Anda di halaman 1dari 4

Untung Berlimpah dengan Hormon Jantanisasi Ikan Nila

2/17/2014 07:31:00 PM agrobiz, pertanian, peternakan, Teknologi Tepat Guna

Ini adalah kisah sukses pembenih ikan dengen hormon jantanisasi ikan. Tiga bulan
sekali Agung Wahyudi membeli ribuan benih ikan nila tak jauh dari rumahnya di
Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Ia sengaja memilih benih berusia
nol-tiga hari, berbentuk bintik-bintik hitam. Alasannya, di usia itu bibit dalam kondisi
gonad atau tidak berkelamin. “Kita masih bisa menentukan sendiri jenis kelaminnya,”
kata pria setengah baya ini beberapa waktu lalu.
Caranya sederhana. Cukup dengan akuarium, air, sirkulasi udara, dan kolam tampung
seperempat lapangan bulu tangkis di pekarangan rumahnya. Resep khususnya adalah
menabur serbuk “ajaib” cokelat muda yang mengandung hormon maskulin ke bibit
seharga Rp 5.000 per seribu ekor itu. Takarannya harus pas: 10 gram hormon maskulin
dicampurkan ke dalam 80 liter air, yang cukup mengubah 7.000 gonad. Benih direndam
18-24 jam. Lalu ganti air rendaman dalam akuarium dan pindahkan ikan ke kolam
tampung setelah berusia dua minggu. “Pertumbuhan sangat cepat. Panen hanya butuh
2-3 bulan,” katanya.
Serbuk yang digunakan Agung adalah hormon metil testosteron buatan Badan Tenaga
Nuklir Nasional (Batan), yang berfungsi mengubah kelamin (sex reversal) ikan menjadi
jantan. “Persentase alih kelamin mencapai 94 persen,” kata Adria Priliyanti Murni,
pembuat sekaligus peneliti senior Batan. Kementerian Riset dan Teknologi memberi
penghargaan hormon Batan sebagai salah satu inovasi paling prospektif sepanjang
2010.
Menurut Adria, proses penjantanan ikan penting untuk meningkatkan kesejahteraan
peternak dan produksi ikan nasional. Selain ongkos produksi yang murah, “jantanisasi”
ikan memiliki nilai ekonomi tinggi, karena masa tumbuhnya cepat sehingga panen pun
lebih sering. Maklum, seluruh energi ikan pejantan digunakan untuk tumbuh, tidak
seperti betina yang sebagian energinya digunakan untuk pematangan telur. Bentuk,
ukuran, dan warna ikan jantan pun jauh lebih unggul dibanding si betina. “Butuh Rp 3-
3,5 per ekor ikan untuk proses jantanisasi menggunakan hormon buatan Batan,”
katanya.
Hormon maskulin Batan lahir menjawab masalah peternak ikan yang kesulitan
mendapatkan metil testosteron. Sejak jantanisasi ikan diterapkan di Jawa pada 1998,
hanya ada hormon maskulin buatan luar negeri, seperti Cina, Thailand, dan Jepang.
Selain mahal, tingkat keberhasilan hanya 60-80 persen.
Inilah yang membuat Adria tertarik meneliti bagaimana menghasilkan hormon maskulin
alami nonkimia lewat teknologi nuklir. Akhirnya pilihan jatuh pada limbah testis sapi.
Bahan alami ini ternyata memiliki kandungan testosteron tertinggi ketimbang testis
mencit, domba, atau kambing yang juga menjadi bahan penelitiannya. Digunakanlah uji
radioimmunoassay plus yodium-125 untuk mengukur kandungan testosteron.
“Teknologi nuklir yang digunakan tidak berbahaya karena hanya untuk mengetahui nilai
konsentrasi hormon,” katanya. Lahirlah hormon maskulin made in Indonesia pada 2007,
setelah serangkaian penelitian selama tujuh tahun.
Hormon maskulin dibuat dengan cara mengiris-iris testis sapi menjadi kepingan kecil
seukuran 5 sentimeter. Potongan itu lantas dikeringkan pada suhu 60 derajat Celsius.
Pada setiap 100 gram tepung testis ditambahkan metil alkohol 70 persen dari total
volume. Hormon ini cocok untuk jenis ikan hias dan konsumsi, seperti nila, gurami, lele,
patin, kerapu, cupang, lohan, dan koi.
Ahli akuakultur Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Doktor Fauzan Ali, mengatakan,
tanpa proses sex reversal, perbandingan benih ikan jantan dan betina adalah 40 : 60.
“Setiap kelahiran alami bisa dipastikan lebih banyak ikan betinanya,” kata Fauzan.
Adria memberi catatan, hormon maskulin buatannya bukan tanpa kekurangan.
Kematian bibit saat proses sex reversal pun sering terjadi lantaran kurang hati-hati.
Penyebabnya ikan menjadi stres. Tapi jangan khawatir, tingkat kematian gonad hanya
20 persen, jauh lebih kecil dibanding hormon dari luar negeri yang mencapai 50 persen.
Agung merasakan, dari 35 ribu benih ikan nila yang dibudidayakannya, yang mati
sekitar 7.000 benih. “Itu tak jadi masalah,” katanya.
Masalah yang dihadapi dalam budidaya ikan nila adalah kemampuan reproduksi ikan
yang tinggi dan sering terjadi inbreeding, artinya dalam waktu singkat jumlah ikan nila
dalam kolam akan meningkat secara drastis, sehingga sukar dikendalikan. Akibatnya
tingkat pertumbuhan ikan menjadi lambat sehingga diperlukan waktu yang lama untuk
mencapai ukuran konsumsi, bahkan pertumbuhannya sering terhenti (stagnan).
Berdasarkan pengalaman para pembudidaya nila, jika ikan nila dipelihara secara
campur kelamin (polysex culture) maka ikan kelamin betina dengan ukuran 50 g/ekor
sudah mulai memijah, sehingga pertumbuhan menjadi lambat bahkan terhenti karena
energinya terkuras untuk memijah dan mengerami telur, padahal ukuran konsumsi atau
siap jual adalah lebih dari 100 g/ekor. Salah satu cara baru untuk mengatasi masalah
ini adalah dengan menjadikan ikan nila jantan semua (jantanisasi), metode yang dipakai
adalah dengan menggunakan hormon 17 Alpha Methyl Testosteron yang berfungsi
mengubah kelamin betina menjadi jantan (Sex-reversal).
Contoh strain unggul dari ikan nila monosex adalah nila GIFT (Genetic Improvement for
Farmed Tilapia) merupakan jenis ikan nila yang telah terbukti memiliki keunggulan
dalam pertumbuhan dan produktivitasnya di bandingkan dengan jenis ikan nila lain.
Langkah-langkah Jantanisasi
Siapkan pembenihan massal ikan nila secara terkontrol. Dengan membuat bak-bak
beton, pemijahan dapat menjadi lebih mudah dan efesien karena biaya yang di
butuhkan relatif lebih kecil dan dapat memproduksi larva dalam jumlah yang tidak
berbeda di banding dengan kolam tradisional. Langkah-langkahnya adalah sebagai
berikut:
Pertama. Siapkan kolam pemijahan. Usahakan dalam kolam pemijahan ini agar tidak
tercampur dengan ikan jenis lain. Lebih baik jika pemijahan di lakukan dalam bak-bak
beton karena sangat mudah pemijahannya dan mudah mengontrolnya.
Kedua. Siapkan induk nila yang unggul kualitasnya dengan bobot diatas 300 g/ekor.
Perbandingan betina dan jantan adalah 3: 1 ( 3 betina 1 jantan), dengan kepadatan
penebaran 6 ekor /m2. berilah pakan 3% dari berat total jumlah ikan /perhari dan
pemberian pakan tiga kali sehari. Setiap 45 hari Induk nila akan menghasilkan telur
yang matang. Setiap induk betina berukuran 300 gram dapat menghasilkan benih
(larva) sebanyak 250-300 ekor larva. Jumlah larva akan terus meningkat sampai 900
ekor larva sesuai dengan pertambahan berat induk ikan nila 9000-1000 gram. Setelah
satu siklus 45 hari pemijahan, induk betina di pisahkan dari induk jantan atau pindahkan
induk jantan dari kolam itu selama lebih kurang satu bulan. Dan tetap berikan pakan
dengan kandungan protein di atas 30 % kepada induk betina.
Setelah dua minggu massa pemeliharaan dalam kolam baru (jika induk betina yang di
pindahkan) biasanya induk betina mulai ada yang bertelur, menghasilkan larva yang
biasanya masih berada dalam pengasuhan induknya, atau terkadang di simpan dalam
mulut induknya jika dalam kondisi terancam. Saat-saat inilah larva-larva di kumpulkan
dengan cara di serok dengan kain kelambu yang halus dan kemudian di tampung
dalam kelambu atau happa ukuran 2x0,9x0,9 m 3. lakukan pengumpulan beberapa kali
sehari.

Untuk mendapatkan benih ikan nila tunggal kelamin jantan atau monosexs. Maka di
lakukan proses jantanisasi. Setelah larva sudah terkumpul dalam happa atau kelambu,
kita akan memasuki proses mengubah larva betina menjadi jantan dan jantan tetap
jantan. Larva akan di beri pakan berbentuk tepung yang sudah di campur dengan
hormon 17 Alpa methyltestosteron selama 17 hari. Takaran mencampur hormon 17
Alpa methyltestosteron adalah sebagai berikut:
 Ambil dan timbang hormon 17 Alpha methyltestosteron sebanyak 30 mg
 Larutkan hormon yang sudah ditimbang dengan alkohol 95% sebanyak 15 ml
 Campurkan larutan hormon tersebut dengan 1 kg pakan pelet ikan
 Pakan berhormon diberikan empat kali sehari dengan dosis 10% dari total bobot
populasi per happa, berikan pakan selama 21 hari
 Pakan berhormon dapat disimpan dalam kantong plastik tertutup dan
dimasukkan ke dalam lemari es. Pakan tahan hingga 2 bulan

Setelah selama 21 hari larva di beri pakan dengan hormon 17 Alpa


methyltestosteron. Selanjutnya di pelihara dalam kolam pendederan. Sebelumnya
kolam di keringkan selama dua minggu dan lumpurnya di aduk-aduk, beri kapur
sebanyak 50 g/m2, dan di beri pupuk kotoran ayam sebanyak 250 g/m 2. atau juga
dengan melakukan pemupukan kolam dengan di beri pupuk Urea dan TSP masing-
masing sebanyak 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2. setelah dua minggu pengeringan dan
pemupukan, kolam di isi air sedikit saja kira-kira setinggi 50 cm dan biarlah tergenang
air selama 3-7 hari. Setelah kolam di genang air masukkan benih ikan hasil jantanisasi
dengan kepadatan 300 ekor/m2. berikan pakan biasa yang khusus untuk pakan ikan
kecil, bukan pakan yang di campur hormon 17 Alpa methyltestosteron.
Siapkan kolam pembesaran dengan cara pemupukan seperti cara di atas. Setelah
kolam siap pindahkan ikan-ikan dari kolam pendederan ke kolam pembesaran. Hasilnya
adalah 93% ikan nila menjadi jantan.
Dalam tiga minggu atau 21 hari, ikan dengan berat rata-rata 1,25 gram atau panjang 3-
5cm bisa di panen. Gunakan jaring halus pada penangkapan. Keringkan kolam sampai
semua ikan terangkat. Dan proses budidaya dalam diulang kembali.