Anda di halaman 1dari 3

IKHTIAR “MEMPERBAIKI” JALAN DAN KUALITAS HIDUP PADA LAILATUL QADAR (356)

Oleh Ahmad Rofiq

Assalamualaikum wrwb.

Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Mari kita bersyukur atas semua limpahan anugrah dan
karunia-Nya. Hanya atas anugrah Allah kita sehat afiat dan dapat menjalankan aktifitas kita, semoga
menjadi ibadah kita menyempurnakan puasa kita di bulan penuh berkah ini.

Shalawat dan salam mari kita senandungkan untuk Baginda Rasulullah saw, keluarga, sahabat,
dan pengikut yang setia neneladani beliau. Semoga semua urusan kita dimudahkan oleh Allah, dan
kelak di akhirat kita mendapat peelindungan syafaat beliau.

Saudaraku, kehadiran malam lailatul qadar yang itu menurut para Ulama pasti akan datang,
sangat ditunggu-tunggu oleh para hamba-hamba yang “berburu” kemuliaan di malam itu. Lail
artinya malam, seperti QS. Al-Isra’ :78 “dirikanlah shalat karena tegelincir matahari sampai gelap
malam ...”. Berarti waktu maghrib atau terbenamnya matahari dalam ayat tersebut sudah termasuk
waktu malam. Kata lailatu artinya sebagian malam, dan al-qadar artinya penentuan baik.

Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: , malam ketetapan) adalah satu malam
penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang
lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an
(id.m.wipipedia.org). Jika demikian maka malam lailatul qadar itu, bisa saja diawali pada tengah
malam, atau bisa juga sejak dari awal terbenamnya matahari.

Saudaraku, pada sepertiga terakhir dari bulan yang penuh berkah ini terdapat malam Lailatul
Qadar, malam penentuan atau ketetapan di suatu malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi
malam-malam lainnya. Pada malam yang penuh berkah itu, dipastikan semua urusan manusia atau
hamba-hamba yang “berjuang” dan “berburu” keberkahan malam lailatul qadar untuk merubah dan
memperbaiki “taqdir” jalan dan kualitas hidup yang lebih baik lagi.

Pada malam lailatul qadar, di antara kemuliaan malam tersebut adalah Allah mensifatinya
dengan malam yang penuh keberkahan (lihat Tuasikal, rumaysho.com).

Allah Ta’ala berfirman:

(3) (4)

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. Dan
sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang
penuh hikmah” (QS. Ad Dukhan *44+ : 3-4). “Malam yang diberkahi” atau malam lailatul qadar
sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman :

(1)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar *97+
: 1)

Keberkahan dan kemuliaan disebutkan dalam ayat selanjutnya:


(3) (4) (5)

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan
malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh)
kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar *97+ : 3-5)

Soal kapan Lailatul Qadar itu terjadi, ada beberapa riwayat yang perlu dicermati. Di antaranya,
pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi saw :

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan” (HR. Bukhari)

Turunnya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam
genap, sebagaimana sabda Nabi saw :

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR.
Bukhari)

Turunnya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan Ramadhan itu ditekankan lagi dalam
hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw bersabda:

– –

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia lemah atau letih, maka janganlah ia
dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa” (HR. Muslim).

Tampaknya tidak ada yang pasti, atau memang ini menjadi rahasia Yang Maha Kuasa. Ada yang
memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan
oleh Ubay bin Ka’ab ra. Ada yang mengatakan, karena diambil dari jumlah huruf sebanyak
9 huruf, dan disebut tiga kali dalam QS. Al-Qadar. Jadinya, 9x3 = 27 kali. Berarti malam lailatul qadar
jatuh pada tanggal 27 Ramadhan.

Pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat tersebut adalah pendapat Ibnu Hajar dalam
Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan
waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam
kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh
lima tergantung kehendak Allah Ta’ala. Rasulullah saw bersabda:

، ،

“Carilah ia (lailatul qadar) di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada malam ke
sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa” (HR. Bukhari).

Saudaraku, tampaknya Allah menyembunyikan tentang kapan terjadinya malam lailatul qadar
secara pasti. Sebab jika diinformasikan secara pasti, seseorang tidak lagi semangat beribadah di hari
lain. Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh
dalam mencari dan berburu malam kemuliaan tersebut. Berburu dan mencari malam lailatul qadar
adalah bentuk kesyukuran hamba terhadap rahmat Allah dengan memperbanyak amalan di hari-
hari tersebut. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini.

Akan halnya tentang indikasi lahiriyah tentang malam lailatul qadar, menurut sabda Rasulullah
saw: pertama, udara dan angin terasa tenang. Riwayat dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. bersabda,

“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu
dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan” (HR. Ath-Thayalisi).
Haitami mengatakan periwayatnya tsiqah atau terpercaya).

Kedua, Malaikat turun membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan dan
merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari lain. Ketiga, manusia
tertentu dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih dan sejuk. Riwayat Ubay bin
Ka’ab bahwa Rasulullah saw bersabda : ”Shubuh dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa
sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik” (HR. Muslim).

Saudaraku, di sisa sepuluh hari-hari terakhir ini, mari kita ikhtiarkan untuk bisa berburu dan
mencari malam lailatul qadar, semoga Allah Yang Maha Mengatur alam ini, mengijinkan dan
menghendaki kita sebagai hamba-hamba yang mendapatkan kemuliaan makam lailatul qadar.
Semoga Allah merubah hidup kita menjadi lebih baik dan lebih berkualitas. Hanya kepada Allah lah
kita menuju dan menggapai keridhaan-Nya.

Allah a’lam bi sh-shawab.

Wassalamualaikum wrwb.

Pascasarjana UIN Walisongo, 6/6/2018