Anda di halaman 1dari 2

Kesepian Tanpa Sahabat

Cahaya mentari mulai merangkak masuk ke kamarku melalui lubang ventilasi di kamar 4x5
ini. Aku pun terbangun dari tidur lelap yang berdurasi 60 menit semenjak selesai sholat subuh.
Setelah itu aku pun melakukan tugasku sehari hari yaitu belajar di sekolah. Sesampainya di
sekolah aku mengucapkan janji yang aku buat semalam, tetapi aku merasa kesepian tanpa
hadirnya persahabatan dan orang-orang yang tahu isi di dalam hatiku.

Terkadang aku sempat berfikir dan melihat ke luar kaca yang sepi dan hening tanpa ada
orang yang datang seperti kehidupan yang hilang tanpa kasat mata. Aku pun terdiam dan
menoleh ke kanan dan ke kiriku begitu banyak teman melainkan aku seperti hidup sendiri yang
hanya bisa menundukkan kepala. Aku selalu berharap akankah ada yang menemaniku saat
bercanda dan saat aku menangis, secerca harapan pun aku ingin engkau tau betapa berharapnya
aku memiliki sahabat di ruangan ini.

Setelah aku berharap seperti itu, aku menemukan teman yang mengetahui karakterku,
melainkan dia hanya sebatas teman. Kemudian hari aku melirihkan seyumanku padanya
melainkan apa yang aku dapat adalah bisa berteman dengan dia, karena dialah aku bisa bertahan
di ruangan kelas ini. Kalau dia tidak ada, aku mungkin merasakan kegundahan hati di ruang
kelasku ini, suasana pagi yang cerah ini aku bisa bergembira dengan lepas, di sela-sela pelajaran
aku berusaha mengajak dia berdiskusi dengan mengenal satu sama lain.

Hari mulai menjelang sore dan ketika itu aku pun pulang, saat aku menunggu jemputan aku
pun melihat sepeda motor yang berlalu lalang di mataku seperti kehidupan yang berganti seiring
waktu, setiap kali aku melihatnya aku selalu teringat akan persahabatan yang selalu berjalan tak
tentu arah dengan seiring waktu.

Seandainya waktu bisa diulang mungkinkah aku mengharapkan sahabatku kembali di


kehidupan ku lagi. Aku sangat merindukan sahabatku yang dulu, tanpa kalian mungkin aku
hanya menyendiri dan merenung kesepian. Aku menatap awan yang tinggi yang menjulang
dilangit-langit dengan mengharapkan cahaya di hati yang hilang arah ini.

Keesokan harinya saat aku sedang ke kantin ada temanku bernama Raidatul Maghfirah. Dia
memanggil aku dengan sebutan Dila

Kemudian dia berkata “Mau kemana kamu Dila?”

Aku menjawab “Aku mau pergi ke kantin, kamu sendiri mau kemana?”
Dia berkata dengan rasa gembira “Aku juga mau ke kantin, kalau begitu kita jalan bersama
ke kantin”

Aku menjawab dengan rasa haru “Iya, kita jalan bersama”

Setelah sempat berbincang-bincang akhirnya aku dan Raidatul pergi ke kantin, tetapi aku
kecewa dengannya saat sedang ke kantin, Raidatul bertemu dengan temannya saat itulah aku
dicuekin, Aku lalu berfikir mengapa saat aku menganggap dia teman, saat itu juga aku kesepian
merindukan sahabat lamaku.