Anda di halaman 1dari 107
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR PAJAK II

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR PAJAK II

BAHAN AJAR

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

Oleh:

Darwin

WIDYAISWARA UTAMA

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

2014

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

DAFTAR ISI

PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERKEBUNAN, PERHUTANAN DAN PERTAMBANGAN

DASAR HUKUM, OBJEK, SUBJEK, TARIF DAN DASAR PENGENAAN

4

A. DASAR HUKUM

4

B. OBJEK DAN SUBJEK

4

C. TARIF

5

D. DASAR PENGENAAN

5

DASAR PERHITUNGAN DAN CARA MENGHITUNG PBB

7

A. DASAR PERHITUNGAN PBB

7

B. BATAS TIDAK KENA PAJAK

7

C. CARA MENGHITUNG PBB

7

PEMBAYARAN, PENAGIHAN DAN SURAT KETETAPAN PAJAK

8

A. TATACARA PEMBAYARAN

8

B. TATACARA PENAGIHAN

8

C. PENERBITAN SURAT KETETAPAN PAJAK (SKP)

9

KEBERATAN, BANDING DAN PENGURANGAN

10

A. KEBERATAN PBB

10

B. BANDING PBB

11

C. PENGURANGAN PBB

11

PEMBAGIAN HASIL DAN KETENTUAN PIDANA

13

A. PEMBAGIAN HASIL PENERIMAAN PBB

13

B. KETENTUAN PIDANA

13

PBB SEKTOR PERKEBUNAN, PERHUTANAN, DAN PERTAMBANGAN

15

A. SEKTOR PERKEBUNAN

15

B. SEKTOR PERHUTANAN

25

C. SEKTOR PERTAMBANGAN

34

REFERENSI

48

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

BEA METERAI

PENDAHULUAN

51

PENGERTIAN BEA METERAI

53

A. BEA METERAI ADALAH PAJAK

53

B. DASAR HUKUM PEMUNGUTAN BEA METERAI

55

C. BEA METERAI ADALAH PAJAK ATAS DOKUMEN

56

D. OBJEK BEA METERAI

58

E. BUKAN OBJEK BEA METERAI

60

SUBJEK, SAAT TERUTANG, DAN TARIF BEA METERAI

61

A. SUBJEK BEA METERAI

61

B. SAAT TERUTANG BEA METERAI

61

C. TARIF BEA METERAI

62

PELUNASAN BEA METERAI

65

A. PELUNASAN BEA METERAI DENGAN MENGGUNAKAN BENDA METERAI

65

B. PELUNASAN BEA METERAI MENGGUNAKAN CARA LAIN

67

C. AKIBAT APABILA KETENTUAN CARA PELUNASAN BEA METERAI TIDAK DIPENUHI

77

D. BENDA METERAI YANG SAAT INI MASIH BERLAKU DI INDONESIA

78

E. PENGADAAN DAN PENGELOAAN BENDA METERAI

79

F. PENGAWASAN TERHADAP PENGELOLAAN DAN PENJUALAN BENDA

 

METERAI

80

G. PEMETERAIAN KEMUDIAN

82

SANKSI, DALUWARSA, DAN KETENTUAN PIDANA

86

A. SANKSI ATAS KEWAJIBAN PEMENUHAN BEA CUKAI

86

B. DALUWARSA BEA METERAI

87

C. KETENTUAN KHUSUS

88

D. KETENTUAN PIDANA

89

E. KETENTUAN PERALIHAN

90

PENEGAKAN HUKUM BEA METERAI

91

A.

PEMANTAUAN PELAKSANAAN PENGENAAN BEA

91

DTSD Pajak II

iii

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

B. PEMBENTUKAN TIM VERIFIKASI PENJUALAN BENDA METERAI

C. PEMBERIAN IZIN DAN PENGAWASAN PENGGUNAAN MESIN TERAAN

91

BEA METERAI

93

D. PEMANTAUAN PROSES PENUKARAN BENDA METERAI

95

E. INTENSIFIKASI BEA METERAI

96

F. PENGALIHAN BEA METERAI LUNAS ATAS BLANKO CEK CLAN BILYET

GIRO KARENA PERUSAHAAN MENGGANTI LOGO PERUSAHAAN

97

G. PENGALIHAN BEA METERAI LUNAS ATAS BLANKO CEK DAN BILYET

GIRO KARENA PERUSAHAAN MENGUBAH NAMA PERUSAHAAN

98

H. PENGALIHAN BEA METERAI LUNAS ATAS SURAT KOLEKTIF SAHAM

99

I. BEA METERAI ATAS KARTU KREDIT

100

PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERKEBUNAN, PERHUTANAN DAN PERTAMBANGAN

DTSD Pajak II

1

PENDAHULUAN

Tanah dan bangunan merupakan barang komoditi atau merupakan barang ekonomi yang berpengaruh sangat kuat terhadap kehidupan bangsa, negara dan penduduknya. Negara sebagai organisasi yang mengatur dan memerintah rakyat serta kehidupan bernegara demi mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya berkewajiban untuk mengatur tata hidup dan pendayagunaan tanah baik sebagai barang ekonomi maupun tempat tinggal. Untuk itu sudah sejak zaman kerajaan sampai dengan berdirinya Negara, pendayagunaan tanah ini diatur oleh para penguasa atau Negara. Salah satu pengaturan pendayagunaan tanah disamping melalui Undang-undang Pokok Peraturan Agraria, Land Use dan Land Reform adalah melalui Perpajakan Atas Tanah.

Sebelum tahun 1985 disadari bahwa saat itu berlaku sistem perpajakan atas tanah dan bangunan khususnya yang menyangkut pajak kebendaan dan pajak kekayaan yang diciptakan sejak zaman Belanda, telah menimbulkan tumpang tindih antara satu pajak dengan pajak lainnya sehingga menyebabkan pajak berganda bagi masyarakat. Sesuai dengan amanat yang terkandung dalam GBHN perlu diadakan pembaharuan sistem perpajakan yang berlaku dengan sistem yang memberikan kepercayaan kepada wajib pajak dalam melaksanakan kewajibannya serta memenuhi haknya di bidang perpajakan sehingga dapat mewujudkan perluasan dan peningkatan kesadaran kewajiban perpajakan serta meratakan pendapatan masyarakat.

DTSD Pajak II

3

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

DASAR HUKUM, OBJEK, SUBJEK, TARIF DAN DASAR PENGENAAN

A. DASAR HUKUM

Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan berdasarkan kepada Undang-Undang No.12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan yang telah disempurnakan dengan Undang-Undang No.12 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas Undang- Undang No.12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan, yang selanjutnya di dalam tulisan ini disebut dengan UU PBB.

B. OBJEK DAN SUBJEK

Objek dari PBB adalah Bumi dan/atau Bangunan. Menurut UU PBB, Bumi dapat diartikan sebagai permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya.

Sedangkan permukaan bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut

wilayah

dilekatkan

yang ditanam atau

tetap pada tanah dan/atau perairan. Di dalam memori

penjelasan UU PBB yang termasuk bangunan adalah :

Indonesia.

secara

Bangunan

adalah

konstruksi

teknik

jalan lingkungan dalam suatu komplek bangunan

jalan tol

kolam renang

pagar mewah , taman mewah

tempat olah raga

galangan kapal , dermaga

tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak

fasilitas lain yang memberi manfaat

Di dalam UU PBB juga diatur beberapa objek pajak yang tidak dikenakan PBB yaitu:

1. objek yang digunakan semata-mata untuk kepentingan umum dibidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan

2. Objek yang digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala atau yang sejenis dengan itu

3. Objek yang merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, tanah negara yang belum dibebani suatu hak

4. Objek yang dipergunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan azas perlakuan timbal balik

5. Objek yang digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Kuangan

Subjek dari PBB adalah orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan. Apabila subjek pajak tersebut dikenakan kewajiban membayar pajak maka subjek pajak tersebut menjadi wajib pajak.

C. TARIF

PBB mempunyai tarif tunggal (single tarif) sebesar 0,5% yang berlaku sejak UU PBB tahun 1985 sampai dengan sekarang.

D. DASAR PENGENAAN

Yang menjadi Dasar Pengenaan PBB adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang mempunyai pengertian sebagai berikut: “harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan bilamana tidak terdapat transaksi jual beli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau nilai jual objek pajak pengganti”.

Berdasarkan pengertian NJOP tersebut terdapat 3(tiga) pendekatan penilaian yang dapat dilakukan untuk menentukan besarnya NJOP yaitu :

1. Pendekatan Data Pasar (Market Data Approach) yaitu menentukan nilai suatu objek (properti) dengan jalan membandingkan objek yang dinilai dengan objek lain yang sejenis yang telah diketahui nilai jualnya. Pendekatan ini dapat juga disebut dengan Metode Perbandingan Harga.

DTSD Pajak II

5

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

2. Pendekatan Biaya ( Cost Approach ) yaitu menentukan nilai suatu objek (properti) dengan jalan menghitung seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh objek tersebut. Biaya yang diperhitungkan adalah biaya bangunan baru kemudian dikurangi dengan penyusutan yang ada.

3. Pendekatan Pendapatan (Income Approach) yaitu menentukan nilai suatu objek (properti) dengan jalan mengkapitalisasikan pendapatan bersih dari objek tersebut dengan suatu tingkat kapitalisasi tertentu. Pendekatan ini dapat juga disebut Pendekatan Kapitalisasi.

NJOP ditetapkan oleh Menteri Keuangan setiap 3(tiga) tahun, kecuali daerah tertentu setiap tahun sesuai dengan perkembangan sosial dan ekonomi setempat. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 150/PMK.03/2010, klasifikasi bumi(tanah) dan bangunan terbagi atas dua bagian besar yaitu pertama, untuk sektor perdesaan dan perkotaan dan kedua adalah untuk sektor perkebunan, perhutanan dan pertambangan. Untuk sektor perdesaan dan perkotaan, kelas bumi(tanah) terdiri dari 100 kelas sedangkan bangunan terdiri dari 40 kelas, sedangkan untuk sektor perkebunan, perhutanan dan petambangan, kelas bumi(tanah) terdiri dari 200 kelas sedangkan bangunan terdiri dari 100 kelas.

DASAR PERHITUNGAN DAN CARA MENGHITUNG PBB

A. DASAR PERHITUNGAN PBB

Yang menjadi dasar perhitungan PBB adalah Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) yaitu

suatu persentase tertentu dari NJOP. Berdasarkan UU PBB, NJKP ditentukan

serendah-rendahnya 20% dan setinggi-tingginya 100% dari NJOP. Berdasarkan

Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2002 tanggal 13 Mei 2002 ditetapkan

bahwa untuk objek pajak dengan nilai jual satu milyar atau lebih serta objek pajak

sektor perkebunan, perhutanan dan pertambangan NJKPnya sebesar 40% dari

NJOP dan untuk objek pajak lainnya sebesar 20% dari NJOP.

B. BATAS TIDAK KENA PAJAK

Di dalam pengenaan PBB terdapat suatu batas nilai yang tidak dikenakan pajak

yang disebut Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP). Berdasarkan

Peraturan Menteri Keuangan No: 23/PMK.03/2014 tanggal 3 Pebruari 2014

ditetapkan batas NJOPTKP sebesar Rp12 juta per Wajib Pajak.

C. CARA MENGHITUNG PBB

Dari beberapa parameter yang telah disebutkan di atas maka besarnya PBB

terutang dapat dihitung dengan menggunakan formula:

PBB

= Tarif x NJKP x (NJOP - NJOPTKP)

= 0,5% x 20% x (NJOP - NJOPTKP) atau

= 0,5% x 40% x (NJOP - NJOPTKP)

DTSD Pajak II

7

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

PEMBAYARAN, PENAGIHAN DAN SURAT KETETAPAN PAJAK

A. TATACARA PEMBAYARAN

Wajib Pajak langsung melakukan pembayaran ke Bank Tempat Pembayaran (Bank TP) atau Kantor Pos Tempat Pembayaran (Kantor Pos TP) dengan membawa SPPT asli. Setelah pembayaran WP akan memperoleh STTS asli yang telah diregister oleh Pejabat Bank/Kantor Pos TP.

1. Wajib Pajak dapat melakukan pembayaran melalui pemidahbukuan uang dari rekening WP ke rekening Kas Negara qq PBB (nama rekening Kas Negara untuk penerimaan PBB).

2. Wajib Pajak dapat mengirimkan uang (transfer) melalui Bank maupun Kantor Pos ke rekening Kas Negara qq PBB.

3. Untuk Wajib Pajak sektor perdesaan dan perkotaan dapat membayar melalui petugas pemungut yang ditunjuk. Dari petugas, Wajib Pajak akan menerima Tanda Terima Sementara (TTS). Petugas akan menyetorkan uang yang diterimanya dari WP ke Bank/Kantor Pos TP dan menerima STTS asli yang kemudian harus dikirimkannya (dikembalikan) kepada Wajib Pajak yang telah membayar. Disamping itu untuk wajib pajak sektor perdesaan dan perkotaan juga dapat melakukan pembayaran melalui jaringan ATM yang telah bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dalam pembayaran PBB

B. TATACARA PENAGIHAN

Jatuh tempo SPPT adalah 6 (enam) bulan. Pembayaran setelah lewat jatuh tempo WP akan dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan maksimum 24 bulan (48%). Setelah jatuh tempo dan WP belum juga membayar PBB akan dikeluarkan Surat Tagihan Pajak (STP) yang jatuh temponya 1(satu) bulan. Kemudian berturut-turut akan dikeluarkan Surat Paksa (SP), Surat Perintah Melakukan Penyitaan (SPMP) dan akhirnya barang sitaan

akan dilelang untuk membayar PBB (Tata Urutan Penagihan diatur lebih lanjut dalam Undang Undang Penagihan Pajak).

C. PENERBITAN SURAT KETETAPAN PAJAK (SKP)

Sebab-sebab terbitnya SKP :

1. SPOP tidak kembali. SPOP yang dikirim ke Wajib Pajak harus dikembalikan dalam waktu 30 (tigapuluh) hari sejak tanggal diterima oleh WP. Lewat waktu akan ditetapkan secara jabatan dengan mengeluarkan SKP. Jumlah ketetapan pajak dalam SKP adalah jumlah pokok pajak (secara jabatan) ditambah denda administrasi sebesar 25%. Jatuh tempo SKP adalah 1(satu) bulan. Lewat jatuh tempo akan diberlakukan UU Penagihan Pajak.

2. SPOP dikembalikan oleh WP kemudian diproses menjadi SPPT. Setelah terbit SPPT terdapat data baru hasil pemeriksaan SPOP yang menyebabkan Pajak Terutang tambah besar. Atas kekurangan pajak tersebut akan diterbitkan SKP yang jumlahnya adalah sebesar kekurangan ditambah denda administrasi 25% dari kekurangan tersebut.

SPPT, SKP dan STP adalah merupakan dasar penagihan PBB (Pasal 12 UU PBB).

DTSD Pajak II

9

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

KEBERATAN, BANDING DAN PENGURANGAN

A. KEBERATAN PBB

1. WP dapat mengajukan keberatan atas SPPT atau SKP mengenai :

a. Luas objek bumi dan bangunan

b. NJOP/ klasifikasi bumi dan atau bangunan

c. Perbedaan penafsiran UU dan peraturan perundang-undangan antara WP dengan fiskus, misalnya:

1). Penetapan Subjek Pajak sebagai wajib pajak 2). Objek Pajak yang seharusnya tidak dikenakan PBB 3). Penerapan Nilai Jual Kena Pajak (NJKP), Standar Investasi Tanaman (SIT), Run Of Mine (ROM), Free On Board (FOB), Free On Rail (FOR)

4). Penentuan saat pajak terutang 5). Tanggal jatuh tempo

2. Keberatan diajukan dalam waktu 3(tiga) bulan setelah terima SPPT/SKP, kecuali apabila wajib pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.

3. Pengajuan keberatan yang tidak memenuhi persyaratan tersebut tidak dapat

dipertimbangkan.

4. Dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima, Direktorat Jenderal Pajak harus memberikan keputusan atas pengajuan keberatan.

5. Apabila Direktorat Jenderal Pajak tidak memberikan suatu keputusan dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan maka pengajuan keberatan wajib pajak dianggap diterima.

6. Keputusan Direktorat Jenderal Pajak atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah besarnya jumlah pajak yang terhutang.

7. Pengajuan keberatan oleh WP tidak menunda kewajiban membayar pajak

8.

Wajib Pajak dapat mengajukan banding kepada badan peradilan pajak terhadap Keputusan Keberatan.

B. BANDING PBB

1. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada badan peradilan pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan Direktur Jenderal Pajak.

2. Permohonan banding diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia, dengan alasan yang jelas dalam waktu 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima, dilampiri surat keputusan tersebut.

3. Satu surat pengajuan banding untuk satu SK Keberatan.

4. Jumlah pajak terutang harus dibayar lebih dahulu sebesar 50%

5. (lebih lanjut lihat UU Peradilan Pajak)

C. PENGURANGAN PBB

1. Pengurangan PBB dapat diberikan kepada :

a. Wajib pajak orang pribadi atau badan karena kondisi tertentu objek pajak yang ada hubungannya dengan subjek pajak atau sebab-sebab tertentu lainnya yaitu :

1). Objek pajak berupa lahan pertanian/ perkebunan/ perikanan/ peternakan yang hasilnya sangat terbatas yang dimiliki, dikuasai, dan atau dimanfaatkan oleh wajib pajak orang pribadi.

2). Objek pajak yang dimiliki, dikuasai dan atau dimanfaatkan oleh wajib pajak orang pribadi yang berpenghasilan rendah yang nilai jualnya meningkat akibat adanya pembangunan atau perkembangan lingkungan

3). Objek pajak yang dimiliki, dikuasai dan atau dimanfaatkan oleh wajib pajak orang pribadi yang penghasilannya semata-mata dari pensiunan, sehingga kewajiban PBB-nya sulit dipenuhi

DTSD Pajak II

11

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

4). Objek pajak yang dimiliki, dikuasai dan atau dimanfaatkan oleh wajib pajak orang pribadi yang berpenghasilan rendah, sehingga kewajiban PBB-nya sulit dipenuhi.

5). Objek pajak yang dimiliki, dikuasai dan atau dimanfaatkan oleh Wajib Pajak veteran pejuang kemerdekaan dan veteran pembela kemerdekaan termasuk janda/dudanya.

6). Objek pajak yang dimiliki, dikuasai dan atau dimanfaatkan oleh wajib pajak badan yang mengalami kerugian dan kesulitan likuiditas yang serius sepanjang tahun, sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban rutin perusahaan.

b. Wajib Pajak orang pribadi dalam hal objek pajak terkena bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, gunung meletus dan sebagainya serta sebab-sebab lain yang luar biasa seperti kebakaran, kekeringan, wabah penyakit dan hama tanaman.

c. Wajib Pajak anggota veteran pejuang kemerdekaan dan veteran pembela kemerdekaan termasuk janda/dudanya.

2. Permohonan pengurangan diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia kepada Kepala KPP Pratama yang menerbitkan SPPT atau SKP dengan mencantumkan besarnya persentase pengurangan yang dimohonkan.

3. Permohonan

terhitung:

pengurangan

diajukan

selambat-lambatnya

3

(tiga)

a. Sejak tanggal diterimanya SPPT/SKP

bulan

b. Sejak terjadinya bencana alam atau sebab-sebab lain yang luar biasa.

4. Keputusan atas permohonan pengurangan dapat berupa mengabulkan seluruh, sebagian atau menolak permohonan.

5. Keputusan atas permohonan pengurangan harus diterbitkan selambat- lambatnya 3 (tiga) bulan sejak diterimanya permohonan pengurangan dari Wajib Pajak, apabila jangka waktu tersebut telah lewat dan Keputusan belum diterbitkan, maka permohonan wajib pajak dianggap dikabulkan.

PEMBAGIAN HASIL DAN KETENTUAN PIDANA

A. PEMBAGIAN HASIL PENERIMAAN PBB

Hasil penerimaan PBB yang diterima oleh Bank/Kantor Pos TP dari para WP dalam jangka waktu satu minggu (setiap hari Jum’at) harus dilimpahkan ke Bank/Kantor Pos Persepsi. Oleh Bank/Kantor Pos Persepsi kemudian dilimpahkan ke Bank/Kantor Pos Operasional III juga pada setiap hari Jum’at. Kemudian oleh Bank/Kantor Pos Operasional III pelimpahan penerimaan PBB dari Bank/Kantor Pos Persepsi tersebut pada setiap hari Jum’at dibagikan kepada yang berhak menerimanya yaitu :

10 % untuk bagian Pemerintah Pusat

9 % untuk bagian Biaya Pemungutan

16,2 % untuk bagian Pemerintah Propinsi

64,8 % untuk bagian Pemerintah Kabupaten/Kota

Sejak tahun anggaran 1994/1995 bagian Pemerintah Pusat sebesar 10% dilimpahkan kembali kepada daerah Kabupaten/Kota dengan imbangan sbb :

6,5 % dibagikan merata keseluruh daerah Kabupaten/Kota

3,5 % dibagikan sebagai insentif kepada daerah Kabupaten/Kota yang mengalami surplus rencana penerimaan sektor pedesaan dan perkotaan.

B. KETENTUAN PIDANA

Apabila WP :

1. Karena alpa/lupa :

tidak mengembalikan/menyampaikan SPOP kepada DJP;

menyampaikan SPOP, tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap dan/atau melampirkan keterangan yang tidak benar; sehingga menimbulkan kerugian pada Negara, dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya sebesar 2 (dua) kali pajak yang terhutang.

2. Karena sengaja :

tidak mengembalikan/menyampaikan SPOP;

DTSD Pajak II

13

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

menyampaikan SPOP tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap dan/atau melampirkan keterangan yang tidak benar;

memperlihatkan surat palsu atau dipalsukan atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar;

tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan surat atau dokumen lainnya;

tidak menunjukkan data atau tidak menyampaikan keterangan yang diperlukan. sehingga menimbulkan kerugian kepada Negara, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 2 (dua) tahun atau setinggi-tingginya sebesar 5 (lima) kali pajak yang terhutang.

Terhadap bukan wajib pajak yang bersangkutan, yang melakukan tindakan sebagaimana tersebut di atas, dipidana dengan pidana kurungan selama- lamanya 1 (satu) tahun atau denda setinggi-tingginya Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah).

Ancaman pidana tersebut dilipatkan dua apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak selesai menjalani sebagian atau seluruh pidana penjara yang dijatuhkan atau sejak dibayarnya denda.

PBB SEKTOR PERKEBUNAN, PERHUTANAN, DAN PERTAMBANGAN

A. SEKTOR PERKEBUNAN

Perkebunan adalah usaha pertanian yang diusahakan dengan pengurusan yang teratur dan sistematik, penjagaan tanaman yang rapi, kawasan tanaman yang luas, pengeluaran produk yang teratur dan mengikuti jadual (Abd.Rachman, 1992: 109).

PBB sektor Perkebunan, peraturan pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tanggal 27 Desember 2010 dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-149/PJ/2010 tanggal 27 Desember 2010. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER- 64/PJ/2010 tersebut di atas, yang dimaksud dengan objek pajak sektor perkebunan adalah objek pajak bumi dan bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan, yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan yang diberikan hak guna usaha perkebunan.

Sebagaimana halnya dengan sektor pedesaan dan perkotaan, pendataan untuk sektor perkebunan juga menggunakan Surat Pemberitahuan Objek Pajak Sektor Perkebunan. SPOP sektor perkebunan ini dikirim ke wajib pajak yaitu perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan. Setelah diisi secara jelas, benar, lengkap dan ditandatangani oleh salah seorang dari direksi perkebunan, SPOP tersebut kemudian dikirim ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama dengan dilampiri data pendukung yang dibutuhkan berupa fotokopi surat dari Dinas Perkebunan tentang izin (hak) pengelolaan perkebunan ataupun fotokopi Hak Guna Usaha dari Badan Pertanahan Nasional. Untuk menguji kebenaran data yang tercantum di dalam SPOP Perkebunan tersebut, Kantor Pelayanan Pajak Pratama dapat menggunakan data dari instansi terkait yaitu Dinas Perkebunan setempat.

Penilaian untuk menentukan NJOP perkebunan menggunakan pendekatan biaya (cost approach) yang tercermin dari adanya Standar Investasi Tanaman (SIT)

DTSD Pajak II

15

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

perkebunan. Standar Investasi Tanaman perkebunan adalah jumlah biaya tenaga kerja, bahan dan alat yang diinvestasikan untuk pembukaan lahan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman. Standar Investasi Tanaman perkebunan ini masing-masing berbeda menurut umur dan jenis tanamannya. Misalnya tanaman coklat yang berumur satu tahun akan berbeda dengan yang telah berumur lebih dari satu tahun. Tanaman coklat akan berbeda Standar Investasinya dengan tanaman karet walaupun umurnya sama. Demikian juga Standar Investasi Tanaman ini berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sedangkan

Dalam penentuan SIT ini terdapat beberapa istilah yang perlu diketahui sebagai berikut:

Tanaman berumur panjang adalah tanaman yang berumur lebih dari satu tahun dan pemungutan hasilnya dilakukan lebih dari satu kali dan tidak dibongkar sekali panen.

Tanaman berumur pendek adalah tanaman yang berumur sampai dengan satu tahun dan pemungutan hasilnya dilakukan satu kali dan dibongkar sekali panen.

Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) adalah tanaman pada fase belum menghasilkan yang dimulai dari umur tanaman satu tahun (TBM1) dan seterusnya sampai dengan tahun terakhir tanaman tersebut belum menghasilkan (TBMn) yang rentang fasenya tergantung masing-masing jenis tanaman.

Tanaman Menghasilkan (TM) adalah tanaman pada fase menghasilkan yang dimulai dari tahun pertama tanaman menghasilkan (TM1) sampai dengan tahun terakhir tanaman tersebut menghasilkan (TMn) yang rentang fasenya tergantung masing-masing jenis tanaman.

Satuan Biaya Tanam (SBT) adalah satuan biaya yang diinvestasikan tiap tahun berdasarkan umur dan jenis tanaman.

Satuan Biaya Pembangunan Kebun (SBPK) adalah satuan biaya tahunan perkegiatan yang meliputi kegiatan pembukaan lahan dan penanaman yang selanjutnya disebut P0, pemeliharaan tahun pertama yang disebut P1, dan seterusnya sampai dengan pemeliharaan tahun terakhir sebelum tanaman tersebut menghasilkan yang disebut Pn untuk setiap hektar perluasan kebun disuatu wilayah yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan,

Departemen Pertanian. SBPK yang diterbitkan ini dikelompokkan menjadi 6 (enam) wilayah, yaitu:

1. Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali

2. Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, Sumatera Barat, Bangka Belitung

3. Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau

4. Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur

5. Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur

6. Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat

Secara empiris besarnya biaya tenaga kerja, bahan dan alat adalah sebesar 71% dari biaya dalam SBPK, sedangkan sisanya sebesar 29% merupakan biaya infrastruktur, sertifikasi lahan, management fee dan administrasi. Contoh SBPK tahun 2009 seperti tabel berikut.

Gambar 1 Satuan Biaya Pembangunan Kebun

dan administrasi. Contoh SBPK tahun 2009 seperti tabel berikut. Gambar 1 Satuan Biaya Pembangunan Kebun DTSD

DTSD Pajak II

17

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

Indeks Biaya Tanaman yang selanjutnya disebut IBT adalah angka yang digunakan sebagai dasar penentuan SBT untuk fase TM dan disusun oleh Direktorat Jenderal Pajak sebagaimana tabel berikut.

Gambar 2 Tabel Indeks Biaya Tanaman

tabel berikut. Gambar 2 Tabel Indeks Biaya Tanaman Tabel Indeks Biaya Tanam (IBT) Penghitungan SIT untuk

Tabel Indeks Biaya Tanam (IBT)

Penghitungan SIT untuk tanaman berumur panjang sebagai berikut:

1. SIT pada fase TBM ditetapkan sebagai berikut:

a. SIT pada fase TBM1 merupakan SBT pada fase TBM1

b. 2) SIT pada TBM2 merupakan penjumlahan dari SIT pada fase TBM1 dengan SBT pada fase TBM2.

c. 3) SIT pada fase TBMn merupakan penjumlahan dari SIT pada fase TBMn-1 dengan SBT pada fase TBMn

2. SIT pada suatu tahun dalam fase TM ditetapkan sebesar SIT pada fase TBM terakhir (TBMn) ditambah dengan SBT pada fase TM tahun tersebut.

3. Rincian fase TBM dan TM sesuai umur tanaman masing-masing jenis tanaman adalah seperti tabel berikut.

Gambar 3 Fase TBM dan TM Sesuai Umur dan Jenis Tanaman

Gambar 3 Fase TBM dan TM Sesuai Umur dan Jenis Tanaman Tabel Rincian fase TBM dan

Tabel Rincian fase TBM dan TM sesuai umur tanaman

Penghitungan SBT pada tanaman berumur panjang adalah sebagai berikut:

1. SBT pada fase TBM:

a. SBT pada fase TBM1 adalah sebesar 71% dari SBPK untuk kegiatan P0 dan kegiatan P1

b. SBT pada fase TBM2 adalah sebesar 71% dari SBPK untuk kegiatan P2 dan seterusnya

DTSD Pajak II

19

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

c. SBPK pada angka 1) dan angka 2) di atas adalah SBPK untuk tahun sebelum tahun pajak berjalan.

d. Dalam hal SBPK pada angka 3) di atas tidak diterbitkan, maka SBT pada fase TBM tahun pajak berjalan ditentukan berdasarkan penyesuaian SBT pada fase TBM tahun pajak sebelumnya dengan tingkat diskonto 10%, dengan formula sebagai berikut:

SBT t = SBT t-1 x ( 1 + i )

dimana:

SBT t = SBT tahun pajak berjalan SBT t-1 = SBT tahun pajak sebelumnya i = tingkat diskonto yang ditetapkan sebesar 10%

2. SBT pada fase TM ditetapkan sebesar SBT pada fase TBM terakhir (TBMn) dikalikan dengan IBT pada fase TM tersebut.

Contoh perhitungan SIT Kelapa Sawit tahun 2011 dan penjelasannya adalah sebagai berikut.

TM tersebut. Contoh perhitungan SIT Kelapa Sawit tahun 2011 dan penjelasannya adalah sebagai berikut. 20 DTSD

Penjelasan:

Kolom 1:

Fase tanaman dikelompokkan menjadi fase TBM dan fase TM.

Kolom 2:

Fase TBM terdiri dari TBM1 (kegiatan P0 dan P1), TBM2 (kegiatan P2) dan seterusnya. Fase TM terdiri dari TM1 sampai dengan TM22 Umur tanaman kelapa sawit mulai dari umur 1 tahun sampai 25

Kolom 3:

tahun IBT yang digunakan sebagai dasar perhitungan SBT pada fase TM

Kolom 4:

SBPK per ha yang diterbitkan Direktorat Jenderal Perkebunan pada

Kolom 5:

tahun sebelum tahun pajak berjalan pada fase TBM. SBT per ha pada fase TBM untuk tahun pajak berjalan.

Perhitungan SBT untuk fase TBM sebagai berikut:

a. SBT TBM1 (P0)= 71% x (SBPK P0) = 71% x 13.768.000=

9.775.280 x (1+0,1) = Rp10.752.808,-

 

b. SBT TBM1 (P1)=

71% x (SBPK P1)

=

71% x 7.950.000 =

 

5.644.500

x (1+0,1) = Rp6.208.950,-

 

c.SBT TBM2 (P2)= 71% x (SBPK P2)

=

71% x 7.688.000 =

 

5.458.480

x (1+0,1) = Rp6.004.328,-

 

d.

SBT TBM3 (P3)=

71% x (SBPK P3)

=

71% x 8.365.000 =

 

5.939.150

x (1+0,1) = Rp6.533.065,-

Kolom 6:

SBT per ha pada fase TM untuk tahun pajak berjalan.

Perhitungan SBT untuk fase TM sebagai berikut:

a.

SBT TM1 = (SBT TBM3) x (IBT TM1) = 6.533.065 x 0,9514 =

 

Rp6.215.558,-

 

Kolom 7:

SIT per ha untuk Tahun Pajak berjalan, merupakan nilai tanaman

sesuai umurnya, dihitung dengan cara sebagai berikut:

a. SIT TBM1 = (SBT TBM1) = (SBT P0) + (SBT P1) = 10.752.808 + 6.208.950 = Rp16.961.758,-

b. SIT TBM2 = (SIT TBM1) + (SBT TBM2) = 16.961.758 + 6.004.328 = Rp22,966.086,-

DTSD Pajak II

21

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

c. SIT TBM3 = (SIT TBM2) + (SBT P3) = 22.966.086 + 6.533.065 = Rp29.499.151,-

d. SIT

TM1

=

(SIT

TBM3)

+

(SBT

TM1)

=

29.499.151

+

6.215.558

= Rp35.714.709,-

 

e. SIT

TM2

=

(SIT

TBM3)

+

(SBT

TM2)

=

29.499.151

+

5.913.730

= Rp35.412.881,-

 

f. SIT

TM3

=

(SIT

TBM3)

+

(SBT

TM3)

=

29.499.151

+

5.626.929 = Rp35.126.080,-

g. Dan seterusnya

Kolom 8: SIT per M 2 sebagai dasar ketetapan nilai tanaman.

Penghitungan SIT untuk tanaman berumur pendek ditentukan sebesar biaya pengolahan tanah, penanaman, dan pemeliharaan untuk tanaman tersebut.

Di dalam suatu wilayah perkebunan terdapat beberapa jenis areal yaitu: a) areal produktif, b) areal belum produktif, c) areal emplasemen dan d) areal lainnya.

Pengertian dari masing-masing areal dan penentuan NJOPnya adalah sebagai berikut:

1. Areal Produktif adalah suatu areal di dalam wilayah suatu perkebunan yang telah ditanami dengan komoditas perkebunan baik telah menghasilkan ataupun belum menghasilkan. Nilai tanah untuk areal ini merupakan penjumlahan dari Nilai Dasar Tanah dengan Standar Investasi Tanaman. Nilai Dasar Tanah diperoleh dari perkalian luas tanah areal produktif dengan nilai dasar tanah areal produktif per meter persegi. Nilai dasar tanah areal produktif merupakan hasil penilaian di lapangan yang dihitung dalam satuan rupiah per meter persegi sedangkan Standar Investasi Tanamannya dihitung dalam satuan rupiah per hektar.

2. Areal Belum Produktif merupakan suatu areal di dalam wilayah suatu perkebunan yang terdiri dari areal yang sudah diolah tetapi belum ditanami dan areal yang belum diolah. Nilai tanah untuk areal yang sudah diolah tetapi belum ditanami merupakan perkalian luas tanah areal sudah diolah tetapi belum ditanami dengan nilai dasar tanah areal sudah diolah tetapi belum ditanami per meter persegi termasuk di dalamnya biaya

pembukaan lahan, sedangkan nilai tanah untuk areal yang belum diolah merupakan perkalian luas tanah belum diolah dengan nilai dasar tanah areal belum diolah per meter persegi.

3. Areal Emplasemen adalah suatu areal di dalam wilayah suatu perkebunan yang diatasnya terdapat bangunan-bangunan dan sarana pelengkap lainnya, seperti perumahan karyawan, kantor perusahaan, gudang, dan lain-lain. Nilai tanah untuk areal emplasemen ini adalah merupakan perkalian luas tanah areal emplasemen dengan nilai dasar tanah emplasemen per meter persegi termasuk biaya pematangan tanah.

4. Areal Lainnya terdiri dari areal tidak produktif/tidak dapat dimanfaatkan (seperti rawa, cadas, dan jurang) dan areal jalan yang meliputi jalan utama yang terletak di dalam/di luar areal perkebunan, jalan produksi yang berfungsi untuk pengumpulan hasil dan jalan kontrol yang berfungsi untuk pengawasan areal perkebunan. Nilai tanah untuk areal tidak produktif merupakan perkalian luas tanah areal tidak produktif dengan nilai dasar tanah areal tidak produktif per meter persegi, sedangkan nilai tanah areal jalan merupakan perkalian luas tanah areal jalan dengan nilai dasar tanah areal jalan per meter persegi termasuk di dalamnya biaya pematangan tanah.

Perhitungan nilai tanah per meter persegi suatu areal perkebunan adalah dengan jalan membagi nilai tanah seluruh areal dengan luas tanah seluruh areal. Hasil perhitungan ini yang merupakan nilai tanah per meter persegi suatu areal kebun kemudian dikonversi ke dalam Tabel Klasifikasi Tanah untuk menentukan NJOP per meter persegi dari areal perkebunan tersebut sebagai dasar untuk menghitung PBB terutang. 1

Contoh perhitungan PBB Perkebunan:

PT.Sawit Seberang, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit didaerah Sumatera Utara memiliki/menguasai/mendapat manfaat dari tanah dan bangunan dengan rincian sebagai berikut :

1 Pola perhitungan seperti ini menimbulkan bias terhadap nilai yang sebenarnya dari masing- masing areal, karena kemungkinan terdapat perbedaan nilai tanah yang sangat signifikan dari masing-masing areal. Sebaiknya digunakan perhitungan masing-masing nilai tanah di dalam suatu areal langsung dikonversi ke Tabel Klasifikasi.

DTSD Pajak II

23

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

A. Tanah

1. Areal kebun :

a. Usia tanaman 2 tahun : 100 Ha, Nilai Dasar Tanah (NDT) = Rp1.700,-

/ M2. SIT (TBM2)

: Rp22.966.086,- per Ha

b. Tanaman sudah menghasilkan : 300 Ha, NDT = Rp1.700,-/M2

S I T ( TM1 )

2. Areal emplasemen :

: Rp35.714.709,- per Ha

a. Kantor : 0,5 Ha , NDT = Rp14.000,- / M2

b. Gudang : 1 Ha , NDT = Rp10.000,- / M2

c. Pabrik : 2 Ha, NDT = Rp10.000,- / M2

B. Bangunan :

a. Kantor : 500 M2 , Nilai Bangunan = Rp700.000,- / M2

b. Gudang : 1.000 M2, Nilai Bangunan = Rp505.000,- / M2

c. Pabrik : 4.000 M2 , Nilai Bangunan = Rp365.000,- / M2

Hitung PBB atas perkebunan tersebut bila NJOPTKP : Rp10 juta!

Jawaban:

A. Nilai Tanah:

1. Areal Kebun :

a. Usia tanaman 2 tahun : 100 x 10.000 x Rp1.700 = Rp 1.700.000.000,-

SIT (TBM2): 100 x Rp22.966.086,-

b. Tanaman sdh menghasilkan :

300

5.100.000.000,- SIT (TM1):

Rp10.714.412.700,-

x

300

= Rp 2.296.608.600

10.000

x

x

Rp

Rp35.714.709,-=

Rp1.700=

2. Areal Emplasemen :

a. Kantor : 0,5 x 10.000 x Rp14.000,-

b. b. Gudang : 1 x 10.000 x Rp10.000,-

c. c. Pabrik : 2 x 10.000 x Rp10.000,-

Nilai Tanah ( 1 + 2 )

Nilai Tanah/M2 = Rp20.181.021.300/4.035.000 = Rp5.001,49/M2 Hasil konversi : Kelas 161 = Rp5.000,- /M2

= Rp

= Rp 100.000.000,- = Rp 200.000.000,- = Rp20.181.021.300,-

70.000.000,-

NJOP Tanah seluruhnya = 4.035.000 x Rp5.000 = Rp20.175.000.000,-

B. Nilai Bangunan :

a. Kantor : 500 x Rp700.000,-

= Rp

350.000.000,-

b. Gudang : 1.000 x Rp505.000,-

= Rp

505.000.000,-

c. Pabrik : 4.000 x Rp365.000,- Nilai Bangunan seluruhnya

= Rp 1.460.000.000,-

= Rp 2.315.000.000,-

Nilai Bangunan/M2 = Rp2.315.000.000 / 5.500 = Rp420.909,09

Hasil konversi : Kelas 068 = Rp427.000,- /M2

NJOP Bangunan seluruhnya = 5.500 x Rp427.000,- = Rp2.348.500.000,-

NJOP Tanah dan Bangunan seluruhnya

NJOPTKP

NJOP untuk perhitungan PBB

= Rp22.523.500.000,-

= Rp

10.000.000,-

= Rp22.513.500.000,-

PBB = 0,5% x 40% x Rp22.513.500.000,- = Rp45.027.000,-

B. SEKTOR PERHUTANAN

Eksploitasi hutan di Indonesia pada umumnya menggunakan sistem konsesi yang terdiri dari beberapa tipe yaitu (Wahyu, 2003: 223):

a. Hak Pengusahaan Hutan (HPH)

b. Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH)

c. Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI)

Berdasarkan penguasaannya hutan di Indonesia dapat dibagi dalam 3(tiga) wilayah yaitu, wilayah hutan negara, wilayah pengusahaan hutan , dan wilayah budidaya hutan. Wilayah hutan Negara jelas belum dikenakan PBB karena merupakan milik Negara yang belum dibebani suatu hak diatasnya. Sedangkan wilayah pengusahaan hutan dan wilayah budidaya hutan sudah dikenakan PBB. Disamping itu berdasarkan kemanfaatannya, hutan dapat dibagi atas hutan produksi, hutan tanaman, dan hutan alam.

DTSD Pajak II

25

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan, sedangkan hutan tanaman adalah hutan produksi yang dibangun dan dimanfaatkan melalui serangkaian kegiatan berupa penyiapan lahan, pembenihan atau pembibitan, pemeliharaan, pengamanan, pemanenan atau penebangan, pengolahan, dan pemasaran hasil hutan. Hutan alam merupakan hutan produksi yang di dalamnya telah bertumbuhan pohon-pohon alami dan dimanfaatkan melalui serangkaian kegiatan berupa pemanenan atau penebangan, penanaman, pemeliharaan, pengamanan, pengolahan, dan pemasaran hasil hutan.

Pengenaan PBB sektor perhutanan diatur melalui Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-36/PJ/2011 tanggal 18 Nopember 2011 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perhutanan dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-89/PJ/2011 tanggal 18 Nopember 2011. Berdasarkan peraturan tersebut di atas, objek pajak PBB perhutanan adalah bumi dan/atau bangunan yang digunakan untuk kegiatan usaha perhutanan yang diberikan hak pengusahaan hutan. Objek pajak bumi di dalam sektor perhutanan terdiri dari areal produktif, areal belum produktif, areal emplasemen, dan areal lain.

Areal produktif adalah merupakan areal hutan yang telah ditanami pada hutan tanaman, atau areal blok tebangan pada hutan alam. Areal belum produktif merupakan areal yang sudah diolah tetapi belum ditanami pada hutan tanaman, atau areal hutan yang dapat ditebang selain blok tebangan pada hutan alam. Areal emplasemen adalah areal yang digunakan untuk berdirinya bangunan dan sarana pelengkap lainnya dalam perhutanan termasuk areal jalan yang diperkeras, sedangkan yang dimaksud areal lain adalah areal hutan selain dari areal produktif, areal belum produktif, dan areal emplasemen.

Sebagaimana halnya dengan sektor perkebunan, pendataan untuk sektor perhutanan juga menggunakan Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) dan Lampiran SPOP (LSPOP) Sektor Perhutanan. SPOP dan LSPOP sektor Perhutanan ini dikirim ke wajib pajak yaitu perusahaan- perusahaan yang bergerak di bidang perhutanan. Setelah diisi secara jelas, benar, lengkap dan ditandatangani SPOP dan LSPOP tersebut kemudian dikirim ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama dengan dilampiri data pendukung yang dibutuhkan berupa fotokopi surat-surat yang berhubungan dengan masalah perhutanan dari

26

DTSD Pajak II

instansi terkait yaitu Dinas Kehutanan atau instansi lainnya yang mengeluarkan izin usaha di bidang kehutanan.

Penentuan NJOP masing-masing areal perhutanan ditentukan sebagai berikut:

1. Nilai tanah untuk hutan tanaman ditentukan sebesar nilai dasar tanah, kecuali untuk areal produktif ditambah dengan Standar Investasi Tanaman (SIT). Nilai dasar tanah diperoleh melalui proses penilaian yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak, sedangkan SIT adalah jumlah biaya tenaga kerja, bahan dan alat yang diinvestasikan untuk pembukaan lahan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman. Nilai tanah per meter persegi dihitung dengan jalan membagi nilai tanah seluruh areal perhutanan dengan luas seluruh areal perhutanan, kemudian dikonversi ke dalam tabel klasifikasi sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor PER-150/PMK.03/2010 untuk memperoleh NJOP per meter persegi areal tanah perhutanan.

2. Nilai tanah untuk hutan alam ditentukan sebesar nilai dasar tanah, kecuali untuk areal produktif sebesar perkalian pendapatan bersih setahun dengan Angka Kapitalisasi. Pendapatan bersih setahun ditentukan sebesar pendapatan kotor (jumlah produksi kayu dan bukan kayu dikalikan harga satuan produksi) setahun dikurangi Biaya Produksi setahun, sebelum tahun pajak. Biaya produksi setahun ditentukan sebesar Rasio Biaya Produksi dikalikan pendapatan kotor setahun. Angka Kapitalisasi dan Rasio Biaya Produksi ditetapkan dengan keputusan Direktur Jenderal Pajak.

Untuk menghitung SIT perlu diketahui beberapa istilah yang berhubungan dengan formula perhitungan SIT tersebut yaitu:

1. Satuan Biaya Tanaman (SBT) yaitu satuan biaya yang diinvestasikan tiap tahun berdasarkan umur dan jenis tanaman.

2. Standar Biaya Pembangunan Hutan Tanaman (SBPHT) yaitu satuan biaya tahunan per kegiatan yang meliputi kegiatan pembukaan lahan dan penanaman (P0), pemeliharaan tahun pertama (P1), dan seterusnya sampai pemeliharaan tahun terakhir (Pn) untuk setiap hektar

DTSD Pajak II

27

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

pembangunan hutan tanaman di suatu wilayah, yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan, Kementerian Kehutanan.

Selanjutnya formula perhitungan SIT dapat digambarkan sebagai berikut.

SBPHT SBPHT Terendah - Tertinggi Median SBPHT x 72% x Indeks Wilayah x Indeks Tanaman
SBPHT
SBPHT
Terendah - Tertinggi
Median SBPHT x 72% x Indeks Wilayah x Indeks
Tanaman
Per Wilayah
SBPHT x 72% x Indeks Tanaman
Per Jenis Tanaman
SBPHT x 72% x Indeks Wilayah
SIT
SIT P1 = SBT P0 + SBT P1
SIT P2 = SBT P0 + SBT P1 + SBT P2
SBTt = SBT t-1 x (1+i)

Dalam hal SBPHTB pada tahun sebelum Tahun Pajak tidak diterbitkan, SBT ditentukan berdasarkan penyesuaian SBT Tahun Pajak sebelumnya dengan tingkat diskonto 10%, dengan formula sebagai berikut:

Dimana: SBT t = SBT Tahun Pajak SBT t-1 = SBT Tahun Pajak sebelumnya i = tingkat diskonto (10%) Indeks Wilayah terbagi atas:

Wilayah I

Wilayah II

Wilayah III

Wilayah IV

(0,900)

(0,970)

(1,030)

(1,100)

Banten

Sulawesi Selatan

Kalimantan Timur

Papua

Jawa Barat

Sulawesi Tengah

Riau

Papua Barat

Jawa Tengah

Sulawesi Utara

NAD

Maluku

DIY

Gorontalo

Kep. Riau

 

Jawa Timur

Sulawesi Tenggara

Sumatera Utara

 

Banten

Indeks Tanaman adalah sebagai berikut:

No.

Jenis Tanaman

Indeks Tanaman

1

Jelutung Pulai

1,0000

2

Rotan

0,8850

3

Sengon

0,9380

4

Jabon

0,9780

5

Akasia

0,8780

6

Jati

1,0120

7

Tanaman Lainnya

1,0000

Berikut akan ditampilkan konsep penilaian dan perhitungan PBB sektor Perhutanan, yaitu hutan tanaman dan hutan alam.

KONSEP PENILAIAN DAN PERHITUNGAN PBB SEKTOR PERHUTANAN HUTAN TANAMAN Nilai Tanah a. Areal Produktif =
KONSEP PENILAIAN DAN PERHITUNGAN PBB SEKTOR PERHUTANAN
HUTAN TANAMAN
Nilai Tanah
a. Areal Produktif
= Luas x (Nilai Dasar Tanah/m2 + SIT/m2)
b. Areal Belum Produktif = Luas x Nilai Dasar Tanah/m2
Total Nilai Tanah : Total Luas Tanah
c. Areal Emplasemen = Luas x Nilai Dasar Tanah/m2
d. Areal Lainnya
= Luas x Nlilai Dasar Tanah/m2
Nilai Tanah/m2
Klasifikasi
NJOP Bumi/m2 x Luas Tanah
NJOP BUMI
NJOP
Nilai Bgn/m2
Klasifikasi
NJOP Bgn/m2 X Luas Bgn
NJOP BGN
Total Nilai Bangunan : Total Luas Bangunan
Tarif
NJKP
NJOP TKP
Nilai Bangunan
PBB
a. Pabrik/Kilang
i. MCK
b. Perkantoran
j. Jalan diperkeras
Terhutang
(X)
c. Perumahan
k. Landasan Pesawat
d. Mess/Guest House
l. Pelabuhan
e. Gudang
m.Jembatan
(X)
f. Ruang WorkShop
n. Gorong-gorong
g. Sarana Olah Raga/Rekreasi
o. Bangunan Lainnya
h. Poliklinik

DTSD Pajak II

29

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

KONSEP PENILAIAN DAN PERHITUNGAN PBB SEKTOR PERHUTANAN HUTAN ALAM Nilai Tanah a. Areal Produktif =
KONSEP PENILAIAN DAN PERHITUNGAN PBB SEKTOR PERHUTANAN
HUTAN ALAM
Nilai Tanah
a. Areal Produktif
= Nilai Tanah Areal Produktif
b. Areal Belum Produktif = Luas x Nilai Dasar Tanah/m2
Total Nilai Tanah : Total Luas Tanah
c. = Luas x Nilai Dasar Tanah/m2
Areal Emplasemen
d. = Luas x Nlilai Dasar Tanah/m2
Areal Lainnya
Nilai Tanah/m2
Klasifikasi
NJOP Bumi/m2 x Luas Tanah
NJOP BUMI
NJOP
Nilai Bgn/m2
Klasifikasi
NJOP Bgn/m2 X Luas Bgn
NJOP BGN
Total Nilai Bangunan : Total Luas Bangunan
Tarif
NJKP
NJOP TKP
Nilai Bangunan
PBB
a. Pabrik/Kilang
i. MCK
b. Perkantoran
j. Jalan diperkeras
Terhutang
(X)
c. Perumahan
k. Landasan Pesawat
d. Mess/Guest House
l. Pelabuhan
e. Gudang
m.Jembatan
(X)
f. Ruang WorkShop
n. Gorong-gorong
g. Sarana Olah Raga/Rekreasi
o. Bangunan Lainnya
h. Poliklinik

Contoh Perhitungan PBB Perhutanan (Hutan Tanaman)

PT. Wanasetra, sebuah perusahaan pengelola hutan tanaman industri memiliki/menguasai/mendapat manfaat dari bumi dan bangunan dengan rincian sebagai berikut :

A. Bumi/Tanah

1. Areal produktif a. Tanah yang ditanami komoditas hutan industri dan telah menghasilkan :

b.

Tanaman sonokeling : 500 Ha, Nilai Dasar Tanah: Rp5.000,- / M2 )

Standar Investasi Tanaman (SIT) = Rp29.308.000,- / Ha. Tanah yang belum menghasilkan :

Sonokeling tahun ke-4 : 100 Ha, NDT = Rp5.000,-/M2 SIT = Rp24.278.000,- / Ha Sonokeling tahun ke-5 : 200 Ha, NDT = Rp5.000,-/M2 SIT = Rp27.698.000,- / Ha

2. Log Ponds (perairan) : 20 Ha, NDT = Rp140,- /M2

3. Areal lainnya (rawa, payau) : 50 Ha, NDT = Rp140,- / M2

4. Areal Emplasemen :

a. Pabrik : 10.000 M2 , NDT = Rp1.200,- / M2

b. Gudang : 5.000 M2 , NDT = Rp1.200,-/M2

c. Kantor : 1.000 M2 , NDT = Rp1.200,-/M2

d. Perumahan : 10.000 M2 , NDT = Rp1.200,-/M2

B. Bangunan :

1. Pabrik : 3.000 M2 ; Nilai = Rp225.000,- / M2

2. Gudang : 500 M2 ; Nilai = Rp225.000,-/M2

3. Kantor : 200M2 ; Nilai = Rp310.000,- / M2

4. Perumahan : 1.000 M2 ; Nilai = Rp225.000,-/M2

Hitung PBB yang menjadi kewajiban PT. Wanasetra tersebut apabila NJOPTKP ditentukan sebesar Rp10.000.000,-

Jawaban

A. NJOP Bumi/Tanah

1. Areal Produktif

a. Tanah sudah menghasilkan tanaman sonokeling :

500 x 10.000 x Rp5.000,- SIT = 500 x Rp29.308.000,-

= Rp25.000.000.000,- = Rp14.654.000.000,-

b. Tanaman belum menghasilkan :

Sonokeling tahun ke-4 : 100x10.000xRp5.000,- = Rp 5.000.000.000,-

SIT = 100 x Rp24.278.000,-

Sonokeling tahun ke-5 : 200x10.000xRp5.000,- = Rp10.000.000.000,-

SIT = 200 x Rp27.698.000,-

= Rp 2.427.800.000,-

= Rp 5.539.600.000,-

2. Log Ponds = 20 x 10.000 x Rp140,-

=Rp

28.000.000,-

3. Areal lainnya = 50 x 10.000 x Rp140,-

=Rp

70.000.000,-

4. Areal Emplasemen :

a. Pabrik = 10.000 x Rp1.200,-

= Rp

12.000.000,-

DTSD Pajak II

31

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

b. Gudang = 5.000 x Rp1.200,-

= Rp

6.000.000,-

c. Kantor = 1.000 x Rp1.200,-

= Rp

1.200.000,-

d. Perumahan = 10.000 x Rp1.200,-

= Rp

12.000.000,-

Nilai Tanah ( 1 + 2 + 3 + 4 )

Nilai tanah/M2 = 62.750.600.000/8.726.000 = Rp7.191,22 Hasil konversi: Klas 154 = Rp7.150,-/M2 NJOP Bumi/Tanah seluruhnya = 8.726.000 x Rp7.150,- = Rp62.390.900.000,-

= Rp62.750.600.000,-

B. NJOP Bangunan :

1. Pabrik = 3.000 x Rp225.000,-

= Rp

675.000.000,-

2. Gudang = 500 x Rp225.000,-

= Rp

112.500.000,-

3. Kantor = 200 x Rp310.000,-

= Rp

62.000.000,-

4. Perumahan = 1.000 x Rp225.000,- Nilai Bangunan

Nilai Bangunan/M2 = 1.074.500.000/4.700 = Rp228.617,02 Hasil konversi: Klas 090 = Rp225.000,-/M2 NJOP Bangunan seluruhnya = 4.700 x Rp225.000,- = Rp1.057.500.000,-

= Rp 225.000.000,- = Rp 1.074.500.000,-

NJOP Bumi dan Bangunan NJOPTKP NJOP sebagai dasar perhitungan PBB PBB = 0,5% x 40% x Rp63.438.400.000,-

= Rp63.448.400.000,-

= Rp

= Rp63.438.400.000,- = Rp126.876.800,-

10.000.000,-

Contoh perhitungan PBB Perhutanan (Hutan Alam):

PT. Wanalestari, suatu perusahaan bidang perhutanan (hutan alam) di Kalimantan Selatan memiliki/menguasai/mendapat manfaat dari bumi dan bangunan sbb :

A. Bumi/Tanah

1. Areal produktif: tanah hutan blok tebangan : 200 Ha.

2. Areal belum/tidak produktif : Tanah hutan non blok tebangan : 4.000 Ha ; NDT = Rp200,-/M2

3. a. Log ponds : 10 Ha; NDT = Rp140,-/M2

b. Log yards : 5 Ha; NDT = Rp200,-/M2

4. Areal lainnya (rawa, payau) : 100 Ha; NDT = Rp140,- / M2

5. Areal Emplasemen :

a. Pabrik : 20.000 M2 ; NDT = Rp660,-/M2

b. Gudang : 2.000 M2 ; NDT = Rp660,-/M2

c. Kantor : 1.000 M2 ; NDT = Rp660.-/M2

d. Perumahan : 10.000 M2 ; NDT = Rp910,-/ M2

B. Bangunan

1. Pabrik : 1.000 M2; Nilai = Rp264.000,- / M2

2. Gudang : 500 M2; Nilai = Rp264.000,-/M2

3. Kantor : 200 M2 ; Nilai = Rp310.000,- / M2

4. Perumahan : 5.000 M2 ; Nilai = Rp310.000,-/M2

C. Angka kapitalisasi : 8,5

Hasil bersih sebelum tahun pajak berjalan : Rp1.000.000.000,-

Hitung PBB yang menjadi kewajiban PT. Wanalestari tersebut bila NJOPTKP =

Rp10.000.000,-!!

Jawaban:

A. NJOP Bumi/Tanah:

1. Areal produktif : 8,5 x Rp1.000.000.000,-

2. Areal belum produktif : 4.000 x 10.000 x Rp200,-

= Rp 8.500.000.000,- = Rp 8.000.000.000,-

3. Log ponds : 10 x 10.000 x Rp140,-

a.

= Rp

14.000.000,-

b.

Log yards : 5 x 10.000 x Rp200,-

= Rp

10.000.000,-

4. Areal lainnya : 100 x 10.000 x Rp140,-

5. Areal Emplasemen :

= Rp 140.000.000,-

1. Pabrik : 20.000 x Rp660,-

= Rp

13.200.000,-

2. Gudang : 2.000 x Rp660,-

= Rp

1.320.000,-

3. Kantor : 1.000 x Rp660,-

= Rp

660.000,-

4. Perumahan : 10.000 x Rp910,-

= Rp

9.100.000,-

Nilai Bumi (1+2+3+4+5)

Nilai Bumi/M2 = 16.688.280.000/43.183.000 = Rp386,45/M2

= Rp16.688.280.000,-

DTSD Pajak II

33

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

Hasil konversi: Klas 193 = Rp390,-/M2 NJOP Bumi seluruhnya = 43.183.000 x Rp390,-

B. NJOP Bangunan :

a.Pabrik : 1.000 x Rp264.000,- b.Gudang : 500 x Rp264.000,-

c. Kantor : 200 x Rp310.000,-

d. Perumahan : 5.000 x Rp310.000,- Nilai Bangunan :

= Rp16.841.370.000,-

= Rp 264.000.000,- = Rp 132.000.000,-

= Rp

62.000.000,-

= Rp1.550.000.000,- = Rp2.008.000.000,-

Nilai Bangunan/M2 = 2.008.000.000/6.700 = Rp299.701,49/M2 Hasil konversi: Klas 086 = Rp310.000,-/M2 NJOP Bangunan seluruhnya = 6.700 x Rp310.000,- = Rp2.077.000.000,-

NJOP Bumi dan Bangunan :

NJOPTKP :

NJOP untuk perhitungan PBB PBB : 0,5% x 40% x Rp18.908.370.000,-

C. SEKTOR PERTAMBANGAN

= Rp18.918.370.000,-

10.000.000,-

= Rp

= Rp18.908.370.000,- = Rp37.816.740,-

Usaha bidang pertambangan dapat diklasifikasikan berdasarkan kepada hasil tambang dan lokasi penambangannya (Wahyu, 2003: 215). Berdasarkan hasil tambang terbagi atas 2 (dua) jenis yaitu pertama pertambangan minyak, gas dan panas bumi, dan kedua pertambangan bukan minyak, gas dan panas bumi yang mengeksploitasi bahan tambang logam (seperti bijih besi) dan bukan logam (seperti batubara, pasir). Sedangkan berdasarkan lokasi penambangan, usaha bidang pertambangan terdiri dari pertama, pertambangan lepas pantai (off shore) dan kedua pertambangan daratan (on shore).

Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan, yang dimaksud dengan bahan galian adalah unsur-unsur kimia mineral-mineral, bijih-bijih dan segala macam batuan termasuk batu-batu mulia yang merupakan endapan-endapan alam. Bahan-bahan galian ini terbagi atas 3 (tiga) jenis yaitu:

1. Bahan galian strategis dalam arti strategis bagi pertahanan dan keamanan serta perekonomian negara, antara lain seperti minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam, bitumen padat, aspal, batubara, uranium dan bahan radio aktif lainnya, nikel, timah.

2. Bahan galian vital dalam arti dapat menjamin hajat hidup orang banyak, antara lain seperti besi, mangaan, wolfram, tembaga, emas, perak, platina, yodium, belerang.

3. Bahan galian yang tidak termasuk jenis a atau b dalam arti karena sifatnya tidak langsung memerlukan pasaran yang bersifat internasional, antara lain seperti nitrat-nitrat, garam batu, asbes, batu permata, pasir kwarsa, batu apung, batu kapur, granit, andesit.

Sektor pertambangan adalah objek Pajak Bumi dan Bangunan yang meliputi areal usaha penambangan bahan-bahan galian dari semua jenis golongan yaitu bahan galian strategis, bahan galian vital dan bahan galian lainnya. Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan dapat diklasifikasikan ke dalam 3(tiga) jenis yaitu:

Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba)

Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (Migas)

Pertambangan Energi Panas Bumi

1. Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba)

Pengenaan PBB sektor pertambangan mineral dan batubara (minerba) diatur di dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2012 tanggal 28 Desember 2012 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Mineral dan Batubara dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-64/PJ/2012 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2012. Di dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini yang dimaksud dengan PBB Mineral dan Batubara adalah PBB atas bumi dan/atau bangunan yang berada di kawasan yang digunakan untuk kegiatan pertambangan mineral dan batubara. Kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Minerba meliputi wilayah izin pertambangan atau wilayah pertambangan sejenis dan wilayah di

DTSD Pajak II

35

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

luar wilayah izin pertambangan atau wilayah pertambangan sejenis yang merupakan satu kesatuan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Minerba.

Objek pajak bumi dapat dibagi 2(dua) yaitu pertama, permukaan bumi yang meliputi tanah dan/atau perairan pedalaman (onshore) dan/atau perairan lepas pantai (offshore) dan kedua adalah tubuh bumi yang berada di bawah permukaan bumi. Sedangkan objek bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada areal onshore dan/atau areal offshore. Permukaan bumi untuk areal onshore meliputi: areal produktif, areal belum produktif (areal cadangan produksi dan areal yang belum dimanfaatkan), areal tidak produktif, areal emplasemen, dan areal pengaman. Tubuh bumi yang berada di bawah permukaan bumi terdiri dari tubuh bumi untuk kegiatan eksplorasi dan tubuh bumi untuk kegiatan operasi produksi.

Dasar pengenaan dari PBB sektor pertambangan Minerba adalah NJOP yang merupakan penjumlahan dari NJOP bumi dan NJOP bangunan. NJOP bumi areal onshore atau areal offshore merupakan hasil perkalian antara total luas areal yang dikenakan dengan NJOP bumi per meter persegi, sedangkan NJOP tubuh bumi baik yang eksplorasi atau yang kegiatan operasi produksi merupakan hasil perkalian antara luas Wilayah Kerja dengan NJOP bumi per meter persegi. NJOP bumi per meter persegi tersebut merupakan hasil konversi nilai bumi per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bumi yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang klasifikasi NJOP Bumi. NJOP bangunan merupakan hasil perkalian antara total luas bangunan dengan NJOP bangunan per meter persegi, dimana NJOP bangunan per meter persegi merupakan hasil konversi nilai bangunan per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bangunan yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang klasifikasi NJOP Bangunan.

Nilai bumi per meter persegi masing-masing areal ditentukan sebagai berikut:

1. Areal onshore merupakan hasil pembagian antara total nilai bumi dengan total luas areal onshore. Total nilai bumi merupakan jumlah dari perkalian luas masing-masing areal dengan nilai bumi per meter persegi masing- masing areal, dimana nilai bumi per meter persegi untuk areal belum

dimanfaatkan dan areal emplasemen ditentukan melalui perbandingan harga tanah sejenis, dan areal cadangan produksi, areal tidak produktif, dan areal pengaman ditentukan melalui penyesuaian terhadap nilai bumi per meter persegi untuk areal belum dimanfaatkan.

2. Tubuh bumi operasi produksi merupakan hasil pembagian antara nilai bumi untuk tubuh bumi operasi produksi dengan luas Wilayah Kerja. Nilai bumi untuk tubuh bumi operasi produksi merupakan perkalian Angka Kapitalisasi dengan hasil bersih galian tambang dalam satu tahun sebelum Tahun Pajak. Hasil bersih ditentukan melalui pengurangan pendapatan kotor dengan biaya produksi galian tambang sedangkan besarnya Angka Kapitalisasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.

3. Areal offshore dan tubuh bumi eksplorasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. Nilai bumi per meter persegi untuk areal offshore ditentukan dengan mempertimbangkan rata-rata nilai bumi untuk areal daratan terdekat dengan areal offshore di wilayah Indonesia.

Contoh perhitungan PBB sektor Pertambangan Batubara:

PT. Equatorial Mining, sebuah perusahaan tambang batubara di Kalimantan Timur, menguasai/memperoleh manfaat dari bumi dan bangunan sebagai berikut

:

A. Bumi (Tanah )

1. Areal Produktif : 200 Ha; Nilai = Rp400,-/M2

2. Areal Belum Produktif :

a. Areal Cadangan Produksi : 500 Ha; Nilai = Rp300,-/M2

b. Areal Belum Dimanfaatkan : 100 Ha; Nilai = Rp300,-/M2

3. Areal tidak produktif : 100 Ha; Nilai = Rp200,-/M2

4. Areal Pengaman: 1 Ha; Nilai = Rp150,-/M2

5. Areal Emplasemen :

a. Pabrik : 20 Ha; Nilai = Rp1.200,-/M2

b. Gudang : 2 Ha; Nilai = Rp1.200,-/M2

c. Kantor : 1 Ha; Nilai = Rp5.000,-/M2

DTSD Pajak II

37

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

d. Perumahan : 5 Ha; Nilai = Rp10.000,-/M2

B. Bangunan

1. Pabrik : 50.000 M2; Nilai = Rp310.000,-/M2

2. Gudang : 5.000 M2; Nilai = Rp310.000,-/M2

3. Kantor : 2.000 M2; Nilai = Rp365.000,-/M2

4. Perumahan : 10.000 M2; Nilai = Rp429.000,-/M2

C. Hasil bersih penjualan bahan galian tambang setahun = Rp1 Milyar. Angka Kapitalisasi = 9,5

Hitung PBB yang menjadi kewajiban PT.Equatorial Mining tersebut apabila NJOPTKP = Rp10 juta

Jawaban:

A. NJOP Bumi/Tanah :

1.

Tubuh Bumi Operasi Prouduksi = 9,5 x Rp1milyar

= Rp9.500.000.000,-

2.

Areal Produktif = 200 x 10.000 x 400

= Rp 800.000.000,-

3.

Areal Belum Produktif :

a.

Areal Cadangan Produksi = 500 x 10.000 x 300

= Rp1.500.000.000,-

b.

Areal Belum Dimanfaatkan = 100 x 10.000 x 300

=Rp 300.000.000,-

4.

Areal tidak produktif : 100 x 10.000 x Rp200,-

= Rp 200.000.000,-

5.

Areal Emplasemen :

a. Pabrik : 20 x 10.000 x Rp1.200,-

= Rp

240.000.000,-

b. Gudang : 2 x 10.000 x Rp1.200,-

= Rp

24.000.000,-

c. Kantor : 1 x 10.000 x Rp5.000,-

= Rp

50.000.000,-

d. Perumahan : 5 x 10.000 x Rp10.000,-

= Rp

500.000.000,-

Nilai Bumi/Tanah ( 1+2+3+4+5) :

Nilai Bumi/M2 = 13.114.000.000/9.280.000 = Rp1.413,15/M2 Hasil konversi: Klas 180 = Rp1.440,-/M2 NJOP Bumi seluruhnya = 9.280.000 x Rp1.440,- = Rp13.363.200.000,-

= Rp13.114.000.000,-

B. NJOP Bangunan

1. Pabrik : 50.000 x Rp310.000,-

2. Gudang : 5.000 x Rp310.000,-

3. Kantor : 2.000 x Rp365.00,-

= Rp15.500.000.000,- = Rp 1.550.000.000,-

= Rp

730.000.000,-

4.

Perumahan : 10.000 x Rp429.000,-

= Rp 4.290.000.000,-

Nilai Bangunan ( 1+2+3+4 ) :

Nilai Bangunan/M2 = 22.070.000.000/67.000 = Rp329.402,98/M2

Hasil konversi: Klas 086 = Rp310.000,-/M2 NJOP Bangunan seluruhnya = 67.000 x 310.000

= Rp22.070.000.000,-

= Rp20.770.000.000,-

NJOP Bumi + Bangunan :

NJOPTKP :

NJOP untuk perhitungan PBB :

PBB= 0,5% x 40% x Rp34.123.200.000,- = Rp68.246.400,-

= Rp34.133.200.000,-

= Rp

10.000.000,-

= Rp34.123.200.000,-

2. Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (Migas)

Pengenaan PBB sektor pertambangan migas diatur di dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2012 tanggal 20 April 2012 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-21/PJ/2012 tanggal 20 April 2012. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini Pajak Bumi dan Bangunan sektor Migas adalah Pajak Bumi dan Bangunan atas bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam Wilayah Kerja atau sejenisnya terkait dengan pertambangan Migas yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). KKKS ini merupakan badan usaha atau bentuk usaha tetap yang ditetapkan untuk melakukan Eksplorasi dan Eksploitasi pada suatu Wilayah Kerja berdasarkan kontrak kerja sama.

Objek Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan meliputi bumi dan bangunan. Objek pajak bumi dapat dibagi 2(dua) yaitu pertama, permukaan bumi yang meliputi tanah dan/atau perairan pedalaman (onshore) dan/atau perairan lepas pantai (offshore) dan kedua adalah tubuh bumi yang berada di bawah permukaan bumi. Sedangkan objek bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada areal onshore dan/atau areal offshore. Permukaan bumi untuk areal onshore meliputi: areal produktif, areal belum produktif, areal tidak produktif, areal emplasemen, dan areal pengaman. Tubuh

DTSD Pajak II

39

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

bumi yang berada di bawah permukaan bumi terdiri dari tubuh bumi untuk kegiatan eksplorasi dan tubuh bumi untuk kegiatan eksploitasi.

Dasar pengenaan dari PBB sektor Migas adalah NJOP yang merupakan penjumlahan dari NJOP bumi dan NJOP bangunan. NJOP bumi areal onshore atau areal offshore merupakan hasil perkalian antara total luas areal yang dikenakan dengan NJOP bumi per meter persegi, sedangkan NJOP tubuh bumi baik yang eksplorasi atau yang eksploitasi merupakan hasil perkalian antara luas Wilayah Kerja dengan NJOP bumi per meter persegi. NJOP bumi per meter persegi tersebut merupakan hasil konversi nilai bumi per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bumi yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang klasifikasi NJOP Bumi. NJOP bangunan merupakan hasil perkalian antara total luas bangunan dengan NJOP bangunan per meter persegi, dimana NJOP bangunan per meter persegi merupakan hasil konversi nilai bangunan per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bangunan yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang klasifikasi NJOP Bangunan.

Nilai bumi per meter persegi masing-masing areal ditentukan sebagai berikut:

1. Areal onshore merupakan hasil pembagian antara total nilai bumi dengan total luas areal onshore. Total nilai bumi merupakan jumlah dari perkalian luas masing-masing areal dengan nilai bumi per meter persegi masing- masing areal, dimana nilai bumi per meter persegi untuk areal dimana nilai bumi per meter persegi untuk areal belum produktif dan areal emplasemen ditentukan melalui perbandingan harga tanah sejenis, dan areal produktif, tidak produktif, dan areal pengaman ditentukan melalui penyesuaian terhadap nilai bumi per meter persegi untuk areal belum produktif.

2. Tubuh bumi eksploitasi merupakan hasil pembagian antara nilai bumi untuk tubuh bumi eksploitasi dengan luas Wilayah Kerja. Nilai bumi untuk tubuh bumi eksploitasi merupakan perkalian Angka Kapitalisasi dengan hasil penjualan Migas dalam satu tahun sebelum Tahun Pajak dimana Angka Kapitalisasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.

3. Areal offshore dan tubuh bumi eksplorasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. Nilai bumi per meter persegi untuk areal offshore

ditentukan dengan mempertimbangkan rata-rata nilai bumi untuk areal daratan terdekat dengan areal offshore di wilayah Indonesia.

Contoh perhitungan PBB sektor Pertambangan Migas

PT. Mutiara Hitam, sebuah usaha tambang minyak bumi yang beroperasi di pedalaman Kalimantan menguasai/memperoleh manfaat dari bumi dan bangunan dengan rincian sbb:

A. Bumi (Tanah )

1. Areal Produktif : 200 Ha; Nilai = Rp300,-/M2

2. Areal Belum Produktif : 300 Ha; Nilai = Rp200,-/M2

3. Areal tidak produktif : 100 Ha; Nilai = Rp150,-/M2

4. Areal Pengaman: 1 Ha; Nilai = Rp150,-/M2

5. Areal Emplasemen :

a. Pabrik : 20 Ha; Nilai = Rp900,-/M2

b. Gudang : 2 Ha; Nilai = Rp900,-/M2

c. Kantor : 1 Ha; Nilai = Rp1.000,-/M2

d. Perumahan : 5 Ha; Nilai = Rp1.100,-/M2

B Bangunan :

1. Pabrik : 50.000 M2; Nilai = Rp365.000,-/M2

2. Gudang : 5.000 M2; Nilai = Rp429.000,-/M2

3. Kantor : 2.000 M2; Nilai = Rp505.000,-/M2

4. Perumahan : 10.000 M2; Nilai = Rp595.000,-/M2

C.Hasil penjualan minyak bumi setahun sbb:

1. Triwulan pertama produksi sebesar: 25.000 barrel dengan harga US $45

per barrel

2. Triwulan kedua produksi sebesar: 30.000 barrel dengan harga US $46 per barrel

3. Triwulan ketiga produksi sebesar 33.000 barrel dengan harga US $45,5 per barrel

4. Triwulan keempat produksi sebesar 34.000 barrel dengan harga US $46 per barrel.

Angka Kapitalisasi = 9,5 Kurs yang berlaku: 1 US $ = Rp9.150,00

DTSD Pajak II

41

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

Hitung PBB yang menjadi kewajiban PT.Mutiara Hitam tersebut apabila NJOPTKP ditentukan sebesar Rp12.000.000,00

Jawaban:

Hasil Penjualan minyak bumi setahun sebagai berikut:

Triwulan pertama: 25.000 x 45 x 9.150 Triwulan kedua: 30.000 x 46 x 9.150 Triwulan ketiga: 33.000 x 45,5 x 9.150 Triwulan keempat: 34.000 x 46 x 9.150 Total hasil penjualan setahun

A. NJOP Bumi:

a. Tubuh bumi eksploitasi = 9,5 x 50.970.075.000

= Rp10.293.750.000,- = Rp12.627.000.000,- = Rp13.738.725.000,- = Rp14.310.600.000,- + = Rp50.970.075.000,-

= Rp484.215.713.000,-

b. Areal Produktif = 200 x 10.000 x 300,-

= Rp

600.000.000,-

c. Areal Belum Produktif = 300 x 10.000 x 200

= Rp

600.000.000,-

d. Areal Tidak Produktif: 100 x 10.000 x 150

= Rp

150.000.000,-

e. Areal Pengaman = 1 x 10.000 x 150

= Rp

1.500.000,-

f. Areal Emplasemen:

1. Pabrik: 20 x 10.000 x 900

= Rp

180.000.000,-

2. Gudang: 2 x 10.000 x 900

= Rp

18.000.000,-

3. Kantor: 10.000 x 1.000

= Rp

10.000.000,-

4. Perumahan: 5 x 10.000 x 1.100

= Rp

55.000.000,- +

Jumlah Nilai Bumi:

Nilai Bumi/M2 = 485.830.213.000/6.290.000 = Rp77.238,51 Hasil konversi: Klas 105 = Rp78.000,-/M2 NJOP Bumi seluruhnya = 6.290.000 x Rp78.000 = Rp490.620.000.000,-

= Rp485.830.213.000,-

B. NJOP Bangunan:

1. Pabrik: 50.000 x 365.000

= Rp 18.250.000.000,-

2. Gudang: 5.000 x 429.000

= Rp

2.145.000.000,-

3. Kantor: 2.000 x 505.000

= Rp

1.010.000.000,-

4. Perumahan: 10.000 x 595.000

Jumlah Nilai Bangunan:

Nilai Bangunan/M2 = 27.355.000.000/67.000 = Rp408.283,58

= Rp 5.950.000.000,- +

= Rp 27.355.000.000,-

Hasil konversi: Klas 082 = Rp408.000,-/M2 NJOP Bangunan seluruhnya = 67.000 x Rp408.000,- = Rp27.336.000.000,-

Jumlah total NJOP Bumi dan Bangunan:

NJOPTKP:

NJOP untuk perhitungan PBB:

PBB= 0,5% x 40% x 517.944.000.000

3. Pertambangan Panas Bumi

= Rp517.956.000.000,-

= Rp

= Rp517.944.000.000,- = Rp1.035.888.000,-

12.000.000,- -

Pengenaan PBB atas sektor pertambangan panas bumi diatur di dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2012 tanggal 20 April 2012 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-21/PJ/2012 tanggal 20 April 2012. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan untuk pertambangan Panas Bumi adalah Pajak Bumi dan Bangunan atas bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam Wilayah Kerja atau sejenisnya terkait dengan pertambangan Panas Bumi yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh pengusaha Panas Bumi. Pengusaha Panas Bumi adalah Pertamina atau perusahaan penerusnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, kontraktor kontrak operasi bersama (joint operation contract), dan pemegang izin pengusahaan sumber daya panas bumi.

Objek PBB Panas Bumi adalah bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam Wilayah Kerja atau sejenisnya terkait dengan pertambangan Panas Bumi yang diperoleh haknya, dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh Pengusaha Panas Bumi. Objek pajak bumi dapat dibagi 2(dua) yaitu pertama, permukaan bumi yang meliputi tanah dan/atau perairan pedalaman (onshore) dan/atau perairan lepas pantai (offshore) dan kedua adalah tubuh bumi yang berada di bawah permukaan bumi. Sedangkan objek bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada areal onshore dan/atau areal offshore. Permukaan bumi untuk areal onshore meliputi: areal produktif, areal

DTSD Pajak II

43

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

belum produktif, areal tidak produktif, areal emplasemen, dan areal pengaman. Tubuh bumi yang berada di bawah permukaan bumi terdiri dari tubuh bumi untuk kegiatan eksplorasi dan tubuh bumi untuk kegiatan eksploitasi.

Dasar pengenaan dari PBB Panas Bumi adalah NJOP yang merupakan penjumlahan dari NJOP bumi dan NJOP bangunan. NJOP bumi areal onshore atau areal offshore merupakan hasil perkalian antara total luas areal yang dikenakan dengan NJOP bumi per meter persegi, sedangkan NJOP tubuh bumi baik yang eksplorasi atau yang eksploitasi merupakan hasil perkalian antara luas Wilayah Kerja dengan NJOP bumi per meter persegi. NJOP bumi per meter persegi tersebut merupakan hasil konversi nilai bumi per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bumi yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang klasifikasi NJOP Bumi. NJOP bangunan merupakan hasil perkalian antara total luas bangunan dengan NJOP bangunan per meter persegi, dimana NJOP bangunan per meter persegi merupakan hasil konversi nilai bangunan per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bangunan yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang klasifikasi NJOP Bangunan.

Nilai bumi per meter persegi masing-masing areal ditentukan sebagai berikut:

1. Areal onshore merupakan hasil pembagian antara total nilai bumi dengan total luas areal onshore. Total nilai bumi merupakan jumlah dari perkalian luas masing-masing areal dengan nilai bumi per meter persegi masing- masing areal, dimana nilai bumi per meter persegi untuk areal belum produktif dan areal emplasemen ditentukan melalui perbandingan harga tanah sejenis, dan areal produktif, tidak produktif, dan areal pengaman ditentukan melalui penyesuaian terhadap nilai bumi per meter persegi untuk areal belum produktif.

2. Tubuh bumi eksploitasi merupakan hasil pembagian antara nilai bumi untuk tubuh bumi eksploitasi dengan luas Wilayah Kerja. Nilai bumi untuk tubuh bumi eksploitasi merupakan perkalian Angka Kapitalisasi dengan hasil produksi dan harga produksi uap dan/atau harga produksi listrik, untuk PBB Panas Bumi yang pembangkit listriknya dikelola sendiri oleh Pengusaha Panas Bumi atau Angka Kapitalisasi dengan hasil produksi dan harga produksi uap untuk PBB Panas Bumi yang pembangkit

listriknya tidak dikelola sendiri oleh Pengusaha Panas Bumi. Besarnya Angka Kapitalisasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.

3. Areal offshore dan tubuh bumi eksplorasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. Nilai bumi per meter persegi untuk areal offshore ditentukan dengan mempertimbangkan rata-rata nilai bumi untuk areal daratan terdekat dengan areal offshore di wilayah Indonesia.

Contoh Perhitungan PBB Panas Bumi:

PT.Saptapertala, sebuah perusahaan di bidang sumber energi panas bumi di daerah Jawa Timur, menguasai/memperoleh manfaat dari bumi dan bangunan dengan rincian sebagai berikut:

A. Bumi (Tanah )

a. Areal Produktif : 200 Ha; Nilai = Rp400,-/M2

b. Areal Belum Produktif : 200 Ha; Nilai = Rp350,-/M2

c. Areal tidak produktif : 100 Ha; Nilai = Rp300,-/M2

d. Areal Pengaman: 1 Ha; Nilai = Rp200,-/M2

e. Areal Emplasemen :

1. Pabrik : 20 Ha; Nilai = Rp3.500,-/M2

2. Gudang : 2 Ha; Nilai = Rp5.000,-/M2

3. Kantor : 1 Ha; Nilai = Rp5.000,-/M2

4. Perumahan : 5 Ha; Nilai = Rp10.000,-/M2

B Bangunan :

a. Pabrik : 50.000 M2; Nilai = Rp365.000,-/M2

b. Gudang : 5.000 M2; Nilai = Rp365.000,-/M2

c. Kantor : 2.000 M2; Nilai = Rp505.000,-/M2

d. Perumahan : 10.000 M2; Nilai = Rp595.000,-/M2

C.Hasil penjualan uap panas bumi setahun sbb:

1. Triwulan pertama produksi sebesar: 150 Kwh dengan harga US $20 per Kwh

2. Triwulan kedua produksi sebesar: 135 Kwh dengan harga US $25 per Kwh

3. Triwulan ketiga produksi sebesar 160 Kwh dengan harga US $26 per Kwh

DTSD Pajak II

45

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

4. Triwulan keempat produksi sebesar 165 Kwh dengan harga US $30 per Kwh Angka Kapitalisasi = 9,5 Kurs yang berlaku: 1 US $ = Rp9.150,00

Hitung PBB yang menjadi kewajiban PT. Sapta Pertala tersebut apabila NJOPTKP ditentukan sebesar Rp12.000.000,00

Jawaban:

Hasil penjualan uap panas bumi setahun sebagai berikut:

1.Triwulan pertama: 150 x US $20 x Rp9.150,- 2.Triwulan kedua: 135 x US $25 x Rp9.150,- 3.Triwulan ketiga: 160 x US $26 x Rp9.150,- 4.Triwulan keempat: 165 x US $30 x Rp9.150,- Jumlah total hasil penjualan uap panas bumi

= Rp 27.450.000,- = Rp 30.881.250,- = Rp 38.064.000,- = Rp 45.292.500,- = Rp141.687.750,-

A. NJOP Bumi:

a. Tubuh Bumi eksploitasi = 9,5 x 141.687.750,-

b. Areal Produktif:= 200 x 10.000 x 400

c. Areal Belum Produktif = 200 x 10.000 x 350

d. Areal Tidak Produktif: 100 x 10.000 x 300

= Rp1.346.033.630,-

= Rp 800.000.000,-

= Rp 700.000.000,-

= Rp 300.000.000,-

e. Areal Pengaman = 1 x 10.000 x 200

= Rp

2.000.000,-

f. Areal Emplasemen:

1. Pabrik: 20 x 10.000 x 3.500

= Rp

700.000.000,-

2. Gudang: 2 x 10.000 x 5.000

= Rp

100.000.000,-

3. Kantor: 1 x 10.000 x 5.000

= Rp

50.000.000,-

4. Perumahan: 5 x 10.000 x 10.000

= Rp 500.000.000,- + = Rp4.498.033.630,-

Jumlah Nilai Bumi:

Nilai Bumi/M2 = 4.498.033.630/5.290.000 = Rp850,29/M2 Hasil konversi: Klas 186 = Rp820,-/M2 NJOP Bumi seluruhnya = 5.290.000 x Rp820,- = Rp4.337.800.000,-

B. NJOP Bangunan:

1. Pabrik: 50.000 x 365.000

2. Gudang: 5.000 x 365.000

= Rp18.250.000.000,- = Rp 1.825.000.000,-

3. Kantor: 2.000 x 505.000

4. Perumahan: 10.000 x 595.000

Jumlah Nilai Bangunan:

Nilai Bangunan/M2 = 27.035.000.000/67.000 = Rp403.507,46/M2 Hasil konversi: Klas 082 = Rp408.000,-/M2 NJOP Bangunan seluruhnya = 67.000 x Rp408.000,- = Rp27.336.000.000,-

= Rp 1.010.000.000,- = Rp 5.950.000.000,- + = Rp27.035.000.000,-

Jumlah NJOP Bumi dan Bangunan:

NJOPTKP:

NJOP untuk perhitungan PBB:

PBB= 0,5% x 40% x Rp31.661.800.000,-

= Rp31.673.800.000,-

= Rp

= Rp31.661.800.000,- = Rp63.323.600,-

12.000.000,- -

DTSD Pajak II

47

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

REFERENSI

1. Undang-undang Nomor 12/1985 jo. Undang-undang Nomor 12/1994.

2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 150/PMK.03/2010

3. Peraturan direktur Jenderal Pajak Nomor 64/PJ/2010

4. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 36/PJ/2011

5. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 32/PJ/2012

6. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 45/PJ/2013

BEA METERAI

DTSD Pajak II

49

PENDAHULUAN

Pajak sebagai salah satu sumber penerimaan negara yang paling besar sudah sepatutnya dikelola dengan sebaik-baiknya agar penerimaan negara dapat terjaga kesinambungannya guna mendukung kegiatan pemerintahan umum dan pembiayaan pembangunan yang dijalankan Pemerintah. Jumlah penerimaan pajak pada APBN 2008 sebesar Rp.601,476 trilyun, dimana Rp 3,341 trilyun lebih berasal dari penerimaan pajak lainnya termasuk bea meterai. Bila kita amati dari kegiatan ekonomi masyarakat Indonesia pada dewasa ini, pengelolaan bea meterai oleh Pemerintah dirasa belum optimal, ini dapat dilihat dari masih banyak praktik-praktik melawan hukum yang sulit dicegah maupun diambil tindakan oleh penegak hukukm, seperti pemalsuan bea meterai, ketidaklancaran distribusi, sampai pada pembuatan dokumen yang tidak dipenuhi kewajiban bea meterainya.

Adalah tugas Direktorat Jenderal Pajak agar Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 Tentang Bea Meterai dan peraturan perundang-undangan terkait terlaksana dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, diperlukan sumber daya manusia yang kompeten dan handal di bidang bea meterai, mengingat permasalahan bea meterai yang tidak boleh dibilang sederhana karena kompleksitas kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat, jumlah penduduk, serta wilayah peredaran yang luas di seluruh nusantara. Untuk memberikan pemahaman yang utuh terhadap bea meterai, sampai saat ini masih dirasa sulit, karena masih sedikit tersedianya literatur tentang bea meterai, baik dalam bentuk kompilasi peraturan perundang- undangan maupun dalam bentuk buku. Dengan tersusunnya bahan ajar ini diharapkan dapat menambah alternatif bahan bacaan tentang bea meterai guna memperluas khasanah pengetahuan para pembacanya.

Bahan ajar ini disusun dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan ajar di lingkungan Pusdiklat Pajak Jakarta. Mengingat batasan waktu yang tersedia untuk penyajian materi dalam diklat, maka kedalaman isi bahan ajar ini disesuaikan dengan jumlah pelatihan yang tersedia serta diselaraskan dengan tujuan Diklat Teknis Substantif Dasar II Pajak

DTSD Pajak II

51

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

Tujuan umum pembelajaran Bea Meterai ini adalah agar peserta diklat memahami ketentuan-ketentuan perundang-undangan tentang bea meterai dan tugas-tugas DJP dalam pengelolaan bea meterai.

Adapun Tujuan Khusus dari pembelajaran Bea Meterai ini agar peserta diklat :

1. Memahami pengertian bea meterai

2. Dapat menjelaskan subjek, saat terutang, dan tarif bea meterai

3. Dapat menjelaskan cara pelunasan bea meterai

4. Dapat menjelaskan sanksi-sanksi atas kewajiban pemenuhan bea meterai, daluwarsa, dan ketentuan Pidana

5. Dapat menjelaskan penegakan hukum Bea Meterai.

PENGERTIAN BEA METERAI

Bila kita amati dalam kehidupan sehari-hari, dari berbagai hal yang berlangsung di masyarakat berkaitan dengan bea meterai, tampak bahwa pemahaman masyarakat tentang bea meterai memang masih rendah. Bea meterai lebih sering dianggap sebagai suatu keharusan yang mutlak dilakukan dalam pembuatan dokumen. “Surat perjanjian itu tidak sah karena tidak diberi meterai” misalnya. Atau Setiap tanda terima uang harus diberi meterai supaya sah, tanpa tahu apa yang dimaksud dengan sah itu. Mengenai pemenuhan bea meterai apakah sesuai dengan kententuan atau tidak sering kali tidak diperhatikan oleh masyarakat. Kondisi ini tentunya harus diperbaiki mengingat bea meterai merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang diterapkan di seluruh indonesia. Masyarakat perlu memahami mengapa harus melunasi bea meterai dan bagaimana ketentuan yang benar. Selanjutnya bea meterai dapat diterima sebagai salah satu jenis pajak di Indonesia, dimana pembayarannya hanya untuk kepentingan pajak dan tidak ada kaitannya dengan hal – hal lain diluar pajak.

A. BEA METERAI ADALAH PAJAK

Bea meterai adalah pajak, ini dapat dibuktikan dengan melihat ciri-ciri yang melekat pada pengertian bea meterai dengan disandingkan dengan ciri-ciri pajak. Ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak antara lain :

1. Pajak adalah peralihan kekayaan dari orang/badan ke Pemeerintah

2. Pajak dipungut berdasarkan ketentuan undang-undang serta aturan pelaksanaannya sehingga dapat dipaksakan;

3. Dalam pembayaran pajak, tidak dapat ditunjukkan kontraprestasi langsung secara individual yang diberikan oleh Pemerintah;

4. Pajak dipungut oleh negara, baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah;

5. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila dari pemaasukannya masih terdapat surplus, maka surplus tersebut digunakan untuk investasi publik.

DTSD Pajak II

53

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

6. Pajak dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu dari Pemerintah.

7. Pajak dapat dipungut secara langsung atau tidak langsung.

Selanjutnya tentang bea meterai dijelaskan dalam Pasal 1 ayat (1) Undang – Undang Nomor. 13 tahun 1985 tentang Bea Meterai :”Dengan nama bea meterai dikenakan pajak atas dokumen yang disebut dalam undang – undang ini”. Hal ini menunjukkan bahwa UU Bea Meterai dengan tegas menyatakan bahwa bea meterai adalah pengenaan pajak atas dokumen.

Apabila diperhatikan, pemungutan bea meterai oleh pemerintah dari masyarakat (orang atau badan) yang membuat dokumen memang memenuhi kriteria tentang pajak diatas. Hal ini dapat dilihat dari uraian berikut ini :

1. Bea meterai dipungut oleh pemerintah pusat, yang berwenang menertibkan benda meterai dan mengedarkannya sebagtai alat pembayaran bea meterai yang terurtang ataupun memberikan izin pelunasan bea meterai dengan cara lain. Memang penerbitan dan pengedaran benda meterai tidak ditangani secara langsung oleh pemerintah, tetapi diserahkan kepada Perum Peruri untuk mencetak benda meterai dan menunjuk PT Pos Indonesia untuk mengedarkannya. Hanya saja tetap saja kedua hal ini dilakukan atas nama Pemerintah Pusat.

2. Hasil penjualan benda meterai maupun pembayaran sejumlah uang tertentu untuk mendapatkan izin pelunasan bea meterai dengan cara lain semuanya masuk ke kas Pemerintah Pusat.

3. Orang atau badan yang membuat dokumen yang terutang bea meterai di pungut bea meterai yang terutang oleh pemerintah tanpa ada balas jasa (kontra prestasi) atau pembayaran bea meterai terutang yang dilakukannya.

4. Hasil penerimaan bea meterai bersama dengan hasil penerimaan pajak pusat lainnya digunakan oleh Pemerintah Pusat untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan, yang hasilnya juga dinikmati oleh pembayar bea meterai. Hal ini menunjukan sebenarnya ada kontra prestasi yang diberikan oleh pemerintah

Ditinjau dari ciri-ciri tersebut di atas, tentu dapat dikatakan bahwa bea meterai memenuhi kriteria pungutan yang dimaksud dalam pajak. Bea meterai adalah pajak.

B. DASAR HUKUM PEMUNGUTAN BEA METERAI

Undang-Undang Nomor 13 tahun 1985 merupakan pengganti dari Aturan Bea Meterai tahun 1921 yang sampai dengan 31 desember 1985 menjadi dasar hukum pemungutan bea meterai Indonesia. Undang-Undang Nomor 13 tahun 1985 disahkan dan diundangkan di Jakarata pada tanggal 27 Desember 1985 dan dinyatakan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1986. Undang-Undang Nomor 13 tahun 1985 dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 69 dan penjelasan undang- undang ini dimuat dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3313.

Ditinjau dari hukum pajak, Undang-Undang Nomor 13 tahun 1985, selanjutnya disebut sebagai UU Bea Meterai, memiliki dua fungsi, yantu sebagai hukum pajak material dan sekaligus sebagai hukum pajak formal, hukum pajak material mengatur tentang norma-norma yang menerangkan keadaan-keadaan, perbuatan-perbuatan, dan peristiwa- peristiwa hukum yang haru dikenakan pajak, siapa saja yang dikenakan pajak, serta besarnya pajak yang terutang. Dengan perkataan lain, dapat dikatakan bahwa hukum ini memuat segala sesuatu tentang timbulnya, besarnya dan haPusnya hutang pajak dan hubungan hukum antara pemerintah dan wajib pajak, peraturan yang memuat kenaikan- kenaikan, denda -denda dan hukuman-hukuman serta tata cara pembebasan dan pengembalian pajak serta hak tagihan yang memiliki fiskus.

Hukum pajak formal mengatur tentang tata cara mengimplementasikan hukum pajak material sebagai menjadi suatu kenyataan. Termasuk didalamnya penyelenggaraan pemungutan pajak, antara lain mengenai penetapan suatu utang pajak, pengawasan pemerintah terhadap penyelenggaraannya, kewajiban para wajib pajak baik sebelum maupun sesudah diterimanya surat ketetapan pajak, kewajiban pihak ketiga dan prosedur dalam pemungutan pajak, hak wajib pajak, dan sanksi terhadap wajib pajak yang melanggar, kewenangan fiskus, kewajiban fiskus, serta sanksi terhadah fiskus yang tidak menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Tujuan pengaturan hukum pajak

DTSD Pajak II

55

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

formal ini adalah untuk melindungi fiskus dan wajib pajak serta memberi jaminan agar hukum pajak material dapat diselenggaraan dengan tepat.

Dalam UU Bea Meterai dapat ditemui ketentuan tentang apa yang menjadi objek, tarif, pihak yang terutang, saat terutang, dan cara pelunasan bea meterai yang merupakan bagian dari hukum pajak material. Di bagian lain juga dapat ditemui ketentuan tentang ketentuan bagi pejabat yang dalam jabatannya berhubungan dengan dokumen, sanksi administrasi bagi wajib bea meterai yang tidak memenuhai kewajibannya sebagaimana mestinya, dan ketentuan pidana terhadap barang siapa yang meniru dan memalsukan benda meterai, yang pada dasarnya merupakan bagian dari hukum pajak formal.

C. BEA METERAI ADALAH PAJAK ATAS DOKUMEN

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya pasal 1 ayat (1) UU Bea Meterai menyatakan ” dengan nama bea meterai dikenakan pajak atas dokumen yang disebut dalam undang – undang ini ”. Hal ini menunjukkan bahwa UU Bea Meterai dengan tegas menyatakan bahwa bea meterai adalah pengenaan pajak atas dokumen. Dengan demikian, yang dikenakan pajak adalah dokumen yang dibuat oleh orang atau badan yang berkepentingan atas dokumen tersebut. Karena bea meterai adalah pajak atas dokumen, maka merupakan hal yang sangat penting unutuk memahami apa yang dimaksud dengan dokumen.

1. Pengertian Dokumen

Pasal 1 ayat (2) UU Bea Meterai memberikan definisi dokumen sebagai kertas yang berisikan tulisan yag mengandung arti dan maksud tentang perbuatan, keadaan, atau kenyataan bagi seseorang dan atau pihak-pihak yang berkepentingan. Definisi ini memberikan pengertian dokumen secara sempit, yaitu terbatas pada kertas yang berisikan tulisan. Dikatakan secara sempit karena dalam kehidupan sehari-hari dokumen tidak hanya terbatas dalam bentuk kertas yang berisikan tulisan, tetapi juga bentuk lain seperti film, rekaman vidio, kaset, dan sebagainya.

Pengertian dokumen secara harfiah dapat dilihat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun oleh Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan

Pengembangan Bahasa Departemen Pedidikan Nasional, dokumen memiliki tiga pengertian, yaitu:

1. Surat yang tertulis atau tercetak yang dapat dipakai sebagai bukti keterangan (seperti kelahiran, surat nikah, dan surat perjanjian);

2. Barang cetakan atas naskah karangan yang dikirim melalui pos; atau

3. Rekaman suara, gambar di film, dan sebagainya yang dapat dijadikan bukti keterangan.

Hanya saja, karena secara umum yang digunakan oleh masyarakat (setidaknya sampai dengan 1983 pada saat UU Bea Meterai dibuat) adalah kertas sebagai dokumen yang membuktikan adanya perbuatan hukum, keadaan, atau kenyataan bagi seseorang dan atau pihak-pihak yang berkepentingan, maka dokumen yang dikenakan pajak dalam UU Bea Meterai dibatasi hanya pada kertas yang berisi tulisan.

2. Jenis-Jenis Surat / Dokumen

Dokumen sebagaimana didefinisiskan dalam Pasal 1 ayat (2) UU Bea Meterai oleh masyarakat luas dikenal sebagai surat atau akta. Untuk dapat memahami dokumen secara lebih komprehensif, perlu juga diketahui tentang pembagian surat.

Surat dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu surat di bawah tangan dan surat autentik. Selanjutnya surat dibawah tangan dapat dibedakan menjadi surat biasa dan akta di bawah tangan, dan surat autentik dapat dibedakan menjadi akta autentik dan surat dinas. Lebih lanjut, akta autentik dibagi menjadi dua, yaitu akta autentik menurut Hukum Publik dan akta autentik menurut Hukum Perdata. Untuk mempermudah pemahaman mengenai dokumen dapat diperhatikan skema pada gambar 1 di bawah ini:

DTSD Pajak II

57

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

Gambar 4 Skema Surat

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai Gambar 4 Skema Surat Keterangan :  Surat adalah serangkaian

Keterangan :

Surat adalah serangkaian kata-kata dalam bentuk tulisan yang mengandung maksud tertentu dari pembuatnya.

Surat di bawah tangan adalah surat yang tidak dibuat oleh pejabat umum

Surat Autentik adalah surat yang dibuat oleh pejabat umum ( Pejabat umum adalah pejabat yang diangkat oleh Pemerintah dan ditugaskan serta diberi wewenang untuk melakukan sebagian dari pekerjaan pemerintah untuk membuat akta yang berkaitan dengan peeristiwa atau perbuatan hukum)

Akta adalah surat yang ditandatangani , yang khusus dibuat untuk dijadikan bukti tentang suatu peristiwa atau perbuatan hukum.

D. OBJEK BEA METERAI

Sebagaimana telah dikemukan di awal kegiatan belajar ini, Pasal 1 UU Bea Meterai menyebutkan bea meterai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen yang dipakai oleh masyarakat dalam lalu lintas hukum. Objek bea meterai adalah dokumen. Jika tidak dibuat dokumen, maka tidak ada masalah pengenaan bea meterai. Selanjutnya UU Bea Meterai mengisyaratkan bahwa yang menjadi objek bea meterai bukan perbuatan hukumnya, seperti perjanjian jual beli, perjanjian sewa-menyewa, menerima uang, melakukan pemborongan pekerjaan, dan sebagainya; melainkan dokumen yang dibuat untuk melakukan telah terjadi perbuatan itu, seperti akta jual beli, akta atau surat perjanjian sewa-menyewa,

kuitansi, surat perjanjian pemborongan pekerjaan, dan sebagainya. Isi surat perjanjian yang tidak mungkin dapat dilaksanakan, misalnya saja jual beli tanah

di bulan atau perjanjian mengenai perbuatan yang dilarang, tidak menjadi

penghalang untuk mengenakan bea meterai atas surat perjanjian mengenai hal-

hal tersebut.

Dalam praktik di masyarakat di mungkinkan dua pihak atau lebih mengadakan perjanjian tersebut, tetapi tanpa membuat dokumen yang berkaitan dengan perjanjian dimaksud (tanpa surat perjanjian). Terhadap keadaan ini tidak ada permasalahan mengenai bea meterai karena yang dikenakan bea meterai adalah dokumen, bukan perjanjian yang diadakan tersebut.

1. Dokumen yang DikenakanBea Meterai

Sesuai dengan pasal 2 UU Bea Meterai dokumen yang dikenakan bea meterai adalah :

a. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk

digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan, atau keadaan yang bersifat perdata.

b. Akta-akta notaris dan salinannya.

c. Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) termasuk rangkap-rangkapnya.

d. Surat yang memuat jumlah Uang, yaitu;

1)

Yang menyebutkan penerimaan uang;

2) Yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank;

3)

4) Yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan.

Yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank; dan

e. Surat berharga seperti wesel, promes, aksep , dan cek.

f. Efek dalam nama dan bentuk apapun

Jumlah uang ataupun harga nominal yang disebut pada huruf d, e, dan f diatas juga dimaksudkan termasuk jumlah uang atau harga nominal yang dinyatakan dalam mata uang asing. Untuk menentukan nilai rupiahnya, jumlah uang atau harga nominal tersebut dikalikan dengan nilai tukar yang ditetapkan oleh Menteri

DTSD Pajak II

59

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

Keuangan yang berlaku pada saat dokumen itu dibuat, sehingga dapat diketahui apakah dokumen tersebut dikenakan atau tidak dikenakan bea meterai.

E. BUKAN OBJEK BEA METERAI

Pasal 4 UU Bea Meterai menentukan tidak dikenakan bea meterai atas dokumen, antara lain :

a. dokumen yang berupa :

1)

surat penyimpanan barang;

2)

konosemen;

3)

surat angkutan penumpang dan barang;

4) keterangan pemindahan yang dituliskan di atas dokumen

5)

sebagaimana dimaksud dalam angka 1), angka 2), dan angka 3); bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang;

6)

surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim;

7) surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-surat sebagaimana dimaksud dalam angka 1) sampai angka 6).

b. segala bentuk Ijazah;

c. tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan hubungan kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran itu;

d. tanda bukti penerimaan uang Negara dari kas Negara, Kas Pemerintah Daerah, dan bank;

e. kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang dapat disamakan dengan itu dari Kas Negara, Kas Pemerintahan Daerah dan bank;

f. tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi;

g. dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uang tabungan kepada penabung oleh bank, koperasi, dan badan-badan lainnya yang bergerak di bidang tersebut;

h. surat gadai yang diberikan oleh Perusahaan Jawatan Pegadaian;

i. tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek, dengan nama dan dalam bentuk apapun.

SUBJEK, SAAT TERUTANG, DAN TARIF BEA METERAI

A. SUBJEK BEA METERAI

Pasal 6 UU Bea Meterai menentukan bahwa Bea Meterai terhutang oleh pihak yang menerima atau pihak yang mendapat manfaat dari dokumen, kecuali pihak atau pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain.

Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 6 tersebut dijelaskan subjek bea meterai untuk tiap-tiap jenis dokumen sebagai berikut:

a. Dalam hal dokumen dibuat sepihak, misalnya kuitansi, Bea Meterai terhutang oleh penerima kuitansi.

b. Dalam hal dokumen dibuat oleh 2 (dua) pihak atau lebih, misalnya surat perjanjian di bawah tangan, maka masing-masing pihak terhutang Bea Meterai atas dokumen yang diterimanya.

c. Jika surat perjanjian dibuat dengan Akta Notaris, maka Bea Meterai yang terhutang baik atas asli sahih yang disimpan oleh Notaris maupun salinannya yang diperuntukkan pihak-pihak yang bersangkutan terhutang oleh pihak-pihak yang mendapat manfaat dari dokumen tersebut, yang dalam contoh ini adalah pihak-pihak yang mengadakan perjanjian. Jika pihak atau pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain, maka Bea Meterai terhutang oleh pihak atau pihak-pihak yang ditentukan dalam dokumen tersebut.

B. SAAT TERUTANG BEA METERAI

Saat terutang bea meterai sangat perlu diketahui karena akan menentukan besarnya tarif bea meterai yang berlaku dan juga berguna untuk menentukan daluarsa pemenuhan bea meterai dan denda admininistrasi yang terutang. Saat terutang bea meterai ditentukan oleh jenis dan di mana suatu dokumen dibuat. Pasal 5 UU Bea Meterai menentukan saat terutang bea meterai sebagai berikut:

a.

Dokumen yang dibuat oleh satu pihak, adalah pada saat dokumen itu diserahkan;

DTSD Pajak II

61

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

Lebih jauh dijelaskan bahwa yang dimaksud saat dokumen itu diserahkan termasuk juga bahwa pada saat itu dokumen tersebut diterima oleh pihak untuk siapa dokumen itu dibuat, bukan pada saat ditandatangani, misalnya kuintansi, cek, dan sebagainya.

b. Dokumen yang dibuat oleh lebih dari salah satu pihak, adalah pada saat selesainya dokumen dubuat, yang ditutup dengan pembubuhan tanda tangan dari yang bersangkutan. Sebagai contoh surat perjanjian jual beli. Bea Meterai terhutang pada saat ditandatanganinya perjanjian tersebut.

c. Dokumen yang dibuat di luar negeri adalah pada saat digunakan di Indonesia.

C. TARIF BEA METERAI

Tarif bea meterai pada dasarnya dibagai dua, yaitu (1) tarif berdasarkan jenis dokumen dan (2) tarif berdasarkan jumlah nominal yang disebutkan dalam dokumen tersebut. Pembagian ini memang tidak disebutkan secara jelas dalam UU Bea meterai, namun secara implisit dapat dilihat dalam Pasal 2, yaitu dokumen yang merupakan surat ya.ng dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai barang bukti di pengadilan, seperti akta notaris dan akta PPAT dikenakan tarif yang sama tanpa melihat isi dari dokumen tersebut. Selain itu dokumen yang memuat jumlah uang akan dikenakan tarif bea meterai berdasarkan jumlah uang yang termuat dalam dokumen itu.

Tarif bea meterai ditetapkan dengan undang-undang. Berdasarkan tarif-tarif yang dikenakan atas dokumen-dokumen sebagaimana tersebut pada Pasal 2 UU Bea Meterai, tarif bea meterai adalah Rp 1.000,- dan Rp 500,-.

Selanjutnya dalam Pasal 3 UU BeaMeterai disebutkan bahwa dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan besarnya tarif Bea Meterai dan besarnya batas pengenaan harga nominal yang dikenakan Bea Meterai, dapat ditiadakan, diturunkan, dinaikkan setinggi-tingginya enam kali atas dokumen-dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Berdasarkan ketentuan ini, seiring dengan adanya perkembangan ekonomi nasional, pemerintah telah mengadakan dua kali penyesuaian tarif dan besarnya harga nominal yang dikenakan bea meterai, yaitu perbahan pertama dengan Peraturan Pemerinth Nomor 7 tahun 1995, tarif bea meterai diubah menjadi Rp 1.000,-- dan Rp 2.000,-. Perubahan

kedua diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2000, yaitu tarif bea meterai ditentukan sebesar Rp 3.000,-- dan Rp 6.000,-.

Perkembangan tarif bea meterai per jenis dokumen tercantum dalam tabel 1 berikut:

Tabel 1 Perbandingan Tarif Bea Meterai dari Waktu ke Waktu

No

 

Dokumen

   

Tarif Bea Meterai

.

 

UU No. 13 Th. 1985

PP No. 7 Th. 1995

PP No. 24 th. 2000

1.

Surat Perjanjian dan surat-surat lainnya (a.l. Surat Kuasa, surat hibah, surat pernyataan) yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan/keadaan yang bersifat perdata.

Rp 1.000,00

Rp 2000,00

Rp 6.000,00

2,

Akta Notaris dan salinannya

 

Rp 1.000,00

Rp 2000,00

Rp 6.000,00

3.

Akta

yang

dibuat

PPAT

termasuk

Rp 1.000,00

Rp 2000,00

Rp 6.000,00

rangkapannya

 

4,a

Surat yang memuat sejumlah uang lebih

     

.

dari Rp 1 juta (harga nominal yang dinyatakan dalam mata uang asing)

a. Yang menyebutkan penerimaan uang;

b. Yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank;

Rp 1.000,00

Rp 2000,00

Rp 6.000,00

c. Yang berisi beerisi pembeitahuan saldo rekening di bank, dan

d. Yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau sebagian telah dilunasi atau diperhitungkan.

4.b

Surat yang memuat jumlah uang lebih dari

     

.

Rp 250.000,00 tetapi tidak lebih dari Rp

Rp 500,00

Rp 1.000,00

Rp 3.000,00

1.000.000,00

 

4c

Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp 100.000,00 tetapi tidak lebih dari Rp

250.000,00

 

Tidak

Tidak

Rp 500,00

terutang

dikenakan

4d

Surat yang memuat jumlah uang tidak lebih dari Rp 1.00.000,00

Tidak

Tidak

Tidak

terutang

terutang

dikenakan

5a

Surat berharga seperti wesel, promes,dan aksep yang hargaa nominalnya lebih dari Rp 1.000.000,00

Rp 1.000,00

Rp 2000,00

Rp 6.000,00

5b

Surat berharga seperti wesel, promes, dan aksep yang hargaa nominalnya lebih dari Rp 250.000,00 tetapi tidak lebih dari Rp

Rp 500,00

Rp 1000,00

Rp 3.000,00

1.000.000,00

 

5c

Surat berharga seperti wesel, promes,dan aksep yang hargaa nominalnya tidak lebih dari Rp 250000,00

 

Tidak

Tidak

Rp 500,00

terutang

dikenakan

5d

Surat berharga seperti wesel, promes,dan

Tidak

Tidak

Tidak

DTSD Pajak II

63

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

 

aksep yang hargaa nominalnya tidak lebih dari Rp 100.000,00

terutang

terutang

dikenakan

6a

Cek dan bilyet giro yang harga nominalnya lebih dari Rp 1.000.000,-

Rp 1000,00

Rp 1000,00

Rp 3.000,00

6b

Cek dan bilyet giro yang harga nominalnya lebih dari Rp 250.000,- terapi tidak ebih dari Rp 1.000.000,--

Rp500,00

Rp 1000,00

Rp 3.000,00

6c

Cek dan bilyet giro yang harga nominalnya lebih dari Rp 100.000,00 tetapi tidak lebh dari Rp 250.000,00

Rp 500,00

Rp 1000,00

Rp 3.000,00

6d

Cek dan bilyet giro yang harga nominalnya tidak lebih dari Rp 100.000,-

Tdk terutang

Rp 1000,00

Rp 3.000,00

*)

7a

Efek yang harga nominalnya lebih dari Rp

Rp 1.000,00

Rp 2.000,00

Rp 6.000,00

1.000.000

7b

Efek yang harga nominalnya lebih dari Rp 250.000.,00 tetapi tidak lebih dari Rp

Rp 500,00

Rp 1.000,00

Rp 3.000,00

1,000,000,00

7c

Efek yang harga nominalnya lebih dari Rp 100.000.,00 tetapi tidak lebih dari Rp

250000,00

 

Tidak

 

Rp 500,00

terutang

Rp 3.000,00

7d

Efek yang harga nominalnya tidak lebih dari Rp 100.000.,00

Tidak

Tidak

 

terutang

terutang

Rp 3.000,00

8.

Dokumen yang akan digunakan sebagai alat bukti di muka pengadilan melputi :

     

a. Surat-surat biasa dan surat kerumah-tanggaan;

b. Surat-surat yang semula tidak dikenakan bea meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, selain dari masksud semula.

Rp 1.000,00

Rp 2000,00

Rp 6.000,00

Keterangan :

*) Berdasarkan Peraturan Pemerintah anomor 13 Tahun 1989 tentang Perubahan Besarnya Tarif Bea Meterai dan besarnya bea meterai atas batas harga nominal yang dikenakan bea meterai ata cek dan bilyet giro, diubah menjadi Rp 500,00.

PELUNASAN BEA METERAI

Secara umum bea meterai atas dokumen yang terutang dilunasi denga dua cara, yaitu dengan menggunakan benda meterai atau menggunakan cara lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Pada umumnya bea meterai atas dokumen dilunasi dengan benda meterai menurut tarif yang ditentukan dalam undang- undang dan pelaturan pemerintah. Benda meterai yang dapat digunakan untuk melunasi bea meterai yang terutang adalah meterai tempel dan kertas meterai. Disampig itu, dengan Keputusan Menteri Keuangan dapat ditetapkan cara lain bagi pelunasan bea meterai, misalnya membubuhkan tanda tera sebagai pengganti benda meterai diatas dokumen dengan mesin-teraan, sesuai dengan pelaturan perundang-undangan yang ditentukan untuk itu.

A. PELUNASAN BEA METERAI DENGAN MENGGUNAKAN BENDA METERAI

Benda meterai yang dapat digunakan sebagai sarana pelunasan benda meterai terutang adalah benda meterai sebagaimana dimaksud dalm Pasal 1 ayat (2) huruf b UU Bea Meterai, yaitu meterai tempel dan kertas metereai yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

1. Meterai Tempel

Pelunasan bea meterai dengan menggunakan meterai tempel dilakukan

sesuai dengan Pasal 7 ayat( 3) – (6) UU Bea Meterai, yaitu sebagai berikut.

a. Meterai tempel direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak di atas dokumen yang dikenakan Bea Meterai.

b. Meterai tempel direkatkan di tempat dimana tanda tangan akan dibubuhkan.

c. Pembubuhan tanda tangan disertai dengan pencantuman tanggal, bulan, dan tahun dilakukan dengan tinta atau yang sejenis dengan itu, sehingga sebagian tanda tangan ada di atas kertas dan sebagian lagi di atas meterai tempel.

DTSD Pajak II

65

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

d. Jika digunakan lebih dari satu meterai tempel, tanda tangan harus dibubuhkan sebagian di atas semua meterai tempel dan sebagian di atas kertas. Letak perekatan meterai tempel bergantung kepada dimana letak tanda tangan akan dibubuhkan diatas kertas yang bersangkutan. Pada umumnya di bawah tulisan yang sudah selesai. Jika suatu dokumen yang dibubuhi meterai tempel harus ditanda-tangani oleh lebih dari satu orang, penanda tanga pertama harus mempergunakan meterai tempel tersebut.

2. Kertas Meterai

Pelunasan bea meterai dengan menggunakn kertas meterai dilakukan sesua dengan Pasal 7 ayat (7) – (8) UU Bea Meterai, yaitu dengan cara menuliskan dokumen yang menjadi objek bea meterai pada kertas meterai yang ditentukan. Tanda tangan pihak yang membuat dokumen tersebut dilakukan di atas kertas meterai, pada bagian yang sesuai dengan dokumen yang dibuat (tidak ditentukan harus pada sisi tertentu dari kertas meterai). Jika isi dokumen yang dikenakan bea meterai terlalu panjang untuk dimuat seluruhnya di atas kertas meterai yang digunakan, maka untuk bagian isi yang masih tertinggal dapat digunakan kertas tidak ber meterai. Suatu dokumen yang menggunakan beberapa helai kertas (misalnya akta pendirian sebuah perseroan terbatas) dan akta pendirian tersebut menggunakan kertas meterai, maka hanya bagian awal (helai pertama) saja yang menggunakan meterai, kemudia helai-helai berikutnya dapat menggunakan kertas biasa tanpa meterai. Kertas meterai yang sudah digunakan, tidak boleh digunakan lagi.

Kertas meterai yang sudah digunakan tidak boleh digunakan lagi. Hal ini berarti bahwa sehelai kertas meterai hanya dapat digunakan untuk sekali pemakai, sekalipun dapat saja terjadi tulisan atau keterangan yang dimuat dalam kertas meterai tersebut hanya menggunakan sebagian saja dari kertas meterai. Andaikan bagian yang masih kosong atau tidak terisi tulisan atau keterangan akan dimuat tulisan atau keterangan lain, maka atas pemuatan tulisan atau keterangan lain tersebut terutang bea meterai tersendiri yang besarnya disesuaikan dengan besarnya tarif bea meterai yang berlaku. Jika sehelai kertas

meterai karena suatu hal tidak jadi digunakan dan dalam hal ini belum ditandatangani oleh pembuat atau yang berkepentingan, sedangkan dalam kertas meterai telah terlanjur ditulis dengan beberapa kata atau kalimat yang belum merupakan suatu dokumen yang selesai, kemudian tulisan yang ada pada kertas meterai tersebut dicoret dan dimuat tulisan atau keterangan baru, maka kertas meterai yang demikian dapat digunakan dan tidak perlu dibubuhi meterai lagi.

Apabila ketentuan tentang bentuk, ukuran, warna meterai tempel, dan kertas meterai, demikian pula pencetakan, serta tata cara pelunasan bea meterai tidak dipenuhi, maka dokumen yang bersangkutan dianggap tidak bermeterai.

B. PELUNASAN BEA METERAI MENGGUNAKAN CARA LAIN

Pelunasan bea meterai lainnya adalah dengan menggunakan cara lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 104/KMK.04/1986 tanggal 22 Februari 1986, pelunasan bea meterai degan menggunakan cara lain adalah dengan menggunakan mesin teraan meterai atau alat lain dengan teknologi tertentu, yang penggunaannya harus mendapat izin tertululis dari Direktur Jendral Pajak. Izin penggunaan diberikan kepada pemakai yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh Direktur Jendral Pajak. Ketentuan dengan cara lain ini telah mengalami berbagai perubahan, seiring dengan perkembangan teknologi yang dapat dipergunakan untuk memperlancar pelunasan bea meterai. Terakhir, ketentuan mengenai pemeteraian dengan cara lain diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133b/KMK.04/2000 tanggal 28 April 2000 sebagai berikut:

1. Pemeteraian dengan cara lain dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

a. Dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan mesin teraan meterai;

b. Dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan teknologi percetakan; atau

c. Dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan sistem

komputerisasi

2. Pelunasan Bea Meterai dengan menggunakan cara lain harus mendapat ijin tertulis dari Direktur Jenderal Pajak.

DTSD Pajak II

67

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

3. Hasil pencetakan tanda Bea Meterai Lunas harus dilaporkan kepada Direktur Jenderal Pajak; Pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan menggunakan teknologi percetakan dilaksanakan oleh Perusahaan Umum (Perum) Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) dan/atau Perusahaan sekuriti yang mendapat ijin dari Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal) yang di tunjuk oleh Bank Indonesia.

4. Bea Meterai yang telah dibayar atas tanda Bea Meterai Lunas yang tercetak pada dokumen yang tidak terutang Bea Meterai ataupun yang belum digunakan untuk mencetak tanda Bea Meterai Lunas, dapat dialihkan untuk penggunaan berikutnya.

5. Penerbit dokumen dengan tanda Bea Meterai Lunas yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi harus melunasi Bea Meterai yang terutang berikut dendanya 200 % (dua ratus persen) dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi dengan cara menyetorkannya ke Kas Negara atau Bank Persepsi.

6. Bea Meterai kurang bayar atas cek, bilyet giro, dan efek yang tanda Bea Meterai Lunasnya dibubuhkan sebelum 1 Mei 2000 harus dilunasi dengan menggunakan mesin teraan Meterai atau dengan menggunakan meterai tempel.

1. Tata Cara Pelunasan dengan Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai

Ketentuan pelaksanaan tentang Tata Cara Pelunasan Bea Meterai dengan Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai tercantum dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep - 122b/Pj./2000 sebagai berikut :

a. Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan mesin teraan meterai hanya diperkenankan kepada penerbit dokumen yang melakukan pemeteraian dengan jumlah rata-rata setiap hari minimal sebanyak 50 dokumen.

b. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan mesin teraan meterai

harus mengajukan permohonan ijin secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat dengan mencantumkan jenis/merk dan tahun pembuatan mesin teraan meterai yang akan digunakan, serta melampirkan surat pernyataan tentang jumlah rata-rata dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai setiap hari.

c. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan mesin teraan meterai harus melakukan penyetoran Bea Meterai di muka minimal sebesar Rp 15.000.000,- (lima belas juta rupiah) dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Ke Kas Negara melalui Bank Presepsi.

d. Penerbit dokumen yang mendapatkan ijin penggunaan mesin teraan meterai mempunyai kewajiban sebagai berikut :

(1) Menyampaikan laporan bulanan penggunaan mesin teraan meterai kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat paling lambat tanggal 15 setiap bulan. (2) Menyampaikan laporan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat paling lambat satu bulan setelah mesin teraan meterai tidak dipergunakan lagi atau terjadi perubahan alamat/tempat kedudukan pemilik/pemegang ijin penggunaan mesin teraan meterai.

e. Ijin penggunaan mesin teraan meterai berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal ditetapkannya, dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan.

f. Bea meterai yang belum dipergunakan karena mesin teraan meterai rusak atau tidak dipergunakan lagi, dapat dialihkan untuk pengisian deposit mesin teraan meterai lain atau pencetakan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan ataupun dengan sistem komputerisasi.

g. Penerbit dokumen yang akan melakukan pengalihan Bea Meterai, harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat dengan mencantumkan alasan dan jumlah Bea Meterai yang akan dialihkan.

h. Penggunaan mesin teraan meterai tanpa ijin tertulis dari Direktur Jenderal Pajak dikenakan sanksi pidana berdasarkan Pasal 14 Undang-undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai.

DTSD Pajak II

69

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

i. Bea Meterai kurang bayar yang disebabkan oleh kelebihan pemakaian dari deposit yang disetor dikenakan sanksi denda administrasi sebesar 200 % dari Bea Meterai kurang bayar, dan pencabutan ijin penggunaan mesin teraan meterai.

j. Penggunaan mesin teraan meterai yang melewati masa berlakunya ijin yang diberikan, dikenakan sanksi pencabutan ijin.

k. Penyampaian laporan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat yang melewati batas waktu yang telah ditentukan dikenakan sanksi pencabutan ijin.

Seiring dengan perkembangan teknologi digital pada berbagai perlatan perkantoran, termasuk dalam teknologi mesain tera, maka untuk mengantisipasi perkembangan teknologi tesebut, telah diterbitkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per - 45/Pj/2008 Tentang Tata Cara Pelunasan Bea Meterai Dengan Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai Digital.

Pada prinsipnya hal-hal yang diatur dalam peraturan ini sama dengan hal-hal yang diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep - 122b/Pj./2000 tanggal 29 Oktober 2009. Namun terdapat beberapa hal baru yang diatur antara lain :

a. Aplikasi Kode Deposit; adalah aplikasi yang diinstal dalam server milik distributor Mesin Teraan Meterai Digital yang ditempatkan pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak yang berfungsi sebagai penerbit Kode Deposit Mesin Teraan Meterai Digital setelah mendapat informasi hasil verifikasi pembayaran deposit dari Aplikasi e- meterai;

b. Aplikasi e- meterai adalah aplikasi yang diinstal dalam server milik Direktorat Jenderal Pajak yang melayani pendaftaran Mesin Teraan Meterai Digital, verifikasi pembayaran deposit, dan pelaporan Bea Meterai, yang dapat diakses melalui portal intranet Direktorat Jenderal Pajak,

c. Petugas Kantor Pelayanan Pajak meneliti dan meng-input data yang disampaikan oleh wajib Pajak ke Aplikasi e- meterai.

d. Petugas Kantor Pelayanan Pajak mencetak Surat Izin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai Digital dari Aplikasi e- meterai.

e. Wajib Pajak setelah membayar deposit Mesin Teraan Meterai Digital akan memperoleh Kode Deposit paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak tanggal pembayaran deposit dilakukan.

f. izin pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai Digital berlaku selama 4 (empat) tahun sejak tanggal ditetapkan, dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan.

g. Kepala Kantor Pelayanan Pajak dapat menerbitkan surat pemberitahuan akan berakhirnya izin pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai Digital. Surat pemberitahuan tersebut dikirimkan kepada Wajib Pajak paling lambat 1 (satu) bulan sebelum batas waktu berakhirnya izin pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai Digital.

h. Apabila sampai dengan berakhirnya batas waktu berlakunya izin pembubuhan Wajib Pajak tidak melakukan perpanjangan izin pembubuhan, maka Kepala Kantor Pelayanan Pajak wajib mengirim Surat Teguran kepada Wajib Pajak paling lambat 5 (lima) hari sejak berakhirnya batas waktu berlakunya izin pembubuhan.

i. Wajib Pajak yang tidak melakukan perpanjangan izin pembubuhan dalam jangka waktu 15 (lima belas) hari sejak tanggal pengiriman Surat Teguran, dikenakan sanksi penangguhan perpanjangan izin pembubuhan selama 1 (satu) tahun dimulai sejak tanggal diterbitkannya Surat Keputusan Penangguhan Perpanjangan Izin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai Digital.

j. Surat Keputusan Penangguhan Perpanjangan Izin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai Digital harus diterbitkan paling lambat akhir bulan setelah bulan berakhirnya batas waktu berlakunya izin pembubuhan.

k. Penangguhan Perpanjangan Izin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai Digital diatur sebagai berikut:

1) Apabila sampai dengan berakhirnya batas waktu berlakunya izin pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai

DTSD Pajak II

71

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

Digital Wajib Pajak belum juga melakukan perpanjangan izin pembubuhan, maka Kepala Kantor Pelayanan Pajak wajib mengirim Surat Teguranpaling lambat 5 (lima) hari sejak berakhirnya batas waktu berlakunya izin pembubuhan. 2) Wajib Pajak harus menindaklanjuti Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada huruf C yaitu dengan melakukan perpanjangan izin pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai Digital dalam jangka waktu 15 (lima belas) hari sejak tanggal Surat Teguran dikirim. 3) Apabila Wajib Pajak tidak menindaklanjuti Surat Teguran sampai dengan batas waktu yang ditentukan sebagaimana dimaksud pada huruf D, maka Kepala Kantor Pelayanan Pajak wajib mengenakan sanksi penangguhan perpanjangan izin pembubuhan selama 1 (satu) tahun dimulai sejak tanggal diterbitkannya Surat Keputusan Penangguhan Perpanjangan Izin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai Digital. 4) Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus nnencrbitkan Surat Keputusan Penangguhan Perpanjangan Izin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai Digital kepada Wajib Pajak paling lambat akhir bulan setelah bulan berakhirnya batas waktu berlakunya izin pembubuhan Mesin Teraan Meterai Digital yang telah selesai masa penangguhan perpanjangan izin pembubuhannya, dapat digunakan lagi oleh Wajib Pajak. 5) Dengan berlakunya Peraturan Direktur Jenderal pajak ini, Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-122b/PJ./2000 tentang Tata Cara Pelunasan Bea Meterai Dengan Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai sepanjang mengatur tata cara pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai Manual, dinyatakan masih berlaku sampai dengan tanggal 28 April 2010. 6) Saldo deposit yang masih tersisa karena Mesin Teraan Meterai Manual yang digunakan sampai dengan tanggal 28 April 2010 belum habis, dapat dialihkan ke setoran jenis pajak yang lain dengan cara pemindahbukuan (Pbk).

7)

Prosedur pengalihan saldo deposit diatur sebagai berikut:

a) Wajib Pajak harus mengajukan Surat Permohonan Pengalihan Deposit kepada kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar, dengan:

- Mencantumkan jumlah saldo deposit yang akan dialihkan, dan

- Memberitahukan perhitungan ke setoran pajak yang lain untuk dilakukan pemindahbukuan atas saldo deposit yang akan dialihkan.

b) Untuk mengetahui jumlah saldo deposit yang dialihkan Petugas Kantor Pelayanan Pajak wajib melakukan penelitian fisik dan administrasi terhadap Mesin Teraan Meterai Manual yang hasilnya dibuatkan Berita Acara sebagaimana dimaksud dalam lampiran 10 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-07/PJ.5/2001 tanggal 18 April 2001 tentang Pembubuhan Tanda Bea Meterai

Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai.

c) Berdasarkan Berita Acara sebagaimana dimaksud pada huruf b Kepala Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan Surat Pengalihan Saldo Deposit Bea Meterai sebagaimana dimaksud dalam lampiran 13 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE- 07/PJ.5/2001 tanggal 18 April 2001 tentang Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai.

d) Kepala Kantor Pelayanan Pajak wajib menyelesaikan pemindahbukuan (Pbk) terhadap saldo deposit yang dialihkan dan mengirimkan Surat Pengalihan Saldo Deposit Bea Meterai paling

lambat 10 (lima) hari kerja sejak Surat Permohonan Pengalihan di terima lengkap oleh Kantor Pelayanan Pajak.

e) Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan mempunyai daya laku surut sejak tanggal 29 April

2008.

2. Tata Cara Pelunasan Dengan Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Teknologi Percetakan.

Ketentuan pelaksanaan tentang tata cara pelunasan bea meterai dengan

DTSD Pajak II

73

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan tekonologi percetakan diatur dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor Kep - 122c/Pj./2000 sebagai berikut :

a. Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan hanya diperkenankan untuk dokumen yang berbentuk cek, bilyet giro, dan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun.

b. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan harus melakukan pembayaran Bea Meterai di muka sebesar jumlah dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai, dengan enggunakan Surat Setoran Pajak ke Kas Negara melalui Bank Presepsi.

c. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan, harus mengajukan permohonan ijin secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak dengan mencantumkan jenis dokumen yang akan dilunasi Bea Meterai dan jumlah Bea Meterai yang telah dibayar.

d. Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) dan perusahaan sekuriti yang melakukan pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas pada cek, bilyet giro, atau efek dengan nama dan dalam bentuk apapun, harus menyampaikan laporan bulanan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat tanggal 10 setiap bulan. (1) Bea Meterai kurang bayar atas cek, bilyet giro, dan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tanda Bea Meterai Lunasnya dibubuhkan sebelum tanggal 1 Mei 2000 harus dilunasi dengan menggunakan mesin teraan meterai atau dengan menggunakan meterai tempel. (2) Bea Meterai kurang bayar atas cek, bilyet giro, dan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tanda Bea Meterai Lunasnya dibubuhkan sejak tanggal 1 Mei 2000 harus dilunasi dengan menggunakan mesin teraan meterai atau dengan menggunakan meterai tempel dengan ditambah denda administrasi sebesar 200% dari Bea Meterai kurang bayar tersebut.

(3) Pelunasan denda administrasi seperti tersebut pada ayat (2) di atas dilakukan dengan menyetorkan ke Kas Negara melalui Bank Persepsi dengan menggunakan Surat Setoran Pajak. (4) Bea Meterai yang telah dibayar atas tanda Bea Meterai Lunas yang tercetak pada cek, bilyet giro, dan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang belum dipergunakan dapat dialihkan untuk pengisian deposit mesin teraan Meterai, pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas lainnya dengan teknologi percetakan atau pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi. (5) Penerbit dokumen yang akan melakukan pengalihan Bea Meterai, harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak dengan mencantumkan alasan dan jumlah Bea Meterai yang akan dialihkan.

e. Penerbit dokumen yang melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan tanpa ijin tertulis Direktur Jenderal Pajak dikenakan sanksi pidana berdasarkan Pasal 14 Undang-undang Nomor 13 tahun 1985 tentang Bea Meterai.

f. Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) atau perusahaan sekuriti yang melakukan pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas tanpa adanya ijin tertulis dari Direktur Jenderal Pajak dikenakan sanksi pidana berdasarkan Pasal 14 Undang-undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai dan pencabutan ijin penunjukan sebagai pelaksana pembubuhan tanda BeaMeterai Lunas dengan teknologi percetakan.

g. Penyampaian laporan bulanan kepada Direktur Jenderal Pajak yang melewati batas waktu yang telah ditentukan dikenakan sanksi pencabutan ijin penunjukan sebagai pelaksana pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan.

3. Tata Cara Pelunasan Dengan Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas dengan Sistem Komputerisasi

Ketentuan Pelaksanaan Tata Cara Pelunasan Dengan Membubuhkan Tanda

DTSD Pajak II

75

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

Bea Meterai Lunas Dengan Sistem Komputerisasi Diatur Dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep - 122d/PJ./2000 Tanggal 1 Mei 2000 sebagai berikut:

a. Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi hanya diperkenankan untuk dokumen yang berbentuk surat yang memuat jumlah uang sebagaimana dimaksud Pasal 1 huruf d Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2000 dengan jumlah rata-rata peMeteraian setiap hari minimal sebanyak 100 dokumen.

b. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi, harus mengajukan permohonan ijin secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak dengan mencantumkan jenis dokumen dan perkiraan jumlah rata-rata dokumen yang akan dilunasi Bea Meterai setiap hari.

c. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi harus melakukan pembayaran Bea Meterai di muka minimal sebesar perkiraan jumlah dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai setiap bulan, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak ke Kas Negara melalui Bank Presepsi.

d. Penerbit dokumen yang mendapatkan ijin pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi harus menyampaikan laporan bulanan tentang realisasi penggunaan dan saldo Bea Meterai kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat tanggal 15 setiap bulan.

e. Ijin pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi berlaku selama saldo Bea Meterai yang telah dibayar pada saat mengajukan ijin masih mencukupi kebutuhan pe meteraian 1 (satu) bulan berikutnya.

f. Penerbit dokumen yang mempunyai saldo Bea Meterai kurang dari estimasi kebutuhan satu bulan, harus mengajukan permohonan ijin baru dengan terlebih dahulu melakukan pembayaran Bea Meterai di muka minimal sebesar kekurangan yang harus dipenuhi untuk mencukupi kebutuhan 1 (satu) bulan.

g. Bea Meterai yang belum dipergunakan karena sesuatu hal, dapat dialihkan untuk pengisian deposit mesin teraan meterai, atau pencetakan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan.

h. Penerbit dokumen yang akan melakukan pengalihan Bea Meterai sebagaimana dimaksud ayat (1), harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak dengan mencantumkan alasan dan jumlah Bea Meterai yang akan dialihkan.

i. Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi tanpa ijin tertulis Direktur Jenderal Pajak dikenakan sanksi pidana berdasarkan Pasal 14 ndang-undang Nomor 13 tahun 1985 tentang Bea.

j. Bea Meterai kurang bayar yang disebabkan oleh kelebihan pemakaian dari pembayaran di muka yang dilakukan, dikenakan sanksi denda administrasi sebesar 200 % dari Bea Meterai kurang bayar.

k. PembubuhanTanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisai yang melewati masa berlakunya ijin yang diberikan, dikenakan sanksi pencabutan ijin.

l. Penyampaian laporan kepada Direktur Jenderal Pajak yang melewati batas waktu yang telah ditentukan dikenakan sanksi pencabutan ijin.

C.

AKIBAT

METERAI TIDAK DIPENUHI

APABILA

KETENTUAN

CARA

PELUNASAN

BEA

Pelunasan bea meterai, baik dengan menggunakan benda bea meterai maupun dengan cara lain, harus memenuhi ketentuan yang telah dikemukakan di atas. Apabila ternyata ketentuan pelunasan bea meterai tidak dipenuhi, maka dokumen tersebut dinyatakan tidak ber meterai dan tentunya dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Undang-Undang bea meterai dengan tegas menentukan apabila ketentuan tentang cara pelunasan bea meterai tidak dipenuhi, maka berlaku ketentuan di bawah ini.

1) Dalam hal pemenuhan dengan menggunakan benda bea meterai tidak memenuhi ketentuan, maka dokumen yang bersangkutan dianggap tidak ber meterai (Pasal 7 ayat (9) UU Bea Meterai). Hal ini berakibat akan dikenakan

DTSD Pajak II

77

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

sanksi berupa denda administrasi sebesar 200% dari bea meterai yang tidak dibayar. 2) Dalam hal pemenuhan dengan menggunakan mesin teraan meterai atau cara lainnya sebagaimana dimaksudkan dalm Pasal 7 ayat (2) huruf b UU Bea Meterai dilakukan tanpa izin, maka berdasarkan Pasal 14, perubahan tersebut merupakan kejahatan sehingga dapat diancam dengan pidana penjara selama-lamanya tujuh tahun.

D.

BENDA

INDONESIA

METERAI

YANG

SAAT

INI

MASIH

BERLAKU

DI

Benda meterai yang saat ini masih berlaku di Indonesia sebagai sarana pelunasan bea meteai adalah benda meterai desain tahun 2005, yang diterbitkan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2005 dan mulai diberlakukan sejak tanggal 1 April 2005. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2005 adalah peraturan tersebut pada dasarnya hanya mengubah ketentuan tentang meterai tempel, yaitu mengganti meterai tempel desain tahun 2002 dengan desain tahun 2005. hanya saja ternyata dalam ketentuan penutup peraturan tersebut menyatakan bahwa Keputusan Menteri Keuangan Nomor 323/KMK.03/2002 dinyatakan tidak berlaku. Hal ini berarti dasar hukum pemberlakuan kertas meterain desai tahun 2002 juga dinyatakan tidak berlaku lagi.

Ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2005 tentunya kurang sesuai dengan UU Bea Meteai yang menentukan bahwa kertas meterai juga merupakan sarana pelunasan bea meterai terutang. Oleh karena inu, Menteri Keuangan kemudian melakukan perubahan atas aturan dimaksud dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 90/PMK.03/2005 tentang Perubahan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2005, yang ditetapkan tanggal 5 Oktober 2005 dan berlaku pada tanggal ditetapkan.

Peraturran Menteri Keuangan Nomor 90/OMK.03/2005 mengubah Pasl 4 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2005 sehingga menjadi berbunyi: “Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Keuangan Nomor 323/KMK.03/2002, tentang Bentuk, Ukuran, dan Warna Benda Meterai Desain Tahun 2002, sepanjang yang mengatur mengenai

meterai tempel dinyatakan tidak berlaku.” Dengan demikian, sebenarnya ketentuan tentang kertas meterai yang diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 323/KMK. 03/2002 tetap berlaku. Dengan berlakunya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 90/PMK.03/2005 memberikan kepastian hukum tentang tetap berlakunya kertas meterai sebagai sarana pelunasan bea meterai

E. PENGADAAN DAN PENGELOAAN BENDA METERAI

Pengadaan, Pengelolaan, dan penjualan benda meterai tidak dilaksanakan sendiri oleh Direktorat Jenderal Pajak sebagai instansi yang mengelola pajak pusat, melainkan diserahkan kepada instansi lain yang dipandang berkompeten dalam hal pengadaan maupun pengelolaan dan penjualan benda meterai. Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1986 tentang Pengadaan, Pengelolaan, dan Penjualan Benda Meterai yang ditetapkan pada tanggal 5 Juni 1986 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1986. Dalam peraturan pemerintah tersebut disebutkan bahwa pencetakan dalam rangka pengadaan benda meterai dilaksanakan oleh Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri). Tata cara dan persyaratan pencetakan benda metera diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. Sementara itu, pengelolaan dan penjualan benda meterai dilaksanakan oleh Perum Pos dan Giro. Tata cara dan persyaratan pengelolaan dan penjualan benda meterai diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan.

Saat ini tata cara dan persyaratan pengelolaan dan penjualan benda meterai diatur oleh Menteri Keuangan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nimor 133a/KMK.04/2000 tentangPengadaan, Pengelolaan, dan Penjualan Benda Meterai, dan ditetapkan tanggal 28 April 2000 dan mulai berlaku tanggal 1 Mei 2000. sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan tersebut pencetakan dalam rangka pengadaan benda meterai dilaksanakan oleh Perusahaan Umum (Perum) Percatakan Uang Republik Indonesia (Perurit). Hasil pencetakan benda meterai dilaporkan kepada Direktur Jenderal Pajak. Tata cara dan persyaratan pencetakan diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Pajak. Adapun pengelolaan dan penjualan benda meterai dilaksanakan oleh PT Pos Indonesia dan atau

DTSD Pajak II

79

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

badan usaha lain yang ditunjuk. Hasil penjualan dan persediaan Benda Materai dilaporkan kepada Direktur Jenderal Pajak.

Sebagai imbalan atas perannya mengelola dan menjual benda meterai maka kepada PT Pos Indonesia diberikan provisi atas penjualan benda meteai. Besarnya provisi penjualan benda meterai ditetapkan oleh Direktur Jendersl Pajak. Untuk melaksanakan ketentuan ini Direktur Jenderal Pajak telah mengeluarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor 448/PJ./2000 tanggal

17 Oktober 2000 tentang Besarnya Provisi Penjualan Benda Meterai. Dalam

keputusan tersebut diatur provisi penjualan benda meterai desain tahun 2000 kopur Rp. 3.000,00 dan Rp.6000,00 sebesar Rp.110,00 (seratus sepuluh rupiah)

per lembar/keping. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal 1 Agustus 2000.

Benda meterai yang tidak berlaku lagi dan benda meterai yang rusak, cacat, atau kotor sehingga tidak jelas lagi ciri-ciri keasliannya dimusnahkan berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Pajak, dan Tata cara pemusnahan benda meterai ditetapkam oleh Direktur Jenderal Pajak. Pelaksanaan pemusnahan dilakukan oleh Direktur Jenderal Pajak, yang terdiri dari unsur Direktur Jenderal Pajak, PT Pos Indonesia, dan Perum Peruri. Biaya pemusnahan dibebankan pada mata anggaran Direktur Jenderal Pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

F.

PENGAWASAN TERHADAP PENGELOLAAN DAN PENJUALAN BENDA METERAI

Sehubungan dengan pengelolaan dan penjualan pada meterai milik Direktorat Jenderal Pajak yang dilakukan oleh PT Pos Indonesia ( Persero ), Direktur Jenderal Pajak telah mengeluarkan Surat Edaran Dirjen Pajak NOMOR SE -

23/PJ.53/2003 Tentang Pengelolaan dan Panjualan Benda Meterai pada tanggal

17 September 2003. Dalam surat edaran tersebut disebutkan bahwa PT Pos

Indonesia ( Persero ) mempunyai kewajiban antara lain :

1. Menjual benda meterai dan menyetorkan seluruh uang hasil penjualannya setiap hari ke rekening giro atas nama kas negara c.q. Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Kantor Pos Pemeriksa ; dan

2. Menyampaikan laporan bulanan penjualan dan persediaan benda meterai beserta bukti setor uang hasil penjualan, yang dapat berupa Surat Setoran

Pajak (SSP) standar bagi Kantor Pos Pemeriksa yang belum on line atau SSP khusus bagi Kantor Pos Pemeriksa yang sudah on line, kepada Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Kantor Pos Pemeriksa, paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.

Dalam rangka pengawasan terhadap kewajiban PT Pos Indonesia (Persero) tersebut Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Kantor Pos Pemeriksa wajib melaksanakan hal-hal di bawah ini:

1) Mencocokan jumlah penjualan benda meterai yang tercantum pada laporan yang disampaikan Kantor Pos Pemeriksa dengan lembar ketiga SSP standar atau SSP khsus atas hasil penjualan benda meterai dan meneliti MAP/kode jenis pajak dan kode jenis storan yang tercantum pada SSP tersebut.

a) Mencocokan bukti setor atas hasil penjualan benda meterai yang dilaporkan oleh Kantor Pos Pemeriksa dengan lembar kedua SSP standar atau SSP khusus dari KPKN;

b) Menatausahakan laporan penjualan benda meterai beserta bukti setor atas hasil penjualan benda meterai dengan baik.

3. Kantor Pelayanan Pajak wajib menyampaikan surat teguran kepada Kantor Pos Pemeriksa dalam hal:

a) Kantor pos pemeriksa belum menyampaikan laporan bulanan penjualan dan persediaan beda meterai sampai dengan batas waktu yang ditentukan; dan atau

b) Kantor pos pemeriksa tidak menyetorkan hasil penjualan benda meterai

setiap hari ke rekening giro atas nama kas negara c.q. Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Kantor Pos Pemeriksa.

4. Dalam rangka meneliti kebenaran laporan bulanan penjualan dan persediaan benda meterai dan memantau persediaan benda meterai di wilayah kerjanya, Kantor Pelayanan Pajak bersama-sama dengan Kantor Pos Pemeriksa wajib melakukan verifikasi atas penjualan dan pesediaan benda meterai, dengan ketentuan sebagai berikut.

DTSD Pajak II

81

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

a) Verifikasi penjualan dan persediaan benda meterai dilakukan secara berkala setiap tiga bulan sekali (setiap triwulan) paling lambat 21 hari setelah berakhirnya triwulan yang bersangkutan.

Hasil verifikasi penjualan dan pesediaan benda meterai dicantumkan dalam berita acara yang ditandatangani kedua belah pihak dan dituangkan dalam laporan Verifikasi Penjualan dan Persediaan Benda Meterai.

Berita acara dan laporan Verifikasi Pejualan dan Pesediaan Benda Meterai disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah DJP dengan tembusan disampaikan kepada Manajemen Prangko dan Meterai PT Pos Indonesia (Persero) dan Direktur PPN dan PTLL paling lambat akhir bulan pada bulan dilakukannya verifikasi.

5. Kepala Kantor Wilayah DJP wajib mengawasi pelaksanaan veifikasi penjualan dan persediaan benda meterai di wilayah kerjanya dan wajib menyampaikan Laporan Triwulanan Penjualan dan Persediaan Benda Meterai kepada Direktur PPN dan PTLL paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah bulan diterimanya Laporan Verifikasi Penjualan dan Persediaan Benda Meterai. Hal ini perlu dipahami dan dilaksanakan oleh pejabat pajak terkait demi tertib administrasi pengelolaan benda meterai.

G. PEMETERAIAN KEMUDIAN

Pemeteraian kemudian merupakan salah satu cara pelunasan bea meterai selain pelunasan dengan menggunakan benda meterai dan pelunasan dengan cara lain. Hal ini untuk memberikan kemudahan Wajib Pajak dan dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 10 Undang-undang Nomor 13 Tahun 1985 yang menyatakan : Pemeteraian kemudian dilakukan atas:

a. Dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai namun akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan.

b. Dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya.

c. Dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia.

1.

Ketentuan Pelaksanaan Pemeteraian Kemudian

Ketentuan pelaksanaan tentang pemeteraian kemudian diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 476/Kmk.03/2002 Tentang Pelunasan Bea Meterai dengan Cara Pemeteraian Kemudian yang ditetapkan dan mulai berlaku pada tanggal 19 November 2002 sebagai berikut:

a. Pemeteraian kemudian wajib dilakukan oleh pemegang dokumen sebagaimana dimaksud pasal 10 UU Bea Meterai dengan menggunakan meterai Tempel atau Surat Setoran Pajak dan harus disahkan oleh Pejabat Pos.

b. Lembar kesatu dan lembar ketiga Surat Setoran Pajak yang digunakan untuk pemeteraian kemudian harus dilampiri dengan daftar dokumen yang dimeteraikan kemudian dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Surat Setoran Pajak dimaksud.

c. Pengesahan atas pemeteraian kemudian dapat dilakukan setelah pemegang dokumen membayar denda :

1) Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya, wajib membayar denda sebesar 200% (dua ratus persen) dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi. 2) Dalam hal pemeteraian kemudian atas dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia, baru dilakukan setelah dokumen digunakan, maka pemegang dokumen wajib membayar denda sebesar 200% (dua ratus persen) dari Bea Meterai yang terutang. 3) Denda sebagaimana dimaksud dalam a) dan b) dilunasi dengan menggunakan Surat Setoran Pajak.

d. Besarnya Bea Meterai yang harus dilunasi dengan cara pemeteraian kemudian adalah:

1) Atas dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai namun akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan adalah sebesar Bea Meterai yang terutang sesuai dengan peraturan yang berlaku pada saat pemeteraian kemudian dilakukan. 2) Atas dokumen yang tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya adalah sebesar Bea Meterai yang terutang;

DTSD Pajak II

83

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

3)

Atas dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia adalah sebesar Bea Meterai yang terutang sesuai dengan peraturan yang berlaku pada saat pemeteraian kemudian dilakukan.

2. Tata Cara Pemeterian Kemudian dengan menggunakan Meterai Tempel

Tata cara pemeteraian kemudian dengan menggunakan meterai tempel diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-02/PJ/2003 tanggal 6 januari 2003, sebagai berikut :

a.

Pemegang dokumen membawa dokumen yang akan dilunasi dengan Cara pemeteraian kemudian kepada Pejabat pos pada Kantor Pos terdekat;

b.

Pemegang dokumen melunasi Bea Meterai vang terutang atas dokumen yanq dimeteraikan kemudian tersebut sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 476/KMK.03/2002 tentang Pelunasan Bea Meterai Dengan Cara Pemeteraian Kemudian dengan cara menempelkan Meterai Tempel pada dokumen yang akan dimeteraikan kemudian.

c.

Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau Kurang dilunasi sebagaimana mestinya Wajib membayar denda administrasi sebesar 200% dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi dengan menggunakan Surat Setoran Pajak dengan kode jenis MAP 0174.

d.

Dokumen telah dimeteraikan kernudian dan SSP dicap "TELAH DIMETERAIKAN KEMUDIAN SESUAI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 1985 sebagaimana diatur Iebih lanjut dengan KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 476/KMK.03/2002" oleh Pejabat Pos disertai dengan tanda tangan, nama terang dan Nomor Pegawai Pos yang bersangkutan.

3.

Tata Cara Pemeteraian Kemudian Menggunakan SSP

Pemeteraian Kemudian dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-02/PJ/2003 tanggal 6 januari 2003, sebagai berikut :

a. Membuat daftar dokumen yang akan dimeteraikan kemudian.

b. Membayar Bea Meterai yang terutang berdasarkan daftar tersebut sesuai ketentuan di dalam Pasal 4 Keputusan Menteri Keuangan Nomor

476/KMK.03/2002 tentang Pelunasan bea Meterai Dengan Cara Pemeteraian Kemudian dengan menggunakan SSP.

c. Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagairnana mestinya vvajib membayar denda administrasi sebesar 200% dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi dengan menggunakan SSP terpisah dengan SSP yang digunakan untuk memeteraikan kemudian.

d. Cara pengisian SSP adalah sebagai berikut

1)

SSP yang digunakan untuk melunasi pemeteraian kemudian, diisi

2)

dengan Kode Jenis Pajak (MAP) 0171. SSP yang digunakan untuk membayar denda administrasi, diisi

dengan Kode Jenis (MAP) 0174.

e. Daftar dokumen yang dimeteraikan kemudian dan SSP yang telah digunakan untuk membayar pemeteraian kemudian dicap "TELAH DIMETERAIKAN KEMUDIAN SESUAI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 1985 sebagaimana diatur lebih lanjut dengan KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 476/KMK.03/2002" oleh Pejabat Pos disertai dengan tanda tangan, nama terang dan Nomor Pegawai Pejabat Pos yang bersangkutan.

DTSD Pajak II

85

PBB Sektor P3 dan Bea Meterai

f.

SANKSI, DALUWARSA, DAN KETENTUAN PIDANA

A. SANKSI ATAS KEWAJIBAN PEMENUHAN BEA CUKAI

Salah satu daya paksa yang dapat dilakukan oleh fiskus untuk menerapkan pajak terhadap masyarakat atau wajib pajak adalah adanya sanksi yang tegas terhadap barang siapa yang melakukan pelanggaran ketentuan perpajakan. Hal ini juga berlaku dalam pengenaan dan pemungutan bea meterai. Pasal 8 UU Undang Bea Meterai dengan tegas mengatur bahwa dokumen yang bea meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya dikenakan denda administrasi sebesar 200% dari bea meterai yang tidak atau kurang dibayar. Pemegang dokumen dimaksud harus melunasi bea meterai yang terutang berikut dendanya dengan cara pemeteraian kemudian. Pengenaan sanksi denda ini dapat dilihat pada contoh di bawah ini.

1. Dokumen yang menurut ketentuan dikenakan bea mcterai Rp 6.000,00 tetapi temyata tidak diberi meterai. Besarnya pemeteraian kemudian yang harus dilakukan terhadap dokumen tersebut adalah sebesar Rp 18.000,00 dengan perincian sebagai berikut: