Anda di halaman 1dari 14

KONTRIBUSI TERPENTING UMAT ISLAM DALAM DUNIA

KEDOKTERAN

Untuk Memenuhi Tugas Sejarah Peradaban Islam Kedokteran


DOSEN PENGAMPU :
ANINDYA ARYU INAYATI, MPI

DISUSUN OLEH :

DESTA ASTARINA
NADIA FIRDAUS
SHA’SHA’ LUTFIANA

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
KAMPUS MANTINGAN
UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang
Maha Esa, dengan berkah dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “Kontribusi Terpenting Umat Islam dalam Dunia Kedokteran”
meskipun terdapat berbagai halangan dan kendala akhirnya makalah ini dapat
diselesaikan walaupun masih terdapat banyak keslahan dalam penulisan sehingga
tidak begitu sempurna.
Makalah ini disusun untuk mengetahui sejarah dan perkembangan, serta
kontribusi terpenting yang diberikan oleh umat islam terdahulu dalam bidang
disiplin ilmu kedokteran, terutama dalam bidang Operasi, Optamologi, Anatomi,
Pediatri, dan Genikologi, yang mana banyak orang muslim sekarang tidak
mengetahui betul mengenai sejarah dan asal mula disiplin ilmu-ilmu yang
ditekuni. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Unida Putri, 12 Januari 2018

Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ikhtiar manusia dalam mengatasi penyakit yang dideritanya telah
berkembang sejak ribuan tahun lalu. Berawal dari insting yang diberikan
Allah, manusia mampu mengatasi penyakitnya. Selanjutnya pengetahuan
mengenai penyakit dan ilmu pengobatan terus berkembang seiring
perkembangan peradaban manusia.
Dalam perjalanannya, ilmu pengetahuan seolah-olah terbagi dua kutub
yang berbeda, antara pengobatan timur dan pengobatan barat. Kini seakan-
akan barat mengklaim perkembangan ilmu kedokteran saat ini murni dari
peradaban barat. Akan tetapi, ketika era kegelapan mencengkram Barat pada
abad pertengahan, perkembangan ilmu kedokteran diambil alih dunia Islam
yang tengah berkembang pesat di Timur Tengah. Pada abad ke-9 M hingga
ke-13 M, dunia kedokteran Islam berkembang begitu pesat dan sejumlah
Rumah Sakit besar berdiri.
Upaya yang dilakukan oleh sarjana muslim pada masa kekhalifahan dalam
memajukan dalam memajukan ilmu kesehatan Islam pada Abad ke-9 hingga
Abad ke-13 bertumpu pada metode rasional dan uji klinis. Beragam jenis
terapi ditemukan oleh dokter muslim seperti Aromaterapi, Kemoterapi,
Hirudoterapi, Fitoterapi, Kromoterapi, Parmacoterapi, Pisiterapi, dan
Psikoterapi. Temuan lainnya adalah terapi kanker, terapi seksual, urologi, dan
litotomi. Tidak hanya itu, berbagai metode pengobatan dan ilmu medis lainnya
juga dikembangkan oleh ilmuan muslim seperti operasi, optalmologi, anatomi,
pediatri, ginekologi, dan masih banyak ilmu-ilmu lainnya, yang mana pada
makalah ini akan dibahas mengenai sejarah, dan sumbangsih ilmuan muslim
dalam beberapa ilmu medis diatas.
Apa yang telah dilakukan dan diusahakan oleh sarjana muslim pada dunia
medis tentu sangat memberi pengaruh terhadap perkembangan ilmu
kedokteran modern yang penerapannya sedikit banyak diadopsi pada ilmu
kedokteran pada masa ini. Hal ini tentu saja memberikan kebanggaan
tersendiri bagi umat muslim yang mempunyai ilmuan yang mampu
memberikan sumbangsih yang sangat berarti bagi perkembangan ilmu
pengetahuan utamanya dibidang medis, dan tentunya kami sebagai generasi
penerus akan lebih berusaha lebih baik agar peranan islam utamanya dalam
ilmu pengetahuan dapat kembali berjaya.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimakah sejarah ilmu kedokteran ?


2. Apa saja kontribusi umat islam dalam bidang ilmu kedokteran?
3. Bagaimanakah kontribusi umat islam dalam bidang ilmu operasi,
optamologi, anatomi, pediatri, dan ginekologi?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah ilmu kedokteran?


2. Untuk mengetahui apa saja sumbangsih umat islam dalam bidang
kedokteran.
3. Untuk mengetahui apa saja yang diberikan umat islam dalam berbagai
bidang ilmu operasi, optamologi, anatomi, pediatri, dan ginekologi.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Perkembangan Ilmu Kedokteran dan kontribusi Umat Islam


dalam Berbagai Disiplin Ilmu Kedokteran.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kajian bidang
ilmu murni dan terapan tidak lepas dari bidang analisis. Begitupun dalam
dunia medis yang perkembangannya sangat pesat seiring dengan
perkembangan zaman. Hal ini tentu tidak lepas dari hasil kerja keras melalui
penelitian-penelitian penting yang telah dilakukan oleh ilmuan-ilmuan
terdahulu yang mengkaji hal-hal tabu dalam ilmu medis kemudian
dikembangkan oleh ilmuan atau peneliti selanjunya.
Peradaban Islam telah mengenal ilmu kedokteran. Sejak zaman Rasulullah
SAW, ilmu kedokteran merupakan ilmu yang dipelajari dengan seksama. Ilmu
kedokteran tak lahir dalam waktu semalam”. Studi kedokteran yang
berkembang pesat di era modern ini merupakan puncak dari usaha jutaan
manusia, baik yang dikenal maupun tidak, sejak ribuan tahun silam. Begitu
pentingnya, ilmu kedokteran selalu diwariskan dari generasi ke generasi dan
bangsa ke bangsa. Cikal bakal ilmu medis sudah ada sejak dahulu kala.1
Sejumlah peradaban kuno, seperti Mesir, Yunani, Roma, Persia, India,
serta Cina sudah mulai mengembangkan dasar-dasar ilmu kedokteran dengan
cara sederhana. Tapi peradaban keilmuan, khususnya dalam bidang
kedokteran yang dicapai oleh bangsa-bangsa itu akhirnya bergeser. Zaman
pertengahan, peradaban ada ditangan Islam, dimana Ilmu pengetahuan
mendapat perhatian penuh. Tidak terkecuali ilmu kedokteran, ketika
penerjemahan dilakukan secara besar-besaran. Dari kegiatan itu, dapat
dikatakan kejayaan Islam dalam keilmuan dimulai. Inilah zaman menuju
keemasan Islam, yang dalam dunia politik kekhalifahan dipegang oleh bani
Abbasiyah.
Kontribusi peradaban Islam dalam dunia kedokteran sungguh sangat tak
ternilai. Di era keemasannya, peradaban Islam telah melahirkan sederet
pemikir dan dokter terkemuka yang telah meletakkan dasar-dasar ilmu
1.
Dr. Ezzat Abouleish MD, Contributions of Islam to Medicine.
kedokteran modern. Dunia Islam juga tercatat sebagai peradaban pertama
yang mempunyai Rumah Sakit dan dikelola oleh tokoh-tokoh professional.
Dunia kedokteran Islam di zaman kekhalifahan meninggalkan banyak karya
yang menjadi literatur keilmuan Dunia.
Sekolah kedokteran pertama yang dibangun umat Islam adalah sekolah
Jindi Shapur di Baghdad. Khalifah Al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah yang
mendirikan kota Baghdad mengangkat Judis Ibn Bahtishu sebagai dekan
sekolah kedokteran itu. Pendidikan kedokteran yang diajarkan di Jindi Shapur
sangat serius dan sistematik. Era kejayaan Islam telah melahirkan sejumlah
tokoh kedokteran terkemuka, seperti Al-Razi, Al-Zahrawi, Ibnu-Sina, Ibnu-
Rushd, Ibn-Al-Nafis, dan Ibn- Maimon.
Rumah Sakit terkemuka pertama yang dibangun umat Islam berada di
Damaskus pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid dari Dinasti Umayyah
pada 706 M. Namun, rumah sakit terpenting yang berada di pusat kekuasaan
Dinasti Umayyah itu bernama Al-Nuri. Rumah sakit itu berdiri pada 1156 M,
setelah era kepemimpinan Khalifah Nur Al-Din Zinki pada 1156 M.

B. Kontribusi Umat Islam dalam Bidang Operasi.


Bedah atau pembedahan adalah spesialisasi dalam kedokteran yang
mengobati penyakit atau luka dengan operasi manual dan instrumen. Dokter
Islam yang berperan dalam bedah adalah Al-Razi dan Abu al-Qasim Khalaf
Ibn Abbas Al-Zahrawi. Pada masa kemunduran Dinasti Abbasiyah, konsep
dan teori Al-Zahrawi tetap dipakai akan tetapi banyak yang mengalami
perkembangan, dalam pelaksanaan pembedahan banyak dikembangkan cara-
cara baru yang lebih memudahkan dokter bedah dan juga membuat pasien
lebih nyaman ketika melakukan pembedahan.2
Dalam bidang operasi atau pembedahan, sebanyak lebih kurang 200 jenis
alat-alat operasi dilukiskan dalam kitab Al-Tasrif oleh Al-Zahrawi, termasuk
penjepit, penumbuk, gunting, pisau, alat kauteri atau yang lainnya.

2
Aminah Hikmatul, dalam skripsi Sejarah Kedokteran Masa Kemunduran Dinasti
Abbasiyah (447-656 H/ 1055-1258 M), (utusan dalam http://www.Pengobatan Jantung Ala Ibnu
Zuhr. Htm (12 Januari 2018)) hal 49.
Pembedahan dijalankan dengan menggunakan teknik steril (tanpa kuman),
kuman dimusnahkan dengan alkohol atau pembakar. Torehan (incision) dan
pembuang (excision) dilakukan berpedoman pada pengetahuan anatomi,
pembuluh darah yang terpotong diberhentikan pendarahannya dengan
“ligasi”(ikatan benang), atau kauteri (dibakar dengan kain panas), jaringan
tubuh dibuka dan akhirnya ditutup, dilapis demi lapis dengan jahitan benang
dan menggunakan teknik steril seperti yang dilakukan sekarang. Kajian
modern atas kedokteran Islam sering mengungkapkan bahwa karena tabu
budaya dan batasan agama anatomi tidak dikejar (dipelajari) oleh para dokter
Arab, dan bahwa observasi anatomis hanya sekedar spekulasi teoritis atas ilmu
anatomi yang diwarisi. Contoh anatomi Arab yang sangat diperdebatkan
adalah temuan abad ke tiga belas oleh dokter Muslim Ala Al-Din Ibn Al-Nafis
(W 1288) tentang sirkulasi darah paru-paru. Sebagai pelengkap anatomi
manusia, ilmuwan Muslim juga mengkaji binatang karena alasan praktis dan
medis, dari sebuah manuskrip Mesir abad ke lima belas menunjukkan
kerangka seekor kuda.3

C. Kontribusi Umat Islam dalam Bidang Optamologi.


Optalmologi adalah studi yang mempelajari penyakit mata. Sumber lain
menjelaskan bahwa optalmologi adalah spesialisasi ilmu kedokteran yang
berkonsentrasi pada diagnose penangan dan pencegahan dari kerusakan,
cedera dan penyakit mata bagi semua individu dari segala umur. Dokter yang
mengambil spesialisasi dalam bidang optamologi ini mampu mendiagnosisi
dan menangani segala aspek-aspek penyakit mata, serta dapat melakukan
operasi rumit untuk menyelamatkan penglihatan pasien. Optalmologi
merupakan salah satu bidang kedokteran yang tidak biasa dan nyaris semua
dokter yang mengambil spesialisasi ini adalah ahli di dua bidang mereka yaitu
mereka bukan cuma spesialis mata, akan tetapi juga dokter bedah yang sangat
terampil. Optalmologi melakukan tes-tes yang rumit pada mata, dengan

3
Sulaiman, Nik Aziz. Sumbangan TokohTokoh Kedokteran Muslim Dalam Ilmu
Kedokteran dan Operasi (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2000), Nurmayani dalam
Jurnal Sumbangan Islam terhadap Sains dan Teknologi, hal 22-23.
mendeteksi masalah pasien dan kemudian meresepkan pengobatan. Sebagai
dokter bedah, dokter yang mengambil bidang ini akan melakukan pembedahan
rumit dan sulit untuk memperbaiki penglihatan pasien.4
Dalam perkembangannya, sumbangan Islam juga sangat besar pada bidang
ini. Istilah-istilah seperti retina, katarak dan lain-lain, diciptakan pada zaman
tersebut. Teori baru tentang penglihatan yaitu pembiasaan terjadi di lensa mata
dan difokuskan di retina. Teori ini meruntuhkan teori Yunani Purba yang
mengatakan cahaya diantarkan dari mata untuk melihat objek yang dipandang.
Beberapa jenis penyakit mata seperti trakoma, glaukoma, dan katarak telah
diuraikan oleh opthalmologi Islam seperti Al-Haitam (Al- Hazen) (960-1039
M), Ali Abbas, Abul at Tabbri dan lain sebagainya. Pembedahan katarak cara
baru telah dilakukan dengan menggunakan suntikan lensa yang “opaque”
(legap), melalui tabung.5
Dokter muslim yang menerapkan ilmu optalmologi adalah Al-Jurjani.
Nama lengkapnya Abu Ruh Muhammad Ibnu Mansur Bin Abdullah, atau
dikenal juga dengan Al-Jurjani, seorang dokter bedah handal dari Persia yang
terkenal sekitar tahun 1088 masehi, beliau menulis sebuah buku berjudul
Nurul ‘Uyun (Cahaya Mata). Buku tersebut yang sebagian besar tulisan
aslinya dan bukan kutipan, yang terdiri atas 10 bab. Dalam tujuh bab, dirinya
menjelaskan sekitar 30 metode operasi mata, dan tiga diantaranya adalah
prosedur operasi katarak. Beliau juga membahas anatomi dan fisiologi mata
dan penyakit-penyakitnya. Salah satu bab dikhususkan untuk jenis-jenis
penyakit mata yang jelas terlihat seperti katarak, trachoma, kelopak, serta
penyakit di kornea dan sclera (bagian putih mata).6
D. Kontribusi Umat Islam dalam Bidang Anatomi.

“As forthe parts of the body and their functions, it is necessary that they
be approached through observation (‫ )الحس‬and dissection (‫)التسريح‬, while those
4
Dalam utusan https://id.wikipedia.org/wiki/Oftalmologi.html.
5
Sulaiman, Nik Aziz. Sumbangan TokohTokoh Kedokteran Muslim Dalam Ilmu
Kedokteran dan Operasi (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2000), Nurmayani dalam
Jurnal Sumbangan Islam terhadap Sains dan Teknologi, hal 23
6
Aminah Hikmatul, dalam skripsi Sejarah Kedokteran Masa Kemunduran Dinasti
Abbasiyah (447-656 H/ 1055-1258 M), (US. National Library of Medicine dalam http:// Islamic
Medical Manuscripts BioBibliographies.com. ( 12 Januari 2018) ) hal 41.
things that must be conjectured and demonstrated by reason are diseases and
their particular causes and their symptomps and how bated and health
maintained (Ibnu Sina)”.
“Mengenai bagian-bagian tubuh dan fungsinya, perlu dilakukan
pendekatan melalui observasi dan pembedahan. Sementara, hal tersebut harus
diduga dan dibuktikan dengan alasan penyakit, penyebab dan gejalanya, serta
bagaimana penyakit dapat diatasi dan kesehatan dapat terpelihara.”(Ibnu Sina).

Anatomi berasal dari bahasa yunani ἀνατομίαanatomia, dari ἀνατέμνειν


anatemnein, yang berarti memotong. Sejarah anatomi adalah ilmu yang
berkembang dari pemeriksaan awal seseorang yang menjadi korban
persembahan sampai analisa canggih bentuk tubuh oleh ilmuan modern. Al
Zahrawi, seorang dokter Muslim terkenal mencatan bahwa anatomi adalah
sebuah ilmu yang sangat dibutuhkan untuk proses pembedahan, autopsi mayat
dilarang untuk kebutuhan latihan maupun praktek, walaupun tidak ada
larangan dalam ajaran agama.
Studi anatomi dimulai pada awal 1600 SM yang diperoleh dari data
papyrus Mesir kuno. Lembaran itu menunjukan bahwa jantung, pembuluh
darah, hati, ginjal, limpa, hypothamulus, rahim dan kandung kencing telah
diketahui pada zaman tersebut, dan dalam lembaran tersebut tercatat bahwa
pembuluh darah berasal dari jantung.
Ilmuan Anatomi yang terkenal pada abad ke 2 masehi adalah Galen,
penemuannya pada anatomi tubuh menjadi buku teks anatomi dan telah
digunakan selama ratusan tahun, tetapi hasil karyanya tersebut hilang dan
ditemukan kembali oleh dokter kebangkitan eropa (Renaissance doctors)
melalui hasil karya dokter muslim.
Setelah jatuhnya kekaisaran Roma, studi anatomi hampir hilang di Eropa,
tetapi studi ini berkembang sangat pesat di dunia Islam sehingga muncullah
para ilmuan Muslim yang ahli dibidang ini diantarannya Ibnu Sina, Ibnu
Nafis, Hunayn, yang mempunyai peran aktif dalam mengembangkan ilmu ini.
Dalam bukunya Sarh al-Qanun, Ibnu Nafis mempunyai kontribusi yang
sangat besar yaitu pendapatnya tentang sistem sirkulasi darah dalam tubuh,
yang baru ditemukan kembali tiga abad lalu. Dia menjelaskan tentang
bronkitis dan interaksi pembuluh dalam tubuh dengan udara dan darah.
Al-Qanun fi al-Tibb karya Ibnu Sina, mencakup banyak penemuannya
dibidang anatomi yang secara resmi diterima masyarakat zaman ini. Dia
adalah saintis pertama yang menjelaskan tentang pendeskripsian perbedaan
mata, seperti conjunctiva sclera, choroid, aqueous humour, optic chiasma,
saraf penglihatan, iris, retina, kornea, dan lapisan lensa mata.
Selain Ibnu Sina, penjelasan anatomi mata pun ada kaitannya dengan Ibnu
al-Haytham yang mewakili teori penglihatan oleh Galen, Euclid dan Ptolemy
pada gambar yang dibuatnya pada tahun 1083 M di mesir, ilmuan yang
sempat hidup dizaman Abbasiyah dan Fatimiyah ini menjelaskan tentang
hubungan antara saraf-saraf penglihatan (optic nerves) dan bola mata menuju
otak.7

E. Kontribusi Umat Islam dalam Bidang Pediatri


Pediatri adalah ilmu yang berhubungan dengan kesehatan anak mengenai
pertumbuhan dan perkembangan bayi, anak dan remaja untuk mencapai
potensi penuh sebagai orang dewasa. Abu al-Hasan Ali bin Sahl Rabban al-
Tabari (c. 838 – 870 CE c.) adalah muslim Persia hakim, sarjana dokter,
psikolog Islam dan keturunan Kristen atau Zoroaster, yang menghasilkan
ensiklopedia kedokteran pertama. Dia adalah pelopor pediatri dan bidang
perkembangan anak. Perawakan Nya, Namun, dikalahkan oleh muridnya
lebih terkenal, Muhammad bin Zakaria ar-Razi (“Rhazes”).
Abu al-Hasan Ali bin Sahl Rabban al-Tabari (838 ca. – ca 870) adalah
seorang dokter Persia dan sarjana yang menulis ensiklopedia kedokteran
pertama. Mahasiswa yang terkenal, Muhammad Ibnu Zakaria Abu Bakar al-
Razi telah hilang cahayanya ketenarannya. Ali berasal dari keluarga Yahudi
penting. Ayahnya ibn Bisyr bin Saul adalah seorang astronom dan

7
Roberto Marín Guzmán, “Arab Tribes, the Umayyad Dynasty, and the `Abbasid
Revolution”, The American journal of Islamic Social Sciences, vol. 21:4, h. 18
astrolog dari Merv di Tabaristan (maka al-Tabari – di Tabaristan). Ali
masuk Islam dalam pelayanan Khalifah Abbasiyah Al-Mutasim (833-842),
yang menunjuk dia untuk pengadilan. Bahkan penggantinya al-Mutawakkil
(847-861) dipertahankan dia dalam pelayanan-Nya. Ali bin Sahal menguasai
Syria dan Yunani, dua sumber untuk tradisi pengobatan kuno yang hilang di
Eropa abad pertengahan, dan menulis ayat-ayat dalam tulisan kaligrafi yang
indah.
Ali datang dari keluarga Syria terkenal Merv tapi pindah ke Tabaristan
(maka al-Tabari – “dari Tabaristan”) tetapi menjadi mengkonversi Islam di
bawah Khalifah Al-Mu’tasim Abbassid (833-842), yang membawanya ke
layanan pengadilan, di mana ia terus di bawah Al-Mutawakkil (847-861).
Ayahnya Sahal bin Bisyr adalah seorang pejabat negara, yang berpendidikan
tinggi dan anggota dihormati masyarakat Syria. Ali bin Sahl fasih dalam
bahasa Syria dan Yunani, dua sumber untuk tradisi pengobatan kuno,
dan berpengalaman dalam kaligrafi baik.

F. Kontribusi Umat Islam dalam Bidang Ginekologi


Dua karya ibnu Sina yang paling berpengaruh, ensiklopedia filsafat Kitab
al-Shifa (Buku Penyembuhan) dan The Canon of Medicine, menjadi
warisannya bagi dunia kedokteran yang diakui oleh dunia Barat. The Canon
of Medicine—atau Al Qanun fi Tibb—menjadi buku kedokteran
eksperimental paling penting yang pernah ditulis dalam sejarah dan menjadi
kanon pengobatan dalam dunia Muslim dan eropa hingga abad ke-17. 8
Selain menuai pujian, Canon juga menjadi sasaran kritik oleh ilmuwan
Renaisans. Salah satu kritik datang dari dokter Abad Pertengahan, Arnold dari
Villanova. Ia mengkritik Avicenna sebagai "juru tulis profesional yang telah
membuat dokter Eropa bingung karena salah tafsirnya terhadap Galen." Galen
adalah dokter Yunani yang hidup di abad ke-2. Namun, pernyataannya itu tak
bisa memungkiri kenyataan bahwa karya Ibnu Sina telah bertahan berabad-
abad.

8
Erica Fraser, The Islamic World to 1600, 1998
Buku Canon justru dipakai oleh para pengajar medis di Barat untuk
memperkenalkan prinsip dasar sains pada mahasiswanya, karena memuat
praktik dan teori kedokteran seperti penjelasan dalam teks-teks Yunani-
Romawi. Melalui buku itu, ia berkontribusi pada kemajuan ilmu anatomi,
ginekologi, dan pediatri dan dokter pertama yang melakukan uji klinis dan
pengenalan farmakologi klinis.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Peradaban Islam telah mengenal ilmu kedokteran. Sejak zaman
Rasulullah SAW, ilmu kedokteran merupakan ilmu yang dipelajari dengan
seksama. Salah satu faktor kesuksesan dinasti abbasiyah dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan adalah dengan banyaknya ilmuan
muslim pada zaman tersebut yang memberikan kontribusi besar terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan, diantaranya adalah Ibnu Sina, Ibnu
Rusyd, al-Ghazali, al-Kindi, Ibnu Haytham, dan al-Rhazi, dan masih
banyak ilmuan muslim lainnya.
Apa yang telah dilakukan dan diusahakan oleh sarjana muslim
pada dunia medis tentu sangat memberi pengaruh terhadap perkembangan
ilmu kedokteran modern yang penerapannya sedikit banyak diadopsi pada
ilmu kedokteran pada masa ini. Sehingga, perlu untuk kita ketahui apa saja
yang yang telah disumbangkan ilmuan muslim terdahulu khususnya dalam
bidang kedokteran.
Adapun beberapa ilmuan muslim terdahulu yang berkontribusi
dalam berbagai bidang medis seperti: Al-Razi dan Abu al-Qasim Khalaf
Ibn Abbas Al-Zahrawi, dokter Islam yang berperan dalam bedah. Dokter
muslim yang menerapkan ilmu optalmologi adalah Al-Jurjani. Nama
lengkapnya Abu Ruh Muhammad Ibnu Mansur Bin Abdullah, atau dikenal
juga dengan Al-Jurjani, seorang dokter bedah handal dari Persia yang
terkenal sekitar tahun 1088 masehi, Ibnu Sina, Ibnu Nafis, Hunayn, yang
mempunyai peran aktif dalam mengembangkan ilmu anatomi.
DAFTAR PUSTAKA

Aminah, Hikmatul. 2016. Jurnal Skripsi SEJARAH KEDOKTERAN MASA


KEMUNDURAN DINASTI ABBASIYAH (447 – 656 H/ 1055 -1258 M), UIN
Sunan Ampel.

Abouleish, Ezzat MD, Contributions of Islam to Medicine.

Fraser, Erica, The Islamic World to 1600, 1998

Nik Aziz Sulaiman, Sumbangan TokohTokoh Kedokteran Muslim Dalam Ilmu


Kedokteran dan Operasi (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2000)

Nurmayani, Jurnal SUMBANGAN ISLAM TERHADAP SAINS DAN TEKNOLOGI,


UNIMED

Roberto Marín Guzmán, “Arab Tribes, the Umayyad Dynasty, and the `Abbasid
Revolution”, The American journal of Islamic Social Sciences, vol. 21:4, h.
18

US. National Library of Medicine dalam http:// Islamic Medical Manuscripts


BioBibliographies.com. diakses pada tanggal 12 Januari 2018.