Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Manajemen mengandung tiga prinsip pokok yang menjadi ciri utama penerapannya
yaitu efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya, efektif dalam memililh alternatif kegiatan
untuk untuk mencapai tujuan organisasi, dan rasional dalam pengambilan keputusan
manajerial (Muninjaya, 2004).
Pada fungsi manajemen keperawatan terdapat beberapa elemen utama yaitu Planning
(perencanaan), Organizing (pengaturan), Directing (Pengarahan), Controlling
(Pengendalian/evaluasi).
Pengendalian atau pengevaluasian adalah suatu fungsi yang terus menerus dari
manajemen keperawatan yang terjadi selama perencanaan, pengorganisasian, dan pengerahan
aktivitas. Melalui prsoses ini standar dibuat dan kemudian digunakan, diikuti umpan balik
yang menimbulkan perbaikan (Swansburg, 2000). Huber (2006) menyatakan bahwa fungsi
pengendalian adalah fungsi yang digunakan untuk memantau dan mengatur perencanaan,
proses, dan sumber daya manusia yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan-tujuan yang
telah direncanakan sebelumnya.
Robins & Coulter (2007) menyatakan bahwa fungsi ini adalah fungsi yang terakhir di
dalam manajemen dan fungsi memantau dan mengevaluasi setiap kegiatan yang telah
berjalan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan dan memantau kinerja stafnya, Kinerja
tersebut kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Apabila
kinerja tersebut menyimpang maka fungsi manajemen yang lain diperiksa kembali. Proses
pengendalian ini meliputi memantau, memperbandingkan, dan mengoreksi.

2. Tujuan
Adapun tujuan pengendalian manajemen adalah untuk mengkaji dan menganalisa
fungsi pengendalian (controlling) manajemen mutu pada sebuah rumah sakit mencapai
standarisasi manajemen.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Fungsi Controlling (Pengawasan)


Pengawasan dan Pengendalian merupakan proses akhir dari proses manajemen, dimana
dalam pelaksanaannya proses pengawasan dan pengendalian saling keterkaitan dengan proses-
proses yang lain terutama dalam perencanaan. Pengawasan merupakan pemeriksaan terhadap
sesuatu apakah terjadi sesuai dengan rencana yang ditetapkan/disepakati, instruksi yang telah
dikeluarkan, serta prinsip-prinsip yang telah ditentukan, yang bertujuan untuk menunujukkan
kekurangan dan kesalahan agar dapat diperbaiki (Fayol, 1998 dalm Swansburg).
Pengawasan juga diartikan sebagai suatu suatu usaha sistematik untuk menetapkan
standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang sistem infomasi timbale balik,
membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetan ng d ybelumnnya,
menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan yang
digunakan dengan cara yang paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan perusahaan
(Mockler, 2002). Pengontrolan atau pengevaluasian adalah melihat bahwa segala sesuatu
dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disepakati, instruksi yang diberikan, serta
prinsip-prinsip yang telah diberlakukan (Urwick, 1998).
Dalam proses manajemen ditetapkan suatu standar yang menjadi acuan, diantaranya
yaitu: visi-misi, standar asuhan, penampilan kinerja, keuangan, dan lain sebagainya. Dengan
demikian dalam pelaksanaannya perlu dilakukan pengawasan apakah setiap tahapan proses
manajemen telah sesuai dengan standar atau tidak dan jika ditemukan adanya penyimpangan
maka perlu dilakukan pengendalian sehingga kembali sesuai standar yang berlaku. Komponen
Pengawasan dan Pengendalian adalah : 1) Setting standar, 2) Measuring Perform, 3) Reporting
Result, 4) Corrective Action, 5) Redirection
Tugas seorang manajer dalam usahanya menjalankan dan mengembangkan fungsi
pengawasan manajerial perlu memperhatikan beberapa prinsip berikut (Muninjaya, 2004) :
a. Pengawasan yang dilakukan pimpinan harus dimengerti oleh staff dan hasilnya mudah
diukur, misalnya menepati jam kerja.
b. Fungsi pengawasan merupakan kegiatan yang amat penting dalam upaya mencapai
tujuan organisasi
c. Standar untuk kerja yang akan diawasi perlu dijelaskan kepada seluruh staf, sehingga
staf dapat lebih meningkatkan rasa tanggung jawab dan komitmen terhadap kegiatan
program.

2
d. Control sebagai pengukuran dan koresksi kinerja untuk meyakinkan bahwa sasaran
dan kelengkapan rencana untuk mencapai tujuan telah tersedia, serta alat untuk
memperbaiki kinerja.
Karakteritik suatu sistem kontrol yang baik adalah harus menunjukkan sifat dan
aktivitas, harus melaporkan kesalahan-kesalahan dengan segera, harus memandang ke depan,
harus menunjukkan penerimaan dalam titik kritis, harus objektif, harus fleksibel, harus
menunjukkan pola organisasi, harus ekonomis, harus mudah dimengerti, dan harus
menunjukkan tindakan perbaikan.
Untuk fungsi kontrol dapat dibedakan pada setiap tingkat manajer. Sebagai contoh,
seorang manajer perawat kepala dari satu unit bertanggung jawab mengenai kegiatan
operasional jangka pendek termasuk jadwal harian dan mingguan, dan penugasan, serta
penggunaan sumber-sumber efektif. Kegiatan-kegiatan control untuk perubahan yang cepat.
Dua metode pengukuran yang digunakan untuk mengkaji pencapaian tujuan-tujuan
keperawatan adalah :
a. Analisa tugas : kepala perawat melihat gerakan, tindakan dan prosedur yang tersusun
dalam pedoman tertulis, jadwal, aturan, catatan, anggaran. Hanya mengukur dukungan
fisik saja, dan secara relatif beberapa alat digunakan untuk analisa tugas dalam
keperawatan.
b. Control kualitas : kepala perawat dihadapkan pada pengukuran kualitas dan akibat-akibat
dari pelayanan keperawatan.

Manfaat pengawasan
Fungsi pengawasan dan pengendalian dapat dilaksanakan dengan tepat, maka akan
diperoleh manfaat : dapat diketahui apakah suatu kegiatan atau program telah dilaksanakan
sesuai dengan standar atau rencana kerja, dapat diketahui adanya penyimpangan pada
pengetahuan dan pengertian serta dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dapat diketahui
apakah waktu dan sumber daya lainnya telah mencukupi kebutuhan dan telah digunad
nkmkan secara benar, dan dapat diketahui oleh staf yang perlu diberikan penghargaaan atau
bentuk promosi dan latihan lanjutan.

2. Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu adalah pengendalian kualitas melibatkan pengembangan sistem
untuk memastikan bahwa produk dan jasa dirancang dan diprosuksi untuk memenuhi atau
melampaui persyaratan dari pelangggan maupun produsen sendiri. Sistem-sistem ini sering

3
menggunakan pendekatan lintas fungsional. ISO 9000 atau TQM (Total Quality
Management) adalah contoh standar dan pendekatan yang digunakan untuk pengendalian
mutu. TQM adalah suatu sistem untuk meningkatkan mutu jasa dan produk. Manajemen
mutu akan dikaitkan dengan QAP (Quality Assurance Program) atau PJM (Program Jaminan
Mutu) (Muninjaya, 2004).
Ada tiga pengertian dasar yang dipakai untuk memahami konsep tentang PJM
(Muninjaya, 2004), yaitu :
1. Karakteristik dan falsafah kegiatan PJM
Program jaminan mutu adalah suatu upaya yang dilaksanakan secara berkesinmabungan,
sistematis, objektif, dan terpadu untuk :
a) Menetapkan masalah mutu dan penyebabnya berdasarkan standar yang telah
ditetapkan
b) Menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan
kemampuan yang tersedia
c) Menilai hasil yang dicapai
d) Menyusun rencana tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu
2. Tujuan PJM
Ada dua tujuan yaitu tujuan antara dan tujuan akhir. Tujuan antara adalah tujuan
pengembangan mutu, dimana masalah mutu dijadikan dasar untuk menetapkan tujuan
peningkatan mutu yang akan dicapai. Tujuan akhir yang ditetapkan untuk menjaga mutu
pelayanan kesehatan adalah meningkatnya mutu produk dan jasa pelayanan kesehatan.
Tujuan ini terkait dengan kepuasan konsumen, termasuk turunnya biaya (cost) produksi jasa
pelayanan.
3. Kegiatan PJM
Ada dua faktor penting kegiatan PJM :
1) Persiapan, yaitu: menumbuhkan komitmen pimpinan institusi, membentuk tim atau
gugus kendali mutu, menyelenggarakan pelatihan staff, menetapakan batasan wewenang,
tanggung jawab, dan mekanisme kerja, menetapkan jenis dan ruang lingkup program,
merumuskan dan mensosialisasikan standar PJM.
2) Pelaksanaan, yaitu: menetapkan masalah mutu institusi, menetapkan penyebab masalah
mutu, menetapkan cara penyelesaian masalah mutu, menyelesaikan cara-cara untuk
menyelesaikan mutu, menilai hasil yang telah dicapai, dan menyusun sasaran tindak
lanjut.

4
Sasaran PJM
Pendekatan sistem digunakan untuk menetapkan berbagai jenis sasaran PJM. Ada
empat komponen pokok yang menjadi sasaran PJM (Muninjaya, 2004) : komponen masukan
(input) pelayanan, komponen lingkungan (environment), komponen proses (process), dan
unsur keluaran (output)
Ada tiga aksioma atau kunci utama proses pengembangan mutu yang dikenal dengan
segitiga TQM yang terdiri dari, komitmen, pendekatan ilmiah dalam menganalisis, dan
keterlibatan semua staff dalam proses pengembangan mutu pelayanan (Muninjaya, 2004).
Komponen utama manajemen mutu terdiri dari komitmen untuk mengembangkan
mutu. Komitmen harus diawali dengan tumbuhnya obsesi dari pimpinan organisasi untuk
terus meningkatkan kualitas produk dan pelayanan organisasi yang mereka pimpin. Setiap
merancang produk dan pelayanan atau mengambil keputusan harus disertai dengan upaya
penilaian menggunakan pendekatan ilmiah. Untuk maksud tersebut, dibutuhkan proses
perekaman data (hasil) kegiatan dan analisisnya menggunakan computer. Selain itu, semua
staff yang bekerja dalam suatu organisasi harus disadarkan tentang pentingnya peran mereka
dalam mengembangkan proses menghasilkan produk dan pelayanan yang bermutu.
Berbagai kegiatan yang terfokus untuk menjamin kepuasan pasien dapat
dikembangkan asal tidak melanggar standard operating procedure (standar prosedur
pelaksanan) dan etika profesi. Untuk mengawali manajemen mutu di RS unit kerja PJM perlu
dibentuk dan diaktifkan perannya. Peningkatan mutu produk dan pelayanan harus dikaitkan
dengan manajemen pelayanan kesehatan yang berlaku di RS tersebut (Muninjaya, 2004).

A. Pengendalian SDM
Tenaga Keperawatan merupakan salah satu sumber daya manusia dalam suatu unit
pelayanan keperawatan. Dimana kualitas pelayanan keperawatan sangat berkaitan erat dengan
kualitas sumber daya manusianya, sehingga perlu dilakukan upaya yang terus menerus untuk
meningkatkan kualitas kerja perawat yaitu dengan melakukan penilaian kinerja.
Menurut Gillies (1996). Untuk mengevaluasi bawahan secara tepat dan adil, manajer
sebaiknya mengamati prinsip-prinsip tertentu. Evaluasi pekerja sebaiknya didasarkan pada
standar pelaksanaan kerja orientasi tingkah laku untuk posisi yang ditempati (Romber, 1986
dikutip Gillies, 1996). Dalam penilaian pelaksanaan kerja pegawai, manajer sebaiknya
menunjukkan segi-segi dimana pelaksanaan kerja itu bisa memuaskan dan perbaikan apa
yang diperlukan. Supervisor sebaiknya merujuk pada contoh-contoh khusus mengenai
tingkah laku yang memuaskan maupun uang tidak memuaskan supaya dapat menjelskan

5
dasar-dasar komentar yang bersifat evaluative. Jika diperlukan, manajer sebaiknya
menjelaskan area mana yang akan diprioritaskan seiring dengan usaha perawat untuk
meningkatkan pelaksanaan kerja (Gillies, 1996).
Pertemuan evaluasi sebaiknya dilakukan pada waktu yang cocok bagi perawat dan
manajer, diskusi evaluasi sebaiknya dilakukan dalam waktu tang cukup bagi keduanya. Baik
laporan evaluasi maupun pertemuan sebaiknya disusun dengan terencana sehingga perawat
tidak merasa kalau pelaksanaan kerjanya sedang dianalisa. Seorang pegawai dapat bertahan
dari kecaman seorang manajer yang mempertimbangkan perasaannya serta menawarkan
bantuan untuk meningkatkan pelaksanaan kerjanya (Gillies, 1996).
1. Manfaat yang dapat dicapai dalam penilaian kerja
Manfaat penilaian kerja dapat dijabarkan menjadi enam (Gillies, 1996), yaitu :
a. Meningkatkan prestasi kerja staff baik secara individu atau kelompok dengan
memberikan kesempatan pada mereka untuk memnuhi kebutuhan aktualisasi diri dalam
kerangka pencapaian tujuan pelayanan rumah sakit.
b. Peningkatan yang terjadi pada prestasi staff secara perorangan pada gilirannya akan
mempengaruhi atau mendorong SDM secara keseluruhannya.
c. Merangsang minat dalam pengembangan pribadi dengan tujuan meningkatkan hasil
karya dan prestasi dengan car memberikan umpan balik kepada mereka tentang prestasi.
d. Membantu RS untuk dapat menyusun program pengembangan dan pelatihan staf yang
lebih tepat guna. Sehingga RS akan mempunyai tenaga yang cakap dan tampil untuk
pengembangan pelayanan keperawatan di masa depan.
e. Menyediakan alat dan sarana untuk membandingkan prestasi kerja dengan meningkatkan
gajinya atau sistem imbalan yang baik.
f. Memberikan kesempatan kepada pegawai atau staff untuk mengeluarkan perasaannya
tentang pekerjaannya atau hal lain yang ada kaitannya melalui jalur komunikasi dan
dialog, sehingga dapat mempererat hubungan antara atasan dengan bawahan.
Dengan manfaat tersebut diatas maka dapat diidentifikasi siapa saja staff yang
mempunyai potensi untuk dikembangkan karirnya dapat dicalonkan untuk menduduki jabatan
serta tanggung jawab yang lebih besar pada masa yang akan datang atau mendapatkan
imbalan yang lebih baik. Sedangkan bagi karyawan yang terhambat disebabkan karena
kemauannya serta motivasi dan sikap yang kurang baik maka perlu diberikan berupa teguran
atau konseling oleh atasannya langsung.

6
2. Sarana Pengawasan : Disiplin
Disiplin dapat didefenisikan sebagai suatu pelatihan atau pembentukan pikiran dan
karakter untuk memperoleh perilaku yang diinginkan. Disiplin berbeda dengan hukuman.
Hukuman sebagi suatu peristiwa yang tak diinginkan akibat sesuatu hal daari perilaku yang
tak dapat diterima dan tidak diinginkan untuk mengurangi frekuensi perliaku tersebut (Guffey
& Helms, 2001 dalam Marquis dan Huston, 2003).
Disiplin yang konstruktif
Disiplin konstruktif artinya meggunakan disiplin dalam arti bantuan untuk
pertumbuhan karyawan, bukan sebagai bentuk hukuman. Hukuman selalu berkaitan dengan
disiplin. Dalam disiplin konstruktif, hukuman mungkin saja diberikan pada tingkah laku yang
tidak sesuai, tetapi hal tersebut disampaikan dalam tindak tanduk yang penuh suportif dan
korektif. Karyawan diyakinkan bahwa hukuman yang diterimanya merupakan akibat dari
tindakannya bukan karena siapa dirinya (Marquis dan Huston, 2003).
Disiplin diri dan norma kelompok
Tingkat tertinggi dan paling efektif dari disiplin yaitu disiplin diri. Disiplin diri
terdorong jika karyawan maerasa aman, jelas dan dihargai nilainya, identitas dan
integritasnya. Curtin mendefenisikan displin diri sebagai proses ketika peraturan dan
terinternalisasi dan menjadi bagian dari kepribadian seseorang (Marquis dan Huston, 2003).

B. Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan kebutuhan
pelanggan dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila pelayanan tersebut dapat
memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan. Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan
elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisien dan lebih efektif.
Apabila pelanggan merasa tidak puas terhadap suatu pelayanan yang disediakan, maka
pelayanan tersebut dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. Kepuasan pelanggan
adalah indikator pertama dari standar suatu rumah sakit dan merupakan suatu ukuran mutu
pelayanan.
Kepuasan pelanggan, sangat berhubungan dengan kenyaman, keramahan, dan
kecepatan pelayanan. Bentuk konkret untuk mengukur kepuasan pelanggan rumah sakit,
dalam seminar survai kepuasan pelanggan di RS, Junadi (2007), mengemukakan ada empat
aspek yang dapat diukur yaitu:

7
1. Kenyaman, aspek ini dijabarkan dalam pertanyaan tentang lokasi rumah sakit,
kebersihan, kenyamanan ruangan, makanan dan minuman, peralatan ruangan, tata letak,
penerangan, kebersihan WC, pembuangan sampah, kesegaran ruangan dll.
2. Hubungan pelanggan dengan petugas Rumah Sakit, dapat dijabarkan dengan pertanyaan
yang menyangkut keramahan, informasi yang diberikan, sejauh mana tingkat
komunikasi, responsi, support, seberapa tanggap dokter/perawat di ruangan IGD, rawat
jalan, rawat inap, farmasi, kemudahan dokter/perawat dihubungi, keteraturan pemberian
meal, obat, pengukuran suhu dsb.
3. Kompetensi teknis petugas, dapat dijabarkan dalam pertanyaan kecepatan pelayanan
pendaftaran, ketrampilan dalam penggunaan teknologi, pengalaman petugas medis, gelar
medis yang dimiliki, terkenal, keberanian mengambil tindakan, dsb.
4. Biaya, dapat dijabarkan dalam pertanyaan kewajaran biaya, kejelasan komponen biaya,
biaya pelayanan, perbandingan dengan rumah sakit yang sejenis lainnya, tingkat
masyarat yang berobat, ada tidaknya keringan bagi masyarakat miskin.
Dalam konsep quality assurance (QA), kepuasan pelanggan dipandang sebagai unsur
penentu penilaian baik buruknya sebuah rumah sakit. Unsur penentu lainnya dari empat
komponen yang mempengaruhi kepuasan adalah: aspek klinis, efisiensi dan efektivitas dan
keselamatan pelanggan. Aspek Klinis, merupakan komponen yang menyangkut pelayanan
dokter, perawat dan terkait dengan teknis medis. Efisiensi dan efektivitas, menunjuk pada
pelayanan yang murah, tepat guna, tidak ada diagnosa dan terapi yang berlebihan. Aspek
Keselamatan pelanggan, adalah upaya perlindungan pelanggan dari hal-hal yang dapat
membahayakan keselamatan pelanggan, seperti jatuh, kebakaran, dll.
Jaminan mutu pelayanan di Rumah Sakit (RS) merupakan salah satu faktor penting
dan fundamental khsususnya bagi manajemen RS itu sendiri, pasalnya dampak dari QA
menentukan hidup matinya sebuah rumah sakit. Bagi Rumah Sakit, adanya QA yang baik
tentu saja membuat RS mampu untuk bersaing dan tetap exist di masyarakat. Bagi pelanggan,
QA dapat dijadikan sebagai faktor untuk memilih RS yang bermutu dan baik. Bagi praktisi
medis, selain terikat dengan standar profesinya, dengan adanya QA para praktisi medis
dituntut untuk semakin teliti, telaten, dan hati2 dalam menjaga mutu pelayanannya. Dan bagi
pemerintah sendiri, adanya QA dapat menjadikan standar dalam memutuskan salah benarnya
suatu kasus yang terjadi di Rumah sakit (Heriandi, 2007)

8
C. Pengendalian Infeksi Nosokomial
Pencegahan infeksi nosokomial yang dikemukakan oleh WHO (2002) menyatakan
bahwa infeksi nosokomial membutuhkan keterpaduan, pemantauan, dan program dari semua
tenaga kesehatan profesional yang meliputi: dokter, perawat, terapis, apoteker, dan lain-lain.
Pencegahan infeksi nosokomial yang menjadi kunci utama yaitu: (1) membatasi transmisi
organisme antara pasien dalam melakukan perawatan pasien secara langsung melalui cuci
tangan, menggunakan sarung tangan, teknik aseptik yang tepat, strategi isolasi, sterilisasi dan
teknik desinfektan; (2) mengendalikan lingkungan yang berisiko untuk infeksi; (3)
melindungi pasien dengan penggunaan profilaksis antimikroba yang tepat, nutrisi, dan
vaksinasi; (4) membatasi risiko terjadinya infeksi endogenous dengan meminimalkan
prosedur invasive, dan mempromosikan penggunaan antimikroba yang optimal; (5)
surveilans infeksi, mengidentifikassi dan mengendalikan wabah; (6) pencegahan infeksi pada
tenaga kesehatan; (7) meningkatkan pelayanan asuhan keperawatan secara terus menerus
dengan memberikan pendidikan.
Peran perawat dalam pengendalian infeksi adalah menyediakan layanan konsultasi
mengenai semua aspek pencegahan dan pengendalian infeksi dengan menggunakan metode
yang berdasarkan bukti penelitian, praktisi, dan keefektifan biaya (Brooker, 2008).
Pelaksanaan praktik asuhan keperawatan untuk pengendalian infeksi nosokomial adalah
bagian dari peran perawat (WHO, 2002).
WHO (2002) dalam jurnal Prevention of Hospital-Acquired Infection menyatakan
bahwa kepala ruangan bertanggung jawab untuk (1) berpartisipasi dalam Komite
Pengendalian Infeksi; (2) mempromosikan pengembangan dan peningkatan teknik
keperawatan yang berkaitan dengan pengendalian infeksi nosokomial, dan pengawasan
teknik aseptik yang dilakukan oleh perawat dengan persetujuan Komite Pengendalian Infeksi;
(3) mengembangkan pelatihan program bagi setiap perawat; (4) mengawasi pelaksanaan
teknik pencegahan infeksi di daerah khusus seperti ruang operasi, ruang perawatan intensif,
ruang persalinan, dan ruang bayi baru lahir; (5) pemantauan kepatuhan perawat terhadap
kebijakan yang dibuat oleh kepala ruangan. Peran perawat selain yang diatas adalah
bertanggung jawab atas lingkungan yaitu: (1) menjaga kebersihan rumah sakit yang
berpedoman terhadap kebijakan rumah sakit dan praktik keperawatan; (2) pemantauan teknik
aseptik termasuk cuci tangan dan penggunaan isolasi, (3) melapor kepada dokter jika ada
masalah-masalah yang dihadapi terutama jika ditemui adanya gejala infeksi pada saat
pemberian layanan kesehatan; (4) melakukan isolasi jika pasien menunjukkan tanda-tanda
dari penyakit menular, ketika layanan kesehatan tidak tersedia; (5) membatasi paparan pasien

9
terhadap infeksi yang berasal dari pengujung, staf rumah sakit, pasien lain, atau peralatan
yang digunakan untuk diagnosis atau asuhan keperawatan; (6) mempertahankan suplai
peralatan, obat-obatan dan perlengkapan perawatan yang aman dan memadai di ruangan.
Perawat yang bertanggung jawab dalam pengendalian infeksi adalah perawat yang
menjadi anggota dari tim pengendalian infeksi yang bertanggung jawab untuk (1)
mengidentifikasi infeksi nosokomial; (2) melakukan penyelidikan terhadap jenis infeksi dan
organisme yang menginfeksi; (3) berpartisipasi dalam pelatihan; (4) surveilans infeksi di
rumah sakit; (5) berpartisipasi dalam penyelidikkan wabah; (6) memastikan kepatuhan
perawat terhadap peraturan pengendalian infeksi lokal maupun nasional; (7) menyediakan
layanan konsultasi untuk petugas kesehatan dan program rumah sakit yang sesuai dalam hal-
hal yang berhubungan dengan penularan infeksi.

Metode Evaluasi
a) Anecdotal records
Penilaian yang didasarkan pada catatan kinerja staf keperawatan pada periode tertentu
b) Check list
Penilaian yang menggunakan instrument khusus dapat melalui observasi maupun
kuesioner, dimana dalam instrument tersebut sudah terdapat pernyataan-pernyataan yang tinggal
di check list sesuai kinerja yang ditampilkan staf perawat
c) Rating scales
Penilaian yang menggunakan skala yang member gambaran mulai dari kinerja tinggi
sampai rendah
d) Metode manajemen berdasarkan sasaran (Management By Objective-MBO) merupakan suatu
program penilaian dan penetapan tujuan diseluruh organisasi yang komfrehensif dengan
menetapkan tujuan organisasi, menetapkan tujuan departemental, membahas tujuan departemen,
menetapkan sasaran yang diharapkan, mengukur hasilnya dengan tolok ukur yang telah
disepakati, sehingga dapat digunakan sebagai umpan balik secara berkala.
e) Peer review
Penilaian dilakukan oleh kelompok khusus yang memiliki profesi dan keilmuan yang
sama.
f) Critical incident
Penilai membuat buku harian yang berisi contoh-contoh yang diinginkan atau tidak
diinginkan atau insiden dari perilaku staf perawat yang berhubungan dengan kerja masing-masing
jawaban.

10