Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN 2


MODUL X
LARUTAN ELEKTROLIT

Disusun oleh:

Nama : Retno Wahyuning A K 100140071

Isya Isma Nabilla K 100140072

Fatma Marthunus K 100140073

Erni Setyaningsih K 100140074

M. Sofian Finnegan K 100140075

Kelompok : C-4

Korektor : Muhammad Hanif

LABORATORIUM TEKNOLOGI DAN FORMULASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA


2017
MODUL X

LARUTAN ELEKTROLIT

I. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Menjelaskan cara membuat larutan Ringer Laktat
2. Menghitung dan mengatur tonisitas larutan Ringer Laktat
3. Melakukan sterilisasi sediaan Ringer Laktat
4. Melakukan uji sterilitas dan pirogen terhadap sediaan Ringer Laktat
5. Melakukan uji kebocoran botol infus
6. Melakukan uji kejernihan, warna, dan deteksi keberadaan partikel
dalam sediaan Ringer Laktat
7. Melakukan uji keseragaman volume sediaan Ringer Laktat

II. DASAR TEORI


Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulis atau suspensi
atau sebuk yang harus di larutkan atau di suspensikan lebih dahulu
sebelum digunakan, yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke
dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Injeksi di racik dengan
melarutkan, mengelmusi atau mensuspensikan sejumlah obat kedalam
pelarut atau dengan mengisi sejumlah obat kedalam wadah dosis tunggal
atau wadah dosis ganda.
Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia
nabati dengan air pada suhu 90oC selama 15 menit. Infus intravenus
adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas pirogen dan
sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah, disuntikkan langsung
kedalam vena dalam volume relatif banyak.
(Depkes RI, 1979)

Tujuan pemberian infus intravena:


1. Mengganti cairan tubuh dan mengimbangi jumlah elektrolit
dalam tubuh, misal: sol.Glukosa isotonis, Sol.Ringeri Lactat,
Sol. NaCl 0,9% b/v.
2. Dalam bentuk larutan koloid dapat dipakai menggantikan darah
manusia, misal: larutan koloid PVP 3,5%.
3. Dapat diberikan dengan maksud untuk penambahan kalori,
misal: Aminovel-600.
4. Sebagai obat diberikan dalam jumlah besar dan terus menerus
jika tidak dapat di suntikkan secara biasa, misal: antikanker,
antibiotik.
(Syamsuni, 2006)
Penetapan awal kehilangan cairan adalah sangat esensial untuk
rehidrasi. Hilangnya berat badan hal yang paling berkaitan dalam
penetapan tingkat kehilangan cairan. Tanda klinik seperti perubahan tugor
kulit, mata sayu, membran mukosa kering, penurunan air mata, penurunan
keluarnya urin, perubahan mental dan perubahan tanda vital. Penggantian
Cairan pemulih sangat di perlukan. Cairan pemulih utama mengandung
kristaloid isotonik. Kebanyakan para ahli setuju bahwa kristaloid lebih
baik dari koloid sebagai terapi utama dari insufisiensi sirkulasi. Kristaloid
mengandung elektrolit (contoh: Na+, Cl-, K+ ) dalam larutan air atau dengan
dekstrosa. Larutan Ringer Laktat dapat di pilih karena tidak menyebabkan
metabolik asidosis hiperkloremik melalui infus atau saline normal dalam
jumlah yang banyak. Selain itu, penggunaan larutan Ringer Laktat atau
0,9% NaCl sebagai terapi IV harus diindikasikan pada pasien muntah tidak
terkendali, adanya ilus paralisis, defekasi > 10 mL/Kg hari, shock, hilang
kesadaran, dan kehilangan berat badan 9-10%.
(Sukandar, 2008)

III. ALAT DAN BAHAN


1. Larutan Ringer Laktat

Alat Bahan

Penangas air Natrium laktat


Glassware NaCl
Botol bening KCl
Timbangan CaCl2.2H2O
Aqua p.i
Karbo adsorben
HCl 0,1 N - NaOH 0,1 N

2. Multiple Elektrolit

Alat Bahan

Penangas air Na asetat


Glassware NaCl
Botol bening KCl
Timbangan Na Gluconate
MgCl hexahidrate
Aqua p.i
Karbo adsorben
HCl 0,1 N NaOH 0,1 N
IV. PERHITUNGAN BAHAN

1. Larutan Ringer Laktat (dibuat 2 formula)

Formula awal :
R/ Natrium laktat 0,31 (BM 112,02)
NaCl 0,6 (BM 58,44)
KCl 0,03 (BM 74,55)
CaCl2.2H2O 0,01 (BM 219,08)
Aqua p.i. ad 100 mL

Jika dibuat 2 formula maka :

R/ Natrium laktat 0,62


NaCl 1,2
KCl 0,06
CaCl2.2H2O 0,02
Aqua p.i. ad 200 mL

Perhitungan Tonisitas (digunakan bobot bahan untuk 1 formula)

(Hipotonis)

Penambahan NaCl

2. Multiple Elektrolit (dibuat 2 formula)


Formula awal :
R/ Natrium asetat 0,36 (BM 82,03)
NaCl 0,52 (BM 58,44)
KCl 0,03 (BM 74,55)
MgCl hexahidrat 0,03 (BM 203,3)
Aqua p.i. ad 100 mL

Jika dibuat 2 formula maka :


R/ Natrium asetat 0,72
NaCl 1,04
KCl 0,06
MgCl hexahidrat 0,06
Aqua p.i. ad 200 mL

Perhitungan Tonisitas (digunakan bobot bahan untuk 1 formula)

(Hipotonis)

Penambahan NaCl
V. CARA KERJA SKEMATIS

Larutan Ringer Laktat

Di cek apakah larutan isotonis/tidak isotonis

Dididihkan aquadest. Semua bahan dilarutkan ke dalam aquadest panas

Dicek pH larutan antara 5-7, jika kurang asam ditambahkan HCl 0,1 N
sedangkan bila kurang basa ditambahkan NaOH 0,1 N

Ditambahkan sisa aquanya. Kemudian larutan digojog dengan karbo adsorben


0,1%, didiamkan lalu disaring hingga jernih

Dimasukkan larutan ke dalam wadah yang sesuai dengan tutup, ditutup rapat
dan ditali

Disterilisasi dengan uap mengalir (dikukus) 100OC selama 30 menit

Diperiksa larutan terhadap pH, kebocoran, partikel asing, dan kejernihan serta
dilakukan uji volume terpindahkan

Diberi etiket

Multiple Elektrolit
Dicek apakah larutan isotonis/tidak isotonis

Dididihkan aquadest. Semua bahan dilarutkan ke dalam aquadest panas

Dicek pH larutan antara 5-7, jika kurang asam ditambahkan HCl 0,1 N
sedangkan bila kurang basa ditambahkan NaOH 0,1 N

Ditambahkan sisa aquanya. Kemudian larutan digojog dengan karbo adsorben


0,1%, didiamkan lalu disaring hingga jernih

Dimasukkan larutan ke dalam wadah yang sesuai dengan tutup

Disterilisasi dengan uap mengalir (dikukus) 100OC selama 30 menit

Diperiksa larutan terhadap pH, kebocoran, partikel asing dan kejernihan

Diberi etiket
VI. PEMBAHASAN CARA KERJA
Pada praktikum ini membuat sediaan larutan elektrolit yaitu larutan
ringer laktat dan multiple elektrolit. Larutan elektrolit digunakan sebagai
penambah cairan tubuh, pengganti ion-ion tubuh yang hilang, dan terapi
pemeliharaan pasien pasca operasi. Larutan ringer laktat digunakan untuk
mengatasi kondisi kekurangan darah atau keadaan yang mendesak,
karena pada larutan tersebut mengandung KCl-CaCl2.6H2O disamping
NaCl.
Sebelum dilakukan percobaan, terlebih dahulu menghitung
tonisitas larutan sehingga dapat diketahui apakah larutan tersebut sudah
isotonis atau masih dalam keadaan hipotonis atau hipertonis. Larutan
dinyatakan isotonis apabila hasil perhitungan tonisitas sama dengan 0,28.
Isotonis merupakan keadaan larutan memiliki tekanan osmosis yang
sama dengan tekanan osmosis dalam cairan tubuh. Apabila keadaan
isotonis, diharapkan larutan yang diinjeksikan tidak akan menimbulkan
rasa sakit, sedangkan larutan hipotonis akan menimbulkan sel tubuh
pecah atau lisis karena tekanan di luar sel lebih rendah, maka cairan
dalam sel akan menggembung dan pecah, dimana tekanan osmosis
merupakan tekanan dari konsentrasi rendah ke tinggi. Sebaliknya pada
larutan hipertonis akan mengakibatkan keadaan di luar sel lebih tinggi
dibanding di dalam sel sehingga keadaan sel mengkerut. Keadaan
hipotonis lebih berbahaya dibanding keadaan hipertonis karena larutan
hipotonis bersifat irreversible (sel sudah pecah) sedangkan larutan
hipertonis bersifat reversible (sel dapat kembali normal).
Larutan ringer laktat dan multiple elektrolit disterilisasi dengan
cara dikukus pada suhu 1000C selama 30 menit. Sterilisasi adalah proses
untuk membuat sedian menjadi steril, bebas dari mikroba hidup, baik
yang patogen maupun non patogen. Pengecekan pH pada range 5-7 agar
larutan yang digunakan sebagai sediaan injeksi memiliki pH yang sama
dengan pH darah. Karbo absorben dipanaskan bertujuan untuk
pengaktifan dalam penyerapan karbon serta menghilangkan pirogen dan
partikel-partikel atau pengotor yang mungkin ada dalam larutan. Pirogen
merupakan senyawa kompleks polisakarida yang dapat menimbulkan
demam dan bersifat termostabil, namun jika terlalu banyak dapat
menimbulkan kematian.
Setelah larutan disterilkan pada larutan ringer laktat dan multiple
elektrolit dilakukan pemeriksaan pH, kebocoran, partikel asing, dan
kejernihan. Untuk uji kejernihan dan partikel asing, dilihat masing-
masing flakon dari larutan ringer laktat serta multiple elektrolit dengan
latar belakang kertas hitam. Hasil percobaan dari larutan ringer laktat dan
multiple elektrolit tidak mengandung partikel asing dan tetap jernih. Hal
ini menunjukkan bahwa kedua larutan tersebut steril dan layak untuk
digunakan untuk pasien. Apabila didasar larutan terdapat partikel asing,
dapat diindikasikan bahwa dalam larutan terdapat pirogen yang dapat
membahayakan pasien. Pada pengukuran pH menggunakan pH stick
dimasukkan dalam larutan ringer laktat dan multiple elektrolit, kedua
larutan memiliki pH 7 sehingga sama dengan pH darah. Dalam uji
kebocoran, tidak ada flakon yang bocor ditandai dengan warna larutan
tetap jernih ketika flakon dalam posisi terbalik dimasukkan kedalam
larutan metilen blue. Apabila terjadi kebocoran maka larutan didalam
flakon berubah warna menjadi biru.
VII. HASIL DAN PERHITUNGAN
A. Penimbangan Bahan
Larutan Ringer Laktat

Bahan Jumlah yang ditimbang

Natrium Laktat 0,62 mL

NaCl 0,6 g

KCl 0,03 g

CaCl2.2H2O 0,01 g

Aqua p.i ad 100 mL

Larutan Multiple Electrolit

Bahan Jumlah yang ditimbang

Natrium Asetat 0,36 g

NaCl 0,52 g

KCl 0,03 g

Na Gluconate -

MgCl hexahydrate 0,03 g

Aqua p.i ad 100 mL

B. Perhitungan Tonisitas
Larutan Ringer Laktat

0,05 + 0,185 + 0,007 + 0,001 < 0,28

0,243 < 0,28 (Hipotonis)

Larut
Larutan Multiple Electrolit

0,078 + 0,160 + 0,007 + 0,002 < 0,28

0,24 < 0,28 (Hipotonis)

C. Cara Sterilisasi

Sterilisasi
D. Hasil Uji pH dengan uap mengalir (dikukus) 100 0C selama 30 menit.

RL ME Keterangan
pH awal pH akhir pH awal pH akhir
Vial 1 5 6 6 6 Memenuhi
Vial 2 5 6 6 6 Memenuhi
Vial 3 5 6 6 6 Memenuhi
E. Hasil Uji Kebocoran

RL ME Keterangan
Vial 1 - - Memenuhi
Vial 2 - - Memenuhi
Vial 3 - - Memenuhi
RL ME Keterangan

Vial 1 - - Memenuhi
Vial 2 - - Memenuhi
Vial 3 - - Memenuhi
F. Hasil Uji Partikel Asing

G. Hasil Uji Volume Terpindahkan

Volume setelah Prosen volume


Volume awal Selisih
No. dipindahkan terpindahkan
(ml) (ml)
(ml) (%)
1 10 9,9 0,1 99
2 10 9,8 0,2 98
3 10 9,9 0,1 99
4 10 9,7 0,3 97
5 10 9,8 0,2 98
Rerata 98,2
SD 0,837
CV 0,852
H. Perhitungan % Volume Terpindahkan

Vial 1

Vial 2

Vial 3

Vial 4

Vial 5

VIII. PEMBAHASAN

Pada pembuatan sediaan steril ini dikemas dalam bentuk vial yang
mengandung larutan steril Ringer Laktat. Larutan Ringer Laktat
digunakan secara intravena untuk memperbaiki kandungan elektrolit
didalam tubuh. Infuse merupakan sediaan larutan yang disterilkan dan
biasanya dikemas dalam dalam volume 0,5 1L. Larutan ini biasa
diberikan setelah terjadi shock, kehilangn cairan badan karena dehidrasi
(muntah, diare, kondisi pasca operasi ) dan kelaparan. Infus sebagai
sediaan parenteral harus memenuhi persyaratan antara lain steril, dan
bebas dari partikel asing, bebas pirogen, stabil, tonisitas, jernih dan
mempunyai pH yang sesuai. Formula yang digunakan dalam membuat
infus ringer laktat adalah natrium laktat, NaCl, KCl, CaCl2. 2H2O dan
aqua p.i. Setiap komponen mempunyai kelebihan masing-masing untuk
menghasilkan larutan elektrolit. Pada formula ini natrium laktat berfungsi
sebagai menyumbangkan ion natrium, untuk terapi asidosis yaitu
kelebihan asam dalam darah dimana akan mengakibatkan nekrosis
jaringan. Kalium klorida berfungsi sebagai pompa untuk ion Na dan K,
dan dapat meningkatkan kontraksi otot jantung. Natrium Klorida
berfungsi sebagai elektrolit yang dapat membuat larutan menjai isotonis.
Calsium Klorida berfungsi sebagai defisiensi ion kalsium.

Pada dasarnya, proses formulasi larutan ringer laktat dan multiple


elektrolit adalah sama. Tonisitas larutan perlu dihitung dahulu sebelum
pembuatan sediaan. Tonisitas perlu dihitung dengan tujuan agar dapat
diketahui apakah larutan tersebut sudah isotonis atau belun atau
hipertonis, karena ini berhubungan dengan tekanan osmose larutan
terhadap cairan tubuh yang akan diberi larutan infus. Larutan yang
isotonis adalah larutan yang memiliki tekanan osmose sama dengan
tubuh, dan keadaan isotonis inilah yang diharapkan, karena dalam
keadaan ini, larutan yang diinjeksikan tidak akan menimbulkan rasa
sakit.

Menurut Ilmu Resep karangan Syamsuni, mengatakan bahwa


hipertonis adalah tekanan osmosis larutan obat lebih besar daripada
tekanan osmosis cairan tubuh. Jika larutan injeksi hipertonis disuntikkan,
air dalam sel akan ditarik luar dari sel sehingga sel akan mengerut, tetapi
keadaan ini bersifat sementara dan tidak akan menyebabkan kerusakan
sel tersebut. Sedangkan hipotonis adalah tekanan osmosis larutan obat
lebih kecil daripada tekanan osmosis cairan tubuh, jika larutan injeksi
yang hipotonis disuntikkan, air dari larutan injeksi akan diserap dan
masuk kedalam sel, akibatnya sel akan mengembang dan pecah, dan
keadaan ini bersifat tetap. Jika yang pecah itu sel darah merah, disebut
haemolisis. Pecahan sel ini akan dibawa aliran darah dan dapat
menyumbat pembuluh darah yang kecil. Jadi sebaiknya larutan injeksi
harus isotonis, jika harus terpaksa dapat sedikit hipertonis, tetapi jangan
sampai hipotonis. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa kedua formula
larutan elektrolit tidaklah bersifat isotonis, melainkan hipotonis
(membahayakan jika diinjeksikan). Suatu larutan dikatakan isotonis
apabila memiliki nilai tonisitas 0,28, sedangkan ringer laktat tonisitasnya
0,248 dan multiple elektrolit 0,247. Maka perlu penambahan NaCl
sebesar 0,1184 g/100mL untuk ringer laktat dan 0,1056 g/100 mL untuk
multiple elektrolit.

Pada cara kerja percobaan ini digunakan aquades yang mendidih,


selain untuk meningkatkan kelarutan dari bahan bahan obatnya, kondisi
panas juga dapat mensterilkan bahan dari mikroba. Setelah semua bahan
dilarutkan, maka pH dicek pada range 5-7, hal ini dikarenakan agar
larutan yang akan digunakan sebagai sediaan injeksi parenteral memiliki
pH yang sama dengan pH tubuh manusia. Karbo adsorben yang
dipanaskan dalam oven, bertujuan untuk mengaktifkannya dalam
penyerapan karbon dan menghilangkan pyrogen serta partikel-partikel
atau pengotor yang mungkin ada pada larutan. Pirogen adalah senyawa
kompleks polisakarida yang mengandung radikal dengan unsur N.P,
selama radikal tersebut masih terikat, maka selama itu pula akan
menimbulkan demam dan bersifat termostabil, jika terlalu banyak dapat
menimbulkan kematian. Setelah larutan digojog dengan karbo adsorben,
larutan didiamkan sebentar kemudian disaring hingga jernih dengan
kertas saring, larutan dimasukkan dalam wadah yang sesuai dengan
tutupnya (vial), kemudian vial-vial yang sudah berisi larutan, disterilakan
dengan autoclave pada suhu 100C selama 30 menit. Sterilisasi yang
efektif dan dilakukan dalam percobaan ini adalah sterilisasi dengan uap
bertekanan menggunakan autoclave dengan suhu 100C selama 30 menit.
Jadi harus diusahakan agar pembuatan larutan injeksi dan infus harus
dikondisikan bebas pirogen dan harus dipastikan pula bahwa kondisi ini
dapat dipertahankan sampai saat pemakaiannya. Pemilihan wadah pada
formula ini menggunakan vial, karena dapat digunakan untuk berulang
kali dan tutup terbuat dari karet yang bersifat elastis dan dapat ditutup
kembali.

Pada praktikum ini dilakukan beberapa pengujian diantaranya,uji


kejernihan, uji kebocoran dan uji pH. Pada uji kejernihan ini dilakukan
untuk mengetahui kejernihan dari larutan, ada dan tidaknya partikel pada
larutan. Hasil dari pengujian ini positif tidak terdapat partikel asing, ini
berarti larutan tersebut dapat digunakan karena tidak dikhawatirkan
menimbulkan emboli dan menyebabkan rasa nyeri. Partikel ini biasanya
adalah bahan yang tidak larut dan secara tidak langsung terdapat dalam
sediaan. Adanya partikel asing dalam sediaan menandakan bahwa larutan
tersebut tidak jernih, karena adanya kontaminasi partikel asing, sehingga
bila diamati lebih teliti dalam sediaan tersebut keruh dengan partikel
asing.

Pada uji kebocoran bertujuan untuk diketahui tidak ada ampul yang
bocor, kebocoran ditandai dengan adanya warna biru di dalam ampul
menggunakan zat warna methylen blue. Uji kebocoran ini dilakukan
untuk memastikan bahwa vial yang digunakan benar-benar baik sehingga
dosis yang didapatkan sesuai dengan dosis yang diinginkan. Selain itu
adanya kebocoran dapat menyebabkan partikel asing masuk, partikel ini
dapat berupa mikroorganisme atau pirogen, yang menandakan bahwa
larutan tersebut tidak lagi steril. Dapat berpengaruh juga pada
distribusinya atau penanganan sediaan tersebut selain terkait dengan
dosis dan volumenya. dari hasil uji kebocoran larutan yang dihasilkan
memenuhi. Hasil yang diperoleh dari uji pH ringer laktat adalah pH awal
dan pH akhir adalah 6. Nilai tersebut sudah memenuhi syarat (rentang pH
5-7), sehingga tidak diperlukan penambahan HCl maupun NaOH.
Sedangkan hasil uji pH multiple elektrolit adalah pH awal 6 dan pH akhir
6. pH awal memenuhi syarat sehingga tidak perlu dilakukan
penambahan HCl 0,1 N menetralkan pH ke rentang normal. pH akhir
yang didapat adalah 6 (memenuhi syarat). Pengecekan pH bertujuan agar
pH larutan sama atau mendekati dengan pH cairan tubuh sebab beberapa
senyawa obat tidak selalu stabil pada pH fisiologis.

Untuk larutan ringer laktak dilakukan uji volume terpindahkan.


Persentase volume terpindahkan dari 5 vial adalah 99%; 98%; 99%;
97%; 98%. Sehingga diperoleh rerata 98,2%, SD 0,837 dan CV 0,852.
Dikatakan memenuhi syarat adalah apabila volume rata-rata yang
diperoleh dari 5 wadah (vial) tidak kurang dari 100% dan tidak satupun
volume wadah kurang dari 95% dari volume yang tertera pada etiket.
Hasil percobaan tersebut menunjukan bahwa volume rata-rata yang
diperoleh dari 5 wadah (vial) kurang dari 100% (98,2%) dan tidak
satupun volume wadah kurang dari 95% dari volume yang tertera pada
etiket. Maka menurut FI IV, harus dilakukan uji tambahan terhadap 20
wadah tambahan. Namun dalam praktikum ini hanya tersedia 5 wadah,
sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan uji lebih lanjut. Sehingga
untuk uji volume terpindahkan tidak memenuhi syarat. Tujuan dari
pengujian pengujian tersebut antara lain untuk memenuhi standar
sediaan yang di inginkan, layak untuk dipakai atau tidak, karena bentuk
sediaan infus dalam bentuk vial harus memiliki kejernihan yang tinggi,
tidak ada partikel, steril, tidak bocor dan mempunyai PH yang sesuai.
IX. KESIMPULAN
1. Mahasiswa telah mampu memahami dan membuat sediaan steril
larutan ringer laktat dengan baik dan benar.
2. Mahasiswa telah dapat mengetahui syarat sediaan steril larutan
ringer laktat meliputi: steril, bebas partikel asing, bebas pirogen,
stabil dalam penyimpanan, tonisitas, sesuai ph tubuh,dan jernih.
3. Mahasiswa telah mampu melakukan pengujian terhadap sediaan
steril larutan ringer laktat meliputi:
a. pH larutan =6
b. Uji partikel dan kejernihan = jernih
c. Uji kebocoran =tidak bocor
d. Uji volume terpindahkan pada ringer laktat, tidak memenuhi
syarat sebab volume rata-rata dari 5 wadah vial kurang dari
100% (98,2%).
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi 3.


Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Sukandar, dkk. 2008. ISO Farmakoterapi. Jakarta: Penerbit ISFI.
Syamsuni, HA. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.