Anda di halaman 1dari 154

MAKALAH TENTANG KEGIATAN DI LUAR RUANGAN

BAB 1

MOUNTAINEERING

Mendaki gunung merupakan aktivitas yang keras, penuh petualangan dan kegiatan ini
membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan dan daya juang yang tingggi. Bahaya dan
tantangan seakan hendak mengungguli merupakan daya tarik dari kegiatan ini. Pada hakekatnya
bahaya dan tantangan tersebut adalah untuk menguji kemampuan diri dan untuk bisa menyatu
dengan alam. Keberhasilan suatu pendakian yang sukar berarti keunggulan terhadap rasa takut
dan kemenangan terhadap perjuangan melawan diri sendiri. Pada dasarnya pendaki harus
memiliki motivasi yang jelas, terarah, dan tidak merugikan diri sendiri.

Di Indonesia kegiatan mendaki gunung mulai dikenal sejal 1964 ketika pendaki Indonesia dan
Jepang melakukan suatu ekspedisi gabungan dan berhasil mencapai puncak Soekarno di
Pegunungan Jayawijaya. Pendaki Indonesia tersebut adalah Soedarto, Soegirin dan Fred Atabe
dari jepang. Pada tahun yang sama(1964) mulailah berdiri perkumpulan-perkumpulan pendaki
gunung, dimulai berdirinya Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung WANADRI di
Bandung dan mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (MAPALA UI) di Jakarta
kemudian diikuti oleh perkumpulan-perkumpulan lainnya di berbagai kota di Indonnesia.

1. Persiapan Bagi Seorang Pendaki Gunung

Untuk menjadi seorang pendaki gunung yang baik diperlukan beberapa persyaratan,
antara lain :

I. Mental

Seorang pendaki gunung harus tabah dalam mengahdapi berbagai kesulitan dan tantangan di
alam terbuka. Tidak mudah putus asa dan berani. Berani disini, yaitu sanggup menghadapi
tantangan dan mengatasinya secara bijaksana dan juga berani mengakui keterbatasan
kemampuan yang dimiliki.

II. Pengetahuan dan keterampilan

Meliputi pengetahuan serta keterampilan tentang tali temali, navigasi darat, cuaca dan teknik-
teknik pendakian, pengetahuan tentang alat pendakian,, pertolongan pada keadaan darurat,
bertahan hidup di alam bebas dan sebagainya.

III. Kondisi fisik yang memadai


Ini dapat dimengerti karena mendaki gunung termasuk olahraga yang berat. Berhasil dan
tidaknya suatu pendakian salah satunya bergantung pada kekuatan fisik. Untuk itu agar kondisi
fisik tetap baik dan siap selama perjalanan haruslah selalu berlatih.

IV. Etika

Harus kita sadari sepenuhnya bahwa seorang pendaki gunung adalah bagian dari masyarakat
yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku harus kita pegang teguh. Mendaki
gunung tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri bukanlah sikap yang terpuji sebagaimana
juga bila kita tidak menghargai sikap dan pendapat masyarakat disekitar kita pada kegiatan
mendaki gunung yang kita lakukan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam setiap pendakian :

Jumlah anggota dalam setiap pendakian minimalnya 3 orang, kecuali kalau pendukung yang
telah diatur sebelumnya cukup memadai.

Jagalah agar anggota kelompok tetap bersama.

Janganlah mendaki diluar / melebihi batas kemampuan diri sendiri dan tim.

Bawalah setiap saat makanan, pakaian, peralatan dan perlengkapan secukupnya.

Tinggalkanlah daftar Rencana Operasional Perjalanan dan daftar barang bawaan kita pada
orang yang berkepentngan (keluarga, organisasi, dsb).

Ikutilah aturan / saran dari para pendaki gunung yang sebelumnya telah mendaki gunung
tersebut, melalui buku-buku atau sumber informasi lainnya.

Berusahalah untuk bertindak / berlaku bijak sebagai Pencinta Alam yang benar-benar menjaga
kelestarian alam & lingkungan dalam setiap kesempatan mendaki gunung.

2. Jenis Perjalanan / Pendakian

Mountaineering dalam arti luas adalah suatu perjalanan yang meliputi mulai dari hill walking
sampai pada ekspedisi pendakian ke puncak-puncak yang tinggi dan sulit dengan memakan
waktu yang lama, berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Menurut kegiatan dan jenis medan yang
dihadapi, mountaineering dapat dibagi menjadi :

I. Hill Walking

Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relative landai dan yang tidak atau belum membutuhkan
peralatan-peralatan. Untuk pengaman jalur lintasan biasanya tali dipasang.
II. Scrambling

Pendakian pada permukaan yang tidak terlalu terjal, namun tangan digunakan untuk
keseimbangan. Namun bagi pemula, sebaiknya dipasang tali untuk pengaman jalur lintasan dan
mempermudah perjalanan.

III. Climbing

Kegiatan pendakian ini membutuhkan tekhnik pemanjatan dan penguasaan peralatan tekhnis.
Climbing terbagi atas 2 (dua) bagian, yakni :

1. Rock Climbing

Pendakian yang dilakukan pada pemanjatan tebing batu yang cukup terjal.

1. Snow & Ice Climbing

Pendakian pada dinding yang permukaannya tertutup salju dan es. Dalam hal ini peralatan
khusus sangat dibutuhkan seperti ice axe, crampon, ice screw, dsb.

IV. Mountaineering

Merupakan gabungan perjalanan dari semua bentuk pendakian diatas. Bisa berhari-hari,
berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Disamping penguasaan teknik dan peralatan
mendaki, yang perlu dikuasai pula yaitu manajemen perjalanan dan perbekalan.

3. SISTEM PENDAKIAN

I. Himalayan system

Adalah system pendakian yang dipergunakan untuk perjalanan pendakian panjang, memakan
waktu berminggu-minggu. System ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak
pegunungan Himalaya. Kerjasama kelompok dalam system ini terbagi dalam beberapa tempat
peristirahatan (base camp, fly camp). Walaupun hanya satu anggota tim yang berhasil mencapai
puncak, pendakian ini dapat dikatakan berhasil.

II. Alpine system

Adalah system pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen pada khususnya dengan
tujuan agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. System ini lebih cepat karena
pendaki tidak perlu kembali ke base camp., karena perjalanan dilakukan secara bersama-sama
dengan terus maju membuka Flying Camp.

4. Manajemen Perjalanan

I. Pra Perjalanan
Yang paling penting dalam memulai setiap perjalanan adalah Motivasi yang mendorong
terjadinya suatu perjalanan. Selanjutnya hal inilah yang akan menjadi tolak ukur selanjutnya.
Hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum memulai perjalanan adalah sbb :

I.1. Mengumpulkan informasi dari aktivitas yang akan dilakukan. Informasi tersebut antara
lain adalah :

Menentukan tujuan kegiatan dan jenis medan.


Menetukan lokasi dan lamanya waktu perjalanan
Data tentang daerah tersebut, bisa didapat dari yang sudah pernah ke tempat tersebut
sebelumnya atau dari peta daerah tersebut.
Akses menuju lokasi.

I.2. Mempersiapkan diri sendiri dan tim yang akan melakukan perjalanan, yang meliputi :

Latihan Fisik. Untuk meningkatkan ketahanan dan kekutan tubuh dalam menghadapi
kondisi dan cuaca alam yang liar. Sadari kemampuan fisik dalam perjalanan.
Menentukan dan mengumpulkan Logistik yang mencakup perlengkapan peralatan
pribadi, tim dan khusus, serta perbekalan makanan untuk seluruh personil dan
cadangannya.

Pada perjalanan yang berat, dalam 1 (satu) hari setiap orang membutuhkan asupan makanan
5000 Kal dan 2 liter air.

Teammate. Hanya dengan komunikasi yang baik dan Mengenal lebih dalam tentang
teman-teman seperjalanan kita dapat mengetahui hal-hal khusus dari personil tim.
Misalnya penyakit khusus, kebiasaan yang menyimpang, dll dari rekan kita.

I.3 Penjadwalan kegiatan, yang mencakup :

Membuat Time Schedule, yang dimaksud disini adalah penjadwalan kegiatan terhitung
sejak dimulainya perencanaan, persiapan hingga pengakhiran perjalanan
Membuat Rencana Operasional Perjalanan (ROP), termasuk menetukan titik start, camp
dan titik finish.

I.4 Evaluasi dari persiapan yang telah dilakukan.

II. Teknis Perjalanan

Yang paling penting saat pendakian adalah melakukan AKLIMATISASI, yaitu menyesuaikan
tubuh dengan kondisi di ketinggian yang memiliki cuaca, tekanan udara dan suhu yang berbeda
dari biasanya.

II.1 Pengaturan perjalanan, misalnya pembagian tim yang dibagi dalam kelompok kecil
berikut logistiknya dan timing perjalanan agar sesuai dengan yang telah direncanakan
sebelumnya (ROP)
II.2 Teknik berjalan saat pendakian

Saat menanjak : Jalan seperti biasa dan jangan mengangkat kaki terlalu tinggi dari
lintasan dengan irama tetap (konstan). Untuk mempermudah aklimatisasi, dapat
dilakukan dengan cara menyamakan irama langkah dan nafas kita.
Saat istirahat : Jika hanya sementara jangan duduk santai. Ketika istirahat besar,
usahakan agar posisi kaki lebih tinggi dari kepala agar darah dapat mengalir kembali ke
otak.
Saat turun : Jangan gunakan tumit sebagai tumpuan

II.3 Evaluasi pergerakan sehari-hari, misalnya tentang kesesuaian perjalanan dengan ROP,
kondisi tim, perbekalan.

II.4 Kondisi Darurat

Menurunnya kemampuan fisik.


Ketika perlengkapan peralatan dan perbekalan makanan tidak mencukupi.
Ketika kehilangan orientsasi medan

III. Pasca Perjalanan

III.1 Periksa kondisi peralatan yang telah digunakan

III.2 Bersihkan peralatan yang kotor.

Dengan air murni dan jangan disiram dengan sabun (sleeping bag di dry clean)
Jangan dijemur langsung terkena sinar matahari
ketika disimpan lebih baik digantung dan jangan dilipat

III.3 Membuat Laporan Perjalanan yang telah dilakukan dengan tujuan agar memiliki data
valid tentang perjalanan yang dilakukan tersebut. Kumpulkan data yang didapat selama
perjalanan, antara lain :

Jadwal hasil kegiatan


Kronologis kegiatan
Hasil evaluasi selama di lapangan
Peralatan yang digunakan
Laporan keuangan
Hasil yang didapat dari perjalanan yang dilakukan
Dokumentasi foto / video
dsb

5. Perlengkapan Peralatan dan Perbekalan Makanan


Berguna agar kita tidak sengsara dan kelaparan selama perjalanan atau pendakian yang kita
lakukan. Jika kita melakukan perjalanan 3 hari, maka bawalah bekal untuk 5 hari gunanya yaitu
untuk menghadapi kondisi darurat. Setelah menentukan perjalanan yang akan dilakukan, barulah
kita dapat menetukan perlengkapan dan perbekalan regu dan perorangan yang dapat dibagi
menjadi :

1. Perlengkapan Komunikasi
2. Perlengkapan Pribadi
3. Perlengkapan Tidur
4. Perlengkapan Masak dan Makan
5. Perlengkapan Jalan (Dokumentasi, Navigasi, P3K, Survival)
6. Perlengkapan Khusus

Dalam merencanakan perjalanan, perencanaan perbekalan perlu mendapat perhatian khusus,


beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan perbekalan, yaitu :

1. Lamanya perjalanan
2. Aktifitas apa saja yang akan dilakukan
3. Kondisi medan dan cuaca yang akan dihadapi

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka ada beberapa persyaratan khusus yang harus
diperhatikan :

1. Cukup mengandung kalori dan mempunyai komposisi yang memadai dan tidak asing di
lidah.
2. Terlindung dari kerusakan, tahan lama dan mudah / sederhana dalam mengolahnya.
3. Sebaiknya makanan yang siap pakai atau tidak perlu memasaknya terlalu lama, irit bahan
bakar dan air.
4. Ringan dan mudah dibawa

Untuk merencanakan komposisi bahan makanan agar sesuai dengan syarat di atas, kita dapat
mengkajinya dengan langkah sebagai berikut :

1. Informasi tentang kondisi medan, perkiraan cuaca, aktifitas yang dilakukan dan lamanya
waktu perjalanan. Perhitungan jumlah kalori yang dibutuhkan
2. Susun daftar makanan yang memenuhi syarat di atas, kemudian buatlah daftar menu
makanan dan hitunglah total kalorinya setelah siap dimakan.
3. Persiapkan vitamin dan mineral untuk suplemen tambahan, secukupnya.

Setelah mengkaji hal hal di atas, kita dapat membandingkan mana yang banyak mengandung
hidrat arang, lemak, maupun protein. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di table komposisi bahan
makanan (Depkes RI, Dit. Gizi).

Kandungan kalori Hidrat Arang 4 kal/gr, Lemak 9 kal/gr, protein 4 kal/gr. (Rangking tercepat
yang menjadi kalori)
Kebutuhan kalori per 100 pounds berat badan:

1. Metabolisme Basal 1100 kal


2. Aktifitas Tubuh (kalori / jam)

Jalan Kaki 2 mil/jam 45 kal

3 mil/jam 90 kal

4 mil/jam 160 kal

Memotong kayu / nebas 260 kal

Makan 20 kal

Duduk (diam) 20 kal

Bongkar pasang ransel, bikin camp, dll 50 kal

Menggigil 220 kal

3. Specific Dynamic Activity (Factor) : ( 6% 8%) dari I dan II

4. Total kalori dibutuhkan : I + II + III

Mengingat pentingnya penyusunan perlengkapan dan perbekalan dalam suatu perjalanan, maka
sebelum memulai kegiatan disusun terlebih dahulu sebuah daftar (check-list), perlengkapan dan
perbekalan kita kelompokkan lalu kita teliti lagi mana yang perlu dibawa atau tidak.

6. Menyusun Perlengkapan Dalam Ransel (Packing)

Yang menjadi dasar dari pacing adalah keseimbangan. Bagaimana kita menumpukan berat
badan pada tubuh sedemikian rupa sehingga kaki dapat bekerja seefisien mungkin. Dalam batas-
batas tertentu frame yang dimiliki ransel dapat memberikan kenyamanan sewaktu menggendong
beban. Namun bagaimanapun baiknya desain ransel yang dimiliki akan sedikit artinya apabila
kita tidak mampu menyusun barang dengan baik. Berikut ini adalah prinsip pengepakan barang
ke ransel (packing) :

1. Kelompokkan barang barang dan masukkan ke dalam kantong plastic atau kantong
parasit, terutama pakaian tidur / cadangan, kertas / buku, dll.
2. Tempatkan barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan kita.
Barang barang yang lebih ringan ditempatkan dibagian bawah.
3. Letakkan barang yang sewaktu waktu diperlukan cepat, dibagian atas atau pada
kantung luar (ponco, air minum, P3K, survival kit, dsb).
Semua hal ini ditujukan agar beban lebih dekat ke pundak dan tidak dperlu membongkar ransel
dalam kondisi yang memerlukan reaksi cepat.

BAB 4

SURVIVAL GUNUNG HUTAN JUNGLE SURVIVAL

4.1 PENGERTIAN

Survival Berasal dari kata Survive yang artinya mampu mempertahankan hidup dan lolos dari
kondisi yang tidak menentu.

Sedangkan Jungle Survival artinya suatu kondisi yang tidak menentu yang dihadapi
seseorang / sekelompok pada daerah yang asing / terisolir di gunung / di hutan hingga kembali
kepada keadaan normal.

Survivor : Orang yang sedang melakukan kegiatan Survival, bisa perorangan ataupun
kelompok

4.2 FILOSOFI

4.2.1 ENGLISH VERSION

a. Size Up The Situation

b. Undue Haste Makes Waste, Use All Your Senses

c. Remember Where you are

d. Vanquish Fear And Panic

e. Improvise

f. Value Living

g. Act Like The Natives

h. Live By Your Wits, but for now Learn Basic Skills

4.2.2 VERSI INDONESIA

a. Sadarilah Sungguh-Sungguh Situasimu


b. Untung rugi ada pada diri sendiri

c. Rasa Takut dan Putus Asa Harus dihilangkan

d. Vacuum (jangan bergerak jauh)

e. Ingatlah Dimana Kau Berada

f. Viva (hargai hidup)

g. Adat Istiadat Setempat harus dihargai

h. Latihan membuahkan keterampilan

4.3 MASALAH YANG SERING DIHADAPI DALAM SURVIVAL

Problema atau masalah yang berpengaruh tergantung pada situasi yang dihadapi dan satu sama
lain mempunyai hubungan sebab akibat. Masalah ini berasal dari 3 aspek, yaitu :

a. Aspek Psikologis yang merupakan masalah Mental

Contoh : takut, cemas, terasing, panik, bosan, kesepian, tertekan, putus asa, dsb

b. Aspek Fisiologis yang berkaitan dengan masalah Fisik

Contoh : lapar, haus, lelah, ngantuk, dan sakit

c. Aspek Lingkungan yang merupakan pengaruh luar yang menimpa survivor

Contoh : panas, dingin, hujan, angin, badai, hewan berbahaya, medan yang berat, hutan yang
lebat, dsb

Kemampuan setiap individu berbeda dalam menghadapi pengaruh tersebut. Seseorang yang
biasa hidup dengan berbagai fasilitas yang memadai akan sulit menghadapinya apabila tidak
pernah berlatih dan tidak ditunjang dengan pengetahuan dan keterampilan Survival.

4.4 TINDAKAN AWAL PADA SITUASI SURVIVAL

Tahap sebelum melakukan tindakan awal adalah : survivor menyadari kondisi yang sedang
dialaminya, yaitu dimana survivor berada, sehingga tindakan yang diambil dapat berdasarkan
kebutuhannya dan tidak melakukan hal yang tidak berguna.

4.4.1 TINDAKAN UMUM


Dalam menghadapi situasi yang sulit berusahalah untuk tenang, istirahatlah yang cukup,
perhatikan kondisi tubuh dan ingat pedoman STOP. Pedoman ini sangatlah penting saat kita
menghadapi keadaan yang sulit, contoh ; tersesat.

S= Stop and seating

Berhenti Duduklah dan Jangan Panik.

T= Thinking

Gunakan Akal Sehat dan Selalu Sadar Akan Keadaan yang sedang dihadapi.

O= Observe

Amati Keadaan Sekitar,

P= Planning and Preparing

Buat Rencana dan Persiapan Mengenai Tindakan / Usaha Yang Akan Dilakukan.

Masalah yang dihadapi seseroang akan lebih banyak dari berkelompok karena semua resiko yang
akan terjadi hanya diadapi oleh satu orang saja. Jangan bertindak sendiri sendiri jika survivor
lebih dari satu orang. Adanya pembagian tugas dan kerjasama kelompok dapat meng-hemat
waktu dan tenaga, demikian pula masalah psikologis akan lebih teratasi.

Tumbuhkan rasa kebersamaan berkelompok dan toleransi antar individu. Pilih salah seorang
yang dianggap mampu untuk menjadi pemimpin dalam melakukan survival. Buatlah rencana
dann ammbil keputusan berdasarkan musyawarah mufakat.

4.4.2 TINDAKAN KHUSUS

Adapun tindakan khusus sebelum menentukan untuk tetap tinggal di lokasi atau bergerak
mencari jalan keluar, yaitu :

1. Mengevaluasi kondisi tim, baik fisik, mental ataupun perbekalan.


2. Mencari daerah terbuka dan menentukan posisi saat keadaan survival agar memudahkan
tim SAR dalam melakukan pencarian dan dapat melakukan komunikasi lapangan.
3. Mencari lokasi yang terdapat sumber air dan persediaan makanan.
4. Menangani survivor yang menderita.
5. Memanajemen ulang perjalanan, bila diperlukan.

Gaya / Metode Survival dibedakan menjadi 2, yaitu :

1) SURVIVAL STATIS

1. Rawat survivor yang menderita atau sakit.


2. Membuat tempat berlindung yang aman dari cuaca buruk dan hewan yang berbahaya.
3. Hemat persediaan makanan yang ada dan berusaha untuk mencari tambahan di sekitar
lokasi.
4. Siapkan dan buatlah tanda darat ke udara dengan piroteknik maupun dengan benda
lainnya seperti smoke signal, flare, cermin, kain warna kontras, asap hasil membakar
sampah dan sebagainya.

2) SURVIVAL DINAMIS

1. Siapkan bahan dan perlengkapan yang berguna dan dapat di bawa dalam perjalanan.
2. Tentukan arah yang di tuju berdasarkan kompas, matahari, atau alat petunjuk lainnya.
3. Tinggalkan pesan yang berisi jumlah survivor, kondisi fisik, perlengkapan dan barang
bawaan lainnya, serta arah yang di tuju.
4. Buatlah jejak yang jelas selama melakukan perjalanan.
5. Ikuti punggungan gunung dan jangan mengikuti lembah atau sungai apabila berada di
daerah pegunungan.
6. Carilah makanan dan minuman sebelum persediaan yang dibawa habis.
7. Cari dan buatlah tempat perlindungan atau bivak dan janganlah melakukan perjalanan
malam.
8. Buatlah perapian untuk memasak, menghangatkan tubuh dan untuk melindungi diri dari
serangga atau binatang berbahaya.

4.5 TEKNIS KEGIATAN

Kegiatan Survival tidak hanya dilakukan dengan dasar kemampuan Fisik dan Mental yang kuat,
dalam Kegiatan Survival-pun ada teknis kebutuhan yang akan menunjang Kegiatan Survival
yang akan kita lakukan. Teknis Kegiatan Survival yang akan dibahas dalam buku saku ini adalah
Teknis Kegiatan Survival Gunung Hutan atau Jungle Survival.

4.5.1 MENENTUKAN ARAH DAN LINTASAN

Pada saat keadaan tersesat maka tindakan awal sebelum melakukan perjalanan adalah melakukan
orientasi medan kemudian menentukan arah dan memilh lintasan yang aman sehingga tujuan
untuk keluar dari kondisi survival dapat tercapai.

4.5.1.1 MENENTUKAN ARAH

1. Berpedoman pada matahari, matahari selalu terbit di timur dan terbenam di barat.
2. Berpedoman pada bintang, rasi bintang crux atau bintang alib, garis diagonalnya bila di
tarik sampai ke kaki langit menunjukkan arah selatan.
3. Berpedoman pada lumut di pohon, pada daerah terbuka cari sebuah pohon dan lihatlah
lumut yang menempel pada pohon tersebut, lumut yang lebih tebal menunjukkan arah
barat. Pedoma ini tidak berlaku pada derah lereng atau lembah pada hutan yang lebat.
4.5.1.2 MEMILIH LINTASAN

Melakukan perjalanan di hutan dataran rendah :

Tentukan arah yang di tuju. Hal ini di maksudkan untuk menghindari yang tidak
menentu/berputar-putar di sekitar lokasi. Apabila menghadapi sungai yang besar dan sulit di
sebrangi maka ikutilah aliran sungai tersebut sebagai pedoman untuk keluar dari daerah survival
karena kemungkinan akan tentukan arah dan mengikuti punggungan gunung. Berjalanlah di
lembah atau pada aliran sungai karena akan melewati perkampungan penduduk.

Melakukan perjalanan di pegunungan :

Sungai di pegunungan cukup curam dan kadang kala membentuk air terjun

1. Pilih punggungan yang lebih besar untuk turun.


2. Cari jalan teraman.

4.5.2 JEJAK

Pada kawasan hutan banyak di temui jejak yang merupakan tanda yang menunjukkan adanya
manusia atau hewan. Bentuk jejak ini perlu diketahui agar dapat membedakan individu yang
meintasi daerah tersebut. Jejak dapat pula sebagai penunjuk arah pergerakan survivor.

4.5.2.1 JEJAK HEWAN

Berupa telapak kaki, kotoran (faeces) dan sibakan tumbuhan dapat menunjukkan jenis hewan
tersebut, ukuran tubuh, habitat, makanan dan pola tingkah laku. Sehingga dapat di ambil
tindakan untuk membuat jerat atau menghindari hewan berbahaya.

4.5.2.2 JEJAK MANUSIA

Berupa telapak kaki, sepatu atau sendal, sibakan atau patahan tumbuhan, bekas bacokan pada
pohon dan sampah. Dapat menunjukkan aktifitas seseorang sebagai pemburu, perambah hutan,
penjelajah atau survivor.

4.5.2.3 MEMBUAT JEJAK

Usaha untuk survivor untuk keluar dari kondisi survival dalam melakukan pergerakan dapat
membuat jajak yang jelas agar tim SAR mudah melacak. Jejak ini dapat di buat sesuai dengan
alat atau barang yang di bawa atau tanpa alat sekalipun.

a. Menggunakan Alat atau Barang

1. Potongan tali yang di ikatkan pada pohon-pohon dengan jarak tertentu sesuai medan
(string line).
2. Tebasan dan bacokan golok atau pisau pada pohon.
3. Sampah, potongan kain dan barang lai terutama yang berwarna menyolok di letakkan
pada jarak tertentu sepanjang jalur yang di lewati.

b. Tanpa Menggunakan Alat

1. Menyiibakkan atau mematahkan tumbuhan.


2. Mencabut dan meletakkan kembali tumbuhan semak yang berwarna menyolok.
3. Menyusun batu dan ranting membentuk panah.
4. Memperjelas jejak kaki atau sepatu pada tanah gambut.

4.5.3 MENCARI AIR

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Dalam keadaan survival penggunaan air
harus di hemat dan jangan melakukan tindakan yang tidak perlu karena kebutuhan air akan
meningkat. Rata-rata dalam 1 hari manusia kehilangan 2-3 liter air dalam tubuh bahkan jika
sedang istirahat manusia akan kehilangan 1 liter air dari tubuhnya. Seseorang tidak mendapatkan
air sama sekali dalam waktu 3 hari maka ia akan terancam kematian. Ketersediaan air di hutan
cukup banyak dan dapat di perboehkan dari berbagai sumber. Berdasarkan sumbernya air yang
diperoleh perlu di proses terlebih dahulu, adapula yang langsung dapat di minum.

A. Cara mendapatkan air

1. Di lembah (sungai).
2. Gali tanah dibawah pohon besar.
3. Mengikuti binatang mamalia (ke sungai).
4. Embun.
5. Pohon yang mengandung air (pisang, kantong semar, bambu, rotan, akar gantung).
6. Penguapan daun dan tanah.

B. Air yang tidak perlu dimurnikan (dapat diminum langsung)

1. Mata air.
2. Air sungai yang mengalir.
3. Air hujan.
4. Air embun.
5. Air tidak berbau.
6. Air tidak berwarna.
7. Air dari tumbuhan beruas-ruas.
8. Air dari tumbuhan merambat.

C. Air yang harus dimurnikan terlebih dahulu (tidak dapat diminum langsung)

1. Air dari sungai yang besar.


2. Air yang tergenang.
3. Air dari perasan lumut.
4. Air didaerah berbatu/berkapur.
5. Air dari batang pohon pisang.
6. Air laut.
7. Air yang berbau tidak sedap.

D. Menghemat penggunaan air

1. Banyak beristirahat / bergerak dengan rileks


2. Jangan merokok
3. Beristirahat ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung.
4. Jangan makan, makanlah sedikit mungkin
5. Jangan minum alkohol
6. Jangan banyak berbicara, bernafaslah melalui hidung

Air dapat diperoleh dari batang pisang, caranya tebang batang pohon pisang sehingga yang
tersisa tinggal bawahnya (bongkahnya) lalu buat lubang ditengahnya maka air akan keluar,
biasanya dapat keluar sampai 3 kali pengambilan. *air harus dimurnikan terlebih dahulu.

4.5.4 BIVAK

Kondisi yang dihadapi survivor di saat tidak melakukan perjalanan tergantung dari kondisi
lingkungan di lokasi tersebut. Mencari atau membuat tempat berlindung sangat di perlukan
untuk menghadapi pengaruh cuaca, hewan berbahaya atau kondisi medan sehingga kebutuhan
istirahat dapat terpenuhi secara aman dan nyaman. Membuat tempat berindung / bivak harus
disesuaikan dengan jumlah survivor pada lokasi tersebut.

Bahan untuk membuat bivac/bivoac/bivak di bagi menjadi 2 bagian, yaitu sebagai berikut :

4.5.4.1 BIVAK ALAM

1. Pohon yang utuh maupun yang tumbang


2. Dedaunan
3. Gua
4. Lubang Tanah
5. Cerukan tebing
6. Dan Lainnya

4.5.4.2 BIVAK BUATAN

1. Poncho
2. Plastik
3. Jas Hujan
4. Flysheet
5. Hammock
6. Dan Lainnya
Berbagai bentuk, macam dan cara membuat bivac tergantung daripada selera dan kreatifitas
masing-masing, keadaan alam dan lingkungan, jumlah orang dan bahan yang ada untuk
membuatnya.

Pergerakan malam di hutan sangat berbahaya, cari dan buatlah tempat berlindung
sebelum matahari terbenam.

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat bivac adalah sebagai berikut :

1. Pilih lokasi yang baik (usahakan ditempat yang datar)


2. Jangan terlalu merusak alam sekitar.
3. Cukup dekat dengan sumber air
4. Hindari daerah aliran air dan buatlah parit disekeliling bivak
5. Bukan pada jalur lintasan binatang buas atau sarang nyamuk/serangga
6. Tidak berada dibawah pohon yang solitaire, tebing, atau benda yang berkemungkinan
roboh (rapuh) Memiliki rangka dan kontruksi (bahan) yang kuat
7. Bivac jangan sampai bocor
8. Tidak tergenang air bila hujan
9. Terlindung langsung dari angin

Dalam pembuatan bivak dibutuhkan kerjasama kelompok, buatlah bentuk yang sederhana
sehingga dapat menghemat waktu dan tenaga. Lantai bivak sebaiknya di beri alas dengan daun-
daun kering, atau dengan alat yang di bawa agar tubuh tidak kehilangan panas akibat kontak
langsung dengan tanah.

Apabila memilih gua, kita harus bisa memastikan bahwa tempat ini bukan persembunyian satwa.
Gua yang akan ditinggali juga tak boleh mengandung racun. Cara klasik untuk mengetahui ada
tidaknya racun adalah dengan memakai obor. Kalau obor tetap menyala dalam gua tadi artinya
tak ada racun atau gas berbahaya di sekitarnya.

4.5.5 PERAPIAN

Api sangat berguna dalam Kegiatan Survival, dengan adanya api sedikit banyak membawa
ketenangan bagi moral petualang itu sendiri, adapun manfaat dari perapian antara lain adalah
sebagai berikut ;

1. Menjauhkan binatang buas


2. Sebagai penghangat badan
3. Memasak
4. Penerangan
5. Membuat sinyal darurat
6. Dan lainnya

Untuk membuat perapian di butuhkan tiga unsur, yaitu :

4.5.5.1 BAHAN BAKAR


Kayu kering dan tidak bergabus sangat baik untuk membuat perapian, kumpulkan ranting dan
kayu kemudian potong dan di belah. Jika hanya menemukan kayu lembab, maka buanglah
kulitnya dan iris tipis membentuk serpihan. Susunlah kayu bakar dari mulai ukuran yang terkecil
hingga ukuran yang besar.

Getah damar yang mengandung terpentin dapat di gunakan sebagai bahan bakar pemicu
demikian pula jika ada lilin, parafin, kain atau bahan lainnya yang mudah terbakar.

4.5.5.2 UDARA

Dalam proses pembakaran membutuhkan udara, maka susunan kayunya jangan terlalu rapat agar
sirkulasi cukup. Sususnan ini dapat membentuk piramida atau kerucut.

4.5.5.3 SUMBER PANAS

1. Berasal dari korek api.


2. Sinar matahari yang di fokuskan melalui lensa cembung atau kaca pembesar.
3. Gesekan bambu dengan bambu.
4. Gesekan busur dengan gurdi.
5. Benturan golok atau pisau baja pada batu.
6. Dari alat lain, seperti batu pemantik tau fire starter yang ada pada survival kit.

Membuat perapian membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Tentukan lokasi perapian yang
aman dan perhatikan arah angin sehingga asap yang di timbulkan tidak mengganggu. Hematlah
korek api karena membuat perapian tanpa korek api sangatlah sulit. Jagalah api yang sedang
menyala dan matikan apabila akan meninggalkan lokasi.

4.5.6 MAKANAN

Manusia membutuhkan makanan untuk kelangsungan metabolisme dalam tubuh, kebutuhan


makanan ini bersumber dari tumbuhan atau hewan. Ketersediaan makanan sangat tergantung
pada kondisi lingkungan dan kemampuan untuk memanfaatkan jenis tumbuhan dan hewan dalam
keadaan survival. Dalam pengusahaan dan pengaturan makanan yang perlu di perhatikan adalah
fungsi untuk tubuh. Makanan yang baik adalah makanan yang banyak mengandung karbohidrat,
hindarilah makanan yang kering, banyak pati, banyak bumbu dan daging apabila persediaan air
terbatas.

Seorang Survivor bisa bertahan cukup lama tanpa makanan maksimal sekitar 2-3 minggu, hal ini
jika dibandingkan dengan tidak ada air sama sekali. Meskipun tidak melakukan kegiatan apapun,
dalam 1 jam tubuh kita membutuhkan 70 kalori untuk menjaga metabolisme tubuh, dalam 24
jam = 1680 kalori. Untuk sekedar mengganjal perut selama dalam perjalanan seorang Survivor
bisa makan tumbuhan/makanan apa saja, selama tumbuhan/makanan tersebut aman untuk
dikonsumsi.

Dari macam-macam makanan dikategorikan menjadi 3, yaitu lemak, protein dan karbohidrat,
dimana 1 gr karbohidrat = 4 kal, 1 gr protein = 4 kal, dan 1 gr lemak = 9 kal.
Untuk memanfaatkan bahan yang tersedia kita perlu Memasak agar bahan makanan baik itu dari
hewan ataupun tumbuhan dapat kita makan tanpa menyebabkan keracunan. Jadi bahan makanan
yang tersedia di alam (natural food) bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Tujuan Memasak :

1. Sterilisasi bahan makanan


2. Membuat bahan makanan mudah dimakan dan dicerna
3. Menambah kenikmatan rasa

Pertolongan pertama untuk keracunan akibat makanan bisa menggunakan air garam,
minyak kelapa, dan susu.

4.6 BOTANI DAN ZOOLOGI PRAKTIS

Keanekaragaman jenis tumbuhan dan hewan di Indonesia sehingga pengenalan dan pemilihan
jenis yang dapat di makan dan sebagai obat perlu di ketahui, sebab ada beberapa jenis tumbuhan
yang beracun dan ada beberapa jenis hewan yang berbisa sehingga kesalahan memilih dapat
berakibat fatal. Demikian pula apabila memakan satu jenis tumbuhan atau hewan, tidak semua
bagian dapat di makan selain rasa dan kandungan nutrisi, tetapi adapula bagian dari tumbuhan
atau hewan tertentu yang mengandung racun.

4.6.1 BOTANI PRAKTIS

4.6.1.1 MENCARI MAKANAN DAN TES TERHADAP TUMBUHAN BARU

Bagian yang dapat dimakan dan memberikan cukup energy adalah umbi, umbi batang dan umbi
akar, buah biji dan daun.

A. Ciri-ciri tumbuhan yang dapat dimakan


1. Bagian tumbuhan yang masih muda (Pucuk/Tunas) Tumbuhan yang tidak mengandung getah
Tumbuhan yang tidak berbau
2. Tumbuhan yang tidak berbau kurang sedap
3. Tumbuhan yang dimakan oleh hewan mamalia

B. Langkah-langkah yang perlu dilakukan apabila akan memakan tumbuhan

1. Makan tumbuhan yang sudah dikenal


2. Makan tumbuhan jangan satu jenis tumbuhan saja
3. Perhatikan apakah hewan sekitarnya dapat memakan tumbuhan tersebut atau tidak
4. Hindari dan berhati-hatilah pada tumbuhan atau buah-buahan yang berwarna mencolok
5. Hindari tumbuhan yang mengeluarkan getah berwarna putih/getah seperti sabun
6. Hindari tumbuhan yang rasanya tidak enak (Pahit dan Asam)
7. Hindari tumbuhan yang solitaire (berdiri sendiri)
8. Hindari tumbuhan yang daun atau batangnya berduri dan berbulu
9. Tumbuhan yang akan dimakan dicoba dulu dengan mengoleskan pada tangan atau dicicipi
terlebih dahulu dengan dioleskan pada bibir dan lidah, tunggu minimal 5 menit kemudian apabila
terasa gatal dan menyengat, sebaiknya tumbuhan tersebut jangan dimakan
10. Apabila pemeriksaan atau pengenalan awal dirasa cukup aman, maka cicipi dulu setiap
bahan makanan yang didapat sedikit demi sedikit.
11. Berhati-hatilah terhadap biji-bijian yang berwarna merah/merah tua.
12. Tunggu 5 jam setelah mengkonsumsi tumbuhan yang baru dikenal, jangan makan dan
minum yang lain.

4.6.1.2 JENIS TUMBUHAN YANG DAPAT DI MAKAN

1. a. Umbi talas (colocasia sp), rumput teki (cyperus rotundus) uwi atau gadung (dioscorea
hispida) dan ganyong (canna hibrida).
2. b. Buah senggani atau harendong (melastoma polyantum), arbei hutan (rubus sp),
markisa atau konyal (passiflora quadrangularis) dan ceplukan (physalis angulata).
3. c. Biji muda sengon (albijia laphonta) dan kaliandra (caliandra cathartica).
4. d. Daun muda pakutiang (alsophila glauca), rasamala (altingea excesa), selada air
(nasturtium officinale), pohpohan atau banyon (pilea melastomoides), sintrong (ghynura
arrantiaca) dan antanan atau gagan atau kaki kuda (centela aciatica), daun muda cantigi
(vaccinnum variangiae folium).
5. e. Umbut pakutiang, batang muda ketebon (genostegia hirta), umbut palem hutan (fam ;
palmae), batang daun begonia (begonia sp), rebung bambu (bambosa sp)
6. f. Bunga honje dan kecombrang (nicolaria sp) dan bunga turi (sesbania glandiflora),
pisang hutan (musa sp) yang dapat dimakan : buah, jantung, batang bagian dalam dan
bongkol pisang muda.
7. g. Jenis jamur hutan yang dapat dimakan dan mengandung protein tinggi yaitu : jamur
kuping (airucularia judae) dan jamur hitam (pleuretus ostratus). Hati-hatilah jika
memakan jamur, karena ban.
8. h. Jenis jamur hutan yang dapat dimakan dan mengandung protein tinggi yaitu : jamur
kuping (airucularia judae) dan jamur hitam (pleuretus ostratus). Hati-hatilah jika
memakan jamur, karena banyak yang beracun dan bila tidak mengenal lebih baik
dihindari.

4.6.1.3 MANFAAT LAIN TUMBUHAN HUTAN

Dalam keadaan survival dimana seseorang dihadapkan pada kondisi sulit, dapat memanfatkan
tumbuhan selain untuk makanan dapat pula sebagai obat, bahan bakar, untuk membuat tempat
berlindung dan tempat mencari air.

A. Dapat Dimakan Atau Diminum

1. Brotowali (Anamitra Cocculus), tumbuhannya merayap, terdapat dihutan, dikampung.


Batangnya direbus, rasanya pahit.
Digunakan untuk anti demam, anti malaria, pembersih luka dan bisa juga digunakan untuk
penambah nafsu makan.

2. Keji Beling/Ngokilo (strobilateses), tumbuhan semak yang bisa dijumpai di hutan.


Daunnya dimasak untuk obat sakit pinggang dan infeksi/keracunan pada pencernaan.
3. Sembung/Sembung Manis (Blumen Balsmifira), jenis rumput-rumputan yang bisa
dijumpai di padang rumput yang banyak anginnya. Daunnya diseduh dengan air panas,
digunakan untuk sakit panas (demam) dan sakit perut.
4. Lumut hati (marchantia polymorpha), bisa dimakan dapat sebagai obat hepatitis (penyakit
hati).
5. Antanan atau gagan atau kaki kuda, daunnya bisa dimakan atau dilalap. Sebagai obat
sakit perut, batuk, asma dan sariawan.
6. Kaliandra daun dan biji mudanya sebagai obat sariawan.
7. Sembung manis (blumea balsmifera), jenis tumbuhan herba yang daunnya dapat
digunakan sakit panas dan sakit perut.

B. Tumbuhan Obat Untuk Luka Luar


1. Getah Pohon Kamboja, untuk menghilangkan Bengkak. Gosok getah pada bagian tubuh
yang bengkak biarkan 24 jam kemudian bersihkan dengan minyak kelapa lalu air hangat, bisa
juga untuk terkilir.
2. Air rebusan Brotowali untuk mencuci luka, juga air Batang Randu (Kapuk Hutan).
3. Daun Sambiloto ditumbuk halus untuk anti sengatan kalajengking.
4. Kiurat (plantago major), daunnya untuk obat luar seperti luka dan salah urat (keseleo).
5. Nampong (leonitis nepetifolia), daunnya dihaluskan untuk obat luka.
6. Getah kamboja (plumuiera alba), untuk menghilangkan bengkak.

Masih banyak lagi tumbuhan obat yang berasal dari hutan tetapi untuk penggunaannya harus
dicampur dan diolah bersama jenis tumbuhan lainnya sehingga menjadi jamu untuk mengobati
sakit tertentu.

C. Tumbuhan Beracun

Beberapa jenis tumbuhan yang berpengaruh buruk terhadap manusia jika dimakan maupun
melalui kontak langsung dengan kulit. Jenis tumbuhan ini kebanyakan mempunyai karakteristik
tersendiri terlihat dari bentuk morfologis maupun anatominya seperti warna yang menyolok,
berduri, tumbuh menyendiri tanpa jenis tumbuhan lain didekatnya dan mengandung getah
alkohol yang bersifat racun.

Jenis tumbuhan yang berbahaya bila kontak langsung degan kulit, antara lain :

1. 1. Rengas atau ingas (gluta renghas), getahnya dapat menimbulkan iritasi kulit dan
dapat merusak jaringan.
2. 2. Kemadu atau pulus (laportanea stimulans), bulu daunnya bila tersentuh
menyebabkan gatal dan panas.
3. 3. Rarawean atau raweh (mucuna pruirens), kelopak polongnya mempunyai rambut
yang membuat kulit gatal.
4. 4. Aren, buah aren mentah dapat menyebabkan gatal
5. 5. Getah Pohon Paku putih dapat menyebabkan kebutaan
6. 6. Getah Jambu Monyet menyebabkan gatal-gatal

Jenis tumbuhan yang beracun bila dimakan, antara lain :

1. Jarak (jatropha curcas), racun pada bijinya menyebabkan muntah, buang air besar dan
kepala pusing.
2. Pangi atau picung (pangium edule), seluruh pohon mengandung asam yang sangat
beracun.
3. Kecubung (datura metel), daun dan bunganya mengandung atropin yang menyebabkan
halusinasi.
4. Jamur amannita verna, mengandung muskarin yang dapat mematikan hewan maupun
manusia.
5. Jamur pcilocybe ap, mengandung philosibin yang menyebabkan halusinasi
6. Jamur jenis lain yang mengandung racun, amannita muscaria, corprinus sp, hygroporus
miniatus, gomphus bonari, migrolossum rufum.

UNTUK JAMUR YANG TIDAK DIKENAL, KITA ANGGAP SEMUA JAMUR ITU
BERACUN

D. Tumbuhan Berguna Lainnya

1. Tumbuhan penyimpan air : Palm, Bambu, Rotan (calamus sp) dan tali air atau liana, yang
biasa menggantung dari pohon kepohon.
2. Untuk Bahan Bakar : kayu dan ranting kering, getah damar (agates damara) dan getah pinus
(pinus mercusi) yang mengandung Terpentin.
3. Untuk membuat atap bivak : daun anggrek tanah atau cangkok (carculigo capitulata), daun
honje, daun pisang, daun pandan hutan (pandanus furcatus), daun palem hutan, daun aren
(arenga pinnata) dan daun paku sarang burung (asplenium nidus) yang biasa menempel pada
pohon besar.
4. Indikator air bersih : Tespong, Selada Air
5. Pengusir ular dan serangga : Kayu Lemo

4.6.2 ZOOLOGI PRAKTIS

Hewan memiliki tempat (habitat) yang beragam, semakin tinggi permukaan tanah maka jenis
hewan yang ada akan semakin sedikit. Jika tersesat di gunung dan ingin mencari makanan
(hewan) kemungkinan terbesar menemukan hewan bukanlah ke arah puncak gunung melainkan
arah kaki gunung.

Sama halnya dengan prilaku setiap jenis hewan, ada beberapa waktu perubahan prilaku hewan
yang bisa kita manfaatkan untuk menangkap hewan tersebut diantaranya adalah saat musim
kawin, hewan-hewan biasanya kurang peka terhadap sekelilingnya. Saat seperti inilah waktu
yang baik untuk menangkap hewan tersebut.
Adapun waktu perubahan prilaku hewan yang berbahaya bagi kita diantaranya bertelur, saat ular
telah berganti kulit atau saat menjaga telurnya. Pada saat seperti ini hewan biasanya akan
bertambah ganas.

Yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan makanan yang bersumber dari hewan yaitu :

1. Jenis hewan tersebut


2. Tempat hidup atau habitatnya
3. Ukuran tubuhnya
4. Makanannya
5. Pola tingkah laku hewan tersebut

Banyak jenis hewan yang dapat dijadikan bahan makanan dalam keadaan survival, tetapi karena
sifat hewan yang mobile, maka cara mendapatkannya lebih sulit dibandingkan dengan tumbuhan.
Situasi dan kondisi lingkungan juga mempengaruhi sifat dan tingkah laku hewan tersebut. Ada
hewan yang keluar dari tempat persembunyiannya dan mencari makan pada malam hari
(nocturnal), sehingga siang hari sulit ditemukan, ada pula yang keluar siang hari saja (diurnal).

Hampir semua jenis hewan tersebut dapat dimakan tetapi dalam menangkap hewan tersebut
harus berhati-hati karena ada beberapa jenis yang berbahaya dan berbisa dan diperlukan
keterampilan untuk menangkap atau menjerat hewaan tersebut.

Untuk mengetahui jenis, ukuran tubuh dan populasi hewan pada suatu daerah, selain dengan
melihat langsung tetapi juga dengan memperhatikan faeces (kotoran) dan jejak kaki hewan
tersebut.

4.6.2.1 BINATANG BERBAHAYA

Beberapa jenis hewan dapat menimbulkan bahaya bagi manusia salah satu sebabnya adalah
karena merasa terganggu dan dengan alat pembelaan dirinya maka hewan tersebut menyerang.
Ada pula jenis hewan terutama hewan penghisap darah dan karnivora besar yang memanfaatkan
kehadiran manusia sebagai sumber makanannya. Adapun beberapa contoh Binatang yang
berbahaya dan berbisa antara lain:

1. 1. Nyamuk (anopheles sp) merupakan vektor dari bakteri plasmodium malariae.


2. 2. Agas. Sejenis nyamuk yang hidupnya bergerombol di hutan atau rawa. Hewan ini
menyebabkan gatal dan panas.
3. 3. Semut api. Hewan ini hidupnya di atas permukaan tanah merayap diantara gugusan
daun. Gigitannya menyebabkan panas dan perih pada kuit.
4. 4. Harimau (panthera tigris) dan Macan Kumbang (panthera pardus).
5. 5. Lalat dayak / lalat kerbau (besarnya 2 kali lalat biasa) terdapat dihutan
Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya. Bekas gigitannya bengkak dan gatal, bisa
menyebabkan infeksi.
6. 6. Tawon atau Lebah (apis sp), sengatannya beracun, dalam jumlah besar/banyak
dapat mematikan.
7. 7. Kelabang (centripoda) dan Kalajengking (heterometrus yaneus). Bekas
sengatannya sakit, bengkak. Untuk mengurangi rasa sakit dapat dengan ammonia,
tembakau dan sambiloto.
8. 8. Pacet (haemadipsa zeylania) dan lintah (hirudinuria). Menghisap darah, untuk
melepaskannya siram dengan air tembakau. Keduanya mempunyai zat anti beku darah
(anti koagulan)
9. 9. Buaya (crocodillus porosus). Terdapat di muara sungai dan rawa.
10. 10. Ular berbisa : ular Hijjau, ular bakau, ular tanah, ular sendok/kobra, ular belang dll.
Umumnya jenis ular berbisa dapat diketahui dengan melihat bentuk kepala (segi tiga),
leher relatif kecil, terdapat lekukan antara mata dan hidung, mempunyai gigi bisa.

Beberapa cara untuk mengidentifikasi ular :

1. 1. Tidak semua ular berbisa kepalanya berbentuk segitiga, tetapi ular yang kepala
segitiga adalah ular berbisa.

Sisik bawah cloaca ular berbisa membentuk lempengan tunggal, sedangkan pada ular tak berbisa
membentuk lempengan membelah.

1. 2. Pada bagian punggungnya berlunas sehingga membentuk garis punggung mulai dari
belakang kepala sampai ekor.
2. 3. Mempunyai kelenjar dan gigi bisa pada bagian kepala.

Gigitan ular berbisa dapat berakibat fatal dan dapat menyebabkan kematian. Hindarilah jika
menjumpai ular berbisa, apabila terpaksa untuk memanfaatkan ular berbisa sebagai bahan
makanan, maka langsung saja dibunuh dengan menggunakan alat dan jangan berusaha untuk
menangkapnya. Hal ini untuk menjaga kemungkinan buruk akibat ular tersebut.

4.6.2.2 BINATANG YANG BERGUNA

1. Mullusca. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah berbagai macam siput dan kerang
(bivalvia). Siput umumnya hidup di semak dalam hutan, sedangkan kerang umumnya
hidup di saluran-saluran air atau terbenam dalam lumpur.
2. Annelida. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah cacing (pherentima sp). Cacing
dapat diperoleh dengan cara menggali tanah atau di sarang burung pada batang pohon.
Cacing yang mempunyai ukuran cukup besar adalah cacing sondari. Jika akan
dimanfaatkan, isi perut cacing dibersihkan dahulu.
3. Insecta. Jenis serangga yang sering dimanfaatkan adalah jenis belalang karena ini mudah
dijumpai didaerah berumput. Di beberapa tempat juga dijumpai ulat serangga yang
mengandung protein cukup tinggi seperti ulat sagu dan ulat jati.
4. Crustacea. Yang termasuk jenis ini adalah udang dan kepiting. Hewan ini dapat dijumpai
pada aliran airyang mengalir di pegunungan, terutama daerah pinggiran sungai yang
berbatu.
5. Pisces. Sama halnya dengan udang, ikan juga sering dijumpai didaerah aliran air di
pegunungan, sungai dan danau karena air merupakan habitat ikan.
6. Amphibia. Banyak dijumpai didekat aliran air di hutan terutama pada malam hari karena
katak bersifat nocturnal. Katak yang bisasa dimakan jenis (rana sp). Di hutan kalimantan,
sumatera, sulawesi banyak ditemui jenis (rana macrodont) yang merupakan jenis
katakterbesar yang bisa dimakan.
7. Reptilia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah ular, kadal, cicak, dan sebagainya.
Di daerah hutan tertentu merupakan hunnian ular besar seperti ular sanca (phiton
reticulates). Disamping berbahaya karena lilitannya yang kuat, ular sanca tidak berbisa
dan dapat dimakan, tetapi bagian kepala dan isi perutnya harus dibuang karena pada
bagian kepala terdapat kelenjar bisa.
8. Mamalia. Yang termasuk kelompok ini adalah kelinci, rusa, tikus dan sebagainya. Untuk
mendapatkan hewan ini cukup sulit karena geraknya lincah sehingga dibutuhkan jerat
untuk menangkapnya.
9. Aves (burung). Yang termasuk kelompok ini adalah ayam hutan (gallus gallus) yang
dapat dijerat, sedangkan jenis burung lainnya lebih sulit didapat karena kemampuan
terbangnya.

Hampir semua mamalia dan burung dapat dimakan dagingnya, Ular, kadal, kura-kura dapat
dimakan. Lebah bisa diambil madu dan larvanya.

4.6.2.3 MENGATASI GANGGUAN BINATANG

1. Nyamuk : Bunga kluwih yang dibakar, kulit jeruk, membakar kain kemudian dimatikan
sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk, oleskan sedikit garam pada bekas gigitan
nyamuk
2. Disengat Lebah : oleskan air bawang merah pada luka bekas sengatan berkali-kali,
tempelkan tanah basah/liat diatas luka sengatan, jangan dipijit, tempelkan pecahan
genting panas diatas luka, olesi dengan vetsin untuk mencegah pembengkakan
3. Gigitan Lintah : Teteskan air tembakau, garam atau sari jeruk mentah pada lintahnya.
Untuk membuang atau mengangkat lintah upayakan dengan patahan kayu hidup yang ada
kambiumnya.

4.7 JERAT / TRAP

Jerat atau Trap ( jebakan ) akan sangat berguna untuk mendapatkan binatang yang akan dijadikan
sebagai bahan makanan dalam keadaan Survival. Berikut ini adalah teknik yang dapat anda
gunakan dalam berburu binatang ( lihat di Bab Gambar ), antara lain :

1. Mengikuti jejaknya ( bekas makan, kotoran, bau dan suara )


2. Mengikuti jalur hewan
3. Membuat trap ( jebakan ) di jalur hewan
4. Kalau di gunung, di puncak tidak ada binatang.

4.8 SURVIVAL KITS

Agar Survivor tidak mengalami kesulitan dalam melaksanakan Survival, perlu dilengkapi alat-
alat Survival yang memadai.
4.8.1 JUNGLE SURVIVAL KITS (PRO)

1. 2 Buah Senjata Tajam *contoh ; Bayonet dan Parang


2. Waterproof Matches (Korek Api Anti Air)
3. Batu Api / Geretan
4. Lilin atau Parafin
5. Peralatan Navigasi Darat
6. Poncho / Jas Hujan / Raincoat
7. Jarum, Peniti, kancing, Benang dan jarumnya
8. Benang Sol dengan Jarumnya
9. Tali Temali

10. Kail dan Senar

11. Flash Light (Senter)

12. Peluit

13. Cermin Kecil

14. Obat Pribadi

15. Alat Kosmetik / Sunblock (Penangkal Panas)

16. Topi Rimba

17. Sarung Tangan

18. Tablet Garam, Norit

19. Kantung Plastik (Besar Maupun Kecil)

20. Kantung / Botol Tempat Air Atau Kondom

4.8.2 JUNGLE SURVIVAL KITS (MINI)

1. Senjata Tajam *contoh ; Parang


2. Korek Api
3. Lilin dan Atau Parafin
4. Peralatan Navigasi Darat
5. Poncho / Jas Hujan / Raincoat
6. Jarum, Peniti, kancing, Benang dan jarum
7. Benang Sol dengan Jarumnya
8. Mini Flash Light / Flash Light (Senter)
9. Peluit
10. Obat Pribadi

11. Kantung / Botol Tempat Air Atau Kondom

* Benda yang ditulis dengan huruf tebal berarti benda tersebut sangat penting dalam Kegiatan
Survival.

* Untuk Survival Kits hendaknya disesuaikan dengan lingkungan atau medan yang di tempuh
agar kita bisa mengefisiensikan kegunaan atau kapasitas tempat dimana kita akan membawa
Survival Kits tersebut.
RASI BINTANG SEBAGAI PENUNJUK ARAH

A. RASI BINTANG PARI :

Rasi Bintang Pari/Crux Arah Selatan

Rasi bintang yang bisa ditemukan dan bisa dilihat di langit adalah rasi bintang pari/crux. Rasi
bintang ini berbentuk pari/layang-layang/salib dan bisa kita lihat pada langit malam dengan arah
agak ke selatan. Rasi bintang ini terdiri dari empat bintang utama dan satu bintang bantu. Empat
bintang utama membentuk layang-layang. Untuk mengetahui arah utaranya, perhatikan arah
yang ditunjukan oleh posisi tiga buah bintang utama yang terdekat. Sedangkan satu utama yang
terjauh menunjukan selatan. Yah, salah satu fungsi rasi bintang juga adalah sebagai petunjuk
arah pada malam hari kalo tiba-tiba kita kehilangan arah. Pada setiap rasi bintang, ada satu
bintang yang paling terang, dan biasanya dalam peta rasi bintang diberi simbol .

B. RASI BINTANG ORION/WALUKU

Rasi Bintang Orion/Pemburu arah barat petunjuk musim bercocok tanam

Rasi bintang kedua yang bisa ditemukan sendiri di langit, tentunya setelah liat peta rasi bintang
adalah rasi bintang orion/pemburu. Rasi bintang ini dapat dilihat di langit sebelah barat. Tiga
buah bintang di atas membentuk kepala, yang menunjukan arah utara. Dan arah yang
ditunjukan pedang adalah menunjuk arah selatan. Dinamai Orion, yang artinya adalah
pemburu, rasi bintang ini didedikasikan bagi Orion, putera Neptune, seorang pemburu terbaik di
dunia. Orion ini mudah dikenali dengan adanya 3 bintang kembar yang berjajar membentuk
sabuk Orion (Orion Belt). Satu lagi yang menarik bagi di rasi orion ini adalah adanya bintang
Bellatrix dan Betelgeuse pada konstelasinya. Bellatrix identik dengan tokoh dalam Harry Potter,
sedangkan Betelgeuse adalah salah satu judul film anak2 waktu dulu. Ternyata kedua nama itu
adalah nama bintang, termasuk Sirius, Remus, Regulus, dan lain-lain dalam dunia perfilman.
Selain sebagai petunjuk arah barat, rasi bintang orion / waluku ini dalam bahasa Indonesia sering
dijadikan sebagai tanda bagi para petani jaman dulu untuk mulai menggarap sawah dan
ladangnya.

C. RASI BINTANG GREAT BEAR/BIDUK

Rasi Bintang Biduk/Great Bear arah utara


Rasi Bintang ketiga yang mungkin paling populer dan dapat dikenali, menjadi petunjuk arah
utara adalah rasi bintang Biduk/Great Bear/Beruang besar yang menunjukkan arah utara.
Bentuknya seperti gayung, dan terdiri dari 7 buah bintang, karena itu juga terkadang rasi bintang
ini disebut sebagai konstelasi bintang tujuh. Keistimeawan bintang ini, sekalipun gugusan
bintang lainnya berputar di langit pada malam hari, tetapi bintang kutub tetap berada di utara.
Rasi bintang ini terlihat sepanjang tahun di langit utara.

D. RASI BINTANG SCORPIO

Rasi Bintang Scorpio

Rasi bintang keempat yang bisa dikenali dan menjadi petunjuk arah adalah rasi bintang scorpio.
Rasi bintang satu ini agak susah dicari, karena jumlah bintang yang membentuk konstelasinya
cukup banyak. Rasi Scorpio ini menjadi petunjuk arah tenggara/timur langit. Dalam mitologi
yunani kuno, Scorpio ini adalah utusan Apollo untuk membunuh sang Pemburu, Orion. Pada
konstelasi ini juga terdapat bintang Antares, salah satu bintang paling terang yang pernah
ditemukan.

BAB 2

TEKNIK DASAR NAVIGASI DARAT

PENDAHULUAN
Sebagai penggiat kegiatan alam bebas, pengetahuan tentang medan merupakan sebuah modal
yang harus dimiliki. Pengetahuan penguasaan medan akan mempermudah kita untuk mencapai
tujuan dan target tertentu dalam berkegiatan di alam bebas. Selain itu penguasaan medan ini juga
dapat berguna dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Untuk pelaksanaan tugas SAR, evakuasi,
dll. Pengetahuan tentang medan ini antara lain meliputi survival, teknik hidup di alam bebas, dan
navigasi darat. Selain mungkin ada bebarapa materi pendukung seperti perencanaan perjalanan,
kesehatan perjalanan, komunikasi lapangan, pengetahuan geologi, pengetahuan lingkungan, dll.
Navigasi darat adalah ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering berlatih.
Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika
mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi. Bahkan
seorang jago navigasi yang tidak pernah berlatih dalam jangka waktu lama, dapat mengurangi
kepekaannya dalam menerjemahkan tanda-tanda di peta ke medan sebenarnya, atau
menerjemahkan tanda-tanda medan ke dalam peta. Untuk itu, latihan sesering mungkin akan
membantu kita untuk dapat mengasah kepekaan, dan pada akhirnya navigasi darat yang telah kita
pelajari menjadi bermanfaat untuk kita dan orang lain.

DEFINISI
Navigasi Darat adalah suatu tekhnik untuk menentukan kedudukan suatu tempat dan arah
lintasan perjalanan secara tepat baik di medan sebenarnya maupun pada peta, ssedangkan
personil yang menggunakannya disebut NAVIGATOR. Berkaitan dengan pengertian tersebut,
pemahaman tentang kompas dan peta serta cara penggunaannya mutlak harus dikuasai.
Pada prinsipnya navigasi adalah cara menentukan arah dan posisi, yaitu arah yang akan dituju
dan posisi keberadaan navigator berada di medan sebenarnya yang diproyeksikan pada peta.
Kunci pemahaman navigasi hanya 2 macam, yaitu :
1. Mampu merekam dan membaca gambar permukaan fisik bumi
2. Mampu menggunakan peralatan pedoman arah.
Alat yang diperlukan untuk melakukan Navigasi Darat, antara lain :
Peta Kompas Altimeter Protaktor Alat Tulis Penggaris.

I. PETA

A. PENGERTIAN
Peta merupakan penggambaran dua dimensi sebagian atau seluruh permukaan fisik bumi pada
bidang datar dari yang dilihat dari atas, dan diperkecil atau diperbesar dengan perbandingan
tertentu yang disebut kedar / skala.
Peta yang diperlukan untuk keperluan navigasi darat adalah peta topografi atau peta rupa bumi
atau peta kontur dengan skala sedang. Peta topografi memetakan tempat-tempat di permukaan
bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis-garis kontur, dengan
satu garis kontur mewakili satu titik ketinggian.
Di Indonesia, peta yang lazim digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, lalu
peta dari Jawatan Topologi, yang sering disebut sebagai peta AMS (American Map Service)
dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960. Peta AMS biasanya berskala
1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran
Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala
1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5 m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya
berwarna.

B. JENIS-JENIS PETA
Dengan kemajuan teknologi, seluruh wujud fisik muka bumi ini dapat kita pelajari dengan
seksama dari peta sesuai dengan banyaknya data dan informasi yang disajikan (berdasarkan luas
daerah yang tergambar) maka peta dapat dibedakan menurut :

1. INFORMASI
Menurut informasi atau isinya peta dibedakan menjadi :
A. Peta Geografis
Peta Geografis (Geo=Bumi, Grafos=Catatan) menyajikan gambaran dari seluruh permukaan fisik
bumi ini, seperti Atlas Globe.
B. Peta Topografi
Menyajikan gambaran-gambaran proyeksi dari bagian-bagian permukaan bumi, seperti peta
Indonesia, peta G.Burangrang. Peta ini berskala 1:25000 1:250000.
C. Peta Tekhnis
Menyajikan gambaran proyeksi permukaan fisik bumi unntuk menunjang kebutuhan-kebutuhan
tekhnik tertentu, seperti peta tekhnis jaringa jalan raya, jaringan rel KA. Peta ini berskala antara
1:25000.
D. Peta Tematik
Menyajikan data dan informasi yang mempunyai tema (topik) tertentu sehubungan dengan
kedudukan geografi-nya, sebagai contoh peta distribusi peluru kendali AS, peta kepadatan
penduduk di Indonesia, peta lahan pertanian.
E. Foto Udara
Peta yang memberikan gambaran yang aktual dari permukaan bumi.

2. SKALA

Penggolongan peta berdasarkan skala ini dibedakan menjadi peta skala besar, skala menengah
dan skala kecil, yaitu sebagai berikut :
A. Peta Skala Besar ( 1 : 1.000 s/d 1 : 25.000 )
B. Peta Skala Sedang ( 1 : 25.000 s/d 1 : 50.000 )
C. Peta Skala Kecil ( 1 : 50.000 s/d 1: 500.000 atau lebih kecil lagi )

3. TUJUAN dan PENGGUNAAN PETA

- Untuk tujuan militer, contoh : peta strategis 1 : 500.000, peta taktis 1 : 25.000, peta penerjunan
1 : 10.000 dan lain sebagainya
Untuk tujuan pembangunan, contoh : peta pengenalan wilayah, peta pra-rencana, peta rencana,
peta studi kelayakan dan lain-lain.

4. LUAS DAERAH

Menurut luas cakupan daerah yang dipetakan, contoh : peta Desa, peta kecamatan, peta
kabupaten, dsb.

5. PROYEKSI

Proyeksi peta adalah suatu teknik pemindahan gambar peta ke berbagai macam bentuk peta.
Proyeksi yang biasa digunakan, contoh peta Proyeksi Polieder (terbitan Jantop Hindia Belanda),
peta Proyeksi LCO (Lambert Conical Ortomorfik) terbitan sekutu, peta Proyeksi UTM
(Universal Tranfer Mercator) atau sistem perpetaan yang digunakan secara Internasional dan
peta Proyeksi lainnya.
C. BAGIAN-BAGIAN PETA

1. JUDUL PETA

Merupakan lokasi yang ditunjukkan oleh peta bersangkutan. Judul peta tertera di bagian atas
tengah peta.

2. NOMOR PETA

Nomor peta merupakan nomor registrasi dari badan pembuat peta. Selain itu juga sebagai
petunjuk apabila kita memerlukan peta daerah lain di sekitar daerah yang dipetakan tersebut.
Nomor peta terdapat di sebelah kanan atas peta. Elemen pokok untuk mengidentifikasi peta
adalah :
A. Nomor Seri Peta
B. Nomor Lembar Peta
C. Keterangan Edisi
Peta topografi di Indonesia, nomor seri peta dan lembar peta merupakan satu bagian dengan
judul peta. Nomor seri peta merupakan identitas untuk daerah dan skala peta. Nomor edisi
merupakan identitas kemutakhiran dari informasi yang disajikan pada peta.

3. TAHUN PETA

Menunjukkan tentang tahun pembuatan peta tersebut. Semakin baru tahun peta, maka data pada
peta tersebut semakin akurat.

4. LEGENDA PETA

Memuat keterangan-keterangan pada peta yang berupa symbol / tanda, misalnya jalan, sungai,
pemukiman, dll.

5. KARVAK

Yaitu Daerah tertentu di peta yang dibagi menjadi bagian berupa bujur sangkar.
Caranya :
1. Dua angka terakhir yang berada disebelah barat / kiri dari daerah / titik yang dimaksud
2. Dua angka terakhir yang berada di debelah selatan / bawah dari daerah atau titik yang
dimaksud
3. Lembaran Peta selalu disebutkan lebih dahulu, diberi garis pemisah ( garis penghubung ),
selanjutnya disebut bujur sangkar / KARVAK.

6. ARAH UTARA

I. Utara sebenarnya/True North : Arah utara yang ditunjukkan oleh garis meridian dan menuju ke
kutub utara, atau pertemuan garis-garis meridian yang terdapat di kutub utara atau titik poros
bumi.
II. Utara Magnetis/Magnetic North : Yaitu arah utara yang ditunjukkan oleh garis tangah jarum
kompas, dan tujuannya ke kutub magnetis bumi, yaitu di pulau Ellesmere, Canada, daerah
Greenland dan adanya hanya di kompas.

III. Utara Peta/Map North : Arah utara yang terdapat pada peta. Yaitu arah utara yang ditujukkan
oleh garis tegak pada peta dan adanya hanya di peta.

7. KOORDINAT

Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Secara teori, koordinat merupakan titik
pertemuan antara absis dan ordinat. Dalam menentukan Koordinat dilakukan diatas Peta dan
bukan dilapangan. Penunjukannya dengan system Koordinat 6 atau 8 angka.
Peta Topografi selalu dibagi dalam kotak-kotak (karvak) untuk membantu menentukan posisi
dipeta dalam hitungan koordinat. Untuk daerah yang luas dipakai penomoran 6 angka, dan untuk
daerah yang lebih sempit dengan penomoran 8 angka. Koordinat ditentukan dengan sistem
sumbu yaitu garis-garis yang saling berpotongan tegak lurus (garis bujur dan lintang).

Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu :

1. Koordinat Geografis (Geographical Coordinate)


Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan
garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis
khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit, detik dan second. Pada
peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada
peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3,71 cm. Pada skala
1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak
sama dengan 1 menit (60).

2. Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM)


sering disebut koordinat peta. Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam
ukuran jarak setiap titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat
Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan
horizontal dari barat ke timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8
angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2
cm pada Peta 1 : 50.000 dan 4 cm pada Peta 1 : 25.000. Karena itu untuk penentuan koordinat
koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu
karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat
grid 8 angka dibagi menjadi sepuluh bagian (per 1 mm).
Dalam menunjukkan koordinat, disebutkan dari barat ke timur dan dari selatan ke utara, atau
dengan kata lain garis tegak dan garis datar, cara menyebutkannya :
1. Sebut dahulu OBJEK
2. Sebutkan NOMOR LEMBAR PETA
3. Kemudian sebutkan KOORDINAT

5. SKALA PETA
Adalah perbandingan jarak antara 2 titik di peta dengan jarak mendatar (horizontal) antara 2 titik
yang serupa di medan sebenarnya.

Rumus Dasarnya
Jarak Peta x Skala = Jarak Mendatar

Sifat Skala
semakin besar angka dibelakang tanda ( : ), makin Kecil skala petanya.
semakin kecil angka dibelakang tanda ( : ), makin Besar skala petanya.

Macam-macam Skala :

A. Skala Angka / Skala Pecahan


Contohnya seperti 1 : 1000 yang berarti 1 cm di peta sama dengan 1000 cm jarak aslinya di
dunia nyata.

B. Skala Satuan
Misalnya seperti 1 inchi to 5 miles dengan arti 1 inch di peta adalah sama dengan 5 mil pada
jarak sebenarnya.

C. Skala Garis
Skala garis menampilkan suatu garis dengan beberapa satuan jarak yang menyatakan suatu jarak
pada tiap satuan jarak yang ada. Skala ini dibuat dalam bentuk garis horisontal yang memiliki
panjang tertentu dan tiap ruas berukuran 1 cm/lebih untuk mewakili jarak tertentu yang
diinginkan oleh pembuat peta.

Menyatakan skala
Dengan perkataan : 1 cm = 500 m
Dengan perbandingan : 1 : 50000
Dengan pecahan : 1 / 50000

7. CONTOUR GARIS KETINGGIAN

Merupakan Garis Khayal di atas permukaan tanah yang menghubungkan titik-titik yang sama
tingginya dan biasanya berkelok-kelok serta tertutup, atau garis yang menghubungkan titik titik
ketinggian yang sama dari permukaan laut dan digambarkan dengan warna Coklat di atas Peta
(pada peta berwarna).
Dalam membaca Garis Ketinggian, yang perlu diperhatikan adalah mengetahui Sifat Sifat dari
Garis Ketinggian.

Macam-macam Garis Ketinggian antara lain :


1. Garis Ketinggian yang digambarkan Tipis.
2. Garis Ketinggian yang digambarkan Tebal
3. Garis Ketinggian yang digambarkan Terputus-Putus.
Maksud adanya garis ketinggian, yaitu :
1. untuk mengetahui tinggi suatu tempat dari permukaan air laut
2. untuk mengetahui bentuk medan yang sebenarnya.

Sifat Sifat dari Garis Ketinggian

1. Garis Ketinggian satu dengan yang lainnya tidak saling berpotongan dan tidak bercabang.
2. Garis ketinggian pertama telah mempunyai harga yang paling tinggi (puncak).
3. Garis ketinggian yang lebih rendah selalu mengelilingi garis ketinggian yang lebih tinggi,
kecuali daerah depresi / cekungan yang diberi keterangan secara khusus, misalnya kawah, danau,
dll.
4. Untuk daerah yang Landai, Garis Ketinggian akan saling berjauhan, sedangkan daerah Terjal
mempunyai Contour yang saling berdekatan / rapat.
5. Garis ketinggian berbentuk U yang ujungnya melengkung menjauhi puncak merupakan
Punggungan
6. Garis ketinggian yang berbentuk n yang ujungnya tajam menjorok mendekati kepuncak
merupakan Lembahan. Kontur lembahan biasanya rapat dan terdapat sungai.
7. Pelana / Saddle, daerah lembah tidak terlalu dalam (landai), rendah dan sempit diantara dua
garis ketinggian yang sama tingginya, tetapi terpisah antara satu dengan lainnya. Pelana yang
terdapat diantara 2 gunung besar, disebut Pass.
8. Coll, daerah lembah yang dalam diantara 2 titik ketinggian.
9. Garis ketinggian ke-sepuluh (10) digambarkan lebih tebal, kecuali ditentukan lain.
10. Sungai, terlihat dipeta sebagai garis yang memotong rangkaian kontur, biasanya ada di
lembahan, dan namanya tertera mengikuti alur sungai. Dalam membaca alur sungai ini harap
diperhatikan lembahan curam, kelokan-kelokan dan arah aliran.
11. Bila peta daerah pantai, muara sungai merupakan tanda medan yang sangat jelas, begitu pula
pulau-pulau kecil, tanjung dan teluk .
12. Interval garis kontur adalah skala : 2000

NB: ketentuan lain tersebut terdapat pada legenda peta

8. TITIK TRIANGULASI

Selain dari garis garis ketinggian kita dapat pula mengetahui tingginya suatu tempat dengan
pertolongan titik ketinggian. Titik ketinggian ini biasanya dinamakan Titik Triangulasi.
Titik Triangulasi adalah suatu titik atau tanda merupakan Pilar / Tonggak yang menyatakan
Tinggi Mutlak suatu tempat dari permukaan Laut.
Titik Triangulasi ini digunakan oleh Jawatan Topografi untuk menentukan tinggi suatu tempat
atau letak suatu tempat dalam pengukuran secara ilmu pasti pada waktu pembuatan peta.

TINGGI MUTLAK

1. Diukur dari permukaan Laut, merupakan Standarisasi pengukuran


2. Tinggi Mutlak digunakan untuk menentukan Tinggi Sebenarnya dari permukaan Laut.

TINGGI NISBI
Diukur dari tempat dimana benda itu berada, biasanya diukur dari permukaan tanah.

10. IKHTILAF IKHTILAF

Karena pengaruh rotasi bumi, letak Kutub Magnetis bumi bergeser dari tahun ke tahun. Oleh
karena itu, untuk keperluan yang menuntut ketelitian perlu dipertimbangkan adanya deklinasi (
penyimpangan ), diantaranya ikhtilaf peta, ikhtilaf magnetis, ikhtilaf peta magnetis, dan variasi
magnetis.

1. Ikhtilaf Peta
Ialah Sudut yang dibentuk oleh Utara Sebenarnya dengan Utara Peta, baik ke Barat maupun ke
Timur. Yang jadi patokan adalah Utara Sebenarnya.
IP = US + UP

2. Ikhtilaf Magnetis
Ialah Sudut yang dibentuk oleh Utara Sebenarnya dengan Utara Magnetis, baik ke Barat maupun
ke Timur. Yang jadi patokan adalah Utara Sebenarnya.
IM = US + UM

3. Ikhtilaf Utara Peta Utara Magnetis ( Sudut Peta Magnetis )


Merupakan Sudut yang dibentuk oleh Utara Peta dengan Utara Magnetis, baik ke Barat maupun
ke Timur. Yang jadi patokan adalah Utara Peta.
SPM = UP UM

Membaca Peta

Yang terpenting dalam bernavigasi adalah kemampuan membaca peta dan menginterpretasikan /
membayangkan keadaaan medan sebenarnya, yang meliputi kemampuan membaca kontur,
menentukan ketinggian tempat dengan pertolongan titik triangulasi dan kemampuan mengenal
tanda-tanda medan. Pengertian akan tanda medan ini mutlak diperlukan, sebagai asumsi awal
dalam menyusun perencanaan perjalanan.

VARIASI MAGNETIS

Ialah Perbedaan Ikhtilaf Magnetis pada waktu waktu yang berlainan.


Variasi Magnetis pada beberapa tempat tidak sama, variasi magnetis ini ditulis dibagian bawah
Peta Topografi untuk menentukan deklinasi dan Variasi Magnetis untuk Peta Topografi
Indonesia yang baru digambarkan dengan diagram sudut yang terdapat disebelah kiri bawah
Peta.

Disamping itu juga dinyatakan beberapa Variasi Magnetis rata rata tiap tahun. Ada juga
diantaranya yang tidak menggambarkan Ikhtilaf Peta yang ada hanya Ikhtilaf Magnetisnya saja.
Untuk mencari Ikhtilaf Petanya harus dilihat dekat batas kiri / kanan peta tertulis kata- kata
GRID DECLINATION yang artinya sama dengan IKHTILAF PETA.
Kalau GRID DECLINATION tidak ada berarti Utara Peta dengan Utara Sebenarnya sejajar.
INCREASE DECREASE

Bilamana suatu Variasi Magnetis Bertambah sehingga setiap tahunnya makin lama makin
bertambah, maka disebut Increase.

Bilamana suatu Variasi Magnetis berkurang sehingga setiap tahunnya makin lama makin
berkurang, maka disebut Decrease.

SUDUT PETA

Ialah Sudut yang dibentuk oleh 2 buah garis, yaitu satu menuju Utara Peta dan satunya lagi
menuju Sasaran.

CARA MENGUKUR SUDUT PETA

Misalnya kita mengukur Sudut Peta dari titik A ke titik B diatas Peta, dengan cara sebagai
berikut :
Tarik 2 buah garis dari titik A, masing-masing menuju ke arah Utara Peta dan menuju ke arah
Sasaran
Ukur sudutnya dari arah garis yang menuju Utara Peta ke garis yang menuju titik B dengan
menggunakan Busur Derajat / Protractor sesuai dengan arah Perputaran Jam.
Catatan :
0 derajat harus ditempatkan / disimpan paling atas
Jika sudutnya 180 derajat ke arah kiri
Setelah itu baca pada Busur Derajat / Protractor berapa Sudut Petanya atau berapa Skala
Derajatnya

SUDUT PETA = SUDUT KOMPAS (UP.UM)

SUDUT KOMPAS

Ialah Sudut yang dibentuk oleh 2 buah garis, yang satu menuju Utara Magnetis dan satu lagi
menuju Sasaran.

CARA MENGUKUR SUDUT KOMPAS

Menentukan Sudut Kompas dengan Kompas Prisma di suatu medan sbb :


Buka Kompas dan tutupnya tegakkan ke atas
Tutupkan Prisma ke atas Kaca Kompas
Tarik cincin Ibu Jari jauh ke bawah, lalu masukkan Ibu Jari ke dalam cincin dan letakkan jari
telunjuk menekan kotak kompas.
Bawalah atau dekatkan Kompas kedepan mata.
Arahkan Kompas pada Sasaran yang dituju dengan melihat celah melalui bidikan pada prisma,
sejajarkan garis rambut / gari tengah dengan Sasaran
Lalu lihat angka yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk didalam kompas, itulah Sudut Kompas
yang dimaksud.
SUDUT KOMPAS = SUDUT PETA (UP.UM 2013)

II. KOMPAS

A. PENGERTIAN

Merupakan penunjuk arah mata angin dengan ketentuan sudut derajat dari arah utara magnetis
bumi. Kompas yang biasa digunakan untuk keperluan navigasi darat dapat dibedakan menurut
kegunaannya dan menurut cara melihat angka di dalam lingkaran sudutnya.

B. FUNGSI

Kompas adalah alat penunjuk arah yang digunakan untuk mengetahui arah utara magnetis.
Karena sifat kemagnetannya, jarum kompas akan menunjuk arah utara-selatan (jika tidak
dipengaruhi oleh adanya gaya-gaya magnet lainnya selain magnet bumi). Tetapi perlu diingat
bahwa arah yang ditunjuk oleh jarum kompas tersebut adalah arah utara magnet bumi, jadi bukan
arah utara sebenarnya.
Secara fisik, kompas terdiri atas :
a) Badan, yaitu tempat komponen-komponen kompas lainnya berada.
b) Jarum, selalu mengarah ke utara-selatan bagaimanapun posisinya.
c) Skala penunjuk, menunjukkan derajat sistem mata angin.

C. JENIS-JENIS KOMPAS

Berdasarkan kegunaannya ada Kompas Bidik, yaitu kompas yang penggunaannya dikhususkan
untuk menentukan azimuth dengan cara dibidik. Kompas Orienteering, yaitu jenis kompas yang
penggunaannya khusus untuk orientasi peta, tetapi masih bisa digunakan untuk membidik
walaupun kurang tepat (kecuali model-model tertentu).
Berdasarkan cara melihat lingkaran derajatnya, ada Kompas Prisma, Kompas Lensa dan Kompas
Cermin.
Kompas yang baik pada ujungnya dilapisi fosfor agar dapat terlihat dalam keadaan gelap.

D. PEMAKAIAN KOMPAS

Kompas dipakai dengan posisi horizontal sesuai dengan arah garis medan magnet bumi. Dalam
memakai kompas, perlu dijauhkan dari pengaruh benda-benda yang mengandung logam, seperti
pisau, golok, karabiner, jam tangan dan lainnya. Kehadiran benda-benda tersebut akan
mempengaruhi jarum kompas sehingga ketepatannya akan berkurang.
Pada dasarnya cara pengggunaan kompas ditekankan pada urutan-urutan yang benar
menggunakan kompas, yaitu sebagai berikut :
1. Buka bagian penutup (untuk kompas yang ada penutupnya)
2. Jauhkan kompas dari gangguan lokal dan benda-benda yang mengandung medan magnet
3. Pegang / letakkan kompas dengan datar ( horizontal )
4. Bidik sasaran yang dituju dimana celah bidik, garis bidik dan sasaran bidik berada pada satu
garis lurus.
5. Baca / lihat besar sudut dari bagian untuk melihat angka-angka derajat (untuk kompas bidik).
E. BERJALAN MENURUT ARAH KOMPAS

Kadangkala di lapangan kita dituntut untuk melakukan pergerakan menurut arah kompas yang
telah kita tentukan. Pada prinsipnya dalam melakukan pergerakan dengan sasaran bidik yang
telah ditentukan harus kontras dengan keadaan sekitarnya dan sejauh mata memandang, tetapi di
lapangan kita sulit untuk menentukan sasaran bidik yang kontras dengan keadaan sekitarnya,
untuk mengatasinya dengan bantuan teman kita sebagai sasarannya (man to man) dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
Ikuti urutan menggunakan kompas yang benar
Bidik sasaran / tujuan dengan kompas melalui celah bidik
Sejajarkan garis pada permukaan kaca kompas dengan arah utara kompas.
Dengan sejajarnya arah utara kompas dengan garis pada permukaan kaca kompas, maka Arah
celah bidik kompas adalah arah yang kita tuju.

III. ALTIMETER

Altimeter merupakan alat Pengukur Ketinggian yang bisa membantu dalam menentukan posisi.
Pada medan yang bergunung tinggi, resection dengan menggunakan kompas sering tidak banyak
membantu, disini altimeter lebih bermanfaat. Dengan menyusuri punggungan-punggungan yang
mudah dikenali di peta, altimeter akan lebih berperan dalam perjalanan, yang harus diperhatikan
dalam pemakaian altimeter :
setiap altimeter yang dipakai harus dikalibrasi, dengan cara periksa ketelitian altimeter di titik-
titik ketinggian yang pasti. Contohnya di tepi laut atau Stasiun kereta api.
Altimeter sangat peka terhadap guncangan, perubahan cuaca, dan perubahan temperatur.

IV. PROTRACTOR

Protractor adalah alat yang berbentuk persegi empat yang digunakan untuk mempermudah kita
menentukan koordinat dan sudut pada peta.
Biasanya 1 buah protaktor memiliki 3 skala yang berbeda, namun tidak dapat digunakan untuk
membaca koordinat geografis yang di dalamnya terdapat :
Pembagian Derajat
Pembagian Peribuan
Skala Koordinat 1 : 100.000 1 : 50.000 1 : 25.000
Titik Pusat untuk Pembagian Derajat dan Peribuan adalah titik silang pada tengah tengah
Protractor.
Tanda Indeks dan untuk Skala Koordinat adalah Sisi Tegak dan Siku siku segi-tiga

Protractor dapat dipergunakan untuk :


1. Menentukan Sudut Peta
2. Plotting Sudut Peta
3. Plotting Koordinat
4. Menentukan Koordinat

MENGENAL TANDA MEDAN


Kemampuan mengenal tanda medan sangatlah mutlak untuk dikuasai jika kita hendak
melakukan navigasi darat. Tanda-tanda medan dapat dijadikan acuan untuk penentuan lokasi dan
pengenalan medan supaya arah perjalanan tidak melenceng hingga terjadi hal-hal buruk seperti
tersesat. Tanda-tanda medan dapat dikenali dari bentang alam yang ada di sekitar, misalnya
punggungan, puncak bukit, jalan setapak, jalan raya, sungai, tebing, muara, anak sungai,
pemukiman atau daerah tertentu.
Disamping kita mengenal tanda medan / objek di peta, kita juga bisa menggunakan tanda-tanda
medan / objek sebenarnya di lapangan yang mudah dikenali di peta. Beberapa tanda medan dapat
kita baca di peta sebelum kita berangkat menuju lokasi, tapi kemudian kita harus cari tanda
tersebut di lokasi :
Puncak gunung atau bukit, punggungan, lembah diantara dua puncak dan bentuk-bentuk
tonjolan lainnya yang menyolok
Lembah yang curam, jembatan (perpotongan sungai dengan jalan), ujung desa, samping jalan
Bila kita berada di pantai, muara sungai dapat menjadi tanda medan yang sangat jelas, begitu
juga tanjung yang menjorok ke laut, teluk-teluk yang menyolok, pulau-pulau kecil, pemukiman
penduduk dan lain sebagainya.

TEKNIK PETA KOMPAS


Azimuth dan Back Azimuth, Resection, Intersection, Analisa Perjalanan
TAK AKAN LUPUT DARI PETA DAN KOMPAS JIKA ANDA BERADA DI SUATU
TEMPAT

1. TEKNIK PETA KOMPAS

Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (secara praktis
menyamakan utara peta dengan utara magnetis).

Langkah-langkah Orientasi Peta adalah sebagai berikut :

a) Letakkan peta pada bidang datar.


b) Buka tutup kompas prisma dan Letakkan kompas diatas peta
c) Sejajarkan antara sumbu utara peta dengan utara magnetis/utara kompas, dengan demikian
letak peta akan sesuai dengan bentang alam yang dihadapi.

Orientasi Medan, gunanya untuk mengenali posisi medan sebenarnya di peta dan mengenali
tanda di peta pada medan sebenarnya.
Orientasi Medan dapat dilakukan dengan langkah langkah sebagai berikut :

a) Cari tempat terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang mencolok dengan mudah.
b) Lakukan Orientasi Peta
c) Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekeliling dan temukan tanda medan tersebut
dipeta, lakukan untuk beberapa tanda medan.
d) Ingat tanda medan itu, bentuknya dan tempatnya dimedan sebenarnya maupun dipeta, ingat-
ingat tanda medan yang khas dari setiap tanda medan.
Sebelum anda mulai orientasi medan, kenali dulu tanda-tanda medan yang ada dilokasi. Ini bisa
dilakukan dengan menanyakan kepada penduduk setempat nama-nama gunung, bukit, sungai,
atau tanda-tanda medan lainnya, atau dengan mengamati kondisi bentang alam yang terlihat dan
mencocokkan dengan gambar kontur yang ada dipeta.

2. AZIMUTH DAN BACK AZIMUTH

Azimuth ialah Sudut Mendatar yang besarnya dihitung dan diukur sesuai dengan arah jalannya
jarum jam dari suatu garis yang tetap, yaitu arah utara.
Secara praktis adalah besar sudut yang dibentuk antara utara magnetis (nol derajat) dengan
titik/sasaran yang kita tuju, azimuth juga sering disebut Sudut Kompas. Ada tiga macam
Azimuth yaitu :
a) Azimuth Sebenarnya, yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya dengan titik
sasaran;
b) Azimuth Magnetis, yaitu sudut yang dibentuk antara utara kompas dengan titik sasaran;
c) Azimuth Peta, yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara peta dengan titik sasaran.
Untuk keperluan praktis, pada navigasi ini kita gunakan Azimuth Magnetis.

Back Azimuth adalah Besar Sudut kebalikan / kebelakang dari Azimuth.


Cara menghitungnya :

Jika, Az 180 derajat , Maka; Baz = Az 180 derajat


Jika, Az = 180 derajat , Maka; Baz = 0 derajat atau 360 derajat

3. ANALISA PERJALANAN

Analisa perjalanan perlu dilakukan agar kita dapat membayangkan kira-kira medan apa yang
akan kita lalui, dengan mempelajari peta yang akan dipakai. Yang perlu di analisa adalah jarak,
waktu dan tanda medan.

a. Jarak
Jarak diperkirakan dengan mempelajari dan menganalisa peta, yang perlu diperhatikan adalah
jarak yang sebenarnya yang kita tempuh bukanlah jarak horizontal. Kita dapat memperkirakan
jarak (dan kondisi medan) lintasan yang akan ditempuh dengan memproyeksikan lintasan,
kemudian mengalikannya dengan skala untuk memperoleh jarak sebenarnya.
Perhitungan untuk menentukan jarak :
Skala = Jarak Peta : Jarak Datar

Jarak Datar = Skala x Jarak Peta

Jarak Peta = Jarak Datar : Skala

b. Waktu
Bila kita dapat memperkirakan jarak lintasan, selanjutnya kita harus memperkirakan berapa lama
waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak tersebut. Tanda medan juga bisa untuk
menganalisa perjalanan dan menjadi pedoman dalam menempuh perjalanan.
c. Medan Tidak Sesuai Peta
Jangan terlalu cepat membuat kesimpulan bahwa peta yang kita pegang salah. Memang banyak
Sungai-sungai kecil yang tidak tergambarkan di peta, karena sungai tersebut kering ketika musim
kemarau. Ada kampung yang sudah berubah, jalan setapak yang hilang, dan banyak perubahan-
perubahan lain yang mungkin terjadi.
Bila anda menjumpai ketidaksesuaian antara peta dengan kondisi lapangan, baca kembali peta
dengan lebih teliti, lihat tahun keluaran peta, karena semakin lama peta tersebut maka banyak
sekali perubahan yang terdapat pada peta tersebut. Jangan hanya terpaku pada satu gejala yang
tidak ada di peta sehingga hal-hal yang yang dapat dianalisa akan terlupakan. Kalau terlalu
banyak hal yang tidak sesuai, kemungkinan besar anda yang salah (mengikuti punggungan yang
salah, mengikuti sungai yang salah, atau salah dalam melakukan resection). Peta 1:50.000 atau
1:25.000 umumnya cukup teliti.

4. RESECTION

Resection adalah menentukan kedudukan/ posisi di peta dengan menggunakan dua atau lebih
tanda medan yang dikenali.

Teknik resection membutuhkan bentang alam yang terbuka untuk dapat membidik tanda medan.
Tidak selalu tanda medan yang harus selalu dibidik, jika kita berada di tepi sungai, sepanjang
jalan, atau sepanjang suatu punggungan, maka hanya perlu satu tanda medan lainnya yang
dibidik.

Langkah Langkah melakukan Resection :

a) Lakukanlah orientasi medan (dapatkan minimal 2 tanda medan)


b) Tandai kedudukan tanda medan tersebut di peta dengan membuat salib sumbu pada pusat
tanda-tanda medan yang sudah dikenali di peta dan di lapangan.
c) Bidikkan kompas ke tanda medan tersebut dan catat sudut kompasnya (Azimuth).
d) Hitung SPM tahun berjalan dan pindahkan hasilnya ke sudut peta
e) Hitung Back Azimuth dari hasil perhitungan tersebut.
f) Tarik garis sudut peta dari tanda medan yang sudah kita bidik sesuai dengan hasil perhitungan,
hingga garisnya berpotongan.
g) Perpotongan garis tersebut adalah kedudukan kita di peta.

Resection dapat dilakukan dengan minimal 2 tanda medan, yaitu :


1) 2 titik ketinggian
2) 1 titik ketinggian dengan sungai
3) 1 titik ketinggian dan jalan setapak
4) Jalan setapak / sungai dengan altimeter
5) 1 titik ketinggian dengan altimeter.

5. INTERSECTION

Intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau
lebih tanda medan yang dikenali dilapangan.
Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat
dilapangan, tetapi sukar untuk dicapai. Pada intersection, kita sudah yakin pada posisi kita di
peta dan kondisikan agar objek tetap dapat terlihat saat kita berpindah posisi.

Langkah Langkah melakukan Intersection :

a) Lakukan orientasi medan, dan pastikan posisi kita di peta.


b) Bidik obyek yang kita amati.
c) Hitung SPM tahun berjalan, pindahkan hasilnya ke sudut peta.
d) Bergerak ke posisi lain, dan pastikan posisi tersebut di peta, lakukan langkah b dan c;
e) Tarik garis sudut peta dari posisi kita di peta sesuai dengan hasil perhitungan, hingga garisnya
berpotongan. Perpotongan garis dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.

6. Menentukan Arah Lintasan

Dalam menentukan arah lintasan dapat mempergunakan 2 cara, yang pertama dengan tracking
kompas, atau mengunci arah kompas searah dengan sudut peta sesuai dengan arah yang dituju.
Yang kedua adalah dengan mencari punggungan yang paling lebar untuk mencapai tempat yang
dituju.
kedua cara ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dimana sebaiknya cara yang
dipilih disesuaikan dengan jenis kegiatan yang akan dilakukan.
MENGENAL JENIS-JENIS AWAN

A. DEFINISI

Awan adalah kumpulan titik air atau kristal kristal es yang melayang layang di udara.
Terbentuknya awan akibat adanya kondensasi (perubahan wujud air dari uap air menjadi titik
air). Kondensasi berupa kristal kristal garam. Kristal tersebut berasal darideburan ombak
pantai, debu , serta asap pabrik dan kendaraan bermotor.

Seorang ahli (Gibbs (1987) mengatakan yang dimaksud dengan iklim adalah keadaan atmosfer
yang meliputi suhu, tekanan, angin, kelembaban dan berbagai fenomena hujan, yang terjadi
disuatu daerah selama kurun waktu yang panjang. Keadaan atmosfer tersebut ditentukan adanya
proses penguapan air yang terangkat keatas dan pada ketinggian tertentu terdinginkan dan
membentuk butiran air (hujan) dan bila ukuran butir air ini bertambah besar secara visual terlihat
sebagai awan. Salah satu cara untuk menetapkan ramalan/prakiraan iklim/cuaca, dapat dilakukan
dengan membaca gejala alam yaitu dengan melihat jenis awan yang nampak, apakah awan
tersebut mengandung hujan lebat, petir, kilat, atau bahkan berpotensi terjadi badai, cuaca buruk
dan turbulensi yang sangat besar.
B. PROSES TERBENTUKNYA AWAN

Udara selalu mengandung uap air. Apabila uap air ini berubah menjadi titik-titik air, terbentuklah
awan. Proses ini terjadi dengan cara :

Apabila udara panas, lebih banyak uap terkandung di dalam udara karena air lebih cepat
menguap. Udara panas yang sarat dengan air ini akan naik tinggi, hingga tiba di satu
lapisan dengan suhu yang lebih rendah, uap itu akan mencair dan terbentuklah awan,
molekul-molekul titik air yang tak terhingga banyaknya.
Apabila awan telah terbentuk, titik air dalam awan akan menjadi semakin besar dan awan
itu akan menjadi semakin berat, dan perlahan-lahan daya tarikan bumi menariknya ke
bawah. Hinggalah sampai satu peringkat titik-titik itu akan terus jatuh ke bawah dan
turunlah hujan.
Namun jika titik-titik air tersebut bertemu udara panas, titik-titik itu akan menguap dan
lenyaplah awan itu. Inilah yang menyebabkan awan itu selalu berubah-ubah bentuknya.
Air yang terkandung di dalam awan silih berganti menguap dan mencair. Inilah juga yang
menyebabkan kadang-kadang ada awan yang tidak membawa hujan.

C. KLASIFIKASI AWAN

Pada tahun 1894, Komisi Cuaca Internasional membagi bentuk awan menjadi 4 kelompok
utama, yaitu awan tinggi, awan sedang, awan rendah, dan awan dengan perkembangan vertikal.
1. Kelompok Awan Tinggi

Pada kawasan tropis, awan ini terletak di ketinggian 6-18 km, pada kawasan iklim sedang awan
ini terletak pada ketinggian 5-13 km, sedangkan di kawasan kutub terletak pada 3-8 km. Awan
yang tergolong ke dalam awan tinggi adalah :

a. Cirrus

Cirrus (Ci), awan terlihat halus dan lembut seperti bulu2, berwarna putih. Awan ini juga sering
tersusun seperti pita yang melengkung di langit, sehingga seakan-akan tampak bertemu pada satu
atau dua titik horizon. Awan ini tidak menimbulkan hujan. Ketinggian umumnya lebih dari 5.000
meter. Terdiri dari kristal es, suhu sangat dingin, walaupun pada musim panas atau kering.

b. Cirrostratus

Cirrostratus (Cs), gugusan kristal es, menyebar dan menutupi sebagian atau seluruh langit.
Menyerupai selaput tipis tembus cahaya. Bentuknya seperti kelembu putih yang halus dan rata
menutup seluruh langit sehingga tampak cerah, bisa juga terlihat seperti anyaman yang
bentuknya tidak teratur. Sering terbentuk cincin atau halo di sekeliling matahari atau bulan.
Kadang-kadang terjadi hujan yang tidak sampai ke permukaan bumi (virga), seolah-olah cerah di
permukaan.

c. Cirrocumulus

Cirrocumulus (Cc), mengandung butiran air super dingin, bercampur dengan kristal es sehingga
bentuknya seperti sekelompok domba dan sering menimbulkan bayangan.. Butiran air cepat
membeku. Awan ini berumur sangat singkat, cepat berubah menjadi cirrostratus. Mengandung
hujan yang tidak sampai ke permukaan bumi (virga), bercampur salju.
2. Kelompok Awan Sedang

Pada kawasan tropis awan ini terletak di ketinggian 2-8 km, pada kawasan iklim sedang terletak
di ketinggian 2-7 km, sedangkan pada kawasan kutub terletak di ketinggian 2-4 km. Yang
termasuk dalam awan sedang antara lain :

a. Altocumulus

Altocumulus (Ac), puncak awan putih bergulung, dengan dasar awan lebih gelap dan umumnya
melebar. Seperti pecahan atau halus, ketebalan beragam. Menggambarkan udara cerah, namun
bisa berkembang menjadi awan hujan lainnya, bahkan cumulonimbus. Tiap-Tiap elemen nampak
jelas tersisih antara satu sama lain dengan warna keputihan dan kelabu yang membedakannya
dengan Sirokumulus. Lapisan awan lenticularis dapat terbentuk di atas pegunungan, atau angin
kencang pada siang hari, massa udara stabil dan kering.

b. Altostratus
Altostratus (As), berwarna kekelabuan dan meliputi hampir keseluruhan langit. Dapat
menghasilkan hujan gerimis, hujan ringan hingga sedang. Umumnya terbentuk sepanjang sore
hari, diikuti hujan pada senja atau malam hari dan menghilang apabila matahari terbit di awal
pagi. Dalam kondisi tertentu dapat berkembang awan altostratus lenticularis, akibat angin
kencang, dan tidak menghasilkan hujan.

3. Kelompok Awan Rendah

Awan ini terletak pada ketinggian kurang dari 3 km, yang tergolong ke dalam awan rendah
antara lain :

a. Stratocumulus

Stratocumulus (Sc), awan rendah yang umumnya bergerak lebih cepat dari cumulus. Cenderung
lebih mengembang ke arah horisontal daripada arah vertical, berbentuk seperti bola-bola yang
sering menutupi daerah seluruh langit, sehingga tampak seperti gelombang.. Dasar awan
umumnya lebih gelap daripada puncak awan, namun ciri-cirinya dapat lebih beragam. Dapat
berwarna kelabu/putih yang terjadi pada petang dan senja apabila atmosfer stabil. Dapat terlihat
seperti lembaran rendah yang lebar atau berbentuk rekahan dimana cahaya matahari terlihat
melalui rekahan tersebut. Lapisan awan ini tipis dan tidak menghasilkan hujan.

b. Stratus
Stratus (St), awan terpecah-pecah dan tipis, dapat berbentuk lembaran atau lapisan. Tidak
tumbuh vertikal. Berkembang pada kondisi dimana aliran angin mengakibatkan udara
terkondensasi pada lapisan atmosfer bawah. Awan ini cukup rendah dan sangat luas. Tingginya
di bawah 2000 m. Kadang-kadang terlihat sebagai kabut. Bila tumbuh terus, dapat berkembang
menjadi awan badai Nimbostratus.

c. Nimbostratus

Nimbostratus (Ns), berwarna gelap, visibility rendah, langit tertutup awan, dan sinar matahari
terhalang. Bentuknya tidak menentu dengan pinggir compang-camping. Umumnya disertai cuaca
buruk. Hujan turun dengan intensitas rendah hingga sedang, untuk waktu yang lama. Di
Indonesia awan ini hanya menimbulkan gerimis.

4. Kelompok Awan Dengan Perkembangan Vertikal

Awan ini terletak antara 500-1500 m, yang tergolong dalam awan dengan perkembangan vertikal
antara lain :

a. Cumulus
Cumulus (Cu), adalah awan yang mengandung kristal es. Merupakan awan tebal dengan puncak
yang agak tinggi umumnya lebih dari 5.000 meter dimana suhu sangat dingin, walaupun pada
musim panas atau kering.. Dasar ketinggian awan ini umumnya 1000 m dan lebaar 1 km.
Terlihat gumpalan putih atau cahaya kelabu yang terlihat seperti bola kapas mengambang, awan
ini berbentuk garis besar yang tajam dan dasar yang datar.

b. Cumulonimbus

Cumulonimbus (Cb), awan cumulus yang tumbuh vertikal ketika cuaca terik. Berwarna
putih/gelap. Terletak pada ketinggian kira-kira 1000 kaki dan puncaknya punya ketinggian lebih
dari 3500 kaki. Menimbulkan hujan lebat, petir, kilat, kadang-kadang terkait dengan badai dan
cuaca buruk. Turbulensi sangat besar. Sedangkan berdasarkan bentuknya, Awan terbagi
menjadi 3 yaitu :

Kumulus, yaitu aawan yang bentuknyaa bergumpal-gumpal dan dasarnya horizontal.


Stratus, yaitu awan yang tipis dan tersebar luas sehinga menutupi langit secara merata.
Sirrus, yaitu awan yang berbentuk halus dan berserat seperti bulu ayam. Awan ini tidak
dapat menimbulkan hujan.
Sumber :
Awan serta Hubungannya dengan Hujan dan Musim, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Litbang Pertanian, 2010. Gambar : Balai Besar Penelitian
dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Litbang Pertanian, 2010

BAB 3

PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT

A. TEORI DASAR PERTONGAN PERTAMA

1. PENGERTIAN PERTOLONGAN PERTAMA


Pemberian Pertolongan kepada penderita sakit atau cidera / kecelakaan yang memerlukan
penanganan medis dasar.

2. PENGERTIAN MEDIS DASAR


Tindakan perawatan berdasarkan Ilmu Kedokteran yang dapat dimiliki oleh Awam atau awam
yang terlatih secara khusus. batasannya adalah sesuai dengan sertifikat yang dimiliki oleh Pelaku
Pertolongan Pertama.

3. PELAKU PERTOLONGAN PERTAMA


Penolong yang pertama kali tiba di tempat kejadian,yang memiliki kemampuan pertolongan
kasus gawat darurat terlatih dalam penanganan medis dasar.

3.1 TUJUAN PERTOLONGAN PERTAMA

a. Menyelamatkan jiwa penderita.


b. Mencegah cacat pada korban
c. Membantu proses penyembuhan dan Memberikan rasa nyaman

3.2 KEWAJIBAN PELAKU PERTOLONGAN PERTAMA

a. Menjaga keselamatan diri, Anggota Tim, penderita dan sekitarnya.


b. Dapat menjangkau penderita dalam kasus kecelakaan atau musibah kemungkinan Pelaku
harus memindahkan penderita lain untuk dapat menjangkau penderita yang lebih parah.
c. Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam jiwa.

d. Meminta bantuan / rujukan. pelaku pertolongan pertama harus bertanggung jawab sampai
bantuan rujukan mengambil alih penanganan penderita.
e. Memberikan Pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaan korban.
f. Membantu pelaku pertolongan pertama lainnya.
g. Ikut menjaga kerahasiahan medis penderita.
h. Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat.
i. Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi
3.3 KUALIFIKASI PELAKU PERTOLONGAN PERTAMA

a. Jujur dan bertanggung jawab


b. Berlaku profesional
c. Kematangan emosi, Pada keadaan tertentu kondisi penderita emosional juga keluarga
penderita yang tak dapat menerima kenyataan yang di alami penderita dalam hal ini pelaku
harus menenagkan diri, serta dapat menenangkan penderita dan keluarga juga sabar tidak panik
dan gugup dalam menghadapi penderita.

3.4 PERALATAN DASAR PELAKU PERTOLONGAN PERTAMA

Dalam melakukan tugasnya Pelaku Pertolongan Pertama memerlukan peralatan dasar dan dapat
di bagi dua, yaitu Alat Perlindungan diri dan Peralatan minimal untuk melakukan tugasnya.

3.4.1 BEBERAPA MACAM APD

1. Sarung tangan lateks


2. Kacamata pelindung
3. Baju Pelindung
4. Masker Penolong
5. Masker Resusitasi
6. Helm

3.4.2 PERALATAN PERTOLONGANPERTAMA

1. Kasa steril
2. Bantalan kasa
3. Pembalut
4. Pembalut Gulung/Pita
5. Pembalut segitiga/Mitela
6. Pembalut Tabung
7. Pembalut rekat/Plister
8. Cairan anti septik
9. Alkohol 70 %
10. Iodine
11. Cairan pencuci mata
12. Peralatan Stabilisasi,Bidai, Papan spinal panjang, Papan Spinal Pendek
13. Pinset
14. Senter
15. Kapas
16. Selimut
17. Kartu Penderita
18. Alat Tulis
19. Oksigen
20. Tensimeter dan stetoskop
21. Tandu
3.5 DASAR HUKUM

Pasal 531 K U H Pidana

Barang siapa menyaksikan sendiri ada orang didalam keadaan bahaya maut, lalai memberikan
atau mengadakan pertolongan kepadanya sedang pertolongan itu dapat diberikannya atau
diadakannya dengan tidak akan menguatirkan, bahwa ia sendiri atau orang lain akan kena bahaya
dihukum kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4.500,-. Jika
orang yang perlu ditolong itu mati, diancam dengan : KUHP 45, 165, 187, 304 s, 478, 525, 566

Di dalam undang-undang ditemukan beberapa pasal yang mengatur mengenai Pertolongan


Pertama, namun belum dikuatkan dengan peraturan lain untuk melengkapinya. Beberapa pasal
yang berhubungan dengan Pertolongan Pertama antara lain :

Persetujuan Pertolongan

Saat memberikan pertolongan sangat penting untuk meminta izin kepada korban terlebih dahulu
atau kepada keluarga, orang disekitar bila korban tidak sadar. Ada 2 macam izin yang dikenal
dalam pertolongan pertama :

1. Persetujuan yang dianggap diberikan atau tersirat ( Implied Consent )

Persetujuan yang diberikan penderita sadar dengan cara memberikan isyarat, atau penderita tidak
sadar, atau pada anak kecil yang tidak mampu atau dianggap tidak mampu memberikan
persetujuan.

2. Persetujuan yang dinyatakan ( Expressed Consent )

Persetujuan yang dinyatakan secara lisan maupun tulisan oleh penderita.

4. ANATOMI (SUSUNAN TUBUH)

Anatomi adalah ilmu yang mempelajari susunan tubuh dan bentuk tubuh

4.1 FISIOLOGI (FAAL TUBUH)

Ilmu yang mempelajari faal (fungsi) bagian dari alat atau jaringan tubuh.

4.2 POSISI ANATOMIS

Tubuh manusia diproyeksikan menjadi suatu posisi yang dikenal sebagai posisi anatomis, yaitu
berdiri tegak, ke dua lengan di samping tubuh, telapak tangan menghadap ke depan. Kanan dan
kiri mengacu pada kanan dan kiri penderita.

4.3 BIDANG ANATOMIS


Dalam posisi seperti ini tubuh manusia dibagi menjadi beberapa bagian oleh 3 buah bidang
khayal, yaitu :

1. Bidang Medial
yang membagi tubuh menjadi kiri dan kanan

2. Bidang Frontal
yang membagi tubuh menjadi depan (anterior) dan bawah (posterior)

3. Bidang Transversal
yang membagi tubuh menjadi atas (superior) dan bawah (inferior)
Istilah lain yang juga dipergunakan adalah untuk menentukan suatu titik lebih dekat ke titik
referensi (proximal) dan lebih jauh ke titik referensi (distal).

4.4 PEMBAGIAN ( REGIO ) TUBUH MANUSIA


Tubuh manusia dikelilingi oleh kulit dan diperkuat oleh rangka. Secara garis besar, tubuh
manusia dibagi menjadi :

a. Kepala

Tengkorak ( Cranium ) , Wajah, dan Rahang Bawah ( Mandibula )

b. Leher
c. Batang Tubuh

Dada ( Thorax ), Perut ( Abdomen ), Punggung, dan Panggul ( Pelvis )

d. Anggota Gerak Atas

Sendi bahu, lengan atas, lengan bawah, siku, pergelangan tangan, tangan.

e. Anggota Gerak Bawah

Sendi panggul, tungkai atas, lutut, tungkai bawah, pergelangan kaki, kaki.

4.5 RONGGA DALAM TUBUH MANUSIA

Selain pembagian tubuh maka juga perlu dikenali 5 buah rongga yang terdapat di dalam tubuh
yaitu :

a. Rongga tengkorak

Berisi otak dan bagian-bagiannya

b. Rongga tulang belakang


Berisi bumbung saraf atau spinal cord

c. Rongga dada

Berisi jantung dan paru

d. Rongga perut (abdomen)

Berisi berbagai berbagai organ pencernaan

Untuk mempermudah, perut manusia dibagi menjadi 4 bagian yang dikenal sebagai kwadran
sebagai berikut:

i. Kwadran kanan atas (hati, kandung empedu, pankreas dan usus)


ii. Kwadran kiri atas (organ lambung, limpa dan usus).

iii. Kwadran kanan bawah (terutama organ usus termasuk usus buntu)

iv. Kwadran kiri bawah (terutama usus).

e. Rongga panggul

Berisi kandung kemih, sebagian usus besar, dan organ reproduksi dalam

4.6 SISTEM DALAM TUBUH MANUSIA

Agar dapat hidup tubuh manusia memiliki beberapa sistem:

1. Sistem Rangka (kerangka/skeleton)


1. Menopang bagian tubuh
2. Melindungi organ tubuh
3. Tempat melekat otot dan pergerakan tubuh
4. Memberi bentuk bangunan tubuh

2. Sistem Otot (muskularis)

Memungkinkan tubuh dapat bergerak

3. Sistem pernapasan (respirasi)

Pernapasan bertanggung jawab untuk memasukkan oksigen dari udara bebas ke dalam darah dan
mengeluarkan karbondioksida dari tubuh.

4. Sistem peredaran darah (sirkulasi)

Sistem ini berfungsi untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh.


5. Sistem saraf (nervus)

Mengatur hampir semua fungsi tubuh manusia. Mulai dari yang disadari sampai yang tidak
disadari

6. Sistem pencernaan (digestif)

Berfungsi untuk mencernakan makanan yang masuk dalam tubuh sehingga siap masuk ke dalam
darah dan siap untuk dipakai oleh tubuh

7. Sistem Klenjar Buntu (endokrin)

8. Sistem Kemih (urinarius)

9. Kulit

10. Panca Indera

11. Sistem Reproduksi

5. INCIDENT COMMAND SYSTEM ( ICS )

Di sini tidak akan dijelaskan secara rinci mengenai hal ini karena bahasan ini merupakan suatu
topik pelatihan sendiri. Perlu diketahui oleh penolong bahwa sistem ini sebenarnya sudah ada
dan baku, pelaksanaannya tergantung dari masing-masing daerah.

Di Indonesia ICS ini sering dikenal sebagai POSKO, yang tugas dasarnya adalah mengatur
penanggulangan korban banyak atau bencana. Bagaimana melakukan pemilahan korban,
bagaimana dan kemana korban di evakuasi, menggunakan apa, siapa yang bertugas di mana,
kemana dan semua hal lain yang berhubungan dengan pengaturan di lokasi.

Secara umum pada penanggulangan korban banyak perlu di atur tempat sedemikian rupa
sehingga ada :

1. Daerah triage

Pada dasarnya daerah ini merupakan areal kejadian.

2. Daerah pertolongan

Setelah pasien ditentukan triagenya maka dipindahkan ke daerah penampungan di mana


pertolongan diberikan.

3. Daerah transportasi
Pada daerah ini berkumpul semua kendaraan yang akan digunakan untuk mengevakuasi para
korban, termasuk pencatatan data pengiriman korban.

4. Daerah penampungan penolong dan peralatan

Pada daerah ini para penolong yang baru datang atau sudah bekerja berkumpul, di data dan di
atur pembagian kerjanya. Bila kejadiannya besar maka daerah penampungan juga diperlukan
untuk peralatan, barang-barang lainnya.

5.1 PERAN PENOLONG PERTAMA

Sebagai penolong kita harus mengetahui sistem yang ada, terutama apa yang harus dilakukan
pada fase awal, pada dasarnya penolong harus :

1. Mendirikan Posko dan komandonya


2. Menilai keadaan
3. Meminta bantuan sesuai keperluan
4. Mulai melakukan triage

5.2 PENILAIAN KEADAAN

Setelah menentukan suatu kejadian sebagai kasus dengan korban banyak maka hal yang paling
penting dilakukan adalah menahan diri untuk tidak langsung memberikan pertolongan kepada
perorangan. Nilai hal-hal sebagai berikut :

1. Keadaan
2. Jumlah penderita
3. Tindakan khusus
4. Sumber daya yang kira-kira akan diperlukan
5. Hal lain yang dapat berdampak pada situasi dan kondisi
6. Berapa banyak sektor yang diperlukan
7. Wilayah atau areal penampungan

Buatlah suatu laporan singkat, sehingga bantuan yang akan datang akan sesuai dengan keperluan.

B. TEKNIK PENANGANAN GAWAT DARURAT

1. KEDARURATAN MEDIS

1.1 DEFINISI

Keadaan penderita yang disebabkan adanya gangguan fungsi tubuh sehingga kemungkinan
mengalami cidera misal kehilangan kesadaran lalu terjatuh sehingga terjadi luka. Kesimpulan
mengenai keadaan yang dihadapi hampir 80% diperoleh berdasarkan wawancara dengan
penderita bila sadar, keluarganya atau saksi mata dan sumber informasi lainnya. Dalam
penatalaksanaan penderita yang paling penting adalah menjaga jalan napas dan memantau tanda
vital penderita secara teratur.

1.2 TANDA DAN GEJALA GEJALA

Gejala :

1. Demam
2. Nyeri
3. Mual, muntah
4. Buang air kecil berlebihan atau tidak sama sekali
5. Pusing, perasaan mau pingsan, merasa akan kiamat
6. Sesak atau merasa sukar bernapas
7. Rasa haus atau lapar berlebihan, rasa aneh pada mulut

Tanda :

1. Perubahan status mental (tidak sadar, bingung)


2. Perubahan irama jantung : nadi cepat atau sangat lambat, tidak teratur, lemah atau sangat
kuat.
3. Perubahan pernapasan: irama dan kualitas warna pada selaput lendir (pucat, kebiruan, terlalu
merah)
4. Perubahan keadaan kulit : suhu, kelembaban, keringat berlebihan, sangat kering, termasuk
perubahan warna pada selaput lendir (pucat, kebiruan, terlalu merah)
5. Manik mata : sangat lebar, atau sangat kecil
6. Bau khas dari mulut atau hidung
7. Aktivitas otot misalnya kejang atau kelumpuhan
8. Gangguan saluran cerna : mual, muntah atau diare
9. Tanda-tanda lainnya yang seharusnya tidak ada.

Anggap semua keluhan penderita adalah benar. Bila penderita merasa tidak enak atau nyaman
maka perlakukan sebagai kasus medis.

a. SECARA UMUM GANGGUAN MEDISADALAH

- Gangguan Jantung dan Pernapasan

- Gangguan kesadaran dan perubahan setatus mental

- Gangguan akibat perubahan lingkungan

- Keracunan

B. CARA PENANGANAN GANGGUAN MEDIS

a. Gangguan Jantung dan pernapasan:


Terjadi akibat tersumbatnya jalan napas , tidak menemukan adanya napas dan atau tidak ada
nadi, maka penolong harus melakukan tindakan bantuan hidup dasar, yaitu :

- Melakukan bantuan pernapasan

- Melakukan RJP

BOLUS = 2 x Nafas Awal

b. Penyebab orang tidak sadarkan diri :

- Kegagalan jantung memompa darah

- Kehilangan darah dalam jumlah yg besar

- Pelebaran pembuluh darah yang luas , sehingga darah tidak dapat mengisinya dengan baik

- Kekurangan cairan tubuh yang banyak misalnya diare

c. Tanda orang tidak sadarkan diri:

- Pernapasan cepat dan dangkal

- Nadi Cepat dan lemah

- Kulit pucat dingin dan lembab

- Wajah pucat, perubahan warna pada bibir, lidah dan kuping

- Mata pandangan hampa ,pupil melebar

C. Gejala orang tidak sadarkan diri :

- Mual dan mungkin muntah

- Haus

- Lemah

- Pusing

- Gelisah dan takut mati

D. Penanganan orang tidak sadarkan diri :

- Bawa penderita ketempat teduh dan aman


- Tidurkan telentang,tungkai di tinggikan 20-30 cm

- Pakaian yang mengikat dilonggarkan

- Berikan rangsangan pernapasan

- Tenangkan penderita

- Berikan minum hangat manis Teh,Kopi

- Pastikan jalan napas, Periksa nadi

Pada dasarnya yang pertama menemukan penderita gawat darurat di tempat musibah adalah
masyarakat. Oleh karena itu sangatlah bermanfaat bila orang awam diberi dan dilatih
pengetahuan dan keterampilan PPGD

a. Pada fase pra-rumah sakit dapat diketahui bahwa nasib korban tergantung pada 3
kecepatan :

1. Kecepatan ditemukannya korban dengan tingkat kesadaran dan pengetahuan Masyarakat


yang tinggi, maka kecepatan menemukan korban dapat dicapai dengan lebih singkat.
2. Kecepatan minta pertolongan akan sangat mempengaruhi cepat lambat datanggya
pertolongan medis yang diperlukan.
3. Kecepatan dan ketepatan pertolongan tergantung pada keahlian penolong. Resiko untuk
meninggal atau cacat sangat dipengaruhi oleh kecepatan pertolongan yang diberikan
sehingga untuk memperbaiki resiko kematian atau cacat kematian atau cacat diperlukan
penolong yang lebih terdidik dan terlatih.

b. Faktor yang mempengaruhi Kecepatan dan Ketepatan Pertolongan

- Faktor komunikasi

- Faktor Keterampilan

- Faktor Evakuasi korban

c. Pada saat tiba di lokasi kejadian kewajiban penolong harus :

- Memastikan keselamatan penolong, penderita dan orang orang disekitar lokasi kejadian

- Penolong harus memperkenalkan diri bila memungkinkan nama penolong , nama


Organisasi, Permintaan

- Menentukan keadaan umum kejadian dan mulai melakukan penilaian dini dari penderita

- Mengenali dan mengatasi gangguan / cidera yang mengancam nyawa


- Stabilkan penderita dan teruskan pemantauannya

- Minta bantuan

- Melakukan Resusitasi Jantung Paru

d. Kemampuan yang harus dimiliki oleh orang awam adalah :

- Cara minta tolong

- Resusitasi jantung paru

- Cara menghentikan pendarahan

- Cara memasang pembalutan

- Cara memasang bidai

- Cara evakuasi penderita gawat darurat

e. Pelaku terlatih perlu untuk dapat :

- Mengenal tanda pasti henti jantung

- Memberikan tindakan RJP

- Memanggil Pelayanan Medik Darurat

f. Tujuan dari evakuasi adalah memindahkan korban dengan cepat tetapi aman sehingga
tidak menimbulkan luka / penderita tambahan ataupun syok pada korban.

2. PENILAIAN DAN PEMERIKSAAN KORBAN

Ada 6 hal yang harus dinilai dan diperiksa pada setiap kejadian yang membutuhkan teknik
penanganan gawat darurat, yaitu :

1. PENILAIAN KEADAAN ( SIZE UP )

- Bagaimana Kondisi saat itu

- Kemungkinan apa saja yang akan terjadi

- Bagaimana mengatasinya
2. PENILAIAN DINI (INITIAL ASSESMENT)

Untuk menentukan dapat ditolong atau tidak ( aman / tidak ), ada 6 hal yang harus
diperhatikan :

2.1 Kesan Umum ; gambaran umum dari kecelakaan / musibah yang terjadi (Kasus Trauma
dan kasus medis.Penolong ,Penderita, orang sekitar lokasi).

2.2 Memeriksa Respon / Tingkat kesadaran dari korban :

A Awas (Alert) :Kesadaran penuh (dapat berkomunikasi )

S Suara (Verbal) : Kesadaran penuh, tetapi dengan perintah

N Nyeri (Painfull) : Kesadarannya dengan rangsangan nyeri (biasanya


ada fracture).

T Tidak respon (Unresponsive) : Tidak sadar sama


sekali.

2.3 Penguasaan Jalan Napas ( AIRWAY CONTROL )

Gangguan jalan napas dapat disebabkan karena :

Masuknya benda asing (makanan, mainan, darah, dll).

Struktur anatomisnya (tersumbat lidah, penyempitan saluran pernapasan, kerusakan jaringan,


dll).

Cara memastikan jalan napas terbuka dengan baik :

Lakukan dengan cara Angkat Dagu Tekan Dahi ( Head Tilt Chin Lift). Tidak dilakukan
pada korban yang mengalami trauma kepala, leher maupun tulang belakang

Pada korban trauma tulang belakang, lakukan Manuver Tekan Rahang Bawah (Jaw Thrust
Maneuver) untuk membuka jalan nafas. Manuver ini juga digunakan untuk mengatasi sumbatan
jalan nafas oleh lidah.

Langkah membebaskan jalan napas dari sumbatan & menguasainya menjadi prioritas
tindakan pada semua kasus

Gb. 3-2. Head Tilt Chin Lift

Gb 3-3. Jaw Thrust Manuever


2.4 Menilai pernapasan ( BREATHING ), dengan cara :

1. Lihat pergerakan pernafasannya ( di dada)


2. Dengarkan hembusan nafasnya
3. Rasakan hembusan nafasnya

* Untuk korban yang tidak sadar jangan diberi makan / minum

* Lakukan nafas buatan jika ada nadi, tidak ada nafas.

Dewasa: 10 12 x / mnt (1,5 -2 dtk / nafas)

Anak (1-8th): 20 x / mnt (1-1,5 dtk / nafas)

Bayi (0-1 th): > 20 x / mnt (1-1,5 dtk / nafas)

Bayi (BBL): 40 x / mnt (1-1,5 dtk / nafas)

Bahaya bantuan pernapasan dari mulut ke mulut :

1. Penyebaran penyakit
2. Kontaminasi bahan kimia
3. Muntahan penderita.

Gb 3-4. Lihat Dengar Rasakan ( Nafas )

Gb 3-5. Pernapasan buatan melalui masker RJP

Teknik memberikan bantuan napas buatan

1. Melalui mulut penolong menggunakan masker RJP / APD atau secara langsung ke
hidung/mulut penderita.
2. Menggunakan alat bantu berupa masker berkatup (BVM / Bag Valve Mask )

2.5 Menilai sirkulasi ( CIRCULATION ) dan menghentikan pendarahan berat.

Pemeriksaan denyut nadi orang dewasa dan anak pada nadi karotis, sedangkan bayi pada nadi
brakialis.

Bayi : 120 150 x / menit

Anak : 80 150 x / menit

Dws : 60 150 x / menit


Pemeriksaan denyut nadi min. 5 10 detik menggunakan 2 -3 jari (dg. telapak jari, bukan
punggungnya, juga bukan dengan ibu jari)

Tindakan bantuan sirkulasi dikenal sebagai resusitasi jantung paru, yakni suatu tindakan
kombinasi antara pijatan jantung dari luar dengan pernapasan buatan yang dilakukan pada saat
seseorang mengalami henti napas & henti jantung.

Penekanan jantung dari luar diharapkan menimbulkan efek pompa pada jantung yang dinilai
cukup untuk mengatur sirkulasi darah minimal pada saat mati klinis. (25-30 % dari curah
jantung)

Melakukan kontrol perdarahan besar juga merupakan bagian penting dari bantuan sirkulasi

2.6 Hubungi bantuan / kirim korban ke Rumah Sakit.

Gb 3-6. Pemeriksaan nadi karotis

Gb 3-7. Pemeriksaan nadi brachialis

3. PEMERIKSAAN FISIK

Tujuannya : Menemukan tanda


Dengan cara :

Penglihatan
Perabaan
Pendengaran
Perubahan bentuk ( P ) / Deformity
Luka Terluka ( L ) / Open Injuries
Nyeri Tekan ( N ) / Tendernist
Bengkak ( B ) / Suelling

Pada Cidera harus di cari

Urutan Pemeriksaan : Head to Toe

Amati dan raba (menggunakan kedua tangan dan dengan tekanan), bandingkan (simetry), cium
bau yang tidak biasa dan dengarkan (suara napas atau derit anggota tubuh), dalam urutan berikut:

1. Kepala

Kulit Kepala dan Tengkorak ( Cranium )


Telinga dan Hidung

Pupil Mata

Mulut

Rahang ( Mandibula )

2. Leher / Cerviccal
3. Dada ( Thorax )

Periksa perubahan bentuk, luka terbuka, atau perubahan kekerasan

Rasakan perubahan bentuk tulang rusuk sampai ke tulang belakang

Lakukan perabaan pada tulang

4. Perut ( Abdomen )

Periksa rigiditas (kekerasan)

Periksa potensial luka dan infeksi

Mungkin terjadi cedera tidak terlihat, lakukan perabaan

Periksa adanya pembengkakan

5. Punggung

Periksa perubahan bentuk pada tulang rusuk

Periksa perubahan bentuk sepanjang tulang belakang

6. Panggul ( Pelvis )
7. Alat gerak ( Extrimitas ) atas
8. Alat gerak ( Extrimitas ) bawah

Pemeriksaan tanda vital

1. Frekuensi nadi, termasuk kualitas denyutnya, kuat atau lemah, teratur atau tidak
2. Frekuensi napas, juga apakah proses bernapas terjadi secara mudah, atau ada usaha
bernapas, adakah tanda-tanda sesak napas.

3. Tekanan darah, tidak dilakukan pemeriksaan oleh KSR dasar


4. Suhu, diperiksa suhu relatif pada dahi penderita. Periksa juga kondisi kulit: kering,
berkeringat, kemerahan, perubahan warna dan lainnya.
Denyut Nadi Normal :

Bayi : 120 150 x / menit

Anak : 80 150 x / menit

Dewasa : 60 90 x / menit

Frekuensi Pernapasan Normal:

Bayi : 25 50 x / menit

Anak : 15 30 x / menit

Dewasa : 12 20 x / menit

Suhu tubuh : 37

4. RIWAYAT PENDERITA ( SAMPLE )

S Sign and Symptom ( Tanda dan Gejala )

A Alergi yang dialami

M Medicine ( Sejarah Medis )

P Partinal History ( Sejarah Penyakit )

L Last Intake Oral ( Makan minum terakhir )

E Event ( Mekanisme Kejadian )

5. PEMERIKSAAN BERKALA ATAU LANJUT ( DALAM PERJALANAN )

- Keadaan respon

- Nilai kembali jalan napas

- Nilai kembali pernapasan

- Periksa kembali nadi penderita

- Nilai kembali nilai keadaan

- Periksa kembali secara seksama mungkin ada bagian yang belum diperiksa
- Nilai kembali penata-laksanaan penderita

- Pertahankan Komunikasi dengan penderita untuk menjaga rasa aman dan nyaman

- Untuk korban prioritas : cek setiap 5 menit 15 menit sekali.

- Untuk korban tidak prioritas, cek 15 menit 30 menit sekali.

6. PELAPORAN

Biasakanlah untuk membuat laporan secara tertulis. Laporan ini berguna sebagai catatan anda,
Organisasi dan bukti medis.

- Umur dan jenis kelamin penderita

- Keluhan utama

- Tingkat respon

- Kedaan jalan nafas

- Pernapasan

- Sirkulasi

- Pemeriksaan fisik yang penting

- SAMPLE yang Penting

- Penata-laksanaan

- Perkembangan lainnya yang di anggap penting

- Dokumentasi

Contoh Pembuatan Laporan Kejadian dan Pelaporan

Nama Penderita : .

Umur Pasien : .

Alamat Pasien :

Jenis kelamin : Laki-laki / Perempuan


Uraian kejadian : ..

Pertolongan yang dilakukan :

Keadaan Pasien : Sadar / Tidak sadar,

Patah tulang/tidak patah ,

Pendarahan / Tidak pendarahan

Alat dan obat yang digunakan:

Pasien dirujuk ke : .

Pelaku Pertolongan :..

3. TEKNIK PENGANGKATAN DAN PEMINDAHAN PENDERITA

3.1 TEKNIK PENGANGKATAN PENDERITA

Saat tiba di lokasi kita mungkin menemukan bahwa seorang korban mungkin harus dipindahkan.
Pada situasi yang berbahaya tindakan cepat dan waspada sangat penting. Penangan korban yang
salah akan menimbulkan cedera lanjutan atau cedera baru.

3.2 MEKANIKA TUBUH

Gunakan mekanika tubuh kita sendiri, dalam mengangkat beban > 15 kg gunakan tungkai
paha dan dekatkan posisi benda yang kita angkat dengan tubuh kita. Penggunaan tubuh dengan
baik untuk memfasilitasi pengangkatan dan pemindahan korban untuk mencegah cedera pada
penolong.

Cara yang salah dapat menimbulkan cedera. Saat mengangkat ada beberapa hal yang harus
diperhatikan :

Rencanakan pergerakan sebelum mengangkat

Gunakan tungkai jangan punggung

Upayakan untuk memindahkan beban serapat mungkin dengan tubuh

Lakukan gerakan secara menyeluruh dan upayakan agar bagian tubuh saling menopang

Bila dapat kurangi jarak atau ketinggian yang harus dilalui korban
Perbaiki posisi dan angkatlah secara bertahap

Hal-hal tersebut di atas harus selalu dilakukan bila akan memindahkan atau mengangkat korban.
Kunci yang paling utama adalah menjaga kelurusan tulang belakang. Upayakan kerja
berkelompok, terus berkomunikasi dan lakukan koordinasi.

Mekanika tubuh yang baik tidak akan membantu mereka yang tidak siap secara fisik.

Pengangkatan korban benturan keras / (curiga) trauma tulang belakang, minimal dilakukan
oleh 5 orang sebagai berikut : 1 orang bertugas melakukan manuver tekan rahang bawah, 3
orang lainnya bertugas mengangkat korban dan 1 orang lagi memposisikan tandu spinal untuk
pemindahan korban. Setelah korban diletakkan pada alas yang keras, datar dan rata. Pastikan
tidak ada perubahan posisi leher pada pasien trauma gunakan cerviccal coral sebelum melakukan
pemindahan.

Gb 3 8. Pengangkatan dan Pemindahan Korban ( Curiga ) Trauma Tulang Belakang

3.3 MACAM MACAM PEMINDAHAN PENDERITA

Pemindahan darurat dan pemindahan biasa / tidak darurat.

A. Pemindahan darurat, tindakan ini hanya dilakukan bila : Adanya bahaya langsung
terhadap penderita ( bahaya kebakaran, ledakan, bangunan tidak stabil dll ).

4 macam teknik pemindahan darurat :

1. Tarikan Baju
2. Fire Fighter Drag
3. Tarikan Kain
4. Tarikan Selimut

B. Pemindahan biasa ; Bila tidak ada bahaya langsung terhadap penderita maka penderita
hanya dipindahkan bila semuanya telah siap dan penderita selesai ditangani, yaitu :

Penilaian awal telah lengkap dilakukan.

Denyut nadi dan napas stabil serta dalam batas normal.

Tidak ada pendarahan luar tidak terkendali atau tidak ada indikasi pendarahan dalam.

Mutlak tidak ada cidera atau ada. Semua patah tulang sudah di mobilisasi.

Ada 3 macam teknik pemindahan biasa / tidak darurat


1. Paggy Back ( gendong )
2. Bopong
3. Papah

3.4 PERALATAN PEMINDAHAN PENDERITA

- Tandu Berdua / Tandu Ambulan

- Tandu Lipat

- Tandu Scop

- Tandu kursi

- Tandu selimut

- Papan spinal panjang dan pendek

Gb. 3 9. Evakuasi di lorong sempit ( Fire Fighter Drag )

Gb. 3 10. Cara mengangkat dan memindahkan korban

Gb. 3 11. Teknik menggendong korban tidak sadar

3.5 TEKNIK MELEWATI HALANG RINTANG PP

A. LORONG SEMPIT

1. Tandu diturunkan dulu dan diletakan 2M dari Ambang lorong sempit.


2. Pembawa bendera memeriksa keadaan dan mengadakan penjajakan dahulu dan
meletakkan benderanya setelah melewatinya.
3. Setelah menjajaki dan mencoba nya sendiri, pemberi bendera memberitahukan tentang
hasil penjajakannya kepada ketua.
4. Pelaksanaan pertama penderita diangkat dari atas tandu oleh 3 orang penolong setelah itu
penolong dalam keadaan berdiri. Penderita dirapatkan dalam keadaan miring.
5. Pembawa bendera mulai memasuki lorong empit dengan membawa tandu,setelah itu
diikuti penolong yang membawa penderita. Pada waktu berjalan dilorong sempit harus
dengan gerakan menyamping dan langkah para penolong harus teratur, menutup dan
membuka kaki harus bersamaan.
6. Kemudian diikuti anggota lainnya yang membawa peralatan TasP3K, dan lain lain.
7. Setelah melewati lorong sempit penderita dipindahkan kembali ke tandu, sejenak
memeriksa keadaan penderita tandu diangkat dengan tertib dan meneruskan perjalanan.

B. PAGAR TEMBOK
1. Tandu diturunkan dulu dan diletakan 2M dari pagar tembok.
2. Pembawa bendera memeriksa keadaan dan mengadakan penjajakan dahulu dan
meletakkan benderanya setelah melewatinya.
3. Setelah menjajaki dan mencoba nya sendiri, pemberi bendera memberitahukan tentang
hasil penjajakannya kepada ketua.
4. Pelaksanaan pertama tandu diangkat tingggi oleh 4 orang penolong dengan posisi
mendatar, pegangan tandu depan diletakan pada pagar tembok 2 jengkal dari ujung
pegangan.
5. Pembawa bendera meloncati tembok disusul dengan 2 penolong lainnya bagian depan
pengangkat tandu.
6. Setelah melewatinya. 2 penolong tersebut memegang kembali ujung tandu yang
diletakkan pada tembok, kedilakukan gerakan menarik dari depan dan mendorong dari
belakang sampai ujung tandu paling belakang 2 jengkal dari ujung pegangan diletakkan
pada tembok.
7. Kemudian 2 penolong yang mengankat tandu bagian belakang segera meloncati pagar
tembok.
8. Setelah selesai kembali mengatur posisi seperti semula dalam pengangkatan tandu.
9. Sejenak melakukan pemeriksaan, kemudian melajuti perjalanan

C. GORONG GORONG / URUNG URUNG

1. Tandu diturunkan dulu dan diletakan 2M dari gorong gorong.


2. Pembawa bendera memeriksa keadaan dan mengadakan penjajakan dahulu dan
meletakkan benderanya setelah melewatinya.
3. Setelah menjajaki dan mencobanya sendiri, pemberi bendera memberitahukan tentang
hasil penjajakannya kepada ketua.
4. Pelaksanaan pertama penderita diangkat dari atas tandu oleh 3 orang penolong.
5. Penderita segera dibaringkan atau ditelungkupkan ( tergantung Pada keadaan lukanya )
diatas punggung salah satu penolong yang sudah dalam posisi tiarap dan siap memasuki
gorong gorong. Badan penderita disatukan dan diikat kebadan penolong.
6. Pembawa bendera terlebih dahulu dengan memasuki gorong gorong dengan membawa
tandu melewati gorong, kemudian kembali lagi dengan Posisi merayap , Penolong yang
membawa penderita memegang pambawa bendera kemudian dibantu dengan anggota
lainya dibelakang, serta disusul oleh Anggota lannya yang membawa tas P3K dan lain
lainnya..
7. Setelah melewati semuanya, penderita segera diangkat kembali dan diletakkan ketandu.
8. Sejenak melakukan pemeriksaan, kemudian melajuti perjalanan.

1. D. BAHAYA UDARA
1. Waktu mendengar tanda bahaya, segera mencari temapat yang sekiranya dianggap
aman.
2. Tandu penderita segera diletakkan dan para penolong segara tiarap,dan mencari
tempat yang dianggap aman.
3. Bagi pembawa bendera, bendera di letakkan / ditutupi pada penderita.
4. Setelah tanda bahaya usai, kembali keposisi semula dan tandu penderita diusung
kembali dan melanjuti perjalanan

E. AMBULANCE

1. Pembawa bendera menbuka pintu belakang Ambulance.


2. Tandu penderita diturunkan dan diletakkan 2M agak menyamping
sebelah kiri atau kanan dari pintu ambulance.
3. 2 Orang penolong mengeluarkan tandu khusus dari ambulance, persisi
didepan ambulance.
4. Penderita diangkat oleg 3 orang penolong dan dipindahkan ke tandu
khusus ambulance.
5. Kemudian tandu khusus tersebut diangkat oleh 4 penolong untuk
dimasukkan kedalam ambulance.
6. Selanjutnya tandu bawaan kosong dibawa dimasukkan kedalam
ambulance bersama dengan 3 orang penolong lainnya, dan 3 orang
penolong tersebut benrtindak untuk sebagai penjaga penderita.
7. 2 orang lain dapat duduk didepan sebelah pengemudi.
8. Pintu Ambulance ditutup dengan rapat.

F. RUMAH SAKIT

1. Cara menurunkan penderita dari ambulance


Pembawa bendera turun terlebih dahulu, membuka pintu belakang ambulan.
2 orang lainya turun dari ambulan memegangi tandu dan mebuka kunci roda tandu.
Satu orang mengeluarkan tandu kosongdan disiapkan disamping kanan/ kiri ambulance.
Tandu khusus penderita ditarik keluardisambut oleh 2 orang penolong, kemudian diangkat sama-
sama oleh 4 penolongkemduian diletakkan sejajra dengan tandu kosong.
Penderita diangkat oleg 3 penolong ketandu kosong.
Dengan 4 orang penolong tandu penderita dibawa masuk ruangan rumah sakit.
2. Cara memindahkan penderita ketempat tidur
Sewaktu penderita diangkat masuk ruangan rumah sakit , pembawa bendera melapor kepada
petugas poliklinik, kemudian segera mengatur dan membereskan tempat tempat tidur.
Setelah memasuki ruangan penderita diangkat oleh 3 penolong meletakkan ketempat tidur
dengan rapi dan tertib

4. BANTUAN HIDUP DASAR dan RESUSITASI JANTUNG PARU

4.1 BANTUAN HIDUP DASAR

Pada saat pertama kali menemukan penderita jika dalam melakukan penilaian dini, penolong
menemukan gangguan pada salah satu dari ke tiga komponen, al : tersumbatnya jalan napas,
tidak menemukan adanya napas dan atau tidak adanya denyut nadi. Menghadapi kasus seperti
ini Pelaku Pertolongan Pertama harus menguasai dan melakukan tindakan yang dikenal istilah
BANTUAN HIDUP DASAR. Karena tanpa menggunakan intervensi obat atau alat kejut
jantung, jika sebaliknya disebut dengan Bantuan Hidup Lanjut (Advance Life Support). Khusus
untuk BHD, penderita dibagi 3 , yaitu : Bayi = 0 1 tahun, Anak = 1 8 tahun, dan
Dewasa = > 8 tahun

SISTEM PERNAPASAN DAN SISTEM PEREDARAN DARAH ADALAH YANG UTAMA


UNTUK HIDUP MANUSIA. JIKA SALAH SATU ATAU KEDUANYA TERGANGGU,
ANCAMAN KEHILANGAN NYAWA SANGAT TINGGI

Tubuh manusia dapat menyimpan makanan hanya beberapa minggu dan menyimpan air
beberapa hari, tetapi hanya mampu menyimpan Oksigen hanya untuk beberapa menit saja !
Sistem Pernapasan memasok Oksigen ketubuh sesuai kebutuhan dan juga mengeluarkan Karbon
Dioksida.

Sistem Sirkulasi inilah yang selanjutnya bertanggung jawab memberikan pasokan oksigen dan
nutrisi keseluruh jaringan tubuh dan bertanggung jawab pula untuk membuang sisa sisa
makanan dari jaringan tubuh.

Langkah tindakan BHD :

A: AirwayControl (Penguasaan Jalan Napas)

B: BreathingSupport (Bantuan Pernapasan)

C: Circulatory Support (Bantuan Sirkulasi)

Gb 3-8. Sistem Pernafasan dan Sistem Sirkulasi Darah Manusia

4.2 KOMPONEN-KOMPONEN SIRKULASI

4.2.1 JANTUNG

Sebagai pemompa darah ke seluruh tubuh, Bagian sebelah kiri menerima darah yang kaya
dengan oksigen setelah diproses dari paru paru untuk selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh.

Bagian sebelah kanan menerima darah dari tubuh dan meneruskan ke paru paru untuk kembali
diperkaya dengan oksigen.

Penyebab jantung berhenti :

PENYAKIT JANTUNG
GANGGUAN PERNAPASAN
SYOK
KOMPLIKASI PENYAKIT LAIN

4.2.2 PEMBULUH DARAH


1. Arteri ( Pembuluh Nadi ) : Pembuluh darah yang mengangkut darah yang kaya oksigen
ke seluruh tubuh. Darah yang keluar berwarna merah segar dan memancar ( merah terang )
2. Kapiler ( Pembuluh Balik ) :Pembuluh darah yang mengangkut darah dari seluruh tubuh
kembali ke jantung. Darah yang keluar mengalir dan berwarna merah gelap dan jika terluka
hanya menetes.
3. Vena ( Pembuluh Rambut ) : Arteri akan terbagi bagi menjadi pembuluh yang lebih
kecil sehingga dapat mencapai hingga lebih dekat dengan kulit. Darah yang keluar sangat sedikit
dan kadang hanya berupa titik-titik perdarahan berwarna merah kehitaman.

Denyut dapat dirasakan dengan mudah pada daerah dimana Arteri / Pembuluh Nadi berada
dekat dengan kulit. Setiap kali jantung berdetak, anda dapat merasakan denyutnya pada sistem
arteri.

Lokasi pengecekan denyut yang paling mudah:

Radialis : Berada di pergelangan tangan


Carotis : Berada di leher
Femoralis : Berada di lipatan paha
Brachialis : Berada di Lengan atas
Dorsalis Pedis : Berada di Punggung kaki
Tibialis Posterior : Berada di Belakang mata kaki

4.2.3 DARAH

Komposisi darah terdiri atas sel darah putih, sel darah merah, dan plasma darah. Beberapa
fungsi darah antara lain :

1. Membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh.


2. Membuang sisa-sisa makanan / zat sampah
3. Melawan penyakit dan infeksi
4. Kemampuan pembekuan darah

4.3 KEMATIAN

4.3.1 MATI KLINIS

Tidak ada napas dan nadi, bersifat reversibel.


Punya waktu 4 6 menit untuk diresusitasi tanpa kerusakan otak.

4.3.2 MATI BIOLOGIS

Terjadi 8 10 menit dari henti napas dan henti jantung, bersifat irreversibel.
Dimulai dengan kematian sel sel otak.

4.3.3 TANDA-TANDA PASTI KEMATIAN


1. Lebam mayat ( 20 30 menit )
2. Kaku mayat ( 1 2 jam )
3. pembusukan ( 6 12 jam)
4. Tanda lainnya : cedera mematikan.

4.4 SUMBATAN JALAN NAPAS

Mengenal Sumbatan jalan napas :

4.4.1 SUMBATAN SEBAGIAN ( PARSIAL )

Pertukaran udara baik : diperlihatkan dengan batuk kuat


Pertukaran udara buruk : diperlihatkan dengan batuk lemah tidak efektif, nada tinggi,
kulit abu kebiruan.
Suara napas memperlihatkan jenis sumbatan :
Suara dengkur: lidah jatuh menutup jalan napas
Suara lengking : kotak pita suara kejang ( spasme )
Suara bengek: jalan napas membengkak atau kejang
Suara kumur: darah, muntahan atau cairan lain di jalan napas.

4.4.2 SUMBATAN TOTAL

Tak dapat berbicara, bernapas atau batuk


Mencengkram leher dengan satu atau kedua tangan ( tanda universal ).

4.4.3 4 Koreksi Sumbatan Jalan Nafas

1. Hentakan perut (abdominal thrust) : letak titik penekanan pada pertengahan antara
umbilicus dengan procesus xipoideus ( Dewasa ).
2. Hentakan Dada (Chest Thrust) : letakkan titik penekanan pada pertengahan tulang dada (
Ibu hamil Gemuk Anak bayi ).
3. Pukulan punggung
4. Sapuan jari (Finger Sweep) : Jika ada sumbatan/benda asing yang terlihat di dalam mulut.
Teknik ini tidakboleh dilakukan pada bayi &anak kecil, kecuali benda asingnya sudah terlihat di
dalam mulut.

4.4.4 Koreksi Sumbatan jalan napas pada dewasa sadar

Bila seseorang sadar tidak dapat bicara, napas atau batuk :

Berikan sampai 5 x hentakan perut ( Heimlich manuver )


Periksa, apakah sumbatan benda asing sudah keluar
Bagi wanita hamil atau orang gemuk : Lakukan hentakan dada

Ulangi siklus 5 x hentakan perut, sampai :


Korban bantuk mengeluarkan benda asing tersebut
Korban mulai bernapas atau batuk kuat
Korban menjadi tidak sadar

Nilai kembali korban sesudah setiap 5 x hentakan

Anda dapat melakukan kombinasi hentakan perut dengan pukulan punggung.

Gb 3-13. Pukulan punggung pada bayi

Gb. 3-12. Hentakan Perut

Gb 3-15. Sapuan Jari

Gb 3-14. Hentakan Perut ( Lanjut )

Gb 3-16. Hentakan Dada pada Ibu


Hamil dan Dewasa

Gb 3-17. Hentakan Perut dan Hentakan Dada pada Anak

Gb 3-18. Hentakan Dada dan Pukulan Punggung pada Bayi

4.4.5 Koreksi Sumbatan Jalan Napas Pada Dewasa Tidak Sadar

Bila seseorang tidak sadar dan 2 inflasi tidak masuk dan sesudah reposisi, 2 inflasi tidak
masuk lagi, lakukan :

Berikan 5 x hentakan perut dengan posisi mengangkang diatas korban.


Lakukan tekhnik sapuan jari

Untuk anak : Tekhnik sapuan jari hanya bila benda terlihat jelas.
Gb 3-19. Tahap

Tindakan BHD

Gb 3-20. Sapuan Jari Pada Bayi

Gb 3-21. Koreksi Sumbatan Jalan Nafas Pada Anak dan Bayi

4.4.6 Bila langkah tersebut gagal :

Ulangi siklus terus sampai berhasil atau bantuan medis tiba

Beri 2 inflasi
Gagal, reposisi kepala, ulangi 2 inflasi
Lakukan 5 x hentakan perut
Lakukan tekhnik sapuan jari.

4.5 RESUSITASI JANTUNG PARU

Adalah Kombinasi pernapasan buatan dan kompresi dada luar untuk mengembalikan
fungsi jantung dan paru.

RJP dilakukan ketika tidak ada respons dari korban atau tidak ada nadi dan tidak ada
nafas ( mati klinis ).

4.5.1 Pada Saat melakukan RJP

Lakukan diatas alas yang datar ,rata & keras.


Lakukan 5 Siklus selama 2 menit ( 30 kompresi, 2 inflasi ).
Periksa kembali napas dan nadi. Minta seseorang menilai nadi karotis.
Lihat gerakan naik turunnya dada saat bantuan napas diberikan.
Reaksi pupil mungkin akan kembali normal.
Warna kulit penderita berangsur-angsur membaik.
Penderita mungkin menunjukkan refleks menelan dan bergerak.
Nadi akan berdenyut kembali.
Jika nadi masih tidak teraba, lanjutkan RJP dengan setiap 2 menit periksa napas dan nadi
Jika nadi sudah teraba namun napas belum ada, lanjutkan napas dengan 1 tiupan tiap 5
6 detik
Masalah Pakaian Korban : Biasanya tidak perlu untuk melepas atau membuka pakaian
korban.

4.5.1.1 Lepaskan atau buka bila :

Kerah pakaian menghalangi pemeriksaan denyut nadi leher


Pakaian terlalu tebal untuk menentukan titik kompresi
Tak dapat menemukan tempat posisi tangan yang tepat
Prosedur peraturan lokal yang mengharuskan

4.5.1.2 Korban mempunyai kesempatan hidup lebih baik bila :

RJP dimulai dalam 4 menit pertama henti jantung


Korban menerima bantuan hidup lanjut dalam 4 menit kemudian

Gb 3-22. Posisi RJP anak, dewasa dan 2 orang penolong

Gb 3-23 Posisi Tubuh Penolong Dalam Melakukan RJP Dewasa

4.5.1.3 RJP DEWASA

Periksa Respon ASN-T

Minta Bantuan

Posisikan Korban dan mulai penilaian dini

Buka jalan napas dan periksa napas ( Sumbatan ( ) )

Beri 2 x napas buatan

Periksa denyut nadi ( -)

Periksa perdarahan besar ( -)

Tentukan tempat / titik kompresi

Beri 15 x kompresi, kecepatan 80 x/menit kedalaman kompresi 4 5 cm

Beri 2 x napas buatan


Ulangi siklus, langkah 8 dan 9 (4 siklus dalam 1 menit)

Periksa denyut nadi leher setiap beberapa menit

Pulih, Posisikan korban miring stabil

Periksa selalu A B -C

4.5.1.4 RJP ANAK

Periksa Respon ASN-T

Minta Bantuan

Posisikan Korban dan mulai penilaian dini

Buka jalan napas dan periksa napas ( Sumbatan ( ) )

Beri 2 x napas buatan

Periksa denyut nadi ( -)

Periksa perdarahan besar ( -)

Tentukan tempat / titik kompresi

Beri 5 x kompresi, kecepatan 100 x/menit kedalaman kompresi 34cm

-Kompresi dilakukan hanya dengan 1 tangan

Beri 1x napas buatan

Ulangi siklus, langkah 8 dan 9 (4 siklus dalam 1 menit)

Periksa denyut nadi leher setiap beberapa menit

Pulih, Posisikan korban miring stabil

Periksa selalu A B C

Gb 3-24. Posisi RJP Anak


Gb 3-25. Posisi RJP Pada Bayi

4.5.1.5 RJP BAYI

Periksa Respon ASN-T

Minta Bantuan

Posisikan Korban dan mulai penilaian dini

Buka jalan napas dan periksa napas ( Sumbatan ( ) )

Beri 2 x napas buatan, gunakan udara dalam mulut

Periksa denyut nadi ( -)

Periksa perdarahan besar ( -)

Tentukan tempat / titik kompresi

Beri 5 x kompresi, kecepatan 100 x/menit,kedalaman kompresi, 2,3 cm

Kompresi dilakukan hanya dengan 2 jari tangan

Beri 1x napas buatan

Ulangi siklus, langkah 8 dan 9 ( 4 siklus dalam 1 menit )

Periksa denyut nadi leher setiap beberapa menit

Pulih, Posisikan korban miring stabil dalam gendongan

Periksa selalu A B C

4.5.2 Kapan menghentikan RJP

Korban pulih ( denyut nadi dan napas kembali )


Diganti oleh tenaga terlatih
Kelelahan untuk meneruskan
Dokter mengatakan untuk menghentikan tindakan
Henti Jantung sudah lebih 30 menit ( dengan atau tanpa RJP )
Catatan : Pendapat ini masih kontroversial dilapangan tanpa ahli.

4.5.3 Posisi Pemulihan ( Miring Stabil )

Korban tak sadar bernapas tanpa trauma,

gunakan posisi miring stabil, caranya :

Miringkan korban pada salah satu sisi tubuh


Tempatkan pada satu tangan sebagai penopang kepala
Tekuk tungkai untuk mencegah korban bergulir.

Gb 3-26. Tahap Proses Posisi Pemulihan

Gb 3-27. Posisi pemulihan

4.5.4 Bahaya Komplikasi RJP

1. Muntah, sebab :

Pemberian napas buatan terlalu cepat


Pemberian napas buatan terlalu keras
Sumbatan jalan napas sebagian atau total.

2. Inhalasi benda asing ( aspirasi ) :

Ada 3 zat yang mengancam kehidupan :

Aspirasi bahan makanan


Aspirasi bukan cairan lambung ( tenggelam )
Aspirasi asam lambung

3. Distensi Lambung, sebab :

Napas buatan terlalu cepat


Napas buatan terlalu kuat
Sumbatan jalan napas parsial atau total

Catatan: Jangan coba mendorong keluar udara dari lambung.

4. Luka dengan adanya cedera, seperti :

Patah Tulang iga, lepasnya iga, memar paru, robeknya paru, hati dan limpa.
5. PERDARAHAN dan SYOK

5.1 PERDARAHAN

Sistem peredaran darah yang terdiri dari 3 komponen utama yaitu jantung, pembuluh darah dan
darah. Dalam tubuh manusia darah relatif selalu berada dalam pembuluh darah kecuali pada saat
masuk dalam jaringan untuk melakukan pertukaran bahan makanan dan oksigen dengan zat sisa
pembakaran tubuh dan karbondioksida.

5.1.1 KLASIFIKASI SUMBER PERDARAHAN / GOLONGAN PENDARAHAN

Perdarahan terjadi apabila darah keluar dari pembuluh darah oleh berbagai sebab seperti cedera
atau penyakit. Berdasarkan sumber perdarahan:

1. Perdarahan nadi (arteri). Darah yang berasal dari pembuluh nadi keluar memancar sesuai
dengan denyutan nadi dan berwarna merah terang.

2. Perdarahan balik (vena). Darah yang keluar dari pumbuluh balik, mengalir, berwarna
merah gelap.

3. Perdarahan rambut (kapiler). Berasal dari pembuluh kapiler, darah yang keluar
merembes perlahan.

Gb. 3 28. Macam macam Perdarahan

5.1.2 JENIS-JENIS PERDARAHAN

1. Perdarahan Luar

Perdarahan yang terlihat jelas darah keluar dari luka terbuka. Untuk membantu memperkirakan
berapa banyak darah yang telah keluar dari tubuh penderita, hal yang dipakai adalah keluhan
korban dan tanda vital. Bila keluhan korban sudah mengarah ke gejala dan tanda syok seperti
yang dibahas dalam topik ini maka penolong wajib mencurigai bahwa kehilangan darah terjadi
dalam jumlah yang cukup banyak.

2. Perdarahan Dalam

Perdarahan dalam biasanya tak terlihat dan kulit tidak tampak rusak sehinga darah tidak bisa
mengalir langsung. Kadang-kadang terlihat berada dibawah permukaan kulit tanpa memar.

Perdarahan dalam dapat berkisar dari skala kecil hingga yang mengancam jiwa penderita.
Kehilangan darah tidak dapat diamati pada perdarahan dalam.

5 Stasiun perdarahan dalam :


1. Rongga Kepala ( Cranium )
2. Rongga Dada
3. Rongga Tulang Belakang
4. Rongga Perut ( Abdomen )
5. Rongga Panggul ( Pelphis )

Tanda dan Gejala Perdarahan Dalam :

Waspadai adanya perdarahan dalam, bila terjadi:

a) Riwayat benturan benda tumpul yang kuat

b) Patah tulang tertutup

c) Luka tusuk

d) Darah / cairan yang keluar dari telinga atau hidung

e) Muntah atau batuk darah

f) Memar luas pada batan tubuh

g) Luka tembus dada atau perut

h) Nyeri tekan, kaku atau kejang pada dinding perut

i) BAK / BAB berdarah

j) Selalu haus

5.2 PERTOLONGAN PERTAMA PADA PERDARAHAN

Perdarahan yang harus segera ditangani adalah perdarahan yang dapat mengancam nyawa.

5.2.1 PERLINDUNGAN TERHADAP INFEKSI PADA PENANGANAN


PERDARAHAN

1. Pakai APD agar tidak terkena darah / cairan tubuh korban.


2. Jangan menyentuh mulut, hidung, mata, makanan sewaktu memberikan perawatan.
3. Cucilah tangan segera setelah selesai merawat.
4. Dekontaminasi atau buang bahan yang sudah ternoda dengan darah atau cairan tubuh
korban.

Bahaya lain pada perdarahan adalah kemungkinan terjadinya penularan penyakit. Banyak kuman
penyakit bertahan hidup di dalam darah manusia, sehingga bila darah korban ini bisa masuk
kedalam tubuh penolong maka ada kemungkinan penolong dapat tertular penyakit. Maka itu
semua jenis cairan yang berasal dari korban, kita anggap itu beracun.

5.2.2 MENGENDALIKAN PERDARAHAN LUAR

1. Tekan langsung pada lukanya. Tekan bagian yang berdarah tepat diatas luka, umumnya
perdarahan akan berhenti setelah 5 -15 menit. Bila belum berhenti dapat ditambah penutup lain,
tanpa melepas penutup pertama.
2. Tekan sebelum lukanya pada titik tekan ( Pada titik nadi yang lebih dekat dari arah jantung
).
3. Elevasi : Meninggikan daerah yang mengalami perdarahan / lebih tinggi dari jantung dan
lakukan bersamaan dengan tekanan langsung (dilakukan hanya untuk anggota gerak saja).
4. Torniquet ( sangat tidak dianjukan ). Hanya digunakan dalam keadaan gawat darurat dimana
tidak ada cara lain utnuk menghentikan perdarahan. Torniket diaplikasikan sedekat mungkin
dengan titik perdarahan.

Gb. 3 29. Koreksi Perdarahan Luar

Gb. 3 30. Menghentikan perdarahan luar

5.3 PERAWATAN PERDARAHAN

5.3.1 PADA PERDARAHAN BESAR:

a. Jangan buang waktu hanya untuk mencari penutup luka.


b. Tekan langsung dengan tangan ( sebaiknya menggunakan sarung tangan latex).
c. Pertahankan dan tekan cukup kuat.
d. Rawat luka setelah perdarahan terkendali.

5.3.2 PADA PERDARAHAN RINGAN ATAU TERKENDALI

1. Gunakan tekanan langsung dengan penutup luka.


2. Tekan sampai perdarahan terkendali.
3. Pertahankan penutup luka dan balut.
4. Sebaiknya jangan melepas penutup luka atau balutan pertama.

5.3.3 PERDARAHAN DALAM ATAU CURIGA ADA PERDARAHAN DALAM

1. Baringkan dan istirahatkan penderita


2. Buka jalan nafas dan pertahankan
3. Periksa berkala pernafasan dan denyut nadi
4. Perawatan syok bila terjadi atau akan terjadi syok
5. Jangan beri makan dan minum
6. Rawatlah cedera berat lainnya bila ada
7. Bila ada berikan oksigen
8. Rujuk ke fasilitas kesehatan

Penanganan perdarahan berarti mengendalikan perdarahan, bukan berarti menghentikan


perdarahan sama sekali.

5.4 PENUTUP DAN PEMBALUT LUKA

5.4.1 PENUTUP LUKA

Gunanya untuk :

1. Membantu mengendalikan perdarahan


2. Mencegah kontaminasi lebih lanjut
3. Mempercepat penyembuhan
4. Mengurangi nyeri

5.4.1.1 PENUTUPAN LUKA

Penutup luka harus meliputi seluruh permukaan luka.

Upayakan permukaan luka sebersih mungkin sebelum menutup luka, kecuali bila luka disertai
perdarahan, maka prioritasnya adalah menghentikan perdarahan tersebut.

Pemasangan penutup luka harus dilakukan sedemikian rupa sehingga permukaan penutup yang
menempel pada bagian luka tidak terkontaminasi

5.4.1.2 PENGGUNAAN PENUTUP LUKA PENEKAN

Kombinasi penutup luka dan pembalut dapat juga dipakai untuk membantu melakukan tekanan
langsung pada kasus perdarahan. Langkah-langkahnya :

1. Tempatkan beberapa penutup luka kasa steril langsung di atas luka dan tekan.
2. Beri bantalan penutup luka.
3. Gunakan pembalut rekat, menahan penutup luka.
4. Balut.
5. Periksa denyut nadi ujung bawah daerah luka (distal).

5.4.2 PEMBALUT

Pembalut adalah bahan yang digunakan untuk mempertahankan penutup luka. Bahan pembalut
dibuat dari bermacam materi kain.

4 FUNGSI PEMBALUT
1. Penekanan untuk membantu menghentikan perdarahan.
2. Mempertahankan penutup luka pada tempatnya.
3. Menjadi penopang untuk bagian tubuh yang cedera.
4. Pemasangan yang baik akan membantu proses penyembuhan.

5.4.2.1 BEBERAPA JENIS PEMBALUT

1. Pembalut pita/gulung.
2. Pembalut segitiga (mitela).
3. Pembalut penekan.

5.4.2.2 PEMBALUTAN

Jangan memasang pembalut sampai perdarahan terhenti, kecuali pembalutan penekanan


untuk menghentikan perdarahan.
Jangan membalut terlalu kencang atau terlalu longgar.
Jangan biarkan ujung bahan terurai, karena dapat tersangkut pada saat memindahkan
korban
Bila membalut luka yang kecil sebaiknya daerah yang dibalut lebih lebar untuk
menambah luasnya permukaan yang mengalami tekanan diperluas sehingga mencegah
terjadinya kerusakan jaringan.
Jangan menutupi ujung jari, bagian ini dapat menjadi petunjuk apabila pembalutan kita
terlalu kuat yaitu dengan mengamati ujung jari. Bila pucat artinya pembalutan terlalu
kuat dan harus diperbaiki.
Khusus pada anggota gerak pembalutan dilakukan dari bagian yang jauh lebih dahulu lalu
mendekati tubuh.
Lakukan pembalutan dalam posisi yang diinginkan, misalnya untuk pembalutan sendi
jangan berusaha menekuk sendi bila dibalut dalam keadaan lurus.

Gb. 3 31. Membalut luka di kepala dengan kain pita

Gb. 3 32. Balutan Spika pada alat gerak dengan kain pita

Gb. 3 33. Pembalutan pada kepala dengan kain mitela

Gb. 3 34. Pembalutan pada sendi

Gb. 3 35. Balutan Spiral pada alat gerak dengan kain pita

Gb. 3 36. Balutan Recurrent pada amputasi

5.5 SYOK

Syok terjadi bila system peredaran darah (sirkulasi) gagal mengirimkan darah yang
mengandung oksigen dan bahan nutrisi ke organ vital (terutama otak, jantung, dan paru-paru).
5.5.1 PENYEBAB

1. Kegagalan jantung memompa darah


2. Kehilangan darah dalam jumlah besar
3. Pelebaran pembuluh darah yang luas, sehingga darah tidak dapat mengisinya dengan baik
4. Kekurangan cairan tubuh yang banyak

TANDA

1. Pernafasan : cepat dan dangkal


2. Nadi : cepat dan lemah
3. Kulit : pucat, dingin, dan lembab
4. Wajah : pucat, sianosis pada bibir, lidah, da cuping telinga
5. Mata : pandangan hampa, pupil melebar
6. Melemas, mungkin pingsan

5.5.2 GEJALA

1. Mual, mungkin muntah


2. Haus
3. Lemah
4. Pusing
5. Gelisah dan takut mati

5.5.3 PENANGANAN SYOK

1. Bawa penderita ke tempat yang teduh dan nyaman


2. Tidurkan terlentang, tungkai ditinggikan 20-30 cm bila tidak ada kecurigaan patah tulang
belakang atau patah tungkai.
3. Pakaian penderita dilonggarkan
4. Cegah kehlangan panas tubuh dengan beri selimut
5. Tenangkan penderita
6. Pastikan pernafasan baik
7. Kontrol pendarahan dan rawat cedera lainnya bila ada
8. Bila ada berikan oksigen sesuai protocol
9. Jangan beri makan dan minim
10. Periksa berkala tanda vital secara berkala
11. Rujuk ke fasilitas kesehatan

6. CIDERA JARINGAN LUNAK dan CIDERA KHUSUS

JANGAN BERSIHKAN PADA LUKANYA LANGSUNG, TAPI BERSIHKAN SEKITAR


LUKANYA LEBIH DULU, LALU TUTUP DENGAN PENUTUP LUKA, SETELAH ITU
DIBALUT DENGAN PEMBALUT LUKA.

6.1 CIDERA JARINGAN LUNAK


Pertolongan pertama cedera jaringan lunak berkaitan erat dengan perdarahan dan
pertolongan pertama untuk mengatasinya. Hal ini karena cedera jaringan lunak adalah salah
satu penyebab terjadinya perdarahan.

Apa sih yang dimaksud dengan cedera jaringan lunak?? Dalam bahasa sehari-hari, kita sering
mengenal cedera jaringan lunak dengan istilah luka yaitu terputusnya keutuhan jaringan lunak
baik di luar ataupun di dalam tubuh.

Jaringan lunak ini meliputi kulit, jaringan lemak, pembuluh darah, jaringan ikat, membran.
kelenjar, otot dan saraf. Pada jaringan lunak, kulit bertindak sebagai pertahanan tubuh lapisan
pertama terhadap gaya dari luar yang mudah mengalami cedera dan sangat jelas bila mengalami
cedera.

Jika terjadi cedera jaringan lunak maka bisa menimbulkan beberapa komplikasi pada tubuh
korban seperti perdarahan, kelumpuhan dan lainnya sesuai dengan luasnya dan jaringan lunak
yang terkena.

Ada 2 kategori cidera jaringan lunak, yaitu :

1. Cidera Jaringan Lunak Terbuka


2. Cidera Jaringan Lunak Tertutup

6.1.1 CIDERA JARINGAN LUNAK TERBUKA

Ada 7 macam cidera jaringan lunak terbuka :

1. Lecet / Abrasi
2. Sayat

Untuk luka yang lebar, gunakan kain mitela lipatan 2.

Untuk luka pada sendi, gunakan kain mitela lipatan 4, dengan balutan spika.

Untuk luka yang kecil, gunakan kain mitela lipatan 8, dengan balutan spiral.

3. Tusuk

Jangan cabut penusuknya, kecuali mengganggu jalan nafas. Stabilkan saja penusuknya
menggunakan kain mitela dengan balutan donat, karena penusuknya berfungsi sebagai tampoon.

4. Remuk

Lakukan pembidaian ( min. 2 buah ) pada bagian yang remuk.


5. Gigitan

Sebaiknya untuk luka gigitan apapun kita asumsikan itu beracun. Gunakan Band-Aid elastis /
Tensokrep dengan balutan spiral, lalu bawa ke Rumah Sakit.

6. Tembak

Pada bagian vital, kita tidak dapat berbuat banyak. Pada bagian lain, tidak akan terasa sakit
sebelum terkontaminasi dengan udara. Pada extrimitas atas dan extrimitas bawah jangan cabut
proyektilnya, cukup hentikan perdarahannya.

7. Amputasi

6 8 jam = Golden Periode ( masih dapat disambung )

Ambil organ yang putus, masukkan ke wadah yang bersih dan kedap. Lalu mesukkan ke dalam
es. Lalu balut lukanya menggunakan kain mitela dengan balutan recurrent. Lalu bawa ke rumah
sakit untuk mendapatkan perawatan

6.1.2 CIDERA JARINGAN LUNAK TERTUTUP

Ada 2 macam cidera jaringan lunak tertutup, yaitu :


Penanganan :

1. Terkilir
2. Memar

1. R = REST, Istirahatkan

I = ICE, ambil es batu

C = COMPRESS, lalu kompres

E = ELEVATION, angkat lebih tiggi dari jantung

Jika dalam 1 x 24 jam dengan cara tersebut diatas masih belum baik, maka direndam dengan
air hangat.

2. Jangan diurut karena menyebabkan dilaktasi dan luka pada pembuluh darah.

Catatan : Hanya Fraktur dan Dislokasi yang boleh diurut.

6.2 CIDERA KHUSUS

6.2.1 Haepitaxis / Mimisan


Ditengadahkan dan dipenceet hidungnya.
Periksa apakah ada cairan otak yang keluar.
Jangan disumbat, tapi ditutup saja dengan penutup luka dan plester.

6.2.2 Tertusuk dibagian Dada dan Leher

Pada bagian dada dan leher terdapat organ komponen sirkulasi dimana terjadinya gangguan pada
organ tersebut dapat menyebabkan kematian.

Jika penusuknya harus dicabut, langsung tutup lukanya dengan tangan / platik agar kedap dan
udara tidak masuk ke pembuluh darah.

6.2.3 Eviserasi ( Organ Perut Keluar )

Jangan direposisi, posisikan Litotomi. Gunakan balutan donat yang besar untuk menstabilkan
organnya dan selalu disiram air supaya tidak lengket.

6.2.4 Korban Benturan Keras

Curigai adanya trauma tulang belakang.

Benturan keras di kepala ;

Periksa adanya cerebrospinalpluit yang keluar dari hidung dan kuping. Jika ada jangan
disumbat, tapi ditutup saja.
Jika yang terbentur bagian sebelah kiri, biasanya yang cidera bagian sebelah kanan.

Fungsi Otak Kecil :

Mengatur pernafasan, Kesadaran dan Keseimbangan Tubuh.

7. PATAH TULANG / FRAKTUR dan PEMBIDAIAN

7.1 PATAH TULANG / FRAKTUR

7.1.1 DEFINISI

Terputusnya jaringan yang disebabkan oleh benturan / gesekan yang mengakibatkan sakit bila di
gerakan

7.1.2 CIDERA OTOT RANGKA


Alat gerak yang terdiri dari tulang, sendi, jaringan ikat dan otot pada manusia sangat penting.
Setiap cedera atau gangguan yang terjadi pada sistem ini akan mengakibatkan terganggunya
pergerakan seseorang untuk sementara atau selamanya.

Gangguan yang paling sering dialami pada cedera otot rangka adalah Patah tulang. Pengertian
patah tulang ialah terputusnya jaringan tulang, baik seluruhnya atau hanya sebagian saja.

7.1.3 PENYEBAB

Pada dasarnya tulang itu merupakan benda padat, namun masih sedikit memiliki kelenturan. Bila
teregang melampau batas kelenturannya maka tulang tersebut akan patah.

7.1.4 CEDERA DAPAT TERJADI SEBAGAI AKIBAT :

1. Gaya langsung.

Tulang langsung menerima gaya yang besar sehingga patah.

2. Gaya tidak langsung.

Gaya yang terjadi pada satu bagian tubuh diteruskan ke bagian tubuh lainnya yang relatif
lemah,sehingga akhirnya bagian lain inilah yang patah. Bagian yang menerima benturan
langsung tidak mengalami cedera berarti.

3. Gaya puntir.

Selain gaya langsung, juga tulang dapat menerima puntiran atau terputar sampai patah. Ini sering
terjadi pada lengan. Mekanisme terjadinya cedera harus diperhatikan pada kasus-kasus yang
berhubungan dengan patah tulang.

Ini dapat memberikan gambaran kasar kepada kita seberapa berat cedera yang kita hadapi.

7.1.5 GEJALA DAN TANDA PATAH TULANG

Mengingat besarnya gaya yang diterima maka kadang kasus patah tulang gejalanya dapat tidak
jelas. Beberapa gejala dan tanda yang mungkin dijumpai pada patah tulang :

1. Terjadi perubahan bentuk pada anggota badan yang patah. Seeing merupakan satu-
satunya tanda yang terlihat. Cara yang paling baik untuk menentukannya adalah dengan
membandingkannya dengan sisi yang sehat.
2. Nyeri di daerah yang patah dan kaku pada saat ditekan atau bila digerakkan.
3. Bengkak, disertai memar / perubahan warna di daerah yang cedera.
4. Terdengar suara berderak ( kripitus ) pada daerah yang patah (suara ini tidak perlu
dibuktikan dengan menggerakkan bagian cedera tersebut).
5. Mungkin terlihat bagian tulang yang patah pada luka.

7.1.6 PEMBAGIAN PATAH TULANG

Berdasarkan kedaruratannya patah tulang dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Patah tulang terbuka


2. Patah tulang tertutup

Yang membedakannya adalah lapisan kulit di atas bagian yang patah. Pada patah tulang terbuka,
kulit di permukaan daerah yang patah terluka. Pada kasus yang berat bagian tulang yang patah
terlihat dari luar. Perbedaannya adalah jika ada luka maka kuman akan dengan mudah sampai ke
tulang, sehingga dapat terjadi infeksi tulang. Patah tulang terbuka termasuk kedaruratan segera.

7.1.7 PERTOLONGAN CEDERA ALAT GERAK

1. Lakukan penilaian dini.


2. Lakukan pemeriksaan fisik.
3. Stabilkan bagian yang patah secara manual, pegang sisi sebelah atas dan sebelah bawah
cedera, jangan sampai menambah rasa sakit penderita.
4. Paparkan seluruh bagian yang diduga cedera.
5. Atasi perdarahan dan rawat luka bila ada.
6. Siapkan semua peralatan dan bahan untuk membidai.
7. Lakukan pembidaian.
8. Kurangi rasa sakit.

Kenali dan atasi keadaan yang mengancam jiwa.


Jangan terpancing oleh cedera yang terlihat berat.

Istirahatkan bagian yang cedera.


Kompres es bagian yang cedera (khususnya pada patah tulang tertutup).
Baringkan penderita pada posisi yang nyaman.

7.2 PEMBIDAIAN

Penanganan patah tulang yang paling utama adalah dengan melakukan pembidaian. Pembidaian
adalah berbagai tindakan dan upaya untuk mengistirahatkan bagian yang patah.

7.2.1 TUJUAN PEMBIDAIAN

1. Mencegah pergerakan/pergeseran dari ujung tulang yang patah.


2. Mengurangi terjadinya cedera baru disekitar bagian tulang yang patah.
3. Memberi istirahat pada anggota badan yang patah.
4. Mengurangi rasa nyeri.
5. Mempercepat penyembuhan
7.2.2 BEBERAPA MACAM JENIS BIDAI

1. Bidai Keras. Umumnya terbuat dari kayu, alumunium, karton, plastik atau bahan lain yang
kuat dan ringan. Pada dasarnya merupakan bidai yang paling baik dan sempurna dalam keadaan
darurat. Kesulitannya adalah mendapatkan bahan yang memenuhi syarat di lapangan.

Contoh : bidai kayu, bidai udara, bidai vakum.

2. Bidai Traksi. Bidai bentuk jadi dan bervariasi tergantung dari pembuatannya, hanya
dipergunakan oleh tenaga yang terlatih khusus, umumnya dipakai pada patah tulang paha.

Contoh : bidai traksi tulang paha.

3. Bidai Improvisasi. Bidai yang dibuat dengan bahan yang cukup kuat dan ringan untuk
penopang. Pembuatannya sangat tergantung dari bahan yang tersedia dan kemampuan
improvisasi si penolong.

Contoh : majalah, koran, karton dan lain-lain.

4. Gendongan / Belat dan Bebat. Pembidaian dengan menggunakan pembalut, umumnya


dipakai mitela (kain segitiga) dan memanfaatkan tubuh penderita sebagai sarana untuk
menghentikan pergerakan daerah cedera.

Contoh : gendongan lengan.

7.2.3 PEDOMAN UMUM PEMBIDAIAN

Membidai dengan bidai jadi ataupun improvisasi, haruslah tetap mengikuti pedoman umum.
Adapun pedoman pedoman tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

1. Sedapat mungkin beritahukan rencana tindakan kepada penderita.


2. Sebelum membidai paparkan seluruh bagian yang cedera dan rawat perdarahan bila ada.
3. Selalu buka atau bebaskan pakaian pada daerah sendi sebelum membidai, buka perhiasan
di daerah patah atau di bagian distalnya.
4. Nilai gerakan-sensasi-sirkulasi (GSS) pada bagian distal cedera sebelum melakukan
pembidaian.
5. Siapkan alat-alat selengkapnya.
6. Jangan berupaya merubah posisi bagian yang cedera. Upayakan membidai dalam posisi
ketika ditemukan.
7. Jangan berusaha memasukkan bagian tulang yang patah.
8. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. Sebelum dipasang diukur lebih
dulu pada anggota badan penderita yang sehat.
9. Bila cedera terjadi pada sendi, bidai kedua tulang yang mengapit sendi tersebut.
Upayakan juga membidai sendi distalnya.
10. Lapisi bidai dengan bahan yang lunak, bila memungkinkan.
11. Isilah bagian yang kosong antara tubuh dengan bidai dengan bahan pelapis.
12. Ikatan jangan terlalu keras dan jangan longgar.
13. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak bergerak, kemudian sendi
atas dari tulang yang patah.
14. Selesai dilakukan pembidaian, dilakukan pemeriksaan GSS kembali, bandingkan dengan
pemeriksaan GSS yang pertama.
15. Jangan membidai berlebihan.

Gb. 3 37. Pembidaian secara umum ( patah tulang hasta )

8. LUKA BAKAR

8.1 SEBAB

Panas

Kimia

Listrik

Radiasi

8.2 PENGGOLONGAN

Berdasarkan dalamnya luka bakar dibagi menjadi :

1. Luka bakar superfisial (derajat satu)

Yang terbakar hanya meliputi lapisan kulit yang paling atas saja ( dermis ).

Ditandai dengan kemerahan, nyeri dan kadang-kadang bengkak

2. Luka bakar derajat dua (sedikit lebih dalam)

Yang terbakar meliputi lapisan paling luar kulit yang rusak dan lapisan dibawahnya terganggu (
epidermis ).

Luka bakar jenis ini paling sakit, ditandai dengan gelembung-gelembung pada kulit berisi
cairan, bengkak, kulti kemerahan atau putih, lembab dan rusak.

3. Luka bakar derajat tiga

Lapisan yang terkena ( bakar ) tidak terbatas, bahkan dapat sampai ke tulang dan organ dalam.
Luka bakar ini paling berat dan ditandai dengan kulit biasanya kering, pucat atau putih, namun
dapat juga gosong dan hitam. Dapat diikuti dengan mati rasa karena kerusakan saraf.

Daerah disekitarnya nyeri. Berbeda dengan derajat satu dan dua luka bakar derajat tiga tidak
menimbulkan nyeri.

8.3 LUAS LUKA BAKAR

8.3.1 Rumus Sembilan ( Rules Nine ) Luka Bakar

BAGIAN DEWASA ANAK


KEPALA 9% 18 %
@ 9 % = 18 @ 9 % = 18
EXTRIMITAS ATAS
% %
TUBUH DEPAN 18 % 18 %
TUBUH BELAKANG 18 % 18 %
KEMALUAN /
1%
GENITAL
EXTRIMITAS @ 18 % = 36 @ 14 % = 28
BAWAH % %
PADA ANAK, GENITAL DIGABUNG DENGAN
EXTRIMITAS ATAS

8.3.2 Rumus telapak tangan

Cara lain untuk menghitung luas luka bakar adalah Membanding-kannya dengan luas telapak
tangan korban. Telapak tangan korban dianggap memiliki luas 1% luas permukaan tubuh.

Perlu diingat bahwa perhitungan luas luka bakar dihitung berdasarkan masing-masing
derajat luka bakar.

8.4 DERAJAT BERAT LUKA BAKAR

Dalam menilai Derajat Berat Luka Bakar ditentukan oleh dua faktor utama yaitu luasnya
permukaan tubuh yang mengalami luka bakar dan lokasinya.

1. Luka bakar ringan

Luka bakar derajat tiga kurang dari 2% luas, kecuali pada wajah, tangan, kaki, kemaluan
atau saluran napas.
Luka bakar derajat dua kurang dari 15%.
Luka bakar derajat satu sampai dengan dari 50%.

2. Luka bakar sedang


Luka bakar derajat tiga antara 2% sampai 10%, kecuali pada wajah, tangan, kaki,
kemaluan atau saluran napas.
Luka bakar derajat dua antara 15% sampai 30%.
Luka bakar derajat satu lebih dari 50%.

3. Luka bakar berat

Semua luka bakar yang disertai cedera pada saluran napas, cedera jaringan lunak dan
cedera tulang.
Luka bakar derajat dua atau tiga pada wajah, tangan, kaki, kemaluan atau saluran napas.
Luka bakar derajat tiga di atas 10%.
Luka bakar derajat dua lebih dari 30%.
Luka bakar yang disertai cedera alat gerak ( extrimitas )
Luka bakar mengelilingi alat gerak
Luka Bakar CIRCUMVERRENCIAL = Luka Bakar Yang Meninggalkan Tanda Dari
Logam
Luka Bakar INHALASI = Luka Bakar Pada Saluran Pernafasan

8.5 BEBERAPA PENYULIT PADA LUKA BAKAR

1. Usia penderita, biasanya mereka dengan usia kurang dari 5 tahun atau lebih dari 55 tahun.
Penanganan kelompok usia ini biasanya lebih sulit.
2. Adanya penyakit penyerta. Proses penatalaksanaan sering menjadi sukar dan
berkepanjangan.

8.6 PENATALAKSANAAN LUKA BAKAR

Dalam menangani kasus Luka Bakar, pertama-tama harus diperhatikan :

Keamanan keadaan

Keamanan penolong dan orang lain

1. Hentikan proses luka bakarnya. Alirkan air dingin pada bagian yang terkena.

Bila ada bahan kimia alirkan air terus menerus sekurang-kurangnya selama 20 menit

2. Buka pakaian, perhiasan dan lainnya yang mengandung logam.

3. Lakukan penilaian dini

4. Berikan pernapasan buatan bila perlu

5. Tentukan derajat berat dan luas luka bakar


6. Tutup luka bakar dengan penutup luka dan pembalut longgar, jangan memecahkan
gelembungnya.
Bila yang terbakar adalah jari-jari maka balut masing-masing jari tersendiri

7. Upayakan penderita senyaman mungkin

9. KERACUNAN

Racun adalah zat yang ketika tertelan, terisap, diabsorbsi, menempel pada kulit atau dihasilkan di
dalam tubuh dalam jumlah yang relative kecil menyebabkan cedera dari tubuh dengan adanya
reaksi kimia.

Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh manusia yang
menimbulkan efek merugikan pada yang menggunakannya. Keracunan melalui inhalasi dan
menelan materi toksik, baik kecelakaan dan karena kesengajaan, merupakan kondisi bahaya
kesehatan.

9.1 BAHAN PENYEBAB KERACUNAN

Ada berbagai macam kelompok bahan yang dapat menyebabkan keracunan, antara lain :

1. Bahan kimia umum ( Chemical toxicants ) yang terdiri dari berbagai golongan, seperti
pestisida ( organoklorin, organofosfat, karbamat ), golongan gas ( nitrogen, metana,
karbon monoksida, klor ), golongan logam (timbal, posfor, air raksa, arsen), golongan
bahan organik ( akrilamida, anilin, benzena toluene, vinil klorida fenol ).
2. Racun yang dihasilkan oleh makluk hidup ( Biological toxicants ) mis : sengatan
serangga, gigitan ular berbisa , anjing dll.
3. Racun yang dihasilkan oleh jenis bakteri ( Bacterial toxicants ) mis : Bacillus cereus,
Compilobacter jejuni, Clostridium botulinum, Escherichia coli dll.
4. Racun yang dihasilkan oleh tumbuh tumbuhan ( Botanical toxicants ) mis : jamur amnita,
jamur psilosibin, oleander, kecubung dll,

9.1.1 CARA TERJADINYA KERACUNAN PADA MANUSIA

- Sengaja bunuh diri

- Keracunan tidak di sengaja

9.1.2 JALUR MASUK RACUN KE TUBUH MANUSIA

- Keracunan melalui mulut / alat pencernaan

- Keracunan melalui pernapasan

- Keracunan melalui kulit


- Keracunan melalui suntikan atau gigitan

9.1.3 GEJALA DAN TANDA KERACUNAN SECARA UMUM

- Riwayat yang berhubungan dengan proses keracunan

- Penurunan respon

- Gangguan pernapasan

- Nyeri kepala,pusing gangguan penglihatan

- Mual muntah, Kejang kejang

- Lemas , lumpuh, kesemutan

- Pucat perubahan warna pada lidah,Bibir

9.1.4 GEJALA DAN TANDA KERACUNAN SECARA KHAS

1. Keracunan melalui mulut :

- Mual , muntah

- Nyeri perut

- Diare

- Napas / mulut berbau

- Suara parau nyeri saluran cerna ( Mulut dan kerongkongan )

2. Keracunan melalui pernapasan :

- Sesak napas

- Napas berbau

- Perubahan warna pada bibir lidah dan kuping telinga

3. Keracunan melalui kulit :

Daerah kontak berwarna kemerahan , nyeri, melepuh, dan meluas.


Banyak sekali gejala dan tanda tanda keracunan yang mirip dengan gejala atau tanda dari suatu
penyakit, seperti kejang, stroke dan reaksi insulin. Seseorang yang telah mengalami keracunan
kadang dapat diketahui dengan adanya gejala keracunan.

Gejala gejala keracunan tersebut secara umum dapat berupa gejala non spesifik dan spesifik,
namun kadang kadang sulit untuk menentukan adanya keracunan hanya dengan melihat gejala
gejala saja. Perlu dilakukan tindakan untuk memastikan telah terjadi keracunan dengan
melakukan pemeriksaan laboratorium. Pemerikasaan laboratorium ini dapat dilakukan melalui
pemeriksaan periodik urin, tinja, darah, kuku, rambut dan lain lain.

Bila dicurigai telah terjadi keracunan bahan kimia atau obat-obatan, maka perlu diidentifikasi
tanda dan gejala yang muncul seperti tersebut dibawah ini ;

1. Luka bakar atau kemerahan di sekitar mulut dan bibir yang mungkin akibat menelan
bahan kimia korosif.
2. Bau napas seperti bau bahan kimia, contoh bensin, minyak tanah dan cat.
3. Adanya bercak atau bau bahan pada tubuh korban, baik pada pakaian atau pada furnitur,
pada lantai atau objek disekitar korban.
4. Tempat obat yang telah kosong atau adanya tablet / pil yang berserakan.
5. Muntah, mulut berbuih, sulit bernapas, rasa kantuk yang berat, kebingungan atau gejala
lain yang tidak diharapkan.

9.2 USAHA USAHA PENCEGAHAN TERJADINYA KERACUNAN

Usaha usaha pencegahan keracunan perlu dilakukan di tempat dimana bahan bahan kimia
tersebut sering digunakan. Rumah tangga merupakan salah satu tempat penggunaan produk
produk industri, sehingga perlu dilakukan langkah langkah praktis untuk pencegahan terjadinya
keracunan, disamping itu pada tempat tempat kerja baik pada industri kecil ( home industri )
maupun industri besar merupakan tempat utama terdapatnya bahan bahan kimia baik sebagai
bahan baku maupun sebagai hasil produk dari industri yang siap diedarkan kepada masyarakat.

9.2.1 PENANGANAN KERACUNAN SECARA UMUM

1. Cari tau jenis racun yang mengenainya.


2. Pengamanan sekitar, terutama bila berhubungan dengan gigitan
3. Pengamanan penderita dan penolong bila berada di daerah dengan gas beracun
4. Keluarkan penderita dari daerah berbahaya bila memungkinkan
5. Bila racun melalui jalur kontak maka buka baju penderita dan bersihkan sisa bahan racun
bila ada lalu bilaslah daerah yang terkena dg air
6. Pantaulah tanda vital
7. Awasi jalan napas , terutama bila respon menurun atau penderita muntah
8. Beri oksigen bila ada sesuai dengan ketentuan , khususnya pada keracunan melalui udara
9. Rujuk ke rumah sakit
9.2.2 ZAT / OBAT PELUNAK RACUN

1. Putih Telur ( 60 100 cc )


2. Susu, Air Putih
3. Larutan Tepung Kanji atau Tepung Beras
4. Mentega
5. Norit ( Bubuk Arang Batok Kelapa )
6. Minyak Tumbuh tumbuhan
7. Parafin Cair

Catatan : Minyak dan Mentega tidak untuk keracunan obat serangga.

9.2.3 ZAT ZAT PERANGSANG MUNTAH

1. Garam Dapur, 1 2 sendok makan dalam 1 gelas air.


2. Mustard, 1 2 sendok makan dalam 1 gelas air.
3. Soda Kue.

9.3 KERACUNAN MAKANAN

9.3.1 PERTOLONGAN PERTAMA PADA KERACUNAN MAKANAN SECARA


UMUM

1. Untuk mengurangi kekuatan racun, berikan air putih sebanyak-banyaknya atau diberi
susu yang telah dicampur dengan telur mentah.
2. Agar perut terbebas dari racun, berikan norit dengan dosis 3-4 tablet selama 3 kali
berturut-turut dalam setia jamnya.
3. Air santan kental dan air kelapa hijau yang dicampur 1 sendok makan garam dapat
menjadi alternative jika norit tidak tersedia.
4. Jika penderita dalam kondisi sadar, usahakan agar muntah. Lakukan dengan cara
memasukan jari pada kerongkongan leher dan posisi badan lebih tinggi dari kepala untuk
memudahkan kontraksi
5. Apabila penderita dalam keadaan pingsan, bawa segera ke rumah sakit atau dokter
terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif.

9.3.2 KERACUNAN SINGKONG ATAU KARA BENGUK.

Diatasi dengan minum air kelapa hijau yang diberi sedikit garam. Dapat juga dicampur gula
kelapa.

9.3.3 KERACUNAN JAMUR.

Untuk mengobatinya minumlah sebutir telur ayam yang sudah dikocok. Berikan juga santan
kental atau air kelapa hijau satu gelas.

9.3.4 KERACUNAN MAKANAN BUSUK.


Misalnya daging kalengan. Berikan norit dan usahakan agar muntah.

9.3.5 KERACUNAN MAKANAN LAUT.

Usahakan agar penderita muntah, lalu minumkan air kelapa hijau. Supaya cepat muntah,
penderita minum telur mentah yang sudah dikocok atau susu sapi mentah.

9.3.6 KERACUNAN DAGING ATAU IKAN BUSUK.

Minumlah segelas santan kelapa yang kental. Susul dengan minum air kelapa muda. Dapat juga
ditambahkan 20 g kaolin pada air kelapa tersebut.

9.3.7 KERACUNAN JENGKOL

Keracunan jengkol terjadi karena terbentuknya kristal asam jengkol dalam saluran kencing. Ada
beberapa hal yang diduga mempengaruhi timbulnya keracunan yaitu jumlah yang dimakan, cara
penghidangan dan makanan penyerta lainnya.

Tanda dan Gejala :

1. Nafas, mulut dan air kemih penderita berbau jengkol


2. Sakit pinggang yang diserta sakit perut
3. Nyeri waktu buang air kecil
4. Buang air kecil disertai darah.

Pertolongan Pertama:

1. Minum air putih yang banyak


2. Obat penghilang rasa sakit dapat diberikan untuk menghilang-kan rasa sakitnya.
3. Segera kirim ke puskesmas / rumah sakit

9.4 KERACUNAN BAHAN KIMIA / OBAT-OBATAN

9.4.1 PERTOLONGAN PERTAMA PADA KERACUNAN BAHAN KIMIA / OBAT


OBATAN SECARA UMUM

1. Usahakan agar dimuntahkan kembali, kecuali asam basa.


2. Berikan oksigen atau pernapasan buatan jika perlu.
3. Lakukan pembilasan lambung
4. Berikan obat pelunak racun
5. Selimuti korban
6. Bawa ke RS

9.4.2 ZAT/OBAT YANG DIGUNAKAN UNTUK PERTOLONGAN PERTAMA


KERACUNAN OBAT / BAHAN KIMIA SECARA KHUSUS
A. Keracunan Asam Keras
1. Larutan encer soda kue dalam air
2. 100 gr kapur tulis dilarutkan dalam air
3. Serpihan tembok dilarutkan dalam air
4. Larutan sabun dalam air

5. Larutan Kalsium Hidroksida (Ca OH) atau Lime Water 200 cc.

B. Keracunan Basa Keras


1. Cuka Dapur 100 200 cc
2. Air jeruk 100 200 cc
3. Asam Chlorida ( Hcl ) 100 200 cc

9.4.3 KERACUNAN ASETAMINOFEN

Lebih dari 100 jenis produk yang mengandung asetaminofen bisa dibeli secara bebas, tanpa resep
dokter. Sediaan untuk anak-anak tersedia dalam bentuk sirup, tablet dan kapsul. Asetaminofen
bisa ditemukan dalam beberapa obat berikut:

* Tylenol

* Anacin-3

* Liquiprin

* Panadol

* Tempra.

9.4.3.1 Kandungan asetaminofen dalam beberapa jenis obat dan kekuatannya:

1. Supositoria (tablet/kapsul yang dimasukkan ke dalam anus atau vagina) : 120 mg, 125 mg,
300 mg, 600 mg

Tablet kunyah : 80 mg

Kekuatan normal : 325 mg

Kekuatan ekstra : 500 mg

2. Elixir: 325 mg/sendok teh, 160 mg/sendok teh, 120 mg/ sendok teh

Sirup : 160 mg/sendok teh, 130 mg/sendok teh


Obat tetes : 100 mg/mL, 120 mg/2,5 mL

Asetaminofen adalah obat yang sangat aman, tetapi bukan berarti tidak berbahaya. Sejumlah
besar asetaminofen akan melebihi kapasitas kerja hati, sehingga hati tidak lagi dapat
menguraikannya menjadi bahan yang tidak berbahaya. Akibatnya, terbentuk suatu zat racun yang
dapat merusak hati. Keracunan asetaminofen pada anak-anak yang belum mencapai masa puber,
jarang berakibat fatal. Pada anak-anak yang berumur lebih dari 12 tahun, overdosis asetaminofen
bisa menyebakban kerusakan hati.

9.4.3.2 Tanda dan Gejala keracunan asetaminofen terjadi melalui 4 tahapan:

1. Stadium I ( beberapa jam pertama ) : belum tampak.


2. Stadium II ( setelah 24 jam ) : mual dan muntah; hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa
hati tidak berfungsi secara normal.
3. Stadium III ( 3 5 hari kemudian ) : muntah terus berlanjut; pemeriksaan menunjukkan
bahwa hati hampir tidak berfungsi, muncul gejala kegagalan hati.
4. Stadium IV ( setelah 5 hari ) : penderita membaik atau meninggal akibat gagal hati.

9.4.3.3 Tanda dan Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:

- Berkeringat

- Kejang

- Nyeri atau Pembengkakan di daerah lambung

- Nyeri atau Pembengkakan di perut bagian atas

- Diare

- Nafsu makan berkurang

- Mual dan/atau muntah

- Rewel

- Koma.

Tanda dan Gejala mungkin baru timbul 12 jam atau lebih setelah mengkonsumsi asetaminofen.
Tindakan darurat yang dapat dilakukan di rumah adalah segera memberikan sirup ipekak
untuk merangsang muntah dan mengosongkan lambung.

9.4.4 KERACUNAN ASPIRIN (ASETOSAL)

Aspirin atau obat yang mirip dengan Aspirin (salisilat) biasanya tidak dianjurkan diberikan
kepada anak-anak dan remaja karena memiliki resiko terjadinya sindroma Reye. Tetapi pada
penyakit tertentu (misalnya artritis rematoid juvenil) pemberian Aspirin kepada anak-anak /
remaja dibenarkan / diperlukan. Aspirin ditemukan pada:

* Aspirin

* Ecotrin

* Anacin (kaplet dan tablet)

* Alka Seltzer

* Bufferin.

Overdosis Aspirin (salisilisme) pada anak yang telah meminum Aspirin dosis tinggi selama
beberapa hari biasanya lebih berat. Bentuk salisilat yang paling beracun adalah minyak
wintergreen (metil salisilat), yang merupakan komponen dari obat gosok dan larutan penghangat.
Seorang anak dapat meninggal karena menelan kurang dari 1 sendok teh metil salisilat murni.

Tanda dan Gejala awal dari salisilisme adalah mual dan muntah, diikuti dengan pernafasan
yang cepat, hiperaktivitas, peningkatan suhu tubuh dan kadang kejang. Anak menjadi
mengantuk, mengalami kesulitan dalam bernafas dan pingsan. Kadar Aspirin yang tinggi dalam
darah menyebabkan anak menjadi sering berkemih, dan hal ini bisa menyebabkan dehidrasi.

Untuk pertolongan pertama dilakukan pengurasan lambung sesegera mungkin. Jika anak
dalam keadaan sadar, diberikan arang aktif melalui mulut atau melalui selang yang
dimasukkan ke dalam lambung. Untuk mengatasi dehidrasi ringan, anak diharuskan
minum sebanyak mungkin ( susu maupun jus buah ). Untuk dehidrasi yang lebih berat,
diberikan cairan melalui infus. Demam diatasi dengan kompres hangat. Kadar yang bisa
menimbulkan keracunan adalah 150-300 mg/kg berat badan. Berikan susu atau santan
kelapa. Usahakan agar muntah.

9.4.5 KERACUNAN BAHAN KAUSTIK

Yang dimaksud dengan bahan kaustik adalah asam dan alkali kuat. Bahan kaustik (jika
tertelan) bisa menyebabkan luka bakar dan secara langsung menyebabkan kerusakan pada
mulut, kerongkongan serta lambung.

Beberapa keperluan rumah tangga yang mengandung bahan kaustik adalah pembersih jamban
dan sabun pencuci piring; beberapa diantaranya mengandung bahan kaustik yang paling
berbahaya, yaitu natrium hidroksida dan asam sulfat. Bahan tersebut terdapat dalam bentuk padat
maupun cair. Pada sediaan padat, rasa panas yang ditimbulkan menempel pada permukaan yang
lembab sehingga anak segera berhenti memakannya. Sedangkan sediaan cair tidak menempel,
lebih mudah ditelan dan bisa menyebabkan kerusakan pada seluruh bagian kerongkongan.

Tanda dan gejala yang terjadi biasanya segera timbul nyeri dan sifatnya bisa berat. Daerah yang
terbakar menjadi bengkak dan menelan menimbulkan nyeri. Pernafasan menjadi dangkal, dengan
denyut nadi yang cepat dan lemah. Kadang pembengkakan menyebabkan tersumbatnya saluran
udara. Sering terjadi syok (tekanan darah sangat rendah).

Bahan kaustik menyebabkan kerusakan pada dinding kerongkongan atau lambung. Satu minggu
atau lebih setelah keracunan, pada dinding kerongkongan maupun lambung yang mengalami
kerusakan bisa terjadi perforasi (pembentukan lubang), yang kemungkinan disebabkan oleh
muntah maupun batuk. Anak yang berhasil melalui masa awal kerusakan pada akhirnya bisa
meninggal akibat infeksi karena bahan kaustik dari kerongkongan merembes ke dalam rongga
dada. Meskipun pada awalnya hanya menimbulkan gejala yang rignan, tetapi beberapa minggu
kemudian bisa terjadi penyempitan pada kerongkongan.

Pada kasus berat dengan bahan kaustik yang sangat kuat, kematian terjadi akibat:

- tekanan darah yang sangat rendah

- penyumbatan saluran pernafasan

- perforasi kerongkongan

- kerusakan jaringan

- peradangan paru-paru.

Untuk melarutkan bahan kaustik, sebaiknya anak diberikan minum sebanyak mungkin,
yang terbaik adalah minum susu. Susu tidak hanya bersifat melindungi dan melembutkan
selaput lendir, tetapi juga merupakan pengganti dari protein jaringan yang merupakan
target dari bahan kaustik. Jika minum susu, berikan tablet kapur. Cuci perut dengan
garam inggeris.

Baju yang terkena bahan kaustik segera dilepas dan kulit yang terkena segera dicuci bersih.
Sebaiknya tidak dilakukan perangsangan muntah dan pengurasan lambung karena bisa
memperburuk kerusakan yang telah terjadi. Antibiotik diberikan jika anak mengalami
demam atau terdapat tanda-tanda perforasi kerongkongan. Pada kasus yang ringan, anak
didorong untuk minum sebanyak mungkin cairan. Jika anak tidak mau minum, cairan bisa
diberikan melalui infus.

9.4.6 KERACUNAN TIMAH HITAM

Keracunan timah hitam (plumbisme) biasanya merupakan suatu keadaan kronis (menahun) dan
kadang gejalanya kambuh secara periodik. Kerusakan yang terjadi bisa bersifat permanen
(misalnya gangguan kecerdasan pada anak-anak dan penyakit ginjal progresif pada dewasa).
Timah hitam ditemukan pada

* Pelapis keramik

* Cat
* Batere

* Solder

* Mainan.

Pemaparan oleh timah hitam dalam jumlah relatif besar bisa terjadi melalui
beberapa cara :

- Menelan serpihan cat yang mengandung timah hitam

- Membiarkan alat logam yang mengandung timah hitam (misalnya peluru, pemberat tirai,
pemberat alat pancing atau perhiasan) tetap berada dalam lambung atau persendian, dimana
secara perlahan timah hitam akan larut

- Meminum minuman asam atau memakan makanan asam yang telah terkontaminasi karena
disimpan di dalam alat keramik yang dilapisi oleh timah hitam (misalnya buah, jus buah,
minuman berkola, tomat, jus tomat, anggur, jus apel)

- Membakar kayu yang dicat dengan cat yang mengandung timah hitam atau batere di dapur
atau perapian

- Mengkonsumsi obat tradisional yang mengandung senyawa timah hitam

- Menggunakan perabotan keramik atau kaca yang dilapisi timah hitam untuk menyimpan
atau menyajikan makanan

- Minum wiski atau anggur yang terkontaminasi oleh timah hitam

- Menghirup asap dari bensin yang mengandung timah hitam

- Bekerja di tempat pengolahan timah hitam tanpa menggunakan alat pelindung (seperti
respirator, ventilasi maupun penekan debu).

Pemaparan timah hitam dalam jumlah yang lebih kecil, terutama melalui debu atau tanah yang
telah terkontaminasi oleh timah hitam, bisa meningkatkan kadar timah hitam pada anak-anak;
karena itu perlu diberikan pengobatan meskipun tidak ditemukan gejala.

Pada anak-anak, gejalanya diawali dengan rewel dan berkurangnya aktivitas bermain selama
beberapa minggu. Kemudian gejala yang serius timbul secara mendadak dan dalam waktu 1-5
hari menjadi semakin memburuk, yaitu berupa:

- Muntah menyembur yang berlangsung terus menerus

- Berjalan goyah/limbung
- Kejang

- Linglung

- Mengantuk

- Kejang yang tak terkendali dan koma.

Pada dewasa, serangkaian gejala yang khas bisa timbul dalam waktu beberapa minggu atau
lebih, yaitu berupa perubahan kepribadian, sakit kepala, di dalam mulut terasa logam, nafsu
makan berkurang dan nyeri perut samar-samar yang berakhir dengan muntah, sembelit serta
nyeri kram perut. Pada dewasa jarang terjadi kerusakan otak.

Gejala kerusakan otak tersebut terutama terjadi akibat pembengkakan otak. Baik pada anak-
anak maupun dewasa bisa terjadi anemia. Beberapa gejala bisa menghilang secara spontan, tetapi
jika kembali terjadi pemaparan oleh timah hitam, gejalanya akan kembali memburuk.

Resiko tinggi ditemukan pada anak-anak yang tinggal di rumah tua / lama yang dicat dengan cat
yang mengandung timah hitam.

Kapsul succimer akan berikatan dengan timah hitam dan membantu melarutkannya di dalam
cairan tubuh sehingga dapat dibuang ke dalam air kemih. Efek sampingnya adalah ruam kulit,
mual, muntah, diare, nafsu makan berkurang, terasa logam di mulut dan kelainan pada fungsi
hati (kadar transaminase).

Pemulihan sempurna mungkin memerlukan waktu beberapa bulan sampai beberapa tahun, dan
kemungkinan akan meninggalkan efek saraf yang permanen. Setelah mengalami keracunan
timah hitam, sistem saraf dan otot bisa tidak berfungsi sebagaimana mestinya, Sistem pembuluh
darah dan ginjal juga bisa mengalami gangguan. Anak yang bertahan hidup bisa mengalami
kerusakan otak yang permanen.

9.4.7 KERACUNAN ZAT BESI

Sejumlah besar zat besi bisa menyebabkan diare, muntah, peningkatan jumlah sel darah putih
dan kadar gula darah yang tinggi. Jika dalam waktu 6 jam pertama tidak timbul gejala dan kadar
zat besi di dalam darah rendah, maka kecil kemungkinan terjadinya keracunan. Zat besi
ditemukan pada:

* Fero-sulfat (Feosol, Slow Fe)

* Fero-glukonat (Fergon)

* Fero-fumarat (Femiron, Feostat)

* Suplemen mineral
* Suplemen vitamin.

Gejala overdosis zat besi biasanya terjadi melalui beberapa tahap:

1. Stadium 1 ( dalam waktu 6 jam )

- muntah

- rewel

- diare

- nyeri perut

- kejang

- mengantuk

- penurunan kesadaran

- perdarahan lambung (gastritis hemoragika) akibat iritasi saluran pencernaan.

Jika kadar zat besi di dalam darah tinggi, juga bisa terjadi:

- pernafasan dan denyut nadi cepat

- tekanan darah rendah

- peningkatan keasaman darah.

Tekanan darah yang sangat rendah atau penurunan kesadaran selama 6 jam pertama
menunjukkan bahwa keadaannya sangat serius.

2. Stadium 2 (dalam waktu 10-14 jam)

terjadi perbaikan semu yang berlangsung selama 24 jam.

3. Stadium 3 (antara 12-48 jam).

Bisa terjadi syok (tekanan darah sangat rendah), aliran darah ke jaringan berkurang dan kadar
gula darah turun. Kadar zat besi dalam darah mungkin normal, tetapi pemeriksaan menunjukkan
adanya kerusakan hati.

Gejala lainnya adalah:

- demam
- peningkatan jumlah sel darah putih

- kelainan perdarahan

- kelainan konduksi listrik di jantung

- disorientasi

- gelisah

- mengantuk

- kejang

- penurunan kesadaran.

- Bisa terjadi kematian.

4. Stadium 4 (setelah 2-5 minggu)

Bisa terjadi komplikasi seperti penyumbatan usus, sirosis atau kerusakan otak. Jika hasil
pemeriksaan darah menunjukkan kadar zat besi yang rendah, dilakukan observasi selama 6 jam
dan jika tidak timbul gejala, anak tidak perlu dirawat. Jika kadar zat besi tinggi atau timbul
gejala, maka anak perlu dirawat.

Di rumah sakit dilakukan pengurasan lambung. Digunakan arang aktif, meskipun tidak
banyak menyerap zat besi. Mungkin perlu dilakukan pencucian usus untuk membuang zat
besi.

Resiko kematian pada anak yang mengalami syok dan kesadarannya menurun adalah sebesar
10%. Kematian bisa terjadi bahkan dalam waktu 1 minggu setelah keracunan, tetapi jika dalam
waktu 48 jam gejala-gejalanya telah hilang, maka akan terjadi pemulihan sempurna.

9.4.8 KERACUNAN HIDROKARBON

Hidrokarbon adalah senyawa organik yang hanya terdiri dari hidrogen dan karbon.
Hidrokarbon banyak ditemukan di dalam minyak bumi, gas alam dan batubara. Keracunan
hidrokarbon biasanya terjadi karena anak menelan hasil penyulingan minyak bumi, seperti
bensin, minyak tanah, pengencer cat dan hidrokarbon terhalogenasi (misalnya karbon
tetraklorida yang banyak ditemukan di dalam larutan dan pencair dry-cleaning atau etilen
diklorida).

Kematian banyak terjadi pada remaja yang dengan sengaja menghirup atsiri. Sejumlah kecil
bahan tersebut (terutama dalam bentuk cairan yang mudah mengalir) bisa masuk ke dalam paru-
paru dan menyebabkan kerusakan pada paru-paru. Cairan yang lebih kental, yang digunakan
pada semir furnitur, sangat berbahaya karena bisa menyebabkan iritasi dan pneumonia aspirasi
yang berat.

Gejalanya terutama menyerang paru-paru dan usus; pada kasus yang sangat berat juga
menyerang otak. Tandanya pada awalnya anak mengalami batuk dan tersedak, kemudian
pernafasan menjadi cepat. Kulitnya tampak kebiruan karena berkurangnya kadar oksigen dalam
darah. Selanjutnya terjadi muntah dan batuk yang menetap disertai megap-megap.

Pada anak yang lebih besar, sebelum terjadinya muntah, mereka mengeluh merasa terbakar /
panas di lambung. Gejala neurologis meliputi mengantuk, koma dan kejang. Gejala yang lebih
berat ditemukan pada anak yang telah menelan cairan yang lebih encer, minyak anjing laut
mineral atau hidrokarbon halogenasi (misalnya karbon tetraklorida).

Jika anak berada dalam keadaan sadar, segera minum segelas susu untuk melarutkan bahan
yang tertelan dan mengurangi peradangan lambung. Jika terdapat tanda-tanda pneumonia
(misalnya pernafasan cepat, denyut jantung cepat atau batuk), anak harus dibawa ke rumah sakit.
Jika terjadi pneumonia diberikan terapi oksigen, ventilator, cairan infus dan pengawasan ketat.

9.4.9 KERACUNAN ALKOHOL

Usahakan agar muntah, setelah muntah berikan kopi pahit dan kompres kepalanya dengan es.

9.4.10 KERACUNAN OBAT TIDUR (VALIUM, VERONAL).

Minumkan air sebanyak-banyaknya, usahakan agar ia muntah. Berikan norit dan garam inggeris
sebagai pencuci perut.

9.4.11 KERACUNAN ARSEN/RACUN TIKUS

Gejala keracunan arsen / racun tikus :

1. Perut dan tenggorokan terasa terbakar


2. Muntah, mulut kering
3. Buang air besar seperti air cucian beras.
4. Nafas dan kotoran berbau bawang
5. Kejang / syok

Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan pertama :

1. Usahakan agar dimuntahkan


2. Beri minum hangat /susu atau larutan norit
3. Segera kirim ke puskesmas/rumah sakit

9.4.12 KERACUNAN PESTISIDA.


Konsumsi air kelapa hijau yang diberi garam dapur. Usahakan agar muntah dengan cara
memasukkan jari bersih ke kerongkongan

9.4.13 GIGITAN ULAR

Bisa (racun) ular terdiri dari terutama protein yang mempunyai efek fisiologik yang
luas atau bervariasi. Sisitem multiorgan, terutama neurologic, kardiovaskuler, sistem
pernapasan mungkin terpengaruh.
Bantuan awal pertama pada daerah gigitan ular meliputi mengistirahatkan korban dan
memberikan ketenangan agar detak jantung normal, melepaskan benda yang mengikat
seperti cincin, memberikan kehangatan, membersihkan luka, menutup luka dengan
balutan steril, dan imobilisasi bagian tubuh dibawah tinggi jantung. Es atau torniket tidak
digunakan.

10. KEDARURATAN LINGKUNGAN

Yaitu, Suatu kondisi extrim yang diakibatkan oleh faktor lingkungan, yaitu cuaca yang panas dan
dingin. Seseorang yang mengalami kasus ini mungkin juga dapat mengalami cedera sebagai
akibat dari gejala gangguan fungsi tubuh yang terjadi misalnya kehilangan kesadaran lalu
terjatuh sehingga terjadi suatu luka.

Dalam penatalaksanaan Pertolongan Pertama kasus ini penolong harus benar benar dapat
mengenali tanda dan gejalanya, serta sangat berhati hati dalam menanganinya. Hal yang paling
penting adalah mengenali kedaruratannya, terutama secara dini. Dalam penatalaksanaan
penderita yang paling penting adalah menjaga jalan napas dan memantau tanda vital penderita
secara teratur. Kasus ini kerap terjadi di daerah yang panas atau dingin atau perpaduan dari
keduanya.

Gejala dan tanda pada kasus kedaruratan lingkungan sangat beragam, khas maupun tidak khas.
Perubahan yang tidak normal dari tanda vital maupun sikap tubuh yang tidak biasa dari penderita
sudah mengarah pada kedaruratan lingkungan.

BEBERAPA GANGGUAN KEDARURATAN LINGKUNGAN

1. Pingsan (Syncope/collapse) :

Terjadi karena peredaran darah yang ke organ otak berkurang, yang dapat terjadi akibat emosi
yang hebat, berada dalam ruangan yang penuh orang tanpa udara segar yang cukup, letih dan
lapar, terlalu banyak mengeluarkan tenaga.

Gejala dan tanda:

1. Perasaan limbung.
2. Pandangan berkunang-kunang dan telinga berdenging.
3. Lemas, keluar keringat dingin.
4. Menguap.
5. Dapat menjadi tidak ada respon, yang biasanya berlangsung hanya beberapa menit.
6. Denyut nadi lambat.

Penatalaksanaan :

1. Baringkan penderita dengan tungkai ditinggikan.


2. Longgarkan pakaian.
3. Usahakan penderita menghirup udara segar.
4. Periksa cedera lainnya.
5. Beri selimut, agar badannya hangat.
6. Bila pulih, usahakan istirahatkan beberapa menit.
7. Bila tidak cepat pulih, maka:

- periksa napas dan nadi.

- posisikan stabil.

- bawa ke fasilitas kesehatan

2. Paparan panas

Panas dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh. Umumnya ada 3 macam gangguan yang
terjadi:

A. Kram Panas ( Heat Cramps )

Terjadi akibat kehilangan garam tubuh yang berlebihan melalui keringat.

Gejala dan Tanda:

1. Kejang pada otot yang disertai nyeri


2. Tungkai dan perut.
3. Kelelahan.
4. Mual
5. Mungkin pingsan

Penatalaksanaan :

1. Baringkan penderita di tempat teduh.


2. Beri minum kepada penderita, bila perlu campur sedikit garam. JANGAN MEMBUANG
WAKTU UNTUK MENCARI GARAM.
3. Rujuk ke fasilitas kesehatan.

B. Kelelahan Panas ( Heat Exhaustion )


Terjadi akibat kondisi yang tidak fit pada saat melakukan aktivitas di lingkungan yang suhu
udaranya relatif tinggi, yang mengakibatkan terganggunya aliran darah.

Gejala dan tanda :

1. Pernapasan cepat dan dangkal.


2. Nadi lemah.
3. Kulit teraba dingin, keriput, lembab dan selaput lendir pucat
4. Pucat, keringat berlebihan.
5. Lemah.
6. Pusing, kadang tidak repon.

Penatalaksanaan :

1. Baringkan penderita di tempat yang teduh.


2. Kendorkan pakaian yang mengikat.
3. Tinggikan tungkai penderita sekitar 20 30 cm.
4. Berikan oksigen bila ada.
5. Beri minum bila penderita sadar.
6. Rujuk ke fasilitas kesehatan.

C. Sengatan Panas ( Heat Stroke )

Merupakan keadaan yang mengancam nyawa. Suhu tubuh menjadi terlalu tinggi dan pada
banyak kasus penderita tidak lagi berkeringat. Bila tidak diatasi dengan segera, maka sel otak
akan segera mati.

Gejala dan tanda:

1. Pernapasan cepat dan dalam.


2. Nadi cepat dan kuat diikuti nadi cepat tetapi lemah.
3. Kulit teraba kering, panas kadang kemerahan
4. Manik mata melebar.
5. Kehilangan kesadaran.
6. Kejang umum atau gemetar pada otot.

Penatalaksanaan :

1. Turunkan suhu tubuh penderita secepat mungkin.


2. Letakkan kantung es pada ketiak, lipat paha, dibelakang lutut dan sekitar mata kaki serta
di samping leher.
3. Bila memungkinkan, masukkan penderita ke dalam bak berisi air dingin dan tambahkan
es ke dalamnya.
4. Rujuk ke fasilitas kesehatan.
5. D. Dehidrasi
Menurun atau berkurangnya cairan tubuh karena melakukan aktifitas yang berlebihan, kurang
minum dan kelelahan panas / sengatan panas

Tanda dan gejala :

1. Berkeringat berlebihan
2. Bibir kering
3. Melemas, mungkin pingsan

Penatalaksanaan :

1. Jauhkan dari sinar matahari langsung


2. Lakukan penilaian dini
3. Tenangkan penderita
4. Beri air sedikit demi sedikit

3. Paparan dingin

A. Acute Mountain Sickness

Kondisi fisik yang melemah karena penurunan oksigen didalam darah karena berada di
ketinggian. Berpotensi mengakibatkan hypoxia namun pada tahap ini bisa dihadapi dengan ber
AKLIMATISASI saja tanpa menurukan ketinggian.

Gejala dan tanda :

1. Melemah
2. Pandangan kabur
3. Mual, mungkin muntah
4. Lemas, mungkin pingsan

B. Hypotermia

Udara dingin dapat menyebabkan suhu tubuh menurun. Suhu lingkungan tidak perlu sampai
beku untuk mencetuskan hipotermia. Ada beberapa keadaan yang memperburuk hipotermia yaitu
faktor angin dan kekurangan makanan.

Gejala dan tanda

a. Hipotermia sedang :

1. Menggigil.
2. Terasa melayang.
3. Pernapasan cepat, nadi lambat.
4. Gangguan penglihatan.
5. Reaksi mata lambat.
6. Gemetar.
b. Hipotermia berat :
1. Pernapasan sangat lambat.
2. Denyut nadi sangat lambat.
3. Tidak ada respon.
4. Manik mata melebar dan tidak bereaksi.
5. Alat gerak kaku.
6. Tidak menggigil.

Penanganan Hipotermia:

Rawat penderita dengan hati hati, berikan rasa nyaman.

1. Penilaian dini dan pemeriksaan penderita.


2. Pindahkan penderita dari lingkungan dingin.
3. Jaga jalan napas dan berikan oksigen bila ada.
4. Ganti pakaian yang basah, selimuti penderita, upayakan agar tetap kering.
5. Bila penderita sadar dapat diberikan minuman hangat secara pelan pelan.
6. Pantau tanda vital secara berkala.
7. Rujuk ke fasilitas kesehatan.

C. Hypoxia

Penurunan oksigen dalam darah karena berada di ketinggian ( > 4000 Mdpl ) hingga
mengakibatkan kebingungan, menurunnya daya ingat secara tajam hingga hilang ingatan. Selain
itu juga bisa terjadi kelumpuhan syaraf, halusinasi hingga koma.

Penatalaksanaan :

1. Berikan Oksigen
2. Pindahkan penderita ke ketinggian yang lebih rendah hingga kembali normal.
3. Rujuk ke fasilitas kesehatan

D. Radang Beku ( Frost Bite )

Terjadinya kerusakan otot dan syaraf pada bagian tubuh yang terbuka ( yang kontak langsung
dengan udara luar ) dan biasanya dimulai dari bagian yang lembut, seperti daun telinga, ujung
hidung, ujung ujung jari. Yang diakibatkan oleh suhu yang sangat dingin pada ketinggian
diatas 3000 Mdpl. Jika terlambat dilakukan penanganan maka satu satunya jalan adalah
diamputasi karena kerusakan jaringan ini akan menjalar.

Tanda dan gejala :

1. Kedinginan yang terlalu


2. Melemah
3. Selalu menutupi bagian tubuh yang terbuka
4. Bagian tubuh yang terbuka menjadi pucat, lama kelamaan membiru dan menghitam.

Penanganan :

1. Dipindahkan ke ketinggian yang lebih rendah


2. Direndam air hangat / panas pada bagian yang terpapar hingga warna biru / kehitaman
hilang
3. Rujuk ke Rumah Sakit

SILABUS MATERI SAR GUNUNG HUTAN

LATIHAN GABUNGAN GUNUNG HUTAN


MAHASISWA PECINTA ALAM SE-JABODETABEKA

Search And Rescue (SAR)

Pengertian SAR dan Filosofi SAR


Manajemen SAR
Penyelenggaraan Operasi SAR

Explorer Sar And Rescue (ESAR)

Pengertian ESAR
Sistem dan Teknik Pencarian
Membaca Peta dan Navigasi Darat
Perlengkapan , Pakaian, Packing dan Makanan (PPPM)

Komunikasi SAR

Sistem komunikasi SAR


Sistem Pengoperasian Radio

Mountain Sickness

Pengertian Mountain Sickness


Gejala-gejala dan Penanggulangannya Mountain Sickness
BAB 5

SAR GUNUNG HUTAN

5.1 SEARCH AND RESCUE (SAR)

5.1.1 DEFINISI

Search And Rescue (SAR) diartikan sebagai usaha dan kegiatan kemanusiaan untuk mencari dan
memberikan pertolongan kepada manusia dengan kegiatan yang meliputi :

1. Mencari, Menolong dan Menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan
hilang atau menghadapi bahaya dalam bencana/musibah.
2. Mencari kapal laut atau pesawat terbang yang mengalami kecelakaan.
3. Evakuasi pemindahan korban musibah pelayaran, penerbangan, bencana alam atau
bencana lainnya dengan sasaran utama penyelamatan jiwa manusia.

Lahirnya organisasi SAR di Indonesia yang saat ini bernama BASARNAS diawali dengan
adanya penyebutan Black Area bagi suatu negara yang tidak memiliki organisasi SAR.

Dengan berbekal kemerdekaan, maka tahun 1950 Indonesia masuk menjadi anggota organisasi
penerbangan internasional ICAO (International Civil Aviation Organization). Sejak saat itu
Indonesia diharapkan mampu menangani musibah penerbangan dan pelayaran yang terjadi di
Indonesia. Sebagai konsekwensi logis atas masuknya Indonesia menjadi anggota ICAO tersebut,
maka pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 1955 tentang Penetapan
Dewan Penerbangan untuk membentuk panitia SAR. Panitia teknis mempunyai tugas pokok
untuk membentuk Badan Gabungan SAR, menentukan pusat-pusat regional serta anggaran
pembiayaan dan materiil.

Sebagai negara yang merdeka, tahun 1959 Indonesia menjadi anggota International Maritime
Organization (IMO). Dengan masuknya Indonesia sebagai anggota ICAO dan IMO tersebut,
tugas dan tanggung jawab SAR semakin mendapat perhatian. Sebagai negara yang besar dan
dengan semangat gotong royong yang tinggi, bangsa Indonesia ingin mewujudkan harapan dunia
international yaitu mampu menangani musibah penerbangan dan pelayaran.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut diatas, maka timbul pemikiran bahwa perlu diadakan
suatu organisasi SAR Nasional yang mengkoordinir segala kegiatan-kegiatan SAR dibawah satu
komando. Untuk mengantisipasi tugas-tugas SAR tersebut, maka pada tahun 1968 ditetapkan
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor T.20/I/2-4 mengenai ditetapkannya Tim SAR Lokal
Jakarta yang pembentukannya diserahkan kepada Direktorat Perhubungan Udara. Tim inilah
yang akhirnya menjadi embrio dari organisasi SAR Nasional di Indonesia yang dibentuk
kemudian.
5.1.2 FILOSOFI SAR

Berikut ini penjabaran mengenai filosofi-filosofi SAR, diantaranya :

1. Locate, artinya memberikan gambaran yang konkrit posisi/lokasi subyek yang


mengalami musibah itu berada. Lokasi biasanya ditunjukkan dengan garis lintang dan
garis bujur.
2. Access, artinya sumber-sumber dari mana saja dan dengan cara apa bantuan pertolongan
ini sampai menuju lokasi tempat terjadinya musibah.
3. Reach, dalam artian melakukan usaha untuk mencari korban terlebih dahulu,
memberikan pertolongan pada korban dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau
dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam bencana/musibah.
4. Stabilize, artinya penanganan/perawatan korban dengan berbagai macam kasus di lokasi
kejadianitu dilakukan oleh unit-unit penolong (Rescue Unit) sebelum bantuan medis tiba
untuk memberikan perawatan lebih lanjut.
5. Transportation/Evacuation, artinya proses pemindahan korban dari lokasi ke tempat
yang lebih aman untuk diberikan pertolongan pertama ke tempat fasilitas medik terdekat.
6. Knowledge, artinya diperlukan juga pengetahuan dalam hal ini tidak hanya dipelajari
tetapi dibutuhkan beberapa pemahaman dan kemampuan yang diantaranya,

Pengetahuan tentang data peristiwa, keadaan korban, keadaan medan, dsb


Keterampilan mendaki gunung, panjat tebing, hidup di alam bebas, mencari jejak, peta
kompas, akses tali.
Pengetahuan P3K, dan gawat darurat.

5.2 MANAJEMEN SAR

Dari Batasan pengertian, hakekat dan filosofi SAR diatas, jelas bahwa kegiatan SAR yang utama
adalah dalam pelaksanaan operasi SAR tersebut. Namun dalam kegiatannya, pelaksanaan operasi
hanya akan bisa berjalan dengan efektif dan efisien apabila didukung oleh pembinaan SAR yang
baik.

Pembinaan SAR yang dimaksud adalah kegiatan atau tindakan yang berhubungan dengan
perencanaan, penyusunan, pembangunan / pengembangan, koordinasi, pengerahan, penggunaan,
dan pengendalian terhadap unsur / sarana SAR agar tercapai tingkat kemampuan dan kesiapan
operasional yang dipersyaratkan.

Sifat-sifat dalam operasi SAR, diantaranya :

I. Kemanusiaan

II. Netral,

III. Cepat, Cermat dan Cekatan


IV. Tepat dan Aman

V. Koordinatif

VI. Borderless

Kemampuan dasar SAR, sesuai dengan kata SAR yang berarti Search (pencarian) dan Rescue
(pertolongan / penyelamatan), maka dalam kegiatan operasional SAR dibutuhkan ilmu
pengetahuan dan keterampilan teknis SAR serta beberapa ilmu disiplin ilmu sebagai penunjang /
pendukung. Ilmu pengetahuan dan keterampilan serta disiplin ilmu yang dimaksud adalah :

1. Pengetahuan Dasar SAR yang meliputi organisasi SAR, organisasi Operasi SAR, filosofi
SAR dan sebagainya.
2. Unsur Pencarian (Search), dalam hal teknik pencarian di darat, laut dan udara.
3. Unsur Pertolongan / Penyelamatan (Rescue), dalam hal Medical First Response dan
evakuasi.
4. Unsur Pendukung / penunjang , dalam hal Navigasi, Mountaineering, Survival,
Komunikasi Lapangan, Helly Rescue dan Manajemen Perjalanan.

5.2.1 SISTEM SAR

Sistem SAR di Indonesia diadopsi dari ketentuan yang berlaku bagi seluruh negara yang menjadi
anggota IMO (International Maritime Organization) dan ICAO (International Civil Aeronautical
Organization). Diagram di bawah ini menggambarkan Sistem SAR yang menjadi acuan kerja
Basarnas.

5.2.2 KOMPONEN SAR

Dalam penyelenggaraan operasi SAR, ada 5 komponen SAR yang merupakan bagian dari sistem
SAR yang harus dibangun kemampuannya, agar pelayanan jasa SAR dapat dilakukan dengan
baik. Komponen-komponen tersebut antara lain:

ORGANISASI (SAR Organization), merupakan struktur organisasi SAR, meliputi


aspek pengerahan unsur, koordinasi, komando dan pengendalian, kewenangan, lingkup
penugasan dan tanggung jawab penanganan musibah.
KOMUNIKASI (Communication), sebagai sarana untuk melakukan fungsi deteksi
adanya musibah, fungsi komando dan pengendalian operasi dan koordinasi selama
operasi SAR.
FASILITAS (SAR Facilities), adalah komponen unsur, peralatan/perlengkapan serta
fasilitas pendukung lainnya yang dapat digunakan dalam operasi/misi SAR.
PERTOLONGAN DARURAT (Emergency Cares), adalah penyediaan peralatan atau
fasilitas perawatan darurat yang bersifat sementara ditempat kejadian, sampai ketempat
penampungan atau tersedianya fasilitas yang memadai.
DOKUMENTASI (Documentation), berupa pendataan laporan, analisa serta data
kemampuan operasi SAR guna kepentingan misi SAR yang akan datang.
5.2.3 TINGKAT KEADAAN DARURAT

I. UNCERTAINTY PHASE (INCERFA)

Adalah suatu keadaan darurat yang ditunjukkan dengan adanya keraguan mengenai keselamatan
jiwa seorang karena diketahui kemungkinan mereka dalam menghadapi kesulitan.

II. ALERT PHASE (ALERFA)

Adalah suatu keadaan darurat yang ditunjukkan dengan adanya kekhawatiran mengenai
keselamatan jiwa seseorang karena adanya informasi yang jelas bahwa mereka menghadapi
kesulitan yang serius yang mengarah pada kesengsaraan (distress).

III. DISTRESS PHASE (DETRESFA)

Adalah suatu keadaan darurat yang ditunjukkan bila bantuan yang cepat sudah dibutuhkan oleh
seseorang yang tertimpa musibah karena telah terjadi ancaman serius atau keadaan darurat
bahaya. Berarti, dalam suatu operasi SAR informasi musibah bias ditunjukkan tingkat keadaan
darurat dan dapat langsung pada tingkat Detresfa yang banyak terjadi.

5.3 TAHAPAN PENYELENGGARAAN OPERASI SAR

I. TAHAP MENYADARI ( AWARENESS STAGE )

Adalah kekhawatiran bahwa suatu keadaan darurat diduga akan muncul ( saat disadarinya terjadi
keadaan darurat / musibah ).

II. TAHAP TINDAK AWAL ( INITIAL ACTION STAGE )

Adalah tahap seleksi informasi yang diterima, untuk segera dianalisa dan ditetapkan.
Berdasarkan informasi tersebut, maka keadaan darurat saat itu disebut juga sebagai Tahap
Kesiagaan.

III. TAHAP PERENCANAAN ( PLANNING STAGE )

Yaitu saat dilakukan suatu tindakan sebagai tanggapan (respon) terhadap keadaan sebelumnya,
antara lain:

Search Planning Event (tahap perencanaan pencarian)


Search Planning Sequence (urutan perencanaan pencarian)
Degree of Searching Planning (tingkatan perencanaan pencarian).
Search Planning Computating (perhitungan perencanaan pencarian)

IV. TAHAP OPERASI ( OPERATION STAGE )


Operasi SAR adalah suatu tindakan pada kejadian khusus yang diperlukan adanya suatu
kerjasama, koordinasi dan penjabarannya menjadi suatu bentuk kegiatan operasi yang serasi,
efektif, dan berdaya guna. Sehingga dalam suatu kejadian SAR diperlukan personil yang
mempunyai kriteria-kriteria tertentu yang mengutamakan kemanusiaan diatas segala-galanya,
walaupun tidak mengabaiakan faktor keselamatan personil bersangkutan. Keberhasilan suatu
operasi khususnya operasi SAR tergantung antara lain pada penerapan prosedur-prosedur yang
berlaku dan dukungan oleh organisasi yang baik dan efektif.

Dari rencana operasi ini kemudian akan disusun formulir briefing. Detection Mode / Tracking
Mode and Evacuation Mode, yaitu seperti dilakukan operasi pencarian dan pertolongan serta
penyelamatan korban secara fisik. Tahap operasi meliputi:

Fasilitas SAR bergerak ke lokasi kejadian.


Melakukan pencarian dan mendeteksi tanda-tanda yang ditemui yang diperkirakan
ditinggalkan survivor ( Detection Mode ).
Mengikuti jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkan survivor ( Tracking Mode ).
Menolong/ menyelamatkan dan mengevakuasi korban (Evacuation Mode), dalam hal ini
memberi perawatan gawat darurat pada korban yang membutuhkannya dan membaw
korban yang cedera kepada perawatan yang memuaskan (evakuasi).
Mengadakan briefing kepada SRU.
Mengirim/ memberangkatkan fasilitas SAR.
Melaksanakan operasi SAR di lokasi kejadian.
Melakukan penggantian/ penjadwalan SRU di lokasi kejadian.

V. TAHAP PENGAKHIRAN MISI ( MISSION CONCLUSION STAGE )

Merupakan tahap akhir operasi SAR, meliputi penarikan kembali SRU dari lapangan ke posko,
penyiagaan kembali tim SAR untuk menghadapi musibah selanjutnya yang sewaktu-waktu dapat
terjadi, evaluasi hasil kegiatan, mengadaan pemberitaan (Press Release) dan menyerahkan
jenazah korban / survivor kepada yang berhak serta mengembalikan SRU pada instansi induk
masing-masing dan pada kelompok masyarakat. Sar pada hakekatnya adalah kegiatan
kemanusiaan yang dijiwai falsafah pancasila dan merupakan kewajiban bagi setiap Warga
Negara Indonesia. Kegiatan tersebut meliputi segala upaya dan usaha pencarian, pemberian
pertolongan, dan penyelamatan jiwa manusia dan harta benda yang bernilai dari segala musibah
baik dalam penerbangan, pelayaran, bencana atau musibah.

5.3.1 KOMUNIKASI

Koordinasi dilapangan / pada area pencarian terdiri dari :

1. I. Penentuan OSC (bila diperlukan)


2. II. Pengawasan penggantian operasi selama SRU dalam perjalanan ke area
pencarian (CHOP / Changes of Operational Control)

Koordinasi dalam kegiatan pencarian meliputi:


I. Koordinasi di lokasi dilakukan oleh SMC, bila SMC tidak mampu mengendalikan dari
posko, maka ditunjuk OSC dari unit SAR yang mempunyai kemampuan sebagaimana yang
ditentukan dan bukan senioritas.

II. Bila diperlukan penggantian pengendalian dan penggantian unsur operasi (CHOP) pada
perjalanan menuju lokasi musibah maupun pada perjalanan pulang, harus dilakukan dengan
satuan induknya. Hal ini harus tercantum dalam rencana pencarian oleh seorang SMC.

III. Bila cuaca yang diperkirakan tidak sama dengan yang diharapkan, maka rencana yang
dibuat mungkin tidak efektif untuk dilaksanakan. Dalam hal ini SMC harus membekali OSC
dengan pengarahan kapan rencana pencarian harus dilakukan dan kapan dapat dilaksanakan
perubahan.

5.3.2 ORGANISASI OPERASI SAR

Untuk melaksanakan tugas operasi SAR, diperlukan adanya prosedur operasi yang benar dan
koordinasi yang mantap, sehingga akan dihasilkan suatu operasi yang efektif dan berhasil baik.
Dalam menangani suatu musibah, dikenal adanya organisasi dan komponen yang baku dalam
organisasi tersebut, sedangkan besar kecilnya organisasi operasi disesuaikan dengan jenis
musibah dan wilayah yang ditanganinya. Seperti telah diuraikan diatas bahwa bentuk bagan
organisasi operasi dapat dibuat sesuai kebutuhan yang ada sehingga operasi tersebut dapat
seselektif mungkin dan mencapai hasil yang maksimal.

A. SAR COMMANDER (SC).

Adalah pejabat yang mampu memberikan dukungan kepada KKR dalam menggerakkan unsur-
unsur operasi SAR karena jabatan dan kewenangan yang di milikinya. Kemudian unsur-unsur ini
diserahkan kepada SMC untuk di gunakan dalam operasi SAR.

B. SEARCH AND RESCUE MISSION COORDINATOR (SMC)

Tugas seorang SMC adalah melaksanakan evaluasi kejasian musibah, perencanaan operasi,
mengendalikan operasi secara keseluruhan. SMC ditunjuk atau diangkat sejak adanya kejadian
SAR sampai dengan operasi dinyatakan selesai. SMC bertanggungjawab kepada SKR atau KKR
yang menunjuknya. Untuk lebih rincinya, tugas seorang SMC adalah:

Mempelajari semua informasi yang dapat dikumpulkan, yang berkaitan dengan misi
operasi.
Menggolongkan misi SAR bertahap-tahap darurat yang tepat, apabila hal ini belum
dilakukan.
Menyiagakan fasilitas SAR yang tepat, dan organisasi SAR yang akan sangat diperlukan
dalam dan selama opersai SAR bertanggungjawab.
Memberangkatkan unit SAR (SRU), bilamana keadaan menghendaki demikian.
Melaksanakan perencanaan untuk operasi SAR.
Memberikan briefing pada anggota unit SAR (SRU), Menunjuk OSC, debriefing bagi
unit SAR, dan dukungan sampai operasi selesai.
Menentukan jaring kendali komunikasi, kanal-kanal (saluran) yang dipakai, monitoring
semua kanal yang dipergunakan.
Melaksanakan pencatatan semua usaha operasi beserta perkembangannya, tindakan yang
diambil dan lain-lain.
Bilamana diperlukan meminta tambahan SRU
Melaksanakan pengendalian operasi SAR terhadap semua unsur.
Memberikan laporan situasi (Lapsit) ke SC, SKR/KKR paling tidak satu kali dalam satu
hari, dan pada saat-saat perkembangan yang penting terjadi. Laporan Situasi dilaporkan
bernomor urut.
memberikan debriefing akhir kepada unit-unit SAR dan mengembalikan fasilitas dan
organisasi SAR yang terlibat, dan memberitahukan bahwa misi SAR telah selesai.
Berkonsultasi dengan SKR/KKR sebelum menyatakan untuk menghentikan usaha yang
tidak berhasil.

Pada kasus musibah penerbangan dan pelayaran, seorang SMC harus memiliki kwalifikasi
sebagai seorang SMC yang dikeluarkan oleh BADAN SAR NASIONAL. Sedangkan untuk
operasi SAR yang sifatnya rekreatif (musibah pendakian, musibah sungai, pantai, dll) tidak
diperlukan kwalifikasi seketat musibah penerbangan dan pelayaran.

Didalam melaksanakan tugasnya, SMC dibantu oleh beberapa staff yang memiliki tugas yang
spesifik dan khusus sehingga jalannya operasi lancar dan sukses. Adapun Staff SMC tersebut
adalah:

a) Perwira Komunikasi (Operator Radio). Tugasnya adalah mengoperasikan radio


komunikasi yang digunakan baik untuk jaring komando dan pengandali maupun untuk jaring
koordinasi. Operator radio bertanggung jawab tentang kelancaran lalu lints berita yang sangat
berperan dalam suatu operasi SAR. Operator Radio bertanggung jawab terhadap SMC.

b) Perwira Navigasi (Navigator). Tugasnya adalah melakukan pengeplotan peta dimana


musibah terjadi dan operasi SAR dilakukan sesuai dengan perkembangan operasi yang terjadi
dan rencana-rencana operasi yang akan dilakukan sesuai denga perhitungan dan perencanaan
SMC. Seorang nafigator bertanggung jawab terhadap SMC.

c) Perwira Briefing. Tugasnya adalah mewakili SMC untuk melakukan briefing kepada OSC
maupun SRU yang akan diberangkatkan maupun menerima debriefing dari SRU yang telah
kembali ke Pos Komando dari misi pencarian.

d) SAR Mission Information Officer (SMIO) atau Humas Operasi SAR. Tugasnya adalah
sebagai penghubung antara masyarakat dengan organisasi operasi, yang dimaksud disini adalah
setiap berita yang keluar, baik untuk pers (media massa) maupun keluarga korban dan juga untuk
instansi-instansi diluar organisasi operasi adalah menjadi tanggung jawab seorang SMIO. Atau
dengan kata lain seorang SMIO bertanggungjawab tentang pemberitaan perkembangan operasi
yang sedang berlangsung.

C. ON SCENE COMMANDER (OSC).


OSC ditunjuk oleh SMC untuk koordinasi dan pengaturan suatu operasi SAR tertentu ditempat
kejadian, bila area pencariannya cukup luas dan mengerahkan cukup banyak SRU/dari berbagai
unit SAR. OSC berwenang menambah, mengurangi merubah formasi SRU yang akan dibawah
komandonya dan berwenang mengubah pola pencarian yang telah ditetapkan sebelumya sesuai
dengan perkembangan yang ada dilapangan. OSC bertanggung jawab kepada SMC.

Secara umum OSC bertugas :

Melaksanakan rencana operasi SAR yang dibuat oleh SMC.


Mengadakan perubahan pada rencana operasi apabilla dipandang perlu untuk
menyesuaikan dengan keadaan ditempat kejadian yang mungkin sudah berubah.
Memegang kendali operasi dari semua unit SAR yang ditunujuk diarea pencariannya,
mengkoordinir semua unit SAR.
Mengirim laporan situasi secara berkala ke SMC. Laporan situasi pertama segera
dilaporkan setelah tiba dilokasi/setelah memegang tugas sebagai OSC. Disertai laporan
cuaca setempat.
Menyelanggarakan hubungan komunikasi dengan seluruh SRU dan menerima laporan
dari SRU secara berkala.
Menerima laporan dugaan waktu tiba dilokasi bagi unit SAR, yang meliputi dugaan
waktu tiba dilokasi pencarian, kemampuan komunikasi, lama pencarian.
Menyelenggarakan briefing awal bagi unit SAR yang datang.
Menerima dan mengevaluasi laporan dari semua unit SAR,mengkoordinasikan dan
memerintahkan semua unit SAR.
Bila dilakukan penggantian OSC, maka harus membriefing OSC yang baru.

D. SEARCH AND RESCUE UNIT (SRU).

SRU adalah satu komponen dalam operasi SAR yang secara nyata melaksanakan operasi SAR di
lapangan. Wewenang SRU adalah terbatas pada pelaksanaan tugas pencarian di lapangan dan
dibawah koordinasi OSC / SMC. Tetapi dalam hal ini tidak menutup kemungkinan memberikan
masukan ataupun usulan kepada OSC / SMC tentang kemungkinan sistem atau pola pencarian
yang lebih selektif. Selain melaksanakan tugas pencarian, SRU juga diwajibkan melapor kepada
OSC / SMC secara berkala dan juga melaporkan perkembangan pencarian dilapangan. Penarikan
atau penggantian SRU dilakukan oleh OSC / SMC, atau atas usulan dari SRU yang
bersangkutan, apabila SRU tersebut tidak dapat melanjutkan operasi karena hal-hal tertentu.
SRU yang diganti diwajibkan melakukan briefing kepada SRU penngganti tentang
perkembangan operasi terakhir didaerah operasinya.

Untuk lebih rincinya tentang tugas SRU adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan rencana operasi sesuai yang telah direncanakan.


2. Memberitahukan kepada OSC/SMC saat tiba didaerah operasi, perkiraan lama
mengadakan operasi.
3. Melaporkan secara berkala dan melaporkan perkembangan operasi di lapangan termasuk
cuaca dan medan yang di daerah pencarian.
4. Lapor segera setelah ada kontak dengan obyek yang dicari sesuai dengan prosedur yang
berlaku.
5. Menyiapkan peralatan untuk menandai posisi semua perjumpaan.

Selain komponen-komponen dalam suatu misi SAR, yaitu SMC beserta staffnya, OSC dan SRU,
yang tidak kalah pentingnya adalah base camp atau Basis Operasi SAR atau Pos Komando
Operasi. Didalam Pos Komando Operasi selain terdapat komponen-komponen di atas, juga ada
unsur-unsur yang sifatnya mendukung kelancaran operasi tersebut. Sedangkan komponen
pendukung tersebut adalah:

a) Komandan Pos Komando Operasi

Bertugas memimpin Pos Komando tersebut dan menyediakan segala fasilitas yang diperlukan
untuk mendukung kelancaran jalannya operasi. Sedangkan dalam tugasnya Komandan Pos
Komando Operasi dibantu oleh Koordinator dapur umum, Kooordinator umum, kesehatanmdan
back up emergency team.

b) Koordinator Dapur Umum

Bertugas menyediakan fasilitas konsumsi dan perbekalan dalam suatu operasi.

c) Koordinator Umum

Bertugas mengkoordinir pengadaan sarana dan prasarana yang mungkin dibutuhkan dalam suatu
operasi.

d) Kesehatan

Selain bertugas sebagai back up emergency, juga bertugas mengawasi dan menangani kesehatan
terhadap semua pelaku operasi.

e) Back Up Emergency Team

Yang terdiri dari satu team atau lebih yang bertugas mengadakan pertolongan apabila sewaktu-
waktu terjadi sesuatu terhadap semua pelaku operasi.

5.4 EXPLORER SEARCH AND RESCUE (ESAR)

5.4.1 PENDAHULUAN

Pada awal tahun 1980-an beberapa kelompok pendaki gunung mulai mencoba mengembangkan
Explorer Search And Rescue (ESAR). Sistem ini berasal dari Amerika Serikat yang
diperuntukan bagi para penjelajah daerah-daerah berhutan, padang kering dan sungai. Pada
tahun-tahun sebelumnya system SAR laut dan udara masih menjadi rujukan untuk melakukan
pencarian orang hilang di gunung. Yang membedakan ESAR dengan induknya SAR secara
keseluruhan terletak pada rinci operasionalnya. Dalam ESAR dikenal lima tahap pencarian atau
operasi.

5.4.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Menolong sesama hidup merupakan salah satu bukti dari pengamalan rasa cinta alam. Sehingga
sebagai mahluk hidup yang mengaku dekat dengan alam, Explorer Search And Rescue amatlah
dibutuhkan, khususnya untuk menolong sesama hidup. Pada ESAR Lebih dipersempit lagi ruang
lingkup operasionalnya dalam menolong korban di gunung dan hutan.

Materi ini bertujuan memberikan pengetahuan tentang teknik operasional dalam ESAR sesuai
dengan apa yang dibutuhkan. Sebab ESAR memerlukan dan menuntut personil yang siap, cepat
dan tanggap. Personil ESAR diharapkan mampu menjalankan kewajibannya dengan baik, yang
bukan berasal dari kata tugas, melainkan dari panggilan moral, hati nurani dan sebuah arti
kesetiakawanan terhadap sesama.

5.4.3 TEKNIK TEKNIK PENCARIAN

Teknik pencarian disini merupakan teknik pencarian yang dilakukan di darat. Walaupun tidak
secara khusus untuk di darat, teknik ini juga yang membedakan antara SAR dan ESAR. Teknik
pencarian ini bertumpu pada lima tahap, diantaranya :

1. TAHAP AWAL (PRELIMINARY MODE).

Yaitu mengumpulkan informasi-informasi awal, saat dari mulai tim-tim pencari diminta
bantuannya sampai kedatangannya di lokasi.

Melakukan perencanaan pencarian awal, perhitungan perhitungan, mengkoordinasikan regu


pencari, membentuk pos pengendali perencanaan, mencari identitas subjek, perencanaan operasi
dan evakuasi.

2. TAHAP PEMAGARAN (CONFINEMENT MODE).

Yaitu memantapkan garis batas untuk mengurung orang yang dinyatakan atau dikhawatirkan
hilang agar berada di dalam areal pencarian (search area).

Untuk lebih jelasnya akan dibahas dalam bagian tersendiri. Dasar pemikirannya adalah menjebak
survivor dalam area yang jelas dan kita dapat mengetahui batasan-batasannya, sehingga :

Area tersebut dapat dilakukan pencarian atau disapu.


Sebagai petunjuk bagi survivor untuk menuju tempat yang dapat diketahui tim pencari.

Kerja awal dari tahap ini adalah memagari kemungkinan gerak dari pencarian yang padat yang
mungkin diperlukan bila areal pencarian menjadi terlalu luas, maka digunakan Metode
Confinement mode :
2.1 Trail Blocking ( razia pada jalan setapak )

Yaitu menempatkan tim kecil pada jalan masuk ke areal pencarian untuk menjaga kemungkinan
korban melalui daerah tersebut. Mencatat nama-nama yang keluar masuk areal pencarian
tersebut.

2.2 Road Blocks ( razia pada jalan keluar )

Pada dasarnya sama dengan trail blocks, hanya saja disini masyarakat, pamong desa dapat
diminta bantuan untuk melakukan pengawasan kemungkinan korban keluar melalui desa mereka
atau dengan meminta bantuan petugas keamanan atau tenaga yang lainnya.

2.3 Look Outs

Dilakukan dengan mengadakan pengintaian dengan menempatkan regu-regu kecil di


ketinggian untuk dapat mendeteksi dan mengawasi daerah-daerah sekitar yang lebih rendah
untuk mendeteksi dan mengawasi bila ada yang bergerak, membuat asap, tanda-tanda dari
survivor jika berada di sekitar daerah itu. Juga menggunakan tanda-tanda yang menyolok untuk
menarik perhatian survivor, misalnya bunyi-bunyian, lampu, sinar, api, asap dll.

2.4 Camp In

Yaitu mendirikan pos pos di lokasi yang strategis, misalnya saja persimpangan jalan atau
pertemuan aliran sungai. Dari Camp In ini tim pencari dapat bergerak melakukan pencarian di
daerah sekitar.

2.5 Track Traps (jalur jebakan)

Yaitu jalur setapak atau tempat-tempat tertentu yang kemungkinan besar akan dilalui oleh korban
karena tempat tersebut secara alamiah dan naluri, besar kemungkinannya akan dipilih atau
dilewati korban, misal jalur air, mata air, gua, tempat datar dsb. Tim pencari dapat membuat
jebakan buatan, misal dengan menggemburkan tanah disekitar jalur. Periksalah secara berulang
area itu secara berkala untuk melihat jejak korban.

2.6 String Lines

Yaitu pembatas jalur buatan berupa benang atau tali yang ditarik mengikuti jalur tertentu yang
diharapkan akan membatasi ruang gerak korban. Bila string line tersebut diketemukan oleh
korban, ia akan dituntun menuju tempat tertentu misal jalan setapak, camp in dsb. Secara khusus
akan efektif bila dilakukan pada daerah-daerah terbuka dimana cara pandangnya baik.

Bila daerahnya berpohon dan bersemak lebat, dapat lebih sempurna dengan menggunakan
Tagged String Lines (bentangan tali yang bertanda). Tags (tanda-tanda) pada string lines akan
menarik perhatian survivor untuk bergerak mengikuti tali itu dan keluar menuju tempat yang
ditunjukkan oleh tanda-tanda itu.
Tujuan menggunakan string line adalah menjadikan ruang-ruang atau kotak-kotak search area
menjadi sektor yang terkuasai untuk pencarian tim pencari.

Setelah Initial Confinement (pemagaran awal), tambahan string line dapat digunakan untuk
membagi-bagi area itu. String line dapat digunakan untuk pemagaran dan untuk menandai sektor
pencarian. Pemisahan lebih lanjut ini bertujuan untuk mempersempit areal pencarian yang
dilakukan oleh tim pencari.

3. TAHAP PENGENALAN (DETECTION MODE)

Detection adalah usaha untuk mencari korban atau benda yang tercecer/terjatuh atau sengaja
ditinggalkan survivor. Pada keadaan inilah pasukan atau tenaga dari tim ESAR terutama
diperlukan atau digunakan. Yaitu pemeriksaan-pemeriksaan terhadap tempat-tempat yang
dicurigai. Apabila dirasa perlu, dilakukan pencarian dengan cara menyapu (sweep searches).
Bisa juga dilakukan pemeriksaan terhadap tempat-tempat yang diketemukan tanda-tanda atau
barang-barang yang ditinggalkan oleh survivor. Untuk lebih jelasnya akan dibahas dalan bagian
tersendiri.

Metode detection, dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Penamaan dari ketiga kategori di
bawah ini telah digunakan dalam ESAR untuk beberapa tahun ini, diambil karena hal ini secara
umum bertalian terhadap tahapan dari pengembangan operasi pencarian. Tipe I umumnya
mendahului tipe II, tipe II muncul sebelum tipe III.

3.1 TIPE I SEARCH ( HASTIC SEARCHING )

Yaitu pemeriksaan tidak resmi yang segera dilakukukan terhadap areal yang dianggap paling
memungkinkan. Penamaan lain untuk tipe ini adalah Reconnaisance atau Hastic Searching /
pencarian terburu-buru.

Metode ini digunakan pada :

Tahap pencarian awal


Memeriksa ulang daerah dimana diduga survivor berada

Sasaran metode ini :

Pemeriksaan yang sesegera atas area yang spesifik dimana survivor diduga berada
Memperoleh informasi mengenai areal pencarian

Teknik yang digunakan :

Sebuah tim kecil yang terdiri dari 3-6 orang yang mampu bergerak cepat untuk memeriksa
daerah pencarian. Bila menemukan barang yang tercecer dan bila SMC (SAR Mission
Coordinator) menghendaki barang tersebut dibawa, maka sebuah marker akan dipasang dan
ditempatkan di lokasi penemuan.
3.2 TIPE II SEARCH ( OPEN GRID )

Kriterianya adalah efisiensi, pemeriksaan yang cepat dan sistematis atas area yang luas, dengan
metode penyapuan yang akan menghasilkan hasil akhir yang tinggi dari setiap pencari per jam
kerjanya. Nama lain dari tipe ini adalah open grids (pencarian grid renggang / penyapuan
renggang). Metode ini digunakan pada :

Tahap awal operasi pencarian, terutama bila jangka waktu orang yang bertahan hidup
diperkirakan sangat pendek
Bila areal pencarian luas dan tidak ada areal tertentu yang dapat dicurigai dan tidak
tersedia cukup tenaga pencari yang dapat mengcover keseluruhan area.

Sasaran metode ini adalah :

pencarian yang tepat dan cepat pada areal yang luas.

Teknik yang digunakan

Sebuah tim kecil yang terdiri dari 3-6 orang, yang sejajar dengan jarak yang cukup lebar antara
10 meter sampai 20 meter dengan arah yang telah ditentukan.

Ada baiknya ada seorang pemimpin tim yang bergerak mengawasi penyapuan, tugasnya :

Memperhatikan apakah penegang kompas dapat menjaga sudut kompas yang sejajar.
Mengatasi hal-hal yang muncul mendadak.
Memeriksa penemuan penemuan yang ditemukan oleh tim.

Ada cara umum untuk mencegah regu pencari saling tumpang tindih satu sama lain atau tidak
bisa menjaga jarak yang telah ditentukan diantara mereka yaitu dengan memakai pita atau ribbon
dan menggunakan kompas.

Pada metode I dan II pada selang waktu tertentu regu berhenti untuk memperhatikan sekilas
sekitarnya serta memanggil survivor sambil menanti kemungkinan jawaban.

Contoh pencarian dan penyapuan pada metode tipe II.

i. Tim terdiri dari 6 orang memeriksa kedua tepi sungai kecil.


ii. A & B, personil ujung kiri dan kanan memasang marker (catatan petunjuk lapangan), dan
string line / ribbon.
iii. C adalah petugas kompas / kompas-man yang selalu memeriksa bahwa pencarian sesuai
arah kompas.
iv. X adalah pimpinan SRU yang mondar-mandir sekitar barisan sambil memeriksa dan
memastikan jarak personil terjaga dan juga melihat situasi sekitar medan, apakah perlu ada
perubahan arah atau sistem pencarian.
v. Z adalah navigator, yang bertugas membantu kompas man untuk memastikan agar sudut
pencarian tidak melenceng.
Bila alat komunikasi cukup, maka idealnya X, A, dan B masing-masing membawa HT.

3.3 TIPE III SEARCH ( CLOSE GRID )

Kriterianya adalah kecermatan, pencarian dengan sistematika yang ketat atas area yang lebih
kecil menggunakan metode penyapuan yang cermat. Dinamakan juga close grids (pencarian grid
rapat/ penyapuan rapat).

Metode ini digunakan pada :

Besarnya kemungkinan objek yang ditemukan dalam areal pencarian pada metode tipe II,
lebih rendah dari apa yang diharapkan
Bila areal pencarian terbatas dan tenaga yang tersedia mencukupi

Sasaran metode ini adalah pencarian yang cermat atas areal yang spesifik

Teknik yang digunakan :

Penyapuan dengan jarak yang sempit. Jumlah anggota tim 3 9 orang dengan jarak kira-kira
antar personil 3 meter sampai 5 meter. Pita-pita atau string line banyak digunakan untuk
mengontrol dalam memberi tanda yang jelas antara areal yang sudah dicari dan yang belum.

4. TAHAP PELACAKAN (TRACKING MODE)

Yaitu mengikuti dan melacak jejak yang ditinggalkan oleh survivor atau pelacakan terhadap
barang-barang yang tercecer dari survivor.

Tracking bisa benar-benar dilakukan oleh orang orang yang terlatih dan berpengalaman serta
mempunyai kemampuan melacak yang tinggi antara lain membaca jejak, medan peta kompas,
mengerti maksud dan tujuan korban, makna dari benda-benda yang terjatuh dan sengaja ditinggal
korban atau dengan menggunakan anjing pelacak.

Dari beberapa pengalaman, pelacakan dengan anjing pelacak masih belum bisa dilakukan secara
baik untuk kondisi alam Indonesia. Hal ini dikarenakan faktor alam yang sulit dan ekstrim serta
cepat berubah.

5. TAHAP EVAKUASI (EVACUATION MODE)

Yaitu memberikan pertolongan pertama dan membawa survivor ke titik penyerahan untuk
perawatan lebih lanjut.

Tiga hal pokok yang harus dilakukan pencari apabila berhasil menemukan Survivor dalam
keadaan hidup:

A. Memberikan pertolongan pertama bila diperlukan. Dalam hal ini personil harus benar-benar
memiliki kemampuan pertolongan pertama, karena kalau salah menangani akan mengakibatkan
korban bertambah parah bahkan bisa meninggal.
B. Meyakinkan pada survivor bahwa Ia akan selamat
C. Mengabarkan ke pangkalan pengendali tentang kondisi dan lokasi ditemukannya survivor.

Bila survivor dalam keadaan meninggal :

A. Tidak boleh merubah posisi survivor sebelum ada perintah dari SMC.
B. Menjaga survivor dari segala gangguan yang mungkin terjadi
C. Melaporkan ke pangkalan untuk dievakuasi

Teknik yang digunakan dalam evakuasi :

A. Memapah
B. Memandu
C. Bantuan helicopter
D. Modifikasi dari teknik yang ada

Sikap Mental Selama Pencarian

1. Cepat Tanggap. Pentingnya cepat tanggap untuk mencegah :


a. Sangat cepatnya meluasnya areal pencarian yang potensial.
b. Meningkatnya kesulitan pencarian berkaitan dengan mobilitas dan reaksi.
2. Dalam melakukan pencarian jangan terlalu terburu-buru, hendaknya dilakukan dengan
kecermatan dan keteletian. Hal ini untuk mengindari kemungkinan survivor tidak terdeteksi saat
dilakukan penyapuan.
3. Pencarian adalah hal yang menarik. Bila pencarian kita anggap sebagai hal menarik, maka
hasilnya akan lebih efektif. Kesungguhan, perhatian penuh dan sikap agresif dalam mengawasi
merupakan komponen yang berharga bagi kerja pencarian.
4. Pentingnya mencari jejak atau barang yang tercecer. Penemuan jumlah jejak dan barang yang
tercecer di dalam area, diperkirakan akan lebih banyak dari survivor. Penemuan juga dapat
merupakan pemasukan yang penting bagi penyempitan areal pencarian.
Sejarah Panjat Tebing Indonesia

Pada sekitar tahun 1960, perkembangan panjat tebing di Indonesia dimulai, dimana Tebing 48 di
Citatah, Bandung. mulai dipakai sebagai ajang latihan oleh pasukan TNI AD.

Tahun 1976, merupakan awal mula panjat tebing modern di Indonesia dimulai, yaitu ketika
Harry Suliztiarto mulai berlatih memanjat di Citatah, Bandung dan diteruskan dengan
mendirikan SKYGERS ''Amateur Rock Climbing Group'' bersama tiga orang rekannya, Heri
Hermanu, Dedy Hikmat dan Agus R, yang pada tahun 1977.

Tahun 1979, Harry Suliztiarto memanjat atap Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta. yang
merupakan upaya mempublikasikan olahraga panjat tebing di Indonesia. Skygers mengadakan
Sekolah Panjat Tebing yang pertama pada tahun 1981.

Tahun 1980, Tebing Parang, Purwakarta, Jawa Barat. Untuk pertama kalinya dipanjat oleh team
ITB, dan masih pada tahun yang sama Wanadri menjadi team Indonesia pertama yang
melakukan ekspedisi ke Cartenzs ''Pyramide'', mereka gagal sampai puncak, namun berhasil di
Puncak Jaya dan Cartenzs Timur.

Tahun 1982, terjadi tragedi dengan merenggut korban tewas pertama panjat tebing Indonesia
adalah Ahmad, salah satu pemanjat asal Bandung, tragedi terjadi ketika melakukan pemanjatan
pada Tebing 48 di Citatah.

Pada tahun 1984, Skygers dan Gabungan Anak Petualang memanjat Tebing Lingga di
Trenggalek, Jawa Timur serta Tebing Ulu Watu di Bali.

Tahun 1985, Tebing Sorelo, Lahat, Sumatra Selatan. dipanjat oleh Team Ekspedisi Anak Nakal.

Pada tahun 1986, Kelompok Gabungan Exclusive berhasil memanjat Tebing Bambapuang di
Sulawesi Selatan, Lalu Kelompok Unit Kenal Lingkungan Universitas Padjajaran memanjat
Gunung Lanang di Jawa Timur, Team Jayagiri merampungkan Dinding Ponot di Bendungan, Si
Gura-gura, Sumatra Utara. Ekspedisi Jayagiri mengulang pemanjatan Eiger, berhasil dengan
menciptakan lintasan baru. Sebagai catatan, bahwa kompetisi panjat tebing pertama di dunia
diselenggarakan di Uni Soviet, kompetisi dilaksanakan pada tebing alam dan sempat ditayangkan
oleh Televisi Republik Indonesia.

Tercatat pada tahun 1987, Ekspedisi Wanadri yang menyelesaikan pemanjatan di Tebing Unta di
Kalimantan Barat, Kelompok Trupala memanjat Tebing Gajah di Jawa Tengah dan Skygers
memanjat Tebing Sepikul di Jawa Timur. Pada tahun ini pula lomba panjat tebing di Indonesia
yang pertama dilaksanakan, yaitu di Tebing Pantai Jimbaran, Bali.

Tahun 1988, Kantor Menpora bekerjasama dengan Kedutaan Besar Perancis mengundang empat
pemanjat mereka untuk memeperkenalkan dinding panjat serta memberikan kursus pemanjatan.
Pada akhir acara, terbentuk Federasi Panjat Gunung dan Tebing Indonesia(FPTGI), yang
diketuai oleh Harry Suliztiarto. Pada tahun yang sama Aranyacala Trisakti mengadakan
ekspedisi panjat tebing, pada Tower III, Tebing Parang, Jawa Barat. yang dipanjat oleh
kelompok yang kesemua anggotanya putri. Kelompok putranya memanjat Tebing Gunung
Kembar di Citeureup, Bogor. Sandy Febryanto (Alm) dan Djati Pranoto melakukan panjat kebut
yang pertama dilakukan di Indonesia, di Tower I Tebing Parang, yang mana merupakan
pemanjat tebing besar pertama yang dilakukan tanpa menggunakan alat pengaman, waktu yang
diperlukan adalah empat jam.

Pada tahun ini(1988), Ekspedisi Jayagiri Speed Climbing memerlukan waktu lima hari
pemanjatan dan menjadi penyebab kagagalan untuk memenuhi target dua hari pemanjatan di
Dinding Utara Eiger, Alpen, Perancis. Sedangkan ekspedisi dari Pataga Jakarta berhasil
menciptakan lintasan baru pada dinding yang sama. Keberangkatan Sandy Febriyanto dan Djati
Pranoto ke Yosemite, AS. untuk memanjat Half Dome guna memecahkan rekor Speed Climbing,
pada tahun 1988, dan mengalami kegagalan pula di El Capitan.

Sejarah Panjat Tebing Modern di Indonesia

21 April 1988 14.45 WIB Kaum Pendaki Tebing/Gunung menyatakan Pembentukan Federasi
Pemanjat Gunung Indonesia di Tugu Monas. DOkumen ini pada perjalanannya berubah menjadi
Federasi Panjat Tebing Indonesia. Dan hingga ini federasi pendaki gunung masih belum keliatan.

Tahun 1989, dunia panjat tebing Indonesia merunduk dilanda musibah dengan gugurnya salah
satu pemanjat terbaik: Sandy Febriyanto, terjatuh di Tebing Pawon, Citatah, Bandung. Tapi tak
lama, semangat almarhum seolah justru menyebar ke segala penjuru, memacu pencetakan
prestasi panjat tebing di bumi pertiwi ini, seperti: Ekspedisi Putri Lipstick Aranyacala memanjat
Tebing Bambangpuang, lalu dari Arek Arek Young Pioner Malang memanjat Tebing Gajah
Mungkur di seputaran Kawah Gunung Kelud, Kelompok Mega dari Univeritas Taruma Negara
mengadakan Ekspedisi Marathon Panjat Tebing yang merambah tebing-tebing Citatah, Parang,
Gajah Mungkur dan berakhir di Uluwatu, Bali. dalam waktu hampir sebulan, ini merupakan
marathon panjat tebing pertama di Indonesia.

Pada tahun ini(1989) tak kurang sepuluh kejuaraan panjat tebing diselenggarakan, beberapa yang
besar diantaranya: Unpad Bandung, Tri Sakti Jakarta, ISTN Jakarta, Markas Kopassus Grup I di
Serang, dua kali oleh Trupala Jakarta (Balai Sidang Ancol). Kelompok Kapa Ul dan Geologi
ITB. Di akhir tahun 1989, ditutup dengan gebrakan Budi Cahyono yang melakukan pemanjatan
solo di Tebing Tower III Parang, ini merupakan artificial solo Climbing pertama pada tebing
besar di Indonesia.

Tahun 1990, Lomba Panjat Dinding Nasional (LPDN) di gelar di Jakarta, dengan ketinggian 15
meter dan dibangun empat sisi. Pada tahun ini pula, Pataga Jakarta mendaki Puncak Carstenz
Pyramide dan Puncak Jaya.

Tahun 1991, Rapat Paripurna Nasional FPTI yang pertama di selenggarakan di Puncak Jabar.
Pada tahun ini, untuk pertama kalinya Indonesia mengirimkan atlit panjat tebing di kejuaraan
Oceania- Australia, empat atlit yang dikirim hanya Andreas dan Deden Sutisna yang mendapat
peringkat keempat dan lima. Dengan keikutsertaan ini membuka mata dunia panjat tebing
Internasional, bahwa Indonesia sudah memepunyai atlit panjat tebing berskala Internasional.
FPTI mengeluarkan peraturan panjat dinding pertama dan Pengda FPTI Jatim bekerjasama
dengan Impala Univeritas Merdeka Malang yang mengadakan Climbing Party di Lembah Kera,
diikuti oleh puluhan pemanjat, membuat jalur-jalur pada Lembah Kera dan diskusi panjat tebing.

Gabungan tim panjat tebing Putri yang terdiri dari Atlet Aranyacala Trisakati, Mahitala Unpar
dan IKIP Bandung Mengadakan pemanjatan di Half Dome, AS. Ekspedisi pemanjatan putri
tahun 1991 di Cima, Ovest, Italy. Pada tahun ini pula tercatat beberapa kecelakaan di dinding
panjat: Zainudin tewas di Samarinda karena tidak memasang pengaman, tiga pemanjat lagi jatuh
dan cedera (lumpuh dan patah tulang), semua kejadian tersebut disebabkan oleh tidak diikutinya
prosedur keselamatan pemanjatan. Satu prestasi lagi dilakukan oleh Maully MW Wibowo,
melakukan pemanjatan solo (free solo) pertama di Bambapuang.

Tahun 1992, Kejurnas Panjat Tebing I, di selenggarakan di Padang. Tampil sebagai juara adalah
kontingen dari Jakarta. Ronald Marimbing dan Panji Santoso mengikuti Asian Championship di
Seoul. Sementara Mamay S, Salim dan Maully MW Wibowo mengikuti kursus Juri dan Pembuat
Jalur disambung dengan Rapat CICE Asia. Budi Cahyono, yang dikontrak oleh perusahaan
Rokok, berangkat ke Taiwan untuk melakukan Pemanjatan Iklan. FPTI diterima secara resmi
menjadi anggota UIAA, disusul dengan pengiriman ke Rapay CICE Asia di Hongkong.

Pada tahun 1994, Tim FPTI gagal berangkat ke Fixroy dan Aconcagua. Secara resmi FPTI
menjadi Anggota KONI yang ke 50. Ronald M dan Nunun Masruruh menduduki peringkat ke
sembilan dan keduabelas di kejuaraan Asia ke III di Jepang, sementara Hendricus Mutter rapat
CICE di Jepang. Mamay SSalim dan Kresna Huiarna melakukan pembuatan jalur di tebing-
tebing Taiwan.

Tahun 1995, Rapat Paripuma Nasional FPTI III, terselenggara di Kaliurang, Yogyakarta.
Kejumas Panjat Tebing ke III diadakan di Alun-alun Utara Yogyakarta, dan Juara Umum
diboyong oleh DKI Jakarta dengan menggeser kontingen Jawa Barat dan Sumatra Barat. Dalam
Kejumas III ini pula mulai dilombakan kelas panjat Speed yang pertama diadakan di Indonesia.
Masih pada bulan yang sama, tahun 1995, di Yogyakarta diadakan pula kursus Juri dan Pembuat
Jalur, diikuti oleh Pengurus Pengda FPTI series dari ABRI dan Pramuka.

Pada tahun 1997, Asmujiono dan disusul Missirin (Kopassus) yang tergabung dalam expedisi
gabungan sipil dan militer ke Puncak Everest, berhasil mencapai puncak dan berhasil menjadi
orang Asia Tenggara pertama yang mencapai Puncak Everest.

Tahun 2000, panjat tebing resmi menjadi cabang olah raga yang dipertandingkan di Pekan
Olahraga Nasional ke XV, di Surabaya sebagai cabang olahraga mandiri. Pada tahun yang sama,
Sekolah Vertical Rescue angkatan pertama diselengggarakan oleh Perguruan Panjat Tebing
SKYGERS Indonesia dengan jenazah Roni Aral yang berhasil dievakuasi oleh tim vertical
rescue SKYGERS dari kedalaman 600m di Gunung Cikuray, Jawa Barat.

Tahun 2001, tim vertical rescue SKYGERS terlibat dalam evakuasi dua jenazah di Gunung
Salak, Jawa Barat.

Pada tahun 2003, rekor baru pembuatan jalur panjat tebing alam terbanyak tercipta sebanyak 400
buah jalur pemanjatan oleh Tedi Ixdiana. Tebing Siung di Kawasan Yogjakarta digempur oleh
tim SKYGERS , berakhir dengan terciptanya 45 jalur. Tedi Ixdiana dan Tim MATRA membuat
jalur free climbing pertama di Gunung Krakatau, Selat Sunda.

Pada Tahun 2004, Pemanjatan Tebing Pantai Jawa dan Bali oleh SKYGERS dan Tim
EXPEDITION METRO TV 2004. termasuk pemanjatan Tebing Mandu, Indonesia.

Tahun 2004 panjat tebing resmi menjadi cabang olahraga yang memperebutkan medali di PON
2004. Sesuai SK FPTI No. 108/SKEP-PPFPTI/07.04 cabang panjat tebing pada PON 2004
memperebutkan 14 medali emas yaitu:

1. Perorangan kesulitan putra


2. Perorangan kesulitan putra
3. Perorangan kecepatan putra
4. Perorangan kecepatan putri
5. Perorangan jalur-pendek putra
6. Perorangan jalur-pendek putri
7. Beregu kesulitan putra
8. Beregu kesulitan putri
9. Beregu kecepatan putra
10. Beregu kecepatan putri
11. Beregu jalur-pendek putra
12. Beregu jalur-pendek putri
13. Beregu ganda-campuran kesulitan
14. Beregu ganda-campuran kecepatan

Tahun 2005, Indonesia menggirimkan Tedi Ixdiana dan Murjayanti untuk mengikuti kejuaraan
panjat tebing alam International Invitation Tournament, di Huguan Taihang Mountain Gorges,
Chiangzhi, China. Pada tahun yang sama pula, pemanjatan pada tujuh air terjun di Indonesia
diprakarsai oleh tim EXPEDITION-MERTO TV dan SKYGERS.[2]

Pedoman Kompetisi (PDK) Panjat Tebing Indonesia diterbitkan. PDK berisi peraturan untuk
mempersiapkan dan menjalankan kompetisi panjat tebing yang sangat komprehensif. Isi PDK
mengacu pada Competition Rules yang dikeluarkan oleh UIAA.

Tahun 2006 Sirkuit Panjat Tebing Indonesia pertama kali digelar di Musi Banyuasin. Amri
(Jawa Barat) dan Emi Zainah (DKI Jakarta) sebagai juara untuk nomor lead putra dan putri.
Nomor kecepatan putra dan putri dijuarai oleh Abudzar Yulianto (Jawa Timur) dan Evi Neliwati
(Jawa Timur), sedangkan nomor Jalur-pendek keluar sebagai juara pertama adalah kembali
Abudzar Yulianto dan Hj WIlda keduanya mewakili propinsi Jawa Timur.

Sirkuit Panjat Tebing Indonesia II dilakukan di Samarinda, Kalimantan Timur pada tanggal 1
September 2006. Pada sirkuit ini pertama kali dilombakan kompetisi untuk para pemanjat dari
kalangan militer/kepolisian dimana Praka Bobby Sahanaya (Denarhanud Rudal 002 Bontang)
keluar sebagai juara di nomor kecepatan sedangkan untuk nomor kecepatan peringkat pertama
diraih oleh Agus Setiawan (Brimob Satuan III/Pelopor Kelapa Dua Jakarta).
Tahun 2007 FPTI menggelar Musyawarah Nasional yang menghasilkan perubahan Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang telah menyesuaikan dengan UU Sistem Keolahragaan
Nasional (UU No. 3 tahun 2005).

Evi Neliwati mencatatkan namanya sebagai pemanjat tebing Indonesia pertama yang meraih
peringkat pertama pada Seri Kejuaraan Dunia (World Cup Series) 2007 yang dilaksanakan di
Singapura. Evi menyisihkan saingan terberatkan dari Rusia. Catatan ini seolah menghapus
kutukan bahwa para pemanjat kita seperti Etta Handrawati, Erianto Rojak dan lainnya yang
selalu kalah dari para pemanjat Rusia.

Pada PON 2008 Kalimantan Timur, cabang olahraga panjat tebing memperebutkan 21 medali
emas dari nomor perorangan dan beregu.

May 2010 Sport Climbing resmi menjadi cabang olahraga resmi SEA Games 2011, hal ini
diputuskan dalam Pertemuan the SEA Games Federation di Jakarta 30 May 2010. Berita
Gembira merupakan hasil dari perjualan panjang komunitas panjat tebing se-Asia Tenggara yang
dimotori oleh The Southeast Asia Climbing Federaion (SEACF) sejak terbentukan lembega
tersebut tahun 1996 di Jakarta.

Pada 2011 panjat tebing pertama kali menjadi cabang olahraga yang memperebutkan medali
yaitu sebanyak 10 medali emas pada SEA Games 2011 Palembang, Indonesia. Keputusan itu
dihasilkan pada pertemuan the SEA Games Federation Maret 2011 di Bali, Indonesia.

13 Nopember 2011 Aan Aviansyah (21) atlit panjat tebing Indonesi berhasil mengukirkan
namanya sebagai atlit pertama yang meraih medali emas pada cabang olahraga Panjat Tebing
pada ajang SEA Games XXVI 2011 di Jakabaring, Palembang, Sumetara Selatan. Tim panjat
tebing Indonesia meraih 9 dari 10 emas yang diperebutkan, hasil ini menjadi penghalang utama
cabang panjat tebing pada SEA Games berikutnya.

Pemandu WIsata Panjat Tebing: Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI)
Pemandu Wisata Panjat Tebing terbit sesuai Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi No.194 Tahun 2011. Standar ini sejatinya untuk memastikan bahwa tebing-tebing
Indonesia akan menjadi target tujuan wisata global dan pemandu pemanjatan adalah anak bangsa
sendiri.

Panjat Tebing Post Modern

12 Desember 2012 Tedi Ixdiana dan kawan-kawan meproklamirkan berdirinya Komunitas


Panjat Tebing Merah Putih yang mempunyai fokus kegiatan pada panjat tebing alam antara lain
pembukaan dan pembuatan jalur pemanjatan, pendataan tebing dan jalur pemanjatan, konservasi
tebing alam, pembentukan jejaring vertikal rescue.

30 Desember 2013 Katalog Panjat Tebing Indonesia terbit secara online di media Internet.
Katalog ini berisi data-data kawasan, tebing dan jalur panjat tebing yang ada di seluruh
Indonesia. Pada perjalanannya katalg juga berisi istilah dan dokumen terkait dengan panjat
tebing. Katalog ini merupakan kontribusi dari Komunitas Panjat Tebing Merah Putih dimana
pengumpulan data dilakukan sejak pertengahan tahun 2011.

19-26 Nopember 2013 Komunitas Panjat Tebing Merah Putih membuka kawasan pemanjatan
pertama di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Pada kegiatan tersebut dituntaskan pembuatan
Jalur ke-1.000 untuk Indonesia di tebing Mama Painemo, Teluk Kabui, Kabupaten Raja Ampat,
Papua Barat.

10 Januari 2014 berdiri komunitas panjat tebing di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat
dibawah naungan Komunitas Panjat Tebing Merah Putih.

Gerakan post modern ini sepertinya ingin mengembalikan ruh kegiatan panjat tebing pada tebing
alam yang terbentang dari Sabang sampai Merauke yang jumlahnya ribuan itu, yang jika tidak
mulai dipikirkan hanya akan jadi tontonan tuan rumah.

15 Mei 2014 sudah dipastikan bahwa panjat tebing tidak menjadi cabang olahraga yang
dilombakan pada pesta olahraga Asia Tenggara (SEA Games) 2015 di Singapura. Kepastian ini
berdasarkan hasil pertemuan the SEA Games Federation yang diadakan di Singapura.

Lembaga Panjat Tebing di Indonesia

1. Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI)


2. Pengurus di tingkat propinsi adalah:
1. Pengurus Daerah Propinsi Aceh
2. Pengurus Daerah Propinsi Sumatera Utara
3. Pengurus Daerah Propinsi Sumatera Barat
4. Pengurus Daerah Propinsi Riau
5. Pengurus Daerah Propinsi Kepulauan Riau
6. Pengurus Daerah Propinsi Sumatera Selatan
7. Pengurus Daerah Propinsi Jambi
8. Pengurus Daerah Propinsi Bengkulu
9. Pengurus Daerah Propinsi Lampung
10. Pengurus Daerah Propinsi Banten
11. Pengurus Daerah Propinsi Jawa Barat
12. Pengurus Daerah Propinsi Jawa Tengah
13. Pengurus Daerah Propinsi DI Yogyakarta
14. Pengurus Daerah Propinsi Jawa Timur
15. Pengurus Daerah Propinsi Bali
16. Pengurus Daerah Propinsi Nusa Tenggara Barat
17. Pengurus Daerah Propinsi Nusa Tenggara Timur
18. Pengurus Daerah Propinsi Sulawesi Selatan
19. Pengurus Daerah Propinsi Sulawesi Tengah
20. Pengurus Daerah Propinsi Sulawesi Utara
21. Pengurus Daerah Propinsi Kalimantan Selatan
22. Pengurus Daerah Propinsi Kalimantan Barat
23. Pengurus Daerah Propinsi Kalimantan Timur
24. Pengurus Daerah Propinsi Kalimantan Tengah
25. Pengurus Daerah Propinsi Papua Barat
3. Badan Standarisasi Pemanjatan Indonesia
4. Lembaga Pelatihan dan Sertifikasi Panjat Tebinng Indonesi

DI setiap propinsi ada pengurus tingkat kota atau kabupaten.

Jenis Batuan Tebing

Jenis batuan tebing yang biasa digunakan untuk pemanjatan dalam olah raga panjat tebing adalah
sebagai berikut; [3]

Batu Andesit

Batu Kapur (Limestone)

Batu Karang

Peralatan Panjat Tebing

Jumlah setiap peralatan yang digunakan akan dipengaruhi oleh jumlah pemanjat, tehnik
pemanjatan maupun medan pemanjatan. Macam peralatan akan dipengaruhi oleh kesiapan
pemanjat, baik kemampuan maupun antisipasinya.

Berikut beberapa peralatan dasar yang digunakan untuk memanjat tebing:[4]

Helm, pada pemanjatan tebing berfungsi kurang lebih sama dengan helm pada umumnya yaitu
untuk melindungi kepala dari benturan. Helm digunakan untuk pemanjatan pada tebing alam,
selain untuk menhindari benturan kepada pada tebing juga untuk mengurangi risiko jika tertimpa
banda jatuh. Untuk pemanjatan artifisial (terutama saat kompetisi) penggunaan helm tidak lazim.

Kernmantle rope/Tali kernmantle, merupakan peralatan pengaman utama bagi pemanjat dari
kejatuhan dengan jarak ketinggian tertentu. Panjang Kernmantle rope rata-rata adalah 70 meter.
Jenis kernmantle untuk pemanjatan terbagi menjadi dua: dinamik dan statik. Tali dinamis biasa
digunakan untuk pemanjatan dengan teknik lead (rintisan) karena ketika pemanjat terjatuh akan
mempunyai elastitas yang cukup baik sehingga menghindari terjadi cedera dalam (khususnya
tulang belakang). Tali statik pun tidak sarankan untuk digunakan mengingat elastitasnya yang
sangat rendah yang berbahaya pada energi yang terpaksa harus diterima oleh tubuh jika terbebani
saat pemanjat terjadi.

Climbing Shoes/Sepatu Panjat untuk panjat tebing maupun panjat dinding memiliki kesamaan
fungsi, yaitu untuk membantu pemanjat untuk berpijak pada permukaan vertikal, dan melindungi
kaki dari tajamnya bebatuan maupun gesekan bebatuan yang kasar.
Chalk bag/Kantung kapur, merupakan sebuah tas kantung untuk menampung bubuk
magnesium klorida, yang membantu pemanjat mengurangi kelembapan pada telapak tangan
ketika melakukan pemanjatan, sehingga dapat membuat pegangan pemanjat tetap stabil.

Sling, sangat bermanfaat pada panjat tebing maupun panjat dinding, sling dapat digunakan
sebagai runners, back up maupun menjadi bagian pengaman lainnya. Sling dibagi menjadi dua
macam, sling prusik dan sling webbing, untuk panjang dan diameter sling memiliki banyak
variasi.

Full Body harness, merupakan peralatan panjat yang dikenakan pada tubuh. Body harness
biasa digunakan untuk dunia kerja, rescue dan flying fox. Body harness membantu penggunanya
untuk tetap dalam posisi duduk.

Seat harnes, selain Full Body harness dikenal juga seat harness. Untuk pemanjatan sport dan
petualangan (mounteineering) lazim digunakan seat harness, karena simple. Sedangkan full body
harness digunakan di dunia industri. Perbedaan full-body dan seat-haness adalah saat pemanjat
jatuh full body harness akan mempunyai kemungkinan yang sangat besar pemanjat akan jatuh
dengan posisi kaki dibawah, sedangkan seat-harness mempunyai kemungkinan kepala berada
dibawah ketika terjatuh. Sehingga untuk dunia kerja yang sangat menghindari risiko, seat harness
tidak dibenarkan untuk digunakan.

Sarung tangan, akan melindungi tangan bagi belayer ketika mengamankan pemanjat maupun
rapler dari bahaya gesekan telapak tangan dengan tali pengaman.

Hammer/palu, sangat dibutuhkan untuk pemasangan pengaman buatan berupa piton pada
panjat tebing, cara membawa hammer akan lebih mudah bagi pemanjat jika tali pada hammer
disilangkan pada bahu pemanjat.

Carabiners, diciptakan untuk menggabungkan berbagai jenis peralatan. Carabiners memiliki


banyak bentuk dan variasi, umumnya carabiners dibagi menjadi dua jenis, yaitu carabiner non
screw gate dan carabiner screw gate. Carabiners biasa dihubungkan pada tali maupun
pengaman untuk pemanjatan, carabiner sangat kuat karena sebuah nyawa disandarkan pada
carabiner ketika dilakukan suatu pemanjatan dari bahaya jatuhnya pemanjat dari ketinggian.

Quickdraw/runner, merupakan gabungan antara prusik dan dua buah carabiner. Biasanya
digunakan untuk menjadi bagian penyambung antara chocks, friends, tricams, bolts ataupun
pitons terhadap tali carnmantel.

Hand ascender, merupakan peralatan yang digunakan untuk membantu pemanjat dalam
menaiki tebing dan bertumpu pada bantuan tali, secara otomatis hand ascender maupun jenis
ascender lainnya akan mencatut tali jika diberi beban dan akan mudah digeser jika tidak memiiki
beban.

Ascender handle, juga merupakan jenis ascender. Ascender handle merupakan pengembangan
dari hand ascender dengan fungsi yang dimiliki kurang lebih sama.
Rigger plate, berfungsi sebagai plat conector dari anchor point ke lintasan, karena dalam
beberapa kasus dibutuhkan beberapa lintasan dalam satu anchor point fix. Rigger plate terdiri
dari sebuah plat yang memiliki beberapa lubang, yang dapat ditempati oleh lebih dari 2
pengaman.

Edge Rollers, Merupakan pelindung tali yang didesign untuk mencegah terjadinya gesekan
antara tali dengan sudut bidang, dinding batu, dan sebagainya.

Padding, berfungsi untuk memberi perlindungan pada tali dari gesekan benda tajam, seperti
gesekan tali dengan sudut tebing, dinding,dll. Padding terbuat dari bahan terpal, canvas, matras,
karet tebal yang tahan terhadap gesekan.

Cams/ friends/ spring loaded camming device (SLCD), Friends merupakan salah satu jenis
pengaman sisip yang digunakan dalam panjat tebing, anda dapat menarik tuas baja yang
membuat bagian ujung friends menyempit dan melepaskannya pada celah yang diinginkan.
Friends sangat fleksible, karena dapat digunakan pada berbagai ukuran celah/rongga.

Pitons, merupakan pengaman yang ditancapkan pada rongga-rongga tebing, piton memiliki
empat jenis yaitu Bongs, Bugaboons, Knife-blades dan Angle.

Nuts/Chock friends merupakan jenis pengaman sisip yang dimana cara penggunaannya dengan
menyelipkan nuts pada sebuah rekahan yang sesuai. Nuts/Chock friends memiliki ukuran yang
berbeda-beda untuk itu nuts biasanya tersedia dalam set.

Hexes/chock hexentris, memiliki fungsi yang sama dengan nuts tetapi hexes berbentuk tabung
segi enam. Hexes tetap memiliki kekuatan yang baik walaupun agak sulit dalam penggunaannya.
Hexes tersedia dalam beberapa ukuran.

Tricams, merupakan pengaman sisip selanjutnya. walaupun berbeda bentuk, tetapi fungsinya
sama dengan nuts dan hexes. Pemakaiannya relatif sulit, tidak dianjurkan dipakai untuk pemula.

Figure eight/figur delapan, peralatan ini termasuk salah satu Descender adalah alat bantu
yang digunakan untuk menuruni medan vertical dan tali sebagai jalur. Bentuknya menyerupai
angka 8, ukuran dan bentuknya bermacam-macam, rate strange 3000 kg., menggunakan alat ini
menyebabkan puntiran pada tali salah satu kelemahan alat ini ketika digunakan.

Autostop, berfungsi sebagai desender dan ini di-design untuk pengereman automatis, system
kerja pengereman automatis akan bekerja ketika handle kita lepaskan. Selain itu alat ini dapat
juga digunakan sebagai alat belay (belay device) untuk menurunkan korban dari ketinggian, atau
dapat juga kita gunakan untuk ascending dengan tambahan kombinasi ascender.

Teknik Panjat Tebing

Tehnik-tehnik pemanjatan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan seluruh medan tebing,
antara lain:[5]
Face Climbing, Yaitu pemanjatan pada permukaan tebing yang memanfaatkan tonjolan
batu(point) atau rongga yang memadai yang digunakan sebagai pijakan kaki, pegangan tangan
maupun penjaga keseimbangan tubuh.

Friction / Slab Climbing, Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai
gaya penumpu. Ini dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, kekasaran
permukaan cukup untuk menghasilkan gaya gesekan. Gaya gesekan terbesar diperoleh dengan
membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baik dan
pembebanan maksimal di atas kaki akan memberikan gaya gesek yang baik, sehingga
pemanjatan dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Fissure Climbing, Teknik pemanjatan dengan fissure climbing ini lebih memanfaatkan celah
yang dipergunakan oleh anggota badan untuk melakukan panjatan.

Dengan cara demikian, maka beberapa pengembangan dari fissure climbing, dikenal teknik-
teknik dengan tehnik sebagai berikut ;

a. Jamming, teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu besar. Jari-jari
tangan, kaki, ataupun bagian-bagian tangan hingga bahu pemanjat dapat dimanfaatkan sebagai
tehnik untuk memanjat dengan cara memanfaatkan crack/retakan pada tebing untuk melakukan
pemanjatan. Peralatan yang digunakan secara mayoritas adalah pengaman sisip.

b. Chimneying, teknik memanjat celah vertical yang cukup lebar pada tebing(chimney). Badan
masuk di antara celah, dengan punggung menempel dan mendorong di salah satu sisi tebing.
Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke tebing yang
berrada dibelakang pemanjat. Kedua tangan diletakkan menempel pada tebing. Kedua tangan
membantu mendorong ke atas bersamaan dengan kedua kaki yang mendorong dan menahan
berat badan.

c. Bridging, teknik memanjat pada celah vertical yang cukup besar (gullies).Tehnik ini
menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua permukaan tebing. Posisi
badan mengangkang, kaki sebagai tumpuan dibantu oleh tangan yang juga berfungsi sebagai
penjaga keseimbangan.

d. Lay back, teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan kekuatantangan dan
kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan posisi badan membeban ke
belakang dan menempel kesisi tebing, untuk memperkuat pegangan pemanjatnya. kedua kaki
berpijak dan mendorong pada tepi celah yang berlawanan untuk menghasilkan daya angkat.

e. Hand traverse, Teknik memanjat pada tebing dengan gerak menyamping (horizontal). Hal ini
dilakukan bila pegangan yang ideal sangat minim dan untuk memanjat vertical sudah tidak
memungkinkan lagi. Teknik ini sangat rawan, dan banyak memakan tenaga karena seluruh berat
badan tertumpu pada tangan, sedapat mungkin pegangan tangan dibantu dengan pijakan kaki
(ujung kaki) agar berat badan dapat terbagi lebih rata.
f. Mantelself, Teknik memanjat tonjolan-tonjolan (teras-teras kecil) yang letaknya agak tinggi,
namun cukup besar untuk diandalkan sebagai tempat berdiri selanjutnya. Kedua tangan
digunakan untuk menarik berat badan, dibantu dengan pergerakan kaki. Bila tonjolan-tonjolan
tersebut setinggi paha atau dada maka posisi tangan berubah dari menarik menjadi menekan
untuk mengangkat berat badan yang dibantu dengan dorongan kaki.

strategi sangat diperlukan dalam setiap pemanjatan tebing, selalu sensitif membaca keadaan, baik
terhadap kemampuan diri maupun keadaan medan yang ada, sensitif dengan keketerbatasan-
keterbatasan yang mungkin timbul dan selalu dapat mengambil keputusan untuk memnfaatkan
kemampuan diri maupun alat semaksimal mungkin, me-manage semua sumber daya sebaik
mungkin untuk dapat meraih tujuan pemanjatan.

Jenis Pemanjatan Berdasarkan Pemakaian Peralatan

Berikut jenis-jenis pemanjatan berdasarkan peralatan yang digunakan dalam pemanjatan tebing:

a. Free Climbing, Sesuai dengan namanya, pada free climbing alat pengaman yang paling baik
adalah diri sendiri. Namun keselamatan diri dapat ditingkatkan dengan adanya keterampilan
yang diperoleh dari latihan yang baik dan mengikuti prosedur yang tepat. Pada free climbing,
peralatan berfungsi hanya sebagai pengaman bila jatuh. Dalam pelaksanaanya ia bergerak sambil
memasang, jadi walaupun tanpa alat-alat tersebut ia masih mampu bergerak atau melanjutkan
pendakian. Dalam pendakian tipe ini seorang pendaki diamankan oleh belayer.

b. Artificial (Aid) Climbing, Pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, seperti
piton, bolt, dll. Peralatan tersebut harus digunakan karena dalam pendakian sering sekali
dihadapi medan yang kurang atau tidak sama sekali memberikan tumpuan atau peluang gerak
yang memadai. Tujuan dari aid climbing adalah untuk menambah ketinggian.

c. Free Solo Climbing, Merupakan bagian dari free climbing, tetapi si pendaki benar-benar
melakukan dengan segala resiko yang siap dihadapinya sendiri. Dalam pergerakannya ia tidak
memerlukan peralatan pengaman. Untuk melakukan free soloing climbing, seorang pendaki
harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan dan keputusan untuk pergerakan pada
rute yang dilalui. Bahkan kadang-kadang ia harus menghafalkan dahulu segala gerakan, baik itu
tumpuan ataupun pegangan, sehingga biasanya orang akan melakukan free soloing climbing bila
ia sudah pernah mendaki pada lintasan yang sama. Resiko yang dihadapi pendaki tipe ini sangat
fatal sekali, sehingga hanya orang yang mampu dan benar-benar professional yang akan
melakukannya. Teknik pemanjatan ini sangat tidak disarankan mengingat risikoa yang dihadapi
adalah tertinggi dari teknik pemanjatan lain.

Istilah

1. Kawasan panjat tebing adalah wilayah pemanjatan yang terdiri minimal dari satu tebing
alam pemanjatan.
2. Tingkat Kesulitan Jalur Pemanjatan adalah skala subyektif untuk mengukur seberapa
sulit sulit suatu jalur pemanjatan. Tingkat kesulitan diukur oleh para pemanjat yang
mencoba suatu jalur, berdasarkan percobaan itu ditentukanlah tingkat kesulitan. Di dunia
dikenal berbagai sistem pengukuran. Yang banyak digunakan di Indonesia adalah skala
pengukuran US Yosemite System yaitu menggunakan notasi 5.xx (5.1 - 5.15). Jalur
tersulit yang ada di Indonesia adalah di tingkat 5.13b yaitu jalur Si Berat di Tebing 125,
Kawasan Pemanjatan Citatah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sedangkan
kebanyakan tingkat kesulitan pemanjatan di Indonesia adalah berkisar di 5.9-5.10.
3. Tebing artifisial adalah fasilitas dinding panjat yang dibuat manusia.
4. Tebing alam (natural rock) adalah tebing batu yang dapat dilakukan sebagai tempat
untuk melakukan pemanjatan tebing
5. Bouldering (jalur-pendek) adalah cara memanjat suatu jalur yang berisi minimal satu
titik-fokus kesulitan. Jenis jalur bouldering mempunyai ketinggian maksimum yang aman
dilakukan pemanjatan tanpa menggunakan mengaman tali.
6. Crux adalah titik tersulit pada jalur pemanjatan.
7. Red-point adalah nilai yang diperoleh seorang pemanjat jika berhasil melakukan
pemanjatan tanpa membebankan tali pengaman pada suatu jalur pemanjatan setelah
melakukan percobaan pemanjatan lebih dari satu kali.
8. On-sigth adalah nilai tertinggi yang diperoleh oleh seorang pemanjat jika berhasil
melakukan pemanjatan tanpa membebankan tali pengaman dengan satu percobaan dan
tanpa melihat pemanjat lain sebelumnya melakukan pemanjatan pada jalur tersebut.
9. Lead climbing adalah teknik memanjat jalur pemanjatan dimana pemanjat pertama
memasang peralatan pengaman dan diamankan oleh seorang pengaman (belayar) dari
bawah. Teknik pemanjatan ini cocok untuk pemanjat yang telah mempunyai kemampuan
memadai untuk melakukan pemanjatan.
10. Top-rope climbing adalah teknik memanjat suatu pemanjatan dimana tali pengaman
pemanjatan telah terpasang pada titik akhir pemanjatan dan pemanjat tidak perlu
memasang sendiri pengamanan selama pemanjatan. Pada pemanjatan ini pemanjat nyaris
tidak mungkin jatuh jika gagal melakukan pemanjatan. Teknik ini digunakan untuk
pemanjat pemula yang akan melakukan pemanjatan suatu jalur.
11. Jalur-tersedia adalah jalur pemanjatan telah dibuat oleh pemanjat sebelumnya yang
telah diberi pengaman permanen (berupa hanger atau piton) sehingga pemanjat lain
tinggal mengaitkan cincin kait untuk mengamankan pemanjatannya.
KISAH TENTANG SKYGERS

5 September 2012 pukul 15:02

Di Indonesia, panjat tebing mengingatkan orang pada SKYGERS, tentu saja hal ini tidak berarti
bahwa hanya para SKYGERS yang melakukan olahraga ini. Beberapa kelompok pendaki
gunung, seperti MAPALA UI Jakarta atau WANADRI Bandung yang termasuk kelompok-
kelompok perintis, juga melakukan panjat tebing, tetapi hanya sebagai bagian dari kegiatan
mereka. SKYGERS adalah kelompok pertama yang mengambil bidang panjat tebing sebagai
spesialisasi. Dan walaupun mereka pendaki gunung, mereka juga lebih ingin disebut pemanjat
tebing.

SKYGERS mengingatkan orang pada Harry Sulliztiarto. Pada tahun 1976 Harry datang dari
Surabaya ke Bandung untuk belajar di ITB. Waktu itu sudah menjadi pecinta alam dan
melakukan olahraga jalan dan mendaki gunung secara otodidak, tanpa teknik. Di ITB, seorang
kawan asal Inggris memberikannya sebuah buku petunjuk mengenai panjat tebing: From hill
walking to alpine climbing. Bisa dibilang buku itulah yang menjadikan Harry seorang spesialis
panjat tebing.

Rekan-rekan di Fakultas Seni Rupa ITB bergabung dan mendirikan kelompok SKYGERS.
Bemula dari latihan-latihan dengan peralatan sederhana, sedikit demi sedikit SKYGERS
mengumpulkan peralatan dari luar negeri sambil berusaha membuat peralatan sendiri sampai
akhirnya di tahun 1980 SKYGERS menjadi kelompok panjat tebing yang mungkin mempunyai
peralatan terlengkap di Indonesia.

Pada tahun 1979, Harry dan Agus memanjat Planetarium TIM Jakarta. Tahun 1980
dilaksanakan ekspedisi panjat tebing yang pertama di Indonesia dilaksanakan di Gunung Parang
berkat adanya dukungan dari JAYAGIRI.

Pemanjatan pertama berikut persiapan jalan yang akan dilalui itu membutuhkan waktu tak
kurang dari 26 hari. Pemanjatan berikutnya hanya berlangsung selama....empat jam.

Perlu digarisbawahi, bahwa panjat tebing di Indonesia berutang budi pada Doddy Kasoem, wakil
perusahaan JAYAGIRI yang menjual peralatan olahraga outdoor dan indoor di banyak kota
di Indonesia.

Pada tahun 1981, sebuah grup yang terdiri 21 mahasiswa ITB (diantaranya, yang tergabung di
SKYGERS) melakukan pendakian Gunung Jaya Wijaya di Irian Jaya. Dan pada tahun yang
sama, tiga orang personil SKYGERS mendirikan Sekolah Memanjat Tebing SKYGERS. 90%
pendidikan di SKYGERS dalam bentuk praktek, dan dititikberatkan pada Climbing Procedure
dan Safety Procedure dengan ratio satu instruktur untuk maksimum empat orang siswa.
Pendidikan diselenggarakan satu tahun sekali, dan direncanakan setahun minimal dua kali untuk
massa mendatang. Sampai saat ini SKYGERS telah menetaskan 16 angkatan, dan mengadakan
kursus-kursus kilat di beberapa kota di Jawa dan Sumatra, kursus privat dan pendidikan
memanjat tebing khusus bagi militer pada beberapa kasatuan ABRI.

SKYGERS bukanlah suatu perkumpulan yang biasa. Lebih dari segalanya, mereka adalah
sekelompok kawanan yang sama-sama menggandrungi panjat tebing dan bahaya, cinta alam dan
haus akan kebebasan. Dan barangkali karena cinta akan kebebasan inilah, dalam kelompok
SKYGERS tak kenal adanya kartu anggota, iuran atau ikatan apapun.

(disadur dari Majalah RONA, vol II, No. 3 Tahun 1990)

Tiga Serangkai Pendiri Sekolah SKYGERS Ki-Ka: Harry, Deddi, & Herry
Teknik Panjat Tebing

Panjat tebing adalah menaiki atau memanjat tebing yang memanfaatkan celah atau benjolan yang
dapat digunakan sebagai pijakan atau pegangan, dalam suatu pemanjatan untuk menambah
ketinggian.

Berdasarkan teknik memanjat dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Free climbing, adalah pemajatan yang menggunakan peralatan hanya untuk menahan
jatuh dan saat berhenti menambat. Pemasangan pengaman tidak digunakan untuk
pegangan atau pijakan untuk menambah tinggi.
2. Artificial cimbing, adalah pemanjatan yang menggunakan peralatan selain untuk
menahan jatuh, juga digunakan untuk menambah ketinggian dengan cara dijadikan
pegangan atau pijakan.

Taktik pemanjatan

1. Taktik Alpine, adalah pemanjatan tanpa lagi berhubungan dengan base camp, semua
perlengkapan dan makanan dibawa terus.
2. Taktik Himalayan, adalah pemanjatan dengan cara menghubungkan antara base camp
melalui tali, perlengkapan dan makanan dikirim secara estafet dari camp ke camp.

Peralatan Panjat Tebing dan Fungsi

Tali

Fungsi utama dalam pemanjatan adalah sebagai pengaman apabila jatuh. Tali yang dipakai
dalam panjat tebing terbuat dari nylon ( kern ) untuk menahan gerakan friksi juga sebagai
penguatan digunakan pembungkus ( mantle ) sehingga tali ini bisa disebut kermnantle .
Dianjurkan jenis tali yang dipakai hendaknya telah diuji coba oleh UIAA (Union Internationale
Des Associations DAlpinism) suatu badan yang menguji kekuatan peralatan pendakian. Ukuran
kernmantle yang biasa dipakai adalah 8, 8 mm , 9 mm, 10 mm dengan penjang standar adalah 50
meter.

Tali ini memiliki sifat-sifat :

1. Tidak tahan terhadap gesekan dengan tebing, terutama tebing laut (cliff). Bila dipakai
untuk menurunkan barang, sebaiknya bagian tebing yang bergesekan dengan tali diberi
alas (pading). Tabu untuk menginjak tali jenis ini.
2. Peka (tidak tahan) dengan zat kimia.
3. Tidak tahan terhadap panas. Bila tali telah dicuci sebaiknya dijemur di tempat teduh.
4. Memiliki kelenturan yang baik bila mendapat beban kejut (karena pendaki jatuh,
misalnya)

Pada umumnya tali-tali tersebut akan berkurang kekuatannya bila dibuat simpul. Sebagai contoh,
simpul delapan (figure of eight) akan mengurangi kekuatan tali sampai 10%. Karena sifat tali
yang demikian, maka dibutuhkan perawatan dan perlakuan yang baik dan benar. Cara
menggulung tali juga perlu diperhatikan agar tidak kusut, sehingga tidak mudah rusak dan
mudah dibuka bila akan digunakan.

Sebelum dipakai untuk pemanjatan tali ini harus diurai terlebih dulu, untuk memeriksa keadaan
tali. Caranya yaitu ditekan dengan ibu jari saat diulur..

Kermantle ada dua macam :

1. Tali Dinamik

Memiliki kelenturan bagus sehingga dapat berfungsi sebagai peredam kejut. Kelenturannya
mencapai 5- 15 % dari berat maksimum yang diberikan. Biasanya memakai warna yang
mencolok seperti merah, hijau dan ungu.

2. Tali Statik

Tidak memiliki kalenturan yang baik sehingga biasanya dipakai untuk menuruni tebing /
rapelling atau ascending. Sifatnya kaku dan umumnya berwarna putih atau hijau.

Carabiner

Biasanya disebut cincin kait, terbuat dari logam alumunium alloy dan mempunyai ragam variasi
bergantung pada desain pabriknya. Biasanya kekuatan carabiner tercantum pada alat tersebut.

Persyaratan yang harus dibuat oleh assosiasi pembuat peralatan panjat tebing mengharuskan
carabiner dapat menahan bobot 1200 kilogram force (kp) atau sekitar 2700 pounds. Sedangkan
beban maksimum yang diperbolehkan adalah sekitar 5000 pounds.

Carabiner yang terbuat dari campuran alumunium (Alloy) ini sangat ringan dan cukup kuat,
terutama yang bebentuk D. Carabiner yang terbuat dari baja mempunyai kekuatan yang sangat
tinggi sampai 10.000 pounds tetapi relatif berat bila dibawa dalam jumlah banyak untuk suatu
pendakian.

Berikut ini adalah tabel daftar carabiners, pabrik pembuat dan kekuatan menahan bobot. Bagian
yang paling lemah dari carabiner adalah pin, carabiner bentuk D relatif lebih aman dibanding
bentuk oval, karena terdapat cekungan yang memberi ruang bagi pin saat carabiner mendapat
beban. Kelebihan dari carabiner bentuk oval adalah relatif mudah dikaitkan pada piton.

Ada dua jenis carabiner :

1. Carabiner Screw gate ( menggunakan kunci pengaman )


2. Carabiner Snapgate ( tidak berkunci )

Kekuatan carabiner terletak pada pen yang ada sehingga jika pen yang ada pada carabinber sudah
longgar sebaiknya jangan dipakai.
Ascender

Ascendeur digunakan sebagai alat bantu naik, merupakan perkembangan dari prusik, mudah
mendorongnya ke atas tapi dapat menahan beban. terbuat dari kerangka alumunium dan baja.
Alat ini dapat dipakai untuk tali berdiameter 7 11 mm dan berkekuatan 1100 pounds. Dalam
menggunakan ascendeur sebaiknya menggunakan sling terlebih dahulu sebelum disangkutkan
pada carabiner.

Descender

Alat ini digunakan turun tebing (abseiling, rapeling). Pada prinsipnya untuk menjaga agar
pendaki tidak meluncur bebas. Keuntungan lainnya adalah tubuh tidak tergesek tali, sehingga
tidak terasa panas.

Beberapa jenis descendeur :

a. Figure of eight

b. Brake bar

c. Bobbin (petzl descendeur)

- single rope

- double rope

d. Modifikasi carabiner . Carabiner yang kita susun sedemikian rupa sehingga berfungsi
semacam brake bar.

Chock and Friend

Chock adalah alat dalam pendakian tebing yang dimasukkan ke celah batu dengan jari tangan
sehingga terjepit dan dapat menahan berat badan dari arah tertentu.

Chock mempunyai tiga bentuk :

a. Hexentric (berbentuk segi enam)

b.Stopper (berbentuk simetris)

c.Trieams (berbentuk paruh burung)

Karena keterbatasannya diciptakan alat pengapit yang disebut friend, yang bisa menyesuaikan
bentuk dengan celah tebing.

Piton
Cara pemasangan piton sangat sederhana. Setelah memeriksa rekahan yang akan dipasang piton,
kita memilih piton yang cocok dengan rekahan, lalu ditancapkan dan pukul dengan hammer.
Salah besar kalau kita memilih piton dulu baru memilih rekahan pada tebing. Untuk mengetahui
rapuh tidaknya rekahan yang akan kita pasang piton, adalah dengan memukulkan hammer pada
tebing sekitar rekahan. Suara yang nyaring menunjukkan rekahan tersebut tidak rapuh.

Adakalanya rekahan yang kita hadapi membutuhkan cara pemasangan yang berbeda dan atau
perlu dimodifikasi dengan alat lain, sehingga perlu beberapa cara khusus dalam pemasangannya.

Cara melepas piton adalah dengan menggunakan hammer yang kita pukulkan pada mata piton
searah dengan rekahan sampai pada akhirnya piton dapat ditarik.

Pengaman pasak, macamnya antara lain :

1. angle
2. king ping

Webbing

Terbuat dari bahan nylon berguna sebagai sling, tali tubuh juga sebagai alat bantu
penambatan.Webbing memiliki panjang standar 5 meter. Webbing memiliki bentuk seperti pita,
dan ada dua macam.

Pertama lebar 25 mm dan berbentuk tubular, sering digunakan untuk :

1. Harness (tali tubuh), swami belt, chest harness


2. Alat bantu peralatan lain, sebagai runners (titik pengaman), tangga (etrier) atau untuk
membawa peralatan.

Webbing yang lain memiliki lebar 50 mm dan berbentuk pipih, yang biasa digunakan untuk
macam-macam body slings.

Sling

Biasanya terbuat dari webbing dengan fungsi :

1. sebagai penghubung
2. membuat natural poin dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing
3. mengurangi gaya gesek ( yang menambah beban ) pada chock atau piton yang terpasang

Runners

Pengaman jalan, sling yang dikaitkan dengan carabiner untuk pengaman jalan penambatan.

Harness
Harness sangat menolong untuk menahan tubuh, bila pendaki terjatuh, Juga akan mengurangi
rasa sakit dibandingkan bila kita menggunakan tali langsung ke tubuh dengan simpul bowline on
a coil. Harness yang baik tidak akan mengganggu gerak tubuh dari pendaki. Akan tetapi sangat
terasa gunanya bila pendaki dalam posisi istirahat.

Jenis jenis harness :

a. Full body harness

Harness ini melilit di seluruh tubuh, relatif aman dan biasanya dilengkapi dengan sangkutan alat
disekeliling pinggang. Sering dipakai di medan salju/es.

b. Seat harness

Harness ini lebih sering dipakai, mungkin karena tidak begitu mengganggu pendaki dalam
bergerak. Seat harness dapat dibuat dari webbing (swami belt) dan diapersling atau dengan
menggunakan figure of eight sling.

Stirrup/Etrier

Tangga untuk membantu menambah ketinggian tanpa menjejakkan kaki pada tebing. Bila rute
yang akan dilalui ternyata sulit, karena tipisnya pijakan dan pegangan, maka etrier ini sangat
membantu untuk menambah ketinggian. Pada Atrificial Climbing, etrier menjadi sangat vital,
sehingga tanpa alat ini seorang pendaki akan sulit sekali untuk menambah ketinggian.

Hammer

Palu untuk membantu menyisipkan piton pada celah, memaku bolt.

Bolt Hanger dan Resin Anchor

Bolt Hanger adalah pengaman tetap yang dipasang pada permukaan tebing yang telah
dilubangi/dibor, diperkuat dengan baut tebing (bolt) sedang Resin Anchor dipasang pada
permukaan tebing yang telah dilubangi dengan bor dan diperkuat dengan lem (resin glue)

Helm pengaman

ringan tapi keras.

Chalk Bag

Kantung magnesium.

Sepatu

Sepatu yang digunakan dalam pemanjatan ada dua jenis, yaitu :


1. sepatu yang kejur ( kaku dan keras )
2. sepatu yang lentur.

Klasifikasi Pengaman

1. Pengaman emas : pengaman yang berfungsi sangat baik digunakan untuk

tambatan dan beban jatuh

1. Pengaman perak : pengaman yang berfungsi kurang baik, biasanya

bisa terlepas jika dipakai jatuh.

1. Pengaman perunggu : pengaman yang berfungsi jelek dan pasti terlepas

jika terkena beban jatuh

1. Pengaman pengunci : pengaman yang berfungsi sangat baik, tidak

terlepas jika ditarik ke segala arah dan pasti

bersifat emas.

Simpul dan Jerat yang dipakai saat memanjat tebing

1. Simpul
1. Simpul delapan, biasanya digunakan oleh pemanjat yang posisinya dekat dengan
tubuh pemanjat. Lubang pada simpul delapan adalah tidak boleh terlalu besar,
maksimal hanya bisa masuk 2 atau 3 jari. Pada bagian ujung tali harus diberi
simpul pengunci.
2. Simpul pita, biasanya digunakan untuk menyambung tali yang pipih.
3. Simpul nelayan ganda, digunakan untuk menyambung tali yang silinder.
4. Simpul kupu-kupu, digunakan untuk pemanjat tengah.
5. Jerat
1. Jerat tambat (Italian hitch), digunakan untuk bilay dan refling.
2. Jerat pangkal (clove hitc), digunakan untuk penambatan.
3. Jerat geser (perusik hitch), perusik yang dijeratkan di tali utama.

Penambatan

Keselamatan adalah hal utama dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia. Demikian
halnya dengan panjat tebing meskipun aktivitas ini merupakan petualangan, tetapi keselamatan
tetap esensial.

Fungsi tali adalah pengaman bagi pemanjat dari resiko fatal yang diakibatkan apabila ia jatuh.
Tali ini, menghubungkan antara pemanjat dengan belayer. Sebelum melakukan pemanjatan
belayer harus mencari dan menambatkan dirinya pada anchor agar tidak terseret saat pemanjat
jatuh. Namun sebenarnya faktor keselamatan dari pemanjat itu terletak pada kemampuannya
untuk mencari pengaman sebagai tempat runner ( running belay ). Sehingga fungsi belayer
adalah sebagai breaker laju jatuhnya pemanjat .

Pengaman ada dua jenis :

1. Pengaman Alam ( natural anchor )

Pengaman yang disediakan oleh alam, macamnya :

1) Tumbuhan

Bila tubuhan tersebut kuat dan akarnya menghujam ke dalam dinding tebing dan dalam
pemasangannya diupayakan harus dekat dengan pangkalnya dengan dijerat pakai tali pita atau
webbing.

2) Batu sisip

Batu yang tersisip disela vertikal tebing.

3) Batu tanduk.

Batu yang menonjol.

4) Celah tembus.

Lubang yang menembus tebing.

1. Pengaman buatan (artificial anchor)

1) Pengaman sisip(chock).

Biasanya dipasang pada cacat batuan(berupa celah).

2) Pengaman sisip pegas.

Dipasang pada celah yang menyempit, baik vertikal maupun horizontal.

3) Pengaman pasak/piton.

Dipasang pada cacat batuan yang dangkal, sempit, berbentuk pipih untuk memudahkan
pemakaian.

4) Paku tebing/bolt
Pemakaiannya diborkan pada tebing, dipakai pada tebing yang blank .

Pada prinsipnya melakukan penambatan harus seaman dan sepraktis mungkin sehingga pada saat
memanjat tidak menjadi terganggu oleh penambatannya.

Prosedur Keamanan Pemanjatan Tebing

Sebelum pemajatan

Pemilihan jalur pemanjatan

Jalur dipilih berdasarkan data yang telah ada, baik melalui literature, informasi dari pemanjat
lain, dan pengamatan langsung (orientasi jalur). Pengamatan langsung merupakan cara yang
paling baik karena dapat mengetahui kondisi tebing yang sebenarnya. Dalam orientasi jalur ada
beberapa hal penting yang sangat diperlukan dalam pemanjatan, antara lain:

1. Memperkirakan ketinggian dan karakter tebing.


2. Menentukan jenis alat pengaman yang akan digunakan.
3. Menentukan titik awal pemanjatan
4. Menentukan system dan teknik pemanjatan.

Mempersiapkan peralatan

Peralatan yang dibawa disesuikan dengan jalur yang akan dipanjat dan disusun secara sistematik
melalu pemeriksaan terhadap peralatan yang akan digunakan, seperti:

1. Pengunci buckle pada harness


2. Simpul-sumpul, alat penambatan, sling webbing, carabiner.
3. Kondisi jahitan pada harness atau peralatan lain yang menggunakan jahitan.
4. Mengurai tali untuk mengetahui kondisi tali dan agar tidak kusut saat pemanjatan.

Memulai pemanjatan

Setelah semua peralatan siap, maka pemanjatan dapat dimulai apabila telah terjadi kesepakatan
antara leader (pemajat utama) dan belayer (penambat).

Selama pemanjatan

1. Selama pemanjatan berlangsung diusakan penambat selalu dapat melihat proses


pemanjatan dan adanya komunikasi antara pemanjat dan penambat.
2. Pemanjat utama hanya bisa menentukan jarak aman antara pengaman yang satu dengan
pengaman yang lain sesuai dengan tingkat kesulitan.
3. Untuk mengurangi gesekan (friksi) pada tali utama pemanjatan, panjangkan setiap
pengaman yang terpasang dengan sling panjang (terutama pada jalur pemanjatan yang
zig-zag).
4. Hindari tempat tinggi ata terbuka saat hujan atau akan turun.
5. Pada saat mencapai teras, maka leader harus mencari atau memasang dua pengaman.
6. Untuk penambatan di teras ketinggian tubuh penambat harus dibawah pengaman emas
dan selalu terhubung ke tubuh penambat.
7. Selama pemanjatan berlangsung, jangan pernah melepas tali utama dari tubuh.

Anda mungkin juga menyukai