Anda di halaman 1dari 28

BAB IV

FLOW NET

4.1 Pendahuluan
Perkiraan rembesan sangat penting apabila kita memakai dinding penghalang
untuk membatasi masuknya air ke dalam suatu galian. Dinding dapat dibangun dari kayu
atau beton pracetak, turap baja, lempung, beton, kombinasi, turap baja dan tanah (sel
bendungan pengelak) atau material-material lainnya. Perkiraan rembesan penting dalam
pembangunan bendungan, baik jenis urugan maupun beton. Sebagian besar bendungan
membolehkan terjadinya rembesan, baik melalui bendung itu sendiri maupun melalui
dasarnya. Apabila material dasar dan pinggirnya merupakan batuan, sering batuan itu
disuntik dengan adukan encer (grouting) untuk mengisi retakan-ratakan dan mengurangi
permeabilitas.
Tanpa terjadinya keruntuhan atau kehancuran struktural, kita dapat
mendefinisikan suatu bendungan yang berhasil sebagai suatu bendungan di mana retensi
netto (aliran masuk – keluar total, rembesan dan penguapan) akan cukup memenuhi
persyaratan-persyaratan desain.
Sekelompok garis aliran dan garis ekipotensial disebut jaring arus (flow-net).
Garis ekipotensial adalah garis-garis yang mempunyai tinggi energi potensial yang sama
(h konstan) atau Garis ekipotensial adalah suatu garis sepanjang mana tinggi potensial
di semua titik pada garis tersebut adalah sama. Gambar 4.1 memperlihatkan contoh
dari sebuah jaring arus pada struktur turap baja. Permeabilitas lapisan lolos air dianggap
isotropis ( kx = kz = k ). Perhatikan bahwa garis penuh adalah garis aliran dan garis titik-
adalah garis ekipotensial. PQ dan TU adalah ekipotensial, sedang QRST dan VW adalah
garis aliran.
Garis aliran adalah suatu garis sepanjang mana butir-butir akan bergerak dari
bagian hulu ke bagian hilir sungai melalui media tanah yang tembus air (permeable)..
Jadi apabila alat-alat piezometer diletakkan di beberapa titik yang berbeda-beda di
sepanjang suatu garis ekipotensial, air di dalam piezometer tersebut akan naik pada
ketinggian yang sama.
Penggambaran jaring-arus, garis aliran dan garis ekipotensial dilakukan dengan

84
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
cara trial and error. Pada prinsip fungsi θ (x,z) dan φ (x,z) harus diperoleh pada batas
kondisi yang relevan. Penyelesaian diberikan dengan cara menganalisis hubungan
beberapa kelompok garis ekipotensial dan garis aliran. Pinsip yang harus dipenuhi di
dalam cara jaring arus adalah antara ekipotensial dan garis aliran harus berpotongan
tegak lurus. Selanjutnya, penggambaran jaring arus diusahakan harus sedemikian rupa
sehingga ∆φ bernilai sama antara sembarang dua garis aliran yang berdekatan dan ∆φ
bernilai sama antara sembarang dua garis ekipotensial yang berdekatan.
Bila perpotongan garis aliran dan garis ekipotensial berbentuk bujur sangkar (∆l
= ∆b). Untuk sembarang bujur sangkar, ∆φ = ∆θ

Gambar 4.1 Gambar garis aliran dan garis ekipotensial

Penggambaran suatu jaringan aliran biasanya harus dicoba berkali-kali. Selama


menggambar jaringan aliran, harus selalu diingat kondisi-kondisi batasnya.

Dan karena ∆φ = ∆q dan ∆θ = k.∆h akan diperoleh


∆q = k.∆h ..........................................................................................................4.1
Gradien hidrolik diberikan menurut persamaan

∆h h
i= ∆h =
∆l Nd ..................................................................................4.2

Ket: h = beda tinggi energi antara garis ekipotensial awal dan akhir

Nd = jumlah penurunan dari garis ekipotensial

85
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
4.2 Tujuan Khusus

Setelah mempelajari bab ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan tentang


Jaring arus (flow net), serta dapat merencanakan jaring arus dan melakukan perhitungan
debit rembesan di bawah tubunh bendung dengan menggunakan metode Terzaghi dan
metode Harza

4.3 Petunjuk tambahan dalam membuat jaringan aliran

a. Selalu gambarkan bujur sangkar yang berpotongan tegak lurus apabila masih
mungkin menggambarkannya, kecuali pada titik tunggal, seperti pada sudut-sudut.
b. Gunakan sesedikit mungkin jalur aliran dan penurunan ekipotensial yang dihasilkan
sambil mempertahankan bentuk bujur sangkar. Umumnya cukup 4 s/d 6 jalur;
c. Periksa ketepatan bujur sangkar tersebut dengan menambah garis-garis tertentu dan
meneliti apakah garis-garis tersebut membagi bujur sangkar yang lebih besar
menjadi bujur sangkar yang lebih kecil tetapi masih dapat terlihat

4.4 Cara Menghitung Rembesan:

Lajur aliran adalah ruang memanjang yang terletak di dua garis aliran yang
berdekatan. Untuk menghitung rembesan di bawah struktur bendung, ditinjau lajur-lajur
aliran. Garis-garis ekipotensial memotong garis aliran. Debit ∆q adalah aliran yang
lewat satu lajur aliran per satuan lebar struktur bendung. Menurut hukum Darcy, dalam
satu lajur aliran: Garis ekipotensial

Muka air hulu


Garis aliran

Muka air hilir

Lapisan lolos air

Lapisan kedap air

Gambar 4.2 Gambar jaring arus pada struktur bendung

86
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
............................................................................4.3

Jika elemen-elemen jaring arus digambarkan sebagai bujur sangkar;

l1 = b1
l2 = b2
l3 = b3
...... dst
Debit rembesan (q) per satuan lebar struktur bendung:

Nf
q = kh n ...........................................................................................4.4
Nd

Ket: k = koefisien rembesan


h = tinggi permukaan air
Nf = jumlah lajur aliran
Nd = jumlah penurunan dari garis ekipotensial

4.5 Tekanan Rembesan

Air pada keadaan statis didalam tanah, akan mengakibai tekanan hidrostatis
yang arahnya ke atas (uplit). Akan tetapi, jika mengalir lewat lapisan tanah, aliran air
akan mendesak partikel tanah sebesar tekanan rembesan hidrodinamis yang bekerja
menurut arah alirannya. Besarnya tekanan rembesan akan merupakan fungsi gradien
hidrolik (i).

Sebuah struktur bendungan tanah yang didasari lapisan kedap air (Gambar 4.3).
Panjang garis aliran sama dengan dL dan luas potongan melintang tabung aliran adalah
dA. Besarnya gaya tekanan air dapat dinyatakan sebagai fungsi dh,sebagai berikut

87
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Gambar 4.3 Tekanan rembesan

dp = γw.dh.dA ...................................................................................................4.5

Ket: γw = berat volume air

dp = gaya hidrodinamis (gaya rembesan)

gaya per satuan volume:

.......................................................................4.6

Karena aliran air dalam tanah biasanya lamban, maka gaya inersia pada air yang
bergerak diabaikan. Dengan menganggap dp/(dAdL) = D, maka akan diperoleh
persamaan gaya rembesan per satuan volume:

D = γw. i (kN/m3, t/m3) ............................................................................4.7

Ket: i = gradien hidrolik (dh/dL).

D = Gaya hidrodinamis yang bekerja sepanjang arah aliran airnya.

4.6. Pengaruh Tekanan Air Terhadap Stabilitas Tanah

Tekanan hidrodinamis mempunyai pengaruh yang besar pada stabilitas tanah.


Tergantung pada arah aliran, tekanan hidrodinamis mempengaruhi berat volume tanah.
Pangaruh D pada berat volume tanah, oleh adanya rembesan pada titik 1 (Gbr 4.4), atau
sembarang titik di mana garis aliran berarah vertikal ke bawah, berat volume efektif
(γef) adalah:

88
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Gambar 4.4 Pengaruh gaya rembesan terhadap γ’

γef = γ' +D ..............................................................................................4.8

Ket: γ' = berat volume tanah terapung.

Pada titik 2, atau sembarang titik pada gais aliran, dua vektor D dan γ' bekerja
saling tegak lurus, menghasilkan vektor resultan gaya yang miring.

Pada titik 3, di mana arah aliran vertikal, berat volume efektifhya adalah:

γef = γ' – D .............................................................................................4.9

Disini, jika D = γ’, tanah akan nampak kehilangan beratnya sehingga menjadi
tidak stabil. Hal demikian, disebut kondisi kritis dimana pada keadaan ini terdapat
gradien hidrolik kitis, dengan kecepatan aliran yang terjadi juga kecepatan kritis (vc).
Pada kondisi kitis:

D = γw.ic ...........................................................................................................4.10
Bila kecepatan aliran melampui kecepatan kitis, D > γ'dan γef dalam
Persamaan di atas menjadi negatif. Hal ini berarti tanah dalam keadaan mengapung atau
terangkat ke atas. Tanah kondisi demikian disebut tanah dalam kondisi mengapung atau
mendidih (quick - condition).

89
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
4.7 Kondisi Mengapung (Quick - condition)

Telah disebutkan bahwa tekanan hidrodinamis dapat mengubah keseimbangan


lapisan tanah. Pada keadaan seimbang, besarnya gaya bekerja ke bawah W = γ’ sama
dengan gaya rembesan D = γw ic,

W - D = 0 ......................................................................................................4.11

Besarnya berat tanah terendam air, adalah:

.........................................................................4.12

Ket:

n = porositas

Gs = berat jenis tanah

e angka poi

γw = berat volume air

subtitusi γ' dan D = γw ic, maka

γ’ = γw.ic .........................................................................................................4.13

gradien hidrolik kritis

γ,
ic = .........................................................................................................4.14
γw

Atau dapat pula dibentuk persamaan

..................................................................................................4.15

90
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Gradien hidrolik kritis didefinisikan sebagai gradien hidrolik minimum yang
akan menyebabkan kondisi mengapung pada jenis tanah tertentu. Untuk pasir dengan
Gs = 2,65 dan e = 0,65 (yaitu tanah pasir dengan kepadatan sedang), nilai gradien
hidrolik kitis:

...........................................................4.16

Dalam peraricangan terhadap bahaya mengapung harus dipenuhi:

ic
i≤ ..............................................................................................................4.17
SF

Dengan faktor aman SF = 3 atau 4

Contoh soal:

Lapisan pasir halus setebal 3 m mempunyai angka pori (e) = 0,75 berat jenis
(Gs) = 2,65. Tentukan tekanan air ke atas yang mengakibatkan bahaya tanah
mengapung. Jika koefisien permeabilitas tanah pasir, k = 0,2 x 10-4 cm/det pada 20°C,
berapakah debit yang harus dipelihara untuk mencegah kondisi kritis tanah? Jika
temperatur naik menjadi 30° C, berapakah persentase kenaikan debitnya?

Penyelesaian:

Tinggi tekanan air minimum yang mengakibatkan bahaya mengapung (∆h)

Debit yang harus dipelihara per meter persegi:

Q = k.i.A = k(∆h/L)1

= (0,2x10-4 x 10-2)(2,83/3)1 = 1,9x10-7 m3/det

Persentase kanaikan debit, jika temperatur 30oC:

91
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Tabel 4.1 Nilai µT/µ
µ20

µ 20
k 30 = dari tabel µ30/µ20 = 0,793 (lihat tabel)
µ 30

= 0,2x10-4 x (1/0,793) = 1,26 x 0,2 x 10-4 cm/det

Jadi permeabilitas bertambah dengan (1,26-1)100% = 26%, dengan demikian debit


rembesan juga akan bertambah 26%

4.8 Keamanan Bangunan terhadap Bahaya Piping

Bila tekanan rembesan ke atas yang terjadi dalam tanah sama dengan ic, maka
tanah akan mengapung. Keadaan semacam ini juga dapat berakibat terangkutnya butir-
butir tanah halus, sehingga terjadi pipa-pipa di dalam tanah yang disebut piping. Akibat
terjadinya pipa-pipa yang berbentuk rongga-dapat mengakibatkan fondasi bangunan
mengalami perununan, hingga mengganggu stabilitas bangunan. Harza (1935)
memberikan faktor keamanan bangunan air terhadap bahaya piping:

ic
SF = ...........................................................................................................4.18
ie

Ket: ie = gradien keluar maksimum (maximum exit gradient)

ic = γ’/γw .........................................................................................................4.19

92
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Gradien keluar maksimum tersebut dapat ditentukan dari jaring arus dan
besarnya ∆h/L (∆h adalah kehilangan tinggi energi antara dua garis ekipotensial
terakhir, dan l adalah panjang dari elemen aliran). Faktor aman 3 atau 4 cukup
memenuhi angka aman strukturnya. Harza (1935) membeikan grafik gradien keluar
maksimum untuk bendungan yang dibangun pada lapisan homogen.

Gambar 4.5 Gradien keluar kritis (Harza, 1935)

Gradien keluar maksimum:

h
ic = C ........................................................................................................4.20
B

Lane (1935) menyelidiki keamanan struktur bendungan terhadap bahaya piping.


Panjang lintasan air melalui dasar bendung dengan memperhatikan bahaya piping
dihitung dengan pendekatan empiis, sebagai berikut :

ΣL h
Lw = + ΣLv .............................................................................................4.21
3

Ket:

Lw = weighted - creep - distance

∑Lh = jumlah jarak hoisontal menurut lintasan terpendek

∑Lv = Jumlah jarak vertikal menurut lintasan terpendek

93
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Setelah weighted - creep - distance dihitung, weighted – creep ratio (WCR)
dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan:

ΣL w
WCR = .............................................................................................4.22
H1 − H 2

Nilai WCR harus lebih besar dari nilai yang terdapat dalam tabel 4.2. Lintasan
aliran yang melewati struktur dengan sudut kemiringan >45° diperhitungkan sebagai
lintasan vertikal (Lv), sedang ingan lintasan. Aliran ≤ 45o diperhtungkan sebagai
lintasan horizontal (Lh)

Gambar 4.6 Hitungan weigh creep distance

Tabel 4. 2 Nilai angka aman untuk weight creep ratio

94
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Terzaghi (1922) mengerjakan beberapa pengujian model turap tunggal..
Hasilnya, lokasi yang dipengaruhi oleh bahaya piping terjadi sejarak d/2 dari dinding
turap (d = kedalaman penetrasi turap ke tanah). Stabilitas struktur dapat ditentukan
dengan memperhatikan prisma tanah pada sisi hilir menurut tebal satuan dan potongan
d x d/2. Dengan menggunakan jaring arus, tekanan ke atas dapat ditentukan dari
persamaan:

U =½.γw.d.ha ..................................................................................................4.23

Gambar 4.7 Keruntuhan akibat piping pada deretan turap

Dengan ha = tinggi energi hidrolik rata-rata (average hydraulic head) pada dasar
daii prisma tanah. Gaya berat prisma tanah yang terendam bekerja ke bawah, dapat
dinyatakan dengan berat mengapung:

W’ = ½.γ’.d2 ..................................................................................................4.24

Faktoror aman dinyatakan oleh:

W' 1 / 2.γ '.d 2 dγ '


SF = = = .....................................................................4.25
U 1 / 2.γ w .d .ha ha .γ w

Nilai perkiraan SF = 4 biasanya cukup memenuhi.

95
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Untuk keamanan struktur turap tunggal pada Gambar 4.9, dalam menghitung
faktor aman minimum terhadap piping, Terzaghi (1943) menyarankan untuk
memperhatikan stabilitas prisma tanah berdimensi d/2 x d’ x 1. Perhatikan bahwa
0<d'≤d. Akan tetapi, bila faktor aman (SF) yang diberikan 4 sampai 5, penggunaan d =
d' dianggap cukup aman dan memenuhi syarat kestabilan (Harr, 1962).

Gambar 4.8 Keamanan terhadap bahaya piping pada bendungan

4.9 Gaya Tekanan Air pada Struktur Bendung

Jaring arus dapat digunakan untuk menentukan besar gaya tekanan air ke atas
(uplift pressure) di bawah sebuah struktur. Lihat contoh berikut:

Gambar 4.9 Struktur Bendung dan jaring aliran

96
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Gambar 4.10 Struktur bawah dan dagram tekanan air ke atas

Kondisi struktur bagian bawah dari sebuah bendung seperti gambar di atas.
Tinggi tekanan di D adalah (11 + 2,3m) dikurangi dengan kehilangan tinggi energi
hidrolik. Titik D bertepatan dengan garis ketiga permulaan dengan sisi sebelah hulu,
yang berarti bahwa kehilangan tinggi energi hidrolik pada titik ini = 2 (h//Nd) =
2(11/12) = 1,83 m.

Tinggi energi tekanan air di:

D = (11 + 2,3) - l,83 = 11,47 m


E = (11 + 2,3) - 3(11/12)=10,55 m
F = (11+ 2,3-1,65) - 3,5(11/12) = 8,44 m

Perhatikan bahwa titik F berada di tengah antara garis ekipotensial nomer 3 dan 4, yang
dihitung dari hulu.

Tinggi energi tekanan air di:

G = (13,3 -1,65) - 8,5(11/12) = 3,86 m.


H = (11 + 2,3) - 9(11/12) = 5,05 m.
I = (11 + 2,3) - 10(11/12) = 4,13m.

97
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Tinggi energi tekanan air yang telah terhitung, kemudian digambarkan pada Gambar di
atas. Antara titik F dan G, variasi tinggi tekanan akan mendekati linier. Gaya tekanan
air ke atas per satuan panjang dari bendungnya (U), dihitung dengan persamaan :

U = γw x (luas diagram tinggi tekanan) x 1

= 9,81 x [0,5 (11,47 + 10,55) (1,65) + 0,5 (10,55 + 8,44) (1,65) + 0,5(8,44 + 3,86) (19) +
0,5 (3,86 +5,05)(1,65) + 0,5(5,05 + 4,13)(1,65)]
= 1705,76 kN/m

4.10 Kondisi Tanah Berlapis

4.10.1 Menghitung Debit Rembesan Tanah Berlapis dengan Cara Jaring Arus

Cara penggambaran jaring arus yang telah dipelajari sebelumnya


adalah untuk kondisi tanah yang homogen. Dalam prakteknya, banyak dijumpai
keadaan tanah yang tidak homogen (lihat gbr berikut).

Gambar 4.11 Jaring arus pada pertemuan lapisan dengan k berbeda

Bila jaring arus akan digambarkan untuk kondisi 2 lapisan yang berbeda, maka
pada batas lapisannya gambar jaring arus akan patah. Kondisi demikian disebut kondisi
transfer. kondisi umum dimana lajur-lajur jaring arus memotong batas dari 2 lapisan
tanah. Lapisan tanah 1 dan 2, mempunyai koefisien permeabilitas yang tidak sama
Garis patah-patah yang memotong lajur aliran pada gambar, adalah garis-garis
ekipotensial. ∆h adalah tinggi energi hilang di antara dua garis ekipotensial yang

98
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
berdekatan. Ditinjau dari suatu panjang satuan yang tegak lurus bidang gambar, debit
rembesan yang melalui satu lajur aliran adalah:

∆h ∆h k b /l
∆q = k1 b1 = k 2 b2 atau 1 = 2 2 ....................................................4.29
l1 l2 k 2 b1 / l1
dengan l1dan b1 berturut-turut adalah panjang dan lebar dari elemen aliran lapisan tanah
1, sedang l2 dan b2 adalah panjang dan lebar pada lapisan tanah 2.

l1 = AB sin θ1 = AB cos α1
12 = AB sin θ2 = AB cos α2
b1= AC cos θ1 = AC sin α1
b2 = AC cosθ2 = AC sin α2

selanjutnya diperoleh:
k1 tgθ 1 tgα 1
= = ............................................................................................4.30
k 2 tgθ 2 tgα 2
Pertimbangan berikut ini mungkin sangat penting untuk digunakan dalam
penggambaran jaring arus pada kondisi tanah berlapis.
(a) Jika k1 > k2, maka dapat digambarkan elemen jaring arus bujur sangkar pada
lapisan 1. Ini berarti bahwa l1 = b1 maka k1/k2 = b2/l2. Jadi jaring arus dalam lapisan
2 akan berupa segi empat dengan nilai banding lebar dan panjangnya k1/k2
(b) Jika k1< k2, maka dapat digambarkan jaing arus bujur sangkar pada lapisan 1, yaitu
dengan l1 = b1 dengan k1/k2 = bl/b, maka elemen jaring arus dalam lapisan 2 akan
segiempat

Gambar 4.11 Variasi jaring arus pada batas lapisan dengan k berbeda

99
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Contoh penggambaran jaring arus untuk struktur bendungan yang terletak pada 2
kondisi lapisan tanah berbeda, Nilai k1 = 4x 10-2 mm/det sedang k2 = 2x 10-2 mm/det,
maka:

Gambar 4.12 Jaring arus untuk struktur yang bendung terletak pada 2 lapisan tanah

k1 4 x10 −2
= =2
k2 2 x10 −2

tgα 2 tgθ 1
Maka, pada penggambarannya = = =2
tgα 1 tgθ 2

Di dalam lapisan 1, elemen aliran digambar bujur sangkar, dan karena k1/k2 = 2,
panjang dibagi lebar elemen aliran dari lapisan 2 akan sama dengan 1/2

4.11 Filter

Bila air rembesan mengalir dari lapisan berbutir lebih halus menuju lapisan yang
lebih kasar, kemungkinan lolosnya butiran lebih halus melewati bahan yang lebih kasar
tersebut dapat terjadi. Pada waktu yang lama, proses ini dapat menyumbat ruang di
dalam bahan kasarnya, atau juga, dapat terjadi piping pada butiran halusnya. Erosi
butiran ini mengakibatkan turunnya tahanan aliran dan naiknya gradien hidrolik. Bila
kecepatan aliran membesar akibat dari pengurangan tahanan aliran yang berangsur-
angsur turun, akan terjadi erosi butiran yang makin membesar, sehingga membentuk
pipa di dalam tanah yang dapat mengakibatkan keruntuhan bendungan. Contohnya, jika
bahan timbunan berupa batuan dari bendungan berhubungan langsung dengan bagian

100
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
bahan bendungan yang berbutir halus, maka air rembesan akan dapat mengangku
butiran halusnya.
Untuk mencegah bahaya ini, harus diadakan suatu lapisan filter yang diletakkan
di antara lapisan yang halus dan kasar tersebut. Filter atau drainase untuk
mengendalikan rembesan harus memenuhi dua persyaratan:
a. Ukuran pori-pori harus cukup kecil untuk mencegah butir-butir tanah terbawa
aliran.
b. Permeabilitas harus cukup tinggi untuk menerima kecepatan drainase yang besar
dari air yang masuk melalui filternya.

Gambar 4.13 Konsep lapisan filter dan tanah yang dilindungi

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk merencanakan bahan filter seperti yang
disarankan oleh Bertram (1940);

1. Untuk memenuhi kriteria piping, nilai banding ukuran diameter D15 filter harus
tidak lebih dari empat atau lima kali ukuran diameter D85 dari tanah yang
dilindungi, atau,

D15 f
≤ 4 sampai 5 ..........................................................................................4.26
D85 s

2. Mempunyai kemampuan drainase yang cukup tinggi, ukuran butiran D15 dari
tanah filter harus lebih dari 4 sampai 5 ukuran butiran D15 dari tanah yang
dilindungi

D15 f
≤ 4 sampai 5 ..........................................................................................4.27
D15 s

101
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
3. Nilai banding D50 dari tanah filter dan tanah yang dilindungi maksimum 25

D50 f
≤ 2 5 .......................................................................................................4.28
D50 s

Ketebalan lapisan filter dapat ditentukan dari hukum Darcy. Filter yang terdiri
dari dua lapisan atau lebih dengan gradasi yang berbeda, dapat juga digunakan dengan
lapisan terhalus diletakkan pada daerah hulu dari susunan filternya.
Erosi bawah tanah merupakan keruntuhan yang progresif, dengan memonitor
suatu tempat untuk mengamati aliran rembesan yang berlebihan biasanya kita akan
menemukan gejala ini lebih dini sehingga dapat melakukan tindakan-tindakan
pencegahan. Erosi bawah tanah dapat terjadi cukup lama setelah suatu bangunan
penangkap/penahan air dibangun, apabila terjadi suatu peristiwa dimana gradien keluar
bertambah dengan cukup besar sehingga dapat menyebabkan erosi tanah pada tempat-
tempat tertentu. Ini dapat terjadi misalnya:

1. Lobang-lobang yang menuju hulu terbentuk akibat pembusukan akar;


2. Lobang-lobang yang dibuat oleh binatang;
3. Penggalian di bagian hilir, baik berupa sumur-sumur maupun hanya dengan
mengupas permukaan tanah sampai ke suatu kedalaman kritis.

102
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Contoh Soal:

1. Tampang melintang bendung, seperti tergambar. Dengan menggunakan cara Lane,


tentukan apakah bendung tersebut aman terhadap bahaya piping. Tanah dasar
bendung berupa pasir halus.

Penyelesaian:

Aliran dengan sudut kemiringan dasar α > 45° dianggap aliran vertikal. Pada bagian
CD, lintasan dianggap horizontal karena α = 35°, sedangkan EF dianggap aliran
vertikal karena a = 60°.
ΣL h
Lw = + Σ Lv
3
∑Lh = 1,5 + 2 + 20+1,5 = 25 m
∑Lv = 3 + 2,2 + 3 = 8,2 m
Lw = 25/3 + 8,2 = 16,53 m
ΣL w 16,53
WCR = = = 2,76
H1 − H 2 6

Tanah dasar bendung berupa pasir halus. Dari Tabel 4.3 syarat keamanan terhadap
bahaya piping minimum WCR = 7. Dari hasil hasil perhitungan diperoleh WCR = 2,76,
maka struktur tidak aman terhadap bahaya piping. Agar aman, maka perlu ditambahkan
lantai muka dan lantai belakang, supaya lintasan air menjadi lebih panjang.

103
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
2. Suatu turap dengan jaring arus seperti tergambar. Bila tanah mempunyai berat
volume apung (γ') = 1 t/m3 (9,81 kN/m3

a. Tentukan faktor aman terhadap bahaya piping menurut cara Harza.


b. Tentukan faktor aman terhadap bahaya piping menurut cara Terzaghi.

Penyelesaian :

a. Menurut Harza (1935), SF = ic/ie


∆h = h/Nd = 3/Nd = 3/6 = 0,5 m

Panjang dari elemen gais aliran terakhir diukur menurut skala adalah l = 1,60 m.
Maka,

ie = ∆h/l = 0,5/1,60 = 0,31

γ' 1 γ ' 9,81


ic = = = 1 atau ic = = =1
γw 1 γ w 9,81

Jadi, faktor aman terhadap bahaya piping , SF = ic/ie = 1 / 0,31 = 3,2

b. Ditinjau prisma tanah dengan penampang d x d/2 pada lokasi tepat di sebelah
hilir turap. Disini d = 3,0 m. Dengan melihat Gambar, dapat dihitung tinggi
energi:

hA = 3/6x3 = 1,5 m, atau hA= 3 - 3/6 x 3 = 1,5 m


hB = 2/6x3 = 1,0 m, atau hB= 3 - 4/6 x 3 = 1,0 m
hC = 1,8/6 x 3 = 0,9 m, atau hC = 3 - 4,2/6 x 3 = 0,9m

104
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Tinggi energi hidrolik rata-rata:

1  (1,5 + 0,9) 
ha =  + 1 = 1,1 m
2 2 

d.γ ' 3 x1
Faktor aman = = = 2,73 atau
h a .γw 1,1x1

d.γ ' 3 x 9,81


Faktor aman = = = 2,73
h a .γw 1,1x 9,81

3. Struktur turap dipancang sedalam 6 m di bawah muka tanah yang lolos air. Tebal
lapisan lolos air 13,50 m. Di bagian bawah lapisan lolos air terdapat lapisan tanah
yang kedap air. Buatlah gambar jaring arus dari struktur turap dan hitung debit
rembesan serta faktor aman terhadap bahaya piping. Diketahui koefisien
permeabilitas tanah lolos air, k = 6 x 10-4 cm/det dan γsat = 1,9 t/m3 (18,64 kN/m3)

Penyelesaian;

Nf = 5; Nd = 10
Nf
q = k.h. = 6 x10 −4 x 4,5x102 x 5 / 10 x100 q =
Nd
= 13,5 cm3/det permeter lebar turap

105
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Menurut Terzaghi (1943), bahaya piping akan terjadi di muka turap pada jarak kira-kira
setengah kedalaman turap terpancang dalam tanah. Pada contoh ini prisma dengan
dimensi 6m x 3m x lm, adalah daerah piping yang paling membahayakan.

Gradien hidrolik:

∆hBA
i BA =
L BA

Gradien keluar (iBA) pada elemen jaring arus terakhir dihitung dengan cara berikut ini.
Selisih tinggi energi hidrolik antara titik B dan A:

4,50
∆hBA = = 0,45 m
10

Panjang garis aliran BA:

LBA = 1,5 m (menurut skala)

Jadi, gradien keluar:

0,45
ie = i BA = = 0,30 m
1,50

Tinjauan gradien hidrolik juga dapat dilakukan pada titik di tengah-tengah elemen bujur
sangkar, dengan hasil yang tak jauh berbeda.

Gradien hidrolik kritis:

γ ' 1,9 − 1
ic = = = 0,9
γw 1

Faktor aman terhadap bahaya piping = 0,90 / 0,30 = 3

106
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
4. Struktur turap seperti tergambar. Air bagian hulu sedalam 6 m. Pada bagian hilir
turap terdapat lapisan filter dengan berat volume basah 1,80 t/m3 (17,66 kN/m3)
sedang tanah lolos air mempunyai berat volume jenuh γsat = 2 t/m3 (19,62
kN/m3). Tentukan faktor aman terhadap bahaya piping dengan cara Harza dan
Terzaghi.

Penyelesaian:

(a) Dengan cara Harza

Ditinjau titik P di tengah elemen jaring arus terakhir (di belakang turap).

∆hBA 6
Gradien hidrolik keluar = i BA = ; ∆hBA = = 0,6 m
L BA 10

Panjang gais aliran AB = 1,8 m (diukur menurut skala), maka


ie = 0,6/1,83 = 0,33
Kontrol dengan menghitung tekanan air dititik P (jumlah penurunan potensial = 9,5).
Selisih tinggi energi antara P dan A

H - (9,5/10 x 6) = 6 - 5,7 = 0,30 m = ∆hPA

ie = = ∆hPA /Lpa = 0,30/0,91 = 0,33


Kedua hasil hitungan sama.
Faktor aman didefinisikan sebagai gaya ke bawah efektif dibagi dengan gaya ke atas
efektif.
107
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Tegangan efektif di titik P (arah ke bawah)

σp' = 0,91 (γsat- γw) + (1,80 x γb) ilter

= 0,91 (19,62 - 9,81) + (1,8 x 17,60) = 40,72 kN/m2

Gaya rembesan persatuan volume D = ie. γw

Untuk tanah setebal z = 0,91 m, maka gaya rembesan ke atas

persatuan luas = ie. z. γw = 0,33 x 0,91 x 9,81 = 2,95 kN/m2

Gaya ke bawah efektif per satuan luas 40,72


Faktor aman = = = 13,83
Gaya ke atas efektif per satua luas 2,95

Dengan cara lain:

Pada titik P telah dihitung tinggi energi hidrolik = hp = 0,30 m, sedang hA = 0 m,


Tekanan air efektif di P (atau tinggi energi hidrolik di P) = hp. γw
= 0,30 x 9,81 - 2,95 kN/m2 (arah ke atas).

(b). Dengan cara Terzaghi


Diperhatikan prisma tanah dengan tampang lintang d x d/2 dengan i = 6m, terletak pada
bagian hilir turap. Tinggi energi hidrolik (hidraulic head) pada dasar prisma ditentukan
dari jaring arus;
hc = 6 - (6/10 x 6) = 2,4 m atau hC = (4/10) x 6 = 2,4 m
hD = 6 - (6,6/10 x 6) = 2,04 m atau hD = (3,4/10) x 6 = 2,04 m
hE = 6 - (7,2/10 x 6) = 1,68 m atau hE = (2,8/10) x 6 = 1,68 m
Tinggi energi hidrolik rata-rata:
ha = ½. {(1,68 + 2,4)/2 + 2,04} = 2,04 m
Faktor aman tanpa adanya filter :
dγ ' 6 x (19,62 − 9,81)
= = = 2,94
ha .γ w 2,04 X 9,81
Faktor aman (SF) dengan adanya filter:
1 / 2d x d x γ ' + 1 / 2d x htimbunan x γ timbunan
=
1 / 2γ w .d .h a

108
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Jadi,
d γ ' + htimbunan . γ timbunan
=
γ w .h a
6(19,62 − 9,81) + 1,8 x 17,66
= = 4,53
9,81 x 2,04
Jika sebaggian timbunan terendam air, maka pada bagian yanag terendam dipakai berat
volume apung (γ’) dari bahan timbunan.

5. Gambarkan sebuah jaring arus bendungan tanah tidak homogen. Tentukan debit
rembesan lewat tubuh bendungan, diketahui k1 = 2 x 10-7 m/det dan k2 = 8 x 10-7
m/det.

Penyelesaian:

k2/k1 = 4, selanjutnya ada 3 hal yang perlu diperhatikan :

1. Harus ada pembagian interval yang sama antara titik-titik potong garis
ekipotensial dengan garis freatis.
2. Jika jaring arus pada potongan 1 terdiri-dari elemen bujur sangkar, maka pada
potongan 2 harus berupa empat persegipanjang dengan

L/B = 4 (yaitu k2/k1).

3. Untuk setiap garis aliran, kondisi transfer harus dipenuhi pada daerah batas
potongan 1 dan potongan 2. Terdapat 3,5 saluran aliran dan 8 penurunan
ekipotensial. Debit rembesan lewat tubuh bendungan :

q = k1 h Nf/Nd = (2,0 x 10-7)(16) 3,5/8 = 14 x 10-7 m3/det

Jika akan dipakai elemen bujursangkar pada jaring arus potongan 2, maka pada
potongan 1 harus digambar empat persegipanjang dengan L/B = l/4 dan debit rembesan
dihitung dengan:

q = k2.h.Nf/Nd

109
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
Soal Latihan:

1. Jaring arus untuk menghitung rembesan di bawah turap seperti tergambar, berat
volume tanah jenuh 2 t/m3 (19,62 kN/m3). Tentukan tegangan efektif pada titik A
dan B

2. Tampang melintang sebuah bendung seperti tergambar. Panjang bendung (tegak


lurus bidang gambar) adalah 100 m.

Hitunglah:

(a) Debit rembesan lewat tanah di dasar bendung, jika k = 10 x 10-4 cm/det per
meter panjang bendung.
(b) Hitung gradien hidrolik keluar pada titik P.
(c) Distribusi gaya tekanan ke atas oleh air di bawah dasar bendung.

110
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm
3. Potongan melintang sebuah bendung, seperti tergambar.

Tentukan debit rembesan lewat dasar fondasi, jika diketahui koefisien permeabilitas
tanah di bawah bendung 2,5x10-5. Tentukan pula gaya tekanan ke atas yang
ditimbulkan oleh tan air di bawah fondasi bendung.

4.11 Rangkuman

Dari penjelasan sebelumnya terlihat bahwa jumlah rembesan akan tergantung


pada; koefisien permeabilitas (k), perbedaan tinggi tekan h sepanjang jalur aliran,
panjang jalur aliran dan jumlah jalur aliran. Kita dapat memakai adukan encer (grout)
untuk menurunkan k, tetapi selain kita jarang mampu menggunakan galian dan
penggantian tanah di dalam areal yang kritis, cara-cara lain untuk mengontrol rembesan
tetap diperlukan. Pemakaian inti atau dinding halang dengan koefisien permeabilitas
yang rendah merupakan tindakan pengontrolan utama yang tersedia dan cukup praktis.
Perbedaan tinggi tekan juga dapat dikontrol pada beberapa keadaan, tetapi biasanya
telah dianggap tetap untuk suatu proyek.
Panjang jalur aliran dapat ditambah dengan menggunakan selimut lempung
(clay blanket). Dinding-dinding halang di bagian hulu dan di bagian hilir. Biasanya
dinding halang di bagian hilir akan lebih efisien dalam mengurangi rembesan, tetapi
dinding halang di bagian hulu dapat mengurangi tekanan angka akibat rembesan.
Selimut lempung di bagian hulu maupun hilir dapat digunakan tetapi, selimut di bagian
hulu akan lebih efisien dalam mengontrol tekanan angkat akibat rembesan, karena muka
air filter untuk drainase sering digunakan di sebelah hilir dinding halang lempung atau
inti untuk mengurangi tekanan angkat akibat rembesan sebagai salah satu keuntungan
tambahan.

111
By: Syaifuddin, ST.,MT
Teknik Sipil-Poltek Lsm