Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN 2


(NON SOLID-STERIL)
MODUL X
LARUTAN ELEKTROLIT

Kelompok E 2

Meirisa Mona Laksmita K100130108


Widia Ristiana K100130109
Desy Putri Herlatama P K100130110
Brelian Novitasari K100130111
Zaenab K100130112
Nurul Maharani K100130113
Dewi Sri Permatasari K100130116

Korektor :

LABORATORIUM FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

MODUL X

LARUTAN ELEKTROLIT
A. Tujuan
Mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menjelaskan cara membuat larutan Ringer Laktat.
2. Menghitung dan mengatur tonisitas larutan Ringer Laktat.
3. Melakukan sterilisasi sediaan Ringer Laktat.
4. Melakukan uji sterilitas dan piogen terhadap sediaan Ringer Laktat.
5. Melakukan uji kebocoran botol infuse.
6. Melakukan uju kejernihan, warna dan deteksi keberadaan partikel dalam sediaan
Ringer Laktat.
7. Melakukan uji keseragaman volume sediaan Ringer Laktat.

B. Dasar Teori

Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut. Kecuali
dinyatakan lain sebagai pelarut digunakan air suling. Larutan steril yang digunakan
sebagai obat luar harus memenuhi syarat yang tertera pada injections. Wadah harus dapat
dikosongkan dengan cepat. Kemasan boleh lebih dari 1 liter.

(Depkes RI, 1979)

Larutan Elektrolit. Penyelidikan menunjukkan bahwa larutan NaCl dapat


menghantarkan arus listrik (mirip kawat tembaga), sedangkan larutan gula tidak
demikian. Larutan yang menghantarkan listrik disebut larutan elektrolit sedangkan yang
tidak menghantarkan arus listrik disebut larutan non elektrolit. Karna air murni tidak
menghantarkan arus listrik maka sifat hantaran ditimbulkan oleh zat terlarut, bukan
pelarut. Oleh sebab itu, larutan senyawa yang menghantarkan listrik disebut senyawa
elektrolit dan yang tidak disebut senyawa non elektrolit. Senyawa elektrolit mebentuk ion
dalam larutan, sedangkan senyawa non elektrolit dalam bentuk molekul netral.
Pembentukan ion dipengaruhi oleh jenis pelarut, contohnya HCl membentuk ion dalam
air, tetapi tidak dalam benzena.

Alat untuk menguji larutan elektrolit atau tidak disebut elektrolit tester. Masukkan dua
batang logam, (missal tembaga) ke dalam larutan. Keduanya tidak bersentuhan dan
masing-masing dihubungkan dengan kutup arus listrik searah. Bola akan hidup atau
jarum akan bergerak untuk larutan elektrolit dan mati untuk non elektrolit.
Perlu diingat, larutan yang sangat encer atau sangat pekat tidak akan menghidupkan
lampu. Karena yang sangat encer mengandung ion amat sedikit dan jarang sehingga tidak
mengalirkan listrik. Larutan yang pekat mempunyai ion terlalu rapat dan berdesakan
sehingga ion sulit bergerak dala larutan. Dapat disimpulkan, bahwa listrik dibawa oleh
ion-ion yang bergerak menuju kutub yang berlawanan.
(Syukri, 1999)

Sifat Larutan Elektrolit. Elektrolisis. Jika aus listrik langsung mengalir melalui sel
elektrolit, pada suatu poensial yang besarnya beberapa volt. Proses ini disebut
elektrolisis. Electron-elektron masuk kedalam sel dari baterai atau generator pada katoda
(jalan turun). Electron-elektron ini bergabung dengan ion positif atau kation didalam
larutan; dengan demikian, kation mengalami reduksi. Ion negative, atu anion membawa
electron melalui electron dan melepaskan electron tersebut pada anoda (jalan naik);
dengan demikian anion mngalami oksidasi. Reduksi adalah penambahan electron pada
suatu spesies kimia, dan oksidasi adalah penghilangan electron dari spesies kimia. Arus
listrik dalm larutan terdiri dari aliran ion positif dan ion negative yang menuju kearah
elektroda, sedangkan arus listrik dalam pengahantar logam terdiri dari aliran electron
bebas yang bermigrasi melalui kisi-kisi Kristal dari ion positif tertentu. Reduksi terjadi
pada katoda tempat electron masuk dari sirkuit eksternal dan electron ditambahkan pada
spesies kimia dalam larutan. Oksidasi terjadi pada anoda tempat terjadi pengurangan
electron dari spesies kimia dalam larutan dan electron menuju ke sirkuit eksternal.

(Sinko, 2011)

C. Alat dan Bahan


Larutan Ringer Laktat

Alat Bahan
Pengangas air Natrium Laktat
Glassware NaCl
Botol bening KCl
Timbangan CaCl2.2H2O
Aqua p.i
Karbo adsorben
HCl 0,1 N- NaOH 0,1 N
Multiple Elektrolit

Alat Bahan
Penangas Air Na Acetate
Glassware NaCl
Botol bening KCl
Timbangan Na Gluconate
MgCl hexahidrat
Aqua p.i
Karbo adsorben
HCl 0,1 N- NaOH 0,1 N

D. Perhitungan Bahan
Formula Larutan Ringer Laktat
R/ Natrium laktat 0,31
NaCl 0,6
KCl 0,03
CaCl2.2H2O 0,01
Aqua p.i ad 100 ml

Formula Multiple Elektrolit


R/ Natrium acetate 0,36
NaCl 0,52
KCl 0,03
Na Gluconate 0,50
MgCl hexahidrate 0,03
Aqua p.i ad 100 ml

E. Cara Kerja
1. Larutan Ringer Laktat

Dicek apakah larutan isotonis atau tidak isotonis.

Di didihkan aquadest.

Dilarutkan semua bahan ke dalam aquadest panas.


Di cek pH larutan antara 5-7, jika kurang asam ditambah HCl 0,1 N sedangkan bila
kurang basa tambahkan NaOH 0,1 N.

Ditambahkan sisa aquanya.

Digojok larutan dengan karbo adsorben 0,1%, diamkan, kemudian saring hingga jernih.

Dimasukkan larutan dalam wadah yang sesuai dengan tutup.

Disterilisasi dengan uap mengalir (dikukus) 100o C selama 30 menit.

Diperiksa larutan terhadap : pH, kebocoran, partikel asing, kejernihan.

Diberi etiket.

2. Multiple Elektrolit

Dicek apakah larutan isotonis atau tidak isotonis

Di didihkan aquadest

Dilarutkan semua bahan ke dalam aquadest panas


Uji volume terpindahkan

Dibuat larutan ringer laktat / elektrolit sebanyak 200 mL

Dari larutan tersebut, diambil 10 mL dengan menggunakan pipet volume 10 mL dan


dimasukkan ke dalam vial

Vial ditutup dengan penutup karet dan diatasnya diberi plastik serta diikat dengan karet

Disterilisasikan vial tersebut dengan cara dikukus pada suhu 100C selama 30 menit (untuk
ringer laktat), sedangkan larutan elektrolit didiamkan pada suhu ruang selama 30 menit

Larutan dalam vial diambil dengan volume pipet 10 mL dan dituang ke dalam gelas ukur 10
Ml

Diukur volume larutan pada tiap vial


Dikatakan memenuhi syarat apabila : volume rata-rata yang diperoleh dari 10 wadah tidak
kurang dari 100% dan tidak ada satupun volume wadah dibawah 95%.

Jika A : adalah volume rata-rata kurang dari 100% tetapi tidak satupun wadah yang volumenya
kurang dari 95%.

Jika B : adalah tidak lebih dari satu wadah volumekurang dari 95%tetapi tidak kurang dari 90%
dari volume yang tertera pada etiket, lakukan pengujian terhadap 20 wadah tambahan.

Volume rata-rata yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari 100% dan tidak lebih dari satu
dari 30 wadah volume kurang dari 95%, tetapi tidak kurang dari 90%.

F. PEMBAHASAN CARA KERJA

Larutan dicek isotonis atau tidak isotonis ditujukan agar mendapatkan larutan
elektrolit yang diharapkan. Tujuan pengisotonisan larutan adalah untuk menghindari rasa
nyeri yang diakibatkan perbedaan tekanan osmosis antara lautan obat dengan darah dan
cairan tubuh yang lain. Semua bahan dilarutkan dalam aquadest panas untuk
mempercepat kelarutan bahan sehingga homogen. Pengecekan pH bertujuan agar larutan
elektrolit yang kita buat sesuai dengan pH darah. Penambahan karbo adsorben bertujuan
untuk menyerap partikel asing dan pirogen yang mungkin ada pada larutan. Pengukusan
pada suhu 1000C digunakan untuk menyeterilkan sediaan yang dibuat. Kemudian diuji
pH, partikel asing, kebocoran, dan volume terpindahkan.

G. HASIL PERCOBAAN

1. Perhitungan Tonisitas

Ringer Laktat

BM NaCl : 58,44
KCl : 74,55
CaCl26H2O : 219,08
Na Laktat : 111,52

Rumus = = 0,28

* 0,243 < 0,28 hipotonis (tidak isotonis)


h = 32 x (0,28 0,243)
= 1,184 g/L = 0,1184 g/100mL x 2
= 0,2368 g/100 mL

Multiple Elektrolit

BM NaCl : 58,44
KCl : 74,55
CaCl26H2O : 219,08
Na Laktat : 111,52

mEq =

* 0,06 < 0,28 hipotonis (tidak isotonis)


h = 32 x (0,28 0,06)
= 7,04 g/L = 7,04 g/100mL x 2
= 14,08 g/100 mL

2. Bahan bahan yang ditimbang


Ringer Laktat

R/ Natrium Laktat 0,62


NaCl 1,2
KCl 0,06
CaCl2.6H2O 0,02
Aqua P.I ad 100 mL

Multiple Elektrolit

R/ Natrium acetate 0,72


NaCl 1,04
KCl 0,06
Na Gluconate 1 (tidak ada bahan)
MgCl hexahidrate 0,06
Aqua P.I ad 200 mL

3. Cara sterilisasi

Menggunakan uap mengalir (dikukus) 100oC selama 30 menit

4. Hasil Uji pH larutan Ringer Laktat

Ampul 1 6
Ampul 2 6
Ampul 3 6

5. Hasil Uji Kebocoran Ringer Laktat

Ampul 1 -
Ampul 2 - (tidak bocor)
Ampul 3 -
6. Hasil Uji Partikel Asing Ringer Laktat

Ampul 1 + terdapat partikel asing


Ampul 2 - tidak ada
Ampul 3 - tidak ada

7. Hasil Uji Volume Terpindahkan

Ringer Multiple
Laktat (mL) Elektrolit
(mL)
11 10
11 10
11 10
11 10
11 10
11 10
11 10
11 10
11 10
11 10
Rata-rata Ringer laktat : 11 mL
Rata-Rata Multiple Elektrolit : 10 mL

H. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini dilakukan pembuatan larutan elektrolit. Salah satu contoh
larutan elektrolit adalah infuse. Pada percobaan ini dibuat larutan infuse berupa larutan
Ringer Laktat dan Multiple Elektrolit. Infuse adalah salah satu sediaan steril yang dibuat
pada suhu 900C selama 15 menit, cairan infuse biasanya diberikan melalui intra vena
(pembuluh vena) dengan volume yang besar ( 0,5 1 L) secara continue atau
berkelanjutan pada kondisi shock atau keadaan kekurangan cairan (dehidrasi).
Dua larutan elektrolit yang dibuat pada praktikum kali ini memiliki fungsi yang
hampir sama, yaitu sebagai larutan pengganti elektrolit tubuh yang hilang. Larutan ringer
laktat juga dapat digunakan untuk melengkapi cairan tubuh atau menambah volume
darah. Formula yang digunakan dalam pembuatan larutan ringer laktat adalah Na. Laktat,
NaCl, KCl, dan CaCl2.6H2O serta aqua PI. Sedangkan untuk multiple elektrolit digunakan
bahan Na. Asetat, NaCl, Na. Glukonat, MgCl Heksahidrat dan Aqua PI. Namun pada
pembuatan multiple elektrolit Na.Glukonat tidak di masukkan karena tidak tersedia di
laboratorium.
Sebelum infuse di buat, maka dihitung tonisitas dari masing-masing infuse. Hal ini
sangatlah penting, karena perhitungan tonisitas akan memberikan pengetahuan apakah
larutan yang di buat bersifat isotonis atau tidak (hipertonis/hipotonis). Kondisi isotonis
adalah syarat penting bagi larutan infuse, kondisi isotonis berhubungan dengan tekanan
osmose yang akan terjadi antara larutan infuse yang dimasukkan kedalam tubuh dengan
cairan tubuh. Kondisi yang isotonis tidak akan memberikan rasa sakit pada pasien pada
saat penggunaannya. Disaat larutan infuse bersifat hipotonis maka kita perlu
menambahkan bahan yang dapat membuatnya menjadi isotonis seperti halnya NaCl atau
glukosa. Kondisi hipotonis dapat berakibat fatal bagi pasien, karena dapat menyebabkan
pembesaran volume sel dan akhirnya menyebabkan sel pecah/lisis. Hal ini dikarenakan,
ketika ada cairan yang memiliki konsentrasi lebih encer akan cenderung masuk kedalam
cairan dengan konsentrasi lebih tinggi, karena cairan di dalam sel lebih tinggi
konsentrasinya maka cairan infuse yang hipotonis (encer) akan masuk kedalam sel dan
mengakibatkan sel menggembung dan akhirnya pecah/lisis. Sedangkan pada kondisi
hipertonis akan terjadi pengkerutan sel, karena sel yang memiliki konsentrasi lebih encer
daripada cairan infuse yang hipertonis, akan keluar dari sel dan menyebabkan
pengkerutan sel. Akan tetapi kondisi hipertonis lebih tidak berbahaya jika dibandingkan
dengan kondisi hipotonis, karena pengekerutan sel bersifat reversible sedangkan lisisnya
sel bersifat irreversible. Pada perhitungan tonisitas didapatkan bahwa baik larutan ringer
laktat ataupun multiple elektrolit bersifat hipotonis, oleh karena itu pada pembuatannya
masing-masing ditambahkan NaCl.
Pada pembuatan larutan ringer laktat dan multiple elektrolit digunakan air panas
untuk melarutkan bahan, air panas digunakan selain untuk membantu kelarutan juga
berfungsi untuk membunuh bakteri yang mungkin ada di bahan yang digunakan. pH dari
lerutan yang dibuat juga di cek, pH yang dianjurkan adalah dengan rentang 5 7. pH ini
telah sesuai dengan pH darah. Pada pembutan juga ditambahkan carbo adsorben yang
telah diaktifkan. Penambahan carbo adsorben ini selain untuk menjernihkan larutan juga
berfungsi dalam menghilangkan pirogen yang mungkin ada di dalam larutan. Pirogen
adalah senyawa kompleks polisakarida yang mengandung radikal dengan unsure N.P,
selama radikal itu masih terikat maka selama itu pula pirogen dapat menyebabkan demam
yang bersifat thermostabil, jika dalam konsentrasi tinggi masuk ke dalam tubuh, pirogen
dapat menyebabkan kematian.
Untuk penyeterilan dari sediaan dilakukan dengan cara mengkukus sediaan yang telah
dimasukkan kedalam vial pada panci kukusan dengan suhu 1000C selama 30 menit. Cara
penyeterilan ini adalah cara sterilisasi basah karena menggunakan uap dari air. Sterilisasi
bertujuan untuk membunuh mikroba atau jasad renik yang mungkin ada pada sediaan
yang dibuat. Steril adalah syarat yang harus dipenuhi oleh sediaan yang digunakan secara
intravena, termasuk infuse.
Setelah sediaan di sterilkan maka di evaluasi, evaluasi meliputi pengukuran pH,
kebocoran, partikel asing dan volume tak terpindahkan. Baik pada larutan ringer laktat
dan multiple elektrolit pada evaluasi pH, partikel asing dan kejernihan telah memenuhi
syarat dengan tidak adanya perubahan pH (ringer laktat pH = 6 ), larutan yang dihasilkan
ada partikel asing, karena ketika akan menggunakan vial, vial belum dicuci terlebih
dahulu, sehingga terdapat kontaminan partikel asing. Untuk uji kebocoran sesuai dengan
teori bahwa tidak terjadi kebocoran. Sedangkan pada uji volume terpindahkan untuk rata-
rata hasil pada Ringer laktat yaitu 11 mL pada multiple elektrolit didapatkan volume 10
mL, keduanya sesuai dengan teori karena volume rata-rata yang diperoleh dari 10 wadah
tidak kurang dari 100% dan tidak ada satupun volume wadah dibawah 95%.

I. KESIMPULAN
Larutan Ringer Laktat yang dibuat tidak steril atau tidak sesuai dengan
persyaratan sediaan steril karena terdapat partikel asing, namun pada multiple elektrolit
yang dibuat steril.
J. DAFTAR PUSTAKA

DepKes RI, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, DepKes RI , Jakarta.

Sinko., Patrik J., 2011, Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika Edisi 5, EGC, Jakarta

Syukri.S., 1999, Kimia Dasar 1, ITB, Bandung