Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sistem utilitas bangunan adalah suatu kelengkapan fasilitas bangunan yang digunakan
untuk menunjang tercapainya unsur – unsur kenyamanan, kesehatan, keselamatan, kemudian
komunikasi dan mobilitas dalam bangunan. Maka sebagai arsitek merupakan suatu kewajiban
untuk memahami dan mengerti sistem utilitas yang tepat untuk diaplikasikan pada suatu
bangunan sehingga tidak hanya memenuhi fungsi serta memperhatikan nilai estetika, namun juga
dapat mewujudkan unsur-unsur tersebut dalam kaitannya dengan fungsi bangunan yang
dirancang.

Sistem utilitas bangunan terdiri dari berbagai macam fasilitas utilitas, salah satunya
adalah sistem akustik dan noise. Sistem akustik adalah ilmu yang mempelajari tentang mutu
suara dan bunyi yang dihasilkan. Akustik sendiri berhubungan dengan organ pendengar, suara,
atau ilmu bunyi.

Sistem akustik pada dasarnya dibutuhkan di semua bangunan namun dengan kebutuhan
yang berbeda-beda tergantung dengan kebutuhan akan ketenangan dari bangunan itu sendiri.
Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian, penerapan dan penanggulangan kebisingan dari sitem
akustik, penulis akan memaparkan materi tersebut dalam makalah berjudul “Sistem Akustik dan
Noise”.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pemaparan dalam latar belakang, rumusan masalah yang berkaitan dengan
materi tersebut adalah sebagai berikut.
1.2.1 Apa pengertian dari akustik dan kebisingan itu sendiri ?
1.2.2 Apa saja asas penanggulangan pada bangunan?
1.2.3 Bagaimana sistem akustika pada luar ruangan ?
1.2.4 Bagaimana sistem akustika pada dalam ruangan ?
1.2.5 Bagaimana contoh penerapan sistem akustik pada bangunan?

1.3 TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini antara lain adalah sebagai berikut.
1.3.1 Untuk mengetahui sistem akustik pada bangunan dan asas penanggulangan kebisingan
1.3.2 Untuk mengetahui bagaimana sistem akustika pada luardan dalam ruangan
1.3.3 Untuk mengetahui bagaimana contoh penerapan sistem akustik pada bangunan

1.4 MANFAAT

1.4.1 Bagi mahasiswa


Agar mahasiswa lebih memahami cara kerja, jenis darisistem akustik dan bagaimana cara
penanggulangan kebisingan yang masuk ke dalam bangunan sehingga nantinya hasil
pemaparan dapat diaplikasikan dengan baik saat proses mendesain.

1.4.2 Bagi masyarakat


Agar masyarakat tidak hanya sekedar mengetahui jenisnya, tetapi juga memahami hal-hal
terkait sistem akustik dan noise.

2
BAB 2

KAJIAN TEORI

2.1. BUNYI
Menurut Satwiko (2004:125), bunyi adalah gelombang getaran mekanis dalam udara atau
benda padat yang masih bisa ditangkap oleh telinga normal manusia, dengan rentang frekuensi
antara 20-20.000 Hz. Namun, batasan-batasan ini dapat menurun karena faktor usia dan faktor
subjektif lainnya, misalnya kebiasaan.
Bunyi adalah suatu bentuk gelombang longitudinal yang merambat secara perapatan dan
perenggangan terbentuk oleh partikel zat perantara serta ditimbulkan oleh sumber bunyi yang
mengalami getaran. Bunyi tidak dapat terdengar pada ruang hampa udara, karena bunyi
membutuhkan zat perantara untuk menghantarkan bunyi, baik zat padat, cair, maupun gas.
Bunyi atau suara adalah pemampatan mekanis atau gelombang longitudinal yang
merambat melalui medium. Medium atau zat perantara ini dapat berupa zat cair, padat, gas. Jadi,
gelombang bunyi dapat merambat misalnya di dalam air, batu bara, atau udara.
Frekuensi bunyi (sound frequency) sendiri berarti jumlah getaran per detik dan diukur
dengan Hz (Hertz). Semakin tinggi frekuensi, semakin tinggi bunyi yang dihasilkan. Frekuensi
percakapan manusia berada pada 600-4000 Hz. Telinga manusia paling peka terhadap rentang
frekuensi antara 100-3200 Hz (panjang gelombang antara 10 cm – 3 m). Kepekaan telinga
manusia berada untuk frekuensi yang berbeda. Dengan energi yang sama, frekuensi tinggi lebih
mudah didengar, sedangkan frekuensi rendah merambat lebih jauh.
Kebanyakan suara adalah gabungan berbagai sinyal getar terdiri dari gelombang
harmonis, tetapi suara murni secara teoritis dapat dijelaskan dengan kecepatan getar osilasi atau
frekuensi yang diukur dalam satuan getaran Hertz (Hz) dan amplitudo atau kenyaringan bunyi
dengan pengukuran dalam satuan tekanan suara desibel (dB).
Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi, yaitu getaran di udara atau medium
lain, sampai ke gendang telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh telinga
manusia berkisar antara 20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo berbagai variasi dalam kurva
responsnya. Suara di atas 20 kHz disebut ultrasonik dan di bawah 20 Hz disebut infrasonik.

3
2.2 PERILAKU BUNYI
Berdasarkan sumber yang didapat dari http://Acoustics.com bunyi di dalam ruang
tertutup (enclosed space) memiliki perilaku (behaviour) tertentu jika menumbuk dinding-dinding
dari ruang tertutup tersebut yakni energinya akan dipantulkan (reflected), diserap (absorbed),
disebarkan (diffused), atau dibelokkan (diffracted) tergantung pada sifat akustik dindingnya.
1. Refleksi Bunyi (Pemantulan Bunyi)
Bunyi akan memantul apabila menabrak beberapa permukaan sebelum sampai ke
pendengar sebagaimana pendapat Mills(1986: 27): Reflected sound strikes a surface or several
surfaces before reaching the receiver. Pemantulan dapat diakibatkan oleh bentuk ruang maupun
bahan pelapis permukaannya. Permukaan pemantul yang cembung akan menyebarkan
gelombang bunyi sebaliknya permukaan yang cekung seperti bentuk dome (kubah) dan
permukaan yang lengkung menyebabkan pemantulan bunyi yang mengumpul dan tidak
menyebar sehingga terjadi pemusatan bunyi. Permukaan penyerap bunyi dapat membantu
menghilangkan permasalahan gema maupun pemantulan yang berlebihan.

2. Absorbsi Bunyi (Penyerapan Bunyi)


Saat bunyi menabrak permukaan yang lembut dan berpori maka bunyi akan terserap olehnya
sehingga permukaan tersebut disebut penyerap bunyi. Bahan-bahan tersebut menyerap bunyi
sampai batas tertentu, tapi pengendalian akustik yang baik membutuhkan penyerapan bunyi yang
tinggi. Adapun yang menunjang penyerapan bunyi adalah lapisan permukaan dinding, lantai,

4
langit-langit, isi ruang seperti penonton dan bahan tirai, tempat duduk dengan lapisan lunak,
karpet serta udara dalam ruang.
3. Diffusi Bunyi (Penyebaran Bunyi)
Bunyi dapat menyebar menyebar ke atas, ke bawah maupun ke sekeliling ruangan. Suara juga
dapat berjalan menembus saluran, pipa atau koridor.ke semua arah di dalam ruang tertutup.
Seperti yang tersebut dalam Acoustic.com: Sound can flank over, under, or around a wall.
Sound can also travel through common ductwork, plumbing or corridors.
4. Difraksi Bunyi (Pembelokan Bunyi)
Difraksi bunyi merupakan gejala akustik yang menyebabkan gelombang bunyi dibelokkan atau
dihamburkan di sekitar penghalang seperti sudut (corner), kolom, tembok dan balok.

2.3 GAUNG
Ketika seseorang berbicara di dalam sebuah gedung yang besar, dinding gedung akan
memantulkan suaranya. Biasanya, selang waktu antara bunyi asli dan pantulannya di dalam
gedung sangat kecil. Sehingga bunyi pantulan ini bersifat merugikan karena dapat menggangu
kejelasan bunyi asli.
Pemantulan bunyi yang seperti ini dinamakan gaung. Untuk menghindari peristiwa ini,
gedung-gedung yang mempunyai ruangan besar seperti aula telah dirancang supaya gaung
tersebut tidak terjadi. Upaya ini dapat dilakukan dengan melapisi dinding dengan bahan yang
bersifat tidak memantulkan bunyi atau dilapisi oleh zat kedap (peredam) suara. Contoh bahan
peredam bunyi adalah gabus, kapas, dan wool. Ruangan yang tidak menghasilkan gaung sering
disebut ruangan yang mempunyai akustik bagus. Selain melapisi dinding dengan zat kedap suara,
struktur bangunannya pun dibuat khusus. Perhatikan langit-langit dan dinding auditorium,
dinding dan langit-langit ini tidak dibuat rata, pasti ada bagian yang cembung. Hal ini
dimaksudkan agar bunyi yang mengenai dinding tersebut dipantulkan tidak teratur sehingga pada
akhirnya gelombang pantul ini tidak dapat terdengar.

2.4 GEMA
Terjadinya gema hampir sama dengan gaung yaitu terjadi karena pantulan bunyi. Namun,
gema hanya terjadi bila sumber bunyi dan dinding pemantul jaraknya jauh, lebih jauh daripada
jarak sumber bunyi dan pemantul pada gaung. Gema dapat terjadi di alam terbuka seperti di

5
lembah atau jurang. Tidak seperti pemantulan pada gaung, pemantulan pada gema terjadi setelah
bunyi (misalnya teriakanmu) selesai diucapkan.

2.5 DERAU (NOISE)


Menurut McGraw-Hill Dictionary of Scientificand Technical Terms (Parker, 1994), noise
adalah sound which is unwanted (bunyi yang tidak dikehendaki). Derau atau yang biasa disebut
noise adalah suatu sinyal gangguan yang bersifat akustik (suara), elektris, maupun elektronis
yang hadir dalam suatu sistem (rangkaian listrik/ elektronika) dalam bentuk gangguan yang
bukan merupakan sinyal yang diinginkan.Sumber derau dapat dikelompokkan dalam tiga
kategori:
1. Sumber derau intrinsic yang muncul dari fluktuasi acak di dalam suatu sistemfisik seperti
thermal dan shot noise.
2. Sumber derau buatan manusia seperti motor, switch, elektronika digital.
3. Derau karena gangguan alamiah seperti petir dan bintik matahari.
Derau dapat memberikan efek gangguan pada sistem komunikasi dalam 3 area:
1. Derau menyebabkan pendengar tidak mengerti dengan sinyal asli yang disampaikan atau
bahkan tidak mengerti dengan seluruh sinyal
2. Derau dapat menyebabkan kegagalan dalam sistem penerimaan sinyal.
3. Derau juga mengakibatkan sistem yang tidak efisien

2.6 AKUSTIK

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, akustik merupakan ilmu fisika yang
mempelajari suara. Sedangkan menurut Satwiko (2004 : 124), akustik berarti ilmu tentang bunyi.
Dengan demikian, sistem akustik adalah ilmu yang mempelajari tentang mutu suara dan bunyi
yang dihasilkan. Akustik sendiri berhubungan dengan organ pendengar, suara, atau ilmu bunyi.
Sistem akustik dalam sebuah ruangan merupakan keadaan sebuah ruang yang mempengaruhi
mutu bunyi yang terjadi di dalamnya. Akustik ruang ini sendiri banyak dikaitkan dengan hal
yang mendasar seperti perubahan suara karena pantulan dan juga gangguan suara ketembusan
suara dari ruang lain. Banyak material penyerap yang sangat efektif untuk digunakan. Material-

6
material tersebut biasanya digunakan untuk memperjelas suara yang dihantarkan dalam ruang
atau juga mengurangi kejelasan suara yang timbul.
Akustik Ruang terdefinisi sebagai bentuk dan bahan dalam suatu ruangan yang terkait
dengan perubahan bunyi atau suara yang terjadi. Akustik sendiri berarti gejala perubahan suara
karena sifat pantul benda atau objek pasif dari alam. Akustik ruang sangat berpengaruh dalam
reproduksi suara, misalnya dalam gedung rapat akan sangat memengaruhi artikulasi dan
kejelasan pembicara.
Akustik ruang banyak dikaitkan dengan dua hal mendasar, yaitu :
1. Perubahan suara karena pemantulan dan
2. Gangguan suara ketembusan suara dari ruang lain.

7
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 AKUSTIK DAN NOISE


Akustik ruang merupakan salah satu ilmu rekayasa bunyi yang mempelajari perilaku
suara didalam suatu ruang. Akustik ruang berhubungan dengan kualitas suara pada bangunan,
yang dipengaruhi oleh penilaian secara obyektif maupun subyektif. Penilaian obyektif yaitu
besaran-besaran yang bersifat umum, misalnya besaran tingkat tekanan bunyi dari sumber suara
dan besaran waktu dengung. Penilaian subyektif berdasarkan dari orang yang menilainya.
Tingkat penilaian tersebut akan sangat berpengaruh pada tingkat kenyamanan pengguna yang
berada pada ruangan tersebut.
Menurut Satwiko (2004:124) akustik dibagi dalam akustik ruang (room acoustics-bunyi
yang dikehendaki) dan kebisingan (noise-bunyi yang tidak dikehendaki). Kriteria kebisingan
adalah tingkat kebisingan terendah yang dipersyaratkan untuk ruang tertentu menurut fungsi
utamanya. Sedangkan tingkat kebisingan yang diperbolehkan (acceptable noise level) adalah
tingkat kebisingan yang diperkenankan terjadi di suatu ruangan agar aktivitas (fungsi) tidak
terganggu (Satwiko, 2004:127).
Noise senantiasa dihubungkan oleh ketidaknyamanan yang ditimbulkan olehnya. Belum
banyak orang yang menyadari bahwa munculnya noise juga dapat menyebabkan penurunan
kesehatan. Uraian berikut diharapkan dapat menjelaskan kaitan keduanya secara lebih jelas.
Sebagai contoh, orang yang sulit beristirahat karena di sekitar rumahnya selalu ramai dengan
bunyi yang tidak dikehendaki, lambat laun dapat menurun kesehatannya.Selanjutnya masalah
psikologi pun dapat muncul akibat dari istirahat yang tidak mencukupi, seperti cepat lelah dan
mudah marah (Nilsson, 1991).
Noise bersifat subjektif, sehingga batasan noise bagi orang yang satu bisa saja berbeda
dengan batasan noise bagi yang lain. Sebjektivitas noise bergantung pada :

1. Lingkungan dan keadaan


Keadaan fisik dari individu menjadi salah satu faktor penentu dari noise. Jangankan bunyi yang
keras, bunyi yang bersifat cukup pelan pun dapat menjadi bunyi yang tidak dikehendaki bagi

8
orang yang sedang sakit ataupun memerlukan konsentrasi tinggi dalam menjalankan aktivitasnya
pada saat tertentu. Sementara itu, bagi orang yang sehat, tingkat kekerasan yang sama mungkin
tidak menimbulkan gangguan yang berarti. Begitu pula dengan lingkungan. Sebagai contoh,
meski sama-sama sedang membaca seseorang yang sedang berada di bengkel masih bisa
memusatkan pikirannya walaupun ia berada di tempat yang bising.Namun tidak demikian ketika
ia berpindah ke ruang baca perpustakaan.

2. Sosial budaya
Setiap orang memiliki gaya hidup yang berbeda-beda. Hal tersebut menyebabkan masing-masing
orang memiliki toleransi berbeda terhadap nois.

3. Kegemaran atau hobi


Kegemaran sekelompok orang akan jenis musik tertentu dapat menjadi nois bagi kelompok
lainnya yang kebetulan tidak menyukai jenis musik tertentu.
Dalam nois dikenal istilah background noise (nois latar belakang), noise, dan ambient noise (nois
ambien).
 Noise latar belakang adalah bunyi di sekitar kita yang muncul secara tetap dan stabil pada
tingkat tertentu. Nois latar belakang yang nyaman berada pada tingkat kekerasan tidak
melebihi 40 dB.
 Noise adalah bunyi yang muncul secara tidak tetap atau seketika dengan tingkat
kekerasan yang melebihi noise latar belakang pada daerah tersebut.
 Noise ambien adalah tingkat kebisingan di sekitar kita, yang merupakan gabungan antara
noise latar belakang dan noise.
Selain ditentukan oleh tingkat kebisingan (dB), tingkat gangguan noise latar belakang juga
ditentukan oleh frekuensi bunyi yang muncul. Oleh karenanya, kedua faktor itu kemudian
dipertimbangan bersama dalam sebuah pengukuran yang disebut Noise Criteria (NC),
sebagaimana disajikan pada gambar :

9
NIlai NC yang Identik dengan
Fungsi Bangunan/Ruang
disarankan kebisingan (dBA)
Ruang konser, opera,studio rekam, dan ruang
NC 15-NC 20 25 s.d. 30
dengan tingkat akustik yang detik
Rumah sakit, dan ruang tidur/istirahat pada rumah
tiggal,apartemen, motel, hotel, dan ruang lain untuk NC 20-NC 30 30 s.d. 40
istirahat/tidur.
Auditorium multifungsi, studio radio/televisi,ruang
konferensi, dan ruang lain dengan tingkat akustik NC 20-NC 30 30 s.d. 40
yang sangat baik
Kantor,kelas, ruang baca,perpustakaan, dan ruang
NC 30-NC 35 40 s.d. 45
lain dengan tingkat akustik yang baik
Kantor dengan penggunaan ruang
bersama,kafetaria, tempat olah raga,dan ruang lain NC 35-NC 40 45 s.d. 50
degan tingkat akustik yang cukup
Lobi, koridor, ruang bengkel kerja, dan ruang lain
yang tidak membutuhkan tingkat akustik yang NC 40-NC 45 50 s.d. 55
cermat
Dapur, ruang cuci, garasi, pabrik, pertokoan NC 45-NC 55 55 s.d. 65
Tabel : Rekomendasi nilai Noise Criteria (NC) untuk fungsi tertentu
Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 24

Toleransi manusia terhadap kebisingan bergantung pada faktor akustikal dan non-
akustikal (Sanders dan McCormick, 1987).
 Faktor akustikal meliputi : tingkat kekerasan bunyi, frekuensi bunyi, durasi munculnya
bunyi, fluktuasi kekerasan bunyi, fluktuasi frekuensi bunyi, dan waktu munculnya bunyi.
 Faktor non akustikal meliputi : pengalaman terhadap kebisingan, kegiatan, perkiraan
terhadap kemungkinan munculnya kebisingan, manfaat objek yang menghasilkan
kebisingan, kepribadian, lingkungan dan keadaan.
Pemerintah Indonesia memiliki aturan kebisingan dalam Undang Undang No 16/2002
mengenai Bangunan Gedung (UUBG). Dalam UUBG, peraturan kebisingan hanya dimasukkan
dalam pasal mengenai kenyamanan, belum sampai pada pasal mengenai kesehatan.Kebisingan

10
juga diatur dalam Peraturan MenKes No 718/MenKes/Per/XI/87 dan Keputusan Dirjen
Pemberantasan Penyakit Menular (PPM) No. 70-I/PP.03.04.LP. Dari peraturan tersebut,
diperbolehlah bakuan tingkat kebisingan menurut pintakat peruntukan (zone) sebagaimana
tercantum pada tabel

Pintakat Peruntukan Tingkat Kebisingan (dBA) Maksimum di


dalam Bangunan
Dianjurkan Diperbolehkan
A Laboratorium,rumah sakit, panti 35 45
perawatan
B Rumah, sekolah, tempat 45 55
rekreasi
C Kantor,pertokoan 50 60
D Industri, terminal, stasiun KA 60 70

Tabel : Pintakan Peruntukan (Peraturan Menkes No 718/MenKes/Per/XI/87, dalam Lutfi,1995)


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 28

Untuk mengetahui tingkat kekerasan bunyi, digunakan alat bernama pengukur tingkat
bunyi (Sound Level Meter (SLM)), maka untuk mengukur tingkat kebisingan pada suatu area
juga digunakan alat yang sama.

Sumber Kebisingan Potensial


Kebisingan yang terjadi di sekitar kita dapat berasal dari berbagai sumber. Sumber ini dapat
dibedakan menjadi seumber yang diam dan sumber yang bergerak. Contoh dari sumber yang
diam adalah industri pabrik dan mesin mesin konstruksi. Sedangkan contoh dari sumber yang
bergerak misalnya kendaraan bermotor,kereta api, dan pesawat terbang.

 Kebisingan industri pabrik


Industri modern yang telah menggunakan peralatan-peralatan bermesin merupakan
sumber kebisingan diam yang sangat potensial. Kebisingan yang dihasilkan oleh mesin-
mesin di dalam pabrik juga dapat merambat ke luar bangunan pabrik, sehingga selain
dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik. Mesin-mesin pabrik umumnya

11
menghasilkan bunyi berfrekuensi rendah,sehingga selain menghasilkan bunyi
bising,mesin tersebut juga menghasilkan getaran.Oleh karena itu,idealnya sebuah
bangunan pabrik dirancang sebagai bangunan yang mampu meredam getaran agar tidak
merambat keluar, sehingga bangunan diluar cukup dirancang untuk menahan
kebisingannya saja.
 Kebisingan kereta api
Kebisingan dari kereta api juga memiliki wujud ganda berupa bunyi dan getaran akibat
adanya gesekan roda kereta api dari bahan keras dengan rel kereta api yang juga terbuat
dari bahan keras. Kebisingan yang muncul datang dari mesin kereta, klakson,dan
gesekan antara roda dan rel yang seringkali menghasilkan bunyi berdecit. Kebisingan
oleh kereta api dirasakan oleh civitas yang berada dalam stasiun kereta api dan bangunan
yang dibangun di luar jalur kereta api.
 Kebisingan pesawat terbang
Bunyi bunyi yang muncul pada pesawat terbang memiliki bobot yang berbeda dengan
bunyi mesin mesin lain. Kebisingan yang terjadi dari pesawat terbang umumnya diderita
oleh bangunan yang berlokasi dekat dengan pelabuhan udara dan beberapa ratus meter
dari pelabuhan udara tersebut (ketika pesawat tinggal landas dan mendarat, serta pesawat
berada pada ketinggian rendah). Ketika pesawat telah mencapai posisinya pada
ketinggian tertentu, maka kebisingan yang dihasilkan sepanjang jalur perjalanannya
tidak akan mengganggu kenyamanan banguunan dibawahnya karena jaraknya yang
sangat jauh. Redaman kebisingan melalui dinding dan atap bangunan yang dibuat
sedemikian rupa dapat mengurangi kebisingan pesawat saat tinggal landas,mendarat, dan
terbang rendah.
 Kebisingan Jalan Raya
Kebisingan jalan raya disebabkan oleh pemakaian kendaraan bermotor, baik yang
beroda dua, beroda empat, maupun beroda lebih dari empat. Dengan begitu banyaknya
sumber kebisingan diatas permukaan jalan, maka jalan raya pun ditetapkan sebagai
sebagai sumber kebisingan utama dewasa ini (Mediastika,2005).
Secara umum kendaraan yang beroperasi di jalan raya dapat dikelompokkan ke
dalam beberapa kategori. Menurut sistem pengoperasiannya, kendaraan dibedakan
menjadi kendaraan bermotor dan tidak bermotor. Klasifikasi ini sebenarnya

12
menunjukkan bahwa masing-masing kategori kendaraan menghasilkan spectrum bunyi
yang berbeda ( White and Walker, 1982).
Kendaraan tidak bermotor dapat dipastikan tidak menghasilkan kebisingan secara
langsung, namun sangat mungkin bahwa penggunaan kendaraan tidak bermotor yang
cenderung berjalan lebih lambat dapat meningkatkan kebisingan secara tidak langsung.
Sebagai contoh, lambatnya laju kendaraan tidak bermotor pada ruas jalan dengan lebar
terbatas akan menahan laju kendaraan bermotor dibelakangnya yang menyebabkan
kendaraan bermotor berkumpul di satu titik, sehingga kebisingan dapat meningkat.
Kebisingan yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor berasal dari beberapa
sumber, yaitumesin, transmisi, rem , klakson, knalpot, dan gesekan roda dengan
jalan.(White dan Walker, 1982).

Gambar : Macam dan Letak Kebisingan yang ditimbulkan kendaraan bermotor roda empat atau lebih
(White and Walker, 1982)
Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 36

Pada sisi lain kemiringan jalan juga mepengaruhi kebisingan. Pada jalan
menanjak, dibutuhkan torsi (momen punter) yang lebih besar dibandingkan jalan rata,
agar kendaraan dapat bergerak. Untuk menghasilkan torsi yang lebih besar dibutuhkan
posisi mesin kendaraan pada gigi atau persneling yang lebih rendah dengan putaran
mesin (rotation per minute/rpm) yang tinggi, sehingga dihasilkan kebisingan yang lebih
tinggi. Demikian pula saat kendaraan menuruni jalan, gigi rendah digunakan untuk
13
membantu pengereman (engine brake), agar kerja rem menjadi lebih efektif. Dari uraian
diatas, cukup jelas bahwa bangunan yang berada di tepi jalan menurun/menanjak dan
bangunan di tepi jalan yang tidak halus atau tidak rata akan menderita kebisingan lebih
tinggi disbanding bangunan yang sama berada di tepi jalan mendatar dengan permukaan
halus.
Tingkat kebisingan kendaraan bermotor yang berasal dari mesin kendaraan diukur
pada ketinggian mesin dari permukaan jalan. Meski menurut jenis kendaraannya
ketingian mesin dari permukaan jalan dapat berbeda-beda, sebagaimana yang ditunjukkan
gambar …, namun umumnya ketinggian rata ratanya adalah 50-80cm. Untuk jenis jalan
yang banyak dilalui kendaraan berat,sumber kebisingan dari kendaraan dapat dipakai rata
rata 80 cm. Sedangkan untuk jalan yang lebih banyak dilalui kendaraan biasa selain
kendaraan berat , sumber kebisingannya dapat ditentukan secara rata-rata pada ketinggian
50 cm (Mediastika,2005).
Secara terinci faktor-faktor penentu kebisingan di jalan dapat diuraikan sebagai
berikut :
1. Jumlah atau volume kendaraan yang semakin banyak dalam satu ruas jalan
akan mengakibatkan tingkat kebisingan yang lebih tinggi dan sebaliknya.
2. Semakin tinggi rasio kendaraan berkapasitas besar dibandingkan kendaraan
berkapasitas kecil pada satu ruas jalan, semakin tinggilah tingkat kebisingan
yang dihasilkannya, terutama apabila kendaraan berkapasitas besar tersebut
digunakan sebagai kendaraan umum/niaga.
3. Semakin tinggi rasio kendaraan beroda dua bermesin dua langkah
dibandingkan dengan kendaraan roda dua bermesin empat langkah pada satu
ruas jalan, semakin tinggilah tingkat kebisingan yang dihasilkan.
4. Semakin cepat laju kendaraan, semakin tinggilah tingkat kebisingan pada
kendaraan tersebut (berbeda dengan efek polusi udara, semakin lambat
kendaraan, semakin tinggilah emisi gas buang yang dihasilkannya karena
terakumulasi pada satu titik).
5. Selain ditentukan oleh karakteristik kendaraan, laju kendaraan juga sangat
tergantung pada karakteristik jalan. Kendaraan yang melaju cepat akan
menghasilkan kebisingan yang lebih tinggi, namun perbedaan ini tidak

14
signifikan bila dibandingkan saat kendaraan berjalan lambat. Keaadan
dilematis terjadi karena dengan semakin lebar dan semakin panjangnya suatu
jalan, serta semakin baiknya pengaturan jalur jalan dan kualitas jalan,
kendaraan akan cenderung melaju semakin cepat. Sementara pada kondisi
lain, jalan yang pendek dan sempit dengan penataan jalur yang kurang baik
serta kondisi permukaan jalan yang buruk, kendaraan akan berjalan lambat.
Pada keadaan kendaraan yang berjalan lambat, apabila jumlah kendaraannya
cukup banyak, tingkat kebisingan yang dihasilkannya juga cukup tinggi.
Keadaan ini juga menghasilkan polusi udara yang lebih besar. Dari uraian
singkat diatas dapat disimpulkan bahwa jalan, baik yang berkualitas baik
maupun buruk, akan menghasilkan tingkat kebisingan yang hampir sama
ketika dilalui kendaraan dalam jumlah banyak. Namun apabila jalan itu sepi,
akan berpengaruh pada durasikebisingan. Bagi suatu titik di tepi jalan pada
suatujalan yang sepi, kualitas jalan yang baik akan menghasilkan kebisingan
yang sama tingginya, namun dalam durasi yang lebih pendek, sebab
kendaraan berlalu dengan cepat dari titik tersebut, dibandingkan bila
kendaraan terpaksa berjalan lambat akibat kualitas jalan yang buruk.

No Kelas Jalan Spesifikasi


1 Jalan Arteri Melayani angkutan umum denganciri perjalanan jarak jauh,
kecepatan tinggi, dan jalan masuk dibatasi secara efisien
2 Jalan Kolektor Melayani angkutan umum dengan ciri perjalanan jarak sedang,
kecepatan rendah, dengan jumlah jalan masuk dibatasi
3 Jalan Lokal Melayani angkutan umum dengan ciri perjalanan dekat,kecepatan
rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi

Tabel : Kelas jalan menurut fungsi


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 39

15
No Kelas Jalan Spesifikasi Jalan dan Kendaraan
1 I Jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
muatannya dengan lebar maksimum 2,5 m, panjang maksimum 18m
dan muatannya dengan sumbu terberat > 10 ton
2 II Jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
muatannya dengan lebar maksimum 2,5 m, panjang maksimum 18m
dan muatannya dengan sumbu terberat maksimum 10 ton
3 III Jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatannya dengan lebar maksimum 2,5 m, panjang
maksimum 18m dan muatannya dengan sumbu terberat maksimum 8
ton
4 IV Jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
muatannya dengan lebar maksimum 2,5 m, panjang maksimum 12m
dan muatannya dengan sumbu terberat maksimum 8 ton
5 V Jalan lokal yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
muatannya dengan lebar maksimum 2,1 m, panjang maksimum 9m
dan muatannya dengan sumbu terberat maksimum 8 ton

Tabel : Kelas jalan menurut PP no 43/1993


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 39

6. Kemiringan jalan berpengaruh terhadap tingkat kebisingan yang dihasilkan.


Sebuah titik yang berada ditepi jalan miring (menanjak atau menurun) akan
menerima kebisingan yang lebih besar dibandingkan dengan jalan datar.
7. Sebuah titik di tepi jalan,yang berdekatan dengan pengaturan lalu lintas,
seperti traffic light, zebra-cross, atau perputaran,juga akan menerima
kebisingan yang lebih tinggi, karena kendaraan berhentiatau berjalan lambat
pada lokasi tersebut.
8. Keadaan di sisi jalan yang berpengaruh terhadap kebisingan adalah muka
bangunan yang berhadap hadapan dan saling membentuk koridor. Keadaan
ini akan memantulkan bunyi yang dihasilkan di jalan, dan mengakibatkan
kebisingan menjadi lebih tinggi.
9. Pemanfaatan trotoar untuk area parkir dan perdagangan informal juga dapat
menimbulkan kebisingan yang lebih tinggi pada suatu titik di tepi jalan,

16
karena kendaraan berjalan lambat dan sangat mungkin terjadi kemacetan pada
ruas jalan tersebut.

3.2 KEBISINGAN PADA BANGUNAN DAN ASAS PENANGGULANGANNYA

Perambatan Kebisingan ke Dalam Bangunan


Menurut asalnya kebisingan yang terjadi dalam bangunan dapat berasal dari berbagai
titik, namun demikian kebisingan yang berasal dari dalam lahan atau dari dalam bangunan
sendiri lebih dapat dikontrol ketimbang kebisingan yang berasal dari luar lahan. Kebisingan dari
jalan adalah kebisingan yang berada di luar control pemilik bangunan. Jenis perambatan
kebisingan dapat dibedakan menurut medium yang dilalui gelombang bunyi, yaitu:
 Airborne sound, adalah perambatan gelombang bunyi melalui udara. Oleh karena ruang
di sekeliling kita umumnya dilingkupi udara, demikian pula kebisingan yang muncul di
jalan umumnya merambat ke bangunan melalui medium udara. Model perambatan
semacam ini sangat mudah masuk ke bangunan apabila terdapat lubang, celah, atau retak
pada elemen bangunan,terutama pada elemen vertical seperti dinding. Perambatan juga
dapat terjadi melalui elemen vertical atas, yaitu atap atau/dan plafon. Peletakan jendela
dan lubang ventilasi, atau pemakaian elemen penutup atap dari material yang tidak rapat
seperti rumbia atau genteng dengan kait yang tidak presisi, juga akan merambatkan
kebisingan.
 Structureborne sound, adalah istilah yang secara umum dipakai untuk proses perambatan
bunyi melalui benda padat. Dalam konteks ini benda padat diasosiasikan dengan elemen
bangunan itu sendiri. Perambatan melalui elemen bangunan pada umumnya terjadi
ketika sumber kebisingan menempel atau sangat berdekatan dengan elemen tersebut,
misalnya menempel pada atau sangat dekat dengan dinding. Namun karena umumnya
tetap ada jarak yang cukup antara bangunan dengan jalan, maka perambatan melalui
dinding secara langsung sangat amat jarang terjadi. Dalam keadaan tertentu, kita bisa
saja mendengar getaran yang hebat pada elemen bangunan(terutama yang tipis, seperti
kaca jendela) saat ada kendaraan melintas. Sesungguhnya yang terjadi adalah
perambatan secara airborne yang kemudian berubah menjadi structureborne sound.

17
Asas Penanggulangan Perambatan Kebisingan ke Dalam Bangunan
1. Refleksi
Pada keadaan tertentu, memantulkan (merefleksikan) kembali gelombang bunyi yang
mengenai objek dapat mengurangi penyebaran kebisingan ke balik objek tersebut.
Namun, cara ini tidak selamanya baik untuk mengurangi kebisingan, terutama ketika
pemasangan objek tidak tepat, sehingga justru memantulkan bunyi kearah yang tidak
dikehendaki. Ketika disepanjang kanan-kiri jalan dipasang objek pemantul untuk
mengurangi masuknya ke area bangunan, yang terjadi justru adalah perkuatan sumber
kebisingan karena bunyi terus dipantulkan berulang-ulang oleh dua objek berhadapan
yang membentuk lorong.
2. Absorpsi
Prinsip penerapan absorpsi juga dapat dipakai untuk menganggulangi penyebaran
kebisingan. Namun karena penyerapan sesungguhnya hanya terjadi secara efektif pada
permukaan objek saja, maka cara ini umumnya kurang efektif untuk menahan kebisingan
dari bunyi berfrekuensi rendah dengan kekuatan getar yang hebat.Pemakaian objek yang
mampu menyerap bunyi, secara umum lebih tepat digunakan untuk meningkatkan
kualitas bunyi di dalam ruangan dengan jalan menyerap kebisingan yang muncul dari
dalam ruangan itu sendiri. Pada proses absorpsi, energy bunyi yang merambat melalui
gelombang bunyi tereduksi sebagian karena diserap oleh permukaan objek tempat
jatuhnya bunyi.
3. Insulasi
Prinsip ini merupakan penggabungan dari refleksi, absorpsi, dan peredaman getaran yang
mengikuti kebisingan. Pada prinsip insulasi terjadi penyerapan gelombang bunyi yang
jauh lebih besar daripada proses absorpsi. Prinsip insulasi sangat baik diterapkan untuk
mengatasi kebisingan yang merambat secara airborne maupun structureborne. Objek
yang bertugas sebagai insulator harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
 Berat, objek yang terbuat dari material berat akan menjadi insulator yang lebih
baik dibandingkan dengan objek yang terbuat dari material ringan, sebab material
berat mampu meredam getaran yang menimpanya berkat beratnya sendiri.
 Keutuhan material, objek yang terbuatdari material utuh tanpa cacat akan
memberikan tingkat insulasi yang lebih baik.Keutuhan material bergantung pada

18
kerapatan bahan (dalam artian tidak ada celah atau retak) dan keseragaman
material. Objek yang terbuat dari material yang homogeny akan memiliki tingkat
insulasi yang tetap dan stabil. BIla material tersebut kemudian dikombinasikan
dengan material lain yanglebih ringan dan tipis, nilai insulasi material yang tebal
dan berat akan menurun.
 Elastisitas, material yang memiliki elastisitas tinggi akan menjadi insulator yang
lebih baik karena akan mengurangi timbulnya resonansi. Namun material ini
memiliki kelemahan yaitu kurang cocok dipakai untuk struktur bangunan yang
kuat.
 Prinsip isolasi, prinsip ini sangat bermanfaat untuk memperoleh tingkat insulasi
yang tinggi. Prinsip ini diperoleh dengan cara menggunakan diskontinuitas
struktur dan elemen dan elemen ganda, seperti pemakaian dinding dan lantai
ganda serta plafon gantung. Prinsip diskontinuitasjuga dapat diterapkan dengan
jalan memasang sealant( gel untuk menutup celah, yang akan mengering setelah
dioleskan) pada celah celah pertemuan dua material yang berbeda misalnya pada
pertemuan kusen jendela dan pintu dengan dinding.

Ketika sebuah objek dipasang untuk menjadi insulator, maka untuk mengukur
tingkat kemampuannya sebagai insulator, dipakai kriteria yang disebut Sound Reduction
Index (SRI). SRI akan menunjukkan tingkat kebisingan yang dapat diredam oleh objek
tersebut. Tingkat insulasi yang mampu diberikan oleh suatu objek senantiasa bervariasi
terhadap frekuensi. Artinya sebuah objek yang sama bisa memiliki nilai SRI berbeda jika
bunyi yang menimpanya berbeda frekuensi. Oleh karena itu ditetapkan model penentuan
SRI dengan mengitung SRI suatu objek pada interval frekuensi yang umumnya muncul.
Frekuensi 500 Hz digunakan sebagai rata rata acuan untuk menentukan SRI suatu objek
yang akan digunakan untuk menahan kebisingan. Adapun nilai SRI dari beberapa
material disajikan sebagai berikut :

19
Berat nominal permukaan Rerata SRI 500 Hz
Konstruksi
(kg/m2) (dB)

Dinding :
215 mm bata berat (batako) diplester 425 50
102,5 mm bata berat diplester 215 45
100 mm beton berat 230 45
300 mm beton ringan 190 42
50 mm beton berat 115 40
12 mm plasterboard 12 25
Jendela :
Ganda, rongga 150-200 mm, diperkuat
Maks 40
sealant*
Tunggal, tebal 12mm dengan sealant 30 30
Tunggal, tebal 6 mm dengan sealant 15 25
Tunggal, tidak dengan sealant 20
Model apa saja, terbuka 12
*) Sealant adalah karet penutup celah antara daun jendela dengan kusen dan antara panil pengisi daun
dengan daun jendela

Tabel : Nilai SRI beberapa material bangunan


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 53

3.3 AKUSTIKA LUAR RUANGAN


Reduksi Kebisingan Secara Alamiah
Tanpa perlakuan khusus, misalnya dengan menempatkan elemen elemen buatan,
sebenarnya fenomena alam yang terjadi di sekitar kita mampu mengurangi tingkat
kebisingan. Meskipun nilai reduksi kebisingan akibat kondisi di sekitar bangunan tidak
terlampau signifikan, ada baiknya kita mempelajari hal tersebut untuk selanjutnya
berusaha mencapai nilai maksimal. Adapun faktor-faktor alami yang memungkinkan
reduksi kebisingan adalah:

20
1. Jarak
Dalam formula intensitas bunyi yang menyatakan :
𝑃
𝐼=
4𝜋𝑟 2

kita memahami bahwa dengan semakin jauhnya jarak telinga terhadap sumber
kebisingan maka semakin lemahlah bunyi yang diterimanya. Reduksi kebisingan
akibat jarak akan berbeda besarnya antara sumber kebisingan tunggal atau
majemuk. Penelitian menunjukkan bahwa pada sumber bunyi tunggal, setiap kali
jarak telingadari sumber bertambah dua kali lipat dari jarak semula, kekuatan
bunyi akan turun sebesar 6 dB. Sedangkan pada sumber bunyi majemuk, setiap
kali jarak telinga dari sumber bertambah dua kali lipat dari jarak semula,
kekuatannya akan turun sebesar 3 dB(BRE/CIRIA, 1993).
2. Serapan udara
Udara di sekitar kita yang menjadi medium perambatan gelombang bunyi,
sesungguhnya mampu menyerap sebagian kecil gelombang bunyi yang
melewatinya.Kemampuan serapan udara tersebut tergantung pada suhu dan
kelembabannya. Serapan yang lebih besar akan terjadi pada udarabersuhu rendah
dibandingkan dengan udara yang bersuhu tinggi. Serapan juga terjadi lebih baik
pada udara dengan kelembaban relatif yang rendah, dibandingkan dengan
udaradengan kelembaban relatif yang tinggi. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut : Pada udara yang bersuhu rendah, molekulnya lebih stabil dan rapat
sehingga gesekan yang terjadi ketika ada gelombang bunyi yang merambat
menjadi lebih besar (dengan demikian kekuatannya menurun). Bunyi merambat
lebih cepat pada udara yang bersuhu tinggi karena molekulnya lebih renggang
(sehingga bunyi bisa merambat dengan halangan minimal). Sementara itu dengan
udara yang memiliki kelembaban yang relatif tinggi, titik titik air yang terkandung
di udara akan mengurangi terjadinya gesekan saat ada gelombang bunyi yang
merambat, sehingga penurunan kekuatan gelobang bunyi juga tidak besar.
Selain karena suhu dan kelembaban, tingkat serapan juga berbeda-beda
tergantung pada frekuensi bunyi yang merambat. Pada suatu ruang tertutup,

21
kemampuan serapan udara terhadapgelombang bunyi yang merambat adalah
4mV.Dengan m adalah koefisien serapan udara dalam ruangan yang sangat
tergantung pada frekuensi dan kelembaban dan V adalah volume ruangan tertutup
tersebut (Templeton dan Saunders, 1987).

3. Angin
Pengaruh angin dalam mereduksi kekuatan bunyi belum dapat dipahami
sepenuhnya. Hal inisangat dipengaruhi oleh kecepatan dan arah angin. Pada
kondisi angin bertiupdari sumber bunyiyang menu suatu titik., maka titik tersebut
akan menerima bunyi dengan lebih cepat dan dalam kekuatan yang cukup besar.
Nmaun sebaliknya apabila angin bertiup menuju arah yang berlawan, menjauhi
titik, maka titik tersebut akan menerima bunyi dengan kekuatan lemah.
Perkiraan reduksi bunyi setiap 30,5 m pada kecepatan angin 16
Frekuensi
km/jam (4,4m /det)
125 Hz 0.3 dB
250 Hz 0.5 dB
500 Hz 1.3 dB
1000 Hz 2,8 dB
2000 Hz 2,3 dB
4000 Hz 2,5 dB

Tabel : Pengaruh angin terhadap reduksi bunyi


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 61

4. Permukaan tanah
Permukaan bumiyang masih dibiarkan sebagaimana adanya, seperti tertutup tanah
atau rerumputan, adalah permukaan yang lunak. Apabila bunyi merambat dari
sumber ke suatu titik melalui permukaan lunak semacam ini, permukaan tersebut
akan cukup signifikan menyerap bunyi yang merambat, sehingga bunyi yang
diterima titik tersebut akan melemah kekuatannya. Adapun permukaan bumiyang
keras, seperti jalanyang dilapisi aspal atau taman yang ditutupi paving-block akan
memberikan efek sebaliknya.

22
Gambar : Kondisi permukaan bumi yang rata atau berbukit yang memungkinkan terjadinya reduksi
oleh penghalang secara alamiah (Egan, 1976)
Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 61

5. Halangan
Reduksi objek akibat adanya halangan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
halangan yang terjadi secara alamiah dan halangan buatan. Halangan alamiah
terjadi ketika di antara sumber bunyi dan suatu titik berdiri penghalang yang tidak
sengaja dibangun oleh manusia, seperti kontur alam yang berbentuk bukit dan
lembah.

Reduksi Kebisingan Secara Buatan


1. Menata Lay Out Bangunan
Penempatan gedung serta pengaturan halaman sekeliling dapat mepengaruhi
tingkat gangguan suara. Rumah sakit misalnya tidak baik di letakkan di tepi jalan raya
padat lalu lintas dan sekolah pun juga jangan diletakkan di samping pabrik. Demikian
juga ruangan kamar tidur sebaiknya diletakkan di sisi yang tenang dan sebagainya.

Tetapi tidak selalu kita bisa memilih lokasi penepatan bangunan yang tepat dan
bagus dari segi keamanan terhadap gangguan-gangguan suara dari jalan raya dan
sebagainya. Kita dapat cukup tertolong oleh tumbuhan-tumbuhan serta pepohonan.

23
Terutama terhadap suara-suara bising berfrekwensi tinggi, dedaunan punya daya
penyerap yang bagus.

Denah bangunan juga harus direncanakan secara seksama dalam hubungannya


dengan penjalaran bunyi-bunyi yang mengganggu. Perencanaan denah harus diatur, agar
perletakan ruang tidur dan ruangan lainnya yang membutuhkan ketenangan dan jangan
didampingkan dengan ruang-ruang yang bersuasana bising.

Ketika kebutuhan akan luasan bangunan masih dapat menyisakan lahan terbuka
yang luas, maka pemilihan layout bangunan tidak memberikan pengaruh yang berarti.
Sebab pada lahan yang luas, bangunan dapat dengan leluasa diletakkan jauh di bagian
belakang menjauhi sumber kebisingan. Penataan layout sangat penting dilakukan pada
bangunan dengan luas lahan terbatas. Pada pemilihan layout bangunan untuk mengurangi
kebisingan, langkah pertama adalah mengelompokkan ruang-ruang yang membutuhkan
ketenangan, terpisah dari ruang-ruang yang tidak terlalu membutuhkan ketenangan atau
ruang-ruang yang justru menghasilkan kebisingan.

Berdasarkan prinsip yang menyatakan bahwa kekuatan bunyi akan berkurang


seiring bertambahnya jarak, seyogyayalah kita memilih layout bangunan yang
memungkinkan penempatan ruang tenang pada jarak paling jauh dan ruang yang tidak
atau kurang tenang pada jarak yang lebih dekat dengan kebisingan. Layout bangunan
tunggal berbentuk ”L” atau ”U” akan memungkinkan pengelompokan ruang semacam
ini. Layout ”L” lebih cocok pada bangunan domestik dengan luasan kecil seperti rumah
tinggal biasa atau sederhana, sedangkan layout ”U” cocok untuk bangunan publik yang
luas seperti kantor atau rumah sakit. Bangunan dengan layout ”U” perlu memperhatikan
detil tata massa, agar area di antara dua lengan ”U” tidak menjadi sumber kebisingan,
misalnya untuk tempat parkir. Bila hal ini terjadi, maka pada area tersebut justru terjadi
tingkat kebisingan yang tinggi akibat terpantulnya bunyi oleh permukaan dinding yang
saling berhadapan dari kedua lengan tersebut. Untuk mengatasinya dapat dipilih layout
menyerupai huruf ”V” agar pantulan dibuang ke arah luar.

24
Gambar. Contoh Layout bangunan

Layout bangunan yang memungkinkan terbentuknya ruang-ruang (ruang B) yang


jauh dari kebisingan untuk ruang privat, sementara (ruang A)yang lebih dekat
dengan kebisingan dapat difungsikan sebagai ruang publik.
2. Penghalang Buatan
Penghalang buatan disebut juga sound barrier atau barrier dapat dijadikan pilihan
ketika pengurangan kebisingan melalui penataan layout bangunan tidak
memberikan reduksi maksimal. Agar dapat membangun barrier secara tepat,
beberapa faktor harus kita perhatikan, diantaranya :
 Posisi atau perletakan
Pada permukaan bumi yang berkontur tajam, dalam kasus dimana
keberadaan bangunan lebih rendah dari jalan dan berada di balik bukit,
dimanapun barrier diletakkan , akan tercapai hasil yang maksimal.
Sedangkan keadaan dimana bangunan berada lebih tinggi dari jalan
(setidaknya ada selisih satu meter) ketinggian barrier menjadi faktor yang
lebih penting dibandingkan faktor posisi. Pada situasi dimana tinggi
permukaan jalan dan lahan bangunan hamper sama, peletakan barrier
sejauh mungkin dari bangunan akan memberikan hasil maksimal. Bila
kondisi ini tidak dapat diterapkan akibat keterbatasan lahan, maka
diusahakan agar barrier dibangun sedekat mungkin ke dinding muka
bangunan. Untuk kondisi yang kedua kita memerlukan ketinggian barrier

25
yang melebihi ketinggian dinding bangunan agar kebisingan yang
terdefraksi dari ujung atas barrier tidak masuk ke dalam bangunan. Bila
sekiranya diperlukan taman atau ruang terbuka, peletakan elemen ini pada
bagian belakang bangunan akan lebih ideal. Penempatan taman pada
bagian depan bangunan sangat mungkin justru menciptakan jarak yang
sama antara barrier dengan sumber bising dan barrier dengan
bangunan.Pada penempatan semacam ini , meski ketinggiannya cukup
baik dan bahan yang dipakai bagus, kebisingan akan tetap masuk melalui
defraksi yang terjadi pada ujung atas barrier. Jarak sumber kebisingan
terhadap barrier diambil dari garis tengah lebar jalan di muka bangunan.

Gambar : penempatan penghalang buatan


Posisi barrier yang sedekat mungkin pada sumber atau pendengar akan memberikan
efek reduksi kebisingan maksimal, sebaliknya posisi barrier yang berada ditengah-
tengah tidak akan berfungsi efektif.

Bila kondisi ini tidak dapat diterapkan akibat keterbatasan lahan, maka diusahakan agar
barrier dibangun sedekat mungkin kedingding muka bangunan. untuk kondisi yang
kedua kita memerlukan ketinggian barrier yang melebihi ketinggian dinding bangunan
agar kebisingan yang terdefraksi dari ujung atas barrier tidak masuk kedalam bangunan
bila sekiranya diperlukan taman atau ruang terbuka, peletakan elemen ini pada bagian
belakang bangunan akan lebih ideal penempatan taman pada bagian depan lahan
sangat mungkin justru menciptakan jarak yang sama antara barrier dan sumber bising
dan barrier dengan bangunan. Pada penempatan semacam ini, meski ketinggiannya
cukup baik dan bahan yang dipakai bagus kebisingan tetap akan masuk kedalam
bangunan melalui defraksi yang terjadi pada ujung atas barrier. Jarak sumber kebisingan
terhadap barrier diambil dari garis tengah lebar jalan dimuka bangunan.

26
 Dimensi
Ketika menggunakan barrier yang lebih dekat ke arah bangunan daripada
ke arah jalan, dapat dipastikan dibutuhkan barrier yang lebih tinggi dari
tinggi dinding bangunan. Sementara itu pada keadaan yang memungkinkan
ketinggian barrier lebih rendah daripada dinding, perlu kiranya dihitung
ketinggian yang tepat, sehingga diperoleh reduksi yang dikehendaki.
Penghitungan ketinggian barrier yang tepat diharapkan menjadi solusi
yang tepat dalam masalah kebisingan sekaligus memungkinkan aliran
udara yang sangat diperlukan di Negara tropis lembab. Dimensi barrier
terdiri panjang (atau lebar) dan tinggi. Untuk memperoleh hasil yang
maksimal, usahakan agar barrier dibangun sepanjang lebar bangunan
bagian depan yang berhubungan langsung dengan jalan. Untuk
menghitung ketinggian efektif barrier ada beberapa formula yang dapat
digunakan , diantaranya yang dikemukakan oleh Lawrence(1967) dan
Egan (1976). Kedua formula ini memerlukan detail freukensi bunyi yang
muncul sebagai salah satu faktor yang diperlukan dalam penghitungan. Hal
inilah yang membuat formula ini tidak dapat dengan mudah digunakan
oleh mereka yang kurang ahli dalam bidang ilmu fisika. Selainitu
andaikata frekuensi bunyi yang muncul dapat ditentukan, karena umumnya
bunyi bunyi yang kita dengar adalah bunyi bunyi multi frekuensi maka
reduksi yang diperoleh oleh masing-masing frekuensi perlu dihitung satu
persatu. Dalam prakteknya ini tentunya sangat menyulitkan terlebih lagi
apabila muncul frekuensi frekuensi yang tidak terduga sebelumnya.
 Material
Mengingat sifat gelombang bunyi yang mampu menembus celah atau
retakan yang sangat kecil serta mampu menggetarkan objek objek , maka
pemakaian bahan yang berat, tebal, dam masif (tanpa cacat serta
homogen), yang dipasang secara rigid, kokoh dan permanen sangatlah
disarankan .Setelah posisi dan dimensi barrier ditentukan, maka untuk

27
menghitung hasil hitungan yang telah diperoleh perlu kiranya
diperhitungkan berat material sebagai berikut (Freeborn dan Turner,
1998/1999). :
a. Untuk mendukung reduksi 0-10 dBA, diperlukan bahan dengan
berat minimal 5kg/m2
b. Untuk mendukung reduksi 11-15 dBA, diperlukan bahan dengan
berat minimal 10kg/m2
c. Untuk mendukung reduksi 16-20 dBA, diperlukan bahan dengan
berat minimal 15kg/m2
Jika ketentuan mengenai berat barrier tidak dipenuhi, maka
meskipun posisi dan dimensi sudah tepat, reduksi yang diharapkan sangat
tidak dimungkinkan terjadi sesuai yang diharapkan. Berikut merupak tabel
yang memuat beberapa jenis material bangunan dengan beratnya masing-
masing , yang dapat dijadikan sebagai acuan dasar. Beberapa material
bangunan mungkin kurang umum dipergunakan sebagai material barrier.

Material Kg/m2
Asbes lembaran tebal 4,8 mm 8,4
Beton ringan untuk paving block 7-11
Beton untuk cor lantai tebal 25 mm 55-65
Plaster board gypsum 9,5 mm 6,5-10
Genteng keramik 34-40
Genteng beton 34-45

Tabel : Beberapa jenis material dan beratnya (Elridge, 1974)


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 73

 Estetika
Secara akustik faktor estetika adalah faktor yang tidak mendapat perhatian
khusus. Namun secara arsitektur faktor ini penting diperhatikan agar
barrier yang dibangun tidak menutupi fasad bangunan dengan terlalu
ekstrim. Hal ini patut mendapat perhatian yang serius terutama karena

28
barrier yang efektif harus memenuhi syarat tebal-berat masif yang dapat
dikategorikan sebagi elemen yang dapat mengganggu fasad.

 Pemakaian material dengan insulasi kombinasi


Bagi bangunan yang berada di sisi jalan dengan tingkat kebisingan
tinggi,upaya meredam kebisingan yang masuk ke dalam bangunan
seringkali tidak cukup dilakukan dengan hanya dengan melakukan
penataan layout dan membangun barrier. Pada kondisi ini pemakaian
prinsip isulasi kombinasi pada dinding bangunan yang menghadap ke jalan
juga perlu dipertimbangkan.

3.4 AKUSTIKA DALAM RUANGAN


Refleksi
Refleksi atau pemantulan buni oleh suatu objek penghalang atau bidang batas
disebabkan oleh karakteristik penghalang yang memungkinkan terjadinya pemantulan.
Semakin keras, licin, dan homogeny suatu bidang batas, semakin besar tingkat
pemantulan yang dihasilkan. Pemantulan yang umumnya terjadi dapat digambarkan
sebagai:
 Near field, yaitu area yang terjadi di dekat sumber bunyi, yang jaraknya diukur
sekitar satu panjang gelombang dari frekuensi bunyi tersebut, atau bila sumbernya
mengeluarkan bunyi multifrekuensi, jaraknya diukur satu panjang gelombang dari
bunyi pada frekuensi terendah
 Reverberant field, yaitu area yang terjadi di dekat bidang batas, bersebrangan
dengan sumber bunyi. Mendekati bidang batas yang besar dan sangat memantul,
reverberant field akan sangat dominan dan dapat mendekati kondisi difus.
Meskipun sengaja dirancang memantulkan bunyi, untuk mendistribusikan bunyi
secara merata, sebuah ruangan yang baik adalah ruangan yang jauh dari kondisi
difus.
 Free field, yaitu area yang berada di antara near dan reverberant field. Titik-titik
pada area ini cukup sahih untuk dipakai mengukur tingkat kekerasan bunyi. Pada

29
ruangan amat sempit yang bidang batasnya memantulkan bunyi, free field ini
tidak terbentuk.

Gambar : Skematik prambatan suara dalam ruang tertutup


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 78

30
Gambar : Panel panel dengan permukaan yang mampu menyerap dan memantulkan secara difusi
Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 79

Untuk memberikan suasana yang lebih hidup atau ‘live’, sebuah ruangan
membutuhkan terjadinya pemantulan. Namun demikian sebagaimana telah diuraikan,
pemantulan yang terjadi hendaknya tidak membuat ruangan berada dalam tingkat difus.
Oleh karena itu, pemantulan yang berupa echo (gaung atau gema) selayaknya
dihindarkan. Echo muncul bila terjadi pemantulan lebih lama 1/20 detik dari bunyi asli
pada kecepatan rambat 340 m/det. Echo biasanya muncul pada ruangan yang sangat besar
dan dibatasi oleh bidang memantul. Pada ruangan yang sempit memanjang dibatasi
dinding memantul akan terjadi pemantulan berulang-ulang yang disebut flutter echoes
atau standing waves. Keadaan ini sebaiknya juga dihindari, karna akan mengurangi
kualitas bunyi asli.
Sebagaimana bidang batas yang terbentuk, maka pemantulan yang terjadi bisa
berupa pemantulan yang tersebar (bila mengenai bidang batas mendatar atau bidang batas
cembung) dan bisa juga pemantulan terfokus (bila mengenai bidang batas cekung).

31
Gambar : Pemantulan yang terjadi pada bidang batas cembung, datar, cekung
Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 80

Reverberation
Bila suatu sumber bunyi di dalam ruangan yang tengah berbunyi dihentikan
secara tiba-tiba, bunyi yang telah tersebar ke dalam ruangan tersebut tidak serta merta
ikut berhenti. Hal ini disebabkan oleh sifat-sifat permukaan bidang batas pembentuk
ruang yang cenderung memiliki kemampuan memantulkan bunyi yang muncul dari
sumber tadi. Terjadinya perpanjangan bunyi ini disebut reverberation (dengung).
Pemantulan yang dibutuhkan untuk menciptakan suasana lebih hidup adalah
reverberation, yaitu pemantulan yang terjadi lebih cepat dari 1/20 detik dengan selisih
jarak antara sumber ke pendengar dengan sumber-pantulan-pendengar, lebih pendek dari
20,7 m. pada reverberation pemantulan terjadi sangat cepat, sehingga sulit dibedakan
mana yang bunyi asli dan mana yang bunyi pantulan, kecuali bila sumber bunyi
dihentikan secara tiba-tiba.

32
Pengukuran tingkat reverberation dalam sebuah ruangan dilakukan dengan
menggunakan waktu dengung (reverberation time). Waktu dengung adalah waktu yang
dibutuhkan oleh suatu sumber bunyi yang dihentikan seketika untuk turun intensitasnya
sebanyak 60 dB dari intensitas awal. Waktu dengung pada sebuah ruangan akan
bergantung pada; volume ruangan, luas permukaan bidang-bidang pembentuk ruangan,
tingkat penyerapan permukaan bidang, dan frekuensi bunyi yang muncul dalam ruangan.
Melalui waktu dengung, kualitas akustik suatu ruangan dapat ditentukan.setiap ruangan
dengan fungsi tertentu memiliki waktu dengung ideal, sesuai dengan aktivitas yang
diwadahinya. Secara garis besar, aktivitas di dalam ruangan yang berkaitan dengan
akustik alamiah (tanpa peralatan yang menggunakan listrik) dibedakan menjadi:
 Aktivitas berbicara (speech), waktu dengung disarankan 0,5 sampai 1 detik,
dengan waktu dengung ideal 0,75 detik
 Aktivitas music, waktu dengung disarankan 1 sampai 2 detik, dengan waktu
dengung ideal 1,5 detik
 Untuk fungsi-fungsi lainnya, bisa dilihat dalam
Fungsi Ruangan Volume Ruang (m3) Waktu dengung (detik)
Kantor 30 0.5
100 0.75
Ruang konferensi 100 0.5
1000 0.8
Studio Musik 500 0.9
5000 1.5
Gereja 500 1.5
5000 1.8

Tabel : Kesesuaian waktu dengung menurut fungsi bangunan


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 81

Selain untuk menentukan kualitas akustik suatu ruangan yang telah berdiri atau
telah dipergunakan , perencanaan reverberation suatu ruangan juga dapat dilakukan
sebelum ruangan tersebut dibangun. Formula Sabin diciptakan untuk membantu
perkiraan reverberation time suatu ruangan yang tengah direncanakan. Formula ini
diperuntukkan bagi perhitungan reverberation time pada ruangan yang tersusun dari

33
elemen bidang batas yang tidak terlalu menyerap. Sedangkan untuk ruangan yang
tersusun dari bidang batas yang sangat menyerap, seperti yang umumnya terjadi pada
ruang studio, formula Eyring lebih tepat digunakan. Adapun formula Sabin berwujud
sebagai berikut:

0,16 𝑉
t=
𝐴

t = (0,16 V)/A
dengan:
t = waktu dengung (detik)
V = volume ruangan (m3)
A = total absorpsi dri masing-masing permukaan bidang batas ruangan
(m2), yaitu ∑ (luas permukaan) x koefisien absorpsi.

Pengontrolan Echo dan Reverberation


Kadang-kadang, terjadi situasi dimana kita mengharapkan munculnya
reverberation, namun yang muncul justru echo. Demikian pula, ketika diharapkan sebuah
ruangan tidak memiliki pemantulan sama sekali, reverberation maih saja terjadi. Pada
keadaan semacam ini, ketika volume ruangan tidak berubah, satu-satunya yang dapat
dilakukan untuk dapat memecahkan masalah ini adalah mengubah material permukaan
bidang batas pembentuk ruang, yaitu dengan mengubah material dari yang memiliki
tingkat pemantulan tinggi menjadi material dengan tingkat pemantulan rendah, atau dari
material yang dapat memantulkan menjadi material yang sama sekali tidak memantulkan
(material dengan tingkat pnyerapan tinggi). Hasil penelitin menunjukkan bahwa bila nilai
total absorpsi di dalam ruangan dinaikkan dua kali lipat dari nilai semula, maka bunyi
pantulan yang tidak dikehendaki (dapat disebut juga noise) dapat diturunkan kira-kira 3
dB.

34
Gambar : Pelapis Akustik dengan pori-pori kecil
Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 83

Absorpsi
Sesuai dengan karakteristik materialnya, sebuah bidang batas selain dapat
memantulkan kembali gelombang bunyi yang datang, juga dapat menyerap gelombang
bunyi. Penerapan ini akan mengakibatkan berkurang atau menurunnya energy bunyi yang
menimpa bidang batas tersebut. Penyerapan oleh elemen pembatas ruangan sangat
bermanfaat untuk mengurangi tingkat kekuatan bunyi yang terjadi, sehingga dapat
mengurangi kebisingan di dalam ruang. Hal ini sekaligus bermanfaat untuk mengontrol
waktu dengung (reverberation time).
Tingkat penyerapan suatu material ditentukan oleh koefisien serap/koefisien
absorpsi material tersebut. Meskipun karakteristik material tidak berubah, koefisien
absorpsi suatu material dapat berubah, menyesuaikan dengan frekuensi bunyi yang
datang. Adapun koefisien absorpsi adalah angka yang menunjukkan jumlah/proporsi dari
keseluruhan energy bunyi yang datang yang mampu diserap oleh material tersebut.
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑢𝑎𝑟𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑠𝑒𝑟𝑎𝑝
Koefisien absorpsi (a) = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑒𝑛𝑒𝑟𝑔𝑖 𝑠𝑢𝑎𝑟𝑎 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔

Koefisien absorpsi (a) = (jumlah suara yang diserap)/(total energi suara datang)
Nilai maksimum (a) adalah 1 untuk permukaan yang menyerap (mengabsorpsi)
sempurna, dan minimum adalah 0 untuk permukaan yang memantulakan ( merefleksi)
sempurna.

35
Oleh karena kemampuan absorpsi suatu material berubah-ubah sesuai frekuensi
yang ada, maka ada beberapa jenis absorber yang sengaja diciptakan untuk bekerja
efektif pada frekuensi tertentu. Adapun jenis-jenis absorber yang umumnya dijumpai
adalah:

 Material berpori
Penyerap yang terbuat dari material berpori bermanfaat untuk menyerap bunyi
yang berfrekuensi tinggi, sebab pori-porinya yang kecil sesuai besaran panjang
gelombang bunyi yang datang. Material berpori efektif untuk menyerap bunyi
frekuensi di atas 1000 Hz. Material berpori yang banyak digunakan adalah; soft-
board, selimut akustik, dan acoustic tiles.
 Panel penyerap
Penyerap ini terbuat dari lembaran-lembaran atau papan tipis yang mungkin saja
tidak memiliki permukaan berpori. Panel semacam ini cocok untuk menyerap
bunyi yang berfrekuensi rendah. Cara atau proses penyerapannya adalah sebagai
berikut:
a. Panel/papan atau lembaran dipasang sebagai finishing dinding atau
plafond. Pemasangannya tidak menempel pada elemen ruang secara
langsung, tetapi pada jarak (dengan space) tertentu berisi udara (gambar
6.9)
b. Pada saat gelombang bunyi datang menimpa panel, panel akan ikut
bergetar (sesuai frekuensi gelombang bunyi yang datang) dan selanjutnya
meneruskan getaran tersebut pada ruang berisi udara di belakangnya
c. Penyerapan maksimum akan terjadi bila panel ber-resonasi akibat
memiliki frekuensi bunyi yang sama dengan gelombang bunyi yang
datang
d. Tingkat penyerapan yang terjadi dihitung menggunakan formula sebagai
berikut :
60
f=
√𝑚𝑑

36
Dengan :
f = frekuensi material (Hz)(identik dengan frekuensi bunyi yang datang
agar resonasi maksimal
m = massa panel (kg/m2)
d = jarak/space (m)
Rongga penyerap (cavity absorber)
Penyerap semacam ini disebut juga Helmholtz resonator, sesuai dengan
nama penemunya. Rongga penyerap bermanfaat untuk menyerap pada
frekuensi khusus yang telah diketahui sebelumnya. Rongga penyerap
terdiri sebuah lubang yang sempit yang diikuti dengan ruang tertutup
dibelakangnya. Penyerap semacam ini sangat efektif bekerja pada
frekuensi yang telah ditentukan dengan jalan menyerap atau ‘menangkap’
bunyi yang datang masuk ke dalam rongga tersebut.

Gambar : koefisien absorpsi beberapa material bangunan


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 85

37
Difraksi
Difraksi adalah peristiwa menerusnya atau membeloknya perambatan gelombang
bunyi akibat ketidakmampuan penghalang berdimensi kecil untuk menahannya. Selain
diakibatkan oleh dimensi penghalang yang kecil, difraksi gelombang bunyi dapat terjadi
ketika bidang batas atau penghalang memiliki celah atau lubang untuk dilalui. Akibat
adanya gejala difraksi gelombang bunyi, ketika kita sengaja membangun penghalang
untuk menahan penyebaran gelombang bunyi, hendaknya kita memperhatikan gejala ini.

Gambar : Beberapa kemungkinan susunan resinator


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 86

Refraksi
Berbeda dengan difraksi yang terjadi di luar objek penghalang atau bidang batas,
refraksi adalah membeloknya gelombang bunyi karena melewati atau memasuki medium
perambatan yang memiliki kerapatan molekul berbeda. Meski tidak signifikan, terjadinya
refraksi akan mengurangi kekuatan gelombang bunyi. Oleh karena itu, prinsip ini
disarankan untuk diterapkan pada prinsip pembuatan elemen ganda, baik lantai maupun
dinding, agar kebisingan dapat tereduksi.

38
Difusi
Difusi atau difus adalah gejala terjadinya pemantulan yang menyebar, karena
gelombang bunyi menerpa permukaan yang tidak rata. Gejala ini dipakai untuk
menghilangkan terjadinya flutter-echoes atau pemantulan berulang-ulang ketika bunyi
memantul mengikuti hukum sudut pantul = sudut datang.

Transmisi Bunyi
Pada kondisi tertentu, kemungkinan besar elemen bidang batas ruangan mampu
meneruskan atau mentransmisikan bunyi yang muncul dari sebuah ruangan ke ruangan
lain di sebelahnya. Hal ini dapat terjadi berkat adanya celah, atau retak, atau cacat pada
material bidang batas yang menyebabkan material menjadi tidak homogeny.
Kemungkinan lain, transmisi juga terjadi ketika bidang batas cukup ringan, tipis, dan
tidak dipasang permanen.

39
Room Acoustics
Room acoustics adalah istilah dalam ilmu akustik untuk mendefinisikan bangunan
atau ruang-ruang yang memerlukan penanganan akustik secara cermat karena tuntutan
aktivitas di dalam ruangan. Adapun aktivitas yang memerlukan penanganan akustik
cermat adalah aktivitas yang berhubungan dengan penyajian audio (dan visual). Kata
visual sengaja diletakkan di dalam kurung, sebab belum tentu fungsi visual menyertai
fungsi audio. Bangunan atau ruang-ruang yang tergolong dalam room acoustics adalah;
auditorium(baik auditorium untuk fungsi khusus music maupun auditorium multifungsi),
studio rekam, studio radio, ruang-ruang yang memerlukan ketenangan seperti
perpustakaan, ruang rawat inap di rumah-rumah sakit, dll, serta home-theatre di dalam
rumah tinggal. Namun demikian, anggapan bahwa hanya bangunan atau ruang dengan
persyaratan audio-visual tertentu saja yang memerlukan penanganan akustik secara
cermat tidaklah sepenuhnya benar. Bangunan ataupun ruangan sederhana seperti rumah
tinggal atau warung makan sesungguhnya juga memerlukan penanganan akustik cermat,
terutama apabila letaknya berdekatan dengan sumber kebisingan.

3.5 PENERAPAN AKUSTIKA PADA BANGUNAN

Akustika pada Auditorium

Auditorium berasal dari kata audiens (penonton/penikmat) dan rium (tempat),


sehingga auditorium dapat diartikan sebagai tempat berkumpulnya penonton untuk
menyaksikan suatu acara tertentu. Auditorium dibedakan jenisnya menjadi :
• Auditorium untuk pertemuan, yaitu auditorium dengan aktivitas utama
percakapan (speech) seperti untuk seminar, konfrensi, dan lain-lain.
• Auditorium untuk pertujunkan seni, yaitu auditorium dengan aktivitas utama
sajian kesenian, seperti music, tari, dan lain-lain.
• Auditorium multifungsi, yaitu auditorium yang tidak dirancang secara khusus
untuk fungsi percakapan atau music, namun sengaja dirancang untuk berbagai
keperluan tersebut.

40
Sebagaimana disebutkan perbedaan aktivitas dalam setiap jenis auditorium, maka
diperoleh tingkat pantulan bunyi yang sesuai persyaratan akustik yang ideal untuk tiap-
tiap jenis auditorium juga berbeda-beda terutama pada perhitungan waktu dengungnya
(reverberation time). Waktu dengung untuk auditorium bagi aktivitas percakapan
disarankan berada pada 0 detik sampai dengan maksimum 1 detik, dengan waktu
dengung paling ideal 0,5 detik. Sedangkan untuk auditorium seni (terutama seni music)
waktu dengungnya disarankan berada pada 1 detik sampai 2 detik, dengan waktu
dengung paling ideal 1,5 detik. Melalui uraian ini menjadi cukup jelas bahwa auditorium
multifungsi dapat berfungsi maksimal bagi bermacam-macam kegiatan, auditorium ini
harus memiliki penyelesaian interior yang fleksibel (dapat diubah-ubah) untuk mampu
menyajikan waktu dengung ideal yang berbeda-beda. Bila hal ini terpenuhi, dapat
dipastikan kualitas akustik pada setiap aktivitas di dalam dapat maksimal. Adapun
tatanan interior fleksibel ini dapat ditempuh dengan pelapis lantai, dinding, dan plafond
yang secara mudah dapat diganti antara yang memiliki kemampuan pantul cukup tinggi
dengan yang miliki kemampuan pantul rendah. Model dapat digunakan adalah sistem
geser (sliding), gulung (rolling), buka-tutup, atau cara-cara penggantian lain secara
manual.
Demikian pula, sebuah auditorium multifungsi umumnya memerlukan
penyelesaian lantai yang mendatar agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas.
Keadaan lantai seperti ini dapat berfungsi baik pada aktivitas percakapan seperti untuk
seminar, namun kurang nyaman untuk pertunjukan seni.

41
Akustika Luar Ruangan (Eksterior)

Penyelesaian desain akustik luar ruangan diperlukan agar pada akhirnya kita
mendapatkan kualitas akustik dalam ruangan auditorium yang maksimal. Perancangan
secara eksterior meliputi pengendalian kebisingan di sekitar bangunan auditorium, agar
kebisingan tersebut tidak masuk atau mengganggu aktivitas di dalam auditorium. Prinsip
perancangan akustik secara eksterior meliputi :
• Usaha-usaha untuk menjauhkan bangunan dari sumber kebisingan
• Bila kebisingan dari jalan di depan lahan telah sedemikian tinggi, maka
seyogyanya dibangun penghalang atau barrier dalam wujud yang tidak
mengganggu fasad bangunan secara keseluruhan.
• Selanjutnya adalah memilih konstruksi bangunan auditorium dari bahan yang
memiliki tingkat insulasi tinggi, sekaligus menempatkan model lubang ventilasi
yang mampu mengurangi kemungkinan masuknya kebisingan ke dalam
bangunan.

42
Akustika Dalam Ruangan (Interior)

Keberadaan ruang-ruang yang dibutuhkan di dalam bangunan auditorium. Secara


garis besar ruang-ruang di dalam auditorium dapat dibedakan menjadi :
1. Ruang-ruang utama, yang meliputi : ruang panggung dan ruang penonton, baik
ruang penonton lantai satu maupun lantai balkon.
2. Ruang-ruang balkon, yang meliputi : ruang persiapan pementasan, toilet,
kafetaria, hall, ruang tiket, dan lain-lain.
3. Ruang-ruang servis, yang meliputi : ruang generator, ruang pengendali udara,
gudang peralatan, dan lain-lain.
Keberadaan ketiga kelompok ruang tersebut saling mendukung untuk menampung
aktivitas yang terjadi dalam auditorium, namun hanya ruang utamalah yang
membutuhkan penyelesaian akustik secara mendalam. Mesiki demikian, sangat
disarankan agar ruang-ruang servis yang menghasilkan kebisingan tambahan diletakkan
terpisah atau cukup jauh dari ruang utama. Sedangkan untuk ruang pendukung,
perletakannya secara umum selalu berdekatan dengan ruang auditorium.

Area Panggung

Panggung adalah ruang yang umumnya menjadi orientasi utama dalam sebuah
auditorium. Ruangan ini diperuntukkan bagi penyaji untuk mengekspresikan materi yang
disajikan. Bentuk dan dimensi panggung sangat bermacam-macam. Saat ini dikenal pula
panggung permanen dan semi permanen, yaitu panggung dengan bentuk, peletakan, dan
dimensi yang dapat diubah-ubah sesuai kebutuhan. Panggung semacam ini umumnya

43
ditempatkan pada auditorium multifungsi. Menurut bentuk dan tingkat komunikasinya
dengan penonton, panggung dapat dibedakan menjadi empat jenis.

1. Panggung Proscenium
Bentuk dan peletakan panggung yang disebut proscenium adalah peletakan
konvensional, yaitu penonton hanya melihat tampilan penyaji dari arah depan
saja. Komunikasi antara penyaji dan penonton pada panggung semacam ini sangat
minim. Komunikasi yang dimaksud adalah tatapan mata, perasaan kedekatan
antara penyaji dengan penonton, dan keinginan penonton untuk secara fisik
terlibat dengan materi yang disajikan.
2. Panggung Terbuka
Masyarakat awam seringkali salah paham menganggap bahwa semua
auditorium yang tidak beratap adalah panggung terbuka. Pada auditorium tanpa
atap, seringkali panggungnya juga tidak beratap (meskipun ada juga yang beratap,
seperti misalnya panggung buatan yang diletakkan di sebuah lapangan terbuka
untuk pertunjukkan tertentu dan diberi atap, tetapi area penontonnya tidak
beratap). Panggung terbuka adalah istilah yang digunakan untuk merujuk
pengembangan dari panggung proscenium yang memiliki sebagian area panggung
menjorok kea rah penonton, sehingga memungkinkan penonton bagian depan
untuk menyaksikan penyaji dari arah samping contohnya adalah catwalk tempat
peragaan busana.
3. Panggung Arena
Panggung arena adalah panggung yang terletak di tengah-tengah
penonton, sehingga penonton dapat berada pada posisi di depan, di samping, atau
bahkan dibelakang penyaji. Panggung semacam ini biasanya dibuat
semipermanen dalam sebuah auditorium multifungsi. Pada panggung semacam
ini, komunikasi antara penyaji dan penonton dapat berlangsung dengan amat baik.
4. Panggung Extended
Bentuk panggung extended adalah pengembangan dari bentuk proscenium
yang melebar ke arah samping kiri dan kanan. Bagian pelebaran atau perluasan ini
tidak dibatasi dengan dinding samping, sehingga penonton dapat menyaksikan
penyaji dari dari arah samping.

44
Penyelesaian Akustik Lantai Panggung

Agar semua penonton dapat menyaksikan penyaji dengan baik, lantai panggung
biasanya dibuat lebih tinggi daripada lantai penonton yang paling bawah. Perbedaan
ketinggian ini sebaiknya hanya berkisar setengah ketinggian badan manusia pada
umumnya, yaitu sekitar 80 cm sampai 90 cm. perbedaan ketinggian yang lebih dari ini
akan menimbulkan ketidaknyamanan visual bagi penonton yang duduk di depan atau
yang berada pada jarak cukup dekat.

Pada panggung yang terletak di dalam ruang tertutup (berada dalam ruang) dan
digunakan untuk menyajikan acara yang menghasilkan bunyi berisik seperti pada sajian
yang sifatnya kolosal, lantai panggung tersebut sebaiknya dilapis dengan bahan tebal
lunak yang mampu meredam bunyi mengganggu tersebut, seperti menggunakan karpet
tebal.

45
Penyelesaian Akustik Plafon Panggung

Ketinggian plafon panggung sangat bermacam-macam dan biasanya bergantung


pada dimensi ruang auditorium secara keseluruhan. Peletakan plafon yang terlalu rendah
kurang baik bagi lantai penonton yang dibuat bertrap, demikian pula bagi lantai penonton
yang menggunakan balkon, sebab sudut pandang penonton pada trap tertinggi atau pada
lantai balkon kea rah panggung menjadi kurang leluasa.

Plafon ruang panggung sebaiknya diselesaikan dengan bahan yang memantulkan,


agar pada keadaan tanpa bantuan peralatan elektronik (sound system) suara dari penyaji
dapat disebarkan kea rah penonton. Pemantulan yang terjadi akan memperkuat suara asli,
selama munculnya suara pantulan tidak lebih dari 1/20 detik suara asli. Posisi plafon
panggung yang memantul harus diatur sedemikian rupa agar tidak ada suara yang justru
memantul kembali kepada penyaji. Bila hal ini terjadi pada penyaji yang kebetulan
menggunakan bantuan mikrofon, maka justru yang terjadi adalah bias, karena suara
pantul masuk ke dalam mikrofon sepersekian detik setelah suara asli.

Penyelesaian Akustik Dinding Panggung


Pada bentuk panggung proscenium, terbuka, dan extended, panggung memiliki
dinding pembatas, yaitu di bagian belakang serta samping kiri dan kanan. Dinding bagian

46
belakang panggung sebaiknya diselesaikan dengan bahan yang menyerap suara, agar
tidak memantulkan suara kembali kepada penyaji, yang dapat menimbulkan suara bias.

Arena Penonton
Selain panggung, ruangan penonton adalah ruangan yang sangat penting.
Ruangan ini harus didesain sedemikian rupa agar penonton merasa nyaman saat
menyaksikan sajian. Kenyaman ini idealnya dinilai dari dua aspek, yaitu audio dan
visual. Bentuk area penontonnya idealnya juga mengikuti aspek kenyamanan secara
audio-visual tersebut. Akibat terbatasnya kemampuan mata manusia untuk objek secara
langsung, desain area penonton yang terlalu panjang kea rah belakang tidak dilanjutkan.

Penyelesaian Akustik Lantai Area Penonton


Lantai penonton dapat didesain sebagai lantai mendatar. Keuntungan dari
penyelesaian lantai mendatar adalah kemungkinan digunakannya auditorium untuk
berbagai aktivitas (kemultifungsian). Namun pada lantai semacam ini, terutama ketika
jumlah penonton cukup banyak, sebagian besar penonton akan mendapatkan kualitas
visual yang amat rendah. Oleh karena itu, idealnya lantai didesain sedemikian rupa agar
penonton yang berada semakin ke belakang masih dapat melihat kea rah panggung
dengan baik. System penataan lantai miring (slooped) atau bertrap (inclined) dapat
membantu menunjukkan hal ini.

Penyelesaian Akustik Plafon Area Penonton

47
Auditorium yang banyak menyajikan acara tanpa bantuan peralatan listrik, atau
auditorium yang tidak dibuat untuk menampung penonton dalam jumlah banyak,
sebaiknya dirancang dengan plafon yang mampu memantulkan suara penyaji kea rah
penonton secara merata. Agar hal ini dapat tercapai, bentuk dan peletakan plafon harus
diatur sedemikian rupa agar pemantulan yang terjadi merata dan berlangsung seketika
atau dengung (reverberation), dan bukan pemantulan tunda atau gema (echo). Pemantulan
tunda terjadi ketika pantulan muncul kurang dari 1/20 detik, atau ketika selisih jarak
tempuh langsung dengan jarak tempuh pantul lebih dari 20,7 m. Agar kualitas
pemantulan diterima oleh penonton, hal ini bisa diselesaikan dengan merancang letak
plafon sedemikian rupa, seperti model plafon yang membentuk gerigi, kemudian
berlanjut pada plafon di atas penonton untuk memantulkan bunyi ke arah penonton yang
duduk di bagian belakang. Agar tidak terjadi pemantulan kembali kea rah panggung yang
akan membiaskan suara penyaji, pada plafon yang dirancang dengan system gerigi,
bagian plafon yang menghadap ke panggung sebaiknya diselesaikan dengan bahan yang
menyerap.
Selisih jarak tempuh bunyi Kualitas pemantulan
< 8.5m Baik untuk percakapan dan musik
8.5 s.d 12.2 m Baik untuk percakapan tetapi kurang baik untuk musik
12.2 s.d 15.2 m Kurang baik untuk keduanya
15.2 s.d 20.7 m Tidak baik
>20.7 Muncul echo yang membaur dengan bunyi asli dengan
bunyi pantul

Penyelesaian Akustik Dinding Area Penonton

Selain untuk kepentingan insulasi, bagian dalam dinding perlu dirancang khusus
untuk meningkatkan kualitas bunyi di dalam ruang.

48
Pada auditorium yang banyak menyajikan acara tanpa bantuan peralatan listrik
atau auditorium dengan kapasitas penonton kecil, dinding area penonton seyogyanya juga
dirancang untuk memantulkan suara dari penyaji kepada penonton. Agar pemantulan
berada pada batas-batas bunyi dengung, tidak semua bagian dinding dirancang untuk
memantulkan bunyi. Adapun bagian yang umumnya tidak memantulkan bunyi adalah
dinding yang berada dekat area penonton bagian belakang dan dinding bangian belakang
penonton.

Salah satu bagian lain dari dinding yang rawan kebisingan adalah pintu. Oleh
karena itu, idealnya pintu dirancang sedemikian rupa agar kebisingan yang merambat
dapat diperkecil. Misalnya dengan merancang pintu rangkap yang memiliki ruang antara
di dalamnya. Ruang antara ini tidak perlu dibuat terlalu luas, agar tidak menjadi tempat
berkumpulnya orang, sehingga justru menjadi sumber kebisingan. Ruang antara yang
cukup, dengan lebar sekitar 80 bm sampai dengan 1.5 m pada sebuah auditorium.

49
Lantai Balkon
Kehadiran lantai balkon atau lantai yang berada di atas lantai pertama seringkali
diperlukan pada auditorium dengan kapasitas penonton yang cukup besar, ketika
penempatan yang terlalu jauh atau terlalu ke samping dari panggung tidak lagi
memungkinkan. Lantai balkon harus didesain dari kontruksi dengan kekuatan yang
cukup, tidak hanya untuk menahan beban mati (beban struktur dan perabot) dan beban
hidup (manusia) namun juga beban hidup yang sangat aktif, misalnya ketika penonton
yang menempati lantai balkon ikut bergoyang atau melompat-lompat sesuai materi yang
disajikan di panggung.

Lantai balkon didesain bertrap agar penonton yang duduk paling belakang memperoleh
sudut pandang kea rah panggung. Idealnya, penonton yang duduk di balkon memperoleh
sudut pandang maksimal 300 ke arah panggung (kea rah bawah). Mengikuti persyaratan
ini maka balkon dapat dibuat lebih dari satu tingkat, asalkan sudut pandang penonton
tidak lebih dari 300.

Akustika pada Bangunan Studio


Pengendalian kebisingan adalah kunci utama dari keberhasilan ruang studio.
Pengendalian ditinjau dari dua hal , yaitu menahan masuknya kebisingan dari luar dan
menahan keluarnya kebisingan dari dalam, terutama pada studio studio yang menghasilkan
kebisingan tinggi seperti studio untuk musik. Pengendalian dapat dilakukan dengan :
 Usaha usaha untuk menjauhkan bangunan studi dari sumber kebisingan(pada bangunan
yang memiliki lahan cukup luas)

50
 Bila kebisingan dari jalan telah sedemikian tinggi , disarankan untuk membangun barrier
atau penghalang yang tidak mengganggu fasad bangunan secara keseluruhan.Agar
penghalang yang dibangun tidak terlampau tinggi, kita buat studio lebih rendah dari
jalan. Untuk bangunan studio yang berdiri di lahan yang terbatas dan berbatasan dengan
dinding tetangga , penempatan layout tertentu dan pembangunan penghalang seringkali
tidak memungkinkan. Oleh karena elemen bangunan yang berfungsi sebagai penghalang
adalah elemen vertikal bangunan, baik yang berhadapan ke jalan maupun yang
berbatasan dengan dinding tetangga. Dengan demikian elemen ini perlu didesain secara
khusus.
 Selanjutnya,khusus untuk ruang studio perlu dipilih material dengan tingkat insulasi
tinggi. Ruang studio biasanya dirancang masif dengan tidak ada ventilasi (menggunakan
penghawaan buatan karena dibutuhkan ketenanganyang tinggi.
 Lantai studio sebaiknya dirancang dengan model lantai ganda (raised floor). Sistem lantai
ini idealnya dibuat dari bahan yang berbeda agar getaran tidak mudah diteruskan. Sebagai
contoh lantai utama dibuat dari bahan beton cor kemudian lantai kedua disusun dari
rangka besi atau kayu, dan ditutup dengan papan kayu atau papan multipleks tebal.
Faktor lainnya peletakan kedua lantai tersebut juga disusun tidak menempel satu dengan
yang lain(ada ruang diantara keduanya yang berisi udara)sehingga peredaman udara lebih
maksimal. Didalam proses rongga antara ini dapat diletakkan selimut akustik. Selimut
akustik yang banyak terjual dipasaran terbuat dari bahan glass-wool. Lantai studio juga
hendaknya dilapisi karpet tebal untuk meredam getaran dan juga meredam bunyi diatas
permukaan yang tidak dikehendaki misalnya langkah kaki.

51
 Untuk mengurangi getaran, konstruksi plafon studio diusahakan untuk dipasang tidak
menempel dengan rangka atap, namun dipasang menggantung. Rangka plafon dapat
dibangun dengan bahan yang umum dipergunakan seperti baja, aluminium atau
kayu.Selanjutnya ditutup dengan papan kayu atau multipleks , dan dilapisi acoustic tile.
Selain dilapisi acoustic tile yang secara umum baik untuk menyerap bunyi dengan
frekuensi tinggi,untuk menyerap bunyi dengan frekuensi rendah dapat pula dipasang
papan penyerap dengan posisi sejajar dinding.
 Sama halnya dengan lantai, untuk mengurangi , idealnya dinding studio dirancang
dengan sisten dinding ganda dari bahan yang berbeda dengan rongga antara berisi udara.
Untuk meningkatkan kemampuan peredaman, maka dalam rongga udara juga dapat
diletakkan glass-wool. Selanjutnya finishing dinding dilakukan dengan bahan lunak yang
menyerap bunyi, seperti acoustic tile, softboard, atau karpet yang ditempelkan pada
dinding.

Akustika pada bangunan hotel dan sejenisnya


Pada bangunan hotel dan sejenisnya ruang ruang yang menghasilkan kebisingan seperti
hall, café, restoran dan sebagainya diusahakan diletakkan dekat dengan sumber kebisingan di
luar bangunan. Sementara itu kamar hunian diletakkan jauh dari kebisingan. Namun demikian
bagian yang lebih dalam biasanya juga diletakkan ruang ruang dengan fungsi servis. Oleh karena
itu perlu diusahakan agar meskipun menempati area yang sama, kebisingan yang timbul dari
ruang servis tidak masuk ke area hunian.

Akustika pada ruang perpustakaan


Ruang ini dikenal sebagai ruang yang membutuhkan ketenangansangat tinggi. Ketika
kebisingan dari luar ruangan dapat diatasi dengan baik, sumber kebisingan lain kemungkinan
justru muncul daridalam ruangan seperti langkah kakiataupun percakapan antar pengunjung.
Untuk meredam kebisingan semacam ini , bagian dalam dinding , lantai dan plafon ruang perlu
dilapis denga bahan lunak yang mampu menyerap bunyi. Keberadaan kebisingan latar belakang
juga tidak dituhkan dalam perpustakaan.

52
BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Akustik ruang merupakan salah satu ilmu rekayasa bunyi yang mempelajari perilaku
suara didalam suatu ruang. Akustik ruang berhubungan dengan kualitas suara pada bangunan,
yang dipengaruhi oleh penilaian secara obyektif maupun subyektif. Penilaian obyektif yaitu
besaran-besaran yang bersifat umum, misalnya besaran tingkat tekanan bunyi dari sumber suara
dan besaran waktu dengung. Penilaian subyektif berdasarkan dari orang yang menilainya.
Tingkat penilaian tersebut akan sangat berpengaruh pada tingkat kenyamanan pengguna yang
berada pada ruangan tersebut.
Noise senantiasa dihubungkan oleh ketidaknyamanan yang ditimbulkan olehnya. Belum
banyak orang yang menyadari bahwa munculnya noise juga dapat menyebabkan penurunan
kesehatan. Noise bersifat subjektif, sehingga batasan noise bagi orang yang satu bisa saja
berbeda dengan batasan noise bagi yang lain. Penanggulangan noise juga berbeda-beda
tergantung dari fungsi bangunan dan civitas yang ada di dalamnya

4.2 SARAN

Noise atau kebisingan selain menimbulkan ketidaknyaman terhadap orang yang


menderita/ terkena polusi noise juga dapat menurunkan tingkat kesehatan. Maka dari itu
diperlukan pemahaman yang baik mengenai sumber sumber potensial dari noise, jenis noise dan
asas penanggulangannya sehingga dapat menentukan sistem akustik yang akan diterapkan untuk
mereduksi kebisingan yang masuk ke dalam bangunan.

53