Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Radiasi atau pancaran dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana energi dilepaskan oleh
suatu atom. Menurut Badan Tenaga Nuklir Nasional, radiasi adalah energi yang dipancarkan
dalam bentuk partikel atau gelombang.. Ada beberapa radiasi yang kita terima setiap saat, baik
yang berasal dari alam maupun dari buatan manusia. Radiasi tersebut ada yang bermanfaat atau
berdampak positif dan ada yang merugikan atau berdampak negatif bagi tubuh manusia,
hewan, maupun tumbuh-tumbuhan pengetahuan kita sangat terbatas mengenai mana radiasi
yang bermanfaat dan mana yang merugikan bagi tubuh manusia, sehingga perlu mendapatkan
perhatian yang serius agar radiasi tersebut tidak merusak tubuh atau mengusahakan agar radiasi
untuk tujuan diagnosis ataupun terapi sekecil mungkin dengan mempertimbangkan berbagai
faktor, sehingga jumlah radiasi yang diterima oleh seseorang pertahun tidak melebihi batas
ambang yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nukklir (Bapeten). Walaupun dosis
radiasi yang diterima dari diagnosis maupun terapi dapat dihitung, namun kita juga menerima
radiasi dari luar tujuan tersebut, misalnya dari sinar kosmik, sinar ultraviolet, dari lingkungan
bebas maupun di dalam rumah yang berasal dari bahan bangunan batako, pasir semen, kayu
dan lain-lain, yang sulit untuk kita ukur besar dosisnya, karena masing-masing orang menerima
radiasi yang berbeda.

Kebanyakan masyarakat mengenal kata radiasi yang selalu dihubungkan dengan bom atom,
Kebocoran sebuah PLTN, serta efek bahaya yang ditimbulkan dirumah sakit.Kebanyakan
anggapan tersebut dipengaruhi oleh media massa sehingga membentuk pola pikir masyarakat
tentang bahaya radiasi. Hal yang paling mendasar untuk mengendalikan bahaya radiasi adalah
mengetahui besarnya radiasi yang dipancarkan oleh suatu sumber radiasi (zat radioaktif atau
mesin pemancar radiasi), baik melalui pengukuran maupun perhitungan. Namun,faktanya
radiasi tidak dapat “dirasakan” oleh manusia secara langsung, seberapapun besarnya. Agar
pekerja radiasi tidak mendapat paparan radiasi yang melebihi batas yang diizinkan maka
diperlukan alat pengukur yang dapat menunjukkan tingkat paparan radiasi ditempat kerja dan
alat yang dapat mencatat dosis radiasi yang telah diterima oleh pekerja radiasi dalam kurun
waktu tertentu. Banyaknya energi radiasi pengion terserap oleh tubuh disebut dosis terserap
1
yang dinyatakan dalam satuan Gray (Gy), dan untuk satuan yang lebih kecil dinyatakan dengan
milli Gray (mGy). Besar dosis yang sama untuk setiap jenis radiasi belum tentu punya efek
biologis yang sama oleh karena setiap radiasi pengion punya kemampuan berbeda dalam
merusak jaringan atau organ tubuh manusia. Karena perbedaan tersebut diperlukan besaran
dosis yang tidak tergantung dari jenis radiasi yaitu dosis ekivalen dengan satuan Sievert (Sv)
dan untuk satuan yang lebih kecil digunakan milli sievert (mSv). Dosis ekivalen adalah dosis
terserap dikalikan faktor bobot radiasi. Faktor bobot radiasi untuk elektron (radiasi beta), foton
(gamma) dan sinar-X bernilai 1.sedangkan untuk radiasi alfa bernilai 20. Ini berarti bahwa
radiasi alfa bisa mengakibatkan kerusakan pada jaringan tubuh 20 kali lebih besar
dibandingkan dengan radiasi beta, gamma, dan sinar-X. Dengan adanya dosis ekivalen ini
maka osis 1 Sv yang berasal dari radiasi alfa akan mengakibatkan kerusakan yang sama dengan
dosis 1 Sv dari radiasi sinar beta, gamma dan sinar-X. Setiap jaringan tubuh juga mempunyai
kepekaan masing-masing terhadap radiasi (faktor bobot organ), misalnya sel kelamin punya
faktor bobot organ lebih tinggi dari sumsum tulang, ginjal, paru, dan lain-lain. Oleh karena itu
dibuatlah dosis efektif yang menyatakan jumlah dari dosis ekivalen yang diterima tubuh
dikalikan dengan faktor bobot organ. Dosis ini sering disebut dengan dosis radiasi yang
dinyatakan dengan Rem (1 Sv = 100 Rem).

Sejak awal ditemukan radiasi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, disadari
pula potensi bahaya yang ada, khususnya apabila radiasi tersebut mengenai sistem tubuh
manusia. Berdasarkan berbagai proses yang telah diketahui terjadi pada materi yang dikenai
radiasi, maka dapat di definisikan berbagai besaran dan satuan radiasi tersebut. Besaran radiasi
tersebut dinamakan sebagai dosis, yang ternyata sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Oleh
karena itu,menjadi penting untuk mengetahui pengukuran dosis radiasi untuk meminimalisir
bahaya dari radiasi serta memaksimalkan manfaat dari radiasi untuk kehidupan sehari-hari.

2
1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan yang akan
dibahas dalam makalah ini ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

“Bagaimana cara memanfaatkan teori cavity untuk menghitung atau menentukan dosis
radiasi pada dosimeter dan detektor radiasi?”

1.3 TUJUAN

Tujuan dari penulisan makalah ini sesuai dengan perumusan masalah di atas adalah
sebagai berikut :

1. Mengetahui tentang berbagai macam teori cavity.


2. Mengetahui tentang dosimeter dan detektor radiasi.

3
BAB II

ISI

2.1 Tori Cavity

Pengukuran radiasi dan pengamatannya pada umumnya membutuhkan jenis keadaan tertentu
agar radiasi tersebut dapat teramati.Keberadaan radiasi pada dasarnya tidak dapat dirasakan
secara langsung oleh sistem panca indera manusia.Oleh karena itu kita perlu mengetahui
tentang radiasi yang melewati suatu medium(atau diserap) baik menuju bagian tubuh kita atau
pun medium lain .Dosis serap merupakan jumlah energi yang diberikan oleh proses ionisasi
langsung maupun tidak langsung.Dosis serap dalam hubungannya dengan jumlah energi yang
di berikan diartikan sebagai energi rata – rata yang diterima oleh suatu bahan dengan massa m
dalam volum V. Dan dinyatakan :

Energi yang di terima adalah selisih energi yang masuk ke elemen volume sampel dengan
energi yang keluar dari volume,serta memperkirakan banyaknya energi yang berubah dalam
volume tersebut. Satuan dosis serap adalah Joule per kilogram atau disebut dengan Gray.Untuk
menentukan dosis serap pada suatu medium pada umumnya membutuhkan detektor didalam
mediumnya.Detektor tersebut akan berfungsi sebagai media sensitif.Material dari detektor
tersebut tidak sama dari medium yang dilewati radiasi.Detektor pada medium itulah yang
disebut sebagai cavity.Bagian paling menarik dari cavity adalah tentang modifikasi muatan dan
distribusi radiasi yang di produksi dalam medium oleh cavity.Hal lainnya adalah penetapan
hubungan atau perbanduingan antara dosis pada cavity dan pada mediumnya. Saat nomer atom
dan rapat massa dari materi di cavity dan medium awal berbeda, maka:

Dcav ǂ Dmed

4
Untuk mengetahui Dmed dari Dcav ditentukan dahulu ukuran cavity-nya.Pengelompokan
cavity berdasarkan ukurannya dapat ditulisnkan :
• Cavity kecil
– Teori Bragg-Gray
– Teori Spencer-Attix
• Cavity sedang
– Teori Burlin
• Cavity besar
Ukuran tersebut dibandingkan dengan jarak partikel bermuatan sekunder yang di produksi oleh
photon di medium cavity.

2.1.1 Teori Bragg

Sebuah cavity atau rongga dapat berukuran kecil,besar ataupun sedang ketika dibandingkan
dengan partikel bermuatan pada cavity itu sendiri.Teori bragg gray selaras dengan teori cavity
kecil. Teori Bragg Gray mengembangkan teorinya pada 1910.Dan mengasumsikan 2 hal yaitu:
• Dimensi dari cavity menjadi kecil jika dibandimgkan dengan jarak partikel bermuatan
didalamanya dan pengaruh dari partikel bermuatan di dalam cavity tidak berpengaruh
karena keberadaan cavity tersebut.
• Tidak ada interaksi antara partikel yang tidak bermuatan pada cavity.maka,dosis serap
akan disimpan dalam cavity sampai partikel bermuatan menembus cavity.
Asumsi pertama akan selaras dengan kebutuhan dari flunce partikel bermuatan pada cavity
yang besarnya sama terhadap medium.maka dapat dituliskan distribusi energi fluence adalah
sebagai berikut :

5
Pemebilang dan penyebut dari persamaan diatas merupakan generalisasi dari persamaan :

Pada persamaan diatas diasumsikan apabila terdapat distribusi energi dari energi elektron

didalam cavity,yang besarnya sama dengan di luarnya. memiliki 2 bar diatas yang
mngindikasikan rasio rata – rata stopping power yang ditembakan oleh photon yang
menghasilkan spektrum elektron.Perubahan pada spektrum inilah yang menunjukkan
hilangnya energi kinetik pada material.

2.1.2 Teorema Fano


Pada teorema ini merupakan pendekatan yang lebih baik jika dibandingkan dengan teori bragg-
gray,jika komposisi cavity sama dengan medium.contohnya jika cavity dan medium memiliki
nomor atom yang sama.Hal ini semakin kuat dengan dilakukannya percobaan eksperimen
cavity yang diisi dengan komposisi gas yang berbeda.Sehingga diperoleh teori :
“Pada medium yang diberikan pancaran dengan komposisi yang sama maka medan pada
radiasi primer akan sama dengan radiasi sekunder dan independen terhadap density medium”.
Teorema fano ini mnjadi penting karena meluaskan cakupan ukuran cavity yang sangat sulit
untuk ditemukan. Ketika pancaran photon berupa energi rendah maka akan menjadi catatan
tersendiri bahwa teorema ini akan berlaku hanya untuk kondisi dimana stopping power
independen terhadap densitas.

2.1.3 Teorema Burlin


Burlin memperluas teori rongga Bragg-Gray dengan memberlakukan teori ke rongga ukuran
menengah, berdasarkan basis fenomenologis, Ia memberikan formalisme untuk menghitung
nilai parameter pembobotan. Teori rongga Burlin dapat ditulis dalam bentuknya yang paling
sederhana sebagai berikut:

6
Dimana :
D = parameter ukuran cavity
Sgas,med = merupakan rata-rata rasio dari massa stopping potensial antara cavity dan medium
Dgas = Dosis serap cavity
Teori Burlin akan berlaku secara efektif jika :
● Medium sekitar dan medium rongga menjadi homogen
● Bidang foton homogen ada di mana-mana melewati seluruh medium dan rongga
● CPE ada pada semua titik di medium dan rongga yang lebih jauh dari jangkauan elektron
maksimum dari batas rongga
● kesetimbangan Spektrum dari elektron sekunder yang dihasilkan di medium dan rongganya
sama. Burlin menyatakan metode untuk memperkirakan parameter d dalam teorinya. Hal ini
dinyatakan sebagai nilai rata-rata reduksi fluence elektron di dalam medium. Hal ini selras
dengan eksperimen dengan sumber b ia mengusulkan bahwa fluence pada elektron dalam
medium meluruh, rata-rata, secara eksponensial. Nilai parameter d dengan rasio stopping
power dapat dihitung dengan persamaan :

dimana b adalah koefisien atenuasi fluence elektron yang efektif yang mengkuantifikasi
reduksi fluida partikel dari nilai fluent medium awal melalui rongga dngan panjang rata-rata L.
Untuk rongga cembung dan distribusi fluen elektron isotropik, L dapat dihitung sebagai 4V /
S, dimana V adalah volume rongga dan luas permukaan S nya. Burlin menggambarkan
penumpukan fluence elektron di dalam rongga menggunakan persamaan komplementer yang
serupa.

7
Di tuliskan dengan :

2.2 Dosimeter dan Detektor radiasi

Hingga saat ini, telah dikembangkan berbagai jenis alat ukur radiasi dengan spesifikasi dan
keunggulannya masing-masing. Dilihat dari garis besar pemanfaatannya, alat ukur radiasi
dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: (1). Untuk kegiatan proteksi radiasi, dan (2).
Untuk kegiatan aplikasi/penelitian radiasi nuklir. alat ukur radiasi yang digunakan untuk
kegiatan proteksi radiasi harus memiliki kemampuan untuk menunjukan nilai intensitas atau
dosis radiasi yang mengenai alat tersebut. Nilai intensitas atau besaran dosis radiasi yang
ditunjukkannya itu dapat dijadikan sebagai bahan acuan oleh seorang pekerja radiasi untuk
dapat langsung mengambil tindakan tertentu. Sedangkan alat ukur radiasi yang digunakan
untuk kegiatan aplikasi radiasi dan penelitian biasanya ditekankan memiliki kemampuan untuk
dapat menampilkan nilai kuantitas /spektrum energi dari radiasi yang mengenainya. Dari segi
cara pembacaannya, alat ukur radiasi juga dapat dibedakan pula menjadi dua kelompok, yaitu:
(1). Alat ukur pasif, yaitu alat ukur radiasi yang hasil pengukurannya tidak dapat dibaca secara
langsung, melainkan harus melalui proses khusus terlebih dahulu. Contoh alat ukur radiasi
pasif, antara lain: Film badge dan TLD badge. (2). Alat ukur aktif, yaitu alat ukur radiasi yang
hasil pengukurannya dapat dibaca secara langsung. Contoh alat ukur radiasi aktif, antara lain:
surveimeter dan dosimeter saku.Selain itu, berdasarkan fungsinya terhadap manusia atau
lingkungan, alat ukur radiasi dapat dibedakan pula menjadi dua kelompok, yaitu: (1). alat ukur
radiasi untuk pemonitoran dosis perseorangan, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur
besarnya radiasi yang diterima oleh tubuh manusia. Alat ini dapat berupa alat ukur aktif atau
alat ukur pasif, dan (2). alat ukur radiasi yang digunakan untuk pemonitoran lingkungan.

8
2.2.1 Mekanisme Deteksi Radiasi
Detektor radiasi bekerja dengan cara mendeteksi perubahan yang terjadi di dalam bahan
detektor/medium penyerap. Perubahan ini terjadi karena adanya perpindahan energi dari
radiasi ke medium tersebut. Terdapat beberapa mekanisme yang pada umumnya digunakan
untuk mendeteksi dan mengukur radiasi, yaitu: (1). Proses ionisasi, (2). Proses sintilasi, (3).
Proses termoluminensi, (4). Efek pemanasan, dan (5). Reaksi kimia.
1. Proses Ionisasi
Ionisasi pada suatu medium secara langsung dapat disebabkan oleh radiasi partikel alpha dan
beta; dan ionisasi secara tidak langsung dapat disebabkan oleh Sinar-X, sinar gamma, dan
neutron. Kumpulan/jumlah pasangan ion yang terjadi/diproduksi berkaitan erat dengan jumlah
energi radiasi yang mengakibatkan terjadinya proses ionisasi tersebut. Dalam proses ionisasi
ini, energi radiasi diubah menjadi peristiwa terlepasnya sejumlah elektron dari atomnya (energi
listrik).
Bila diberikan medan listrik terhadap pasangan ion yang terbentuk itu, maka elektron akan
bergerak menuju ke kutub positif, sedangkan residual atom-nya yang bermuatan positif akan
bergerak menuju kutub negatif. Pergerakan elektron-elektron tersebut dapat menginduksikan
arus atau tegangan listrik. Arus dan tegangan listrik yang ditimbulkan ini dapat diukur dengan
menggunakan peralatan penunjang misalnya Ampermeter atau Voltmeter. Semakin besar
energi radiasinya, maka akan dihasilkan lebih banyak pasangan ion. Semakin banyak pasangan
ion, maka arus atau tegangan listrik yang ditimbulkannya akan semakin besar pula.
2. Proses Sintilasi
Yang dimaksud dengan proses sintilasi adalah terpancarnya sinar tampak pada saat terjadinya
perpindahan/transisi elektron dari tingkat energi yang lebih tinggi ke tingkat energi yang lebih
rendah. Perpindahan elektron seperti ini dapat terjadi di dalam bahan detektor. Perpindahan
elektron dari tingkat energi yang lebih rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi terjadi karena
adanya proses eksitasi. Dalam proses kembalinya elektron dari tingkat energi yang lebih tinggi
ke tingkat energi yang lebih rendah/keadaannya semula, maka akan dipancarkan energi yang
berupa foton sinar-X. Karena bahan detektor ditambahkan bahan pengotor berupa unsur
aktivator, yang berfungsi sebagai penggeser panjang gelombang, maka radiasi yang
dipancarkannya bukan lagi Sinar-X melainkan berupa sinar tampak.
Proses sintilasi ini akan terjadi apabila terdapat kekosongan elektron pada orbit elektron yang
lebih dalam. Kekosongan elektron ini dapat disebabkan karena lepasnya elektron dari

9
ikatannya (proses ionisasi) atau proses loncatnya elektron ke tingkat energi yang lebih tinggi
(lintasan elektron yang lebih luar) karena dikenai radiasi. Semakin besar energi radiasi yang
diterima, maka akan terjadi kekosongan elektron di orbit sebelah dalam akan semakin banyak,
sehingga percikan cahaya yang dikeluarkannya akan semakin banyak. Cahaya tampak yang
terjadi ini selanjutnya akan dikonversikan menjadi sinyal elektrik.
3. Proses Termoluminensi
Pada prinsipnya, proses termoluminensi ini hampir sama dengan proses sintilasi. Letak
perbedaannya adalah: pada proses sintilasi, elektron yang tereksitasi akan kembali ke orbit
semula secara langsung (selang waktu yang sangat cepat) sambil memancarkan Sinar-X yang
selanjutnya dikonversikan menjadi cahaya tampak, sedangkan pada proses termoluminensi,
untuk membuat elektron-elektron yang tereksitasi kembali ke orbitnya semula, maka medium
detektornya harus dipanaskan terlebih dahulu sampai dengan temperatur tertentu. Sebelum
medium detektor tersebut dipanaskan, elektron-elektron masih terperangkap pada keadaan
eksitasinya, sehingga tidak bisa kembali ke orbitnya semula. Semakin banyak radiasi yang
diterima, maka akan semakin banyak pula elektron yang terperangkap di orbit elektron yang
lebih luar dari atom medium detektor. Ketika medium detektor tersebut dipanaskan sampai
dengan temperatur tertentu, elektron-elektron tersebut kembali ke orbit semula dengan
memancarkan sinar tampak. Sinar tampak yang timbul akan dikonversikan menjadi sinyal
elektrik.
4. Efek pemanasan
Peristiwa lain yang diakibatkan oleh adanya perpindahan/penyerapan energi radiasi oleh
medium detektor adalah timbulnya kenaikan temperatur pada medium. Semakin besar energi
radiasi yang dipindahkan/diserap, maka kenaikan temperaturnya akan semakin tinggi. Jadi
dalam mekanisme ini, energi radiasi diubah menjadi energi panas. Mekanisme ini jarang/tidak
cocok digunakan untuk melakukan pengukuran radiasi secara rutin. Mekanisme pengukuran
radiasi dengan memanfaatkan mekanisme ini memiliki tingkat sensitivitas yang sangat rendah
(diperlukan dosis energi radiasi yang sangat tinggi untuk menaikan temperatur medium, dan
kenaikan temperatur medium pada umumnya tidak tinggi). Mekanisme ini, pada umumnya
hanya digunakan sebagai standar primer untuk peralatan kalibrasi.

10
5. Reaksi kimia
Energi radiasi dapat mengakibatkan perubahan kimia. Perubahan atau reaksi kimia ini juga
merupakan suatu mekanisme yang sering digunakan dalam pengukuran radiasi. Bahan yang
diradiasi dengan dosis tertentu akan mengalami perubahan kimia, misalnya perubahan warna.
Selain itu radiasi juga dapat berfungsi sebagai katalisator pada reaksi kimia, sehingga apabila
diberikan dosis radiasi dengan besar tertentu, maka reaksi kimia dalam medium dapat
berlangsung lebih cepat. Jadi dalam mekanisme ini, energi radiasi diubah menjadi
perubahanperubahan/reaksi kimia. Pada umumnya digunakan untuk menganalisa film fotografi
untuk dosimetri perseorangan, Sinar-X medis, dan radiografi industri.

2.2.2 Prinsip kerja ion chamber


Kamar pengionan ialah bilik/ruangan tertutup yang berisi gas. Ionisasi yang terjadi pada gas
isian karena radiasi akan dikumpulkan pada elektroda dan diukur. Medan listrik dalam bilik
tersebut sangat sensitif untuk menarik elektron-elektron bebas dan ion-ion positif ke
elektrodanya masing-masing. Kamar pengionan ialah bilik/ruangan tertutup yang berisi gas.
Ionisasi yang terjadi pada gas isian karena radiasi akan dikumpulkan pada elektroda dan diukur.
Medan listrik dalam bilik tersebut sangat sensitif untuk menarik elektron-elektron bebas dan
ion-ion positif ke elektrodanya masing-masing. Detektor ini bekerja pada daerah ionisasi. Pada
daerah ini tidak terjadi proses multiplikasi muatan dalam detektor. Output pulsa
sebanding/proporsional dengan energi radiasi yang masuk/diserap oleh detektor, sehingga
energi radiasinya dapat diukur. Karena pulsa yang terbentuk tidak besar, maka hanya partikel-
partikel pengionisasi kuat seperti α, proton, fragmen fisi, dan ion-ion besar yang bisa dideteksi
secara efektif dengan menggunakan jenis detektor ini. Partikel alfa dan beta dengan tingkat
energi yang sama akan menghasilkan keluaran pulsa yang berbeda, pulsa dari partikel alfa akan
lebih besar daripada pulsa dari partikel beta. Beda potensial yang digunakan pada umumnya
kurang dari 1000 volt. Apabila Variable High Voltage Power Supply kita hidupkan mulai dari
0 volt, maka akan terbentuk suatu daerah tegangan operasi yang disebut daerah ionisasi, namun
tegangan operasi ini masih relatif rendah, namun sudah cukup untuk menarik ion-ion yang
terbentuk ke elektrodaelektrodanya, sebelum ion-ion tersebut bergabung kembali/rekombinasi
untuk membentuk atom netral gas isian.

11
Pergerakan elektron menuju anoda yang dikarenakan adanya perbedaan potensial antara
elektroda detektor tidak mungkin menghasilkan ionisasi sekunder. Jadi jumlah elektron yang
terkumpul pada anoda hanya merupakan hasil ionisasi primer, sehingga tinggi pulsa yang
terbentuk akan sebanding dengan jumlah ion primer yang dihasilkan pada proses ionisasi
primer atau dengan kata lain faktor penguatan/multiplikasi pada detektor ini sama dengan satu.
Aliran elektron di dalam detektor dapat menimbulkan aliran listrik yang dipakai sebagai dasar
untuk pengukuran radiasi. Seperti telah disebutkan di atas, bahwa pada umumnya arus listrik
yang timbul sebagai pulsa keluaran, biasanya sangat rendah kira-kira 10-12 ampere, sehingga
memerlukan.rangkaian elektronik penguat arus yang besar dan sangat sensitif. Rangkaian
penguat arus ini dikenal dengan amplifier dc (direct current). Pada umumnya pengukuran
radiasi dengan menggunakan jenis detektor ini menerapkan mode arus (current mode). Namun,
apabila ingin menggunakan jenis detektor ini dengan menerapkan mode pulsa, maka
diperlukan penguat pulsa yang sangat baik.Dalam membuat kamar ionisasi, maka pengaruh
dindingnya sangat penting dan harus diketahui betul karakteristiknya. Jika bahan dari dinding
kamar ionisasi memiliki komposisi atom yang sama dengan komposisi atom gas isian di
dalamnya, maka kamar ionisasi ini disebut dengan kamar ionisasi homogen. Jenis dinding lain
yang sering digunakan juga ialah dinding plastik yang mempunyai komposisi atomik seperti
komposisi atomik jaringan-jaringan tubuh manusia, dan diisi dengan gas yang memiliki
komposisi atomik yang sama. Ini disebut dengan Tissue Equivalent Ionization Chamber.
Keuntungan detektor jenis ini adalah, dapat membedakan energi radiasi yang memasukinya,
serta tegangan kerja yang dibutuhkan dalam pengoperasiannya tidak terlalu tinggi.

12
2.2.3 Geiger -Mueller
Detektor ini untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Geiger dan Muller pada tahun 1928.
Detektor Geiger Muller merupakan suatu detektor proteksi radiasi yang memanfaatkan unsur
gas. Komponen detektor Geiger Muller terdiri dari dua elektroda, yaitu elektroda positif
(anoda) dan elektroda negatif (katoda). Gas yang digunakan dalam detektor ini diantaranya gas
P-10, helium, maupun gas jenis argon. Detektor ini berbentuk silinder dengan bagian tengah
sebagai konduktor yang mana berfungsi sebagai anoda, sedangkan selimut silinder tersebut
berfungsi sebagai katoda.

Gambar 1. Geiger mueller


Tingginya nilai tegangan pada tabung G-M, menimbulkan adaya medan listrik yang besar
sehingga menyebabkan terjadinya guguran elektron (electron avalenche) yang membentuk
suatu elektron bebas. Elektron-elektron bebas tersebut mengakibatkan molekul-molekul pada
gas isian akan mengalami eksitasi. Dalam rentang waktu yang singkat (orde nanosekon),
molekul-molekul gas yang tereksitasi tersebut akan kembali stabil yaitu kembali pada tingkat
energi atau orbit keadaan awal. Perpindahan elektron dari keadaan tereksitasi menuju keadaan
semula memancarkan gelombang elektromagnetik, dengan panjang gelombang yang berada
pada rentang panjang gelombang cahaya tampak. Pada saat proses discharge mencapai angka
tertentu, efek kolektif dari guguran elektron berperan dalam menghentikan rantai reaksi yang
terjadi dalam tabung G-M. Berhentinya rantai reaksi dalam tabung G-M akan terjadi setelah
kira-kira jumlah guguran elektron berikutnya sama dengan jumlah elektron sebelumnya, maka
seluruh pulsa keluaran memiliki besar amplitudo yang sama, dan tidak tergantung pada jumlah
pasangan ion awal yang terjadi pertama kali dalam tabung G-M, sebagai akibat interaksi radiasi
dengan molekul gas isian. Pada detektor jenis ini, proses discharge terjadi sepanjang anoda.
Seluruh proses discharge terjadi dalam waktu singkat (orde mikrosekon). Proses discharge ini,
harus mengalami proses pendinginan secara tiba-tiba (quenching), hal tersebut bertujuan untuk
mencegah terjadinya proses discharge yang terus menerus serta untuk mencegah terjadinya

13
pembentukan pulsa yang berlebihan. Setelah proses Geiger discharge berhenti, ion-ion positif
bergerak lambat ke katoda yang nantinya dinetralisir oleh elektron-elektron yang ada di
permukaan katoda. Dalam proses ini sejumlah energi, yang disebut sebagai fungsi kerja (work
function), dibebaskan. Energi tersebut sama dengan energi ionisasi gas dikurangi dengan energi
yang diperlukan untuk mengeluarkan elektron dari permukaan katoda. Jika energi yang
dibebaskan tersebut masih melebihi fungsi kerja katoda, maka energi tersebut mungkin akan
mengeluarkan elektron lagi dari permukaan katoda. Elektron ini akan bergerak ke anoda, dan
akan memicu guguran lain yang akan menjadi Geiger discharge yang kedua. Maka akan
tercatat, pulsa tambahan yang bukan berasal dari radiasi yang masuk. Berdasarkan hal tersebut,
dapat telihat bahwa detektor G-M memiliki kekurangan dimana tidak dapat membedakan
energi radiasi yag memasukinya. Selain itu, terdapat kekurangan lainnya seperti memiliki
waktu-mati yang cukup lama, (berkisar antara 100—300 µsekon), sehingga kemampuan
ukurnya hanya terbatas pada laju cacah yang rendah. Detektor G-M tidak cocok jika digunakan
untuk menghitung laju cacah yang tinggi dalam rentang waktu yang singkat (laju pulsa yang
tinggi, beberapa ratus pulsa per sekon), karena akan menimbulkan pembentukan pulsa yang
sangat cepat.Dalam peralatan dosimeter, penggunaan detektor GM harus memiliki tanggapan
(response) yang sama dengan jaringan tubuh manusia, pada seluruh rentang energinya.
Detektor G-M akan mengalami over-response pada energi kira-kira di bawah 200 keV,
sehingga diperlukan filtrasi yang cocok, yang dipasang mengelilingi tabung detektor G-M
untuk menjamin bahwa respon energinya linear. Hal ini disebut dengan kompensasi energi.

2.2.4 TLD
Peristiwa penyerapan energi yang diikuti dengan pancaran cahaya disebut dengan
luminesensi.Ada dua peristiwa luminesensi yaitu fluoresensi dan fosforesensi.Fluoresensi
adalah pancaran cahaya yang spontan,dimana pancaran tersebut akan berakhir jika proses
eksitasi yang terjadi pada bahan berakhir.sedangkan pada proses fosforesensi,pancaran akan
berakhir pda saat setelah proses eksitasi pada bahan berakhir beberapa saat setelah proses
eksitasi akan berakhir.Peristiwa lumenisensi dengan bantuan panas disebut dengan
thermoluminesensi.Sebagaimana diketahui bahwa materi memiliki kesanggupan untuk
menyimpan energi dari radiasi pengion yang diterimanya .Jika materi tersebut mendapatkan
rangsangan yang cukup maka akan dipancarkan berupa cahaya tampak dengan intensitas yang
sama dengan yang diserap.Detektor dengan prinsip thermoluminesensi dapat berfungsi sebagai
detektor radiasi.Karena terangnya pancaran cahaya bergantung pada besarnya radiasi yang
14
diterima.Dosimeter TLD adalah zat padat yang terbuat dari kristaln tertentu yang mampu
memancarkan cahaya.Mekanisme thermoluminesensi termasuk pada bahan isolator yang
mempunyai model daerah energi terdiri atas daerah valensi,daerah penangkap ion dan daerah
konduksi.Fosfor akan menyerap energi radiasi pengion yang datang sehingga terbentuk
elektron elektron bebas melalui proses efek fotolistrik,efek compton, dan efek produksi.proses
mekanisme TLD dapat dilihat pada gambar dibawah :

Gambar 2.Mekanisme kerja TLD


Proses pemantauan dosis dengan TLD dilakukan dengan cara membaca jumlah energi radiasi
yang tersimpan di dalam dosimeter tersebut.
2.2.5 OSL
Optical stimulated luminescene (OSL) merupakan suatu metode untuk mengukur dosis dari
radiasi pengion. Optikal stimulated luminescence (OSL) adalah metode untuk mengukur dosis
dari radiasi pengion. Metode ini menggunakan elektron yang terjebak di antara pita valensi dan
konduksi dalam struktur kristal dari jenis materi tertentu (seperti kuarsa, feldspar, dan
aluminium oksida).Prinsip dari metode OSL diantaranya dengan adanya iradiasi material yang
dapat memicu beberapa elektron untuk mengalami eksitasi. Dalam prosesnya, sinar laser
memicu elektron untuk kembali ke keadaan dasar dengan energi yang teremisikan sebesar
cahaya tampak. Intensitas emisi cahaya yang dikeluarkan sebanding dengan dosis yang
didapatkan oleh detektor ini.

2.2.6 Film Radiochromic

Film radiochromic merupakan film yang terdiri dari satu atau dua lapisan bahan monomer yang
sensitif terhadap radiasi di dalam bahan polyester tipis dengan lapisan transparan. Film

15
radiochromic dapat langsung berubah warna ketika terpapar radiasi pengion dan tidak
memerlukan proses kimia maupun fisik dalam perubahannya. Hal tersebut juga menjadi
keunggulan detektor film radiochromic dimana tidak memerlukan pemrosesan film, kamar
gelap, maupun bahan kimia lainnya. Dalam mengidentifikasi film radiochromic diperlukan
penggunaan referensi tabel warna, densitometer, dan scaner.
Film radiochromic memiliki dua jenis prinsip reaksi dasar utama, yaitu terdiri dari:
1. reaksi radiasi leuco dyesyang

Gambar 3. Reaksi Radiasi leuco dyesyang


Ikatan rangkap dari senyawa memiliki kemampuan untuk menyerap foton dari cahaya
tampak, sehingga dapat menghasilkan senyawa yang berwarna.

2. Reaksi perubahan kimia

Gambar 4. Reaksi perubahan monomer menjadi polimer

Pada reaksi perubahan kimia, foto monomer tidak berwarna dapat berubah menjadi berwarna.
Hal tersebut disebabkan oleh adanya beberapa senyawa kimia organik yang akan mengalami
fotopolmerisasi apabila disinari oleh sinar UV menjadi bentuk kristal yang sangat banyak.
Reaksi tersebut dapat terjadi apabila terdapatnya perubahan thermal, fotokimia, maupun

16
apabila terkena radiasi gamma.Radiasi pada film radichromatic dipengaruhi oleh beberapa hal
seperti, suhu, kelembapan, dan sinar UV. Suhu dan kelembapan saat penyimpanan, pembacaan,
maupun saat penyinaran dapat mempengaruhi kesalahan dalam pembacaan suatu dosis. Selain
itu, juga detektor film radiochromatic sensitiv terhadap radiasi sinar UV dikarenakan dapat
mengubah warna film secara spontan.

17
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Pada makalah ini maka dapat kami simpulkan beberapa hal yakni :
• Pengukuran radiasi dan pengamatannya pada umumnya membutuhkan jenis keadaan
tertentu agar radiasi tersebut dapat teramati.
• .Untuk menentukan dosis serap pada suatu medium pada umumnya membutuhkan
detektor didalam mediumnya.Detektor tersebut akan berfungsi sebagai media
sensitif.Yang disebut cavity
• Detektor radiasi bekerja dengan cara mendeteksi perubahan yang terjadi di dalam bahan
detektor/medium penyerap. Perubahan ini terjadi karena adanya perpindahan energi
dari radiasi ke medium tersebut.

3.2 SARAN
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus
dan detail dalam menjelaskan tentang makalah di atas secara detail dan lengkap.Menyangkut
dengan isi makalah yang telah kami tuliskan kami berharap pemerintah Indonesia dapat
memanfaatkan potensi pemanfaatan radiasi dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam
bidang medis dan kesehatan.

18
DAFTAR PUSTAKA

[1] ATTIX, F.H., Introduction to Radiological Physics and Radiation Dosimetry,


Wiley, New York (1986)
[2] Experimental Study of Coaxial Cable Noise Mechanism on Ion Chamber
Measurement Line for PHWR Kwang-Dae Lee Nuclear Power Laboratory,
KEPCO Research Institute, Daejeon, Korea
[3] Akhadi Mukhlis dan M Thoyib Tamrin. Fenomena Termoluminesensi dan
Pemanfaatan dalam Dosimetri. PTKMR-BATAN ,Cinere Pasar Jumat,
Jakarta,1998.
[4] Internasional Atomic Energi Agency (IAEA). Absorbed Dose Determination in
photon and electron Beams an Internasional Code of practice.IAEA Technical
Report Series No. 277. Vienna,1987`
[5] JOHNS,H.E.,CUNNINGHAM,j.R.,the Physics of Radiology, charles c. thomas,
springfield, il (1985).
[6] Tsoulfanidis, Nicholas, Measurement and Detection of Radiation, Hemisphere
Publishing Corporation, London, 1983;
[7] Knoll, Glen F., Radiation Detection and Measurement, 2nd edition, John Wiley
and sons, Singapore, 1989;
[8] Burnham, J.U., Radiation Protection, New Brunswick Power Corporation, 1992;
[9] Lilley, J.S., Nuclear Physics Principles and Applications, John Willey and Sons,
Singapore, 2001;
[10] Cember, Herman, Introduction to Health Physics, edisi bahasa indonesia,
Pergamon Press, Sydney, 1983;
[11] Ridwan, Mohammad, Prayoto dkk., Pengantar Ilmu Pengetahuan Teknologi
Nuklir, Badan Tenaga Atom Nasional, Jakarta, 1978;
[12] INTERNASIONAL COMMISION on RADIATION UNITS and
MEASUREMENTS,Patient Dosimetry for X Rays used in Medical imaging, icRu
Rep. 74, ICRu, bethesda, MD (2005).
[13] Atomic Energy of Canada Limited(AECL), Design Manual 86-68200-
DM(Shutdown System No.1), 1997 [3] Atomic Energy of Canada
Limited(AECL), Design Manual 86-68300-DM(Shutdown System No.2), 1997
[14] KHAN, F.M., The Physics of Radiation Therapy, Lippincott, Williams and
Wilkins, Baltimore, MD (2003).
[15] Batan. (n.d.). Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi. November 23, 2017.
http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/Pengukuran_Radiasi/_private/Prinsi
p%20Dasar.pdf

19
[16] Podgorsak, E.B. (2014). Radiation Oncology Physics: A Handbook for
Teachers and Students. Austria : IAEA

20