Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PERAN FARMAKOTERAPI DIBIDANG KEFARMASIAN


DAN FARMAKOTERAPI RASIONAL

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA PELAJARAN


FARMAKOTERAPI

DOSEN PENGAMPU :
Yulia Dwi Andarini, M.PH., Apt

DISUSUN OLEH :

DESTA ASTARINA SAPUTRI TOASA : 352014710955


KHUMAIRO KHIDMATUL UMAH : 3720167181460
SOFIANI LATHIFAH : 3720167181488

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR
NGAWI
2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI........................................................................................................................ i
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
1.1 Latar belakang ........................................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah ..................................................................................................... 2
1.3 Tujan ......................................................................................................................... 2
BAB II................................................................................................................................. 3
PEMBAHASAN ................................................................................................................. 3
2.1 Pengertian Farmakoterapi ......................................................................................... 3
2.2 Bagaimana Peran Farmakoterapi Di Bidang Kefarmasian ....................................... 3
2.3 Bagaimana Peran Farmasi dalam Praktek Farmakoterapi ........................................ 4
2.4 Farmakoterapi Rasional ............................................................................................ 5
BAB III ............................................................................................................................... 9
PENUTUP .......................................................................................................................... 9
3.1 Kesimpulan ............................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 10

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Perubahan paradigma farmasi yang mendasar dalam dekade terkahir,
yaitu perubahann paradigma dari product oriented menjadi patient oriented.
Tuntutan pada paradigma patient oriented, farmasis tidak hanya berorientasi
hanya kepada produk, namun juga dituntut untuk berorientasi kepada pasien,
sehingga diharapkan farmasis dapat memberikan kontribusi keilmuannya
secara aktif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. Secara historis,
perkembangan farmasi global melalui tahapan-tahapan periode. Tahap
tradisional terjadi sebelum tahun 1940-an dimana fungsi dan peranan
farmasis hanya berorientasi kepada produk, seperti kegiatan menyediakan,
membuat dan mendistribusikan obat. Kegiatan ini menekankan pada ilmu dan
seni meracik obat dalam skala kecil untuk kebutuhan pengobatan di rumah
sakit ataupun di komunitas. Tahap ini mulai goyah ketika mulai
berkembangnya farmasi industri yang memproduksi obat dalam skala besar.
Periode tersebut terjadi sekitar tahun 1940-an, dimana peresepan tidak lagi
menekankan pada obat-obatan yang membutuhkan peracikan, namun
peresapan berisikan obat-obatan dalam sediaan jadi yang diproduksi oleh
industri farmasi dalam skala besar. Semakin berkembangnya ilmu kedokteran
pada tahun 1960 hingga 1970-an ditandai dengan mulai bermunculan
berbagai jenis obat-obatan baru serta berkembangnya metode dan alat-alat
diagnosa yang baru sehingga menimbulkan permasalahan-permasalahan baru
dalam proses penggunaan obat. Hal tersebut memunculkan tahapan
transisional, dimana tuntutan terhadap kontribusi farmasis dalam dunia
kesehatan semakin tinggi. Pada masa tersebut banyak kalangan memandang
bahwa peran farmasis tidak difungsikan sebagaimana kompetensi yang
dimilikinya, sehingga di Amerika dan Inggris pada tahun 1960-an muncul
istilah farmasi klinik.
Pemberian dan penggunaan obat yang tepat, aman dan akurat merupakan
hal terpenting dalam proses terapi penyakit pasien. Obat adalah alat utama
terapi yang digunakan dokter untuk mengobati pasien yang memiliki masalah

1
kesehatan. Walaupun obat menguntungkan klien dalam banyak hal, namun
beberapa obat juga dapat menimbulkan efek berbahaya jika tidak tepat
pemberian dan pemakaian tanpa pantauan dari tenaga kesehatan seperti
apoteker terkait konseling cara penggunaan obat kemudian perawat dalam
pemantauan pemakaian obat untuk pasien rawat inap dirumah sakit ataupun
puskesmas untuk membantu pasien pada proses terapi.
Selain itu lebih dari 50% obat-obat di dunia diresepkan dan diberikan
secara tidak tepat, tidak efektif, dan tidak efisien. Terbalik dengan kondisi
tersebut, 1/3 penduduk dunia kesulitan mendapat akses memperoleh obat
esensial sehingga harus dilakukan upaya untuk tercapainya “cost effective
medical intervention”. Selain itu penggunaan obat rasional dalam pelayanan
kesehatan di Indonesia masih merupakan masalah. Penggunaan polifarmasi
dimana seorang pasien rata-rata mendapatkan 3,5 obat, lebih dari 50%
menerima 4 atau lebih obat untuk stiap lembar resepnya, penggunaan
antibiotika yang berlebiahan, waktu konsultasi yang singkat yang hanya
berkisar 3 menit saja merupakan pola umum yang terjadi pada penggunaan
obat tidak rasional.

1.2 Rumusan masalah


1. Apa yang dimaksud dengan farmakoterapi?
2. Bagaimana peran Farmasi dalam bidang armakoterapi?
3. Bagaimana peran armakoterapi dalam Praktek Kefarmasian?
4. Apa yang dimaksud dengen farmakoterapi (penggunaan obat) rasional?

1.3 Tujan
1. Memahami pengertian ilmu farmakoterapi
2. Mengetahui peran Farmasi dalam bidang armakoterapi
3. Mengetahui Farmakoterapi dalam Praktek Kefarmasian
4. Mengetahui maksud dari farmakoterapi rasional

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Farmakoterapi


Farmakoterapi adalah sub ilmu dari farmakologi yang mempelajari
tentang penanganan penyakit melalui penggunaan obat-obatan. Dalam ilmu
ini obat-obatan digunakan untuk membuat diagnosis, mencegah timbulnya,
dan cara menyembuhkan suatu penyakit. Selain itu, farmakoterapi juga
mempelajari khasiat obat pada berbagai penyakit, bahaya yang dikandungnya,
kontraindikasi obat, pemberian obat yang tepat. Bagian instrumen ilmu
pengetahuan yang menyertai farmakoterapi adalah terapi operasi, terapi
radiasi, terapi fisik.
Ahli farmasi adalah para ahli di bidang farmakoterapi yang
bertanggungjawab untuk memastikan keamanan, kewajaran, dan
keekonomisan penggunaan obat-obatan. Kemampuan yang dibutuhkan untuk
menjadi seorang farmakoterapis meliputi pengetahuan, pengalaman kerja di
bidang biomedis dan ilmu pengetahuan klinis

2.2 Bagaimana Peran Farmakoterapi Di Bidang Kefarmasian


Peran farmakoterapi di bidang kefarmasian sebagaimana fungsi
pembelajaran marmakoterapi bagi seorang apoteker yaitu:
1) Membantu apoteker dalam memahami penggunaan obat pada
penyakit tertentu
2) Apoteker mampu memilih obat yang tepat
3) Apoteker mampu memberikan informasi obat (Misalnya mengenai
efek samping obat, kontraindikasi obat, interaksi obat dengan obat
lain atau interaksi obat dengan makanan, dan sebagainya)
4) Apoteker mampu berinteraksi dengan dokter dan tenaga medis
lainnya.
5) Apoteker membantu pasien melakukan self medication
Farmakoterapi yang dikhususkan dalam bidang kefarmasian melahirkan
istilah farmasi klinis sebagai suatu keahlian khas ilmu kesehatan yang
bertanggung jawab untuk memastikan penggunaan obat yang aman dan

3
sesuai dengan kebutuhan pasien, melalui penerapan pengetahuan ilmu
tersebut dan berbagai fungsi terspesialisasi dalam perawatan pasient yang
memerlukan pendidikan khusus dan atau pelatihan yang terstruktur sangat
berperan penting bagi seorang Apoteker untuk memaksimalkan efek
terapeutik, meminimalkan resiko/toksisitas obat, meminimalkan biaya dan
menghormati pilihan pasien.
Kegiatan farmasi klinik tidak hanya memberikan saran professional pada
saat peresepan san saja namun mencakup kegiatan sebelum peresepan, saat
peresepan dan setelah peresepan.
a. Kegiatan sebelum peresepan: setiap kegiatan yang mempengaruhi
kebijakan peresepan,seperti penyusunan formularium rumah sakit,
mendukung informasi dalam menetapkan kebijakan peresepan rumah
sakit, evaluasi obat.
b. Kegiatan saat peresepan: memberikan saran profesional kepada dokter
atau tenaga kesehatan lainnya terkait dengan terapi pada saat peresepan
sedang dilakukan.
c. Kegiatan sesudah peresepan: setiap kegiatan yang berfokus pada
pengoreksian dan penyempurnaan peresepan, seperti monitoring DRPs,
monitoring efek obat, outcome research dan Drug Use Evaluaion (DUE)

2.3 Bagaimana Peran Farmasi dalam Praktek Farmakoterapi


Kegigihan dan semangat untuk menjawab tuntutan berbagai kalangan
mengenai peran farmasis ditunjukkan dari masa ke masa, sehingga lahirlah
periode Pharmaceutical care dimana clinical pharmacy services diberikan
dengan semakin baik.
kegiatan farmasi klinik atau peran farmasi dalam praktek farmakoterapi
meliputi pemantauan dan evaluasi penggunaan obat, pelayanan farmasi di
bangsal, pelayanan informasi obat, penelitian dan pengembangan. Kegiatan
farmasi klinik memiliki karakteristik, antara lain : berorientsi kepada pasien;
terlibat langsung dalam perawatan pasien; bersifat pasif, dengan melakukan
intervensi setelah pengobatan dimulai atau memberikan informasi jika
diperlukan; bersifat aktif, dengan memberikan masukan kepada dokter atau
tenaga kesehatan lainnya terkait dengan pengobatan pasien; bertanggung

4
jawab terhadap setiap saran yang diberikan; menjadi mitra sejajar dengan
profesi kesehatan lainnya (dokter, perawat dan tenga kesehatan lainnya).
Keterampilan dalam melakukan praktek farmasi klinik memerlukan
pemahaman keilmuan, seperti :
1) Konsep-konsep penyakit (anatomi dan fisiologi manusia, patofisiologi,
patogenesis)
2) Penatalaksanaan Penyakit (farmakologi, farmakoterapi dan product
knowledge)
3) Teknik komunikasi dan konseling
4) Pemahaman Evidence Based Medicine (EBM) dan kemampuan
melakukan penelusurannya

2.4 Farmakoterapi Rasional


Farmakoterapi rasional adalah terapi pasien dengan pemakaian obat yang
aman dan efektif, dimana obat harus tersedia dengan harga yang terjangkau
dan dengan penyimpanan yang baik. Obat yang disediakan harus sesuai dan
tepat untuk penyakit yang dialami pasien, sehingga diagnosis yang
ditegakkan harus tepat, patifisiologi penyakit, dosis yang diberikan dan waktu
pemberian yang tepat, serta evaluasi terhadap efektivitas dan toksisitas obat
tersebut, ada tidaknya kontra indikasi serta biaya yang harus dikeluarkan oleh
pasien yang disesuaikan dengan kondisi kemampuan pasien.
Menurut WHO (1987), pemakaian obat dikatakan rasional jika
memenuhi kriteria, yaitu sesuai dengan indikasi penyakit, tersedia setiap saat
degan harga terjangkau, diberikan dengan dosis yang tepat, cara pemberian
dengan interval waktu pemberian yang tepat, lama pemberian yang tepat, lalu
obat yang diberikan harus efektif, dengan mutu terjamin dan aman.
Proses pengobatan rasional meliputi, beberapa langkah yakni;
mendefinisikan masalah pasien, menetukan tujuan terapi dan apa yang ingin
dicapai dengan terpai tersebut, menentukan penanganan yang sesuai dengan
terpai untuk pasien tersebut, memulai pengobatan, memberi penjelasan, cara
pakai dan peringatan, memantau dan menghentikan pengobatan (bila tidak
diperlukan lagi). Untuk penggunaan obat yang rasional dirumuskan sebagai 4

5
T + 1 W, yaitu tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, dan
Waspada efek samping. Sedang peresepan dan terapi obat yang rasional
menurut (WHO, 1995) yaitu sebagai berikut:
1) Tepat pasien
Tepat pasien adalah ketepatan dalam menilai kondisi pasien dengan
mempertimbangkan;
a. Adanya penyakit yang menyertainya misalnya:
 kelainan ginjal, obat yang mempengaruhi ginjal (Nefrotoksik):
kaptopril, aminoglikosida, lithium, simetidine.
 Kelainan hati, obat yang mempengaruhi hati (hepatotoksik);
parasetamol, halotan, isoniaid
b. Kondisi khusus: Hamil, laktasi, lansia, balita
c. Pasien dengan riwayat alergi, Eg: alergi antibiotika tertentu
d. Pasien dengan riwayat gangguan psykologis. Eg: bila diinjeksi pingsan
2) Tepat indikasi
Ketepatan indikasi penggunaan obat apabila ada indikasi yang benar
(sesuai dengan diagnosa dokter untuk penggunaan obat tersebut dan telah
terbukti manfaat terpeutiknya. Contohnya, pasien dengan diagnosa TB
paru diberikan obat dengan komposisi Rifampisin, Ethabutol dan INH.
3) Tepat obat
Tepat obat adalah ketepatan pemilihan obat apabila dalam proses
pemilihan obat mempertimbangkan
a. Ketepatan kelas terapi dan jenis obat (efek terapi yang diperlukan)
b. Kemanfaatan dan keamanan sudah terbukti (resiko efek samping
maupun adanya kondisi kontra insikasi
c. Jenis obat paling mudah didapat
d. Sedikit mungkin jumlah kenis obat
4) Tepat pemberian, dosis dan lama pemberian
Efek obat yang maksimal dapat dicapai dengan penentuan dosis, cara dan
lama pemberian yang tepat. Besar dosis, cara dan frekuensi pemberian
umumnya didasarkan pada sifat farmakokinetika dan farmakodinamika

6
obat seta kondisi pasien. Sedang lama pemberian berdasarkan pada sifat
penyakit (akut atau kronis, kambuh berulang).
a. Tepat dosis adalah jumlah obat yang diberikan masuk dalam range
terapi
b. Tepat cara pemberian adalah pemilihan yang tepat dengan pemberian
obat sesuai dengan kondisi pasien. Eg: per Oral, per Rektal, Intravena,
Subcutan dll.
c. Tepat frekuensi adalah pemilihan yang tepat frekuensi/interfal
pemberian obat. Eg: per 8 jam, per 12 jam, per 24 jam dll
d. Tepat lama pemberian adalah penetapan lama pemberian. Misalnya
untuk terapi selama 3 hari, 5 hari, 10 hari, 3 bulan dll
e. Tepat saat pemberian adalah pemilihan waktu yang tepat untuk
pemberian obat disesuaikan dengan kondisi pasien. Eg: sebelum
makan, setelah makan, ataupu pada saat makan.
5) Tepat informasi
Apabila informasi yang diberikan jelas tentang obat yang akan digunakan
oleh pasien dan informasi lain yang menunjang perbaikan pengobatan.
Misalnya cara pemakaian, efek samping, kegagalan terapi bila tidak taat,
lalu upaya yang akan dilakukan apabila penyakit makin memburuk,
kemudian mencegah faktor resiko terjadinya penyakit lain.
6) Tepat biaya
Apabila biaya (harga obat dan biaya pengobatan hendaknya dipilih yang
paling terjangkau dengan kondisi keuangan pasien. Contohnya,
mengutamakan meresepkan obat-obat generik dibandingkan obat-obat
paten yang harga dan biayanya jelas lebih mahal.
Dalam upaya untuk meningkatkan farmakoterapi yang rasional pada
pelayanan kesehatan masyarakat Indonesia, tentu saja banyak yang harus
ditingkatkan dan di eksplorasi, antara lain meningkatkan kemampuan dokter
sebagai penulis resep, meningkatkan kemampuan apote kerdalam
menyelesaikan “permasalahan yang berhubungan dengan obat”, memberikan
pendidikan dan konseling pasien di unit-unit pelayanan kesehatan oleh
Apoteker sebagai “Drug informan dan Drug konselor” (Puskesmas, Apotek,

7
Rumah sakit), dan mengoptimalisasikan kegiatan panitia/komite Farmasi dan
terapi dalam evaluasi penggunaan obat di Rumah Sakit.

8
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Farmakoterapi adalah sub ilmu dari farmakologi yang mempelajari
tentang penanganan penyakit melalui penggunaan obat-obatan. Kegiatan
farmasi klinik atau peran farmasi dalam praktek farmakoterapi meliputi
pemantauan dan evaluasi penggunaan obat, pelayanan farmasi di bangsal,
pelayanan informasi obat, penelitian dan pengembangan. Peran farmakoterapi
di bidang kefarmasian, yaitu:
1) Membantu apoteker dalam memahami penggunaan obat pada
penyakit tertentu
2) Apoteker mampu memilih obat yang tepat
3) Apoteker mampu memberikan informasi obat (Misalnya mengenai
efek samping obat, kontraindikasi obat, interaksi obat dengan obat
lain atau interaksi obat dengan makanan, dan sebagainya)
4) Apoteker mampu berinteraksi dengan dokter dan tenaga medis
lainnya.
5) Apoteker membantu pasien melakukan self medication
Penggunaan obat yang rasional mempunyai dampak yang cukup besar
dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan penurunan biaya
kesehatan masyarakat. Penggunaan obat yang rasional dirumuskan sebagai 4
T + 1 W, yaitu tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, dan
Waspada efek samping.

9
DAFTAR PUSTAKA

Chaudhury RR, Tripathi DC.. 2005. Introduction of Rational use of Drugs.


Holloway K. 2004. Rational use of drugs: an overview. In: Technical Briefing
Seminar: Essential Drugs and Medicines Policy. Geneva. WHO.
Pradipta, Ivan Surya. 2011. Pendekatan Ilmiah Dalam Praktek Farmasi Klinik.
Bandung. http://farmasi.unpad.ac.id/pendekatan-ilmiah-dalam-praktek-
farmasi-klinik/ Diakses pada tanggal 26 September 2018.
Sastramihardja HS. 2002. Penggunaan Obat yang Rasional. In: Farmakologi
Klinik. Farmakologi III. Jilid I. 2 ed. Bandung: Bagian Farmakologi
Universitas Padjadjaran,
Wikipedia. 2017. Farmakoterapi. Wikipedia.org:
https://id.wikipedia.org/wiki/Farmakoterapi Diakses pada tanggal 26
September 2018.
Yusmaninita. 2009. Rasionalitas Penggunaan Obat. RSUP.H. Adam Malik.

10