Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK PANGAN

Penentuan Tetapan Kalorimeter

OLEH :

NAMA : CEDRIK ELCID WURARA

NIM : Q1A116137

KELOMPOK : 7 (TUJUH)

KELAS : TPG B (2016)

ASISTEN : - DARPY, S.TP

- SRI CAHYANI

JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017
I. PEDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Suhu adalah suatu sistem yang dapat diartikan suatu sifat yang

menentukan bahwa sistem tersebut setimbang termal dengan sistem lainnya atau

tidak. Secara kualitatif kita dapat mengetahui bahwa suhu adalah sensasi dingin

atau panasnya suatu benda yang dirasakan ketika kita menyentuhnya jika ditinjau

secara kuantitatif. Kita dapat menyentuhnya dengan menggunakan termometer.

Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur temperature atau suhu.

dengan termometer kita dapat mengukur dan mengetahui suhu suatu benda mulai

dari suhu cairan larutan bahkan suhu tubuh. Kalor adalah bentuk energi yang

terkait dengan energi kinetik partikel.

Kalor dapat di hitung dengan menggunakan beberapa perhitungan dan

beberapa alat salah satunya adalah kalorimeter. Kalorimeter adalah alat yang

dapat digunakan untuk mengukur jumlah kalor reaksi. Jenis Kalorimeter terbagi

menjadi dua, yakni kalorimeter sederhana dan kalorimeter bom. Kalorimeter

yang banyak digunakan adalah kalorimeter jenis sederhana karena paling mudah

digunakan dalam mengukur kalor dari reaksi yang berlangsung dalam

larutan.Umumnya, kalorimeter ini dapat terbuat dari dua wadah minuman

styrofoam. Dan dalam kalorimeter sederhana, biasanya larutan di buat enceran

sehingga kalor jenisnya hampir sama dengan kalor jenis air. Kalorimeter terbagi

menjadi dua, yaitu kalorimeter bom dan kalorimeter sederhana. Kalorimeter bom

adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor (nilai kalori) yang

dibebaskan pada pembakaran sempurna (dalam O2 berlebih) suatu senyawa, bahan


makanan, bahan bakar atau khusus digunakan untuk menentukan kalor dari reaksi-

reaksi pembakaran.

Kehidupan sehari-hari sering ditemui beberapa kejadian yang melibatkan

perpindahan kalor. Misalnya satu gelas air dingin dicampur dengan satu gelas air

panas, maka air panas akan melepas kalor sedangkan air dingin akan menerima

kalor. Sehingga akan didapatkan suhu campuran yang seimbang. Oleh karena itu

begitu banyaknya kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang merupakan kejadian

perpindahan kalor maka percobaan ini penting untuk dipahami oleh semua orang

sehingga dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

percobaan kalorimeter bertujuan untuk menentukan kalor jenis bahan. Dalam

percobaan ini terlebih dahulu dilakukan yaitu menentukan suhu dan usahakan agar

masing-masing pereaksi ini memiliki suhu yang sama, lalu larutan tersebut

dimasukkan ke dalam kalorimeter sambil diaduk agar zat-zat bereaksi dengan baik

sehingga kita dapat menentukan besarnya kapasitas kalorimeter.

1.2. Tujuan

Tujuan dari praktikum penentuan tetapan kalorimeter adalah mengetahui

sifat-sifat kalorimeter dan menentukan tetapan kalorimeter sebagai dasar

percobaan-percobaan yang lain.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Nilai Kalor (Heating Value) Nilai kalor adalah kalor yang dihasilkan oleh

pembakaran sempurna satu satuan berat bahan bakar padat atau cair atau satu

satuan volume bahan bakar gas, pada keadaan baku. Nilai kalor atas (high heating

value) adalah kalor yang dihasilkan oleh pembakaran sempurna satu satuan berat

bahan bakar padat atau cair atau satu satuan volume bahan bakar gas, pada

tekanan tetap dan temperatur 25 C, apabila semua air yang mula-mula berwujud

cair setelah pembakaran mengem-bun menjadi cair kembali. HHV = 22.320 -

(3.780 SG2) Btu/lb. Nilai kalor bawah (low heating value) adalah kalor yang

besarnya sama dengan nilai kalor atas dikurangi kalor yang diperlukan oleh air

yang terkandung dalam bahan bakar dan air yang terbentuk dari pembakaran

bahan bakar untuk menguap pada 25 C dan tekanan tetap. LHV=

19.960(3.780SG2)+(1.362SG)Btu/lb. Nilai kalor bawah (low heating value)

adalah kalor yang besarnya sama dengan nilai kalor atas dikurangi kalor yang

diperlukan oleh air yang terkandung dalam bahan bakar dan air yang terbentuk

dari pembakaran bahan bakar untuk menguap pada 25 C dan tekanan tetap.

LHV= 19.960(3.780SG2)+(1.362SG)Btu/lb (Raharjo, 2009).

Kalor didefinisikan sebagai energi panas yang dimilik oleh suatu zat.

Secara umum untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda yaitu

dengan mengukur suhu benda tersebut. Jika suhunya tinggi maka kalor yang

dikandung oleh benda sangat besar, begitu juga sebaliknya jika suhu rendah maka

kalor yang dikandung sedikit. Besar kecilnya kalor yang dibutuhkan suatu benda

(zat) tergantung pada 3 faktor: 1. Massa zat 2. Jenis zat (kalor jenis) 3. Perubahan
suhu. Sehingga secara matematis dapat dirumuskan: Q = m x c x (t2-t1) Dimana: Q

= Kalor yang dibutuhkan [J] M = Massa [kg] C = Kalor jenis [J/kgK] (t2-t1) =

Perubahan suhu [K]. Hubungan antara kalor dengan energi listrik Kalor

merupakan bentuk energi maka dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk

lainnya.Berdasarkan hukum kekekalan energi, energi listrik dapat berubah ke

energi kalor dan juga sebaliknya. Dalam pembahasan ini yang diulas tentang

energi listrik dan energi kalor saja (Rohma dan Hayatunnufus, 2015).

Jenis benda yang sama tetapi massanya berbeda kalor yang diperlukan

untuk menaikkan suhu yang sama ternyata besarnya berbeda. Artinya, semakin

besar massa benda, semakin besar pula kalor yang diperlukan untuk menaikkan

suhu benda tersebut. Semakin besar massa benda maka kalor yang diterima untuk

didistribusikan guna menambah tenaga gerak molekul atau atom menjadi lebih

banyak. Jadi semakin besar massa benda memerlukan lebih banyak kalor untuk

menaikkan suhu bila dibanding benda bermassa kecil. Hal ini ditandai oleh lebih

lambatnya kenaikan suhu pada benda bermassa besar. Dengan demikian, jumlah

kalor yang diperlukan sebanding dengan massa bendanya (Yanti et all,2014).

Perpindahan kalor adalah perpindahan energi yang terjadi pada benda atau

material yang bersuhu tinggi ke benda atau material yang bersuhu rendah, hingga

tercapainya kesetimbangan panas. Perpindahan kalor (heat transfer) adalah ilmu

untuk meramalkan atau menggambarkan perpindahan energi yang terjadi karena

adanya perbedaan suhu di antara benda atau material. Bila dua sistem yang

suhunya berbeda disinggungkan maka akan terjadi perpindahan energi. Proses di

mana perpindahan energi itu berlangsung disebut perpindahan panas. Perpindahan


panas akan terjadi apabila ada perbedaan temperatur antara 2 bagian benda. Panas

akan berpindah dari temperatur tinggi ke temperatur yang lebih rendah (Rokhimi

dan Pujayanto, 2015).


III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu

Praktikum penentuan tetapan kalorimeter dilakukan di Laboratorium

Teknologi Pangan Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi dan

Industri Pertanian, Universitas Halu Oleo. Dilakasanakan pada hari Kamis, 16

November 2017 pukul 15.30 sampai selesai.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan yaitu aquadest ingin 50 ml dan aquadest panas

50 ml. Sedangkan Alat yang digunakan dalam praktikum percobaan penentuan

tetapan kalorimeter yaitu kalorimeter, pengaduk, bahan isolasi, termometer (0-50


o
C, kesalahan + 0,1 oC), gelas ukur (50 ml, kesalahan + 0,1 ml), gelas piala dan

pembakar gas (atau sumber panas listrik).

3.3. Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja dari praktikum penentuan tetapan kalorimetri yaitu:

a) Memasang alat kalorimeter.

b) Mengukur 50 ml air aquades dengan gelas ukur. Memasukkan air aquades

ke dalam kalorimeter, aduk dan catat suhu air dalam kalorimeter setiap 30

detik hingga menit ke-empat.

c) Tepat menit ke-empat, memasukkan air aquades panas yang suhunya telah

diketahui (minimum 35 oC, tetapi tidak lebih dari 45 oC) sebanyak 50 ml.
d) Mencatat suhu air dalam kalorimeter tiap 30 detik dengan tak lupa

mengaduknya, sampai menit ke-delapan.

e) Membuat kurva hubungan antara waktu dengan suhu untuk memperoleh

suhu maksimum yang tepat.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

a. Tabel Pengamatan

Waktu (Menit) Suhu (OC) Waktu (Menit) Suhu (OC)


0 30 4.5 37

0.5 29 5 36.5

1 29 5.5 36

1.5 30 6 36

2 30 6.5 36

2.5 29.5 7 36

3 30 7.5 35.2

3.5 30 8 35

4 Penambahan air

panas

b. Grafik hubungan antara suhu dan waktu

40
35
30
25
20
15
10
5
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5 8
c. Perhitungan

TC = suhu panas : 8

= 287,7 oC : 8

= 35, 96 oC

Massa air = massa jenis air x volume air

= 1 g/ml x 50 ml

= 50 g

1. untuk Qad

T = TC -Tad

= 35,96 oC 29 oC

= 6,96 oC

2. untuk Qap

T = Tap -TC

= 37 oC 35,96 oC

= 1,04 oC

Jumlah kalor yang diserap air dingin

Qad = m x Cp x T

= 50 g x 4,18 Jg-1 oC-1 x 6,96 oC

= 1454,64 J oC

Jumlah kalor yang diserap air panas

Qap = m x Cp x T

= 50 g x 4,18 Jg-1 oC-1 x 1,04 oC

= 217,36 J oC
Jumlah kalor yang diserap kalorimeter

Q kal = Qap - Qad

= 217,36 J oC - 1454,64 J oC

= -1237,28 J oC

Tetapan kalor

C kal = Q kal / TC T ad

= -1237,28 J / 6,96 oC

= -177,770 J/oC

4.2. Pembahasan

Pratikum penentuan tetapan kalorimeter sesuai dengan teori yang

dikemukakan oleh Joseph Black yang dikenal dengan Azas Black apabila dua

benda yang suhunya berbeda dan dicampur, maka benda yang lebih panas

melepas kalor kepada benda yang lebih dingin sampai suhu keduanya sama.

Banyaknya kalor yang dilepas benda yang lebih panas sama dengann banyaknya

kalor yanga diterima benda yang lebih dingin. Sebuah benda untuk menurunkan

T akan melepaskan kalor yang sama besarnya dengan banyaknya kalor yang

dibutuhkan benda itu untuk menaikkan suhunya sebesar T juga. Torinya adalah :

Qlepas = Qterima. Dalam kalorimeter hubungan Azas Black terhadap kalorimeter

yaitu kalor pada sistem arah konstan apabila sistem terisolasi sehingga Qmasuk

sama dengan Qkeluar.Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur

perubahan panas. Setiap kalorimeter mempunyai sifat khas dalam mengukur

panas. Ini terjadi karena kalorimeter tersebut terbuat dari berbagai jenis

seperti gelas, polietena dan logam sehingga mempunyai kemampuan menyerap


panas yang berbeda. Sifat-sifat kalorimeter adalah menjaga suhu suatu zat dan

tidak terpengaruh oleh lingkungan, sifatnya dalam proses adalah secara adiabatik

yaitu tidak ada energi yang lepas atau masuk dari luar ke dalam kalorimeter.

Pengukuran kalor jenis dengan kalorimeter didasarkan pada Azas Black.

Teori yang dikemukakan oleh Joseph Black atau lebih dikenal dengan Azas Balck

yaitu, apabila dua benda yang suhunya berbeda dan dicampur, maka benda yang

lebih panas melepas kalor kepada benda yang lebih dingin sampai suhu keduanya

sama. Sebuah benda untuk menurunkan T akan melepaskan kalor yang sama

besarnya dengan banyaknya kalor yang dibutuhkan benda itu untuk menaikkan

suhunya sebesar T juga.

Percobaan penentuan tetapan kalorimeter, dilakukan pencampuran antara

air yang tidak dipanaskan dan air yang dipanaskan. Sebelum dilakukan

percobaaan, hal yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat-alat seperti

thermometer, gelas ukur, stopwatch, dan pembakar gas. Setelah itu, merangkai

atau memasang alat kalorimeter. Selanjutnya, mengukur 50 ml air dengan gelas

ukur. Kemudian, memasukkan air kedalam kalorimeter, mengaduk dan mencatat

waktunya setiap 30 detik hingga menit keempat. Setengah menit (30 detik) sampai

1 menit pertama suhu air dalam kalorimetri adalah 29C. Pada menit ke 1,5

sampai 2 menit suhu air adalah 30C. Pada menit ke 2,5 suhu air adalah 29,5C.

Pada menit ke 3 sampai ke 3,5 suhu air adalah 30oC. Pada menit ke 4

pengadukkan dihentikan dan memasukkan air panas yang suhunya telah tiketahui,

yaitu 40oC sebanyak 50 ml. Setelah itu, Pengadukan dilanjutkan kembali hingga

menit ke 8. Pada menit ke 4,5 suhu air campuran adalah 37C. Pada menit ke 5
sampai menit ke 7 suhu air campuran adalah 36C. Pada menit ke 7,5 suhu

campuran menjadi 35,2C. Pada menit ke 8 suhu campuran menjadi 35C. Setelah

pencampuran air panas, suhu naik secara perlahan karena kalorimeter telah

menyerap panas dari pencampuran air tersebut.

Perubahan hal ini sesuai dengan Azas Black yaitu dua benda yang suhunya

berbeda dan dicampur, maka benda yang lebih panas melepas kalor kepada benda

yang lebih dingin sampai suhu keduanya sama sehingga jika energi dari reaksi

kimia eksotermal diserap air, perubahan suhu dalam air akan mengukur jumlah

panas yang ditambahkan. Dari hasil pengamatan, terlihat bahwa semakin lama

pencampuran maka suhu akan semakin menurun. Hal ini dikarenakan air tersebut

melepaskan kalor dari sistem ke lingkungan. Pada menit-menit terakhir, suhu

yang dihitung pada termometer tidak berubah suhunya, ini membuktikan sifat

kalorimeter yaitu menjaga suhu, dan tidak ada pengaruh dari lingkungan. Energi

yang diterima air dingin tidak sama dengan yang dilepas oleh air panas. Ini

dikarenakan sifat dari kalorimeter yang dapat menyerap kalor sehingga tidak

semuanya kalor dapat diterima oleh air dingin.

Percobaan penentuan tetapan kalorimeter data-data yang diperoleh, dapat

dihitung T kalor lepas air panas sebesar 1,04oC, T kalor diterima air dingin

6,96oC, Kalor yang dilepas air panas 217,36 J, Kalor yang diterima air dingin

1454,64 J, dan dengan menggunakan Azas Black yaitu Qlepas=Qterima diperoleh

Qkalorimeter sebesar -1237,38 J. Sehingga dari hasil tersebut didapat tetapan

kalorimetri maka diperoleh -177,770 J/oC.


Nilai minus pada tetapan kalorimeter merupakan suatu kesalahan yang

menyebabkan nilai kalor yang diterima air dingin lebih besar dibanding dengan

nilai kalor yang diterima air panas. Dalam hal ini terjadi reaksi eksoterm dimana

kandungan panas dari sistem menurun sehingga sistem melepaskan kalor ke

lingkungan. Hal ini melenceng dari teori dimana fungsi kalorimeter yaitu dapat

menjaga/ mempertahankan kalor.


V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh pada praktikum penentuan tetapan kalorimetri

adalah sebagai berikut.

1. Sifat-sifat suatu bentuk energi yang menyebabkan materi mempunyai suhu

disebut kalor. Kalor juga dapat menyebabkan perubahan wujud. Apabila

suatu zat menyerap kalor, maka suhu zat itu akan naik sampai tingkat tertentu

hingga zat itu akan mencair (jika zat padat) atau menguap (jika zat cair).

Sebaliknya jika kalor dilepaskan dari suatu zat, maka suhu zat itu akan turun

sampai tingkat tertentu hingga zat itu akan mengembun (jika zat gas) atau

membeku (jika zat cair).

2. Penentuan tetapan kalorimeter diperoleh dengan cara mencari terlebih dahulu

kalor jenis air dingin dan air panas untuk mendapatkan kalor yang diserap

kalorimeter. Kemudian, kalor yang diserap kalorimeter dibagi dengan selisih

antara suhu campuran dengan suhu air dingin. Dari cara tersebut, sehingga

diperoleh tetapan kalorimetri (c) sebesar -177,770 J/oC.

5.2. Saran

Saran bagi para praktikan agar dapat melakukan kegiatan praktikumnya

dengan teliti karena mempengaruhi tingkat kesalahan dan alat yang berada di

laboratorium dilengkapi demi kelancaran praktikum.


DAFTAR PUSTAKA

Raharjo, W. P. 2009. Pemanfaatan Oli Bekas dengan Pencampuran Minyak Tanah


sebagai Bahan Bakar pada Atomizing Burner. Jurnal Penelitian Sains &
Teknologi. Vol. 10(2): 156 168.

Rohmah, E.N dan Hayatunnufus, T. 2015. Design Oven Skala Laboratorium


untuk Rekayasa Minyak Goreng Bekas Menjadi Biooil. Jurnal Integrasi
Proses. Vol. 5(3): 132 137.

Rokhimi, I. N dan Pujayanto. Alat Peraga Pembelajaran Laju Hantaran Kalor


Konduksi. Prosiding Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika
(SNFPF) Ke-6. Vol. 6 (1) ISSN : 2302-7827.

Yanti, R. P., Said L. M dan Ihsan. Studi Penentuan Nilai Kalori pada Buah
Durian (Durio Zibethinus). Jurnal Teknosains. Vol. 8(2): 161 174.
LAMPIRAN