Anda di halaman 1dari 12

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH PENCEMARAN SUNGAI TERHADAP KARAKTER


MORFOLOGI IKAN BETOK (Anabas testudinaeus) DI SUNGAI JAWI
PONTIANAK BARAT

DISUSUN OLEH :
AMAT RIBUT
H1041151047

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan salah satu kebutuhan hidup yang paling tinggi. Tanpa air,
berbagai proses kehidupan tidak dapat berlangsung. Meskipun air merupakan
sumber daya alam yang dapat diperbaharui oleh alam itu sendiri, namun pada
kenyataannya menunjukkan bahwa ketersediaan air tanah tidak bertambah. Di
Indonesia, akses terhadap air bersih masih menjadi masalah. Sebagian besar air
tawar yang digunakan berasal dari sungai, danau, waduk dan sumur. Pesatnya
pembangunan wilayah di Indonesia dan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi
membutuhkan air dalam jumlah yang banyak yang sering kali tidak tersedia untuk
penduduk (Puspitasari, 2009).
Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan.
Makhluk hidup di muka bumi ini tak dapat terlepas dari kebutuhan akan air. Air
merupakan kebutuhan utama bagi kehidupan di bumi, sehingga tidak ada kehidupan
seandainya di bumi tidak ada air. Namun demikian, air dapat menjadi masalah jika
tidak tersedia dalam kondisi yang layak, baik kualitas maupun kuantitasnya.
Menurut data WHO tahun 2000, terdapat 2 miliar orang yang menyandang risiko
menderita penyakit disebabkan oleh air dan makanan. Penyakit ini merupakan
penyebab utama kematian lebih dari 5 juta anak-anak setiap tahun. Sumber-sumber
air dicemari oleh limbah industri atau tercemar karena penggunaannya yang
melebihi kapasitas untuk dapat diperbaharui. Jika tidak dilakukan upaya perubahan
dalam cara memanfaatkan air, mungkin saja suatu ketika air tidak lagi dapat
digunakan tanpa pengolahan khusus yang biayanya melewati jangkauan
sumberdaya ekonomi bagi kebanyakan negara (Middleton, 2004).

Sumber kehidupan ini persediaannya terbatas dan semakin hari semakin


terpolusi oleh kegiatan manusia sendiri, namun masih terlalu banyak orang yang
tidak mempunyai akses ke air. Sekalipun air merupakan sumber daya yang terbatas,
konsumsi air telah meningkat dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir dan kita gagal
mencegah terjadinya penurunan mutu air. Pada saat yang sama, jurang antara
tingkat pemakaian air di negara-negara kaya dan negara-negara miskin semakin
dalam. Dewasa ini 1,2 milyar penduduk dunia tidak mempunyai akses ke air bersih
dan hampir dua kali dari jumlah itu tidak mempunyai fasilitas sanitasi dasar yang
memadai (Herlambang, 2006).
Pencemaran air yaitu masuknya mahluk hidup, zat, energi atau komponen
lain ke dalam air, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Menurut
Kristanto (2002) pencemaran air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan
normal.
Kualitas perairan sungai merupakan suatu alat yang dapat menduga dan
mengevaluasi terjadinya perubahan lingkungan. Kualitas air dari suatu perairan
yang dapat dinyatakan baik apabila telah memenuhi persyaratan yang telah
ditentukan sesuai dengan peruntukannya, seperti bahan baku air minum,
prasarana/sarana rekreasi, industry, perikanan, peternakan dan pertanian. Suatu
perairan dikatakan telah tercemar apabila beban pencemarannya telah melampaui
kriteria baku mutu air yang ditentukan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82
Tahun 2001. Kondisi ini bila dikelola dengan baik aka segera menimbulkan dampak
yang negative terhadap masyarakat.
Pencemaran sungai di Indonesia suatu masalah yang penting harus
diperhatikan. Di Kalimantan Barat terdapat sungai utama adalah sungai Kapuas,
yang merupakan Sungai terpanjang di Indonesia ( 1.086 km) dan sepanjang 942
km dapat dilayari. Sungai-sungai besar lainya antara lain adalah Sungai Melawi
(471 km), Sungai Pawan (197 km), Sungai Sambas (233 km), Sungai Landak (178
km), Sungai Menyuke (120 km) yang merupakan anak Sungai Landak. Menurut
Studi Air Baku Kalimantan Barat oleh Kanwil PU Provinsi kalimantan Barat tahun
1996, dari volume air sebesar 274.628.200 m3 pertahun dan tingkat penggunaan air
tersebut baru sekitar 22.312.325 m3 pertahun atau sekitar 8 %. Sungai-sungai
tersebut memiliki nilai dan fungsi srategis bagi masyarakat, serta mempunyai peran
yang sangat besar dalam era pembangunan di daerah Kalimantan Barat
(BAPEDALDA, 2007)
Ikan dapat digunakan sebagai indikator biologi karena mempunyai
kemampuan merespon adanya bahan pencemar. Ikan merupakan salah satu
komponen penting penghuni perairan dapat digunakan sebagai indikator
pencemaran air. Adanya bahan pencemar dapat mempengaruhi kehidupan ikan
yang dapat dilihat dari bentuk tubuh, adanya berbagai kelainan dalam tubuh ikan
hingga kematian ikan, dan berdasarkan kandungan bahan pencemar yang terdapat
di perairan. Ikan dapat menunjukkan reaksi terhadap perubahan fisik air maupun
terhadap adanya senyawa pencemar yang terlarut dalam batas konsentrasi tertentu.
Reaksi yang dimaksud antara lain adanya perubahan tingkah laku (gerakan renang)
ikan, warna tubuh dan warna insang (morfologi insang ikan), dan hingga pada
kematian ikan (mortalitas). Kemampuan ikan merespon bahan pencemar sering
digunakan dalam pengujian penanganan hasil buangan rumah tangga atau industry
(Wulansari dan Ardiansyah, 2012).
Ikan betok merupakan jenis blackwater fish, yaitu ikan yang memiliki
ketahanan terhadap tekanan lingkungan. Ikan betok merupakan ikan asli Indonesia
yang hidup pada habitat perairan tawar dan payau. Ikan betok memiliki sifat
biologis yang lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan jenis ikan air tawar
lainnya dalam hal pemanfaatan air sebagai media hidupnya. Salah satu kelebihan
tersebut adalah bahwa ikan betok memiliki labyrinth yang berfungsi sebagai alat
pernafasan tambahan. Hal ini sangat efektif dalam membantu pengambilan oksigen
di udara (Pandit dan Ghosh, 2007).
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini ialah sebagai berikut :
1. Bagaimana kualitas pencemaran sungai di Sungai Jawi Pontianak Barat ?
2. Bagaimana dampak pencemaran air terhadap perilaku ikan betok ?
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini ialah
1. Mengetahui kualitas pencemaran sungai di Sungai Jawi Pontianak Barat.
2. Mengetahui dan memahami dampak pencermaran air terhadap perilaku ikan
betok.
1.3 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah


1. Mengetahui kualitas pencemaran air di Sungai Jawi Pontianak Barat
sehingga memberikan informasi kepada masyarakat setempat bahwa air
pada sungai tersebut dapat dikonsumsi atau tidak.
2. Mengetahui perubahan perilaku yang terjadi pada ikan betok sehingga
apabila terjadi perubahan perilaku, maka ikan tersebut dapat di jadikan
bioindikator pencemaran sungai.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Air


Air yang secara kimia, hanya terdiri dari atom H dan O mempunyai sifat
yang unik. Tanpa air tidak akan mungkin terdapat kehidupan. Air di alam dijumpai
dalam tiga bentuk, yakni bentuk padat sebagai es, bentuk cair sebagai air, dan
bentuk gas sebagai uap. Bentuk mana yang akan ditemui, tergantung keadaan cuaca
setempat. Kepadatan (density), seperti halnya bentuk, juga tergantung pada
temperatur dan tekanan barometris (P). Pada umumnya densitas meningkat dengan
menurunnya temperatur, sampai tercapai maksimum pada 4oC , apabila temperatur
turun lagi, maka densitas akan turun pula. Sekalipun demikian temperatur air
tidaklah mudah berubah. Hal ini nampak dari spesifik heat air, yakni angka yang
menunjukkan jumlah kalori yang diperlukan untuk menaikkan suhu satu gram air
satu derajat celsius. Spesifik heat air adalah 1 /gram/ o C, suatu angka yang sangat
tinggi dibandingkan spesifik heat elemen-elemen lain di alam. Dengan demikian
tranfer panas dari dan kedalam air tidak banyak menimbulkan perubahan
temperatur ( Herlambang, 2009).
Kapasitas panas yang besar ini juga menyebabkan efek stabilitas badan air
terhadap udara sekitarnya. Kondisi ini sangat penting untuk melindungi kehidupan
akuatik yang sangat sensitif terhadap gejolak suhu. Pada tekanan atmosfir air
mendidih pada 100o C, karena tekanan di daerah tinggi lebih rendah dari satu
atmosfir, maka air mendidih pada temperatur yang lebih rendah ( Herlambang,
2009).
Menurut PP nomor 82 tahun 2001 bahwa air merupakan salah satu sumber
daya alam yang memiliki fungsi sangat penting bagi kehidupan dan perikehidupan
manusia, serta untuk memajukan kesejahteraan umum, sehingga merupakan modal
dasar dan faktor utama pembangunan. Air merupakan komponen lingkungan hidup
yang penting bagi kelangsungan hidup dan kehidupan manusia dan makhluk hidup
lainnya, untuk melestarikan fungsi air perlu dilakukan pengelolaan.
2.2 Pencemaran Air

Oksigen adalah gas yang berwarna, tak berbau, tak berasa dan hanya sedikit
larut dalam air. Untuk mempertahankan hidupnya makluk yang tinggal di air, baik
tanaman maupun hewan, bergantung kepada oksigen yang terlarut ini. Jadi
penentuan kadar oksigen terlarut dapat dijadikan ukuran untuk menahan mutu air.
Kehidupan diair dapat bertahan jika ada oksigen terlarut minimum sebanyak 5 mg
oksigen setiap liter air (5 bpj atau 5 ppm). Selebihnya bergantung kepada ketahanan
organisme, derajat keaktivannya, kehadiran pencemar, suhu air, dan sebagainya.
Umumnya laju konsumsi kelarutan oksigen dalam air, jika udara yang bersentuhan
dengan permukaan air bertekanan 760 mm dan mengandung 21 % oksigen. Oksigen
dapat merupakan factor pembatas dalam penentuan kehadiran mahluk hidup dalam
air. Oksigen dalam danau misalya berasal dari udara dan fotosintesis organisme
yang hidup didanau itu. Jika respirasi terjadi lebih cepat dari penggantian yang
larut, maka terjadi defisit oksigen. Sebaiknya dasar danau dijenuhkan dengan
oksigen (Subanri, 2008).
Dalam UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
PP RI No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
pencemaran Air yang dimaksud dengan Pencemaran Air adalah masuknya atau
dimasukkannya makluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air
oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. Dari definisi
tersebut tersirat bahwa pencemaran air dapat terjadi secara sengaja maupun tidak
sengaja dari kegiatan manusia pada suatu perairan yang peruntukkannya sudah jelas
(Herlambang, 2009).

Resiko atau bahaya terhadap kesehatan dapat juga akibat adanya kandungan
zat atau senyawa kimia dalam air minum, yang melebihi ambang batas konsentarsi
yang diijinkan. Adanya zat/senyawa kimia dalam air minum ini dapat terjadi secara
alami dan atau akibat kegiatan manusia misalnya oleh limbah rumah tangga,
industri dan lain-lain. Beberapa zat /senyawa kimia yang bersifat racun terhadap
tubuh manusia misalnya logam berat, pestisida, senyawa mikro polutan
hidrokarbon, zat-zat radioaktif alami atau buatan dan sebagainya (Herlambang,
2009).

2.3 Ikan Betok


Betook adalah nama spesies ikan yang umumnya hidup di perairan tawar.
Ikan ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti bethok atau bethik (Jawa),
puyu (Malaysia) atau pepuyuk (bahasa Banjar). Dalam Bahasa Inggris dikenal
sebagai climbing gourami atau climbing perch, merujuk pada kemampuannya
memanjat daratan. Nama ilmiahnya adalah Anabas testudineus (Bloch, 1972).
Klasifikasi ilmiah ikan betok adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Ordo : Labyrinthici
Sub ordo : Anabantoidei
Famili : Anabantidae
Genus : Anabas
Spesies : Anabas testudineus (Kottelat et al., 1993)

Nama sinonim dari Anabas testudineus adalah : Anabas scandens,


Amphiprion scansor, Amphiprion testudineus, Anabas elongatus, Anabas
macrocephalus, Anabas microcephalus, Anabas spinosus, Anabas trifoliatus,
Anabas variegatus, Anthias testudineus, Cojus cobujius, Lutjanus scandens,
Lutjanus testudo, Perca scandens, Sparus scandens, Sparus testudineus.
Ikan ini umunya berukuran kecil dengan panjang maksimum sekitar 25 cm,
namun kebanyakan lebih kecil. Berkepala besar dan bersisik keras dan kaku. Sisik
bagian atas tubuh (dorsal) berwarna gelap kehitaman agak atau kecoklatan atau
kehijauan. Sisik bagian samping (lateral) kekuningan, terutama di sebelah bawah,
dengan garis-garis gelap melintang yang samar dan tak beraturan. Sebuah bitnik
hitam (terkadang tak jelas kelihatan) terdapat di ujung belakang tutup insang. Sisik
pada belakang tutup insang begerigi tajam seperti duri (Mustakim, 2008).
Karakter morfologi (morfometrik dan meristik) telah lama digunakan dalam
biologi perikanan untuk mengukur jarak dan hubungan kekerabatan dalam
pengkategorian variasi dalam taksonomi. Hal ini juga banyak membantu dalam
menyediakan informasi untuk pendugaan stok ikan. Meskipun demikian pembatas
utama dari karakter morfologi dalam tingkat intra species (ras) adalah variasi
fenotip yang tidak selalu tepat dibawah kontrol genetik tapi dipengaruhi oleh
perubahan lingkungan. Pembentukan fenotip dari ikan memungkinkan ikan dalam
merespon secara adaptif perubahan dari lingkungan melalui modifikasi fisiologi
dan kebiasaan. Lingkungan mempengaruhi variasi fenotip, walau bagaimanapun
karakter morfologi telah dapat memberikan manfaat dalam identifikasi stok
khususnya dalam suatu populasi yang besar (Turan, 1998).
Morfometrik adalah ciri yang berkaitan dengan ukuran tubuh atau bagian
tubuh ikan misalnya panjang total dan panjang baku. Ukuran ini merupakan salah
satu hal yang dapat digunakan sebagai ciri taksonomik saat mengidentifikasi ikan.
Hasil pengukuran biasanya dinyatakan dalam milimeter atau centimeter, ukuran ini
disebut ukuran mutlak. Tiap spesies akan mempunyai ukuran mutlak yang berbeda-
beda. Perbedaan ini disebabkan oleh umur, jenis kelamin dan lingkungan hidupnya.
Faktor lingkungan yang dimaksud misalnya makanan, suhu, pH dan salinitas
merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan (Affandi, et al., 1992).
Menurut Affandi, et al., (1992) ada 26 karakter morfometrik yang biasa
digunakan dalam mengidentifikasi ikan diantaranya panjang total, panjang ke
pangkal cabang sirip ekor, panjang baku, panjang kepala, panjang bagian di depan
sirip punggung, panjang dasar sirip punggung dan sirip dubur, panjang batang ekor,
tinggi badan, tinggi batang ekor, tinggi kepala, lebar kepala, lebar badan, tinggi
sirip punggung dan sirip dubur, panjang sirip dada dan sirip perut, panjang jari-jari
sirip dada yang terpanjang, panjang jari-jari keras dan jari-jari lemah, panjang
hidung, panjang ruang antar mata, lebar mata, panjang bagian kepala di belakang
mata, tinggi di bawah mata, panjang antara mata dengan sudut preoperkulum, tinggi
pipi, panjang rahang atas, panjang rahang bawah, dan lebar bukaan mulut.
2.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang akan dibuktikan kebenarannya dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Apakah telah terjadi pencemaran sungai di sungai jawi, Pontianak
Barat?
2. Apakah pencemaran air mampu merubah karakter morfologi ikan
betok?
DAFTAR PUSTAKA

Affandi, R, S.S. Djadja, M.F. Rahardjo, Sulistiono, 1992, Iktiologi, suatu pedoman
kerja laboratorium, IPB. 344 hlm.

Herlambang, Arie., 2006, Pencemaran Air dan Strategi Penanggulangannya, JAI,


Vol. 2, No, 1, Penelitian Pusat Teknologi, BPPT.
Kottelat, M., A. J. Whitten, S. N. Kartikasari & S. Wiroatmodjo, 1993, Freshwater
Fishes of Western Indonesia and Sulawesi, Edisi Dwi Bahasa Inggris-
Indonesia, Periplus Edition (HK) Ltd. Bekerjasama dengan Kantor Menteri
KLH, Jakarta.
Kristianto, P, 2002, Ekologi Industri. Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Middleton, G., 2004, Gencomm Standard for Use with Generating Set Control
Equipment, England: Deep Sea Electronics plc.
Mustakim, M., 2008, Kajian Kebiasaan Makanan dan Kaitannya dengan Aspek
Reproduksi Ikan Betok ( Anabas testudineus) pada Habitat yang Berbeda di
Lingkungan Danau Melintang Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Tesis,
IPB, Bogor.
Pandit, D. N dan T. K. Ghosh.,2007, Oxygen uptake in relation to group size in
the juveniles of a Climbing Perch, Anabas testudineus, Journal of
Environment Biology, 28(1): 141-143 (2007).
Puspitasari, D E, 2009, Dampak Pencemaran Air Terhadap Kesehatan Lingkungan
(Studi Kasus Sungai Code di Kelurahan Wirogunan Kecamatan Mergangsan
dan Kelurahan Prawirodirjan Kecamatan Gondomanan Yogyakarta, Mimbar
Hukum, Vol. 21, No. 1, Hal. 23-24.
Subanri, 2008, Kajian Beban Pencemaran Merkuri (Hg) Terhadap Air Sungai
Menyuke Dan Gangguan Kesehatan Pada Penambang Sebagai Akibat
Penambangan Emas Tanpa Izin (Peti) Di Kecamatan Menyuke, Kabupaten
Landak, Kalimantan Barat, Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang.
Turan, C, 1999, A Note on The Examination of Morphometric Differentiation
Among Fish Population: the Truss System, Journal of Zoology Vol. 23, hlm
259-263.
Wulansari, F D dan Ardiansyah, 2012, Pengaruh Detergen Terhadap Mortalitas
Benih Ikan Patin sebagai Bahan Pembelajaran Kimia Lingkungan, EduSains,
Vol. 1 No. 2 ISSN 2338-4387.