Anda di halaman 1dari 5

Vitamin C adalah vitamin yang larut dalam air, vitamin C bermanfaat untuk memperkuat

daya tahan tubuh dan menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh, serta mampu menyerap
zat besi dari makanan yang dibutuhkan untuk mencegah anemia. Buah belimbing wuluh
mempunyai rasa yang asam sehingga peneliti tertarik untuk mencari peresentase kadar vitamin C
yang terdapat pada buah belimbing wuluh. Untuk menentukan kadar vitamin C pada buah
belimbing wuluh digunakan metode iodimetri.

Vitamin C merupakan salah satu zat gizi yang berperan sebagai antioksidan dan efektif
mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan, termasuk melindungi lensa dari
kerusakan oksidatif yang ditimbulkan oleh radiasi. Status vitamin C seseorang sangat tergantung
dari usia, jenis kelamin, asupan vitamin C harian, kemampuan absorpsi dan ekskresi, serta
adanya penyakit tertentu. Rendahnya asupan serat dapat mempengaruhi asupan vitamin C karena
bahan makanan sumber serat dan buah-buahan juga merupakan sumber vitamin C.

Peran utama vitamin C adalah dalam pembentukan kolagen interseluler. Kolagen


merupakan senyawa protein yang banyak terdapat dalam tulang rawan, kulit bagian dalam
tulang, dentin, dan vasculair endothelium. Asam askorbat sangat penting peranannya dalam
proses hidroksilasi dua asam amino prolin dan lisin menjadi hidroksi prolin dan hidroksilisin.
Penetapan kadar Vitamin C dalam suasana asam akan mereduksi larutan dye membentuk larutan
yang tidak berwarna. Apabila semua asam askorbat sudah mereduksi larutan dye sedikit saja
akan terlihat dengan terjadinya perubahan warna (merah jambu).

Vitamin C juga memiliki peran dalam berbagai fungsi yang melibatkan respirasi sel dan
kerja enzim yang mekanismenya belum sepenuhnya dimengerti, peran-peran itu adalah oksidasi
fenilanin menjadi tirosin, reduksi ion feri menjadi fero dalam saluran pencernan sehingga besi
lebih mudah terserap, melepaskan besi dari transferin dalam plasma agar dapat bergabung ke
dalam feritin jaringan, serta pengubah asam folat menjadi bentuk yang aktif asam
folinat.diperkirakan vitamin C juga berperan dalam pembentukan hormon steroid dan kolesterol
(Winarno, 2004).

Kadar dari vitamin C dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

1. Keadaan buah : Semakin layu/kusut atau tidak segarnya vitamin menyebabkan kadar vitamin
C yang terkandung dalam buah tersebut berkurang.
2. Waktu pengekstraksian : Semakin lama waktu mengekstrasi kandungan vitamin C akan
semakin berkurang.

3. Masa penyimpanan : Semakin lama suatu bahan disimpan, kadarnya akan semakin rendah. 4.
Suhu : Semakin tinggi suhu, kadarnya akan semakin rendah (Imma, 2009).

Vitamin C memilki struktur seperti komponen karbohidrat dengan sifat asam dan
pereduksinya. Vitamin ini stabil dalam keadaan kering, tetapi mudah mengalami kerusakan
akibat olehoksidasi dalam suasana basa. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerusakan vitamin C
meliputi suhu, pH, oksigen, katalis logam, sinar, enzim, konsentrasi awal vitamin C, dan rasio
asam askorbat dan asam dehidroaskorbat. Kerusakan vitamin C dapat diminimalisasi dengan
pengemasan dan pengendalian suhu pemasakan. Sumber vitamin C sebagian besar diperoleh dari
buah-buahan dan sayuran segar. Mekanisme aktivitas antioksidan vitamin C adalah dengan
emnangkap radikal bebas peroksida sehingga membrane sel dapat terlindungi.

Penambahan iodium akan terbentuk kompleks pati dan iodium kompleks ini dapat
mengendap yang kemudian dapat ditentukan dengan mengukur konsentrasi warna biru yang
terbentuk dengan menggunakan spektrofotometer (Wulung, 2008). Metode ini digunakan untuk
memisahkan amilum atau pati yang terkandung dalam larutan. Reaksi positifnya ditandai dengan
adanya perubahan warna menjadi biru. Warna biru yang dihasilkan diperkirakan hasil dari ikatan
kompleks antara amilum dengan iodin. Sewaktu amilum yang telah ditetesi iodin kemudian
dipanaskan, warna yang dihasilkan sebagai hasil dari reaksi yang positif akan menghilang.
Sewaktu didinginkan warna biru akan muncul kembali (Harrow, 1996).

Menurut Awan (2011) bahwa iodin yang ditambahkan berfungsi sebagai indikator suatu
senyawa polisakarida. Reagent yang digunakan adalah larutan iodine yang merupakan I2 terlarut
dalam potassium iodide. Reaksi antara polisakarida dengan iodin membentuk rantai poliodida.
Polisakarida umumnya membentuk rantai heliks (melingkar), sehingga dapat berikatan dengan
iodin, sedangkan karbohidrat berantai pendek seperti disakarida dan monosakaraida tidak
membentuk struktur heliks sehingga tidak dapat berikatan dengan iodin. Amilum dengan iodine
dapat membentuk kompleks biru , amilopektin dengan iodin akan memberi warna merah ungu.

Buah belimbing mempunyai kandungan gizi cukup tinggi yang bermanfaat bagi tubuh.
Dalam 100 gram buah belimbing yang matang mengandung energi (35 kal), protein (50 gram),
lemak (0,7 gram), karbohidrat (7,70 gram), kalsium (8 mg), serat (0,90 gram), vitamin A (18
RE), vitamin C (33 mg) dan niacin (0,40 gram).

Hasil penitrasian menghasilkan warna biru kehitaman, yang menandakan titik akhir
titrasi. Titrasi dilakukan secara duplo atau dilakukan sebanyak dua kali. Penambahan larutan
H2SO4 dan larutan amilum (kanji) yaitu untuk menandakan proses akhir titrasi dengan
membentuk iod-amilum. Berdasarkan hasil praktikum kadar vitamin C dalam sampel vitacimin
adalah 0,00311 % atau 3,11 mgram/100 gram.

Praktikum ini bertujuan untuk melakukan standarisasi suatu larutan dan melakukan
penetapan vitamin C. Sampel yang digunakan adalah buah belimbing dan minuman sari asam.
Metode yang digunakan adalah metode iodimetri. Sebelum menitrasi sampel, hal pertama yang
dilakukan adalah menstandarisasi larutan Natrium Thiosulfat dan Iod. Hal ini dilakukan karena
kedua larutan tersebut dapat berubah kondisinya pada kondisi suatu lingkungan tertentu dan juga
akibat penyimpanan dalam waktu yang lama. Konsentrasi larutan Natrium Thiosulfat yang
diperoleh dan larutan Iod setelah distandarisasi masing - masing sebesar 0,1 N dan 0,083 N.

Percobaan selanjutnya adalah penetapan vitamin C. Berbagai macam sampel yang telah
dilarutkan dititrasi dengan menggunakan iodin. Reaksi yang terjadi adalah:

CH2OH-CHOH-CH-COH-C=O+I2→CH2OH-CHOH-CH=C-C-C=O+2H++2I-

Dalam praktikum ini menggunakan Metode iodometri, metode ini paling banyak
digunakan, karena murah, sederhana, dan tidak memerlukan peralatan laboratorium yang canggih.
titrasi ini memakai Iodium sebagai oksidator yang mengoksidasi vitamin C dan memakai amilum sebagai
indikatornya. Metode titrasi iodometri langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu
larutan iod standar. Dalam menggunakan metode iodometrik kita menggunakan indikator kanji dimana
warna dari sebuah larutan iodin 0,1 N cukup intens sehingga iodin dapat bertindak sebagai indikator
bagi dirinya sendiri. Iodin juga memberikan warna ungu atau violet yang intens untuk zat-zat pelarut
seperti karbon tetra korida dan kloroform.

Namun demikan larutan dari kanji lebih umum dipergunakan, karena warna biru gelap
dari kompleks iodin–kanji bertindak sebagai suatu tes yang amat sensitiv untuk iodine. Dalam beberapa
proses tak langsung banyak agen pengoksida yang kuat dapat dianalisis dengan menambahkan kalium
iodida berlebih dan mentitrasi iodin yang dibebaskan. Karena banyak agen pengoksida yang
membutuhkan larutan asam untuk bereaksi dengan iodin, Natrium tiosulfat biasanya digunakan sebagai
titrannya. Kadar Vitamin C ditentukan dengan cara iodometri, dimana vitamin C mereduksi I2 menjadi I.
titik akhir titrasi ditentukan dari warna biru amilum.

Pada percobaan analisis vitamin C ini bertujuan untuk menentukan kadar vitamin C pada
sampel. Sampel yang kami gunakan adalah buah belimbing dan minuman sari asam. Pertama yang
dilakukan adalah mengupas buah belimbing lalu dipotong kecil dan dihaluskan dengan menggunakan
blender kemudian disaring menggunakan kertas saring dan dipipet sebanyak 2 ml dimasing-masing
Erlenmeyer. Filtrat yang didapatkan pada buah belimbing berwarna kuning bening. Sampel yang sudah
dimasukan kedalam Erlenmeyer Lalu ditambahkan 3 tetes amilum 1% yang bertujuan sebagai indikator
penanda adanya titik akhir pada titrasi. Reaksi amilum dengan I2, Amilum bereaksi dengan iod, dengan
adanya iodida membentuk suatu kompleks yang berwarna biru yang akan terlihat pada konsentrasi iod
yang sangat rendah. Kemudian ditambahkan 20 mL aquades lalu dilakukan titasi dengan larutan standar
I2 0,01N. Proses titrasi dilakukan sampai larutan dalam erlenmeyer berubah warna dari larutan bening
menjadi biru violet. Warna biru violet yang dihasilkan merupakan reaksi antara iod dengan amilum
menjadi iod-amilum yang menandakan bahwa proses titrasi telah mencapai titik akhir.

Fungsi larutan iod ialah pereaksi untuk memperlihatkan jumlah vitamin C yang terdapat
dalam sampel menjadi senyawa dihidroaskorbat sehingga akan berwarna biru karena pereaksi yang
berlebih. Semakin banyak volume titrasi yang diperlukan untuk menintrasi larutan sampel, maka dapat
menandakan bahwa semakin banyak pula kandungan kadar vitamin C pada sampel.

Proses titrasi dilakukan dengan langkah yang sama sebanyak tiga kali pengulangan untuk
mendapatkan volume titrasi yang semakin akurat. Volume titrasi yang kami peroleh, yaitu pada sampel
buah belimbing sebesar 0,1 mL, 0,1 mL, dan 0,1 mL. Sedangkan pada minuman sari asam diperoleh
volume titrasi sebesar 0,05 mL, 0,05 mL, dan 0,05 mL. Setelah didapatkan volume titrasi, kadar vitamin C
dapat ditentukan yaitu pada buah belimbing sebesar 0,7304 mg dengan persentase asam askorbat
sebesar yaitu 0,035 %, sedangkan pada minuman sari asam sebesar 0,3652 mg dengan persentase asam
askorbat sebesar 0,017 %.

Berdasarkan literatur, dituliskan bahwa kandungan vitamin C pada buah belimbing sebesar 120
mg/100gr (Departemen kesehatan RI,1972) sehingga hasil dari percobaan telah sesuai dengan literatur
yaitu sebesar 117,34 mg/100 gr meskipun memiliki selisih sedikit. Sedangkan pada buah apel sebesar 5
mg per 100 gram Air (Departemen Kesehatan RI,1972) sehingga hasil dari percobaan berbeda sangat
jauh dari literatur. Hal tersebut dapat dikarenakan kurang ketelitian di saat penentuan titik akhir titrasi,
I2 mengalami oksidasi, ataupun human error. Kadar vitamin C pada buah apel yang sangat sedikit
memungkinkan untuk sulitnya di analisis dengan metode iodometri sehingga dapat dilakukan
menggunakan metode yang lain.