Anda di halaman 1dari 23

TUGAS

MATA KULIAH HUKUM FORENSIK


“KEDOKTERAN FORENSIK TERHADAP PROSES
PERADILAN PIDANA DI INDONESIA

Oleh:
Ellies Tunjung Sari M
091424653002

PROGRAM STUDI ILMU FORENSIK


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini perkembangan teknologi dan ekonomi begitu pesat diikuti
dengan globalisasi di segala bidang. Namun dengan ini tingkat kejahatan ikut
meningkat hal tersebut ditandai oleh banyaknya kejahatan di Tanah Air. Kejahatan
adalah bayang-bayang dari peradaban. Kejahatan merupakan suatu kegiatan yang
tidak akan pernah hilang dan setiap waktu akan berubah dan berkembang sesuai
dengan peradaban manusia. Kualitas kehidupan materil manusia akan selalu
berkembang dan meningkat baik alat/teknologi, cara/metode, manajemen, maupun
cara bergaul. Hal ini dapat mempengaruhi aspek kehidupan sosial dan hukum
yang akan menimbulkan sebuah konsekuensi, yaitu kejahatan akan ikut
berkembang baik secara kualitas maupun kuantitas, baik dari segi teknik maupun
taktik kejahatan itu sendiri. Konsekuensi ini juga memberikan dampak terhadap
perkembangan proses penegakan hukum dan keadilan, yaitu adanya pemanfaatan
kemajuan ilmu pengetahuan di dalamnya. Sehingga proses penegakan hukum dan
keadilan adalah merupakan suatu usaha ilmiah dan bukan sekedar commen-sense,
nonscientific belaka. Sistem hukum Indonesia, yaitu civil law system, menganut
dengan ketat asas praduga tak bersalah (presumption of innocent). Para tersangka
ataupun terdakwa dalam setiap perkara pidana dilindungi oleh asas praduga tak
bersalah. Asas ini memberikan pedoman kepada aparat penegak hukum untuk
mempergunakan prinsip akusator dalam setiap tingkatan pemeriksaan, dimana
tersangka/terdakwa bukanlah sekedar objek yang dapat diperlakukan dengan
sewenang-wenang.

Dengan demikian pada tahap penyidikan, unsur-unsur melawan hukum


yang dilakukan oleh para tersangka/terdakwa harus dapat dibuktikan oleh para
penyidik dengan mengedepankan scientific investigation, yaitu dengan
memanfaatkan berbagai cabang ilmu pengetahuan sebagai alat bantunya, antara
lain logika, psikologi, kriminalistik, kedokteran kehakiman (kedokteran forensik),
psikiatri, kriminologi, penologi, dan viktimologi. Berbagai ilmu pengetahuan yang
dipergunakan sebagai alat bantu tersebut memiliki peranan yang cukup penting
dalam menjalankan fungsi hukum acara pidana yang ada. Dalam penerapannya,
masing-masing ilmu pengetahuan sangat disesuaikan dengan kebutuhan dari
proses penegakan hukum dan keadilan. Ilmu kedokteran kehakiman (kedokteran
forensik), yang memiliki peranan penting dalam menangani kejahatan yang
menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia. Bantuan dokter dengan ilmu
pengetahuan kedokteran forensik yang dimilikinya, sebagaimana tertuang dalam
visum et repertum yang dibuatnya mutlak diperlukan.

Sebagaimana disampaikan Kapolri Jenderal Pol Drs. Sutanto dalam


makalahnya yang dibacakan Kabareskrim Komjen Pol Drs. Bambang Hendarso
Danuri, MM pada Kongres Nasional Kedokteran Forensik di Danau Toba
Internasional Hotel Jalan Imam Bonjol Medan pada tanggal 24 Agustus 2007,
bahwa ilmu kedokteran forensik sangat penting artinya mulai dari tahap
penyelidikan dan penyidikan hingga pengadilan. Peranan dokter dan dokter
forensik dalam mengidentifikasi manusia merupakan suatu hal terpenting
mengungkap suatu tindak pidana maupun perdata. Dalam hal ini, kedokteran
forensik sebagai ilmu pengetahuan yang digunakan sebagai alat bantu telah
memberikan kontribusi besar bagi Polri dalam mencapai berbagai prestasi,
terutamanya dalam pengungkapan berbagai kasus besar. Dengan demikian, Polri
sebagai garda terdepan pada criminal justice system harus mampu memanfaatkan
ilmu kedokteran forensik sebagai ilmu bantu secara profesional.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana peran kedokteran forensik terhadap proses peradilan di Indonesia

1.3 Tujuan

Untuk mengetahui peran kedokteran forensik terhadap proses peradilan di


Indonesia
BAB 2

Tinjauan Pustaka

2.1 Pengertian Hukum Pidana

Membahas hukum pidana, tidak dapat dilepaskan dengan apa pengertian,


fungsi dan tujuan hukum pidana itu sendiri. Dalam kepustakaan ada beberapa
sarjana yang memberikan batasan tentang hukum pidana. Di bawah ini
dikemukakan pandangan beberapa sarjana.

1. Menurut Moeljatno
Hukum pidana merupakan bagian dari keseluruhan hukum
yang berlaku di suatu negara, yang mengadakan dasar-dasar
dan aturan-aturan untuk:
a. menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh
dilakukan, yang dilarang, dengan disertai ancaman atau
sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa
melanggar tersebut.
b. Menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka
yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat
dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah
diancamkan.
c. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu
dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah
melanggar larangan tersebut.
2. Menurut Soedarto
Soedarto memberikan batasan tentang pengertian hukum
pidana sebagai aturan hukum, yang mengikatkan kepada
suatu perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu suatu
akibat berupa pidana. Dengan demikian pada dasarnya
hukum pidana berpokok pada 2 hal yaitu:
a. perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.
Dengan “perbuatan yang memenuhi syarat-syarat
tertentu” itu dimaksudkan perbuatan yang dilakukan oleh
orang, yang memungkinkan adanya pemberian pidana.
Perbuatan semacam itu dapat disebut “perbuatan yang
dapat dipidana” atau disingkat “perbuatan jahat”
(Verbrechen atau crime). Oleh karena dalam “perbuatan
jahat” ini harus ada orang yang melakukannya, maka
persoalan tentang “perbuatan tertentu” itu diperinci
menjadi dua, ialah perbuatan yang dilarang dan orang
yang melanggar larangan itu.
b. Pidana.
Yang dimaksud dengan pidana ialah penderitaan yang
sengaja dibebankan kepada orang yang melakukan
perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu itu.
Didalam hukum pidana modern, pidana ini juga meliputi
apa yang disebut “tindakan tata tertib”
(tuchtmaatregel, Masznahme). Didalam ilmu
pengetahuan hukum adat Ter Haar memakai istilah
(adat) reaksi. Dalam KUHP yang sekarang berlaku jenis-
jenis pidana yang dapat diterapkan tercantum dalam
fatsal 10 KUHP.
3. Menurut Simons hukum pidana merupakan:
a. keseluruhan larangan atau perintah yang oleh Negara
diancam dengan nestapa yaitu suatu “pidana” apabila
tidak ditaati,
b. keseluruhan peraturan yang menetapkan syarat-syarat
untuk penjatuhan pidana, dan
c. keseluruhan ketentuan yang memberikan dasar untuk
penjatuhan dan penerapan pidana.
4. Van Hamel memberikan batasan bahwa
Hukum pidana merupakan keseluruhan dasar dan aturan yang
dianut oleh Negara dalam kewajibannya untuk menegakkan
hukum, yakni dengan melarang apa yang bertentangan
dengan hukum (onrecht) dan mengenakan suatu nestapa
(penderitaan) kepada yang melanggar larangan tersebut.
Dari beberapa definisi tersebut di atas, pada hakikatnya
untuk hukum pidana bisa dibagi menjadi 2 yaitu :
1. hukum pidana materiil. Hukum pidana materiil di sini
sebagaimana yang disebutkan oleh Moeljatno dalam huruf a
dan huruf b. Dengan demikian apa yang diatur dalam hukum
pidana materiil yaitu:
a. perbuatan yang dilarang atau perbuatan yang dapat
dipidana;
b. syarat untuk menjatuhkan pidana atau kapan/dalam hal
apa seseorang yang telah melakukan perbuatan yang
dilarang dapat dipidana ;
c. ketentuan tentang pidana.
2. hukum pidana formil, sebagaimana disebutkan oleh
Moeljatno dalam huruf c. Hukum pidana formil merupakan
hukum acara pidana atau suatu proses atau prosedur untuk
melakukan segala tindakan manakala hukum pidana materiil
akan, sedang dan atau sudah dilanggar. Atau dengan
perkataan lain, Hukum pidana formil merupakan hukum acara
pidana atau suatu proses atau prosedur untuk melakukan
segala tindakan manakala ada sangkaan akan, sedang dan
atau sudah terjadi tindak pidana.
Catatan:
a. Akan terjadi tindak pidana, misalnya ada laporan bahwa
di suatu rumah dicurigai sedang diadakan pertemuan
untuk melakukan kegiatan yang mengarah kepada
“pengeboman” suatu tempat (teroris).
b. Sedang terjadi tindak pidana, misalnya ada laporan
bahwa di tempat Bank A sedang terjadi perampokan.
c. Sudah terjadi tindak pidana, misalnya ada laporan di
suatu tempat diketemukan mayat yang penuh dengan
luka-luka.

2.2 Fungsi Hukum Pidana

1. H.P. --- H. PUBLIK sebab:

a. penjatuhan pidana dijatuhkan untuk mempertahankan


kepentingan umum.

b. Pelaksanaannya sepenuhnya ditangan pemerintah.

c. Mengatur hubungan antara individu dengan negara.

Andi Hamzah --- H.P. merupakan kode moral suatu bangsa.

2. FUNGSI H.P. secara khusus ialah melindungi


kepentingan hukum terhadap perbuatan yang tercela.

Kepentingan Hukum ----- a. nyawa manusia – 338 KUHP

b. badan/tubuh manusia – 351


KUHP

c. kehormatan ---- 310 KUHP

d. kemerdekaan ---- 333 KUHP

e. harta benda ---- 362 KUHP.

3. FUNGSI H.P. secara umum --- mengatur kehidupan

kemasyarakatan.
2.3 Tujuan Hukum Pidana

a. untuk menakut-nakuti orang jangan sampai melakukan


kejahatan, baik yang ditujukan :

- menakut-nakuti orang banyak (generale preventie)

- menakut-nakuti orang tertentu yang sudah menjalankan


kejahatan agar

di kemudian hari tidak melakukan kejahatan lagi (speciale


preventie)

b. untuk mendidik atau memperbaiki orang-orang yang


sudah menandakan suka melakukan kejahatan agar
menjadi orang yang baik tabiatnya sehingga bermanfaat
bagi masyarakat.

c. Menurut Wirjono Prodjodikoro, kedua tujuan tersebut


merupakan tujuan yang bersifat tambahan/sekunder, dan
menurut dia melalui tujuan tersebut, akan berperanan
dalam meluruskan neraca kemasyarakatan yang
merupakan tujuan primer.

2.4 Hubungan Hukum Pidana Dengan Ilmu-Ilmu yang Lain

a. Kriminologi

Kriminologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari sebab-sebab


kejahatan yang bagaimana pemberantasannya. Kejahatan di sini diartikan
sebagai berbuat atau tidak berbuat yang bertentangan dengan tata yang ada
dalam masyarakat. Dengan perkataan lain, penyelidikan kriminologi tidak
hanya terbatas pada perbuatan-perbuatan yang oleh pembentuk undang-
undang dinyatakan sebagai tindak pidana. Dapat dikatakan bahwa objek
kriminologi adalah kejahatan sebagai gejala masyarakat (social
phenomena), kejahatan sebagaimana terjadi secara konkrit dalam
masyarakat dan orang-orang yang melakukan kejahatan.

b. Viktimologi

Viktimologi, mempelajari hakikat siapa itu korban dan yang menimbulkan


korban.

c. Penologi

Merupakan ilmu yang mempelajari tentang pidana dan pemidanaan.

d. Psikiatri

Pada dasarnya psikiatri ini merupakan ilmu yang mempelajari jiwa


manusia, yaitu jiwa manusia yang sakit. Hal ini terkait dengan Pasal 44
KUHP.

e. Kriminalistik

Suatu pengetahuan yang berusaha untuk menyelidiki kejahatan dalam arti


seluas-luasnya, berdasarkan bukti-bukti dan keterangan-keterangan dengan
menggunakan hasil yang diketemukan oleh ilmu pengetahuan yang
dikenal dengan nama ilmu-ilmu forensik. Ilmu-ilmu pengetahuan yang
termasuk kriminalistik :

1. Ilmu Kedokteran Forensik (Ilmu Kedokterna Kehakiman)

à mempelajari manusia manusia dalam hubungannya dengan tindak


pidana, mis: mempelajari sebab kematian, abortus, perkosaan.

2. Toksikologi Forensik
mempelajari racun yang ada hubungannya dengan tindak pidana.

3. Ilmu Kimia Forensik

menyangkut narkotika, psikotropika, pemalsuan uang.

4. Ilmu Alam Forensik :

Balistik Kehakiman --à mempelajari senjata api

Dactyloscopy -à mempelajari sidik jari.

2.5 Pengertian Ilmu Kedokteran Forensik

Kedokteran forensik sebenarnya suatu ilmu yang dimiliki oleh setiap


dokter karena tanpa terkecuali semua dokter pernah mendapatkan pengetahuan
ilmu kedokteran forensik diwaktu perkuliahan. Jadi sebenarnya tidak ada alasan
bagi dokter untuk tidak memberikan bantuan dalam penegakan hukum dan
keadilan. Satu lagi yang harus diingat bahwa dokter juga dapat menerima sanksi
bila tidak memberikan bantuan tersebut seperti tercantum dalam pasal 224 Kitab
Undang-undang Hukum Pidana (KUHP): Barang siapa yang dipanggil menurut
undang-undang menjadi saksi ahli atau juru bahasa dengan sengaja atau tidak
menjalankan suatu kewajiban menurut undang-undang yang harus dijalankannya
dalam kedudukan tersebut di atas, dalam perkara pidana dihukum dengan
hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan dan untuk perkara lain dihukum
dengan hukuman selama-lamanya 6 bulan.

Menurut Prof.Dr.Budi Permana,Sp.F pelayanan di bidang forensik


mencakup kriminalistik yaitu pusat laboratorium Polri dan laboratorium lain,
kedokteran forensik cs yaitu termasuk pelayanan di rumah sakit, fakultas
kedokteran negeri, Ladokpol, Polri, Patologi forensik, Forensik klinik yang
mencakup penganiayaan fisik, kekerasan seksual, peracunanan, fitness to: be
derained, be interviewed, stand trial, competence. Prinsip kerja kedokteran
forensik berdasarkan sumpah dokter, etika, dan standar kebebasan profesi yang
mempertimbangkan aspek obyektifitas ilmiah, impartial, komprehensif,
menyeluruh dan sesuai prosedural.
Pelayanan di bidang Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal dalam
beberapa kasus masih diperlukan disiplin ilmu lain. Di bidang kesehatan bantuan
tersebut dapat mencakup Patologi Forensik, Psikiatri Forensik, Toksikologi
Forensik, Antopologi Forensik, Odontologi Forensik dan Radiologi Forensik
yaitu. Jurusan Biologi yang dekat dengan ilmu kedokteran yaiu Entomologi
Forensik yang dalam dua decade ini menunjukkan peranan yang meningkat.
Patologi forensik adalah pengetahuan tentang pemeriksaan kelainan pada jaringan
tubuh oleh karena kekerasan atau mati tiba-tiba untuk kepentingan pengadilan.
Psikiatri Forensik tentang pembuktian adanya kelainan jiwa pada tersangka.
Toksikologi Forensik adalah peristiwa keracunan yang berhubungan
dengan peristiwa pidana. Radiologi Forensik yang sudah lama berperan adalah
cabang ilmu kedokteran yang sudah banyak membantu dalam pemeriksaan korban
dan jaringan tubuh menggunakan pengetahuan dan teknologi radiologi.

2.6 Hukum Kedokteran Forensik

a. Hukum kedokteran forensic adalah hukum yang mempelajari hubungan


yuridis dimana seorang dokter merupakan bagian dari hukum antara dokter dan
pasien dan berhubungan dengan hukum pidana. Hukum Kedokteran Forensik/
Hukum Kedokteran Kehakiman ( Forensik Nadicine ) Ialah mempelajari Hukum
Kedokteran Kehakiman dalam proses peradilan dimana atas dasar keahlian
dibidang ilmu tertentu diberi kepercaayaan untuk ikut serta dalam proses
penegakan hukum baik itu dengan visum maupun menjadi saksi ahli secara
substantif Hukum Kedokteran Forensik fokus pada persoalan-persoalan tindak
pidana yang berakibat pada terjadinya luka atau cacat pada seseorang ataupun
mengakibatkan nyawa melayang sehingga ilmu forensik mampu menganalisis dan
mengetahui penyebabnya dengan visum .

b. IKK adalah ilmu kedokteran kehakiman yang tidak terlalu meluas sehingga tidak
berfokus pada tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang dapat dilakukan
upaya visum untuk mencari penyebab terjadi suatu kejahatan. Sehingga ilmu
kedokteran kehakiman ini hanya mempelajari bagaimana cara mempergunakan
ilmu kedokteran kehakiman dalam memecahkan masalah-masalah medis yang
melanggar undang-undang atau mempelajari hukum kedokteran kehakiman dalam
proses peradilan.

Forensik Kedokteran Dalam Proses Peradilan Pidana Proses peradilan


pidana merupakan nafas dari sebuah penegakan hukum dan keadilan, dimana di
Indonesia terbagi tahap penyelidikan dan penyidikan, tahap penuntutan, dan tahap
peradilan. Dengan demikian proses peradilan pidana pun menghendaki adanya
sebuah upaya ilmiah yang bukan sekedar commen-sense, nonscientific belaka.
Pembuktian unsur melawan hukum para tersangka/terdakwa menjadi
sentral dari proses pemeriksaan, baik pada tahap penyidikan maupun pada tahap
pemeriksaan perkara dalam sidang pengadilan. Pembuktian adalah ketentuan-
ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang
dibenarkan undang-undang membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada
terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti
yang dibenarkan undang-undang yang boleh dipergunakan hakim untuk
membuktikan kesalahan yang didakwakan. Dimana dalam cara mempergunakan
alat bukti yang sah serta menilai kekuatan pembuktian yang melekat pada setiap
alat bukti dilakukan dalam batas-batas yang dibenarkan oleh undang-undang. Alat
bukti yang sah dalam sistem peradilan pidana (crminal justice system) di negara
kita secara limitatif diatur dalam pasal 184 KUHAP, antara lain : a. Keterangan
Saksi; b. Keterangan Ahli; c. Surat; d. Petunjuk; e. Keterangan Terdakwa Dari
ketentuan ini dapat kita simpulkan bahwa alat bukti yang sah dalam sebuah proses
peradilan pidana hanyalah meliputi lima alat bukti, sehingga diluar dari kelima
alat bukti tersebut bukanlah suatu alat bukti yang sah atau tidak dibenarkan
dipergunakan sebagai alat bukti untuk membuktikan unsur kesalahan/melawan
hukum para tersangka/terdakwa. Pemanfaatan ilmu kedokteran forensik sebagai
salah satu ilmu bantu dalam pembuktian unsur kesalahan atau melawan hukum
terdakwa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penggunaan alat bukti
yang sah, yaitu keterangan ahli dan surat. Keterangan ahli dan surat (keterangan
dari seorang ahli) sebagai alat bukti yang sah merupakan sebuah bukti suatu
kemajuan dalam persidangan perkara pidana, dengan mengelaborasi
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini yang menjadikan kedua
alat bukti ini memegang peranan penting dalam proses peradilan pidana.

2.7 Kaitan Ilmu kedokteran forensik yang berkaitan langsung dengan

KUHAP yaitu: Dasar Pengadaan Visum et Repertum

Surat memiliki syarat mutlak untuk dapat dipergunakan sebagai alat bukti
yang sah, yaitu surat yang dibuat atas sumpah jabatan atau surat yang dikuatkan
dengan sumpah. Alat bukti ini dapat berupa surat resmi yang dibuat oleh pejabat
umum yang berwenang, surat keterangan dari seorang ahli, maupun surat-surat
lain pada umumnya. Surat sebagai alat bukti yang sah yang memiliki kaitan erat
dengan peranan kedokteran forensik adalah surat keterangan dari ahli (dokter).
Dimana surat ini memuat pendapat berdasarkan keahlian yang dimiliki
seseorang mengenai suatu hal atau keadaan, misalnya visum et repertum (VER).
Pendapat ahli (dokter) ini dituangkan ke dalam sebuah laporan yang dibuat
berdasarkan sumpat jabatan yang dimiliki oleh ahli yang dipergunakan dalam
sidang pengadilan. Point penting dari sebuah VER adalah terletak pada bagian
kesimpulan dari VER yang dibuat oleh seorang ahli (dokter). Pada bagian ini
terdapat opini atau pendapat ahli (dokter) yang merupakan sebuah fakta hukum
mengenai sebab dan akibat (bukan kronologis) dari perbuatan dalam sebuah
peristiwa pidana yang menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia. Dengan
opini atau pendapat ahli atas pemeriksaan dan autopsi yang telah dilakukan, maka
penyidik dapat menentukan tindakan lebih lanjut, sehingga dapat memberikan
kepastian hukum kepada berbagai pihak. Alat bukti yang sah berupa surat dalam
kategori ini disamakan dengan alat bukti keterangan ahli (expert testimony)
sebagaimana diatur dalam pasal 187 butir c KUHAP. Dimana keterangan ahli
sesuai pasal 1 angka ke-28 KUHAP adalah keterangan yang diberikan oleh
seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk
membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Keterangan
ahli ini merupakan opini atau pendapat seorang ahli yang dinyatakan dalam sidang
pengadilan. Atau jika ditinjau dari segi alat bukti dan pembuktian merupakan ahli
kedokteran kehakiman yang memiliki keahlian khusus dalam kedokteran
kehakiman. Nilai kekuatan pembuktian keterangan ahli yaitu mempunyai
kekuatan pembuktian bebas (vrij bewijskracht). Dan dalam hal pembuktian,
keterangan ahli juga tidak dipergunakan untuk memeriksa pokok perkara,
melainkan sifatnya hanyalah menjelaskan suatu hal yang dirasa masih kurang
terang tentang suatu hal atau kejadian.

Ahli kedokteran kehakiman yang dapat dipergunakan sebagai keterangan


ahli adalah seorang ahli yang memiliki pengetahuan mengenai ilmu kedokteran
forensik, dimana tujuan utamanya adalah untuk membantu proses penegakkan
hukum dan keadilan. Ahli melakukan pemeriksaan terhadap barang bukti yang
berada di tempat kejadian perkara (TKP) yang kemudian memberikan opini atau
pendapat terhadapnya. Dalam hal ini termasuk upaya untuk mengungkap identitas
seseorang dengan menggunakan metode identifikasi secara visual, dokumen,
pakaian, perhiasan, medis, gigi, sidik jari, serologi, dan DNA forensik serta
metode eksklusi. Kedokteran forensik dalam sebuah sidang pengadilan tidak
hanya berperan dalam proses pembuatan visum (VER) saja, akan tetapi juga
memberikan keterangan di muka persidangan. Dan keterangan ahli (dokter)
forensik sebagai alat bukti yang sah (keterangan ahli) tentunya mengharuskan
untuk terpenuhinya syarat materiil dan syarat formil dari sebuah proses peradilan
pidana.

Bentuk baku dari surat VeR adala sebagai berikut:


a. Kop Surat VeR di atas tertulis “Pro Justicia”
b. Berisi Pendahuluan, terdiri dari: Identitas Dokter, Identitas Korban,
Dasar Pertimbangan dilakukan VeR
c. Hasil Pemeriksaan,
Dalam hasil pemeriksaan ini bukan hanya yang dilihat dari kasat mata
akan tetapi yang tampak oleh mata juga. Contohnya: Warna pakaian yang
di pakai, waktu pemeriksaan menggunakan sandal berwana apa dll
d. Kesimpulan
kesimpulan ini berdasarkan ilmu kedokteran atau hasil dari VeR. Aka
tetapi dalam kesimpulan ini tidak boleh ada kesimpulan yang memvonis.
e. Penutup.
Dalam Penutup harus ada klausul “ Mengingat Sumpah Dokter”
f. Tanda Tangan
Tanggal yang tertera adalah tanggal saat dilakukannya pemeriksaan VeR
Pasal 133 KUHAP

1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang


korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa
yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan
keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau
ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagai mana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas
untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan
bedah mayat.

3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada
rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan
terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat,
dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau
bagian lain badan mayat.

Menurut pasal 133 KUHAP permintaan visum et repertum merupakan


wewenang penyidik, resmi dan harus tertulis, visum et repertum dilakukan
terhadap korban bukan tersangka dan ada indikasi dugaan akibat peristiwa pidana.
Bila pemeriksaan terhadap mayat maka permintaan visum disertai identitas label
pada bagian badan mayat, harus jelas pemeriksaan yang diminta, dan visum
tersebut ditujukan kepada ahli kedokteran forensik atau kepada dokter di rumah
sakit.
Sanksi Hukum bila Menolak
Pasal 216 KUHP
Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi
sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yag diberi kuasa
untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan
sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna
menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara selama empat bulan dua
minggu atau denda paling banyak Sembilan Ribu Rupiah.
Pemeriksaan Mayat untuk Peradilan
Pasal 222 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara palling
lama Sembilan bulan atau pidana denda paling banyak Empat Ribu Lima Ratus
Rupiah.
Permintaan Sebagai Saksi Ahli
Pasal 179 (1) KUHAP
Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
Pasal 224 KUHP
Barangsiapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-
undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang
yang harus dipenuhinya, diancam dalam perkara pidana dengan penjara paling
lama Sembilan Bulan.
Pembuatan Visum et Repertum bagi tersangka ( VeR Psikiatris)
Pasal 120 KUHAP
(1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli
atau orang yang memiliki keahlian khusus.

Pasal 180 KUHAP


(1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di
sidang pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan saksi ahli dan
dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
Pasal 53 UU Kesehatan
(3) Tenaga kesehatan untuk kepentingan pembuktian dapat melakukan tindakan
medis terhadap seseorang dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan
yang bersangkutan.
Keterangan Ahli
Pasal 1 Butir 28 KUHAP
 Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan seorang yang memiliki
keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu
perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. (pengertian keterangan ahli
saecara umum)

Agar dapat diajukan ke sidang pengadilan sebagai upaya pembuktian, keterangan


ahli harus “dikemas” dalam betuk alat bukti sah.
Alat Bukti Sah
Pasal 183 KUHAP
 Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila
dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti sah ia memperoleh keyakinan
bahwa suatu tindakan pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah
yang bersalah melakukannya.

Pasal 184 KUHAP


 Alat bukti yang sah adalah:

(a) keterangan saksi, (b) keterangan ahli, (c) Surat, (d) petunjuk,
(e) keterangan terdakwa

Keterangan ahli diberikan secara lisan


Pasal 186
 keterangan ahli adalah apa yang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Penjelasan Pasal 186


Keterangan ahli dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh
penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan
dibuat dengan mengingat sumpah di waktu menerima jabatan atau pekerjaan
(BAP saksi ahli).
Keterangan ahli diberikan secara tertulis
Pasal 187 KUHAP
 Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas
sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah: (c) surat
keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat bedasarkan
keahliannya mengenai sesuatu hal atau suatu keadaan yang diminta secara
resmi daripadanya.

Dengan melihat regulasi tersebut diatas diharapkan kedepan penyidik


khusunyapihak kedokteran forensik dan Kepolisian dapat memberikan kontribusi
terhadap hak-hak korban dengan melihat peraturan-peraturan tersebut diatas.
Seperti misalnya dalam regulasi tersebut mengatur apa dan harus berbuat apa,
tidak hanya terpaku pada peraturan dalam KUHAP dan UU NO 2 tahun 2002
yang fokusnya hanya mencari dan menemukan saerta mebuat titik terang
terjadinya tindak pidana (termasuk didalamnya menemukan pelaku tindak
pidana). Dengan pengaturan-pengaturan yang jelas ke depan pasal 98 KUHAP
bukan hanya milik korban tindak pidana, tetapi juga merupakan bagian dari
jalannya sistem peradilan pidana.

Jadi Peranan dari kedokteran forensik dalam penyelesaian perkara pidana


di Pengadilan adalah membantu hakim dalam menemukan dan membuktikan
unsur-unsur yang di dakwakan dalam pasal yang diajukan oleh penuntut. Serta
memberikan gambaran bagi hakim mengenai hubungan kausalitas antara korban
dan pelaku kejahatan dengan mengetahui laporan dalam visum et repertum.
Disamping itu, diperoleh hasil bahwa dalam setiap praktek persidangan yang
memerlukan keterangan dari kedokteran forensik, tidak pernah menghadirkan ahli
dalam bidang ini untuk diajukan di sidang pengadilan sebagai alat bukti saksi.
Implikasi teoritis persoalan ini adalah bahwa hakim dalam menjatuhkan putusan
suatu perkara yang memerlukan keterangan dokter forensik, hanya memerlukan
keterangan yang berupa visum et repertum tanpa perlu menghadirkan dokter yang
bersangkutan di sidang pengadilan. Sedangkan implikasi praktisnya bahwa hal ini
dapat dijadikan pertimbangan bagi hakim dalam menangani perkara yang
memerlukan peran dari kedokteran forensik.

BAB 3

PEMBAHASAN

Peranan ilmu kedokteran forensik sebagai salah satu ilmu bantu sangat
dibutuhkan dalam mengungkap suatu tindak kejahatan yang mengakibatkan
seseorang mengalami luka-luka dan atau akhirnya meninggal dunia. Peningkatan
peranan ilmu kedokteran forensik dalam penegakan hukum dan keadilan sangat
diperlukan, terutamanya dalam pembuktian kesalahan atau unsur melawan hukum
yang dilakukan tersangka/terdakwa. Dalam hal ini dokter forensik adalah
seseorang yang telah diambil sumpah dan mengabdikan dirinya pada bidang
kesehatan, dengan tujuan untuk kepentingan peradilan. Dimana seorang dokter
forensik mempelajari sebab-sebab terjadinya suatu tindak pidana atau kejahatan
yang menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia, sehingga mempunyai
peranan yang penting dalam menjelaskan titik permasalahan di persidangan.
Bantuan dokter forensik dapat dilakukan secara tertulis dengan
menuangkannya dalam bentuk sebuah laporan atau surat (visum et repertum).
Laporan atau surat seperti demikian dapat dipergunakan sebagai alat bukti yang
sah dalam persidangan sebagaimana diatur dalam pasal 184 KUHAP. Dan selain
itu juga dapat dilakukan secara lisan untuk memperjelas isi dari visum et repertum
yang dibuat oleh seorang dokter forensik. Alat bukti yang sah berupa surat
keterangan dari ahli (dokter) dapat dikategorikan ke dalam alat bukti keterangan
ahli yang memiliki nilai pembuktian bebas, dalam arti bahwa hakim bebas
menilainya. Keterangan ahli (dan surat keterangan ahli) tidak dipergunakan pada
pokok perkara atau menjelaskan kronologis suatu peristiwa pidana, namun
menjelaskan hal yang belum jelas dalam suatu perkara pidana atau menjelaskan
sebab akibat sebuah perbuatan dalam suatu peristiwa pidana. Dengan ilmu
kedokteran forensik, seorang ahli dapat memberikan opini atau pendapat menurut
keahliannya mengenai identitas seorang (korban), penyebab kematian, perkiraan
waktu kematian, maupun perkiraan cara kematian. Baik dengan menggunakan
metode identifikasi secara visual, dokumen, pakaian, perhiasan, medis, gigi, sidik
jari, serologi, dan DNA forensik, maupun metode eksklusi. Penggunaan
keterangan ahli (salah satunya dengan berbasis ilmu kedokteran forensik) sebagai
alat bukti merupakan salah satu ciri khas perkembangan hukum acara pidana
modern. Alat bukti ini sangat berguna dalam membuat terang dan jelas suatu
tindak pidana. Sehingga proses penegakan hukum dan keadilan merupakan suatu
usaha ilmiah dan bukan sekedar commen-sense, nonscientific belaka.
BAB IV
KESIMPULAN

Peranan dokterk forensik dalam pembuktian perkara pidana yaitu


membantu aparat penegak hukum baik dari tahap penyidikan sampai pada tahap
persidangan terhadap tindak pidana yang berhubungan dengan tubuh atau jiwa
manusia sehingga membuat terang peristiwa pidana tersebut. Peranan dokter
forensik dalam hal membuat Visum et Repertum dan sebagai saksi ahli.
Untuk itu harus ada ketentuan yang tegas mengatur tentang kedudukan
dokter sebagai saksi ahli, selanjutnya hakim juga harus bijak menilai alat-alat
bukti yang diajukan dokter baik secara tertulis secara lisan dengan demikian
diharapkan kebenaran materiil dapat terwujud. Disamping itu koordinasi antar
aparat penegak hukum dan dokter harus ditingkatkan terutama terhadap tindak
pidana yang berkaitan dengan tubuh atau jiwa manusia.

DAFTAR PUSTAKA

digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Undergraduate-1007-BABI.pdf

http://kadenokooji.blogspot.co.id/2009/11/hukum-pidana.html
http://sersanbelalang.blogspot.co.id/2015/07/kedokteran-forensik-dalam-
proses.html#!/2015/07/kedokteran-forensik-dalam-proses.html

IDRIES, Abdul Mun’im, ed. 2009. Pedoman Praktis Ilmu Kedokteran Forensik,
Jakarta : CV. Sagung Seto

Jaudi, L. 2014. Kaitan Hukum Pidana Forensik Dengan KUHP. UNISSULA


Semarang

Monita dan Wahyudhi.2013.Peranan Dokter Forensik Dalam Pembuktian


Perkara Pidana.Jambi

Sherlyana, IW.2013. Hukum Kedokteran Forensik. UMM Malang