Anda di halaman 1dari 12

Metodologi Penelitian Akuntansi (EKA 400 B7)

SAP 4

(Masalah Penelitian)

Dosen Pengampu: Dr. Drs. I Made Sadha Suardikha, SE., M.Si, Ak., CA

Oleh :
Kelompok 6

Tebuana Agung Putra 1506305063 (14)

I Gede Ambara Cita 1506305076 (16)

I Gede Beni Wirakusuma 1506305102 (18)

PROGRAM STUDI REGULER

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2017
Masalah Penelitian

Masalah penelitian adalah masalah yang ingin diteliti seseorang, masalahnya bisa
apa saja yang ditemukan tidak memuaskan atau tidak ada penyelesaian, pernyataan
perkara yang harus diubah, apa saja yang tidak berjalan seperti seharusnya, masalah
meliputi daerah yang menjadi perhatian peneliti sebagai pendidik, keadaan yang ingin
diperbaiki, kesulitan yang ingin di atasi, pertanyaan yang membutuhkan jawaban.
Penemuan masalah merupakan tahap penelitian yang paling sulit dan krusial karena
masalah penelitian mempengaruhi strategi yang diterapkan dalam pemecahan
penelitian. Masalah terjadi apabila:
Ada hambatan dalam memperoleh tujuan/mencapai sesuatu.
Apabila kenyataan tidak sesuai dengan harapan (tidak sesuainya antara das-so
ein kenyataandengan das-sollenseharusnya.
Menurut (Nasution, 2006:16), ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan
oleh para calon peneliti dalam mengangkat permasalahan penelitian, antara lain:
1. Apakah masalah itu sesuatu yang baru, menarik serta menimbulkan rasa ingin
tahu pada calon peneliti ?
2. Apakah masalah itu sesuai dengan jurusan, kemampuan, dan latar belakang
pendidikanya?
3. Apakah dengan metode tertentu dapat dikumpulkan data yang diperlukan?
4. Apakah calon peneliti dapat menanggung segala pembiayaannya?
5. Apakah penelitian itu mengandung bahaya, ancaman, atau resiko lainya?
6. Apakah calon peneliti dapat menyelesaikannya dalam waktu yang telah
tersedia?
Tidak mudah bagi peneliti untuk merumuskan masalah penelitian, terutama bagi
peneliti pemula. Masalah penelitian sering dirumuskan terlalu umum sehingga dengan
pokok permasalahn yang tidak jelas akan menyulitkan tahap pemecahan masalah, yang
meliputi penentuan konsep-konsep teoretis yang ditelaah dan pemilihan metode
pengujian data. Semakin spesifik perumusan masalah penelitian semakin mudah untuk
dilakukan pengujian secara empiris.

1
4.1 Sumber-sumber Masalah Penelitian

Ketika ditemukan suatu masalah, tidak selalu masalah tersebut bisa langsung
terindentifikasi apalagi dirumuskan menjadi suatu topik penelitian. Hal ini bisa terjadi
karena luasnya persoalan yang ditemui maupun kurangnya informasi yang berkaitan
dengan masalah tersebut. Dengan analisa akan menolong untuk mencari kemungkinan-
kemungkinan masalahnya dan selanjutnya berdasarkan prioritasnya akan dapat dipilih
masalah yang akan ditetapkan untuk diteliti.
Awal Sebuah Penelitian. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikatakan
bahwa yang pertama kali menjadi titik awal perumusan masalah adalah suatu masalah
yang teridentifikasi, suatu masalah tersebut dapat bersumber dari :
Adanya keadian atau kenyataan yang janggal, tidak diharapkan atau tidak
semestinya.
Adanya kekurangan informasi.
Merupakan tindak lanjut dari adanya informasi awal dari hasil penelitian
sebelumnya, baik untuk menambahkan apa yang belum tercover dalam
penelitian sebelumnya maupun untuk menambahkan informasi yang sudah
didapat dari penelitian sebelumnya.1
Stonner (1982 : 257) mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui
bila terdap hal-hal sebagai berikut2:
a. Terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan
b. Terdapat penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan.
c. Ada pengaduan
d. Ada kompetisi

1
Sekaran, Uma. 2006. Metodologi Penelitian untuk Bisnis 2. Edisi 4. Jakarta: Salemba
Empat
2
http://www.galeripustaka.com/2013/05/sumber-masalah-dalam-penelitian.html

2
Demikianlah sedikit mengenai sumber-sumber yang menjadi titik awal sebuah
penelitian dilakukan. Dengan adanya masalah maka akan timbul keinginan untuk
melakukan penelitian dan menarik kesimpulan dari hasil penelitian tersebut.

4.2 Kriteria Pemilihan Permasalahan Penelitian

Menentukan masalah penelitian merupakan awal sebelum melakukan


pengembangan terhadap desain penelitian. Seorang peneliti Bruce A. Vhadwidck
mengatakan bahwa, di dalam perumusan masalah terdapat tiga hal penting, diantaranya
menciptakan suatu pertanyaan (sesuatu apa yang ingin diketahui), rasional (kenapa
ingin mengetahuinya), dan perumusan pada pertanyaan (arah pertanyaan sendiri
mengarah pada suatu jawaban yang rasional).3
Untuk memilih/menemukan suatu masalah yang spesifik dalam penelitian
menurut Borg (1983: 75-82), yang harus dilakukan yaitu :
1) Mengidentifikasi lingkup masalah.
Langkah yang dapat ditempuh adalah menuliskan sebanyak mungkin tipe-tipe
kajian yang akan dilakukan dan aspek-aspek khusus yang paling menarik
setelah area minat profesional telah teridentifikasi, carilah masalah-masalah
yang lebih khusus dalam area ini yang dapat membentuk dasar-dasar untuk
tesis.
2) Membaca literatur-literatur.
Membaca dalam artian membaca yang terprogram dan sistimatis. Carlah
referensi-referensi terbaru yang sesuai dengan studi kemudian seleksi 2 atau
lebih buku referensi dan buatlah review bab-bab yang bersangkutan. Kegiatan
membaca ini akan membantu mempersempit perhatian pada satu atau lebih sub
topik yang khusus.

3
Rahyuda, I Ketut. 2016. Metode Penelitian Bisnis. Denpasar: Udayana University

Press

3
3) Meneliti teori-teori yang sudah ada.
Secara sederhana teori adalah penjelasan peristiwa fisik maupun perilaku. Teori
terdiri dari generalisasi (dalam ilmu-ilmu fisik disebut hukum) dan konstruk.
Generalisasi adalah pernyataan hubungan antara 2 atau lebih peristiwa;
generalisasi dapat digunakan untuk memprediksi peristiwa. Misalnya,
pernyataan bahwasanya tutor individu mengakibatkan prestasi sekolah
meningkat adalah generalisasi.
Ada sejumlah kriteria yang digunakan sebagai pertimbangan dalam penemuan
masalah penelitian, antara lain:
1. Bidang masalah dan topik yang menarik
Jika ide penelitian berasal dari peneliti, bidang masalah yang dipilih umumnya
adalah yang menarik perhatian dan merupakan bidang keahlian yang dikuasai
oleh peneliti. Lingkungan peneliti termasuk: latar belakang pendidikan,
pemikiran dan displin yang ditekuni, merupakan faktor-faktor yang
mempengaruhi pemilihan bidang masalah dan pemahaman peneliti terhadapa
masalah yang diteliti.
2. Signifikasi secara teoretis atau praktis
Peneliti harus mempertimbangkan apakah bidang maslah dan topic penelitian
yang menarik untuk diteliti mempunyai signifikansi secara teoretis (untuk
penelitian dasar) atau secara praktis (untuk penelitian terapan). Pertimbangan
yang digunakan untuk menenntukan signifikansi masalah penelitian berkaitan
dengan tiga hal berikut:
a. Adanya dukungan konsep-konsep teoretis dari penelitian-penelitian
sebelumnya yang mempunyai topic sejenis
b. Tersedianya dan dapat diperolehnya data yang relevan dengan topic
penelitian
c. Kontribusi hasil penelitian terhadap pengembangan teori atau pemecahan
masalah praktis
3. Dapat diuji melalui pengumpulan dan analisis data

4
Masalah yang diteliti harus dapat diuji melalui pengumpulan dan analisis data.
Agar dapat diuji, peneliti perlu mengisolasi masalah umum menjadi masalah
spesifik yang mengidentifikasi secara jelas variabel-variabel yang diteliti dan
unit analisis. Unit analisis adalah jenis satuan data yang dianalisis, antara lain
dapat berupa: individu, kelompok, bagian dari atau keseluruhan organisasi,
industry dan Negara.
4. Sesuai dengan waktu dan biaya yang tersedia
Pembatasan skop masalah dapat dilakukan pada berbagai aspek antara lain:
periode waktu pengamatan, unsur-unsur (variabel) yang diteliti, dan lingkungan
subyek penelitian. Sumber dana penelitian dasar biasanya berasal dari peneliti.
Proses pemilihan terhadap masalah yang penting untuk diteliti disebut dengan
proses pelingkupan atau scoping. Mukayat (1994) menyebutkan beberapa
pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam melihat apakah suatu masalah
layak atau penting untuk diteliti, sebagai berikut:
a. Apakah benar suatu masalah yang ditentukan tersebut belum pernah dicari
jawabannya?
b. Apakah masalah yang ditentukan itu benar-benar penting untuk dipecahkan
pada waktu penelitian dikerjakan (aktualitas penelitian)?
c. Apakah masalah yang ditentukan itu memenuhi 5 W yaitu what (apa),
where (di mana), why (mengapa), when (mengapa), dan how (bagaimana)?
Pemahaman terhadap pemilihan masalah tersebut menjadi sangat penting
khususnya bagi peneliti agar terhindarkan dari upaya pemecahan masalah yang bukan
merupakan masalah penelitian. Suatu masalah, bukan merupakan masalah penelitian
sudah tentu tidak memenuhi kriteria yang telah disebutkan di atas, atau ketika
kemungkinan jawaban dari pemecahan masalah tersebut hanya ada satu tanpa ada
kemungkinan alternatif yang lain dari satu jawaban tersebut.4

4
Rahyuda, I Ketut. 2016. Metode Penelitian Bisnis. Denpasar: Udayana University
Press

5
4.3 Pedoman Merumuskan Masalah Penelitian

Penelitian yang baik adalah penelitian yang memenuhi lima ciri utama yaitu
menarik minat peneliti, bisa dikerjakan (feasible), jelas (clear), berkontribusi terhadap
ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia (significant), dan tidak menimbulkan
kerusakan bagi alam, lingkungan, dan manusia (ethical). Fraenkel dan Wallen (1990,
dalam Sugiyono, 2000) mengemukakan bahwa masalah penelitian yang baik
memenuhi hal-hal barikut:5

a. Masalah penelitian harus feasible karena berkaitan dengan mungkin tidaknya


penelitian itu dilakukan. Aspek efesiensi merupakan dasar kriteria
ini. Suharsimi Arikunto (1996) memberikan pertimbangan mungkin tidaknya
sebuah masalah diteliti dari sisi peneliti dan dari sisi faktor pendukung sebagai
berikut :
Ditinjau dari diri peneliti :
1. Peneliti harus mempunyai kemampuan untuk meneliti masalah itu, artinya
menguasai materi yang melatarbelakangi masalah dan menguasai metode
untuk memecahkannya.
2. Mempunyai waktu yang cukup sehingga tidak melakukannya asal selesai.
3. Peneliti mempunyai tenaga untuk melaksanakannya.
4. Peneliti mempunyai dana yang mencukupi.
b. Sebuah masalah penelitian juga harus jelas (clear) karena masalah penelitian
tidak hanya harus dipahami oleh si peneliti, tetapi juga oleh masyarakat banyak.
Nawawi(1993) menambahkan agar sebelum melaksanakan penelitian, seorang
peneliti melakukan studi literatur.
c. Masalah harus signifikan, dalam arti jawaban atas masalah tersebut harus
memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu dan pemecahan masalah
dalam kehidupan praktis. Penelitian idealnya menjawab pertanyaan yang

5
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis, Bandung: Alfabeta

6
memajukan pengetahuan dalam bidang yang diteliti, juga secara praktis
penelitian itu meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
d. Masalah bersifat etis, yaitu tidak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat etika,
moral, nilai-nilai keyakinan, dan agama. Masalah penelitian harus pantas,
layak,dan beradab untuk diteliti. Intinya, penelitian itu tidak menyebabkan
kerusakan bagi manusia, alam, dan sosial. Tidak ada aturan umum dalam
perumusan masalah. Sumadi (1989) senada dengan Tuckman (dalam Sugiono,
2000) menyarankan perumusan masalah sebagai berikut:
a. Masalah hendaknya dirumuskan dalam kalimat tanya
b. Rumusan masalah hendaknya padat dan jelas
c. Menautkan hubungan antara dua atau lebih variabel
d. Rumusan masalah hendaknya memberikan petunjuk tentang kemungkinan
pengumpulan data untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Dalam perumusan masalah perlu memperhatikan bentuk-bentuk masalah.


Sugiyono (2000) menyebutkan ada tiga bentuk masalah yaitu masalah deskriptif,
komparatif, dan masalah asosiatif.6

a. Masalah deskriptif

Masalah deskriptif yaitu masalah yang berkenaan dengan pernyataan terhadap


keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang
berdiri sendiri). Bagaimanakah sikap masyarakat terhadap perguruan tinggi negeri
berbadan hukum?

1. Seberapa tinggi efektivitas kebijakan mobil berpenumpang tiga?


2. Seberapa tinggi tinggi tingkat kepuasan konsumen dan apresiasi masyarakat
terhadap pelayanan pemerintah daerah di bidang kesehatan?

6
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis, Bandung: Alfabeta

7
b. Masalah komparatif

Masalah komparatif adalah suatu permasalahan penelitian yang bersifat


membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang
berbeda, atau pada waktu yang berbeda.
Contoh rumusan masalahnya sebagai berikut:
1. Adakah perbedaan produktivitas kerja antara pegawai negeri dengan swasta?
(satu variabel pada dua sampel)
2. Adakah perbedaan kemampuan dan disiplin kerja antara pegawai swasta
nasional dan perusahaan asing? (dua variabel pada dua sampel)
3. Adakah perbedaan daya tahan berdiri pelayan toko yang berasal dari kota, desa
dan gunung? (satu variabel pada tiga sampel)

c. Masalah asosiatif

Masalah asosiatif adalah suatu pertanyaan penelitian yang bersifat hubungan


antara dua variabel atau lebih. Hubungan tersebut bisa simetris, kausal, maupun
hubungan timbal balik.

1. Hubungan simetris adalah hubungan antara dua variabel atau lebih yang
kebetulan munculnya bersamaan. Jadi bukan hubungan kausal ataupun
interaktif. Contoh:
1) Adakah hubungan antara banyaknya semut dipohon dengan tingkat
manisnya buah?
2) Adakah hubungan antara jumlah payung yang terjual dengan jumlah
kejahatan?
2. Hubungan kausal yaitu hubunagn yanga bersifat sebab akibat. Dalam hal ini
ada variabel independen (variabel bebas) dan variabel dependen. Variabel
independen mempengaruhi variabel dependen. Contoh:
1) Adakah pengaruh sistem penggajian terhadap prestasi kerja?
2) Seberapa besar pengaruh tata ruang kantor terhadap efisiensi kerja
karyawan?

8
3. Hubungan timbal balik atau interaktif adalah hubungan yang saling
mempengaruhi. Disini tidak diketahui mana variabel dependen dan variabel
independen. Contoh:
1) Hubungan antara motivasi dengan prestasi. Disini dapat dinyatakan
motivasi mempengaruhi prestasi dan juga prestasi mempengaruhi motivasi.
2) Hubungan antara kecerdasan dengan kakayaan. Kecerdasan dapat
menyebabkan kaya, demikian juga orang kaya dapat
meningkatkankecerdasan karena gizi terpenuhi.

4.4 Pertanyaan Penelitian

Secara hirarkis suatu permasalahan atau pertanyaan penelitian dimulai dari


pertanyaan yang lebih umum kemudian menukik ke pertanyaan yang sifatnya lebih
khusus. Cooper dan Emory (1996) membedakan hirarkis pertanyaan menjadi 4
tingkatan yaitu pertanyaan manajemen, pertanyaan penelitian, pertanyaan
penyelidikan, dan pertanyaan pengukuran.7

1. Pertanyaan Manajemen (management question) adalah pertanyaan yang


mencerminkan suatu keputusan yang harus dibuat seorang manajer dan
merupakan masalah yang menyebabkan penelitian dilakukan. Suatu pertanyaan
yang menunjukkan pertanyaan manajemen seperti misalnya bagaimana
meningkatkan keuntungan.
2. Pertanyaan Penelitian (research question) yaitu suatu pertanyaan yang
menekankan pada fakta dan pengumpulan informasi. Terkait dengan kegagalan
bank dalam memperoleh keuntungan lebih tinggi, dapat diajukan beberapa
pertanyaan penelitian sebagai berikut:
a) Faktor utama apa yang menyebabkan kegagalan bank dalam mencapai
pertumbuhan yang lebih tinggi dalam tingkat tabungannya?

7
http://anggunfreeze.blogspot.com/2012/10/identifikasi-pemilihan-dan-

perumusan.html

9
b) Seberapa baik bank menjalankan hal-hal berikut?
c) Mutu lingkungan kerjanya?
3. Pertanyaan Penyelidikan (investigation question) merupakan pernyataan
yang harus dijawab peneliti untuk dapat menanggapi pernyataan umum secara
memuaskan. Tujuannya adalah untuk mengambil pertanyaan penelitian yang
lebih umum dan merincinya menjadi pertanyaanpertanyaan yang lebih rinci.
Pertanyaan penyelidikan terkait dengan pertanyaan penelitian tersebut di atas
dapat diajukan:
a) Bagaimana kedudukan masyarakat berkaitan dengan jasa keuangan dan
pemanfaatannya?
1) Jasa-jasa keuangan khusus apa yang dipakai?
2) Sejauh mana bebagai jasa sedemikian menarik?
3) Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi seseorang untuk
menggunakan jasa tertentu?
b) Bagaimana posisi persaingan bank tersebut?
1) Bagaimana pola geografis dari nasabah-nasabahnya?
2) Sejauh mana masyarakat tahu mengenai usaha-usaha promosi yang
dilakukan oleh bank?
4. Pertanyaan Pengukuran (measurement question) dalam survei pertanyaan-
pertanyaan pengukuran adalah pertanyaan yang sebenarnya diajukan kepada
responden. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dalam kuesioner.
Contoh: bagaimana penilaian anda terhadap kualitas dan harga produk A?

10
Daftar Referensi

Sekaran, Uma. 2006. Metodologi Penelitian untuk Bisnis 2. Edisi 4. Jakarta: Salemba

Empat

Rahyuda, I Ketut. 2016. Metode Penelitian Bisnis. Denpasar: Udayana University

Press

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis, Bandung: Alfabeta

http://anggunfreeze.blogspot.com/2012/10/identifikasi-pemilihan-dan-

perumusan.html

http://expresisastra.blogspot.com/2013/09/pengertian-penelitian-dan-masalah-

penelitian.html

http://www.galeripustaka.com/2013/05/sumber-masalah-dalam-penelitian.html

11