Anda di halaman 1dari 11

Nama : NATAN SIGIT SAYOGYA

NIM : 00000018012
LAPORAN PENDAHULUAN

HARGA DIRI RENDAH

I. Kasus (Masalah Utama)


Harga Diri Rendah

Pengertian Harga diri Rendah


- Harga diri rendah merupakan bagaian masalah psikososial yang banyak
ditemukan di tengah tengah masyarakat menunjukan gejala dengan penilaian
individu yang subjektif, yang dipengaruhi oleh pasien harga diri rendah adalah
pasien cenderung untuk menilai dirinya negative dan merasa lebih rendah dari
orang lain (Departemen Kesehatan RI, 2000).
- Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri
yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri dan
kemampuan diri. Adanya perasaan hilang percaya diri , merasa gagal karena
karena tidak mampu mencapai keinginansesuai ideal diri (Keliat. 2001).
- Menurut Stuart dan Sundeen (1998) harga diri adalah penilaian individu terhadap
hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal
dirinya. Dapat disimpulkan bahwa harga diri menggambarkan sejauh mana
individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan,
keberartian, berharga, dan kompeten. Secara singkat, harga diri adalah personal
judgment mengenai perasaan berharga atau berarti yang diekspresikan dalam
sikap-sikap individu terhadap dirinya.
- Harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak
dapat bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri, gagal menyesuaikan tingkah
laku dan cita-cita (Fk.UNDIP, 2001)

Kesimpulan harga diri rendah adalah salah satu masalah psikososial yang
menilai diri sendiri negative serta kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan diri
dan merasa orang lain lebih baik dari dirinya dan bahkan menolak dirinya yang
disebabkan oleh perasaan ketidakmampuan untuk bertanggung jawab atas diri sendiri.
II. Proses Terjadinya Masalah:
1) Penyebab
Faktor yang dapat menyebabkan harga diri rendah terdiri dari faktor
predisposisi dan faktor presipitasi. Faktor Predisposisi misalnya adalah penolakan
orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan berualang, serta ideal
diri yang tidak realistis. Sedangkan faktor presipitasinya mungkin ditimbulkan
dari sumber internal dan eksternal yang terjadi secara situasional seperti trauma,
frustrasi dalam suatu hal yang dapat dipengaruhi oleh transisi peran.
Klasifikasi harga diri rendah dapat dibedakan menjadi 2, yakni : (Fitria,2009)
1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi,
kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja,
perasaan malu karena sesuatu (korban perkosaan, dituduh korupsi,
dipenjara tiba-tiba).
Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah, karena :
1) Privacy yang harus diperhatikan, misalnya : pemeriksaan fisik
yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran
pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perineal).
2) Harapan akan struktur bentuk dan fungsi tubuh yang tidak
tercapai karena dirawat/sakit/penyakit.
3) Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya
berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai
tindakan tanpa persetujuan.
2. Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama,
yaitu sebelum sakit/dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang
negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif
terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respons yang maladaptif.

Ada 3 jenis transisi peran, yakni :


1. Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan
dengan pertumbuhan.
2. Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota
keluarga melalui kelahiran atau kematian.
3. Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke
keadaan sakit.
2) Tanda dan Gejala
Menurut ( Keliat, 2011), tanda dan gejala harga diri rendah yaitu mengkritik
diri sendiri, perasaan tidak mampu, pandangan hidup yang pesimis, penurunan
produktivitas, penolakan terhadap kemampuan diri. Selain tanda dan gejala diatas,
dapat juga mengamati penampilan seseorang dengan harga diri rendah yang
tampak kurang memperhatikan perawatan diri, berpakaian tidak rapi, selera
makan menurun, tidak berani menatap lawan bicara, lebih banyak menunduk, dan
bicara lambat dengan nada suara rendah. (Keliat, dalam Andri, 2013)

3) Rentang respon

4) Mekanisme Koping
Menurut Keliat (1998), mekanisme kopinh pada klien dengan gangguan konsep
diri dibagi menadi 2, yakni :
1. Koping Jangka Pendek
a. Aktivitas yang memberikan kesempatan lari sementara dari krisis.
Misalnya pemakaian obat, ikut musik rok, balap motor, olah raga berat dan
obsesi nonton televisi.
b. Aktivitas yang memberi kesempatan mengganti identitas. Misalnya: ikut
kelompok tertentu untuk mendapat identitas yang sudah dimiliki
kelompok, memiliki kelompok tertentu, atau pengikut kelompok tertentu.
c. Aktivitas yang memberi kekuatan atau dukungan sementara terhadap
konsep diri atau identitas diri yang kabur. Misalnya: aktivitas yang
kompetitif, olah raga, prestasi akademik, kelompok anak muda.
d. Aktivitas yang memberi arti dari kehidupan. Misalnya: penjelasan tentang
keisengan akan menurunnya kegairahan dan tidak berarti pada diri sendiri
dan orang lain.
2. Koping Jangka Panjang
Individu dengan gangguan konsep diri dapat menggunakan ego-
oriented reaction (mekanisme pertahanan diri) yang bervariasi untuk
melindungi diri. Macam mekanisme koping yang sering digunakan adalah :
fantasi, disosiasi, isolasi, dan proyeksi. Dalam keadaan yang berat dapat
terjadi perilaku dan kegagalan penyesuaian seperti psikosis, obesitas,
anoreksia, bunuh diri criminal, free sex, kenakalan, dan penganiayaan.
5) Mind Map
III. a. Analisa Masalah

b. Masalah Keperawatan dan Data Yang Perlu Dikaji


1. Masalah keperawatan : Harga Diri Rendah
2. Data yang perlu dikaji :
Data Subjektif :
- Pasien mengatakan bahwa hidupnya tidak berarti
- Pasien mengatakan bahwa dirinya selalu berbuat kesalahan
- Pasien mangatakan bahwa dia tidak dapat melakukan apapun
- Pasien mengatakan bahwa ia tidak memilii kelebihan
- Pasien selalu merendahkan dirinya
Data Objektif :
- Pasien selalu menghadap ke bawah
- Pasien tidak banyak bicara/hanya bicara singkat
- Pasien lebih suka menyendiri
- Pasien kebingungan saat diajak mencari alternative terbaik
- Pasien tidak berani berpartisipasi dalam kegiatan
IV. Diagnosa Keperawatan
Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah

V. Rencana Tindakan Keperawatan (Rujuk pada Standar Pelaksanaan Terbaru)


Merujuk pada Keliat & Akemat (2007) maka rencana tindakan keperawatan pada
klien HDR dirancang sebagai berikut:
1. Tujuan keperawatan:
Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek posotof yang dimiliki.
Pasien dapat menilai kemampuan yang digunakan
Pasien dapat memilih kegiatan sesuai dengan kemampuan
Pasien dapat melatih kegiatan yang dipilih sesuai dengan kemampuan
Pasien dapat melakukan kegiatan yang sudah dilatih secara terjadwal

2. Tindakan keperawatan:
a) Identifikasi kemampuan dan aspek positifyang masih dimiliki pasien dengan
cara:
Diskusikan tentang sejumlah kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki pasien seperti kegiatan pasien di rumah sakit, dan di rumah,
adanya keluarga dan lingkungan terdekat pasien.
Beri pujian yang realistik dan hindarkan penilaian yang negatif
b) Bantu pasien menilai kemapuan yang dapat digunakan dengan cara-cara
berikut:
Diskusikan dengan pasien mengenai kemampuannya yang masih dapat
digunakan saat ini
Bantu pasien menyebutkannya dan beri penguatan terhadap
kemampuan diri yang digunakna pasien
Perlihatkan rspon yang kondusif dan upayakan menjadi pendengar
aktif
c) Membantu pasien memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih.
Tindakan yang dapat dilakukan adalh:
Diskusikan dengan pasien kegiatan yang akan dipilih sebagai kegiatan
yang akan pasen lakukan sehari-hari.
Bantu oasuen untuk memilih kegiatan yang dapat pasien lakukan
dengan mandiri atau dengan bantuan minimal
d) Latih kemampuan pasien yang telah dipilih dengan cara:
Diskusikan dengan pasien langkah-langkah pelaksanaan kegiatan
Bersama pasien, peragakan kegiatan yang ditetapkan
Berikan dukungan dan pujian setiap kegiatan yang dapat dilakukan
pasien
e) Bantu pasien menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih
Beri kesempatan kepada pasien untuk mencoba kegiatan yang akan
dilatih
Beri pujian atas kegiatan yang dapat dilakukan pasien setiap hari
Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan perubahan
setiap kegiatan
Susun jadwal untuk melaksanakan kegiatan yang telah dilatih
Berikan pasien kesempatanmengungkapkan perasaannya setelah
pelaksanaan kegiatan.
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, B.A., Akemat. (2007). Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC

Schultz dan Videback. (1998). Manual Psychiatric Nursing Care Plan. 5th edition.
Lippincott- Raven Publisher: philadelphia.

Stuart dan Sundeen. (1999). Buku Saku Keperawatan Jwa. Edisi 3. EGC: Jakarta

Townsend. (1995). Nursing Diagnosis in Psychiatric Nursing a Pocket Guide for Care Plan
Construction. Edisi 3.Jakarta : EGC

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN HARGA DIRI RENDAH DI RUANG


BANTENG RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI KALIMANTAN BARAT (2013). Diambil
pada tanggal 2 Maret 2017, dari :
https://www.academia.edu/9606072/ASUHAN_KEPERAWATAN_DENGAN_GANG
GUAN_HARGA_DIRI_RENDAH_DI_RUANG_BANTENG_RUMAH_SAKIT_JIW
A_PROVINSI_KALIMANTAN_BARAT_AKADEMI_KEPERAWATAN_POLTEK
KES_KEMENKES_PONTIANAK

PRINSIP DASAR DAN APLIKASI LAPORAN PENDAHULUAN DAN STRATEGI


PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (2009). Diambil pada tanggal 2 Maret
2017, dari: http://eprints.ums.ac.id/25936/11/NASKAH_PUBLIKASI.pdf
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
HARGA DIRI RENDAH

Nama Mahasiswa : Natan Sigit Sayogya


NIM : 00000018012

Masalah Tindakan Keperawatan Untuk Tindakan Keperawatan Untuk


Keperawatan Pasien Keluarga
Harga Diri SP I p SP I k
Rendah 1. Mengidentifikasi kemampuan dan 1. Mendiskusikan masalah yang
aspek positif yang dimiliki pasien dirasakan keluarga dalam
2. Membantu pasien menilai kemampuan merawat pasien
pasien yang masih dapat digunakan 2. Menjelaskan pengertian, tanda
3. Membantu pasien memilih kegiatan dan gejala harga diri rendah yang
yang akan dilatih sesuai dengan dialami pasien berserta proses
kemampuan pasien terjadinya
4. Melatih pasien sesuai kemampuan 3. Menjelaskan cara-cara merawat
yang dipilih pasien harga diri rendah
5. Memberikan pujian yang wajar
terhadap keberhasilan pasien
6. Menganjurkan pasien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian

SP II p SP II k
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian 1. Melatih keluarga
pasien mempraktekkan cara merawat
2. Melatih kemampuan kedua yang pasien dengan harga diri rendah
dimiliki pasien 2. Melatih keluarga melakukan cara
3. Menganjurkan pasien memasukkan merawat langsung kepada pasien
dalam jadwal kegiatan harian harga diri rendah

SP III k
1. Membantu keluarga membuat
jadwal aktivitas dirumah
termasuk minum obat
2. Menjelaskan follow up pasien
setelah pulang