Anda di halaman 1dari 9

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum, Wr.Wb

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hikmah dan
hidayah-Nya atas terselesaikannya penulisan makalah ini yang berjudul “Perlindungan
Kelompok Rentan Saat Bencana Bagi Penyandang Cacat Para Lansia” makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah “Keperawatan Bencana”.

Dalam penulisan laporan kasus ini saya banyak mengalami hambatan dan kesulitan. Namun,
berkat bantuan semua pihak, saya dapat menyelesaikan makalah ini.

Saya menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini terdapat banyak kekurangan dan jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saya menerima segala kritik dan saran yang membangun
demi perbaikan makalah ini.

Akhirnya, dengan segala keterbatasan tersebut, saya berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi
para pembaca pada umumnya untuk proses pembelajaran.

Wassalamu’alaikum, Wr.Wb.

Cirebon, 27 November 2017

( Penyususun )

i
Daftar Isi

Kata pengantar ...........................................................................i

Daftar isi ...........................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang ...........................................................................1


B. Rumusan masalah ...........................................................................1
C. Tujuan penulisan ...........................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Kelompok Rentan ...........................................................................3


B. Identifikasi Kelompok Beresiko........................................................................3
C. Tindakan yang Sesuai dengan Kelompok Rentan Lansia ................................4

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan ...........................................................................6
2. Saran ...........................................................................6

Daftar Pustaka ...........................................................................7

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
berbagai bencana telah memakan korban dalam jumlah yang besar . Banyak
korban yang selamat menderita sakit dan cacat, rumah, tempat kerja, rumah dan peralatan
menjadi rusak atau hancur. Korban juga mengalami dampak psikologis akibat bencana,
misalnya ketakutan, kecemasan akut, perasaan mati rasa secara emosional dan kesdihan
yang mendalam, bagi sebagian orang, dampak ini memudar dengan berjalannya waktu.
Tetapi untuk banyak orang lain, bencana memberikan dampak psikologis jangka panjang,
baik yang terlihat jelas mislanya depresi, psikosomatis.
Dalam banyak kasus, jika tidak ada intervensi yang dirancang dengan baik, banyak
korban bencana akan mengalami depresi parah, gangguan kecemasan, gangguan, gangguan
stress pasca trauma dan gangguan emosi lainnya. Menurut departemen hukum dan hak asasi
manusia adalah kelompok rentan yang mengalami hambatan atau keterbatasan dalam
menikmati standar kehidupan yang layak bagi kemanusiaan dan berlaku umum bagi suatu
masyarakata yang berperadaban.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud kelompok rentan?
2. Bagaimana mengidentifikasi masalah pada kelompok rentan?
3. Apasajahkah tindakan yang sesuai dengan kelompok rentan?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan kelompok rentan
2. Untuk mengetahui cara mengidentifikasi masalah pada kelompok rentan
3. Untuk mengetahu tindakan yang sesuai dengan kelompok rentan.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kelompok Rentan


Menurut UU No. 24/2007, pasal 55, ayat 2 kelompok rentan dalam situasi
bencana adalah individu atau kelompok yang terdampak lebih berat diakibatkan adanya
kekurangan dan kelemahan yang dimilikinya yang pada saat bencana terjadi menjadi
bersiko lebih besar, meliputi; bayi, balita, anak-anak, ibu hamil, penyandang cacat ddan
usia lanjut.
Pada dasarnya pengertia mengenai kelompok rentan tidak dijelaskan secara rinci,
ha nya sajah dalam UU No 39 tahun 1999 pasal 5 ayat 3 dijelaskan bahwa setiap orang
termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakukan dan
perindungan lebih berkenaan dengan kekhususnnya. Kelompok masyarakat yang rentan
adalah orang usia lanjut, anak-anak, fakir misin, ibu hamil dan penyandang cacat.
Sedangkan menurut Human Rights Reference yang dikutip oleh iskandar Husein
disebutkan bhwa yang tergolong ke dalam kelompok rentan adalah:
1. Refuges (pengungsi)
2. Internally Displaced Persons (IDPs) / orang terlantar
3. National Minoritis (kellompok minoritas)
4. Migrant Workers (pekerja migrant)
5. Indigenous Peoples (orang pribumi/ penduduk asli dari permukimannya)
6. Children (anak)
7. Women (perempuan)

Menurut Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, kelompok rentan adlah
semua orang yang mengalami hambatan atau ketrbatasan dalam menikmati standar
kehidupan yang layak bagi manusia dan berlaku umum bagi masyarakat yang
berperadaban. Jadi kelompok rentan dapat didefinisikan sebagai kelompok hyang harus
mendapatkanperlindungan dari pemerintah karen kondisi sosial yang sedang mereka
hadapi.

2
B. Identifikasi Kelompok Beresiko
UU No. 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana sebagai suatu peristiwa
luar biasa yang mengganggu dan mengancam kehidupan dan penghidupan yang
disebabkan oleh alam maupun manusia ataupun keduanya. Untuk menurunkan dampak
yang ditimbulkan akibat bencana, dibutuhkan dukungan beragai pihak termasuk dari
keterlibatan seorang perawat yang merupakan petugas kesehatan yang jumlahnya
terbanyak di dunia dan salah satu petugas kesehatan yang berada di lini terdepan saat
bencana terjadi (Powers & Daily, 2010).
Terdapat individu atau kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat yang lebih
rentan terhadap efek lanjut dari kejadian bencana yang memerlukan perhatian dan
penanganan khusus untuk mencegah kondisi yang lebih buruk pasca bencana. Kelompok-
kelompok ini dianaranya; anak-anak, perempuan, lansia dan penyandang cacat.
Identifikasi dan pemetaan kelompok beresiko melalui pengumpulan informasi dan data
demografi akan mempermudah perencanaan tindakan kesiap-siagaan dalam meghadapi
kejadian bencana di masyarakat (Powers & Daily, 2010, WHO & International Council
of Nursing (ICN) 2009).

C. Tindakan yang Sesuai dengan Kelompok Rentan Lansia


1. Pra bencana
a. Libatkan lansia dalam pengambilan keputusan dan sosialisasi disaster plan di
rumah
b. Mempertimbangkan kebutuhan lansia dalam perencanaan penanganan bencana,

Menurut Ida Farida (2013) Keperawatan Bencana pada lansia sebelum


bencana yakni:

a. Memfasilitasi rekonttruksi komunitas


Sejak sebelum bencana harus dilaksanakan kegiatan penyelamatan antara
penduduk dengan cepat dan akurat, dan distribusi barang bantuan setelah itupun
berjalan secara simetris, sebagai hasilnya, dilaporkan bahwa orang lansia dan
penyandang cacat yang disebut kelompok rentan pada bencana tidak pernah
diabaikan, sehingga mereka bisa hidup di pengungsian dengan tenang.

3
b. Menyiapkan pemanfaatan tempat pengungsian
Diperlukan upaya untuk penyusunan perencanaan pelaksanaan pelatihan praktek
dan pelatihan keperawatan supaya pemanfaatan yang realistis dan bermanfaat
akan tercapai (Farida, Ida 2013).
2. Saat bencana
a. Melakukan usaha bantuan penyelamatan yang tidak meningkatkan resiko
kerentanan lansia, misalnya meminimalkan guncangan/trauma pada saat
melakukan mobilisasi dan trnsportasi untuk menghindari trauma sekunder.
b. Identifikasi lansia dengan bantuan/kebutuhan khusus contohnya kursi roda,
tongkat dan lain-lain.

Menurut Ida Farida (2013) Keperawatan Lansia saat bencana adalah:

a. Tempat aman
Yang diprioriyaskan saat pada saat terjadi bencana adalah memindahkan orang
lansia ke tempat yang aman. Orang lansia sulit memperoleh informasi karen
penurunan daya pendengaran dan penurunan komunikasi dengan luar.
b. Rasa setia
Selain itu, karena mereka memiliki rasa setia yang dalam pada tanah dan rumah
sendiri, maka tindakan untuk mengungsipun mengalami peningkatan sensitivitas
sehingga mudah terkena mati rasa.

3. Pasca bencana
Program intergenerasional untuk mendukung sosialisasi komunitas dengan lansia dan
mencegah isolasi sosial lansia, diantaranya:
a. Libatkan remaja dalam pusat perawatan lansia dan kegiatan-kegiatan sosial
bersama lansia untuk memfasilitasi empati dan interaksi orang muda dan lansia
(community awareness)
b. Libatkan lansia sebagai storytellers dan animator dalam kegiatan bersama anak-
anak yang diorganisisr oleh agency perlindungan anak di posko perlindungann
bencana
c. Sediakan kesempatan belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan skill lansia
d. Ciptakan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan serta mndiri
e. Berikan kkonseling untuk meningktkan semangat hidup dan kemadirian lansia.

4
Menurut Ida Farida (2013) Keperawatan Bencana pada lansia setelah bencan adalah:

a. Lingkungan dan adaptasi


Dalam kehidupan ditempat pengungsia, terjadi berbagai ketidakcocockan
khidupan sehari-hari yang disebabkan oleh fungsi fisisk yang dibawa oleh setiap
individu sebelum bencana dan perubahan lingkungn hidup di tempat pengungsian
b. Menejemen penyakit dan pencegahan penyakit sekunder
Lingkungan ditempat pengungsian mwngundang tidak hanya ketidakcocokan
dalam kehiduppan sehari-hari bagi orang lansia, tetapi juga keadaan yang serius
pada tubuh.
c. Orang lanjut usia dan perawatan pada kehidupan di rumah sendiri
Lansia yang sudah kembali ke rumahnya, pertama membereskan perabotanya di
luar dan dalam rumah. Di bandingkan dengan generasi muda, seringkali lansia
tidak memperoleh informasi mengenai relawan, sehingga tidak bisa
memanfaatkan tenaga tersebut dengan optimal.
d. Lanjut usia dan perawatan di permukiman sementara
Lansia yang masuk ke permukiman sementara terpaksa mengadaptasikan /
menyesuaikan diri lagi terhadap lingkungan baru (lingkungan hubungan manusia
dan lingkun gan fisik) dalam waktu yang singkat.
e. Mental Care
Orang lansia mengalami penurunan daya kesiapan mupun daya adaptasi,
sehingga mudah terkena dampak secara fisik oleh stresor. Namun demikian,
orang lansia itu kecenderungan sabar dengan diam walaupun sudah terkena
dampak dan tidak mengekspresikan perasaan dan keluhan.

5
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kelompok rentan adalah semua orang yang menghadapi hambatan atau
keterbatasan dalam menikmati sandar kehidupan yang layak bagi kemanusiaan dan
berlaku umum bagi suatu masyarakat yang berperadaban. Jadi kelompok rentan dapat
didefinisikan sebagai kelompok yang harus mendapatkan perlindungan dari pemerintah
karena kondisi sosial yang sedang merek hadapi. Orang lanjut usia adalah termasuk
kelompok masyarakat rentan. Untuk megurangi dampak pada individu dari kelompok
rentan usia lanjut petugas-petugas yang terlibat dalam perencanaan ddan penanganan
bencana perlu mempersiapkan peralatan-peralatan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
kelompok rentan lansia.
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyarankan kepada para pembaca agar
memahami secara mendalam materi yang telah dipaparkan dalam makalah ini, karena
dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut sangan bermanfaat untuk meningkatkan taraf
hidup kelompok rentan.

6
Daftar Pustaka

1. Farida, Ida. 2013. Manajemen Penanggulangan Bencana Kegiatan Belajar I:


Keperawatan Bencana Pada Lansia. Jkarta: Badan Pengembangan dan Pemberdayaan
Sumber Daya Manusia, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan.
2. Farida, Ida. 2013. Mananjemen Penanggulangan Bencana Kegiatan Belajar II:
Keperawatan Bencana pada Penykit Kronik. Jakarta: Badan Pengembangan dan
Pemberdayaan Suberdaya Manusia, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan.
3. Kyman, Y. Kouppari, N. & Mukhier, M. (Eds). 207. World Disaster Report 2007: Focus
on Discrimination. Geneva, Swizterland: International Federation of Red Cross and Red
Cresent Societeies.
4. https://id.scribd.com/document/340027590/Perawatan-Pada-Kelompok-Rentan-Saat-
Bencana