Anda di halaman 1dari 15

ROBERT T CRAIG

TRADISI - TRADISI DALAM KOMUNIKASI

Dalam ilmu komunikasi, penelitian terhadap gejala-gejala atau realitas komunikasi telah
berkembang sejak lama sehingga dalam ilmu komunikasi dikenal tradisi-tradisi yang unik.
Seorang Profesor komunikasi Universitas Colorado, Robert Craig, telah memetakan tujuh (7)
bidang tradisi dalam teori komunikasi yang disebut sebagai 7 tradisi dalam Griffin (2000:22-35) ,
yakni :
1. Tradisi Komunikasi Semiotika
A. Apa itu Semiotika
Semiotika adalah ilmu tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja. Tradisi
semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda
memrepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan, kondisi diluar tanda
tanda itu sendiri.
B. Asumsi Dasar Tradisi Semiotika
Gagasan utama dalam tradisi ini adalah konsep dasar dalam memaknai sebuah tanda
yang didefinisikan sebagai sebuah stimulus untuk menunjukkan kondisi lain. Misalkan
ketika kita melihat sebuah asap maka hal tersebut menandakan adanya api.
Tiap simbol antara masyarakat satu dan masyarakat lain akan berbeda maknanya
ketika digunakan dalam berkomunikasi. Dengan perhatian pada tanda dan simbol,
semiotik menyatukan kumpulan teori-teori yang sangat luas dan berkaitan dengan
bahasa, wacana dan tindakan-tindakan nonverbal. (Littlejohn, 2009 : 54).
Semiotik merupakan ilmu yang memiliki segi keunikan tersendiri. Budaya menjadi
aspek yang esensial dalam kajian tradisi ini, sebab budaya menentukan tiap makna
yang terkandung dalam sebuah simbol. Oleh sebab itu dalam semiotik tanda memiliki
sifat arbitrer. Kebanyakan pemikiran semiotik melibatkan ide dasar triad of meaning
yang menegaskan bahwa arti muncul dari hubungan di antara tiga hal: benda(atau
yang dituju), manusia (penafsir), dan tanda.
Pola kajian dalam tradisi semiotik ini tidak hanya sekedar memaknai setiap bentuk
tanda, tetapi juga memiliki aspek penting dalam melakukan persuasif terhadap orang
lain. Pada titik inilah kajian semiotik memiliki segi keunikan tersendiri, yaitu
bagaimana memaknai tanda dan mempersuasif orang lain dengan pemaknaan
terhadap tanda tersebut. Diantara sekian banyak pakar tentang semiotika ada dua
orang yaitu Charles Sanders Peirce dan Ferdinand de Saussure yang dapat dianggap
sebagai pemuka-pemuka semiotika modern, kedua tokoh inilah yang memunculkan
dua aliran utama semiotika modern. Pierce mendefinisikan semiosis sebagai
hubungan diantara tanda, benda dan arti. Tanda tersebut merepresentasikan benda
atau yang ditunjuk di dalam pikiran si pemikiran penafsir.
C. Varian Dalam Tradisi Semoitika
Tradisi Semiotika itu sendiri terbagi atas tiga variasi, yaitu:
a) Semantic (bahasa), merujuk pada bagaimana hubungan antara tanda dengan
objeknya atau tentang keberadaan dari tanda itu sendiri.
b) Sintaktik, yaitu studi mengenai hubungan di antara tanda. Tanda tidak pernah
sendirian mewakili dirinya, tanda adalah selalu menjadi bagian dari sistem tanda
yg lebih besar (kompleks). Sintaktik memungkinkan manusia menggunakan
berbagai kombinasi tanda yang sangat banyak untuk mengungkapkan arti atau
makna.
c) Paradigmatic, melihat bagaimana sebuah tanda membedakan antara satu manusia
dengan yang lain atau sebuah tanda bisa saja dimaknai berbeda oleh masing-
masing orang sesuai dengan latar belakang budayanya.
Keunggulan semiotika terletak pada ide-ide tentang kebutuhan akan bahasa umum
dan identifikasinya tentang subyektifitas sebagai penghalang untuk memahami.

2. Tradisi Komunikasi Fenomonologi


A. Apa itu Fenomonologi
Tradisi fenomenologi ini berkonsentrasi pada pengalaman pribadi termasuk bagian
individu-individu yang ada saling memberikan pengalaman satu sama lainnya.
Fenomenologi merupakan cara yang digunakan manusia untuk memahami dunia
melalui pengalaman langsung. (Littlejohn, 2009 : 57). Konsep pengalaman seseorang
dalam memaknai sebuah fenomena menjadikannya sebagai sebuah pedoman untuk
memahami konsep fenomena lain yang terjadi di hadapannya.
Komunikasi dipandang sebagai proses berbagi pengalaman antar individu melalui
dialog. Hubungan baik antar individu mendapat kedudukan yang tinggi dalam tradisi
ini. Meskipun fenomenologis mengacu pada terminologi filosofis, akan tetapi pada
dasarnya lebih merujuk pada analisis yang insentif terhadap kehidupan sehari-hari
dari sudut pandang orang yang mengalami kehidupan tersebut. Oleh karena itu,
tradisi fenomenologis sangat bergantung pada persepsi dan interpretasi orang-orang
tentang pengalaman subyektifnya.
Pakar tradisi fenomenologis Maurice Merleau-Ponty, menyatakan semua
pengetahuan akan dunia, bahkan pengetahuan ilmiahnya, diperoleh dari beberapa
pengalaman akan dunia. Dengan begitu, fenomenologis membuat pengalaman nyata
sebagai data pokok sebuah realitas. Akan tetapi, tentu saja persoalannya tidak ada
dua orang yang mempunyai cerita kehidupan yang persis sama.
B. Asumsi Dasar Tradisi Fenomenologi
Ada tiga prinsip dasar dari fenomenologi menurut Stanley Deetz, yaitu :
1) Pengetahuan ditemukan secara langsung dalam pengalaman sadar. Kita akan
mengetahui dunia ketika kita berhubungan dengannya.
2) Makna benda terdiri atas kekuatan benda adalam kehidupan sesesorang.
Bagaimana seseorang memandang sesuatu benda, tergantung dari bagaimana
berhubungan dengan benda itu untuk menetukan maknanya.
3) Yang ketiga adalah bahasa adalah kendaraan dari makna. Semua orang mengalami
dunia melalui bahasa yang digunakan untuk mendefinisikan dan mengekspresikan
dunia itu.
C. Varian Dalam Tradisi Fenomenologi
Kajian fenomenologi terbagi menajdi tiga variasi yaitu:
a) Fenomonologi Klasik
Dipelopori oleh Edmund Husserl penemu Fenomenologi Modern. Husserl
percaya kebenaran hanya bisa didapatkan melalui pengarahan pengalaman.
seorang individu harus menyingkirkan frame of reference terlebih dahulu jika
ingin memahami sesuatu yang terjadi di masyarakat secara mendalam. Dengan
kata lain kesadaran akan pengalaman dari setiap individu adalah jalur yang
tepat untuk memahami realitas. Hanya melaui kesadaran dan perhatian maka
kebenaran dapat diketahui.
Seseorang harus mengesampingkan segala pemikiran dan kebiasaan untuk
melihat pengalaman lain untuk dapat mengetahui sebuah kenyataan. Pada alur
ini dunia hadir dengan sendirinya dalam alam sadar seseorang. Dalam artian
menurut Husserl seseorang dapat memaknai suatu pengalaman secara objektif
dengan tanpa membawa pemahaman orang itu sebelumnya terhadap
pengalaman itu dalam artian harus objektif.
b) Fenomenologi Persepsi
Berlawanan dengan Husserl yang membatasi fenomenologi pada objektivitas.
Pencetus teori ini adalah Maurice Merleau Ponty, menyatakan bahwa
pengalaman itu subjektif, bukan objektif dan percaya bahwa subjektivitas
merupakan bentuk penting sebuah pengetahuan. Baginya, manusia
merupakan sosok gabungan antara fisik dan mental yang menciptakan makna
di dunia ini. Marleu Ponty menjelaskan manusia adalah kesatuan dari mental
dan fisik yang mengartikan atau mempersepsikan dunia. Seseorang
mengetahui berbagai hal hanya melalui hubungan seseorang ke berbagai hal
tersebut. Sebagaimana pada umumnya manusia, seseorang dipengaruhi oleh
dunia akan tetapi seseorang juga mempengaruhi dunia terhadap pengalaman
tersebut.
Segala sesuatu tidak ada dengan sendirinya dan terpisah dari bagaimana
semuanya diketahui. Manusia memberikan makna pada benda-benda di dunia,
sehingga pengalaman fenomenologis apapun tentunya subjektif. Jadi, terdapat
dialog antara manusia seebagai penafsir dan benda yang mereka tafsirkan.
c) Fenomenologi Hermeneutik
Aliran ini selalu dihubungkan dengan Martin Heidegger dengan landasan
filosofis yang juga biasa disebut dengan Hermeneutic of dasein yang berarti
suatu interpretasi untuk menjadi. Yang paling utama bagi Heidegger adalah
pengalaman tak dapat terjadi dengan hanya memperhatikan dunia. Menurut
Heidegger pengalaman sesuatu tak dapat diketahui melalui analisa yang
mendalam melainkan pengalaman seseorang yang mana diciptakan dengan
penggunaan bahasa dalam keseharian. Apa yang nyata dan apa yang sekedar
pengalaman melalui penggunaan bahasa.
Meski fenomenologi adalah sebuah filosofi yang mengagumkan, pada dasarnya
menunjukkan analisis terhadap kehidupan sehari-hari. Titik berat tradisi
fenomenologi adalah pada bagaimana individu mempersepsi serta
memberikan interpretasi pada pengalaman subyektifnya. Menurut Littlejohn,
interpretasi merupakan proses aktif pikiran dan tindakan kreatif dalam
mengklarifikasi pengalaman pribadi. Bagi seorang fenomenologis, cerita
kehidupan seseorang lebih penting daripada axioma-axioma komunikasi.
3. Tradisi Komunikasi Sibernetika
A. Apa itu Sibernetika (Cybernetic)
Sibernetika merupakan tradisi sistem-sistem kompleks yang didalamnya banyak
orang saling berinteraksi, mempengaruhi satu sama lainnya. Dalam tradisi ini
menjelaskan bagaimana proses fisik, biologis, sosial, dan perilaku bekerja.
Dalam sibernetika komunikasi dipahami sebagai sistem bagian-bagian atau variabel
yang mempengaruhi satu sama lainnya, membentuk serta mengontrol karakter
keseluruhan sistem, dan layaknya organisme menerima keseimbangan dan
perubahan.
B. Asumsi Dasar Tradisi Sibernetika
Sibernetika dalam kesan yang sempit dipopulerkan oleh Norbert Wiener pada tahun
1950-an. Sebagai kajian sibernetika merupakan cabang dari teori sistem yang
memfokuskan diri pada putaran timbal balik dan proses-proses kontrol. Konsep ini
mengarahkan pada seseorang atas pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana
sesuatu saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam cara yang tak berujung. Jadi
dalam tradisi ini konsep-konsep penting yang dikaji antara lain pengirim, penerima,
informasi, umpan balik, redudancy, dan sistem. Walaupun dalam tradisi ini seringkali
mendapat kritik terutama berkenaan dengan pandangan asumtif yang cenderung
menyamakan antara manusia dengan mesin dan menganggap bahwa suatu realitas
atau gejala timbul karena hubungan sebab akibat yang linier.
Jadi dalam tradisi ini konsep-konsep penting yang dikaji antara lain pengirim,
penerima, informasi, umpan balik, redudancy, dan sistem. Walaupun dalam tradisi ini
seringkali mendapat kritik terutama berkenaan dengan pandangan asumtif yang
cenderung menyamakan antara manusia dengan mesin dan menganggap bahwa
suatu realitas atau gejala timbul karena hubungan sebab akibat yang linier.
C. Varian Dalam Tradisi Sibernetika
Ada tiga macam Teori dalam Tradisi Cybernetic yaitu Basic System Theory, General
System Theory dan second order Cybernetic.
1) Basic System Theory
Teori ini adalah format dasar, pendekatan ini melukiskan seperti sebuah struktur
yang nyata dan bisa di analisa dan diamati dari luar. Dengan kata lain seseorang
dapat melihat bagian dari system dan bagaimana mereka saling berhubungan.
Seseorang dapat mengamati secara obyektif mengukur antara bagian dari
system dan seseorang dapat mendeteksi input maupun output dari system. Lebih
lanjut mengoperasikan atau memanipulasi system dengan mengganti input dan
tanpa keahlian karena semua diproses melalui mesin. sebagai alat bantu bagi
para professional seperti system analyst, konsultan manajemen, dan system
designer telah membangun sebuah system analisa dan mengembangkannya.
2) General System Theory
Teori ini diformulasikan oleh Ludwig Von Bertalanffy seorang biologis. Bertalanffy
menggunakan General System Theory sebagai sarana pendekatan multidisiplin
kepada ilmu pengetahuan. System ini menggunakan prinsip untuk melihat
bagaiamana sesuatu pada banyak bidang yang berbeda menjadi selaras antara
satu dengan yang lain. Pembentukan sebuah kosa kata untuk
mengkomunikasikan lintas disiplin ilmu.
3) Second Order Cybernetic
Dikembangkan sebagai sebuah alternative dari dua tradisi Cybernetic
sebelumnya. Second order Cybernetic membuat pengamat tak dapat melihat
bagaimana sebuah system bekerja di luar dengan sendirinya dikarenakan
pengamat selalu ditautkan dengan system yang menjadi pengamatannya.
Melalui perspektif ini kapanpun seseorang mengamati system ini maka
seseorang akan saling mempengaruhi. Karena hal ini memperlihatkan bagaimana
sebuah pengetahuan, sebuah produk menjerat antara yang mengetahui dan
yang diketahui.

4. Tradisi Komunikasi Sosiopsikologis


A. Apa itu Sosiopsikologis
Berangkat dari Ilmu Psikologi terutama aliran behavioral. Psikologi Sosial memberi
perhatian akan pentingnya interaksi yang mempengaruhi proses mental dalam diri
individu. Aktivitas komunikasi merupakan salah satu fenomena psikologi sosial
seperti pengaruh media massa, propaganda, atau komunikasi antar personal lain.
B. Asumsi Dasar Tradisi Sosiopsikologis
Tradisi ini mengkaji individu sebagai makhluk sosial merupakan tujuan dari tradisi
sosiopsikologis. Berasal dari kajian psikologi sosial, tradisi ini memiliki tradisi yang
kuat dalam komunikasi.
Tradisi ini mewakili perspektif objektif/scientific. Penganut tradisi ini percaya bahwa
kebenaran komunikasi bisa ditemukan melalui pengamatan yang teliti dan sistematis.
Tradisi ini mencari hubungan sebab-akibat yang dapat memprediksi kapan sebuah
perilaku komunikasi akan berhasil dan kapan akan gagal. Adapun indikator
keberhasilan dan kegagalan komunikasi terletak pada ada tidaknya perubahan yang
terjadi pada pelaku komunikasi. Semua itu dapat diketahui melalui serangkaian
eksperimen.
Salah satu tokoh tradisi ini adalah Carl I Hovland, seorang ahli psikologi yang sekaligus
peletak dasar-dasar penelitian eksperimen yang berkaitan dengan efek-efek
komunikasi. Penelitiannya berupaya:
1) Menjadi peletak dasar proposisi empirik yang berkaitan dengan hubungan antara
stimulus komunikasi, kecenderungan audiens dan perubahan opini.
2) Memberikan kerangka awal untuk membangun teori berikutnya. Efek utama
yang diukur adalah perubahan pendapat yang dinyatakan melalui skala sikap
yang diberikan sebelum dan sesudah pesan disampaikan oleh komunikator
kepada komunikan. Jadi perhatian penting dalam tradisi ini antara lain perihal
pernyataan, pendapat (opini), sikap, persepsi, kognisi, interaksi dan efek
(pengaruh).
Jadi perhatian penting dalam tradisi ini antara lain perihal pernyataan,
pendapat(opini), sikap, persepsi, kognisi, interaksi dan efek (pengaruh).
C. Varian Dalam Tradisi Sosiopsikologis
Adapun Varian dari Tradisi ini adalah:
1) Perilaku, memberikan perhatian pada bagaimana seseorang
berperilaku/bertindak dalam berbagai situasi komunikasi yg dihadapinya. Teori
ini melihat hubungan yang kuat antar stimulus yang diterima & respons yang
diberikan
2) Koginitif, cabang ini cukup banyak digunakan saat ini berpusat pada pola
pemikiran. cabang ini berkonsentrasi pada bagaimana individu memperoleh,
menyimpan dan memproses informasi dalam cara yang mengarahkan output
perilaku.
3) Biologis, menjelaskan bagaimana peran dari struktur & fungsi otak serta faktor
genetis yang dimiliki seseorang mempengaruhi perilakunya.

5. Tradisi sosiokultural
A. Apa itu Sosiokultural
Tradisi sosial budaya berangkat dari kajian antropologi. Bahwa komunikasi
berlangsung dalam kontek budaya tertentu karenanya komunikasi dipengaruhi dan
mempengaruhi kebudayaan suatu masyarakat. Konsep kebudayaan yang dirumuskan
Clifford Geertz tentu saja menjadi penting. Media massa, atau individu ketika
melakukan aktivitas komunikasi ikut ditentukan faktor-faktor situasional tertentu
B. Asumsi Dasar Tradisi Sosiokultural
Pendekatan sosiokultural terhadap teori komunikasi menunjukkan cara pemahaman
kita terhadap makna, norma, peran dan peraturan yang dijalankan secara interaktif
dalam komunikasi. Premis tradisi ini adalah ketika orang berbicara, mereka
sesungguhnya sedang memproduksi dan memproduksi kembali budaya. Sebagian
besar dari kita beranggapan bahwa kata-kata mencerminkan apa yang sebenarnya
terjadi. Pandangan kita tentang realitas dibentuk oleh bahasa yang telah kita gunakan
sejak lahir.
Ahli bahasa Universitas Chicago, Edwar Sapir dan Benyamin Lee Whorf adalah
pelopor tradisi sosio cultural. Hipotesis yang diusungnya adalah struktur bahasa suatu
budaya menentukan apa yang orang pikirkan dan lakukan. Dapat dibayangkan
bagaimana seseorang menyesuaikan dirinya dengan realitas tanpa menggunakan
bahasa, dan bahwa bahasa hanya semata-mata digunakan untuk mengatasi
persoalan komunikasi atau refleksi tertentu. Hipotesis ini menunjukkan bahwa proses
berpikir kita dan cara kita memandang dunia dibentuk oleh struktur gramatika dari
bahasa yang kita gunakan.
Secara fungsional, bahasa adalah alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan
gagasan (socially shared), karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan
di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Bahasa
diungkapkan dengan kata-kata dan kata-kata tersebut sering diberi arti arbiter
(semaunya). Contoh; terhadap buah pisang, orang Sunda menyebutnya cau dan
orang Jawa menyebutnya gedang.
Secara formal, bahasa adalah semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat
menurut peraturan bahasa. Setiap bahasa dapat dikatakan mempunyai tata bahasa/
grammarnya tersendiri. Contoh: sebuah kalimat dalam bahasa Indonesia yang
berbunyi dimana saya dapat menukar uang ini?, maka akan ditulis dalam bhasa
Inggris where can I Change some money?
C. Varian Dalam Tradisi Sosiokultural
Layaknya semua tradisi, sosiokultural memiliki beragam sudut pandang yang
berpengaruh yaitu paham interkasi simbolis, konstruksionisme, sosiolinguistik,
filosofi bahasa, etnografi dan etnometodologi.
1) Paham interaksi simbolis berasal dari kajian sosiologi melalui penelitian Herbert
Blumer dan George Herbert Mead yang menekankan pentingnya observasi
partisipan dalam kajian komunikasi sebagai cara dalam mengeksplorasi
hubungan-hubungan sosial.
2) Pandangan konstruktivisme sosial merupakan sebuah pandangan yang mengkaji
bagaimana pengetahuan manusia dibentuk melalui interaksi sosial. Identitas dari
sesuatu dihasilkan dari bagaimana kita membicarakan suatu objek , bahasa yang
digunakan untuk menampung konsep kita dengan cara di mana group sosial
berorientasi pada pengalaman mereka.
3) sosiolinguistik atau kajian bahasa dan budaya. Sebagaimana kita ketahui manusia
menggunakan bahasa secara berbeda dalam kelompok budaya dan kelompok
sosial yang berbeda.
4) Sudut pandang lain yang berpengaruh dalam pendekatan sosiokultural adalah
etnografi atau observasi tentang bagaimana kelompok sosial membangun makna
melalui perilaku linguistik dan non linguistik mereka.

6. Tradisi Kritis
A. Apa itu Kritis
Tradisi ini dapat menjelaskan baik lingkup komunikasi antar personal maupun
komunikasi bermedia. Komunikasi dalam tradisi ini diharapkan dapat berperan
sebagai alat transformasi masyarakat.
B. Asumsi Dasar Tradisi Kritis
Tradisi ini berangkat dari asumsi teori-teori kritis yang memperhatikan terdapatnya
kesenjangan di dalam masyarakat. Proses komunikasi dilihat dari sudut pandang
kritis. Komunikasi dianggap memiliki dua sisi berlawanan, dimana disatu sisi ditandai
dengan proses dominasi kelompok yang kuat atas kelompok masyarakat yang lemah.
Pada sisi lain, aktivitas komunikasi mestinya menjadi proses artikulasi bagi
kepentingan kelompok masyarakat yang lemah.
Istilah teori kritis berasal dari kelompok ilmuwan Jerman yang dikenal dengan
sebutan Frankfurt School. Para teoritisinya mengadopsi pemikiran Marxis.
Kelompok ini telah mengembangkan suatu kritik sosial umum, di mana komunikasi
menjadi titik sentral dalam prinsip-prinsipnya. Sistem komunikasi massa merupakan
focus yang sangat penting di dalamnya. Tokoh-tokoh pelopornya adalah Max
Horkheimer, Theodore Adorno serta Herbert Marcuse. Pemikirannya disebut dengan
teori kritis. Ketika bangkitnya Nazi di Jerman, mereka berimigrasi ke Amerika. Di sana
mereka menaruh perhatian besar pada komunikasi massa dan media sebagai struktur
penindas dalam masyarakat kapitalistik, khususnya struktur di Amerika.
Teori kritis menganggap tugasnya adalah mengungkap kekuatan-kekuatan penindas
dalam masyarakat melalui analisis dialektika. Teori kritis juga memberikan perhatian
yang sangat besar pada alat-alat komunikasi dalam masyarakat. Komunikasi
merupakan suatu hasil dari tekanan antara kreativitas individu dalam memberi
kerangka pesan dan kendala-kendala sosial terhadap kreativitas tersebut. Salah satu
kendala utama pada ekspresi individu adalah bahasa itu sendiri. Kelas-kelas dominan
dalam masyarakat menciptakan suatu bahasaa penindasan dan pengekangan, yang
membuat kelas pekerja menjadi sangat sulit untuk memahami situasi mereka dan
untuk keluar dari situasi tersebut. Kewajiban dari teori kritis adalah menciptakan
bentuk-bentuk bahasa baru yang memungkinkan diruntuhkannya paradigma
dominan. Hal itulah yang diungkapkan oleh Jurgen Habermas, tokoh terkemuka
kelompok Franfurt School di era berikutnya.
C. Varian Dalam Tradisi Kritis
Tradisi ini begitu kaya akan gagasan-gagasannya. Gagasan pertama dalam tradisi ini
adalah marxisme yang merupakan peletak dasar dari tradisi kritis ini. Marx
mengajarkan bahwa ekonomi merupakan dasar dari segala struktur sosial. Praktek-
praktek komunikasi dilihat sebagai hasil dari tekanan antara kreativitas individu dan
desakan sosial kreativitas itu (Littlejohn & Foss 70-71)
1) Kritik Politik ekonomi
Pandangan ini merupakan revisi terhadap Marxisme yang dinilai terlalu
menyederhanakan realitas kedalam dua kubu yaitu kalangan penguasa dan
kalangan tertindas berdasarkan kepentingan ekonomi. Sebaliknya, mereka yang
mencoba tetap menggunakan asumsi Marxist namun memandang bahwa dalam
realitas sosial yang komplek sesungguhnya terjadi pertarungan ideologi.
2) Gagasan yang kedua terlontar dari mazhab Frankfurt School
Digawangi oleh Theodore Adorno, Max Horkheimer, dan Herbert Marcuse.
Pengikut mazhab ini percaya bahwa dalam rangka mempromosikan suatu filosofi
sosial, teori kritis mampu menawarkan suatu interkoneksi dan pengujian yang
menyeluruh perubahan bentuk dari masyarakat, kultur ekonomi, dan kesadaran.
3) Gagasan post-modernisme
Ditandai dengan relativitas, ketiadaan standarisasi nilai, menolak pengetahuan
yang sudah jadi dan dianggap sebagai sesuatu yang sakral (grand narative).
Menghargai hal-hal yang lokal, keunikan, dan semacamnya.
4) Gagasan Cultural Studies
Memberi perhatian kepada kajian terhadap ideologi yang mendominasi suatu
budaya yang berfokus kepada perubahan sosial serta hal-hal yang positif di dalam
budaya itu sendiri.
5) Gagasan Post-strukturalis
Yakni pandangan yang memandang realitas merupakan sesuatu yang komplek dan
selalu dalam proses sedang menjadi. Realitas tidak sebagaimana pandangan
kalangan strukturalis yang melihat sudah bersifat teratur, tertata, dan terstruktur.
Realitas merupakan suatu proses pembentukan yang berlangsung terus menerus
dengan melibatkan banyak kalangan dengan identitas masing-masing. Yang
menonjol adalah terdapatnya proses artikulasi dari masing-masing kalangan.
6) Gagasan Post-kolonialisme
Memperhatikan pola-pola komunikasi yang ada pada semua kultur yang
dipengaruhi oleh masa imperialisme dari masa penjajahan hingga saat ini.
7) Paradigma atau kajian feminisme
Kajian ini memiliki beragam definisi mulai dari pergerakan untuk menyelamatkan
hak-hak perempuan hingga perjuangan untuk menegaskan perbedaannya.
Penelitian feminis lebih dari sekedar kajian terhadap gender. Feminisme berupaya
untuk memusatkan teori terhadap pengalaman perempuan dan untuk
membicarakan kategori-kategori gender dan sosial lainnya, termasuk ras, etnis,
kelas, dan seksualitas.
Kesemua gagasan dalam teori kritis ini tentunya merefleksikan begitu banyak dan luas
kajian budaya dalam ilmu komunikasi.
Tradisi kritis memiliki 3 keunggulan atau keistimewaan pokok, yaitu:
1. Tradisi kritik mencoba memahami sistem yang sudah dianggap benar, struktur
kekuatan dan keyakinan atau ideologi, yang mendominasi masyarakat dengan
pandangan tertentu di mana minat-minat disajikan oleh struktur-struktur
kekuatan tersebut. Pertanyaan seperti siapa yang boleh dan yang tidak boleh
berbicara, apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan, siapa yang mengambil
keuntungan dari sistem-sistem tertentu,menjadi hal biasa yang ditanyakan oleh
para ahli teori kritik.
2. Para ahli teori kritik umumnya tertarik membuka kondisi-kondisi sosial yang
menindas dan rangkaian kekuatan untuk mempromosikan emansipasi atau
masyarakat yang lebih bebas dan lebih berkecukupan. Memahami penindasan
dalam menghapus ilusi-ilusi ideologi dan bertindak mengatasi kekuatan-kekuatan
yang menindas.
3. Teori kritik menciptakan kesadaran untuk menggabungkan teori dan tindakan.
Teori-teori tersebut bersifat normatif dan bertindak untuk mendapatkan atau
mencapai perubahan dalam kondisi-kondisi yang memengaruhi masyarakat.
Wajarlah, teori kritik kerap kali menggabungkan diri dengan minat-minat dari
kelompok yang terpinggirkan.

7. Tradisi Retorika
A. Apa itu Retorika
Menurut Aristoteles, retorika adalah seni membujuk atau the art of persuation (M.
Djen Amar, 1986, hlm. 11). Sunarjo (1983) mendefinisikan retorika sebagai suatu
komunikasi di mana komunikator berhadapan langsung dengan massa atau
berhadapan dengan komunikan (audience) dalam bentuk jamak. Aristoteles
berpendapat bahwa retorika itu sendiri sebenarnya bersifat netral. Maksudnya
adalah orator itu sendiri bisa memiliki tujuan yang mulia atau justru hanya
menyebarkan omongan yang tidak sesuai atau bahkan dusta belaka. Menurutnya,
by using these justly one would do the greatest good, and unjustly, the greatest
harm .
Rethoric, salah satu karya terbesar Aristoteles, banyak dilihat sebagai studi tentang
psikologi khalayak yang sangat bagus. Aristoteles dinilai mampu membawa retorika
menjadi sebuah ilmu, dengan cara secara sistematis menyelidiki efek dari pembicara,
orasi, serta audiensnya. Orator sendiri dilihat oleh Aristoteles sebagai orang yang
menggunakan pengetahuannya sebagai seni. Jadi, orasi atau retorika adalah seni
berorasi.
B. Asumsi Dasar Tradisi Retorika
Tradisi ini melihat bagaimana seseorang melakukan sebuah orasi dan
menitikberatkan pada aspek ethos patos logos. Ethos berfokus pada kecerdasan sang
orator dalam mengolah kata-kata dan menyampaikannya pada audience, patos
merujuk pada emosi pendengar dalam menerima pesan dan logos merujuk pada
aspek logis dari apa yang disampaikan oleh sang orator.
Awalnya retorika berhubungan dengan persuasi, sehingga dimaknai sebagai seni
penyusunan argumen dan pembuatan naskah pidato. Lantas berkembang meliputi
proses adjusting ideas to people and people to ideas dalam segala jenis pesan.
Fokus dari retorika telah diperluas bahkan lebih mencakup segala cara manusia dalam
menggunakan simbol untuk memengaruhi lingkungan di sekitarnya dan untuk
membangun dunia tempat mereka tinggal.
Pusat dari tradisi retorika adalah 5 karya agung retorika yakni: penemuan,
penyusunan, gaya, penyampaian dan daya ingat. Semuanya adalah elemen-elemen
dalam mempersiapkan sebuah pidato, sedangkan pidato orang Yunani dan Roma
kuno berhubungan dengan ide-ide penemuan, pengaturan ide, memilih bagaimana
membingkai ide-ide tersebut dengan bahasa serta akhirnya penyampaian isu dan
daya ingat. Penemuan, mengacu pada konseptualisasi yakni proses menentukan
makna dari simbol melalui interpretasi, respons terhadap fakta yang tidak mudah
ditemukan pada apa ayang telah ada, tetapi menciptakannya melalui penafsiran dari
kategori-kategori yang digunakan.
Ada enam keistimewaan yang mencirikan tradisi ini :
a) Keyakinan bahwa berbicara membedakan manusia dari binatang.
b) Ada kepercayaan bahwa pidato publik yang disampaikan dalam forum demokrasi
adalah cara yang lebih efektif untuk memecahkan masalah politik.
c) Retorika merupakan sebuah strategi di mana seorang pembicara mencoba
mempengaruhi seorang audiens dari sekian banyak audiens melalui pidato yang
jelas-jelas bersifat persuasive. Public speaking pada dasarnya merupakan
komunikasi satu arah.
d) Pelatihan kecakapan pidato adalah dasar pendidikan kepemimpinan. Seorang
pemimpin harus mampu menciptakan argumen-argumen yang kuat lalu dengan
lantang menyuarakannya.
e) Menekankan pada kekuatan dan keindahan bahasa untuk menggerakkan orang
banyak secara emosional dan menggerakkan mereka untuk beraksi/bertindak.
Pengertian Retorika lebih merujuk kepada seni bicara daripada ilmu berbicara.
f) Sampai tahun 1800-an, perempuan tidak memiliki kesempatan untuk
menyuarakan haknya. Jadi retorika merupakan sebuah keistimewaan bagi
pergerakan wanita di Amerika yang memperjuangkan haknya untuk bisa
berbicara di depan publik.
C. Varian Dalam Tradisi Retorika
Retorika diartikan berbeda pada setiap zaman kita mengenal ada tujuh masa
perkembangan dari retorika yaitu, klasik, abad pertengahan, masa renaissance,
penerangan , kontemporer dan post modern.
1) Era Klasik
Didominasi oleh aliran seni dalam berbicara, kaum sophist sebagai pelopor aliran
ini berkeliling mengajarkan retorika tentang bagaimana berargumen dan
memenangkan sebuah kasus pada masa awal di mana retorika baru diperkenalkan.
Plato sangat tidak menyukai aliran sophist ini dan menjuluki kaum sophis ini
karena mereka berorientasi bagaimana menang dalam berdebat karena menurut
plato yang nota bene beraliran filosof bahwa retorika digunakan untuk alat
berdialog untuk mencapai kebenaran yang absolute.
2) Abad Pertengahan
study tentang retorika berfokus pada pengaturan gaya, namun Retorika pada abad
pertengahan dicela sebab dianggap sebagai ilmu kaum penyembah berhala dan
tidak perlu dipelajari sebab agama Kristen dapat memperlihatkan kebenarannya
dengan sendiri. Pada abad ini bisa dikata sebagai the end of retorika. Sebelum
agustine seorang guru retorika mengatakan dalam buku doktrin Kristen bahwa
retorika dibutuhkan bagi seorang pendeta untuk dapat menerangkan retorika dan
menyenangkan umatnya.
3) Renaissance
Masa ini dianggap sebagai kelahiran kembali retorika sebagai suatu seni. Para
sarjana humanis member perhatian dan concern pada semua aspek untuk
kemanusiaan, penelitian kembali text-text retorika klasik dalam rangka memahami
manusia.
4) Abad Pencerahan
Selama masa ini para pemikir seperti Rene Descartes dalam rangka menentukan
apa yang bisa disebut sebagai suatu yang absolute dan objective pada pikiran
manusia. Francis Bacon mengatakan retorika menggerakkan imajinasi pada
pergerakan yang lebih baik. Logika atau pengetahuan merupakan bagian dari
bahasa , dan retorika menjadi sarana untuk mengetahui suatu atau menyampaikan
suatu kebenaran. Hal ini menjadikan retorika kembali menjadi citra yang baik
seperti saat ini.
5) Pada masa Retorika kontemporer
Diringi dengan tumbuhnya minat retorika seperti jumlah dan macam symbol
meningkat. Apalagi dengan kehadiran media massa maka penyampaian pesan
disampaiakn secara visual dan verbal.
6) Retorika Postmodern
Tidak lagi berpaku pada gaya retorika yang dikembangkan oleh barat dia
menyesuaikan retorika sesuai dengan budaya tempat di mana pesan disampaikan.
Aliran ini merupakan alternative yang dimulai dari asumsi yang berbeda, nilai nilai
acuan yang berbeda, untuk menghasilkan suatu retorika yang berbeda pula.