Anda di halaman 1dari 17

EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN IPS

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pendidikan IPS

Dosen Pengampu : Ahmad Anshori, M.Pd. I

Disusun oleh :
Chicy Sri Rachmawati (H 1610208)
Yuhan Yusyifa (H.1611225)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Alloh Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
Evaluasi dalam Pembelajaran IPS ini dengan baik meskipun terdapat kekurangan
didalamnya. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan serta pengetahuan mengenai Evaluasi dalam Pembelajaran
IPS dalam proses pendidikan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa dalam
makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu,
kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah
kami buat ini.

Bogor, November 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................1

A. Latar Belakang..........................................................................................1

B. Rumusan Masalah.....................................................................................2

C. Tujuan Penulisan.......................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................3

A. Pengertian Evaluasi Pembelajaran IPS......................................................3

B. Prinsip-Prinsip Evaluasi Pembelajaran IPS...............................................4

C. Teknik Penilaian........................................................................................9

BAB III PENUTUP.............................................................................................13

A. Kesimpulan..............................................................................................13

B. Saran........................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................15

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Evaluasi merupakan salah satu bagian penting dalam proses
pembelajaran. Melalui evaluasi kita dapat mengetahui program pembelajaran
sudah tercapai atau belum. Sekaligus mengetahui faktor-faktor yang
menyebabkan program itu berhasil untuk kemudian lebih ditingkatkan dan
program-program yang masih belum berhasil untuk kemudian dilakukan
perbaikan di masa mendatang. Namun secara konseptual masih ada kerancuan
pemahaman, kapan kita melakukan evaluasi, kapan kita melakukan penilaian,
dan kapan kita melakukan pengukuran. Untuk itu terlebih dahulu perlu
memahami konsep-konsep evaluasi, penilaian, dan pengukuran.
Evaluasi (Evaluation), menurut Cross merupakan proses yang
menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dapat dicapai.1 Wandt dan
Brown menjelaskan bahwa evaluasi adalah suatu tindakan atau proses untuk
menentukan nilai dari sesuatu. Johnson mengemukakan bahwa evaluasi adalah
menentukan kegunaan, nilai, atau hal yang diharapkan dari suatu pengukuran
kinerja. Puskur mengemukakan bahwa evaluasi adalah kegiatan identifikasi
untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan tercapai atau
belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi
pelaksanaannya. Dari beberapa pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan
bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk menentukan nilai guna atau manfaat
suatu program sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan.
Ketepatan penilaian yang dilakukan sekolah, terutama yang berkaitan
dengan penilaian kelas, memperlihatkan pencapaian hasil belajar siswa.
Penilaian tersebut mempengaruhi pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar
yang diterapkan guru dalam proses pembelajaran. Penilaian dan kegiatan
pembelajaran bermuara pada penguasaan kompetensi yang diharapkan.
Selama ini pelaksanaan penilaian di kelas kurang mampu menggambarkan
kemampuan siswa yang beragam karena cara dan alat yang digunakan kurang
sesuai dan kurang bervariasi. Karena keterbatasan kemampuan dan waktu,

1 Sukardi, Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, hlm 3

1
penilaian cenderung dilakukan dengan menggunakan cara dan alat yang lebih
menyederhanakan tuntutan perolehan siswa. Hasil evaluasi pelaksanaan
Kurikulum menunjukkan bahwa penilaian yang dilakukan di kelas kurang
mampu memperlihatkan tuntutan hasil belajar siswa.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian evaluasi pembelajaran?
2. Bagaimana prinsip umum evaluasi pembelajaran IPS?
3. Bagaimana teknik evaluasi pembelajaran IPS ?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian Evaluasi Pembelajaran.
2. Memahami prinsip umum evaluasi pembelajaran IPS.
3. Mengetahui teknik evaluasi pembelajaran IPS.
1.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Evaluasi Pembelajaran IPS


Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk
mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya
dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan.
Untuk memeperoleh informasi yang tepat dalam kegiatan evaluasi dilakukan
melalui kegiatan pengukuran. Pengukuran merupakan suatu proses pemberian
skor atau angka-angka terhadap suatu keadaan atau gejala berdasarkan atura-
aturan tertentu. Dengan demikian terdapat kaitan yang erat antara pengukuran
(measurment) dan evaluasi (evaluation) kegiatan pengukuran merupakan dasar
dalam kegiatan evaluasi. Evaluasi adalah suatu proses berkelanjutan tentang
pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai keputusan-keputusan
yang dibuat dalam merancang suatu sistem pembelajaran2.
Evaluasi pembelajaran merupakan evaluasi dalam bidang
pembelajaran. Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk menghimpun
informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan,
perkembangan, dan pencapaian belajar siswa, serta keefektifan pengajaran
guru. Evaluasi pembelajaran mencakup kegiatan pengukuran dan penilaian.
Bila ditinjau dari tujuannya, evaluasi pembelajaran dibedakan atas evaluasi
diagnostik, selektif, penempatan, formatif dan sumatif. Bila ditinjau dari
sasarannya, evaluasi pembelajaran dapat dibedakan atas evaluasi konteks,
input, proses, hasil dan outcom. Proses evaluasi dilakukan melalui tiga tahap
yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, pengolahan hasil dan pelaporan.
evaluasi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai penentuan kesesuaian
antara tampilan siswa dengan tujuan pembelajaran. Dalam hal ini yang
dievaluasi adalah karakteristik siswa dengan menggunakan suatu tolak ukur
tertentu. Karakteristik-karakteristik tersebut dalam ruang lingkup kegiatan
belajar-mengajar adalah tampilan siswa dalam bidang kognitif (pengetahuan
dan intelektual), afektif (sikap, minat, dan motivasi), dan psikomotor
2 Saifuddin.Pengelolaan Pembelajaran Teoretis dan Praktis. Yogyakarta:
Deepublish. Hlm 152.

3
(ketrampilan, gerak, dan tindakan). Tampilan tersebut dapat dievaluasi secara
lisan, tertulis, mapupun perbuatan. Dengan demikian mengevaluasi di sini
adalah menentukan apakah tampilan siswa telah sesuai dengan tujuan
instruksional yang telah dirumuskan atau belum.

B. Prinsip-Prinsip Evaluasi Pembelajaran IPS


Kegiatan penilaian (evaluasi), merupakan bagian tak terpisahkan dari
aktivitas pengajaran secara keseluruhan. Sebagai konsekuensinya, guru
sebagai pelaksana pengajaran di kelas perlu memiliki kemampuan yang
memadai tentang hal-hal yang berkaitan dengan penilaian. Dalam
hubungannya dengan kegiatan pengajaran, Norman E. Gronlund merumuskan
pengertian bahwa evaluasi adlah suatu proses yang sistematis untuk
menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan
pengajaran telah dicapai oleh siswa.3
Kurikulum, proses pembelajaran, dan evaluasi merupakan tiga
komponen penting dalam proses pembelajaran. Ketiga komponen tersebut
saling terkait antar satu dengan yang lainnya. Kurikulum merupakan jabaran
dari tujuan pendidikan yang menjadi landasan program pembelajaran. Proses
pembelajaran merupakan upaya untuk mencapai tujuan yang dirumuskan
dalam kurikulum. Sementara itu, kegiatan evaluasi dilakukan untuk mengukur
dan menilai tingkat pencapaian tujuan pembelajaran. Penilaian juga digunakan
untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan dalam proses pembelajaran,
sehingga dapat dijadikan dasar untuk mengambil keputusan, dan perbaikan
proses pembelajaran uang telah dilakukan. Oleh sebab itu kurikulum yang
baik dan proses pembelajaran yang benar perlu ada system penilaian yang
baik, terencana, dan berkesinambungan.
Dalam pembelajaran bahasa, kompetensi yang dinilai meliputi
keterampilan membaca, mendengarkan, berbicara, dan menulis. Kira-kira dua-
tiga decade yang lalu, atau mungkin bahkan hingga kini, masih banyak yang
berpendapat bahwa “siapa yang menguasai materi, dengan sendirinya bisa
mengajarkannya; dan (implicit di dalamnya) siapa yang bisa mengajar, dengan

3 Ngalim Purwanto. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya. Hlm. 3

4
sendirinya dapat pula melakukan penilaian”. Akan tetapi, dengan
berkembangnya teknologi pendidian termasuk di dalamnya teknologi
pengukuran dan penilaian prestasi belajar siswa, dalil tersebut sudah mulai
luntur. Kini banyak orang khususnya para guru atau pengajar mulai menyadari
bahwa masalah pengukuran dan penilaian prestasi belajar siswa bukanlah
pekerjaan yang mudah, yang dapat dilakukan intuitif atau secara trial and
error saja. Untuk dapat melakukan pengukuran dan penilaian secara efektif
diperlukan latihan dan penguasaan teori-teori yang relevan dengan tujuan dari
proses belajar mengajar sebagai bagian yang tidak terlepas dari kegiatan
pendidkan sebagai suatu system sehubungan dengan itu, dalam uraian berikut
akan dibicarakan beberapa prisip penilaian dari berbagai sumber yang perlu
diperhatikan sabagai dasar dalam pelaksanaan penilaian.
Ngalim Purwanto merumuskan enam prinsip penialian, yaitu:
1. Penilaian hendaknya didasarkan atas hasil pengukuran yang komprehensif.
Ini berarti bahwa pengukuran didasarkan atas sampel prestasi yang cukup
banya, baik macamnya maupun jenisnya. Untuk itu dituntut pelaksanaan
penilaian secara sinambung dan penggunaan bermacam-macam teknik
pengukuran. Dngan macam dan jumlah ujian yang lebih banyak, prestasi
siswa dapat diungkapkan secara lebih mantap meskipun harus pula dicatat
bahwa banyaknya macam dan jumlah ujian harus dibarengi dengan
kualitas soaol-soalnya, yang sesuai dengan fungsinya sebagai alat ukur.
2. Harus dibedakan antara penskoran (scoring) dan penilaian (grading).
Penskoran berarti proses pengubahan prestasi menjadi angka-angka,
sedangkan dalam penilaian kita memproses angka-angka hasil kuantifikasi
prestasi ini dalam hubungannya dengan“kedudukan” personal siswa dan
yang memperoleh angka-angka tersebut di dalam skala tertentu, misalnya
skala tentang baik-buruk, bisa diterima, dinyatakan lulus-tidak lulus.
Dalam penskoran, perhatian terutama ditujukan kepada kecermatan dan
kemantapan (accuracy dan reliability); sedangkan dalam penilaian,
perhatian terutama ditujukan kepada validitas dan keguanaan (utility).
3. Dalam proses pemberian nilai hendaknya diperhatikan adanya dua macam
orientasi, yaitu penilaian yang norm-referenced dan yang criterion-
referenced. Norm-referenced evaluation adalah penilaian yang

5
diorientasikan kepada suatu kolompok tertentu; jadi hasil evaluasi
perseoranagn siswa dibandingkan dengan prestasi kelompoknya. Prestasi
kelompoknya itulah yang dijadikan patokan atau norm dalam menilai
siswa atau mahasiswa secara perseorangan. Penilaian norm-referenced
evaluation ialah penilaian yang diorientasikan kepada suatu standar
absolut, tanpa dihubungkan dengan suatu kelompok tertentu. Misalnya,
penilaian prestasi siswa atau mahasiswa didasarkan atas suatu kriteria
pencapaian tujuan instruksional dan suatu mata pelajaran atau bagian dari
mata pelajran yang diharapkan dikuasai oleh siswa setelah melalui
sejumlah pengalaman belajar tertentu.
4. Kegiatan pemberian nilai hendaknya merupakan bagian integral dari
proses belajar mengajar. Ini berarti bahwa tujuan penilaian, di samping
untuk mengetahui status siswa dan menaksir kemampuan belajar serta
penguasaannya terhadap bahan pelajaran, juga digunakan
sebagai feedback(umpan balik), baik kepada siswa sendiri maupun bagi
guru atau pengajar. Berdasarkan hasil tes, pengajar dapat mengetahui
kelebihan dan kelemahan siswa tertentu sehingga selanjutnya ia dapat
melakukan koreksi terhadap kesalahan yang diperbuatnya dan atau
memberi reinforcement bagi yang prestasinya baik. Bagi guru atau
pengajar meskipun umumnya jarang dilakukan seharusnya hasil penilaian
para siswanya itu dipergunakan untuk “mawas diri” sehingga ia dapat
mengetahui di mana letak kelemahan dan kekurangannya. Mungkin
metode mengajar kurang tepat, atau bahan pelajaran terlalu sukar dan tidak
sistematis cara penyajiannya, atau sikap pengajar yang tidak selalu
menburu-buru setiap tugas yang telah diberikan. Ini semua akan dapat
dilakukan dengan baik jika guru atau pengajar benar-benar ikhlas dan
beriktikad baik untuk meningkatkan profesinya. Ia menyadari bahwa
kegagalan siswa, setidak-tidaknya menyadari bahwa kegiatan belajar-
mengajar itu pada hakikatnya adalah suatu proses komunikasi dua arah,
bahwa di dalam proses belajar-mengajar, baik siswa maupun pengajar
sama-sama belajar.
5. Penilaian harus bersifat komparabel. Artinya setelah tahap pengukuran
yang menghasilkan angka-angka itu dilaksanakan, prestasi-prestasi yang

6
menduduki skor yang sama harus dilakukan secara adil, jangan sampai
terjadi penganakemasan atau penganaktirian. Penilaian yang tidak adil
mudah menimbulkan frustasi pada siswa dan mahasiswa, dan selanjutnya
dapat merusak perkembangan psikis siswa sehingga pembentukan efektif
dirusak karenanya.
6. Sistem penilaian yang dipergunakan hendaknya jelas bagi siswa dan
pengajar sendiri. Sumber ketidakberesan dalam penilaian terutama adalah
tidak jelasnya sistem penilaian itu sendiri bagi para guru atau pengajar.
Apa yang dinilai serta macam skala penilaian yang dipergunakan dan
makna masing-masing skala.
Asep Jihad & Abdul Haris bahwa sistem evaluasi dalam pembelajaran,
baik pada evaluasi proses maupun evaluasi pada hasil belajar, hendaknya
dikembangkan berdasarkan sejumlah prinsip sebagai berikut4:
1. Menyeluruh; evalauasi menyangkut keseluruhan standar kompetensi,
kompetensi dasar, serta seluruh indikator ketercapaian, baik menyangkut
domain kognitif (pengetahuan), afektif (sikap, perilaku, nilai), serta
psikomotorik (keterampilan), maupun menyangkut evaluasi proses dan
hasil belajar.
2. Berkelanjutan; evaluasi hendaknya dilakukan dengan perencanaan dan
secara terus menerus guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai
perkembangan hasil belajar siswa sebagai dampak langsung proses
pembelajaran.
3. Berorientasi pada indikator ketercapaian; sistem penilaian dalam
pembelajaran harus mengacu pada indikator ketercapaian yang telah
ditetapkan berdasarkan kemampuan dasar/kemampuan minimal dan
standar kompetensinya. Dengan demikian, hasil penilaian akan
memberikan gambaran mengenai sampai seberapa indikator kemampuan
dasar dalam suatu mata pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa.
4. Sesuai dengan pengalaman belajar; misalnya, jika pembelajaran
menggunakan pendekatan tugas problem-solving, maka evaluasi harus
diberikan baik pada proses (keterampilan proses) maupun produk/hasil
melakukan problem solving.

4 Trianto. Model Pembelajaran Terpadu Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).Jakarta: Bumi Aksara. Hlm. 63-64

7
Prinsip-prinsip umum evaluasi berikut ini sangat berguna dalam
membantu/membimbing proses evaluasi5.
1. Proses evaluasi harus jelas, bervariasi, objektif, kooperatif, dan
berkesinambungan.
2. Evaluasi sebaiknya merupakan proses pengumpulan data evalusi dengan
tujuan tertentu, evaluasi itu sendiri janganlah merupakan tujuan.
3. Guru-guru seharusnya menghubungkan latihan-latihannya sebagai mata
pelajaran yang diajarkan. Sebagai contoh : anak-anak yang telah diajar
secara konsisten dalam tingkat cognitive domain seharusnya diuji pada
tingkat kognitif yang lebih tinggi. Dan anak-anak yang membicarakan
tentang keterampilan, seharusnya diuji keterampilannya.
4. Pengujian/evaluasi murid terhadap dirinya sendiri seharusnya merupakan
bagian yang terbesar dari proses evaluasi.
5. Evaluasi bukan merupakan proses kompetensi. Evaluasi sebaiknya
melibatkan individu dalam essessmentnya atau perkembangannya.
6. Aspek kesehatan mental dari evaluasi harus dipertimbangkan. Sangat baik
bagi guru-guru untuk sering memperhatikan penampilan yang jelek dari
muridnya.
7. Evaluasi bukanlah alat untuk memaksa anak-anak. Malangnya praktek
guru-guru dalam mengevaluasi muridnya sering menyebabkan anak-anak
merasa tertekan.
8. Evaluasi seharusnya meliputi kemajuan dengan suatu tujuan, bukan
tugas/kewajiban yang diberi nilai, walaupun evaluasi memberikan data
kepada orang tua murid.
9. Proses evaluasi dapat digunakan untuk mengukur aspek proses
pendidikan, termasuk proses belajar sendiri. Contoh : penampilan anak-
anak dalam proses bertanya dari obsevasi, mengevaluasi keaktifan dengan
memecahkan masalah adalah contoh dari tipe aktifitas evaluasi.
10. Evaluasi harus memperbolehkan perbedaan individu. Beberapa faktor,
seperti kecerdasan, pengalaman, latar belakang ekonomi dan sosial,
tuntutan orang tua pada anak, harus dipertimbangkan oleh para penguji.
11. Evaluasi harus formative dan somative. Ini berarti bahwa pengalaman
belajar sebaiknya dievaluasi secara kontinu sebagai suatu kemajuan dan
seharusnya dievaluasi pada kesimpulannya.

5 Direktorat UPI. Evaluasi Hasil Belajar IPS. File.upi.edu. Diunduh pada 5 November 2018 pukul
23.32 wib.

8
12. Preassessment adalah bagian integral dari proses evaluasi. Memberi pre tes
tertulis atau menanyakan kepada anak-anak untuk memperlihatkan tugas-
tugas tertetu sementara itu guru-guru mengamati, membantu anak
muridnya.
13. Evaluasi bersifat komperhensif. Sebagai tambahan dari isi evaluasi,
evaluasi meliputi assessment dari penampilan murid dalam lapangan lain
seperti kemampuannya untuk bekerja sendiri atau bekerja sama dengan
teman-teman lain.
14. Evaluasi mengikuti pola-pola yang konsisten sehingga setiap orang
mengerti kapan dan bagaimana diselesaikan/dikerjakan.
15. Evaluasi adalah proses kerja sama yang melibatkan guru-guru, orang tua
murid, murid dan supervisor.
16. Informasi yang berasal dari evaluasi harus terorganisir secara sistematis
sehingga memberikan gambaran dari status murid.
17. Akhirnya sebagai kesimpulan, proses evaluasi mata pelajaran IPS
merupakan bagian dari program IPS dari SD sampai SMA.

C. Teknik Penilaian
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh data dan
informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik. Penilaian dilakukan
dengan cara menganalisis dan menafsirkan data tentang kegiatan yang
dilakukan peserta didik secara sistematis dan berkesinambungan sehingga
menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Berikut
merupakan teknik penilaian :
1. Tes
Syarat-syarat tes yang baik antara lain harus valid atau hanya
mengukur apa yang hendak diukur dan harus andal. Keandalan dalam hal
ini meliputi kecermatan atau ketepatan dan konsisten dari hasil
pengukuran yang dilakukan. Sebelum merancang sebuah tes, terlebih
dahulu harus memperhatikan tujuan tes dan kisi-kisi tes. Tujuan tes dapat
dipakai untuk mengetahui penguasaan siswa dalam pokok bahasan tertentu
setelah materi diajarkan. Selain itu dapat juga digunakan untuk
mengetahui kesulitan belajar siswa. Sedangkan kisi-kisi merupakan
rambu-rambu ruang lingkup dan isi soal yang akan diujikan.
2. Non Tes

9
Non tes merupakan salah satu bentuk penilaian dalam mengambil
keputusan terhadap hasil proses pembelajaran untuk kompetensi yang
bersifat afektif atau kompetensi yang tidak dapat diukur secara kuantitatif.
Apabila penilaian dengan tes selalu dapat dinyatakan dengan angka/skala
maka penilaian dengan teknik non-tes, umumnya menghasilkan deskripsi
secara kualitatif meskipun untuk kompetensi tertentu ada yang berupa
angka/skala. Beberapa teknik non tes antara lain:
a. Panduan Observasi
Panduan observasi dapat dikembangkan oleh guru sehingga
tidak menutup kemungkinan terjadinya bias akibat subyektifitas guru.
Namun inilah ciri khas dari penilaian afektif yang tidak mungkin steril
dari pengaruh subjektifitas guru. Ada beberapa petunjuk untuk
mengurangi kelemahan dalam penyusunan panduan observasi (Zaenul,
1993: 67):
1) Rencanakan terlebih dahulu apa yang akan diamati, untuk
menghindari tertariknya pengamat pada hal lain yang menarik
perhatiannya.
2) Agar observasi dapat dilakukan secara cermat
dan berkelanjutan untuk memperoleh data yang seobjektif
mungkin, maka diperlukan alat perekam data observasi yang
mudah dan jelas untuk dilaksanakan.
3) Sebaiknya melibatkan orang lain selain guru sebagai pengamat
dalam melakukan pengamatan, misalnya saja orang tua murid,
konselor, wali murid, guru lain, teman sebaya dan sejenisnya.
Dengan demikian orang tua siswa terlibat secara langsung dalam
pembelajaran.
b. Skala Sikap
Skala sikap digunakan untuk menilai sikap dalam
pembelajaran. Dalam skala ini pernyataan afektif menunjukkan
pernyataan yang secara langsung mengungkapkan perasaan terhadap
suatu objek sikap. Sedangkan pernyataan psikomotor menunjukkan
pernyataan pilihan tingkah laku atau maksud tingkah laku yang
berkenaan.
c. Daftar Ceklis

10
Daftar ceklis adalah suatu alat penilaian non tes yang
digunakan secara terstruktur untuk memperoleh informasi tentang
sesuatu yang diamati. Alat ini sangat bermanfaat untuk menilai hasil
belajar ataupun proses pembelajaran secara lebih rinci. Penggunaannya
sangat sederhana, karena hanya dengan membubuhkan menghendaki
jawaban yang benar atau salah seperti dalam ujian lisan yang
menentukan lulus atau tidak lulus, melainkan hanya mengungkapkan
informasi tentang sikap yang digali yang dapat menggambarkan
keadaan peserta didik saat itu.
d. Skala Bertingkat
Skala bertingkat adalah alat penilaian non tes untuk menilai
karakteristik tertentu sebagaimana diharapkan muncul dalam diri
peserta didik.Tipe skala bertingkat di bawah ini termasuk jenis yang
sederhana.
e. Wawancara
Pedoman wawancara disusun seperti daftar pertanyaan yang
akan diajukan saat wawancara dengan respondennya adalah siswa.
f. Portofolio
Portofolio sebagai salah satu penilaian dimaksudkan penilaian
terhadap hasil karya siswa. Kumpulan pekerjaan siswa biasanya berupa
sampel termasuk foto-foto kegiatan, komentar-komentar secara tertulis
termasuk perasan, sikap terhadap topik kegiatan, dan keinginan siswa
yang perlu diketahui guru yang selanjutnya dimasukkan kedalam
folder. Portofolio merupakan alat yang sangat baik sebagai bahan bagi
guru ketika bertemu dengan orang tua siswa. Guru dapat menjelaskan
secara kronologis tentang aktivitas siuswa dan hasilnya. Jadi penilaian
portofolio merupakan suatu pendekatan dalam penilaian kinerja peserta
didik atau digunakan untuk menilai kinerja.

11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Evaluasi pembelajaran merupakan evaluasi dalam bidang pembelajaran.
Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk menghimpun informasi yang
dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, perkembangan, dan
pencapaian belajar siswa, serta keefektifan pengajaran guru.
2. Prinsip-prinsip umum evaluasi berikut ini sangat berguna dalam
membantu/membimbing proses evaluasi
a. Proses evaluasi harus jelas, bervariasi, objektif, kooperatif, dan
berkesinambungan.
b. Evaluasi sebaiknya merupakan proses pengumpulan data evalusi
dengan tujuan tertentu
c. Guru-guru seharusnya menghubungkan latihan-latihannya sebagai
mata pelajaran yang diajarkan.
d. Pengujian/evaluasi murid terhadap dirinya sendiri.
e. Evaluasi bukan merupakan proses kompetensi.
f. Aspek kesehatan mental dari evaluasi harus dipertimbangkan.
g. Evaluasi bukanlah alat untuk memaksa anak-anak.
h. Evaluasi seharusnya meliputi kemajuan dengan suatu tujuan,
i. Proses evaluasi dapat digunakan untuk mengukur aspek proses
pendidikan, termasuk proses belajar sendiri.
j. Evaluasi harus memperbolehkan perbedaan individu
k. Evaluasi harus formative dan somative.
l. Preassessment adalah bagian integral dari proses evaluasi.
m. Evaluasi bersifat komperhensif.
n. Evaluasi mengikuti pola-pola yang konsisten sehingga setiap orang
mengerti kapan dan bagaimana diselesaikan/dikerjakan.
o. Evaluasi adalah proses kerja sama yang melibatkan guru-guru, orang
tua murid, murid dan supervisor.
p. Informasi yang berasal dari evaluasi harus terorganisir secara
sistematis sehingga memberikan gambaran dari status murid.
q. proses evaluasi mata pelajaran IPS merupakan bagian dari program
IPS dari SD sampai SMA
3. Teknik penilaian
a. Tes
b. Non tes

12
B. Saran
Penyusun menyarankan sebagai calon guru hendaknya dapat
mengetahui tentang penilaian pembelajaran IPS di SD dan dapat
mengaplikasikannya ketika melaksanakan pembelajaran di SD.

13
DAFTAR PUSTAKA

Supriatna Nana, Srie Mulyani, Ade Rokhayati. 2009. Pendidikan IPS SD.
Bandung: UPI PRESS
Saifuddin. 2014. Pengelolaan Pembelajaran Teoretis dan Praktis.
Yogyakarta: Deepublish.
Sukardi. 2008. Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara
Ngalim Purwanto. 2003. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu Konsep, Strategi, dan
Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP).Jakarta: Bumi Aksara.
Direktorat UPI. Evaluasi Hasil Belajar IPS. File.upi.edu. Diunduh pada 5
November 2018 pukul 23.32 wib.

14