Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Berdirinya PT. Styrindo Mono Indonesia

Pada awalnya, PT Styrindo Mono Indonesia merupakan perusahaan

Indonesia yang bekerja sama dengan perusahaan Jepang, tetapi saat ini PT

Styrindo Mono Indonesia sudah dibawah kepemilikan perusahaan Indonesia

yaitu BARITO GROUP dan merupakan anak perusahaan dari PT Chandra Asri

Petrochemical, Tbk. PT Styrindo Mono Indonesia merupakan satu-satunya

perusahaan di Indonesia yang menghasilkan produk Styrene Monomer sebagai

produk utama dan Toluene sebagai produk samping.

Adapun, komposisi kepemilikan sahamnya adalah sebagai berikut:

1. Tomen Corporation (JPN) 68,4%

2. Idemitsu Petrochemical Ltd. (JPN) 5,3%

3. PT. Bina Kimia Citra 15,8%

4. PT. Salim Petrochemical Corporation 10,5%

Pembangunan pabrik dimulai pada bulan Januari tahun 1991 dan selesai

bulan Oktober 1992. Pabrik ini mulai beroperasi secara komersial pada bulan

Januari pada tahun 1993. Kontraktor utama proyek pembangunan pabrik ini

adalah Toyo Engineering dari Jepang dan lisensi pembuatan produk adalah

Monsanto Lummust Crest (ABB Lummus). Desain kapasitas Styrene Monomer

pada pabrik ini adalah sebesar 100.000 MTA. Pada bulan Juli 1994, PT Styrindo

Mono Indonesia membangun plant EB dengan menggunakan teknologi badger

(Amerika Serikat) yang merupakan bahan baku pembuatan Styrene Monomer

dan mulai beroperasi pada bulan September tahun 1995.

1
2

Pada bulan Juli 1999, PT Styrindo Mono Indonesia kembali menambah kapasitas produksinya

dengan mengoperasikan plant SM 2 dan memiliki EB plant sendiri. Kontraktor utama pembangunan

plant 2 adalah Mitsubishi Heavy Industri yang juga berasal dari Jepang dan lisensi pembuatan

Styrene Monomernya pun adalah Monsanto Lummus Crest (ABB lummus). SM 2 plant memiliki

kapasitas produksi Styrene Monomer sebanyak 240.000 MTA dan Toluene sebanyak 2.624 MTA,

sehingga total produksi Styrene Monomer menjadi 340.000 MTA dan Toluene sebanyak 2642 MTA.

Pada tahun 1998, dan pada tahun 1999 sampai sekarang kapasitas SMI sudah mencapai 25.000

ton/tahun.

Styrene Monomer adalah produk otomatis yang digunakan secara luas untuk pembuatan plastik

atau karet, merupakan salah satu bahan baku untuk industri manufactur, seperti:

1. Polystyrene berfungsi untuk membuat cashing komputer dan elektronik.

2. Expand Polystyrene berfungsi untuk pembungkus makanan dan material bangunan.

3. Styrene Acrylonitrile berfungsi untuk peralatan rumah tangga dan alat otomotif.

4. Acrylonitrile Butadiene Styrene berfungsi untuk peralatan otomotif, pengepakan, koper, dan

mainan.

5. Styrene Butadiene Rubber berfungsi untuk ban, ikat pinggang, alas kaki dan lain-lain.

6. Styrene Butadiene Latex berfungsi untuk pembungkus kertas, bahan karpet busa dan karet.

7. Unsaturated Polyester resin berfungsi untuk fiberglass, pembuatan kapal, mobil dan lain-lain.

Pabrik dibagi menjadi 3 area yaitu

1. Ethylbenzene area : Area 100 – 200

2. Styrene Monomer area : Area 300 – 400

3. Off set/ Utility area : Area 500 – 900

1.2 Gambaran Umum PT.Styrindo Mono Indonesia

1.2.1 Bahan baku dan bahan pembantu yang digunakan


3

1.2.1.1 Bahan Baku Utama

Ethylbenzene

Dalam proses produksi Styrene Monomer, maka dibutuhkan bahan baku utama. Styrene

Monomer ini merupakan hasil reaksi dehidrogenasi dari Ethylbenzene. Ethylbenzene adalah anggota

dari kelompok aromatik monomer dalam pembuatan Styrene Monomer. Pada proses ini Ethylbenzene

diproduksi dari Plant 2 EB PT Styrindo Mono Indonesia, dengan bahan baku Ethylene dan Benzene.

Kebutuhan Ethylene PT. Styrindo Mono Indonesia diperoleh dari PT. Chandra Asri Petro Chemical.

Ethylene dalam bentuk gas yang disuplai dari PT. Chandra Asri Petro Chemical masuk melalui jalur

pipa bawah tanah yang langsung mengalami proses pemurnian dengan kecepatan 25 ton/jam.

Kebutuhan Ethylene untuk proses ± 25 ton/jam. Ethylene dalam bentuk cair yang dibawa dengan

menggunakan kapal. Ethylene yang diimport dibawa ke pelabuhan khusus (Jetty) milik PT. Redeco

Petrolin Utama dengan kapasitas tanker (minimum) sebesar 3000 ton. Ethylene dibawa kapal tanker

dalam bentuk cairan, selanjutnya ditransfer ke tangki penyimpanan Ethylene Day Tank pada tekanan

24-26 barg dengan kecepatan sekitar 2,50 m3/jam. Ethylene tersebut disimpan di tangki dalam bentuk

cair dengan suhu -100°C. Kapasitas tangki penyimpanan Ethylene adalah 9000 KL. Ethylene Day

Tank ini dilengkapi dengan Ethylene Evaporator yang berfungsi untuk mengubah Ethylene Liquid

menjadi Ethylene vapour sebelum ditransfer ke proses. Kebutuhan benzene PT.Styrindo Mono

Indonesia diperoleh dari PT. Pertamina dan SGC Thailand Petro Chemical. Benzene dalam bentuk

dalam bentuk cair yang dibawa dengan menggunakan kapal. Benzene yang diimport dibawa ke

pelabuhan khusus (Jetty) milik PT. Redeco Petrolin Utama dengan kapasitas tanker (minimum)

sebesar 2500 ton. Benzene dibawa kapal tanker dalam bentuk cairan, selanjutnya ditransfer ke tangki

penyimpanan Benzene pada tekanan 25 barg dengan kecepatan sekitar 2,50 m3/jam. Benzene

tersebut disimpan di tangki dalam bentuk cair dengan suhu -105°C.

Tabel 1.Spesifikasi Ethylbenzene


Komponen Komposisi
(% berat)
Ethylbenzene 99,85
4

Benzene 0,10
Toluene 0,05
Total 100,00
(Ardian.DY,2012)

1.2.1.2 Bahan Pembantu

Dinitro Butil Phenol (DNBP)

DNBP berfungsi sebagai inhibitor untuk menghambat terjadinya polimerisasi dari produk Styrene

Monomer, semakin besar konsentrasi DNBP dalam reactor, maka polimerisasi yang terjadi semakin

kecil. Kebutuhan DNBP diperoleh dari PT. Dooyang Korea dibawa ke pelabuhan khusus di Jakarta

dengan menggunakan kapal tanker dengan kapasitas 1000 ton. DNBP dalam bentuk cairan diangkut

menggunakan truk tangki dengan kapasitas maksimal 20 ton. DNBP disimpan dalam NSI Tank (2FB-

403) dengan kapasitas penyimpanan 100 ton, dengan suhu -70°C dalam bentuk cairan pada tekanan

1,5-2 barg. Kebutuhan DNBP dalam proses ± 12kg/jam dengan tekanan 7,8 KCG.

Tabel 2.Spesifikasi Dinitro Butil Phenol


Komposisi
Komponen (%volume)
DNBP 70,00
Ethylbenzene 30,00
Total 100,00
(Mosanto.LC,2008)

Tertiary Butil Catechole (TBC)

TBC adalah sejenis bubuk sebagai inhibitor selama proses pemisahan, TBC berbentuk bubuk

yang digunakan untuk mencegah terjadinya polimerisasi/ penggumpalan didalam proses. Jenis TBC

ini untuk mempertahankan sifat kimia didalam fluida dan sesuai dengan temperatur kolom pemisahan.

Inhibitor/TBC jenis ini tingkat kelarutannya besar dan meyebar karena berbentuk bubuk, namun ada

juga yang berbentuk serpihan namun kelarutan didalam fluida agak terlalu lama.

Tabel 3.Spesifikasi Tertiary Butil Catechole


Komposisi
Komponen (%volume)
Di-tert-butylcathecol 99,50
Tert butyl cathecol 0,50
5

Total 100,00
(Mosanto.LC,2008)

Catalyst (Katalis)

PT. Styrindo Mono Indonesia menggunakan Styromax – 6 cataliyst, untuk memperoleh hasil

reaksi utama yaitu styrene monomer secara optimum dan memperkecil kemungkinan terjadinya hasil

reaksi samping, maka digunakan Styromax – 6 catalyst yang mempunyai komposisi besi (II) Oksida

(Fe2O3), dengan adanya katalis ini maka reaksi utamalah yang paling berpengaruh terhadap kondisi

operasi. Katalis ini juga menambah performancenya tersebut dengan menggunakan K2O (kalium

Oksida) sebagai promotor. Katalis dehidrogenasi yang digunakan di PT Styrindo Mono Indonesia

adalah Fe2O3 dengan merek dagang FlexiCat Gold-HS/FlexCat Gold/ IronCat untuk SM-1 dan

Styromax – 6 Catalyst untuk SM-2 yang berasal dari PT Sudchemy,Singapore.

Tabel 4. SpesifikasiStyromax-6
Komponen Komposisi
(% volume)
Fe2O3 10,00
K2CO3 20,00
CeO2 25,00
M0O3 15,00
CaO 5,00
MgO 15,00
Total 100,00
(Mosanto.LC,2008)

Katalis dehidrogenasi EB dapat mengalami deaktivasi yang disebabkan oleh faktor sebagai berikut :

1. Deposit karbon, faktor penyebabnya adalah tekanan parsial EB yang tinggi dan tekanan parsial

steam rendah.

2. Sintering, faktor penyebabnya adalah tekanan parsial H2 yang tinggi, tekanan parsial steam yang

rendah dan temperatur yang tinggi.

3. Migrasi potassium yaitu terjadinya deposit terhadap senyawa kalium yang akan mengalir terbawa

keluar reaktor dan dapat ditemukan pada air kondensat setelah mengalami proses pemisahaan

dengan produk. Faktor penyebabnya adalah tekanan CO2 yang rendah, perbedaan fugasitas dari
6

senyawa kalium, kontaminasi senyawa kalor, kecepatan gas yang tinggi, dan temperatur yang

tinggi .

1.2.2 Unit - Unit Dalam Pabrik

1.2.2.1 Unit area Ethylbenzene (EB)

Area pembuatan Ethylbenzene dari bahan baku Benzene dan Ethylene terbagi atas dua area,

yaitu :

1. Area 100 untuk mereaksikan EB yaitu Alkilasi dari Ethylene dengan Benzene dan transalkilasi

Polyethylbenzene (PEB) menjadi Ethylbenzene.

2. Area 200 untuk pemisahan EB yaitu pemurnian crude EB menjadi EB murni.

1.2.2.2 Unit area Styrene Monomer (SM)

Area pembuatan Styrene Monomer yang merupakan lanjutan dari proses Ethylbenzene sebagai

feed terbagi atas dua area, yaitu :

1. Area 300 untuk mereaksikan EB menjadi SM yaitu Dehidrogenasi EB menjadi crude SM.

2. Area 400 untuk pemisahan SM yaitu Pemurnian crude SM menjadi SM produk.

1.2.3 Organisasi Perusahaan

1.2.3.1 Struktur dan Job Deskripsi

Manajemen organisasi di perusahaan PT Styrindo Mono Indonesia telah di standarisasi dengan

menggunakan ISO 9001:2000 tentang Quality Management System. Struktur organisasi PT. Styrindo

Mono Indonesia adalah struktur organisasi garis, dimana pimpinan tertinggi perusahaan ada di bawah

President Commissioner, President Director yang berkedudukan di Jakarta dan dibantu oleh

Independent Director, Legal Advisor, Corporate Service Director, dan Executive Secretary. Dibawah
7

Presiden Direktur terdapat tiga Director yang membantu tugas Presiden Direktur, meliputi:

Commercial Director, Manufacturing Director, Vice President Director.

1. Commercial Director, bertugas dan bertanggung jawab untuk membuat strategi dan

kebijaksanaan penjualan yang sedang berlangsung serta yang akan datang. Divisi ini

membawahi beberapa departemen, yaitu :

 Planning and Purchasing, bertugas dan bertanggung jawab terhadap pengadaan barang bagi

perusahaan dan merencanakan penjualan maupun strategi bisnis.

 Sales General Manager, bertugas untuk membantu dan memberikan nasehat tentang teknik

penjualan produk Styrene Monomer.

2. Manufacturing Director merupakan pimpinan tertinggi di PT. Styrindo Mono Indonesia Production

site yang berkedudukan di Merak. Manufacturing Director bertugas dan bertanggung jawab

terhadap seluruh Merak Plant dan bidang produksi Styrene Monomer PT. Styrindo Mono

Indonesia. Tugas Manufacturing Director dibantu oleh Factory Manager. Factory Manager

membawahi empat department yaitu Storage Loading and Warehouse Section, Quality Safety

and Environment Department (HSE) & Engineering Maintenance Department.

 Factory Manager, bertanggung jawab terhadap kelancaran produksi Styrene Monomer mulai

dari penerimaan bahan baku sampai dengan proses pembuatan Styrene Monomer. Divisi ini

membawahi lima departemen.

 Storage Loading and Warehouse Section, bertugas dan bertanggung jawab menyiapkan

barang untuk seluruh kebutuhan di PT. Styrindo Mono Indonesia. Dalam tugasnya membawahi

Project Group, Purchasing Site Office.

 Production Departement, bertugas dan bertanggung jawab untuk mengolah dan memproduksi

hasil produk Styrene Monomer. Dalam tugasnya membawahi Production Plant 1, Production

Plant 2, dan Production Planning and Control.


8

 Quality Safety and Environment Department (SED) bertugas dan bertanggung jawab

menangani dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan proses produksi di PT. Styrindo

Mono Indonesia, serta bertanggung jawab terhadap kesehatan dan keselamatan kerja. Dalam

tugasnya membawahi Quality Control and Assurance, Safety and Environment Control.

 Engineering Maintenance Department bertugas dan bertanggung jawab untuk merawat

seluruh peralatan di PT Styrindo Mono Indonesia. Dalam tugasnya membawahi Electrical and

Instrument dan Mechanical.

3. Vice President Director bertugas dan bertanggung jawab untuk memimpin, mengkoordinir, dan

mengawasi kerja serta membantu tugas President Director dalam menghadapi masalah

perusahaan di PT. Styrindo Mono Indonesia yang berkaitan dengan aktivitas pabrik. Dalam

melaksanakan tugasnya dibantu oleh Finance Group dan HR and Admin Director.

 Finance Group bertugas dan bertanggung jawab untuk menghitung seluruh biaya produksi dan

merencanakan pengeluaran keuangan serta mengontrol keuangan perusahaan di PT. Styrindo

Mono Indonesia.

 HR and Admin Director, bertugas dan bertanggung jawab mengawasi kerja Audit Teknologi &

Operasi serta Audit nonTeknologi & Operasi. Kewajiban mengaudit semua yang terkait dengan

Teknologi & Operasi maupun non Teknologi & Operasi serta tanggung jawabnya memberikan

laporan. Dalam tugasnya membawahi Human Resource and General Affairs, Security, General

Affair and IT HO.


9
10

1.2.3.2 Fasilitas Penunjang

PT. Styrindo Mono Indonesia memberikan berbagai fasilitas untuk kesejahteraan karyawannya.

Fasilitas tersebut antara lain :

1. Koperasi

PT. Styrindo Mono Indonesia mempunyai koperasi yang menyediakan barang-barang

kebutuhan sehari-hari dengan harga yang relatif lebih murah. Koperasi ini terletak di areal pabrik.

2. Sarana Transportasi

PT. Styrindo Mono Indonesia menyediakan sarana transportasi bagi karyawan yang akan

berangkat maupun pulang kerja. Sarana transportasi ini beroperasi di daerah Cilegon, Merak dan
11

Serang, adapun untuk keperluan transportasi di dalam pabrik, PT. Styrindo Mono Indonesia

menyediakan sepeda untuk membantu para karyawan dalam melaksanakan aktivitasnya.

3. Makan

PT. Styrindo Mono Indonesia memberikan fasilitas makan, baik untuk karyawan shift

maupun daily. Setiap karyawan mendapat fasilitas makan.

4. Klinik Kesehatan

Fasilitas kesehatan diberikan oleh pihak perusahaan untuk kecelakaan atau penyakit

mendadak yang terjadi di sekitar pabrik.

5. Seragam

Pemberian seragam dilakukan rata-rata sekali dalam setahun sebanyak 3 pasang. Semua

karyawan diberikan fasilitas jaket setiap dua tahun sekali.

6. Perlengkapan Safety (keamanan)

Perlengkapan safety ini berupa sepatu, helmet, kacamata, masker, penutup telinga (ear plug),

tali pengaman, dan lain-lain. Perlengkapan ini diberikan kepada karyawan sesuai lokasi kerja.

7. Masjid dan Mushola

Di areal pabrik Mushola untuk karyawan yang beragama Islam.

8. Sarana Olah Raga

PT. Styrindo Mono Indonesia menyediakan sarana olah raga seperti lapangan volley,

lapangan sepak bola, lapangan futsal, lapangan basket, lapangan tennis, tempat gym (fitness)

1.2.3.3 Jumlah dan Pendidikan Karyawan


12

Akhir tahun 2014 tercatat bahwa PT. Styrindo Mono Indonesia memiliki tenaga kerja sebanyak ±

244 orang yang merupakan karyawan tetap.

Karyawan di PT. Styrindo Mono Indonesia terbagi menjadi karyawan shift dan non shift dengan jumlah

jam kerja 60 jam tiap minggu. Pembagian jam kerja untuk karyawan tetapnya sebagai berikut :

1. Karyawan non shift (daily) masuk lima kali dalam seminggu dari hari Senin sampai hari Jum’at.

Jam kerja = 07.30 – 16.30 WIB

Istirahat = 12.00 – 13.00 WIB

2. Karyawan shift jam kerja terbagi atas 3 shift yaitu :

Shift I = 07.00 – 15.00 WIB

Shift II = 15.00 – 23.00 WIB

Shift III = 23.00 – 07.00 WIB

Tabel 5. Sistem pembagian shift di PT. Styrindo Mono Indonesia pada bulan Maret tahun 2015

Plant 2

Hari Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu


Shift A N N O O O M M
Shift B O O M M M A A
Shift C M M A A A N N
Shift D A A N N N O O
(Anonim,2015)

Keterangan :

O : off (libur)

M : morning shift (shift pagi)

A : afternoon shift (shift siang)

N : night shift (shift malam)

Masing-masing group bekerja secara shift selama 7 hari kemudian mendapat jatah libur selama 2

hari. Pembagian shift di PT. Styrindo Mono Indonesia untuk setiap shiftnya berjumlah 34 orang di

antaranya :

Area proses : 22 orang


13

Laboratorium : 2 orang

PPIC : 2 orang

Security : 8 orang +

Total : 34 orang

Karyawan tetap yang bekerja pada PT. Styrindo Mono Indonesia terdiri dari tenaga kerja dengan

tingkat pendidikan SMA, SMK, D3, S1, S2.

S2 : 2 orang

S1 : 43 orang

D3 : 22 orang

SMK/SMA : 158 orang

SMP : 14 orang

SD : 5 orang +

Total : 244 orang

1.2.3.3 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Keselamatan Kerja

Prosedur Keselamatan dan Keamanan kerja di PT. Styrindo Mono Indonesia sangat ketat. Hal ini

dilakukan untuk menciptakan kondisi yang baik bagi lingkungan kerja, tenaga kerja maupun peralatan.

Setiap orang yang berada di area pabrik dilarang keras membawa rokok, korek api dan handphone

serta barang – barang elektronik lainnya yang dapat menimbulkan percikan api.
14

Alat perlindungan diri untuk keselamatan kerja serta kesehatan kerja yang telah ditetapkan oleh

perusahaan adalah sebagai berikut:

1. APD ( Alat Perlindungan Diri )

APD disebut juga dengan PPE (Personal Protective Equipment) yang digunakan di PT.

Styrindo Mono Indonesia yaitu: safety helmet, goggles, face shield, dust mask, ear plug, gloves,

body harness, wear pack dan safety shoes.

2. Jenis Pengaman

Jenis pengamannya berupa peralatan yang berfungsi sebagai pelindung dan pencegah

bahaya - bahaya lebih lanjut terhadap tenaga kerja antara lain: rotating unit cover (penutup mesin

yang berputar), pagar pengaman tangan pada daerah yang tinggi, alat basuh mata, safety

shower, traffic sign, grounding, bounding, sikring dan saklar, alat pengatur tekanan.

3. Penanggulangan Kebakaran dan Emergency

PT. Styrindo Mono Indonesia memiliki potensi bahaya kebakaran yang tinggi untuk itu perlu

pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang benar - benar berkualitas, sehingga di PT.

Styrindo Mono Indonesia terdapat satuan pemadam kebakaran. Setiap orang yang berada di

dalam area pabrik dilarang keras membawa rokok, korek api, kamera atau benda lain yang bisa

menimbulkan percikan bunga api. Pabrik bila terjadi suatu keadaan darurat maka akan

dibunyikan sirine, untuk penyelamatan semua tenaga kerja harus menuju ke sebuah tempat yang

dinamakan Head Account Point (HAP) disetiap gedung, bila keadaan bertambah gawat maka

semua karyawan yang telah terkumpul pada masing-masing HAP-nya akan keluar bersama-sama

ke suatu tempat yang disebut AP (Asembly Point), kemudian informasi keadaan darurat akan

ditangani oleh Emergency Response Team yang terdiri dari Security, Medical, Fireman and

Auxilary Fireman, Shift Superintendent dan Supervisor Area.


15

Bagi para pekerja yang akan bekerja di PT. Styrindo Mono Indonesia harus diberi tahu

mengenai peraturan keselamatan kerja yang akan disampaikan melalui Safety Induction, untuk

melatih kebiasaan tersebut maka setiap tiga bulan dilakukan pelatihan emergency agar semua

tenaga kerja terbiasa dengan kondisi tersebut.

4. Sistem Ijin Kerja

PT. Styrindo Mono Indonesia merupakan perusahaan yang beresiko tinggi sehingga harus

menggunakan ijin kerja sekalipun dalam keadaan darurat yang dikeluarkan oleh supervisor area

(Authorize Personal) yang diketahui oleh Safety Engineering.

Jenis – jenis ijin kerja yang ada dalam PT. Styrindo Mono Indonesia antara lain:

1. Hot Work Permitt

Ijin ini harus dimiliki pekerja yang pekerjaannya dapat menimbulkan panas atau nyala api

seperti pengelasan pipa atau bejana penggunaan bor listrik, gerinda dan lain – lain.

2. Cold Work Permitt

Ijin ini harus dimiliki pekerja yang pekerjaannya tidak menimbulkan api atau panas sama sekali

atau alat – alat yang dikerjakan tidak menimbulkan nyala api atau panas. Cara kerja yang dapat

dikategorikan dalam hal ini adalah penggantian valve, penggantian pipa, pengecekan peralatan,

pembersihan material, dan lain-lain.

3. Confined Space Work Permitt

Ijin bekerja untuk pekerjaan diruang tertutup, hampa udara atau ruangan dengan kandungan

oksigen terbatas, misalnya membersikan reaktor, tangki, dan lain – lain. Para pekerja sebelumnya

harus melakukan pengujian terhadap gas – gas berbahaya dan kadar oksigen dalam ruangan.

Kesehatan Kerja

PT. Styrindo Mono Indonesia memberikan pelayanan kesehatan pada setiap karyawannya melalui

sebuah klinik yang terdapat di lokasi pabrik. Tenaga kesehatan di klinik terdiri dari 2 orang dokter, satu
16

orang berstatus on duty (siap di tempat), satu orang berstatus on call (siap dipanggil) serta tiga orang

tenaga paramedis. Jenis pelayanan kesehatan meliputi :

1. Pemeriksaan kesehatan karyawan baru sebelum bekerja pada PT. Styrindo Mono Indonesia

2. Pemeriksaan kesehatan secara berkala setahun sekali

3. Pelayanan kesehatan umum untuk selain karyawan tetap, training kesehatan dan PPPK.

Jaminan Sosial

Jaminan sosial adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang

sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang akibat dari peristiwa-

peristiwa tertentu sewaktu menjalankan pekerjaannya.

a. Ruang Lingkup

1. Berdasarkan dengan Undang-Undang No. 14 / 1993, termasuk peraturan pelaksanaannya,

perusahaan mengikutsertakan setiap karyawannya dalam program jamsostek, yang meliputi :

- Jaminan kecelakaan kerja

- Jaminan kematian

- Jaminan hari tua

2. Perusahaan menyediakan jaminan kesehatan bagi karyawannya melalui program bantuan

keselamatan.

b. Iuran

1. Iuran kecelakaan kerja dan kematian ditanggung oleh perusahaan.

2. Iuran jaminan hari tua akan ditanggung oleh perusahaan sebesar 3,7 % dan ditanggung oleh

karyawan sendiri sebesar 2 % dari gaji bulanan yang dibayarkan langsung oleh perusahaan

ke kantor PT. JAMSOSTEK.

3. Perhitungan iuran dapat berubah dengan ketetapan pemerintah yang berlaku

Komponen gaji karyawan PT. Styrindo Mono Indonesia terdiri dari:

 Gaji Pokok
17

 Tunjangan Pengobatan dan Perawatan

 Tunjangan Hari Raya

 Tunjangan Perumahan dan utility

 Bonus

 Uang Cuti (tahunan, sakit, hamil / bersalin, diluar tanggungan perusahaan, haid, menunaikan

ibadah haji)

 Uang Shift

 Uang Lembur

Setiap tahun karyawan PT. Styrindo Mono Indonesia mempunyai Cuti tahunan selama masa kerja < 5

tahun : 12 hari kerja, 5-10 tahun : 18 hari, > 10 tahun : 24 hari kerja

1.2.4 Sistem Pemasaran Produk

Bagian pemasaran PT Styrindo Mono Indonesia ditugaskan untuk memasarkan produk yang

dihasilkan oleh PT Styrindo Mono Indonesia kepada konsumen-konsumen serta mencari konsumen

yang menggunakan produk Styrene Monomer sebagai bahan bakunya. PT Styrindo Mono Indonesia

sejak dulu sampai saat ini memasarkan produknya ke luar negeri maupun ke dalam negeri.

Pemasukan dalam pasar domestik adalah 40%, sedangkan sisanya untuk ekspor seperti Cina,Taiwan,

Thailand dan Philipina.

Daftar konsumen domestik yang pernah menjalin kerja sama dengan PT Styrindo Mono Indonesia

sebagai berikut :

1. PT Latexia

2. PT Arbe Styrindo
18

3. PT Clariant

4. PT Gajah Tunggal

5. PT Justus Sakti Raya

6. PT BASF Indonesia

7. PT Arindol Pasific Chemical Indonesia

1.3 Lay Out Pabrik

1.3.1 Lokasi Pabrik

PT Styrindo Mono Indonesia terletak di desa Mangunreja, kecamatan Bojonegara, kabupaten

Serang-Banten. Lokasi terletak kurang lebih 15 kilometer dari pelabuhan Merak dan 30 kilometer dari

kota Serang.

Batas-batas wilayah pabrik sebagai berikut:

a. Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa.

b. Sebelah timur berbatasan dengan PT Redeco Petrolin Utama.

c. Sebelah selatan berbatasan dengan PT Satomo Indovyl Polimer.

d. Sebelah barat berbatasan dengan PT Sulfindo Group.

Pemilihan lokasi ini dengan pertimbangan:

1. Lokasi di pinggir laut sehingga memudahkan transportasi bahan baku (Ethylene dan Benzene)

yang diimport dari luar negeri dan dekat dengan pelabuhan kecil (Jetty) milik PT. Redeco Petrolin

Utama untuk sarana bongkar muat bahan baku tersebut.

2. Lokasi PT. Styrindo Mono Indonesia yang sangat mendukung kelangsungan hidup perusahaan dan

kemampuan untuk berkembang karena lokasi yang sangat strategis dalam pemanfaatan sumber

daya air laut sebagai sumber utama sirkulasi proses pendingin dan di tambah lagi lokasi dekat

dengan PLTU Suralaya sebagai penyedia tenaga listrik untuk proses produksi.
19

3. Lokasi PT. Styrindo Mono Indonesia dekat dengan pabrik – pabrik yang memproduksi bahan baku

yang diperlukan PT. Styrindo Mono Indonesia, sehingga bahan baku tersebut dapat dipasok secara

langsung melalui pipa bawah tanah.

4. Lokasi PT. Styrindo Mono Indonesia dekat dengan sarana dan prasarana transportasi darat

sehingga memudahkan pemasaran produk dalam negeri.

5. Kantor pusat PT Styrindo Mono Indonesia terletak di Wisma Barito Pacific Tower A, 7th floor, Jl.

Let. Jend. S. Parman Kav 62-63, Jakarta.

1.3.2 Tata Letak Pabrik

Pabrik dan kantor PT. Styrindo Mono Indonesia menempati lahan seluas 14 Ha dengan perincian

sebagai berikut :

Tabel 6. Luas Lahan

Area Plant 1 Plant 2


(m2) (m2)
Proses 11000 12000
Utilitas 9000 11000
Tank Yard 18000 9000
Subtotal 38000 32000
Lain-lain 47000 22000
Total 85000 54000
(Anonim,2015)

Keseluruhan penggunaan lahan tersebut dibagi menjadi :

a. Bangunan Pabrik

b. Bangunan lain :

1. Kantor yang terdiri dari meeting room, klinik, ruang kantor berlantai dua.

2. Warehouse atau gudang

3. Control room

c. Peralatan tempat penyimpanan bahan baku atau produk

d. Jalan yang disediakan di area pabrik


20

e. Lahan lainnya yaitu :

1. Security

2. Parkir

3. Mushola

4. Workshop

5. Laboratorium

Bagian Proses Produksi PT. Styrindo Mono Indonesia terdapat 3 area, yaitu :

1. Area Utility and Off Site (Area 500 sampai 900)

Area ini terdiri dari unit utilitas dan unit off site yang berfungsi sebagai unit pendukung proses

utama sampai finishing.

 Unit utilitas ini meliputi beberapa bagian seperti Sea Water (SW), Cooling Water (CCW),

Demineralizer Plant, Brine System, Boiler Feed Water (BFW) / Condensat System, Boiler

HS/MS/LS System, Steam Circulation System, Ethylene Day Tank, Benzene Tank, EB Product

Tank, EB Off Spec Tank, SM Product Tank, DM Tank, Toluene Tank, Flux Oil Tank, Slop Oil, Diesel

Oil Tank, Water Tank, Instrument and Plant Air, Steam Generation, Fuel Oil Storage, Plant Flare

and Vent, LPG Storage, Hydrogen Supply, Unit Penyediaan Tenaga Listrik.

2. Area Ethylbenzene (Area 100 dan 200)

Area ini terdiri dari Area 100 dan 200 yang merupakan area proses pembuatan bahan baku yang

menghasilkan Ethylbenzene (EB). Area 100 untuk mereaksikan Ethylbenzene yaitu dengan proses

Alkilasi dari Ethylene dengan Benzene dan transalkilasi Polyethylbenzene (PEB) menjadi

Ethylbenzene. Area 200 untuk pemisahan EB yaitu pemurnian crude EB menjadi EB murni.

3. Area Styrene Monomer (Area 300 dan 400)

Area ini terdiri dari area 300 dan 400 yang merupakan tempat pembuatan Styrene Monomer,

Ethylbenzene yang sudah jadi langsung diinjeksikan ke reaktor utama. Di area 300 berlangsung

proses Dehidrogenasi EB menjadi crude SM, sedangkan Area 400 untuk pemisahan SM yaitu
21

Pemurnian crude SM menjadi SM produk. Pabrik PT. Styrindo Mono Indonesia dilengkapi dengan

bangunan-bangunan pendukung kegiatan pabrik seperti Operation Unit, Bangunan Kantor

(Administrasi), Control Room, Training Center, Workshop, Engineering dan Maintenance, Technical

Servis dan Quality Control dan lain-lain. Bangunan satu dengan yang lain terpisah oleh jalan

membentuk blok-blok sehingga letaknya cukup teratur dan rapi, untuk sistem pemipaannya disusun di

pipe rack, demikian juga untuk kabel-kabel disusun dalam cable rack. Bangunan selain unit proses

terletak di bagian depan, sedangkan unit prosesnya terbagi atas blok – blok sesuai dengan

pembagian unit proses dan utilitas. Tata letak pabrik dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2.PT. Styrindo Mono Indonesia


(Anonim,2015)
22

Gambar 3. Lokasi PT. Styrindo Mono Indonesia


(Anonim,2015)
23

Keterangan Gambar :

1. Area Ketel Batu Bara 23. Alat untuk Menguapkan

2. Gudang Batu Bara 24. Unit Pengolahan Limbah

3. Tungku / Ketel 25. Area Tangki PP-2

4. Tempat Pembuangan Panas 1 26. Tangki HCL

5. Tempat Pembuangan Panas 2 27. Tangki NaOH

6. Tempat Pembuangan Panas 3 28. Tangki Styrene Monomer

7. Tempat Pemisahan 29. Tangki Toluene

8. Tempat Penghancur Batu Bara 30. Tangki Alfa Metil Styrene

9. Unit Utilitas PP-2 31. Tangki Ethylbenzene

10. Sistem Air Umpan Boiler 32. Tangki Styrene Monomer sisa

11. Sistem Panas 33. Tangki Dinitro Butil Catechol

12. Sistem Air 34. Tangki Slop Oil

13. Unit Demineralisasi 35. Tangki Flux Oil

14. Ruang Kontrol PP-2 / Kantor 36. Tangki Nitrogen

15. Sistem Kontrol Unit EB/SM 37. Sistem Pengolahan Air Laut
24

16. Sistem Alarm 38. Sistem Air Pendingin

17. Unit Proses EB/SM PP-2 39. Tempat Pengolahan Limbah

18. Pipa Kondensor 40. Tempat Pengolahan Air Laut

19. Area Proses EB/SM 41. Unit Desalinasi

20. Unit Pemadam Kebakaran 42. Tangki Ethylene

21. Tangki Ethylbenzene sisa 43. Tangki Natural Gas

22. Alat Penguap


25