Anda di halaman 1dari 4

IODOMETRI TITRASI VITAMIN C

Oleh: Rendhika Taufik Yudoseno (1112016200036) Aini Nadhokhotani Herpi,Annisa Etika Arum,Fikri Sholiha

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2014

ABSTRACT

Kadar vitamin C yang ditetapkan secara iodimetri menggunakan larutan iod sebagai pentiter. Vitamin C dalam Contoh bersifat reduktor kuat akan dioksidasikan oleh I 2 dalam suasana asam dan I 2 tereduksi menjadi ion iodide. Indikator yang digunakan adalah kanji dengan titik akhir biru.

INTRODUCTION

Vitamin C atau asam askorbat merupakan senyawa organik derivat heksosa yang mempunyai berat molekul 178 dengan rumus molekul C 6 H 8 O 6 , titik cairnya 190-192 o C, bersifat larut dalam air, sedikit larut dalam aseton dan alkohol yang mempunyai berat molekul rendah, dengan logam membentuk garam, tidak larut dalam lemak, mudah teroksidasi dalam keadaan larutan, terutama pada kondisi basa, ada katalisator Fe dan Cu, enzim askorbat oksidase, sinar serta suhu tinggi, peka terhadap panas, stabil dalam kondisi asam (pH rendah) dan kondisi kristal kering, berbentuk kristal warna putih, reduktor kuat, rasanya masam, mudah teroksidasi menjadi asam dehidroaskorbat tetapi mudah tereduksi menjadi asam askorbat kembali, dan tidak berbau. Vitamin C (C6H8O6) merupakan master of nutrient. Macam-macam bahan makanan yang menjadi sumber vitamin C yakni hati, ginjal, sayur-sayuran dan buah-buahan segar terutama jeruk baik yang masih dalam bentuk buah asli maupun sudah berupa minuman segar. Asupan gizi rata-rata sehari sekitar 30 sampai 100 mg vitamin C yang dianjurkan untuk orang dewasa. Namun, terdapat variasi kebutuhan dalam individu yang berbeda (Sweetman 2005).

Dalam menggunakan metode iodometri kita menggunakan indikator kanji dimana warna dari sebuah larutan iodin 0,1 N cukup intens sehingga iodin dapat bertindak sebagai indikator bagi dirinya sendiri. Iodin juga memberikan warna ungu atau violet yang intens untuk zat-zat pelarut

seperti karbon tetra korida dan kloroform. Namun demikan larutan dari kanji lebih umum dipergunakan, karena warna biru gelap dari kompleks iodinkanji bertindak sebagai suatu tes yang amat sensitif untuk iodine.(Underwood, 1986). Dalam beberapa proses tak langsung banyak agen pengoksid yang kuat dapat dianalisis dengan menambahkan kalium iodida berlebih dan mentitrasi iodin yang dibebaskan. Karena banyak agen pengoksid yang membutuhkan larutan asam untuk bereaksi dengan iodin, Natrium tiosulfat biasanya digunakan sebagai titrannya. (Bassett, 1994). Iodimetri dan Iodometri adalah metode penentuan kuantitatif yang dasar penentuannya adalah jumlah I 2 , yang bereaksi dengan cuplikan atau terbentuk oleh cuplikan kalau direaksikan dengan ion I - . Jadi dasar reaksi yang digunakan pada Iodimetri dan iodometri adalah

I2+ 2e ↔ 2I

Pada Iodimetri, dasar penentuan jumlah/kadar ion atau unsure tertentu dalam cuplikan adalah jumlah I 2 yang dapat direduksinya. Jadi pada iodimetri, larutan bakunya adalah larutan I 2 Kesetimbangan reaksi tersebut diatas dapat berjalan baik ke kanan maupun ke kiri. Pada reaksi 1 I 2 bekerja/ bertindak sebagai oksidator, sedangkan pada reaksi 2 I 2 bertindak sebagai reduktor.(Underwood, 1986).

MATERIAL AND METHODS

Alat

1. Gelas Kimia dan Batang Pengaduk

2. Pipet

3. Klem dan Statif

4. Erlenmeyer

5. Neraca

6. Corong

7. Gelas ukur

8. Buret

Bahan

2.

Aquades 100ml

3. H 2 SO 4 10% 5ml

4. Amilium 20 tetes

5. Iodin

Metode

1. 0,5gram vitamin C dilarutkan dalam 100ml aquades

2. Ambil 25ml masukkan ke dalam labu erlenmeyer

3. Tambahkan 5ml H 2 SO 4 10%

4. Tambahkan 20 tetes indikator amilum

5. Titrasi dengan iodin dalam gelap dengan hasil akhir perubahan warna menjadi hitam

ke-unguan

RESULTS AND DISCUSSION

V. Titrasi Iodometri 4,3 ml

Percobaan

Hasil Pengamatan Larutan berwarna hijau kehitaman Larutan berwarna hijau kehitaman dan ada sedikit endapan

1

1,3 ml

2

Volume Rata-rata Titrasi Iodometri 4,3 +1,3

2

= 2,8

Kadar Vit C = . X . X 0,88 X 100%

Kadar Vit C = 100 X 2,8 X 0,88

X 100%

0,5

= 492,8

Percobaan penetapan kadar vitamin C pada praktikum kali ini dengan menggunakan sampel minuman yang mengandung vitamin C yaitu jeruk yang diperas airnya. Fungsi larutan standart yodium ialah pereaksi untuk memperlihatkan jumlah vitamin C yang terdapat dalam sampel menjadi senyawa dehidro askorbat sehingga akan berwarna biru tua karena pereaksi yang berlebih. Fungsi amylum ialah untuk meningkatkan kecepatan percobaan (sebagai indikator). Reaksi ini disebut reaksi IODIMETRI karena terjadi perubahan dari tidak berwarna (bening) menjadi berwarna biru tua, sedangkan reaksi IODOMETRI adalah kebalikannya.

Setelah sample ditimbang dan diencerkan, selanjutnya sample dipipet sebanyak 25

mL dan dimasukan dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan amilum sebagai indikator,

setelah itu dititrasi dengan menggunakan Iodin. Proses titrasi dilakukan sampai larutan

dalam erlenmeyer berubah warna menjadi biru, warna biru yang dihasilkan merupakan iod-amilum yang menandakan bahwa proses titrasi telah mencapai titik akhir, indikator yang dipergunakan dalam analisa vitamin C dengan metode iodimetri adalah larutan amilum.

Berikut adalah reaksi Iodida dan vitamin C

larutan amilum. Berikut adalah reaksi Iodida dan vitamin C CONCLUSION Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan,

CONCLUSION

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa:

1. Vitamin C merupakan senyawa organik yang larut dalam air, tidak larut dalam lemak,

mudah teroksidasi dalam kondisi basa, peka terhadap panas, stabil dalam kondisi asam

dan kondisi kering, berbentuk kristal warna putih, reduktor kuat.

2. Prinsip analisa kadar vitamin C dengan metode titrasi iodium adalah reaksi vitamin C

dengan iodin membentuk ikatan dengan atom C nomor 2 dan 3 sehingga ikatan

rangkapnya hilang dan terbentuk kompleks iodium-amilum berwarna biru gelap.

3. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa kadar vitamin C pada jeruk sample adalah

senilai 162.7 yang berbeda dari yang ada di DKBM, hal ini disebabkan oleh berbagai

faktor diantaranya jenis bahan dan ketelitian dalam melaksanakan praktikum

REFERENCE

A.A. Izuagie and F.O. Izuagie.2007. jurnal Iodimetric Determination of Ascorbic Acid

(Vitamin C) in Citrus Fruits. Department of Chemistry, Adeyemi College of Education,

Ondo : Nigeria

Day, R. A. Dan Underwood, A. L. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta.

Vogel, A.I. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik Edisi 4. EGC. Jakarta