LAPORAN PENDAHULUAN
DENGAN PRSALINAN NORMAL
RSUD Dr. ADHYATMA, MPH SEMARANG
Di Susun Oleh:
Nur Khalimah
P1337420917017
PROGRAM PROFESI NERS
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
TAHUN 2017
I. PENDAHULUAN
Berdasarkan kondisi data derajat kesehatan di Indonesia tahun 2010, Angka Kematian Ibu
(AKI) adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup.Departemen Kesehatan menargetkan
penurunan AKI berdasarkan target nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2014 mencapai 118 per 100.000 kelahiran hidup.
Target AKI di Indonesia ini masih sangat jauh dari target Millennium Development Goals
(MDGs) menurut World Health Organization (WHO) tahun 2015 yaitu 102 per 100.000
kelahiran hidup. Untuk mengurangi AKI tersebut pemerintah Indonesia telah
melaksanakan program Safe motherhood. Safe mother hood mempunyai 4 pilar. Salah satu
pilar safe motherhood tersebut adalah antenatal care (Sulistiyanti, 2015)
II. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengetahui Asuhan keperawatan pada pasien dengan persalinan normal
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengkajian pada pasien dengan persalinan normal
b. Mengetahui diagnosa pada pasien dengan persalinan normal
c. Mengetahui intervensi pada pasien dengan persalinan normal
III. KONSEP DASAR
A. Definisi
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke
dalam jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin
yang terjadi pada kehamilan cukup bulan, lahir spontan dengan presentasi belakang
kepala tanpa komplikasi baik ibu maupun janin (Bandiyah, 2009)
Persalinan/intranatal adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup
kedunia luar dari rahim melalui jalan lahir / dengan jalan lain (Mochtar, 2002).
Partus immaturus adalah partus kurang 28 minggu lebih 20 minggu dengan berat
janin antara 500-1000 gram
Partus prematurus adalah suatu partus dari hasil konsepsi yang dapat hidup tetapi
belum aterm ( cukup bulan ) dengan berat antara 1000-2500 gram atau tua
kehamilan antara 28-36 minggu
Partus postmaturus atau serotinus adalah partus yang terjadi 2 minggu atau lebih
dari waktu partus yang ditentukan
Partus biasa atau partus fisiologis adalah partus bayi lahir dengan presentasi
belakang kepala tanpa memakai alat atau pertolongan istimewa serta tidak
melukai ibu dan bayi dan umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
Partus pathologis atau partus abnormal adalah bayi dilahirkan pervaginam dengan
cunam atau ekstraksi vacum,dekapitasi,embriotomi.
B. Teori Persalinan
1. Teori Estrogen-Progesteron
Pada 1-2 minggu sebelum persalinan dimulai, terjadi penurunan kadar hormon
estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos
rahim dan penurunan progesteron akan menyebabkan konstriksi pembuluh darah
sehingga timbul his bila kadar progesteron turun.
2. Teori Oksitosin
Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron menyebabkan oksitosin
yang dikeluarkan oleh hipofise part posterior dapat menimbulkan kontraksi dalam
bentuk Braxton Hicks.
3. Teori Distensi Rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot
rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero plasenta.
4. Teori Iritasi Mekanik
Di belakang serviks terletak ganglion servikal (Fleksus Frankenhauser). Bila
ganglion ini digeser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin, akan timbul kontraksi
uterus.
5. Teori Prostaglandin
Konsentrasi prostaglandin yang dikeluarkan oleh desidua meningkat sejak
umur hamil 15 minggu. Prostaglandin dianggap dapat memicu persalinan, semakin
tua umur kehamilan maka konsentrasi prostaglandin makin meningkat sehingga
dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dapat dikeluarkan.
6. Teori Hipotalhamus-Pituitari dan Glandula Suprarenal
Teori ini menunjukkan bahwa pada kehamilan dengan anensefalus sering
terjadi keterlambatan persalinan karena tidak terbentuk hipothalamus dan glandula
suprarenal yang merupakan pemicu terjadinya persalinan.
7. Induksi Persalinan (Induction of Labour)
Partus yang ditimbulkan dengan jalan :
a. Memecahkan ketuban ( amniotomi)
Pemecahan ketuban akan mengurangi keregangan otot rahim sehingga
kontraksi segera dapat dimulai.
b. Induksi persalinan secara hormonal/kimiawi
Dengan pemberian oksitosin drip/prostaglandin dapat mengakibatkan
kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dapat dikeluarkan.
c. Induksi persalinan dengan mekanis
Dengan menggunakan beberapa gagang laminaria yang dimasukkan dalam
kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser.
d. Induksi persalinan dengan tindakan operasi
Dengan cara seksio caesaria.
C. Tanda dan Gejala
1. Tandatanda permulaan persalinan yang terjadi beberapa minggu sebelum
persalinan adalah :
a. Lightening / settling / dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas
panggul. Pada primigravida terjadi saat 46 minggu terakhir kehamilan,
sedangkan pada multigravida terjadi saat partus mulai.
b. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
c. Perasaan sering atau susah kencing (polakisuria), karena kandung kemih
tertekan oleh bagian terbawah janin.
d. Perasaan sakit perut dan dipinggang karena kontraksi lemah dari uterus.
e. Serviks menjadi lebih lembek dan mulai mendatar, sekresinyapun akan
bertambah bisa bercampur darah (Departemen Kesehatan Jawa Tengah, 2004).
2. Tandatanda pasti persalinan yang terjadi beberapa saat sebelum persalinan
a. Terjadinya his persalinan yang bersifat :
1.) Pinggang terasa sakit dan menjalar kedepan.
2.) Sifatnya teratur, interval semakin pendek dan kekuatanya semakin besar.
3.) Semakin ibu beraktivitas kekuatan his akan semakin besar.
b. Pengeluaran lendir dan darah (bloody show) yang lebih banyak karena
robekan kecil pada serviks.
c. Pengeluaran cairan yang terjadi pada beberapa kasus ketuban pecah, dan
dengan pecahnya ketuban diharapkan persalinan berlangsung dalam waktu 24
jam kemudian.
d. Pada pemeriksaan dalam serviks telah mendatar dan pembukaan telah
ada(Departemen Kesehatan Jawa Tengah, 2004).
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemajuan persalinan dan kelahiran
a. Usia Ibu
b. Berat badan ibu
c. Jarak kelahiran
d. Berat bayi dan usia gestasi
e. Posisi fetus
f. Kondisi selaput ketuban
g. Tempat menempelnya plasenta dan Faktor psikologi
4. Faktor faktor yang mempengaruhi kekuatan persalinan :
a. Power (kekuatan yang mendorong janin keluar)
Power pertama pada persalinan adalah kekuatan yang dihasilkan kontraksi otot
rahim yang terjadi diluar kesadaran. Power terdiri dari 2 faktor, yaitu :
1) His (kontraksi otot rahim pada persalinan).
2) Tenaga mengejan.
Adanya kontraksi otot dinding perut maka menyebabkan peningkatan
tekanan intra abdominal (serupa tenaga mengejan sewaktu BAB namun
lebih kuat). Setelah kepala sampai pada dasar panggul timbul suatu reflek
pasien menutup glotisnya, mengkontraksikan otototot perutnya dan
menekan diafragma kebawah. Hal ini berhasil bila pembukaan sudah
lengkap dan efektif sewaktu ada kontraksi.
b. Passage (jalan lahir)
Meliputi jalan lahir keras (rongga pelvis) dan jalan lahir lunak (serviks dan
vagina).
c. Passanger (janin).
Letak janin yaitu hubungan antara sumbu panjang ibu dan sumbu panjang
janin, dimana janin bisa melintang atau memanjang. Presentasi yaitu bagian
terendah janin yang berada di pap; kepala,bokong.bahu,muka.
d. Psikologi.
Apabila ibu hamil mengalami stress psikologis, janin dan ibu
akanmengalami kondisi yang tidak baik,disebabkan saat stress dapat
menyebabkandisekresinya epineprin yang dapat menghambat aktifitas
miometrialsehingga mengakibatkan tidak terkoordinasinya aktivitas uterus.
Agartidak terjadi hal tersebut sang calon ibu harus diberikan support
dandukungan, karena berdasarkan penelitian bahwa support emosional danfisik
mempunyai hubungan signifikan dalam mempercepat persalinan(Departemen
Kesehatan Jawa Tengah, 2004
D. Mekanisme Persalinan
Menurut Prawirohardjo (2008), pada minggu- minggu terakhir kehamilan, segmen
bawah lahir meluas untuk menerima kepala janin, terutama pada primipara. Supaya
janin dapat dilahirkan, janin harus beradaptasi dengan jalan lahir selama proses
penurunan. Putaran dan penyesuaian lain yang terjadi pada proses kelahiran disebut
mekanisme persalinan, yang terdiri dari :
1. Engagement
Apabila diameter biparietal kepala melewati pintu atas panggul, kepala
dikatakan telah menancap (engaged) pada pintu atas panggul. Pada wanita
multipara hal ini terjadi sebelum persalinan aktif dimulai karena otot-otot abdomen
masih tegang, sehingga bagian presentasi terdorong ke dalam panggul.
2. Penurunan (decent)
Penurunan adalah gerakan bagian presentasi melewati panggul. Penurunan
terjadi akibat tiga kekuatan, yaitu :
a. Tekanan dari cairan amnion
b. Tekanan langsung kontraksi fundus pada janin
c. Kontraksi diafragma dan otot-otot abdomen ibu pada tahap kedua persalinan
Pada kehamilan pertama, penurunan berlangsung lambat, tetapi kecepatan sama.
3. Fleksi
Segera setelah kepala yang turun tertahan oleh serviks, dinding panggul, atau
dasar panggul, dalam keadaan normal fleksi terjadi dan dagu didekatkan ke arah
dada janin. Dengan fleksi, suboksipitobregmatika yang berdiameter lebih kecil (9,5
cm) dapat masuk ke dalam pintu bawah panggul.
4. Putaran Paksi Dalam
Putaran paksi dalam dimulai pada bidang setinggi spina iskiadika, tetapi putaran
ini belum selesai sampai bagian presentasi mencapai panggul bagian bawah.
5. Ekstensi
Saat kepala janin mencapai perineum, kepala akan defleksi ke arah anterior oleh
perineum. Mula-mula oksiput melewati permukaan bawah simfisis pubis,
kemudian kepala muncul keluar akibat ekstensi, pertama-tama oksiput, kemudian
wajah dan akhirnya dagu.
6. Restitusi dan putaran paksi luar
Setelah kepala lahir, bayi berputar hingga mencapai posisi yang sama dengan
saat ia memasuki pintu atas, gerakan ini dikenal sebagai restitusi. Putaran 450
membuat kepala janin kembali sejajardengan punggung dan bahunya. Putaran paksi
luar terjadi saat bahu engaged dan turun dengan gerakan kepala.
7. Ekspulsi
Setelah bahu keluar, kepala dan bahu diangkat ke atas tulang pubis ibu dan
badan bayi dikeluarkan dengan gerakan fleksi lateral ke arah simfisis pubis.
Ketika seluruh tubuh bayi keluar, persalinan bayi selesai. Ini merupakan akhir tahap
kedua persalinan.
E. Adaptasi Fisiologi Persalinan
1. Perubahan kardiovaskuler
Perubahan pada sistem kardiovaskuler wanita selama proses persalinan,pada
setiap kontraksi 400 ml darah akan dikeluarkan dari uterus dan masuk ke sistem
vaskuler ibu,hal ini akan meningkatkan curah jantung sekitar 10% sampai 15%
pada tahap pertama persalinan dan sekitar 30% sampai 50% pada tahap kedua
persalinan,untuk mengantisipasi perubahan tekanan darah,ada beberpa faktor yang
mengubah tekanan darah ibu.Aliran darah yang menurun pada arteri uterus akibat
kontraksi dialirkan kembali ke pembuluh darah perifer,timbul tahana
perifer,tekanan darah meningkat dan frekwensi denyut nadi menurun.Pada
persalinan tahap pertama,kontraksi uterus meningkatkan tekanan sistolik 10 mmHg
sedangkan pada tahap kedua sekitar 30 mmHg dan tekanan diastolik sampai 25
mmHg.
2. Perubahan pernafasan
Peningkatan aktivitas fisik dan peningkatan pemakaian oksigen terlihat dari
peningkatan frekuensi pernafasan,pada tahap kedua persalinan jika ibu tidak diberi
obat-obatan maka ia akan memakai oksigen hampir dua kali lipat.
3. Perubahan pada ginjal
Pada trimester kedua kandung kemih menjadi organ abdomen,apabila
terisi,kandung kemih akan teraba diatas simpisis pubis.Selama persalinan wanita
dapat mengalami kesulitan berkemih secara spontan akibat berbagai alasan : edema
jaringan akibat tekanan bagian presentasi,perasaan tidak nyaman dan rasa malu.
4. Perubahan integument
Adaptasi sistem integumen jelas terlihat khususnya pada daerah introitus
vagina,meskipun daerah itu dapat meregang namun dapat terjadi robekan-robekan
kecil pada kulit sekitar introitus vagina sekalipun tidak dilakukan episiotomi atau
tidak terjadi laserasi.
5. Perubahan musculoskeletal
Sistem ini mengalami stres selama persalinan,nyeri punggung dan nyeri sendi
terjadi sebagai akibat semakin renggangnya sendi pada masa aterm,proses
persalinan itu sendiri dan gerakan meluruskan jari-jari kaki dapat menimbulkan
kram tungkai.
6. Perubahan neurologi
Sistem neurologi menunjukkan bahwa timbul stres dan rasa tidak nyaman
selama persalinan,perubahan sensoris terjadi saat memasuki tahap persalinan
pertama dan masuk ke tahap berikutnya.
7. Perubahan pencernaan
Persalinan mempengaruhi sistem saluran cerna ,bibir dan mulut menjadi kering
akibat bernafas lewat mulut ,dehidrasi dan sebagai respons emosi terhadap
persalinan.selama persalinan motilitas dan absorpsi saluran cerna menurun dan
pada waktu pengosongan lambung menjadi lambat,seringkali ada rasa mual dan
memuntahkan makanan yang belum dicerna,mual dan sendawa juga terjadi sebagai
respons refleks terhadap dilatasi serviks lengkap.
8. Perubahan endokrin
Sistem endokrin aktif selama persalinan,awal persalinan dapat diakibatkan
penurunan kadar progesteron dan peningkatan kadar estrogen,prostaglandin dan
oksitosin,metabolisme meningkat dan kadar glukosa darah dapat menurun akibat
proses persalinan.
F. Proses Persalinan Tiap Kala
Pada persalinan normal, persalinan dibagi menjadi 4 kala :
1. Kala I ; kala pembukaan serviks.
Proses pembukaan adalah sejak persalinan sampai pada pembukaan serviks
lengkap pada primigravida 7-8 jam, terdiri dari 2 fase, yaitu :
a. Fase laten ; berlangsung selama 8 jam sampai pembukaan 3 cm. His masih
lemah, dengan frekuensi his jarang.
b. Fase aktif ;
Fase akselerasi, lamanya 2 jam dengan pembukaan 2-3 cm.
Fase dilatasi maksimal, lamanya 2 jam dengan pembukaan lebih dari 9 cm
sampai pembukaan lengkap. His tipa 3-4 menit selama 45 detik. Pada
multigravida proses ini akan berlangsung lebih cepat.
Fase deselarasi, dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi lengkap.
Fase-fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida fase laten,
fase aktif dan fase deselerasi lebih pendek.
2. Kala II ; kala pengeluaran
Setelah serviks membuka lengkap, janin akan segera keluar. His terjadi tiap 2-3
menit, lamanya 60-90 detik. His sempurna dan efektif bila ada koordinasi
gelombang kontraksi sehingga kontraksi simetris dengan dominasi di fundus uteri,
mempunyai ampitudo 40-60 mmHg, berlangsung 60-90 detik dengan jangka waktu
2-4 menit dan tonus uterus saat relaksasi kurang dari 12 mmHg. Pada primigravida
kala II berlangsung kira-kira sau setengah jam dan pada multi gravida setengah
jam. Tanda obyektif yang menunjukkan tahap kedua dimulai adalah sebagai
berikut:
a. Muncul keringat tiba-tiba diatas bibir
b. Adanya muntah
c. Aliran darah ( show ) meningkat
d. Ekstremitas bergetar
e. Semakin gelisah
f. Usaha ingin mengedan
Tanda-tanda ini seringkali muncul pada saat serviks berdilatasi lengkap.
Pemantauan yang kontinyu pada tahap kedua dan mekanisme persalinan,
respons fisiologis dan respons emosi ibu serta respons janin terhadap stres.
3. Kala III ; kala uri (kala pengeluaran plasenta)
Berlangsung 6-15 menit setelah janin dikeluarkan. Tahap ketiga persalinan
berlangsung sejak bayi lahir sampai plasenta lahir, tujuan penanganan kala III
adalah pelepasan dan pengeluaran plasenta yang aman.
4. Kala IV ; pengawasan hingga dua jam setelah plasenta lahir
a. Evaluasi kontraksi uterus
Kontraksi uterus yang baik sangat dibutuhkan meskipun bayi dan plasenta telah
lahir lengkap dengan dtruktur otot uterus yang sarang lintang bermanfaat untuk
menghentikan perdarahan, karena pada saat uterus berkontraksi pembuluh darah
yang keluar lewat celah otot uterus akan tercepit sehingga perdarahan berhenti.
Kontraksi uterus pada kala 4, selain dapat menghentikan perdarahan, juga
berfungsi untuk membersihkan kavum uteri dari sisa-sisa selaput ketuban,
bekuan drah, vernikkasiosa, sisa cairan amnion dan mempercepat pulihnya
kondisi uterus seperti sebelum hamil, keberadaannya harus dipantau setiap 15
menit pertama dan 30 menit pada jam ke dua.
b. Perdarahan Serviks
Perdrahan pervaginam pada kala IV sumbernya dari 2 tempat, yaitu uterus dan
ruptur jalan lahir. Untuk memprediksi perdarahan itu berasal dari uterus atau dari
robekan jalan lahir tidak terlalu sulit. Bila kontraksi uterus, baik uterus teraba
keras dan bulat tetapi terjadi perdarahan ini kemungkinan besar perdarahan
berasal dari robekan jalan lahir. Perlu dilakukan observasi secara ketat setiap 25
menit pada jam pertama dan 30 menit pada jam ke dua setelah plasenta lahir.
c. Plasenta dan selaput ketuban harus lahir lengkap
Bila plasenta dan selaput ketuban msaih ada yang tertinggal didalam kavum uteri
dapat mengakibatkan perdarahan yang masif. Akibat lemahnya kontraksi uterus
dan sisa plasenta itu sendiri, sehingga kadang harus dilakukan manual kuratase.
d. Kandung kemih harus kosong
Berdasarkan anatominya bahwa dinding uterus dan vidika urinaria berhimpitan
dan syaraf yang mensyarafi visika urinaria juga cabang dari nervus uterina
sehingga ketegangan pada visika urinaria mengakibatkan lemahnya kontraksi
uterus yang berakibat pada perdarahan post partum.
e. Luka diperinium
Jika ada tindakan episiotomi maka dilakukan penjahitan, dalam proses
penjahitan jaringan harus diindetifikasi seteliti mungkin, otot spingter biasanya
jika putus akan tertarik kedalam maka harus di eksplorasi untuk menemukannya
kemudian ditarik dan dijahit dengan bagian distalnya.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Rekaman kardiotografi.
Pemantauan secara berkala denyut jantung janin dengan stetoskop leance
ataudoptone yaitu sebuah alat elektronik untuk mendenganr denyut jantung
janin.Dilakukan pada kala 1 untuk mengetahui kekuatan dan sifat kontraksi
rahimserta kemajuan persalinan.
2. Partograf.
Adalah suatu alat untuk memantau kemajuan proses persalinan dan
membantupetugas kesehatan dan mengambil keputusan dalam penatalaksanaan
pasien.Partograf berbentuk kertas grafik yang berisi data ibu, janin dan
prosespersalinan. Partograf dimulai pada pembukaan mulut rahim 4 cm (fase aktif).
3. Ultrasonografi (USG).
Digunakan untuk mendeteksi keadaan dan posisi janin dalam kandungan
IV. ASUHAN KEPERAWATAN INTRANATAL
1. Kala I
a. Pengkajian
1) Kaji benarnya inpartu
2) Kaji komplikasi atau resti
3) Kaji respon psikologis
4) Kaji kemajuan persalinan partogram
a) Pembukaan, DJJ, kontraksi uterus, penurunan kepala, air ketuban, TTV,
suhu, dan obat/cairan IV.
b) Penurunan persentasi
c) Moulage
d) Kaji kontraksi/his
5) Kaji posisi ibu :
a) Awal kala I (fase laten) ; jalan-jalan (mobilisasi normal)
b) Pembukaan 6-7 cm ; tidur miring ke kiri setengah duduk
6) Kaji makan dan minum
a) Akhir kala I dibatasi
b) Dianjurkan Bak 2-3 jam sekali
7) Kaji lingkungan tenang dan nyaman
8) Kaji penjelasan sikap empati dan hangat
b. Intervensi
1) Fetal distress
a) Merubah posisi ibu
b) Meningkatkan kaki mengurangi hipotensi
c) Menghentikan rangsangan O2
d) Memberikan O2
2) Meningkatkan kenyaman
a) Membantu partisipasi ibu
b) Temukan tujuan ibu
c) Membantu management energy
d) Mengatasi ketidaknyamanan ibu ; ambulasi, posisi, massage,
pernapasan, dan relaksasi
3) Suasana dan lingkungan kamar
4) Support, empati
5) Penerangan hal-hal yang mungkin terjadi kepada keluarga
6) Monitor :
a) Detak jantung janin
b) Pengeluaran cairan
c) Pembukaan kala II
2. Kala II
a. Pengkajian
1) Melanjutkan monitor
a) Detak jantung janin
b) His (respon janin)
c) Pendarahan
d) Air ketuban
2) Tanda dan gejala fisik serta perilaku
3) Meneran dengan benar atau tidak
4) Mekanisme penyesuaian
5) Support person
b. Intervensi
1) Cara mengejan dan posisi
2) Dorongan psikososial
3) Persiapan pertolongan persalinan
4) Asepsis dan anti asepsis
5) Faktor psikososial
6) Pertolongan persalinan
3. Kala III
a. Pengkajian
1) Timbul kontraksi uterus
2) Uterus tampak membundar
3) Terlihat massa introitus
4) Tali pusat lebih menjulur
5) Pendarahan tiba-tiba dengan warna gelap
a) Observasi keadaan umum ibu dan tanda vital
b) Pengkajian jalan lahir
c) Mengkaji factor yang berkaitan dengan atonia
d) Pemberian utero tonika (k/p)
b. Intervensi
1) Observasi perdarahan, shock, dan tanda vital
2) Observasi bayi dan identifikasi
3) Kaji TFU
4) Identifikasi pengeluaran plasenta
5) Upayakan kontak ibu dan bayi
4. Kala IV
a. Pengkajian
1) Kaji status fisiologis ibu
2) Kaji posisi dan tonus uteri
3) Kaji adanya perdarahan pervaginam
4) Kaji kondisi perineum
b. Intervensi
1) Cegah perdarahan
2) Identifikasi perdarahan karena perlukaan
3) Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi
4) Mencegah penekanan kandung kemih
5) Membantu ibu mengenal pengalamannya
6) Mencatat/melaporkan adanya kelainan
7) Memberikan rasa nyaman dan istirahat cukup
8) Pastikan tidak ada sisa plasenta
9) Luka epis tidak ada hematom
H. ASUHAN KEPERAWATAN
No. Diagnosa Tujuan dan Intervensi
Kriteria Standar
KALA I
1. kaji konntraksi uterus dan
1 Nyeri berhubungan Tujuan : nyeri
ketidaknyamanan (awitan,
dengan peningkatan berkurang /
frekuensi, durasi,
frekuensi dan intensitas hilang.
intensitas, dan gambaran
kontraksi Kriteria hasil :
ketidaknyamanan)
Klien
Rasional: untuk
mengungkapk
mengetahui kemajuan
an bahwa
persalinan dan
nyeri
ketidaknyamanan yang
berkurang /
dirasakan ibu
hilang.
2. Kaji tentang metode
Ekspresi
pereda nyeri yang
wajah klien
diketahui dan dialam
tidak meringis
Rasional: nyeri persalinan
lagi.
bersifat unik dan berbeda
beda tiap individu.
3. Kaji faktor yang dapat
menurunkan toleransi
terhadap nyeri
Rasional:mengidentifikasi
jalan keluar yang harus
dilakukan
4. Kurangi dan hilangkan
faktor yang meningkatkan
nyeri
Rasional: tidak menambah
nyeri klien
5. Jelaskan metode pereda
nyeri yang ada seperti
relaksasi, massage, pola
pernafasan, pemberian
posisi, obat obatan
Rasional: memungkinkan
lebih banyak alternative
yang dimiliki oleh ibu,
oleh karena dukungan
kepada ibu untuk
mengendalikan rasa
nyerinya
6. Lakukan perubahan posisi
sesuai dengan keinginan
ibu, tetapi ingin di tempat
tidur anjurkan untuk
miring ke kiri
Rasional: nyeri persalinan
bersifat sangat individual
sehingga posisi nyaman
tiap individu akan
berbeda, miring kiri
dianjurkan karena
memaksimalkan curah
jantung ibu.
7. Beberapa teknik
pengendalian nyeri
Relaksasi Massage
Rasional : Bertujuan
untuk meminimalkan
aktivitas simpatis pada
system otonom sehingga
ibu dapat memecah siklus
ketegangan-ansietas-
nyeri. Massage yang lebih
mudah diingat dan
menarik perhatian adalah
yang dilakukan orang lain.
1. Kaji tanda tanda vital
Kelelahan berhubungan Tujuan : yaitu nadi dan tekanan
dengan peningkatan Diharapkan ibu darah
2.
kebutuhan energi akibat tidak mengalami Rasional: nadi dan tekanan
peningkatan keletihan darah dapat menjadi
Kriteria
metabolisme sekunder indikator terhadap status
evaluasi :
akibat nyeri selama hidrasi dan energi ibu.
nadi:60-
persalinan 2. Anjurkan untuk relaksasi
80x/menit (saat
dan istirahat di antara
tidak ada his),
kontraksi
ibu menyatakan
Rasional: mengurangi
masih memiliki
bertambahnya keletihan
cukup tenaga
dan menghemat energi
yang dibutuhkan untuk
persalinan
3. Sarankan suami atau
keluarga untuk
mendampingi ibu
Rasional: dukungan
emosional khususnya dari
orang orang yang berarti
bagi ibu dapat memberikan
kekuatan dan motivasi bagi
ibu
4. Sarankan keluarga untuk
menawarkan dan
memberikan minuman atau
makanan kepada ibu
Rasional: makanan dan
asupan cairan yang cukup
akan memberi lebih banyak
energi dan mencegah
dehidrasi yang
memperlambat kontraksi
atau kontraksi tidak teratur.
1. Identifikasi derajat ketidak
Nyeri b/d tekanan nyamanan dan sumbernya.
mekanik pada Tujuan : R/:Mengklarifikasi
3. presentasi, dilatasi/ diharapkan klien kebutuhan memungkinkan
peregangan jaringan, dapat intervensi yang tepat.
kompresi saraf, pola mengontrol rasa 2. Pantau dan catat aktivitas
kontraksi semakin nyeri uterus pada setiap
Kriteria evaluasi
intensif kontraksi.
a.Mengungkapkan
R/ Memberikan informasi
penurunan
tentangkemajuan kontinu,
nyerib.
b. Menggunakan membantu identifikasi pola
tehnik yang kontraksi abnormal
tepat untuk 3. Berikan dukungan dan
mempertahan informasi yang
kan berhubungan dengan
control.nyeri persalinan.
c. Istirahat
R: Informasi tentang
diantara
perkiraan kelahiran
kontraksi
menguatkan upaya yang
telah dilakukan berarti.
4. Anjurkan klien untuk
mengatur upaya untuk
mengejan.
R/ Upaya mengejan
spontan yang tidak terus
menerus menghindari efek
negatif
berkenaandenganpenurunan
kadar oksigen ibu dan
janin.
5. Bantu ibu untuk memilih
posisi optimal untuk
mengejan
R/ Posisi yang tepat dengan
relaksasi memudahkan
kemajuan persalinan.
6. Kaji pemenuhan kandung
kemih, kateterisasi bila
terlihat distensi.
R/: Meningkatkan
kenyamanan, memudahkan
turunnya janin, menurunkan
resiko trauma kandung
kencing.
7.
1. Palpasi fundus uteri dan
masase perlahan.
Risiko cedera (meternal) Tujuan :
R/ Memudahkan pelepasan
b/d posisi selama diharapkan tidak
plasenta.
4. melahirkan/pemindahan, terjadi cedera
2. Masase fundus secara
kesulitan dengan maternal
Kriteria perlahan setelah pengeluaran
plasenta.
evaluasi: plasenta.
Tidak terjadi
R/ Menghindari
tanda-tanda
rangsangan/trauma
perdarahan.
berlebihan pada fundus.
Kesadaran
3. Kaji irama pernapasan dan
pasien bagus.
pengembangan.
R/ Pada pelepasan plasenta.
Bahaya ada berupa emboli
cairan amnion dapat masuk
ke sirkulasi maternal,
menyebabkan emboli paru.
4. Bersihkan vulva dan
perineum dengan air larutan
antiseptik, berikan pembalut
perineal steril.
R/ Menghilangkan
kemungkinan kontaminan
yang dapat mengakibatkan
infesi saluran asenden selama
periode pasca partum.
5. Rendahkan kaki klien
secara simultan dari pijakan
kaki.
R/ Membantu menghindari
regangan otot.
6. Kaji perilaku klien,
perhatikan perubahan SSP.
R/ Peningkatan tekanan
intrakranial selama
mendorong dan peningkatan
curah jantung yang cepat
membuat klien dengan
aneurisme serebral
sebelumnya berisiko
terhadap ruptur.
7. Dapatkan sampel darah
tali pusat untuk
menetukan golongan
darah.
R/ Bila bayi Rh-positif dan
klien Rh-negatif, klien akan
menerima imunisasi dengan
imun globulin Rh (Rh-Ig)
pada pasca partus
Tujuan : Volume 1. Kaji faktor penyebab
Devisit volume cairan cairan dapat 2. Tingkatkan pemberian
yang berhubungan terpenuhi. nutrisi dan hidrasi.
5 dengan berkurangnya Kriteria hasil : 3. Berikan minuman yang
asupan cairan a. Klien akan cukup.
4. Pemasangan infus
meningkatkan
kebutuhan
asupan cairan.
b. klien
menunjukan
tidak ada
tanda gejala
dehidrasi.
Tujuan: a. Kaji tingkat ansietas.
b. Mengizinkan /
Ansietas berhubungan ansietas
menyarankan klien untuk
dengan berkurang /
melakukan defekasi
ketidakmampuan hilang.
6
ditempat.
mengendalikan defekasi Kriteria hasil
c. Mengajarkan teknik
saat a. Klien
pernafasan untuk
mengejan mengungkapk
mengatasi kontraksi.
an Meminta ibu
kenyamanan mempraktekan teknik
psikologis pernafasan untuk
dan mengatasi kontraksi.
fisiologisnya.
b. Klien
mengungkapk
an
ansietasnya
berkurang /
hilang.
DAFTAR PUSTAKA
Bandiyah, S. (2009). Kehamilan Persalainan Gangguan Kehamilan, Yogjakarta: Nuha
Medika.
Bobak. 2005.Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta : EGC
Cunningham, et. al. (2006). Obstetri Williams. Jakarta. Jakarta: EGC
Llewellyn, Derek. ( 2001 ).Dasar Dasar Obstetri dan Ginekologi,edisi 6(ed-6)Jakarta
:Hipokrates
Manuaba, I. B. (2009). Ilmu Kebidanan, penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana untuk
Pendidikan Bidan.Jakarta : EGC.
Mochtar, Rustam. (2003). Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC.
Sulistiyanti. (2015). Kajian Pelaksanaan Pelayanan Antenatal Care Olehbidan Di Wilayah
Kerja Puskesmas Masaran Sragen. Jurnal INFOKES, Vol 5, No 2 September, 2015.
Suririnah. (2009). Buku Pintar Kesehatan Kehamilan dan Persalinan. Jakarta : PT. Gramedia
Pustaka Utama
Winkjosastro, H. (2006). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
V. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
a. Kesadaran : compos mentis, somnolen
b. GCS :
c. Vital Sign
1) Tekanan darah
Meningkat selama kontraksi disertai peningkatan sistolik rata-rata 15 (10-20) mmHg dan
diastolik rata-rata 5-10 mmHg. Pada waktu-waktu diantara kontraksi, tekanan darah
kembali ketingkat sebelum persalinan. Dengan mengubah posisi tubuh dari terlentang ke
posisi miring, perubahan tekanan darah selama kontraksi dapat dihindari. Nyeri, rasa takut
dan kekhawatiran dapat semakin meningkatkan tekanan darah.
2) Suhu
Suhu badan wanita inpartu umumnya tidak melebihi 37,2 oC umumnya sesudah partus +
0,5oC dari keadaan normal
3) Nadi
Normalnya 60-100 kali regular per menit. Diukur pada awal persalinan, selanjutnya diukur
antara 1 dan 4 jam sekali selama persalinan
4) Respirasi
Jumlah dan kekuatan kontraksi mempengaruhi pola dan kedalaman pernafasan selama
persalinan. Menahan nafas tidak boleh dilakukan, melainkan sebaliknya, ibu dianjurkan
untuk bernafas dalam di antara dua kontraksi guna mempertahankan oksigenasi yang
diperlukan oleh aktivitas otot (Johnson, 2005: 70).
Pernafasan ibu bersalin bertahap sesuai dengan tahap pembukaan servis, yaitu:
Pembukaan 0-4 cm : bernafas seperti panik berlebihan
Pembukaan 4-7 cm : bernafas lebih dalam seperti sedih
Pembukaan 7-9 cm : berfokus pada pernafasannya
Pembukaan 9-10 cm : memusatkan pada bernafas, yang melambat ketika terjadi
kontraksi (Chapman, 2006: 36)
d. Tinggi badan
TB < 145 cm berkaitan dengan panggul sempit.
e. Berat badan
Kekurangan atau kelebihan nutrisi dapat menyebabkan kelainan yang tidak diinginkan seperti
anemia, inersia uteri, hemoroghia postpartum, sepsis puerperalis, dan sebagainya. sedangkan
makan secara berlebihan dapat pula mengakibatkan komplikasi antara lain preeklamsi, bayi
terlalu besar dan sebagainya. kenaikan berat baan wanita hamil rata-rata antara 6,5 kg sampai
16 kg .
f. Kepala dan muka
1) Kepala : rambut dikaji kebersihannya, warna dan kekuatannya. Jika warna rambut
kemerahan berarti biasanya ibu menderita kurang darah, begitu pula jika tidak
kuat/mudah dicabut.
2) Mata : konjungtiva dan sklera bila pucat mengarah ke gejala anemia. Jika ikterik maka
mengarah ke sianosis hepatitis. Pada ibu normal konjungtiva merah mudah dan sklera
putih.
3) Hidung : kaji kebersihan dan ada tidaknya polip
4) Mulut/gigi : kaji kebersihannya ada tidaknya stomatitis, ada tidaknya karies.
5) Bibir : perlu dikaji apakah bibir kering/tidak, sianosis/tidak, pucat/tidak
6) Telinga : kaji kebersihan, ada tidaknya massa.
g. Dada
Paru-paru
Inspeksi : simestris atau tidak, ekspansi dada simetris/asimetris
Auskultasi : apakah suara paru normal (vesikuler) atau ada suara tambahan
Palpasi : apakah ada nyeri tekan
Perkusi : apakah suaranya sonor/hipersonor
Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak atau tampak
Auskultasi : BJ I :penutupan katup mitral dan trikuspidalis = LUB
BJ II : penutupan katup aorta dan pulmonal = DUB
Palpasi : tidak ada nyeri tekan,
Perkusi : suara pekak/redup
h. Mamae
Hiperpigmentasi areola dan putting mamae. Mamae menjadi tegang dan besar, keadaan ini
disebabkan oleh pengaruh estrogen dan progesteron mempengaruhi duktus alveoli mamae.
Glandula Montgomery tampak jelas .
i. Abdomen
1) Inspeksi
Tidak lesi, bentuk perut,
1) Palpasi
Leopold I
Menentukan usia kehamilan dan bagian yang terdapat di dalam fundus (Hidayat, 2009).
Kepala teraba sebagai benda keras dan bulat, sedangkan bokong lunak dan tidak bulat.
(Saifuddin, 2006). TFU umur kehamilan 36 minggu adalah 3 jari di bawah px .
TFU menurug spierbleg, mengukur TFU dari simpisis maka diperoleh tabel berikut:
UMUR TFU
22-28 minggu 24-25 cm diatas simfisis
28 minggu 26,7 cm diatas simfisis
30 minggu 29,5-30 cm diatas simfisis
32 minggu 29,5-30 cm diatas simfisis
34 minggu 31 cm diatas simfisis
36 minggu 32 cm diatas simfisis
38 minggu 33 cm diatas simfisis
40 minggu 37,7 cm diatas simfisis
Tinggi fundus uteri
Umur kehamilan TFU
8 minggu Belum teraba
12 minggu 3 jari diatas simfisis
16 minggu Pertengahan pusat-
simfisis
20 minggu 3 jari dibawah pusat
24 minggu Setinggi pusat
28 minggu 3 jari di atas pusat
32 minggu Pertengahan pusat px
36 minggu 3 jari di bawah px
40 minggu Pertengahan pusat px
melebar ke samping
Leopold II
Menentukan dimana letaknya punggung anak dan dimana letaknya bagian-bagian kecil.
Batas samping uterus dan posisi punggung pada bayi letak memanjang).
Leopold III
Menentukan apa yang terdapat di bagian bawah dan apakah bagian bahwa anak
Leopold IV
Menentukan bagian janin yang berada di bawah, juga bagian kepala yang telah masuk pintu
atas panggul (PAP).
Kontraksi Uterus
Pada kala I interval 2-3 menit, durasi 40 detik atau lebih. Pada kala II interval 2-3 menit,
durasi 50-100 detik
TBJ
Diukur dengan menggunakan rumus Johnson Toshack. Taksiran Berat Janin (TBJ) = (TFU
(dalam cm)-N) x 155
N = 13 bila kepala belum melewati PAP
N = 12 bila kepala masih berada di atas spina iskiadika
N = 11 bila kepala masih berada di bawah spina iskiadika
2) Auskultasi
Dalam keadaan sehat, bunyi jantung antara 120-140 kali per menit. Bunyi jantung dihitung
dengan mendengarkannya selama 1 menit penuh. Bila kruang dari 120 kali atau lebih dari
140x per menit, kemungkinan dalam keadaan gawat janin
3) Perkusi
Suara tympany