0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
167 tayangan14 halaman

Jenang Jaket Mersi: Proses dan Harga

Dokumen tersebut membahas tentang Jenang Jaket Mersi, yaitu makanan khas dari Kabupaten Banyumas yang diproduksi oleh pabrik yang pertama kali memproduksi jenang tersebut. Dokumen ini juga membahas tentang proses pembuatan jenang, bahan baku, varian produk, harga, dan asal usul nama "Jenang Jaket Mersi". Selain itu dibahas pula tentang rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penulisan laporan ini
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
167 tayangan14 halaman

Jenang Jaket Mersi: Proses dan Harga

Dokumen tersebut membahas tentang Jenang Jaket Mersi, yaitu makanan khas dari Kabupaten Banyumas yang diproduksi oleh pabrik yang pertama kali memproduksi jenang tersebut. Dokumen ini juga membahas tentang proses pembuatan jenang, bahan baku, varian produk, harga, dan asal usul nama "Jenang Jaket Mersi". Selain itu dibahas pula tentang rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penulisan laporan ini
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jenang Jaket Mersi merupakan makanan khas yang berasal dari Kabupaten
Banyumas yang terletak di Jalan PKK Mersi No. 600 Purwokerto Timur
Banyumas. Pabrik Jenang Jaket ini dikelola oleh Bapak Salimin (Alm Bapak
atau Ibu Suhardja) merupakan pabrik yang pertama kali memproduksi jenang
jaket. Jenang Jaket ini merupakan home industry dengan lima cabang, yaitu
Jenang Jaket Pertama, Jenang Jaket Asli, Jenang Jaket Puspa Sari, Jenang
Jaket Mukti Sari, dan Jenang Jaket Dian Sari. Jenang Jaket Mersi diproduksi
dalam dua varian yaitu jenang yang menggunakan wijen atau jenang jaket
wijen dan jenang yang tidak menggunakan wijen atau jenang jaket polos.
Harga yang ditawarkan yaitu Rp.10.000,- (isi 12 biji) dan Rp.14.000 (isi 16
biji).
Jenang Jaket Mersi adalah sebuah nama yang diambil dengan arti jenang
asli ketan karena dalam pembuatannya melibatkan bahan baku utama seperti
tepung ketan, gula merah, dan santan kelapa yang diolah melalui proses yang
cukup panjang menjadi jenang. Pembuatan jenang jaket ini juga terbuat dari
bahan tambahan lain seperti vanili dan wijen untuk membuat rasa yang khas.
Nama Mersi sendiri diambil dari tempat dimana jenang itu diproduksi yaitu di
Kelurahan Mersi.

1.2.Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi lingkungan di sekitar pabrik?
2. Bagaimana proses pengolahan masing-masing limbah?
3. Bagaimana alur transmisi dan sumber agen lingkungan?
4. Bagaimana dampak positif dan negatif dari limbah tersebut ke
masyarakat?
5. Bagaimana keselamatan pekerja pabrik tersebut?
6. Bagaimana pengolahan limbah yang dihasilkan oleh pabrik?

1
1.3.Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan yang diharapkan dari
laporan pembahasan ini adalah :
1. Untuk dapat mengidentifikasi lingkungan di sekitar pabrik.
2. Untuk mengetahui proses pengolahan masing-masing limbah.
3. Untuk mengetahui sumber agen lingkungan dan alur transmisi dari
penyakit.
4. Untuk mengetahui dampak positif dan negatif dari limbah tersebut kepada
masyarakat di sekitar pabrik.
5. Untuk mengetahui keselamatan yang di dapat oleh pekerja di pabrik
tersebut.
6. Untuk mengetahui pengolahan limbah yang di timbulkan.

1.4.Manfaat
Manfaat dari penulisan laporan ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi penulis
Sebagai tambahan informasi penulis mengenai bagaimana proses
pembuatan jenang jaket, memahami pengolahan limbah yang ditimbulkan,
dan memahami sumber agen lingkungan dan alur transmisi dari penyakit
dalam pabrik tersebut serta keselamatan kerja yang di dapat oleh pekerja
dalam pabrik jenang jaket.

2. Bagi masyarakat
Sebagai pengetahuan tambahan mengenai bagaimana proses pembuatan
jenang jaket dan memahami cara pengolahan limbah dengan benar.

3. Bagi pemerintah
Sebagai informasi mengenai jalur penyebaran penyakit dari pabrik serta
dapat memberikan fasilitas keselamatan dan kesehatan pekerja di
lingkungan pabrik.

2
BAB II

ISI

A. Landasan Teori
1. Jenang
Purnamasari (2014) menjelaskan jenang adalah makanan tradisinonal
khas khususnya Jawa Tengah yang bahan bakunya adalah beras ketan, gula
merah, dan kelapa. Jenang Jaket Mersi Purwokerto merupakan salah
satu makanan khas tradisional Kabupaten Banyumas dan sulit. Makanan ini
dapat dikonsumsi sebagai makanan kecil ataupun sebagai hidangan dalam
suatu hajatan dan acara-acara tertentu ataupun sebagaioleh-oleh bagi
wisatawan yang berkunjung ke Purwokerto.Jenang Jaket Mersi bahan baku
utamanya tepung ketan, gula merah, dan santan kelapa. Dalam jenang asli
Purwokerto ini ditambahkan wijen untuk mendapatkan rasa khas dan spesial
serta rasa lembut dan manis yang cukup. Jenang dapat tahan samapai 10 hari
karena tidak menggunakan bahan pengawet.

2. Limbah
Pengertian Limbah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari
suatu sumber hasil aktivitas manusia, maupun proses-proses alam dan tidak
atau belum mempunyai nilai ekonomi. Limbah dibagi 3, yaitu
a. Limbah Padat
Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan,
lumpur atau bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan. Limbah
padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah padat yang
tidak mengandung unsur kimia yang beracun dan berbahaya dapat
langsung dibuang ke tempat tertentu sebagai TPA (Tempat Pembuangan
Akhir).Pengolahan limbah padat terdapat empat proses, yaitu
1) Pemisahan limbah padat karena limbah padat terdiri dari ukuran yang
berbedan dan kandungan bahan yang berbeda juga maka harus
dipisahkan terlebih dahulu, supaya peralatan pengolahan menjadi awet.

3
2) Pengomposan dilakukan terhadap buangan / limbah yang mudah
membusuk, sampah kota, buangan atau kotoran hewan ataupun juga
pada lumpur pabrik. Supaya hasil pengomposan baik, limbah padat
harus dipisahkan dan disamakan ukurannya atau volumenya.
3) Pembuangan limbah proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah
pembuangan limbah yang dibagi menjadi dua, yaitu pembuangan di
laut. Pembuangan limbah padat di laut, tidak boleh dilakukan pada
sembarang tempat dan perlu diketahui bahwa tidak semua limbah padat
dapat dibuang ke laut hal ini disebabkan karena laut sebagai tempat
mencari ikan bagi nelayan,laut sebagai tempat rekreasi dan lalu lintas
kapal, laut menjadi dangkal,limbah padat yang mengandung senyawa
kimia beracun dan berbahaya dapat membunuh biota laut, pembuangan
di darat atau tanah untuk pembuangan di darat perlu dilakukan
pemilihan lokasi yang harus dipertimbangkan sebagai berikut pengaruh
iklim, temperatur dan angin,struktur tanah, jaraknya jauh dengan
permukiman, pengaruh terhadat sumber lain, perkebunan, perikanan,
peternakan, flora atau fauna.
b. Limbah Cair
Limbah cair adalah air kotor atau air bekas yang mengandung zat-
zat yang dapat membahayakan kesehatan makhluk hidup karena perbuatan
manusia. Limbah cair berasal dari rumah tangga, industri, maupun tempat-
tempat umum seperti TPA yang dapat mengganggu lingkungan hidup.
Pengolahan limbah cair, yaitu
1) Pengolahan pendahuluan (pre-treatment)adalah pengambilan benda-
benda terpaung atau mengendap seperti pasir, smapah, kayu.
2) Pengolahan pertama (primery treatment) adalah pengolahn limbah
dengan cara pemisahan zat suspensi.
3) Pengolahan Kedua (secondary treatment) adalah pengolahan biologis
untuk menghilangkan koloid senyawa organik terlarut.
4) Pengolahan ketiga (primery treatment) adalah pengolahan secara
khusus sesuai dengan kandungan zat yang terbanyak dalam air limbah.

4
Pada tahap ini dilakukan koagulasi, flokulasi, dan filtrasi setelah itu
baru dialirkan ke badan air.
5) Pembunuhan bakteri (disinfection) bertujuan untuk mengurangi
mikroorganisme patogen dalam limnah air.
6) Pengolahan lanjutan (ultimate disposal) adalah pengolahan khusus
seperti air lumpur yang dapat dimanfaatkan kembali untuk kehidupan.
c. Limbah Gas
Limbah gas adalah limbah zat (zat buangan) yang berwujud gas yang
mengandung zat-zat yang dapat mebahayakan tubuh makhluk hidup.
Limbah gas dihasilakan baik dari pabrik, rumah tangga, maupuntempat
umum. Jenis bahan pencemar yang paling sering dijumpai ialah karbon
monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2),
komponen organik terutama hidrokarbon, dan metan. Pengolahan limbah
gas dapat berupa alat yang dapat memisahkan debu-debu seperti
incinerator, pengumpul sentrifugal, dan pengendapan dengan sentrifugasi
(Damayanti, 2008).

3. Sumber Agen Lingkungan


Agen fisik :
A. Kebisingan yang sangat tinggi mempengaruhi kemampuan mendengar
pekerja terutama yang bekerja di dekat mesin.
B. Panas yang terlalu tinggi saat memasak adonan jenang menyebabkan
pekerja dehidrasi.
Agen Kimiawi
A. Debu yang cukup banyak akibat pembakaran serabut kelapa yang
digunakan untuk memasak adonan jenang.
B. Gas COyang muncul karena pembakaran, kadar CO yang tinggi di dapur
pabrik dikarenakan penggunaan bahan bakar yang masih tradisional dari
serabut kelapa dan batok kelapa.
Agen biologi
A. Lokasi dapur yang berlantai tanah menyebabkan partikel tanah yang
mengandung kuman tercemar masuk ke dalam makanan.

5
B. Ada kucing yang keluar masuk dapur yang dapat membawa bibit
penyakit.
C. Keadaan lingkungan dapur yang kurang aliran udara dan cerobong asap
yang kurang memadai menjadi tempat yang cocok untuk jamur
berkembang biak.
Mekanisme transmisi mikroba patogen ke pejamu yang rentan melalui dua
cara:

1. Transmisi Langsung Penularan langsung oleh mikroba patogen ke pintu


masuk yang sesuai dari pejamu. Sebagai contoh adalah adanya sentuhan,
gigitan, ciuman, atau adanya droplet nuclei saat bersin, batuk, berbicara
atau saat transfusi darah dengan darah yang terkontaminasi mikroba
patogen.
2. Transmisi Tidak Langsung Penularan mikroba patogen yang memerlukan
media perantara baik berupa barang/bahan, air, udara, makanan/minuman,
maupun vektor.
Dalam riwayat perjalanan penyakit, pejamu yang peka akan berinterksi

dengan mikroba patogen yang secara alamiah akan melewati 4 tahap:

1. Tahap Rentan
Pada tahap ini pejamu masih dalam kondisi relatif sehat namun peka atau
labil, disertai faktor predisposisi yang mempermudah terkena penyakit
seperti umur, keadaan fisik, perilaku/kebiasaan hidup, sosial ekonomi, dan
lain-lain. Faktor predisposisi tersebut mempercepat masuknya mikroba
patogen untuk berinteraksi dengan pejamu.
2. Tahap Inkubasi
Setelah masuk ke tubuh pejamu, mikroba patogen mulai bereaksi, namun
tanda dan gejala penyakit belum tampak. Saat mulai masuknya mikroba
patogen ke tubuh pejamu hingga saat munculnya tanda dan gejala penyakit
disebut inkubasi. Masa inkubasi satu penyakit berbeda dengan penyakit
lainnya, ada yang hanya beberapa jam, dan ada pula yang bertahun-tahun.
3. Tahap Klinis

6
Merupakan tahap terganggunya fungsi organ yang dapat memunculkan
tanda dan gejala penyakit. Dalam perkembangannya, penyakit akan
berjalan secara bertahap. Pada tahap awal, tanda dan gejala penyakit masih
ringan. Penderita masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Jika
bertambah parah, penderita sudah tidak mampu lagi melakukan aktivitas
sehari-hari.
4. Tahap Akhir
Penyakit Perjalanan penyakit dapat berakhir dengan 5 alternatif, yaitu:
a. Sembuh sempurna penderita sembuh secara sempurna artinya bentuk
dan fungsi sel/jaringan/organ tubuh kembali seperti sedia kala.
b. Sembuh dengan cacat Penderita sembuh dari penyakitnya namun
disertai adanya kecacatan. Cacat dapat berbentuk cacat fisik, cacat
mental, maupun cacat sosial.
c. Pembawa ( carrier ) Perjalanan penyakit seolaholah berhenti, ditandai
dengan menghilangnya tanda dan gejalan penyakit. Pada kondisi ini
agen penyebab penyakit masih ada, dan masih potensial sebagai sumber
penularan.
d. Kronis Perjalanan penyakit bergerak lambat, dengan tanda dan gejala
yang tetap atau tidak berubah. e. Meninggal dunia Akhir perjalanan
penyakit dengan adanya kegagalan fungsifungsi organ (Noor, 2008).
5. Keselamatan Kerja
Perlindungan keselamatan kerja melalui upaya teknis pengamanan tempat,
mesin, peralatan, dan lingkungan wajib diutamakan. Namun, risiko
kecelakaan kerja masih sepenuhnya belum bisa dikendalikan sehingga
diperlukan Alat Perlindungan Diri (APD) dengan syarat, yaitu nyaman
dipakai, tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan, memberikan
perlindungan efektif terhadap macam bahaya yang dihadapi (Sumamur,
2009).
Bahwa penjamah makanan belum memenuhi syarat karena banyak yang
tidak memakai APD (celemek, penutup kepala, sarung tangan), Alat
produksi sebelum dan sesudah digunakan selalu dibersihkan, tempat
produksi sudah memenuhi syarat tempat pengolahan, bahan baku dalam

7
keadaan baik, metode pembuatan jenang jaket sudah memenuhi standar.
Analisis bahaya yang mungkin terjadi pada proses produksi jenang jaket
fisik yaitu kontaminasi pada penjamah makanan kebersihan kuku,
kerontokan rambut, kontaminasi biologi pertumbuhan mikroorganisme,
kontaminasi kimia terdapat logam berat pada alat produksi yaitu besi Fe
pada alat yeng berkarat (Wibowo, 2011).
Selain itu pekerja yang mengolah kelapa menjadi santan tidak
menggunakan pelindung telinga seperti earmuff dan earplug, karena mesin
pengolah kelapa menjadi santan sangat bising yang dapat menimbulkan
gangguan pendengaran pada pekerja.

B. Pembahasan
Jenang Jaket Mersi Purwokerto merupakan salah satu makanan khas
tradisional Kabupaten Banyumas yang terletak di Jl. Adipati Mersi No. 68,
Mersi, Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Letak home
industry ini berada di pojok lapangan Mersi. Makanan khas ini dinamakan
Jenang Jaket, ternyata nama tersebut diambil dari kependekan bahan baku
utamanya yaitu tepung beras ketan asli. Jenang Jaket Mersi berbahan baku
utama tepung ketan, gula merah dan santan kelapa. Jenang Jaket Mersi
diproduksi dalam tiga variant yaitu jenang yang menggunakan wijen atau
jenang jaket wijen, jenang yang tidak menggunakan wijen atau jenang jaket
asli/polos, dan jenang rasa durian yang merupakan jenang yang terbuat dari
campuran buah durian.
1. Pengolahan
Proses pengolahan jenang jaket di Purwokerto masih sangat sederhana
dan tradisional. Prinsip kerja pembuatan jenang mulai dari membuat
larutan tepung dengan santan lalu dimasukkan kedalam kawah diaduk
hingga mendidih kemudian dicampur gula pasir diaduk sampai jenang
menjadi kalis.

2. Ketenagakerjaan
Perusahaan Jenang Jaket merupakan perusahaaan yang masih sederhana
sehingga hanya mempekerjakan karyawan dengan jumlah sedikit yaitu

8
dengan jumlah karyawan yaitu 40 orang. Jam kerja ditetapkan mulai
pukul 07.30 WIB 16.00 WIB, pada hari minggu tetap masuk dan hari
besar lainnya. Bila perusahaan melakukan lembur maka jam kerja bisa
ditambah maksimal pukul 17.30 WIB. Cuti Kerja diberikan pada
karyawan pada waktu tertentu misalnya karyawan sakit, menikah,
mempunyai hajat, hamil, melahirkan, dan lain-lain. Pemberian ijin
tergantung dari permintaan karyawan.

3. Alat dan Sarana Produksi


Peralatan yang digunakan perusahaan jenang jaket masih sederhana dan
mudah dicari di daerah Purwokerto. Peralatan pokok yang digunakan
meliputi wajan terbuat dari baja untuk pemasakan, sedangkan alat
pengaduk tersebut dari kayu dengan mata pengaduk terbuat dari baja.
Beberapa peralatan penunjang dioperasikan dengan mesin yaitu pemarut
kelapa dan penggiling tepung beras.Sarana produksi dalam proses
produksi perusahaan memiliki mesin penggiling beras ketan, mesin
pemarut kelapa yang masing-masing digerakkan mesin diesel dengan
bahan bakar solar. Sarana lain yang sangat mendukung adalah sumber air
yang digunakan untuk proses produksi, pencucian alat, dan lain-lain yang
dialirkan melalui kran air. Bahan bakar yang digunakan adalah batok
kelapa dalam jumlah besar. Peralatan yang digunakan dalam proses
pembuatan jenang meliputi kawah pemasakan yang terbuat dari baja,
loyang, timbangan, pengaduk yang terbuat dari kayu dengan mata
pengaduk dari baja, ember, gayung, penyaring kain, penyaring baja.
Peralatan lainnya yang telah dicetak adalah pengepres, plester press,
meja, rak untuk menempatkan jenang, kardus, plastik dan lain-lain.

4. Pengirisan dan Pengemasan


Pengirisan dan pengemasan dilakukan selang satu hari setelah
pemasakan. Hal ini berujuan agar tekstur jenang memadat sehingga
mudah dalam pemotongan. Pemotongan dilakukan dengan menggunakan
spatula dengan besar kecilnya ukuran disesuaikan dengan penakaran

9
ukuran para pekerja. Pengemasan jenang jaket ini menggunakan plastik
yang berukuran kecil untuk kemasan dalamnya dan untuk kemasan
luarnya dapat menggunakan plastik yang berisikan jumlah jenang 18 biji
serta dapat menggunakan kardus yang berisikan jumlah jenang 12 biji.

5. Penanganan Limbah
Limbah yang dihasilkan dalam pengolahan jenang jaket
Limbah padat yang dihasilkan oleh industri perumahan jenang jaket
meliputi:
1. Tempurung kelapa dijadikan bahan bakar.
2. Ampas dari limbah jenang dapat dibuat makanan dage yang akan
dijual ke pengepul-pengepul.
3. Plastik dan mika bekas jenang yang tidak laku, dijual kepada tukang
rosok.
4. Kardus bekas jenang yang masih bagus digunakan kembali dan untuk
yang rusak dibakar.
5. Abu dari hasil pembakaran dibuang ketanah sehingga dapat
menyuburkan tanah.

6. Sanitasi
Perusahaan jenang jaket memperhatikan sanitasi. Hal ini terlihat dari
kedisiplinan karyawan dalam menjaga kebersihan peralatan sebelum dan
setelah digunakan serta memperhatikan kebersihan lingkungan wilayah
produksi. Tindakan yang dilakukan karyawan Perusahaan Jenang jaket
dalam melakukan sanitasi alat yaitu sebagai berikut :
1. Kawah
Sebelum kawah digunakan untuk proses produksi kawah dibersihkan
terlebih dahulu menggunakan pisau. Dan setelah proses pengolahan
kawah diguanakan kembali untuk proses lagi dan tidak perlu
dilakukan pencucian.
2. Pengaduk Baja

10
Sebelum proses pengolahan pengaduk dicuci tetapi tidak
menggunakan sabun kemudian dilap. Setelah pencucian dengan
sabun tiap satu minggu sekali pengaduk diasah yang bertujuan agar
mata pengaduk tetap tajam.
3. Ember
Sebelum dan setelah digunakan dicuci hingga bersih.
4. Mesin Pemarut Kelapa
Setelah proses disiram dengan menggunakan air,lalu disikat agar sisa
bahan dapat hilang dari sela-sela mesin.

7. Pemasaran
Pemasaran jenang jenang dilakukan dengan beberapa tempat, terutama
untuk wilayah Jawa Tengah. Toko penjualan yang berada di pojok
lapangan mersi ini merupakan aktifitas yang paling penting dari bagian
pemasaran.

8. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja merupakan sarana utama untuk pencegahan
kecelakaan seperti cacat dan kematian akibat kecelakaan kerja.
Keselamatan kerja dalam hubungannya dengan perlindungan tenaga kerja
adalah salah satu segi penting dari perlindungan tenaga kerja.
(Sumamur, 1992). Namun, adalah pabrik Jenang Jaket, pekerja tidak
menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti pada pekerja yang
menggunakan alat yang mengeluarkan bunyi bising tetapi tidak
menggunakan earplug. Lalu, para pekerja juga tidak menggunakan
masker saat berada di sekitar tungku pembakaran.

9. Identifikasi Sumber Agen Lingkungan dan Alur Transmisi


Agen penyakit yang berada di pabrik Jenang Jaket yaitu berasal dari
kucing. Apabila kucing yang berada di dalam lokasi pembuatan jenang
membawa penyakit atau bakteri dan mengenai jenang dapat

11
menyebabkan timbulnya suatu penyakit terhadap orang yang memakan
jenang tersebut.

10. Dampak Positif dan Negatif


Adapun dampak positif dari adanya pabrik Jenang Jaket bagi lingkungan
sekitar, yaitu abu yang merupakan hasil pembakaran akan disebarkan di
tanah sekitar sehingga dapat membuat tanah subur. Lalu, dampak
negative dari pabrik Jenang Jaket yaitu, asap yang merupakan hasil
pembakaran dibuang langsung keudara sehingga lingkungan sekitar
menjadi polusi dan apabila asap tersebut dihirup oleh orang sekitar akan
menyebabkan berbagai penyakit pernafasan, dan juga suara bising dari
mesin pemarut kelapa dapat menyebabkan gangguan pendengaran.

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
Jenang merupakan makanan khas Indonesia khususnya Jawa
Tengah yang terbuat dari santan kelapa, gula merah, gula pasir dan garam.
Di daerah lain jenang memiliki berbagai macam sebutan, di daerah Jawa
Barat jenang disebut sebagai dodol, sedangkan di Jakarta jenang disebut
kue keranjang. Jenang memiliki berbagai rasa yaitu original, nangka, wijen
dan durian. Biasanya jenang dijadikan syarat hantaran untuk pernikahan di
Jawa Tengah. Di Purwokerto sendiri jenang dinamakan jenang jaket yang
merupakan singkatan dari Jenang Asli Ketan.
Berdasarkan pengamatan yang kelompok kami lakukan mengenai
jenang jaket yang dilakukan di pabrik jaket asli yang berkawasan di Jl.
Adipati mersi No.68, Pojok Lapangan, Purwokerto. Kami menyimpulkan
bahwa para pekerja yang dipekerjakan di pabrik tersebut masih kurang
memperhatikan mengenai Alat Pelindung Diri (APD). Hal ini dapat dilihat
dari para pekerja yang tidak memakai masker, sarung tangan, pelindung

12
kepala, tidak menggunakan pakaian yang melindungi tangan dan atribut
lainnya. Terutama pada saat pengolahan bahan dan pengemasan produk.
Dilihat dari pengolahan limbahnya, pabrik jaket asli sudah baik
dilihat dari pengolahan limbah kelapa yang menjadi bahan utama
pembuatan jenang. Bagian yang digunakan dalam pembuatan jenang
adalah dagingnya yang dijadikan santan, sedangkan bagain yang lainnya
seperti serabut yang dijadikan sebagai bahan pembakaran, batok kelapa
yang dijual kembali kepada pengepul dan air kelapa yang dikonsumsi para
pekerjanya sebagai penambah stamina. Serabut yang dijadikan bahan
pembakaran yang kemudian menghasilkan asap yang masih kurang
diperhatikan saluran pembuangannya, sehingga sebagian asapnya dapat
memenuhi ruangan dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan
berbagai penyakit pada pernafasan para pekerjanya.

B. Saran
1. Penerapan sanitasi hendaknya dilakukan secara maksimal terutama
pada bagian proses pengolahan dan pengemasan. Sebaiknya karyawan
bagian proses pengolahan memakai penutup kepala dan sarung tangan
karet, agar saat mengemas jenang tangan tidak merasa panas dan
meminimalisir penularan penyakit.
2. Kebersihan tempat lingkungan kerja harus lebih ditingkatkan lagi agar
insektivora atau hewan asing lainnya tidak menghinggapi atau merusak
jenang.
3. Penyimpanan alat-alat pengemasan sebaiknya disimpan pada tempat
penyimpanan yang mudah dijangkau dan tidak berserakan dimana-
mana serta jangan diletakkan disembarang tempat, agar dapat
memudahkan penggunaan selanjutnya.
4. Penerapan sanitasi bahan harus ditingkatkan sebaik mungkin dan cara
penyimpanannya harus diperbaiki.
5. Penyimpanan bahan dan produk yang sudah jadi seharusnya diletakkan
di tempat yang tinggi, kering, rapat dan tidak terjangkau oleh hewan
pengerat.

13
Daftar Pustaka

Damayanti, R., 2008, Sistem Pengolahan Limbah, Cair, Padat, dan, Gas di Bagian
Eksplorasi Produksi (EP)-I Pertamina Pangkalan Susu Tahun 2008,
Skripsi.

Noor, N., N., 2008, Epidemiologi, Jakarta: Rineka Cipta

Samosir, B., S., L., 2014, Pelaksanaan Kewajiban Pengolahan Limbah Oleh
Pengelola Usaha Laundry dalam Pengendalian Pencemaran Lingkungan di
Kota Yogyakarta, Jurnal Ilmiah.

Sumamur, 2009, Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja (HIPERKES),


Jakarta: CV Sagung Seto.

Purnamasari, D., 2014, Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Jenang Coklat


Kurma dengan Model Kano, Jurnal Komunitas ; 6(1):180-188.

Wibowo D. A., 2011, Studi Haccp Pembuatan Jenang Jaket Mersi Asli,
Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas Tahun
2011,Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang Jurusan Kesehatan
Lingkungan:Purwokerto, hal.12.

14

Anda mungkin juga menyukai