Anda di halaman 1dari 39

1

LAPORAN KEGIATAN PPDH


ROTASI INTERNA HEWAN KECIL DAN
ROTASI BEDAH & RADIOLOGI
yang dilaksanakan di
KLINIK HEWAN PENDIDIKAN FKH UB

LAPORAN BEDAH KELOMPOK


CYSTOTOMY PADA ANJING

Oleh:
Rizal Nur Fadli, S.KH 170130100111055
Sandra Rini Sulistyaningtyas, S.KH 170130100111034
Siti Qurnia Zakiyah, S.KH 170130100111037
Yulis Indah A., S.KH 170130100111038
Nanda Ayu Cindyasputri, S.KH 170130100111040

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018

2
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cystotomy merupakan suatu tindakan pembedahan atau operasi yang membuka


kantung kencing (vesica urinaria) dan kemudian menutupnya lagi seperti semula.
Cystotomy penting dipelajari karena merupakan terapi akhir pada penanganan
gangguan yang ada di vesica urinaria. Cystotomy dilakukan terutama untuk
mengeluarkan kalkuli yang ada pada kantung kemih dan uretra, tumor kantung
kemih, trauma akibat kecelakaan atau tertusuk oleh benda runcing, tujuan biopsi,
memperbaiki ureter ektopik atau kantung kemih pecah, dan membantu dalam
diagnosis untuk mengobati saluran kencing. Sebelum dilakukan pembedahan pada
sistem perkencingan, perlu dilakukan evaluasi status pasien seperti keadaan cairan
tubuh pasien. Evaluasi yang bisa dilakukan adalah urinalisis evaluasi fungsi ginjal
dan hemogram (gambaran darah).
Cystotomi adalah salah satu prosedur bedah yang paling umum dilakukan pada
anjing. Kadang-kadang pada anjing terbentuk kristal abnormal dalam urin yang
menyebabkan infeksi sekunder berupa penyakit sistemik, infeksi kantung kemih,
atau ketidakseimbangan gizi. Kristal-kristal dapat tumbuh menjadi batu padat yang
dapat menyebabkan iritasi kantung kemih atau infeksi. Selain itu, batu bisa masuk
dalam uretra dan mengganggu proses perkencingan pada hewan. Keberadaan batu
dapat menyebabkan hewan melakukan buang air kecil dalam volume kecil namun
sering menyebabkan kencing berdarah, atau tidak mampu buang air kecil, ureter
ektopik juga diobati melalui suatu cystotomy.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana teknik operasi cystotomy pada anjing ?
2. Bagaimana manajemen pre-operasi dan post-operasi cystotomy pada
anjing ?

3
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui teknik operasi cystotomy pada anjing.
2. Untuk mengetahui manajemen pre-operasi dan post-operasi cystotomy
pada anjing.

1.4 Manfaat
Manfaat dari pelaksanaan kegiatan Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH)
bedah Cystotomy pada najing adalah mahasiswa memiliki kemampuan melakukan
prosedur bedah cystotomy dengan baik dan benar pada anjing beserta penanganan
pre-operasi dan post-operasinya.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Cystotomy
Cystotomy adalah pembedahan pada vesika urinaria dan merupakan terapi
terakhir dengan membuka vesika urinaria dengan indikasi tertentu (Hickman dan
Walker, 1973). Vesika urinaria adalah tempat untuk menampung urin sementara
yang berdinding otot kuat. Bentuk dan batas-batasnya bervariasi sesuai dengan
jumlah urin yang dikandung. Vesika urinaria yang kosong berbentuk pyramid,
sedangkan vesika urinaria yang terisi bentuknya berubah menjadi bulat (Snell,
1998).
Cystotomy adalah prosedur operasi untuk membuka kantong kencing
(Sardjana dan Diah, 2011). Cystotomy dilakukan jika hewan terindikasi mengalami
sistik kalkuli, tumor kandung kemih, trauma akibat kecelakaan atau tertusuk oleh
benda runcing, dan untuk mengeksplorasi ruptur vesika urinaria yang merupakan
abnormalitas yang paling sering terjadi pada hewan kecil. Hasil akhir dari ruptur
vesika urinaria juga mengakibatkan terjadinya kebocoran urin ke dalam rongga
abdomen (Fossum, 2002). Operasi cystotomy dilakukan dengan membuka
abdomen dibagian vebtral kemudian membuka vesika urinaria, setelah itu vesika
urinaria ditutup kembali seperti semula. Operasi cystotomy juga bertujuan untuk
biopsi, memperbaiki ureter ektopik atau kandung kemih pecah, dan membantu
dalam diagnosis untuk mengobati infeksi saluran kencing (Sardjana dan Diah,
2011).

2.2 Anatomi Vesica Urinaria


Kandung Kemih (Vesika Urinaria) merupakan salah satu organ dalam sistem
eksresi (urin) yang berfungsi untuk menampung urin sementara sebelum dibuang
melalui proses urinasi. Kandung kemih merupakan organ berbentuk seperti kantong
tersusun oleh otot polos. Organ ini terletak pada daerah rongga pelvis, dibelakang
pubis. Secara normal, kandung kemih dapat menyimpan sekitar 500 ml urin. Dalam
keadaan kosong, vesika urinaria berbentuk oval seperti buah pir dan lokasinya

5
terletak di dalam rongga perlvis. Ketika berisi urin, maka dinding atas dari vesika
urinaria ini akan masuk ke daerah rongga abdomen (Anonim, 2017).

Sumber: Anonim, 2017.

2.3 Teknik Operasi Cystotomy


2.3.1 Persiapan Pre-Operasi
a. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan operasi cystotomy
adalah meja operasi, pisau cukur, scalpel, blade, haemostatic forceps,
gunting tajam-tumpul, gunting tajam-tajam, gunting tumpul-tumpul,
gunting metzembaum, needle (tupper dan blunt), needle holder, pinset
anatomis, pinset cirrurgis, drape, allis tissue forcep, towel clamp, infus
set, termometer dan stetoskop.
Bahan yang digunakan dalam pelaksanaan cystotomy adalah
glove, masker, head cap, benang cut gut chromic, benang silk, tampon,
kasa, alkohol 70%, iodine, clorhexidine, NaCl fisiologis, antibiotik,
atropine sulfat, ketamine 10% dan xylazine 2%.

6
b. Persiapan Ruang Operasi
Perlengkapan pada ruang operasi melipiti lampu, meja benang,
meja jarum dan meja obat-obatan disiapkan. Ruang operasi dibersihkan
menggunakan desinfektan. Sedangkan meja operasi didesinfeksi dengan
menggunakan alkohol 70%. Penerangan ruang operasi sangat penting
untuk menunjang operasi, oleh karena itu sebelum diadakanya operasi
persiapan lampu operasi harus mendapatkan penerangan yang cukup
agar daerah/situs operasi dapat terlihat jelas. Ruang operasi harus kedap
air agar tidak ada pertumbuhan cendawan (Harari, 2005).

c. Persiapan Operator
Operator dan pembantu operator sebelum dan selama
pelaksanaan operasi harus selalu dalam kondisi steril. Sebelum operasi
dilaksanakan, operator dan pembantu operator mempersiapkan diri
dengan mencuci tangan mulai dari ujung tangan sampai batas siku,
menggunakan air sabun, kemudian dibilas dengan air bersih yang
mengalir, setelah itu tangan direndam dalam larutan antiseptik dengan
menggunakan larutan iodin atau alkohol 70%. Selama operasi, operator
dan pembantu operator harus menggunakan masker, topi operasi, dan
sarung tangan yang bersih serta pakaian khusus untuk operasi untuk
mengurangi kontaminasi. Apabila operator dan pembantu operator
sudah dalam keadaan steril maka tidak boleh bersentuhan atau
memegang benda-benda yang tidak steril.

d. Persiapan Hewan
Sebelum operasi dilakukan, terlebih dahulu dilakukan
pemeriksaan kondisi tubuh hewan secara umum. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui apakah hewan memenuhi syarat operasi atau tidak.
Bila hewan dinyatakan memenuhi syarat, maka operasi dapat
dilaksanakan.
Pemeriksaan fisik berupa signalement dan keadaan umum
hewan. Parameter signalement yang dicatat adalah nama hewan, jenis

7
ras, jenis kelamin, umur, warna kulit, warna rambut, serta berat badan.
Keadaan umum hewan yang perlu dicatat yaitu habitus, gizi, sikap
berdiri, cara berjalan dan adaptasi lingkungan, turgor kulit, limfonodus,
reflek pupil, reflek palpebrae, frekuensi dan ritme nafas, temperature
tubuh, CRT, warna mukosa, diameter pupil dan lainnya (pemeriksaan
fisik secara fisiologis) (Theresa, 2007).
Sebelum operasi hewan harus dipuasakan makan selama 12 jam
dan puasa minum selama 6 jam sebelum operasi dilakukan dengan
tujuan agar kondisi usus dalam keadaan kosong sehingga tidak muntah.
Sebelum melaksanakan operasi, juga perlu ditimbang berat badan anjing
tersebut untuk menentukan dosis anastesi yang akan digunakan.
Pasca pemeriksaan fisik, diberikan premedikasi. Premedikasi
merupakan suatu tindakan pemberian obat sebelum pemberian anestesi
yang dapat menginduksi jalannya anestesi. Premedikasi dilakukan
beberapa saat sebelum anestesi dilakukan. Tujuan premedikasi adalah
untuk mengurangi kecemasan, memperlancar induksi, mengurangi
timbulnya hypersalivasi, bradikardia dan muntah selama hewan
teranestesi (Ibrahim, 2000).
Premedikasi yang digunakan adalah atropin sulfat dengan dosis
0,025 mg/kgBB secara subcutan. Setelah 15 menit pasca injeksi atropin
sulfat, diberikan injeksi ketamin-xylazine 10 mg/kgBB dan 2 mg/kgBB.
Setelah itu dilakukan pencukuran dan pembersihan disekitar abdomen
medianus bagian 1/3 caudal posterior sebagai tempat target
dilakukannya pembedahan untuk operasi cystotomy. Kemudian daerah
atau area incisi dioleskan iodine sebagai antiseptik. Posisi anjing di atas
meja operasi adalah rebah dorsal dengan keempat kaki terfiksir tali
pengekang. Kain drape dipersiapkan di daerah incisi (Theresa, 2007).

2.3.2 Operasi
Metode cystotomy adalah (Tobias, 2010):
1. Diincisi pada bagian 1/3 caudal posterior abdomen.

8
2. Isolasi vesica urinaria, setelah menemukan vesica urinaria diberikan
stay suture pada bagian apex dan caudal dari vesica urinaria dan
tidak boleh menembus mukosa. Kemudian vesika urinaria
dilingkupi menggunakan kasa yang dibasahi menggunakan NaCl
fisiologis sampai menutupi rongga abdomen.
3. Stay suture diangkat perlahan untuk memudahkan mengincisi bagian
vesica urinaria. Diincisi vesika urinaria pada bagian yang memiliki
sedikit vaskularisasi. Dikeluarkan urin yang berada di dalam vesika
urinaria menggunakan poole suction tip.
4. Perpanjang incisi menggunakan gunting metzembaum.
5. Selanjutnya diperiksa terhadap adanya sistik kalkuli, neoplasia,
ataupun segala sesuatu yang harus ditangani maupun untuk tujuan
diagnosa penunjang, lalu dibersihkan menggunakan NaCl fisiologis.
6. Ditutup bagian incisi tersebut pada lapisan pertama menggunakan
jahitan simple continuous, jahitan tidak boleh sampai menembus
mukosa hanya menembus bagian submukosa.
7. Sebelum ditutup rongga abdomen, di flushing menggunakan NaCl
fisiologis dan diberikan antobiotik.
8. Selanjutnya dilakukan teknik penjahitan dengan menuggunakan
catgut chromic 3,0 dilakukan penjahitan aponeurose m. obliqous
abdominis externus m. abdominis externus dengan menggunakan
teknik terputus sederhana (simple interrupted). Pastikan jahitan tidak
melukai atau mengenai organ didalamnya, gunakan alice forcep
untuk membantu penjahitan.
9. Penjahitan terakhir dilakukan pada kulit dengan teknik jahitan simple
interupted menggunakan benang chromic, dan dilanjutkan dengan
jahitan tunggal sederhana menggunakan benang silk.
10. Dalam proses menjahit jangan lupa diberi vicilin sebagai antibiotik
pada bagian dalam organ sedikit demi sedikit secara merata pada
semua bagian.
11. Setelah operasi selesai, desinfeksi jahitan dengan mengusap bagian
jahitan dengan iodine, beri antibiotik salep tepat pada jahitan secara

9
merata dan kemudian tutup dengan hypavix dan dipasang gurita
untuk melindungi jahitan supaya kering, tidak ada kontaminasi dan
tidak digigit sehingga jahitan tidak lepas.

2.3.3 Post-Operasi
Dalam suatu kegiatan atau prosedur bedah ada tiga hal yang penting
untuk diperhatikan yakni, anastesi, bedah dan pengobatan pasca operasi. Jika
salah satu dari ketiga prosedur ini tidak dijalankan dengan baik maka pasien
mengalami komplikasi dan bahkan kematian. Salah satu dari ketiga aspek itu
yakni pengobatan pasca operasi, hal ini menjadi penting karena lama
kesembuhan dan berhasil tidaknya operasi ditentukan dari tahap terakhir yakni
pengobatan (Mc Curmin, 2008).
Pengobatan yang dimaksudkan disini berupa manajemen nutrisi,
manajemen kesehatan, manajemen kebersihan dan restrain terhadap luka pasca
operasi. Keempat aspek ini saling berkaitan satu sama lain dan juga menentukan
lama, dan keberhasilan dari operasi (Mc Curmin, 2008).
Manajemen nutrisi berupa pemberian pakan yang seseuai dengan
kondisi pasien. Jika pasian mengalami gangguan metabolit maka, nutrisi hanya
diberikan pada takaran atau massa tertentu dan pemilihan makanan yang tidak
berefek negatif pada kesembuhan. Selain itu, tekstur pakan baik keras, lembut
atau berupa cairan yang di injeksikan. Ini dilakukan jika organ tertentu dari
pasien tidak dapat menjalankan fungsi normalnya dan perlu jangka waktu untuk
mengembalikan fungsinya semula (Mc Curmin, 2008).
Manajemen kesehatan berupa pemberian obat-obatan baik secara
injeksi, oral, topikal, dan lain-lain. Ini juga membantu proses kesembuhan dari
pasien menjadi cepat dan maksimal. Aplikasi pengobatan bertujuan
menghindarkan dari infeksi sekunder berupa bakteri dan juga untuk mendukung
proses menutupnya luka. Obat yang digunakan contonya, amoxicillin,
dexamethazone, betadine, rivanol. Pengobatan tersebut harus dilakukan secara
rutin. Manajemen kebersihan yakni berupa kebersihan pasien, luka, badan
pasien dan kebersihan kandang. Ini juga bertujuan mencegah dari infeksi
bakteri, jamur dan agen penyebab infeksi lainnya (Mc Curmin, 2008).

10
Restrain terhadap luka atau pengendalian terhadap luka pasca operasi
merupakan hal yang juga sangat penting, karena menjelang kesembuhan atau
pasca operasi bekas luka menjadi sangat gatal dan hewan tersebut berusaha
untuk menggaruk hingga akhirnya luka bahkan jahitannya terlepas. Untuk itu
perlu teknik khusus dan tahu kondisi seperti apa perlu digunakan alat restrain
dan jenis alat restrain yang dibutuhkan. Salah satu contonya yakni Elizabeth
Collar, yakni berupa plastik yang berbentuk kerucut atau corong yang berfungsi
menghalangi hewan tersebut menggaruk atau menggigit bagian tubuh yang
telah mendapat penanganan operasi (Mc Curmin, 2008).

11
BAB III
PERSIAPAN OPERASI

3.1 Persiapan Hewan

3.1.1 Sinyalemen

Nama : Katty
Jenis Hewan : Anjing
Ras : Mix
Jenis Kelamin : Betina
Umur : ± 6 bulan
Berat Badan : 5 kg
Warna : Coklat dan Hitam

3.1.2 Keadaan Umum


1. Keadaan Umum
Perawatan : Baik
Habitus/Tingkah laku : Manja
Gizi : Baik
Pertumbuhan Badan : Baik
Sikap berdiri : Berdiri pada empat kaki
Suhu tubuh : 38,0 0C
Frekuensi nadi : 120 x/menit
Frekuensi napas : 40 x/menit
Capillary Refill Time CRT) : <2 detik

Kulit dan Rambut


Aspek rambut : Tidak mengkilap
Kerontokan : Tidak terdapat kerontokan
Kebotakan : Tidak terdapat kebotakan
Turgor kulit : <2 detik
Permukaan kulit : Pigmentasi normal
Bau Kulit : Bau khas kulit

12
2. Kepala dan Leher
a. Inspeksi
Ekspresi wajah : Bereaksi
Pertulangan wajah : Kompak
Posisi tegak telinga : Telinga tidak tegak
Posisi kepala : Simetris

Mata dan Orbita Kiri


Palpebrae : Membuka dan menutup sempurna
Cilia : Melengkung keluar
Konjungtiva : Rose, basah tidak ada kelainan

Mata dan Orbita Kanan


Palpebrae : Membuka dan menutup sempurna
Cilia : Melengkung keluar
Konjungtiva : Rose, basah tidak ada kelainan

Bola Mata Kiri


Sklera : Putih
Kornea : Jernih
Iris : Hitam
Pupil : Baik
Limbus : Rata
Refleks pupil : Baik (miosis dan midriasis)
Vasa Injectio : Baik

Bola Mata Kanan


Sklera : Putih

13
Kornea : Jernih
Iris : Hitam
Pupil : Baik
Limbus : Rata
Refleks pupil : Baik (miosis dan midriasis)
Vasa Injectio : Baik

Hidung dan Sinus


Bentuk pertulangan : Simetris
Aliran udara : Aliran udara bebas di kedua cavum
nasal
Cermin hidung : Basah

Mulut dan Rongga Mulut


Defek bibir : Tidak ada
Mukosa : Rose, basah, tidak ada kerusakan
Lidah : Rose, basah, kasar, tidak ada
kerusakan

Telinga
Posisi : Keduanya turun sempurna
Bau : Khas serumen, telinga basah
Permukaan daun telinga : Bersih, tidak ada luka
Krepitasi : Tidak ada
Reflek panggilan : Ada reflek

Leher
Perototan : Simetris
Trakea : Teraba, tidak ada refleks batuk saat
dipalpasi
Esofagus : Tidak teraba

14
Kelenjar Pertahanan
Ln.Mandibularis : Teraba, tidak ada pembengkakan
Ln. Retropharingeal : Tidak teraba
Ln.Axilaris : Tidak teraba
Ln.Prefemoralis : Tidak teraba
Ln.Popliteus : Teraba, tidak ada pembengkakan

3. Thoraks
a. Sistem Pernafasan
Inspeksi
Bentuk rongga thoraks : Simetris
Tipe pernapasan : Costalis
Ritme pernapasan : Ritmis
Intensitas : Dangkal, cepat
Frekuensi : 40 x /menit
Trakea : Teraba
Refleks batuk : Tidak ada

Auskultasi
Suara pernapasan : Lama inspirasi = lama ekspirasi
Suara ikutan : Tidak terdapat suara ikutan
b. Sistem Peredaran Darah
Inspeksi
Ictus cordis : Tidak terlihat

Auskultasi
Frekuensi : 120 x /menit
Intensitas : Sedang
Ritme : Ritmik
Sinkron pulsus dengan : Sinkron
jantung

15
4. Abdomen dan Organ Pencernaan
Inspeksi
Ukuran rongga abdomen : Tidak terdapat pembesaran
Bentuk rongga abdomen : Simetris

Palpasi
Epigastrikus : Tidak ada reaksi kesakitan
Mesogastrikus : Tidak ada reaksi kesakitan
Hipogastrikus : Tidak ada reaksi kesakitan

Auskultasi
Suara peristaltik usus : Tidak terdengar

Anus
Daerah sekitar anus : Bersih
Refleks sphincter ani : Ada reaksi mengkerut dan menghisap
Kebersihan perianal : Bersih

1. 5. Sistem Urogenital
Ginjal : Terasa, ukuran simetris
Vesica Urinaria : Terasa dan tidak tension

Alat Kelamin Betina


Vulva : Tidak ada perubahan bentuk
Mukosa vagina : Merah cerah ,tidak ada lender
Kelenjar mammae : Terletak simetris
2.
3. 6. Alat Gerak
Inspeksi
Perototan kaki depan : Kompak
Perototan kaki belakang : Kompak
Spasmus otot : Tidak ada

16
Tremor : Tidak ada
Cara berjalan : Koordinatif
Kesimetrisan : Simetris

Palpasi Struktur Pertulangan


Kaki kanan depan : Tegas
Kaki kanan belakang : Tegas
Kaki kiri depan : Tegas
Kaki kiri belakang : Tegas
Konsistensi pertulangan : Keras
Reaksi saat palpasi : Tidak ada reaksi kesakitan
Panjang kaki depan ka/ki : Sama
Panjang kaki belakang ka/ki : Sama
Reaksi saat palpasi otot : Tidak ada reaksi kesakitan

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat

Alat bedah yang dibutuhkan yaitu gunting tajam tumpul, gunting tajam-
tajam, pinset anatomis, pinset chirugis, needle holder, jarum round & tapped,
blade, scalpel, arteri clamp, infra red, tali, silet, infus set, i.v. catheter ukuran 22,
drape dan meja operasi.

3.2.2 Bahan

Bahan yang dibutuhkan yaitu benang cat gut chromic ukuran 3.0 & silk
ukuran 3.0, tampon steril, gloves, masker, syringe, underpad, Alkohol 70% &
Povidon Iodine (antiseptik dan desinfektan), NaCl (cairan infus), Ketamin &
Xylazine (anasthesi), Atropin Sulfat (premedikasi), Acepromazine, Intramox®,
Ketoprofen (NSAID), fasolon®, gentamycin salep, teramycin salep,
phytomenadion, dan hypafix®.

3.2.3 Perhitungan Dosis


Berat badan anjing adalah 5 kg.

17
Atropin Sulfat
Dosis = 0,04 mg/kg BB
𝑚𝑔
Berat badan (Kg) x Dosis ( )
𝑘𝑔
Atropin sulfat = 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛 𝑚𝑔/𝑚𝑙

5 kg x 0,04 mg/kgBB = 0,8 ml


0,25 mg/mL
Xylazine
Dosis = 2 mg/kgBB
𝑚𝑔
Berat badan (Kg) x Dosis ( )
𝑘𝑔
Xylazine 2% = 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛 𝑚𝑔/𝑚𝑙

5 kg x 2 mg/kgBB = 0,5 ml
20 mg/ml
Ketamin
Dosis = 10 mg/kgBB
𝑚𝑔
Berat badan (Kg) x Dosis ( )
𝑘𝑔
Ketamin 10% = 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛 𝑚𝑔/𝑚𝑙

5 kg x 10 mg/kgBB = 0,5 ml
100 mg/ml

Antibiotik Intramox® (Amoxicilin)


Dosis = 15 mg/kgBB
𝑚𝑔
Berat badan (Kg) x Dosis ( )
𝑘𝑔
Amoxicillin = 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛 𝑚𝑔/𝑚𝑙

5 kg x 15 mg/kgBB = 0,5 ml
150 mg/ml

Amoxicillin (oral) = Berat badan x dosis


5 kg x 10 mg/kgBB = 50mg
Analgesik Ketoprofen
Dosis = 1 mg/kgBB
Ketoprofen = Berat badan x dosis = mg
= 5 kg x 5 mg/kg = 25 mg

18
BAB IV
PROSEDUR OPERASI

4.1 Persiapan Ruang Operasi


1. Ruang dan meja operasi dibersihkan
2. Desinfeksi ruang operasi dengan desinfektan
4.2 Persiapan Hewan

1. Anjing dilakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui status kesehatan


hewan.
2. Anjing dibersihan tubuhnya untuk meminimalisir risiko kontaminasi saat
operasi.
3. Anjing dipuasakan makan selama 8-12 jam dan minum 2 jam sebelum
operasi operasi untuk menghindari refleks muntah dan regurgitasi yang
merupakan efek samping dari pemberian anasthesi.
4. Dilakukan pemeriksaan fisik pada anjing, meliputi suhu, respiration rate,
heart rate, turgor, CRT, dan mukosa
5. Disuntikkan :
Amoxylin secara IM dosis 15 mg/kgBB
Atropin (15 menit setelah penyuntikan Amoxylin) secara SC dosis
0,04 mg/kg BB
Ketamin secara IM (15 menit setelah penyuntikan atropin) dosis 10
mg/kgBB
Xylazin secara IM (15 menit setelah penyuntikan atropin) dosis 2
mg/kgBB

6. Dilakukan pemasangan infus NaCl 0,09% IV


7. Memastikan pasien benar-benar teranastesi dengan melihat respon
palpebrae dan pupil mata
8. Pemberian salep antibiotik pada mata agar mata tidak kering
9. Anjing direbahkan dorsal recumbency

19
10. Daerah yang akan diinsisi dilakukan pencukuran rambut.

11. Daerah yang akan diinsisi dibersihkan dengan sabun clorhexidine 4% lalu
dibilas dengan NaCl
12. Daerah yang akan diinsisi dilakukan pemberian povidon iodine sebagai
antiseptik.

20
13. Daerah yang akan diinsisi dan bagian di sekitarnya dilakukan
penyemprotan alkohol 70% untuk mencegah rambut anjing yang
berterbangan saat operasi.
14. Dilakukan pemasangan duk dengan lubang pada bagian yang akan diinsisi

4.2 Persiapan Operator

1. Operator mencuci tangan dengan sabun clorhexidine 4% selama 3


menit dan disikat, lalu dibilas dengan air mengalir
2. Operator menggunakan masker
3. Operator menggunakan sarung tangan steril

4.3 Pelaksanaan Operasi


Teknik operasi yang digunakan yaitu teknik cystotomy, berikut
langkah-langkah yang dilakukan :
a. Dimulai dengan melakukan laparotomi, yaitu dengan menginsis bagian
bawah umbilicus sampai sepertiga di atas pubis. Insisi dilakukan pasa
linie alba karena pada daerah tersebut tidak terdapat vaskularisasi
maupun syaraf sehingga meminimalisir perdarahan.

21
Letak Insisi

b. Dilakukan eksplorasi di bagian 1/3 di bawah umbilikus. Setelah vesica


urinaria ditemukan lalu vesica urinaria dikeluarkan dan ditarik ke arah
belakang. Lalu meletakkan tampon disekitar vesica urinaria kemudian
menyiramnya dengan NaCl fisiologis.

c. Kemudian membuat stay suture di bagian lateral vesica urinaria


menggunakan benang cat gut chromic 2.0.

22
d. Insisi vesica urinaria pada bagian medial (antara apex dan trigon).

e. Jahit vesicaa urinaria tanpa menembus mukosa dengan tipe jahitan


simple continous menggunakan benang cat gut chromic 2.0 dengan jarak
antar jahitan 2 mm.

f. Uji kebocoran dengan menyuntikkan NaCl fisiologis ke dalam vesica


urinaria. Reposisi vesica urinaria yang telah dilapisi omentum

23
g. Dilakuakan penjahitan lapisan abdomen :

1. Sebelum dilakukan penjahitan, rongga abdominal dibersihkan


dengan diberikan normal saline (NS).

2. Jahitan pada lapisan musculus dilakukan dengan tipe jahitan terputus


sederhana dengan menggunakan jarum round dan benang cat gut
chromic 2.0.

3. Jahitan pada lapisan subkutan dilakukan dengan tipe jahitan


horizontal mattress continous lalu langsung dilanjutkan dengan tipe
jahitan continuous cushing menggunakan jarum taper dan benang
cat gut chromic 2.0.

24
4. Jahitan pada lapisan kulit dilakukan dengan tipe jahitan terputus
sederhana dan terputus sederhana silang dengan menggunakan
jarum tapper dan benang silk 3.0.

5. Luka insisi diberikan antibiotik gentamycin salep dan ditutup


menggunakan hypafix.

25
4.4 Perawatan dan Pengobatan Post Operasi
4.4.1 Perawatan Post Operasi
1. Pemeriksaan suhu tubuh anjing secara berkala untuk mencegah
hipotermia.
2. Pemeriksaan status kesehatan anjing untuk mengetahui tingkat
dehidrasi, urin, dan feses setelah dioperasi.
3. Penyinaran menggunakan infrared dan pemberian lampu di kandang
untuk menciptakan kondisi hangat pada anjing.
4. Luka jahitan dicek setiap 2 hari sekali dan apabila kotor dibersihkan
menggunakan povidon iodine dan diberi salep gentamycin

4.4.2 Pengobatan Post Operasi


1. Pemberian Ketoprofen sebagai antiinflamasi secara per oral 1 kali
sehari.
2. Pemberian Amoxylin sebagai antibiotik secara per oral 2 kali sehari.
3. Pemberian makanan basah dan minum diberikan satu jam setelah
anjing kembali sadar.

26
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Observasi

Tanggal Pemeriksaan Terapi


02/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink T/ Amoxicillin PO
s.2.d.d
Suhu : 38,1 Appetice :++
Ketoprofen PO
Pulsus :132 kali/ menit Defekasi :- s.1.d.d
Nafas : 56 kali/ menit Urinasi :++ Pakan + minum
CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : < 2 detik

03/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink T/ Amoxicillin PO


s.2.d.d
Suhu : 39,4 Appetice : +++
Ketoprofen PO
Pulsus : 128 kali/ menit Defekasi :- s.1.d.d
Nafas : 44 kali/ menit Urinasi : ++ Pakan + minum
CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : < 2 detik

04/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink T/ Amoxicillin PO


s.2.d.d
Suhu : 38,6 Appetice : +++
Ketoprofen PO
Pulsus : 100 kali/ menit Defekasi :- s.1.d.d
Nafas : 44 kali/menit Urinasi : +++ Pakan + minum
CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : 2 detik

05/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : T/ Amoxicillin PO


s.2.d.d
Suhu : Appetice :
Ketoprofen PO
Pulsus : Defekasi : s.1.d.d
Nafas : Urinasi : Pakan + minum

27
CRT : Vomit :

Turgor :

06/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : T/ Amoxicillin PO


s.2.d.d
Suhu : Appetice :
Ketoprofen PO
Pulsus : Defekasi : s.1.d.d
Nafas : Urinasi : Pakan + minum
CRT : Vomit :

Turgor :

07/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pakan + minum

Suhu : Appetice :

Pulsus : Defekasi :

Nafas : Urinasi :

CRT : Vomit :

Turgor :

08/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pakan + minum

Suhu : Appetice :

Pulsus : Defekasi :

Nafas : Urinasi :

CRT : Vomit :

Turgor :

5.2 Pembahasan
Cystotomi merupakan tindakan operasi untuk membuka dinding vesica
urinaria. Cystotomi pada hewan diindikasikan untuk penanganan kalkuli
vesicae, neoplasma atau akibat traumatik pada vesica urinaria. Insisi dilakukan
pada bagian bawah umbilicus sampai sepertiga di atas pubis. Cystotomi berarti
penyayatan pada dinding vesica urinaria yang berfungsi untuk mengetahui
bagian dalam vesica urinaria (Brun, et al., 2008). Insisi dilakukan pasa linie

28
alba karena pada daerah tersebut tidak terdapat vaskularisasi maupun syaraf
sehingga meminimalisir perdarahan. Insisi dilakukan melalui kulit dan
subkutan untuk mengekspose linea alba (Omeran, el al., 2014).
Sebelum dilakukan proses pembedahan, dilakukan pemeriksaan fisik
pada hewan terlebih dahulu untuk mengetahui status present dan kesehatannya.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi; umur hewan, suhu, mukosa membran,
frekuensi nafas, frekuensi jantung, dan berat badan untuk menentukan dosis
obat anastesi. Selain itu, hewan dipuasakan makan 8-12 jam dan puasa minum
2 jam sebelum operasi agar lambung kosong sehingga diafragma tidak tertekan
dan pernafasan tidak terganggu. Selain itu dapat mencegah terjadinya refleks
muntah yang dapat masuk ke saluran pernafasan.
Persiapan operasi meliputi :
1. Persiapan alat dan bahan
Alat bedah yang digunakan untuk operasi harus disterilisasi terlebih
dahulu. Menurut Adji, dkk., (2007) beberapa hal yang perlu diperhatikan
selama penggunaan alat-alat operasi adalah jenis, jumlah, kebersihan atau
sterilisasinya sampai pelaksanaan operasi selesai dan segera diberssihkan
setelah selesai digunakan. Sterilisasi merupakan proses yang
menghancurkan semua bentuk kehidupan. Suatu benda yang steril
dipandang dari sudut mikrobiologi, artinya bebas dari mikroorganisme
hidup. Alat bedah yang dibutuhkan yaitu gunting tajam tumpul, gunting
tajam-tajam, pinset anatomis, pinset chirugis, needle holder, jarum round
& tapped, blade, scalpel, arteri clamp, infra red, tali, silet, infus set, i.v.
catheter ukuran 22, drape dan meja operasi. Sedangkan bahan yang
dibutuhkan yaitu benang cat gut chromic ukuran 2.0 & silk ukuran 3.0,
tampon steril, gloves, masker, syringe, underpad, Alkohol 70% & Povidon
Iodine (antiseptik dan desinfektan), NaCl (cairan infus), Ketamin &
Xylazine (anasthesi), Atropin Sulfat (premedikasi), Acepromazine,
Intramox®, Ketoprofen (NSAID), fasolon®, gentamycin salep, teramycin
salep, phytomenadion, dan hypafix®.

29
2. Persiapan ruang operasi
Ruang operasi yang digunakan dipastikan harus bersih kemudia
didesinfeksi menggunakan desinfektan untuk meminimalisir kontaminasi
ketaki operasi berlangsung.
3. Persiapan pasien
Pasien dipuasakan makan 8-12 jam dan minum 2 jam terlebih dahulu
sebelum dilakukan operasi. Setelah itu dilakukan injeksi atropine dengan
dosis 0,04 mg/kg berat badan melalui subkutan. Atropin adalah
premedikasi intramuskular. Obat ini kurang sedatif dan kurang menekan
pernapasan dibandingkan dengan papaveterum dan skopolamin (Boulton
dan Blogg, 1994). Atropin adalah alkaloid belladonna yang mempunyai
afinitas kuat terhadap reseptor muskarinik. Obat ini bekerja kompetitif
antagonis dengan Ach untuk menempati kolinoseptor. Umumnya masa
kerja obat ini sekitar 4 jam. Terkecuali, pada pemberian sebagai tetes mata,
masa kerjanya menjadi lama bahkan sampai beberapa hari. Atropin mudah
diabsorbsi, sebagai dimetabolisme dalam hepar dan diekskresikan ke
dalam urine. Waktu paruhnya sekitaar 4 jam. Efek antikolinergik dapat
menstrimulus ataupun mendepresi bergantung pada organ target. Di dalam
otak, dosis rendah merangsang dan dosis tinggi mendepresi. Atropin
myebabkan midriasis pada mata, antispasmik, menurunkan hipermotilitas
kandung kemih, pada dosis kecil menyebabkan bradikardi, pada dosis
tinggi terjadi penyekatan reseptor kolinergik di SA nodus dan denyut
jantung sedikit bertambah (takikardi), menghambat sekresi kelenjar saliva
sehingga mukosa mulut menjadi kering (serostomia) dan atropin
menghambat sekresi kelenjar keringat sehingga menyebabkan suhu tubuh
naik. Efek samping dari atropin yaitu menyebabkan mulut kering,
penglihatan kabur, mata terasa berpasir, takikardi, konstipasi, halusinasi,
dilirium yang berlanjut menjadi depresi, kolaps sirkulasi, depresi napas
dan kematian (Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya, 2009).
15 menit kemudian dilakukan injeksi anastesi ketamin dengan dosis
10 mg/kg berat badan dan xylazine dengan dosis 2 mg/kg berat badan

30
melalui intramuskuler. Pemakaian ketamin HCL untuk anastesi umum
pada bedah vetteriner sering digunakan pada hampir semua jenis hewan.
Pertimbangan pemakaian ketamin HCL anatar lain tingkat keamanan yang
relatif tinggi, interval dosis efektif yang luas dan teknik pemberian yang
mudah. Salah satu efek negatif yang ditimbulkan oleh ketamin adalah
meningkatkkan tekanan arterial yang akan menyebabkan peningkatan
tekanan intraokuler (TIO). Selain itu juga sering menyebabkan
tachycardia. Xylazin menimbulkan efek relaksasi muskulus sentralis,
selain itu juga mempunyai efek analgesi. Kondisi tidur yang ringan sampai
kondisi narkosis yang dalam dapat tercapai, tergantung pada dosis untuk
masing-masing spesies hewan. Xylazin umumnya dikombinasikan dengan
ketamin untuk beberapa spesies hewan, terutama kuda, anjing, anjing,
primata dan kelinci. Xylazin mampu menimbulkan depresi susunan syaraf
pusat yang dimulai dengan sedasi kemudian hipnotis dan hilangnya
kesadaran, selanjutnya terjadi anastesi (Yudaniayanti, dkk., 2012).
Xylazin digunakan sebagai campuran ketamin dengan tujuan ssebagai
penyeimbang kerja ketamin, menyebabkan relaksasi muskulus. Selain itu
campuran ketamin-xylazin menghasillkan stadium anastesi yang lebih
dalam, dan alasan kesejahteraan hewan. Penggunaan campuran ketamin-
xyllazin menyebabkan hipotermia dan waktu pemulihan yang lebih lama,
sehingga diperlukan persiapan prosedur penanganan perawatan
pascaanastesi yang lebih optimal (Satria, dkk., 2016).
Kemudian dilakukan pemasangan infus NS (normal saline). NS
merupakan cairan yang bersifat isotonis dimana osmolalitas cairan
mendekati serum dalam pembuluh darah. Secara umum cairan isotonik
digunakan untuk penggantian volume ekstraseluler (misalnya : kelebihan
volume cairan setelah muntah yang berlangsung lama) (Ningsih, 2015).
Pasien dipastikan teranastesi dengan melihat respon palpebrae dan
pupil mata, jika palpebrae dan mata tidak memberikan respon serta terjadi
relaksasi otot maka pasien telah teranastesi. Lalu mata pasien diberi salep
antibiotik erlamycetin agar mata tidak kering karena selama teranastesi
mata anjing akan selalu terbuka, jika mata dibiarkan mengering telalu lama

31
maka akan terjadi kerusakan. Kemudian pasien direbahkan posisi dorsal
recumbency, setelah itu rambut bagian ventral abdomen dicukur. Pada
bagian yang telah dicukur tersebut dibersihkan dengan sabun clorhexidin
4% dan dibilas dengan NaCl filisologis. Untuk sterilisasi daerah tersebut
digunakan iodin yang disemprotkan secara langsung. Kemudian drape
dipasang dengan lubang diletakkan pada bagian yang akan diinsisi.

4. Persiapan operator
Operator yang akan melakukan operasi harus melepaskan semua
asesoris yang digunakan ditangan terlebih dahulu. Kemudian operator
harus mencuci tangan dengan sabun chlorhexidin 4% selama 3 menit dan
disikat lalu dibilas dengan air mengalir. Pencucian tangan dilakukan mulai
ujung kuku sampai siku. Setelah itu menggunakan masker serta
menggunakan sarung tangan steril.
5. Teknik Operasi
Teknik operasi yang digunakan yaitu teknik cystotomy, berikut
langkah-langkah yang dilakukan :
h. Dimulai dengan melakukan laparotomi, yaitu dengan menginsis
bagian bawah umbilicus sampai sepertiga di atas pubis. Insisi
dilakukan pasa linie alba karena pada daerah tersebut tidak terdapat
vaskularisasi maupun syaraf sehingga meminimalisir perdarahan.

Letak Insisi

i. Dilakukan eksplorasi di bagian 1/3 di bawah umbilikus. Setelah


vesica urinaria ditemukan lalu vesica urinaria dikeluarkan dan
ditarik ke arah belakang. Lalu meletakkan tampon disekitar vesica
urinaria kemudian menyiramnya dengan NaCl fisiologis. Pemberian

32
tampon basah bertujuan untuk membuat kondisi lingkungan di
sekitar VU tetap basah seperti keadaan di dalam ruang abdomen, jika
VU dibiarkan kering akan menyebabkan kerusakan pada VU. NaCl
fisiologis digunakan karena memiliki sifat isotonis yang sama
denngan cairan tubuh.
j. Kemudian membuat stay suture di bagian lateral vesica urinaria
menggunakan benang cat gut chromic 2.0. Stay suture berfungsi
sebagai pegangan ketika dilakukan insisi maupun penjahitan
sehingga meminimalisir tangan menyentuh VU, jika VU terlalu
sering disentuh tangan akan membuat VU bengkak.
k. Insisi vesica urinaria pada bagian medial (antara apex dan trigon)
karena pada bagian ini minim pembuluh darah dan syaraf.
l. Jahit vesica urinaria tanpa menembus mukosa dengan tipe jahitan
simple continuous tanpa menembus mukosa menggunakan benang
cat gut chromic 2.0 dengan jarak antar jahitan 2 mm. Penjahitan VU
tidak boleh menembus mukosa karena jika jahitan menembus
mukosa maka dapat menyebabkan kristas urin menempel dan lama
kelamaan dapat menyebabkan pertumbuhan tumor.
m. Uji kebocoran dengan menyuntikkan NaCl fisiologis ke dalam
vesica urinaria. Patikan VU tidak mengalami kebocoran, karena jika
masih bocor akan menyebabkan urin masuk ke ruang abdomen dan
menyebabkan infeksi dan iritasi. Reposisi vesica urinaria yang telah
dilapisi omentum.
n. Dilakuakan penjahitan lapisan abdomen :
1. Sebelum dilakukan penjahitan, rongga abdominal dibersihkan
dengan diberikan normal saline (NS).
2. Jahitan pada lapisan musculus dilakukan dengan tipe jahitan
terputus sederhana dengan menggunakan jarum round dan
benang cat gut chromic 2.0.
3. Jahitan pada lapisan subkutan dilakukan dengan tipe jahitan
horizontal mattress continous menggunakan jarum round dan
benang cat gut chromic 2.0.

33
4. Jahitan pada lapisan kulit dilakukan dengan tipe jahitan terputus
sederhana dengan menggunakan jarum tapped dan benang silk
3.0. Luka insisi diberikan antibiotik gentamycin salep dan
ditutup menggunakan hypafix.

Keadaan anjing setelah operasi yaitu suhu tubuh anjing mengalami


penurunan menjadi 35,00C, hal ini terjadi karena efek dari anastesi yang dapat
menurunkan suhu tubuh. Karena suhu tubuh yang terlalu rendah maka
dilakukan kompres menggunakan air hangat serta pemasangan lampu
penghangat pada kandang, selain itu untuk menghangatkan tubuh anjing juga
diberikan lampu infrared selama 5 menit dan dilakukan setiap 30 menit sekali.
Setiap pemberian infrared maka lampu kandang dimatikan. Hal ini dilakukan
sampai suhu tubuh anjing normal kembali. Suhu tubuh anjing mengalami
kenaikan berlahan mulai dari 35,80C, 36,50C, dan 37,60C. Anjing mau minum
namun masih belum mau makan, pakan basah diberikan menggunakan spuit.
Setelah suhu tubuh pencapai 38,00C anjing diterapi dengan obat analgesik
ketoprofen melalui per oral dengan dosis 5mg/kg BB diberikan 1 kali sehari
dan antibiotik amoxylin melalui per oral dengan dosis 10mg/kg BB diberikan
2 hari sekali.
Amoxicillin digunakan untuk menghindari adanya infrksi sekunder pada
luka operasi, mekanisme kerja amoxicilin ini adalah dengan cara mengikat
pada ikatan penisilin protein 1A (PBP-1A) yang berlokasi didalam dinding sel
bakteri. Penisillin (amoksisilin) mengasilasi penisilin-mensensitifkan
transpeptidase C-terminal domain dengan membuka cincin laktam
menyebabkan inaktivasi enzim, dan mencegah pembentukan hubungan silang
dari dua untai peptidoglikan linier, menghambat fase tiga dan terakhir dari
sintesis dinding sel bakteri, yang berguna untuk divisi sel dan bentuk sel dan
proses esensial lain dan lebih mematikan dari penisillin untuk bakteri yang
melibatkan mekanisme keduanya litik dan non litik (Kaur et al., 2011).
Sedangkan ketoprofen digunakan sebagai analgesik dan antiinflamasi.
Ketoprofen memiliki efektivitas yang sama dengan ibuprofen dan efek
analgesiknya sama dengan aspirin.

34
Anjing mulai buang air besar pada hari ke 1 pasca operasi sedangkan
buang air kecil terjadi setiap hari. Anjing mulai makan sendiri dengan pakan
basah pada hari ke-2 pasca operasi dan pakan kering diberikan pada hari ke-3.
Jahitan masih rapat dan sedikit bengkak pada hari ke 1 dan semakin mengecil
pada hari ke 3 pasca operasi. Luka jahitan diberi salep gentamycin kemudian
diberi kasa dan hypafix, setelah itu dipakaikan gurita agar luka tidak dijilati
oleh anjing.
Pada hari ke 4 post operasi, daerah bekas operasi bengkak, sehingga
diberikan antiinflamasi dexamethasone dengan dosis 0,1ml/KgBB 2x sehari
selama 4hari. Deksametason, seperti kortikosteroid lainnya memiliki efek anti
inflamasi dan anti alergi dengan pencegahan pelepasan histamine.
Deksametason adalah kortikosteroid kuat dengan khasiat immunosupresan dan
antiinflamasi yang digunakan untuk mengobati berbagai kondisi peradangan.
Kortikosteroid seperti deksametason bekerja dengan cara mempengaruhi
kecepatan sintesis protein. Molekul hormon memasuki sel jaringan melalui
membran plasma secara difusi pasif di jaringan target, kemudian bereaksi
dengan reseptor protein yang spesifik dalam sitoplasma sel jaringan dan
membentuk kompleks reseptor steroid. Kompleks ini mengalami perubahan
konformasi, lalu bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin.
Ikatan ini menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik. Induksi
sintesis protein ini merupakan perantara efek fisiologik steroid.
Selain diberikan antiinflamasi, salep diganti menggunakan trombopop.
alam setiap 100 gram Thrombophob gel mengandung Heparin sodium 20.000
I.U. Heparin sodium adalah obat antikoagulan atau pengencer darah yang dapat
melarutkan bekuan darah pada jaringan tubuh. Heparin sodium yang berbentuk
gel ini cepat diserap oleh kulit dan langsung bekerja pada jaringan yang sakit.
Digunakan sebagai pengobatan topikal yang dapat menembus jaringan untuk
membantu mengurai bekuan darah sehingga mudah diserap oleh tubuh. Di sisi
lain heparin yang terkandung dalam Thrombophob Gel memiliki efek anti-
phlogistis dan anti-eksudatif yang bisa mengurangi peradangan dan nyeri,
meningkatkan metabolisme, dan membantu penyembuhan lebih cepat. Obat ini

35
juga dapat menurunkan ketegangan otot-otot pembuluh darah, sehingga
melancarkan peredaran darah.
Pada hari ke sembilan bengkak sudah mulai mengecil, bekas luka operasi
sudah menutup dengan baik, sehingga penggunaan antiinflamasi dapat
dihentikan. Kondisi anjing katy baik, dengan nafsu makan baik, urinasi dan
defekasi lancar.

36
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Dari prosedur cystotomy pada anjing kali ini dapat diambil kesimpulan
bahwa cystotomy merupakan prosedur pembukaan kantung kemih (vesika urinaria)
dengan tujuan mengeluarkan adanya benda asing seperti struvit (batu) yang
terbentuk akibat gangguan metabolisme sehingga dapat mengganggu sistem
urinaria terhadap adanya sumbatan pembentukan struvit tersebut. Pembukaan pada
vesika urinaria yang sangat rentan harus dilakukan secara aseptis dan dijaga
kelembapannya karena organ tersebut secara normal terdapat pada rongga abdomen
dengan kelembapan dan mengandung penyimpanan berisi cairan. Prosedur setelah
operasi seperti pakan diet yang baik untuk pemulihan pasca operasi, pengecekan
jahitan serta pemberian antibiotik dan antinyeri juga harus diperhatikan dengan
tujuan untuk mempercepat kesembuhan luka pasca operasi.

6.2 Saran
Perlunya pemberian air minum pada anjing dalam jumlah sedang sebelum
operasi dengan tujuan agar kantung kemih (vesika urinaria) tidak terlalu kecil pada
saat prosedur pembedahan cystotomy agar pengambilan vesika urinaria tidak terlalu
sulit dilakukan dan mudah difiksasi.

37
DAFTAR PUSTAKA

Andini, Laras. 2010. Potensi Penggunaan Acepromazine Sebagai Sediaan


Transquilizer Untuk Transportasi Benih Ikan Patin [Skripsi]. Fakultas
Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor Bogor.
Anonim, 2017. Kandung Kemih (Vesika Urinaria) : Pengertian, Struktur, Fungsi.
https://www.ilmudasar.com/2017/05/Pengertian-Struktur-Fungsi-Kandung-
Kemih-Vesika-Urinaria-adalah.html. Diakses tanggal 20 Juni 2018.
Boulton, Thomas B., dan Colin E. Blogg. 1994. Anastesiologi Edisi 10. EGC.
Jakarta.
Brunt, M.V., S.T. Oliveira, S.A. Messina, R. Stedile, dan R.P. Oliveira. 2008.
Laparoscopic Cystotomy for Urolith Removal in Dogs: Three Case Reports.
Arq. Bras. Med. Vet. Zootec., v.60, n.1, p.103-108, 2008.
DeTora, Michael and Robert J. McCarthy. 2013. Ovariohysterectomy versus
ovariectomy for elective sterilization of female dogs and cats: is removal of
the uterus necessary ? JAVMA, Vol 239, No. 11, December 1, 2011.
Dharmajo. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Veteriner (Hewan Kecil) Edisi 1.
Cetakan Pertama. Pustaka Populer Obor. Jakarta.
Fossum, T. W. 2002. Small Animal Surgery, Ed 2nd. Mosby, St. Lois London.
Philadelphia Sydney. Toronto.
Fossum, Theresa. 2007. Small Animal Surgery 3rd Edition. Mosby Elsevier:
Missouri, USA.
Foss, Michael A. 2008. Cat Anatomy and Physiology. Washington State University.
Washington.
Fossum, Theresa Welch. 2013. Small Animal Surgery. Fourth Edition. Elsevier.
Missouri.
Harari, Joseph. 2005. Small Animal Surgery Secret 2nd Edition. Hanley and Belfus,
inc. : Philadelphia : USA.
Hickman, J. and Walker, R. G. 1973. An Atlas Of Veterinary Surgery. Oliver and
Boyd. Edinburg.
Ibrahim R. 2000. Pengantar Ilmu Bedah Veteriner, Edisi Pertama. Syiah
KualaUniversity Press, Darussalam Banda Aceh.
Mc. Curmin, D. M. and Joanna M. B. 2008. Clinical Textbook for Veterinary
Technicians 6th Edition. Elsevier Sabre Foundation : USA.

38
Ningsih, Dewi Kartikawati. 2015. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Syok
dengan Pendekatan Proses Keperawatan. Cetakan Pertama. UB Press.
Malang.
Oliveira, Jéssica Pecene, Rodrigo Mencalha, Carlos Augusto dos Santos Sousa,
Marcelo Abidu-Figueiredo, dan Síria da Fonseca Jorge. 2014. Pain
assessment in cats undergoing ovariohysterectomy by midline or lateral
celiotomy through use of a previously validated multidimensional composite
pain scale. Journal of Acta Cirúrgica Brasileira - Vol. 29 (10) 2014 – 633.
Omeran, Bedoor M., Ramadan E. Abdel-Wahed, Mahmoud H. El-Kammar, dan
Howiada AbuAhmed. 2014. Ovariectomy versus Ovariohysterectomy for
Elective Sterilization of Female Cats. Alexandria Journal of Veterinary
Sciences 2014, 43: 73-81
Saraswati, Desi. 2009. 242 Tips Merawat Binatang Kesayangan. Cetakan Pertama.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Sardjana, I Komang Wiarsa. 2013. Pengendalian Populasi Anjing Liar di Rumah
Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya Melalui Kastrasi dan
Ovariohistektomi. Veterinr Medika Jurnal Klinik Veteriner. Vol. 1, No. 2,
Januari 2013
Satria, Gagak Donny, Setyo Budhi, dan Dinni Nurdyanti. 2016. Hipotermia dan
Waktu Pemulihannya dalam Anestesi Gas Isofluran dengan Induksi Ketamin-
Xylazin pada Anjing. Jurnal Veteriner Maret 2016 Vol. 17 No. 1 : 1-6 pISSN:
1411-8327; eISSN: 2477-5665. DOI: 10.19087/jveteriner.2016.17.1.1
Snell, R. S. 1998. Anatomi Klinik Ed. 3. Alih Bahasa. Dharma, A. dan Mulyani, M.
M. C. EGC: Jakarta.
Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya. 2009. Kumpullan Kuliah Farmakologi Edisi 2. EGC. Jakarta.
Tilley, L. P. and Smith, F. W. K. 1997. The 5-Minute Veterinary Consult, Canine
and Feline. Lippincott Williams and Wilkins.
Tobias KM. 2010. Manual of Small Animal Soft Tissue Surgery. USA: Wiley and
Blackwell.

Welsh, Philippa. 2011. Neutering Pet Cats at Four Months of Age (or Less).
Felineupdate. USA
Yudaniayanti, Ira Sari, Daud Yusuf , Herman Setyono , M. Zainal Arifin , Benjamin
Chr. Tehupuring , dan Handayani Tjitro. 2012. Profil Tekanan Intra Okuler
Penggunaan Kombinasi Ketamin-Xylazin dan Ketamin Midazolam pada
Kelinci. Vet Medika Jurnal Klinik Veteriner. Vol. 1, No. 1, Juli 2012

39