Anda di halaman 1dari 9

Resume Kasus Bidang Ilmu Kedokteran Gigi Anak

Pulpektomi pada gigi 85

Disusun Oleh
Hegar S Pribadi
G4B016053

DPJP:
drg. Aris Aji Kurniawan

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER GIGI
PURWOKERTO

2018
Perawatan Pulpektomi Anak pada gigi 85

A. Pendahuluan
Pulpektomi merupakan perawatan yang meliputi pembuangan jaringan nekrotik
bagian koronal dan saluran akar pada gigi desidui yang pulanya telah mengalami nekrosis
atau mengalami radang kronis.
Perawatan pulpa pada gigi desidui bertujuan mempertahankan gigi dalam keadaan
nonpatologis hingga waktu gigi tersebut tanggal , mengembalikan keadaan gigi yang sakit
atau rusak agar diterima secara bilogis dan dapat berfungsi dengan baik. Sebelum melakukan
perawatan pulpa perlu diperhatikan beberapa hal seperti kondisi gigi apakah masih dapat
direstorasi setelah dilakukan perawatan endodontik serta umur gigi apakah masih harus
dipertahankan. Perawatan pulpa pada anak meliputi pulp capping, pulpotomi dan pulpektomi.

B. Laporan Kasus
Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun datang ingin memeriksakan gigi bawah
belakang kanan yang berlubang besar dan sering tersangkut makanan. Pasien tidak
mengeluhkan adanya rasa sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan gigi 85 terdapat karies
profunda dibagian oklusal meluas hingga ke bagian distal dan mesial, tes vitalitas
menunjukkan hasil negatif, tes perkusi negatif, palpasi negatif dan mobilitas negatif. Hasil
pemeriksaan Radiografi menunjukkan gigi 85 terdapat karies profunda dengan pulpa terbuka.
Tidak ditemukan adanya lesi periapikal. Gigi 85 didiagnosa Nekrosis Pulpa. Gambaran
radiologi periapical gigi 85 sebagai berikut

Gambar 1. Gambaran radiografi periapikal gigi 85


Rencana perawatan pada gigi 85 adalah perawatan endodontik berupa pulpektomi.

Prosedur perawatan pada pulpektomi meliputi:


1. Membuat outline form
2. Membersihkan jaringan karies dan membuka seluruh atap pulpa menggunakan round bur
sampai diperoleh akses yang baik.
3. Jaringan pulpa bagian koronal diambil dengan ekskavator atau round bur, sisa jaringan
dibersihkan dan diirigasi.
4. Lakukan pencarian orifice lalu jaringan pulpa dalam saluran akar diambil menggunakan
barbed broach secara perlahan dengan teknik pull stroke hingga terasa adanya hambatan
atau disebut resistance point. Pengukuran kedalaman atau panjang kerja dapat
berpatokan pada radiografi.
5. Saluran akar dibersihkan dari jaringan nekrotik menggunakan file dengan menggunakan
teknik konvensional. Digunakan file no 15 hingga mencapai white dentin.
6. Irigasi dengan larutan saline atau NaOCl. Proses irigasi sangat penting berhubung proses
preparasi mekanis pada gigi desidui sulit didapat hasil yang maksimal karena pada gigi
desidui lebih kompleks.
7. Pada gigi yang ditemukan adanya pembengkakan atau fistula, terdapat pus pada saluran
akar, dilakukan intracanal medicament terlebih dahulu dengan menggunakan bahan
antibakteri seperti CHKM dan cresophene kemudian ditutup dengan tumpatan sementara
8. Intracanal medicament dilakukan sampai ruang pulpa kering dan tanda dan gejala
inflamasi hilang.
9. Lakukan pengisian saluran akar dengan pasta pengisi saluran akar berupa ZnO Eugenol.
Kavitas ditutup dengan tumpatan sementara yaitu kavit.
10. Lakukan radiografi untuk melihat apakah pengisian saluran akar sudah baik atau belum.
Setelah baik dapat dilakukan penutupan dengan basis dan restorasi permanen.
11. Lakukan evaluasi 1 minggu paska obturasi dengan melakukan pemeriksaan subjektif dan
objektif. Memeriska adakaha keluhan yang dirasakan pasien, perkusi dan palpasi paska
obturasi.

C. Pembahasan
Pulpektomi terdiri dari pulpektomi 1 kali kunjungan dan pulpektomi multi kunjungan.
Multikunjungan dapat dilakukan pada pulpektomi dengan kasus terdapat abcess atau
terbentuk fistula. Pulpektomi terdiri dari pulpektomi vital, pulpektomi devital, dan
pulpektomi nonvital.

1. Pulpektomi Vital
Pulpektomi vital merupakan tindakan pengambilan seluruh jaringan dalam
ruang pulpa dan saluran akar secara vital dan di ikuti pengisian saluran akar dengan
bahan semen yang dapat diresorbsi (Andlaw dan Rock, 2012).

a. Indikasi Kontraindikasi
Indikasi pulpektomi vital menurut Andlaw dan Rock (2012), yaitu gigi
insisivus desidui yang mengalami trauma dengan kondisi patologis, tidak terdapat
kondisi patologis dengan resorpsi akar yang lebih dari 2/3, dan kelanjutan perawatan
jika perawatan pulpotomi gagal. Kontraindikasi dari perawatan pulpektomi vital yaitu
resorpsi akar gigi yang meluas, pasien tidak kooperatif, dan gigi goyang disebabkan
keadaan patologis.

b. Prosedur
Menurut Budiyanti (2012), prosedur perawatan pulpektomi vital gigi desidui
adalah sebagai berikut.

1) Kunjungan pertama
a) Persiapan instrumen dan bahan
b) Pemberian anestesi lokal untuk mengurangi rasa sakit saat perawatan
c) Isolasi gigi dengan rubber dam
d) Seluruh jaringan karies di buang bersamaan dengan pembentukan outline form
yang benar dan atap pulpa di buka seluruhnya. Jaringan pulpa pada bagian
korona diambil dengan ekskavator atau dengan round bur
e) Sisa-sisa jaringan kemudian di irigasi, dibersihkan, dan dikeringkan.
f) Jaringan pulpa dalam saluran akar di ambil dengan jarum ekstirpasi yang
dimasukan perlahan-lahan hingga terdapat hambatan untuk masuk tempat ini
disebut dengan resistance point. Memasukan jarum ekstirpasi dapat dengan
menggunakan perhitungan melalui hasil radiografi dan kondisi klinis.
Memasukkan jarum tidak boleh melewati resistance point, hal tersebut untuk
menghindari bahaya kerusakan jaringan periapikal
g) Saluran akar dilebarkan dengan menggunakan file untuk memudahkan
pengisian saluran akar dengan bahan pengisi saluran akar. Headstrom file
dapat digunakan karena dapat membersihkan atau mengambil jaringan keras
pada waktu alat dikeluarkan dan mencegah masuknya jaringan yang teinfeksi
melalui apeks
h) Saluran akar di irigasi menggunakan larutan yang tidak mengiritasi seperti
NaOCl secara berulang-ulang agar semua jaringan atau debris hilang.
Kemudian saluran akar dikeringkan dengan menggunakan paper point
i) Pembersihan jaringan pulpa dalam saluran akar tidak memungkinkan untuk
dilakukan secara maksimal, namun hal ini dapat di bantu oeh dressing yang
memiliki efek terhadap sisa jaringan yang tertinggal
2) Kunjungan kedua
1) Saluran akar yang dapat di isi dengan bahan pengisi adalah saluran akar yang
telah di desinfeksi dan dinyatakan kering serta tidak berbau. Alat yang
digunakan untuk mengisi saluran akar adalah jarum lentulo. Bahan pengisi
yang digunakan adalah pasta zinc oxide eugenol atau pasta zinc oxide
eugenol-formokresol. Di atas bahan pengisi diletakkan dasar semen, kemudian
gigi ditumpat permanen.

2. Pulpektomi Devital
Pulpektomi devital adalah tindakan pengambilan seluruh jaringan pulpa dalam ruang
pulpa dan saluran akar yang lebih dahulu dimatikan dengan bahan devitalisasi pulpa
serta diikuti pengisian saluran akar dengan bahan semen yang dapat diresorbsi (Andlaw
dan Rock, 2012).

a. Indikasi Kontraindikasi
Perawatan pulpektomi devital ini secara umum memiliki indikasi dan
kontraindikasi yang sama dengan indikasi dan kontraindikasi pulpektomi vital. Hanya
saja, perawatan ini biasa dilakukan pada pasien yang tidak tahan terhadap anestesi dan
pasien yang tidak kooperatif (Andlaw dan Rock, 2012).

b. Prosedur
Menurut Tarigan (2004), perawatan dari pulpektomi devital secara umum
hampir sama dengan perawatan pulpektomi vital. Pulpektomi devital utamanya
dilakukan pada pasien yang tidak tahan terhadap anestesi. Perawatan ini sekarang
sudah jarang dilakukan pada gigi permanen, tetapi masih sering dilakukan pada gigi
desidui dengan mempergunakan bahan devitalisasi paraformaldehid, seperti Toxavit,
dan lain-lain. Bahan dengan komposisi As2O3 umunya sudah ditinggalkan.
3. Pulpektomi Non-vital
Pulpektomi non-vital merupakan perawatan pada gigi sulung dengan diagnosis
gangren pulpa atau nekrosis pulpa (Andlaw dan Rock, 2012).

a. Indikasi Kontraindikasi
Menurut Andlaw dan Rock (2012), indikasi dari perawatan pulpektomi non-
vital yaitu mahkota gigi masih dapat direstorasi, gigi tidak goyang dan periodontal
normal, tidak terlihat adanya fistel, resorpsi akar tidak lebih dari 1/3 apikal, tidak ada
granuloma pada gigi-geligi desidui, kondisi kesehatan dan sosial ekonomi pasien baik.
Kontraindikasi pulpektomi non-vital yaitu gigi tidak dapat direstorasi lagi, kondisi
kesehatan pasien yang tidak baik, terdapat pembengkokan ujung akar dengan
granuloma atau kista.

b. Prosedur
Menurut Budiyanti (2012), prosedur perawatan pulpektomi non-vital gigi
desidui adalah sebagai berikut.

1) Kunjungan pertama
a) Persiapan instrumen dan bahan
b) Isolasi gigi dengan rubber dam
c) Atap pulpa di buka seluruhnya hingga terlihat orifice
d) Sisa-sisa jaringan kemudian di irigasi, dibersihkan, dan dikeringkan.
e) Jaringan pulpa dalam saluran akar di ambil dengan jarum ekstirpasi yang
dimasukan perlahan-lahan hingga terdapat hambatan untuk masuk tempat ini
disebut dengan resistance point. Memasukan jarum ekstirpasi dapat dengan
menggunakan perhitungan melalui hasil radiografi dan kondisi klinis.
Memasukkan jarum tidak boleh melewati resistance point, hal tersebut untuk
menghindari bahaya kerusakan jaringan periapikal
f) Saluran akar dilebarkan dengan menggunakan file untuk memudahkan
pengisian saluran akar dengan bahan pengisi saluran akar. Headstrom file
dapat digunakan karena dapat membersihkan atau mengambil jaringan keras
pada waktu alat dikeluarkan dan mencegah masuknya jaringan yang teinfeksi
melalui apeks
g) Saluran akar di irigasi menggunakan larutan yang tidak mengiritasi seperti
NaOCl secara berulang-ulang agar semua jaringan atau debris hilang.
Kemudian saluran akar dikeringkan dengan menggunakan paper point
h) Pembersihan jaringan pulpa dalam saluran akar tidak memungkinkan untuk
dilakukan secara maksimal, namun hal ini dapat di bantu oeh dressing yang
memiliki efek terhadap sisa jaringan yang tertinggal
2) Kunjungan kedua
a) Saluran akar yang dapat di isi dengan bahan pengisi adalah saluran akar yang
telah di desinfeksi dan dinyatakan kering serta tidak berbau. Alat yang
digunakan untuk mengisi saluran akar adalah jarum lentulo. Bahan pengisi
yang digunakan adalah pasta zinc oxide eugenol atau pasta zinc oxide eugenol
-formokresol. Di atas bahan pengisi diletakkan dasar semen, kemudian gigi
ditumpat permanen.

Gambar 2. Ilustrasi perawatan pulpektomi non-vital gigi desidui


Sumber: Welbury dkk., 2005

Pada gigi desidui preparasi secara mekanis kurang didapat dengan maksimal, oleh
karena itu perawatan sangat bergantung pada agen kimiawi pada saat irigasi, intracanal
medicament, atau pun pada saat pengisian saluran akar.
Bahan pengisi saluran akar pada gigi desidui memiliki beberapa syarat diantaranya
adalah dapat diresorpsi sesuai kecepatan resorpsi akar, tidak merusak jaringan periapikal,
bersifat antispetik, bersifat hermetis dan radiopak, mengeras dalam waktu lama dan tidak
menyebabkan diskolorasi. Bahan pengisi saluran akar yang biasa digunakan pada gigi desidui
yaitu ZnO Eugenol.
ZnO Eugenol merupakan bahan kombinasi dari seng oksida dan eugenol yang
terkandung dalam minyak cengkeh. Bahan ini memiliki keuntungan seperti biaya relatif
murah, mempunyai efek antimikroba yang baik, tidak sitotoksik pada sel yang berkontak
langsung maupun tidak langsung, plastisitas baik, radiopak, tidak menyebabkan diskolorasi,
memiliki efek antiinfalamasi dan analgesik.
DAFTAR PUSTAKA

Andlaw, R., J., Rock, W., P., 2012, A Manual of Paedodontics, Churchill Livingstone, New
York
Bence, R., 2005, Handbook of Clinical Endodontics, Mosby, London

Budiyanti, A., 2012, Perawatan Endodontik pada Anak, EGC, Jakarta.

Ingle, J., I., Bakland, L., K., Baumgartner, J., C., 2008, Ingle’s Endodontic, Bc Decker Inc.,
Hamilton
Koch, G., Poulsen, S., 2001, Pediatric Dentistry a Clinical Approach, Munksgaard,
Copenhagen
Tarigan, R., 2004, Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti), EGC, Jakarta

Welbury, R., R., Duggal, M., S., Hosey, M., T., 2005, Paediatric Dentistry, Oxford University
Press, New York