kemudian dipompakan ke tangki penampungan sedangkan
propana dialirkan ke unit stabilizer III kilang CD&L untuk dipakai sebagai
blending LPG. Titik didih propilen dan propana tidak berbeda jauh sehingga
untuk memisahkan keduanya dilakukan distilasi bertekanan.

3.4.3 Unit polimerisasi


Unit polimerisasi terdiri dari impurities removal unit, reaktor, dan
dryer. Di dalam impurities removal unit terdapat stripper untuk
menghilangkan metana dan etana, dehidrator untuk menghilangkan kadar
air hingga kurang dari 1 ppm, COS adsorber, dan arsine adsorber. Dari
arsine adsorber, propylene yang telah bersih dari pengotor dipolimerisasi di
dalam reaktor.
Ada dua reaktor yang digunakan, yaitu primary reactor yang
merupakan reaktor fasa cair dengan tekanan 32 kg/cm 2 gauge dan

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

temperatur 70oC, dan secondary reactor yang merupakan reaktor fasa gas
dengan tekanan 18 kg/cm2 gauge dan temperatur 80oC. Reaksi polimerisasi
ini berlangsung dengan bantuan katalis, yaitu TiCl 3 yang merupakan main
catalyst (MC), katalis AT berbahan dasar alumunium yang berfungsi sebagai
pendukung katalis, dan katalis OF yang berfungsi untuk menyesuaikan
isotactic index pada polimer yang akan dihasilkan. Ketiga katalis berbentuk
serbuk, sehingga dibutuhkan pelarut heksana untuk mempermudah reaksi.
Bahan lain yang digunakan dalam reaksi polimerisasi adalah
hydrogen untuk memecahkan ikatan rangkap, dan mengatur MFR. Katalis
MC dan OF dilarutkan dengan heksana, kemudian diumpankan bersama
hidrogen dan propilen cair ke dalam primary reactor. Setelah itu
diumpankan pula katalis AT ke dalam reaktor. Laju alir propilen yang
diumpankan harus tinggi agar kecepatan reaksi berjalan lebih cepat
dibandingkan laju polimerisasi untuk mencegah terjadinya penggumpalan.
Pengadukan dilakukan selama reaksi berlangsung. Produk reaktor adalah
slurry dan gas hidrogen. Slurry yang terbentuk dimasukkan ke fine
separator. Fungsi fine separator adalah untuk memisahkan slurry dari gas
hidrogen yang terbawa. Gas hidrogen tersebut dimasukkan kembali ke
dalam primary reactor. Gas hidrogen keluaran primary reactor diumpankan
ke bagian atas secondary reactor, yang kemudian dikeluarkan untuk
dipompakan ke bagian bawah secondary reactor setelah dilewatkan pada
kompresor.
Slurry yang berasal dari fine partikel separator masuk ke bagian
bawah secondary reactor, dan akan terfluidisasi dengan bantuan
pengadukan dan udara bertekanan yang masuk dari bagian bawah reaktor.
Hasil reaksi berupa bubuk yang kemudian dimasukkan ke dalam kondensor
drum. Gas yang tidak terkondensasi diumpankan lagi ke dalam secondary
reactor, sedangkan bubuk PP yang masih mengandung heksana dikeringkan
dalam dryer.

3.4.4 Unit Pelletzing

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

Bagian ini berfungsi untuk mengubah bentuk fisik PP dari bentuk


serbuk menjadi bentuk butiran (pellet). Hal ini dilakukan dengan
menambahkan aditif-aditif (berupa stabilizer) ke dalam serbuk PP keluaran
dryer. Jenis dan banyaknya aditif yang ditambahkan ke dalam serbuk
disesuaikan dengan jenis produk PP yang ingin dihasilkan. Penambahan
aditif ini dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi spesifikasi yang
diperlukan seperti misalnya untuk mencegah timbulnya mata ikan pada
produk plastik sehingga plastik yang dihasilkan dapat dibuka dengan
mudah dan tidak mudah sobek. Jenis-jenis aditif yang ditambahkan yaitu :
1. AE STAB (primary heat stabilizer)
2. AI STAB (secondary heat stabilizer)
3. AH STAB (heat stabilizer)
4. HA STAB (neutralizer, lubricant)
5. HD STAB (whitening agent)
6. SB STAB (slip agent)
7. SC STAB (anti blocking agent)
Semua aditif yang ditambahkan merupakan padatan kecuali aditif AH
STAB yang berbentuk cair. Serbuk PP keluaran dryer dicampur dengan
aditif menggunakan mixer, campuran ini dimasukkan ke dalam extruder
dengan suhu 250-270 C dan berputar dengan kecepatan 1000 rpm. Dengan
adanya pemutaran dan pemanasan, campuran tersebut menjadi kental
seperti dodol. Pada ujung ekstruder dipasang suatu penutup yang
berlubang-lubang dengan diameter tertentu sehingga saat campuran kental
tersebut dikeluarkan dari ekstruder, bentuknya akan menyerupai mie. Tidak
jauh di depan penutup berlubang, dipasang sebuah alat potong berputar
(cutter) yang berbentuk seperti kipas sehingga saat campuran keluar,
terjadi pemotongan yang berlangsung cepat.
Alat potong ini terbuat dari titanium atau stainless steel dan terletak
di dalam sebuah wadah tertutup sehingga potongan-potongan PP akan jatuh
ke bagian bawah wadah tersebut. Dari bagian bawah wadah tertutup

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

tersebut dialirkanlah air pendingin dengan tujuan untuk mengeraskan


potongan PP sehingga menjadi pellet plastik yang keras. Air pendingin
tersebut akan membawa pellet PP ke dalam pellet screen. Pada alat ini pellet
PP akan disaring sehingga terpisah dari air pendingin lalu dimasukkan ke
pellet dryer.
Pada dryer, pellet PP dikeringkan dengan kontak langsung dengan
udara dari exhaust fan (K-2505). Pellet PP yang sudah kering kemudian
dipisahkan berdasarkan ukurannya (over size, normal size, atau under size).
Pellet PP yang sudah dipisahkan ditransfer ke SILO dan bagging plant secara
pneumatic dengan menggunakan N2. Pada bagian ini, pellet-pellet tersebut
ditampung dan dimasukkan ke dalam kemasan karung 25 kg. Biji PP yang
telah dikemas disimpan di dalam gudang dan dikenal dengan merk dagang
POLYTAM. Kapasitas gudang penyimpanan adalah sebesar 3000 ton.
Produk-produk off spec dijual dengan harga yang lebih murah dari produk
on spec.

3.5 Unit Utilitas


Utilitas merupakan unit penunjang utama dalam memperlancar
jalannya suatu proses produksi. Dalam suatu pabrik, utilitas memegang
peranan yang penting karena suatu proses produksi dalam suatu pabrik
tidak akan berjalan dengan baik jika utilitas tidak ada. Oleh sebab itu,
segala sarana dan prasarananya harus dirancang sehingga dapat menjamin
kelangsungan operasi pabrik. Kebutuhan yang ditunjang oleh Unit Utilitas
PT Pertamina RU-III antara lain :
1. Listrik
2. Air proses
3. Air Umpan Boiler (BFW)
4. Air pendingin
5. Air minum
6. Steam bertekanan
7. Udara bertekanan

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

8. N2
Unit Utilitas (UTL) PT Pertamina RU-III terbagi menjadi tiga unit
yakni Power Station I (PS I), Power Station II (PS II) yang terletak di Plaju ,
dan Power Station III (PS III) yang terletak di Sungai Gerong.

Tabel 3.2. Unit Utilitas PT. Pertamina RU III


Power station I Power Station II Power Station III
RPA 1,2,3 RPA 4 RPA 5,6
Boiler Boiler Demineralization Plant
Air Plant WHRU Drinking Water Plant
WTP (Bagus kuning)RWC (Raw Water Clarifier) Water Treatment Unit
WTP (Bagus kuning)Cooling Tower Air Plant
Demineralization Plant
Nitrogen Plant
Gas Turbin
Air Plant
(Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2013)

3.5.1 Rumah Pompa Air (RPA)


Rumah Pompa Air atau yang disebut dengan RPA berfungsi untuk
memompa air untuk kebutuhan air minum, air proses, air pendingin, dan air
umpan boiler. PT Pertamina UP-III memiliki enam buah unit RPA yang
tersebar yakni RPA 1-4 yang berlokasi di Plaju, RPA 5 yang berlokasi di
Bagus Kuning dan Sungai Gerong dan RPA 6 yang juga berlokasi di Sungai
Gerong. Air mentah yang juga digunakan sebagai air pendingin once through
diambil oleh RPA 1-3, RPA 5 Sungai Gerong, dan RPA 6 dari sungai
Komering.
Kapasitas air yang dihisap oleh pompa RPA dari sungai Komering
mencapai 15.000 ton/hari. RPA 4 berfungsi untuk mengumpan air mentah
ke unit WTU (Water Treatment Unit). RPA 5 Bagus Kuning digunakan untuk

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

mengalirkan air mentah ke unit WTP. Air yang diambil dari sungai komering
ini kemudian akan terbagi ke dalam dua jalur yakni jalur untuk pasokan fire
Water dan Raw Water. Air sungai yang digunakan terlebih dahulu melewati
pre-treatment pada clarifier dan sand filter. Hasilnya didistribusikan untuk
berbagai penggunaan, yaitu make-up air pendingin, umpan demineralization
plant, dan service water (air pencuci). Demin water digunakan untuk make-
up BFW, pelarut bahan kimia, dan digunakan dalam unit hydrogen plant. Air
pendingin digunakan untuk medium transfer panas pada kompresor,
kondensor, dan unit polypropylene. Air minum digunakan untuk fasilitas
sanitary, air minum, safety shower, dan eye-wash station.

3.5.2 Water Treatment Unit (WTU)


WTU menghasilkan air olahan yang berupa treated water, service
water, dan air minum. Treated water adalah air olahan yang akan digunakan
untuk proses pendingin atau sebagai BFW untuk menghasilkan steam.
Service water merupakan air yang digunakan langsung dalam proses
pengolahan,baik untuk umpan reaktor maupun sebagai pelarut. WTU dibagi
menjadi empat unit pengolahan, yaitu:
1. RWC I dengan kapasitas 1100 ton/jam (off),
2. RWC II dengan kapasitas 1100 ton/jam,
3. WTU Sungai Gerong dengan kapasitas 400 ton/jam,
4. DWP Sungai Gerong dengan kapasitas 150 ton/jam.
RWC merupakan proses pemurnian air dari padatan tersuspensi.
Proses pemurnian air dalam RWC dilengkapi beberapa bagian penunjang,
yaitu satu unit clarifier, empat buah sand filter, dan concrete clear well tank
(bak beton penampungan air bersih). Proses utama yang terjadi dalam RWC
adalah proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan filtrasi.
Feed Raw Water Pretreatment yang berasal dari air sungai Komering
dipompakan menuju clarifier yaitu alat yang berfungsi untuk
mengendapkan lumpur serta senyawa organik yang ikut terhisap bersama
air sungai. Bersamaan dengan raw water, zat-zat kimia seperti tawas

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

(Al2SO4)3, polyelectrolite, chlorine, dan caustic juga ikut ditambahkan ke


dalam clarifier dan dicampur secara mekanik. Penambahan zat-zat kimia
seperti tawas (Al2SO4)3 dan polyelectrolite, ke dalam clarifier bersama
dengan raw water bertujuan supaya proses pengendapan berlangsung lebih
cepat. Penambahan senyawa antiseptik seperti chlorine bertujuan untuk
membunuh kuman yang terkandung di dalam raw water. Sedangkan,
penambahan caustic bertujuan untuk mengontrol pH pada kisaran 5.8-6.2
sebagai akibat dari penambahan tawas (Al2SO4)3 dan polyelectrolite yang
menyebabkan penurunan pH. Clarifier dilengkapi dengan pengaduk agar
pengendapan terjadi dengan cepat. Dari clarifier effluent, air akan mengalir
menuju splitter tank, kemudian mengalir lagi menuju ke sand filter
(2200U2A,B,C,D). Air yang jernih dialirkan ke clear well tank yang
berkapasitas 5000 m3 net.

3.5.3 Demineralization Plant


Unit ini berfungsi untuk menghilangkan kandungan garam mineral
yang terkandung dalam air hasil olahan dari unit WTU. Unit demin plant
mengolah air yang berasal dari RWC I dan WTU SG. Pertamina RU III
memiliki dua buah demin plant, yaitu demin plant Plaju berkapasitas 320
m3/jam dan demin plant Sungai Gerong berkapasitas 45 m3/jam. Selain
untuk kebutuhan produksi steam, demineralization plant juga berfungsi
untuk memenuhi kebutuhan pasokan air untuk BFW (Boiler Feed Water), air
minum, serta hydrogen plant.
Unit Demineralization Plant terdiri dari :
1. Activated Carbon Filter, berfungsi untuk mengadsorpsi zat organik,
dekomposisi Cl2 menjadi ion Cl-, menghilangkan warna, rasa, dan
bau.
2. Cation exchanger, berfungsi untuk demineralisasi ion positif (kation).
3. Anion exchanger, berfungsi untuk demineralisasi ion negatif (anion).

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

4. Mixed bed, berfungsi untuk mempolis sisa kation dan anion yang tidak
tertukar 5i cation dan anion exchanger untuk memperoleh air demin
yang mendekati murni.

3.5.4 Cooling Water System


Sistem ini berfungsi untuk mengolah air pendingin yang akan
digunakan sebagai fluida pendingin pada peralatan unit produksi. Cooling
tower merupakan peralatan utama pada cooling water system. CT (cooling
tower) yang digunakan di PT Pertamina RU-III bertipe induce draft. CT, yaitu
tower Plaju berkapasitas 12000 ton/jam dan tower Sungai Gerong
berkapasitas 4000 ton/jam. CT ini akan mendinginkan air keluaran
demineralisasi serta air panas dari unit-unit proses. Air akan diumpankan
pada bagian atas cooling tower dan air akan mengalir turun sehingga terjadi
kontak antara air dan udara. Udara diisap menuju ke atas cooling tower. Air
akan mengalami penurunan temperatur akibat adanya penguapan sehingga
untuk mengatasi kekurangan air tersebut, sejumlah air harus ditambahkan
sebagai make-up. Pada proses pengolahan air dalam cooling tower,
dilakukan penambahan zat kimia, seperti:
1. Corrosion inhibitor, seperti polyphosphate, untuk mencegah terjadinya
korosi.
2. Scale inhibitor, untuk mencegah pembentukan kerak pada peralatan
proses.
3. Biocide berupa Cl, untuk mencegah pertumbuhan organisme yang
merugikan, seperti lumut.
4. Pengendali pH, untuk mengontrol pH air.

3.5.5 Drinking Water System


Drinking water system merupakan unit yang memasok kebutuhan air
minum baik untuk kebutuhan perkantoran PT Pertamina UP-III maupun
untuk kebutuhan rumah tangga di sekitar lingkungan Pertamina. Air yang
digunakan untuk air minum adalah air yang telah diolah melalui activated

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

carbon filter (pada demineralization plant) dan pengolahan klorinasi


sebanyak dua tahap pada Drinking Water Chlorinator. Klor akan diinjeksikan
pada bagian inlet tangki dan suction pompa dengan jumlah yang
diinjeksikan diatur secara manual berdasarkan analisis dari residual chlor
analyzer. Air minum didistribusikan ke drinking fountain, sanitary facility,
safety shower, eye-wash station, dan di berbagai lokasi yang memerlukan.

3.5.6 Pembangkit Steam


Steam digunakan sebagai pemanas, penggerak (driver), dan
pelucutan oksigen secara fisika pada deaerator. Hingga saat ini, PT
Pertamina UP-III memiliki dua macam boiler yakni Packaged Boiler yang
menggunakan bahan bakar gas dan Waste Heat Recovey Unit (WHRU) yang
memanfaatkan panas gas cerobong. Steam yang dihasilkan adalah steam
bertekanan 42 kg/cm2g (high pressure atau HP) dan steam bertekanan 15
kg/cm2g (medium pressure atau MP). Jenis pembangkit steam yang terdapat
dalam unit ini adalah:
1. Package boiler berjumlah dua buah, masing-masing berkapasitas 50
ton/jam. BFW berasal dari demin Plaju, dengan produk HP steam.
Pada package boiler ini, terdapat 10 burner tip yang posisinya
melingkar dan menggunakan bahan bakar fuel gas, dengan tekanan
bahan bakar 3,5 kg/cm2g.
2. Kettle boiler berjumlah sembilan buah, dengan kapasitas total 373
ton/jam. BFW berasal dari WTP Plaju, dengan produk MP steam.
Bahan bakar yang digunakan adalah fuel oil.
3. WHRU berjumlah tiga buah, masing-masing berkapasitas 68 ton/jam.
WHRU memanfaatkan panas yang dihasilkan oleh turbin gas. Gas
panas keluaran turbin memiliki temperatur sekitar 400 oC. WHRU
menghasilkan HP steam dengan mengolah air yang berasal dari WTP
Plaju.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

3.5.7 Pembangkit Listrik


Listrik dibutuhkan untuk menjalankan alat-alat proses, perkantoran,
perumahan, dan kebutuhan lainnya. Produksi Listrik di PT Pertamina RU-III
dilakukan oleh generator yang terdiri dari 1 unit Steam Turbine Generator, 3
unit Gas Turbine Generator, dan1 unit Diesel Emergency. Steam Turbine
Generator berkapasitas sebesar 3.2 MW. Turbin ini menggunakan steam dari
boiler sebagai penggeraknya. Gas turbine generator berkapasitas 20 MW.
Turbin gas ini menggunakan bahan bakar udara untuk menggerakkan
turbin. Gas buang yang masih bertemperatur tinggi inilah yang kemudian
dimanfaatkan WHRU untuk membangkitkan steam pada WHRU dan mampu
menghasilkan steam 57 MT/hari. Diesel Emergencygenerator, berkapasitas
0,75 MW, menggunakan bahan bakar diesel untuk menggerakkan turbinnya.
Unit ini dioperasikan secara auto standby sebagai turbin cadangan (bersifat
darurat) apabila sewaktu-waktu terjadi gangguan pada 4 unit generator
yang lain.

3.5.8 Sistem Udara Bertekanan


Unit ini berfungsi untuk menghasilkan umpan nitrogen plant,
instrument air, dan plant air dengan cara menekan udara. Unit ini
menggunakan Compressor multi tahap dan multi-shaft speed. Kompresor
yang dimiliki unit udara kempa berjumlah enam buah dengan kapasitas
total produksinya adalah sebesar 26,100 Nm3/jam dan tekanan operasi
kurang lebih 8.5 kg/cm2g. Air plant menghasilkan tiga jenis udara tekan
untuk keperluan yang berbeda, yaitu:
1. Service air, yaitu udara yang digunakan untuk keperluan pembersihan
peralatan proses.
2. Instrument air, yaitu udara yang digunakan sebagai penggerak
elemen pengendali akhir, seperti untuk pengaturan bukaan kerangan.
Udara instrumen harus memiliki kandungan uap air yang rendah
sehingga sebelum digunakan, udara harus dikeringkan terlebih

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA
PERTAMINA
Semangat Terbarukan

dahulu dan uap air yang terkandung diabsorpsi dengan


menggunakan silica gel,
3. Umpan nitrogen plant, berupa service air.

3.5.9 Nitrogen Plant


Nitrogen Plant berungsi untuk menghasilkan nitrogen fasa cair dan
gas dengan umpan yang berasal dari udara bertekanan. Kapasitas desain
Nitrogen Plant adalah 336 Nm3/jam untuk Nitrogen cair dan 1650 Nm3/jam
untuk gas Nitrogen. Proses produksi nitrogen pada unit ini adalah dengan
cara distilasi cryogenic yaitu untuk memisahkan nitrogen dari udara.
Kemurnian nitrogen yang dihasilkan pada nitrogen Plant mencapai 99.9%.
Udara bertekanan dialirkan menuju refrigerant compressor,
kemudian didinginkan di dalam air chiller menggunakan media freon yang
telah didinginkan terlebih dahulu dalam kondensor. Setelah itu, udara
dingin dialirkan menuju air separator untuk memisahkan kandungan air
dalam udara. Udara dari air separator dimasukkan ke unit MS adsorber
untuk menyingkirkan impurities yang masih terdapat dalam udara, lalu
dialirkan menuju unit pemisah yang bertemperatur rendah. Udara
didinginkan mendekati temperatur pencairan, lalu dialirkan ke bawah
nitrogen column untuk memisahkan nitrogen dan oksigen. Nitrogen murni
akan menjadi produk atas, sedangkan nitrogen yang mengandung oksigen
cair akan menjadi produk bawah. Proses pemisahan tersebut dilakukan
pada tekanan 8,4 kg/cm2g dan temperatur -176oC.

Program Studi Teknik


Kimia | FT UNJA