Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

METODE PERHITUNGAN CADANGAN

DISUSUN OLEH

NAMA : MAULIZAH

NIM : D1101151023

FAKULTAS TEKNIK
PRODI TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan Rahmatnya
kepada seluruh umat manusia tanpa terkecuali, shalawat serta salam kita sanjungkan kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini
saya ajukan kepada dosen pembimbing saya Bapak Yoga Herlambang ST.MT sebagai tugas
mata kuliah Metode Perhitungan Cadangan. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Bapak
yang telah memberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini.

Saya mengharapkan kepada Bapak serta pembaca, apabila menemukan kesalahan atau
kekurangan dalam makalah ini, baik dari segi bahasa maupun isi, saya mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun, agar lebih baik kedepannya.

Pontianak, 13 Oktober 2017

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar
BAB I ............................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 1
Latar Belakang .......................................................................................................................................... 1
1.1.Tujuan ................................................................................................................................................. 1
1.2.1.Mengetahui metode perhitungan cadangan pada mineral ............................................................ 1
1.2.2.Mengetahui metode perhitungan cadangan pada batubara .......................................................... 1
BAB II........................................................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN ........................................................................................................................................... 2
2.1.Pengertian Cadangan .......................................................................................................................... 2
2.2.Metode Perhitungan Cadangan Mineral ............................................................................................. 3
2.2.1.Emas Primer ................................................................................................................................. 3
2.2.2.Metode Perhitungan Cadangan Timah placer .............................................................................. 6
2.2.3.Bijih Besi ..................................................................................................................................... 9
2.2.4. Bauksit ...................................................................................................................................... 14
2.2.5.Nikel........................................................................................................................................... 14
2.2.6.Batu Bara ................................................................................................................................... 15
BAB III ....................................................................................................................................................... 17
PENUTUP .................................................................................................................................................. 17
3.1.Kesimpulan ....................................................................................................................................... 17
3.2.Saran ............................................................................................................................................. 23
Daftar Pustaka ............................................................................................................................................. 24
Lampiran........................................................................................................................................26

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam melakukan metode perhitungan cadangan haruslah ideal dan sederhana, cepat
dalam pengerjaan dan dapat dipercaya sesuai dengan keperluan dan kegunaan. Metode
perhitungan harus dipilih secara hati-hati dan rumusan yang dipilih harus sederhana dan
mempermudah perhitungan sehingga dapat menghasilkan tingkat ketepatan yang sama
dengan metode yang komplek. Maka tingkat kebenaran perhitungan cadangan tergantung
pada ketepatan dan kesempurnaan pengetahuan atas endapan. Pemilihan metode untuk
perhitungan cadangan tergantung pada :

A. Keadaan Geologi dari Endapan Mineral


Topografi daerah penelitian berupa perbukitan bergelombang
B. Ketersediaan Data
Tidak adanya data lubang bor yang menunjukkan ketebalan endapan bijih nikel
sehingga data merupakan indikasi secara geologi saja.
C. Jenis Bahan Galian.
Bijih timah merupakan jenis bahan galian golongan A yang mempunyai bentuk dan
geometri yang sederhana, dan memiliki assosiasi dengan mineral-mineral lainnya.
Secara umum endapan-endapan bahan galian dapat dikategorikan atas sederhana
(simple) atau kompleks (complex) tergantung dari distribusi kadar dan bentuk
geometrinya. Kriteria untuk mengkategorikan endapan bahan galian ini didasarkan
atas pendekatan geologi. Untuk kategori kompleks dicirikan dengan kadar pada batas
endapan dan pada tubuh bijihnya sangat bervariasi serta bentuk geometrinya yang
kompleks, sedangkan untuk kategori sederhana dicirikandengan bentuk geometri yang
sederhana dan kadar pada batas endapan maupun pada badan bijih relatif homogen.

1.2.Tujuan
1.2.1.Mengetahui metode perhitungan cadangan pada mineral
1.2.2.Mengetahui metode perhitungan cadangan pada batubara

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Pengertian Cadangan

Menurut Mc Kelvey, 1973, cadangan dibedakan atas dua pengertian yaitu sumber
daya (resources) dan cadangan (reserves).
a. Sumber daya
adalah akumulasi (longgokan) zat padat, cair atau gas yang terbentuk secara
alamiah, terletak di dalam atau di permukaan bumi, terdiri dari satu jenis atau
lebih komoditas, dapat diperoleh secara nyata dan bernilai ekonomis.
b. Cadangan
adalah bagian dari sumber daya teridentifikasi dari suatu komoditas mineral
yangekomonis dan tidak bertentangan dengan ketentuan hukum dan kebijaksanaan
pada saat itu.
Untuk beberapa jenis endapan mineral, istilah reservedisepadankan dengan ore
atau cadangan bijih. Klasifikasi CadanganMc Kelvey, 1973, membuat klasifikasi
cadangan dan sumber daya mineral sebagai berikut :
a. Sumber daya (resources)
Adalah akumulasi (longgokan) zat padat, cair atau gas yang terbentuk secara
alamiah, terletak di dalam atau di permukaan bumi, terdiri dari satu jenis atau
lebih komoditas, dapat diperoleh secara nyata dan bernilai ekonomis.
b. Sumber daya teridentifikasi (identified resources)
Adalah endapan mineral yang diketahui nyata, baik jenis, bentuk, kedudukan
maupun kuantitas dan kualitasnya. Dasarnya petunjuk geologi, pengambilan conto
dan pengukuran teknis bermetoda.
c. Sumber daya tak teridentifikasi (undiscovered resources)
Adalah zona endapan mineral yang belum diketahui secara nyata, baik
bentuk,kedudukan maupun kuantitas dan kualitasnya. Terbentuknya endapan
mineral hanya diperkirakan berdasarkan teori-teori geologi secara garis besar.

2
Metode perhitungan cadangan sendiri adalah cara untuk menentukan volume bahan
galian yang akan ditambang untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Metode
perhitungan cadangan diketahui ada beberapa jenis yaitu metoda-metoda konvensional
yang digunakan di dalam perhitungan cadangan antara lain :
1. Metoda trianguler
2. Metoda daerah pengaruh
3. Metoda penampang
4. Metoda isoline
Parameter-parameter yang penting adalah antara lain :
- kadar bijih
- ketebalan dan luas
- porositas dan kandungan air
- berat jenis.

2.2.Metode Perhitungan Cadangan Mineral

2.2.1.Emas Primer
Dalam Perhitungan Cadangan Emas ada banyak metode yang bisa digunakan
diantaranya adalah Metode Penampang dan Metode Isoline.

1. Metode Penampang
Metoda ini digunakan dengan cara sebagai berikut :
1) Membuat irisan-irisan penampang melintang yang memotong endapan
yang akan dihitung.
2) Dari masing-masing penampang dihitung terlebih dahulu luasan endapan
pada masing-masing endapan.
3) Setelah luasan dihitung, maka digunakan rumusan perhitungan cadangan
emas pada metoda penampang.
Beberapa rumusan dalam metoda penampang dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Rumus mean area

Digunakan untuk endapan yang mempunyai geometri teratur (luasan


masing-masing penampang tidak jauh berbeda.

Rumus mean area :

3
Dimana: S1 & S2 = luas penampang

L = jarak antar penampang

V = volume

2. Rumus Prismoida
Digunakan untuk endapan yang mempunyai geometri tidak teratur (luasan
masing-masing penampang tidak teratur.

Rumus prismoida :

dimana : S1 & S2 = luas penampang ujung

m = luas penampang tengah

L = jarak antara S1 & S2

4
V = volume

3. Rumus Kerucut Terpancung

Digunakan untuk endapan yang mempunyai geometri seperti kerucut yang


terpancung pada bagian puncaknya.

Rumus kerucut terpancung

dimana : S1 & S2 = luas penampang atas dan bawah

L = jarak antara S1 & S2

V = volume

2. Metoda Isoline

Metoda ini sangat praktis diterapkan pada endapan-endapan dalam (hipogen),


dimana ketebalan dan kadar sekaligus berubah dengan mengecil ke tepi tubuh bijih.

Volume dapat dihitung dengan cara menghitung luasan daerah yang terdapat di dalam
garis kontur, dan selanjutnya dapat diketahui kadar rata-rata dari badan bijih emas
tersebut, melalui persamaan :

dimana;

g0 = kadar minimum bijih

g = interval kontur kadar (konstan)

5
A0 = luas tubuh bijih dengan kadar g0 atau lebih besar

A1 = luas tubuh bijih dengan kadar g0+g atau lebih besar

A2 = luas tubuh bijih dengan kadar g0+2g atau lebih besar, dst

untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada contoh berikut :

maka kadar rata-rata adalah :

2.2.2.Metode Perhitungan Cadangan Timah placer

1. Metode perhitungan cadangan timah sekunder

Dalam melakukan metode perhitungan cadangan haruslah ideal dan sederhana,


cepat dalam pengerjaan dan dapat dipercaya sesuai dengan keperluan dan
kegunaaan. Metode perhitungan harus dipilih secara hati hati dan rumusan
yang dipilih harus sederhana dan mempermudah perhitungan sehingga
dapat menghasilkan tingkat kepercayaan dan ketepatan yang sama dengan
metode yang kompleks. Maka tingkat kebenaran perhitungan cadangan
tergantung pada ketepatan dan kesempurnaan pengetahuan atau endapan atau
modek genetiknya.

6
Pemilihan metode untuk perhitungan cadangan tergantung pada :

a. Keadaan Geologi dari Endapan : Topografi daerah penelitian berupa


perbukitan bergeombang.
b. Ketersediaan Data : Tidak adanya data lubang bor yang menunjukan
ketebalan endapan sehingga data merupakan indikasi geologi saja.
c. Jenis Bahan Galian Bijih Timah merupakan jenis bahan galian
golongan A yang mempunyai bentuk dan geometri yang sederhana,
dan memiliki asosiasi dengan mineralmineral lainnya.
Secara umum endapanendapan bahan galian dapat dikategorikan atas
sederhana (simple) atau komplek (complex) tergantung dari distribusi kadar
dan bentuk geometrinya.Kriteria untuk mengkategorikan endapan bahan
galian ini didasarkan atas pendekatan geologi .Untuk kategori kompleks
dicirikan dengan kadar pada batas endapan dan pada tubuh bijihnya sangat
bervariasi serta bentuk geometrinya yang kompleks yang sederhana dan kadar
pada batas endapan .
Dalam metode ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa metode perhitungan :
a. Blok Teratur ( Reguler Block)
Metode ini digunakan unutk grid grid lubamg bor yang teratur. Jika
grid grid lubang bor yang membentuk grid yang teratur, makaa dapat dibagi
menjadi blok- blok yang teratur pula seperti bujur sangkar atau persegi
panjang dengan satu lubang bor terletak pada masing masing blok.
b. Metode Poligon
Metode Poligon digunakan untuk daerah yang grid lubang bor tidak
seragam, dimana polygon setiap lubang bor diletakkan di tengah tengah
polygon yang tidak teratur. Volume setiap polygon merupakan hasil perkalian

polygon antara luas daerah perngaruh dengan ketebalan / ketinggian.

7
c. Metode Segitiga (khusus endapan darat : colluvium)
Dalam metode segitiga ini, luasan dibagi bagi dalam bentuk segitiga
dengan menggunakan / menggambarkan garis garis diantara lubang bor-
lubang bor. Ketebalan / ketinggian pada setiap segitiga ditentukan sebagai rata
rata lubang bor pada setiap segitiga. Metode triangular ini bisa digunakan

untuk endapan tumah sekunder yang bertipe colluvium.

2. Perhitungan CadanganTimah secara Manual

Dalam melakukan perhitungan volume cadangan di TB Nudur Hilir masih


menggunakan cara manual dengan menggunalan metode grafis. Untuk
menghitung luas digunakan mal grid yang terbuat dari kertas transparan
(milimeter kalkir), luas tanah yang diukur dengan kelipatan dari luas jala jala
grid. Sedangkan untuk menghitung volume menggunakan rumus dilakukan
ketebalan rata rata lubang bor, Dalam menghitung cadangan nudul hilir
wasprod IV mempunyai cara yang berbeda dengan yang dilakukan
pada penelitian. Setiap Lubang bor dibagi menjadi beberapa kotak dengan
ukuran tertentu kemudian dengan menggunakan mal grid ukuran 0,5 x 0,5
dihitung jumlah kelipatan grid yang masuk dalam kotak tersebut, hasil
perhitungan tersebut direduksi dengan cara membagi jumlah tersebut dengan
16 kotak yang merupakan daerah pengaruh dari setiap lubang bor.

a. Perhitungan Produksi Bijih Timah

8
Dengan memperhatikan kekayaan timah tiap tiap lubang bor dan luas daerah
cadangan , maka dapat dibuat garis rencana sebagai batas daerah dalam
perhitungan cadangan. Adapun rangkaian proses perhittungan secara manual,
adalah sebagai berikut :
Pembuatan Blok
Pembuatan Blok bertujuan untuk mempermudah perhitungan area dari suatu
lubang bor yang bersingguhan dengan lubang bor yang ada di sekitarnya.
Perhitungan area lubang bor akan lebih mudah jika lubang bor yang ada
memiliki jarak yang teratur antara satu lubang bor yang lain, yang biasa
disebut dengan blok teratur. Akan tetapi jika jarak antar blok tidak beraturan
maka akan menggunakan system polygon .
Perhitungan Jumlah Reduksi
Reduksi adalah perbandingan antara luas daerah pengaruh tiap lubang bor
(Are of Influence) dengan luas pengaruh lubang bor yang dianggap baku pada
suatu peta cadangan dengan skala tertentu. Setelah blok telah selesai dibuat,
selanjutnya adalah menghitung jumlah reduksi yang ada pada masingmasing
blok, dengan cara memplot kotak reduksi pada peta lubang bor yang telah
dibuat blok. Kotak reduksi adalah kotak kotak berukuran 1 m x 1m x1 m
yang digambarkan pada kertas transparan yang dimana ukuran suatu reduksi
adalah 40 x 40 untuk bor daray. Jumlah reduksi dihitung dalam setiap lubang
blok, jika semua blok telah dihitung jumlah reduksinya maka selanjutnya
adalah menjumlahkan seluruh reduksi dari masing masing blok.
Penggalian Reduksi Dengan Tebal
Penggalian reduksi dengan kedalaman lubang bor, bertujuan untuk
mendapatkan tebal dari masing masing blok yang reduksinya dikalikan
dengan kedalaman lubang bor. Dengan cara mengalikan reduksi dari lubang
bor dengan kedalamannya
Penggalian Reduksi Dengan Kg/Sn
Penggalian reduksi dengan Kg/Sn yaitu dengan cara mengalikan reduksi suatu
lubang bor dengan Kg/Sn (kuantitas Sn) lubang bor tersebut.

2.2.3.Bijih Besi
Metoda-metoda konvensional yang biasa digunakan dalam perhitungan cadangan
bijih adalah:

9
1. Metoda Triangular
2. Metoda Daerah Pengaruh (Area of Influence)
3. Metoda Penampang (Cross Section)
4. Metoda Isoline.

Parameter-parameter yang penting antara lain adalah:

1. Kadar Bijih (Grade);


Perhitungan cadangan bijih tentunya merupakan salah satu parameter yang
sangat penting dan umumnya hasil akhir bisa memberikan gambaran tentang
kandungan kadar rata-rata dari suatu cadangan bijih.
Ketebalan dan Luas (Thickness and Area); Ke dua parameter ini mempunyai
hubungan dengan geometri endapan dan penyebaran bijih.

Keterangan:

ts = tebal yang sebenarnya dari endapan

th = ketebalan dalam arah horisontal

tv = ketebalan dalam arah vertikal

ts= th sin b = tv cos b


ts = tebal yang sebenarnya dari endapan
Untuk mengetahui luas (S) endapan;
Sh = Ss sin b atau; Sv = Ss cos b
Dimana;
Sh = Luas horisontal
Sv = Luas vertikal

Ss = Luas yang sebenarnya

2. Berat Jenis (Density);


Beberapa hubungan yang penting adalah;

10
Dimana:

Gm= Berat jenis dari mineral tanpa pori, tanpa kandungan air (Moisture
Content)
Gd= Berat jenis batuan (material) kering, tanpa kandungan air hanya pori
Gn= Berat jenis batuan (material) dalam keadaan alami dengan pori dan
kandungan air
P = Porositas
M = Kandungan air (Moisture Content)

Hubungan antar parameter-parameter tersebut bisa pula diilistrasikan pada


gambar di bawah ini;

3. Penentuan Kadar Air Bijih;


Untuk menentukan kadar air bijih di laboratorium, tata laksananya adalah sebagai
berikut;
bijih yang berasal dari lapangan terlebih dahulu ditimbang untuk diketahui berat
naslinya. Selanjutnya bijih tersebut dikeringkan pada tempertur (suhu) 100d
Celcius selama 12 jam atau hingga beratnya konstan.
Kadar air bijih dapat dihitung menggunakan persamaan beriku

Dimana;
W1 = berat sampel sebelum dikeringkan
W2 = berat sampel setelah dikeringkan

11
A. Tonnage Factor
Di dalam perhitungan cadangan bijih, tonnage factor juga digunakan. Tonnage
factor dapat ditentukan untuk bijih kering ataupun basah (alami).

Tonnage Factor untuk bijih kering (Inplace);

Tonnage Factor untuk bijih basah (Natural)

Menghitung volume setiap segmen dapat ditentukan dengan persamaan;

V = 1/3 (t1 + t2 + t3) S

S = luas segitiga pada segmen 123 (sesuai gambar)


t = ketebalan endapan masing-masing segmen

Total volume seluruh prisma triangular sama dengan volume seluruh segmen pada
blok uji.
catatan;
alam perhitungan cadangan, metoda triangular dapat dianggap sebagai metoda
standar. Meskipun demikian kesalahan yang muncul di dalam penggunaan metoda ini
perlu diperhatikan, sebab terjadinya kesalahan tersebut adalah akibat dari cara

12
mengelompokkan segita-segitiga prisma di dalam suatu poligon.
Coba perhatikan empat persegi panjang ABCD.

Ada dua cara untuk mengkonstruksikan prisma-prisma triangular dari prisma empat
persegi panjang.
Kesalahan relatif dari volume suatu blok yang dibatasi oleh empat (4) lubang bor
dengan ketebalan t1, t2, t3 dan t4 dapat dijelaskan sebagai berikut:
volume dari prisma dapat dihitung dari V1 dengan prisma-prisma triangular
ABD dan BDC atau V2 dengan prisma-prisma triangular ABC dan ADC.

Di dalam perhitungan V1, t2 dan t4 dihitung dua kali sedangkan di dalam perhitungan

V2, t2 dan t3 yang dihitung dua kali.


Volume dari prisma dapat diperoleh dengan membagi dua jumlah V1 dan V2.

Kesalahan relatif antara V1 dan V2 adalah:

13
Bila dV = 0, maka V1 = V2 dan t1 + t3 = t2 + t4
Dengan demikian, maka metoda triangular hanya teliti bila jumlah t1 dan t3 untuk
setiap prisma sama dengan jumlah t2 dan t4. Andaikan (t1 + t3) dua kali lebih kecil
dari (t2 + t4), yakni;
2(t1 + t3) = (t2 + t4), maka volume V1 lebih besar dari V2 dan kesalahan relatif
adalah sebesar 20 persen.

2.2.4. Bauksit
Perhitungan cadangan bauksit berdasarkan kepada data penyebaran bauksit,
ketebalan, dan jarak antar test pit, kemudian dihitung dengan menggunakan rumus

Volume = luar area x tebal lapisan bauksit......... (1)


Raw ore = volume x specific gravity (SG)........... (2)
Concretion factor (CF) = Berat sample setelah dicuci x 100 % / Berat sample sebelum
dicuci ............(3)
Whased ore = (raw ore x CF) / 100 ............(4)

Keterangan :
- Grid = jarak antar test pit
- Luas area = Luas jarak antar grid
- Tebal = Tebal lapisan ore bauksit diukur pada test pit
- SG = Berat jenis bauksit (1,6)
- Raw ore = Berat sample per luasan daerah sumur uji sebelum dicuci
- Concretion factor (CF) = Merupakan persen berat bauksit bersih tanpa pengotor.
- Whased ore = berat sample per luasan daerah sumur uji setelah dicuci
- Tebal lapisan bauksit diukur pada masing-masing test pit.

Kemudian dai hasll analisis laoratorium masing-masing unsur dikalikan dengan


whased ore, maka akan didapatkan volume masing-masing unsur.

2.2.5.Nikel
Metode Perhitungan Cadangan bijih Nikel dengan Teknik "Pengaruh area"
Secara garis besar proses perhitungan cadangan dibagi menjadi tiga bagian utama
yaitu pengelompokan jenis bijih berdasar tipe batuan atau lapisan batuan yang
berdasarkan pada kebutuhan pangsa pasar internasional, mengkompositkan masing-

14
masing titik bor agar dapat diperoleh nilai rata-rata ketebalan dari tiap perhitungan
analisis data bor, dan menghitung cadangan sumber daya.
Perhitungan volume nikel laterit di
daerah penelitian dilakukan berdasarkan pada data yang diperoleh dari pemboran
eksplorasi. Data-data pemboran tersebut kemudian dianalisis sesuai dengan kadar
nikel untuk mengetahui ketebalan bijih (ore) dari tiap lubang bor sehingga dapat
digunakan metode area of influence atau daerah pengaruh, dimana untuk setiap titik
bor diekstensikan sejauh setengah jarak dari titik-titik di
sekitarnya yang membentuk satu daerah pengaruh (area of influence).
Luas blok dihitung berdasarkan segi empat yang terbentuk dari daerah pengaruh yaitu
batas luar dari daerah pengaruhsuatu titik bor yang merupakan setengah dari
spasi titik bor. Besar volume ditentukan untuk mengetahui seberapa besar cadangan
bijih nikel sehingga dapat dilakukan penambangan.

2.2.6.Batu Bara
Perhitungan cadangan batubara dengan menggunakan metode cross section
rule of gradual change dan rule of nearest point ini dilakukan pada wilayah rencana
penambangan Pit tergantung pada ketebalan, panjang dan densitas batubara disetiap
penampang dan jarak interval setiap penampang. Jarak antara tiap sayatan bervariasi
mengikuti letak singkapan pada penyelidikan eksplorasi. Dalam perhitungan kali ini,
di terapkan dua pendekatan metode cross section, yaitu Rule of Gradual Change
(standard) dan Rule of Nearest point (linear).

Cadangan adalah bagian dari sumberdaya terukur yang telah diketahui dimensi,
kedalaman, dan kemiringan. Dalam penelitian kali ini, batasan batasan yang
dijadikan acuan adalah nilai stripping ratio 5 (BCM Overburden) : 1 (Ton batubara),
kedalaman elevasi Pit Bottom 260 m, serta Overall Slope Angle 410.

Semakin kecil overall slope angle,, maka akan semakin besar nilai stripping ratio dan
tonase batubara serta volume lapisan penutup juga semakin besar yang akan
diperoleh. Sebaliknya semakin besar nilai overall slope angle, maka akan semakin
sedikit nilai stripping ratio dan tonase batubara serta volume lapisan penutup yang
terbongkar.

15
Selanjutnya, elevasi pit bottom sangat berpengaruh pada penentuan nilai stripping
ratio. Penting kiranya untuk menentukan batasan pit bottom karena pada saat proses
penambangan berlangsung sebisa mungkin lantai dari pit dalam kondisi
datar.Semakin dalam elevasi pit bottom maka akan semakin besar nilai stripping ratio,
tonase batubara serta volume overburden yang terambil juga semakin besar.
Sebaliknya semakin tinggi atau mendekati permukaan elevasi pit bottom, maka akan
semakin kecil nilai stripping ratio dan tonase batubara serta volume overburden akan
semakin kecil.

16
BAB III

PENUTUP

3.1.Kesimpulan

Kegiatan perhitungan sumberdaya dilakukan pada tahap eksplorasi sebelum tahap


persiapan penambangan. Kegatan ini dilakukan untuk menghitung tonase
sumberdaya dari suatu endapan bahan galian. Untuk menghitung sumberdaya dapat
dilakukan dengan berbagai macam metode. Perhitungan cadangan dapat dilakukan
dengan berbagai metode, tetapi sebelumnya harus diketahui batasan antara
Sumberdaya (resource) dan Cadangan (reserve). 5) Isaaks dkk., (1989), An
Introduction to Applied Geostatistics, Oxford University Press. Pada penelitian ini
metode yang digunakan untuk menghitung sumberdaya batubara seluas 200 Ha dari
KP PT. Satria Mayangkara Sejahtera adalah Metode Cross Section dengan Pedoman
Rule of Gradual Changes dan dengan Pedoman Rule of Nearest Point.

A. Pengertian Sumberdaya dan Cadangan Batubara

Sumberdaya (Resource) adalah jumlah atau kuantitas bahan galian yang


terdapat di permukaan atau di bawah permukaan bumi yang sudah diteliti
tetapi belum dilakukan studi kelayakan dan mungkin dapat
diekstraksikan dengan tingkat keberhasilan yang masih harus
dipertimbangkan. Istilah sumberdaya dalam

bidang teknis kebumian dapat berkonotasi kuantitatif, yaitu perkiraan besarnya


potensi sumberdaya batubara yang secara teknis menunjukkan harapan untuk
dapat dikembangkan setelah dilakukan penelitian dan eksplorasi.

Cadangan (Reserve) adalah bagian dari sumberdaya yang telah diteliti dan
dikaji kelayakannya dengan seksama dan telah dinyatakan layak serta dapat
ditambang berdasarkan kondisi ekonomi dan teknologi pada saat itu.
Terdapat empat kategori pengertian cadangan yang sering digunakan di
dunia pertambangan, yaitu :

a. Cadangan ditempat (In Place Reserve)

17
Cadangan ditempat diartikan sebagai jumlah batubara yang sebenarnya
terdapat di bawah permukaan yang telah dihitung dan memenuhi
persyaratan ekonomi pertambangan dalam kondisi tertentu. Cadangan
ditempat tidak seluruhnya dapat ditambang, secara teknis dapat ditambang
berdasarkan teknologi yang tersedia pada saat itu. Pada proyek
pertambangan komersial, cadangan ditempat selanjutnya dievaluasi untuk
memperhitungkan berapa sebenarnya jumlah batubara yang akan dapat
dimanfaatkan melalui operasi penambangan.

b. Cadangan dapat ditambang (Mineable Reserve)

Cadangan dapat ditambang adalah bagian dari cadangan ditempat (in place
reserve) yang diharapkan akan dapat ditambang dengan teknologi saat ini dan
sesuai kondisi ekonomi saat ini.

c. Cadangan telah ditambang (Recoverable Reserve)

Cadangan telah ditambang adalah cadangan yang berasal dari (Mineable


Reserve) yang telah ditambang atau terambil atas dasar biaya dan kondisi
ekonomi yang telah ditetapkan. Cadangan dapat ditambang dalam
lingkungan tambang terbuka pada umumnya diperhitungkan lebih dari 90%
dari cadangan ditempat sedangkan untuk tambang bawah tanah 50 60%,
namun kondisi struktur endapan dan metoda penambangan yang digunakan
juga memegang peranan dalam menentukan jumlah cadangan yang dapat
ditambang. Angka persentasi tersebut diperoleh dari pengalaman operasi
tambang dan hanya berlaku untuk tambang bersangkutan.

d. Cadangan dapat dijual (Saleable Reserve)

Cadangan dapat dijual adalah cadangan yang berasal dari (Recoverable


Reserve) yang akan dijual langsung atau dilakukan pengolahan terlebih dahulu
dengan pertimbangan kualitas batubara dan permintaan pasar, apabila kualitas
batubara sesuai permintaan pasar tanpa harus dilakukan pencucian atau
blending maka batubara dapat langsung dijual, namun apabila batubara
terlalu banyak pengotor sehingga kualitas batubara tidak sesuai dengan

18
permintaan pasar maka harus dilakukan pencucian dan blending sehingga
kualitas batubara sesuai dengan permintaan konsumen.

B. Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan

Keberadaan bahan galian di dalam perut bumi dapat diketahui dari sejumlah
indikasi adanya bahan galian tersebut di permukaan bumi. Keadaan seperti
demikian memberikan kesempatan kepada para ahli untuk melakukan
penyelidikan lebih lanjut, baik secara geologi, geofisika, pemboran
maupun lainnya.

Penyelidikan secara geologi pada dasarnya belum dapat menentukan secara


teliti dan kuantitatif informasi mengenai bahan galian tersebut, akan tetapi
sudah dapat dikategorikan adanya sumberdaya (resource). Bila penyelidikan
dilakukan secara lebih teliti, yaitu dengan menggunakan berbagai macam
metode (geofisika, geokimia, pemboran dan lainnya), maka bahan galian
tersebut sudah dapat diketahui dengan lebih pasti, baik secara kualitatif
maupun kuantitatif. Dengan demikian bahan galian dikategorikan sebagai
cadangan (reserve).

Sumberdaya batubara adalah bagian dari endapan batubara yang diharapkan


dapat dimanf aatkan dan diolah lebih lanjut secara ekonomis. Sumberdaya ini
dapat meningkat menjadi cadangan setelah dilakukan kajian kelayakan dan
dinyatakan layak untuk ditambang secara ekonomis dan sesuai dengan
teknologi yang ada.

Klasifikasi Sumberdaya (resource) batubara dikategorikan sebagai berikut :

a. Sumberdaya Batubara Hipotetik (Hypothetical Coal Resource) adalah jumlah


batubara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang
dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk
tahap penyelidikan survei tinjau.
b. Sumberdaya Batubara Tereka (Inferred Coal Resource) adalah jumlah
batubara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang

19
dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk
tahap penyelidikan prospeksi.
c. Sumberdaya Batubara Tertunjuk (Indicated Coal Resource) adalah jumlah
batubara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang
dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk
tahap eksplorasi pendahuluan.
d. Sumberdaya Batubara Terukur (Measured Coal Resource) adalah jumlah
batubara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang
dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk
tahap eksplorasi rinci.
e. Sumberdaya Batubara Kelayakan (Feasibility Coal Resource) adalah
sumberdaya batubara yang dinyatakan berpotensi ekonomis dari hasil Studi
Kelayakan atau suatu kegiatan penambangan yang sebelumnya yang biasanya
dilaksanakan di daerah Ekplorasi Rinci.
f. Sumberdaya Batubara Pra Kelayakan (Prefeasibility Coal Resource) adalah
sumberdaya batubara yang dinyatakan berpotensi ekonomis dari hasil Studi
Pra Kelayakan yang biasanya dilaksanakan di daerah Eksplorasi Rinci dan
Eksplorasi Umum.
g.
C. Dasar Pemilihan Metode

Dalam perhitungan sumberdaya di PT. Satria Mayangkara Sejahtera ini


metode yang digunakan yaitu Metode Cross Section dengan Pedoman Rule of
Gradual Changes dan dengan Pedoman Rule of Nearest Point. Metode Cross
Section dipilih karena metode ini sederhana, aplikasi perhitungannya mudah
dan cepat, mudah digambar, dimengerti dan dikoreksi. Hal ini menunjukkan
bahwa metode ini dapat dikerjakan secara manual. Meskipun banyak program
komputer yang dapat secara fleksibel mendesain bentuk dan
mengkalkulasinya, akan tetapi beberapa komputer telah didesain untuk
mengolah kembali interpretasi yang telah dilakukan oleh enginer atau geologis
secara manual. Kelebihan lain dari Metode Cross Section yaitu cocok
diterapkan pada endapan batubara yang pada umumnya memiliki homogenitas
yang tinggi, baik berupa ketebalan maupun kemiringan seam.

20
a. Metode Cross Section dengan Pedoman Rule of Gradual Changes

Metode ini adalah salah satu metode perhitungan sumberdaya secara


konvensional. Mengikuti Pedoman Rule of Gradual Changes, dengan
menghubungkan titik antar pengamatan terluar. Sehingga untuk mencari satu
volume dibutuhkan dua penampang.

1. Perhitungan Sumberdaya Batubara

Penerapan perhitungan tonase sumberdaya batubara dengan Metode Cross


Section dengan Pedoman Rule of Gradual Changes sangat tergantung pada
data pemboran dan data singkapan endapan. Pada prinsipnya ada beberapa
langkah dalam perhitungan, yaitu membagi lapisan batubara menjadi beberapa
blok-blok 56 penampang dengan selang jarak tertentu. Selang jarak tersebut
dapat sama tiap blok atau berbeda-beda tergantung pada kondisinya. Langkah-
langkahnya adalah sebagai berikut:

Menghitung luas sayatan

Menghitung jarak tiap sayatan

Menghitung tonase batubara

2. Perhitungan Tanah Penutup

Penerapan perhitungan lapisan tanah penutup dengan metode sayatan sangat


tergantung pada data pemboran dan data singkapan endapan. Pada prinsipnya
ada beberapa langkah dalam perhitungan, yaitu membagi lapisan tanah penutu
menjadi beberapa blok-blok penampang dengan selang jarak tertentu. Selang
jarak tersebut dapat sama tiap blok atau berbeda tergantung pada kondisinya.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:

menghitung luas sayatan,

menghitung jarak setiap sayatan,

21
menghitung volume lapisan tanah penutup.

b. Metode Cross Section dengan Pedoman Rule of Nearest Point

Pada metode Metode Cross Section dengan Pedoman Rule of Nearest Point,
setiap blok ditegaskan oleh sebuah penampang yang sama panjang ke setengah
jarak untuk menyambung sayatan. Perhitungan Sumberdaya Batubara

Penerapan perhitungan tonase sumberdaya batubara dengan Pedoman Rule of


Nearest Point sangat tergantung pada data pemboran dan data singkapan
endapan. Pada prinsipnya ada beberapa langkah dalam perhitungan, yaitu
membagi lapisan batubara menjadi beberapa blok-blok penampang dengan
selang jarak tertentu. Selang jarak tersebut dapat sama tiap blok atau berbeda-
beda tergantung pada letak lubang bor. Langkah-langkahnya adalah sebagai
berikut:

1) Menghitung luas sayatan


2) Menghitung setengah jarak dengan sayatan sebelumnya dan sayatan
berikutnya
3) Menghitung tonase batubara
1. Perhitungan Tanah Penutup

Perhitungan tanah penutup dengan metode sayatan linier pada dasarnya sama
dengan perhitungan batubara. Jumlah volume overburden yang terdapat di
daerah penelitian dihitung.

2. Perhitungan Volume

Adapun rumus perhitungan volume yang digunakan adalah rumus luas rata-
rata (mean area) dan rumus kerucut terpancung (frustum).

Rumus Luas Rata-rata (Mean Area)

Rumus luas rata-rata (mean area) adalah rumus yang paling sederhana untuk
perhitungan volume yang terletak di antara dua buah penampang yang sejajar.

Rumus Kerucut Terpancung (Frustrum)

22
Persamaan frustrum merupakan salah satu persamaan yang juga digunakan
untuk mengestimasi volume dari suatu endapan. Rumus ini digunakan untuk
endapan yang mempunyai geometri seperti kerucut yang terpancung pada
bagian puncaknya.

3.2.Saran

Apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini saya selaku penulis memohon
saran untuk perbaikan, karena saya masih banyak kekurangan.

23
DAFTAR PUSTAKA

https://www.google.com/search?q=pengertian+perhitungan+cadangan&ie=utf-8&oe=utf-
8&client=firefox-b

https://www.google.com/search?q=pengertian+perhitungan+cadangan&ie=utf-8&oe=utf-
8&client=firefox-b

https://translate.google.com/?hl=id#id/en/jurnal%20tentang%20perhitungan%20cadangan%2
0nikel

https://scholar.google.com/scholar?q=international+journal+about+the+calculation+of+nicke
l+reserves&hl=id&as_sdt=0&as_vis=1&oi=scholart&sa=X&ved=0ahUKEwjhz_r

https://www.google.com/search?client=firefox-
b&q=international+journal+about+the+calculation+of+BAUXITE+reserves&oq=internation
al+journal+about+the+calculation+of+BAUXITE+

https://muktiarsandi.wordpress.com/2016/01/15/perhitungan-sumberdaya-dan-cadangan/

http://pdf2doc.com/id/

http://pdf2doc.com/id/download/dhas6nvgeiltf6zb/o_1bsk4h5nvundsrt12tigtn76ua/internasio
nal%20batubara.doc?rnd=0.5941929177386627

24