Anda di halaman 1dari 21

Kata Pengantar

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji dan syukur seraya penyusun


panjatkan ke hadirat Illahi Robbi yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-
Nya sehinnga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “
Penggunaan bahasa baku dan tidak baku dalam bahasa Indonesia” ini tepat waktu.

Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah bahasa
Indonesia . Sehubungan dengan tersusunnya makalah ini kami menyampaikan
terima kasih kepada bapak Andree Tiono Kurniawan elaku dosen pengampu mata
kuliah bahasa Indonesia.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi kami dan pembaca. Kami menyadari bahwa
makalah ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan. Namun penyusun tetap
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif sehingga bisa menjadi
acuan dalam penyusunan makalah selanjutnya.

Metro, September 2017

Penulis

i
Daftar Isi

Kata Pengantar ..................................................................................................................... i


Daftar Isi ............................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 2
C. Tujuan ..................................................................................................................... 2
BAB II ISI ........................................................................................................................... 3
A. Pengertian Bahasa Baku.......................................................................................... 3
B. Fungsi Bahasa Indonesia yang Baku ...................................................................... 3
C. Konteks Pemakaian Bahasa Indonesia Baku .......................................................... 4
D. Ciri-ciri bahasa Indonesia Baku .............................................................................. 4
E. Sebab-Sebab Ketidakbakuan Kalimat dan Pembenarannya.................................... 5
BAB III PENUTUP .......................................................................................................... 17
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 17
B. Saran ..................................................................................................................... 17
Daftar Pustaka ................................................................................................................... 18

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bagi sebagian besar bangsa Indonesia , bahasa Indonesia adalah bahasa
kedua . bahasa pertama kita adalah bahasa daerah kita masing masing sebagai
bahasa kedua , maka bahasa Indonesia tidak digunakan sebagai bahasa dalam
percakapan sehari hari, baik dirumah maupun di luar rumah . dalam berbahasa
daerah kita takut melakukan kesalahan sebab masyarakat yang sedaerah kita akan
menegur kesalahan itu dan menganggap kita kurang beradab . tetapi dalam bahasa
indonesia sering kali kita tidak takut melakukan kesalahan sebab tidak akan ada
anggota masyarakat yang akan menegur kesalahan itu, dan menganggap kita
kurang beradab.
Sikap sebagian besar dari kita seperti ini menyebabkan timbulnya kesan
bahwa kita belum berbahasa Indonesia dengan baik dan benar . sebagai orang
indonesia setidaknya di bangku sekolah dasar , kita telah menggunakan bahasa
indonesia , tetapi dengan sikap “pokokya mengerti “ dan tanpa usaha untuk
menggunakanya dengan baik maka itu adalah wajar kalau pemerintah terus
menerus melontarkan anjuran “ gunakanlah bahasa Indonesia dengan baik dan
benar “ kita sebagai orang Indonesia sudah seharusya mengindahkan anjuran
tersebut dengan cara lebih memperhatikan lagi pengunaan bahasa Indonesia .
Anggapan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu identik dengan bahasa
indonesia baku datang dari sebagian besar yang awam dalam bidang kebahasaan,
sebab bagi mereka bahasa itu Cuma ada dua macam, yaitu “yang tinggi” dan
“yang rendah”. Bahasa tinggi digunakan dalam pendidikan dan oleh orang yang
berpendidikan, sedangkan bahasa yang rendah digunakan dalam kehidupan
sehari-hari, seperti di pasar dan sebagainya. Padahal sesuai dengan fungsinya
sebagai alat komunikasi dan bahasa itu beragam atau bervarias. Maka yang baik

1
dan benar tentunya adalah kalau kita bisa menggunaka bahasa itu menurut ragam
yang sesuai dengan situasinya.1

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pemakaian bahasa indonesia dengan baik dan benar ?
2. Apa yang dimaksud dengan bahasa Indonesia baku ?
3. Apa fungsi pengggunaan bahasa Indonesia yang baku?
4. Apa ciri-ciri bahasa Indonesia baku ?
5. Apa saja faktor dan contoh kalimat baku?

C. Tujuan
1. Mengetahui pemakaian bahasa indonesia dengan baik dan benar.
2. Mengetahui pengertian bahasa indonesia baku.
3. Mengetahui ciri-ciri bahasa indonesia baku.
4. Mengetahui faktor-faktor dan contoh kalimat baku.

1
Abdul Chaer, Kesantunan Berbahasa (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), 8.

2
BAB II

ISI

A. Pengertian Bahasa Baku


Bahasa baku adalah bahasa yang menjadi pokok, dasar ukuran, atau yang
menjadi standar. Menurut B.Havranek dan Vilem Mathesius, bahasa baku adalah
bentuk bahasa yang telah dikondisikan, diterima, dan difungsikan sebagai model
atau acuan bagi masyarakat luas. Di dalam bukunya, Yus Rusyana berpengertian
bahwa bahsa baku adalah bahasa yang dikondisikan, diterima, dan dijadikan
contoh bagi masyarakat luas. Gorys Keraf berpendapat bahwa bahasa baku adalah
bahsa yang dianggap dan diterima sebagai patokan umum untuk seluruh penutur
bahasa tersebut.2
Dari beberapa pengertian diatas jelaslah bahwa bahsa baku adalah bahasa
yang telah ditetapkan, diterima, dan difungsikan sebgai model atau contoh oleh
masyarakat luas.
Bahasa baku harus diterima oleh massyarakat luas karena dengan
penerimaan inilah bahasa baku mempunyai kekuatan untuk mempersatukan da
menyimbolkan masyarakat bahsa baku tersebut.

B. Fungsi Bahasa Indonesia yang Baku


Bahasa Indonesia yang baku mempunyai tiga fungsi pokok sebagai berikut:
1. Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai pemersatu
2. Bahasa Indoensia baku sebagai penanda kepribadian bangsa
3. Bahasa baku berfungsi sebagai penambah wibawa bangsa
4. Bahasa Indonesia baku sebagai kerangka acuan

2
Nurul Hidayah, Pembelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi (Yogyakarta:
Garudhawacana, 2016), 27.

3
C. Konteks Pemakaian Bahasa Indonesia Baku
Bahasa Indonesia baku dapat dipakai dalam beberapa konteks yaitu:
1. Dalam kondisi resmi
Pemakaian bahasa Indonesia baku dipakai dalam surat menyurat resmi
atau dinas, pengumuman-pengumuman yang dikeluarkan instansi resmi,
perundang-undangan, penamaan dan peristilahan resmi.
2. Dalam wacana teknis
Bahsa baku dipakai dalam laporan resmi karangan ilmiah berupa
makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan hasil penelitian.
3. Pembicaraan di depan umum (khotbah, ceramah, dan kuliah)
4. Pembicaraan dengan orang yang dihormat

D. Ciri-ciri bahasa Indonesia Baku


Ciri-ciri bahasa indonesia baku sebagai berikut :3
1. Selalu menggunakan awalan me- atau ber- pada kata kerja yang menjadi
predikat di dalam kalimat. Misalnya :
 Baku : Kami berjalan kaki ke sekolah.
 Tidak baku : kami jalan kaki ke sekolah.
2. Selalu menggunakan fungsi gramatikal (SPOK) secara konsisten.
Misalnya :
 Baku : Temanku itu datang dari Medan.
 Tidak baku : Temanku dari Medan.
3. Selalu menggunakan kata penghubung bahwa atau karena didalam
kalimat majemuk. Misalnya :
 Dia tidak masuk sekolah karena hari hujan.
4. Selalu menggunakan bentuk sintetis. Misalnya :
 Baku : memberitahukan.
 Tidak baku : kasih tahu.

3
Abdul Chaer, Pembakuan Bahasa Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 50.

4
5. Tidak menggunakan unsur-unsur leksikal dan gramatikal dari dialek
regional atau bahasa-bahasa daerah yang belum di anggap unsur bahasa
indonesia. Misalnya :
 Baku : tidak, bagaimana.
 Tidak baku : nggak, gimana.
6. Selalu menggunakan ejaan yang disempurnakan baik dalam penulisan
kata maupun kalimat. Misalnya :
 Baku : apotek, kualitas.
 Tidak baku : apotik, kwalitas.

E. Sebab-Sebab Ketidakbakuan Kalimat dan Pembenarannya


Banyak hal yang berkaitan dalam rangka menyusun sebuah kalimat. Hal-hal
itu ada ialah ejaan, pilihan kata, pembentukan kata, pembentukan frase, dan tata
bahasa. Oleh karena itu, banyak hal yang menyebabkan sebuah kalimat menjadi
tidak baku.

1. Pelesapan Imbuhan
Imbuhan adalah awalan, sisipan, dan akhiran. Awalan dan akhiran
sering dilesapkan dalam penyusunan kalimat adalah sebagai berikut :
a. Pelesapan Awalan
Awalan yang sering dilesapkan yang mengakibatkan kalimat
yang terbentuk menjadi tidak baku adalah me-/ meN-,ber-, dan di-.
 Awalan me- atau meN-
Bentuk yang mengandung awalan me- atau meN- yang tidak
dilesapkan merupakan kalimat baku, sedangkan bentuk yang
awalan me- atau meN- yang dilesapkan merupakan kalimat tidak
baku.
Contoh :
Kalimat Baku
1. Pencuri itu membobol sebelas rumah.
2. Presiden akan mendatangi lokasi bencana.

5
Kalimat tidak baku
1. Pencuri itu bobol sebelas rumah.
2. Presiden akan datangi lokasi bencana.

 Awalan ber-
Bentuk-bentuk yang mengandung kata kerja berawalan kata
kerja berawalan ber- tanpa pelesapan merupakan kalimat baku,
sedangkan bentuk-bentuk yang mengandung awalan ber-
dengan pelesapan merupakan kalimat tidak baku.
Contoh :
Kalimat Baku
1. Saya ingin bertanya, Pak?
2. Saya ingin berlangganan majalah itu.
3. Gadis itu sedang berekreasi di pantai.
Tidak baku
1. Saya ingin tanya Pak?
2. Saya ingin langganan majalah itu.
3. Gadis itu sedang rekreasi di pantai.

 Awalan di-
Bentuk-bentuk yang mengandung kata kerja yang
berawalan di- tanpa pelesapan merupakan kalimat-kalimat baku,
sedangkan bentuk-bentuk yang mengandung kata di- yang
dilesapkan merupakan kalimat tidak baku.
Contoh :
Kalimat Baku
1. Dua orang pemulung dihukum dua tahun.
2. Pompa air di Karanganyar, Demak tetap difungsikan.
3. Soviet dituntut menarik pasukannya yang berada di
Ceko.
Tidak Baku
1. Dua orang pemulung hukum dua tahun.

6
2. Pompa air Karanganyar, Demak tetap fungsikan.
3. Soviet tuntut tarik pasukannya di Ceko

b. Pelesapan Akhiran
Ada dua buah akhiran yang penggunaannya dilesapkan, yaitu
akhiran -kan dan -i. Akibatnya, kalimat-kalimatnya menjadi tidak
baku.
Contoh :
Kalimat Baku
1. Laporkan kejadian itu!
2. Kita menantikan hubungan dengan Jakarta.
3. Keduanya saling mencintai.
Tidak Baku
1. Lapor kejadian itu!
2. Kita menanti hubungan dengan Jakarta.
3. Keduanya saling mencinta.

2. Pemborosan Penggunaan Kata


Kata-kata yang dipilih untuk menyusun sebuah kalimat yang
benar-benar diperlukan. Hal itu sesuai dengan prinsip kehematan dalam
pilihan kata. Akan tetapi, kenyataannya ada sejumlah kata yang
sesungguhnya tidak perlu digunakan, tetapi kenyataannya kata itu
digunakannya juga. Hal itulah yang disebut pemborosan pilihan kata.
Akibatnya, kalimat-kalimatnya tidak baku.
a. Pemborosan kata di mana
Bentuk-bentuk yang tidak mengandung di mana merupakan
kalimat baku, sedangkan bentuk-bentuk yang mengandung bentuk
itu merupakan kalimat tidak baku.
Contoh :
Kalimat Baku
1. Ketika bertanding di Jakarta tahun lalu, ia kalah angka.

7
2. Para pemuda mengerti apa yang harus mereka lakukan.
3. Tempat ditemukannya benda itu sudah dicatat.

Kalimat Tidak Baku


1. Tahun lalu ia bertanding di Jakarta di mana ia kalah angka.

2. Para pemuda mengerti di mana apa yang harus mereka


dilakukan.

3. Tempat di mana ditemukannya benda itu telah dicatat.

b. Pemborosan kata daripada


Bentuk-bentuk yang tidak mengandung kata daripada
merupakan kalimat baku, sedangkan bentuk-bentuk yang
mengandung kata itu merupakan kalimat tidak baku.
c. Pemborosan kata maka
Bentuk-bentuk yang tidak mengandung kata maka merupakan
kalimat baku, sedangkan yang mengandung kata maka merupakan
kalimat tidak baku.
Contoh :
Kalimat Baku
1. Dengan ini kami sampaikan data seorang ibu dari kelurahan
Kota Baru.
2. Dengan hormat kami mohon Saudara sudi memeriksa
kesehatannya.
3. Untuk menghilangkan lelah dan takut, pada saat itu Ratu Syima
mengadakan pesta berjoged.
Tidak Baku
1. Maka dengan ini kami haturkan data seorang ibu dari kelurahan
Kota Baru.
2. Maka kami mohon dengan hormat sudilah kiranya Saudara
memeriksa kesehatannya.
3. Untuk menghilangkan lelah dan takut maka pada saat itu Ratu
Syima mengadakan pesta jejogedan.

8
3. Ketidaktepatan Pemilihan Kata
Dalam menyusun sebuah kalimat harus diperhatikan ketepatan
pemilihan kata. Jika pemilihan katanya sudah tepat, bentuk yang
tersusun merupakan kalimat baku. Ketidaktepatan pemilihan kata,
kalimat yang terbentuk tidak baku.
a. Penggunaan kata yang termasuk ragam tidak baku
Bentuk-bentuk yang tidak mengandung kata yang termasuk
ragam tidak baku merupakan kalimat baku, sedangkan bentuk-
bentuk yang mengandung kata yang termasuk ragam tidak baku
merupakan kalimat tidak baku.
Contoh :
Baku
1. Ia sedang membuat rak buku.
2. Ia sudah diberi tahu.

Tidak Baku
3. Ia sedang membikin rak buku.

4. Ia sudah dikasih tahu.

b. Kesalahan pembentukan kata

Bentuk-bentuk yang bentukan katanya sudah benar merupakan


kalimat baku, sedangkan bentuk-bentuk yang mengandung bentukan
kata tidak benar merupakan kalimat tidak baku.
Contoh :
Kalimat Baku
1. Masalah ketunakaryaan perlu segera diselesaikan dengan
tuntas.
2. Buku itu diberikan kepada saya.
Tidak Baku

9
1. Mengenai masalah ketunaankarya perlu segera diselesaikan
dengan tuntas.

2. Buku itu diberi ke saya.

c. Ketidaktepatan penggunaan kata di mana


Bentuk-bentuk berikut yang tidak mengandung kata di mana
merupakan kalimat baku, sedangkan bentuk-bentuk yang
mengandung kata di mana merupakan kalimat tidak baku.
Baku
1. Kantor tempat ia bekerja tidak jauh dari rumahnya.
2. Kota Jakarta yang penduduknya bertambah terus merupakan
kota terpadat.
3. Kita akan teringat terhadap peristiwa 56 tahun yang lalu yang
waktu itu bangsa Indonesia telah berikrar.
Tidak Baku
1. Kantor di mana ia bekerja tidak jauh dari rumahnya.

2. Kota Jakarta di mana penduduknya bertambah terus menjadi


kota yang terpadat.

3. Kita akan teringat kepada peristiwa 56 tahun yang lalu di mana


bangsa Indonesia telah berikrar.

d. Ketidaktepatan penggunaan imbuhan meN–i


Bentuk-bentuk yang mengandung imbuhan meN-kan merupakan
kalimat baku, sedangkan bentuk-bentuk yang mengandung imbuhan
meN–i merupakan kalimat tidak baku.
Contoh :
Kalimat Baku
1. Ia menjagokan kesebelasan Putra Mataram
2. Ia membawahkan beberapa orang.

3. Presiden menghadiahkan bintang jasa kepadanya


Kalimat Tidak Baku

10
1. Ia menjagoi kesebelasan Putra Mataram.

2. Ia membawahi beberapa orang.

3. Presiden menghadiahi bintang jasa kepadanya.

e. Ketidaktepatan penggunaan bentuk –nya


Bentuk-bentuk yang tidak mengandung bentuk -nya merupakan
kalimat baku, sedangkan bentuk-bentuk yang tidak mengandung
bentuk –nya merupakan kalimat tidak baku.
Contoh :
Baku
1. Atas bantuan Saudara, kami ucapkan terima kasih.
2. Atas kehadiran Saudara kami ucapkan terima kasih.
3. Atas perhatian Anda, kami ucapkan terima kasih.
Tidak Baku
1. Atas bantuannya kami ucapkan terima kasih.
2. Atas perkenan kehadirannya, kami sampaikan terima kasih.
3. Atas perhatian dan perkenannya diucapkan terima kasih.

4. Penggunaan Konjungsi Ganda


Ketidakbakuan kalimat dapat disebabkan oleh penggunaan
konjungsi ganda. Artinya, dalam sebuah kalimat ditemukan 2 buah
konjungsi. Akibatnya kalimat menjadi rancu.
a. Konjungsi karena dan maka
Bentuk-bentuk yang mengandung konjungsi tunggal merupakan
kalimat baku, sedangkan bentuk-bentuk yang mengandung
konjungsi ganda merupakan kalimat tidak baku Contoh
Kalimat Baku
1. Karena sakit, ia tidak masuk kantor.
2. Karena Syeh pengganti sudah lama mengelana, ia menjadi
teringat ayahnya.

11
3. Karena kedua utusan itu berbeda pendapat, terjadilah
peperangan.
Kalimat Tidak baku
1. Karena sakit, maka ia tidak masuk kantor.
2. Karena Syeh pengganti sudah lama mengelana, maka ia
teringat ayahnya.
3. Karena kedua utusan itu berbeda pendapat, maka terjadilah
peperangan.

b. Konjungsi meskipun dan tetapi


Baku
1. Meskipun kita tidak berperang, kita harus waspada.

2. Meskipun turun hujan, ia pergi juga ke sekolah.


Tidak baku
1. Meskipun kita tidak berperang, tetapi kita harus waspada.

2. Meskipun turun hujan, tetapi ia pergi juga ke sekolah.

c. Konjungsi walaupun dan namun


Baku
1. Walaupun keringat membasahi seluruh badan, ia tetap bekerja.

2. Walaupun maju bersama-sama, mereka belum dapat


mengalahkannya.
Tidak baku
1. Walaupun keringat membasahi seluruh badan, namun ia tetap
bekerja.

2. Walaupun maju bersama-sama, namun mereka belum dapat


mengalahkannya.

d. Konjungsi setelah dan maka

12
Baku
1. Setelah berhari-hari berjalan, sampai beliau di pinggiran hutan
Merbabu.

2. Setelah keperluan Sultan Agung selesai, kembalilah beliau ke


Mataram.
Tidak baku
1. Setelah berhari-hari berjalan, maka sampailah beliau di pinggiran
hutan Merbabu.

2. Setelah keperluan Sultan Agung selesai, maka kembalilah beliau


ke Mataram.

e. Konjungsi meskipun dan namun


Baku
1. Negara Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945, namun masih
banyak warganya yang belum berpendidikan.

2. Meskipun bentuknya lain-lain, hakikatnya karikatur dapat


disebut humor.
Tidak baku
1. Meskipun negara Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945,
namun masih banyak warganya yang belum berpendidikan.
2. Meskipun bentuknya lain-lain, namun hakikatnya karikatur dapat
disebut humor.

5. Kesalahan Ejaan
Ejaan turut menentukan kebakuan dan ketidakbakuan kalimat.
Karena ejaannya benar, sebuah kalimat dapat menjadi baku dan karena
ejaannya salah,sebuah kalimat dapat menjadi tidak baku.
a. Penggunaan tanda koma yang salah
Bentuk-bentuk yang tidak mengandung tanda koma merupakan
kalimat baku, sedangkan bentuk-bentuk yang mengandung tanda
koma merupakan kalimat tidak baku karena penggunaannya salah.

13
Baku
1. Saya tidak datang jika turun hujan.
2. Maranggi tertawa puas karena musuhnya telah mati.
3. Ayah mengatakan bahwa adik sakit
Tidak Baku
1. Saya tidak datang, jika turun hujan.
2. Anggi tertawa puas, karena musuhnya telah mati
3. Ayah mengatakan, bahwa adik sakit.

b. Pelesapan tanda koma


Bentuk-bentuk yang mengandung tanda koma merupakan kalimat
baku, sedangkan bentuk-bentuk yang tidak mengandung tanda koma
merupakan kalimat tidak baku.
Baku
1. Jadi, batasan bahasa adalah sebagai berikut.
2. Di samping itu, kita tidak beruntung.
3. Akan tetapi, dia tetap tidak datang.
Tidak Baku
1. Jadi batasan adalah sebagai berikut.
2. Di samping itu kita tidak beruntung.
3. Akan tetapi dia tetap tidak datang.

c. Kesalahan penulisan Sapaan


Bentuk-bentuk yang penulisan sapaannya sudah benar
merupakan kalimat baku, sedangkan bentuk-bentuk yang
penulisannya masih salah merupakan kalimat tidak baku.
Baku
1. Silakan duduk, Dik!

2. Siapakah nama Saudara?


Tidak Baku
1. Silakan duduk, dik !

2. Siapakah nama saudara ?

14
d. Pelesapan Salah Satu Fungsi Kalimat
Fungsi-fungsi kalimat adalah subjek dan predikat. Predikat
dibagi menjadi predikat verbal, objek, dan keterangan. Dalam hal
ketidakbakuan kalimat, yang sering dilesapkan adalah subjek.
 Pelesapan subjek pada induk kalimat
Bentuk-bentuk yang induk kalimatnya mengandung
subjek merupakan kalimat baku, sedangkan bentuk-bentuk
yang induk kalimatnya tidak bersubjek merupakan kalimat
tidak baku.
Baku
1. Setelah dihukum 5 tahun, penjahat itu kembali ke jalan
yang benar.

2. Jika tidak membayar pajak, Anda akan didenda.


Tidak Baku
1. Setelah penjahat itu dihukum 5 tahun, kembali ke jalan
yang benar.
2. Jika Anda tidak membayar pajak, akan dikenakan
denda.

 Pelesapan subjek anak kalimat


Jika subjek anak kalimat dalam kalimat majemuk
bertingkat tidak sama dengan subjek induk kalimat, subjek
anak kalimat dan subjek induk kalimat harus disebutkan
secara nyata. Oleh karena itu, kalimatnya menjadi tidak
baku, jika salah satu subjek itu, yaitu subjek anak kalimat
atau subjek induk kalimat dilesapkan.
Baku
1. Setelah disiapkan segalanya, acara pelatihan itu segera
dimulai.

15
2. Sebelum kepala membicarakan masalah itu, bagian
personalia sudah memasalahkannya.
Tidak Baku
1. Setelah menyiapkan segalanya, acara pelatihan itu
segera dimulai.
2. Sebelum dibicarakan dengan pimpinan, bagian
personalia sudah memasalahkan masalah itu.

 Pelesapan predikat
Bentuk-bentuk yang mengandung predikat merupakan
kalimat baku, sedangkan bentuk-bentuk yang tidak
mengandung predikat merupakan kalimat tidak baku.
Baku
1. Ia sedang pergi ke luar negeri.
2. Ayah sudah pergi ke Jakarta.
Tidak Baku
1. Ia sedang ke luar negeri.
2. Ayah sudah ke Jakarta.
6. Kesalahan Struktur Kalimat
Bentuk-bentuk yang strukturnya sudah benar merupakan kalimat
baku, sedangkan bentuk-bentuk yang strukturnya masih salah
merupakan kalimat tidak baku.
Baku
1. Surat Anda sudah saya baca.

2. Sarmin memberi adiknya oleh-oleh.

3. Rumahnya sudah dijual.

Tidak Baku
1. Surat Anda saya sudah baca.

4. Sarmin memberi oleh-oleh adiknya.

5. Dia punya rumah sudah dijual.

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Bahasa baku adalah bahasa yang menjadi pokok, dasar ukuran, atau yang
menjadi standar. Bahasa baku harus diterima oleh massyarakat luas karena dengan
penerimaan inilah bahsa baku mempunyai kekuatan untuk mempersatukan da
menyimbolkan masyarakat bahsa baku tersebut.
Ada empat fungsi dari bahasa Indonesia yang bakuyaitu : bahasa Indonesia
baku berfungsi sebagai pemersatu, bahasa Indoensia baku sebagai penanda
kepribadian bangsa, bahasa baku berfungsi sebagai penambah wibawa bangsa dan
bahasa Indonesia baku sebagai kerangka acuan.
Banyak hal yang berkaitan dalam rangka menyusun sebuah kalimat. Hal-hal
itu ada ialah ejaan, pilihan kata, pembentukan kata, pembentukan frase, dan tata
bahasa. Oleh karena itu, banyak hal yang menyebabkan sebuah kalimat menjadi
tidak baku.

B. Saran
Semoga dengan tersusunnya makalah ini, kami berharap agar kita yang telah
mengetahui bahasa baku baik dari segi makna maupun penggunaan dalam
kalimatnya dapat mengaplikasikan dan dapat meminimalisir kesalahan.
Mengingat betapa penting fungsi bahasa Indonesia dalam mempersatukan ragam
daerah marilah kita sama-sama berusaha belajar dan memaknai dan memahami
bahasa persatuan Indonesia.

17
Daftar Pustaka

Abdul Chaer. Pembakuan Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.


Chaer, Abdul. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010.
Hidayah, Nurul. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi.
Yogyakarta: Garudhawacana, 2016.

18