Anda di halaman 1dari 4

Bagaimana Sebagai Penulis Pemula,

Saya Menerbitkan Karya Pertama


Kali?
11/212012
Saya sering membaca keluhan (di media sosial, di obrolan), betapa sulitnya penulis pemula
menembus penerbitan (media massa, buku). Mereka selalu berpikir, editor atau redaktur terlalu
memberi tempat untuk penulis terkenal. Dalam hal itu ada benarnya. Jika saya seorang
editor/redaktur, karya penulis terkenal memberi saya rasa tenang: mereka punya jam terbang,
tulisannya hampir pasti rapi, dan tentu saja rata-rata di atas standar layak pemuatan. Mereka
mempermudah pekerjaan editor/redaktur. Tapi jika editor/redaktur tak memperhatikan penulis
pemula, mereka juga sama saja dengan bunuh diri perlahan-lahan. Setiap industri, termasuk
penerbitan, membutuhkan regenerasi. Darimana regenerasi ini dari mana mereka peroleh? Dari
para penulis pemula!

Dari asumsi tersebut, banyak penulis pemula merasa bahwa mengenal secara pribadi
editor/redaktur seperti menjadi hal penting untuk karyanya diterbitkan. Saya ingin berbagi cerita,
mengenai awal-mula saya menulis dan bagaimana karya-karya saya diterbitkan. Percayalah, tak
ada yang aneh. Saya melakukan sesuatu yang saya rasa dilakukan sebagian besar penulis di awal
karir mereka, dan tentu bisa ditiru oleh penulis pemula lainnya.

Karya saya yang pertama kali diterbitkan adalah sebuah (kemudian beberapa) puisi, yang saya
tulis ketika kelas 2 SMP. Umur saya mungkin 11 tahun. Puisi anak-anak dan dimuat di majalah
anak-anak. Kenapa saya sampai terpikir mengirimkan puisi ke majalah tersebut? Gampang saja.
Saya memang membaca majalah tersebut (ayah saya berlangganan untuk kami). Di salah satu
halaman, tertera tulisan kecil: redaksi menerima kiriman cerita pendek atau puisi, dikirimkan ke
alamat redaksi …. Saya rasa anak kelas 2 SMP bisa dengan cepat paham arti pengumuman kecil
tersebut tanpa harus bertanya kepada orang dewasa, atau penulis besar, bagaimana mengirimkan
karya ke media.

Maka saya pun mengambil mesin tik, menulis beberapa puisi, dan mengirimkannya ke alamat
yang tertera. Saya tak kenal redakturnya, tak pernah korespondensi sebelumnya, tak kenal
penulis lain yang pernah melakukan hal itu sebelumnya. Saya hanya melakukan hal sederhana
yang saya ketahui dari satu pengumuman kecil yang biasanya ada di bagian bawah boks redaksi.
Beberapa edisi kemudian, puisi saya dimuat. Memang saya tak memperoleh honor, tapi saya
memperoleh kiriman majalah gratis. Dan sedikit kepopuleran yang saya peloreh di sekolah. Itu
sudah membuat saya senang.
Cara tersebut saya lakukan juga ke majalah lain. Ketika remaja saya mengirim naskah ke
Majalah Hai, juga dengan cara yang sama. Demikian juga ketika saya mengirimkannya ke surat
kabar. Di semua media, selalu tercantum alamat redaksi. Dan ke alamat tersebutlah semua
naskah memang seharusnya dikirimkan. Di boks masthead media massa, biasanya memang ada
beberapa alamat. Ada alamat tata usaha, alamat redaksi, alamat sirkulasi. Jangan salah, naskah
harus dikirim ke alamat redaksi. Bukan alamat yang lain.

Zaman itu, saya masih mengirimkan naskah dalam bentuk hasil ketikan. Tentu saja dikirim via
pos, kadang disisipin prangko untuk pengembalian jika memang tak layak dimuat. Tahun
2000an, keadaan menjadi jauh lebih mudah dengan terbiasanya media massa menerima naskah
dalam bentuk email. Alamat email redaksi media massa pun mudah ditemukan di boks redaksi.
Jujur saya suka bingung jika ada yang bertanya, “Kalau mau mengirimkan cerpen
ke Kompas atau ke Koran Tempo, emailnya apa ya?” Saya rasa, jika seseorang serius ingin
menulis dan menerbitkan cerpen, orang tersebut harus membeli dan membaca koran-koran itu.
Bukan hanya untuk mengetahui selera koran tersebut, tapi lebih panting lagi: untuk tahu alamat
email mereka.Alamat email redaksi ada di sana!

Memang akan lebih mudah jika kamu mengetahui email pribadi editornya. Naskahmu tak akan
terlalu berputar-putar dari sekretaris redaksi, ke desk kebudayan, ke redaktur penjaga rubrik.
Tapi mengirimkan email ke redaksi tetap merupakan cara yang formal, dan tak akan
menghalangi naskahmu dimuat jika memang layak. Pengalaman saya, cerpen-cerpen saya dimuat
diMedia Indonesia sebelum saya mengenal editornya. Begitu pula denganKompas.

Tentu saja masih ada kemungkinan kamu berhadapan dengan redaktur pemalas. Redaktur yang
hanya melirik karya-karya penulis terkenal. Jika naskahmu layak muat tapi diabaikan redaktur
karena namamu belum dikenal, coba saja ke tempat lain. Saya percaya banyak redaktur yang
memahami pentingnya penulis pemula untuk kelangsungan hidup bisnis mereka. Saya bukan
pengamat cerpen-cerpen setiap minggu di koran atau majalah. Tapi sekilas saja saya bisa tahu,
dari tahun ke tahun penulis pemula selalu bermunculan. Itu fakta sederhana, bahwa tak mungkin
satu industri menutup pintu untuk para pemula.

Bagaimana dengan buku? Saya rasa sama saja. Di setiap buku yang saya baca, terutama buku
dalam negeri, dengan mudah saya menemukan alamat penerbit. Biasanya ada di sampul
belakang, atau di halaman hak cipta. Kirimkan naskahmu ke alamat itu, dan tunggu. Percayalah,
editor di penerbitan juga tak mungkin menutup diri kepada penulis pemula. Mereka sangat haus
dengan bakat-bakat baru. Saya sering mendengar teman saya yang editor, menjerit-jerit histeris,
jika ia menemukan penulis baru yang menjanjikan. Ingat, semua penulis terkenal dan tua,
berawal dari penulis muda dan pemula.

Memang pengalaman saya menerbitkan buku tidak seratus persen seperti itu. Buku pertama saya,
sebuah karya non-fiksi berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis.
Sebenarnya itu skripsi saya di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Ketika naskah itu
masih dalam bentuk draft, seorang teman membacanya dan membawanya ke teman lain yang
memiliki penerbitan. Pemilik penerbitan tertarik menerbitkannya. Demikianlah, buku pertama
saya akhirnya terbit. Ada sejenis faktor kebetulan, karena saya tak menawarkannya. Lha, niat
awalnya memang untuk skripsi. Bahkan saya sempat mewanti-wanti, bukunya jangan terbit
sebelum saya lulus ujian. Kalau terbit duluan, bisa-bisa saya tidak lulus karena mengajukan
karya yang sudah terbit duluan.

Di masa-masa itu, kebetulan saya sudah mulai banyak menulis cerpen di koran dan majalah.
Saya pun sudah kenal dekat dengan pemilik penerbitan yang menerbitkan buku pertama saya.
Dia mengusulkan cerpen-cerpen saya diterbitkan saja jadi buku. Demikianlah Corat-coret di
Toiet terbit sebagai buku fiksi pertama saya. Agak-agak gampang karena dibantu oleh buku
pertama saya.

Tapi bukan berarti saya tak pernah mengirimkan naskah buku dengan cara tradisional,
mengirimkannya ke alamat penerbit. Ketika saya menulis novel pertama saya (waktu itu
judulnya masih O Anjing), saya mengirimkannya ke beberapa penerbit. Meskipun mereka tak
menerbitkannya, mereka cukup baik hari meresponsnya: menolak. Satu penerbit bilang, naskah
saya terlalu sastra. Penerbit lain bilang, naskah saya terlalu tebal, mereka tak mau ambil risiko
secara bisnis (mungkin dengan pertimbangan saya masih pemula juga). Eh, ada juga sih yang
sama sekali tak memberi jawaban apa-apa.

Dengan cara yang berbelit-belit, novel itu akhirnya terbit juga. Waktu itu Insist mendirikan
Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), dengan cita-cita membantu para penulis muda untuk
berkarya. Saya bergabung dengan lembaga itu dengan membawa naskah O Anjing. Dengan
bantuan pembiayaan dari AKY, sebuah penerbit akhirnya menerbitkan novel itu. Judulnya
menjadiCantik itu Luka. Naskah yang sempat ditolak beberapa penerbit itu, sekarang menjalani
nasibnya sendiri yang baik. Diterbitkan ulang oleh penerbit besar (ya, Gramedia Pustaka Utama),
diterjemahkan ke Bahasa Jepang, Malaysia, dan sedang dalam proses ke Bahasa Inggris.

Saya ingat, sebagai penulis pemula, saya tak pernah punya pikiran industri ini hanya milik
penulis mapan dan papan atas. Saya hanya perlu memastikan diri bahwa saya percaya pada
kemampuan diri sendiri, dan percaya pada karya saya.

Tiga belas tahun telah berlalu sejak saya menerbitkan buku pertama. Saya masih memegang
keyakinan: bahwa selalu ada tempat untuk penulis pemula, dan selalu ada jalan untuk karya yang
baik diterbitkan. Saya bahkan, di hari-hari ini, sering merindukan mental penulis pemula yang
saya miliki bertahun-tahun itu. Merindukan keadaan ketika saya merasa tulisan saya gagal dan
saya harus menuliskannya lagi berulang-ulang, menulis hal yang sama berhari-hari, agar hasilnya
sesuai yang saya inginkan. Merindukan hari-hari ketika saya merasa sangat bodoh, dan
membawa saya untuk berhenti menulis, dan menggantinya dengan membaca sebanyak-
banyaknya. Jika menjadi penulis mapan berarti merasa selalu bisa menulis karya yang bagus,
merasa mengetahui banyak hal, saya sih lebih suka terus-terusan menjadi penulis pemula.
Dan jika kamu merasa sebagai penulis pemula, berjuang untuk menghasilkan karya yang baik
dan menerbitkannya, kamu punya teman seperjuangan. Saya.