Anda di halaman 1dari 3

Maulidya Nur A P

160342606259/Offering IL

ANALISIS PERBANDINGAN KLASIFIKASI BURUNG DENGAN KARAKTERISTIK


MORFOLOGI DAN PROTEIN/DNA BARCODE
Berdasarkan jurnal BARCODING DNA RANGKONG BADAK SEBAGAI UPAYA
KONSERVASI GENETIK SATWA INDONESIA

Burung adalah bagian dari keanekaragaman hayati yang harus dijaga kelestariannya dari
kepunahan maupun penurunan keanekaragaman spesiesnya. Burung memiliki banyak manfaat dan
fungsi bagi manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung (Yuda, 2000). Alikodra (1990),
menambahkan bahwa burung memiliki peranan penting dari segi penelitian, pendidikan, dan untuk
kepentingan rekreasi dan pariwisata. Tingginya keanekaragaman spesies burung di suatu wilayah
didukung oleh tingginya keanekaragaman habitat, karena habitat bagi satwa liar secara umum
berfungsi sebagai tempat untuk mencari makan, minum, istirahat, dan berkembang biak (Alikodra,
2002).

Burung Rangkong Badak adalah anggota dari genus Buceros, spesies yang mempunyai
karakter seperti bentuk tanduk dan mempunyai pelindung kepala yang berwarna orange
(Poonswad, 1993). Di Indonesia terdapat beberapa jenis subspesies dari burung Rangkong Badak
yaitu Buceros rhinoceros rhinoceros (Malay & Sumatera), Buceros rhinoceros borneonsis
(Borneo), Buceros rhinoceros silvertris (Java) (Aviabase, 2003). Identifikasi karakter morfologi
burung Rangkong Badak dilakukan dengan mengamati dan mengukur bagian-bagian tubuh yang
merupakan parameter identifikasi spesies rangkong.

Karakter morfologi balung (casque) pada kedua individu mempunyai warna orange,
sedangkan pada paruh keduanya memiliki warna putih, pengamatan morfologi pada iris
mempunyai warna yang berbeda, pada Rangkong Badak Individu 1 memiliki warna iris merah,
sedangkan pada Rangkong Badak Individu 2 memiliki warna iris putih. Pengukuran morfologi
lainnya seperti bulu tubuh, bulu sayap, bulu penutup sayap. Pada pengamatan morfologi bagian
bulu tubuh Rangkong badak individu 1 dan Rangkong Badak Individu 2 memiliki bulu tubuh
seluruhnya berwarna hitam, dan pada bagian perut berwarna putih, sedangkan pada bulu penutup
sayap tubuh (alula) keduanya memiliki pola warna coklat kehitaman. hasil pengamatan morfologi
bentuk ekor pada keduanya memiliki perbedaan pada Rangkong Badak 1 memiliki bentuk ekor
yang lengkap memiliki corak pita berwarna hitam dibagian subterminal, sedangkan pada
Rangkong Badak individu 2 mempunyai bentuk ekor yang lebih pendek, dikarenakan oleh pihak
Eco Green Park ekor burung tersebut digunting. Pada hasil pengamatan morfologi bentuk kaki
pada keduanya memiliki 4jari kaki (lengkap) dan mempunyai warna tapak kaki yang berwarna
kuning kecoklatan.

Pengamatan morfologi burung Rangkong Badak ini juga dilakukan dengan pengukuran
morfometrik, hasil pengukuran karakter morfometrik dilakukan pada bagian tubuh tertentu yaitu
penimbangan berat badan dan pengukuran dari panjang total tubuh; panjang sayap; rentang sayap;
lebar sayap; lebar patagium; panjang ekor; panjang tarsus; diameter tarsus; panjang tapak kaki
yang terdiri dari jari bercakar dengan jari tanpa cakar; panjang cakar ruas jari pertama (hallux),
kedua (medial), ketiga dan keempat (lateral); panjang paruh ; tingggi paruh; lebar paruh; warna
iris; jumlah bulu primer, jumlah bulu sekunder.

Isolasi DNA dari darah burung Rangkong Badak dilakukan hingga memperoleh
konsenterasi DNA murni dan cukup untuk melakukan ke tahap selanjutnya yaitu Polymerase
Chain Reaction (PCR). Isolasi gen COI dilakukan dengan menggunakan sepasang primer
universal, Panjang gen COI yang berhasil diamplifikasi sebesar ±700 dp.

Hasil identifikasi morfologi menunjukan bahwa kedua individu Rangkong Badak (Buceros
rhinoceros) yang mempunyai ciri iris berwarna merah pada jantan dan putih pada betina. Ciri
tersebut sesuai dengan deskripsi dari (Poonswad, 1993). Tarsus berwarna kuning, mempunyai
pelindung kepala yang disebut casque, dahi, tenggorokan berwarna hitam, bagian perut hingga
tungging berwarna putih, pada bagian ekor didominasi warna putih dan terdapat pita hitam
subterminal, burung Rangkong badak memiliki sayap sepenuhnya berwarna hitam. Jika
dibandingkan dengan spesies pembanding yang berkerabat dekat yaitu Rangkong Papan (Buceros
bicornis), terdapat perbedaan karakter morfologi diantara keduanya. Rangkong Papan (Buceros
bicornis) memiliki ukuran mulai 95-120 cm dan menampilkan lebar sayap 151-178 cm, rata-rata
mencapai berat badan 3 kg, Tubuh, kepala, dan sayap terutama hitam, perut dan leher berwarna
kuning. Ekor putih dan dilintasi oleh pita hitam subterminal, casque dan paruh berwarna kuning,
tenggorokan berwarna kuning, pada sayap tidak sepenuhnya berwarna hitam, terdapat juga pita
warna putih, sedangkan perut dan tungging didominasi dengan warna putih. Analisis filogenetik
burung Rangkong Badak (Buceros rhinoceros) dilakukan dengan pembuatan rekontruksi topologi
pohon filogenetik d menggunakan metode Maximum Likelihood (ML), Neighbor Joining (NJ),
Minimum Evolution (ME). Hasil rekonstruksi dari ketiga metode tersebut menunjukkan bahwa
posisi Rangkong Badak (Buceros rhinoceros) satu clade dengan burung Rangkong Papan (Buceros
bicornis). Hasil rekontruksi topologi pohon filogenetik dari ketiga metode tersebut tidak berbeda,
hanya berbeda pada nilai boostrap saja. Secara berurutan nilai boostrap dari metode ME berbeda
dengan nilai boostrap MJ dan NJ. Kelompok monofilogenetik pada MJ,NJ adalah 100, sedangkan
pada ME yaitu 99 nilai boostrap nya.

Berdasarkan hasil identifikasi karakter morfologi dan morfometrik, burung yang diteliti
merupakan spesies Buceros rhinoceros (Rangkong Badak). Analisis genetik dengan metode
Maximum Likehood (ML), Neighboor Joining (NJ), Maximum Evolution (ME) dan BOLD system
menunjukan hasil bahwa burung Rangkong Badak (Buceros rhinoceros) berkerabat dekat dengan
burung Rangkong Papan (Bucheros bicornis) voucher GBIR140-09 dan ROMC199-07 (Pradani,
dkk. 2015)

Daftar Rujukan

Yuda, I.P., A. Nurcahyo, and H. Atmojo. 2000. (Abstract) Javan Hawk-eagle at Mount Mirapi,
Yogyakarta. Proceedings of the Second Symposium on Raptors of Asia. The Indonesia
Committee for the Second Symposium of Asian Raptor Research & Conservation Network.
Bogor. 206 p.
Alikodra, H.S. 1990. Pengelolaan Satwa Liar Jilid 1. Buku. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan
IPB. Bogor. 303 p.
Alikodra, H.S. 2002. Teknik Pengelolaan Satwa Liar. Buku. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan
IPB. Bogor. 368 p.
Aviabase, 2003. The world bird database, http://avibase.bsc
eoc.org/species.jsp?avibaseid=0D3D9303B6AEB120, diakses pada tanggal 2 Februari
2015.
Poonswad, P., 1993. Identification of Asian hornbills. In: Poonswad, P. & A. C. Kemp (eds.),
Manual to the Conservation of Asian Hornbills. Hornbill Project Thailand, Bangkok. Pp.
26–75.
Pradani, Alivia F.P., Rahayu, Sofia E., Listyorini, D. 2015. Barcoding DNA Rangkong Badak
Sebagai Upaya Konservasi Genetik Satwa Indonesia. Skripsi. Malang:Universitas Negeri
Malang