Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah


Korupsi merupakan masalah besar yang dihadapi oleh sebagian besar
negara di dunia. Klitgaard dalam pengantar buku Membasmi Korupsi
mengatakan bahwa korupsi menimbulkan berbagai macam pola reaksi
tertentu yaitu penolakan, pembenaran, dan kalau beruntung analisis. Dalam
pola reaksi penolakan Klitgaard mengatakan bahwa seseorang dengan terus
terang mengatakan bahwa “Korupsi itu ada dimana-mana di dunia ini dan
umunya pun sudah sepanjang sejarah. Anda menemukannya di Amerika, di
Jepang, bukan hanya di negeri X ini. Dan apabila orang-orang yang ada di
puncak itu korup, seandainya seluruh sistem itu korup, seperti halnya di sini,
ini berarti keadaan yang sudah tanpa pengharapan(Klitgaard, 2005, hal. xvi).
Kasus korupsi melanda berbagai negara bagai endemik yang sulit diberantas
bahkan dalam pola reaksi kedua yaitu pembenaran, Klitgaard mengatakan
bahwa kebanyakan ilmuwan sosial mengatakan bahwa kita tidak boleh
berbicara terlampau banyak tentang korupsi atau, apabila kita
mendiskusikannya, tidak boleh mengutuknya. Dalih untuk tidak menangani
korupsi menganggap bahwa suatu suap, suatu ongkos untuk pelayanan, suatu
pemberian secara analitis dikatakan sama saja (Mauss, 1967).
Korupsi di Indonesia juga menjadi masalah bangsa ini. Indonesia masih
berada di kisaran negara-negara korup dengan indeks persepsi korupsi 2,8,
Indonesia berada di peringkat 111. Dibandingkan dengan negara-negara lain
di sekitar Indonesia misalnya Singapura dan Malaysia, Indonesia masih jauh
tertinggal. Salah satu kasus korupsi yang masih hangat dibicarakan adalah
munculnya kasus Gayus, yaitu seorang pegawai Direktorat Jenderal Pajak
yang memiliki uang bermilyar rupiah di rekeningnya padahal logikanya,
pegawai negeri sipil setingkat dia hanya bergaji maksimal 12 juta setiap
tahun. Berdasarkan berbagai investigasi hingga 11/04/2010, Gayus diyakini
telah menyuap beberapa pegawai kejaksaan dalam menyelesaikan kasusnya
ini. Model ini sering disebut sebagai Gayuisme, yang dinggap sebagian besar

1
orang bukan hal yang aneh lagi karena memang Gayuisme ini sudah ada di
berbagai sektor publik hanya saja tidak ada atau belum ada tindakan serius
untuk memberantasnya.
Ternyata korupsi juga melanda Perancis. Memang perancis berada di
peringkat jauh di atas Indonesia, yaitu posisi 24. Salah satu kasus korupsi di
Perancis adalah kasus yang menimpa Mantan presiden Perancis, Jacques
Chirac. Chirac menjabat sebagai presiden Prancis dari 1995 hingga 16 Mei
2007. Pengadilan di Paris telah menyatakan bahwa mantan presiden berusia
76 tahun itu akan diadili terkait tuduhan skandal korupsi saat dia menjabat
sebagai walikota Paris dari 1977-1995. Kasus yang diselidiki hakim Simeoni
tersebut berkaitan dengan 35 kontrak kerja yang diduga dihadiahkan oleh
pemerintah kota Paris saat Chirac menjabat sebagai walikota kepada sejumlah
teman dan rekan politik Chirac. Jika terbukti bersalah, mantan pemimpin
konservatif ini terancam hukuman 10 tahun penjara, denda 150.000 euro
(US$221.800), serta didiskualifikasi dari jabatan di pemerintahan selama 10
tahun.
Demikian pula di Jerman, negara yang cukup kondang di Eropa ini juga
mengalami masalah dalam hal korupsi. Memang Jerman relatif lebih tinggi
peringkatnya daripada Perancis dan Indonesia, yaitu peringkat 14, namun
ternyata hal tersebut tidak menjamin Jerman bebas dari masalah korupsi.
Kasus yang muncul di Jerman pun bervariasi, salah satunya adalah suap-
menyuap. Siemens adalah salah satu perusahaan yang telah melakukan suap-
menyuap dan menjadi sorotan media. Siemens memperkirakan telah
menghabiskan 400 million euro atau 525$ million untuk menyuap agar
usahanya ke luar negerinya menguntungkan (Dougherty, 2007).
Korupsi melanda sebagian besar dunia termasuk sektor publik di
berbagai negara. Padahal korupsi di sektor publik dapat mengakibatkan
dampak negatif yang besar bagi masyarakat maupun negara secara
keseluiruhan bahkan sistem dunia. Korupsi, misalnya yang berbentuk
penyalahgunaan uang negara , yang dilakukan secara kolektif oleh kalangan
tertentu dengan berbagai macam dalih misalnya studi banding, THR, uang
pesangon dan lain sebagainya akan mengganggu proses pembangunan akibat

2
kesalahan alokasi anggaran dan defisit anggaran akibat korupsi. Bahrin
mencoba menganalisis hubungan antara kualitas pribadi dengan akibat dari
korupsi dalam sebuah pohon analisis sebagai berikut (Bahrin, 2004):

Skema pemetaan masalah oleh Bahrin tersebut di atas menggambrakn betapa


korupsi memiliki implikasi yang luas. Selo Soemardjan dalam pengantar
buku Robert Klitgaard menyebutkan bahwa korupsi menyebabkan high cost
economy yang menaikkan harga produk dan menurunkan daya saing bisnis
umum kita (Klitgaard, 2005, hal xiii)
Sehubungan dengan urgensi masalah korupsi yang akan memiliki
dampak negatif terhadap kesejahteraan masyarakat maka dibutuhkan langkah
antisipasi dan penanganan. Berbagai negara memiliki berbagai macam
stratgei dalam pemberantasan korupsi. Perbedaan strategi ini wajar mengingat
setiap negara memiliki latar belakang dan lingkungan yang berbeda. Akan
tetapi mengingat korupsi sebagai masalah yang memiliki akar permasalahan
sama maka semua negara pasti menginginkan perbaikan dalam stetegi dalam
pemberantasan korupsi. Untuk itu dibutuhkan sebuah analisis strategi terbaik
dalam memberantas dan menangani masalah korupsi sehingga dapat
ditemukan kunci ampuh untuk memberantas korupsi.

3
I.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana strategi pemberantasan korupsi di Perancis?
2. Bagaimana strategi pemberantasan korupsi di Jerman?
3. Bagaimana strategi pemberantasan korupsi di Indonesia?
4. Bagaimana analisis perbadingan strategi pemberantasan korupsi antara
Perancis, Jerman, dan Indonesia?

I.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui strategi pemberantasan korupsi dari Perancis, Jerman,
dan Indonesia.
2. Untuk membadingkan startegi pemberantasan korupsi di Perancis, Jerman,
dan Indoensia.
I.4 Pembatasan Masalah
Dalam pembahasan ini, korupsi didefiniskan sebagai seseorang secara
tidak halal meletakkan kepentingan pribadinya di atas kepentingan rakyat serta
cita-cita yang menurut sumpah akan dlayaninya. Korupsi itu muncul dalam
banyak bentuk dan membentang dari soal sepele sampai soal yang amat besar.
Korupsi dapat menyangkut penyalahgunaan instrumen-instrumen kebijakan misal
tarif dan kredit, sistem irigasi dan kebijakan perumahan, penagakan hukum atau
prosedur sederhana. Korupsi dapat terjadi di sektor swasta maupun pemerintah.
Namun dalam pembahasan kali ini hanya akan dibahas korupsi di sektor publik.
I.5 Sistematika Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan sistematika penulisan sebagai
berikut:
Bab I Pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II analisis dan pembahasan terdiri dari stretegi pemberantasan
korupsi di Perancis, strategi pemberantasan korupsi di Jerman, strategi
pemberantasan korupsi di Indonesia, dan analisis perbadingan strategi
pemberantasan korupsi di Perancis, Jerman, dan Indonesia.
Bab III terdiri dari kesimpulan dan saran.

4
BAB II
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

II.1 Strategi Pemberantasan Korupsi di Perancis


II.1.1 Gambaran Umum Perancis

Meskipun Perancis menjadi pemenang dalam di perang dunia I


dan II, akan tetapi Perancis mengalami kerugian yang luas dalam
kerajaannya, kekayaan, tenaga kerja, dan peringkat sebagai negara-
bangsa yang dominan. Namun saat ini Perancis menjadi salah satu
negara yang paling modern di dunia dan menjadi pemimpin di antara
negara-negara di Eropa. Sistem pemerintahan Perancis dibangun
dengan sistem pemerintahan presiden-parlemen hibrida sebagai wujud
respon atas ketidakstabilan pemerintahan sebelumnya yang
menggunakan sistem parlemen yang lebih murni. Integrasi ekonomi
Eropa telah didukung oleh rekonsiliasi dan kerjasama dengan Jerman
termasuk penggunaan mata uang umum, euro, pada bulan Januari
1999. Dalam bidang militer, Perancis saat ini menjadi negara terdepan
dalam upaya mengembangkan kemampuan militer Uni Eropa untuk
menambah kemajuan terhadap kebijakan luar negeri Uni Eropa. Dari
sisi pertumbuhan penduduknya, Perancis merupakan negara yang
cukup padat penduduknya. Dengan luas negara sebesar 643,427 km2.
Perancis memiliki jumlah penduduk peringkat 21 sedunia dengan

5
jumlah 64.057.792 jiwa diperkirakan tahun 2009 (Central Intelligence
Agency, 2009).
Perancis merupakan negara yang berbentuk republik.
Berdasarkan terminologi lokal dinamakan Republique Francaise atau
biasa disebut France. Perancis terdiri dari 26 region antara lain Alsace,
Aquitaine, Auvergne, Basse-Normandie (Lower Normandy),
Bourgogne (Burgundy), Bretagne (Brittany), Centre, Champagne-
Ardenne, Corse (Corsica), Franche-Comte, Guadeloupe, Guyane
(French Guiana), Haute-Normandie (Upper Normandy), Ile-de-
France, Languedoc-Roussillon, Limousin, Lorraine, Martinique, Midi-
Pyrenees, Nord-Pas-de-Calais, Pays de la Loire, Picardie, Poitou-
Charentes, Provence-Alpes-Cote d'Azur, Reunion, dan Rhone-Alpes.
Legislatif Perancis bersifat bikameral, yaitu parlemen yang
terdiri atas senate atau senat dan national assembly atau assemblee
nationale. Senate terdiri dari 343 kursi, 321 untuk metropolitan
department dan overseas department dan 2 untuk New Caledonia, 2
kursi untuk Mayotte, 1 kursi untuk Saint-Pierre dan Miquelon, 1 kursi
untuk Saint-Barthelemy, 1 kursi untuk Saint-Martin, 3 kursi untuk
overseas teritorial, dan 12 kursi untuk French National Abroad.
Sedangkan national assembly terdiri dari 577 kursi, yaitu 555 untuk
Metropolitan France, 15 kursi untuk overseas department, 7 kursi
untuk dependencies.
Sistem peradilan di Perancis melibatkan peran Supreme Court of
appelas or cour de cassation, Constitutional Council or conseil
constitutionnel, dan council of state or counseil d’etat. Supreme Court
of appelas or cour de cassation ditunjuk oleh presiden dari nominasi
yang diberikan oleh High Council. Sedangkan Constitutional Council
or conseil constitutionnel, tiga anggota ditunjuk oleh presiden, toga
anggota ditunjuk oleh presiden/ketua national assembly, dan tiga
anggota ditunjuk oleh senat (Central Intelligence Agency, 2009).
Perancis merupakan negara kesatuan dengan pemisahan antara
desentralisasi politik dan administrasi sejak 80-an. Sesuai dengan

6
prinsip rule of law dan menjunjung tinggi terhadap HAM dan
kebebasan fundamental, kinerja perancis dilakukan di tiga pelayanan
publik yaiu the central atau state administration, the local territorial
authorities, dan public health sector.

II.1.2 Keadaan Korupsi di Perancis


Korupsi di negara maju dan demokratis seperti Prancis,
nyatanya masih menjadi masalah besar yang harus dihadapi. Dari tahun
ke tahun, kasus korupsi di Prancis mengalami dinamika yang tidak
terlalu signifikan dalam hal pemberantasan korupsinya. Transparency
International mencatat bahwa indeks persepsi korupsi Perancis tahun
2009 menduduki peringkat 24, setelah Saint Lucia dan sebelum Chile.
Namun demikian, jika dilihat dari nilai yang diperoleh, Prancis
mengalami penurunan dari tahun 2007 (sebesar 7,3 menjadi 6,9) dan
kestabilan nilai dari tahun 2008.

II.1.3 Kasus Korupsi di Perancis


Salah satu kasus korupsi yang sangat fenomenal di Prancis,
tepatnya korupsi yang merugikan perusahaan negara atau dengan kata
lain memakan uang rakyat, adalah kasus korupsi di perusahaan minyak
Prancis Elf Aquitaine. Korupsi yang terjadi pada tahun 2003 ini, selain
melibatkan petinggi perusahaan, juga menyangkut para politisi. Saat itu,
37 terdakwa dituduh menerima hampir € 400 juta (US $ 457 juta) dari
kelompok negara bekas minyak Elf Aquitaine untuk kekayaan pribadi
dan suap politik selama akhir 1980-an dan awal 1990-an. Senior
eksekutif perusahaan kemudian mengakui bahwa uang itu secara rutin
digunakan untuk membiayai partai politik dan calon presiden Perancis.
Hasilnya, Direktur Eksekutif Elf tersebut ditangkap di Filipina.
Sebagian besar pelaku penting yang terlibat dalam kasus korupsi senilai
US$ 500 juta itu dijatuhi hukuman yang sangat berat. Investigasi yang
dilakukan untuk mengungkap kasus korupsi tersebut memerlukan

7
waktu selama delapan tahun, yakni mulai tahun 1994 sampai tahun
2002.

III.1.4 Strategi Pemberantasan Korupsi di Perancis


Sistem pencegahan korupsi di state administration dilakukan
oleh perancis melalui dua mekanisme. Langkah pertama yaitu
berdasarkan prinsip dan regulasi. Kemudian institusi baru didirikan
untuk memperkuat kerangka kerja untuk mencegah korupsi dan
meningkatkan kontrol.
Dalam menekankan etika sektor publik dan mencegah dari
berbagai bentuk korupsi, sistem Perancis berdasarkan prinsip, peran
sektor publik dan kewajiban sektor publik. Prinsip yang dijadikan
landasan adalah Declaration of the Rights of Man and Citizen, 26
Agustus 1789. Deklarasi tersebut mneyebutkan bahwa warga
masyarakat seharusnya menentukan kebutuhan kontribusi publik dan
mensyaratkan setiap agen publik untuk akuntabel dalam
administrasinya. Sedangkan peran sektor publik dan peraturannya yaitu
The Public rules and regulation(statut de la fonction publique) yang
diadopsi tahun 1946 kemudian diamandemen tahun 1983-1984
mendefiniskan kewajiban dan tugas, pelanggaran dan sanksi, dan
berbagai bentuk ketentuan preventif lainnya untuk menghindarkan
public servant untuk melanggar hukum dan konfilk kepentingan
(Soccoja, 2007).

III.1.5 Hukum Anti Korupsi di Perancis


Secara konstitusional, Pemerintah Perancis dalam
memberantas korupsi memiliki tiga sumber.Pertama, hukum yang
berasal dari FCPA (Foreign Corrupt Practices Act). FCPA adalah
sebuah hukum negara federal yang terkenal dengan dua hal pokok,
yakni transparansi dan urusan suap menyuap dalam urusan resmi luar
negeri. Kedua, aturan yang dibuat oleh pemerintah Perancis dalam
rangka melakukan tanggung jawab pemberantasan korupsi dengan cara

8
pandang internasional. Ketiga, hukum yang diambil dari perbaikan
French Criminal Code dan French Criminal Procedure Code.
Salah satu wujud aturan yang dibuat oleh Pemerintah Perancis
adalah aturan untuk pegawai sektor publik(kode etik). Salah satu
peraturan untuk public servant adalah larangan untuk menjadi anggota
sektor publik dan sektor privat sekaligus dalam waktu yang sama.
“Civil servants shall devote their professional activity
exclusively to the performance of the duties that are assigned.
They may not engage in a gainful private professional activity of
any kind. The conditions in which exceptions may be made to
this prohibition on a exceptional basis shall be established by a
decree of the Council of State.”
Peraturan ini tidak hanya untuk pegawai negeri namun untuk semua
pegawai dibawah kontrak dengan kabinet menteri. Pengecualian dari
peraturan ini ditentukan dalam peraturan tahun 1936 yaitu untuk
kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan mengajar(teaching
activities) yang berkaitan dengan kompetensi pegawai, ilmuwan dan
penelitian teknis. Namun perlu diingat bahwa dalam kegiatan ini semua
pegawai tetap membutuhkan kewenangan dari hirarki dan harus
menyampaikan uang yang didapat.
Peraturan yang kedua yaitu persyaratan atas
disinterestedness(tidak adanya unsur kepentingan tertentu). Hal ini
berarti pegawai sektor publik tidak semestinya mendapat keuntungan
dari kerja mereka.
“Public servants may not have, either directly or through a
third party, interests in a company that is subject to supervision
of the administration to which they belong, or related to this
administration which would be liable to compromise their
independence.”
Kewajiban ketiga yaitu deals with incompatibilities dalam
memnyusun public decision making. Hal ini dimaksudkan bahwa

9
pegawai sektor publik diwajibkan untuk tidak memiliki konflik
kepentingan dalam melaksanakan tugas sektor publik.
Selain ketiga kewajiban di atas terdapat metode kontrol spesifik
dalam kewenangan publik, yaitu a priori dan a posteriori. A pripori
yaitu mengontrol prosedur internal administrasi yang juga memiliki
tugas dalam mencegah konflik kepentingan dan korupsi melalui
transparansi dan akuntabilitas administratif misalnya double-key system.
Double-key misalnya memisahkan pegawai yang memiliki peran
sebagai akuntan dan pegawai dengan kewenangan dalam pengeluaran
anggaran (Soccoja, 2007). Kemudian a posteriori yaitu the court of
auditors(cour des comptes) dan chambers of auditor
regional(chambres regionales des comptes) melakukan pemeriksaan
dan kontrol terhadap akuntabilitas kewenangan publik.
Terdapat beberapa langkah prenvetif dalam mengantisipasi
terjadinya korupsi. Salah satunya adalah pemberian sanksi terhadap
pegawai yang tidak dapat menjalankan tugasnya misalnya dengan
melakukan korupsi baik korupsi pasif maupun aktif. Strategi yang
dikhususkan dalam mencegah korupsi misalnya dalam hal rekrutmen
yaitu dengan menciptakan rekrutment melalui competitive examination.
Selain itu terdapat beberapa kebijakan yang dilakukan untuk mencegah
resiko korupsi dalam melaksanakan tugas yaitu training dan mobility
mandatory.
II.1.6 Institusi Anti Korupsi di Perancis
Di Perancis, tiga badan utama yang bertanggung jawab untuk
menjadi ujung tombak memerangi korupsi antara lain:
1. Unit Intelejen Keuangan (Tracfin) yang berada di bawah
Departemen Keuangan
2. Layanan Pusat Pencegahan Korupsi (SCPC) ², berada di bawah
naungan Menteri Kehakiman. Salah satu peran utama SCPC
adalah untuk memberikan nasehat tentang tindakan yang
diusulkan untuk mencegah korupsi baik pasif dan aktif dan ini
memainkan peran internasional yang terus berkembang.

10
3. Brigade anti-penyuapan pusat (BCLC), yang didirikan pada bulan
Oktober 2004 di lingkungan Departemen Dalam Negeri. Itu
adalah sebuah tubuh multidisiplin berfokus secara khusus pada
korupsi dan memiliki kekuasaan untuk menyelidiki semua kasus
yang berhubungan dengan itu.
Namun demikian, pada dasarnya institusi dapat dikategorikan
dalam dua kategori berdasarkan fungsinya yaitu fungsi pencegahan dan
fungsi kontrol. Institusi yang memiliki tugas dalam mencegah yaitu
Traftin, SCPC dan BCLC . Sedangkan institusi yang memiliki tugas
kontrol yaitu melalui inspektorat jenderal tiap departemen yang berbeda
setiap departemennya, misalnya inspection generale des finances(IGF)
untuk ministry of finance, dan inspenction generale de
l’administration(IGA) untuk ministry of interior.
SCPC(Service Central de Prevention de la corruption) berdiri
tahun 1993 memiliki tugas dalam mencegah korupsi di Perancis. SCPC
adalah badan dalam minister of Justice and the Prime minister. SCPC
merupakan pusat informasi untuk mendeteksi dan mencegah dalam
mengatasi inter alliae, korupsi aktif maupun pasif, dan korupsi oleh
manajer atau staf perusahaan privat, keuntungan yang tidak semestinya,
ekstorsi, dan perdagangan pengaruh/kekuasaan. SCPC juga membantu
atas permintaan kewenangan peradilan dalam investigasi misalnya
mendefiniskan daftar dari berbagai kewenangan. Opini SCPC dalam isu
dan masalah melalui mengukur tanggungjawab(measures liable)
menjadi acuan dan rekomendasi pemerintah. Melalui laporan tahun
SCPC telah membuat daftar inventaris wilayah yang beresiko korupsi
dapat terjadi sehingga dapat mengusulkan analisis dan rekomendasi
untuk mencegah resiko tersebut. SCPC juga menyelenggarakan training
untuk pelayanan pemeirntah. Selain itu SCPC juga
mengimplementasikan sesi training yang biasa diberikan terkait
pelayanan pemerintah dalam sekolah untuk calon pegawai sektor publik
yaitu (Ecole Nationale d'administration (ENA), Ecole Nationale de la
Magistrature (ENM), Schools of Police, Gendarmerie, Customs, Tax

11
and Control services (Defence, Finances) dan Universities (Strasbourg,
Poitier, Aix en Provence).
Namun demikian, dalam kasus korupsi yang menyangkut
kekuasaan, pemerintah Prancis memang mengalami kesulitan dalam
melakukan investigasi, apalagi untuk membawa kasus-kasus tersebut ke
pengadilan. Oleh karena itu, khusus untuk mengatasi kasus korupsi
seperti itu, Pemerintah Prancis menggunakan jasa Financial Action
Task Force (FATF), yakni sebuah lembaga yang dibentuk negara-
negara G-8 pada 1989. Lembaga ini bertugas mengeluarkan
rekomendasi kepada bank, lembaga keuangan, dan sejumlah lembaga
lainnya. Salah satu bentuk rekomendasi penting adalah pelarangan bagi
para penyelenggara negara untuk memiliki rekening yang berisi banyak
uang. Kalaupun ternyata memang terpaksa atau sudah terlanjur
memiliki rekening dengan uang banyak, maka asal usul uang tersebut
harus ditelusuri dengan jelas. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa pemerintah Prancis sudah memiliki political will yang baik
untuk memberantas korupsi.

II.1.7 Peran Lembaga Non-Pemerintah dalam Memberantas Korupsi di


Prancis
Sebagai negara demokratis, tentu saja Pemerintah Prancis
membutuhkan sekaligus mendorong seluruh lapisan masyarakat
negaranya untuk memberantas korupsi. BCLC sebagai salah satu
lembaga anti korupsi pemerintah BCLC bekerja sama dengan National
Commission of Election Campaign and Political Financing yang
memiliki focus pada pengawasan keuangan dan perhitungan obligasi
oleh partai politik di Prancis. Selain itu, dalam memperoleh informasi
sebelum melakukan investigasi sebuah kasus korupsi, BCLC juga
bekerja sama dengan Prosecution Office.

12
II.1.8 Analisis SWOT

Analisis SWOT dalam pemberantasan korupsi di Perancis dapat


digambarkan sebagai berikut:
Strength Weakness
Perancis memiliki tiga lembaga anti Kerja sama yang dilakukan antara
korupsi milik pemerintah yang lembaga pemerintah dan non
bertanggung jawab atas pencegahan pemerintah bisa memiliki kemungkinan
korupsi. untuk berorientasi profit, sehngga
Prancis juga memiliki dua lembaga bukan lagi didasarkan atas tujuan
anti korupsi milik pemerintah yang memberantas korupsi
bertugaas mengontrol setiap gejala
korupsi
Opportunity Threat
Lembaga anti korupsi non Tidak ada sepertinya
pemerintah siap bekerja sama
dengan lembaga milik pemerintah
dalam membasmi korupsi

II.2 Strategi Pemberantasan Korupsi di Jerman


II.2.1 Gambaran Umum Jerman

13
Jerman adalah negara terbesar dalam bidang ekonomi di Eropa.
Negara ini memiliki jumlah penduduk terbesar kedua setelah Rusia di
Eropa. Sumber daya dan potensi Jerman tersebut menjadikan Jerman
memiliki posisi kunci dalam area ekonomi, politik, dan organisasi
pertahanan. Semenjak Perang Dingin, dua negara di Jerman terbentuk yaitu
Western Federal Republic of Germany(FRG), dan Eastern German
Democratic Republic(GDR).
Negara dengan luas area sebesar 3.621 km dengan jumlah penduduk
sebanyak 82.329.758 pada Juli 2009(Central Intelligence Agency, 2009) ini
memiliki bentuk pemerintahan federal republik. Negara ini terdiri dari 16
state yaitu Baden-Wurttemberg, Bayern (Bavaria), Berlin, Brandenburg,
Bremen, Hamburg, Hessen, Mecklenburg-Vorpommern (Mecklenburg-
Western Pomerania), Niedersachsen (Lower Saxony), Nordrhein-Westfalen
(North Rhine-Westphalia), Rheinland-Pfalz (Rhineland-Palatinate),
Saarland, Sachsen (Saxony), Sachsen-Anhalt (Saxony-Anhalt), Schleswig-
Holstein, dan Thuringen (Thuringia) (Agency, 2010).

II.2.2 Keadaan Korupsi di Jerman

Sebagaimana negara lainnya di dunia, Jerman juga merasakan bahwa


korupsi dan kurang trasnparansi di dalam pendapatan publik adalah
rintangan dalam pembangunan, merusak pengurangan kemiskinan dan
partisipasi demokrasi. Secara umum korupsi dimengerti sebagai sebuah
perilaku individu yang tidak sesuai dengan tanggung jawab publik atau
privat dimana mereka melukai tugas dan kewenangan mereka untuk
meningkatkan keuntungan. Terdapat beberapa bentuk korupsi termasuk
menyuap(bribery), penggelapan atau pencurian(embezzlement),
penyalahgunaan uang(misappropriation of funds), serta nepotisme dan
patronase (nepotism and patronage) (Federal Ministry for Economic
Cooperation and Development, 2009). Tipe korupsi bisa diklasifikasikan
menjadi dua yaitu antara stuational corruption dan structural corruption.
Situational corruption adalah perilaku korupsi berdasarkan keputusan
yang spontan, aktifitas tersebut muncul sebagai respon langsung terhadap

14
pekerjaan yang berhubungan dengan aktifitas tersebut yang tidak
direncanakan dan dipersiapkan. Sedangkan structural corruption dimana
perilaku korupsinya direncanakan sebelumnya. Situational corruption
secara particular tersebar di negara berkembang akibat sistem administrasi
dikarakteristikan dengan kurangnya monitoring dan prosedur komplain.
Sedangkan structural corruption bisa terjadi di negara berkembang
maupun negara industri. Jerman adalah negara yang dipengaruhi oleh
structural corruption yang secara prinsip dilakukan melalui peran sektor
privat dalam pemerintahan (Dedo Geinitz, 2007).

Perkembangan kasus korupsi di Jerman memiliki banyak macam.


Namun diperkirakan hanya 10 % korupsi di Jerman yang terdeteksi.
Jumlah korupsi yang tidak terdeteksi sangat tinggi. Hal ini dilatarbelakangi
oleh beberapa alasan. salah satu alasannya yaitu efek domino. Efek
domino ini terjadi ketika satu kasus korupsi diselesaikan oleh beberapa
pihak misalnya untuk penentuan pelanggaran oleh satu pihak kemudian
untuk proses lebih lanjut dilakasaakan oleh lembaga hukum yang relevan
lainnya. Efek domino yang disebabkan dari proses investigasi ini menjadi
alasan utama untuk mengasumsikan bahwa jumlah korupsi yang tidak
terdeteksi sangat tinggi (Dedo Geinitz, 2007).

Transparency internasional mencatat bahwa Jerman mengalami


penurunan dalam menangani korupsi. Berdasarkan laporan Transparency
International tahun 2001, Jerman turun ke peringkat 20 dari 91 negara
setelah turun dari peringkat 14 ke peringkat 17 tahun 2000. Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat ketidakteraturan dalam keuangan partai,
sogok-menyogok dalam pemerintahan, korupsi dalam pendapatan pegawai
negeri dalam isntitusi publik, korupsi dalam kontrak, transaksi bank yang
meragukan dalam kontribusi yang diterima oleh top politicians (Zachert &
Zeitung, 2001). Namun peringkat ini kembali membaik. Tahun 2009
Jerman berada di urutan ke 14 dalam indeks persepsi korupsi dengan
indeks persepsi korupsi sebesar 8,0. Peringkat Jerman selain meningkat

15
juga semakin tinggi indeks persepsi korupsinya mendekati poin 10, dimana
poin 10 merupakan poin sempurna tanpa adanya korupsi.

II.2.3 Kasus Korupsi di Jerman

Siemens adalah salah satu perusahaan yang telah melakukan suap-


menyuap dan menjadi sorotan media. Siemens memperkirakan telah
menghabiskan 400 million euro atau 525$ million untuk menyuap agar
usahanya ke luar negerinya menguntungkan (Dougherty, 2007).

Menurut Nationsl Daily, Jerman merupakan perusahaan di Jerman


yang menjadi skandal korupsi terbesar sepanjang sejarah perusahaan di
Jerman. Korupsi di tubuh Siemens tersebut dilakukan dengan menyuap
agar perjalanan bisnis mereka sukses. Kasus ini terjadi ketika
kepemimpinan Siemens, Klaus Kleinfeld dan Heinrich von Pierer, serta
Heinz-Joachim Neuburger sebagai direktur keuangan serta beberapa top
executive lainnya. Para pemimpin Siemens ini memimpin perusahaan dari
2003 hingga 2006. Perusahaan telah mengakui bahwa korupsi yang terjadi
di Siemens mencapai €1,3 juta untuk menyuap pemerintah serta
memenangkan kontrak (Spiegel Online International, 2008).

Berdasarkan laporan dari United States Department of Justice,


Pemeirntah Jerman menerima suap-menyuap untuk pegawai dari luar
negeri agar dapat memenangkan kontrak pemeringtah antara 1998 hingga
2008. Kasus suap ini diistilahkan sebagai longstanding practise of paying
bribes. Kasus korupsi berupa suap ini selain digunakan untuk
memenangkan kontrak pemerintah juga ditujukan untuk menghindarkan
dari ketentuan tertentu dalam hukum Jerman (Bowen, 2010).

II.2.3 Startegi Pemberantasan Korupsi di Jerman

II.2.3.1 Langkah-langkah Pemerintah Jerman

Pemerintah Jerman dalam menangulangi korupsi dan menciptakan


transparansi melalui pelaksanaan tiga level kebijakan. Pertama,

16
international coordination, yaitu koordinasi internasional yang terdiri dari
enam bentuk implementasi yaitu:

1. Melalui keterlibatan di United Nations(UN), The World Bank, The


G8 dan OECD, pemerintah Jerman mendukung dalam
pengimplementasian dan observasi mengenai standar anti korupsi
di tingkat internasional.

2. The German Ministry for Economic Cooperation and


Development (BMZ) membantu negara-negara partner untuk
meratifikasi dan mengimplementasikan Konvensi UN dalam
melawan korupsi(UNCAC).

3. Sejak korupsi secara bertahap umum di resource-rich countries,


BMZ mendukung insiatif internasional untuk menciptakan
transparansi yang lebih baik untuk industri esktraktif.

4. Dalam the Paris Declaration on Aid Effectiveness of 2005 dan the


Accra Action Plan of 2008, pihak donor and recipients melakukan
komitment yang saling menguntungkan.

5. Ketika pemberi bantuan(donor) mendanai melalui anggaran


pemerintah, hal ini menunjukkan bahwa pemerintahan tersebut
mempunyai kebutuhan kapasitas institusional untuk
menanggulangi penyalahgunaan anggaran atau korupsi.

6. Kerjasama dengan donor lain, secara khusus disebutkan harus


dibuat oleh the U4-Anti-Corruption Resource Centre di Bergen,
Norwegia.

Kedua, kontribusi melalui kerjasama pembangunan bilateral Jerman.


Level ini memiliki dua bentuk yang merupakan program berkelanjutan
dari bentuk sebelumnya yaitu:

7. Jerman membantu development-oriented partner government


untuk membangun kapasitas yang diperlukan untuk membersihkan

17
isntitusi pemerintah dari korupsi dan membuat administrasi publik
transparan, efektif, dan responsif terhadap kebutuhan publik.

8. Sejak 1997, semua sejarah negosiasi pemerintah dengan negara-


negara partner berisi perjanjian anti korupsi.

Ketiga, mencegah korupsi di Jerman. Level ini memiliki dua bentuk


implemetasi yang juga merupakan lanjutan dan kesatuan dari bentuk-
bentuk lain di level sebelumnya. Bentuk implementasinya antara lain
sebagai berikut:

9. Bentuk ini diwujudkan dalam bentuk kampanye gerakan


pencegahan korupsi dan menciptakan transparansi dalam
kebijakan pembangunan. Bentuk ini dilakukan dengan menyetujui
dan meratifikasi standar yang telah disetujui secara internasional
yang secara ekstensif diregulasikan melalui German law.

10. Semua kewenangan federal juga merupakan subjek dalam


memimpin pemerintahan Jerman dalam mencegah korupsi dalam
administrasi di negara federal dimana menciptakan variasi
pengukuran dalam kinerja, dan janji personal dalam menanggapi
isu korupsi, audit internal, rotasi kerja, sistem dalam kelangkaan
yang lebih berat, dan kewenangan dalam eksekutif untuk
menciptakan contoh yang baik. (Federal Ministry for Economic
Cooperation and Development, 2009)

II.2.3.2 Insitusi Pemberantasan Korupsi

Dalam menjalankan program pemberantasan korupsi, Jerman


melakukannya melalui internal birokrasi. Proses pemberantasan korupsi
tidak dilakukan dengan mendirikan lembaga ad hoc untuk memberantas
korupsi. Hal ini mengingat pembentukan lembaga ad hoc pada hakikatnya
hanya dilakukan jika negara tidak mampu menyelesaikan tugas tersebut.
namun dalam pemberantasan korupsi Jerman mampu melakukan melalui

18
peran negara sehingga tidak didirikan lembaga anti korupsi namun hanya
menekankan pada reformasi birokrasi.

Selain reformasi administrasi yang diarahkan pada peningkatan


kapabilitas dan upaya minimasi celah kelembagaan & birokrasi bagi
praktik korupsi, administrasi di Jerman ditempatkan secara hukum sebagai
entitas independen yang terpisah dari pemerintah karena pemerintah
merupakan salah satu cabang kekuasaan eksekutif. Dengan begini, korupsi
politik dan korupsi birokrasi yang salah satu penyebabnya adalah politisasi
birokrasi relatif bisa dicegah.Bagaimana pun juga korupsi politik atau
kebijakan tetap menjadi hal yang rawan karena bersumber dari wilayah
dari abu-abu dalam skema kebijakan yang bersangkutan, ditambah dengan
celah kelembagaan lain. Ini juga tantangan di banyak negara maju
sekalipun, termasuk di Jerman.

Karena di Jerman tidak ada lembaga extra untuk mengurusi


pemberantasan korupsi, maka diperlukan reformasi administrasi dari
lembaga-lembaga intern untuk memberantas korupsi. Reformasi
administrasi harus diarahkan pada perubahan struktur secara sistemik, dari
struktur administrasi yang hirarkis vertikal menjadi struktur yang lebih
landai horisontal dengan bentuk jejaring kerja. Secara empirik, struktur
dalam bentuk jejaring, tidak hanya lebih mendekatkan para pejabat publik
dengan publik yang dilayaninya, tetapi juga menempatkan publik dalam
posisi lebih berarti. Hal tersebut akan memudahkan melakukan kontrol
terhadap pejabat publik, sehingga kemungkinan untuk melakukan korupsi
semakin kecil.

Reformasi administrasi publik perlu diarahkan pada penetapan


strategi-strategi dan administrasi melalui perencanaan yang partisipatif dan
demokratik, baik dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam
melaksanakan fungsi-fungsi administrasi lainnya. Dengan begitu
pelayanan administrasi tidak tergantung pada aktor semata, tetapi pada
sistem yang lebih handal. Dengan tidak bergantung kepada aktor, maka
tidak ada aktor yang memiliki kewenangan penuh sehingga kecendrungan

19
untuk melakukan korupsi juga dapat dihindari. Seperti yang kita ketahui,
korupsi terbentuk dari ketidaktransparan dan monopli kekuasaan.

Reformasi administrasi menerapkan ide-ide baru atau kombinasi ide


guna meningkatkan sistem administrasi agar mampu melaksanakan tujuan
pembangunan nasional (Lee dan Samonte, 1970). Reformasi administrasi
sebagai proses yang terencana untuk mengadakan perubahan dalam
struktur dan prosedur birokrasi publik, serta sikap dan perilaku para
birokrat dalam upaya meningkatkan daya guna organisasi dalam mencapai
tujuan-tujuan pembangunan (Quah, 1976). Manfaat yang ditimbulkan dari
reformasi administrasi yaitu:

- Pendayagunaan dan rightsizing aparatur negara agar mampu


menyelenggarakan pelayanan publik dengan lebih cepat dan lebih
baik.

- Mendorong otonomi daerah

- Meningkatkan keamanan dan stabilitas, menegakkan hukum dan


fungsi peradilan

- Mendorong Pelayanan Prima dan Inovasi

- Memperluas pemanfaatan Teknologi Informasi untuk


meningkatkan efisiensi dan produktivitas instansi pemerintah

II.2.3.3 Peran Masyarakat, Partai Politik, dan Media Massa dalam


Memberantas Korupsi

Memang Jerman tidak memiliki lembaga ad hoc untuk memberantas


korupsi akan tetapi dalam menjalankan program pemberantasan korupsi
tersebut terdapat sejumlah civil society yang kredibel yang juga memiliki
titik berat dalam pemberantasan korupsi di Jerman dan internasional.
Lembaga independen tersebut misalnya GTZ(Deutsche Gesellschaft fur
Technische Zusammenarbeit). Lembaga independen yang berada di
Jerman ini memiliki skala cakupan tidak hanya di Jerman saja tapi juga

20
melakukan kegiatan bantuan di negara-negara lain. GTZ memiliki banyak
bidang kerja dan program kerja. Salah program kerjanya yaitu membentuk
good governance yang memiliki langkah yaitu dengan reformasi birokrasi
dan pemberantasan korupsi.

Partai politik juga memiliki peran yang beasr dalam memberantas


korupsi. Partai politik di Jerman biasa melakukan sosialisasi dan
pendidikan politik untuk masyarakat. Satu partai tertentu akan mendirikan
lembaga pendidikan politik misalnya tentang ideologi partai. Korupsi juga
menjadi salah satu poin yang menjadi tanggung jawab dalam proses
pendidikan politik tersebut. contoh lembaga bentukan partai untuk
program tersebut ada;ah Hans Seidel Stiftung. Yayasan Hans-Seidel
(HSF), bekerjasama dengan mitra-mitra tertentu dan organisasiorganisasi
afiliasi, mendukung pelatihan pejabat pemerintah, pimpinan perusahaan,
tenaga ahli dari kalangan swasta dan LSM untuk membangun administrasi
perlindungan lingkungan yang efisien. Hans Seidel Stiftung ini juga
melakukan kerjasama dengan negara lain termasuk Indonesia karena HSF
juga memiliki program pendidikan politik di negara mitra.

Masyarakat juga berperan dalam memberantas korupsi. Wolfgang


Schaupensteiner adalah seseorang yang mendedikasikan diri untuk
memberantas korupsi sejak 1993. Dia menghabiskan waktu untuk
melakukan berbagai kegiatan untuk memberantas korupsi. Misalnya,
Schaunpeter melakukan hal sederhana untuk memberantas korupsi yaitu
dengan menggambar kartun antikorupsi di ruang kerjanya serta bergabung
dengan aktifis-aktifis lainnya (Dougherty, 2007).

II.2.3.3Analisis SWOT

Analisis SWOT dalam pemberantasan korupsi di Jerman dapat


digambarkan sebagai berikut:

Strength Weakness

a. Jerman memiliki lembaga a. Alur investigasi yang berantai

21
internal yang bertekad menyebabkan adanya korupsi yang
menyelesaikan korupsi dengan ternyata tidak teridentifikasi.
efisien yang diwujudkan dengan
b. Masih ada kebiasaan suap
tidak didirikannya lembaga ad
menyuap dalam memenangkan
hoc.
kontrak dari pemerintah.
b. Memiliki program kerja dan
kebijakan yang relatif menyeluruh
yaitu kebijakan di internal dalam
negeri, kerjasama regional, dan
internasional.

Opportunity Thread

a. Peran aktif lembaga civil Globalisasi menyebabkan


society dalam memberantas pemberantasan korupsi sulit dilakukan
korupsi. apalagi untuk kasus suap dari pihak
swasta(perusahaan multinasional)
b. Partai politik memainkan peran
kepada pemerintah
dalam sosialisasi dan pendidikan
politik termasuk dalam
pemberantasan korupsi.

II.3 Strategi Pemberantasan Korupsi di Indonesia


II.3.1 Gambaran Umum Indonesia

22
Indonesia merupakan negara kesatuan (republik). Pemerintah Indonesia
menganut sistem presidensial, dimana pemerintah Indonesia dikepalai oleh
seorang presiden yang dibantu beberapa menteri yang tergabung dalam
suatu kabinet. Ciri-ciri sistem pemerintahan Presidensial:

1. Pemerintahan Presidensial didasarkan pada prinsip pemisahan


kekuasaan.

2. Eksekutif tidak mempunyai kekuasaan untuk menyatu dengan


Legislatif.

3. Kabinet bertanggung jawab kepada presiden.

4. Eksekutif dipilih melalui pemilu.

Sebelum tahun 2004, sesuai dengan UUD 1945, presiden dipilih oleh
Majelis Permusyawaratan Rakyat. Pada Pemilu 2004, untuk pertama kalinya
Presiden Indonesia dipilih langsung oleh rakyat. Dalam kaitannya dengan
pemerintahan daerah, pemerintah Indonesia merupakan pemerintah pusat.
Kewenangan pemerintah pusat mencakup kewenangan dalam bidang politik
luar negeri, pertahanan dan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal,
agama, serta kewenangan lainnya seperti: kebijakan tentang perencanaan
nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro,
pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi strategis,

23
konservasi dan standardisasi nasional. Kewenangan lainnya diserahkan
kepada pemerintah daerah.

II.3.2 Keadaan Korupsi di Indonesia

Masalah korupsi yang melanda Indonesia menjadi masalah besar yang


dihadapi Indonesia. Masalah korupsi di Indonesia tidak pernah berhenti,
selalu saja muncul masalah korupsi silih berganti yang menunjukkan
berkembangnya korupsi di Indonesia. Bagi banyak orang korupsi bukan lagi
merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan.
Masyarakat sudah tidak aneh lagi ketika mendengar banyaknya praktek
korupsi di Indonesia, mulai dari praktek korupsi yang terjadi dalam tatanan
pemerintahan (sektor publik) maupun prakter korupsi yang terjadi di dalam
sektor swasta.

Maraknya praktek korupsi di Indonesia tidak sedikit merugikan


Indonesia. Korupsi menelan uang rakyat hingga triliunan rupiah. Bisa
dibayangkan betapa kejamnya para koruptor yang melakukan tindak korupsi
yang menghabiskan uang negara, dimana seharusnya uang tersebut bisa
diperuntukkan untuk subsidi pendidikan dan kesehatan masyarakat
Indonesia. Menurut Worldwide Persepsi Korupsi peringkat negara yang
diterbitkan oleh Transparency International, pemberantasan korupsi di
Indonesia pada tahun 2009 kemarin menduduki peringkat 111, dengan
angka sebesar 2,8. Posisi Indonesia dalam urutan negara terkorup di dunia
pada tahun 2000 misalnya, adalah juara kedua di Asia.

Korupsi di Indonesia sudah muncul sejak era orde lama, yang ditandai
dengan korupsi yang dilakukan oleh Ruslan Abdulgani pada tahun 1951-
1956. Pada era orde baru yaitu pada masa pemerintahan Soeharto, praktek
korupsi berkembang sangat pesat karena tidak ada satupun pihak yang
berani untuk menghentikan praktek korupsi tersebut. Begitu kuatnya
kekuasaan yang dimiliki oleh Soeharto menyebabkan praktek korupsi yang
dijalankan oleh keluarga besarnya yang merugikan uang negara menjadi
luput dari perhatian masyarakat. Begitu banyak alasan-alasan yang mereka

24
lontarkan untuk menutupi praktek korupsi yang mereka jalankan. Tetapi
sejak Indonesia mengalami krisis moneter pada pertengahan tahun 1997
lalu, alasan-alasan ala orde baru itu sudah tidak ada lagi gunanya. Fakta-
fakta muncul memperkuat dugaan praktek korupsi yang dilakukan pada era
orde baru tersebut.

Di era reformasi, praktik korupsi mengalami proses transformasi seiring


dengan pergeseran kekuasaan. Jika pada masa Orde Baru korupsi harus
melalui “istana”, era reformasi korupsi dilakukan banyak pelaku sehingga
yang terjadi menyerupai democratic corruption. Munculnya pusat
kekuasaan baru di luar istana, misalnya parlemen dan partai politik,
memperluas praktik korupsi itu. Situasi seperti ini meruntuhkan argumentasi
bahwa korupsi berkembang subur di bawah pemerintahan yang otoriter.
Karena, yang terjadi pada Indonesia pasca-Orde Baru justru sebaliknya.
Liberalisasi politik ternyata juga mendorong liberalisasi korupsi.

Pada era reformasi, kasus korupsi berkembang di Indonesia. Kasus


korupsi terakhir yang masih sangat hangat diperbincangkan adalah korupsi
yang menyeret nama Gayus. Gayus Halomoan P Tambunan merupakan
pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan golongan III A
yang disebut mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal
Susno Duadji terlibat dalam kasus pajak sebesar Rp 25 miliar. Besarnya
angka nominal uang yang dikorupsi oleh Gayus belum pasti, bahkan ada
pihak yang menyatakan bahwa korupsi yang dilakukan oleh gayus
menyentuh angka 28 miliar.

Kasus ini mengemuka setelah Bareskrim Mabes Polri menemukan


aliran dana mencurigakan yang masuk ke rekening Gayus di Bank Central
Asia Bintaro, Kota Tangerang Selatan, sebesar Rp 170 juta pada 21
September 2007 dan Rp 200 juta pada 15 Agustus 2008. Total uang yang
diterima pegawai pajak ini dari PT Megah Citra Jaya Garmindo untuk
mengurus pajak perusahaan tersebut sebesar Rp 370 juta. Namun, setelah
uang tersebut diterima oleh Gayus, terdakwa tidak mengurus apa pun

25
meskipun perusahaan tersebut berkali-kali menghubungi terdakwa dan
menanyakan pengurusan pajak dan uang yang ditransfer.

Sejak penyelidikan kejaksaan dan perkaranya disidangkan di


Pengadilan Negeri Tangerang, Gayus tidak pernah ditahan. Hal ini
menimbulkan kecurigaan, dimana Gayus dilindungi oleh pihak-pihak yang
menikmati korupsi yang dilakukan oleh Gayus ini. Mereka yang diduga
menjadi "aktor" makelar kasus (markus) dalam kasus Gayus ini mulai
dikenai tindakan. Pihak-pihak tersebut adalah kepolisian, Ditjen Pajak,
maupun kejaksaan. Di kepolisian, pihak yang diduga sebagai aktor markus
dalam kasus Gayus ini adalah Brigjen Pol Edmond Ilyas yang sudah resmi
dinonaktifkan. Selain itu, Mabes Polri juga menonaktifkan sekaligus
menahan perwira menengah di Direktorat II Ekonomi Khusus (Dir II Eksus)
Bareskrim Polri, Kompol Arafat dan AKP Sumartini yang diduga terlibat.
Sedangkan di Ditjen Pajak, sepuluh atasan Gayus dibebastugaskan. Atasan
Gayus tersebut menjalani pemeriksaan. Sementara itu, Kepala Kejaksaan
Negeri Tangerang, Bapak Suyono, telah dimutasi. Hal ini dikarenakan
Suyono diduga terkait dengan vonis bebas atas terdakwa Gayus Tambunan.

Banyaknya pihak yang melindungi Gayus ini mengindikasikan bahwa


masih lemahnya penegakan korupsi di Indonesia. Masih lemahnya hukum di
Indonesia juga menjadi penyebab masalah korupsi di Indonesia belum
berakhir masih terus bermunculan silih berganti. Perkembangan korupsi
tersebut juga mendorong pemberantasan korupsi di Indonesia. Namun
hingga kini pemberantasan korupsi di Indonesia belum menunjukkan titik
terang melihat peringkat Indonesia dalam perbandingan korupsi antar
negara yang tetap rendah. Namun, Indonesia sudah mencoba untuk
menanggulangi masalah korupsi ini dengan membentuk beberapa institusi
dalam pemberantasan korupsi. Pemberantasan korupsi di Indonesia saat ini
dilakukan oleh beberapa institusi:

b. Komisi Pemberantasan Korupsi


c. Tim Tastipikor (Tindak Pidana Korupsi)

26
d. Kepolisian
e. Kejaksaan
f. BPKP
g. Lembaga non-pemerintah: Media massa Organisasi massa (mis:
ICW)

III. 3.3. Strategi Pemberantasan Korupsi


III. 3.3. 1. institusi

Reformasi diawali dengan semangat tinggi untuk memberantas korupsi.


Semangat ini dapat dirujuk dengan Ketetapan MPR Nomor XI/1998
sehingga diharapkan segera memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Dengan semangat ini pula dibentuk Komisi Pemeriksa Kekayaan
Penyelenggara Negara dan kemudian terbentuk Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK). Namun, semangat dalam pemberantasan korupsi ini selalu
menghadapi rintangan, baik dari luar maupun dari dalam KPK. Dari dalam
KPK yaitu banyak anggota KPK yang tersandung kasus konspirasi korupsi,
sedangkan ancaman dari luar datang dari pemerintah, polisi, maupun
kejaksaan.

Kemunculan KPK merupakan langkah alternatif pemberantasan tindak


pidana korupsi di Indonesia. Pemerintah dan DPR hasil reformasi telah
menunjukkan komitmen untuk membentuk KPK berdasarkan mandat UU
No 30/2002.

Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai tugas:

a. koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan


tindak pidana korupsi;
b. supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan
tindak pidana korupsi;
c. melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak
pidana korupsi;
d. melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi;

27
e. melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.

KPK dibentuk pada masa pemerintahan Megawati, tetapi baru berjalan


pada masa pemerintahn Susilo bambang Yudhoyono. Namun, dalam
perjalanan periode kedua lima tahunan, pimpinan KPK mulai tersandung
dugaan tindak pidana. Untuk itu diperlukan pemulihan terhadap kinerja
KPK yaitu dengan cara membentuk Tim Lima orang yang memiliki
integritas moral dan kredibel yang diharapkan dapat memastikan tiga orang
terbaik yang terseleksi sehingga mengatasi kekuranglengkapan pimpinan
KPK. Selain itu KPK harus melakukan konsolidasi untuk menggerakkan
kembali pemberantasan korupsi. Konsolidasi yang terarah sesuai wewenang,
fungsi, dan tugasnya dapat memulihkan kepercayaan publik atas manfaat
keberadaan KPK. Selanjutnya, struktur kekuasaan, kewenangan, dan fungsi
KPK harus dikuatkan dengan dukungan pemerintah. Meski dibutuhkan
dukungan politik, pemerintah harus tetap menghormati kewenangan dan
fungsi KPK tanpa mencampurinya dalam menyeret mereka yang diduga
melakukan korupsi. Untuk memulihkan keberadaan KPK dalam
memberantas korupsi, dibutuhkan mandat yang kokoh berdasar undang-
undang. RUU Tindak Pidana Korupsi harus didukung untuk memperkuat
KPK. Partisipasi masyarakat merupakan hal yang sangat penting. Tanpa
dukungan dan partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi, kiranya
sulit mewujudkan cita-cita pemerintahan yang baik sebagai masa depan
politik hukum yang lebih baik.

III. 3.3. 2. hukum

Beberapa UU yang dikeluarkan pemerintah sudah mengatur secara jelas


mengenai tindak pidana korupsi. Undang-undang tentang tindak pidana
korupsi sudah 4 (empat) kali mengalami perubahan. Adapun peraturan
perundang-undangan yang mengatur tentang korupsi, yakni :

1. Undang-undang nomor 24 Tahun 1960 tentang pemberantasan


tindak pidana korupsi,

28
2. Undang-undang nomor 3 Tahun 1971 tentang pemberantasan tindak
pidana korupsi,
3. Undang-undang nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan
tindak pidana korupsi,
4. Undang-undang nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas
Undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Undang-undang mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi


tersebut diharapkan mampu memenuhi dan mengantisipasi perkembangan
kebutuhan hukum masyarakat dalam rangka mencegah dan memberantas
secara lebih efektif setiap bentuk tindak pidana korupsi yang sangat
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara pada khususnya
serta masyarakat pada umumnya.

III. 3.3.3 Langkah-langkah Strategi

Pemerintah sudah mengambil tindakan dalam upayanya untuk


memberantas korupsi. Untuk memberikan bukti bahwa upaya dan
keseriusan pemerintah dalam pemberantasan korupsi tidak sekadar janji,
tetapi sudah dapat langsung dilaksanakan yaitu menyelenggarakan
Roundtable Discussion Naskah Strategi Nasional Pemberantasan Korupsi
2010–2025 dan Rencana Aksi (Stranas PK) yang akan menghasilkan
Stranas PK (strategi nasional dan rencana aksi pemberantasan korupsi 2010-
2025) yang kemudian bisa diterapkan untuk seluruh instansi.

Stranas PK 2010-2025 merupakan kelanjutan dari pelaksanaan Rencana


Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi sebelumnya yang belum
terselesaikan, sekaligus penyesuaian dengan Konvensi Anti Korupsi 2003
PBB yang telah diratifikasi Indonesia. Visi Stranas PK 2010-2025 adalah
terbangunnya tata pemerintahan yang bebas dari praktik-praktik korupsi
dengan daya dukung kapasitas pencegahan dan penindakan serta sistem
integritas yang terkonsolidasi secara nasional. Visi itu kemudian dituangkan
ke dalam sejumlah misi antara lain membangun dan memantapkan sistem,

29
prosedur, mekanisme, dan kapasitas pencegahan korupsi yang terpadu di
tingkat pusat dan daerah. Visi dan misi itu dijabarkan ke dalam beberapa
fokus strategi. Fokus Stratnas PK 2010-2025 :

1. Strategi 1 : Melaksanakan upaya-upaya pencegahan

2. Strategi 2 : Melaksanakan langkah-langkah strategis bidang


penindakan

3. Strategi 3: Melaksanakan harmonisasi dan penyusunan peraturan


perundang-undangan di bidang pemberantasan korupsi

4. Startegi 4 : Melaksanakan penyelamatan aset hasil tindak pidana


korupsi

5. Strategi5:Meningkatkan kerjasama internasional dalam rangka


pemberantasan korupsi

6. Strategi 6 : Meningkatkan koordinasi dalam rangka pelaporan


pelaksanaan upaya pemberantasan korupsi.

Stranas diperlukan karena dalam upaya pemberantasan korupsi ini


pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, harus ada keterlibatan
lembaga/instansi lain baik itu di yudikatif atau di legislatif. Stranas PK ini
akan menjadi bagian dari upaya memperkuat peningkatan kesejahteraan
rakyat. Artinya, pemberantasan korupsi harus menjadi langkah mainstream
dalam seluruh pelaksanaan pembangunan.

Pemberantasan korupsi di Indonesia ternyata bersifat lebih kompleks,


yaitu tidak hanya menyangkut konten kebijakan dan penataan peraturan
perundangan yang mengatur mengenai pemberantasan korupsi itu sendiri,
namun juga faktor-faktor lain yang berpengaruh langsung pada rantai
perumusan kebijakan itu sendiri. Itikad politik yang kuat perlu menjadi
landasan agar kebijakan pemberantasan korupsi mendapat legitimasi yang
cukup dan efektif, namun sayangnya political will masih lemah. Hal ini

30
diindikasikan ketika penegakan hukum atas tindak pidana korupsi yang
melibakan kelompok elit dan nama besar akan sangat sulit dilakukan.

Upaya pemberantasan korupsi melibatkan semua pihak, semua sektor


dan seluruh komponen perumus kebijakan baik itu pemerintah dan
penyelenggara negara lainnya, tidak terkecuali anggota masyarakat secara
umum. Hal ini karena praktek korupsi bukan merupakan monopoli perilaku
dari pegawai atau pejabat pemerintah saja, tetapi merupakan justru perilaku
kolektif yang melibatkan hampir semua unsur dalam masyarakat.

Strategi pemberantasan didahului oleh adanya itikad kolektif, yaitu


semacam willingness dari semua pihak untuk bersama-sama tidak
memberikan toleransi sedikitpun terhadap perilaku korupsi. Selama ini
praktek korupsi dianggap sesuatu yang wajar terjadi. Padahal perilaku
korupsi harus dicitrakan dan diperlakukan sebagai perilaku kriminal, sama
halnya dengan tindak kriminal lainnya yang memerlukan penanganan secara
hukum. Berkenaan dengan political will serta komitmen yang harus
dibangun, maka perlu menegaskan kembali political will pemerintah,
diantaranya melalui: (1) Penyempurnaan UU Anti Korupsi yang lebih
komprehensif; (2) Kontrak politik yang dibuat pejabat publik; (3)
Pembuatan aturan dan kode etik PNS; (4) Pembuatan pakta integritas; dan
(5) Penyederhanaan birokrasi.

Selain itu, strategi pemberantasan korupsi yang “diagung-agungkan”


adalah reformasi birokrasi, yaitu membenahi dari dalam individu itu sendiri.
Banyak pihak yang meyakini dengan adanya reformasi birokrasi, maka
birokrasi di Indonesia lambat laun akan sembuh dari penyakit “korupsinya”.
Reformasi birokrasi ini tidak bisa hanya sebatas wacana seperti yang selama
ini banyak terjadi. Reformasi birokrasi harus menjadi pengungkit (leverage)
dalam strategi pemberantasan korupsi, karena merupakan fondasi penting
dalam penyelenggaran negara yang bersih dan bebas KKN.

31
III. 4. Peran partisipasi masyarakat, partai politik, dan media massa dalam
memberantas korupsi

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak


Pidana Korupsi Pasal 41 menyebutkan, masyarakat dapat berperan serta
membantu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi.
Peran serta masyarakat itu diwujudkan dalam bentuk memiliki hak mencari,
memperoleh dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak
pidana korupsi, hak untuk memperoleh pelayanan dalam mencari, serta
memperoleh dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak
pidana korupsi kepada penegak hukum yang menangani perkara tindak
pidana korupsi. Masyarakat juga punya hak menyampaikan saran dan
pendapat secara bertanggung jawab kepada penegak hukum yang
menangani perkara tindak pidana korupsi. Di samping itu, punya hak pula
untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya yang
diberikan kepada penegak hukum dalam waktu paling lama 30 hari.

Selain itu masyarakat juga berhak untuk memperoleh perlindungan


hukum dalam hal melaksanakan haknya, ketika diminta hadir dalam proses
penyelidikan, penyidikan, dan di sidang pengadilan sebagai saksi pelapor,
saksi, atau saksi ahli. Masyarakat juga mempunyai hak dan tanggung jawab
dalam upaya mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi. Seluruh
hak dan tanggung jawab itu dilaksanakan dengan berpegang teguh pada
asas-asas atau ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan
yang berlaku dan dengan menaati norma agama dan norma sosial lainnya.
Pasal 42 menyebutkan, pemerintah memberikan penghargaan kepada
anggota masyarakat yang telah berjasa membantu upaya pencegahan,
pemberantasan, atau pengungkapan tindak pidana korupsi. Ketentuan
pemberian penghargaan itu diatur dengan peraturan pemerintah.

Partisipasi publik dalam mengontrol terhadap peristiwa-peristiwa


hukum yang menyimpang, bukan harus diletakkan pada konteks kewajiban
publik, tetapi harus dilihat pada konteks tanggung jawab sosial publik.

32
Dimana dalam konteks tanggung jawab sosial melalui adanya kesadaran
kritis yang dibentuk atas pemahaman, pengenalan dan pendalaman terhadap
sebuah realitas sosial. Kaitannya dalam upaya pemberantasan korupsi, maka
partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi tersebut tentu menjadi
relevan untuk beberapa hal. Pertama, secara filosofis, masyarakat sebagai
sebuah komunitas yang memiliki tata nilai, setiap komunitas berhak untuk
memperjuangkan hak-hak yang mereka miliki. Kedua, pada perspektif
sosiologis, peran serta masyarakat menjadi sebuah prasyarat dalam
menjalankan fungsi kontrol sosialnya (social control) dalam tata hidup
bermasyarakat. Menjadikan kontrol sosial sebagai sebuah tata nilai yang
terlembagakan setidaknya menjadi instrumen dalam meminimalisir lahirnya
praktek a moralitas dalam masyarakat.

Selain peran masyarakat dalam memberantas korupsi, media massa juga


memiliki peranannya tersendiri dalam membantu pemberantasan korupsi.
Peran media tidak hanya memberikan informasi mengenai penindakan
terhadap pelaku korupsi, tetapi juga pencegahan korupsi. Peran penting
media massa di bidang pencegahan korupsi, antara lain, diwujudkan dalam
bentuk memberi informasi kepada masyarakat tentang makna korupsi.
Tujuannya, agar masyarakat mengetahui perbuatan yang termasuk korupsi
dan tidak termasuk korupsi. Melalui keterbukaan informasi ini
menyebabkan masyarakat mengetahui apakah mandat rakyat sudah
dilaksanakan dengan baik atau belum. Kekuasaan yang demikian besar
harus dikontrol melalui media massa.

Hal ini terkait dengar peran media massa dalam membentuk opini
publik. Contohnya adalah bagaimana publik melihat kasus korupsi yang
dilakukan oleh Gayus Tambunan. Pemberitaan di media massa sangat
terkait dengan pembentukan opini publik, karena pada dasarnya komunikasi
itu proses interaksi sosial, yang digunakan untuk menyusun makna yang
membentuk opini tersendiri. Dalam konteks tersebut, media memainkan
peranan penting untuk konstruksi realitas sosial.

33
Selain peran masyarakat dan media massa, peran parpol juga besar
dalam pemberantasan korupsi. Yaitu bagaimana parpol tersebut menyiapkan
kader yang memiliki moral yang baik, dimana moral yang baik tersebut
dapat membentengi mereka dari perbuatan tindak korupsi. Pendidikan
politik juga menjadi sangat penting dimana melalui pendidikan politik, para
birokrat menjadi lebih mengetahui tugas dan tanggung jawab yang
diembannya. Selain itu, makin banyaknya partai politik maka cenderung
praktek korupsi semakin marak karena banyaknya partai membutuhkan
sumber keuangan yang besar. Hal tersebut terlihat pada saat pemilu, dimana
partai menyiapkan kampanye mereka dan hal tersebut membutuhkan biaya
yang tidak sedikit, akibatnya memancing terjadinya praktek korupsi yang
dilakukan oleh parpol untuk membiayai partai mereka.

III. 5. Analisis SWOT

Maraknya praktek korupsi di Indonesia membawa pada upaya


Indonesia memberantas korupsi. Pemerintah menyuarakan pemberantasan
korupsi kepada semua pihak, dan diharapkan semua pihak membantu dalam
pemberantasan korupsi mulai dari pemerintah, kepolisian, kejaksaan,
sampai pada masayarakat. Untuk mendukung upaya pemberantasan korupsi,
pemerintah membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dimana
KPK memiliki kewenangan untuk menyelidiki kasus tindak korupsi.

KPK telah menunjukkan kinerja yang optimum dalam pemberantasan


kasus korupsi terlihat dengan banyaknya kasus korupsi yang “dikuak” oleh
KPK, salah satunya kasus Artalitha yang menjadi terdakwa dalam kasus
dugaan suap terhadap jaksa Urip Tri Gunawan. KPK harus tetap berdiri
tegak untuk melawan korupsi di Indonesia. Walaupun timbul fitnah-fitnah
yang menyudutkan KPK, KPK harus tetap maju untuk memberantas
korupsi. Namun, masih terdapat keburukan dalam pemberantasan korupsi
yaitu sudah terlalu banyak masalah korupsi jadi pemberantasannya
memerlukan waktu yang lama. Masyarakat yang sudah lebih peka terhadap
kasus korupsi di Indonesia membuat masyarakat sudah tidak dapat

34
“dibohongi” oleh penguasa. Masyarakat sudah bisa menilai kinerja birokrasi
di Indonesia. Ancaman yang muncul adalah bahwa korupsi sudah menjadi
budaya yang mengakar di Indonesia, dimana pemberantasannya harus
dilakukan dari akar-akarnya

Intinya dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia dibutuhkan


hukum yang kuat. Karena jika hukum lemah, maka praktek korupsi akan
terus menerus terjadi. Penguatan hukum ini bukan hal yang mudah, banyak
sekali yang harus dibenahi termasuk di dalamnya peraturan-peraturan yang
dibuat hendaklah tidak menjadi “bumerang” dalam pemberantasan korupsi
itu sendiri. Terlebih lagi seluruh tatanan kepolisian maupun kejaksaan tidak
luput dari perhatian, yaitu bagaimana menciptakan kepolisian dan kejaksaan
yang bersih sehingga proses pemberantasan korupsi dapat terus dijalankan
sehingga keadilan dapat ditegakkan.

II.4 Analisis Perbandingan Strategi Pemberantasan Korupsi


Akuntabilitas adalah perwujudan kewajiban untuk
mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi
organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, melalui
suatu media pertanggungjawaban, yang dilaksanakan secara
periodik(Supriyono,2010).
Robert Klitgaard merumuskan terjadinya korupsi dengan rumus
Corruption = Monopoly + Discretion – Accountability. Berdasarkan
pembahasan sebelumnya dengan dimensi variabel keadaan kroupsi, strategi
pemerintahan, peran masyarakat, partai politk, dan media massa maka dapat
diambil analisis sebagai berikut:
Perancis Jerman Indonesia
Memiliki akuntabilitas Memiliki akuntabilitas Memiliki akuntabilitas
di atas Indonesia tetapi yang paling tinggi peling rendah. Hal ini
di bawah Jerman diantara negara lainnya terbukti dengan masih
karena kasus korupsi karena korupsi disana tingginya kasus korupsi
disana masih cukup cukup terkendali . di Indoensia yang
tinggi. Salah satu terbukti dengan tidak dibuktikan dengan

35
pemimpinanya pun didirikannta auxilary rangking Indonesia yang
menjadi tersangka body sehingga masih di posisi 111.
kasus korupsi. menunjukkan hukum
sebagai entitas
independen di Jerman
telah dapat
mengendalikan kasus
korupsi.

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Korupsi di Perancis pada dasarnya berada pada tingkat korupsi yang
cenderung rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Secara umum,
pemerintah Perancis memiliki niat yang kuat untuk memberantas korupsi di
negaranya. Namun demikian, hal tersebut tidak terlepas dari kecacatan beberapa
oknum pemerintah yang memanfaatkan jabatan mereka untuk melakukan korupsi,
Disamping itu, lingkungan non pemerintah secara penuh mendukung proses
pemberantasan korupsi, hal ini terlihat dari cukup banyaknya lembaga-lembaga
yang bersedia bekerja sama dengan institusi anti korupsi milik pemerintah dalam
memberantas korupsi. Lebih dari itu, masyarakat Perancis sudah memiliki
kesadaran bahwa korupsi merupakan sebuah hal yang tidak baik.
Tidak terlalu berbeda dengan negara Perancis, korupsi di Jerman
cenderung stabil. Strategi pemberantasan korupsi yang dilaksanakan oleh
pemerintah Jerman menekankan pada reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi
dilakukan melaui kebijakan dari pemerintah dan pembentukan entitas hukum yang
independen. Pemberantasan korupsi di Jerman juga dibantu oleh peran serta civil
society, misalnya GTZ, masyarakat, misalnya aktivis anti korupsi seperti
Wolfgang Schaupensteiner; partai politik seperti Hans Seidel Stiftung.
Dibandingakan dengan dua negara sebelumnya, korupsi di Indonesia
adalah korupsi yang paling parah. Strategi pemberantasan korupsi yang dilakukan

36
di Indonesia dilakukan melalui pembentukan strategi nasioanl untuk memberantas
korupsi. Selain itu, Indonesia membentuk negara ekstra body, yaitu KPK.
Indonesia pun telah memiliki UU TIPIKOR, akan tetapi strategi pemberantasan
korupsi di Indonesia cenderung kurang efektif jika dibandingkan dengan negara
Perancis dan Jerman. Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa kporupsi sudah
dianggap sebagai sebuah upaya yang wajar di Indonesia.

xa.yimg.com/kq/groups/22999204/87288995/name/pan+okkk.doc

37