Anda di halaman 1dari 3

Resume Kegiatan Belajar 14 Agustus 2018

Materi I : Pelaporan Kegiatan Balai TBL


Pemateri : Syarief Hidayatullah Santius dkk
Pembuatan tugas individu tentang penggunaan software Agisoft Photoscan dan
menggambarkan kawasan Hambalang berdasarkan hasil pengolahan foto udara dengan
menggunakan beberapa software.

Materi II : Pelaporan Kegiatan Balai Sains dan Bangunan


Materi : Wahyu Sujatmiko
Pengujian yang dilakukan di Balai Litbang Sains Bangunan:
• Pengujian tingkat ketahanan api komponen bangunan
Tujuannya adalah untuk melihat dampak api terhadap kekuatan komponen struktur
bangunan
• Pengujian nilai resistansi termal bangunan
• Pengujian cone calorimeter

 Pengujian akustik
Berisi tentang uji insulasi bunyi komponen partisi bangunan gedung.
Sound Transmission Class (atau STC) adalah suatu rating integer (bilangan bulat)
terkait seberapa bagus suatu partisi bangunan mengatenuasi penyebaran suara atau
bunti di udara. Dipergunakan untuk merating susunan partisi interior, langit-langit/lantai,
pintu, jendela, dan dinding luar.
Standar: ASTM International Classification E413 and E90, ISO - 140 series.
Angka penilaian STC mencerminkan pengurangan noise dalam desibel yang dapat
disediakan oleh partisi.

Materi III : Persyaratan Beton Strukturan Untuk Bangunan Gedung

Materi IV : SNI Baja Tulangan Beton Bangunan

 Jenis baja tulangan : Baja Tulangan Beton Polos (BjTP) dan Baja Tulangan Beton Sirip
(BjTS)
 Panjang baja tulangan beton ditetapkan 10 meter dan 12 meter
 Toleransi panjang baja beton tulangan minimum 0 mm dan maksimum 70 mm

Materi V : Pelaporan Kegiatan Balai AMPLP


Pemateri : Mukti Budiman
Air baku untuk air minum :
Air yang berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan atau air hujan yang
memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum
(PP 82 tahun 2001 )

4 Jenis Golongan Air :


1. Golongan I : Air siap minum
2. Golongan II : Air baku untuk air minum
3. Golongan III : Air untuk minuman hewan ternak
4. Golongan IV : Air untuk pembangkit tenaga listrik

Pengawasan air minum dilakukan melalui kegiatan :


1. Inspeksi sanitasi dan pengambilan contoh air termasuk air pada sumber air baku, proses
produksi, jaringan distribusi, dan air minum isi ulang dan air minum dalam kemasan
2. Pemeriksaan kualitas dilakukan di tempat/di lapangan dan atau di laboratorium
3. Analisis hasil pemeriksaan laboratorium dan pengambatan lapangan
4. Memberi rekomendasi untuk mengatasi masalah yang ditemui dari hasil kegiatan di atas
yang ditujukan kepadea pengelola penyediaan air minum
5. Tindak lanjut upaya penanggulangan/perbaikan

Pengawasan Internal Terkait Air minum dengan sistem perpipaan


1. Reservoar, dilakukan pemeriksaaan : Sisa Klor (1 kali/hari, pH 1 kali/minggu, DHL,
kesadahan total, suhu 1 kali/minggu
2. Jaringan pipa distribusi : sisa klor pada outlet konsumen terjauh, pH 1 kali/minggu, DHL
satu kali/bulan
3. Total coliform/E.Coli pada outlet terjauh 1 kali/bulan
Kualitas air baku :
 Total Coli form/E.Coli
 pH, Suhu, DHL
 Besi dan mangan

Proses Instalasi Pengolahan Air Minum Jika Ditinjau dari perlu atau tidaknya
pengolahan :
 Air yang tidak membutuhkan pengolahan
 Air yang memerlukan proses desinfeksi saja
 Air yang memerlukan penyaringan pasir cepat
 Air yang membutuhkan pengolahan lengkap

Verifikasi data pengendalian mutu dapat dilakukan dengan cara :


• melakukan penghitungan alternatif;
• pembandingan dengan hasil sebelumnya yang serupa;
• melakukan pengujian ulang;
• meninjau dokumen, rekaman dan/atau prosedur terkait.

Beberapa hal yang merupakan komponen dari jaminan mutu hasil uji adalah sebagai berikut :
1. Penggunaan Bahan Acuan Standar untuk Menguji Akurasi Hasil Pengujian.
Bahan acuan merupakan bahan atau zat yang telah diuji sifat dan konsentrasinya melalui
suatu proses yang dilakukan secara akurat. Bahan Acuan Bersertifikat (CRM) merupakan
bahan acuan yang sifat dan konsentrasinya telah diuji dan diberi sertifikat dengan prosedur
teknis yang telah baku dan dapat tertelusur ke dalam Satuan Internasional (SI) atau
dokumen yang diterbitkan oleh badan tersertifikasi.
Kegunaan bahan acuan adalah untuk pengujian akurasi. Pengujian akurasi dilakukan untuk
mengukur kemampuan suatu metode analisa dalam memperoleh nilai yang sebenarnya
(ketepatan pengukuran). Akurasi dinyatakan sebagai prosentase (%) perolehan kembali
(recovery).
2. Pengujian Ulang untuk Menguji Presisi Hasil Pengujian.
Pengujian ulang dari suatu pengujian dilakukan untuk mengukur kemampuan suatu metode
pengujian untuk menunjukkan kedekatan atau presisi dari suatu seri pengukuran yang
diperoleh dari contoh uji yang homogen. Nilai presisi untuk dua kali pengulangan
dinyatakan dalam RPD ( Relative Percent Difference)
3. Pengujian Blanko.

Blanko merupakan air destilasi bebas analit yang digunakan untuk kontrol kontaminasi
mulai dari saat pengambilan contoh di lapangan, preparasi di laboratorium sampai pada
saat pengukuran. Air destilasi yang digunakan harus memiliki nilai konduktifitas (DHL)
kurang dari 2 µS/Cm. Blanko terdiri dari blanko sampling (blanko wadah, blanko alat,
blanko lapangan, blanko perjalanan) dan blanko laboratorium.
Konsentrasi analit di dalam larutan blanko harusnya lebih kecil dari batas deteksi metode
(MDL). Seandainya analit di dalam larutan blanko lebih besar dari MDL maka
kemungkinan-kemungkinan yang menjadi sumber kontaminasi harus ditemukan dan
ditindaklanjuti.
4. Kartu kendali (control chart) merupakan suatu metode statistik untuk memantau
performance alat, metode dan analis selama pengujian secara berkelanjutan.
5. Keikutsertaan dalam Kegiatan Uji Banding / Uji Profisiensi.
Uji banding antar laboratorium merupakan pengelolaan, unjuk kerja dan evaluasi pengujian
atas bahan yang sama atau serupa oleh dua atau lebih laboratorium yang berbeda sesuai
dengan persyaratan yang ditetapkan terlebih dahulu. Uji Profisiensi merupakan salah satu
cara untuk mengetahui unjuk kerja laboratorium pengujian dengan cara uji banding antar
laboratorium.
Secara umum uji banding antar laboratorium atau uji profisiensi dilakukan oleh laboratorium
minimal sekali dalam setahun untuk semua parameter sesuai ruang lingkup pengujian, bila
memungkinkan. Apabila hasil uji banding kurang memuaskan, maka laboratorium
melakukan investigasi untuk mengevaluasi seluruh sumber daya termasuk penerapan
sistem manajemen mutu laboratorium. (blh-tari)