Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Salah satu tujuan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang
Metrologi Legal adalah untuk melindungi kepentingan umum melalui
jaminan kebenaran pengukuran dan adanya ketertiban dan kepastian
hukum dalam pemakaian satuan ukuran, standar satuan, metode
pengukuran, dan Alat-alat Ukur, Takar, Timbang, dan Perlengkapannya
(UTTP). Dalam ketentuan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981
tentang Metrologi Legal, mengamanatkan pengaturan UTTP yang wajib
ditera dan ditera ulang, dibebaskan dari tera atau tera ulang, atau dari
kedua-duanya, serta syarat-syarat yang harus dipenuhi.
Dalam melaksanakan amanat tersebut, telah ditetapkan Peraturan
Pemerintah Nomor 2 Tahun 1985 tentang Wajib dan Pembebasan Untuk
Ditera dan/atau Ditera Ulang Serta Syarat-syarat Bagi Alat-alat Ukur,
Takar, Timbang, dan Perlengkapannya. Adapun UTTP yang wajib ditera
dan ditera ulang adalah UTTP yang dipakai untuk keperluan menentukan
hasil pengukuran, penakaran, atau penimbangan untuk kepentingan
umum, usaha, menyerahkan atau menerima barang, menentukan
pungutan atau upah, menentukan produk akhir dalam perusahaan, dan
melaksanakan peraturan perundang-undangan.
Salah satu alat ukur yang dipakai untuk kepentingan umum khususnya
dalam bidang kesehatan adalah Tensimeter. Tensimeter merupakan alat
untuk mengukur tekanan darah baik secara mekanik (Tensimeter dengan
manometer raksa dan aneroid) maupun otomatis (Tensimeter dengan
manometer digital). Tensimeter yang digunakan harus memenuhi kriteria
tertentu yang ditetapkan agar dalam penggunaannya memenuhi
persyaratan.
Berdasarkan uraian di atas, perlu disusun syarat teknis Tensimeter
sebagai pedoman bagi Pegawai Berhak dalam melaksanakan pelayanan
tera dan tera ulang serta Pengawas Kemetrologian dalam kegiatan
pengawasan Tensimeter.

1.2. Maksud dan Tujuan


1. Maksud
Untuk mewujudkan kesamaaan persepsi dan keseragaman dalam
pelaksanaan kegiatan tera dan tera ulang serta pengawasan
Tensimeter.
2. Tujuan
Tersedianya pedoman bagi Pegawai Berhak dalam melaksanakan
pelayanan tera dan tera ulang serta Pengawas Kemetrologian dalam
kegiatan pengawasan Tensimeter.

5
1.3. Pengertian
Dalam Syarat Teknis ini yang dimaksud dengan:
1. Tensimeter (sphygmomanometer) adalah alat yang digunakan untuk
pengukuran secara tidak invasif terhadap tekanan pembuluh darah
arteri.
2. Tensimeter mekanik tidak invasif adalah Tensimeter yang
menggunakan air raksa atau sebuah manometer aneroid atau alat
pengukuran mekanik lainnya untuk pengukuran tidak invasif
tekanan pembuluh darah arteri dengan menggunakan manset yang
bisa menggembung.
3. Tensimeter otomatis tidak invasif adalah Tensimeter yang
mengunakan transduser tekanan elektro-mekanik atau komponen
yang mengubah sinyal tekanan menjadi sinyal elektronik lainnya
untuk pengukuran tidak invasif tekanan pembuluh darah arteri
dengan menggunakan manset yang bisa menggembung.
4. Kantung karet (bladder) adalah komponen dari manset yang bisa
menggembung.
5. Tekanan dalam pembuluh darah (pressure in a blood vessel) adalah
tekanan dalam sistem pembuluh arteri dalam sistem tubuh.
6. Manset (cuff) adalah komponen dari Tensimeter, terdiri dari kantong
karet dan lengan baju (sleeve), yang dibalutkan pada anggota tubuh
pasien.
7. Tekanan darah diastolik adalah suatu nilai minimum dari tekanan
pembuluh darah sebagai hasil relaksasi sistem bilik jantung, karena
efek hidrostatik nilai ini harus diukur dengan manset sejajar dengan
posisi jantung.
8. Rata-rata tekanan pembuluh darah arteri adalah suatu nilai integrasi
dari kurva satu siklus pembuluh darah dibagi dengan waktu dari
satu periode detak jantung, karena efek hidrostatik nilai ini harus
diukur dengan manset sejajar dengan posisi jantung.
9. Pengukuran tekanan darah tidak invasif adalah pengukuran tekanan
pembuluh darah arteri tanpa penusukan pembuluh darah arteri.
10. Sistem pneumatik adalah sistem yang mencakup semua bagian yang
bertekanan dan pengendalinya seperti manset, pipa, penghubung,
katup, transduser dan pompa.
11. Lengan baju (sleeve) adalah bagian tidak elastis dari manset yang
membungkus kantung karet.
12. Tekanan darah sistolik adalah suatu nilai maksimum dari tekanan
pembuluh darah arteri sebagai hasil dari kontraksi sistem bilik
jantung, karena efek hidrostatik nilai ini harus diukur dengan
manset sejajar dengan posisi jantung.
13. Metode auskultasi adalah teknik dimana suara (disebut suara
Korotkoff) didengar dari pembuluh arteri tersumbat ketika tekanan
penyumbatan pelan-pelan dilepaskan, kemunculan suara bersamaan
dengan tekanan darah sistolik dan waktu menghilangya suara
dengan tekanan darah diastolik pada orang dewasa. Pada anak-anak
di bawah umur 13 tahun, maka “k4” (yaitu suara Korotkoff fasa ke-
empat) dapat disesuaikan.

6
14. Katup pengempisan adalah katup untuk mengendalikan pengeluaran
dari sistem pneumatik selama pengukuran.
15. Katup pengempisan cepat adalah katup untuk pengeluaran secara
cepat dari sistem pneumatik.
16. Penguatan keamanan (Tamper Proofing) adalah sarana untuk
mencegah pengguna mendapatkan akses yang mudah pada
mekanisme pengukuran dari Tensimeter.
17. Sistem pengukuran tekanan darah elektro-mekanis adalah sistem
yang terdiri dari:
paling sedikit ada satu manset, yang terhubung pada sistem
a.
pneumatik;
paling sedikit ada satu transdusertekananelektro-mekanik untuk
b.
mengukur tekanan manset;
c. paling sedikit ada satu perangkat penampil nilai terukur; dan
d. jika dibutuhkan, ada pemasukan dan pengeluaran sinyal.
18. Transduser tekanan elektro-mekanis adalah komponen yang
mengubah sinyal tekanan menjadi sinyal listrik.
19. Metode oscillometric (perubahan tekanan) adalah metode dimana
manset ditempatkan pada anggota tubuh dan tekanan dalam manset
meningkat hingga aliran darah di arteri terganggu dan kemudian
tekanan dalam manset secara perlahan berkurang.
20. Penyetel nol (zero setting) adalah prosedur yang mengoreksi
penyimpangan dari pembacaan tekanan ke 0 kPa (0 mmHg) pada
tekanan atmosfer (pengukur tekanan: 0 kPa (0 mmHg)).
21. Simulator pasien adalah perangkat untuk mensimulasikan pulsa
perubahan tekanan manset (oscillometric) dan/atau suara auskultasi
selama fase mengembang dan mengempis, perangkat ini tidak
digunakan untuk menguji akurasi tetapi digunakan untuk menilai
stabilitas kinerja.
22. Katup pengempisan aliran linear adalah katup untuk mengatur
pelurusan pembuangan dari sistem pneumatik selama pengukuran.
23. Kesalahan histerisis adalah nilai absolut dari perbedaan pembacaan
pengujian tekanan naik dan pembacaan pengujian tekanan turun
pada skala yang sama.

7
BAB II
PERSYARATAN ADMINISTRASI

2.1. Ruang Lingkup


Syarat Teknis ini mengatur tentang persyaratan administrasi, persyaratan
teknis dan persyaratan kemetrologian untuk Tensimeter yang bekerja
secara tidak invasif.
2.2. Penerapan
Syarat Teknis ini berlaku untuk Tensimeter mekanik tidak invasif
(Tensimeterair raksa dan aneroid) dan Tensimeter otomatis tidak invasif
(Tensimeter digital).
2.3. Identitas
1. Perangkat harus ditandai dengan informasi berikut:
a. nama dan/atau merek perusahaan;
b. nomor seri (jika ada) dan tahun pembuatan;
c. rentang pengukuran dan satuan pengukuran;
d. nomor Izin Tipe atau Izin Tanda Pabrik (jika ada);
e. titik pusat kantong karet, yang menunjukkan posisi yang benar dari
manset untuk arteri; dan
f. penandaan pada manset yang menunjukkan lingkar anggota tubuh
yang sesuai sebagaimana tercantum dalam Bab III Sub Bab 3.1
angka 1.
2. Penandaan tambahan yang dibutuhkan untuk Tensimeter yang
dilengkapi air raksa:
a. simbol (tanda) untuk melihat petunjuk penggunaan; dan
b. Penunjukan dari nominal diameter internal tabung berisi air raksa
dapat dilihat pada Bab III Sub Bab 3.1 angka 4 huruf a.

2.4. Persyaratan Tensimeter Sebelum Peneraan


1. Persyaratan sebelum dilakukan tera
a. untuk Tensimeter asal impor harus dilengkapi:
1) nomor Izin Tipe; dan
2) Label Tipe yang melekat pada Tensimeter.
b. untuk Tensimeter produksi dalam negeri harus dilengkapi:
1) nomor Izin Tanda Pabrik; dan
2) merek tanda pabrik yang melekat pada Tensimeter.
2. Persyaratan sebelum dilakukan tera ulang:
Tensimeter yang akan ditera ulang harus sudah ditera sebelumnya.

8
BAB III
PERSYARATAN TEKNIS DAN PERSYARATAN KEMETROLOGIAN

3.1. Persyaratan Teknis untuk Tensimeter Mekanik Tidak Invasif


1. Persyaratan teknis untuk manset dan kantung karet
Manset harus berisi sebuah kantong karet. Untuk manset yang bisa
digunakan kembali, pabrik pembuat harus mencantumkan cara
pembersihannya dalam dokumen yang menyertainya.
Ukuran optimum kantong karet adalah memiliki lebar sekitar 40%
lingkar anggota tubuh (misalkan lengan) pada titik tengah manset,
dan panjangnya paling sedikit 80%, lebih disarankan sekitar 100%,
dari lingkar anggota tubuh pada titik tengah manset. Penggunaan
ukuran yang salah dapat mempengaruhi akurasi pengukuran.
2. Persyaratan teknis untuk sistem pneumatik
a. Kebocoran udara
Kebocoran udara diharuskan tidak melebihi pengurangan tekanan
sebesar 0,5 kPa/menit (4 mmHg/menit).
Pengujian kebocoran udara harus dilakukan sesuai dengan
prosedur pada Lampiran I Sub Bab III huruf e.
b. Laju pengurangan tekanan
Katup pengempisan yang dioperasikan manual harus dapat
dengan mudah disetel pada laju pengempisan mulai dari 0,3
kPa/s hingga 0,4 kPa/s (2 mmHg/s hingga 3 mmHg/s).
c. Katup buang cepat
Selama pengeluaran cepat dari sistem pneumatik bekerja, dalam
keadaan katup terbuka penuh, waktu yang dibutuhkan untuk
pengurangan tekanan dari 35 kPa hingga 2 kPa (260 mmHg
hingga 15 mmHg) harus tidak melebihi 10 sekon.
Pengujian katup buang cepat harus dilakukan sesuai dengan
prosedur pada Lampiran I Sub Bab III huruf f.
3. Persyaratan
3 teknik untuk bagian penunjukan tekanan
a. Kisaran angka dan daerah pengukuran
Kisaran angka diharuskan sama dengan rentang pengukuran.
Kisaran angka dari alat pengukuran tekanan manset harus
berkisar dari 0 kPa hingga sedikitnya ke 35 kPa (0 mmHg hingga
ke sedikitnya 260 mmHg).
b. Penunjukan analog
1) Skala
Skala harus dirancang dan disusun sehingga angka hasil
pengukuran mudah dibaca dengan jelas dan mudah dikenali.
2) Penandaan skala pertama
Kenaikan angka harus dimulai dengan skala pertama pada 0
kPa (0 mmHg).
3) Interval skala
a) 0,2 kPa untuk kenaikan skala dalam satuan kPa; atau

9
b) 2 mmHg untuk kenaikan skala dalam satuan mmHg.
Pada setiap skala kelima harus diberi tanda dengan garis yang
lebih panjang dan setiap skala puluhan harus dinomori.
Contoh skala dalam satuan mmHg ditunjukkan pada Gambar
1.
Pengujian harus dilakukan dengan cara inspeksi visual.
4) Spasi skala dan ketebalan tulisan skala
Jarak antara angka skala yang berdekatan diharuskan tidak
kurang dari 1 mm. Ketebalan tanda skala tidak boleh melebihi
20% dari spasi skala terkecil.
Semua tulisan skala harus memiliki ketebalan yang sama.

Gambar 1
Contoh dari sebuah skala tensimeter aneroid (pembagian
dalam mmHg tanpa sebuah daerah toleransi pada angka nol)
4. Persyaratan teknis tambahan untuk Tensimeter air raksa
a. Diameter internal tabung berisi air raksa
Diameter internal tabung berisi air raksa diharuskan paling kecil
berukuran 3,5 mm. Toleransi dari diameter ini tidak melebihi
 0,2 mm.
b. Alat jinjing
Alat jinjing harus dilengkapi dengan pengaturan penempatan atau
mekanisme penguncian untuk mengamankan alat tersebut pada
posisi tertentu saat penggunaan.
c. Peralatan untuk mencegah tumpahnya air raksa
Sebuah alat harus ditempatkan untuk mencegah air raksa
tumpah selama penggunaan dan pengangkutan (misalnya: alat
pemberhenti, alat pengunci, dan lain-lain). Alat ini harus bekerja
pada saat tekanan dalam sistem turun dengan cepat dari 27 kPa
hingga 0 kPa (dari 200 mmHg ke 0 mmHg), waktu yang
dibutuhkan untuk kolom air raksa turun dari 27 kPa ke 5 kPa
(dari 200 mmHg ke 40 mmHg) harus tidak melebihi 1,5 sekon.
Jangka waktu tersebut disebut sebagai “waktu pengeluaran”.

10
d. Kualitas air raksa
1) Air raksa diharuskan memiliki kemurnian tidak kurang dari
99,99% berdasarkan pernyataan penyuplai air raksa.
2) Air raksa harus menampilkan meniskus yang bersih dan tidak
mengandung gelembung udara.
e. Skala kenaikan tabung air raksa
Skala kenaikan harus ditandai secara permanen pada tabung
yang berisi air raksa.
Jika penomoran dilakukan dalam skala angka lima, penomoran
harus dilakukan secara bergantian di sebelah kanan dan kiri,
bersebelahan dengan tabung.
5. Persyaratan teknis tambahan untuk Tensimeter aneroid
a. Penandaan skala nol
Jika ada zona toleransi ditunjukkan pada angka nol, maka
kisaran nilainya tidak boleh melebihi 0,4 kPa (3 mmHg) dan harus
ditandai dengan jelas.
Tanda skala angka nol harus ditunjukkan dengan kenaikan skala
dalam zona toleransi dapat dipakai.
b. Angka nol
Pergerakan elemen pengukur yang elastik termasuk penunjukan
tidak boleh terhalangi hingga 0,8 kPa (6 mmHg) di bawah angka
nol.
Baik bagian pemutar nomor maupun penunjukan harus bisa
disetel oleh pengguna.
c. Jarum Penunjuk
Jarum Penunjuk harus mencakup antara 1/3 dan 2/3 dari
panjang tanda skala terpendek. Jarum penunjuk tidak boleh lebih
tebal dari tanda skala. Jarak antara Jarum penunjuk dan
piringan skala harus tidak melebihi 2 mm.
d. Kesalahan histerisis
Kesalahan histerisis dari rentang tekanan yang diukur diharuskan
dalam kisaran 0 kPa hingga 0,5 kPa (0 mmHg hingga 4 mmHg).
e. Konstruksi dan bahan
Konstruksi Tensimeter aneroid dan bahan untuk elemen
pengukur elastik harus menjamin kestabilan yang cukup selama
pengukuran. Elemen pengukur elastik harus menyesuaikan
terhadap tekanan dan suhu.
6. Persyaratan keselamatan
a. Tahan terhadap getaran dan guncangan
Setelah pengujian, Tensimeter harus memenuhi persyaratan
dalam bagian Bab III sub bab 3.3 angka 1.
b. Keselamatan mekanik
Pada Tensimeter harus dimungkinkan untuk membatalkan
pengukuran tekanan darah setiap saat dengan mengaktifkan
katup buang, yang diharuskan untuk mudah dijangkau.

11
3.2. Persyaratan Teknis untuk Tensimeter Otomatis Tidak Invasif
1. Umum
Peralatan, atau bagian-bagiannya, menggunakan material atau
memiliki bentuk konstruksi yang berbeda dari yang dijelaskan dalam
Syarat Teknis ini harus dapat diterima jika dapat didemonstrasikan
memiliki tingkat keselamatan dan kinerja yang sama.
2. Persyaratan teknis untuk manset dan kantung karet (bladder)
Manset harus berisi sebuah kantong karet. Untuk manset yang bisa
digunakan kembali, pabrik pembuat harus mencantumkan cara
pembersihannya dalam dokumen yang menyertainya.
Ukuran optimum kantong karet adalah memiliki lebar sekitar 40%
lingkar anggota tubuh (misalkan lengan) pada titik tengah manset,
dan panjangnya paling sedikit 80%, lebih disarankan sekitar 100%,
dari lingkar anggota tubuh pada titik tengah manset. Penggunaan
ukuran yang salah dapat mempengaruhi akurasi pengukuran.
3. Persyaratan teknis untuk penunjukan (display)
Bagian penunjukan harus dirancang dan disusun sehingga informasi
yang meliputi nilai hasil pengukuran dapat dibaca dan mudah
dikenali.
Jika singkatan digunakan pada bagian penunjukan, singkatannya
harus sebagai berikut:
a. "S" atau "SYS": tekanan darah sistolik (nilai);
b. "D" atau "DIA": tekanan darah diastolik (nilai);
c. "M" atau "MAP": tekanan darah arteri rata-rata (nilai).
Singkatan huruf harus diposisikan sedemikian rupa untuk
menghindari kebingungan dengan satuan pengukuran.
4. Pengaruh variasi tegangan dari sumber listrik
a. Sumber daya listrik internal
1) Perubahan tegangan dalam rentang kerja yang telah
ditetapkan tidak akan mempengaruhi pembacaan tekanan
manset dan hasil pengukuran tekanan darah.
2) Diluar kisaran ini tidak akan ada pembacaan tekanan manset
dan tidak ada hasil pengukuran tekanan darah yang akan
ditampilkan.
b. Sumber daya listrik eksternal
1) Perubahan tegangan dalam rentang kerja yang ditetapkan oleh
pabrikan tidak akan mempengaruhi pembacaan tekanan
manset dan hasil pengukuran tekanan darah.
2) Kesalahan nilai yang dihasilkan dari variasi tegangan di luar
batas yang diberikan tidak akan ditampilkan.
Dalam hal sumber daya listrik eksternal tidak berfungsi
sebagaimana mestinya, pengempisan di bawah 2 kPa
(15 mmHg) harus dijamin selama 180 sekon dalam kasus
pasien dewasa dan di bawah 0,7 kPa (5 mmHg) selama 90
sekon dalam kasus pasien neonatal/bayi.

12
5. Sistem pneumatik
a. Kebocoran udara
Kebocoran udara tidak boleh melebihi penurunan tekanan 0,8 kPa
/menit (6 mmHg/menit).
Pengujian laju kebocoran udara harus dilakukan sesuai dengan
prosedur pada Lampiran I Sub bab III huruf e.
Sistem pengurangan tekanan untuk Tensimeter yang
b.
menggunakan metode auskultasi
Sistem pengurangan tekanan yang dioperasikan secara manual
dan otomatis oleh katup pengempisan otomatis harus mampu
mempertahankan laju pengempisan sebesar 0,3 kPa/s sampai 0,4
kPa/s (2 mmHg/s sampai 3 mmHg/s) dalam rentang target
tekanan darah sistolik dan diastolik. Untuk perangkat yang
mengendalikan penurunan tekanan sebagai fungsi dari pulsa, laju
pengempisan harus dijaga sebesar 0,3 kPa/pulsa sampai 0,4
kPa/pulsa (2 mmHg/pulsa sampai 3 mmHg/pulsa).
Katup pengempisan yang dioperasikan secara manual harus
mudah disesuaikan dengan nilai-nilai tersebut diatas.
c. Katup Buang Cepat
Selama pengeluaran cepat dari sistem pneumatik bekerja, dengan
katup terbuka penuh, waktu untuk pengurangan tekanan dari 35
kPa sampai dengan 2 kPa (260 mmHg sampai dengan15 mmHg)
diharuskan tidak melebihi 10 sekon.
Untuk sistem pengukuran tekanan darah, yang memiliki
kemampuan mengukur dalam mode bayi/anak, waktu untuk
buang cepat tidak boleh lebih dari 5 sekon, waktu untuk
pengurangan tekanan dari 20 kPa sampai dengan 0,7 kPa (150
mmHg sampai dengan 5 mmHg) selama pengeluaran cepat dari
sistem pneumatik dengan katup terbuka penuh diharuskan tidak
melebihi 5 sekon.
Pengujian katup buang cepat harus dilakukan sesuai dengan
prosedur pada Lampiran I Sub bab III huruf f.
d. Pengaturan nol
Sistem pengukuran tekanan darah harus mampu melakukan
pengaturan nol secara otomatis. Pengaturan nol harus dilakukan
pada interval yang tepat, setidaknya pada permulaan setelah
menghidupkan alat. Pada saat pengaturan nol, penunjukan
tekanan 0 kPa (0 mmHg) harus ada dan ditampilkan.
Perangkat hanya melakukan proses pengaturan nol segera setelah
perangkat diaktifkan, dan pengaturan nol akan mati secara
otomatis bila terdapat perubahan (drift) dari transduser tekanan
dan pemrosesan sinyal analog melebihi 0,1 kPa (1 mmHg).
6. Kompatibilitas elektromagnetik
a. Gangguan listrik dan/atau elektromagnetik harus tidak
mempengaruhi penunjukan tekanan manset atau hasil
pengukuran tekanan darah; atau
b. Jika gangguan listrik dan/atau elektromagnetik menyebabkan
Tensimeter tidak bekerja secara normal, maka hal tersebut harus
jelas ditunjukkan dan dimungkinkan untuk mengembalikan

13
pengoperasian secara normal dalam waktu 30 sekon setelah
penghentian gangguan elektromagnetik.
7. Stabilitas penunjukan tekanan manset
Perubahan penunjukan tekanan manset tidak boleh lebih dari ± 0,4
kPa (± 3 mmHg) sepanjang rentang tekanan setelah 10.000 siklus
pengukuran.
8. Perangkat Penunjuk Tekanan
a. Rentangnominal dan rentang pengukuran
Rentang nominal untuk pengukuran tekanan manset harus
ditentukan oleh pabrikan. Pengukuran dan penunjukan rentang
tekanan manset harus sama dengan kisaran nominal. Nilai
tekanan darah hasil pengukuran yang berada di luar kisaran
nominal tekanan manset harus jelas ditunjukkan sebagai nilai
yang di luar rentang.
b. Penunjukan Digital
Interval skala digital harus 0,1 kPa (1 mmHg).
Jika nilai yang diukur dari parameter yang akan ditunjukkan
lebih dari satu layar, maka semua penunjukan harus
menunjukkan nilai numerik yang sama.
Nilai numerik yang diukur, dan simbol-simbol yang
mendefinisikan satuan pengukuran harus diatur sedemikian rupa
untuk menghindari salah penafsiran.
Angka dan karakter harus jelas terbaca.
9. Tempat pemasukan dan pengeluaran sinyal
Konstruksi tempat pemasukan dan pengeluaran sinyal (tidak
termasuk antarmuka internal, misalnya mikrofon sinyal input) yang
relevan untuk pengukuran tekanan darah tidak harus dipastikan
bahwa jika perlengkapan yang salah dipasang atau rusak maka
penunjukan kesalahan tekanan manset ataupun kesalahan
penunjukkan tekanan darah tidak akan ditampilkan.
10. Alarm
Tensimeter dapat dilengkapi dengan alarm.
11. Keselamatan
a. Tekanan manset
Harus dimungkinkan untuk membatalkan suatu pengukuran
tekanan darah setiap saat dengan satu langkah, dan
pengoperasian ini akan menyebabkan pembuangan cepat.
b. Penghubung tabung
Penggunaan peralatan yang dimaksudkan untuk lingkungan yang
menggunakan sistem fluida intervascular harus mengambil semua
tindakan yang diperlukan untuk mencegah terhubungnya
keluaran alat pengukur tekanan darah ke sistem tersebut karena
udara yang mungkin secara tidak sengaja akan terpompa ke
dalam pembuluh darah, misalnya, dengan menggunakan Luer
lock.
c. Keselamatan listrik
Tensimeter elektronik atau otomatis harus memenuhi peraturan

14
keselamatan listrik.
d. Ketahanan terhadap getaran dan guncangan
Tensimeter tersebut harus sesuai dengan ketentuan ketahanan
terhadap getaran dan guncangan. Setelah pengujian, alat ini
harus memenuhi persyaratan dalam bagian Bab III sub bab 3.3
angka 1.
3.3. Persyaratan
3 Kemetrologian
1. Pengujian penunjukan tekanan
Batas Kesalahan yang Diizinkan (BKD) pada tera adalah ± 3 mmHg
(± 0,4 kPa) dan tera ulang adalah ± 4 mmHg (±0,5 kPa)
2. Pengujian kebocoran udara
a. Tensimeter mekanik tidak invasif
Batas maksimal kesalahan kebocoran udara pada tera dan tera
ulang adalah ≤ 4 mmHg/min (± 0,5 kPa/min)
b. Tensimeter otomatis tidak invasif
Batas maksimal kesalahan kebocoran udara pada tera dan tera
ulang adalah ≤ 6 mmHg/min (± 0,8 kPa/min)
3. Kesalahan histerisis
a. Tera
Kesalahan histerisis berada pada rentang 0 - 3 mmHg (0 - 0,4 kPa)
b. Tera ulang
Kesalahan histerisis berada pada rentang 0 - 4 mmHg (0 - 0,5 kPa)
4. Katup buang cepat
a. Waktu untuk buang cepat tidak boleh lebih dari 10 sekon
(≤ 10 sekon).
b. Untuk sistem pengukuran tekanan darah, yang memiliki
kemampuan mengukur dalam mode bayi/anak, waktu untuk
buang cepat tidak boleh lebih dari 5 sekon (≤ 5 sekon).

15
BAB IV
PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN

4.1. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan terhadap pemenuhan persyaratan Tensimeter sebelum
ditera atau ditera ulang, seperti pada Bab II Sub Bab 2.4;
2. Pemeriksaan kesesuaian penandaan, seperti pada Bab II Sub Bab 2.3;
dan
3. Tensimeter harus diperiksa untuk memastikan kesesuaian dengan
tipe yang telah mendapatkan Izin Tipe atau Izin Tanda Pabrik.

4.2 Pengujian Tera dan Tera Ulang


1. Persyaratan Umum
Tensimeterharus diuji sesuai dengan persyaratan kemetrologian
2. Pengujian Tera dan Tera Ulang untuk Tensimeter mekanik dan
Otomatis tidak invasif meliputi pengujian penunjukan tekanan,
kebocoran udara dan katup buang cepat sebagaimana tercantum
dalam Lampiran I.

16
BAB V
PEMBUBUHAN TANDA TERA

5.1. Pembubuhan
1. Tanda Daerah, Tanda Pegawai Berhak, dan Tanda Sah dibubuhkan
pada lemping tanda tera yang terbuat dari aluminium atau logam
laindengan kualitas yang tahan karat.
2. Tanda Jaminan dibubuhkan dan/atau dipasang pada bagian-bagian
tertentu dari Tensimeter yang sudah disahkan pada waktu ditera dan
ditera ulang untuk mencegah penukaran dan/atau perubahan.
3. Bentuk dan ukuran tanda tera sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang–undangan.
5.2. Tempat Pembubuhan
1. Penempatan
Lemping tanda tera dipasang pada bagian Tensimeter yang mudah
dilihat, tidak mudah lepas dan dapat menjamin keutuhan tanda-
tanda tersebut.
2. Tera
Tanda Daerah ukuran 4 mm (D4), Tanda Pegawai Berhak (H) dan
Tanda Sah Logam ukuran 4 mm (SL4) dibubuhkan pada lemping
Tanda Tera. Lemping tersebut dilekatkan dan/atau dipasang pada
Tensimeter. Tanda Jaminan dibubuhkan dan/atau dipasang pada
bagian-bagian tertentu dari Tensimeter yang sudah disahkan.
3. Tera Ulang
Terhadap Tensimeter yang telah dibubuhi Tanda Tera pada saat tera
sebagaimana dimaksud pada angka 2, pada saat tera ulang Tanda
Jaminan dimaksud diganti dengan Tanda Sah.

17
BAB VI
PENUTUP

Syarat Teknis Tensimeter merupakan pedoman bagi petugas dalam


melaksanakan tera dan tera ulang Tensimeter serta pengawasannya, guna
meminimalisir penyimpangan penggunaan Tensimeter dalam transaksi serta
upaya perwujudan tertib ukur sebagaimana diamanatkan dalam Undang-
Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal.

18
Lampiran I

PENGUJIAN TERA DAN TERA ULANG TENSIMETER MEKANIK


DAN OTOMATIS TIDAK INVASIF

I. Kondisi pengujian
a. Suhu ruangan : (25 ± 5) 0C
b. Kelembaban : (65 ± 20) %
II. Peralatan yang digunakan
a. Manometer standar yang sudah dikalibrasi dengan ketidakpastian
< 0,8 mmHg (0,1 kPa)
b. Tabung logam dengan kapasitas 500 ml ± 5%;
c. Generator tekanan, yaitu pompa bulat (pompa tangan) dengan katup
pengempisan;
d. Konektor T dan selang;
e. Pipa karet;
f. Alat pengukur waktu atau stop watch
g. Thermohygrometer
h. Cerapan pengujian sebagaimana tercantum dalam Lampiran C
III. Prosedur
a. Ganti manset tensimeter dengan tabung logam (metal vessel).
b. Hubungkan manometer standar dan generator tekanan ke sistem
menggunakan konektor T dan pipa karet seperti gambar. 2

Gambar 2 Sistem pengukuran untuk penentuan batas kesalahan dari


penunjukan tekanan manset
Keterangan:
1. Manometer standar
2. Tensimeter yang diuji
3. Tabung logam
4. Generator tekanan

19
c. Setelah mematikan pompa elektromekanik (jika terpasang),
hubungkan generator tekanan pada sistem tekanan lainnya dengan
konektor T lainnya.
d. Pengujian penunjukan tekanan naik dan turun
Tekanan yang diberikan pada sistem untuk pengujian naik dan turun
dengan interval skala tidak lebih dari 50 mmHg (7 kPa) antara skala 0
sampai dengan skala maksimal. Jumlah titik pengujian paling sedikit
5 (lima) titik.
Tentukan terlebih dahulu nilai interval skala yanga akan dipakai
dalam pengujian ini, apakah 50 mmHg, 40 mmHg, 30 mmHg, 20
mmHg, 10 mmHg atau yang lainnya.
Dalam proses pengujian tekanan naik dan turun diperbolehkan untuk
menentukan terlebih dahulu nilai tekanan naik dan turun pada
manometer standar kemudian dibandingkan dengan Tensimeter yang
diuji atau sebaliknya.
Berikut ini merupakan contoh langkah-langkah pengujian penunjukan
tekanan naik dan turun untuk interval skala 50 mmHg, sedangkan
untuk interval skala yang lainnya dapat menyesuaikan.
1. Amati pembacaan manometer standar pada titik 0 mmHg dan
catat nilai yang ditunjukkan oleh tensimeter yang diuji pada
kolom naik.
2. Berikan tekanan naik sehingga pada standar terbaca 50 mmHg
dan catat nilai yang ditunjukkan oleh tensimeter pada kolom
naik.
3. Berikan tekanan naik sehingga pada standar terbaca 100 mmHg
dan catat nilai yang ditunjukkan oleh tensimeter pada kolom
naik.
4. Berikan tekanan naik sehingga pada standar terbaca 150 mmHg
dan catat nilai yang ditunjukkan oleh tensimeter pada kolom
naik.
5. Berikan tekanan naik sehingga pada standar terbaca 200 mmHg
dan catat nilai yang ditunjukkan oleh tensimeter pada kolom
naik.
6. Berikan tekanan naik sehingga pada standar terbaca 250 mmHg
dan catat nilai yang ditunjukkan oleh tensimeter pada kolom
naik.
7. Tunggu beberapa saat atau kira-kira 5 sekon dan kemudian catat
nilai yang ditunjukkan oleh tensimeter pada kolom turun
8. Turunkan tekanan sehingga pada standar terbaca 200 mmHg dan
catat nilai yang ditunjukkan oleh tensimeter pada kolom turun.
9. Turunkan tekanan sehingga pada standar terbaca 150 mmHg dan
catat nilai yang ditunjukkan oleh tensimeter pada kolom turun.
10. Turunkan tekanan sehingga pada standar terbaca 100 mmHg dan
catat nilai yang ditunjukkan oleh tensimeter pada kolom turun.
11. Turunkan tekanan sehingga pada standar terbaca 50 mmHg dan
catat nilai yang ditunjukkan oleh tensimeter pada kolom turun.
12. Turunkan tekanan sehingga pada standar terbaca 0 mmHg dan
catat nilai yang ditunjukkan oleh tensimeter pada kolom turun.

20
e. Pengujian laju kebocoran udara
Laju kebocoran udara merupakan selisih antara pembacaan tekanan
awal (P1) dengan pembacaan tekanan setelah ditahan selama waktu
tertentu (P2)

= / min /

Langkah- langkah pengujiannya sebagai berikut:


1. Bungkus manset menyelubungi tabung.
pompa elektro-mekanik yang menjadi bagian dari alat ukur yang
diuji dapat digunakan untuk pengujian
2. Lakukan pengujian pada tekanan 34 kPa (250 mmHg), catat
penunjukan tekanan pada manometer standar sebagai P 1.
3. Tunggu selama 5 (lima) menit untuk Tensimeter mekanik dan
paling sedikit selama 1 (satu) menit untuk Tensimeter Otomatis
kemudian catat penunjukan tekanan pada manometer standar
sebagai P2.
4. Hitung laju kebocoran udara (Vb) seperti rumus di atas.
f. Pengujian katup buang cepat
1. Ganti manset dengan tabung logam (kapasitas 500 ml untuk
pengukuran tekanan darah pada orang dewasa dan kapasitas 100
ml untuk pengukuran tekanan darah pada bayi)
2. Hubungkan manometer standar dengan sistem pneumatik
menggunakan konektor T.
3. Pompa sistem hingga mencapai tekanan maksimum.
4. Buka penuh katup buang cepat.
5. Ukur waktu untuk menurunkan tekanan dari 260 mmHg sampai
dengan 15 mmHg (35 kPa sampai dengan 2 kPa).

21
Lampiran II
CERAPAN PENGUJIAN TENSIMETER

CERAPAN PENGUJIAN
TENSIMETER
UPT ATAU UPTD NOMOR ORDER
MEKANIK/OTOMATIS

Pemilik :
Alamat :

TENSIMETER YANG DIUJI


Merek/Buatan : Tanggal Uji :
Model/Tipe : Berlaku Sampai :
No. Seri : Lokasi :
Kap./Daya Baca : / mmHg Suhu Ruangan : 0C
Kelembaban :%
MANOMETER STANDAR
Nama Standar : Kapasitas :
Merek/Buatan : Daya baca :
No. Seri : Telusuran :
Model/Tipe : Berlaku sampai :

1. HASIL PENGUJIAN PENUNJUKAN TEKANAN

Pembacaan (mmHg)
Kesalahan
Tensimeter yang Histerisis
Pengujian Ke- (mmHg)
Standar diuji (mmHg)
Naik Turun Naik Turun
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
< skala
dst. maksimal
BKD = ± 3 mmHg untuk Tera dan ± 4 mmHg untuk Tera Ulang
BKD untuk Histerisis = ± 3 mmHg untuk Tera dan ± 4 mmHg untuk Tera Ulang

22
2. UJI LAJU KEBOCORAN UDARA

Pembacaan (mmHg)
Waktu Laju Kebocoran
Pengujian Penunjukan Alat Uji
t Udara (Vb)
Ke- Standar
P1 P2 (menit) (mmHg/menit)

1. 250

3. UJI KATUP BUANG CEPAT

Skala waktu BKD/MPE


Nominal
t (sekon) (sekon)
(mmHg)
260 s.d 15 10 atau 5
waktu untuk penurunan tekanan dari 35 kPa hingga 2 kPa (260 mmHg hingga 15 mmHg)
selama pembuangan cepat dari sistem pneumatik berlangsung dengan katup yang dibuka
penuh tidak melebihi 10 sekon untuk dewasa dan 5 sekon untuk mode bayi atau anak.

PEGAWAI BERHAK KETERANGAN


Nama :

Tanggal uji : SAH BATAL


Tanda tangan :

23