Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KEGANASAN

PANKREAS (KANKER PANKREAS)

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah : Sistem Endokrin

Dosen : Putri Gayuh Uthami, S.Kep., Ners

Disusun oleh:

Dicky Priadi Suhendi

(213.C.0016)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARDIKA CIREBON

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

TAHUN AKADEMIK 2015


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

KEGANANSAN PANKREAS (KANKER PANKREAS)

2.1 Definisi Kanker Pankreas

Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi
utama, yaitu: Menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting
seperti insulin. Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan berhubungan
erat dengan duodenum (Sylvia, 2006).

Bagian Endokrin Pankreas

Bagian ini berfungsi memproduksi dan melepaskan hormone insulin,


glucagon, dan somatostatin. Hormone ini masing – masing di produksi oleh sel-
sel khusus yang berbeda di pancreas, yang di sebut pulau langerhans. Elizabeth J.
Corwin (2009).

Pulau langerhans adalah kumpulan sel berbentuk ovoid, berukuran 76 x


175 um. Pulau-pulau ini tersebar di seluruh pancreas, walaupun lebih banyak di
temukan di kauda (ekor) dari pada kaput (kepala) dan korpus (badan) pancreas.
Pulau-pulau ini menyusun sekitar 2% volume kelenjar, sedangka bagian eksokrin
penkreas membentuk 80% serta duktus dan pembuluh darah membentuk
sisanya. W. F. Ganong , (2012).

Bagian Eksokrin Pankreas

Menurut W. F. Ganong , (2012). diungkapkan bagian pancreas yang


menyekresi getah pancreas adalah kelenjar alveolus gabungan yang bentuknya
mirip dengan kelenjar saliva. Didalam sel ini terbentuk granula berisi enzim
pencernaan (granula zimogen) yang mengeluarkan melalui eksositosis dari apeks
sel ke dalam lumen duktus pankreatikus. Cabang halus duktus bergabung menjadi
sebuah duktus (duktus pankreatikus wiring), yang biasanya menyatu dengan
duktus koleduktus untuk membentuk ampula vateri. Ampula membuka melalui
papilla dudenom, dan orifisiumnya dilingkari oleh sfingter Oddi. Beberapa
memiliki duktus pancreatikus asesori (duktus Santorini) yang juga masuk ke
dalam duodenum di bagian lebih proximal.

Fungsi bagian ini adalah sekresi enzim pancreas dan sekresi natrium
bikarbonat. Fungsi sekresi enzim pancreas berlangsung akibat stimulasi pancreas
kolesistokinin, suatu hormone yang dikeluarkan oleh usus halus. Sedangkan
natrium bikarbonat dikeluarkan dari sel asinus ke dalam duktus pankreatikus lalu
disalurkan ke usus halus, sebagai respon terhadap terhadap hormon usus halus,
sekretin. Elizabeth J. Corwin (2009).

Kanker

Elizabeth J. Corwin menjelaskan terdapat beberapa kategori kanker dan


beberapa teori mengenai bagaimana kanker terbentuk. Bagian ini membahan
kategori kanker dan menjelaskan teori karsinogenesis.

Kategori kanker Kanker dibagi menjadi 5 kategori yaitu karsinoma,


limfoma, sarkoma, galioma, dan karsinoma insitu.

Karsinoma adalah kanker jaringan epitel termasuk sel-sel kulit, testis,


ovarium, kelenjar pensekresi mukus, sel pensekresi melanin, payudara, servik,
kolon, rectum, lambung, pankreas, dan esofagus.

Limfoma adalah kanker jaringan limfe yang mencakup kapiler limfe,


lakteal, limpa, bergai kelenjar limfe dan pembuluh limfe. Timus dan sumsum
tulang juga dapat terkena pengaruh. Limfoma spesifik antara lain adalah limfoma
Hodgkin. (Kanker kelenjar limfe dan limpa, dahulu disebut hodgkin) dan limfoma
malignan.

Sarkoma adalah kanker jariingan ikat, termasuk sel-sel yang ditemmukan


di otot dan tulang.

Galioma adalah kanker sel-sel glia (sel-sel penunjang) disistem syaraf pusat
Karsinoma in situ adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sel
epitel abnormal yang masih terbatas di daerah tertentu sehingga masih dianggap
lesi prainfasif.

Kanker Pankreas

Kanker pankreas merupakan kanker GI mematikkan yang berkembang


cepat. Kanker ini paling sering menyerang orang kulit hitam. Terutama pria
berusia 35-70 tahun. Tumor pankreas hampir selalu merupakan adeno karsinoma
dan paling sering muncul di kepala pankreas. Tumor badan dan ekor pankreas dan
tumor sel kepulauan jarang muncul. Jurnal Nursing (2011).

Tumor pankreas dapat berasal dari jaringan eksokrin dan jaringan


endokrin pankreas, serta jaringan penyangganya. Dalam klinis sebagian besar
pasien (90%) tumor pankreas adalah tumor ganas dari jaringan eksokrin pankreas
yaitu adenokarsinoma duktus pankreas . Ilmu Penyakit Dalam FKUI (2006).

Kanker berawal dari kerusakan materi genetika atau DNA


(Deoxyribo Nuclead Acid). Satu sel saja yang mengalami kerusakan genetika
sudah cukup DNA. Contohnya mutasi titik yang menyebabkan pengaktifan di
proto-onkogen K-ras di kondon 12 ditemukan > 90 % kanker pancreas.

Mutasi-mutasi ini dapat diidentifikasi dari apusan sitologis atau getah


pancreas yang diperoleh pada saat kanulasi retrograde endoskopi duktus
pankreatikus dilakukan. Mutasi di gen penekan tumor TP53 pernah dideteksi
pada 50 – 75% adenokarsinoma pancreas. Hilangnya fungsi TP53 dan K-ras
secara bersamaan mungkin berperan dalam sifat agresif kanker ini. Selain itu,
pada sekitar 90% kasus, gen penekan tumor P16 yang terletak di kromoson 9P
mengalami inaktivasi. Mutasi di gen-gen perbaikan ketidakcocokan DNA juga
dapat menyebabkan kanker pancreas. Tampaknya berbagai mutasi harus terjadi
agar kanker pankreas dapat timbul. Sindrom kanker pankreas familiar timbul
akibatmutasi di sel benih. Contoh-contohnya mencakup mutasi di STK11 pada
sindrom Puetz-Jegher dan di gen-gen perbaikan ketidakcocokan DNA. Gen
perbaikan ketidakcocokanBRCA2 mengalami inaktivasi pada 7-10% kanker
pankreas.

Kanker adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan


gangguan pertumbuhan seluler dan merupakan kelompok penyakit dan bukan
hanya penyakit tunggal (Doegoes, 2000).

Kanker Pankreas merupakan tumor ganas yang berasal dari sel-sel yang
melapisi saluran pankreas. Sekitar 95% tumor ganas pankreas merupakan
Adenokarsinoma. Tumor-tumor ini lebih sering terjadi pada laki-laki dan agak
lebih sering menyerang orang kulit hitam. Tumor ini jarang terjadi sebelum usia
50 tahun dan rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada penderita yang berumur 55
tahun. (Brunner & Suddarth, 2001).

Pada pankreatitis kronik, jalur timbulnya kanker pankreas mungkin


melalui proses peradangan kronik, termasuk pembentukan stroma. Mediator-
mediator peradangan kronik di duktus dan stroma fibrotik di sekitarnya
kemungkinan besar membantu proses transformasi menjadi ganas, meskipun
mekanisme yang pasti belum diketahui. Transformasi maligna sel-sel ductus
pancreaticus manusia sering menyebabkan deregulasi ekspresi berbagai faktor
pertumbuhan dan reseptor, termasuk faktor perangsang pertumbuhan ( mis, TGF-
α) dan reseptor tempatnya terikat ( mis, faktor pertumbuhan epidermis [EGF] dan
reseptor yang mirip EGF). Masih belum diketahui bagaimana perubahan-
perubahan ini berkaitan dengan patogenesis tumor.

2.2 Etiologi Kanker Pankreas

2.2.1. Faktor Resiko Eksogen

Dalam fisiologi pancreas getah pancreas bersifat basa dengan komposisi


HCO3 (Asam) dengan kadar 113 meg/L. Setiap hari disekresikan sekitar 1500 mL
getah pancreas. Sekresi getah pancreas bersama dengan sekresi empedu dan getah
usus berefek pada penetralan asam lambung dan menaikkan PH duodenum
menjadi 6,0 – 7,0. Didalam getah penkreas terdapat tripsinogen yang diubah
menjadi enzim aktif tripsin. Tripsin berfungsi untuk mengubah kimotripsinogen
menjadi kimotripsin yang merangsang kerja enzim enteropeptidase. Definisi
enterpeptidase akan mengakibatkan kelainan congenital dan nutrisi protein.

Merupakan Adenoma yang jinak dan Adenokarsinoma yang ganas yang


berasal dari sel parenkim (asiner atau sel duktal) dan tumor kistik. Yang termasuk
factor resiko eksogen adalah makanan tinggi lemak dan kolesterol, pecandu
alkohol, perokok, orang yang suka mengkonsumsi kopi, dan beberapa zat
karsinogen. (Setyono, 2001).

2.2.2 Faktor Resiko Endogen

Penyebaran kanker/tumor dapat langsung ke organ di sekitarnya atau


melalui pembuluh darah kelenjar getah bening. Lebih sering ke hati, peritoneum,
dan paru. Kanker di kaput pankreas lebih banyak menimbulkan sumbatan pada
saluran empedu disebut Tumor akan masuk dan menginfiltrasi duodenum
sehingga terjadi perdarahan di duodenum. Kanker yang letaknya di korpus dan
kaudal akan lebih sering mengalami metastasis ke hati, bisa juga ke
limpa. (Setyono, 2001).

2.3. Klasifikasi Ca Pankreas

Klasifikasi Ca Pankreas terdiri dari :

 TX : Tumor primer tidak ditemukan


 T1 : Tidak ada bukti tumor primer
 Tis : Karsinoma in situ
 T1 : Diameter terbesar tumor < 2 cm, terbatas dalam pancreas.
 T2 : Diameter terbesar tumor > 2 cm, terbatas dalam pancreas.
 T3 : Tumor langsung menginvasi duodenum, duktus biliaris, gaster,
limpa, kolon, dan jaringan sekitar lainnya, tapi belum mengenai trunkus
seliak atau vena mesenterium superior.
 T4 : Tumor mengenai trunkus seliak atau vena mesentrium superior.
Kelenjar limfe regional (N)
 NX : Kelenjar limfe regional tidak dapat ditemukan.
 N0 : Tidak ada metastasis kelenjar limfe regional.
 N1 : Terdapat metastasis ke kelenjar limfe regional
 Pn1a : Terdapat metastasis satu kelenjar limfe regional
 Pn1b : Terdapat metastasis multiple kelenjar limfe regional.
Metastasis jauh (M)
 MX : Metastasis jauh tidak dapat ditemukan.
 M0 : Tidak ada metastasis jauh.
 M1 : Terdapat metastasis jauh.

Klasifikasi stadium

 Stadium 0 : Tis, N0, M0


 Stadium IA : T1,N0, M0
 Stadium IB : T2, N0, M0
 Stadium IIA : T3, N0, M0
 Stadium IIB : T1-3, N1, M0
 Stadium III : T4, N apapun, M0
 Stadium IV : T apapun, N apapun, M1

Berikut adalah klasifikasi TNM kanker pankreas menurut UICC tahun 2002.

Klasifikasi Stadium

Stadium 0 Tis, N0 ,M0

Stadium IA T1, N0, M0


Stadium IB T2, N0, M0

Stadium IIA T3, N0, M0

Stadium IIB T1-3, N1, M0

Stadium III T4, N apapun, M0

Stadium IV T apapun, N apapun, M1

Sumber : Desen, Wan. 2013. Onkologi Klinis

2.4 Tanda dan Gejala Kanker Pankreas

Sejumlah tanda dan gejala kanker pankreas tak muncul dalam tahap awal.
Tapi setelah tumbuh dan menyebar, nyeri sering berkembang pada perut bagian
bawah dan kadang-kadang menyebar ke punggung. Rasa sakit bisa menjadi lebih
buruk setelah orang makan atau berbaring. Dan gejala lain yang mungkin muncul
antara lain:

a) Berat badan menurun drastis akibat kehilangan nafsu makan


b) Anoreksia dan kembung
c) Diare dengan kandungan lemak dalam feses (steatorrhea)
d) Diabetes ( pada penderita ini disertai berat badan yang menurun drastis,
mual, serta kulit, mata, atau selaput lendir menguning.)
e) Warna urin lebih gelap, biasanya berwarna kehitaman menyerupai warna
tanah
f) Mengalami kelelahan berkepanjangan
g) Terjadi pembekuan darah
h) Gangguan sistem pencernaan yang mengarah pada menurunnya
metabolisme tubuh
i) Depresi berkepanjangan
j) Gangguan pada organ hati atau liver

2.5 Patofisiologi Kanker Pankreas

Pada umumnya tumor meluas ke Retroperitoneal ke belakang pankreas,


melapisi dan melekat pada pembuluh darah. Secara mikroskopik terdapat infiltrasi
di jaringan lemak peripankreas, saluran limfe, dan perineural. Pada stadium lanjut,
kanker kaput pancreas sering bermetastasis ke duodenum, lambung, peritoneum,
hati dan kandung empedu.

Kanker pancreas pada bagian badan dan ekor pancreas dapat metastasis ke
hati, peritoneum, limpa, lambung dan kelenjar adrenal kiri. Karsinoma di kaput
pancreas sering menimbulkan sumbatan pada saluran empedu sehingga terjadi
kolestasis ekstra-hepatal. Disamping itu akan mendesak dan menginfiltrasi
duodenum, sehingga dapat menimbulkan peradangan di duodenum. Karsinoma
yang letaknya di korpus dan kaudal, lebih sering mengalami metastasis ke hati
dan ke limpa.

Konsumsi alcohol, infeksi bakteri/virus akan serta faktor-faktor yang


beresiko mengakibatkan edema pada pancreas (terutama daerah ampula vater).
Edema pada ampulla akan berakibat aliran balik getah empedu dari duktus
koledokus ke dalam duktus pankreatikus. Dengan demikian didalam pancreas
akan terjadi peningkatan kadar enzim yang mengakibatkan peradangan pada
pancreas. Proses peradangan ini kalau ditumpangi mikroorganisme maka akan
berakibat terbawanya toksik kedalam darah yang merangsang hipotalamus untuk
meningkatkan ambang suhu tubuh (muncul panas).

Adanya refluks enzim akan meningkatkan volume enzim dan distensi pada
pancreas yang merangsang reseptor nyeri yang dapat dijalarkan ke daerah
abdomen dan punggung. Kondisi ini memunculkan adanya keluhan nyeri hebat
pada abdomen yang menjalar sampai punggung.
Distensi pada pancreas yang melampaui beban akan berdampak pada
penekanan dinding duktus dan pancreas serta pembuluh darah pancreas.
Pembuluh darah dapat mengalami cidera bahkan sampai rusak sehingga darah
dapat keluar dan menumpuk pada pancreas atau jaringan sekitar yang berakibat
pada ekimosis pinggang dan umbilicus.

Kerusakan yang terjadi pada pancreas secara sistemik dapat meningkatkan


respon asam lambung sehingga salah satu pertahanan untuk mengurangi tingkat
kerusakan. Akan tetapi kelebihan ini justru akan merangsang respon gaster untuk
meningkatkan ritmik kontraksinya yang dapat meningkatkan rasa mual dan
muntah.

Mual akan berdampak pada penurunan intake cairan sedangkan muntah


akan berdampak peningkatkan pengeluaran cairan tubuh. Dua kondisi ini
menurunkan volume dan komposisi cairan tubuh yang secara otomatis akan
menurunkan volume darah. Penurunan volume darah inilah yang secara klinis
akan berakibat hipotensi pada penderita.

Penurunan volume darah berkontribusi pada penurunan pengikatan


oksigen dan penyediaan nutrisi bagi sel sehingga terjadi penurunan perfusi sel
termasuk otak. Kondisi seperti inilah yang dapat menimbulkan agitasi pada
penderita. Ditambah lagi mual akan menurunkan komposisi kalsium darah yang
berdampak pada penurunan eksitasi system persarafan. (Sujono Riyadi, 2013).

2.6 Komplikasi Kanker Pankreas

Komplikasi yang dapat terjadi adalah :

1. Masalah Metabolisme Glukosa

Tumor dapat mempengaruhi kemampuan pankreas untuk memproduksi


insulin sehingga dapat mendorong permasalahan di metabolisme glukosa,
termasuk diabetes.
2. Ikterus atau Jaundice

Terkadang diikuti dengan rasa gatal yang hebat. Menguningnya kulit dan
bagian putih mata dapat terjadi jika tumor pankreas menyumbat saluran empedu,
yaitu semacam pipa tipis yang membawa empedu dari liver ke usus dua belas jari.
Warna kuning berasal dari kelebihan bilirubin. Asam empedu dapat menyebabkan
rasa gatal jika kelebihan bilirubin tersebut mengendap di kulit.

3. Nyeri

Tumor pankreas yang besar akan menekan lingkungan sekitar saraf,


menimbulkan rasa sakit di punggung atau perut yang terkadang bisa menjadi
hebat

4. Metastasis.

Metastasis adalah komplikasi paling serius dari kanker atau tumor ganas
pankreas. Pankreas dikelilingi oleh sejumlah organ vital, termasuk juga perut,
limpa kecil, liver, paru-paru dan usus. Karena kanker pankreas jarang terdeteksi
pada stadium awal, kanker ini seringkali menyebar ke organ-organ tersebut atau
ke dekat ujung limpa.

2.7 Pemeriksaan Diagnostik Kanker Pankreas

2.7.1 USG

USG abdomen merupakan pilihan metode survei dan diagnosis kanker


pankreas. Yang ditandai dengan sederhana, non-invasif, non-radioaktif, dapat
multi-sumbu pengamatan permukaan, dan lebih jelas melihat struktur pancreas
dengan internal saluran empedu atau tanpa obstruksi dan lokasi obstruksi.
Keterbatasan USG adalah bidang pandang kecil yang rentan terhadap perut, gas
usus, dan somatotip. Selain itu, USG juga bergantungan dengan pengalaman
dokter yang memeriksa dan peralatan yang digunakan, subjektivitas tertentu, jika
perlu, mengingat kombinasi dari pencitraan maka dapat ditambahkan dengan
pemeriksaan resonansi CT dan magnetik (MRI) serta tes laboratorium.

2.7.2 Computerized Tomography (CT Scan)

Saat ini CT scan merupakan pemeriksaan yang paling banyak digunakan


dan paling sensitif untuk karsinoma pankreas. Multisection CT merupakan
pemeriksaan lini pertama yang harus dilakukan untuk mendeteksi kanker ini dan
mengevaluasi tingkat resektibilitasnya. Gambaran CT scan yang mengarahkan
pada adanya suatu kanker pankreas diantaranya adalah: perubahan morfologi dari
kelenjar dengan adanya abnormalitas dari nilai attenuation CT, obliterasi dari
jaringan lemak peripankreas, hilangnya ketajaman tepi dari struktur di sekitarnya,
keterlibatan dari pembuluh darah disekitar dan kelenjar limfe regional, dilatasi
duktus pankreas, atrofi pankreas, dan obstruksi dari common bile duct (CBD).

Perubahan ukuran biasanya fokal, dan pembesaran fokal ini dapat dilihat
pada 96% dari pasien dengan adenokarsinoma pankreas. Ukuran merupakan
indikator yang sulit dipercaya dari adanya suatu tumor, dimana ukuran yang
normal dari caput pankreas adalah konsisten dengan karsinoma pankreas ketika
terdapat atrofi korpus dan ekor dari pankreas. Gambaran ini dapat dilihat pada
20% dari pasien dengan kanker pankreas. Pembesaran fokal dapat juga dapat
terjadi pada penyakit yang jinak, oleh karena itu hal ini kurang spesifik.
Pembesaran yang difus lebih jarang terjadi dan biasanya lebih mengarahkan pada
pankreatitis.

Seiring dengan waktu massa ini mengalami pembesaran fokal, massa


biasanya akan berkembang menjadi suatu keadaan yang inoperable. Beberapa
tumor yang kecil biasanya akan menyebabkan obstruksi duktus biliaris dan
tampak awal. Perubahan pada bentuk dari kelenjar tanpa adanya pembesaran
adalah tanda yang penting dan mengarahkan pada adanya suatu tumor. Adanya
jaringan lemak interstisial didalam massa menunjukkan adanya lobulasi fokal dari
pankreas normal. Jika jaringan lemak interstitial ini absen dan jika massa
seluruhnya solid, kemungkinan massa ini abnormal, dan biopsi direkomendasikan.
Massa pada kanker pancreas biasanya kurang vaskular dibandingkan
dengan pankreas normal, oleh karena itu pada CT scan akan menunjukkan massa
fokal dengan attenuation yang lebih rendah dibandingkan dengan jaringan
pankreas yang normal. Pankreas normal mempunyai nilai attenuation 30-50 HU.
Penurunan dari nilai attenuation terjadi pada 83% dari pasien. Margin dari massa
dengan attenuation yang rendah ini biasanya poorly defined. Tumor pankreas ini
juga dapat terjadi nekrosis sentral dengan densitas rendah, dan kemudian
membentuk suatu pseudokista kecil. Lebih dari setengah kanker pankreas terjadi
pada kaput pankreas, obstruksi dan dilatasi dari CBD dapat dilihat. Obstruksi
dengan dilatasi yang uniform dari duktus pankreas distal tanpa adanya kalkuli
duktus (dibandingkan dengan dilatasi ireguler pada pankreatitis akut) dan atrofi
kelenjar distal juga merupakan karakteristik pada temuan CT scan. Dilatasi duktal
terjadi pada 58% dari pasien. Diantara pasien dengan dilatasi duktus, 75%
mengalami dilatasi baik duktus pankreatikus maupun biliaris. Dilatasi duktus
pankreas proksimal dari obstruksi terjadi pada 88% dari tumor caput pankreas dan
60% dari neoplasma korpus pankreas. Ukuran duktus pada kanker pankreas
adalah berkisar 5-10 mm, dimana duktus ini dapat mulus ataupun tidak beraturan.
Duktus pankreas berdilatasi sampai lebih dari 50% diameter anteroposterior dari
kelenjar dengan atrofi akibat kanker pankreas tersebut. Pada pankreatitis kronik
dilatasi duktus ini kurang dari 50% dari diameter anteroposterior. Abnormalitas
attenuation dari jaringan lemak peripankreas sugestif terhadap pelebaran atau
invasi dari tumor melebihi batas dari kelenjar pankreas. Jaringan lemak
peripankreas menunjukan peningkatan attenuation. Ekstensi melibatkan jaringan
lemak peripankreas dan struktur sekitarnya dapat dilihat pada CT scan pada 92%
dari pasien kanker pankreas.

Keterlibatan dari vaskular pada kanker pankreas menentukan apakah suatu


tumor dapat di lakukan tindakan bedah atau tidak dan dapat dilihat pada CT scan
sebagai penyempitan, perubahan letak ataupun obliterasi dari lumen pembuluh
darah oleh tumor. Sirkulasi vena kolateral dapat dilihat akibat oklusi vena dengan
contrast-enhanced pada pembuluh darah di sekitar lambung dan hilum splenik.
Adapun arteri-arteri yang terlibat berdasarkan frekuensi berturut adalah arteri
mesentrika superior, splenikus, seliak, hepatis, gastroduodenal dan renalis sinistra.
Penyebaran ke organ sekitarnya dapat melibatkan limpa, lambung, duodenum,
fleksura lienalis dari kolon, mesokolon transversalis, porta hepatis, ginjal, dan
vertebra. Penyebaran tumor posterior ke porta hepatis dapat dilihat pada 68% dari
pasien. Adanya ascites mengindikasikan adanya metastasis peritoneal. Ascites
dapat ditemukan pada 13% pasien dengan kanker pankreas. Metastasis ke kelenjar
limfe regional dilaporkan bervariasi dari 38-65%. Metastasis ke hati umum terjadi
pada kanker pankreas, terjadi pada sekitar 17-55% pasien. Common bile duct
dapat berpindah ke anterior dan medial ketika massa pankreas menyebabkan
obstruksi duktus distal. Dilatasi dukuts intrahepatis dan dilatasi dari gall

Gambaran CT scan menunjukan adanya massa hipodense pada kaput pankreas


(panah). Jaringan pankreas lainnya tampak normal (panah terbuka). Lihat adanya
stent biliaris (kepala panah) yang dimasukan untuk mengatasi obstruksi CBD oleh
tumor. Namun, gallbladder (bintang) masih melebar.
Gambaran CT scan menunjukkan suatu tumor nekrotik yang besar pada
kaput pankreas (panah). Duktus pankreatikus tampak dilatasi (kepala panah).
Lihat adanya lesi hipodens irreguler kecil multipel pada lobus kanan hati (panah
terbuka) menunjukkan adanya metastasis ke hati.

2.7.3 Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan resonansi magnetik


Kolangiopankreatografi (MRCP)

Bukan sebagai metode pilihan untuk diagnosis kanker pankreas, tetapi


ketika pasien alergi dengan kontras ketingkatkan CT maka dapat dilakukan
pemeriksaan scan MRI,tetapi tidak untuk mendeteksi tingkatan stadiumnya.
Selain itu, beberapa lesi sulit untuk dikarakterisasi, berdasarkan pemeriksaan CT
dapat digantikan dengan melakukan MRI, untuk melengkapi kekurangan dari
gambar CT. MRCP dilakukan untuk menentukan perbandingan tanpa obstruksi
bilier dan tempat obstruksi, penyebab obstruktif memiliki keuntungan jelas, dan
Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP), empedu transhepatik
saluran pencitraan alat invasif, dan lebih aman.

2.7.4 Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP)

Gambaran pankreatografi kanker pankreas abnormal pada 95% pasien.


ERCP memiliki tingkat sensitivitas 95% dan sensitifitas 85% untuk keganasan
pankreas. Sebagian besar karsinoma pankreas berasal dari epitel duktal dan
menimbulkan obstruksi duktus komplit dan parsial. Ketika hal ini terjadi pada
kaput pankreas akan mengakibatkan blok komplit dari CBD. Duktus pankreas
menunjukkan dilatasi duktus proksimal dari titik obstruksi dengan pemotongan
tiba-tiba kolom kontras. Pengisian inkomplit dapat dibedakan dari obstruksi
sejalan dengan kolom kontras menghilang secara gradual. Duktus yang tidak terisi
dikarenakan kesalahan teknik merupakan penyebab penting dari temuan postif
palsu. Duktus pankreas antara titik obstruksi dan papila Vater biasanya normal.
Temuan ini penting untuk membedakan karsinoma pankreas dari pankreatitis.
Sedangkan pada pankreatitis duktus ini biasanya abnormal.

Karsinoma pankreas mengakibatkan oklusi komplit dari duktus


pankreatikus utama (panah). Lihat bahwa cabang-cabang di sisi duktus proksimal
dari obstruksi mempunyai kaliber yang normal, membedakannya dengan
obstruksi duktus pankreatikus utama pada pankreatitis kronis.
Keterlibatan pankreas dan CBD, dinamakan double-duct sign, merupakan
tanda yang spesifik untuk karsinoma. Namun hal ini juga dapat terlihat pada
pankreatitis. Gambaran yang lebih meyakinkan adanya suatu neoplasma adalah
adanya lesi biduktal dengan jarak yang dekat yaitu < 1cm, striktur dengan tepi
yang ireguler, dan obstruksi komplit atau tingkat tinggi dari CBD. Striktur yang
terpisah jauh jaraknya serta penyempitan dengan tepi yang mulus
mengindikasikan suatu penyakit yang jinak. Obstruksi biliaris oleh keganasan
pankreas yang menyebabkan jaundice memerlukan tindakan biliary stenting. Rute
terbaik untuk melakukan drainage masih kontroversi. Namun jika endoscopic
stenting gagal ataupun dikontraindikasikan, percutaneous biliary drainage dapat
direkomendasikan.

2.7.5 Angiografi

Angiografi merupakan prosedur invasif yang membutuhkan operator yang


terampil dan teknik radiografik kualitas tinggi. Arteriogram selektif diperoleh
dengan menyuntikkan kontras beriodin melalui axis celiac dan arteri superior
mesenterika dengan beberapa teknik pembesaran yang dibutuhkan untuk hasil
lebih detail.

Karsinoma pancreas relative avaskular dan berhubungan dengan


vaskularisasi baru pada 50% pasien. Keganasan pada pancreas biasanya
ditunjukkan dengan arterial encasement dari peripancreatic vessel atau pembuluh
dalam pancreas. Pembuluh darah yang terlibat adalah superior mesenteric artery
(33%), splenic artery (14%), celiac artery (11%), hepatic artery (11%),
gastroduodenal artery (3%), dan left renal artery (0.6%).

Saat penyakit berlanjut, penyumbatan vena dan venous encasement dengan


pembuluh darah kolateral dapat dijumpai. Encasement vena mesenterika superior
oleh tumor terlihat pada 23% pasien dan pembungkusan splenic vein oleh tumor
pada 15% pasien dengan infiltrasi vena porta 4%.
Penyumbatan total pada splenic vein terlihat pada 34% pasien dan
peyumbatan total pada vena mesenterika superior sebanyak 10%. Karsinoma
páncreas dapat dibedakan dengan pancreatitis. Adanya hipervaskular dengan
perubahan khas dengan dilatasi dari pembuluh darah didalam páncreas merupakan
gambaran pancreatitis.

Sirkulasi mesenterika dievaluasi dengan menggunakan MRA dan


dibandingkan dengan angiografi konvensional. Penggabungan yang baik antara
MRA dan angiografi konvensional. Gd-enhanced MRA berguna pada penilaian
arteri mesenterika proksimal dan penilaian hipertensi portal. Angiografi
konvensional dibutuhkan untuk penilaian arteri intrahepatik dan cabang dari arteri
mesenterika superior.

Karsinoma pankreas merupakan lesi hipovaskular, maka angiografi telah


menggantikan metode pilihan untuk penilaian penyakit parenkim pancreas.

Helical CT angiografi menunjukkan informasi penting tentang pembuluh


darah peripancreatic pada pasien karsinoma pancreas. Pada studi 84 pasien, nilai
prediksi negatif dari tumor yang resectable sebanyak 96% untuk helical CT
angiografi dan axial helical CT dibandingkan dengan hanya helical CT sebesar
70%. Penambahan dari helical CT angiografi meningkatkan kemampuan
radiologist untuk memprediksi resectability dari tumor pankreas. Angiografi
memiliki keakuratan hanya 70% dalam menentukan diagnosa spesifik dari
karsinoma pankreas.

2.8 Penatalaksanaan/Pengobatan Kanker Pankreas

Tindakan bedah yang harus dilakukan biasanya cukup luas jika ingin
mengangkat tumor terlokalisir yang masih dapat direseksi. Namun demikian,
terapi bedah yaitu Definitive (eksisi total lesi), Tidak dapat dilakukan karena
pertumbuhan yang sudah begitu luas. Tindakan bedah tersebut sering terbatas
pada tindakan paliatif.
Meskipun tumor pankreas mungkin resisten terhadap terapi radiasi standar,
pasien dapat diterapi dengan radioterapi dan kemoterapi (Fluorourasil, 5-FU) .
jika pasien menjalani pembedahan, terapi radiasi introperatif (IORT =
Intraoperatif Radiation Theraphy) dapat dilakukan untuk memberikan radiasi
dosis tinggi pada jaringan tumor dengan cedera yang minimal pada jaringan lain
serta dapat mengurangi nyeri pada terapi radiasi tersebut. (Brunner & Suddarth,
2002)

2.9. Makanan Apa bagi Perawatan Pasien Kanker Pankreas

Pasien kanker pankreas harus menghindari minuman keras, makan


berlebihan, alkohol dan makanan tinggi lemak. Pankreas adalah salah satu organ
utama yang mengeluarkan enzim pencernaan, lipase, terutama bergantung pada
pankreas untuk mensekresikan.

Pertama-tama, karena anda membuat pankreas terluka, pencernaan lemak


yang akan terkena dampak serius. Oleh karena itu, pasien kanker pankreas harus
memiliki keteraturan dalam pola makan, tiga sampai lima kali sehari, tidak terus
menerus makan makanan ringan, hal ini akan menyebabkan pankreas tidak
berhenti mengeluarkan cairan, membuat semakin berat beban pankreas. Kalau
begitu, bagaimana memperhatikan makanan bagi penderita kanker pankreas?

1) Pasien kanker pankreas harus makan lebih sedikit atau berhenti makan
lemak daging, telur, makanan berminyak, makanan yang digoreng,
bawang jahe, bawang putih, paprika, dan makanan pedas lainnya, tidak
merokok, minum.
2) Harus mencegah minuman keras, makan berlebih, alkohol dan makanan
tinggi lemak.
3) Pasien kanker pankreas harus memilih makanan kaya nutrisi, mudah
dicerna, rendah lemak, Anda dapat makan makanan yang lebih tinggi
protein, makanan multi-karbohidrat, seperti susu, ikan, hati, telur putih,
pasta, teratai pati akar, jus buah, sup dan sebagainya.
4) Dapat minum obat untuk mengatur nafsu makan pasien, di samping itu,
obat-obatan juga dapat membantu tidur pasien. Tentu saja, saat minum
obat juga harus makan beberapa makanan yang mudah dicerna, dan pasien
kanker pankreas biasanya dapat minum sup hawthorn atau sup kacang
untuk menyeimbangkan nafsu makan (kacang hijau dan kacang merah
direbus, dikupas dan).

Makanan untuk pasien kanker pankreas

1) Makanan untuk meningkatkan kekebalan tubuh, efek anti kanker pankreas


seperti penyu soka, kura-kura, makarel, shad, ular, ubi jalar, kacang merah,
jamur, jujube dan lainnya.
2) Makanan yang memiliki efek antikanker, analgesik, seperti hippocampus,
bass laut, kerang, siput, kenari, bibit gandum, daun bawang, pare.
3) Makanan anti-infeksi: ikan mas, ubur-ubur, saury, kerang, tiram, daging
bebek liar, zaitun, hitam, kacang hijau, kacang merah, labu pahit.

Makanan yang tidak cocok untuk pasien kanker pankreas

1) Makanan berminyak dan tinggi lemak hewani.


2) Makan berlebihan, makan terlalu kenyang.
3) Tembakau, alkohol dan makanan pedas.
4) jamur, goreng, makanan yang diasap, acar.
5) keras, kental dan sulit untuk dicerna makanan.

Ahli Modern Cancer Hospital Guangzhou mengatakan : catatat makanan


pasien kanker pankreas harus wajar dengan proporsi karbohidrat, lemak dan
protein yang sesuai, jumlah lemak dan protein harus sesuai, terutama untuk
makanan yang mudah dicerna dan diserap. Diet yang wajar dapat meningkatkan
daya tahan tubuh pasien kanker pankreas, sangat membantu untuk peningkatan
tubuh. (http://www.asiancancer.com/indonesian/cancer-healthcare/cancer-diet-
therapy/1363.html)
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

I. Identitas pasien
II. Status kesehatan
a) Status Kesehatan saat ini
b) Status Kesehatan Masa lalu
c) Riwayat Penyakit Keluarga
d) Diagnosa Medis dan Therapy
III. Pola Kebutuhan Dasar Manusia
a) Pola Nafas
b) Pola Nutrisi (Makanan dan Minuman)
c) Pola Eliminasi
d) Pola Aktivitas dan Latihan
e) Pola Tidur dan Istirahat
f) Pola Berpakaian
g) Pola Rasa Nyaman
h) Pola Kebersihan Diri
i) Pola Rasa Aman
j) Pola Komunikasi (Hubungan dengan orang lain)
k) Pola Beribadah
l) Pola Produktivitas (Fertilisasi, Libido, Menstruasi, Kontrasepsi, dll)
m) Pola Rekreasi
n) Kebutuhan Belajar
IV. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
b. Tanda- tanda Vital
V. Diagnosa keperawatan
1) Nyeri akut b/d penekanan obstruksi pankreas
2) Gg. Pola napas b/d distensi abdomen ditandai dengan tidak maksimalnya
pola nafas.
3) Perubahan nutrisi Kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
anoreksia, gangguan sekresi insulin, mual diare, keletihan.
4) Intoleransi aktivitas b/d kelemahan
5) Defisit pengetahuan b/d perubahan status kesehatan, prognosis penyakit
dan cara pegobatan

VI. Rencana asuhan keperawatan

No Dx Tujuan Interveni Rasional

1. Nyeri akut b/d Setelah 1) Kaji tanda-tanda 1. Bermanfaat dalam


penekanan diberikan adanya nyeri baik mengevaluasi
obstruksi tindakan verbal maupun nyeri,
pankreas keperawata nonverbal, catat menentukan
selama 3x24jam lokasi, pilihan intervensi,
diharapkan intensitas(skala 0-10) menentukan
nyeri berkurang dan lamanya. efektivitas terapi.
/ terkontrol 2) Letakkan pasien 2. Mencegah hyper
dengan KH: dalam posisi supinasi. ekstensi
-klien mampu 3) pertahankan bel 3. Teknik relakasai
mengontrol pemanggil dan barang dapat
nyeri dan yang sering mengalihkan
menggunakan digunakan dalam perhatian pasien
teknik non jangkauan yang terhadap nyeri.
farmakologi mudah 4. Membantu pasien
untuk 4) ajarkan teknik agar dalam
mengurangi relaksasi (nafas keadaan yang
nyeri dalam), dan nyaman
- mampu pengalihan nyeri 5. Untuk
mengenali nyeri (menonton tv, mengurangi
(skala, mengajak mengobrol) ambang batas
intensitas,frekue 5) Kolaborasi dengan nyeri pasien
nsi)mengatakan dokter,berikan
rasa nyaman mediksi
setelah nyeri analgesik sesuai
berkurang kebutuhan, observasi
efeka.terapeutik
k dan
efekb.samping.

2. Gg. Pola napas setelah 1) Tinggikan posisi 1. Mendorong


b/d distensi diberikan kepala 30o pengembangan
abdomen tindakan 2) Dorong latihan napas diafragma /
ditandai keperawatan dalam ekspansi paru
dengan tidak selama 3 x24 3) Ubah posisi secara optimal &
maksimalnya jam diharapkan periodik meminimalkan
pola nafas. pernapasan 4) Berikan oksigen tekanan isi
pasien normal tambahan abdomen pada
dengan KH: 5) Auskultasi suara rongga thorak
-pasien tidak nafas, catat adanya 2. Meningkatkan
mengalami suara ronchi ekspansi paru
sesak 3. Meningkatkan
pengisian udara
seluruh segment
paru
4. Memaksimalkan
sediaan oksigen
untuk pertukaran
dan penurunan
kerja napas
5. Ronchi
merupakan
indikasi adanya
obstruksi atau
smapasme
laringea yang
membutuhkan
evaluasi dan
intervensi yang
cepat dan tepat.
3 Perubahan Setelah 1) Kaji status nutrisi 1. Untuk
nutrisi Kurang diberikan setiap hari: berat mengetahui status
dari kebutuhan tindakan badan, elektron nutrisi pasien
tubuh yang keperawatan protein 2. Untuk
berhubungan selama 3x24jam total,albumin meningkatkan
dengan diharapkan serum,hemoglobin,t selera makan
anoreksia, nutrisi cairan urgor kulit dan pasien
gangguan pasien terpenuhi massa otot 3. Untuk
sekresi insulin, dengan KH: 2) Berikan makanan mengurangi mual
mual diare, -mual muntah – dalam porsi kecil muntah
keletihan. diare – tapi sering 4. Indikator fisiologi
-BB dapat di 3) Anjurkan oral lanjut dari
pertahankan higine 2 kali sehari dehidrasi dan
4) Obs. Berat badan & kurangnya nutrisi
turgor kulit pasien 5. Untuk
5) Kolaborasi dengan mengetahui
ahli diet klinis : kebutuhan nutrisi
hitung jumlah kalori pasien dan tingkat
dan nutrien yang nutrisi yang
diperlukan untuk sesuai dengan
mempertahankan/m kondisi pasien
enaikkan berat
badab mendukung
kebutuhan
metabolik dan
mempertahankan
glukosa darah
dalam batas normal

4 Intoleransi Setelah 1) Evaluasi respon 1) Menetapkan


aktivitas b/d diberikan pasien terhadap kemampuan
kelemahan asuhan aktivitas, catat pasien
keperawatan peningkatan beraktivitas
selama 3x24 kelelahan & 2) Menurunan stres
diharapkan perubahan TTV & rangsangan
pasien dapat 2) Berikan lingkunag berlebihan,
beraktivitas tenang & batasi meningkatkan
dengan normal pengunjung. Dorong istirahat
dengan KH: penggunaan 3) Pasien mungkin
Pasien tidak manajement stres nyaman dengan
mengeluhkan 3) Bantu pasien kepala
adanya memilih posisi yang ditinggikan
intolerasi nyaman untuk
aktifitas istirahat
6 Defisit Setelah 1. berikan penilaian 1. mengetahui
pengetahuan diberikan askep tentang tingkat tingkat
b/d perubahan selama 3x24 pengetahuan pasien pengetahuan
status jam diharapkan tentang proses pasien
kesehatan,prog pasien mengerti penyakit yang 2. Pasien dan
nosis penyakit tentang spesifik keluarga
dan cara penyakit yang 2. gambarkan tanda dan mengetahui
pegobatan dideritanya gejala yang biasa tentang tanda dan
dengan KH : muncul pada penyakit gejala dari
- pasien dan 3. gambarkan proses penyakit yang
keluarga penyakit dengan cara dialami
menyatakan yang tepat 3. pasien dan
pemahaman 4. sediakan informasi keluarga
tentang tentang kondisi mengetahui
penyakit, 5. diskusikan perubahan tentang
kondisi, gaya hidup yang kondisinya
prognosis, dan mungkin diperlukan 4. mengetahui
program perkembangan
pengobatan kondisi pasien
- - pasien dan 5. untuk mencegah
keluarga komplikasi di
mampu masa mendatang
melaksanakan
prosedur yang
telah
dijelaskan
PENUTUP

Kesimpulan

Kanker pankreas merupakan tumor ganas yang berasal dari sel – sel yang
melapisi saluran pankreas

Gejala Klinis kanker pankreas adalah nyeri pada abdomen yang hebat
khususnya pada epigastrium. Rasa sakit dan nyeri tekan pada abdomen yang juga
disertai nyeri pada punggung, terjadi akibat iritasi dan edema pada pankreas
sehingga terjadi rangsangan pada syaraf. Kerena sumbatan pada duktus
koledoktus maka dapat menyebabkan ikterus.

Penatalaksanaan kanker pankreas adalah pasien dapat diterapi dengan


radio terapi dan kemoterapi (Fluorourasil, 5-FU). Jika pasien menjalani
pembedahan, terapi radiasi intraoperatif (IORT = Intraoperatif Radiation Terapi)
dapat dilakukan untuk memberikan radiasi dosis tinggi pada jaringan tumor
dengan cidera yang minimal pada jaringan lainya serta dapat mengurangi nyeri.

Saran

Diharapkan perawat dapat bertindak secara profesional dalam memberikan


asuhan keperawatan pada pasien dengan kanker pankreas, mampu mengkaji
masalah pasien dengan akurat sehingga dapat dirumuskan suatu doagnosa yang
tepat dan dapat di rancang intervensi yang tepat untuk pasien, melasanakkan
implementasi secara tepat sehingga pada evaluasi dapat diperoleh hasil yang
diharapkan dan sesuai dengna tujuan sehingga masalah dapat teratasi
Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8.


Jakarta: EGC.

Corwin, J. Elizabeth.2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi Rev. 3. Jakarta: EGC.

Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta kedokteran Jilid 1, Jakarta: Media


Aesculapius

Price, Sylvia. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Vol. 2.


Jakarta EGC

Riyadi, Sujono dan Sukarmin. 2013. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan
Gangguan Eksokrin & Endokrin pada Pankreas. Yogyakarta:
Graha Ilmu.