Anda di halaman 1dari 41

TINGKAT KERAMAHAN LINGKUNGAN

ALAT TANGKAP JARING INSANG (GILLNET)


TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN KEMBUNG
(Rastrelliger spp) DI PERAIRAN PEKALONGAN

USULAN RISET

IDZHAR SYIFANA ROFIQO


NPM 230110140070

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
TINGKAT KERAMAHAN LINGKUNGAN
ALAT TANGKAP JARING INSANG (GILLNET)
TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN KEMBUNG
(Rastrelliger spp) DI PERAIRAN PEKALONGAN

USULAN RISET
Diajukan untuk Menempuh Seminar Usulan Riset

IDZHAR SYIFANA ROFIQO


NPM 230110140070

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
JUDUL : TINGKAT KERAMAHAN LINGKUNGAN
ALAT TANGKAP JARING INSANG (GILLNET)
TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN KEMBUNG
(Rastrelliger spp) DI PERAIRAN PEKALONGAN

NAMA : IDZHAR SYIFANA ROFIQO

NPM : 230110140070

Menyetujui:

Komisi Pembimbing: Dekan,


Ketua,

Dr. Ir. Zahidah, MS Dr. Ir. Iskandar, M.Si.


NIP.19620917 198701 2 002 NIP. 19610306 198601 1 001

Anggota,

Ir. Hj. Nia Kurniawati, M.Si


NIP 19530903 198903 2 001
KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan riset yang berjudul
Tingkat Keramahan Lingkungan Alat Tangkap Jaring Insang (Gillnet)
Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Kembung (Rastrelliger spp) di Perairan
Pekalongan

Penulis pada kesempatan ini mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dr. Ir. Zahidah, MS sebagai dosen pembimbing yang telah membimbing penulis
dalam penyusunan usulan riset.
2. Ir. Hj. Nia Kurniawati, M.Si sebagai dosen pembimbing sekaligus wali dosen
yang telah membimbing penulis dalam penyusunan usulan riset.
3. Lantun Paraditha Dewanti, S.Pi., M.EP selaku dosen penelaah.
4. Dr. Ir. Iskandar, M.Si. selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
5. Prof. Dr. Ir. Junianto, MP. selaku Ketua Program Studi Perikanan Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan.
6. Kedua orang tua, Edwin Krisnendi dan Siti Romlah serta kakak dan adik yang
selalu memberikan dukungan dan do’a serta materil kepada penulis dalam
penyusunan usulan riset.
Serta semua pihak yang tidak bisa dituliskan satu persatu yang telah
membantu dari awal hingga selesainya usulan riset ini. Semoga amal dan
kebaikkannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT Yang Maha
Pengasih dan Maha Penyayang. Akhir kata, penulis berharap usulan riset ini dapat
bermanfaat bagi semua orang dan khususnya bagi penulis.

Jatinangor, Juli 2017

Idzhar Syifana Rofiqo

ii
DAFTAR ISI

BAB Halaman

KATA PENGANTAR ..............................................................................ii


DAFTAR ISI ............................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................ v

I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2 Identifikasi Masalah ......................................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian.............................................................................. 3
1.4 Kegunaan Penelitian ......................................................................... 3
1.5 Pendekatan Masalah ......................................................................... 3

II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 6


2.1 Kondisi Umum Pekalongan ............................................................. 6
2.2 Unit Penangkapan Ikan ................................................................... 7
2.2.1 Kapal............................................................................................... 7
2.2.2 Alat tangkap gill net ........................................................................ 7
2.2.3 Konstruksi Gill net .......................................................................... 8
2.3 Selektivitas Jaring Insang (gillnet) ................................................ 11
2.4 Mata Jaring (Mesh Size) ................................................................ 12
2.5 Teknologi Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan ....................... 12
2.6 Hasil Tangkapan ........................................................................... 15
2.7 Faktor yang Menentukan Keberhasilan Operasi Penangkapan .... 16
2.8 Ikan Kembung (Rastelliger spp)................................................... 17
2.9 Morfologi Ikan Kembung (Rastelliger spp) ................................. 18
2.10 Habitat, Distribusi dan Siklus Hidup ............................................ 19
2.11 Ukuran Pertama Kali Matang Gonad ........................................... 20
2.12 Waktu Pemijahan .......................................................................... 21

III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................... 23


3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... 23
3.2 Alat dan Bahan Penelitian ............................................................ 23
3.3 Metode Pengumpulan Data .......................................................... 24
3.4 Pengambilan Data ......................................................................... 24
3.5 Analisis data ................................................................................. 26

iii
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 29
LAMPIRAN .................................................................................................... 33

iv
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

1. Alat Tangkap Jaring Insang (Gillnet) .............................................................8


2. Kontruksi gillnet ...........................................................................................10
3. Ikan Kembung ..............................................................................................18
4. Bagan pemanfaatan ikan hasil tangkapan. ...................................................29

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kota Pekalongan merupakan salah satu daerah di Jawa Tengah yang dikenal
dengan potensi perikanannya, hal tersebut dikarenakan di Pekalongan terdapat
Pelabuhan Perikanan Nusantara yang merupakan salah satu pelabuhan perikanan
yang memiliki potensi sumber daya perikanan ikan pelagis di Jawa Tengah. Potensi
yang cukup besar tersebut memberikan pengaruh yang baik terhadap perkembangan
produksi perikanan ikan pelagis di Kota Pekalongan dan sekitarnya (Daryati 1999).
Kegiatan perikanan di Pekalongan berkembang dengan baik, hal ini didukung
dengan berdirinya Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan ( PPN Pekalongan ).
Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan merupakan satu-satunya pelabuhan tipe
B yang ada di Perairan Pantai Utara Jawa Tengah. PPN Pekalongan merupakan salah
satu pelabuhan perikanan yang telah berhasil dalam pengelolaannya, baik ditinjau
dari segi fasilitas, produksi dan nilai produksi, maupun pengaturan secara lengkap
mengenai fungsinya sebagai pelabuhan perikanan (Daryati 1999).
Alat tangkap yang banyak dioperasikan di PPN Pekalongan adalah jenis
pukat: pukat cincin (purse seine), pukat cincin mini (mini purse seine), jaring insang
(gillnet), pancing (longline) dan sebagainya. Di Kota Pekalongan alat penangkapan
ikan sudah menggunakan purse seine, berjumlah 146 unit dengan hasil tangkapan
sebesar 92% dari total produksi ikan di PPN Pekalongan. Sekitar 8% produksi
lainnya adalah dihasilkan dari alat tangkap gillnet yang berjumlah 116 unit. Jumlah
armada penangkapan yang mendaratkan kapal perikanan di PPN Pekalongan tahun
2015 mencapai 274 kapal dengan produksi mencapai 20.790 ton/tahun kg atau
pendaratan harian 51 ton/hari. Ikan yang dominan adalah jenis ikan-ikan pelagis
seperti ikan kembung, layang, lemuru, tongkol, dan selar (PPN Pekalongan)
Jaring insang merupakan salah satu jenis alat tangkap yang banyak digunakan
oleh nelayan, mulai dari jaring insang lingkar, jaring insang dasar, dan jaring insang

1
2

permukaan yang dioperasikan pada waktu malam hari. Usaha penangkapan ikan
dengan menggunakan jaring insang sudah bukan merupakan teknologi yang baru bagi
para nelayan, hal ini disebabkan karena bahannya lebih mudah diperoleh, secara
teknis mudah dioperasikan, secara ekonomis bisa dijangkau oleh nelayan, dan lebih
selektif terhadap ukuran ikan yang tertangkap (Tawari 2013).
Sejauh ini hasil perikanan tangkap tertinggi di Perairan Pekalongan dan
sekitarnya yaitu ikan pelagis kecil, salah satunya ikan kembung (Rastrelliger spp).
Ikan kembung (Rastrelliger spp) merupakan ikan air laut yang banyak pada musim
puncaknya (Maret – Juni). Pemanfaatan ikan kembung banyak digunakan oleh
masyarakat luas karena kandungan gizi yang cukup tinggi yaitu mengandung Omega
3 dan Omega 6 yang baik bagi pencegahan penyakit dan kecerdasan otak, harganya
relatif murah dan mudah diperoleh dipasaran ( Yulisma dkk 2012 )
Sumberdaya ikan, meskipun termasuk sumberdaya yang dapat pulih
(renewable resources) namun bukanlah sumberdaya tidak terbatas. Melihat jumlah
nelayan tangkap yang beroperasi begitu banyak dengan jenis alat tangkap gillnet dan
laju penangkapan begitu tinggi, penangkapan terjadi setiap hari sehingga terindikasi
bahwa sudah terjadi over eksploitasi atau over fishing yang menyebabkan
sumberdaya ikan sudah mulai menipis, ikan besar yang rata-rata berukuran 18 – 25
cm sudah jarang ditemui dan tinggal ikan-ikan kecil yang telah menjadi target
penangkapan ( Amir dkk 2013 ). Oleh karena itu sumberdaya ikan perlu dikelola
secara bertanggung jawab dan berkelanjutan agar kontribusinya terhadap
ketersediaan nutrisi, peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat dapat
dipertahankan bahkan ditingkatkan.
Sehubungan dengan teknologi penangkapan dengan menggunakan alat
tangkap jaring insang (gillnet), ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan agar
dapat memenuhi kriteria penangkapan ikan yang ramah lingkungan antara lain yaitu
terdapat selektivitas terhadap ikan yang dijadikan target tangkapan atau ikan layak
tangkap, pengoperasian gillnet yang dilakukan pada siang hari, dilengkapi pelampung
penanda, tidak memakai mesh size yang dilarang (berdasarkan SK. Menteri Pertanian
3

No.607/KPB/UM/9/1976 butir 3, ukuran mata jaring dibawah 25 mm dengan


toleransi 5% dilarang untuk beroperasi) dan tidak melakukan pencemaran lingkungan
(Martasuganda 2002).
Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian yang membahas
tingkat keramahan lingkungan unit penangkapan jaring insang (gillnet) terhadap
hasil tangkapan ikan kembung (Rastrelliger spp) yang berbasis di perairan
Pekalongan.

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka yang dapat
diidentifikasi pada penelitian ini adalah apakah unit penangkapan gillnet yang
dioperasikan di Perairan Pekalongan ramah lingkungan atau tidak berdasarkan hasil
tangkapan ikan kembung (Rastrelliger spp)

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan tingkat keramahan lingkungan
unit penangkapan gillnet terhadap hasil tangkapan ikan kembung (Rastrelliger spp)
yang beroperasi di perairan Pekalongan.

1.4 Kegunaan Penelitian


Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai tingkat
keramahan lingkungan unit penangkapan gillnet dan komposisi ikan hasil
tangkapannya, bagi pihak-pihak yang terkait sebagai bahan pengkajian dan
pengelolaan perikanan gillnet di Pekalongan.

1.5 Pendekatan Masalah


Menurut Martasuganda (2002), jaring insang (gillnet) adalah satu jenis alat
penangkap ikan dari bahan jaring yang bentuknya empat persegi panjang ukuran mata
4

jaring (mesh size) sama, jumlah mata jaring ke arah horizontal (meshlenght / ML)
jauh lebih banyak dari jumlah mata jaring ke arah vertikal (meshdepth / MD). Pada
lembaran jaring bagian atas diletakkan pelampung (floats) dan pada bagian bawah
diletakkan pemberat (sinkers). Dengan menggunakan dua gaya yang berlawanan arah,
yaitu bouyancy dari floats yang bergerak ke atas dan sinking force dari sinker di
tambah berat jaring dalam air yang bergerak ke bawah, maka jaring akan terentang
(Ayodhyoa 1981).
Selektivitas alat merupakan salah satu kriteria dalam menentukan tingkat
keramahan suatu alat. Gillnet dikategorikan sebagai alat yang ramah lingkungan
karena merupakan alat yang selektif (Booth and Potts 2006). Sebenarnya gillnet
merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan tetapi dalam kondisi tertentu alat ini
menjadi tidak ramah lingkungan, misalnya pada pengoperasiannya di perairan
berkarang terutama pada malam hari akan memberi perluang yang besar untuk
tersangkut dikarang dan dapat mamatahkan karang (Kushima and Miyasaka 2003).
Menurut Bintang dkk.(2015) jaring kembung (gillnet) memiliki ukuran mata
jaring 1,75 inci dengan panjang jaring 750 m. Menurut Permen KP No.18 Tahun
2013 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
Permen KP no.2 Tahun 2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan
Perikanan Republik Indonesia yaitu jaring insang hanyut (driftnets) ukuran mata
jaring (mesh size) ≥ 1,5 inci, panjang tali ris ≤ 1.000 meter. Dengan demikian alat
tangkap jaring kembung (gillnet) sudah sesuai dengan ketentuan Permen KP No.18
Tahun 2013 tersebut.
Dari hasil penenelitian tangkapan utama sebesar 88,805% sedangkan
tangkapan sampingan sebesar 11,195%. Menurut Suadela (2004), bila proporsi hasil
tangkapan sasaran utama ≥ 60% suatu alat tangkap dapat dikatakan ramah
lingkungan. Berdasarkan kriteria tersebut, maka dapat dikatakan jaring insang
(gillnet) ramah lingkungan. Menurut Sarmintohadi (2002) dalam Ramdhan (2008)
keragaman spesies yang tertangkap juga disebabkan karena kesamaan habitat antara
ikan target dan ikan non target.
5

Alat tangkap gillnet yang digunakan di Indramayu dinamakan gillnet


millenium. Menurut Dimas (2008) hasil tangkapan utama alat tangkap gillnet
millennium di Karangsong, Indramayu adalah ikan Tenggiri. Hampir seluruh hasil
tangkapan sampingan dimanfaatkan oleh nelayan yaitu sebanyak 40,5 kg (99,8%)
atau 84 ekor (98,8%) dari tangkapan sampingan, dan sebanyak 0,1 kg (0,2%) atau
1ekor (1,2%) yang dibuang ke laut. Lebih dari 60% tenggiri yang tertangkap adalah
layak secara biologi, karena ukurannya rata-rata telah melebihi ukuran ikan pertama
kali matang gonad (length at first maturity), yaitu 65 cm (panjang cagak).
Berdasarkan kriteria yang dipakai, maka unit penangkapan gillnet millenium di
Karangsong, Indramayu yang dioperasikan pada bulan Maret 2008 tergolong ramah
terhadap lingkungan.
Menurut Efkipano (2012) hasil tangkapan ikan jaring insang millenium
berdasarkan bobot didapat 78,53 % sebagai Hasil Tangkapan Utama (HTU) dan
sisanya 21 % sebagai Hasil Tangkapan Sampingan ( HTS). Sedangkan berdasarkan
individu didapat 63,33 % sebagai HTU dan sisanya 36,67 % sebagai HTS. Dari enam
spesies ikan target yang tertangkap yaitu talang-talang, kaci-kaci, alu-alu, kuro,
sembilang, dan tenggiri memiliki panjang tubuh lebih dari 50 cm. Jaring insang
milenium secara teknis merupakan jaring laik tangkap dan dapat dikatakan ramah
lingkungan.
Menurut Sumardi dkk (2014) menyatakan bahwa alat penangkapan dengan
menggunakan gillnet di perairan kota Banda Aceh ialah mempunyai tingkat
keramahan lingkungan paling tinggi dan mempunyai selektifitas yang tinggi. Dengan
demikian, hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang sudah dilakukan Rusmilyansari
(2012) yang menyatakan bahwa alat penangkapan ikan kategori kurang bertanggung
jawab yaitu alat penangkap ikan; ialah jaring insang lingkar(encircling gillnet), jaring
insang hanyut (drift gill net), jaring tiga lapis (trammel net), pukat cincin (Purse
Seine), Jermal dan pukat pantai (beach seine).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kondisi Umum Pekalongan


Kota Pekalongan dibagi menjadi empat kecamatan yaitu Kecamatan
Pekalongan Utara, Pekalongan Selatan, Pekalongan Barat dan Kecamatan Pekalongan
Timur. Kecamatan yang memiliki pantai dan berbatasan langsung dengan laut (Laut
Jawa) adalah Kecamatan Pekalongan Utara, tepatnya di Kelurahan Krapyak Lor,
Kelurahan Panjang Wetan dan Kelurahan Kandang Panjang Kota Pekalongan terletak
di dataran rendah pantai utara Pulau Jawa, ketinggiannya 1 meter di atas permukaan
laut dengan posisi geografis antara 6º50’42’’6 º55’44’’LS dan 109º37’55’’109
º42’19’’BT. (Badan Pusat Statistik Kabupaten Pekalongan 2012). Batas-batas
wilayah administratif Kota Pekalongan sebagai berikut:

1. Sebelah Timur : Kota Pekalongan dan Kabupaten Batang


2. Sebelah Utara : Laut Jawa, Kota Pekalongan
3. Sebelah Selatan : Kabupaten Banjarnegara
4. Sebelah Barat : Kabupaten Pemalang

Secara Topografis, Kabupaten Pekalongan merupakan perpaduan antara


wilayah datar di wilayah bagian utara dan sebagian merupakan wilayah dataran
tinggi/pegunungan di wilayah bagian selatan yaitu diantaranya Kecamatan
Petungkriyono dengan ketinggian 1.294 meter di atas permukaan laut dan merupakan
wilayah perbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, Kecamatan Lebakbarang,
Paninggaran, Kandangserang, Talun, Doro, dan sebagian di wilayah Kecamatan
Karanganyar serta Kajen. Kabupaten Pekalongan memiliki panjang pantai mencapai
10 km, membentang dari arah Timur sampai kearah Barat meliputi 3 Kecamatan
Tirto, Wonokerto dan Siwalan (Badan Pusat Statistik Kabupaten Pekalongan 2012)

6
7

2.2 Unit Penangkapan Ikan


2.2.1 Kapal
Menurut Kepres nomor 51 tahun 2002 kapal adalah kendaraan air dengan
bentuk dan jenis apapun, yang digerakkan dengan tenaga mekanik, tenaga angin, atau
ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di bawah
permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah.
Kapal perikanan merupakan kapal yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan dalam
dunia perikanan, baik operasi penangkapan, pengangkutan ikan, penelitian dan
pendidikan serta dalam dunia perikanan. Bentuk dan konstruksi kapal perikanan
bermacam-macam sesuai dengan maksud dan tujuan dibangunnya kapal perikanan itu
sendiri (Mulyanto 2007).
Gillnet netter adalah kapal yang didesain sangat sederhana umumnya
berukuran kecil dan memiliki geladak terbuka, sehingga berukuran besar yang
beroperasi di lautan terbuka. Oleh karena ukuran kapal sangat variatif, dari yang
berukuran kecil hingga kapal yang dioperasikan di laut terbuka. Kapal gillnet kecil
umumnya memiliki kamar kemudi di bagian belakang yang sekaligus berfungsi
sebagai ruang kemudi. Perlengkapan penangkapan yang digunakan hanyalah net
hauler (Mulyanto 2007).
Kapal gill net termasuk kedalam kelompok kapal ikan dengan metode
pengoperasian static gear sehingga kecepatan kapal bukanlah suatu faktor yang
penting karena alat tangkap ini bekerja secara statis melainkan stabilitas kapal yang
tinggi lebih diperlukan agar saat pengoperasian alat tangkap dapat berjalan dengan
baik (Rahman 2005).

2.2.2 Alat tangkap gill net


Pada umumnya yang disebutkan dengan gill net adalah jaring yang berbentuk
empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh
jaring, lebar lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya, dengan kata lain,
jumlah mesh size pada arah panjang jaring (Sudirman dan Mallawa 2004). Gill net
8

dipasang menghadang arah dan jalan ikan yang sedang melakukan ruaya (Brandt
1972). Stewart dan Ferro (1985) dalam Rifki (2008) menyatakan bahwa gill net dapat
dipasang menghadang atau sejalan arah arus, posisi ini dapat mengubah bentuk alat
oleh karena tekanan dinamika air yang kemudian dapat mempengaruhi kapasitas hasil
tangkapan. Berdasarkan kedudukan jaring di dalam perairan dan metode
pengoperasiannya jaring insang dibedakan menjadi empat, yaitu jaring insang
permukaan (surface gillnet), jaring insang dasar (bottom gillnet), jaring insang hanyut
(drift gillnet), dan jaring insang lingkar (encircling gillnet / surrounding gillnet)
(Ayodhyoa 1981). Sedangkan menurut Subani dan Barus (1989) berdasarkan cara
pengoperasiannya dibedakan menjadi lima, yaitu jaring insang hanyut (drift gillnet),
jaring insang labuh (set gillnet), jaring insang karang (coral reef gillnet), jaring
insang lingkar (encircling gillnet), dan jaring insang tiga lapis (tramel net). Alat
tangkap jaring insang (gillnet) dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Alat Tangkap Jaring Insang (Gillnet)


(Sumber : Juanda 2013)

2.2.3 Konstruksi Gill net


Menurut Martasuganda (2002) kontruksi gill net dapat terdiri atas:
a. Jaring utama, jaring utama adalah sebuah lembaran jaring yang tergantung
pada tali ris atas. Martasuganda (2002) menyatakan bahwa diameter dan
ukuran benang dari mata jaring umumnya disesuaikan dengan ikan atau
9

habitat perairan lainnya yang dijadikan target penangkapan. Menurut Sparre


dan Venema (1992) ada empat cara tertangkapnya ikan oleh gill net, yaitu
tertangkap secara terjerat tepat di belakang mata (snagged), terjerat di
belakang tutup insang (gilled) dan terjerat di depan sirip punggung (wedged),
dan ikan terbelit akibat bagian tubuh yang menonjol (gigi, rahang, sirip) tanpa
harus menerobos mata jaring (entangled).
b. Tali ris atas, tali ris atas adalah tempat untuk menggantungkan jaring utama
dan tali pelampung. Untuk menghindari agar gillnet tidak terbelit sewaktu
dioperasikan (terutama pada bagian tali ris atasnya) biasanya tali ris atas
dibuat rangkap dua dengan arah pintalan yang berlawanan (S – Z).
c. Tali ris bawah, tali ris bawah ini berfungsi sebagai tempat melekatnya
pemberat. Martasuganda (2002) mengatakan bahwa panjang tali ris bawah
lebih panjang dari tali ris atas dengan tujuan supaya kedudukan jaring insang
di perairan dapat terentang dengan baik.
d. Tali pelampung, tali pelampung adalah tali yang dipakai untuk memasang
pelampung yang terbuat dari bahan sintetis seperti haizek, vinylon, polyvinyl
chloride, saran atau bahan lainnya yang bisa dijadikan tali pelampung. Untuk
menyambungkan antara piece yang satu dengan piece lainnya bagian tali
pelampung dari tiap ujung jaring utama biasanya dilebihkan 30-50 cm
(Martasuganda 2002).
e. Pelampung pada gill net dasar, pelampung hanya berfungsi untuk mengangkat
tali ris atas saja agar gill net dapat berdiri tegak (vertikal) di dalam air. Untuk
gill net pertengahan dan gill net permukaan, disamping pelampung yang
melekat pada tali ris atas diperlukan juga pelampung tambahan yang berfungsi
sebagai tanda di permukaan perairan. Pelampung yang dipakai biasanya
terbuat dari bahan styrofoam, polyvinylchloride, plastik, karet atau benda
lainnya yang mempunyai daya apung. Jumlah, berat, jenis dan volume
pelampung yang dipasang dalam satu piece menentukan besar kecilnya daya
10

apung (buoyancy). Besar kecilnya daya apung yang terpasang pada satu piece
sangat berpengaruh terhadap baik buruknya hasil tangkapan.
f. Pemberat, pemberat berfungsi untuk menenggelamkan badan jaring. Pemberat
pada jaring insang umumnya terbuat dari timah, besi dan semen cor.
g. Tali selambar, tali selambar adalah tali yang dipasang pada kedua ujung alat
tangkap untuk mengikat ujung gill net pada pelampung tanda, serta ujung
lainnya diikatkan pada kapal. Panjang tali selambar yang digunakan umumnya
25-50 meter tergantung ukuran alat tangkap dan kapal yang digunakan.
Kontruksi gillnet ditampilkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Kontruksi gillnet


(Sumber : Martasuganda 2002)

Keterangan :
1. Bendera 5. Tali ris atas 9. Tali ris bawah
2. Pelampung besar 6. Serampat atas 10. Tali pemberat
3. Pelampung kecil 7. Mata jaring 11. Pemberat
4. Tali Pelampung 8. Serampat bawah 12. Jangkar
11

2.3 Selektivitas Jaring Insang (Gillnet)


Selektivitas adalah sifat alat tangkap yang menangkap ikan dengan ukuran
tertentu dan spesies dari sebaran populasi. Selektivitas menjadi salah satu kriteria
dalam menentukan tingkat keramahan suatu alat. Gillnet dikategorikan sebagai alat
yang ramah lingkungan karena merupakan alat yang selektif (Booth and Potts 2006).
Sifat ini tidak hanya tergantung pada prinsip yang dipakai dalam penangkapan tapi
tergantung juga pada parameter desain dari alat tangkap seperti ukuran mata jaring,
bahan dan ukuran benang, hanging rasio dan kecepatan menarik. Ukuran mata jaring
sangat besar pengaruhnya terhadap selektivitas ( Fridman 1988). Penangkapan ikan
yang selektif menurut (FAO 1995 dalam Tabrizi 2003) meliputi ukuran dan umur
ikan yang tertangkap serta selektivitas spesies.
Saat ini selektivitas alat tangkap menjadi perhatian para pemerhati dunia
perikanan, hal ini disebabkan karena selektivitas berpengaruh terhadap stok
sumberdaya perikanan yang saat ini diduga mengalami penurunan. Perbaikan
selektivitas alat tangkap dianggap sebagai salah satu alternatif dalam mengurangi
hasil tangkapan sampingan (by-catch), sehingga dapat menyelamatkan stok
sumberdaya ikan yang belum layak tangkap dan yang bukan merupakan target
tangkapan utama dari suatu alat tangkap.
Gillnet memiliki sifat yang selektif dalam penangkapan ikan, oleh sebab itu,
penentuan desain dan konstruksi alat tangkap gillnet yang selektif positif sangat
diperlukan. Menurut Martasuganda (2008) penentuan tersebut didasarkan pada
beberapa hal, yaitu:
• Mengetahui jenis ikan yang dilindungi atau yang tidak boleh ditangkap
• Mengetahui usia ikan yang layak tangkap
• Menganalisa sebaran, tingkah laku ikan dan potensi ikan di suatu perairan yang
menjadi rencana daerah operasi penangkapan
12

• Menentukan desain dan konstruksi yang disesuaikan dengan ukuran ikan yang
layak tangkap dan dapat meminimalkan hasil tangkapan sampingan (by-catch)
yang tidak diinginkan.

2.4 Mata Jaring (Mesh Size)


Mata Jaring (Mesh Size) adalah jalinan tali jaring yang terdiri dari 4 point dan
4 bar. Lebar mata jaring (mesh size) ditentukan dengan mengukur jarak antara 2
point yang berjauhan pada sisi dalam mata dalam keadaan strech. Pengertian lain
mesh size adalah ukuran lubang pada jaring penangkap ikan . Ukuran mata jaring
minimum seringkali ditentukan dengan aturan untuk menghindari penangkapan ikan
muda yang bernilai setelah mencapai ukuran optimal untuk ditangkao (Mukhtar
2009).
Mesh size dapat dikatakan pula ukuran suatu mata jaring antar simpulnya
yang direntangkan, ukuran tersebut disesuaikan dengan besarnya badan ikan tujuan
tangkapan. Warna jaring (badan jaring) di dalam air akan dipengaruhi oleh faktor-
faktor, kedalaman perairan, transparansi, sinar matahari, cahaya bulan dan lain-lain.
Sebaiknya warna jaring disesuaikan dengan warna perairan, tidak terlihat kontras
dengan warna perairan maupun warna daerah penangkapan (Mukhtar 2009).

2.5 Teknologi Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan


Teknologi penangkapan ikan yang berwawasan lingkungan pada prinsipnya
yaitu teknologi yang dipergunakan dalam menangkap ikan tanpa mempengaruhi
kualitas lingkungan hidup (Martasuganda 2002). Sejalan dengan itu, pengembangan
teknologi penangkapan ikan perlu diarahkan menuju ke arah terciptanya teknologi
penangkapan ikan yang ramah lingkungan sehingga pada akhirnya akan terwujud
pemanfaatan sumberdaya yang berkelanjutan (sustainable fisheries), sehingga perlu
adanya kriteria-kriteria tentang teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan.
13

Menurut Monintja (2000) teknologi penangkapan ikan dapat dikatakan ramah


lingkungan apabila memiliki kriteria sebagai berikut:
1) Memiliki selektivitas yang tinggi. Suatu alat tangkap dikatakan mempunyai
selektivitas yang tinggi apabila alat tersebut dalam operasionalnya hanya
menangkap sedikit spesies dengan ukuran yang relatif seragam. Selektivitas alat
tangkap ada dua macam, yaitu selektif terhadap spesies dan selektif terhadap
ukuran.
2) Tidak destruktif terhadap habitat. Habitat terumbu karang memiliki ciri sangat
rentan terhadap gangguan, baik dari dalam maupun dari luar, seperti aktivitas
penangkapan ikan.
3) Tidak membahayakan nelayan atau operator. Tingkat bahaya atau resiko yang
diterima oleh nelayan dalam mengoperasikan alat tangkap sangat tergantung pada
jenis alat tangkap dan keterampilan yang dimiliki oleh nelayan.
4) Menghasilkan ikan dengan kualitas baik. Kualitas ikan hasil tangkapan sangat
ditentukan oleh jenis alat tangkap yang digunakan, metode penangkapan dan
penanganannya.
5) Produk yang dihasilkan tidak membahayakan konsumen. Tingkat bahaya yang
diterima oleh konsumen terhadap produksi yang dimanfaatkan tergantung dari
ikan yang diperoleh dari proses penangkapan. Apabila dalam proses penangkapan
nelayan menggunakan bahan-bahan beracun atau bahan-bahan lainnya yang
berbahaya, maka akan berdampak pada tingkat keamanan konsumsi pada
konsumen.
6) Hasil tangkapan sampingan (by-catch) dan discard minimum. Suatu spesies
dikatakan hasil tangkapan sampingan apabila spesies tersebut tidak termasuk
dalam target penangkapan. Hasil tangkapan yang didapat ada yang dimanfaatkan
dan ada yang dibuang ke laut (discard).
7) Dampak ke biodiversity rendah. Dampak buruk yang diterima oleh habitat akan
berpengaruh buruk pula terhadap biodiversity yang ada di lingkungan tersebut, hal
ini tergantung dari 49 bahan yang digunakan dalam metode penangkapan ikan.
14

Pengaruh pengoperasian alat tangkap terhadap biodiversity yang ada yaitu :


(1) Menyebabkan kematian semua makhluk hidup dan merusak habitat.
(2) Menyebabkan kematian beberapa spesies dan merusak habitat.
(3) Menyebabkan kematian beberapa spesies tetapi tidak merusak habitat.
(4) Aman bagi biodiversity.
(5) Tidak menangkap spesies yang dilindungi atau terancam punah. Suatu alat
tangkap dikatakan berbahaya terhadap spesies yang dilindungi apabila alat
tangkap tersebut mempunyai peluang yang cukup besar untuk menangkap spesies
yang dilindungi.
(6) Dapat diterima secara sosial Penerimaan masyarakat terhadap suatu alat tangkap
yang digunakan tergantung pada kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat
setempat. Suatu alat tangkap dapat diterima secara sosial oleh masyarakat apabila;
(1) biaya investasi murah; (2) menguntungkan; (3) tidak bertentangan dengan
budaya setempat; (4) tidak bertentangan dengan peraturan yang ada.
Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut dapat disimpulkan bahwa kriteria yang
dapat digunakan sebagai penilaian untuk melihat tingkat keramahan lingkungan pada
suatu unit penangkapan ikan antara lain :
1) Hasil tangkapan sasaran utama ≥ 60% (Suadela, 2004). Penentuan ≥ 60% dan
<40% didasarkan pada keragaman sumber daya ikan di Indonesia yang tinggi,
baik itu keragaman jenis maupun ukuran. Oleh karena itu selisih 20% cukup
signifikan untuk digunakan sebagai kriteria 1 .
2) Hasil tangkapan sampingan (by-catch) dan discard minimum.
3) Hasil tangkapan yang dihasilkan selektif dari segi ukuran (layak tangkap) dan
bukan dari spesies yang dilindungi atau terancam punah.
Teknologi penangkapan ikan yang menghasilkan by-catch yang rendah sangat
diharapkan dalam pengembangan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan. By-
catch yang tertangkap penting artinya bagi keseimbangan ekologi di perairan, tetapi
dari segi ekonomi kurang menguntungkan. Sifat perikanan di daerah tropis yang
bersifat multi species dan multi gear, hampir tidak mungkin membuat suatu alat
15

tangkap yang hanya menangkap target spesies. Salah satu cara yang mungkin
dilakukan adalah memperbaiki selektifitas alat tangkap yang digunakan.
(Sarmintohadi 2002).

2.6 Hasil Tangkapan


Pengertian dari hasil tangkapan adalah jumlah dari spesies ikan maupun
binatang air lainnya yang tertangkap saat kegiatan operasi penangkapan. Hasil
tangkapan gillnet millenium umumnya menangkap ikan pelagis, tetapi juga bisa juga
menangkap ikan demersal, tergantung dengan cara mengatur panjang dan pendeknya
tali pelampung (Dinas Perikanan Indramayu 2005). Jenis-jenis ikan yang tertangkap
oleh jaring insang hanyut antara lain: tongkol (Auxiz thazard), tenggiri
(Scomberomorus commersoni), cucut (Carcharinidae), layang (Decapterus sp) (Putra
2007).
Hasil tangkapan terbagi menjadi dua, yaitu Hasil Tangkapan Sasaran Utama
(HTSU) yang artinya spesies yang merupakan target dari operasi penangkapan dan
Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) yang artinya spesies yang merupakan di luar dari
target operasi penangkapan. Menurut Hall (1999) hasil tangkapan sampingan (HTS)
terbagi menjadi dua, yaitu by-catch dari jenis ikan dan by-catch bukan dari jenis ikan
(by-catch nonfish group). Contoh dari by-catch yang bukan dari jenis ikan antara lain
paus, lumba-lumba, dan penyu yang merupakan spesies dilindungi.
Berdasarkan pemanfaatan hasil tangkapan, Hall (1999) membagi lagi bycatch
dari jenis ikan menjadi dua kategori, yaitu: 1) Spesies yang tidak dikehendaki
tertangkap (incidental catch); merupakan hasil tangkapan sampingan yang sesekali
tertangkap dan bukan spesies target. 2) Spesies yang dikembalikan ke laut (discarded
catch); merupakan hasil tangkapan sampingan yang dikembalikan ke laut karena
berbagai pertimbangan antara lain spesies yang tertangkap bernilai ekonomis rendah
atau dilindungi hukum karena terancam punah. Adapun kondisi dari discard yang
ditemui di lapang terkadang ada yang masih dalam keadaan hidup 51 tetapi banyak
16

pula yang telah mati sehingga discard yang dihasilkan dalam setiap operasi
penangkapan ikan diharapkan seminimal mungkin.
Menurut Manalu (2003), tertangkapnya by-catch atau ikan diluar target
disebabkan adanya kesamaan habitat antara ikan target dan ikan non target serta
kurang selektifnya alat tangkap yang digunakan. Dalam pengembangan alat tangkap
ramah lingkungan diharapkan alat tangkap yang digunakan tidak menghasilkan by-
catch, tetapi pada kenyataan di lapangan membuktikan bahwa alat penangkapan ikan
tidak hanya menangkap ikan target.

2.7 Faktor yang Menentukan Keberhasilan Operasi Penangkapan


Menurut Ayodhyoa (1981) ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk
keberhasilan penangkapan ikan dengan menggunakan gill net yaitu: kekakuan,
ketegangan rentang tubuh jaring, shortening atau shrinkage, tinggi jaring, mesh size
dan besar ikan, warna jaring. Bahan jaring yang digunakan sebaiknya lembut, tidak
kaku dan mudah diatur atau dibengkokkan sebab bahan jaring akan berpengaruh
terhadap jumlah hasil tangkapan.
Ketegangan rentangan jaring mengakibatkan terjadinya tekanan pada tubuh
jaring yang dapat mempengaruhi jumlah ikan yang tertangkap. Semakin tegang jaring
direntang, maka ikan akan sukar terjerat sehingga ikan mudah lepas. Shortening atau
shrinkage adalah beda panjang tubuh jaring dalam keadaan teregang sempurna
(stretch) dengan panjang jaring setelah dilekatkan pada pelampung ataupun pemberat,
hal ini dimaksudkan untuk penyesuaian ukuran ikan yang akan ditangkap agar mudah
terjerat atau terbelit. Tinggi jaring merupakan jarak antara pelampung ke pemberat
pada saat jaring dipasang di perairan.
Mesh size merupakan ukuran suatu mata jaring antar simpulnya yang
direntangkan, ukuran tersebut disesuaikan dengan besarnya badan ikan tujuan
tangkapan. Warna jaring (badan jaring) di dalam air akan dipengaruhi oleh faktor-
faktor, kedalaman perairan, transparansi, sinar matahari, cahaya bulan dan lain-lain.
17

Sebaiknya warna jaring disesuaikan dengan warna perairan, tidak terlihat


kontras dengan warna perairan maupun warna daerah penangkapan. Martasuganda
(2002) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan ikan dapat
tertangkap oleh gill net :
1. Diduga terjeratnya ikan karena pada saat kondisi ikan dalam keadaan “berenang
tidur” sehingga ikan tidak mengetahui kehadiran jaring yang berada di depannya.
2. Karena ikan yang ingin mengetahui benda asing yang berada di sekitarnya
termasuk gill net dengan melihat, mendekat, meraba, dan akhirnya terjerat.
3. Pada ikan yang selalu bergerombol dan beriringan maka apabila satu atau lebih
ikan telah terjerat pada jaring, maka ikan lainnya akan ikut masuk ke dalam
jaring.
4. Dalam keadaan panik, ikan yang sudah berada di depan jaring dan sudah sulit
untuk menghindar akan terjerat pula oleh jaring.

2.8 Ikan Kembung (Rastelliger spp)


Ikan kembung (Rastrelliger spp.) merupakan ikan air laut yang banyak pada
musim puncak (Maret - Juni). Pemanfaatan ikan kembung banyak digunakan oleh
masyarakat luas karena ikan kembung banyak mengandung Omega 3 dan Omega 6
yang baik bagi pencegahan penyakit dan kecerdasan otak. Omega 3 dan Omega 6
termasuk dalam asam lemak tak jenuh jamak esensial yang berguna untuk
memperkuat daya tahan otot jantung, meningkatkan kecerdasan otak, menurunkan
kadar trigliserida dan mencegah penggumpalan darah (Irmawan 2009). Ikan kembung
tergolong ikan pelagic yang berada di perairan bersalinitas tinggi. Ikan ini suka hidup
secara bergerombol, dengan kebiasaan makannya yaitu memakan plankton
besar/kasar, copepode atau crustacea (Kriswantoro dan Sunyoto, 1986). Ikan
kembung dapat dilihat pada Gambar 3.
18

Gambar 3. Ikan Kembung

Kedudukan taksonomi ikan kembung (Rastrelliger spp.) menurut Irmawan


(2009) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Family : Scombridae
Genus : Rastrelliger
Spesies : Rastrelliger spp

2.9 Morfologi Ikan Kembung (Rastelliger spp)


Ciri-ciri tubuh dari ikan kembung adalah bentuk badan seperti torpedo badan
agak langsing panjang kepala lebih tinggi dari tinggi kepala. Seluruh tubuh tertutup
sisik halus dan terdapat corselet di belakang sirip dada. Terdapat selaput lemak pada
kelopak mata. Usus 1,3-3,7 kali panjang badan. Tapisan insang panjang jelas tampak
bila mulut dibuka dengan jumlah sebanyak 30-46 buah, sisik garis rusuk berjumlah
120-150 buah, sirip punggung kedua berjari-jari keras berjumlah 10 buah, sirip
punggung kedua berjari- jari lemah 11-12 sirip dubur berjari-jari lemah lemah
sebanyak 11-12 buah. Di belakang sirip punggung dan dubur terdapat 5-6
buah finlet (Rennoad 2013).
Ikan kembung banyak memiliki warna biru kehijauan di bagian atas dan
bagian bawah berwarna putih kekuningan. Dua baris totol-totol hitam pada
punggung, satu totol hitam dekat sirip dada. Ban warna gelap memanjang di atas
garis rusuk, dua ban warna keemasan di bawah garis rusuk. Sirip punggung abu-abu
19

kekuningan. Sirip ekor dan dada kekuningan. Sirip-sirip lain bening kekuningan. Ikan
ini memiliki panjang maksimum 35 cm dengan panjang rata-rata 20-25 cm (Saanin
1984).

2.10 Habitat, Distribusi dan Siklus Hidup Ikan Kembung (Rastelliger spp)
Longhurst dan Pauly (1987) menyatakan ikan kembung merupakan kelompok
ikan epipelagis dan neritik di daerah pantai dan laut. Penyebaran ikan kembung dapat
dibagi menjadi dua bagian, yaitu penyebaran secara vertikal dan horisontal.
Penyebaran secara vertikal dipengaruhi oleh suhu dan gerakan harian plankton
sedangkan penyebaran secara horizontal dipengaruhi oleh arus laut. Penyebaran ikan
ini meliputi Samudra Pasifik, Laut Andaman, Thailand, Filipina, Papua New Guinea,
Pulau Solomon, dan Fiji.
Daerah penyebaran di perairan pantai Indonesia dengan konsentrasi terbesar
di Kalimantan, Sumatra Barat, Laut Jawa, Selat Malaka, Muna-Buton, Arafuru, teluk
Siam. Ada tiga alasan utama yang menyebabkan beberapa spesies ikan melakukan
migrasi, antara lain usaha mencari daerah yang banyak makanannya (feeding
ground), usaha untuk mencari daerah tempat berpijah (spawning), dan adanya
perubahan beberapa faktor lingkungan seperti temperatur, salinitas, dan suhu. Ikan
kembung (Rastrelliger sp ) hidup berkelompok dalam jumlah yang besar pada
perairan pantai dengan kedalaman antara 10-50 meter. Ikan ini melakukan ruaya
pemijahan yang bersifat oceanodromus yaitu ikan menghabiskan siklus hidupnya di
daerah pantai dan memijah di daerah laut lepas. Ikan kembung betina yang sudah
matang gonad beruaya dari daerah pantai ke laut lepas sedangkan ikan juvenil (Pauly
1987)
Nikolsky (1963) menyatakan bahwa ada tiga alasan utama yang menyebabkan
beberapa spesies ikan melakukan migrasi, antara lain usaha untuk mencari daerah
yang banyak makanannya (feeding), usaha untuk mencari daerah tempat berpijah
(spawning), dan adanya perubahan beberapa faktor lingkungan seperti temperatur,
salinitas, dan suhu.
20

Fischer dan Whitehead (1974) dalam Zen (2006) menyatakan bahwa ikan
kembung (Rastrelliger sp) hidup berkelompok dalam jumlah yang besar pada
perairan pantai dengan kedalaman antara 10-50 meter. Ikan ini melakukan ruaya
pemijahan yang bersifat oceanodromus yaitu ikan menghabiskan siklus hidupnya di
daerah pantai dan memijah di daerah laut lepas (McKeown 1984). Chirastit (1962)
menduga bahwa Ikan kembung perempuan yang sudah matang gonad beruaya dari
daerah pantai ke laut lepas sedangkan ikan juvenil beruaya dari laut lepas ke daerah
pantai untuk membesar.

2.11 Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Ikan Kembung (Rastelliger spp)
Pencatatan perubahan atau tahap-tahap kematangan gonad diperlukan dalam
biologi perikanan untuk mengetahui perbandingan ikan-ikan yang akan melakukan
reproduksi dan yang tidak. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan
bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan, selama itu sebagian hasil
metabolisme tertuju pada perkembangan gonad. Berdasarkan pengetahuan tahap
perkembangan gonad akan didapatkan keterangan bilamana ikan itu memijah, baru
memijah, atau telah selesai memijah. Ukuran ikan saat pertama kali gonadnya
menjadi masak berhubungan dengan pertumbuhan ikan itu sendiri dan faktor-faktor
yang mempengaruhinya (Effendie 1997). Terdapat dua faktor yang mempengaruhi
saat pertama kali ikan mencapai matang gonad yaitu faktor dalam dan faktor luar.
Faktor dalam antara lain adalah perbedaan spesies, kebiasaan makanan, umur
dan ukuran, serta kondisi fisiologis dari ikan tersebut, sedangkan faktor luar antara
lain adalah hubungan antara lamanya terang dan gelap, suhu, arus, dan keberadaan
dari jenis kelamin yang berbeda (Lagler et al. 1962). Lachita (2006) menyatakan
bahwa panjang ikan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) dewasa dan siap
memijah di Teluk Lingayen Filipina ialah 170 mm dengan ukuran pertama kali
tertangkap ialah 160 mm.
21

Ukuran awal kematangan gonad merupakan salah satu parameter yang penting
dalam penentuan ukuran terkecil ikan yang ditangkap atau yang boleh ditangkap.
Pendugaan ukuran pertama kali matang gonad ini merupakan salah satu cara untuk
mengetahui perkembangan populasi dalam suatu perairan. Berkurangnya populasi
ikan di masa mendatang dapat terjadi karena ikan yang tertangkap adalah ikan yang
akan memijah atau ikan yang belum memijah, sehingga tindakan pencegahan
diperlukan penggunaan alat tangkap yang selektif seperti ukuran mata jaring yang
dugunakan harus disesuaikan dengan jenis ikan target, agar pemanfaatan sumberdaya
ikan layang dapat berkelanjutan dan terjamin kelestariannya.

2.12 Waktu Pemijahan Ikan Kembung (Rastelliger spp)


Waktu pemijahan gonad akan bertambah berat sebelum terjadinya pemijahan
dalam proses reproduksi, begitu juga ukuran diameter telur yang ada di dalam
ovarium ikan. Diameter telur adalah garis tengah atau ukuran panjang dari suatu telur
yang diukur dengan mikrometer objektif dan okuler berskala yang sudah ditera
(Effendie 1997). Sebelum terjadinya pemijahan, sebagian besar hasil metabolisme
ikan tertuju untuk perkembangan gonad. Berat gonad akan mencapai maksimum
ketika ikan memijah kemudian akan menurun secara cepat dengan 10 berlangsungnya
musim pemijahan hingga selesai. Ovarium ikan yang mengandung telur masak
berukuran sama semua atau seragam menunjukkan waktu pemijahan yang pendek.
Sebaliknya, waktu pemijahan yang panjang dan terus menerus ditandai oleh
banyaknya ukuran telur ikan yang berbeda di dalam ovarium (Hoar dalam
Lumbanbatu 1979). Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) di Laut Jawa
mempunyai dua musim pemijahan yang berlangsung pada musim barat mulai dari
bulan Oktober hingga Februari dan pada musim timur yaitu mulai dari bulan Juni
hingga September (Astuti 2007), sedangkan ikan kembung perempuan (Rastrelliger
brachysoma) memiliki musim pemijahan dari bulan Maret sampai dengan bulan
Oktober (Ochavillo et al. 1991; Froese and Pauly 2006 dalam Lachita 2006). Waktu
22

pemijahan ikan kembung yang sudah diketahui, seharusnya membuat pengontrolan


penangkapan, agar ikan kembung yang belum atau sedang memijah tidak tertangkap.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Desember 2017 – Januari 2018
bertempat di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan, Kota Pekalongan Provinsi
Jawa Tengah.

Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian


3.2 Alat dan Bahan Penelitian
Alat dan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :
• Alat tangkap gillnet sebanyak 3 unit dengan mesh size yang berbeda
digunakan untuk alat menangkap ikan
• GPS (Global Posisition System) digunakan untuk menentukan posisi
koordinat tempat gillnet menangkap ikan
• Mistar yang digunakan untuk mengukur panjang ikan hasil tangkapan
• Timbangan yang digunakan untuk mengukur bobot ikan hasil tangkapan

23
24

• Kamera Digital yang digunakan untuk mendokumentasikan kegiatan


penelitian
• Buku identifikasi yang digunakan untuk mengetahui jenis-jenis ikan yang
ditangkap
• Alat tulis yang terdiri dari pulpen, pensil, form catatan data penelitian,
kuisioner dan papan untuk mencatat hasil tangkapan.

3.3 Metode Pengumpulan Data


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Metode
survey yaitu metode pengambilan data secara langsung di lapangan serta melakukan
pengumpulan data dengan memusatkan penelitian pada suatu kasus secara intensif
dan mendetail sehingga mendapatkan gambaran yang menyeluruh sebagai hasil dari
pengumpulan data dan analisis data dalam jangka waktu tertentu dan terbatas pada
daerah tertentu (Sugiyono 2009)

3.4 Pengambilan Data


Pengambilan data dilakukan dengan metode survei, wawancara, dokumentasi
dan menggunakan data sekunder sebagai pendukung. Survei dilakukan dengan
pengamatan secara langsung untuk memperoleh data. Wawancara dilakukan untuk
menggali informasi, dalam hal ini yang di wawancarai adalah nelayan gillnet..
Dokumentasi dilakukan dengan mengambil gambar secara langsung menggunakan
kamera untuk mendukung dan memvisualisasikan hasil-hasil yang terkait dengan
penelitian ini. Dalam hal ini, yang di dokumentasikan adalah TPI, hasil tangkapan
gillnet dan unit penangkapan gillnet. Dalam penelitian ini pengambilan data
dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu :
(1) Melakukan survey lapang pada bulan Oktober 2017;
25

(2) Mengikuti langsung kegiatan operasi penangkapan ikan dengan gillnet pada bulan
Desember 2017 sebanyak 3 trip kapal (2 hari, 1 hari, 3 hari) menggunakan perahu
dengan ukuran 4 GT - 5 GT dengan mesh size yang berbeda.
(3) Data primer yang dikumpulkan secara langsung selama penelitian yaitu komposisi
hasil tangkapan, panjang cagak, bobot individu hasil tangkapan, pemeriksaan
pertama kali matang gonad, pemanfaatan hasil tangkapan dan proporsi HTS dan
HTSU.
(4) Wawancara dengan 15 orang nelayan dengan menggunakan kuesioner yang telah
disiapkan (Lampiran 2)
(5) Data sekunder dari Dinas Perikanan Pekalongan dan PPN Pekalongan.
Pengukuran panjang cagak dilakukan untuk menentukan kelayakan hasil
tangkapan yang disesuaikan berdasarkan ukuran ikan pertama kali matang gonad
(length at first maturity). Pengukuran menggunakan sampling yang dilakukan di atas
kapal setelah proses hauling dengan menggunakan meteran dengan skala 1 mm.
Pengukuran bobot hasil tangkapan dilakukan terhadap ikan kembung yang tertangkap
dengan menggunakan timbangan berkapasitas 4 kilogram dengan skala 10 gr.
Wawancara dilakukan terhadap nelayan dengan menggunakan kuesioner
untuk menggali informasi mengenai cara pengoperasian alat tangkap, komposisi hasil
tangkapan, jumlah hasil tangkapan yang didaratkan, musim penangkapan ikan, dan
daerah penangkapan ikan. Dalam mengumpulkan data responden diambil dengan cara
purposive sampling, yaitu sampel yang dipilih dengan cermat hingga relevan dengan
desain penelitian. Sebanyak 15 unit gillnet dijadikan sampel untuk dilakukan
wawancara. Sampel kapal diambil dengan cara melihat jenis alat tangkap gillnet yang
memiliki ukuran mesh size yang berbeda (3 inch, 3.5 inch dan 4 inch), kemudian
memilih kapal yang terdapat nelayannya baik itu ABK, nakhoda maupun pemilik
kapal tersebut.
Data pendukung diperoleh dari penelusuran pustaka dari instansi terkait. Data
tersebut mencakup:
1) Keadaan umum perairan Pekalongan (Dinas Perikanan Pekalongan)
26

2) Geografi dan topografi daerah Pekalongan (Dinas Perikanan Pekalongan)


3) Tempat pelelangan ikan di PPN Pekalongan (PPN Pekalongan)
4) Volume dan jumlah produksi perikanan laut Pekalongan (Dinas Perikanan
Pekalongan)
5) Jumlah unit penangkapan di Pekalongan (Dinas Perikanan Pekalongan)
6) Daerah penangkapan ikan di Pekalongan (Dinas Perikanan Pekalongan)

3.5 Analisis data


Data yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi komposisi hasil tangkapan,
proporsi hasil tangkapan sasaran utama dan sampingan, proporsi ikan layak tangkap
secara biologi, proporsi hasil tangkapan yang dimanfaatkan, dan analisis tingkat
keramahan lingkungan. Pada analisis komposisi hasil tangkapan, sebelum dianalisis
terlebih dahulu diidentifikasi untuk mengetahui nama umum dan nama latinnya.
Pengidentifikasian dilakukan dengan menggunakan buku identifikasi Saanin (1991).
Setelah diidentifikasi data tersebut dikelompokkan berdasarkan spesiesnya,
kemudian dihitung bobot dan jumlahnya. Jenis ikan tersebut kemudian ditabulasikan
untuk melihat komposisi hasil tangkapan. Pada proporsi hasil tangkapan sasaran
utama dan sampingan, masing-masing data jumlah dan berat hasil tangkapan sasaran
utama (HTSU) dan hasil tangkapan sampingan (HTS) dari operasi penangkapan
dihitung dalam bentuk persentase, kemudian dibandingkan manakah diantara HTSU
dan HTS yang lebih besar proporsinya. Proporsi ikan layak tangkap secara biologi.
Ukuran ikan layak tangkap diketahui berdasarkan ukuran panjang cagak ikan yang
pertama kali matang gonad.
Data panjang cagak ikan hasil tangkapan sasaran utama dan hasil tangkapan
sampingan diolah dengan menghitung sebaran frekuensinya dan disajikan dalam
bentuk histogram. Data ikan yang disajikan adalah data ikan yang dominan
tertangkap saja, yaitu ikan kembung (Rastrelliger sp). Pada proporsi hasil tangkapan
yang dimanfaatkan, seluruh data hasil tangkapan yang dimanfaatkan dibandingkan
27

dengan hasil tangkapan yang tidak dimanfaatkan (discard) dalam bentuk proporsi
dengan rumus :
• HT yang dimanfaatkan (%) = x 100%

• HT yang tidak dimanfaatkan (%) = x 100%

Perhitungan hasil tangkapan tersebut dinyatakan dalam kg dan ekor. Hasil


pengamatan proses penanganan hasil tangkapan dianalisis untuk menjelaskan hasil
tangkapan yang dimanfaatkan dan yang tidak dimanfaatkan atau dibuang (Gambar 4).
Sedangkan penilaian tingkat keramahan lingkungan menurut Suadela (2004)
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1) Membandingkan proporsi HTSU dan HTS. Jika proporsi HTSU yang
diperoleh ≥ 60%, maka alat tangkap tersebut dapat dikatakan ramah
lingkungan (Tabel 1).
2) Ikan yang menjadi hasil tangkapan, baik sasaran utama maupun hasil
tangkapan sampingan apakah layak atau tidak, terlihat dari pengukuran
panjang cagak dan literatur length at first maturity untuk ikan HT
tersebut. Jika ukuran panjang ikan tangkapan > length at first maturity
maka dapat dikatakan ikan tersebut layak tangkap. Jika proporsi ikan
layak tangkap ≥ 60% maka dapat dikatakan ramah lingkungan (Tabel 1).
3) Discard yang dihasilkan minimum dapat diartikan bahwa by-catch yang
dihasilkan sedikit atau para nelayan memanfaatkan hasil tangkapannya.
Jika hasil tangkapan sampingan ≥ 60% banyak yang dimanfaatkan maka
dapat dikatakan ramah lingkungan (Tabel 1).
28

Tabel 1.Penilaian tingkat keramahan lingkungan


Pengamatan Kriteria Penilaian
1. Hasil tangkapan 1. ≥ 60% 1. Ramah lingkungan
sasaran utama 2. < 60% 2.Tidak ramah
lingkungan
2. Hasil tangkapan 3. ≥ 60% 3. Ramah lingkungan
sampingan dimanfaatkan 4.Tidak ramah
4. < 60% tidak lingkungan
termanfaatkan
3. Panjang ikan 5. > length at first 5. Ikan layak tangkap
maturity 6. Ikan tidak layak
6. < length at first tangkap
maturity 7. Ramah lingkungan
7. ≥ 60% layak 8. Tidak ramah
tangkap lingkungan
8. < 60% layak
tangkap
Sumber : Suadela 2004
29

Dijual

Hasil
tangkapan
sasaran
utama
Dikonsumsi

Hasil Dijual
tangkapan

Dimanfaatkan
nelayan

Dikonsumsi
Hasil
tangkapan
sampingan
Berpeluang
hidup
Dibuang

Berpeluang
tidak hidup
Gambar 5. Bagan pemanfaatan ikan hasil tangkapan.
DAFTAR PUSTAKA

Astuti. 2007. Pendugaan beberapa Parameter Biologi Ikan Kembung Lelaki


(Rastrelliger Kanagurta ) yang di Daratkan di TPI Muara Angke, Jakarta
Utara. [Skripsi]. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Intitut Pertanian Bogor. Bogor.

Ayodhyoa. A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Bogor : Yayasan Dewi Sri. Barus

Badan Pusat Statistik Kabupaten Pekalongan 2012.Pekalongan dalam Angka Tahun


2012. Pekalongan; BPS Kabupaten Pekalongan

Brandt, A.V. 1972. Fish Catching Methods of the World. London : Fishing News
Book Ltd
Booth AJ and Potts WM. 2006. Estimating gillnet selectivity for Labeo umbratus
(Pisces: Cyprinidae) and an evaluation of using fyke-net as a non-destructive
sampling gear in small reservoirs. Fisheries Research 79: 202 – 209
Daryati, 1999. Peranan Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan dan Pangkalan
Pendaratan Ikan Tegal Sari dalam Menunjang Perkembangan Perikanan di
Propinsi Jawa Tengah [Skripsi]. Bogor: Departemen Pemanfaatan
Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor. 77 hal

Efkipano, T. D. 2012. Analisis Ikan Hasil Tangkapan Jaring Insang Milenium dan
Strategi Pengelolaannya di Perairan Kabupaten Cirebon. [Tesis]. Universitas
Indonesia. Jakarta

[FAO] Food and Agricultural Organization. 2001. FAO International Plan of Action
to Prevent Deter and Eliminate Illegal, Unreported and Unregulated Fishing.
Rome.

Fridman, 1988. Perhitungan dalam merancang alat penangkapan ikan direvisi, diedit
dan dikembangkan oleh Carther PJG diteijemahkan oleh Tim penterjemah
Balai Penangkapan Ikan Semarang

Fyson, J. 1985. Design of Small Fishing Vessels. England. Fishing News Book.

Hall, S. J. 1999. The Effects of Fishing Marine Ecosystem and Communities. London
Blackwell Science Ltd.

29
30

Hasyim,B. 2004. Penerapan Informasi Zona Potensi Penangkapan Ikan Untuk


Mendukung Usaha Peningkatan Produksi dan Efisiensi Operasi Penangkapan
Ikan. http://tumoutou.net/702_07134/. (23 Mei 2008)
H.R dan Subani, W. 1989. Alat Penangkapan ikan dan Udang Laut di Indonesia.
Jakarta : Balai Penelitian Perikanan Laut.

Irmawan, S. 2009. Status perikanan ikan kembung di kabupaten barru. Laporan


Penelitian. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya
Malang.

Kushima J-A and Miyasaka A. 2003. Report on the discussions to manage the use of
lay nets. State of Hawaii. Department of Land and Natural Resources.
Division of Aquatic Resources. 22 p.
(hawaii.gov/dlnt/dar/pubs/net_report02.pdf; 11 Maret 2008).
Lachita RB. 2006. Using life-history, surplus production, and individual-based
population models for stock assessm ent of data-poor stocks: an application
to small pelagic fisheries of the Lingayen Gulf, Philippines. [Tesis].
Departement of Oceanography and Coaltal Sciences. Don Mariano Marcos
Memorial State University. 13p

Laevastu, T and Hayes, M. 1981. Fisheries Oceanography and Ecology. England.


Fishing News Book.
Lagler, K.F., J.E. Bardach, and R.R. Miller. 1962. Ichthyology . New York: John
Willey and Sons, Inc.

Longhurst AR, Pauly D. 1987. Ecology of Tropical Oceans. New York. Academic
Press, Inc. 407 p

Lumbanbatu D T F. 1979. Aspek Biologi Reproduksi Jenis Ikan di Waduk Lahor,


Jawa Timur. Karya Ilmiah. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut
Pertanian Bogor; Bogor. 169 h. Tidak dipublikasikan.

Manalu, M. 2003. Kajian Output yang Dihasilkan Operasi Penangkapan Jaring


Kejer di Teluk Banten. [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor : Departemen
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor.

Martasuganda, S. 2002. Jaring Insang (Gillnet). Serial Teknologi Penangkapan Ikan


Berwawasan Lingkungan. Bogor : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya
Perikanan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
31

Miranti. 2007. Perikanan Gillnet di Palabuhan Ratu : Kajian Teknis dan Tingkat
Kesejahteraan nelayan Pemilik. [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor :
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan Dan
Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Monintja, D.R. 2000. Pemanfaatan Pesisir dan Lautan untuk Kegiatan Perikanan
Tangkap. Prosiding pelatihan untuk pengelolaan wilayah pesisir terpadu.
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Monintja, D.R., Sularso, A., Sondita, F.A., dan Purbayanto, A. 2006. Perspektif
Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Tangkap Laut Arafura. Bogor :
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan Dan
Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Mulyanto. RB dan R Sapto Pamungkas. 2007. Kapal Perikanan. Pengukuran
dan Perhitungan. BBPPI. Semarang

Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Nikolsky, G. V. 1963. The Ecology of Fishes.Academic Press. London

Putra, I. 2007. Deskripsi dan Analisis Hasil Tangkapan Jaring Millenium di


Indramayu. [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor : Departemen Pemanfaatan
Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor.
Rahman, D. M. 2005. Desain dan Konstruksi Kapal Gillnet Harapan Baru di
Galangan Kapal Pulau Tidung. [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor :
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan Dan
Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Rakhmadevi, C. C. 2007. Studies On Fish Behaviour In Relation To Net
Transparency of Millenium Gillnet Operation In Bondet Waters, Cirebon.
[Tesis] (tidak dipublikasikan). Bogor : Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor.
Ramdhan, D. 2008. Keramahan Gillnet Millenium Indramayu Terhadap
Lingkungan: Analisis Hasil Tangkapan. [Skripsi] Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rennoad. 2013. Pola Natalis Ikan Kembung. http://rennoad-


perjuanganhidup.blogspot.com/2013/01/pola-natalitas-ikan-kembung.html
32

Rifki, M. 2008. Pengaruh Kecepatan Arus dan Mesh Size terhadap Drag Force dan
Tinggi Jaring Goyang pada percobaan di Flume Tank. [Skripsi] (tidak
dipublikasikan). Bogor : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan,
Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Rusmilyansari. 2011. Model Pengelolaan Konflik Perikanan Tangkap di Perairan
Kalimantan Selatan. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan, Bina Cipta. Jakarta.
Sadhori, N. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Bandung : Angkasa. Saanin, H. 1991.
Taksonomi dan Kunci Identifikasi 1 dan 2. Jakarta: Bina Cipta.
Sarmintohadi. 2002. Seleksi Teknologi Penangkapan Ikan Karang Berwawasan
Lingkungan Di Perairan Pesisir Pulau Dulah Laut Kepulauan Kei,
Kabupaten Maluku Tenggara (Tesis). Bogor: Teknologi kelautan, Program
Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. 128 hlm

Sparre, P. dan S. C. Venema. 1992. Introduction to Tropical Fish Stock Assessement.


FAO Fisheries Tehnical Paper. Roma.

Sudirman dan Mallawa, A. 2004. Teknik Penangkapan Ikan. PT. Rineka Cipta.
Jakarta.

Suadela. P. 2004. Analisis Tingkat Keramahan Lingkungan Unit Penangkapan


Jaring Rajungan Studi Kasus di Teluk Banten. [Skripsi] Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia.
Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan
Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Sugiyono, 2009, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung :
Alfabeta

Tawari, R. H. S. 2013. Efisiensi Jaring Insang Permukaan Terhadap Hasil


Tangkapan Ikan Layang (Decapterus macarelus) di Teluk Kayeli. Jurnal
Amanisal PSP FPIK Unpatti-Ambon. 2(2): 32-39

Yulisma, A., Yulvizar, C., dan Rudi, E., 2012. Pengaruh Konsentrasi Kitosan dan
Lama Penyimpanan terhadap Total Plate Count (TPC) Bakteri pada Ikan
Kembung (Rastrelliger sp.) Asin, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala.
11

LAMPIRAN