Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH TUGAS BESAR KONSTRUKSI BANGUNAN

SEKOLAH DUA TINGKAT

Disusun Oleh:

Gabriel Reyes (1606890845)


Joshua Ferdinand (1606883713)
Michael Binsar (1606883530)

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2018

Universitas Indonesia 1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat-
Nya penulisan makalah ini bisa diselesaikan tepat waktu. Tak lupa, terima kasih juga
kepada saudara Raymond, selaku asisten mata kuliah ini dan dosen kami Ibu Anti dan Pak
Josia karena telah membimbing kami dalam proses penyusunan makalah ini.
Kami berharap dengan dibuatnya makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
bermanfaat bagi semua orang. Terutama pengetahuan tentang bangunan dua tingkat. Kami
sadar bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Kami meminta maaf apabila terdapat salah
penulisan kata atau ada kata yang menyinggung para pembaca. Oleh karena itu kami
membutuhkan kritik dan saran dari para pembaca untuk dapat membuat makalah ini menjadi
lebih baik.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, semoga dengan dibuatnya makalah ini dapat
membuat pembaca dan penulis bertambah pengetahuan serta pengalamannya.

Depok, 26 Maret 2018

Tim Penyusun

Universitas Indonesia 2
ABSTRAK
Pendidikan adalah salah satu kebutuhan pokok manusia saat ini. Pendidikan dapat
dijadikan tempat untuk menimba ilmu. Namun, sarana untuk menempuh Pendidikan itu
sendiri menjadi salah satu kebutuhan yang sulit untuk dipenuhi sekarang ini. Kesulitan
pembangunan sekolah tersebut diakibatkan karena lahan yang sudah tidak mencukupi untuk
membangun Gedung baru. Oleh karena itu, inovasi untuk membuat sekolah bertingkat
menjadi suatu solusi guna menggunakan efektivitas lahan yang ada sekarang ini.
Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai definisi, standard, dan peraturan- peraturan
yang berhubungan dengan bangunan bertingkat dua. Dengan adanya pembahasan tersebut,
diharapkan semakin banyak sumber daya manusia yang mengerti mengenai pembangunan
gedung bertingkat dua lantai agar sesuai dengan standar dan peraturan yang ada.


Universitas Indonesia 3
DAFTAR ISI
JUDUL 1
KATA PENGANTAR 2
ABSTRAK 3
BAB I. PENDAHULUAN 5
I.1. Latar belakang masalah 5
I.2. Pokok permasalahan 5
I.3. Tujuan penulisan 6
I.4. Batasan masalah 6
I.5. Manfaat kajian 6
I.6. Sistematika penulisan 6
8
BAB II. BANGUNAN BERTINGKAT 2 LANTAI 8
II.1. Definisi 8
II.2. Syarat-syarat dan kriteria 17
II.3. Standar peraturan 23
II.4. Bangunan Tahan Gempa untuk bangunan bertingkat 26

BAB III. HASIL PENGAMATAN 26


III.1. Kondisi Bangunan Bertingkat 2 Lantai
 26
III.2. Perbandingan dengan Bangunan berdasarkan fungsi

Universitas Indonesia 4
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar belakang masalah


Sekolah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bangunan atau
lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.
Tentunya seluruh siswa menghabiskan waktu lebih dari 50% dari waktu hidupnya di
lingkungan sekolah. Pertimbangan-petimbanganpun muncul tentang bagaimana
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, proporsional, dan aman yang tentunya
mengacu pada standar-standar yang ditetapkan oleh pemerintah.Berbeda dengan
pekerjaan konstruksi bangunan (hunian/tempat tinggal/pendidikan), sekolah juga harus
mempertimbangkan luas halaman sekolah dan luas lapangan sekolah. Ini membuktikan
efisiensi dari penggunaan lahan yang lebih baik dengan dibangunnya sekolah
berlantai 2. Sehingga, sekolah 2 lantai merupakan solusi yang dapat digunakan
karena lahan di perkotaan mulai terbatas. Sebenarnya, dari sisi kegunaan dan fungsinya
tetap sama dan tidak terlalu berbeda antara sekolah lantai 1 atau 2. Namun tentunya
banyak elemen dan komponen sekolah yang berbeda antara sekolah lantai 1 atau lebih.
Untuk mengetahui elemen dan komponen apa saja yang ada pada sekolah tinggal lantai
2 maka kami pun membuat makalah ini. Pada makalah ini akan diidentifikasi detail
dari sekolah 2 lantai yang berlokasi di Kecamatan Pancoran Mas dan akan dibandingkan
dengan standar yang ada. Serta dalam makalah ini dapat diketahui syarat dan kriteria
bangunan berlantai 2.

I.2. Pokok permasalahan


• Bagaimana standar yang harus ditetapkan pada pembangunan sekolah dua lantai?
• Bagaimana perbedaan dalam segi konstruksi pada sekolah 1 lantai dan 2 lantai?
• Bagaimana kondisi sekolah yang disurvei?

I.3. Tujuan penulisan


- Tujuan Umum
Penulisan makalah ini dilakukan untuk memenuhi tugas konstruksi bangunan.

Universitas Indonesia 5
- Tujuan Khusus
1. Mengetahui perbedaan dalam segi konstruksi pada sekolah lantai 1 dan
lantai 2.
2. Mengetahui perencanaan bangunan bertingkat 2 berdasarkan standar.

I.4. Batasan masalah


Makalah ini ditulis dengan pembatasan berupa peraturan bangunan berlantai 2,
syarat dan kriteria bangunan berlantai 2, dan pengaruh luas bangunan dengan jumlah
penghuni bangunan tersebut. Selain itu tujuan dari makalah ini juga dibatasi untuk
memenuhi tugas mata kuliah konstruksi bangunan serta mengetahui syarat dan kriteria
bangunan berlantai 2. Makalah ini juga berisi tentang alat pemadam kebakaran pada
bangunan berlantai 2, serta untuk mengetahui bangunan yang cocok untuk bangunan
tahan gempa.

I.5. Manfaat Kajian


• Mengetahui standar peraturan bangunan berlantai 2
• Mengetahui syarat dan kriteria bangunan berlantai 2
• Mengetahui pengaruh luas bangunan dengan banyaknya penghuni
• Mengetahui alat untuk memadamkan api pada bangunan berlantai 2
• Mengetahui kriteria bangunan berlantai 2 yang cocok untuk tahan gempa.

I.6. Sistematika penulisan


• JUDUL
• KATA PENGANTAR
• ABSTRAK

• DAFTAR ISI
• DAFTAR GAMBAR
• DAFTAR TABEL
• DAFTAR LAMPIRAN
• BAB I. PENDAHULUAN
o I.1. Latar belakang masalah
o I.2. Pokok permasalahan
o I.3. Tujuan penulisan
o I.4. Batasa nmasalah

Universitas Indonesia 6
o I.5. Manfaat kajian
o I.6. Sistematika penulisan
• BAB II. BANGUNAN BERTINGKAT 2 LANTAI
o II.1. Definisi
o II.2. Syarat-syarat dan kriteria
o II.3. Standar peraturan
o II.4. Bangunan Tahan Gempa untuk bangunan bertingkat
• BAB III. HASIL PENGAMATAN
o III.1. Kondisi Bangunan Bertingkat 2 Lantai

o III.2. Perbandingan dengan Bangunan berdasarkan fungsi
• BAB IV. ANALISA DAN PERHITUNGAN RENCANA ANGGARAN BIAYA
o IV.1. Analisa Bangunan Bertingkat 2 Lantai
o IV.2. Usulan Bangunan Bertingkat Tahan Gempa
o IV.3 Perhitungan Rencana Anggaran Biaya
• BAB V. PENUTUP DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 


Universitas Indonesia 7
BAB II
BANGUNAN BERTINGKAT 2 LANTAI

II.1. Definisi
Bangunan bertingkat adalah bangunan yang mempunyai lebih dari satu lantai
secara vertikal. Bangunan bertingkat ini dibangun berdasarkan keterbatasan tanah yang
mahal di perkotaan dan tingginya tingkat permintaan ruang untuk berbagai macam
kegiatan. Semakin banyak jumlah lantai yang dibangun akan meningkatkan efisiensi
lahan perkotaan sehingga daya tampung suatu kota dapat ditingkatkan, namun di lain
sisi juga diperlukan tingkat perencanaan dan perancangan yang semakin rumit,
yang harus melibatkan berbagai disiplin bidang tertentu. (Undang undang No 28 Tahun
2002 tentang Bangunan Gedung)
Bangunan bertingkat pada umumnya dibagi menjadi dua, bangunan bertingkat
rendah dan bangunan bertingkat tinggi. Pembagian ini dibedakan berdasarkan
persyaratan teknis struktur bangunan. Bangunan dengan ketinggian di atas 40 meter
digolongkan ke dalam bangunan tinggi karena perhitungan strukturnya lebih kompleks.
Berdasarkan jumlah lantai, bangunan bertingkat digolongkan menjadi bangunan
bertingkat rendah (2 – 4 lantai) dan bangunan berlantai banyak (5 – 10 lantai) dan
bangunan pencakar langit. Pembagian ini disamping didasarkan pada sistem struktur
juga persyaratan sistem lain yang harus dipenuhi dalam bangunan. (PP no. 36 tahun
2005 tentang Bangunan)

II.2. Syarat-syarat dan kriteria


Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan tata bangunan dan
persyaratan kendala bangunan gedung. Persyaratan tata bangunan dan lingkungan
meliputi peruntukan, intensitas, arsitektur bangunan gedung, dan pengendalian dampak
lingkungan. Sedangkan persyaratan kendala meliputi persyaratan keselamatan,
kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan (PUPR, 2007)

Universitas Indonesia 8
2.1. Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan
Persyaratan tata bangunan dan lingkungan bangunan bertingkat diatur
dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pembangunan Gedung Sederhana Bertingkat, yaitu :
• Peruntukan Lokasi dan Intensitas Bangunan
1. Peruntukan Lokasi
Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan
lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari
lokasi yang bersangkutan. Ketentuan tata ruang dan tata bangunan
ditetapkan melalui: i. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah; ii.
Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR); dan iii. Peraturan bangunan setempat
dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).
2. Intensitas Bangunan Gedung
Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan
kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana tata
ruang wilayah daerah yang bersangkutan, rencana tata bangunan dan
lingkungan yang ditetapkan, dan peraturan bangunan setempat. Kepadatan
bangunan sebagaimana dimaksud meliputi ketentuan tentang Koefisien
Dasar Bangunan III-4 (KDB), yang dibedakan dalam tingkatan KDB
padat, sedang, dan renggang.
3. Arsitektur Bangun Gedung
a. Persyaratan Penampilan Bangunan Gedung
Bentuk denah bangunan gedung rusun bertingkat tinggi sedapat
mungkin simetris dan sederhana, guna mengantisipasi kerusakan yang
diakibatkan oleh gempa. Dalam hal denah bangunan gedung berbentuk T,
L, atau U, atau panjang lebih dari 50 m, maka harus dilakukan
pemisahan struktur atau delatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan
akibat gempa atau penurunan tanah. Atap bangunan gedung harus
dibuat dari konstruksi dan bahan yang ringan untuk mengurangi
intensitas kerusakan akibat gempa.
b. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir
Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah, jelas dan
terintegrasi dengan sarana transportasi baik yang bersifat pelayanan

Universitas Indonesia 9
publik maupun pribadi. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh
mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan.
c. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan Gedung
Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan
memperhatikan karakter lingkungan, fungsi dan arsitektur bangunan.
Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan
pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum.
Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan
ruang luar yang berlebihan, silau, visual yang tidak menarik, dan telah
memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan.
4. Pengendalian Dampak Lingkungan
Setiap kegiatan dalam penyelenggaraan rusun bertingkat tinggi tidak
diperbolehkan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan yang
meliputi :
a. Perubahan pada sifat-sifat fisik dan/atau hayati lingkungan, yang
melampaui baku mutu lingkungan menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan.
b. Perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui
kriteria yang diakui, berdasarkan pertimbangan ilmiah.
c. Hal-hal yang mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan/atau
endemik, dan/atau dilindungi menurut ketentuan peraturan perundang-
undangan terancam punah, atau habitat alaminya mengalami kerusakan;
▪ Hal-hal yang menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap
kawasan lindung (hutan lindung, cagar alam, taman nasional,suaka
margasatwa, dan sebagainya) yang telah ditetapkan menurut
ketentuan peraturan perundang-undangan.
▪ Hal-hal yang merusak atau memusnahkan benda-benda dan
bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi.
▪ Hal-hal yang mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai
nilai keindahan alami yang tinggi.
▪ Hal-hal yang mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau
kontroversi dengan masyarakat, dan/atau pemerintah.

Universitas Indonesia 10
2.2. Persyaratan Kendala Bangunan Gedung
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05 tahun 2007 tentang Pedoman
Teknis Pembangunan Bangunan Susun Sederhana Bertingkat Tinggi juga
mengatur persyaratan kendala bangunan gedung, yaitu :
• Persyaraan Keselamatan
1. Persyaratan Struktur Bangunan Gedung
Setiap bangunan rusun bertingkat tinggi, strukturnya harus
direncanakan dan dilaksanakan agar kuat, kokoh, dan stabil dalam
memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan
(safety), serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama
umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi
bangunan gedung, lokasi, keawetan, dan kemungkinan pelaksanaan
konstruksinya.
Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-
pengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja
selama umur layanan struktur, baik beban muatan tetap maupun beban
muatan sementara yang timbul akibat gempa, angin, pengaruh korosi, jamur,
dan serangga perusak.
Dalam perencanaan struktur bangunan rusuna bertingkat tinggi terhadap
pengaruh gempa, semua unsur struktur baik bagian dari sub struktur maupun
struktur gedung, harus diperhitungkan dapat memikul pengaruh gempa
rencana sesuai dengan zona gempanya.

2. Persyaratan kemampuan bangunan rusun bertingkat tiggi terhadap bahaya


kebakaran
Bangunan rusun bertingkat tinggi harus dilengkapi dengan sistem
proteksi pasif dan sistem proteksi aktif.
✓ Sistem proteksi pasif :
• Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi
resiko kebakaran, geometri ruang, bahan bangunan terpasang, dan/atau
jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung.
• Sistem proteksi pasif mengikuti peraturan :

Universitas Indonesia 11
o SNI 03-1736-2000 Tata cara perencanaan sistem proteksi pasif
untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung, atau
edisi terbaru.
o SNI 03-1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana
jalan ke luar untuk penyelamatan terhadapbahaya kebakaran pada
bangunan gedung, atau edisi terbaru.
✓ Sistem proteksi aktif :
• Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi, harus dilindungi terhadap
bahaya kebakaran dengan proteksi aktif.
• Pada sistem proteksi aktif yang perlu diperhatikan meliputi:
- Sistem Pemadam Kebakaran baik berupa APAR, sprinkler, hidran
box maupun hidran pilar/halaman.
- Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran.
- Sistem Pengendalian Asap Kebakaran.
- Pusat Pengendali Kebakaran.
- Sistem Proteksi Aktif harus mengikuti :
o SNI 03-3987-1995 Tata cara perencanaan, pemasangan
pemadam api ringan untukpencegahan bahaya kebakaran pada
bangunan rumah dan gedung
o SNI 03-1745-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan
sistem pipa tegak dan slang untuk pencegahan bahaya kebakaran
pada bangunan gedung, atau edisi terbaru.
o SNI 03-3985-2000 Tata cara perencanaan, pemasangan dan
pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan
bahaya kebakaran pada bangunan gedung, atau edisi terbaru.
o SNI 03-3989-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan
sistem springkler otomatik untuk pencegahan bahaya
kebakaran pada bangunan gedung, atau edisi terbaru.
o SNI 03-6571-2001 Sistem pengendalian asap kebakaran pada
bangunan gedung, atau edisi terbaru.
o SNI 03-0712-2004 Sistem manajemen asap dalam mal, atrium,
dan ruangan bervolume besar, atau edisi terbaru.

Universitas Indonesia 12
3. Persyaratan Kemampuan Bangunan Rusun Bertingkat Tiggi terhadap
bahaya petir dan Bahaya Kelistrikan.
• Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi harus dilengkapi dengan proteksi
terhadap petir, dalam upaya untukmengurangi secara nyata risiko
kerusakan yang disebabkan oleh petir terhadap bangunan gedung yang
diproteksi, termasuk di dalamnya manusia serta perlengkapan bangunan
lainnya.
• Persyaratan proteksi petir harus memperhatikan sebagai berikut:
(1) Perencanaan sistem proteksi petir.
(2) Instalasi Proteksi Petir.
(3) Pemeriksaan dan Pemeliharaan
• Persyaratan sistem proteksi petir harus memenuhi SNI 03-7015-2004
Sistem proteksi petir pada bangunan gedung, atau edisi terbaru.
• Persyaratan Kesehatan Bangunan
1. Sistem Penghawaan
Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi, strukturnya harus
direncanakan dan dilaksanakan agar kuat, kokoh, dan stabil dalam
memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan
(safety), serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama
umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi
bangunan gedung, lokasi, keawetan, dan kemungkinan pelaksanaan
konstruksinya.

Universitas Indonesia 13
Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-
pengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja
selama umur layanan struktur, baik beban muatan tetap maupun beban
muatan sementara yang timbul akibat gempa, angin, pengaruh korosi,
jamur, dan serangga perusak
Dalam hal lantai dasar merupakan ruang terbuka atau ruang semi
terbuka, struktur harus direncanakan dengan memperhatikan batasan
perbedaan kekakuan antar tingkat seperti dipersyaratkan SNI 03-1726-
2002. Jika diperlukan komponen pengaku tambahan di lantai dasar,
perencanaannya harus dikoordinasikan dengan perencana arsitektur.

Universitas Indonesia 14
2. Sistem Pencahayaan
Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi harus memenuhi
persyaratan sistem pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan,
termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya. Pencahayaan
buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang
dipersyaratkan sesuai fungsi ruang-dalam bangunan rusuna bertingkat
tinggi dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi yang
digunakan, dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau
pantulan.
Persyaratan pencahayaan harus mengikuti: i. SNI 03-6197-2000
Konservasi energi sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung,
atau edisi terbaru; ii. SNI 03-2396-2001 Tata cara perancangan sistem
pencahayaan alami pada bangunan gedung, atau edisi terbaru; dan iii. SNI
03-6575-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan pada
bangunan gedung, atau edisi terbaru.
3. Persyaratan air minum dan sanitasi
Setiap bangunan rusun bertingkat tinggi harus menyediakan sistem
air minum yang memenuhi ketentuan: i. Sistem air minum harus
direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan sumber air
minum, kualitas air bersih, sistem distribusi, dan penampungannya. ii.
Sumber air minum dapat diperoleh dari sumber air berlangganan dan/atau
sumber air lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai
pedoman dan standar teknis yang berlaku. iii. Perencanaan sistem
distribusi air minum dalam bangunan gedung harus memenuhi debit air
dan tekanan minimal yang disyaratkan. iv. Penampungan air minum
dalam bangunan gedung diupayakan sedemikian rupa agar menjamin
kualitas air. v. Penampungan air minum harus memenuhi persyaratan
kelaikan fungsi bangunan gedung. vi. Persyaratan plambing dalam
bangunan rusuna bertingkat tinggi harus mengikuti: (1) Kualitas air
minum mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang
Pengembangan sistem Air Minum dan Permenkes 907/2002, sedangkan
instalasi perpipaannya mengikuti Pedoman Plambing; dan (2) SNI 03-
6481-2000 Sistem Plambing 2000, atau edisi terbaru. Dalam hal masih
ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang

Universitas Indonesia 15
belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman
teknis.
4. Persyaratan Penggunaan Bahan Bangunan.
Bahan bangunan rusun bertingkat tinggi yang digunakan harus aman
bagi kesehatan penghuni dan tidak menimbulkan dampak negatif
terhadap lingkungan. Penggunaan bahan bangunan yang tidak berdampak
negatif terhadap lingkungan harus: i. menghindari timbulnya efek
silau dan pantulan bagi pengguna bangunan gedung lain, masyarakat,
dan lingkungan sekitarnya; ii. menghindari timbulnya efek peningkatan
temperatur lingkungan di sekitarnya; iii. mempertimbangkan prinsip-
prinsip konservasi energi; dan iv. menggunakan bahan-bahan bangunan
yang ramah lingkungan.
• Persyaratan Kenyamanan Bangunan Bertingkat Tinggi
1. Persyaratan Kenyamanan Ruang Gerak dalam Bangunan Gedung
Untuk mendapatkan kenyamanan ruang gerak dalam bangunan gedung,
harus mempertimbangkan:
• Fungsi ruang, jumlah pengguna, perabot/peralatan, aksesibilitas ruang,
di dalam bangunan gedung.
• Persyaratan keselamatan dan kesehatan
2. Persyaratan Kenyaman Kondisi Udara dalam Ruang
Untuk kenyamanan termal dalam ruang di dalam bangunan gedung harus
mempertimbangkan temperatur dan kelembaban udara. Persyaratan
kenyamanan termal dalam ruang harus mengikuti :
• SNI 03-6389-2000 Konservasi energi selubung bangunan pada
bangunan gedung, atau edisi terbaru.
• SNI 03-6390-2000 Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan
gedung, atau edisi terbaru.
• SNI 03-6196-2000 Prosedur audit energi pada bangunan gedung, atau
edisi terbaru.
• SNI 03-6572-2001 Tata cara perancangan sistem ventilasi dan
pengkondisian udara pada bangunan gedung, atau edisi terbaru.
3. Persyaratan Kenyamanan Pandangan
Kenyamanan pandangan (visual) dari dalam bangunan ke luar harus
mempertimbangkan:
Universitas Indonesia 16
• Gubahan massa bangunan, rancangan bukaan, tata ruang-dalam dan luar
bangunan, dan rancangan bentuk luar bangunan.
• Pemanfaatan potensi ruang luar bangunan gedung dan penyediaan
RTH.
Kenyamanan pandangan (visual) dari luar ke dalam bangunan harus
mempertimbangkan:
• Rancangan bukaan, tata ruang-dalam dan ruang-luar bangunan, dan
rancangan bentuk luar bangunan gedung.
• Keberadaan bangunan gedung yang ada dan/atau yang akan ada di
sekitarnya.
• Pencegahan terhadap gangguan silau dan pantulan sinar.

II.3. Standar Peraturan


1. Koefisien Dasar Bangunan
KDB atau buliding coverage ratio adalah angka persentase berdasarkan
perbandingan jumlah luas lantai dasar bangunan terhadap luas tanah
perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang kota.
Pengaturan KDB ditujukan untuk mengatur proporsi antara daerah terbangun dan
tidak terbangun serta untuk mengatur intensitas kepadatan bangunan. KDB
merupakan satu ukuran yang mengatur proporsi luas penggunaan lahan terbangun dan
tidak terbangun pada satu wilayah.
Maksud luas lahan terbangun di sini adalah luas total lantai dasar dimana pada
suatu struktur bangunan yang kompleks memiliki aturan perhitungan tersendiri.
Secara matematis, KDB dapat dinyatakan dalam persamaan :

Luas Tanah Ketentuan pengaturan KDB bertujuan untuk :


• Menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan.
• Menciptakan keserasian lingkungan baru dan lingkungan lama yang sudah

Universitas Indonesia 17
terbentuk.
• Menjaga keseimbangan antara bangkitan kendaraan yang ditimbulkan oleh
bangunan dan rencana jaringan jalan.
Walaupun setiap daerah menetapkan angka koefisien dasar bangunan (KDB) yang
berbeda-beda, secara umum ada 3 kategori koefisien dasar bangunan (KDB) yang
diterapkan, yaitu :
a. KDB padat dengan angka KDB antara 60%– 100%.
b. KDB sedang dengan angka KDB antara 40%-60%.
c. KDB renggang dengan angka KDB dibawah 40%
2. Koefisien Luar Bangunan (KLB)
KLB atau floor coverage ratio adalah besaran ruang yang dihitung dari angka
perbandingan jumlah luas seluruh lantai bangunan terhadap luas tanah
perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana teknis ruang kota.
KLB merupakan ukuran yang menunjukkan proporsi total luas lantai suatu
bangunan dengan luas kapling dimana bangunan tersebut berdiri. Secara matematis,
KLB dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :
KLB = Total Luas Lantai Bangunan X 100%
Dalam perhitungan KLB, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni :
• Luas lantai adalah jumlah total luas lantai sampai dinding terluar.
• Luas lantai ruangan yang beratap dan berdinding > 1,2 meter di atas lantai
ruang tersebut, dihitung penuh.
• Luas lantai ruang yang bersifat terbuka dan berdinding < 1,2 meter di atas lantai
ruang tersebut, dihitung setengahnya (50%) selama tidak melebihi 10% dari
luas denah dasar yang diperkenankan sesuai KDB berlaku.
• Luas overstek < 1,2 meter tidak dimasukkan dalam perhitungan sebagaimana
yang dimaksud di atas.
• Luas ruang berdinding > 1,2 meter di atas lantai ruang tersebut, tetapi tidak
beratap dihitung setengahnya (50%) selama tidak melebihi 10% dari luas denah
dasar yang diperkenankan sesuai KDB yang berlaku.
• Luas lantai bangunan yang dipergunakan untuk parkir diperkenankan hingga
150% dari KLB yang ditetapkan.
• Ramp dan tangga terbuka dihitung setengahnya (50%) selama tidak melebihi
10% dari luas denah dasar yang diperkenankan.

Universitas Indonesia 18
3. Garis Sempadan Bangunan (GSB)
Garis Sempadan Bangunan adalah batas dinding terdepan bangunan pada sebuah
persil, panjang antara GSB dan GSJ ditentukan persyaratan yang berlaku untuk setiap
jenis bangunan dan letak persil setempat. GSB berfungsi agar bangunan memiliki
halaman depan yang bisa digunakan untuk taman atau penghijauan sehingga timbul
kesegaran dan keserasian dengan lingkungan. Bangunan lebih aman karena tidak
langsung bisa dimasuki pencuri. Bisa dimanfaatkan sebagai pelindung (buffer)
kebisingan arus lalu lintas, tempat bermain anak-anak, dll. Jarak tsb memungkinkan
dibuat teritis atap yang cukup lebar untuk melindungi (penghuni) bangunan dari
cuaca buruk dan mengalirkan air hujan dengan baik sampai ke saluran yang
sebenarnya
4. Garis Sempadan Jalan (GSJ)
Pasal 13 Undang-undang No 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
menyebutkan bahwa sebuah bangunan harus mempunyai persyaratan jarak bebas
bangunan yang meliputi GSB dan jarak antar gedung. Selain itu dalam membangun
bangunan, Anda juga harus sudah mendapatkan standarisasi dari pemerintah
yang tercantum di dalam SNI No 03-1728-1989.Standar ini mengatur bahwa
dalam setiap mendirikan bangunan harus memenuhi persyaratan lingkungan
bangunan, diantaranya larangan untuk membangun di luar GSB.
Di dalam penjelasan Pasal 13 Undang-undang No 28 Tahun 2002, GSB
mempunyai arti sebuah garis yang membatasi jarak bebas minimum dari bidang
terluar suatu massa bangunan terhadap batas lahan yang dikuasai. Pengertian tersebut
dapat disingkat bahwa GSB adalah batas bangunan yang diperkenankan untuk
dibangun.GSB diukur dari bagian terluar bangunan ke sumbu jalan sedangkan
GSJ (Garis Sempadan Jalan) diukur dari sisi terluar halaman (pagar) ke sumbu jalan.
Peraturan tentang GSB dan GSJ dibuat agar lingkungan pemukiman sekitar
bangunan menjadi aman dan teratur. Selain, GSB/GSJ dibuat untuk kepentingan
keselamatan para pengendara yang melewati jalan di depan atau samping bangunan .
5. Garis Jarak Bebas Samping (GJBS)
Pada bangunan tunggal, sering ada induk bangunan dan anak bangunan yang biasa
disebut paviliun. Jenis ini boleh dibangun rapat dengan batas persil samping, posisi
dinding terdepan anak bangunan pada jarak minimal 2 kali jarak GSB dan GSJ sesuai
persyaratan. Lebar GJBS antara bangunan dan batas pekarangan

Universitas Indonesia 19
ditentukan berdasarkan jenis bangunan dan perpetakan tanah setempat.
Luas area bebas samping: jarak bebas samping dikali dengan jarak antara GSB dan
GSJ yang ditentukan. Jarak bebas samping untuk memenuhi persyaratan kesehatan,
kenyamanan dan keindahan, mengingat faktor iklim tropis di Indonesia, dengan ciri-
ciri temperatur udara tinggi, curah hujan besar sepanjang tahun, sudut datang
matahari yang besar. Adanya jarak bebas samping menyebabkan: terjadinya sirkulasi
udara yang baik ke dalam ruangan untuk mengurangi panas dan lembab. Penyinaran
matahari langsung ke dalam ruang minimal sejam sehari, baik untuk kesehatan.
6. Garis Jarak Bebas Belakang (GJBB)
Garis Jarak Bebas Belakang adalah batas dinding belakang bangunan terhadap
batas pagar belakang. Panjang garis belakang ditentukan sesuai jenis bangunan dan
lingkungan persil tanah setempat. Di halaman belakang sebuah persil boleh
didirikan bangunan turutan (paviliun), asal bangunan tersebut tidak menyesaki
seluruh halaman belakang. Halaman kosong di sini minimal lebarnya sama dengan
panjang garis jarak bebas belakang yang ditentukan. Jadi, luas halaman kosong
tersebut minimal = pangkat 2 panjang garis belakang. Adapun Tujuan garis jarak
bebas belakang: memungkinkan sirkulasi udara dan sinar matahari secara langsung
ke dalam ruangan, memungkinkan pertamanan di halaman belakang guna
kesejukan dan keindahan bangunan, menghindari/ mencegah bahaya menjalarnya api,
bila terjadi kebakaran, sebagai tempat servis (jemuran), dll, sehingga tidak merusak
pemandangan bangunan bagian depan, aman terhadap pencurian, dan sebagai tempat
rekreasi/ bermain para penghuni bangunan
7. Rasio/Perbandingan Luas Bangunan dengan Penghuni 

Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di
dalam bangunan. Aktivitas seseorang tersebut meliputi aktivitas tidur, makan, kerja,
duduk, mandi, kakus, cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. Dari hasil kajian,
kebutuhan ruang per orang adalah 9 m2 dengan perhitungan ketinggian rata-rata
langit-langit adalah 2,80 m. bangunan sederhana sehat memungkinkan penghuni
untuk dapat hidup sehat dan menjalankan kegiatan hidup sehari-hari secara layak.
Kebutuhan minimum ruangan pada bangunan sederhana sehat perlu memperhatikan
beberapa ketentuan sebagai berikut:
(1) kebutuhan luas per jiwa
(2) kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK)

Universitas Indonesia 20
(3) kebutuhan luas bangunan per kepala Keluarga (KK)
(4) kebutuhan luas lahan per unit bangunan

Tabel 1. Kebutuhan Luas Minimum Bangunan dan Lahan untuk Sekolah

8. Gambar tentang GSB, GSJ, GJBS, GJBB

Gambar 1. Garis-Garis Bangunan

Universitas Indonesia 21
9. Alat pemadam kebakaran gedung bertingkat
Setiap bangunan yang didirikan pasti memiliki izin pembangunan dan
sertifikasi keamanan. Salah satu sertifikasi keamanan yang di perlukan yaitu tentang
sistem proteksi kebakaran.Suatu bangunan gedung memiliki potensi terjadinya
kebakaran. Terlebih lagi jika bangunan tersebut terbuat dari material yang mudah
terbakar atau digunakan untuk menyimpan bahan-bahan yang mudah terbakar (CV
Pandawa Lima Primatech, 2017)
Menurut (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26/PRT/M/ 2008 tentang
persyaratan sistem pengamanan kebakaran pada bangunan gedung dan lingkugan)
menjelaskan bahwa pengelolaan sistem pencegahan kebakaran merupakan upaya
mencegah terjadinya musibah kebakaran atau meluasnya area kebakaran ke
ruangan lain, atau upaya pencegahanya meluasnya kebakaran ke gedung atau
bangunan lainnya.
Gedung perkantoran, apartemen, gedung kantor bahkan mall pasti mempunyai
sistem proteksi kebakaran tersediri. Manfaat utama sistem pemadam kebakaran
adalah untuk pencegahan serta perlindungan terhadap kebakaran. (CV Pandawa Lima
Primatech, 2017) Mencegah kebakaran pada gedung dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu :
a. Fire Sytem Security
Langkah pertama adalah melengkapi bangunan dengan Fire Security System
seperti peralatan pemadam kebakaran yang lengkap yang dapat bekerja secara
otomatis seperti : Detector Api, Sprinkle, Alarm Asap. Ataupun secara manual
seperti : Fire Hydrant, Fire Extinguisher atau Alat Pemadam Api, Fire Alarm
Button, Fire Axe.
b. Rancangan Bangunan
Langkah kedua yang dapat dilakukan melalui sistem perancangan bangunan
yaitu sistem perlindungan terhadap kebakaran yang dilakukan melalui
komponen bangunan dari segi arsitektur dan struktur bangunan, seperti:
- logo emergency exit
- emergency exit logo
- memisahkan jarak antara barang-barang yang mempunyai resiko kebakaran
yang tinggi
- memasang fire profing untuk struktur bangunan.

Universitas Indonesia 22
- merancang explotion-proof atau alat anti peledak pada produk elektrik di
daerah beresiko terbakar
- membuat emergency exit yang dapat digunakan saat keadaan darurat.
Gedung haruslah diproteksi melalui penyediaan sarana dan prasarana proteksi
kebakaran dan kesiagaan maupun kesiapan pengelola, penghuni atau penyewa
bangunan dalam mengantisipasi dan mengatasi kebakaran.

II.4. Bangunan tahan gempa untuk bangunan gedung bertingkat


Kadar kecocokan sistem struktur terhadap gempa (Cipta Karya, 2017) dapat
dinyatakan sebagai berikut :
a. Sangat cocok, bila bangunan gedung dibuat dengan mengunakan sistem struktur
rangka kaku, baik menggunakan bahan beton bertulang, baja, dan kayu dengan
perkuatan silang. Bangunan gedung tinggal yang dibangun dengan sistem struktur
ini memberikan karakteristik berat bangunan ringan dan memiliki daya tahan yang
tinggi terhadap beban gempa.
b. Cukup cocok, bila bangunan gedung dibuat dengan mengunakan sistem struktur
rangka sederhana dengan dinding pengisi, baik rangka yang dibuat dari bahan kayu
maupun beton bertulang dengan dinding pengisi dari bahan bata merah atau batako.
Bangunan gedung tinggal yang dibangun dengan sistem struktur ini memberikan
karakteristik: berat bangunan sedang; daya tahan sedang terhadap beban gempa; dan
memiliki daktilitas sedang.
c. Kurang cocok, bila bangunan gedung dibuat dengan menggunakan sistem struktur
dinding pemikul: pasangan bata merah tanpa perkuatan tetapi memakai roollag
horisontal; pasangan batako tanpa tulangan tetapi memakai roollag horisontal; dan
pasangan batu kali dengan roollag horisontal. Bangunan yang dibangun dengan
sistem struktur ini memberikan karakteristik: berat sekali; hanya memiliki
sedikit daya tahan terhadap gaya gempa; dan memiliki daktilitas yang kecil.
d. Tidak cocok, bila bangunan gedung dibuat dengan mengunakan sistem struktur
dinding pemikul: pasangan bata merah tanpa perkuatan; pasangan batako tanpa
tulangan; dan pasangan batu kali. Bangunan gedung yang dibangun dengan sistem
struktur ini memberikan karakteristik: berat sekali; hampir tidak memiliki daya
tahan terhadap gaya gempa; hampir tidak memiliki daktilitas yang kecil.

Universitas Indonesia 23
Taraf keamanan minimum untuk bangunan gedung yang masuk dalam
kategori bangunan tahan gempa, yaitu yang memenuhi berikut ini :
a. Bila terkena gempa bumi yang lemah, bangunan tersebut tidak mengalami
kerusakan sama sekali.
b. Bila terkena gempa bumi sedang, bangunan tersebut boleh rusak pada elemen-
elemen non-struktural, tetapi tidak boleh rusak pada elemen-elemen struktur.
c. Bila terkena gempa bumi yang sangat kuat: bangunan tersebut tidak boleh runtuh
baik sebagian maupun seluruhnya; bangunan 6 tersebut tidak boleh mengalami
kerusakan yang tidak dapat diperbaiki; bangunan tersebut boleh mengalami
kerusakan tetapi kerusakan yang terjadi harus dapat diperbaiki dengan cepat
sehingga dapat berfungsi kembali.

Universitas Indonesia 24
BAB III
HASIL PENGAMATAN
III.1. Kondisi Bangunan Bertingkat 2 Lantai

o Lokasi Sekolah Survei (Alamat) : Jl. Pitara No.19, Pancoran Mas,
Depok

o Luas Tanah : 10.599m2


o Luas Bangunan :
1. Lantai 1 : 609,50 m2
2
2. Teras : 421,25 m
2
3. Lantai 2 : 609,50 m
2
4. Balkon : 358,75 m

o Jumlah Ruangan
10 Ruang Kelas 2 Ruang Laboratorium
1 Ruang Musik 2 Toilet
3 Ruang Administrasi 1 Kantin
1 Perpustakaan 1 Ruang Guru
1 gudang
o Jumlah Penghuni : ±250 Orang
o Denah Lokasi (site layout)

o
Gambar 2. Site Layout
III.2. Perbandingan dengan Bangunan berdasarkan fungsi
FAKTOR
PEMBANDING BANGUNAN
No. BANGUNAN BANGUNAN SURVEY BERDASARKAN
BERTINGKAT 2 FUNGSI
LANTAI
Ruang Terbuka Hijau
(RTH) secara makro
berfungsi untuk
kepentingan ekologis,
sosial, ekonomi maupun
estetika dari suatu kota.
Pada sekolah yang disurvey Secara ekologis
terdapat taman dengan dimaksudkan sebagai
1. Ruang Terbuka Hijau
jumlah pohon lebih dari 10 upaya konservasi air
ada disana serta banyak tanah, paru-paru kota,
tumbuhan yang berada di dan dapat menjadi
taman tersebut tempat hidup dan
berkembangnya plasma
nutfah (flora fauna dan
ekosistemnya).Permen
2006 No. 29
Terdapat sarana air bersih Tersedia sarana
yang mencukupi untuk penyediaan air bersih ;
kebutuhan keluarga. limbah yang dihasilkan
Sanitasi, Air Bersih, Limbah yang dihasilkan tidak menimbulkan bau
2.
dan Limbah berada pada tempat yang dan dikelola dengan
seharusnya sehingga tidak baik serta tidak
menimbulkan bau dan tidak mencemari permukaan
mengganggu tanah dan air
Sekolah ini mempunyai Intensitas penerangan
3. Pencahayaan
ventilasi di setiap sisi minimal 60 lux dan
ruangan. Sehingga cahaya

Universitas Indonesia
yang 25
tidak menyilaukan mata
Ruangan sehingga kondisi
di setiap ruangan menjadi
cerah dan juga cahaya
matahari di lantai 2 sangat
mudah untuk masuk
sedangkan di lantai 1,
jendela ang menghadap ke
Utara sedikit terhalangi
akibat adanya tembok
pembatas.

Udara yang masuk kedalam Luas lubang ventilasi


Sirkulasi Udara dan
sekolah ini sangat mudah alamiah yang permanen
4. Suhu Kelembaban
dikarenakan di sisi utara minimal 10% luas lantai
(Ventilasi)
dan barat setiap ruangan
dipasang ventilasi udara.
Dengan dimensi ventilasi
sebesar 30 cm x 30 cm x 8
cm
Tidak terbuat dari bahan
Sekolah yang kami survey
yang dapat melepaskan
tersusun dari pasangan batu
5. Bahan Bangunan zat yang dapat
bata yang kemudian diaci
membahayakan
dan dilapisi cat
kesehatan
Sekolah yang kami survey Menurut Departemen P &
mempuyai jumlah siswa, K, SMA Survey termasuk
Kepadatan karyawan, maupun guru kedalam SMA tipe C
6.
Penghunian berjumlah kurang lebih yang mana mempunyai
dari 250 Orang jumlah murid sampai
dengan 420 Orang.
Namun menurut
Departemen P & K, Luas
Bangunan sekolah
harusnya 3320 m2